PERANCANGAN MEDIA KOMUNIKASI
VISUAL UNTUK MENDUKUNG WISATA
EDUKASI DI TAMAN BURUNG TMII
Aldi Pratama Soekma Widjaya
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Kristen Maranatha, Bandung 40164 E-mail : [email protected]
Abstract
The main problem in educational attraction in indonesia is when the educational function in public area is incomparable with the more dominant travel function.
TMII bird park is considered as one of the bird park destination attraction places at Indonesia. Its main target is youth. This bird park represents Indonesia various bird which is to be able to cultivate the awareness of Indonesian Bird riches heritage. This tourist spot must meet youth’s education with brand awareness in society prior to design sign-system which effectively enhance its Bird Park educational function.
Continuing from this matter, the writer designates Bird Park brand as well as its visual identity equipped with sign system design so that the Bird Park can enhance its potent as educational travel which develops society awareness for its bird which can not be compared with other Bird Park in indonesia and outside bird park in Indonesia.
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN i
PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN TUGAS AKHIR ii
PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN TUGAS AKHIR iii
KATA PENGANTAR iv
1.1.1 Kondisi Kritis Burung Indonesia 1
1.1.2 Upaya pelestarian burung di Taman Burung TMII 2
1.1.3 Komunikasi Visual dalam wisata edukasi di Taman Burung TMII 3
1.2 Permasalahan 4
1.3 Fokus Penelitian 4
1.4 Tujuan Perancangan 4
1.5 Teknik Pengumpulan Data 5
1.6 Skema Perancangan 6
1.7 Sistematika Perancangan 7
BAB II LANDASAN TEORI 8
2.1 Tinjauan Mengenai Identitas Visual 8
2.1.1 Teori Media Aplikasi Identitas Visual 9
2.2 Tinjauan Teoritis Mengenai Tanda dan Sistem 10
2.2.1 Tanda (Ikon, Indeks, Simbol) 10
2.3 Tinjauan Tentang Sistem Tanda/ Sign System 11
2.3.1 Proses Sistem Tanda 13
2.4 Teori Layout 13
BAB III URAIAN DATA DAN ANALISIS 15
3.1 Data TMII 15
3.1.1 Wawancara 17
3.1.2 Observasi 18
3.2 Analisa Taman Burung TMII 21
3.2.1 Fungsi Taman Burung TMII 21
3.2.2 Karakteristik Lingkungan Taman Burung TMII 23
3.2.3 Jam Operasional Taman Burung TMII 25
3.2.4 Harga Tiket 26
3.2.5 Peta Area 26
3.2.6 Fasilitas 27
3.2.7 Analisa Segmentasi, Targeting, Positioning 27
3.2.8 Analisa Wahana Pembanding 31
BAB IV PEMECAHAN MASALAH 47
4.1 Konsep Komunikasi 47
4.3.1 Media Identitas Visual Taman Burung 49
4.3.2 Media Edukatif dan Aplikatif Taman Burung 49
4.3.3 Media Tambahan 50
4.4 Hasil Karya 51
4.4.1 Logo 52
4.4.3 Seragam 53
4.4.4 ID Card 54
4.4.5 Tiket 54
4.4.6 Mobil Operasional 55
4.4.7 Sign System 56
4.4.8 Website dan Aplikasi 63
4.4.9 Photobooth 65
4.5 Budgeting 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 67
5.1 Kesimpulan 67
5.2 Saran 68
DAFTAR PUSTAKA 69
DAFTAR ISTILAH 70
LAMPIRAN 72
DAFTAR DIAGRAM
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1: Skema Perancangan 6
Gambar 3.1: Pemandangan kubah raksasa taman burung TMII 19
Gambar 3.2: Sungai yang menggambarkan garis Wallace 20
Gambar 3.3: Kubah Timur 20
Gambar 3.4: Papan selamat datang dan Informasi 21
Gambar 3.5: Suasana Asri di Taman Burung TMII 25
Gambar 3.6: Peta Taman Burung TMII 26
Gambar 3.7: Bali Bird Park 32
Gambar 3.8: Pemandangan Jurong Bird Park 34
Gambar 3.9: Signage Jurong Bird Park 34
Gambar 3.10: Map Area dan daftar show Jurong Bird Park 35
Gambar 3.11: Poster promosi Jurong Bird Park 35
Gambar 3.12: Banner Jurong Bird Park 36
Gambar 3.13: Pemandangan Taman Burung TMII 40
Gambar 3.14: Brosur 43
Gambar 3.15: Sistem Penanda 44
Gambar 3.16: Penanda Peta Area 45
Gambar 3.17: Name Tag/Information Display 45
Gambar 4.1: Logo Taman Burung TMII 52
Gambar 4.2: Logo Taman Burung TMII saat ini 52
Gambar 4.3: Stationery 53
Gambar 4.5: Seragam 54
Gambar 4.7: Tiket 55
Gambar 4.8: Mobil Operasional 55
Gambar 4.9: Mini Bantimurung Taman Burung 56
Gambar 4.10: Main Entrance Sign 57
Gambar 4.11: Main Entrance Gate 58
Gambar 4.12: Main Directory Taman Burung 58
Gambar 4.13: Directional Sign saat ini 59
Gambar 4.14: Directional Sign Taman Burung 59
Gambar 4.15: Mobile Brochure Rack, Banner, dan Billboard 60
Gambar 4.16: Dome Entry Gate saat ini 60
Gambar 4.17: Dome Entry Gate Taman Burung 61
Gambar 4.18: Bird Name Tag lama 61
Gambar 4.19: Bird Name Tag 62
Gambar 4.20: Peta lama Taman Burung TMII 62
Gambar 4.21: Peta Taman Burung 63
Gambar 4.22: Website 64
Gambar 4.23: Website dan Aplikasi 64
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Naskah Wawancara 72
Lampiran 2: Naskah Kuisioner 73
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1: Hasil kuisioner Dalam Berbagai Rentang Usia 29
Tabel 3.2: Jumlah Data Pengunjung Taman Burung TMII Tahun 2012 30
Tabel 3.3: Faktor Pembanding Umum 37
Tabel 3.4: Daftar Kekuatan(S) dan Kelemahan(W) Taman Burung TMII 39
Tabel 3.5: Daftar Peluang(O) dan Ancaman(T) Taman Burung TMII 41
DAFTAR ISTILAH
Aviary h.25 kubah/sangkar burung raksasa
Audience h.2 orang yang melihat karya/sasaran
Banner h.12 spanduk
Birdshow h.20 atraksi burung
Bird Park h.30 taman burung
Ex-situ h.19 merupakan metode konservasi yang mengonservasi
spesies di luar distribusi alami dari populasi
tetuanya
Event h.20 acara
Field trip
h.29 sebuah program yang dirancang sedemikian rupa,
dengan menggabungkan beberapa unsur kegiatan
Feedingshow h.20 pertunjukkan pemberian makan burung
Font huruf
Konservasi h.3 upaya yang dilakukan manusia untuk melestarikan
atau melindungi alam
Note h.27 catatan
Opportunity h.33 kesempatan/ Peluang
Outdoor luar ruangan
Positioning h.12 menetapkan posisi pasar
Plasma Nutfah sumber daya alam keempat di samping sumber
daya air, tanah, dan udara yang sangat penting
untuk dilestarikan
Segmentasi h.12 mengidentifikasi segmen pasar
Strenght h.34 kekuatan
Targeting h.12 membidik dan menyeleksi pasar sasaran
Threat h.33 ancaman
Veterinarian h.19 dokter hewan
Weakness h.35 kelemahan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Burung merupakan salah satu sumber plasma nutfah yang memberikan warna dalam
kekayaan hayati yang dimiliki Indonesia. Sebagai salah satu fauna yang indah dan
diminati di Indonesia, banyak jenis burung tertentu yang ditangkap untuk dipelihara.
Hal ini tentu berdampak buruk bagi jumlah jenis dan populasi burung tertentu di
alam. Melihat hal tersebut ada beberapa hal yang perlu kita ketahui mengenai kondisi
burung di Indonesia hingga upaya konservasi melalui wisata edukatif di Taman
Burung.
1.1.1 Kondisi Kritis Burung Indonesia
Bicara tentang kondisi burung di Indonesia, hal pertama yang harus diketahui adalah
keanekaragamannya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Ani Mardiastuti, Ketua
Dewan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia dalam sebuah artikel di
(http://garutnews.com/?p=14547. 21 Februari 2013. 19.00WIB) mengatakan:
“Indonesia dikenal negara kaya keanekaragaman burung). Ada 1.597 jenis atau 16 persen dari total 10 ribu jenis di dunia. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia
sebagai pemilik burung terbanyak kelima di dunia. Kekayaan ini tak ada artinya bila
kesadaran terhadap pelestarian burung rendah.” Hal tersebut menunjukan bahwa
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman burung sangat
beragam.
Selain itu, hal yang perlu diketahui selanjutnya adalah kondisi dari burung-burung
tersebut. Yeni Aryati Mulyani, Ahli burung dari Fakultas Kehutanan IPB pernah
mengatakan: “Indonesia memiliki 372 spesies burung endemik di dunia. “Artinya,
Namun, tak kurang dari 121 spesies burung endemik berstatus kritis dan 32 spesies
berstatus terancam punah”.
(http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/07/04/lnsds7-kekayaan
burung-indonesia-peringkat-tiga-di-dunia. 21 Februari 2013. 19.00WIB)
Dari beberapa kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa kekayaan hayati burung di
Indonesia merupakan salah satu yang terbesar, namun juga merupakan yang sangat
kritis kondisinya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dengan 2
tipe kawasan yang berbeda, yaitu antara Indonesia Bagian Barat yang memiliki tipe
kawasan yang Oriental dan bagian timur yang terpengaruh tipe kawasan Australia
menjadikan keanekaragaman burung di Indonesia sangat beragam. Kondisi
demikian, menjadikan upaya pendekatan edukasi hingga konservatif mulai muncul.
Keberadaan Indonesia yang merupakan urutan ke-4 negara yang memiliki jenis
burung terbanyak dengan memiliki 1.597 jenis burung atau sekitar 17% dari jumlah
seluruh jenis burung di dunia dan 372 jenis diantaranya merupakan jenis endemik
Indonesia bersanding dengan Kolombia, Brazil dan Peru.
Tingkat keragaman hayati yang sangat besar itulah perlu didukung oleh instansi/
lembaga yang bisa mengajak pengunjung untuk mengenal mengenai kekayaan fauna
burung langka khas Indonesia dengan salah satunya melakukan kunjungan ke wisata
edukatif Taman Burung. Karena di Taman Burung pengunjung dapat memproleh
pengetahuan mengenai jenis-jenis burung, meliputi nama, habitat, makanan alami,
serta informasi lain yang menambah wawasan.
1.1.2 Upaya pelestarian burung di Taman Burung TMII
Berangkat dari pentingnya nilai kekayaan hayati tersebut, program pemerintah
melalui menteri kehutanan bekerja sama dengan sektor pariwisata untuk melakukan
program konservasi dengan lembaga-lembaga yang pakar di bidang tersebut untuk
mulai melakukan gerakan konservasi burung, berdasarkan PM Kehutanan
Tentu dari penetapan tersebut, peranan Taman Burung TMII tidak terbatas pada
wisata/ wahana edukasi. Telah tercatat bahwa Taman Burung berfungsi sebagai
loka-bina masyarakat perburungan, sehingga taman ini sering dijadikan ajang lomba
burung, lomba bagi anak-anak dan siswa untuk mengenal lebih dalam mengenai
burung, serta tempat penelitian bagi para mahasiswa. Dari segi penangkaran dan
pelestarian, taman ini telah berhasil mengembang-biakkan lebih dari 100 jenis, di
antaranya sekitar 30 jenis merupakan jenis-jenis yang dilindungi dan langka.
1.1.3 Komunikasi Visual dalam wisata edukasi di Taman Burung TMII
Untuk memperoleh pendidikan, banyak cara yang dapat kita capai. Di antaranya
melalui wisata edukasi. Sebuah wisata edukasi harus menggabungkan unsur kegiatan
wisata dengan muatan pendidikan didalamnya dengan memenuhi kebutuhan
pengunjung secara nyata baik melalui komunikasi visual maupun melalui
pendengaran. Misalkan dalam sebuah taman burung kita akan mendengar berbagai
jenis kicauan burung, dari hal tersebut kebutuhan kita untuk mempelajari jenis kicau
burung sudah terpenuhi melalui pendengaran.
Kebutuhan edukasi juga harus terpenuhi melalui komunikasi visual. Ambil contoh
masih dalam konteks taman burung, komunikasi visual yang mengandung muatan
edukatif tidak bisa diperoleh hanya dengan melihat fisik dari seekor burung ataupun
dengan mengamati pola gerak yang dimiliki burung tersebut. Tentunya kita harus
mengenal terlebih dahulu nama burung dan daerah asalnya, hingga makanannya.
Kebutuhan untuk informasi tersebut dapat disampaikan lewat perancangan
komunikasi visual berupa information display, guide book, map, dan lain sebagainya.
Berangkat dari hal tersebut, Penulis selaku mahasiswa desain komunikasi visual
merasa memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan
memperkenalkan manfaat desain komunikasi visual untuk menunjang kebutuhan
target audience dalam menerima materi/muatan edukasi yang terdapat di Taman
Burung TMII. Hal ini tentu sesuai dengan fungsi dasar desain komunikasi visual
sebagai: sarana informasi, sumber penerangan dan sarana penghimbau (Hollis,
1994:7).
1.2 Permasalahan
Dengan memperhatikan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka adapun
permasalahan yang ingin disampaikan antara lain, sebagai berikut:
1. Bagaimana merancang media komunikasi visual yang tepat dalam konteks
pendidikan kepada pengunjung di Taman Burung TMII?.
2. Apakah peran perancangan media komunikasi visual yang sudah ada, sudah
memadai untuk menyampaikan informasi mengenai burung yang ada di Taman
Burung TMII kepada pengunjung?
1.3 Fokus Penelitian
Ruang lingkup permasalahan dibatasi hanya pada tahap analisis terhadap media
komunikasi visual yang sudah ada di lingkungan Taman Burung TMII maupun yang
belum ada. Baik itu melalui observasi yang penulis telah lakukan maupun dari
pengumpulan data mengenai topik yang akan diteliti. Dari hasil analisis penulis akan
menjabarkan mengenai permasalahan yang timbul dari hasil penelitian dan penulis
akan membuat rancangan media komunikasi visual sebagai bagian dari konteks
pemecahan masalah pendidikan tersebut.
1.4 Tujuan Perancangan
1. Merancang media komunikasi visual yang tepat sasaran, sehingga muatan
edukatif yang hendak disampaikan bisa dimengerti oleh sasaran.
2. Merancang media komunikasi visual yang dapat meningkatkan kualitas
pendidikan yang ada di Taman Burung TMII yang saat ini kurang memadai
1.5 Teknik Pengumpulan Data
1. Literatur
Data yang berasal dari literatur seperti buku-buku literatur dan data internet
mengenai TMII, Bali Bird Park, Burung Indonesia dan teori desain lain yang
mendukung.
2. Wawancara Terstruktur
Merupakan data dari wawancara terhadap narasumber yang pakar di Taman
burung TMII guna mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh
penulis untuk menemukan permasalahan yang tepat sesuai dengan fakta yang
ada di lapangan.
3. Observasi
Observasi dilakukan pada data-data baik itu dokumentasi penulis berupa foto
maupun dengan studi banding dengan taman burung. Metode ini dilakukan
dengan pendekatan observasi dan pengambilan data-data langsung dengan
memotret obyek penelitian secara menyeluruh di Taman Burung TMII.
4. Kuesioner
Kuisioner yang dilakukan pada wilayah kerja yang sesuai dengan obyek
penelitian penulis dan diambil secara acak. Kuisioner ini berisikan bentuk
pertanyaan atau pilihan jawaban yang sudah tersedia yang didistribusikan
kepada 100 responden dimana sampel dipilih secara acak/ random di
tiap-tiap wilayah kerja. Dalam penyebaran kuisioner, penulis langsung memberikan
pemaparan tentang obyek penelitian penulis terlebih dahulu sebelum kuisioner
diberikan. Penjelasan diberikan penulis mengenai tata cara dan tujuan dari
pengisian kuisoner ini. Kuesioner diisi dan langsung diberikan kepada penulis
1.6 Skema Perancangan
1.7 Sistematika Perancangan
Sistem perancangan Tugas Akhir adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Membahas tentang latar belakang masalah yang berhubungan dengan
komunikasi visual, masalah yang dihadapi perancang, maksud dan tujuan
dilakukan perancangan, metode perancangan serta sistematika
perancangannya.
Bab II Landasan Teori
Membahas tentang teori-teori yang dipakai sebagai bagian dalam
perancangan karya akhir. Teori ini yang digunakan penulis sebagai landasan
dalam penentuan strategi dan pemecahan masalah dalam hasil karya akhir.
Bab III Uraian Data dan Analisis
Berisi data-data mengenai instansi yang menjadi obyek penelitian,
segmentasi khalayak, serta analisis SWOT serta matriks yang dilakukan
untuk mementukan strategi yang tepat sebelum melakukan perancangan.
Bab IV Pemecahan Masalah
Berisi tentang strategi/konsep yang digunakan penulis dalam merancang
karya akhir. Mencakup strategi komunikasi, strategi kreatif dan strategi
visual. Selain itu di bab ini juga digambarkan hasil akhir perancangan
mulai dari sketsa hingga penerapannya dalam berbagai media.
Bab V Kesimpulan dan Saran
Merupakan hasil akhir berupa jawaban/solusi dari permasalahan yang ada.
Selain itu juga disertakan saran dan masukan yang diterima penulis pada
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kekayaan hayati burung Indonesia yang berada di peringkat empat dunia harus
didukung oleh sebuah instansi/lembaga yang mampu melestarikan, merawat, dan
memperkenalkan keanekaragaman burung tersebut kepada masyarakat Indonesia
khususnya anak muda tentang Burung Indonesia dalam kegiatan yang dinamakan
wisata edukasi. Satu-satunya instansi yang dapat melakukan hal tersebut adalah
Taman Burung TMII yang memiliki koleksi burung terlengkap sekaligus merupakan
instansi yang dipercaya oleh pemerintah Indonesia sebagai tempat konservasi dan
penelitian tentang Burung. Fungsinya sebagai tujuan wisata edukasi, Taman Burung
harus mampu menjalankan fungsi wisata dan edukasi secara seimbang. Namun, fakta
di lapangan menunjukkan bahwa fungsi edukasi tidak sepenuhnya memadai dalam
menyampaikan muatan edukatif.
Berangkat dari fakta tersebut, penulis meningkatkan potensi Taman Burung sebagai
wisata edukasi dengan membangun brand dan perancangan identitas visual taman
burung. Fungsi edukasi tujuan wisata ini dibuat semakin efektif dengan perancangan
sistem navigasi (sign system). Rancangan signage menyampaikan informasi
sekaligus muatan edukasi yang terkait dengan fauna burung di Taman Burung.
Dengan brand yang kuat Taman Burung akan meningkatkan potensi jumlah
wisatawan yang berkunjung. Sedangkan perancangan signage akan berguna sebagai
media komunikasi visual yang dapat menyampaikan muatan edukasi kepada
pengunjung Taman Burung dengan konsep yang tepat sasaran. Pada akhirnya penulis
dapat menemukan permasalahan yang ada dengan solusi yang terkait dengan desain
5.2 Saran
Saran penguji mengenai hasil akhir Tugas Akhir penulis terdiri dari beberapa saran,
antara lain:
1. Menempatkan logo TMII pada berbagai media grafis Taman Burung.
2. Perlu adanya perancangan peta umum TMII untuk menggambarkan letak dari
Taman Burung dalam kompleks TMII.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ambrose, Gavin dan Harris, Paul. (2003). The Fundamentals of Creative Design.
AVA Publishing. Singapore.
Knapp, Pat Matson. (2001). Designing Corporate Identity Graphic Design as a
Business Strategy. Rockport Publisher, Inc. USA.
Kusrianto, Adi. (2007). Pengantar Desain Komunikasi Visual. C.V
Andi Offset. Yogyakarta.
Tinarbuko, Sumbo. (2009). Semiotika Komunikasi Visual. Jalasutra. Yogyakarta.
Literatur Internet
Purwadi, Didi. (2011). Kekayaan Burung Indonesia Peringkat Tiga Dunia.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/07/04/lnsds7-kekayaan-burung-indonesia-peringkat-tiga-di-dunia. 16 Februari 2013.13.30WIB
Miftah Firdaus, Moch. (2013). Sistem dan Komputer.
http://miftah-softskill.blogspot.com/2011/02/sistem-dan-komputer. 17 februari 2013.16.00WIB
Arctica. (2009) .Icon, Symbol, Sign System semua ada disini.
http://www.tebarnasi.com/showthread.php?594-Icon-Symbol-Sign-System-semua-ada-disini. 14 Oktober 2012.16.00WIB
(2011). Taman Burung. http://tamanmini.com/taman/taman-burung-2. 21 Februari