• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK BERBASIS BIOGAS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STUDI PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK BERBASIS BIOGAS."

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

BIOGAS

Laporan Proyek Akhir ini Diajukan Untuk Memenuhui Syarat Kelulusan

Diploma III Teknik Elektro

Universitas Pendidikan Indonesia

Oleh :

Ageng Tri Anggito

1106543

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK ELEKTRO JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

Oleh Ageng Tri Anggito

Sebuah proyek akhir yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh Gelar Ahli Madya pada Fakultas PendidikanTeknologidanKejuruan

© Ageng Tri Anggito 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

STUDY PEMBANGKITAN ENERGI LISTRIK BERBASIS BIOGAS

Menyetujui,

Tim Pembimbing Proyek Akhir

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Drs. I Wayan Ratnata, ST., M.Pd NIP. 19580214 198603 1 002

Drs. Wasimudin Surya S, ST., MT NIP. 19700808 199702 1 001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Diploma III Teknik Elektro

Dandhi Kuswardhana, S.Pd., MT NIP. 19800623 200812 1 002

Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Elektro

(4)

DAFTRA ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ...

ii

HALAMAN PENGESAHAN ...

iii

ABSTRAK ...

iv

KATA PENGANTAR ...

v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ...

x

DAFTAR TABEL ...

xi

BAB I PENDAHULUAN ...

1

1.1. Latar Belakang ...

1

1.2. Rumusan Masalah ...

2

1.3. Tujuan ...

3

1.4. Batasan Masalah ... 3

1.5. Metode Penulisan ...

(5)

1.6. Sistematika Penulisan ... 4 2.4. Komponen-komponen Unit Penghasil Biogas ... 11

2.5. Komponen penguji Biogas ... 17

2.5.1. Termometer ... 17

(6)

2.6. Konversi Energi... 18

2.7. Generator set ... 19

2.7.1. Generator atau Altenator ...

21

2.7.1.1. Kontruksi Generator Sinkron ...

22

2.7.1.2. Prinsip Kerja Generator Sinkron ...

24

2.7.1.3. Alternator Tanpa Beban ...

25

2.7.1.4. Alternator Berbeban ... 26

2.7.1.5. Rangkaian Ekuivalen Generator Sinkron ...

27

2.7.1.6. Pengaturan Tegangan ... 28

2.7.1.7. Automatic Voltage Generator ...

29

2.7.2.2. Kelengkapan Modifikasi ...

35

2.7.2.3. Komponen Modifikasi Motor Bakar Bensin ...

37

BAB III PERANCANGAN ALAT... 39

3.1 Menentukan Volume Digester ...

39

3.1.1. Denah Tempat ...

(7)

3.1.2. Volume Digester ... 39

3.2. Banyaknya Kotoran Sapi Yang Dibutuhkan ... 41

3.3. Bahan Digester ... ... ... 41 3.5.1 Modifikasi pada Karburator ... 45 BAB IVHASIL DAN PENGUJIAN... 47

4.1 Data Lapangan ...47

4.2 Performansi Alat ...48

4.3 Deskripsi Pengujian ...49

4.4 Prosedur Pengujian ... 50

4.5 Data Hasil Pengujian dan Analisa ...

50

4.5.1 Gas bio ...

50

(8)

4.5.2.1 Pengetesan Tanpa Beban ...

51

4.5.2.2 Pengetesan Berbeban 25 watt ...

54

4.6. Nilai Investasi Pembuatan Biogas ...

58

BAB V KESIMPULAN

5.1. Simpulan ...

61

5.2. Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA ...

64

(9)

ABSTRAK

(10)

v ABSTRACT

(11)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakang

Kebutuhan akan ketersediaan energi semakin meningkat seiring

denganpertambahan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi energi oleh

masyarakatakibat penggunaan berbagai macam peralatan untuk menunjang

kenyamanandalam kehidupan. Sumber energi yang selama ini digunakan

sebagian besarberasal dari bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak bumi, gas

alam dan lain - lain. Bahan bakar fosil merupakan sumber energi yang proses

terbentuknyamemerlukan waktu jutaan tahun dan dapat dikatakan merupakan

energi takterbarukan. Selain merupakan energi takterbarukan, penggunaan

energi fosil mengakibatkan meningkatnya gas rumah kaca. Sebagian besar

ilmuwan meyakini bahwa peningkatan konsentrasi gas rumah kaca merupakan

salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Oleh karena itu, untuk

mengganti penggunaan energi takterbarukan diperlukan sumber energi alternatif

yang mampu mengurangi laju pemakaian energi fosil.

Indonesia sebagai negara tropis memiliki sumber energi baru

terbarukan yang melimpah sebagai energi alternatif pengganti energi fosil. Salah

satu energi alternatif tersebut adalah pemanfaatan energi biogas. Biogas dapat

dikategorikan sebagai bioenergi, karena energi yang dihasilkan berasal dari

biomassa. Ketika seseorang berbicara mengenai biogas, biasanya yang dimaksud

adalah gas yangdihasilkan oleh proses biologis yanganaerob(tanpa bersentuhan

dengan oksigen bebas) yang memiliki komposisibervariasi, tergantung sumber

bahan biogasnya. Akan tetapi, biasanya memiliki kandungan 50–70 % CH4, 25–

50 % CO2, 1–5 % H2, 0,3–3 % N2dan H2S. Secara lebih singkat, biogas dapat

diartikan sebagai “gas yang diproduksi oleh makhluk hidup” Potensi limbah kotoran sapi sebagai salah satu bahan baku pembuatan biogas dapat

ditemukan di sentra-sentra peternakan. Di Indonesia cukup banyak kawasan

peternakan sapi yang limbah kotoran sapinya belum dimanfaatkan sebagai

(12)

Limbah kotora, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah

satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untukmenghasilkan biogas.

Namun di sisi lain perkembangan atau pertumbuhan industri peternakan

menimbulkan masalah bagi lingkungan seperti menumpuknyalimbah peternakan

termasuknya didalamnya limbah peternakan sapi. Limbah ini menjadi polutan

karena dekomposisi kotoran ternak berupa Biological dan Chemical Oxygen

Demanddan bakteri patogen sehingga menyebabkan polusi air

(terkontaminasinya air bawah tanah, air permukaan), polusi udara dengan

debu dan bau yang ditimbulkannya.

Biogas merupakan energi yang dapat dijadikan bahan bakaralternatif

untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan

gas alam.Biogas juga sebagai salah satu jenis bioenergi yang didefinisikan

sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran

ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur

difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Dalam kaitannya sebagai sumber

energi alternatif pengganti energi fosil, biogas merupakan energi bersih yang

mampu mengurangi produksi emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan latar belakang di atas, pada proyek akhir ini akan

dilakukanpenelitian dengan juduk “Studi Pembangkit Energi Listrik Berbasis Biogas”.

1.2Rumusan Masalah

AdapunPerumusan Masaladaripenulisantugasakhiriniadalah :

1. Bagaimana pemanfaatkan potensi Biogas sebagai energi Listrik yang

optimal dan dapat di manfaatkan secara umum ?

2. Seberapa besar nilai investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas ?

(13)

1.3Tujuan

1. Mengetahui potensi Biogas sebagai sumber listrik yang optimal

2. Mengetahui nilai investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan

pembangkit listrik tenaga biogas

3. Mengetahui kelayakan PLTBG

1.4Batasan Masalah

Pada penelitian ini masalah dibatasi pada:

1. Bahan baku biogas yang digunakan adalah Limbah

peternakan(feses/kotoran ternak sapi).

2. Biogas hanya digunakan sebagai bahan bakar Pembangkit

ListrikTenaga Biogas (PLT Biogas) dan tidak untuk keperluan lain,

seperti memasak, dan sebagainya.

3. Mengkaji pemanfaatan Kotoran sapi sehingga bisa menghasilkan tenaga

listrik yang optimal.

1.5Metode Penulisan

DalampenulisanTugasAkhirini,

penulismelakukankegiatanstudipustakadanlapangangunamemperoleh

sumberataureferensi yang diperlukan.Studipustaka yang

dimaksudadalahdenganmempelajaribuku-bukumaupunreferensilain yang

adakaitannyadenganmasalah yang dibahas. Adapunstudilapangan yang

dilakukanyaitu:

1. StudiLiteratur

Yaitudengancaramendapatkan data denganmempelajaribuku-buku yang

berkaitandenganpermasalahan yang dibahasdalamtugasakhirini.

2. MetodeWawancara

Metodewawancaradilakukandengancarabertanyakepada orang yang

dianggaptelahberpengalamandalamhalbereksperimen yang

(14)

Yaitudenganmengikutilangsung proses

pembuatansystemPembangkitListrik Tenaga Biogas sertapengujianalat

yang telahdirancang.

1.6SistematikaPenulisan

Untukmempermudahdalampembuatan, pembahasan,

sertapenyusunanproyekakhirini,

makapenulismenyusundalamsistematikatertentu.Adapunsistematika yang

dipergunakandalampenulisanproyekakhirinisebagaiberikut:

BAB I. PENDAHULUAN

Bab inimenjelaskantentanglatarbelakangmasalah, rumusanmasalah,

tujuanpenulisan, batasanmasalah, metodepengumpulan data,

dansistematikapenulisan.

BAB II. BATASAN MASALAH

Bab iniberisimengenaiteori – teori yang

mendukungdalamperancangantugasakhirini.

BAB III. PERANCANGAN ALAT

Bab inimemaparkanmengenaiprinsipkerja alat

BAB IV. PENGUJIAN DAN ANALISIS DATA

Bab iniberisimengenaiInstalasisistem kerja pada dari Pembangkit Listrik

Tenaga Biogas

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Bab inimerupakanbabpenutup yang berisikankesimpulandarilaporan yang

telahdibahaspadabab-babsebelumnyadanhasil yang didapatkan. Serta saran yang

(15)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Biogas sebagai sumber Energi Alternatif

Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik dari

bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik, termasuk

diantaranya kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga),

sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam

kondisi anaerobik. Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana

(CH4, 50 - 70 %) dan karbondioksida (CO2, 30 - 40 %). Namun, komposisi

biogas bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik yang terjadi. Beberapa

kandungan biogas dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Kandungan Biogas

Komponen Persentase %

Metan (CH4)

Karbondioksida (CO2)

Air (H2O)

Hidrogen sulfide (H2S)

Nitrogen (N2)

yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 4.800 – 6.700 kkal/m3 (Harahap, 1980).

metana (CH4) yang hanya memiliki satu karbon dalam setiap rantainya, dapat

membuat pembakarannya lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar

berantai karbon panjang. Hal ini disebabkan karena jumlah CO2 yang

dihasilkan selama pembakaran bahan bakar berantai karbon pendek adalah lebih

(16)

Energi yang terkandung dalam biogas tergantung dari konsentrasi metana

(CH4). Semakin tinggi kandungan metana maka semakin besar kandungan energi

(nilai kalor) pada biogas, dan sebaliknya semakin kecil kandungan metana

semakin kecil nilai kalor. Kualitas biogas dapat ditingkatkan dengan

memperlakukan beberapa parameter yaitu Menghilangkan hidrogen sulphur,

kandungan air dan karbondioksida (CO2). Hidrogen sulphur mengandung racun

dan zat yang menyebabkan korosi, bila biogas mengandung senyawa ini maka

akan menyebabkan gas yang berbahaya sehingga konsentrasi yang di ijinkan

maksimal 5 ppm. Bila gas dibakarmaka hidrogen sulphur akan lebih berbahaya

karena akan membentuk senyawa baru bersama – samaoksigen, yaitu sulphur

dioksida /sulphur trioksida (SO2 / SO3). Senyawa ini lebih beracun. Pada saat

yang sama akan membentuk asam sulfat (H2SO3) suatu senyawa yang lebih

korosif. Parameter yang kedua adalah menghilangkan kandungan karbon

dioksida yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas, sehingga gas dapat

digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Kandungan air dalam biogas akan

menurunkan titik penyalaan biogas serta dapat menimbukan korosif.

2.1.1. Perumusan Analisis Biogas

Kotoran sapi terdiri dari bahan padat dan cair.Kandungan Bahan Kering

pada bebrbagai makhlukhidup dapat dilihat pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Kandungan Bahan Kering

Jenis

(17)

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan biogas adalah volume

digester dan volume bahan isian, menurut pedoman teknis pengembangan usaha

pengolahan kompos dan biogas, isian digester yaitu 75% dari volume total

digester, 25% bagian yang tidak terisi merupakan tempat penyimpanan atau hasil

dari fermentasi biogas.

Sifat fisik dan kimia dari biogas mempengaruhi pemilihan teknologi yang

akan digunakan, dimana pengetahuan tentang sifat-sifat dari biogas

pengaruh yang sangat besar terhadap material yaitu dapat menyebabkan korosi

jika bereaksi dengan air (H2O). Sifat – sifat methane pada karbon dioksida dapat

dilihat pada tabel 2.3

Tabel 2.3 Sifat – sifat metane dan karbon dioksida

Metana

(18)

Sumber : Heisler, 1981

Proses pembentukkan biogasdi dalam digester disebut dengan fermentasi

anaerob (pembusukkan tanpa oksigen).Proses fermentasi anaerob di dalam

digester dibagi dalam 3 tahapan, yaitu:

a. Hidrolisa merupakan perubahan zat organik menjadi bahan cairan mikroba

oleh mikroba asam

b. Asidifikasi adalah perubahan organik cair menjadi asam – asamorganikoleh

mikroba asam

c. Metanasi adalah perubahan asam organik menjadi metana,karbon dioksida,

asam sulfida, nitrogen,dan sel-sel mikroba oleh mikrobametanasi.

Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang

terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri

pembentuk asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan

dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas

karbondioksida, hidrogen dan amoniak. Sedangkan pada tahap metanogenik

adalah proses pembentukan gas metan. Sebagai ilustrasi dapat dilihat salah satu

contoh bagan perombakan serat kasar (selulosa) hingga terbentuk biogas.

Ada beberapa golongan bakteri yang memegang peranan penting dalam

proses terbentuknya biogas ini, yaitu:

a. Golongan bakteri penggunaselulosa

Bakteri-bekteri ini akan mengubah selulosa nebjadi gula. Selulosa

merupakan komponen terbesar penyusun bahan-bahan organik. Pada kondisi

anaerob akan menghasilkan karbondioksida, air, dan panas. Sedangkan pada

kondisi anaerob akan menghasilkan karbondioksida, etanol panas.

b. Golongan bakteri pembentuk asam

Bakteri pembentuk asam ini aktif menguraikan subtans-subtans polimer

kompleks, yaitu protein, karbohidrat, dan lemak menajdi asam-asam organik

sederhana yaitu asam-asam butirat, propinat, laktat, asetat, dan alkohol.Pada

kondisi anaerob, bakteri ini masih dapat berkembang biak dan aktif

(19)

awalpada proses pembentukan biogas dalam digester, tahapan ini disebut juga

tahap oksidagenik. Adapun jenis bakteri yang aktif memproduksi asam-asam

tersebut adalah bakteri Hethanobacterium Propiunicum dan

Methanobacterium suboxydan.

c. Golongan bakteri pembentuk gas metana

Kondisi anaerob merupakan kondisi yang sangat mendukung terjadinya

proses pembentukanbiogas, proses ini disebut juga methanogenik.Bakteri yang

aktif dan memproduksi gas metana antara lain, Methonobacterium Sohngenii,

Methonococcus Mozei, Methono Sarcina Methanica. Bakteri pembentuk

metana sangat sensitif terhadap pH, komposisi substat dan temperatur. Apabila

kadar pH di bawah 6.0 maka proses pembentukan metana akan terhentidan

tidak ada penurunan kandungan organik pada endapan.

2.3 Syarat Pembuatan Biogas

Gambar 2.1 Skema Pembuatan Biogas

Sumber:http://www.biologi.lipi.go.id/bio_indonesia/mTemplate.php?h=3&id_beri

(20)

Prinsip terjadinya biogas adalah fermentasi anaerob bahan organik yang di

lakukan oleh mikroganisme sehingga menghasilkan gas yang mudah terbakar

(flammable). Secara kimia, reaksi yang terjadi pada pembuatan biogas cukup

panjang dan rumit, meliputi tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahan

metanogenik. Meskipun dalam praktiknya, pembuatan biogas relatif mudah di

lakukan. Adapun syarat pembuatan biogas yaitu

a. Kondisi Anaerob atau Kedap Udara

Biogas dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik oleh

mikroorganisme anaerob. Karena itu, instalasi pengolah biogas harus kedap udara.

b. Ada bahan pengisian

Bahan baku isian berupa bahanorganik seperti kotoran ternak, sisa dapur

dan sampah organik. Bahan baku isian harus terhindar dari bahan anorganik

seperti pasir, batu, plastik, dan beling.

c. Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman sangat berpengaruh terhadap kehidupan

mikroorganisme. Derajat keasaman yang optimum bagi kehidupan

mikroorganisme adalah 6,8-7,8. Pada tahap awal fermentasi bahan organik akan

terbentuk asam (asam organik yang akan menurunkan pH).

d. Imbangan C/N

Imbangan karbon (C) dan nitrogen (N) yang terkandung dalam aktivitas

bahan organik sangat menentukan kehidupan mikroorganisme. Imbangan C/N

yang optimum bagi mikroorganisme perombak adalah 25-30. Kotoran sapi

mempunyai kandungan C/N sebesar 18.

e. Temperatur

Produksi biogasakan menurun secara cepat akibat perubahan

temperatur yang mendadak di dalam digester. Upaya yang praktis untuk

menstabilkan temperatur adalah dengan memberikan penutup diatas digester. Hal

ini bertujuan supaya digester tidak terkena sinar matahari secaralangsung.

f. Starter

Starter diperlukan untuk mempercepat proses perombakan bahan organik

(21)

berupa lumpur aktif organik atau cairan isi rumen. Starter juga ada yang dijual

secara komersial.Namun pada proses pembuatan biogas kotoran kambing tidak

menggunakan starter. Sehingga membutuhkan waktu fermentasi yang lebih lama

2.4 Komponen-komponenUnit Penghasil Biogas 2.4.1. Reaktor

a. Reaktor jenis kubah tetap

Disebut juga reaktor China, karena dibuat pertamakali di China tahun

1930. Reaktor ini memiliki dua bagian yaitu bagian degester yaitu tempat

pencerna material Biogas dan sebagai rumah bagi bakteri, baik bakteri pembentuk

asam maupun bakteri pembentuk zat metana. Reaktor dapat dibuat dengan

menggunakan batu, batu bata atau beton dan menggunakan fiber glas. Tetapi

dengan struktur yang kuat karena akan menahan gas supaya tidak bocor. Bagian

kedua berupa kubah tetap yang memiliki bentuk menyerupai kubah yang

merupakan tempat berkumpulnya gas. Keuntungan pada reaktor ini adalah

konstruksinya yang relatif lebih murah tapi sayangnya reaktor jenis ini sering

kehilangan gas pada bagian kubah, karena konstruksinya yang tetap.

(22)

Sumber : http://biogasganesha.wordpress.com/2011/11/21/7/ diakses, 20 Juni

2014

b. Reaktor terapung

Gambar 2.3 Reaktor terapung

Sumber : http://biogasganesha.wordpress.com/2011/11/21/7/ diakses, 20 Juni

2014

Dinamakan juga reaktor India, karena pertamakali dibuat di India pada

tahun 1937. Bagian gester pada reaktor ini sama dengan pada reaktor kubah tetap,

tapi pada bagian penampung gas menggunakan peralatan bergerak terbuat dari

drum yang akan bergerak naik-turun tergantung pada jumlah gas yang dihasilkan.

Keuntungan reaktor ini adalah volume gas yang ada dapat terlihat langsung dan

tekanan gas yang relatif konstan. Sedangkan kerugiannya adalah biaya material

konstruksi yang mahal dan masalah korosi yang terjadi pada drum sehingga

reaktor ini berumur pendek.

2.4.2. Pemurnian Biogas

(23)

Proses asidifikasi menghasilkan senyawa H2S yang sifatnya bau. Terdapat

beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan H2S dari biogas hasil

fermentasi, yaitu:

a. Cara pertama adalah dengan menyemprotkan NaOH pada bubur kotoran

yang sedang difermentasikan sehingga H2S yang baru terbentuk akan

langsung dinetralkan oleh NaOH yang ada. Namun secara ekonomis dan

ditinjau dari faktor fermentasi, cara ini tidak begitu disukai. Hal ini karena

ketersediaan senyawa NaOH yang cukup mahal dan penggunaan yang

berlebihan akan mengurangi efisiensi fermentasi (derajat pH akan

meningkat sehingga faktor pH dari fermentasi tidak dapat dipenuhi).

Masalah paling buruk adalah jika pH dari larutan terlalu tinggi dapat

mematikan bakteri tersebut sehingga proses fermentasi dapat terhenti (Zicari

2003).

b. Cara kedua adalah dengan konsep adsorpsi ferat hidrat (Fe(OH)3), dalam

proses ini gas H2S akan diserap oleh senyawa ferat hidrat dan mengalami

reaksi redoks (ferat tereduksi menjadi ferit, sulfida teroksidasi menjadi

belerang). Belerang lebih tidak berbau dibanding dengan sulfida sehingga

cara ini dianggap cukup efektif. Karena karakteristik dari tanah tropis

mempunyai komposisi besi(III) yang tinggi, maka dapat digunakan tanah

sebagai adsorben. Hal inilah yang menyebabkan cara ini jauh lebih disukai

dari pada cara lainnya (Zicari 2003).

2. Pengurangan Kadar Air dan Uap Air

Air merupakan salah satu produk utama dari proses fermentasi. Oleh

karena itu dilakukan suatu cara untuk mengurangi kadar air dari biogas yang

dihasilkan sehingga kemurniaannya cukup tinggi. Cara paling mudah dari proses

penghilangan air adalah dengan cara kondesasi dari uap tersebut. Cara kondensasi

ini dapat dilakukan secara alami dengan menggunakan pipa berlekuk pada proses

penyaluran biogas dari biodigestion menuju penampungan biogas. Pipa-pipa

berlekuk dan suhu yang cukup rendah secara alami akan mengkondesasikan uap

(24)

air seperti pada gambar 2.4 watertrap, berfungsi untuk penjebak air, agar air tidak

ikut di bakar pada mesin pembakaran.

Gambar 2.4 water trap

Cara yang dilakukan untuk mempertinggi kemurnian biogas yaitu dengan

penghilangan CO2. Dapat dilakukan dengan melarutkan CO2 kedalam air

membentuk asam karbonat. Pada proses ini akan mengubah CO2 dalam biogas

menjadi asam karbonat, dengan mereaksikannya dengan KOH.

2.4.3. Penampung Biogas

Bak penampung berfungsi untuk menampung biogas yang dihasilkan dari

digester sebelum disalurkan menuju Generator set. Gambar penampung gas

disajikan pada gambar 2.5 berikut ini

(25)

2.4.4. Selang

Selang berfungsi sebagai media penyalur gas dari digester menuju bak

penampung biogas dan menuju media aplikasi. Gambar selang disajikan pada

gambar 2.6 berikut ini

Gambar 2.6Gambar Selang

2.4.5. Katup

Katup berfungsi untuk membuka dan menutup saluran biogas dari digester

dan dari bak penampung. Gambar katup disajikan pada gambar 2.7berikut ini.

(26)

2.4.6. Pipa PVC

Pipa PVC berfungsi sebagai media penyaluran biogas. Gambar pipa PVC

disajikan pada gambar 2.8berikut ini.

Gambar 2.8 Pipa PVC

2.4.7. Elbow

Elbow berfungsi sebagai sambungan antar pipa yang berbelok. Gambar

elbow disajikan pada gambar 2.9 berikut ini

Gambar 2.9 Elbow

2.4.8. Klem

Klem berfungsi sebagai untuk mengencangkan sambungan antara selang

dengan T-pipe. Gambar klem disajikan pada gambar 2.10 berikut ini.

(27)

2.5 Komponen penguji Biogas

2.5.1. Termometer berfungsi untuk mengukur suhu di dalam digester. Gambar

termometer disajikan pada gambar 2.11 berikut ini

Gambar 2.11Termometer

2.5.2. Manometter

Manometter metter berfungsi untuk mengukur tekanan dari penampung

biogas disajikan pada gambar 2.12

Gambar 2.12 Manometter

Sumber :

(28)

2.6 Konversi Energi

Gambar 2.13 Alur diagram dari kotoran menjadi listrik

Pembangkitan tenaga listrik sebagian besar dilakukan dengan cara

memutar generator sehingga dihasilkanenergi listrik. Energi mekanik yang

diperlukan untuk menggerakan generator di dapatkan dari mesin penggerak atau

yang sering di gunakan yaitu : mesin diesel, turbin uap, turbin air, dan turbin gas.

Jadi sesungguhnya mesin penggerak melakukan penggerakan energi

primer menjadi energi mekanik, penggerak energi mekanik akan di kopel ke

generator untuk menghasilkan energi listrik. Biogas dapat digunakan sebagai

bahan bakar dan sebagai sumber energi alternatif untuk penggerak generator

pembangkit tenaga listrik, biogas menghasilkan energi panaspada pembakaran

dengan kesetaraan 1 kaki kubik (0,028 meter3) biogas menghasilkan energi

panas sebesar 10 Btu (2,25 kkal)dan dapat dilihat di nilai kesetaraan biogas

dengan sumber energi lainnya pada tabel 2.4 Nilai kesetaraan biogas denga energi

lain.

Kotoran Digester Biogas Tabung Gas

Conversion Kit (carburaotr) Engine

(29)

Tabel 2.4 Nilai kesetaraan biogas dan energi lainnya

Aplikasi 1m3 Biogas setara dengan

1 m3 Elpiji 0,46 kg

Minyak tanah 0,62 liter

Minyak solar 0,52 liter

Bensin 0,8 liter

Kayu bakar 3,50 kg

Listrik 4,7 kWh

Sumber : Suyitno, 2009

Konversi energi biogas untuk pembangkit tenaga listrik dapat

dilakukan dengan menggunakan genset yang di modifikasi. Pemilihan teknologi

ini sangat dipengaruhi potensi biogas yang ada seperti konsentrasi gas metan

maupun tekanan biogas.

2.7 GENERATOR SET

Generator set adalah sebuah perangkat yang berfungsi menghasilkan daya

listrik disebut sebagai generator set dengan pengertian satu set peralatan gabungan

dari dua perangkat berbeda yaitu engine dan generator atau alternator.Engine

dapat berupa perangkat mesin berbahan bakar solar atau mesin berbahan bakar

bensin, sedangkan generator atau alternator merupakan kumparan atau gulungan

tembaga yang terdiri dari stator (kumparan statis ) dan rotor (kumparan berputar)

(30)

Genset yang digunakan dalam proyek akhir ini mempunyai spesifikasi

standar sebagai berikut :

Spesifikasi Motor Bakar

a. Engine Type : 4 - Cycle, side valve, 1 cylinder

b. Displacement [Bore x stroke] : 197,3 cc (12 cu in) [ 67 x 56

mm(2,6 x 2,2 in)]

c. Rasio kompresi : 6,5 x 1

Spesifikasi Generator

d. Rating Voltage : 115 Volt

e. Max. Output : 1,5 KVA (1.500 watts)

f. Rated Output : 1,25 KVA (1.250 watts) 10,9 A/

g. Ignition System : CDI

h. Frekwensi : 60 Hz

i. Dc Output : 12 Volt, 8,3 A

(31)

Gambar 2.14 Wairing Diagram Kontrol Box

Sumber : Portable Generator owner’s manual, 1977

Tabel 2.5 Part name diagram Kontrol Box

Part Name

Sumber : Portable Generator owner’s manual, 1977

2.7.1. Generator atau Alternator

Generator adalah mesin yang dapat mengubah tenaga mekanis menjadi

(32)

diberikan pada stator akan menimbulkan momen elektromagnetik yang bersifat

melawan putaran rotor sehingga menimbulkan EMF pada kumparan rotor.

Tegangan EMF ini akan menghasilkan suatu arus jangkar. Jadi diesel

sebagai prime mover akan memutar rotor generator, kemudian rotor diberi eksitasi

agar menimbulkan medan magnet yang berpotongan dengan konduktor pada

stator dan menghasilkan tegangan pada stator. Karena terdapat dua kutub yang

berbeda yaitu utara dan selatan, maka pada 90o pertama akan dihasilkan tegangan

maksimum positif dan pada sudut 270o kedua akan dihasilkan tegangan

maksimum negatif. Ini terjadi secara terus menerus/continue. Bentuk tegangan

seperti ini lebih dikenal sebagai fungsi tegangan bolak-balik.

.

Gambar 2.15 Jenis Generator dengan Medan Magnet diam

Sumber :

http://dwiyuniarto.wordpress.com/2013/10/27/generator-arus-bolak-balik/

(33)

Gambar 2.16 Kontruksi Generator AC

Sumber : http://magnapam.com/?p=1933

a. Stator

Stator dari Mesin Sinkron biasanya terbuat dari besi magnetik yang

berbentuk laminansi untuk mengurangi rugi – rugi arus pusar. Dengan inti

magnetik yang bagus berarti permebillitas dan resistivitas dari bahan tinggi.

Gambar 2.17 Inti stator dan Alur pada Stator

Sumber : Pri, dkk, 2008

b. Rotor

Untuk medan rotor yang digunakan tergantung pada kecepatan mesin,

mesindengan kecepatan tinggi seperti turbo generator mempunyai bentuk

(34)

menonjol(salientpole).Cincin geser, terbuat dari bahan kuningan atau tembaga

yang yang dipasang pada poros dengan memakaibahan isolasi. Slip ring ini

berputar bersama-sama dengan poros dan rotor.

Gambar 2.18 Bentuk rotor dengan kutub menonjol

Sumber : Prih, dkk, 2008

2.7.1.2. Prinsip Kerja Generator Sinkron

Generator sinkron memiliki kumparan jangkar pada stator dan kumparan

medan pada rotor. Kumparan jangkar berbentuk sama dengan mesin induksi

sedangkan kumparan medan sinkron dapat berbentuk kutub sepatu atau kutub

dengan celah udara sama rata (rotor silinder), Secara umum, Prinsip kerja

generator sinkron adalah:

1. Kumparan medan yang terdapat pada rotor dihubungkan dengan sumber

eksitasi yang akan mensuplai arus searah terhadap kumparan medan. Dengan

adanya arus searah yang mengalir melalui kumparan medan maka akan

menimbulkan fluks.

2. Penggerak mula (Prime Mover) yang sudah terkopel dengan rotor segera

dioperasikan sehingga rotor akan berputar pada kecepatan nominalnya.

3. Perputaran rotor akan memutar medan magnet yang dihasilkan oleh

kumparan medan. Medan putar yang dihasilkan pada rotor akan diinduksikan

pada kumparan jangkar sehingga pada kumparan jangkar yang terletak pada

stator akan menghasilkan fluks magnetik yang berubah-ubah besarnya

terhdap waktu. Adanya perubahan fluks magnetik yang melingkupi suatu

(35)

Pada generator Sinkron, laju putaran rotor berbanding lurus dengan

frekuensi dari tegangan yang dibangkitkan. Gambar 2.19 memperlihatkan prinsip

kerja generator AC dengan dua kutub dan dimisalkan hanya memiliki satu lilitan

yang terbuat dari dua penghantar secara seri, penghantar a dan a‟. Lilitan seperti ini disebut “lilitan pusat atau terkonsentrasi” generator real biasanya terdiri dari banyak lilitan dalam masing – masing fasa yang terdistribusi pada alur stator

Sumber : Prih, dkk, 2008

Gambar 2.19 a. Diagram Generator AC satu fasa, dua kutub

b. Gelombang yang dihaslkan Nilai dari tegangan yang dibangkitkan bergantung pada :

1. Jumlah dari lilitan dalam kumparan.

2. Kuat medan magnetik, makin kuat medan makin besar tegangan yang

diinduksikan.

3. Kecepatan putar dari generator itu sendiri.

= 120 .

dimana :

n = Kecepatan putar rotor (rpm)

P = Jumlah kutub rotor

f = frekuensi (Hz)

Sumber : Prih, dkk, 2008

(36)

Dengan memutar alternator pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus

medan (IF), maka tegangan (Ea ) akan terinduksi pada kumparan jangkar stator

akan diinduksi tegangan tanpa beban (Eo), yaitu :

Eo = C . n.

Sumber : Zuhal, 1999

yang mana:

c = konstanta mesin = fluks yang dihasilkan oleh IF

n = putaran sinkron

Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator,

karenanya tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan oleh

arus medan (IF). Apabila arus medan (IF) dinaikan maka tegangan output akan

naik sampai titik saturasi (jenuh) Ea seperti yang terlihat pada kurva sebagai

berikut.

Gambar2.20 Karakteristik tanpa beban generator sinkron

Sumber : Zuhal, 1999

(37)

Sumber : Zuhal, 1999

2.7.1.4. Alternator Berbeban

Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan

terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat reaktif karena itu dinyatakan

sebagai reaktansi, dan disebut reaktansi magnetisasi (Xm ). Reaktansi pemagnet

(Xm ) ini bersama-sama dengan reaktansi fluks bocor (Xa )dikenal sebagai

reaktansi sinkron (Xs). Persamaan tegangan pada generator adalah:

Ea = V + I.Ra + j I.Xs Xs=Xm + Xa

Sumber : Zuhal, 1999

yang mana:

Ea = tegangan induksi pada jangkar

V = tegangan terminal output

Ra = resistansi jangkar

Xs = reaktansi sinkron

Karakteristik pembebanan dan diagram vektor dari alternator berbeban

induktif (faktor kerja terbelakang) dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.22Karakteristik alternator berbeban induktif

(38)

Sumber : Zuhal, 1999

2.7.1.5. Rangkaian Ekuivalen Generator Sinkron

Tegangan induksi Ea dibangkitkan pada fasa generator sinkron. Tegangan

ini biasanya tidak sama dengan tegangan yang muncul pada terminal generator.

Tegangan induksi sama dengan tegangan output terminal hanya ketika tidak ada

arus jangkar yang mengalir pada mesin. Beberapa faktor yang menyebabkan

perbedaan antara tegangan induksi dengan tegangan terminal adalah:

1. Distorsi medan magnet pada celah udara oleh mengalirnya arus pada stator,

disebut reaksi jangkar.

2. Induktansi sendiri kumparan jangkar.

3. Resistansi kumparan jangkar.

4. Efek permukaan rotor kutub sepatu.

Rangkaian ekuivalen generator sinkron perfasa ditunjukkan pada gambar

di bawah ini.

Gambar 2.24 Rangkaian ekuivalen generator sinkron

Sumber : Zuhal, 1999

2.7.1.6. Pengaturan Tegangan (Regulasi Tegangan)

Pengaturan tegangan adalah perubahan tegangan terminal alternator antara

keadaan beban nol (Eo) dan beban Penuh (V). Keadaan ini memberikan gambaran

batasan drop tegangan yang terjadi pada generator, yang dinyatakan sebagai

berikut.

% � � � � � = � − �

(39)

Sumber : Muchin, 2013

Terjadinya perbedaan tegangan terminal V dalam keadaan berbeban

dengan tegangan EO pada saat tidak berbeban dipengaruhi oleh faktor daya dan

besarnya arus jangkar (Ia) yang mengalir. Untuk menentukan pengaturan

tegangan dari alternator adalah dengan memanfaatkan karakteristik tanpa beban

dan hubung singkat yang diperoleh dari hasil percobaan dan pengukuran tahanan

jangkar. Ada tiga metode yang sering digunakan untuk menentukan pengaturan

tegangan tersebut, yaitu :

1. Metode Impedansi Sinkron atau metode GGL.

2. Metode Ampere lilit atau metode GGM.

3. Metode faktor daya nol atau metode Potier.

2.7.1.7. Automatic Voltage Regulator (AVR)

Prinsip kerja dari AVR adalah mengatur arus penguatan pada exciter.

Apabila tegangan output generator di bawah tegangan nominal tegangan

generator, maka AVR akan memperbesar arus penguatan pada exciter dan juga

sebaliknya apabila tegangan output Generator melebihi tegangan nominal

generator maka AVR akan mengurangi arus penguatan pada exciterdengan

demikian apabila terjadi perubahan tegangan output Generator akan dapat

distabilkan oleh AVR secara otomatis dikarenakan dilengkapi dengan peralatan

seperti alat yang digunakan untuk pembatasan penguat minimum ataupun

maximum yang bekerja secara otomatis. Sistem pengoperasian Unit AVR

(Automatic Voltage Regulator) berfungsi untuk menjaga agar tegangan generator

tetap konstan dengan kata lain generator akan tetap mengeluarkan tegangan yang

selalu stabil tidak terpengaruh pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah,

dikarenakan beban sangat mempengaruhi tegangan output generator.

Di dalam AVR, ada Mutual Reactor (MT) yaitu semacam trafo jenis CT

(Current Transformer) yang menghasilkan arus listrik berdasarkan besaran arus

(40)

beban yang besar, arus listrik yang mengalir pada bebanyang dihasilkan juga

besar,sesuai dengan hukum Ohmyang dicetuskan George Simon Ohmpada 1825

seperti di bawah ini :

Namun untuk menjaga kestabilan tegangan tidak hanya dengan AVR saja,

genset juga dilengkapi SistemGovernor untuk menjaga kestabilan RPM (Rotation

Power Momentum) sehingga bisa dihasilkan frekuensi putaran yang stabil pada

saat ada atau tidak ada beban, hal ini bisa dilakukan dengan mengatur supply

BBM (biasanya solar) pada generator genset.

2.7.1.8. Sumber Listrik Arus Searah

Penyearah digunakan untuk mengubah listrik AC menjadi listrik DC,

listrik DC dipakai untuk berbagai kebutuhan misalnya Power Supply, Pengisi

Akumulator, Alat penyepuhan logam. Komponen elektronika yang dipakai yaitu

Diode, atau Thyristor. Penyearah dengan Diode sering disebut penyearah tanpa

kendali, artinya tegangan output yang dihasilkan tetap tidak bisa dikendalikan.

Penyearah dengan Thyristor termasuk penyearah terkendali, artinya tegangan

output yang dihasilkan bisa diatur dengan pengaturan penyalaan sudut Į sesuai

dengan kebutuhan.

Ada empat tipe penyearah dengan Diode, terdiri penyearah setengah

gelombang dan gelombang penuh satu phasa dan setengah gelombang dan

gelombang penuh tiga phasa. Penyearah Dilengkapi Filter Kapasitor

a. Penyearah Setengah Gelombang

Rangkaian transformator penu-run tegangan dengan sebuah Diode R1

setengah gelombang dan sebuah lampu E1 sebagai beban. Sekunder trafo sebagai

tegangan input U1 = 25 V dan bentuk tegangan output DC dapat dilihat dari

osiloskop. Tegangan input U1 merupakan gelombang sinusoida, dan tegangan

output setelah Diode Ud bentuknya setengah gelom-bang bagian yang positifnya

(41)

Gambar 2.25 Dioda setengah Gelombang 1 Phasa

Sumber : Prih, dkk, 2008

b. Penyearah Diode Gelombang Penuh

Sumber

:http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/konsep-dasar-penyearah-gelombang-rectifier/, diakses 6 Juli 2014

Gambar 2.26Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh

Sumber

(42)

Prinsip kerja dari penyearah gelombang penuh dengan 4 diode diatas

dimulai pada saat output transformator memberikan level tegangan sisi positif,

maka D1, D4 pada posisi forward bias dan D2, D3 pada posisi reverse bias

sehingga level tegangan sisi puncak positif tersebut akan di leawatkan melalui D1

ke D4. Kemudian pada saat output transformator memberikan level tegangan sisi

puncak negatif maka D2, D4 pada posisi forward bias dan D1, D2 pada posisi

reverse bias sehingan level tegangan sisi negatif tersebut dialirkan melalui D2,

D4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik output berikut.

Agar tegangan penyearahan gelombang AC lebih optimal menajdi

tegangan DC maka dipasang filter kapasitor pada bagian output rangkaian

penyearah seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2.27rangkaian penyearah dan gelombang yang dihasilkan

Sumber

:http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/konsep-dasar-penyearah-gelombang-rectifier/, diakses 6 Juli 2014

Fungsi kapasitor pada rangkaian diatas untuk menekan riple yang terjadi

dari proses penyearahan gelombang AC. Setelah dipasang filter kapasitor maka

output dari rangkaian penyearah gelombang penuh ini akan menjadi tegangan DC

(43)

Kemudian untuk nilai riple tegangan yag ada dapat dirumuskan sebagai berikut :

Sumber : Agus, 2012

2.7.2. Motor Bakar

Motor bakar merupakan salah satu mesin penggerak mula yang

mempunyai peranan penting sebagai tenaga penggerak berbagai macam

peralatan dari kapasitas kecil sampai besar. Jenis peralatan yang digerakkan

adalah peralatan yang tidak bergerak ataustationer. Motor bakar terdiri dari motor

dengan kerja bolak - balik (reciprocating engine) dan motor dengan kerja putar

(rotary engine). Motor dengan kerja bolak-balik terdiri dari motor bensin dan

motor Diesel, dengan sistem 2 tak maupun 4 tak. Perbedaan utama motor bensin

dengan motor diesel adalah pada sistem penyalaannya. Motor bensin dengan

bahan bakar bensin dicampur terlebih dahulu dalam karburator dengan udara

pembakaran sebelum dimasukkan ke dalam silinder (ruang bakar), dan

dinyalakan oleh loncatan api listrik antara kedua elektroda busi karena itu

motor bensin dinamai juga Spark Ignition Engines.

Silinder motor bakar terbuat dari alumunium paduan dan diberi sirip

pendingin kepala silinder yang menutup silinder terbuat dari alumunium dan

dilengkapi juga dengan sirip pendingin. Kepala silinder ini juga dilengkapi

dengan busi yang menimbulkan percikan bunga api dan mekanisme katup isap

dan katup buang.

2.7.2.1. Unjuk Kerja Motor Bakar

Kinerja suatu motor bakar diperoleh dengan serangkaian uji unjuk

kerja. Beberapa paramater penting yang berpengaruh pada unjuk kerja motor

(44)

a. Torsi dan Daya Poros.

Torsi adalah ukuran kemampuan mesin untuk menghasilkan kerja. Dalam

prakteknya, torsi dari mesin berguna untuk mengatasi hambatan sewaktu

kendaraan jalan menanjak, atau waktu mempercepat laju kendaraan pada

generator torsi berguna saat beban puncak (otomotif). Besar torsi dapat dihitung

dengan rumus:

b. Tekanan efektif rata-rata

Tekanan efektif rata-rata didefinisikan sebagai tekanan teoritis

(konstan), yang apabila mendorong torak sepanjang langkah kerja dari motor

dapat menghasilkan tenaga (tenaga poros).

c. Pemakaian bahan bakar spesifik

Pemakaian bahan bakar spesifik menyatakan banyaknya bahan bakar

yang dikonsumsi mesin per jam untuk setiap daya kuda yang dihasilkan.

Harga pemakaian bahan bakar spesifik yang lebih rendah menyatakan

efisiensi yang lebih tinggi. Jika dalam suatu pengujian mesin diperoleh data

mengenai penggunaan jumlah bahan bakar (kg bahan bakar/jam), dan dalam

waktu 1 jam diperoleh tenaga yang dihasilkan N, maka pemakaian bahan

spesifik dihitung sebagai berikut :

� = �10 3

Dimana : Sfc = konsumsi bahan bakar (g/kW.h)

mf = laju aliran bahan bakar (kg/jam)

(45)

Besarnya laju aliran massa bahan bakar (mf) dihitung dengan persamaan

berikut:

= �10

−3

� 3600

Dimana:

sgf = Spesific Gravity

Vf= Volume bahan bakar yang diuji (dalam hal ini pada saat 1 jam (3600 detik)

awal, berapa ml konsumsi bahan bakar yang terjadi).

Tf = Waktu untuk menghabiskan bahan bakar sebanyak volume uji (detik).

Sumber: Agus, 2012

2.7.2.2. Kelengkapan Modifikasi

Modifikasi dari mesin otto (motor bensin) cukup mudah karena mesin

sudah didesain untuk beroperasi pada campuran udara dan bahan bakar

dengan pengapian busi. Beberapa modifikasi yang dapat dilakukan adalah:

a. Modifikasi saluran masuk bahan bakar dan udara.

b. Modifikasi rasio kompresi.

c. Waktu pengapian

Modifikasi dasar adalah merubah campuran udara dan bahan bakar

di dalam karburasi. Perbandingan massa udara dan massa bahan bakar untuk

pembakaran sempurna dapat dilihat pada

Tabel 2.5. Perbandingan massa udara dan massa bensin pada pembakaran

sempurna adalah 1- 5. Perbandingan massa udara dan massa biogas dengan kadar

CH4 50% adalah 4 - 6. Dengan dasar ini, saluran campuran bahan bakar

bensin dan udara yang semula menggunakan karburasi, maka pada biogas dibuat

peralatan pencampur yang dapat menghasilkan campuran untuk terjadinya

(46)

Tabel 2.6Perbandingan jumlah udara dan jumlah bahan bakar untuk

pembakaran sempurna

No

Bahan Bakar Perbandingan Massa

udara terhadap massa

tinggi akan diperoleh peningkatan efisiensi sebagaimana dapat dilihat pada

Tabel 2.4. Perbandingan kompresi yang umum pada motor bensin adalah 7 - 10.

Perbandingan kompresi bukanlah perbandingan tekanan. Perbandingan

kompresi (r) sendiri didefinisikan sebagai berikut:

= � ��

menyebabkan penyalaan sendiri yang tidak terkontrol dan proses pembakaran

yang tidak rata. Keduanya dapat menjadi hal yang merugikan untuk mesin‟.

Kecepatan pembakaran dari biogas lebih rendah dari kecepatan

pembakaran bensin. Penyebabnya adalah biogas mengandung CO2 dalam

konsentrasi yang cukup tinggi. Kecepatan pembakaran campuran udara bahan

bakar selama satu langkah pembakaran pada motor bensin sangat

mempengaruhi efisiensi motor bensin tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa

waktu yang tersedia untuk sempurnanya pembakaran dalam ruang bakar

(47)

beroperasi pada 3000 rpm, maka waktu yang tersedia untuk pembakaran

selama satu langkah adalah 1/100 detik.

Waktu yang sesuai dengan kecepatan pembakaran tergantung pada

beberapa parameter operasi :

a. Kecepatan mesin

b. Kelebihan udara pembakaran

c. Jenis bahan bakar

d. Tekanan dan temperatur.

Dalam kasus pembakaran biogas, karena kecepatan pembakarannya

yang rendah, maka waktu pengapian yang dibutuhkan biasanya dapat

dimajukan 100 – 150 lebih awal dari waktu pengapian standar bahan bakar

bensin.

2.7.2.3. Komponen modifikasi motor bakar bensin

a. selang vakum (karet) ukuran 8 x 3 mm

Selang berfungsi sebagai media penyalur gas dari penampungan ke generator

set.

Gambar 2.28 Selang Vakum

b. klem

Klem berfungsi sebagai untuk mengencangkan sambungan antara selang

dengan T-pipe. Gambar klem disajikan pada gambar 2.18 berikut ini.

(48)

c. Naple kecil ukuran 4 mm (bahan kuningan)

Naple ini sebagai masukan gas kepada karburator genset seperti pada gambar

2.19

(49)

BAB III

PERANCANGAN ALAT

Gambar 3.1 Skema Pembuatan Biogas

3.1 Menentukan Volume Digester

Dalam menentukan besarnya volume digester yang dibutuhkan,

ada beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu denah tempat yang akan

digunakan, volume gas yang dibutuhkan untuk menyalakan generatorset, volume

digester, bahan digester yang digunakan, dan alasan memakai disain digester

3.1. Denah Tempat

Berdasarkan lokasi tempat yang akan digunakan untuk penempatan

unit penghasil biogas. Tempat tersebut berlokasi di samping laboratorium mesin

otomotif dengan luas 3 m x 3m

3.2. Volume Digester

Digester yang dibuat berbentuk tabung, berikut ini bagaimana menghitung

(50)

a. Digester dalam bentung Horizontal

(a) (b)

Gambar 3.2 Digester Horizontal b. Digester dengan Bentuk Vertikal

Untuk memudahkan penghitungan digester dibuat sketsa dalam

posisi vertikal

Gambar 3.3 Digester Vertikal

Perhitungan Volume digester

V = πr2. t

� = 3,14. 402. 80

� = 100480 � 3

� = 0,1 3

(51)

3.2. BanyaknyaKotoran Sapi Yang Dibutuhkan

Dalam perhitungan untuk menentukan jumlah kotoran sapi yang

dibutuhkan untuk menghasilkan biogas yang akan digunakan. Diketahui massa

jenis air = 1000 kg/m3 untuk menentukan massa jenis kotoran sapi yaitu :

Diketahui masa kotoran sapi = 12,375 kg dengan di masukan pada ember

dengan volume ember yang digunakan = 0,009 m3

Sehingga massa jenis kotoran sapi = 1375 kg/m3

a. Volume digester 0,1 m3 = 100 liter

b. Volume bubur kotoran yaitu 3/4 dari volume digester dan perbandingan

air dan kotoran sapi yaitu 1 : 1

V =3

4 .0,1 m

3

� = 0,075 3 volume digester yang di isi bubur kotoran sapi

c. Jadi air sebanyak 0,0375 m3 dan kotoran sapi 0,0375 m3

d. Kotoran sapi yang dibutuhkan (kg)

= Volume kotoran sapi x massa jenis kotoran sapi

= 0,0375 m3 . 1375 kg/m3

= 51,56 kg

e. Air yang dibutuhkan

= volume air yang dibutuhkan x massa jenis air

= 0,0375 m3 . 1000 kg/m3

= 37,5 kg

3.3. Bahan Digester

Bahan yang digunakan adalah fiber, dikarenakan

a. Fiber t idak dapat terkena korosi, sehingga bahan lebih tah a n

lama.

b. Fiber merupakan isolator yang cukup baik terhadap perubahan

(52)

3.3.1 Disain Digester

Disain digester yang digunakan berbentuk tabung,karena

digester dibuat tipe kontinyu,sehinggadis ain untuk dan pada bagian

bawahnya dibuat pipa saluran keluaran. Hal ini sesuai dengan rumus dari tekanan

yaitusehingga saat ditambahkan slurry pada saat volume digester maksimal maka

secara otomatis slurry bagian bawah akan keluar karena tertekan oleh slurry

bagian atas. Semakin kecil luas penampangnya maka semakin besar tekanan.

(a) (b)

Gambar 3.4 Digester

3.4 Volume Penampung Gas 3.4.1. Volume penampung

Volume penampung gas disesuaikan dengan luas tempat yang tersedia

dan berapa volume gas yang dibutuhkan. Volume gas yang dibutuhkan, untuk

menghindari kelebihan gas, maka dibuat volume penampung lebih besar dari gas

yang dibutuhkan yaitu dengan perhitungan : Volume Penampung Gas =

V = πr2. t

V = π0,3152. 2

(53)

3.4.2. Water Trap

Water trap atau penjebak air berfungsi untuk menjebak air yang terdapat

pada biogas agar tidak ikut terbakar pada mesin pembakaran karena dapat

mengurangi efisiensi motor bakar jika bahan bakar yang digunakan tercampur

oleh air, lubang pembung gas lebih, lubang pembuangan terdapat pada 20 - 25 cm

di atas pipa saluran, agar gas tidak ikut trbung percuma, dan terbung apabila gas

pada penampungan telah penuh.

Gambar 3.5 Water Trap

3.4.3. Manometer

Tekanan gas yang dihasilkan diukur dengan menggunakan manometter U

terbuka yang menggunakan fluida air.

Gambar 3.6 Manometer Biogas

Untuk mengetahui tekanan Biogas yang dihasilkan selama proses

berlangsung dalam satuan atm. Bila manometer diberi tekanan gas dalam salah

satu kolom, maka air di kolom lainnya akan naik hingga mencapai tekanan

(54)

perhitungan tekanan dihitung dengan menggunakan Hukum Boyleseeprti di

bawah :

P = ρ.g . h + tekanan atmosfer

Sumber : Rohyami, 2012

Keterangan :

P = Tekanan (N/m2)

ρ = Densitas zat cair (kg/m3) = 1000kg/m3 g = Percepatan gravitasi (9,81 m/s2)

h = Perbedaan ketinggian kolom zat cair yang digunakan (m)

1 atm = 101.325 N/m2

1 N/m2 = 9,869 . 10-6 atm

3.4.4. Bahan Penampung Gas

Bahan yang digunakan sebagai penampung gas adalah plastik,

dikarenakan:

a. Lebih ringan untuk dibawa dan dipindahkan.

b. Lebih jelas terlihat bila sudah terdapat gas dipenampungan, terbukti dengan

menggembungnya penampungan gas.

(a) (b)

(55)

3.5 Motor Bakar

Kepala silinder yang menutup silinder terbuat dari alumunium dan

dilengkapi juga dengan sirip pendingin. Kepala silinder ini juga dilengkapi

dengan busi yang menimbulkan percikan bunga api dan mekanisme katup isap

dan katup buang. Sistem pengapian adalah sistem magnet. Pemutus arus,

komponen pengapian dan sebagainya dari sistem pengapian ditempatkan

didalam roda gayanya. Sedangkan puli untuk menstart dipasang pada ujung

poros engkol.

3.5.1. Modifikasipada Karburator

Karena karakteristik biogas dan bensin tidak terlalu jauh berbeda tetapi

pada karburator yang telah dimodifikasi tidak terlalu banyak membutuhkan

oksigen terlalu banyak, maka pengaturan udara yang masuk sangat sedikit dan

pelepasan pelampung pada karburator karena pelampung tidak perlu

digunakan,dan Maintjet pun di lepas dan setelah itu pemasangan selang sumber

biogas pada karburator, di pasang pada sepuyer Pengeluaran bensin di karburator.

(56)
(57)

BAB IV

Dengan jumlah kapasitas kotoranyang dimasukan pada digester yaitu 1650

kg kotoran sapi dan 1200 liter air, maka yang akan dihasilkan biogas sebanyak 0,8 – 1,6 m3 per hari

Tabel 4.1 Analisis kebutuhan kotoran sapi

Jumlah kotoran Sapi yang dibutuhkan perhari 30 Kg

Volume digester

Masukan bahan kering perhari

Volume digester yang terisi kotoran

Volume Kebutuhan digester total

Berdasarkan sumber Departemen Pertanian, konversi biogas

menjadienergi listrik yaitu 1 m3 biogas sama dengan 4,7 kWh, jadi 1,2 m3 biogas

setara dengan 5,64 kWh, 0,552 kg Gas elpiji.

P = ρ.g . h + tekanan atmosfer

Keterangan

P = Tekanan (N/m2)

ρ = Densitas zat cair (kg/m3) = 1000kg/m3 g = Percepatan gravitasi (9,81 m/s2)

h = Perbedaan ketinggian kolom zat cair yang digunakan (m)

1 atm = 101.325 N/m2

1 N/m2 = 9,869 . 10-6 atm

(58)

Tabel 4.2Pengukuran Biogas

No Tgl/Bln/Thn Manometter (cm) Tekanan Digester Keterangan

1

sebagai tempat penyimpanan. Alat ini terdiri atas dua komponen utama, yaitu:

a. Tangki pencerna (biodigester)

Memiliki volume 0,1m3 = 100 liter, jadi kotoran yang digunakan 51,5 kg dan

37,5 kg air.

b. Plastik pengumpul gas

memiliki volume 0,62m3

Alat penghasil biogas ini bekerja dengan cara memasukkan bahan isian

(kotoran sapi) dengan perbandingan bahan isian dan air 1 : 1 dengan komposisi

37,5 liter kotoran ternak sapi yang dicampur dengan sekitar 37,5 liter air

melalui saluran pemasukan (satu buah digester). Campuran bahan dan air

diaduk terlebih dahulu secara merata agar pemasukan bahan ke digester

dapat berlangsung baik, kemudian menyaring campuran tersebut untuk

(59)

saluran pemasukan dan pengeluaran ditutup untuk mengkondisikan digester

anaerob.

Produksi gas hasil fermentasi anaerob oleh biodigester mulai pada

hari ke- 6 -10. Gas yang dihasilkan dengan sendirinya mengalir ke tangki

penampung gas. massa plastik penampung dapat terangkat dengan semakin

bertambahnya produk biogas dengan melihat bertambah besarnya plastik

penyimpan gas, tetapi gas pada hari ke 6 - 10 tidak dapat lansung digunakan

karena gas yang aterbentuk yaitu CO2sedangkan biogas bisa adigunakan saat

kadar metana CH4yaitu 50-70%, dan karbondioksidanya CO2yaitu 25-50%

4.3 Deskripsi Pengujian

Deskripsi pengujian menjelaskan bagaimana gambaran atau deskripsi

dalam pengujian pada rancang bangun penghasil Biogas untuk diaplikasikan

pada Generator Set yang dimodifikasi.

Untuk mengukur geset bensin yang dimodifikasi, diperlukan:

a. Menghitung volume Biogas yang dihasilkan pada digester.

b. Perhitungan gas yang dibutuhkan untuk menyalakan genset bensin yang

dimodifikasi, dalam satuan waktu.

c. Perbandingan genset yang berbahan bakar biogas dan bensin.

4.5.1.Target Pengujian

a. Memperoleh data volume gas yang dihasilkan pada digester.

b. Berapa volume gas yang dibutuhkan untuk menyalakan genset biogas

dalam satuan waktu.

(60)

4.4 Data Hasil Pengujian dan Analisa

Berikut ini adalah tabel dan analisa data yang diperoleh :

4.4.1. Gas bio

Tabel 4.3 Analisis kebutuhan kotoran sapi untuk menghasikan Biogas

Jumlah kotoran Sapi 51,5Kg

Volume digester yang di isi slurry

Kandungan bahan kering

Volume digester yang terisi kotoran

Kebutuhan digester total

Data pengamatan kondisi dan volume Biogas. Setelah gas terbentuk,

volume gas yang dihasilkan oleh digester tidak terbaca oleh alat ukur psi

dikarenakan tekanan yang dihasilkan dalam digester sangat kecil, sehingga hanya

bisa terbaca pada dua minggu setelah pengisian.Berikut ini pengambilan data

biogas yang dapat dilihat pada tabel 4.3

(61)

9

kotoran sapi dan 37,5 liter air, maka yang akan dihasilkan biogas sebanyak 0,03

m3per hari

4.5.2.Pengukuran Generator set bio

Genset bensin yang dimodifikasi untuk genset bio memiliki spesifikasi :

(62)

Gambar 4.1 Skema pengetesan generator set tanpa beban

a. Anasilis pengukuran

Dari rumus pertama dibawah, jika konstanta dan fluks magnet di anggap

tetap, maka pada saat putaran rotor naik, tegangan pun naik, putaran rotor

berbanding lurus dengan GGL induksi.

Ea = C . n.

b. Pengukuran Genset Tanpa Beban

Tabel 4.5 Data hasil pengujian tanpa beban

(63)

1622 1686 1851

300 600 900 1200 1500 1800

W

Gambar 4.2 Grafik Tegangan Tanpa Beban

Gambar 4.3Grafik Putaran Tanpa Beban

Dari gambar 4.2 dan 4.3 dijelaskan bahwa putaran pada saat mesin

menggunakan bahan bakar biogas tanpa adanya beban mencapai 1686 rpm dan

tegangan 100 volt dan bahan bakar bensin 2498 rpm sampai 2510 rpm

sedangkan tegangan yang dihasilkan adalah 115 Volt. 75

300 600 900 1200 1500 1800

(64)

Dari gambar 4.2dan 4.3diperoleh perbandingan bahwa:

a. Putaran mesin saat menggunakan bahan bakar bensin lebih besar dari pada

saat menggunakan bahan bakar biogas.

b. Tegangan pada saat mesin menggunakan bahan bakar bensin lebih besar

dari pada saat menggunakan bahan bakar biogas,

c. Putaran generator berbanding lurus dengan tegangan terminal atau output.

4.5.2.2. Pengetesan Berbeban 25 watt

Data pengamatan genset yang telah dimdifikasi dengan bahan bakar biogas

dengan di beri beban 25 watt sebanyak 0,64 m3 biogas selama 30 menit, tegangan

yang dihasilkan ketika mesin menggunakan bahan bakar biogas pada saat

pengujian dapat dilihat pada tabel 4.6 sebagai berikut :

Gambar 4.4 Skema Pengetesan Generator Berbeban

a. Analisis Pengukuran

Dari rumus dibawah, saat generator memiliki beban dapat ditarik

kesimpulan, pada saat putaran generator naik maka GGL induksipun naik dan

tegangan terminalpun naik, putaran berbanding lurus dengan frekwensi,

berbanding lurus dengan GGL induksi dan tegangan terminal, saat generator

(65)

Maka : � = � ∅ ���

V = Tegangan Terminal (Volt) Xs = Resistansi Sinkron Ra = Resistansi jangkar a. Sumber : Prih, dkk, 2008

b. Pengukuran Genset Berbeban

Tabel 4.6 Data hasil pengujian untukbeban25 watt

(66)

1802 1811 1798 1806 1925 1930

2505 2508 2517 2520 2510 2493

0

300 600 900 1200 1500 1800

P

Gambar 4.5Grafik Tegangan Pada Beban 25 Watt

Gambar 4.6 Grafik Putaran Berbeban 25 watt

95 102 100 103 106

300 600 900 1200 1500 1800

(67)

0.04

300 600 900 1200 1500 1800

Ar

Gambar 4.7Grafik Arus Berbeban 25 watt

Dari gambar 4.5, 4.6 dan 4.7 dijelaskan bahwa pada saat mesin menggunakan

bahan bakar bensin, putaran mencapai 2520 rpm dan tegangan yang terjadi adalah

115 volt dan bahwa pada saat mesin menggunakan bahan bakar biogas, putaran

yang terjadi mencapai 1930 rpm dan tegangannya adalah 110 volt.

Untuk bahan bakar biogas dengan beban 25 Watt, tegangan yang

dihasilkan ditunjukkan pada tabel 4.6 berikut:

Dari gambar 4.5 dijelaskan bahwa pada saat mesin menggunakan bahan

bakar biogas, putaran yang terjadi mencapai 1930 rpm dan tegangannya adalah

110 Volt.

Dari gambar 4.5, 4.6 dan 4.7 diperoleh perbandingan yaitu:

a. Pada saat genset diberi beban 25 watt, putaran maupun tegangan yang

dihasilkan lebih besar dan stabil dengan menggunakan bahan bakar bensin.

b. Putaran Generator set berbanding lurus dengan tegangan terminal atau

(68)

4.5 Nilai Investasi Pembuatan Biogas

Listrik yang dihasilkan dari PLTBio kemudian dapat digunakan untuk

menunjang aktivitas kewirausahaan dan aktivitas ekonomi diantaranya adalah

untuk penerangan, alat penunjang PLTBio, dan kebutuhan listrik untuk unit

kompresi.

Untuk memperoleh listrik 1000 W diperkirakan membutuhkan kotoran

dari 5-6 sapi dimana diasumsikan bahwa per hari, 1 ekor sapi

menghasilkan kotoran 25 kg. Analisis mengenai kebutuhan sapi dan kotoran

sapi untuk menghasilkan listrik 1000 W dapat dilihat pada tabel di bawah.

Tabel 4.7 Analisis kebutuhan kotoran sapi untuk menghasikan listrik 1000 W

Jumlah Sapi 5 - 6 ekor

Volume digester total

Masukan kotoran perhari

Masa bahan kering kotoran

Volume digester yang terisi kotoran

Kebutuhan digester total

Berdasarkan sumber Departemen Pertanian, konversi biogas

menjadienergi listrik 1 m3 biogas sama dengan 4,7 kWh jadi 2,4 m3 biogas setara

dengan 11,3 kWh. atau bagi Genset 1 KVA ( 1000 watt) akan menyala 11 jam 18

(69)

Tabel 4.8Penggunaan biogas untuk untuk rumah tinggal dengan daya 1000 watt

No Bahan Harga satuan Keterangan

1 Pembuatan Digester6000L Rp. 6.300.000 6 tahun

2 Penampungan (plastik) Rp. 100.000

3 Generator Set HL-1500 LX

1000 watt

Rp. 2.300.000 7 tahun

4 Inverter sp 300ch 12 volt 20

ampere

Rp. 1.670.000,-

6 Bahan – Bahan Lainnya Rp. 1.000.000

Rp. 11.370.000

Jadi jika harga listrik dari PLN 1KWh = Rp. 605per kWh dengan batas

daya 900 VA

Tabel 4.9Analisa PLTBio dengan PLN

1 KWh PLN dengan batas daya 900VA Rp. 605 ,-

Asumsi jika daya maksimal PLN 880 watt

Asumsi jika pemakaian beban maksimal11 jam

18 menit

290,4 kWh perbulan

Pembayaran listrik PLN perbulan Rp. 196.000

Jika pembuatan PLTBio dengan kapasitas

6000L

Rp. 11.370.000

(70)

Tabel 4.10 Perbandingan PLTBio dengan PLN

Rp. 11.370.000 Rp. 2.352.000

2

Plastik penampungan

Rp. 11.470.000 Rp. 4.704.000

3

Plastik penampungan

Rp. 11.570.000 Rp. 7.056.000

4

Plastik penampungan

Rp. 11.670.000 Rp. 9.408.000

5

Plastik

penampungan

Rp. 11.770.000 Rp. 11.760.000

6

Plastik

penampungan

Rp. 11.870.000 Rp. 14.112.000

7

Plastik

penampungan dan digester

Rp. 18.270.000 Rp. 16.464.000

8

Plastik

penampungan dan Generator set

Rp. 20.570.000 Rp. 18.816.000

9

Plastik penampungan

Rp. 20.670.000 Rp. 21.168.000

10

Plastik

penampungan

Rp. 20.770.000 Rp. 23.520.000

11

Plastik penampungan

Rp. 20.870.000 Rp. 25.872.000

12

Plastik penampungan

Rp. 20.970.000 Rp. 28.224.000

13

Plastik

penampungan dan digester

Rp. 27.370.000 Rp. 30.576.000

14

Plastik

penampungan dan Generator set

Rp. 29.770.000 Rp. 32.928.000

15

Plastik penampungan

Gambar

Tabel 2.5 Part name diagram Kontrol Box
Gambar 2.15 Jenis Generator dengan Medan Magnet diam
Gambar 2.17 Inti stator dan Alur pada Stator
Gambar 2.18 Bentuk rotor dengan kutub menonjol
+7

Referensi

Dokumen terkait

Membuat modifikasi motor bensin (genset) sehingga dapat digunakan untuk bahan bakar biogas. Menguji genset berbahan bakar biogas untuk menghasilkan listrik sampai beban

Membuat modifikasi motor bensin (genset) sehingga dapat digunakan untuk bahan bakar biogas. Menguji genset berbahan bakar biogas untuk menghasilkan listrik sampai beban

Biogas adalah salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan pada berbagai mesin, salah satunya adalah mesin bensin pada mesin potong rumput empat

Membuat modifikasi motor bensin (genset) sehingga dapat digunakan untuk bahan bakar biogas. Menguji genset berbahan bakar biogas untuk menghasilkan listrik sampai beban

Membuat modifikasi motor bensin (genset) sehingga dapat digunakan untuk bahan bakar biogas. Menguji genset berbahan bakar biogas untuk menghasilkan listrik sampai beban

bahan bakar (dual fuel) yaitu solar dan biogas pada mesin diesel yang ditujukan.. untuk menghemat bahan bakar solar dan meningkatkan efisiensi dari mesin

Biogas adalah salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan pada berbagai mesin, salah satunya adalah mesin bensin pada mesin potong rumput empat

Trimitra Lestari Dasar perhitungan penentuan kapasitas PLTBg mengacu pada perhitungan kandungan energi kimia biogas POME, konsumsi bahan bakar biogas untuk genset gas engine serta