Prediksi Permintaan BBM Jenis Premium di Jawa Timur dengan Pendekatan Model Multivariate dan Univariate
Time Series
Woro Morphi Hartiningrum 1312105024
Dosen Pembimbing
Pendahuluan
1
Tinjauan Pustaka
2
Metodologi Penelitian
3
Analisis dan Pembahasan
4
Kesimpulan
5
PENDAHULUAN
Latar Belakang | Permasalahan | Tujuan | Manfaat | Batasan
Latar Belakang (1)
Industri
Transportasi
Permintaan Meningkat
Latar Belakang (2)
Jawa Timur
5 TBBM
Multivariate : VAR
Univariate : ARIMA
Pemodelan
• peramalan permintaan energi primer dari bahan bakar di Turki dengan metode ARIMA untuk periode 2005- 2020
Ediger dan Akar (2007)
• analisis terhadap permintaan BBM di PT. Pertamina Region V dengan metode peramalan data time series
hirarkiUtari (2012)
• peramalan penjualan solar dan premium untuk Instalasi Surabaya, Malang, dan Madiun dengan metode ARIMA
Box JenkinsAmalia (2009)
Penelitian Serupa
Masalah
Bagaimana model ramalan yang sesuai untuk permintaan BBM jenis premium di Jawa Timur dengan mengaplikasikan metode VAR dan ARIMA?
Tujuan
Mendapatkan model ramalan yang sesuai untuk permintaan BBM
jenis premium di Jawa Timur.
Manfaat
Memberikan tambahan informasi berupa model ramalan permintaan BBM jenis premium di Jawa Timur yang dapat digunakan PT Pertamina sebagai bahan pertimbangan untuk mengalihkan kebutuhan masyarakat akan premium ke BBM jenis lainnya.
Menambah pengetahuan tentang metode peramalan VAR dan ARIMA.
Batasan
Menggunakan data BBM jenis Premium Di Region V
TINJAUAN PUSTAKA
VAR| ARIMA| RMSE | Premium
Granger Causality Test
Secara umum bentuk model dari kausalitas Granger adalah (Gujarati, 2003) :
Hipotesis yang digunakan pada uji kausalitas Granger adalah : H
0:
H
1: dimana:
Y
t-i: lag dari Y
t, i= 1, 2, ... , n X
t-i: lag dari X
t, i= 1, 2, ... , n m : panjang lag
E : residual
t m
j
j t i m
i
i t i
t
X Y e
Y
11 1
+ +
= ∑ ∑
= −
=
α
−β
= 0 α
i≠ 0
α
iVector Autoregressive (VAR)
Pemodelan VAR tidak jauh berbeda dengan model Autoregressive (AR).
Jika model AR diidentifikasi dari fungsi PACF dalam menentukan orde ke-p, sedangkan model VAR diidentifikasi dari MPACF.
Secara umum langkah peramalan dengan metode VAR terdiri dari pendugaan model awal, penaksiran parameter, uji diagnostik,
menentukan model VAR akhir, dan melakukan peramalan.
ARIMA
Model ARIMA merupakan gabungan dari model autoregresive (AR) dan Moving Average (MA) setelah dilakukan differencing orde d
(Wei, 2006)
Cek Diagnosa ARIMA
a. White Noise
Keadaan dimana residual sudah tidak mempunyai autokorelasi yang signifikan (Wei, 2006). Uji asumsi white noise dapat dilakukan dengan Ljung Box Q-test (LBQ).
b. Distribusi Normal
Uji kenormalan residual dilakukan dengan Kolmogorov Smirnov
untuk mengetahui bahwa residual telah memenuhi distribusi
normal(Daniel, 1989).
Kriteria Pemilihan Model Terbaik
Root Mean Squared Error (RMSE)
Out sample
RMSE = �
∑𝑛𝑛𝑡𝑡=1(𝑍𝑍𝑛𝑛𝑡𝑡−𝑍𝑍�𝑡𝑡)2 In sample
RMSE = �
∑𝑛𝑛𝑡𝑡=1𝑛𝑛−𝑝𝑝(𝑍𝑍𝑡𝑡−𝑍𝑍�𝑡𝑡)2dengan
n : banyak ramalan yang dilakukan
p : banyak parameter yang ditaksir
Premium
Premium merupakan BBM untuk kendaraan bermotor yang paling populer di Indonesia. Premium di Indonesia dipasarkan oleh Pertamina dengan
harga yang relatif murah karena memperoleh subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Bahan bakar ini sering juga disebut motor
gasoline atau petrol.
METODOLOGI PENELITIAN
Sumber Data dan Variabel Penelitian | Langkah Analisis
Sumber Data & Variabel Penelitian
Meliputi 5 TBBM di Jawa Timur meliputi Instalasi Surabaya (Z1t
)
, TBBM Madiun (Z2t)
, TBBM Malang (Z3t)
, TBBMCamplong (Z
)
, dan Tanjung Wangi (Z)
PT. Pertamina Upms V Surabaya
Data permintaan BBM jenis premium di Jawa Timur (2006-2013)
Langkah Analisis
1. Mendeskripsikan pola permintaan premium di 5 TBBM Jatim 2. Memodelkan penjualan premium menggunakan VAR, dengan
langkah :
• Mempersiapkan data in sample (Januari 2006-Agustus 2012) dan out sample (September-Desember 2012).
• Melakukan Granger Causality Test.
• Melakukan identifikasi kestasioneran data in sample. Jika data
tidak stasioner dalam varians maka dilakukan transformasi Box-
Cox dan jika data tidak stasioner dalam mean maka dilakukan
differencing.
• Menentukan orde model VAR berdasarkan plot MPCCF dan nilai AIC terkecil.
• Membentuk model VAR.
• Estimasi dan uji signifikansi parameter. Jika terdapat parameter yang tidak signifikan maka dilakukan pembatasan (restrict)
hingga semua parameter signifikan.
• Melakukan uji asumsi residual model.
• Melakukan forecast penjualan premium untuk tiap-tiap TBBM dan membandingkannya dengan data aktual
• Menghitung nilai RMSE in sample dan out sample.
3. Memodelkan penjualan premium menggunakan ARIMA, dengan langkah :
• Identifikasi model ARIMA menggunakan plot ACF dan PACF dari data in sample.
• Estimasi dan uji signifikansi parameter.
• Melakukan uji asumsi residual model.
• Melakukan forecast dan membandingkannya dengan data aktual.
• Menghitung nilai RMSE in sample dan out sample.
4. Memilih model yang paling sesuai dari kedua metode yang
digunakan diatas untuk meramalkan penjualan premium dilima
TBBM Jawa Timur.
ANALISIS &
PEMBAHASAN
Pemodelan VAR | Pemodelan ARIMA | Pemilihan Model Terbaik
TBBM Rata-rata Minimum Maksimum Ins. Surabaya 135.211 87.294 202.800
Camplong 13.330 8.296 21.345
Madiun 22.343 13.119 31.152
Malang 26.433 17.373 41.713
Tanjung Wangi 29.682 15.064 45.776
Rata-rata penjualan premium tertinggi
terjadi pada Instalasi Surabaya. Sedangkan
rata-rata penjualan premium terendah
terjadi pada TBBM Camplong
Des Nov Okt Sep Ags Jul Jun Mei Apr Mar Feb Jan 200000 180000 160000 140000 120000 100000
y
Des Nov Okt Sep Ags Jul Jun Mei Apr Mar Feb Jan 22000 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000
Des Nov Okt Sep Ags Jul Jun Mei Apr Mar Feb Jan 30000
25000
20000
15000
p
Des Nov Okt Sep Ags Jul Jun Mei Apr Mar Feb Jan 45000
40000
35000
30000
25000 20000
50000 45000 40000 35000 30000 25000 20000
pjgg
Surabaya
Camplong
Madiun
Malang
Tanjung Wangi
tidak adanya outlier pada setiap bulan penjualan premium tiap-
tiapTBBM
2012 2011
2010 2009
2008 2007
2006 200000
150000
100000
50000
0
Tahun
Penjualan Premium (KL)
Camplong Madiun Malang Surabaya Tanjung Wangi TBBM
80 72 64 56 48 40 32 24 16 8 1 200000
150000
100000
50000
0
Bulan ke-
Penjualan Premium (KL)
Camplong Madiun Malang Surabaya Tanjung Wangi TBBM
Penjualan Bulanan Rata-rata Penjualan per Tahun
ketika penjualan premium di suatuTBBM naik, penjualan premium di TBBM lainnya juga cenderung
naik
TBBM Camplong Madiun Malang Ins. Surabaya Madiun 0,838
Malang 0,340 0,543
Ins.Surabaya 0,913 0,720 0,144
Tanjung Wangi 0,912 0,848 0,509 0,863
Sebagian besar koefisien korelasi bernilai lebih dari 0,5.
Artinya ada hubungan yang cukup kuat antar TBBM
Pemodelan VAR
Granger Causality Test
(1)H0: penjualan premium TBBM Surabaya mempengaruhi penjualan premium TBBM Camplong, Madiun, Malang, dan Tanjung Wangi. Tetapi tidak sebaliknya.
(2)H0: penjualan premium TBBM Camplong mempengaruhi penjualan premium TBBM Surabaya, Madiun, Malang, dan Tanjung Wangi.
Tetapi tidak sebaliknya.
(3)H0: penjualan premium TBBM Madiun mempengaruhi penjualan premium TBBM Surabaya, Camplong, Malang, dan Tanjung Wangi. Tetapi tidak sebaliknya.
(4)H0: penjualan premium TBBM Malang mempengaruhi penjualan premium TBBM Surabaya, Camplong, Madiun, dan Tanjung Wangi. Tetapi tidak sebaliknya.
(5)H0: penjualan premium TBBM Tanjung Wangi mempengaruhi penjualan premium TBBM Test Chi-Square DF Prob>Chisq
1 2,85 4 0,5825
2 2,22 4 0,6957
3 4,99 4 0,2880
4 6,92 4 0,1403
5 0,73 4 0,9472
Gagal tolak H
0pada semua kausal
TBBM Lower CL Upper CL Rounded Value
Surabaya -0.09 1.81 1.00
Camplong -0.65 1.26 0.50
Madiun -1.20 0.87 0.00
Malang -0.72 0.96 0.00
Tanjung Wangi -0.25 1.41 0.50
Tranformasi Box Cox
Plot MCCF
a v r i n a
m e
n a
Plot MPCCF setelah differencing
Lag MA 0 MA 1
AR 0 77,99787 77,76914
AR 1 76,95062 77,66346
AR 2 77,12625 77,97965
AR 3 77,33105 78,4326
Nilai AIC Model
VAR (1)
Residual VAR (1) ≠ White Noise
Plot MCCF Residual VAR (1)
VAR ([1,12])
Equation Parameter Estimate Std Error P-value Variabel Ins. Surabaya φ1_1_1 -0,47883 0,06187 0,0001 Ins.surabaya(t-1)
φ12_1_1 0,57579 0,07393 0,0001 Ins.surabaya(t-12) Camplong φ1_2_2 -0,52674 0,06490 0,0001 Camplong(t-1)
φ12_2_2 0,57087 0,07941 0,0001 Camplong(t-12)
Madiun
φ1_3_3 -0,29160 0,08593 0,00013 Madiun(t-1)
φ1_3_4 -0,23172 0,07773 0,0042 Malang(t-1)
φ12_3_2 0,73244 0,19533 0,0004 Camplong(t-12)
φ12_3_4 0,20925 0,08513 0,0170 Malang(t-12)
Malang φ1_4_1 -0,33081 0,08519 0,0003 Madiun(t-1)
φ12_4_1 0,14679 0,02659 0,0001 Ins.Surabaya(t-12) Tanjung
Wangi
φ1_5_5 -0,59633 0,07040 0,0001 T.Wangi(t-1)
φ
Estimasi Parameter
−
− − −
−
−
=
−
−
−
−
−
1 , 5
1 , 4
1 , 3
1 , 2
1 , 1
, 5
, 4
, 3
, 2
, 1
ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ
596 , 0
0 0 0 0
0 0 0
0 0
0 0
331 , 0
232 , 0 292
, 0 0
0
0 0
527 , 0 0
0 0
0 479
, 0
ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ
t t t t t
t t t t t
Z Z Z Z Z
Z Z Z Z Z
+
+
−
−
−
−
−
t t t t t
t t t t t
e e e e e
Z Z Z Z Z
, 5
, 4
, 3
, 2
, 1
12 , 5
12 , 4
12 , 3
12 , 2
12 , 1
ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ
0 0 0 0 0
0 0 0
0 85
, 1
0 0
147 ,
0
209 ,
0 0
732 ,
0 0
0 0
571 ,
0 0
0 0
0 576
, 0
dimana masing-masing variabel merupakan variabel yang telah
Plot MCCF Residual VAR ([1,12])
White noise karena lag-lag residual berada dalam batas
kendali ± 2 kali standar error.
Chi square residual = 0,597015 = normal
Pemodelan ARIMA
TBBM Model Parameter Estimasi P_value Ins.
Surabaya
ARIMA (0,1,1) (1,0,1)12
ϴ
1 0,55254 < 0,0001Φ
1 0,44201 0,0189Θ
1 0,98476 < 0,0001Camplong ARIMA
(1,1,1)(1,0,0)12
φ
1 -0,36316 0,0492ϴ
1 0,39209 0,0233Φ
1 0,77550 <0,0001Madiun ARIMA
(0,1,[1,4])(1,0,0)12
ϴ
1 0,53316 < 0,0001ϴ
4 0,28465 0,0043Φ
1 0,61354 < 0,0001Malang ARIMA
(1,1,0)(1,0,0)12
φ
1 -0,29565 0,0089Φ
1 0,34325 0,0039Tanjung Wangi ARIMA (1,1,1)(1,0,0)12
φ
1 -0,32583 0,0509ϴ
1 0,44906 0,0052Φ
1 0,54651 < 0,0001Estimasi Parameter
< 0,05
TBBM Model Lag Q P_value
Ins.
Surabaya
ARIMA (0,1,1)(1,0,1)12
6 5,49 0,1394
12 8,04 0,5302
18 20,41 0,1566
24 26,33 0,1943
Camplong ARIMA
(1,1,1)(1,0,0)12
6 1,16 0,7637
12 8,49 0,4857
18 14,37 0,4974
24 21,77 0,4129
Madiun
ARIMA (0,1, [1,4])(1,0,0)12
6 4,56 0,2074
12 6,72 0,6660
18 11,25 0,7346
24 19,53 0,5509
Malang ARIMA (1,1,0)(1,0,0)12
6 2,91 0,5732
12 7,93 0,6352
18 14,19 0,5843
24 17,56 0,7317
6 0,38 0,9453
> 0,05
TBBM Model D P_value Inst. Surabaya ARIMA(0 ,1,1) (1,0,1)
120,10072 0,0463 Camplong ARIMA(1, 1, 1) (1,0,0)
120,094966 0,0782 Madiun ARIMA(0, 1,[1, 4]) (1,0,0)
120,072744 > 0,15 Malang ARIMA (1,1,0)(1,0,0)
120,088287 0,1304 Tanjung Wangi ARIMA(1,1,1)(1,0,0)
120,088287 0,1488
> 0,05
Model Terbaik
TBBM RMSE VAR ARIMA Inst. Surabaya In Sample 6738,23 6575,32*
Out Sample 3262,72* 3950,06 Camplong In Sample 1117,73 1066,80*
Out Sample 3220,29 3204,89*
Madiun In Sample 2145,49 2093,29*
Out Sample 4983,61 2639,37*
Malang In Sample 2442,27* 2621,90 Out Sample 1502,49* 1518,47 Tanjung Wangi In Sample 3143,33 3005,52*
Out Sample 3849,87 1011,29*
Perbandingan Kriteria Kebaikan Model
KESIMPULAN &
SARAN
Berdasarkan kriteria RMSE yang dihasilkan oleh kedua model pada bab analisis dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa model VAR([1,12]) merupakan model yang sesuai untuk meramalkan penjualan premium di Instalasi Surabaya dan TBBM Malang. Sedangkan untuk TBBM Camplong, Madiun, dan Tanjung Wangi lebih sesuai jika menggunakan model ARIMA.
Camplong : ARIMA (1, 1, 1) (1,0,0)
12Madiun : ARIMA (0, 1,[1, 4]) (1,0,0)
12Tanjung Wangi : ARIMA (1,1,1) (1,0,0)
12Kesimpulan
Data yang digunakan untuk penelitian selanjutnya diharapkan memiliki series yang lebih panjang agar pemodelan dengan VAR maupun ARIMA bisa menangkap orde yang lebih panjang sehingga ramalan yang dihasilkan bisa lebih baik.
Saran
Amalia, R. (2009). Analisis Penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari PT PERTAMINA (Persero) UPms V Surabaya dengan metode Arima Box Jenkins. Tugas Akhir tidak dipublikasikan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Bowerman, B.L, and O’Connell, R.T. (1993).
Forecasting and Time Series: An Applied Approach.
3rdedition. USA : Duxbury Press.
BPH MIGAS. (2012). Hilir Migas Media Informasi dan Komunikasi Industri Hilir Migas. Jakarta: BPH MIGAS.
Ediger, V.S., dan Akar, S. (2007). ARIMA Forecasting of Primary Energy Demand by Fuel in Turkey. Energy Policy, 35, 1701-1708.
Enders, W. (1995). Applied Econometric Time Series.
New Era Estate: JohnWiley and Sons, Inc.
Elliyana, M. (2009). Penerapan Model GSTAR dan ARIMA untuk Peramalan Data Produksi Minyak Bumi Operating Body Pertamina-Petrochi Java (JOB P-PEJ).
Gujarati, D. N. (2003). Basic Econometrics. Fourth Edition. NewYork: Mc-Graw Hill.
LIPI. (2008). Jurnal Ekonomi dan Pembangunan. Vol. XVI (1), hal 78
Makridakis, S., Wheelwright, S.C., dan Hibon, M.
(2000). The M3-Competition: result, conclution and implication. International Journal of Forecasting International Journal of Forecasting, 16, 451-476.
PT. PERTAMINA. (2010). Company Profile Statistic &
Competitive Intelligence PT. PERTAMINA (Persero) Pemasaran BBM Retail Region V. Surabaya: PT.
PERTAMINA.
Suhartono dan Atok, R.M. (2006). Pemilihan Bobot Lokasi yang Optimal pada Model GSTAR. Prosiding Konferensi Nasional Matematika XIII, Universitas Negeri Semarang. 24-27 Juli 2006. hal. 571-580.
(ISBN : 979-704-457-2).
Tsay, R.S.. (2005). Analysis of Financial Time Series. John Wiley & Sons. New Jersey.
Wei, W.W.S. (2006). Time Series Analysis: Univariate and Multivariate Methods. United State of America:
Addison-Wesley Publishing Company Inc.