LAPORAN PRAKTIKUM
Mata Kuliah : Bioteknologi Ternak Nama Dosen: Prof.Dr.Ir.Zaituni Udin,MSc Praktikum Ke: 2 (Dua) : Prof.Dr.Ir.Ferdinal Rahim Hari/Tanggal : Kamis,14 Mei 2015 Nama Asisten : Hermanto Putra
Tempat : Laboratorium Produksi Ternak
METODE PENAMPUNGAN SEMEN
Nama :Ryan IlhamBP : 1310611011
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’allamin, segala puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah yang mahakuasa, karena berkat rahmat dan karunianya kita bisa melakukan berbagai macam aktifitas,terutama kepada penulis sendiri sehingga dapat menyelesaikan Laporan Ahkir Metode Penampungan Semen ini sesuai dengan waktu yang telah diberikan,dan tidak lupa penulis menyampaikan salam serta salawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah berjuang untuk memanusiakan manusia, hal ini sangat penting untuk kita semua sebagai umatnya, dan penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen dan Asisten Dosen yang memberikan Prtaktikum ini sehingga pengetahuan kami semakin bertambah,dan pihak pihak yang lain, baik secara langsung maupun tidak,penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangan dimata pembaca, oleh karena itu saran dan kritik sangat berpengaruh dalam penyempurnaan Laporan ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan kepada pembaca. Amin.
Padang,21 Mei 2015
Daftar Isi
Kata Pengantar... i
Daftar Isi... ii
Pendahuluan... 1
Latar Belakang... 1
Rumusan Masalah…... 2
Tujuan……… 2
Manfaat………. 2
Tinjauan Pustaka…... 3
Penampungan Semen……… 3
Metode Pengurutan……….. 3
Metode Elektroejakulator………. 5
Metode Vagina Buatan……… 6
Materi dan Metode……… 9
Materi……….. 9
Metode……… 9
Hasil dan Pembahasan………. 12
Hasil……… 12
Pembahasan……… 12
Penutup………. 15
Kesimpulan………. 15
Saran……….. 15
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sektor peternakan memiliki peranan penting dalam kehidupan dan pembangunan sumberdaya manusia Indonesia. Peningkatan kesejahteraan masyarakat akan diikuti dengan peningkatan konsumsi produk-produk peternakan, yang dengan demikian maka turut menggerakan perekonomian pada sub sektor peternakan.
Namun kenyataannya menunjukkan bahwa konsumsi produk peternakan masyarakat Indonesia relatif rendah. Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan produksi dan konsumsi produk peternakan khususnya daging adalah program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 yang diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 19/Permentan/OT.140/2/2010 tentang Pedoman Umum Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 (Anonymous, 2010).
Usaha yang bergerak dalam di bidang ternak sapi di Indonesia membutuhkan perhatian khusus dalam kaitannya dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan populasi setiap tahunnya. Dalam menanggulangi masalah itu dibutuhkan teknologi tepat yang bisa diterapkan secara mudah dan efisien.
Rumusan Masalah
Metode apa saja yang digunakan dalam Penampungan Semen? Tujuan
Mengetahui Metode apa saja yang digunakan dalam Penampungan Semen Manfaat
TINJAUAN PUSTAKA
Penampungan Semen
Penampungan semen bertujuan untuk memperoleh semen yang jumlah (volume)-nya banyak dan kualitasnya baik untuk diproses lebih lanjut untuk keperluan inseminasi buatan.
Secara umum penampungan semen adalah ejakulasi yang dipengaruhi oleh factor internal dan ekternal. Faktor internal yaitu hormone, metabolism, keturunan, makanan, umur, dan kesehatan secara umum dari pejantan tersebut. Sedangkan faktor eksternal adalah suasana lingkungan, tempat penampungan, manajemen, para penampung, cuaca, saranan penampungan termasuk teaster dll.
Maka untuk mendapatkan semen yang memenuhi syarat adalah mengamati dan memperhatikan perilaku setiap pejantan yang akan ditampung semennya.
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam melakukan penampungan semen diantaranya :
Metode Pengurutan
Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Case pada tahun 1925, dan kemudian diikuti oleh Miller dan Evans pada tahun 1934. Teknik yang dilakukan adalah dengan cara memasukkan tangan sepanjang 18 – 25 cm ke dalam rektum dan kemudian dilakukan pengurutan pada bagian kelenjar vesicularis dan ampulae dari bagian depan ke belakang. Pengurutan ini dilakukan selama dua menit dan biasanya akan dihasilkan semen.
Kendala lain dari metode ini adalah semen yang dihasilkan tidak bersih dan mengandung lebih banyak kuman dibandingkan dengan penampungan semen cara lain. Daerah preputium dan sekitarnya harus dibersihkan dan disepul dengan larutan NaCl. Penampungan semen dengan metode pengurutan ini lebih mudah pada pejantan Angus muda dibandingkan dengan pejantan tua, sapi Hereford dan Santa Gertrudis.
Teknis penampungan semen dengan metode ini adalah sebagai berikut : 1. Selama pengurutan atau penampungan semen, pejantan tidak boleh
diperlakukan kasar dan harus dibiarkan relaks.
2. Saat memasukkan tangan ke dalam rektum harus diberi pelicin terlebih dahulu.
3. Rektum dibersihkan dari feses
4. Lakukan pengurutan pada kelenjar Vesikularis secara perlahan-lahan selama beberapa menit dengan cara menekan jari ke bawah dan ke belakang ke arah urethra hingga keluarnya cairan semen, yakni berupa cairan keruh yang mengandung sperma
5. Asisten siap menampung semen yang keluar dari penis dengan bantuan corong gelas dan tabung gelas dari preputium atau dari penis
6. Selanjutnya lakukan pengurutan pada ampulae vas deferens dengan cara yang Sama
Indikasi Penampungan Dengan Metode Pengurutan 1. Sapi pejantan unggul tetapi impoten
2. Sapi tidak mau atau tidak sanggup berkopulasi secara alam atau 3. Sapi tidak dapat melayani vagina buatan
Kelemahan metode pengurutan :
1. Semen yang dihasilkan berkualitas rendah
Metode Elektroejakulator
Apabila pemanpunga semen tidak bias dilakukan dengan metode vagina buatan karena ternak tidak cukp terlatih untuk ditampung, maka perlu dilakukanpenampungan dengan menggnakan alat ini.
Perbedaan yang utama dari penampungan vagina buatan adalah volume yang di dapatkan dengan elektroejakulator adalah dua kali lipat lebih besar daripada vagina buatan, sedangkan densitasnya adalah separuhnya. Meskipun demikian, perbaikan densitas dapat dilakukan dengan membuang bagian yang tidak mengandung spermatozoa. Bagian ini keluar dulu setelah dirangsang, kemudian rangsangan dilanjutkan dan penampungan ini menghasilkan semen dengan densitas yang baik.
Teknis penampungan semen dengan metode ini adalah sebagai berikut : 1. Pejantan di ikat di kandang jepit untuk meminimalkan pergerakannya. Di
belakang kedua kaki belakang kita letakkan sebuah palang yang tebal dan kuat di atas tanah. Palang tersebut untuk menjaga agar selama ejakulasi, pejantan tidak terpeleset.
2. Probe yang sudah diberi pelicin dimasukkan dalam rectum secara perlahan-lahan.
3. Preputium dicuci dan dikeringkan. Rambut di sekitar preputium bisa dicukur apabila sudah panjang.
4. Rangsangan dilakukan secara bertingkat. Ada beberapa tipc elcktroejaculator dan pola rangsangannya tergantung pada tipe yang digunakan sebaiknya kita ikuti cara pemakaiannya.
Metode Vagina Buatan (VB)
Penggunaan Vagina Buatan (VB) merupakan metode yang umum digunakan untuk menampung semen pejantan sapi perah dan sapi potong di pusat-pusat inseminasi buatan. Metode ini dapat mengatasi kekurangan-kekurangan dan kerugian-kerugian dari metode pengurutan dan elektroejakulator. Kelebihan dari metode ini aalah semen yang dihasilkan lebih bersih, kualitas lebih baik, maksimal dan spontan keluar.
Model Vagina Buatan telah disempurnakan dan dimodifikasi oleh beberapa peneliti. Yang umum digunakan di Indonesia adalah model Denmark dengan panjang silinder 40,7 cm dengan diameter bagian dalam 5,7 cm.
Teknis penampungan semen dengan metode ini adalah sebagai berikut : Persiapan Penampungan
Satu atau dua orang membawa pemancing ke kandang pemancing-pemaksa dan
menambatkannya. Usahakan ternak jangan sampai terlepas bila meronta
Siapkan unit VB
VB diisi dengan air panas dan atur suhu saat persiapan (45º C) dan pada waktu penampungan (40º C) dengan menggunakan termometer Prosedur penampungan
VB di pegang oleh operator/penampung dengan tangan kanan
Operator siap di sebelah kanan belakang pemancing
Pejantan didekatkan pada pemancing yang bertujuan untuk merangsang pejantan yang akan ditampung, dimana penis pejantan tersebut mulai keluar sedikit dari preputium dan adanya keinginan untuk menaiki pemancing
Pejantan segera ditarik kembali menjauhi pemancing secara perlahan-lahan, beberapa saat kemudian dilepaskan kembali agar pejantan kembali mendekati pemancing dengan kondisi seperti pertama kali (False Mount)
Setelah dilakukan 2 – 3 kali False mount, pejantan diizinkan menaiki pemancing. Apabila kaki depan pejantan telah terangkat untuk menaiki pemancing, maka operator penampung segera membelokkan arah penis ke arah mulut VB yang telah disiapkan
Setelah penis masuk ke dalam VB, akan terjadi sentakan keras terhadap VB, dan pada saat itu terjadi ejakulasi sehingga pejantan akan mengeluarkan semen dengan spontan.
Pejantan dapat diturunkan perlahan-lahan dan bersamaan dengan itu VB diikutkan hingga kaki depan pejantan telah menyentuh tanah atau lantai kandang dan penis masih berada dalam VB. Letakkan VB agak iring sedikit ke bawah sampai penis secara perlahan ditarik masuk ke dalam preputium dan keluar dari VB
Letak VB ditegakkan sehingga semen yang menempel pada corong karet dapat segera turun masuk ke dalam tabung gelas penampung
Tabung gelas kemudian dilepaskan dari corong karet dan segera bagian yang terbuka ditutup dengan aluminium foil atau plastik. Bagian tabung penampung dibungkus dengan kain agar terhindar dari cahaya matahari langsung, kemudian masukkan ke dalam termos
MATERI DAN METODE
Materi
Dalam Praktikum Metode Penampungan Semen Alat dan Bahan yang digunakan pada metode pengurutan atau Massase Alat yang digunakan adalah Plastik pembungkus tangan atau Gloof, Corong penampung, Gelas Penampung, dan bahan yang digunakan dalam metode pengurutan ini adalah Sapi Jantan dan Vaselin atau sabun Sedangkan Pada Metode Elektroejakulator alat yang digunakan adalah Plastik pembungkus tangan atau Gloof,dan Elektroda dan bahan yang digunakan adalah Sapi Jantan dan Vaselin atau Sabun Dan pada Metode Vagina Bauatan (VB) Alat yang digunakan adalah Vagina Buatan, Termometer, Kain lap, Corong Penampung, Gelas Penampung, dan Bahan yang digunakan adalah Vaselin dan Air hangat
Metode
Metode Massase
Dalam penampungan semen dengan menggunakan metode Massase persiapan kerja terbagi menjadi dua , yaitu persiapan peternak itu sendiri dan persiapan sapi jantan yang akan ditampung semennya, persiapan yang dilakukan pada ternak adalah dengan melakukakn exercise dan memperhatikan kondisi fisik sapi jantan seperti melihat postur tubuh dan juga dapat mengecek keadaan reproduksi dengan memegang testis sapi, sedangkan persiapan bagi peternak yang akan melakukan palpasi rektal adalah mensterilkan tangan dengan alcohol 70 %, memasang Gloof dengan cara membalikan gloof sehingga bagian dalam keluar, hal ini dilakukan karena gloof bagian luar cukup tajam yang dikawatirkan dapat melukai sapi ketika melakukan palpasi rektal, setelah itu dicuci dikeringkan dan diberikan vaselin atau sabun sebagai pelican agar tidak ada lecet ketika melakukan palpasi rekatal
memasukan tangan kurang lebih sedalam 18 – 25 cm, setelah dirasa kotoran telah keluar, tangan dibersihkan dan diberivaselin kembali dan kemudian dilakukan palpasi atau pengurutan di daerah Vesikula Seminalis Hingga ke ampula selama kurang lebih 3 - menit hingga semen keluar, dan ketika semen sirasa akan keluar asisten siap menampung semen dengan menggunakan corong penampung yang telah ditutup dengan kain agar semen tidak terkena cahaya matahari secara langsung. Selanjutnya dilakukan pengurutan kembali hingga 2 atau tiga kali.
Metode Elektroejakulator
Dalam penampungan semen menggunakan metode Elektroejakulator Persiapan yang dilakukan kurang lebih sama seperti persiapan yang dilakukan ketika melakukan metode Massase atau metode palpasi rektal, yakni persiapan peternak seperti memakai Gloof dan vaselin dan melakukan penialaian kepada sapi yang akan diambil smennya.yang membedakan metode Elektroejakulator dengan Masasse adalah pada metode Elektroejakulator kita menggunakan Elektroda yang akan dimasukkan kedalam rektal yang sebelumnnya telah dibersihkan terlebih dahulu (Sama seperti Metode Massase) dan mengalirkan aliran listrik dari 0 – 20 Volt, 0 – 40 Volt, 0 – 60 Volt, dinaikan dengan ritme 3 – 5 detik, dan Metode ini dilakukan selama 10 – 15 Detik hingga sapi siap ejakulasi, dan asisten siap menampung dengan menggunakan corong yang tertutup oleh kain agar sperma tidak terkena cahaya matahri langsung, dan dengan sedikit melakukan pengurutan di daerah batang penis untuk membantu proses ejakulasi
Metode Vagina Buatan
Dalam metode penampungan Vagina Bauatan persiapan yang harus dilakukan oleh peternak adalah mempersiapkan Vagina buatan yang siap pakai, yakni dengan Mengisi air hangat yang sesuai dengan suhu dari vagian yaitu berkisar 40 – 450C,
Setelah kiranya semua perlengkapan telah siap, sapi pejantan dibawa kedalam kandang khusus dimana di dalam kandang ini sudah ada Sapi betina/Sapi jantan yang dikebiri/Dummy, dan Pejantan lain, Guna dari Pejantan lain adalah sebagai perangsang bagi sapi untuk dapat langsung menaiki Dummy kaerna sapi akan merasa tertantang ketika ia melihat ada sapi jantan lain juga yang ingin menaiki Betina ayau dummy, diamana rangsangan ini timbul ketika sapi melihat dan akan diteruskan ke hipofisa dan akan merangsang kerja hormone, sebelum sapi menaiki betina atau dummy terlebih dahulu sapi dibawa berputar atau jalan sekaligus exercise guna membuat sapi penasaran dan merilekskan otot agar memperkecil kecelakaan, setelah dirasa cukup izinkan sapi untu menaiki betina atau dummy, dan ketika sapi sudah siap menaiki sapi betina dan akan melakukan ejakulasi peternak haru sigap untuk membelokkan penis kedalam Vagina Buatan agar penampunga terjadi di dalam Vagina buatan, tunggu hingga ada sentakan dan ikuti ritme goyangan dari sapi, jangan dilawan, setelah keluar lakukan exercise untuk penampunag kedua, lakukan penampungan hingga 2 -3 kali agar hasilnya lebih maksimal.
Aksi Perkawinan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari Metode Penampunagn semen yang telah tertera diatas maka didapat hasil sebagai berikut :
Sapi Metode Penampungan Kuantitas – Kaualitas
A. Pengurutan (Massase) Banyak – Rendah (Kotor) B. Elektroejakulator Lumayan – Lebih baik dari Massase C. Vagina Buatan Cukup Banyak - Baik (Dibandingkan
Massase dan Elektroejakulator)
Pembahasan
Dari Praktikum yang telah dilaksanakan alasan pertama mengapa sapi Melakukan metode Massase atau Palpasi rektal dikarenakan kemungkinan sapi tersebut tersebut unggul tetapi impoten atau kesulitan dalam melakukan ejakulasi, sapi tidak sanggup meakukan kopuasi secara aami atau sapi tersebut tidak mampu melayani Vagina Buatan.
Dan penyebab lain sapi mengalami gangguan reproduksi berupa impoten yaitu Ada dua tipe gangguan eyakulasi, yaitu tidak ada atau rendahnya nafsu kawin (libido) dan kegagalan/ketidakmampuan kopulasi karena gangguan ereksi, gangguan menaiki hewan betina, dan kesulitan memasukkan penis.
Untuk Kelainan hewan jantan, libido merupakan aspek fungsi reproduksi yang sangat penting. Kurangnya libido (impotentia coeundi) dapat karena keturunan, gangguan psikogenik, ketidakseimbangan hormonal, atau faktor lingkungan. Meskipun spermanya bagus kalau libidonya rendah kesuburannya juga menurun. Sapi. Pada sapi baik libido maupun kemampuan mengawini dapat disebabkan oleh faktor genetik. Ini dibuktikan pada sapi jantan kembar monosigot libidonya sama meskipun pemberian pakan dan pengelolaannya berbeda.
Kurangnya nafsu kawin lebih sering terjadi pada sapi potong dan sapi Bos Indicus. Beberapa pejantan menjadi takut atau enggan karena perubahan lingkungan yang mendadak misal kandang, petugas yang memelihara, lokasi tempat penampungan semen. Karena takut menyebabkan nafsu kawin turun sampai pejantan tersebut biasa dengan keadaan yang baru tersebut. Ketakutan atau keengganan berkembang sebagai akibat frustasi yang berulang-ulang, kesalahan manageman, kesalahan pada saat koleksi semen, gangguan selama coitus, dan terlalu cepat teaser ditarik setelah kopulasi. Akibatnya pejantan tersebut menolak kopulasi, ereksi yang tidak komplit atau eyakulasi yang tidak sempurna.
Phimosis (radang praeputium) atau orificium praeputeal yang sempit akibat congenital (bawaan sejak lahir), luka atau akibat infeksi dapat menyebabkan penis tidak keluar. Penyebab yang lain adalah adanya hemalotom penis karena rusaknya/rupture corpus cavernosum penis, prolapsus praeputium, frenulum persistent, hair ring, scar tissue, tumor, laceration, urethral fistula, dan coiling penis.
Dan alasan sapi melakukan metode Elektroejakulator yaitu sapi tersebut unggul akan tetapi sapi tersebut tidak mampu melayani Vagina Buatan dan Massase, cedera pada sapi dapat disebebkan oleh beberapa hal, baik internal yang meliputi gangguan yang dibawa sejak lahir yang mengakibatkan sapi tersebut melakukan metode penampungan semen denagn metode Elektroejakulator, sedangkan eksternal yang meliputi manajemen pemeliharaan yang mengakibatkan sapi tersebut mengalami cedera.
PENUTUP
Kesimpulan
Dari Keempat metode penampungan (Massase, Elektroejakulator, Vagina Buatan, dan Aksi Perkawinan), metode yang umumnya sering digunakan adalah metode Vagina Buatan, dimana dalam metode ini Memiliki Kuantitas dan kualitas semen yang baik dibandingkan menggunakan ketiga metodde yang lain, penggunaan metode yang lain dilaksanakan ketika sapi tersebut tidak mampu melakukan metode Vagina Buatan disebabkan beberapa hal yang telah di bahas di atas.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Rasad.Darodjah.2011.BAB II Inseminasi Bauatan.”Metode Penampungan Semen. Metode Massase.”Laboratorium Produksi Ternzk Fakultas peternakan.Unpad. Rasad.Darodjah.2011.BAB II Inseminasi Bauatan.”Metode Penampungan Semen. Metode Elektroejakulator.”Laboratorium Produksi Ternzk Fakultas peternakan.Unpad.
Rasad.Darodjah.2011.BAB II Inseminasi Bauatan.”Metode Penampungan Semen. Metode Vagina Buatan.”Laboratorium Produksi Ternzk Fakultas peternakan.Unpad.