KONSEP HAJI DALAM HUKUM ISLAM (Studi Pemikiran Ali Syari‟ati)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Hukum (S.H.) Jurusan Peradilan Agama Prodi Hukum Keluarga Islam
pada Fakultas Syaria dan Hukum UIN Alauddin Makassar
Oleh : ILHAM RISSING NIM: 10100115061
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2020
1
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Mahasiswa Yang Bertanda Tangan Di Bawah Ini:
Nama : Ilham Rissing
Nim : 10100115061
Tempat/Tgl. Lahir : Masiku/11 Desember 1996 Jurusan/ Prodi/ Konsentrasi : Hukum Keluarga Islam Fakultas : Syari‟ah & Hukum
Alamat : Jl. Abdul Kadir, Samata, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Judul : “Konsep Haji Dalam Hukum Islam (Studi Pemikiran Ali Syari’ati)”
Menyatakan dengan sesungguhnya dan penuh kesadaran bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat atau dibuat oleh orang lain, sebagian atau seluruhnya, maka skripsi ini dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Samata, 19 November 2021 Penyusun,
ILHAM RISSING NIM. 10110115061
PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul “Konsep Haji Dalam Hukum Islam (Studi Pemikiran Ali Syari’ati” yang disusun oleh Ilham Rissing, Nim 10100115061, Mahasiswa jurusan Hukum Keluarga Islam pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, telah diuji dan dipertanggung jawabkan pada sidang Munaqasyah yang diselenggarakan pada hari Kamis, tanggal 18 November 2021, dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum (SH) pada Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Alauddin Makassar dengan beberapa perbaikan.
Makassar, 18 November 2021 M 13 Rabiul Akhir 1443 H
DEWAN PENGUJI
Ketua : Dr. H Muammar Muhammad Bakry, Lc., M.Ag.(………...) Sekertaris : Dr. Hj. Rahmatiah HL, M. Pd (………...) Munaqisy I : Prof. Dr. H. Lomba Sultan, M.A. (………...) Munaqisy II : Drs. Muh. Jamal Jamil, M.Ag. (………...) Pembimbing I : Dr. H. Muh. Saleh Ridwan, M.Ag. (………...) Pembimbing II : Dr. Zulfahmi Alwi, M. Ag., Ph. D. (………...)
Diketahui Oleh:
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar
Dr. H. Muammar Muhammad Bakry, Lc., M.Ag.
NIP. 19731122 200012 1 002
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, Tuhan semesta alam atas segala nikmat iman dan nikmat kesehatan serta rahmat-Nyalah sehingga skripsi yang berjudul “Konsep Haji Dalam Hukum Islam (Studi Pemikiran Ali Syari’ati)” dapat diselesaikan. Salam dan shalawat dicurahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw beserta para keluarga, sahabat, dan pengikutnya yang senantiasa istiqamah dijalan- Nya.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum (S.H) pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.
Untuk itu penulis menyusun skripsi ini dengan mengerahkan semua ilmu yang telah diperoleh selama proses perkuliahan. Tidak sedikit hambatan dan rintangan yang penulis hadapi dalam penyelesaian skripsi ini. Namun, berkat bantuan dari berbagai pihak terutama do‟a dan dukungan yang tiada hentinya dari kedua orang tua tercinta ayahanda Tang dan ibunda Samma, serta saudaraku tersayang Mutmainna Rissing, Satriani Rissing, yang selalu setia memberikan bantuan moril dan materil yang tak ternilai harganya selama proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.
Ucapan terima kasih yang tulus serta penghargaan yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada bapak Dr.H.M. Saleh Ridwan, M.Ag pembimbing I, dan kepada bapak Dr. H. Zulfahmi Alwi, M.Ag.,Ph.D selaku pembimbing II, serta bapak Prof. Dr.H. Lomba Sultan, M.A.. penguji I, bapak Drs. Jamal Jamil, M.Ag., penguji II, atas waktu yang selalu diluangkan untuk memberikan bimbingan dan sumbangsih pemikirannya dalam proses penyusunan skripsi ini penulis juga mengucapkan banyak terimah kasih kepada:
1. Bapak Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Prof. H.
Hamdan, M.A., Ph,D. dan para wakil rektor beserta sejajaranya yang telah memberikan penulis kesempatan untuk mengikuti perkuliahan di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Negeri Alauddin Makassar.
2. Bapak Dr.H. Muammar Muhammad Bakry, Lc., M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, para wakil dekan, dosen pengajar beserta seluruh staf/
pengawai atas bantuanya selama penulis mengikuti pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
3. Ibu Dr.Hj. Patimah, M.Ag. Ketua Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar atas segala bantuanya kepada penulis.
4. Kepada Bapak dan Ibu bagian Akademik Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang telah banyak memberikan bantuan dalam menyelesaikan surat-surat yang dibutuhkan penulis dalam menyusun skripsi ini.
5. Kepada Kepala Perpustakaan Kampus dan seluruh staf/ pengawainya atas bantuan penyedian referensi-referensi yang dibutuhkan oleh penulis dalam menyusun skripsi ini.
6. Kepada seluruh pengurus Dema-U (Dewan Mahasiswa Fakultas Syari‟ah dan Hukum) periode 2019-2020 yang telah banyak memberikan dukungan secara moril maupun sikologis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Kepada keluarga besar (HMI) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gowa Raya, yang telah banyak memberikan dukungan moril dalam proses penulisan skripsi ini.
8. Kepada keluarga besar HMI Komisariat Syariah dan Hukum Cabang Gowa Raya serta LKBHMI (Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam) Cabang Gowa Raya, terima kasih telah menjadi tempat berproses.
9. Kepada Keluarga Besar SIMPOSIUM (Serikat Mahasiswa Penggiat Konstitusi dan Hukum) Sul-Sel, yang telah memberikan dukungan secara moril maupun psikologis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Kepada keluarga besar JAKFI Nusantara (Jaringan Aktivis Filsafat Islam Nusantara) terutama Ustadz AM Safwan yang telah banyak memberikan sumbangsi keilmuan.
11. Kepada Adik-adik yang telah membantu dan memberikan semangat dalam berproses, terkhusus Angkatan 2016, 2017 dan angkatan 2018 yang tidak bisa saya sebutkan satu- persatu.
12. Kepada saudara-saudaraku yang menyebut dirinya “LORBUN LAW”
Harfansa, Wahyuddin Nasir, Aswar Tahir, Alfian, Fahmi Ade Mulyadi, Syahrul Salahuddin, Muh. Kasim, Muh. Alief Rezkiawan, Syahrul Mubarak, Afri Takbir, Safali, Ruslan Zaenal, Panggaga az- Zahra, Zaenal Abdi, A. Muh. Satriansyah, Sahrifal, Caca panji, Meno Rah, terimah kasih atas rasa kekeluargaan, kebersamaan dan kekompakan yang kita bangun selama ini dan sejak pertama kami terjun dalam gerakan situasional kampus terutama di jurusan.
13. Kepada teman-teman seperjuangan “Syariah 15” terkhusus Rechvinding yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih
atas kebersamaan dan kekompakan serta solidaritas mulai dari awal perkuliahan hingga penulisan skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini sangat diharapkan. Akhir kata penulis berharap semoga Allah SWT. membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.semoga skripsi ini membawa manfaat yang baik bagi kita semua terutama pengembangan pengetahuan.
Amin ya Rabbal Alamin,
Samata, 19 November 2021 Penyusun,
ILHAM RISSING NIM. 10100115061
DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... iv
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN... 1-13 A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Fokus Penelitian ... 8
D. Kajian Pustaka ... 8
E. Metode Penelitian... 10
F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 13
BAB II BIOGRAFI ALI SYARIATI... 14-29 A. Profil Ali Syariati ... 14
B. Corak Pemikiran Pemikiran Ali Syariati ... 18
C. Karya dan Buku Ali Syariati………24
BAB III KAJIAN UMUM ... 30-55 A. Konsep Haji Dalam Hukum Islam ... 30
B. Urgensi Haji Perspektif Teologis dan Sosiologis ... 44
BAB IV PANDANGAN ALI SYARIATI TENTANG KONSEP HAJI ... 56-69 A. Pandangan Ali Syariati Tentang Pakaian Ihram ... 56
B. Pandangan Ali Syariati Tentang Ka‟bah ... 63
C. Pandangan Ali Syariati Tentang Tawaf………...67
BAB V PENUTUP ... 70-72 A. Kesimpulan ... 70
B. Implikasi Penelitian ... 71
DAFTAR PUSTAKA ... 73
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 77
PEDOMAN TRANSLITERASI A. Transliterasi Arab-Latin
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Konsonan Huruf
Arab
Nama Huruf Latin Nama
ا Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan
ب Ba B Be
ت Ta T Te
خ Sa ṡ es (dengan titik di atas)
ج Jim J Je
ذ Ha ḥ ha (dengan titik di bawah)
خ Kha Kh ka dan ha
د Dal D De
ذ Zal Ż zet (dengan titik di atas)
ز Ra R Er
ش Zai Z Zet
س Sin S Es
ش Syin Sy es dan ya
ص Sad ṣ es (dengan titik di bawah)
ض Dad ḍ de (dengan titik di bawah)
ط Ta ṭ te (dengan titik di bawah)
ظ Za ẓ zet (dengan titik di bawah)
ع „ain „ apostrof terbalik
ؽ
Gain G Ge
ف Fa F Ef
ق Qaf Q Qi
ن Kaf K Ka
ي Lam L El
َ Mim M Em
ْ Nun N En
ٚ Wau W We
ٖ Ha H Ha
ء Hamzah , Apostrof
ٞ Ya Y Ya
Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apapun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda („).
2. Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vocal bahasa Indonesia, terdiri atas vocal tunggal atau monoftong dan vocal rangkap atau diftong.
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
َا fatḥah A A
ِ ا Kasrah I I
ِ ا ḍammah U U
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Harkat dan Nama Huruf dan Nama
Huruf Tanda
َٜ fatḥah dan yā‟ Ai a dan i
َْٛى fatḥah dan wau Au a dan u
Contoh:
َفْ١َو : kaifa َيَْٛ٘ : haula 3. Maddah
Maddah atau vocal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harakat dan Huruf
Nama
Huruf dan Tanda
Nama
َٜ… | َا… fatḥah dan alif
atau yā‟ Ā a dan garis di
atas
ٜ kasrah dan yā‟ I
i dan garis di atas
ٛى ḍammah dan wau Ū u dan garis di
atas
Contoh:
َتاَِ: mata
ََِٝز : rama ًْْ١ِل : qila ُتَُّْٛ٠ : yamutu
4. Tā’ Marbūṭah
Transliterasi untuk tā‟ marbūṭah ada dua, yaitu: tā‟ marbūṭah yang hidup atau mendapat harkat fatḥah, kasrah, dan ḍammah, yang transliterasinya adalah [t]. Sedangkan tā‟ marbūṭah yang mati atau mendapat harkat sukun transliterasinya adalah [h].
Kalau pada kata yang berakhir dengan tā‟ marbūṭah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka tā‟ marbūṭah itu transliterasinya dengan (h).
Contoh:
ِي َفْطَلأْا ُةَضََٚز : raudal al-at fal ُةٍَِض اَفٌْا ُةَْٕ٠ ِدٌََّْا : al-madinah al-fadilah ةَّْىِحٌَْا : al-hikmah
5. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydid ( ّّ), dalam transliterasinya ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh:
إََّبَز: rabbana إَْ١َّدَٔ: najjainah 6. Kata Sandang
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiah ditransliterasikan sesuai dengan bunyi huruf yang ada setelah kata sandang. Huruf "l" (ي) diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang tersebut.
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.
Contoh:
ُةَفَسٍَْفٌَْا: al-falsafah ُدَلاِبٌَْا: al-biladu 7. Hamzah
Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrop hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.
Contoh:
a. Hamzah di Awal ُت ْسُِِا: umirtu b. Hamzah Tengah
َْ ُْٚسُِْأَج : ta‟muruna c. Hamzah Akhir
ٌءَْٟش: :Syai‟un
8. Penulisan Kata Arab yang Lazim digunakan dalam Bahasa Indonesia Pada dasarnya setiap kata, baik fi„il, isim maupun huruf, ditulis terpisah.Bagi kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab yang sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan, maka dalam transliterasinya penulisan kata tersebut bisa dilakukan dengan dua cara; bisa terpisah per kata dan bisa pula dirangkaikan.
Contoh:
Fil Zilal al-Qur‟an Al-Sunnah qabl al-tadwin
9. Lafẓ al-Jalālah (الله)
Kata “Allah” yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai muḍāf ilaih (frase nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.
Contoh:
َّالَّل ُْٓ٠ِدDinullah اِبٌٍَّٙاbillah
Adapun tā‟ marbūṭah di akhir kata yang disandarkan kepada lafẓ al- Jalālah ditransliterasi dengan huruf [t].
Contoh:
ُُْ٘ َّالَّل ِةَّْحَز ِْٟفHum fi rahmatillah 10. Huruf Kapital
Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama dari (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.
Contoh:
Syahru ramadan al-lazi unzila fih al-Qur‟an Wa ma Muhammadun illa rasul
B. Daftar Singkatan
Beberapa singkatan yang dibakukan adalah:
Swt. = subhānahū wa ta„ālā
Saw. = sallallāhu „alaihi wa sallam a.s. = „alaihi al-salām
H = Hijrah
M = Masehi
SM = Sebelum Masehi
l. = Lahir tahun (untuk orang yang masih hidup saja)
w. = Wafat tahun
QS .../...:4 = QS al-Baqarah/2:4 atau QS Ali „Imrān/3:4
HR = Hadis Riwayat
ABSTRAK NAMA : ILHAM RISSING
NIM : 10100115061
JUDUL : “Konsep Haji Dalam Hukum Islam (Studi Pemikiran Ali Syari’ati)”
Di tengah gemerlap abad modern yang berupaya memberikan respon dengan mengakui keharusan syariat Islam yang juga berdiri di tengah ekspansi dan akulturasi budaya menjadi bagian dari kehidupan modern tanpa harus mengadopsi solusi dari budaya barat. Ali Syari‟ati adalah sebuah fenomena dalam wacana pemikiran islam kontemporer. letak fenomenal Ali Syari‟ati dapat dilihat pada lanskap pemikirannya ketika berbenturan dengan pengalaman-pengalaman kehidupan modern seperti industrialisasi, kolonialisme, komunisme, konsumerisme, kebebasan seksual, kebebasan ber-ekspresi, dan sebagainya. Atas dasar benturan-benturan itu, melalui teologi makna haji dari Ali Syari‟ati hadir menawarkan jawaban jitu terhadap problematika ummat dimana Ummat Islam dapat hidup secara autentik (murni) di tengah-tengah pengalaman modern, sehingga melalui pemikiran Ali Syari‟ati yang memperlihatkan kepeduliannya secara tegas terhadap dilema kehidupan modern terkait diskursus haji, dapat merefleksikan makna syariat tentang ritual dari ibadah haji. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (liberary research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menulusuri beberapa literatur-literatur tentang masalah haji terkhusus literatur Ali Syariati mengenai makna haji dalam tradisi syariat Islam.
Maka dari itu, penelitian ini mendapati suatu pandangan mengenai makna haji dalam islam yang relatif kontekstual dengan era modern, diperoleh dari pandangan Ali Syariati, sehingga relatif dapat dijadikan pemahaman baru sesuai dengan kondisi zaman modern yang begitu kompleks. yakni dalam pandangan Ali Syariati diuraikan pertama, Makna Pakaian Ihram, kedua, Pandangan Ali Syariati Tentang Ka‟bah, ketiga. Pandangan Ali Syariati tentang Tawaf. Dari hasil penelitian ini penulis merekomendasikan pandangan Haji yang ditinjau dari perspektif Ali Syariati, sebagai upaya afirmatif syariat Islam ditengah zaman modern, yang berguna untuk menata pemahaman mengenai makna dan hakikat dasar kesadaran tentang Haji. Olehnya diskursus melalui pemikiran Ali Syari‟ati diharapkan dapat menyentuh makna esoterik tahapan demi tahapan dari ibadah haji yang terangkul dalam syariat Islam.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puji syukur kepada Tuhan yang masih merelakan akal dan hati serta kesempatan menjadi media untuk merenungi setiap kebijakan yang ia buat dalam hidup ini melalui takdirnya sehingga dengan bimbingan kebijakan itu manusia mampu sampai kepada totalitas kemanusian Insan kamil (Manusia sempurna).
Apabila kebijakan itu berkontradiksi dengan tata kehidupan individu maupun sosial maka kehidupan tersebut bukanlah kehidupan yang dijalani sebagai mana mestinya, tetapi merupakan sebuah aksi siklis yang kosong atau suatu gerakan yang berorientasi kepada hal yang muspra sebagaimana kehidupan duniawi yang didalamnya berubah-ubah. kita dituntut untuk menemukan sisi substansi dari hal yang aksiden tersebut. aksi pendular yang tak bermakna ini dimulai dengan siang yang hanya untuk diakhiri dengan malam, dan malam dimulai hanya untuk diakhiri dengan pagi. Zaman sekarang manusia terlena menyaksikan permainan
“tikus-tikus” hitam dan putih yang menggerogoti temali kehidupan sampai ajal tiba. berkaitan dengan hal itu salah-satu pilar Islam yaitu ibada haji berupaya menyadarkan manusia dari aleniasi realitas yang begitu membawa manusia menjauh dari kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan. berangkat dari pemahaman itu ibadah haji yang merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu setidaknya satu kali dalam hidup mereka sebagai refresentasi dari keberimanan manusia. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran (Q.S Ali‟Imran {3}:97):
َُْ١ِ٘ ٰسْبِا َُاَمَِّ ٌثِّٰٕ١َب ٌٌۢثٰ٠ٰا ِْٗ١ِف ِْٗ١ٌَِا َعاَطَحْسا َِِٓ ِثْ١َبٌْا ُّحِح ِسإٌَّا ٍََٝػ ِ ِّٰلِلَٚ ۗ إًِِٰا َْاَو ٍََٗٗخَد ََِْٓٚ ۚە
َْٓ١ٍَِّ ٰؼٌْا َِٓػ ٌَِّٟٕغ َ ّٰالَّل َِّْاَف َسَفَو ََِْٓٚ ۗ ًلاْ١ِبَس ٧٩
Terjemahan:
Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim.
Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.1
kemudian dari berbagai jenis ibadah mahdhah dalam Islam, haji menduduki peringkat pertama dari segi daya tariknya terhadap minat masyarakat muslim untuk mengerjakannya. Seorang muslim yang baik pasti bercita-cita untuk menunaikan ibadah haji. Pada sebagian masyarakat, ada yang memprioritaskan pelaksanaan ibadah haji sebelum mereka menata kehidupan ekonomi dan keluarga. Tetapi kebanyakan masyarakat menata dulu kehidupan ekonomi dan keluarga, barulah mereka mempersiapkan diri menunaikan ibadah haji. Oleh sebab yang kedua ini, banyak jamaah haji yang sudah tua umurnya. Namun yang jelas, ada semacam kebanggaan tersendiri bagi mereka yang telah kembali dari tanah suci menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Kebanggaan itu diwujudkan mereka yang laki-laki dengan mengenakan acsesoris haji seperti peci putih, sorban, dan gamis, dan mukena dan baju kurung panjang warna putih bagi perempuan. Sebutan pak haji dan bu hajjah yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka menjadi pelengkap kebanggaan itu. Mereka merasa bahwa dirinya setingkat lebih tinggi dari mereka yang belum berhaji. Sehingga, dalam perhelatan atau jamuan, mereka didaulat oleh masyarakat untuk duduk di barisan depan sejajar dengan pejabat dan tokoh masyarakat. Demikian selintas keadaan yang dialami oleh warga masyarakat yang bertitel haji. Ada perhormatan masyarakat terhadap mereka. Ketika sebelum haji mereka dianggap warga masyarakat biasa,
1 Kementerian Agama RI, Al-qur‟an dan Terjemahnya, h.62
tetapi setelah berhaji mereka diperlakukan lebih istimewa. kemungkinan inilah salah-satu yang menjadi daya tarik dari sekian banyaknya motif seseorang untuk menunaikan ibadah haji tersebut. Kendati bukan sepenuhnya hal-hal yang demikian itu yang memotivasi seseorang menunaikan haji, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian jamaah haji tertarik kepada keadaan seperti itu.
Demikian menariknya ibadah haji itu bagi masyarakat muslim, sehingga tidak heran jika waiting list (daftar tunggu) calon jamaah haji setiap propinsi di Indonesia demikian lama, ada yang mencapai 15 tahun, bahkan lebih. Tulisan ini akan mengelaborasi aspek-aspek yang berkenaan dengan ibadah haji terkhusus dalam mengkaji pemikiran Ali Syariati yang sedikit banyak mengulas makna haji dalam kerangka konsep teologi normatif hingga menyentuh sisi teologi sosial, juga secara mendalam dapat menyentuh sisi batin dan prilaku masyarakat dalam konteks kehidupan sosial maupun beragama, sehingga ibadah haji yang sangat agung ini tidak disalahmengerti secara berkesinambungan dalam kehidupan masyarakat beragama.2
Hikmah ibadah haji yang terkandung didalamnya adalah nilai-nilai positif atau manfaat yang terkandung di dalam ibadah haji yang akan didapat oleh orang yang melaksanakannya secara benar dan ikhlas kepada Allah. Setiap bentuk peribadatan Islam yang mengandung unsur normatif memiliki nilai dan manfaat tersendiri.
Nilai atau manfaat haji yang paling menonjol adalah sebagai mu'tamar tahunan. Ibadah haji yang dilakukan setahun sekali oleh umat Islam yang datang dari berbagai belahan bumi merupakan pertemuan akbar bagi umat Islam sedunia.
Dalam pertemuan itu mereka bisa saling ta'aruf dan bertukar menukar informasi
2 Budi kisworo, “Ibadah Haji di tinjau dari Berbagai Aspek, (Al-Istinbath: Jurnal Hukum Islam 2, No.1 2017), h. 2.
tentang keadaan kaum muslimin di negeri masing-masing.3
Dari segi ubudiyah, ibadah haji merupakan cara yang efektif bagi orang muslim untuk mensucikan diri dan bertaqarub kepada Allah. Seorang yang tengah mengerjakan ibadah haji, ia merasakan ketenangan batin dan kenikmatan spritual yang sangat besar. Pengalamannya mengerjakan ibadah haji di tanah suci dengan gerakan-gerakan manasik haji, serta ziarah ruhani ke tempat-tempat bersejarah bagi perkembangan agama Allah, akan sangat berbekas dalam diri seseorang, dan menimbulkan rasa kagum kepada Sang Pencipta. Ketika di Masjidil Haram, mereka menyaksikan Ka‟bah Baitullah, mereka melakukan thawaf tujuh keliling, bahkan di antaranya bisa mencium hajar aswad yang ada di dinding Ka‟bah itu.
Mereka memohon rahmat Allah, berdoa di Multazam,
tempat yang sangat mustajab. Mereka juga melakukan amalan-amalan lain yang dulu dikerjakan oleh Rasulullah Muhammad saw. Kesemuannya itu menimbulkan rasa haru yang sangat mendalam, menghilangkan rasa kesombongannya, luluh bersimpuh di hadapan Tuhan Rabbul Jalil. Pada saat itulah seorang hamba merasakan dirinya sangat hina dan tak berdaya di hadapan Sang Khalik Yang Maha Perkasa. Inilah suasana kebatinan atau pengalaman ruhani yang sangat berkesan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mengerjakan ibadah haji dengan khusuk dan mengharap redla Allah SWT. Dalam suasana seperti ini seorang hamba berada sangat dekat dengan Tuhannya.4
Dalam suasana batin yang bening seperti itu, seorang hamba memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahannya masa lampau, berjanji untuk menjadi
3 Departemen Agama RI, Fiqih haji, (Jakarta: Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2004), h. 159.
4 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (jilid I. Jakarta: UI Press, 1980), h. 38.
hamba yang patuh dan taat kepada Allah, memasrahkan semua yang ada padanya untuk mengabdi kepada Allah, berharap agar Allah mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Rasul menerangkan hal itu:
"Dari Abu Hurairah, katanya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda :
"Barang siapa mengerjakan haji semata-mata karena Allah, tidak berbuat keji dan tidak melakukan perbuatan jahat, maka orang itu bersih kembali seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya" (HR. Al-Bukhari).5
Orang yang menunaikan haji ke Baitullah itu adalah mereka berkunjung ke
"rumah" Allah, mereka adalah para tamu Allah. Allah SWT menghormati para tamu-Nya itu dengan memberikan rahmat dan ampunan-Nya. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda :
"Orang-orang yang berhaji dan berumrah itu adalah para tamu Allah.
Jika mereka mohon kepada-Nya, niscaya Allah memperkenankannya, dan jika mereka memohon ampun kepada-Nya niscaya Allah mengampuninya". (HR. Ibnu Majah).6
Setiap tahun, lebih dari satu juta umat Muslim (seperlimanya asal indonesia) berkumpul di Baitullah untuk melaksanakan perintah Allah ini. mereka menjawab panggilan Allah. Namun adakah yang berani menjamin bahwa satu juta orang itu berhak menyandang gelar „Haji‟ sepulangnya dari Baitullah? apakah setiap orang telah menjalangkan semua rukun haji telah layak disebut sebagai orang yang telah berhaji? pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang perjalanan hajinya hanya merupakan tour,wisata dll. yang hanya menghasilkan kelelahan,
5 H. Zainuddin Hamidi, Terjemah Shahih Bukhari, Op. Cit., h. 145.
6 K.H.M. Ali Usman, dkk., Hadis Qudsi, Op. Cit., h. 220.
berkurangnya harta sehingga menimbulkan suatu pertanyaan. Mengapa bisa begitu hal itu dikarnakan mereka tidak memahami makna haji yang sesungguhnya. mereka menganggap bahwa ibadah haji hanyalah untuk akhirat.
maka tak usah heran jika mayoritas jemaah haji, khususnya asal indonesia, adalah orang-orang yang sudah tua dan uzur.
mereka tidak memahami bahwa haji, sebagai mana ibadah-ibadah lain seperti salat dan puasa, merupakan ibadah yang diperuntukkan bagi kehidupan dunia. apa maksudnya Allah Swt mengharapkan agar kita mengambil mamfaat, pelajaran dan hikma dari ibadah haji sebagaimana dengan ibadah-ibadah yang lainnya guna diterapkan dalam menjalakan kehidupan kita di dunia, agar dapat menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.
Menurut Ali Syari‟ati, Haji adalah drama Ketuhanan dari falsafah penciptaan Adam. Dengan kata lain, ia memuat kandungan objektif dari setiap sesuatu yang relevan dengan filsafat itu. Haji di gambarkan dengan pemaknaan simbol yang filosofis Dalam drama simbolik itu, di gambarkan bahwa Allah sebagai sutradara, pameran utama adalah dirimu sendiri serta antagonisnya adalah setan, kemudian alur cerita di tandai dengan Adam, Ibrahim, dan Hajar.
lokasi pertunjukan dari drama tersebut adalah Masjid al-Haram, mas‟a, Arafah, Padang Masy‟ar dan Mina. Simbol-simbolnya adalah Ka‟bah, Shafa dan Marwa, siang dan malam, terbit dan tenggelamnya matahari, berhala-berhala dan pengorbanan. Pakaian dan ornamennya adalah Ihram, Halq dan Taqshir. Siapa aktornya? “Inilah yang luar biasa,” kata Syari‟ati. Aktornya hanya satu: engkau sendiri. Dan engkau pulalah yang memainkan semua peran. Sebagai Adam, Ibrahim dan sekaligus Hajar. Di situ hanya ada satu “hero” kemanusiaan. Ali Syariati menyebut gelombang haji sebagai sebuah gerakan pulang kepada Allah
Yang Maha Mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan. Pulang kepada Allah adalah sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan dan nilai absolut. Tujuan ibadah haji secara keseluruhan bukanlah sekadar melaksanakannya, tetapi untuk terlibat di dalamnya secara sosiologis yang mendalam sehingga membawa pelaksananya melampaui batas-batas pengalaman sebelumnya: Haji sama seperti alam; gambaran Islam yang utuh, Islam bukanlah “kata- kata” tetapi dalam aksi Ia adalah simbol.
melihat masalah dan dinamika interpretasi manusia terhadap makna Haji, maka penyusun tertarik melakukan sebuah studi pemikiran terhadap tokoh yang pemikiranya membangkitkan semagat jiwa kawula muda dan revolusioner yaitu Ali Syariati yang tertuang dalam karya-karyanya khusnya dalam buku yang diberi judul Makna Haji untuk melihat sejauh mana kedalaman pemikiran beliau dalam melihat relasi ketuhanan, manusia dan alam sebagai upaya transformasi kesadaran serta penguatan masyarakat dalam melihat bahwa perjalanan Haji bukan hanya sebuah ritual manasik yang sifatnya teologi melaingkan mengandung sisi-sisi ilmiah dan sosial, sehingga kemajuan peradaban masyarakat bisa terwujud dan tercapai, serta kesenjangan dalam kenyataan sosial mampu diatasi.
berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang “Konsep Haji dalam Hukum Islam (Studi Pemikiran Ali Syariati)”.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas serta, untuk memperjelas objek kajiannya, maka penyusun merumuskan pokok masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep Haji dalam Hukum Islam?
2. Bagaimana konsep Ali Syariati tentang Makna Haji?
C. Fokus Penelitian dan deskripsi Fokus 1. Fokus Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada konsep haji dalam pemikiran Ali Syariati yang dimana pembahasan ini berupaya agar bagaimana tidak terlepas dari substansi serta relevansi prinsip hukum terkhusus pada Fakultas Syari‟ah dan Hukum yakni mengangkat tema yang berkaitan dengan Teologi Normativ (Syar‟i) dan Yuridis.6
2. Deskripsi Fokus
dari uraiyan penelitian yang difokuskan pada konsep haji dalam pemikiran Ali Syariati maka yang menjadi deskripsi fokus yaitu konsep haji dalam hukum islam dan pemaknaan ibadah haji dalam pemikiran Ali Syariati.
D. Kajian Pustaka
Adapun penelitian Kajian pustaka ialah suatu metode yang digunakan dalam mengembangkan penilitian ini yang berisi teori teori yang saling berkesinambungan dengan penilitian ini, kajian pustaka juga memuat berbagai referensi yang di dalam nya terangkum berbagai macam perspektif para peneliti yang sesuai dengan penelitian ini, untuk kemudian dijadikan sebagai referensi bagi peneliti. Hal ini bertujuan untuk bagaimana peneliti terhindar dari plagiasi bahwa topik yang kemudian dibahas peneliti tidak pernah diteliti oleh peneliti lain.
Untuk mendukung penelahaan yang lebih bermutu, peneliti mencoba dan berusaha mencari kesesuain dengan meninjau beberapa karya ilmiah yang sesuai dengan topik pembahasan penelitian ini, terkhusus pada pengkajian Pemikiran Ali Syariati tentang makna haji yang sesuai yaitu:
Pertama, Skripsi yang ditulis oleh Khairun Nisa, Fakultas Ushuluddin, Program studi Ilmu Al-qur‟an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Haji dan Kesadaran Humanisme: Makna Sosial Khutbah Haji Wada” (Kajian Hadis Tematik). Jakarta September 2017.
Fokus pembahasan dalam skripsi ini menguraikan serta menjabarakan asfek ritual haji dalam konteks tataran sosial dimana umat islam diharapkan memiliki kepekaan terhadap problem sosial yang ada.
Kedua, Skripsi yang ditulis oleh Febrina Niadasari Darwin, Fakuktas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, dengan judul “Nilai-Nilai Religius Ibadah Haji dalam Pengembangan Kecerdasan Spiritual” November 2017. Fokus pembahasan dalam skripsi ini mengemukakan tentang Nilai-nilai Religius Ibadah Haji.
Ketiga, Skripsi yang ditulis oleh Triawan Hendra Septian, Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Uin Alauddin Makassar, dengan judul “Rancang Bangun Aplikasi Monitoring Jamaah Haji Berbasis Mobile Android” Makassar 31 Maret 2016. Fokus pembahasan dalam skripsi ini yaitu bagaimana jamaah haji dalam melakasanakan ibadah haji tidak tersesat dengan solusi pemamfaatan teknologi mobile dengan fitur google maps untuk memantau lokasi dari jamaah haji yang sedang melaksakan ibadah haji.
Keempat, Skripsi yang ditulis oleh Indah Purwanthini, Fakuktas Syari‟ah, Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah, Universitas Islam Negeri Malang dengan judul “Fenomena Haji di Kalangan Masyarakat Petani”, Oktober 2008. Fokus pembahasan dalam skripsi ini menguraikan fenomena haji yang terjadi dikalangan masyarakat petani, serta pengaruhnya terhadap kesadaran nilai-nilai sosialnya.
Dari hasil penelitian yang sudah dipaparkan diatas secara sekilas, dapat ditemukan dan dipahami bahwa letak persamaan dengan penelitian yang peneliti teliti yaitu pada kesamaan meliti tantang objek haji namun berbeda dalam fokus fenelitian. di mana dalam penelitian ini bermaksud mengkaji secara khusus mengenai konsep haji dalam pemikiran Ali Syariati dalam aspek tauhid, filosofis,moral dan sosial dengan demikian fokus penelitian ini menarik untuk diteliti karna belum ada mengungkap fokus sebagaimana dalam penelitian ini dan sejauh yang peneliti ketahui.
Penelitian ini dilakukan di perpustakaan yang memiliki koleksi buku berkaitan dengan pembahasan dari objek permasalahan yang diteliti, lebih khususnya perpustakaan UIN Alauddin Makassar serta perpustakaan umum yang tersedia di Kota Makassar. Selain itu data juga ditemukan outlet buku atau web (internet).
E. Metode Penelitian
Agar tercapai maksud dan tujauan dalam membahas pokok-pokok permasalahan, peneliti akan mengemukakan metodologi yang digunakan dalam tahap-tahap penelitian ini yang meliputi, jenis penelitian, pendekatan penelitian, metode pengumpulan data, teknik pengolahan dan analisis data.
1. Jenis Penelitian
Jenis penilitian yang di gunakan ialah penelitian kepustakaan (Library Research) dan merupakan penelitian kualitatif, penilitian ini menuntut pengumpulan data dan informasi dengan menggunakan bantuan material dari yang terdapat di perpustakaan, seperti buku,dokumen, serta catatan dan kajian sejarah lainnya. Kajian kepustakaan menitik beratkan pada pengumpulan data pada wilayah pustaka, dan menjadikan perpustakaan sebagai landasan dan tempat menggali informasi dan data bagi peneliti.
Penelitian jenis ini salah satunya memuat beberapa gagasan atau teori yang saling berkaitan secara kukuh serta didukung oleh data-data dari sumber pustaka.
Sumber pustaka sebagai bahan kajian dapat berupa jurnal penelitian ilmiah, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian ilmiah, buku teks yang dapat dipertanggungjawabkan asal usulnya, makalah, laporan/kesimpulan seminar, catatan/rekaman diskusi ilmiah, tulisan-tulisan resmi terbitan pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Beberapa data-data pustaka tersebut dibahas secara mendalam dan teliti, dalam rangka sebagai pendukung atau penentang gagasan atau teori awal untuk menghasilkan kesimpulan. Penelitian pustaka hendaknya dilakukan dimulai dari infromasi yang umum, baru kemudian diperoleh dari informasi yang lebih spesifik.
2. Sumber Data a. Sumber Primer
Sumber data primer merupakan sumber data yang dimana pengumpulan informasi yang di dapat dan bersumber langsung dari tokoh pemikiran atau buku yang menjadi objek kajian serta berkaitan langsung dengan objek kajian peniliti.
b. Sumber Sekunder
` Sumber data sekunder merupakan sumber data dan informasi yang di dapat dari literatur literatur Yang tidak berhubungan langsung dengan objek kajian peniliti, tetapi data tersebut didapat dari seseorang atau tulisan yang sudah melalui tahap reduksi tetapi memiliki keterkaitan dengan objek kajian peniliti.
3. Metode Pengumpulan Data
Studi Pustaka, yakni studi yang dilakukan dengan mengumpulkan data dari buku atau dokumen yang menjadi langkah awal dalam meneliti, pengumpulan data dilakukan secara teliti dan seksama sebab metode studi pustaka merupakan pondasi awal dan menjadi rujukan utama bagi peneliti.
4. Teknik Pengelolahan dan Analisis Data a. Pengelolahan Data
Pengolahan data dapat diartikan sebagai rangkaian proses mengelola data yang diperoleh, dan sifat penelitian. Metode pengolahan data dalam penelitian ini sebagai berikut:
1) Identifikasi data yaitu dengan mengumpulkan beberapa literatur, kemudian memilah-milah dan memisahkan data yang akan dibahas.
2) Reduksi data adalah kegiatan memilih dan memilah data yang relevan dengan pembahasan agar pembuatan dan penulisan skripsi menjadi efektif dan mudah untuk dipahami oleh para pembaca serta tidak berputar-putar dalam membahas suatu masalah.
3) Editing data adalah pemeriksaan data hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui relevansi (hubungan) dan keabsahan data yang akan dideskripsikan dalam menemukan
jawaban pokok permasalahan. Hal ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan data yang berkualitas dan faktual sesuai dengan literatur yang didapatkan dari sumber bacaan.
b. Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasi dan mengurut data kedalam pola, kategori dan satu uraian besar. Tekhnik analisis data bertujuan untuk menguraikan dan memecahkan masalah data yang diperoleh. Analisis yang digunakan yaitu analisis data kualitatif yang merupakan sebuah upaya yang dilakukan dengan jalan mengorganisasikan data.
5. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan penelitian
Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui bagaimana konsep haji dalam hukum Islam.
b. Untuk mengetahui bagaimana konsep haji dalam pandagan Ali Syariati.
2. Kengunaan Penelitian
kengunaan yang diharapkan dari penelitian ini ada dua yaitu secara teoritis dan praktis.
a. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah, memperdalam dan memperluas khazanah keilmuan bagi umat islam mengenai haji agar bisa memberikan catatan tentang ideal haji. selain itu hasil dari
penelitian ini juga dapat digunakan sebagai landasan bagi penelitian selanjutnya yang sejenis di masa yang akan datang.
b. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap peneliti maupun pembaca bagi masyarakat islam selain itu juga dapat digunakan sebagai bahan atau referensi dalam menyikapi hal-hal dimasyarakat tentang fenomena-fenomena haji yang tidak susai dengan hukum islam.
31 BAB II
BIOGRAFI ALI SYARIATI
A. Profil Ali Syariati
Ali Syariati dilahirkan di Desa Mazinan (1933-1977 M), dekat Kota Sabzavar, tepi gurun pasir Dasht-i Kavir, di propinsi Khurasan yang terletak di bagian Timur Laut Iran. Pandangan dunia Ali Syariati dipengaruhi oleh pendidikannya di desa, sebagaimana tertuang dalam karyanya, Dia berasal dari keluarga terpandang yang menurut garis ayahnya termasuk keturunan para pemuka agama di Masyhad, tempat pemakaman imam kedelapan, Ali Al-Ridha.7
Kakek Syari‟ati, Akhund Hakim, merupakan alim yang amat disegani dan dikenal luas di Iran hingga Bukhara dan Najaf. Dia pernah tinggal di Masjid Sipah Salar Teheran, tapi tidak lama kemudian pulang ke daerah asalnya, Karena menolak diberi kedudukan dan gelar kehormatan oleh Syah. Adil Nisyaburi, saudara Akhun Hakim, juga meraih reputasi sebagai sarjana dalam bidang ilmu keagamaan.8 Ayah Syari‟ati, Muhammad Taqi Syari‟ati, adalah figur yang cocok dengan kakek dan pamannya, tetapi ia juga seorang yang modernis yang tidak puas dengan pandangan tradisional para ulama, yang dianggapnya telah teracuni oleh skolastikisme yang abstrak. Ayahnya seorang pembaru yang bersemangat untuk menerapkan metodemetode baru dalam studi agama.
Syari‟ati memiliki perpustakaan besar dan lengkap yang selalu dikenang oleh Syari‟ati, yang secara metaforis dia lukiskan sebagai mata air yang terus menyirami pikiran dan jiwanya. Ayah Syariati tidak hanya mengajar mahasiswa ilmu keagamaan di Masyhad (dekat Perguruan Tinggi Qum, pusat studi agama
7 Ali Syari‟ati, Makna Haji (Jakarta: Az-Zahra, 2008), h. 9
8 Jonh J. Donohulle dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), h. 553.
yang sangat penting di negeri itu), tetapi dia juga merupakan salah satu pendiri Kanun-i Nasyr-i Haqayiq-i Islami (Perkumpulan Dakwah Islamiyah yang Benar).
Lembaga ini dipersembahkan untuk kebangkitan Islam sebagai agama yang sarat kewajiban dan komitmen sosial.9 Sedikit sekali informasi yang diketahui mengenai kehidupan-awal Syari‟ati. Dia belajar di sekolah negeri (dan bukan madrasah) di Masyhad, tetapi juga aktif belajar dari ayahnya. Setelah tamat dari sekolah menengah, tampaknya pada 1949, Syari‟ati belajar selama dua tahun di Sekolah Pendidikan Guru (Darusyalam Tarbiyat-i Mu‟allim) di Kota Masyhad.10
Syari‟ati mulai mengajar pada usia delapan belas atau Sembilan belas tahun (1951-1952 M), kemungkinan disalah satu sekolah negeri di desa dekat Masyhad. Baik Syari‟ati maupun ayahnya terlibat dalam arak-arakan Front pro Nasional yang diselengarakan oleh Gerakan Perlawanan Nasional (Nahzat-i Muqavamat-i Milli) setelah berlangsung kudeta oleh Istana pada Agustus 1953 M, yang berhasil menggulingkan Perdana Menteri Muhammad Mushaddiq. Gerakan itu didirikan oleh Mehdi Bazargan dan aktivis sosial dan sekaligus agamawan bernama Sayyid Mahmud Thaliqani.11 Syari‟ati ditahan pada September 1957 M karena perannya dalam salah satu demonstrasi, kemudian dipenjara di Qizil Qal‟ah Teheran hingga Mei 1958 M, dan dikabarkan telah berafiliasi dengan gerakan politik yang dikenal sebagai Gerakan Sosialis (Junbish-i Khudaparastan-i Susialist). Tampaknya dia juga pernah belajar di Universitas Masyhad dan memperoleh gelar Sarjana Muda pada 1956 M, serta menikah pada tahun yang sama.12
9 John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of Modern Islamic World (New York:
Oxford Universitas Press, 1995), h. 46
10 John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of Modern Islamic World. h. 46
11 Jonh J. Donohulle dan John L. Esposito, Loc.cit, h. 55.
12 C. E. Bosworth, C.E Van Donzel, W.P. Henrichs, The Encyclopedia of Islam, (Leiden, 1997), h. 294
Sekitar usia 27 tahun Syari‟ati memperoleh gelarnya, dengan kehormatan, di bidang sastra Prancis dan Persia pada 1960 M. Dia lalu pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi di Sorbonne. Karena kemudian dia akrab dengan orientalis Prancis seperti Lowis Massignon, sosiolog Georges Gurevich, sejarawan Jacques Berque, dan filosof Jean-Paul Sartre, banyak yang menduga bahwa Syari‟ati mempunyai latar belakang pendidikan formal di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan sosial. Namun, disertai doktornya merupakan terjemahan dan pengantar karya Abad Pertengahan, The Notables of Balkh (Fadha‟il-i Baka).
Andaikan ia memperoleh pendidikan tersebut hal ini tidak tercermin dalam risetnya.13 Selama beberapa tahun di luar negeri, dia aktif berpartisipasi dalam gerakan mahasiswa anti-Syah dan kemudian mengenal Ibrahim Yazdi, Abu Al- Hasan Bani Shadr, dan Mustafa Chamrain yang semuanya menjadi orang-orang penting di Iran pada awal masa pemerintahan pasca revolusi. Selama Kongres Front Nasional Wiesbaden di Eropa pada 1962, Syari‟ati terpilih menjadi editor surat kabar yang baru didirikan oleh organisasi itu, Iran-i Azad (Free Iran).
Syari‟ati juga menyumbangkan artikel-artikelnya di surat kabar milik gerakan perlawanan revolusioner Aljazair, Al-Mujahid. Karena itulah, ia akrab dengan gagasan-gagasan para pemikir pembebasan Dunia Ketiga, seperti Franz Fanon, Aime Cesaire, dan Amilcar Cabral.14 Syari‟ati kembali ke Iran pada 1964 M.
Ketika sampai di perbatasan Turki-Iran, dia langsung ditahan dan dipenjara selama enam bulan karena kegiatan politiknya selam tinggal di Prancis. Setelah dibebaskan, dia kembali ke Masyhad dan mengajar di sekolah menengah, sebelum akhirnya memperoleh jabatan sebagai pengajar dalam bidang kemanusiaan di Fakultas Pertanian Universitas Masyhad. Tidak lama kemudian, dia di pindahakan
13 C. E. Bosworth, C.E Van Donzel, W.P. Henrichs, The Encyclopedia of Islam, h. 294.
14 Abdul Aziz. Ahmad, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Prestasi Pustakarya, 2006), h. 6
ke Fakultas Seni. Kuliah-kuliah yang disampaikan Syari‟ati mampu menarik mahasiswa dari luar universitas sehingga segera saja dia dikenal luas. Ini mendorong pemerintah untuk merekayasa agar dia dapat dipecat. Namun, Syari‟ati tetap saja menerima tawaran mengajar di organisasi-organisasi mahasiswa di berbagai kota.15 Sementara itu, di Teheran, sebuah kelompok pembaru keagamaan mendirikan Husainiyah-yi Irsyad pada 1965. Lembaga keagamaan ini, sebagaiman Kanun-i Nasyr-i Haqayiq-i Islami di Masyhad, tidak memberikan gelar, tetapi mensponsori kuliah, diskusi, seminar, dan penerbitan dalam bidang keagamaan. Syari‟ati bergabung dengan Husainiyah-i Irsyad pada 1967 dan tidak lama kemudian dia mejadi pengajar yang paling terkenal. Selama enam tahun, kuliah-kuliahnya dikemas sedemikian sehingga para siswa bersemangat untuk mengetahui penafsiran baru terhadap Islam dan perannya dalam manyarakat. Kegiatannya membuat marah ulama ortodoks, yang menuduhnya sebagai penghasut serta penghina kebebasan pesatren dan para gurunya.
Meskipun demikian, generasi muda terpesona oleh pendekatan yang inovatif, yang banyak berbeda dengan pendekatan yang selama ini mereka pahami dari ulama klasik tradisional, yang mengagung-agungkan ilmu klasik dan mensucikan ahli agama. Syari‟ati ingin menjadikan Islam sesuai dengan zaman sekarang, relevan, dan seiring dengan hadis Nabi: “Jika menyangkut masalah agama, datanglah kepadaku, tetapi jika menyangkut masalah keduniaan, kamu lebih tau dari aku”. Hadis ini sering ditafsirkan memiliki makna bahwa kitab suci Al-Quran memerlukan penyesuaian terhadap kondisi sejarah selalu berubah dalam kehidupan manusia, misalnya politik.16 Karena ketatnya sensor, Syari‟ati terpaksa
15 John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, (Bandung: Mizan, 2002), h.
295
16 Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1996), h. 68
menulis pesan-pesannya dalam gaya bahasa eliptik. Salah seorang intelektual terkemuka dalam Revolusi Iran 1979 M, Ayatullah Murtadha Muthahhari (w.1979), mencatat bahwa dia dan koleganya yang lain di Husainiyah-yi Irsyad menyadari bahwa kuliah Syari‟ati sarat dengan muatan politik dan memancing reaksi-keras pemerintah. Pada pertengahan 1973 M, pemerintah menganggap Syari‟ati radikal dan berbahaya sehingga dia ditahan dan dipenjara lagi. Ayahnya juga ditahan untuk beberapa saat. Syari‟ati dibebaskan pada 20 Maret 1975 M karena intervensi pemerintah Aljazair.17 Setelah mendekam selama dua tahun di rumah tahanan, akhirnya Syari‟ati diperbolehkan pergi keluar negeri pada musim semi 1977 M. Dia bermaksud menjumpai istri dan keluarganya di Eropa, kemudian melawat ke Amerika Serikat, tempat anaknya, Ikhsan, menjadi mahasiswa di sana. Namun, pemerintah melarang keberangkatan keluarganya.
Syari‟ati yang telah terbang ke Brussels, lalu menuju Inggris untuk tinggal bersama saudaranya sambil menunggu perkembangan situasi. Pada 19 Juni 1977, jasadnya ditemukan di rumah saudaranya di wilayah Inggris bagian selatan.
Pemerintah menyatakan bahwa Syari‟ati wafat akibat penyakit jantung, tetapi kebanyakan orang meyakini bahwa dia dibunuh oleh polisi rahasia Syah.18
B. Corak Pemikiran Ali Syariati
Ali Syari‟ati bukanlah sarjana yang terikat pada disiplin tertentu, tetapi lebih sebagai aktivis sosial dan politik. Sampai dengan penahanannya yang terakhir, dia telah memberikan lebih dari 200 kali kuliah di Husaniyah-yi Irsyad.
Banyak kuliahnya yang di persiapkan untuk di terbitkan dan ribuan eksamplar terjual habis dalam beberapa kali cetakan. Di antara karya awalnya adalah
17 John L. Esposito, Op.cit, h. 295
18 Ibid,h. 295
Maktab-i vasathah (Mahzab Tengah) yang dia tulis ketika belajar di Akademi Pendidikan Guru. Buku ini menampilkan Islam sebagai jalan tengah terbaik antara kapitalisme dan komunisme. Lalu, Tarikh-i takamul-i falsafah (Sejarah Penyempurnaan Filsafat) yang ditulis pada 1955. Dia sangat terkesan dengan biografi Abu Dzarr Al-Ghifari karya Jaudah AlSahhar, yang menggambarkan Abu Dzarr (w.657) sebagai figur yang berani menolak ketidakadilan. Karena itulah para pengagumnya menambahkan julukan ”Abu Dzarr-i Zaman” (Abu Dzarr Kontemporer) pada nama Syariati setelah wafatnya.19
Sebagai pemikir, Syariati menunjukkan kepekaan yang paradoksal. Dia adalah pemikir bebas yang terus-menerus melakukan pencarian kebenaran di dalam hidupnya melalui mistik, pemahaman intuitif tentang dunia, dan peran Tuhan dalam lingkup apa pun. Pada saat yang sama, dia tampil di tengah publik untuk mempromosikan aksi revolusi kolektif guna memperjuangkan keadilan sosial dan kebebasan dari ketertindasan. Ciri pemikirannya adalah bahwa agama harus ditransformasikan dari ajaran etika pribadi ke program revolusioner untuk mengubah dunia. Dalam konteks ini, dia menyerupai Ayatullah Ruhullah Al- Musawi Khomeini (1902-1089), yang senantiasa menolak gagasan bahwa Islam itu hanya merupakan persoalan hukum dan ritual yang mengatur hal-hal teknis seperti wudhu, menstruasi, kelahiran, makanan, dan sejenisnya.20
Ali Syariati selalu mencari hal-hal baru dan orisinal di dalam Islam, dan tidak sabar dengan model pemikiran tradisional. Sistem pemikiran yang dibangunnya tidak efektif atau secara logis tidak akurat. Dia terlalu tergesa-gesa dalam merumuskan teori sosial yang menurutnya konsisten. Tujuan utamanya
19 John L. Esposito, The Oxford Enciclopedia of The Modern World, (New York: Oxford Universiti Press, 1995). h. 48
20 John L. Esposito, The Oxford Enciclopedia of The Modern World, h. 48
adalah menganjurkan orang agar beraksi seperti Imam Husain, yang diyakini oleh Syariati telah mengorbankan hidupnya untuk membebaskan para pengikutnya dari tekanan politik dan sosial. Dengan menggunakan pandangan Imam Husain ini, Syariati dianggap melanggar tradisi keagamaan, dan dituduh telah mengubah imam yang mereka cintai menjadi pemburu kekuasaan yang vulgar dan ideologi yang kasar. Dalam ajakannya untuk melakukan pembebasan melalui reinterpretasi keyakinan, Syariati secara jelas menolak pandangan revolusioner Barat bahwa agama itu “candu masyarakat”. Agama dalam pandangan Syariati, dapat mengantarkan orang kepada komitmen ideologi untuk membebaskan individu dari tekanan. Dalam hal ini, dia memiliki banyak persamaan dengan filosof Mesir kontemporer, Hasan Hanafi. Agenda kedua pemikir itu ialah menyegarkan pembacaan Al-Quran untuk merekonstruksi konsep Islam menjadi ideologi yang modern, orisinal, dan progresif guna membebaskan dan mampu memberdayakan massa.21
Para pengecam Ali Syariati, utamanya kaum skripturalis yang berpandangan ahistoris terhadap teks-teks suci menuduh Ali Syariati telah mengaburkan dan menafsirkan Al-Quran dan Sunnah secara bebas, dan menurunkan nilainya dengan menyerukan kepada “para pemikir tercerahkan”
untuk mengubah tatanan sosial yang ada demi sebuah “tatanan baru” yang antroposentris. Namun, pandangan yang dianggap berasal dari Ali Syariati ini tidak lebih dari sekedar pendekatan instrumental terhadap imam, didasarkan atas pertimbangan mengenai pesan yang dipandangnya berasal dari keyakinan agama di dalam keseluruhan kehidupan individu. Ali Syariati tidak pernah menyuarakan metafor mengenai individu yang terlibat dalam perjuangan kepahlawanan yang tak terelakkan dengan akhir kemenangannya atas kekuatan jahat.29 Mungkin hal
21 John L. Esposito, Op.cit, h. 296 90 John L. Esposito h. 296
itulah yang menjadi dasar perhatian kaum skripturalis, karena Ali Syariati menekankan tema sentral mengenai tradisi kemanusiaan dan pencerahan pemberdayaan potensi diri untuk hidup secara emansipatif, harmonis, dan sejahtera melalui berpikir secara benar.
Seluruh pujian mistis Ali Syariati hanya ditujukan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sistemnya tampak mengisyaratkan pandangan orang-orang yang meyakini progresivitas sejarah menuju pembebasan kemanusiaan dari kejahatan takhayul, ketidakjelasan, dan mistifikasi. Skema yang dibangunnya setidak-tidaknya mampu memacu pemikiran manusia dengan kemampuannya yang unik untuk mencapai emansipasi dan liberalisasi kemanusiaan. Para kritikus mengutuk Ali Syariati karena telah membuka pintu darurat komunitas manusia yang akan menaklukan kekuatan jahat melalui pengabdiannya kepada persaudaraannya sendiri. Meskipun komunitas ini menundukkan dirinya di hadapan Allah, para pengecam Ali Syariati mengisyaratkan bahwa ketundukan tersebut mencurigakan karena tampak kondisional, dan bukan mutlak. Entah pendapat kritikus tersebut benar atau tidak ketika mencurigai bahwa dalam pandangan-dunia Ali Syariati peran Allah tampak tereduksi menjadi sekedar memberi ketenangan atas keraguan individu, yang jelas ada satu hal yang perlu dicatat: bahwa Ali Syariati, mungkin lebih hal lainnya, sangat memperhatikan ketidakadilan terhadap manusia dan perlunya beraksi untuk melenyapkan ketidakadilan tersebut. Ali Syariati menunjukkan reaksi yang sangat keras terhadap ketidakadilan, yang dianggapnya sebagai gejala penyakit maupun yang lebih penting sebagai konsekuensi integral dari kegagalan emansipasi manusia. Dia mengabdikan hidupnya untuk memerangi ketidakadilan.22 Inilah gagasan Ali Syariati: bagaimana mungkin Syi‟ah, sebagai pengikut Imam Ali ibn
22 Ali Syari‟ati, Islam Mahzab Pemikiran dan Aksi, (Bandung: Mizan, 1992), h. 66
Thalib dan Husain, menyetujui ketidakadilan. Para penguasa telah menindas keimanan, bahkan sering dengan mengatasnamakan Syi‟ah sendiri. Namun, para ulama tradisional juga harus dikecam, karena selama berabad-abad mereka bersikap apatis terhadap kezaliman; sebagian karena bersikap oportuistik, dan sebagian lagi karena mengharapkan Imam yang Tersembunyi hadir kembali untuk menghapus seluruh kesalahan dan membawa kebenaran. dalam penolakannya untuk menunggu sang Juru Selamat secara pasif, sekali lagi Ali Syariati memiliki persamaan dengan Ayatullah Khomeini.
Walaupun demikian, Khomeini bukanlah pengagum Ali Syariati, dan tidak ragu berpendapat seperti para mujtahid lainnya bahwa Ali Syariati adalah seorang pemarah yang bodoh dan berusaha melawan kaum ulama Syi‟ah. Meskipun dia tokoh kontroversial, hampir semua orang berpendapat bahwa Ali Syariati merupakan sosok yang penting dan berpengaruh. Meskipun simbol-simbol Syi‟ahnya dominan, akarnya adalah kemanusiaan pada umumnya, khususnya massa Dunia Ketiga. Dia yakin bahwa imperialisme Barat akan mentransformasikan massa menjadi budak. Bagi Ali Syariati, Islam merupakan jawaban dari Marxisme dan Kapitalisme. Beberapa konsep penting dalam tulisan dan pidato Ali Syariati adalah syahadah (kesyahidan); intizhar (antisipasi atas kembalinya Imam yang Tersembunyi); zhulm (penindasan terhadap keadilan Sang Imam); jihad i‟tiraz (protes); ijtihad (keputusan independen untuk menghasilkan aturan hukum); rausyanfikran (pemikiran yang tercerahkan); mas‟uliyat (tanggung jawab); dan „adalah (keadilan sosial).23
Dari Marxisme, Ali Syariati meminjam pengertian konflik dialektik dan istilah jabr-i tarikh (determinisme historis). Akan tetapi, dia lebih menyukai teori
23 Ali Syari‟ati, Membangun Masa Depan Islam, (Bandung: Mizan, 1993), h. 53 93 John L. Esposito, The Modern Islamic World. Loc.cit, h. 49
Hegel mengenai keunggulan kontradiksi antaride daripada teori kebenaran mutlak versi Marx yang lebih menitiberatkan keunggulan kontradiksi material dan konflik kelas. Dari pemikiran liberal Barat, Ali Syariati mengadopsi model pencerahan rasional sebagai obat penawar atas penyakit masyarakat. Secara keseluruhan, tampaknya dia telah memperoleh kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh agama yang terlembagakan.31 Dalam kaitan ini, Ali Syariati berpendapat bahwa ijtihad bukan merupakan monopoli para ahli semata, melainkan juga wilayah setiap individu. Semua orang bertanggung jawab untuk melakukan ijtihad mengenai persoalan yang substansi dan non-teknis. Dia membandingkan pendapat para ahli – mujtahid – berkenaan dengan persoalan-persoalan mendasar seperti kekuasaan, keadilan, mobilisasi, dan partisipasi dengan tanggung jawab pilihan dan keinginan pribadi. Kita dapat melihat pengaruh yang jelas dari filsafat eksistensialis dan Marxis pada diri Ali Syariati. Dari eksistensialisme, Ali Syariati mengadopsi pandangan bahwa individu harus bertanggung jawab atas perilakunya sendiri.
Dan melalui perantaraan Marx mengenai legenda promotheus, Ali Syariati menyerap nasihat kemanusiaan bahwa agama dapat dipakai untuk melayani para penguasa yang zalim, bahwa kebenaran abadi yang diwakili oleh agama harus lebih ditentukan oleh individu yang mengambil pengetahuan yang benar daripada mereka yang mencari pengetahuan untuk memonopolinya demi tujuan yang bukan atau, bahkan anti kemanusiaan.24 Kiranya sulit untuk menyimpulkan kontribusi Ali Syariati secara menyeluruh. meskipun gagasan-gagasannya tidak dapat diterima dilingkungannya sendiri, kekuasaan sebagai buah dari revolusi yang dia perjuangkan dengan keras, dia telah meninggalkan warisan yang tidak akan
24 John L. Esposito, The Modern Islamic World. h. 49
mudah dilupakan oleh orang-orang Iran dan yang tak akan diragukan, bakal terus bergema.
C. Karya dan Buku Ali Syariat
Kepribadian dan aktivitas Ali Syariati tidak lebih yang penting sebagaimana karya-karya dan gagasan-gagasan yang ditinggalkan dalam bentuk rekaman ceramah-ceramah, catatan-catatan pelajaran, buku-buku, dan sejumlah artikelnya yang telah berulang-ulang dicetak atau diduplikasikan dalam edisi sepuluh ribu salinan atau lebih. semua peninggalanya diburu oleh generasi muda dengan minat dan keinginan sedemikian hingga dampak besarnya tidak pernah dapat terhapus dari ingatan-ingatan dan hati kita. semua yang dikatakan dan ditulisnya diungkapkan dengan ketulusan, kepercayaan, dan keyakinan luar biasa serta membuktikan kapasitas kreatif luar biasa.
pandangan sekilas pada karya-karya Ali Syariati yang bermanfaat, mendalam, dan orisinal akan menunjukkan bahwa ia tidak percaya pada karya yang terlalu disederhanakan dan dangkal. gagasan-gagasan yang filosofis serta topik-topik sosiologis yang mungkin begitu susah untuk dipahami sehingga ia mempermudah pembahasanya melalui penggunaan bahasanya yang bersifat kiasan, metafora, simbolik serta melalui makna padat yang dia masukkan dalam kata-katanya. berangkat dari historitas pemikiran Ali Syariati tersebut sering dijumpai timbulnya keberatan-keberatan yang bias atas kedangkalan ilmu dalam memahami pemikirannya yang tajam dan dinamis. singkatnya semua orang yang fikiranya lamban, seleranya menyimpang, dan yang telah melupakan prinsip alquran, ( Qs. An-Nahl [16]: 125):
َهَّبَز َِّْا َُۗٓسْحَا َِٟ٘ ِْٟحٌَّاِب ٌُُِْْٙداَخَٚ ِةََٕسَحٌْا ِةَظِػٌَّْْٛاَٚ ِةَّْىِحٌْاِب َهِّبَز ًِْ١ِبَس ٌِٰٝا ُعْدُا َُٛ٘
َْٓ٠ِدَحٌُّْْٙاِب ٍَُُْػَا ََُٛ٘ٚ ٍِْٖٗ١ِبَس َْٓػ ًََّض َِّْٓب ٍَُُْػَا
ٕٔ١
Terjemahan:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.25
Sebagai seorang cendekiawan Muslim dan pengilham revolusi Iran, sudah barang tentu mempunyai banyak karya, baik yang berkaitan dengan masalah keislaman maupun yang berhubungan dengan problematika dunia Internasional.
Di dalam bukunya yang berjudul What is To Be Done: The Enlightened Thinkers and Islamic Renaissance, dijelaskan bahwa sampai kini (1986) karya Ali Syariati yang telah diterbitkan sebanyak 35 buku.26Di samping itu, masih banyak karya lainnya yang belum sempat diterbitkan. Penelitian ini hanya mengulas buku-buku yang ada di tangan penulis, terutama yang berkaitan dengan inti pembahasan dari tiap-tiap buku tersebut:
1. Haji, yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka (2000).
2. Humanisme Antara Islam dan Mazhab Barat, yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka Hidayah (1996).
3. Membangun Masa Depan Islam, yang diterbitkan oleh penerbit Mizan (1998).
4. Paradigma Kaum Tertindas, yang diterbitkan oleh penerbit ICJ Al Huda (2001).
5. Para Pemimpin Mustadhafin, yang diterbitkan oleh penerbit Muthahhari Paperbacks (2001).
6. Fatimah Az-Zahra, yang diterbitkan oleh penerbit Yayasan Fatimah (2001).
7. Abu Dzar, Suara Parau Menentang Keadilan, yang diterbitkan oleh penerbit Muthahhari Peperbacs (2001). Marxism and Other Western Fallacies, An
25 Kemnterian Agama RI, Al-qur‟an dan Terjemahnya, h.281
26 Ali Syari‟ati, WIiat is To Be Done: The Enlightened Thinkers and Islamic Renaissance, terjemahan Rahmani Astuti (Bandung: Mizan, 1993), h. 21.
Islamic Critique. Di dalam buku ini, Ali Syariati menganalisis akar mandsme dalam materialisme. la juga memperbincang-kan agama-agama besar, liberalisme borjuis, dan eksistensialisme. Demikian pula, ia menguraikan paham-paham abad XIX dan XX, yang menafsirkan dimensi spiritual dalam diri manusia.
Sepanjang pembahasannya, Syariati membandingkan kesemuanya itu dengan ideologi Islam, menggunakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al- Qur'an dan sejarah Islam. Secara bertahap dan fasih, ia paparkan pandangan pribadinya tentang Islam sebagai filsafat pembebasan manusia diantaranya:
1) Islamic Critique of Marxism and The Development of Contemporary Islamic Thought. Di dalam buku ini, Ali Syari'ati lagi-lagi melontarkan kritik tajam terhadap aliran manrxisme. Hal tersebut dilatar-belakangi oleh tekanan- tekanan ideologi Barat terhadap Islam yang memancing para intelektual Muslim, termasuk Ali Syari‟ati untuk mengantisipasi dengan memunculkan pemikiran-pemikiran cemerlang. Berawal dan kegagalan-kegagalan pandangan orang Barat terhadap eksistensi manusia dan kehidupan, Islam menyodorkan sebuah konsep hidup yang tidak mengenal dimensi waktu, tempat, dan bangsa.
2) What is To Be Done: The Enlightened Thinkers and Islamic Renaissance.
Pada bagian pertama dan buku ini, Ali Syari‟ati memberikan defenisi
seorang, intelektual, peranannya dalam masyarakat, dan tanggung jawabnya terhadap sesama manusia. Dalam pikiran Syari‟ati kaum cerdik pandai terbagi ke dalam dua kelompok yang berbeda, yakni kaum intelektual dan pemikir-pemikir tercerahkan. Yang pertama, hanya memanfaatkan pengetahuan teoritis dan praktis mereka. Sedangkan yang kedua, karena adanya rasa tanggunqjawab sosial, mereka memainkan peranan sebagai