Dampak Perilaku Lawan Jenis terhadap Sexual Signaling System
Follow Up dari JurnalPeacocks, Porsches, and Thorstein Veblen: Conspicuous Consumption as a Sexual Signaling System (Sundie et al., 2011)
Studi 2 dari jurnal Peacocks, Porsches, and Thorstein Veblen: Conspicuous Consumption as a Sexual Signaling System (Sundie et al., 2011)ni adalah memperkuat hasil eksperimen studi 1 yang menyatakan bahwa motif hubungan mempengaruhi konsumsi pria pada produk yang mencolok. Pria yang memiliki orientasi hubungan jangka pendek ketika dibangkitkan keinginan hubungan seksualnya cenderung berkeinginan untuk membeli produk yang mencolok. Studi 2 dijalankan dengan prosedur dan pengukuran variabel sebagai berikut :
Gambar 1. Prosedur Studi Utama
Variabel Ukuran
DV Keinginan untuk
membeli Seberapa mungkin partisipan akan membeli dompet berstatus rendahdan dompet berstatus tinggi (1 = sangat tidak mungkin, 9 = sangat mungkin)
IV Motif berhubungan Manipulasi (mating vs kontrol)
Tipe Produk Manipulasi (produk status tinggi vs status rendah)
Orientasi hubungan Diukur mengguna kan Sociosexual Orientation Inventory. Contoh peryataan :
Aku bisa membayangkan nyamannya menjalankan hubungan ‘casual’ dengan partner yang berbeda-beda (1=sangat tidak setuju, 9=sangat setuju)
Tabel 1. Pengukuran Variabel Studi 2
Secara garis besar, hubungan antara variabel-variabel tersebut di atas adalah :
Gambar 2. Model Konseptual Studi 2
Priming Tipe Produk
Partisipan menilai 3 tipe produk : dompet (utama) dan panggangan roti dan gelas (filler), kemudian dikondisikan memiliki $ 30 untuk membeli dompet
Priming Motif Hubungan (Griskevicius et al., 2007, 2009) Partisipan membaca :
Mating: cerita pendek romantis Kontrol : (a) tanpa cerita ; (b) cerita pendek mencari barang hilang di rumah
107 partisipan dari berbagai universitas negeri
Manipulasi Tipe Produk
Partisipan diminta membeli dompet yang mirip dengan ‘Coach’ di pengecer online besar dan murah (status rendah) vs pengecer online replika desainer (status tinggi)
Partisipan diminta menilai tingkat keinginan membeli produk tersebut Pengukuran Orientasi Hubungan
Partisipan diminta memberi nilai diri pada Sociosexual Orientation Inventory / SOI (Simpson & Gangestad, 1991)
Motif Berhubungan Sexual Tipe Produk
Keinginan untuk membeli produk
Dari uji slope terhadap data yang terkumpul dari prosedur eksperimen tersebut di atas diperoleh informasi bahwa :
Pada dompet berstatus tinggi
Pria yang memiliki orientasi hubungan jangka pendek(1SD dibawah nilai rata-rata SOI)
menunjukkan keinginan membeli produk yang mencolok yang lebih tinggi ketika mendapatkan priming mating dibandingkan pria yang mendapatkan priming kontrol (B=1.45, t=2.22, p=0.03). Priming mating tidak memberikan efek terhadap keinginan membeli produk yang mencolok pada
pria yang memiliki orientasi hubungan jangka panjang (B=-1.05, t=-0.91, p=0.36). Pada dompet berstatus rendah
Tidak ada perbedaan keinginan membeli antara pria dengan orientasi hubungan jangka pendek yang mendapatkan priming mating dibandingkan yang mendapatkan priming kontrol (B=0.29, t=0.38, p=0.70).
Begitupula pada pria dengan orientasi hubungan jangka panjang. Tidak ada perbedaan keinginan membeli antara pria yang yang mendapatkan priming mating dibandingkan yang mendapatkan priming kontrol (B=-0.15, t=-0.19, p=0.85).
Gambar 2. Hasil Pengujian Studi 2 Pada Dompet Berstatus Tinggi
FOLLOW UP
Sebagaimana Griskevicius et al. (2007) dalam jurnal ini, pria cenderung menggunakan, membawa atau mengenakan barang mewah yang mencolok ketika menginginkan dan melihat peluang hubungan sexual dengan lawan jenisnya dan menjadikannya sebagai sebuah tak tik untuk menarik lawan jenisnya. Lens (2012) menyatakan bahwa strategi yang digunakan pria dalam menarik lawan jenis tergantung pada perilaku lawan jenisnya. Pria cenderung merasa bahwa strategi menggunakan produk yang mencolok tidak tepat digunakan dalam menarik lawan jenis yang menyukai konsumsi produk yang mencolok juga. Hal ini karena pria khawatir produk yang digunakan memiliki status lebih rendah daripada produk yang digunakan oleh wanita.
Gambar 3. Model Konseptual Follow Up Studi 2
Hipotesa Rasional
Pria yang memiliki orientasi hubungan jangka pendek, ketika dibangkitkan keinginan hubungan sexualnya oleh wanita yang berperilaku non conspicuous consumption memiliki
kecenderungan untuk membeli produk yang mencolok dibandingkan ketika keinginan hubungan sexualnya dibangkitkan oleh wanita yang berperilaku conspicuous consumption
Pria memiliki kekhawatiran bahwa produk mencolok yang digunakan memiliki status lebih rendah daripada produk yang digunakan oleh wanita sehingga tidak ingin memberli produk yang mencolok
Untuk dapat membuktikan hipotesa tersebut maka prosedur dan pengukuran variabel yang dilakukan dalam follow up studi 2 adalah sebagai berikut :
Gambar 4. Prosedur Follow Up Studi 2
Variabel Ukuran
DV Keinginan untuk membeli
Seberapa mungkin partisipan akan membeli dompet bermerek mahal (1 = sangat tidak mungkin, 9 = sangat mungkin)
IV Motif
berhubungan Manipulasi (mating vs kontrol) Perilaku Lawan
Jenis Manipulasi (conspicuous consumption woman vs non conspicous consumption woman) Orientasi Diukur mengguna kan Sociosexual Orientation Inventory.
Motif Berhubungan
Priming Motif Hubungan
(Griskevicius et al., 2007, 2009 dan Lins, 2012) Partisipan membaca :
Mating conspicuousconsumptionwoman :
cerita pendek romantis, dimana didalam naskah cerita tersebut ditampilkan foto wanita yang menggunakan baju dan jam tangan bermerek mahal
Matingnon conspicous consumption woman: cerita pendek romantis, dimana didalam naskah cerita tersebut ditampilkan foto wanita yang baju dan jam tangan tanpa merek
Priming Produk
Partisipan menilai 3 tipe produk : dompet bermerek mahal (utama) dan panggangan roti dan gelas (filler), kemudian
dikondisikan memiliki Rp. 1 juta untuk membeli dompet
120 partisipan mahasiswa UI
Partisipan diminta menilai tingkat keinginan membeli produk tersebut
hubungan Contoh peryataan :
Aku bisa membayangkan nyamannya menjalankan hubungan ‘casual’ dengan partner yang berbeda-beda (1=sangat tidak setuju, 9=sangat setuju)
Tabel 2. Pengukuran Variabel Follow Up Studi 2
Dengan metode pengujian slope sebagaimana studi 2 maka dapat diprediksi hasil studi follow up ini mendukung hipotesa bahwa orientasi hubungan seksual dengan keinginan membeli produk yang mencolok akan signifikan ketika motif hubungan seksualnya dibangkitkan oleh wanita yang berperilaku non conspciuous consumption, dan menjadi tidak signifikan ketika motif hubungan seksualnya dibangkitkan oleh wanita yang berperilaku non conspciuous consumption.
Prediksi analisa slope dari studi follow up adalah sebagai berikut :
Tambahan Referensi
Lins (2012). Materialism, conspicuous consumption,and the human nature. Faculteir Economie En Bedrijf Swetenschappen.
High Intended Mating Investment
W
ill
in
gn
es
s
to
P
ur
ch
as
e
Mating with non conspicuousconsumption
woman
Low Intended Mating Investment