• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HARGA POKOK PRODUKSI DAN MODEL IMPLEMENTASI COMPETITIVE ADVANTAGE BAGI SUSTAINABILITY INDUSTRI PANDE BESI KECAMATAN KARANGLEWAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS HARGA POKOK PRODUKSI DAN MODEL IMPLEMENTASI COMPETITIVE ADVANTAGE BAGI SUSTAINABILITY INDUSTRI PANDE BESI KECAMATAN KARANGLEWAS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1052

Drs. I Wayan Mustika MSi AK; Drs. Sukirman MSiAK;

Drs. Saras Supeno, AK MSi.

"[Alamat Institusi]"

"[Alamat Email]"

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memahami harga pokok produksi dan sustainability industri Pande Besi di desa Pasir Wetan dalam menghadapi pasar bebas Asia. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai adalah: 1) Untuk mengetahui harga pokok produksi industri pande besi 2). Untuk mengetahui competitive Advadtage bagi sustainability Pande Besi. 3) Untuk mengetahui implementasi Competitive Advantage bagi sustainability Pande Besi di kecamatan Karang Lewas. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Dengan menggunakan model Luder (1992) pada pelaku bisnis industri Pande Besi. Pendekatan deskriptif kualitatif dilakukan dengan menjelaskan permasalahan yang ada pada objek penelitian dengan cara berpikir deduktif. Pengumpulan data dengan cara in-dept interview dan informannya sebagai sampel adalah pemilik dan / atau karyawan perajin pande besi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan didapatkan hasil : 1) Perhitungan Harga Pokok Produksi sudah diperhitungkan secara layak. 2). Produk Pande Besi desa Pasir Wetan memiliki keunggulan komparatif. 3) Model Implementasi Competitive Advantage bagi

sustainability Pande Besi, adalah meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan jaringan informasi. Pada saat ini industri Pande Besi di desa Pasir Wetan masih memiliki daerah pemasaran lokal yaitu kabupaten Banyumas dan sekitarnya. Nampaknya belum begitu siap untuk bersaing menghadapi pasar bebas Asia. Persaingan produk dengan produk yang berasal dari Kabupaten sekitarnya cukup ketat karena banyaknya pesaing yang sudah memiliki nama besar seperti produk yang sama dari Gumelem Banjarnegara. Masalah yang dihadapi usaha Pande Besi ini tidak bisa diatasi hanya oleh pengusaha sendiri. Diperlukan bantuan dari para ilmuwan dan pemerintah untuk melatih, mendampingi, dan memberikan berbagai fasilitas yang diperlukan.

Kata Kunci: Harga pokok, Competitive Advantage, Sustainability Industri Pande Besi.

ABSTRACT

(2)

1053

obtained results: 1) Calculation of Cost of Production has been calculated properly. 2). The Iron Pande product of Pasir Wetan village has a comparative advantage. 3) Competitive Advantage Implementation Model for sustainability of Iron Pande, is to improve the ability of science, technology, and information network. At this time Pande Besi industry in Pasir Wetan village still has local marketing area that is Banyumas district and its surroundings. It seems not yet ready to compete against the Asian free market. Competition of products with products from the surrounding regency is quite tight because of the many competitors who already have a big name like the same product from Gumelem Banjarnegara. The problems faced by Pande Besi business can not be solved only by the entrepreneurs themselves. It takes help from scientists and government to train, assist, and provide the necessary facilities.

Keywords: Cost of goods, Competitive Advantage, Sustainability of Pande Iron Industry.

PENDAHULUAN

Peningkatan jumlah pendapatan dan perkembangan penduduk yang tinggi mengakibatkan

meningkatnya permintaan terhadap produk baik berupa barang ataupun jasa. Kebutuhan baran dan

jasa tersebut tidak dapat dipenuhi hanya oleh produksi di dalam negeri. Sebagian harus didatangkan

dari negara lain. Sistem perdagangan dunia dewasa ini menganut sistem pasar bebas yang

mengakibatkan tiap – tiap negara harus membuka diri untuk melakukan perdagangan dengan

negara lainnya.

Meningkatnya teknologi informasi ikut mendukung dan memudahkan perdagangan antar

negara. Kemudahan tersebut hampir dalam semua aspek pedagangan seperti pelaksanaan promosi

penjualan, negosiasi jual beli, pembayaran dan pengiriman barang. Semua dapat dilakukan dengan

lebih mudah dan juga lebih murah.

Secara teoritis perdagangan bebas diyakini akan dapat menciptakan kemakmuran bagi

negara-negara yang mengikutinya. Setidaknya ada tiga keuntungan dari perdagangan antar negara

yaitu : (1). Perdagangan meningkatkan spesialisai. (2) Perdagangan bebas meningkatkan efficiency

karena meningkatnya kompetisi. (3). Perdagangan bebas membuka investasi asing atau impor

teknologi sehingga proses produksi dan proses pemenuhan kebutuhan masyarakat menjadi lebih

efesien.

Perdagangan bebas dapat diterapkan suatu negara melalui suatu perjanjian yang isi

perjanjiannya telah disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam perjanjian tersebut, dan salah

satu bentuk perjanjian internasional terkait perdagangan bebas yang dilakukan Indonesia adalah

ACFTA. ACFTA atau ASEAN-CHINA Free Trade Agreement adalah sebuah perjanjian

perdagangan bebas di antara negara-negara anggota ASEAN dan Cina.

Kerangka kerjasama ini disepakati dan ditandatangani di Phnom Penh, Cambodia, pada 4

November 2002. Berdasar perjanjian tersebut, negara-negara anggota ASEAN dan Cina terbebas

dari pajak atas 7.000 kategori komoditi mulai 1 Juli 2005 dan memberikan status bebas bea bagi

(3)

1054

ACFTA akan membuat biaya transaksi perdagangan menjadi lebih murah karena

hambatan-hambatan tarif perdagangan antar negara dibebaskan. Sementara itu efisiensi ekonomi

semakin meningkat karena meningkatnya permintaan dari negara lain. Dengan demikian dapat

menjadikan kawasan ASEAN dan China memiliki daya tarik yang tinggi sebagai tujuan investasi

dan perdagangan. Bagi ASEAN, ACFTA berguna untuk mengurangi ancaman pertumbuhan

perekonomian China yang sangat pesat dan agresif. Banyak perusahaan-perusahan internasional

begitu khawatir dengan China karena kemampuan meniru teknologi yang tinggi dengan biaya yang

jauh lebih murah, sehingga mereka akhirnya bekerja sama dan mau mendirikan perusahaannya di

China.

Perajin pande besi di Karang Lewas mampu membuat berbagai ragam produk dengan

bentuk dan model apa pun sesuai dengan pesanan. Selama ini, para perajin tidak biasa

menampilkan sebagai barang ''made in Pasir'', meski secara kualitas sebenarnya mampu bersaing di

pasaran internasional. Untuk bisa mengarah menjadi industri besar modalnya tentu harus besar.

Saat ini belum ada yang mampu. Yang penting barang yang sudah memiliki kualitas yang tinggi.

Industri kerajinan logam yang ada di daerah Karang Lewas sering mendapat order dari daerah lain,

Walaupun belum ada marketing secara modern, hanya dari promosi mulut ke mulut,

pemasarannya sudah sampai keluar Pulau Jawa. Antara lain ke Kalimantan, Jambi, dan Riau.

Untuk di daerah Purwokerto sendiri, pemasarannya biasanya dilakukan pada hari Sabtu melalui

tengkulak di Sokaraja. Harganya berfariasi tergantung lama prosesnya dan besar-kecilnya barang

yang diproduksinya. ([email protected]). Ada juga permintaan dari perusahaan di

Indramayu yang dipoles lebih lanjut untuk ekspor ke Eropa. Perajin di sini tetap merasa

diuntungkan, karena selalu ada order. Barang dibuat setengah jadi, kemudian oleh pemesan dipoles

menjadi barang jadi untuk diekspor.

Penelitian ini memiliki berbagai tujuan sebagai berikut: (1). Untuk mengetahui apakah

perhitungan harga pokok produksi industri sudah memadai secara akuntansi keuangan. (2). Untuk

mengetahui pemahaman Competitive Advantage bagi sustainability Industri Pande Besi di di desa

Pasir Wetan Kecamatan Karang Lewas pemetaan UMKM. (3). Untuk mengetahui implementasi

Competitive Advantage bagi sustainability Industri Pande Besi di desa Pasir Wetan Kecamatan

Karang Lewas.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada industry Pande besi di Kecamatan Karang Lewas. Pemilihan

lokasi tersebut dengan alasan bahwa daerah tersebut mempunyai jumlah usaha pande besi yang

sangat besar, bahkan mungkin yang terbesar di kabupaten banyumas. Penelitian ini menggunakan

(4)

1055

dilakukan dengan menggambarkan dan menjelaskan secara jelas permasalahan yang ada pada

obyek penelitian dengan cara berfikir deduktif pada akhir dilakukan perbandingan dengan

teori-teori yang berhubungan. Penelitian ini meringkas kondisi, berbagai situasi atau berbagai variable

yang timbul di masyarakat yang menjadi obyek penelitian. Penelitian kualitatif dilakukan dengan

wawancara yang mendalam. Metode kualitatif digunakan untuk menggali informasi yang sifatnya

lebih mendalam.

Obyek penelitian ini adalah analisis harga pokok produksi dan aspek pemahaman dan

implementasi Competitive Advantage dalam pemberlakuan ACFTA bagi sustainability Usaha

pande besi di desa Pasir Wetan Kecamatan Karang Lewas. Metode pengumpulan data dalam

penelitian ini adalah dengan pengumpulan data primer yang secara langsung dikumpulkan sendiri

oleh peneliti dilapangan dengan in-dept interview pemilik usaha dan karyawan ysng bekerja pada

usaha pande besi tersebut.

Metode analisis data dengan menggunakan reduksi data, sajian data dan penarikan

kesimpulan/verifikasi, dengan teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan metode

triangulasi. Metode analisis data yang digunakan yaitu Metode analisis deskriptif dan Matriks

Analisis Kebijakan. Metode analisis Policy Analysis Matrix (PAM) yang digunakan dalam

penelitian ini, yaitu PAM Single Period.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Produk pande besi sangat dibutuhkan masyarakat. Di setiap rumah pasti ditemukan

berbagai produk pande besi. Produk tersebut bermacam-macam mulai dari pisau dapur, golok

daging, golok untuk kerja di kebun, sabit, cangkul, dan lain-lain peralatan rumah tangga. Hingga

sampai produk cindra mata atau berbagai jenis pusaka yang bernilai seni tinggi sebagai

peninggalan budaya adiluhung nenek moyang.

Jika di masa lalu berbagai senjata tersebut diduganakan untuk peralatan perang ataupun

bela diri, maka di jaman damai seperti sekarang ini senjata – sejata tersebut dimanfaatkan untuk

bekerja di hutan, ladang, sawah, pertukangan atau untuk peralatan rumah tangga. Namun ada pula

yang dimanfaatkan menjadi cindra mata atau produk seni yang bernilai tinggi.Dimana saat ini

produk tersebut banyak diminati wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Keberadaan pande besi di kecamatan Karang Lewas, sudah tidak asing lagi bagi

masyarakat Banyumas. Konon keberadaanya itu tidak lepas dari sejarah leluhurnya yang dimulai

pada masa perjuangan. Pada masa itu Pasir Wetan menjadi pusatnya para empu dan pande besi,

yang memasok senjata saat perang Diponegoro. Kyai Nurhakim adalah seorang pejuang dan ulama

dari Surakarta Hadiningrat yang diutus oleh Pangeran Diponegoro untuk menggalang kekuatan di

(5)

1056

Keahlian para empu itulah yang secara turun-temurun diwariskan oleh generasi penerusnya

sampai saat ini.Pande besi yang awalnya untuk memenuhi kebutuhan senjata, kini menjadi sumber

penghidupan para perajinnya. Produk yang dihasilkanpun beragam sesuai pesanannya, dengan

proses pembuatan yang dimulai dari pemilihan bahan besi baja. Kemudian besi dibakar ditungku

menggunakan arang hingga besi membara, selanjutnya dibentuk sesuai pesanan dengan cara

ditempa menggunakan palu. Hingga proses akhir dimana produk siap untuk diberi merek dan

dikemas.

Tabel 1 : Harga Pokok Produksi dan Laba

Golok Sabit Cangkul Pisau Lading

Harga jual 50000 65000 85000 25000

Harga pokok produksi 29200 37720 47800 14325

Laba (rp) 20800 27280 37200 10675

Lapa (%) 41,60 41,97 43,76 42,70

Walaupun perajin pande besi tidak melaksanakan akuntansi, namun ternyata di dalam

menghitung harga pokok sudah dilakukan dengan cukup memadai yaitu : (1) unsur-unsur biaya

sudah dipahami hanya penyusutan peralatan yang belum dihitung dengan baik, (2) pengakuan

masing masing unsur biaya telah dilakukan secara layak, dan (3). Rata-rata laba yang diperoleh

adalah lebih dari 40 %. Margin laba yang tergolong tinggi ini adalah wajar mengingat skala usaha

pande besi rata-rata relatif kecil. Sehingga laba yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan

keluarga. Kebanyakan anak-anak perajin pande besi sekarang tidak mau meneruskan usaha

ayahnya sekarang dan berpindah ke bidang lainnya.

Walaupun perajin pande besi tidak melaksanakan akuntansi, namun ternyata di dalam

menghitung harga pokok sudah dilakukan dengan baik antara lain : (1) Identifikasi biaya sudah

memadai, (2) pengakuan telah dilakukan secara layak, dan (3). Tidak ada komponen biaya yang

tidak dihitung.

Melihat sejarah panjang dari industri Pande Besi di Indonesia, besar kemungkinannya

negara indonesia memiliki comparative advantage dalam industri Pande Besi dibandingkan dengan

negara lainnya. Banyaknya tenaga-tenaga yang telah memiliki warisan keakhlian yang bersfat turun

– temurun baik dalam bidang pemilihan bahan, membuat disain, keakhlian penyepuhan dan pemasarannya. Kompetensi yang tinggi dalam industri ini banyak dimiliki oleh tenaga-tenaga asli

indonesia.

Kekhasan produk pande besi desa di daerah jawa tengah pada dasarnya adalah

penyepuhannya. Penyepuhan sesuai istilahnya (sepuh = tua) adalah proses meningkatkan kualitas

(6)

1057

menjadi sangat tajam dan ketajamannya bertahan sangat lama. Hal ini yang belum bisa disamai

oleh produk senjata tajam modern buatan pabrik dengan bahan stainless still. Beberapa produk

pande besi seperti pisau lading, golok, bendo, sabit, kapak dan lain-lain belum bisa digantikan oelh

produk modern.

Mengingat kekhasan produk pande besi seperti tersebut di atas, memungkinkan Indonesia

memiliki keunggulan kompatratif dalam bidang ini. Metode analisis Policy Analysis Matrix (PAM)

yang digunakan untuk mengukur comparative advantage dalam industri Pande Besi, memperoleh

hasil sebagai berikut :

Tabel 2 : Policy Analysis Matrix (PAM) untuk mengukur Comparative Advantage industri Pande Besi di Desa Pasir Wetan Kecamatan Karanglewas.

Biaya

Uraian Penerimaan Biaya input Biaya Faktor

domestik

Profit

Tradable

Harga Pripat 19,647,266 11,567,492 1,534,516 8,079,773

Harga social 16,460,938 11,567,492 1,534,516 3,358,930

Sumber data : Data primer diolah. PCR = 0,1899

DRCR = 0,3136

Profit Harga Sosial (PHS) menunjukkan keuntungan sosial yang dimiliki suatu produk.

Diperoleh dengan mengurangkan pendapatan dengan biaya yang terdiri dari dua jenis yaitu biaya

yang diperdagangan dan biaya faktor domestik yang nontradable. Dengan demikian PHS

menunjukkan keuantungan secara sosial suatu produk tertentu. Sehingga apabila bernilai positif

maka produk tersebut memiliki keunggulan komparatif, sebaliknya jika bernialai negatif berarti

produk tersebut tidak meiliki keunggulan komparatif. Dalam tabel 2 di atas Profit Harga Sosial

bernilai Rp. 3,358,930,- lebih besar dari nol sehingga berarti industri Pande Besi memiliki

keunggulan komparatif.

Private Cost Ratio (PCR) menunjukkan keuntungan sosial yang dimiliki suatu produk

dilihat dari manfaat sosial produk tersebut dibanding dengan pengorbanan biaya aktual yang

diperdagangkan. Skala nilai PCR adalah dari -1 sampai dengan 1. Apabila manfaat ini bernilai

positif maka maka produk tersebut memiliki keunggulan komparatif, sebaliknya jika bernialai

negatif berarti produk tersebut tidak memiliki keunggulan komparatif. Private Cost Ratio (PCR)

bernilai : 0,1899, karena lebih besar dari nol (positif) maka berarti ada keunggulan komparatif.

Analisis efisiensi ekonomik atau keunggulan komparatif dengan indikator Domestik

(7)

1058

menguntungkan secara ekonomis dalam pemanfaatan sumberdaya domestik. Namun apabila

DRCR > 1 menunjukan kegiatan tersebut tidak efisien. Hasil perhitungan mendapatkan DRCR

memperoleh hasil : 0,3136. Ini berarti ada keunggulan komparatif.

Ketiga indikator keunggulan kompatratif yang digunakan PHS, PCR, dan DRCR

menghasilkan bahwa produk Pande Besi memiliki keunggulan komperatif. Hal ini tidak serta

merta berarti bahwa kita paling unggul dalam industri Pande Besi dibandingkan negara atau daerah

lainnya. Harus dipahami dengan baik substansi dari comparative advantage.

Dalam rangka mempertahankan mempertahankan keunggulan bersaing dan eberlangsungan

usaha pada penelitian ini dilihat dari 15 item seperti tampak dalam tabel 3. Berdasarkan survei

yang dilakukan ternyata persepsi responden untuk item-items tersebut dirasakan masih kurang dan

belum maksimal.

Tabel 3. Ukuran Gejala Pusat (Mean, Median, Mode) Sustainable Industri Pande Besi di Desa Pasir Kecamatan Karanglewas.

Sumber data : Data primer diolah.

Ukuran gejala pusat adalah gejala memusatnya data yang merupakan kecendrungan umum

dari persepsi responden atas permasalahan sustainable industri Pande Besi yang dihadapi yang

diukur dalam 15 items tersebut. Gejala pusat dapat dilihat dari Mean, Median dan Mode. Pada

berbagai kasus ketiga ukuran ini bisa sangat berbeda, terutama apabila data berdistribusi tidak

Notasi Keterangan Mean Median Modus

1 Disain produk 1.94 2 2

2 Standardisasi produk 2.75 2 1 3 Pengembangan disain produk 2.06 2 2 4 Keberanian bersaing dengan produk luar 2.19 2 3

5

Mendapatkan dukungan dan fasilitas dari

pemerintah 2.81 2 2

6 Strategi Harga 2.25 2 2

7 Strategi Segmen Pasar 2.25 2 2 8 Membangun Jaringan wilayah pemasaran 1.88 2 2

9

Memanfaatkan jejaring sosial untuk

perluasan pasar 1.88 2 2

(8)

1059

normal. Dalam kasus industri Pande Besi ketiga ukuran gejala pusat relatif tidak berbeda sehingga

dapat dikatakan salah satu dari ukuran tersebut dapat sebagai indikator gejala pusat.

Mean pada masing-masing item berkisar pada angka dua pada skala likert (1,2,3,4,5) ini

berarti rata-rata responden memiliki persepsi bahwa dalam rangka sustainable produk Pande Besi,

dirasakan bahwa strategi usaha yang dilakukan belum begitu baik atau bahkan masih kurang. Ini

menunjukkan kondisi yang tidak siap dalam rangka menghadapi pasar bebas Asia.

Tabel 4 Proporsi Frekuensi Jawaban Responden tentang Sustainable Industri Pande Besi di Desa Pasir Kecamatan Karanglewas dalam skala Likert (1,2,3,4,5)

No Keterangan Skor

5 4 3 2 1

1 Disain produk 8,33 8,33 41,67 41,67 0,00 2 Standardisasi produk 0,00 25,00 33,33 41,67 0,00 3 Pengembangan disain produk 0,00 25,00 41,67 33,33 0,00 4 Keberanian bersaing dengan produk luar 0,00 25,00 41,67 33,33 0,00 5 Dukungan dan fasilitas dari pemerintah 0,00 0,00 33,33 50,00 16,67 6 Strategi Harga 0,00 0,00 25,00 66,67 8,33 7 Strategi Segmen Pasar 0,00 0,00 58,33 33,33 8,33 8 Membangun Jaringan wilayah pemasaran 0,00 33,33 25,00 41,67 0,00 9 Memanfaatkan jejaring sosial utk pemasaran 0,00 0,00 33,33 50,00 16,67 10 Promosi melalui iklan 0,00 0,00 33,33 66,67 0,00 11 Promosi Penjualan pada event-event social 8,33 25,00 41,67 25,00 0,00 12 Inovasi dalam disain produk. 0,00 25,00 33,33 41,67 0,00 13 Inovasi dalam disain model terbaru 0,00 25,00 41,67 33,33 0,00 14 Inovasi dalam manajemen biaya. 0,00 0,00 50,00 50,00 0,00 15 Inovasi dalam pemasaran produk. 0,00 25,00 41,67 33,33 0,00

Sumber data : Data primer diolah.

Agar usaha Pande Besi sangup untuk bersaing dipasar bebas. Maka perlu dilakukan strategi

implementasi yang mengarah kepada mempertahankan comparative Advantage, serta terus

mempertahankannya di masa depan secara berkelanjutan (sustainable). Untuk keperluan tersebut

maka item-item yang belum mencapai setidaknya skor 4 (tindakan yang memadai) harus

diupayakan untuk ditingkatkan mecapai kondisi memadai tersebut.

Dalam suatu industri disamping adanya persaingan antar pengusaha, biasanya ada pula

tindakan saling meniru diantara mereka. Kalau para pesaing utama biasanya berusaha dengan

segala upaya untuk melampaui pemimpin pasar, maka para pengikut pasar biasanya berusaha

meniru pemimpin pasar. Oleh karena itu pada kondisi usaha Pande Besi diasumsikan proporsi

frekuensi 25% pada skor 4 dan / atau 5 sudah dapat dianggap memadai sehingga tidak terlalu

(9)

1060

pemimpin pasar, Sehubungan dengan hal itu maka tindakan yang masih sangat mendesak untuk

ditingkatkan ada 7 item antara lain :

1. Disain produk

2. Mendapatkan dukungan dan fasilitas dari pemerintah

3. Strategi Harga

4. Strategi Segmen Pasar

5. Memanfaatkan jejaring sosial untuk perluasan pasar

6. Promosi melalui iklan

7. Inovasi dalam manajemen biaya.

Dalam rangka mencapai hal tersebut kesadaran dan kemampuan dari para pengusaha Pande

Besi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kemampuan mendapatkan informasi, serta

perubahan tata nilai budaya yang memotivasi pengusaha untuk selalu maju dan berkembang.

Pengusaha tidak dapat melakukan hal tersebut sendiri. Perlu bantuan dari para ilmuwan, peneliti

dan pemerintah untuk memberikan bantuan pendidikan, pelatihan, sosialisasi dan pendampingan

dari para ilmuwan dan peneliti, serta bantuan permodalan, teknologi, fasilitas, dari pemerintah.

KESIMPULAN

1. Perhitungan harga pokok produksi sudah dilakukan dengan cukup memadai. Walaupun belum

melaksanakan akuntansi namun perajin pande besi telah mampu menetapkan harga barang dan

jasa dengan harga yang layak sehingga mendapatkan keuntungan yang memadai.

2. Pada saat ini usaha Pande Besi di Desa Pasir Kecamatan Karanglewas masih memiliki

Competitive Advantage terhadap produk luar. Tradisi yang telah berlangsung demikian lama

bertahan sampai saat ini menyisakan keakhlian yang tinggi dan tradisi yang kuat sebagai

komunitas yang tetap mencintai produk dan jasa yang disediakan Pande Besi.

3.

Model Implementasi Competitive Advantage bagi sustainability UMKM Pande Besi di Wilayah Kecamatan Karanglewas yang sangat mendesak untuk dilakukan adalah

meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan jaringan informasi bagi para

pengusaha Pande Besi agar mereka memiliki kemampuan kewirausahaan, pengelolaan

organisasi dan pengelolaan usaha yang memiliki kinerja tinggi yang mampu bersaing di pasar

Asia.

DAFTAR PUSTAKA

(10)

1061

Chirathvat, S. 2002. ASEAN-China Free Trade Area: background, implications and future development. Journal of Asian Economics

Daniels, John D. Lee H. Radebaugh & Daniel P. Sullivan. 2007. International Business: Environment and Operations. New Jersey: Pearson Prentice Hall. Chapter 6: International Trade and Factor Mobility Theory

Ibrahim, Permata, M.I., Wibowo, W.A. 2010. Dampak Pelaksanaan ACFTA terhadap

Perdagangan Internasional Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan Vol. 13

Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makro Ekonomi. Jakarta : Erlangga.

R Ajami, K Cool, GJ Goodrad, D Khambata. 2006. International Busniess: Theories and Practice, 2nd edition. New York: M.E. Sharpe Inc. Chapter 3: Theories of Trade and Economic Development

Widarjono, Agus. 2005. Ekonometrika : Teori dan Aplikasi untuk Ekonomi dan Bisnis. Yogyakarta : Ekonisia Fakultas Ekonomi UII

http://mtmitb.forumotion.com/t90-acfta-dan-pengaruhnya-terhadap-industri-ukm-di-indonesia diakses 6 oktober 2014

http://noneyoelie.blogspot.com/2011/01/dampak-acfta-terhadap-ukm.html diakses 6 oktober 2014

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b82b76e063d7/acfta-peluang-bagi-pelaku-koperasi-dan-ukm diakses 6 oktober 2014

Gambar

Tabel 1 :  Harga Pokok Produksi dan Laba
Tabel 3.   Ukuran Gejala Pusat (Mean, Median, Mode) Sustainable Industri Pande Besi di Desa Pasir Kecamatan Karanglewas
Tabel 4  Proporsi Frekuensi Jawaban Responden tentang  Sustainable Industri Pande Besi di Desa Pasir Kecamatan Karanglewas dalam skala Likert  (1,2,3,4,5)

Referensi

Dokumen terkait