83 | Tahdzib Al Akhlak | Vol 4 | No. 1 | 2021
AGAMA DAN TANTANGAN MODERNITAS
https://uia.e-journal.id/Tahdzib/article/view/1433 DOI: https://doi.org/10.34005/tahdzib/v4i1/1433
Neneng Munajah
Universitas Islam As-syafi’iyah
Abstract (In English): Modern as a phase of life that is based on a rational pattern of thinking and lifestyle. Modern is rational, scientific, in accordance with the laws that apply in nature. As an understanding that applies science, there are consequences for absolute obligations and obligations for humans.
Therefore, modernism is seen as God's commandment, thus Islam is synonymous with modernity. Modernism is an attempt to realize the truth, and that truth must be constantly sought. Truth, can only be achieved through a process, and humans will never get that truth perfectly, without real effort. An earnest search for truth is an attitude demanded by Islamic teachings.
Modernism is the commandment of Islamic teachings, so Islam and modernity are identical. Rationalism is a paradigm based on the belief in the power of human reason and reason. In this paradigm, something is declared true, if it can be proven and can be accepted rationally. The phenomenon of scientism in the Western world shows us that science has become a new ideology or religion (pesudo religion). Western society marginalizes religion even if it can be said to abolish all sacred religious beliefs, and only accepts and believes in science. This belief emerged around the 18-19 century, science has become an idol that is worshiped by modern humans. Modernism is recognized to have brought wealth physically - materially. This phenomenon, becomes a tendency to dehumanize, is degraded, and reduces the quality of human life. Therefore, the noble values of humanity, such as compassion, togetherness, solidarity and human brotherhood are not a concern, and what stands out from modern society is individualism. Humans in the modern age have become very vulnerable to disease, because they have actually lost one of the fundamental aspects, namely spiritualism. Modern man is hit by a spiritual void, he forgets the center of the circle of existence, namely, Allah SWT. Religion provides a solution to return to the center of the circle of human existence. Religion answers complex problems faced by humans, such as death, suffering and disaster. Religion answers the challenges of modernity, therefore religion must be a guide for human life who wants to achieve happiness in life both in this world and in the hereafter.
Keywords: Modernity, Religion, Rational
Abstrak (In Bahasa): Modern sebagai suatu Fase kehidupan yang berlandaskan pada pola berpikir, dan gaya hidup secara rasional. Modern bersifat rasional, ilmiah, bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam. Sebagai paham yang menerapkan ilmu pengetahuan melahirkan konsekunesi atas keharusan dan kewajiban mutlak bagi manusia. Oleh sebab itu, modernisme dipandang sebagai perintah Tuhan, dengan demikian keislaman identik dengan kemoderenan. Modernisme sebagai usaha untuk mewujudkan kebenaran, dan kebenaran itu harus terus-menerus dicari.
Kebenaran hanya dapat dicapai melalui proses , dan manusia tak akan pernah memperoleh kebenaran itu secara sempurna, tanpa usaha yang sungguh- sungguh. Pencarian yang sungguh-sungguh tentang kebenaran, merupakan sikap yang dituntut oleh ajaran Islam. Modernisme menjadi perintah ajaran Islam, Dengan begitu Keislaman dan Kemoderenan adalah identik.
Rasionalisme sebuah paradigma berpangkal pada kepercayaan akan kekuatan akal dan budi manusia. Dalam paradigma ini, sesuatu dinyatakan benar, bila dapat dibuktikan dan dapat diterima secara rasional. Fenomena saintisme di dunia Barat memperlihatkan kepada kita, bahwa ilmu telah menjadi ideologi atau agama baru (pesudo religion). Masyarakat Barat meminggirkan agama bahkan kalau boleh dikatakan menghapus semua keyakinan agama yang suci, dan hanya menerima dan percaya kepada ilmu pengetahuan. Keyakinan ini muncul sekitar abad 18-19, ilmu telah menjadi berhala yang dipertuhankan oleh manusia modern. Modernisme diakui telah mendatangkan kekayaan secara fisik – material. Fenomena ini, menjadi kecenderungan dehumanisasi, mengalami degradasi, dan reduksi terhadap kulitas hidup manusia. Karenanya, nilai-nilai luhur kemanusiaan, seperti, kasih sayang, kebersamaan, solidaritas dan persaudaraan kemanusiaan tidak menjadi perhatian, dan yang menonjol dari masyarakat modern, justru individualisme. Manusia di abad modern menjadi sangat rentan terhadap penyakit, karena sesungguhnya telah kehilangan salah satu aspek yang fundamental, yaitu spiritualisme. Manusia modern dilanda kehampaan spiritual, ia lupa kepada pusat lingkaran eksistensi yakni, Allah SWT. Agama memberikan solusi untuk kembali ke pusat lingkaran eksistensi manusia. Agama menjawab persoalan yang kompleks, yang dihadapi manusia, seperti kematian, penderitaan dan bencana. Agama menjawab tantangan modernitas, oleh sebab itu agama harus menjadi pedoman hidup manusia yang ingn mencapai kebahagian hidup baik hidup di dunia maupun di akhirat.
Kata Kunci : Modernitas, Agama, Rasional
MAKNA MODERNITAS
Pengertian modernitas berasal dari perkataan “modern” dan makna umum dari perkataan modern adalah segala sesuatu yang bersangkutan dengan kehidupan masa kini. Lawan kata modern adalah kuno, yaitu segala sesuatu yang berurusan dengan masa lampau. Jadi, modernitas adalah pandangan yang dianut untuk menghadapi masa kini. Selain sifat pandangan, modernitas juga merupakan sikap hidup yang dianut dalam menghadapi kehidupan masa kini1.
Modernitas sebagai pandangan dan sikap hidup yang bersangkutan dengan kebiasaan masa kini, banyak dipengaruhi oleh peradaban modern.
Sedangkan yang dimaksud dengan peradaban modern, adalah peradaban yang dibentuk mula-mula dari Eropa Barat, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Peradaban modern itu terbentuk pada abad ke-16 melalui suatu perubahan yang penting di Eropa barat dikenal dengan Renaisanse.
Peradaban Barat mempunyai pengaruh besar terhadap modernitas, oleh karena peradaban Barat pada saat sekarang ini, merupakan peradaban 1 Lihat Sayidiman Suryohaniprojo, “Makna Modernitas dan Tantangannya Terhadap Iman”, dalam Nurcholish Madjid dkk, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, Cetakan I, 1994, hal 553-554.
85 | Tahdzib Al Akhlak | Vol 4 | No. 1 | 2021
yang dominan di dunia, sebagaimana pula Islam pada abad 6 sampai dengan abad 16 mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan peradaban Barat. Oleh sebab itu, untuk mengenal dan mengembangkan modernitas, sangat tidak mungkin tanpa mengetahui unsur-unsur utama peradaban Barat.
Modernisme dipandang sebagai suatu “gerakan” pemikiran pada fase tertentu dalam perkembangan sejarah manusia untuk menangani “proyek”
pengembangan peradaban dan kemanusiaan, tampil dalam beberapa tema.
Pertama, pemisahan antara bidang sakral dan duniawi, yang dalam kehidupan praktis tercermin dalam pemisahan antara agama dan negara, agama dan politik, tepatnya disebut sekularisme. Kedua, kecenderungan pada reduksionisme. Materi dan benda direduksi kepada elemen-elemennya.
Hal ini tampak pada fisika Newton. Ketiga, pemisahan antara subjektivitas dan objektivitas dan berujung pada kecenderungan bahwa objektivitas merupakan keniscayaan dalam menjelaskan sesuatu. Keempat, antroposentrisme, yang memandang manusia bukan lagi sebagai tamu dunia (faber mundi), tapi sebagai penentu terhadap dunianya (fitiator mundi).
Kelima, progresifisme, yang dalam konteks sejarah menurut Hasan Hanafi diwakili dengan baik sekali oleh pemikiran Marx dan Marxisme2.
Modern oleh para modernis Muslim seringkali dimengerti sebagai dorongan untuk menguasai pendidikan, teknologi dan indrustri Barat, ide demokrasi dan pemerintahan yang representatif. Oleh sebab itu, kebanyakan kaum modernis berusaha melakukan sintesis dan mencari keselarasan antara posisi mereka dan posisi Eropa, sehingga yang menjadi isu sentral dari modernisme adalah mengupayakan agar keyakinan agama sesuai dengan pemikiran modern3.
Sedangkan, Nurcholish Madjid memandang modernisasi sebagai rasionalisasi. Pengertian modernisasi identik dengan rasionalisasi, yaitu proses perombakan pola berpikir dan tata kerja yang baru yang tidak rasional, dan menggantikannya dengan pola berpikir dan tata kerja yang baru yang rasional. Manfaat adalah untuk memperoleh daya guna yang maksimal. Jadi tandasnya, sesuatu yang disebut modern, jika ia bersifat rasional, ilmiah dan bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam. Dalam pandangannya, modernisasi berarti juga penerapan ilmu pengetahuan, dan ini merupakan keharusan “kewajiban yang mutlak”. Oleh sebab itu, modernisasi merupakan perintah dan ajaran Tuhan. Keislaman dan Kemoderenan adalah suatu yang identik4.
Selanjutnya, Nurcholish Madjid menjelaskan bahwa modernitas sebagai kebenaran, dan modernisasi sebagai usaha atau proses untuk mencapai kebenaran itu. Yang modern secara mutlak ialah Tuhan Yang Maha Esa. Kebenaran adalah sesuatu yang hanya dapat dicapai dalam
2 Kazuo Shimoghaki, “Between Modernity and Postmodernity The Islamic Left, dialihbahasakan oleh M. Imam Azizi dkk, Kiri Islam, LKIS Yogyakarta, 1993, hal 25.
3 A. Ahmed S. “Discovering Islam”, Routledge, London 198, hal 44-46.
4 Nurcholish Madjid, “Islam Kemodernan dan Keindonesiaan,” Bandung, Mizan, 1987, Cetakan 1, Hal 172.
proses. Kebenaran adalah tujuan, yang dapat dikatakan, manusia tak akan pernah mencapainya secara penuh karena, keterbatasannya, tetapi harus diupayakan dan dicari, jika ia menginginkan pengertian yang mendalam.
Pencarian yang terus-menerus tentang kebenaran (Islam), itulah yang dinamakan sikap yang modern5.
A. Karakteristik Masyarakat Modern
Pertama, masyarakat modern bercirikan indrustrialisasi. Dikatakan industrialisasi, karena menjadi tulang punggung dan darah daging masyarakat modern. Dengan industrialisasi manusia berusaha memanfaatkan kekuatan dan energi alam untuk kepentingan manusia. Dalam proses ini, pekerjaan manusia dibantu bahkan sebagian telah dialihkan pada mesin- mesin atau robot.
Kedua, masyarakat modern ditandai oleh kemajuan sains dan teknologi (IPTEK) sehingga sering disebut sebagai abad modern, dan dijuluki sebagai “Abad Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (The Age of Science and Tecnology)”. IPTEK meneliti terutama kekuatan-kekuatan alam untuk menopang kepentingan industrialisasi. IPTEK dikembangkan dan diarahkan untuk peningkatan dan pelipat gandaan produksi industrial. Dengan IPTEK, manusia modern tidak banyak bergantung pada alam, bahkan menguasai dan menaklukan mitos ketidak jayaan alam.
Ketiga, masyarakat bercirikan perubahan. Dengan mesin industrialisasi dan dengan dukungan sains dan teknologi maju telah melahirkan perubahan- perubahan besar dalam kehidupan umat manusia. Perubahan paling menonjol terlihat pada bidang komunikasi dan transportasi yang amat padat dan cepat.
Keempat, ditandai oleh perubahan pola pikir yang sangat mendasar.
Perubahan pola pikir ini dimulai dari timbulnya keyakinan tentang keunggulan manusia (Humanisme), kemudian berkembangan pemikiran yang memandang manusia sebagai pusat (antroposentrisme) dan akhirnya timbul pemikiran rasionalisme yang menjadi karakter masyarakat modern6.
Sejalan dengan paham keunggulan manusia tadi, maka rasionalisme berpangkal kepada kepercayaan atas kekuatan akal dan budi manusia.
Paham ni mengharuskan segala sesuatu diahami dan dimengerti secara rasional. Tidak ada sesuatu yang tidak dapat dipertanyakan secara kritis dan rasional. Dalam paradigma ini, sesuatu dinyatakan benar bila dapat dibuktikan dan diterima secara rasional.
Dari ciri-ciri masyarakat modern di atas, tampak jelas bahwa ada bibit- bibit “ancaman” terhadap nilai-nilai luhur kemanusiaan, spiritualitas dan agama. Hal inilah merupakan sisi negatif dari kemajuan masyarakat modern yang seyogianya harus direspon secara insentif oleh kalangan yang berkompeten dalam masalah tersebut, sudah barang tentu para aktivis dakwah yang didukung oleh kebijakan pejabat di lingkungan Kementerian Agama.
5 Ibid.
6 Mazheruddin, op.cit, Hal 1-2.
87 | Tahdzib Al Akhlak | Vol 4 | No. 1 | 2021
B. Sisi Negatif Modernitas
Fenomena saintisme di dunia Barat memperlihatkan kepada kita bahwa ilmu telah menjadi ideologi baru, bahkan agama baru (preudi religion).
Hal ini telah berlangsung sejak abad 17 M, di mana masyarakat Barat menyingkirkan bahkan membuang sama sekali semua keyakinan agama yang sacral itu. Mereka menolak semua itu, dan hanya percaya kepada ilmu pengetahuan, dan kepercayaan ini telah mencapai tingkat yang amat tinggi.
Puncaknya saintisme, yaitu abad 18 dan 19 M, ilmu telah menjadi “berhala”
yang dipertuhankan manusia modern. Seperti Tuhan, ilmu dipandang memiliki ketetapan yang amat kuat dan tidak terdapat keraguan dan kebatilan di dalamnya7.
Masyarakat modern menjadi sangat progresif dan agresif dalam mengejar kemajuan. Dengan bantuan iptek, mereka ingin menguasai dan menaklukan mitos kekuatan alam semesta. Modernisme diakui telah mendatangkan kekayaan secara material, tetapi sangat kering dan miskin secara etika dan moral. Segala sesuatu cenderung dilihat dari sudut kemajuan material. Ini sesungguhnya dehumanisasi, mengalami degradasi dan reduksi terhadap kualitas hidup manusia. Akibatnya, nilai-nilai luhur kemanusiaan, seperti kasih sayang, kebersamaan, solidaritas dan persaudaraan sesama manusia, kurang mendapat perhatian, yang menonjol dari masyarakat modern justru individualisme8.
John L Esposito mengemukakan bahwa modernisme tumbuh dari akar-akar materialisme9. Buktinya, modernisme didukung oleh mesin ekonomi yang disebut dengan kapitalisme. Kapitalisme merupakan motor dan penggerak modernisme. Sebagai lanjutan dari materialisme, kapitalisme merupakan suatu faham yang memberikan nilai dan penghargaan amat tinggi terhadap kenikmatan lahiriah10. Dalam pandangan seperti itu, jelas kriteria etika dan moral akan terdesak oleh kriteria manfaat dan kepentingan jangka pendek.
Dari kenyataan seperti disebutkan tadi, manusia modern kata Nasr, telah membakar tangannya dengan api yang telah dinyalakannya karena itu ia telah lupa siapakah ia itu sesungguhnya. Seperti yang dilakukan Faust, setelah menjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan terhadap lingkungan alam manusia, ia menciptakan suatu situasi, di mana control terhadap lingkungan berubah menjadi pencekikan terhadap lingkungan, yang selanjutnya tidak hanya berubah menjadi kehancuran ekonomi tetapi juga
7 Sayyed Hossein Nasr, “Islam and The Plight of Modern Man,” London & New York:
Longman Group Ltd, 1975, hal 4-5.
8 Komarudin Hidayat, “Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern” dalam Nurcholish Madjid (Ed), “Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern,” Jakarta, Mediacita, 2002, hal 100.
9 Mazheruddin Siddiqi, “Modern Reformist in The Muslim World,” Adam Publisher and Distributor, India, 1993, hal.1.
10 Frans Magnis Suseno, “Pengembangan Sumber Daya Manusia Menjelang Abad 21,”
Jurnal Ilmu dan Budaya, No. 8, Hal 56-65.
menjadi perbuatan bunuh diri11.
Oleh sebab itu pula, manusia modern kata Nasr, mengidap penyakit ketidakseimbangan psikologis akibat usahanya hidup hanya untuk sepotong roti semata, membunuh semua Tuhan, dan membebaskan diri dari kekuatan surgawi. Namun, akhirnya masyarakat modern dilanda kehampaan spiritual.
Ia menjadi lupa kepada dirinya sendiri, juga lupa kepada pusat lingkaran eksistensi, yaitu Allah. Manusia modern menjadi sangat rentan terhadap penyakit, karena sesungguhnya telah kehilangan salah satu aspek yang paling fundamental, yaitu spiritualisme. Kemajuan lahiriah yang dicapai manusia modern telah menjadi berhala yang menghambat komunikasi vertical dengan sumber kehidupan, yaitu Tuhan, sehingga kehidupan yang dibangunnya terasa sempit dan gelap, serta jauh dari bimbingan dan petunjuk-Nya.
Sejalan dengan itu, Sayyed Hossein Nasr lebih jauh menyatakan bahwa modernism membawa akibat lain, terutama bagi mereka yang kurang siap, yaitu mengalami dislokasi, disorientasi dan disharmoni. Dislokasi adalah perasaan tak punya tempat dalam tatanan sosial yang sedang berkembang.
Kenyataan demikian dapat dilihat pada kaum marginal di kota-kota besar.
Disorientasi adalah perasaan tidak punya pegangan hidup akibat yang ada selama ini tidak lagi dapat dipertahankan karena dirasakan tidak cocok.
Sedangkan, disharmoni adalah perasaan tidak suka terhadap segala bentuk kemapanan. Perasaan ini biasanya mewujud dalam bentuk radikalisme, kekerasan, fanatisme dan fundamentalisme12.
Achmad Mubarok berpendapat bahwa timbulnya gangguan psikologis yang diderita sebagian besar masyarakat modern, utamanya disebabkan mereka hidup dalam lingkungan peradaban modern. Manusia modern idealnya adalah manusia yang berpikir logis dan mampu menggunakan berbagai teknologi dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupannya.
Seharusnya dengan bantuan teknologi tersebut, manusia modern lebih bijak dan arif, dalam menyelesaikan problemnya. Namun pada kenyataannya nurani kemanusiaan manusia modern lebih mundur ketimbang kemajuan pola berpikir dan hasil teknologi yang dicapainya. Akibat dari ketidakseimbangan ini, maka kemudian menimbulkan gangguan kejiwaan. Ditambah lagi dengan menggunakan alat transportasi dan alat komunikasi yang canggih, akhirnya manusia hidup dalam pengaruh global dan dikendalikan oleh terjangan arus informasi global, padahal kesiapan mental manusia jauh belum siap13.
Meminjam istilah yang digunakan psikolog Humanis, Rollo May, ketidakberdayaan manusia modern memainkan peranan di panggung global disebut sebagai “Manusia dalam Kerangkeng”, karena ia telah terjebak dalam situasi seperti telah disebutkan tadi. Inilah suatu ilustrasi penyakit yang sesungguhnya telah diderita oleh manusia modern. Manusia seperti itu
11 Seyyed Hossein Nasr, loc.cit.
12 Ibid
13 Achmad Mubarok, “Konseling Agama Teori dan Kasus,” PT. Bina Pariwara, Jakarta 200, hal 158-159.
89 | Tahdzib Al Akhlak | Vol 4 | No. 1 | 2021
sebenarnya sudah kehilangan makna (meaningless-powerless)14. Setiap kali ia harus mengambil keputusan, setiap saat itu pula ia tidak mampu memilih keputusan apa yang harus diambil, sebab ia tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya ia inginkan. Para sosiolog menyebutnya sebagai gejala keterasingan (alienasi), yang disebabkan oleh hal seperti berikut:
1. Perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat
2. Hubungan yang damai antar manusia sudah berubah menjadi hubungan gersang
3. Lembaga tradisional sudah berubah menjadi lembaga rasional 4. Masyarakat yang homogen sudah berubah menjadi heterogen 5. Stabilitas sosial pun berubah menjadi mobilitas sosial
Lebih lanjut Achamad Mubarok menjelaskan, bahwa manusia modern mengidap gangguan kejiwaan, antara lain berupa:
a. Kecemasan: rasa cemas yang diderita manusia modern adalah bersumber dari hilangnya makna hidup. Secara fitrah, manusia memiliki kebutuhan akan makna hidup. Makna hidup dimiliki oleh seseorang manakala ia memiliki kejujuran dan merasa hidupnya dibutuhkan oleh orang lain, dan merasa mampu serta telah mengerjakan sesuatu yang bermakna untuk orang lain.
b. Kesepian: rasa sepi yang diderita manusia modern adalah bersumber dari pola hubungan antar manusia yang tidak lagi tulus dan hangat. Kegersangan hubungan antar manusia, disebabkan karena semua manusia modern menggunakan topeng-topeng sosial untuk menutupi wajah kepribadian yang sesungguhnya. Dalam komunikasi interpersonal, manusia modern tidak memperkenalkan dirinya sendiri, tetapi selalu menunjukannya sebagai seseorang yang sebenarnya bukan dirinya.
c. Kebosanan: karena hidup tidak bermakna, dan hubungan dengan manusia lain terasa hambar karena ketiadaan ketulusan hati, kecemasan yang selalu mengganggu jiwanya dan kesepian yang berkepanjangan, menyebabkan manusia modern menderita gangguan kejiwaan berupa kebosanan.
d. Perilaku yang menyimpang: kecemasan, kesepian dan kebosanan yang diderita berkepanjangan, menyebabkan seseorang tidak tahu persis apa yang mesti dilakukan. Ia tidak bisa memutuskan sesuatu, dan ia tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Dalam keadaan jiwa yang kosong dan rapuh ini, maka seseorang tidak bisa berpikir jauh, kecenderungan memuaskan motif kepada hal-hal yang rendah sangat kuat, karena pemuasan atas motif ini sedikit agak terhibur. Dalam keadaan tak mampu berpikir, apa saja ia mau melakukan asal memperoleh minuman. Kekosongan jiwa itu bisa mengantar
14 Ibid.
seseorang kepada perbuatan merampok, meskipun mereka tidak membutuhkan uang, memperkosa orang tanpa mengenal siapa yang diperkosa, membunuh tanpa ada sebab-sebab yang membuatnya harus membunuh. Pokoknya semua perilaku menyimpang yang secara sepintas seakan-akan dapat memberikan hiburan.
e. Psikosomatik: ialah gangguan fisik yang disebabkan oleh faktor- faktor kejiwaan dan sosial. Penderita psikosomatik, dapat disebut sebagai penyakit gabungan fisik dan mental. Penderita penyakit ini, biasanya selalu mengeluh, merasa tidak enak badan, jantungnya berdebar-debar, merasa lemah dan tidak konsentrasi. Wujud psikosomatik dapat berbentuk syndrome, trauma, stress, ketergantungan kepada obat terlarang, atau berperilaku menyimpang15.
Demikian juga apa yang disinyalir Peter Berger, dahulu agama memberikan makna baku kepada manusia ketika memandang alam dan kehidupan. Agama menjawab masalah kematian, penderitaan, dan bencana.
Dalam periode beberapa abad belakangan ini, posisi agama disisihkan oleh sains. Apa yang dahulu dijawab agama sekarang dijawab sains. Agama kehilangan otoritasnya, mula-mula dalam menjelaskan alam, dan akhirnya juga dalam memberikan petunjuk kehidupan. Jelasnya Agama digantikan ilmu pengetahuan alam untuk memahami dunia, dan digantikan psikologi untuk menghayati pengalaman subjektif manusia16.
C. Respon Agama Menghadapi Tantangan Modernitas
Berbicara peran agama dalam menjawab tantangan modernitas, merupakan suatu hal yang sangat penting, oleh karena persoalan hidup dan kehidupan manusia semakin kompleks. Untuk persoalan tersebut, perlu adanya usaha dari kelompok yang kompeten guna melahirkan konsep dakwah yang dapat diterima oleh seluruh umat, sehingga pada gilirannya mampu menghadirkan Islam sebagai manhaj atau metode, yang dapat memecahkan problematika kehidupan modern.
Pada hakekatnya semua manusia dalam cita-cita dan realitas kehidupannya memerlukan ide yang terus berkembang, keahlian tertentu, kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak, yang disertai dasar- dasar pergaulan dan tata tertib social, nilai-nilai kemanusiaan. Namun dalam kenyataannya, kita mengaplikasikan ide-ide tersebut memiliki tata cara atau sistem yang berbeda satu sama lain, lebih-lebih dalam konteks kehidupan modern yang kadang-kadang tidak lagi mengindahkan rambu-rambu ajaran- ajaran agama dalam merealisasikan idenya itu.
Singkatnya di era modern ini, manusia mengalami krisis nilai-nilai kemanusiaan, disebabkan oleh ketidakmampuan dirinya dalam mengantisipasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berimplikasi pada perubahan-perubahan sosial, politik, budaya dan terutama sosial
15 Ibid, hal 162-166.
16 Jalaluddin Rahmat, “Psikologi Agama Sebuah Pengantar,” Mizan, Bandung, 2005, Hal 153.
91 | Tahdzib Al Akhlak | Vol 4 | No. 1 | 2021
keagamaan, termasuk gaya hidup tradisional kepada gaya hidup modern.
Sedangkan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan puncak produk dari proses upaya perjalanan pemikiran manusia, di samping kedudukan akal sebagai anugerah Allah yang paling berharga dan yang menjadi pembeda dari manusia makhluk lainnya17.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak perubahan yang sangat besar terhadap berbagai tatanan segi kehidupan manusia, mulai dari cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Meski ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang besar dan luar biasa, namun kemajuan itu belum mampu menjawab berbagai problematika kehidupan manusia di era modern. Manusia di era modern ini dihadapkan kepada era baru yang disebut globalisasi, yang cenderung menghilangkan batas-batas negara (borderless) mencakup ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya18.
Berdasarkan pada fenomena kehidupan masyarakat modern sekarang, adalah menurunnya penghayatan atas ajaran dan seruan kebaikan agamanya, melonggarnya ikatan kekeluargaan dan tata pergaulan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang individualistik dan tampak umumnya kehidupan masyarakat modern disibukkan oleh berbagai hal yang sifatnya duniawi, sehingga perhatian terhadap agama sebatas tradisi yang turun-temurun bersifat verbalistik dan ritualistic berkala.
Di samping itu, manusia sebagai makhluk yang sempurna telah dilengkapi dengan akal dan nafsu. Kedua hal ini, apabila tidak diarahkan ke jalan yang benar maka manusia akan terjerumus ke jalan yang menyesatkan.
Untuk mengarahkan manusia ke jalan yang lurus jalan yang diridhai Tuhan diperlukan agama sebagai pedoman dan pegangan hidup. Fungsi dan peranan agama dalam kehidupan manusia dapat memberikan makna dan tujuan hidup.
Dengan memperhatikan kondisi seperti itu, kebutuhan manusia modern terhadap agama menjadi mutlak. Dalam hal ini agar nilai-nilai dan ajaran agama dapat diketahui, dihayati dan diamalkan, maka diperlukan upaya untuk menumbuh-kembangkan agama pada jiwa manusia, yaitu melalui aktivitas dakwah yang komprehensip dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, perlu me-revitalisasi (penguatan) peran agama dalam rangka menjawab berbagai tantangan dan problematika manusia zaman modern.
Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan tidak dapat menggantikan peran agama dalam memenuhi kekosongan spiritual manusia modern.
Dalam melaksanakan kegiatan dakwah tidak bisa lepas dari dinamika perubahan yang dialami dalam kehidupan manusia. Dalam arti aktivitas dakwah tidak bisa tidak harus menyesuaikan diri dengan kemajuan yang dicapai ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena kemajuan tersebut, telah mendorong manusia dalam menguasai, mengelola dan memanfaatkan alam untuk kesejahteraan manusia, sehingga dakwah Islam dapat diterima 17 M.Jakfar Puteh, “Dakwah di Era Globalisasi (Strategi Menghadapi Perubahan Sosial),” AK Group, Yogyakarta, Cetakan 3, 2006, hal 131-132.
18 Ibid.
oleh seluruh manusia. Dengan demikian, dakwah merupakan tugas suci umat islam yang identik dengan tugas Rasul, bertujuan mewujudkan tatanan masyarakat islami yang diridhai Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Mubarok, “Konseling Agama Teori dan Kasus,” PT. Bina Pariwara, Jakarta 2000, hal 158-159.
A. Ahmed S. “Discovering Islam”, Routledge, London 198, hal 44-46.
Nurcholish Madjid, “Islam Kemodernan dan Keindonesiaan,” Bandung, Mizan, 1987, Cetakan 1, Hal 172.
Frans Magnis Suseno, “Pengembangan Sumber Daya Manusia Menjelang Abad 21,” Jurnal Ilmu dan Budaya, No. 8, Hal 56-65.
Kazuo Shimoghaki, “Between Modernity and Postmodernity The Islamic Left, dialih bahasakan oleh M. Imam Azizi dkk, Kiri Islam, LKIS Yogyakarta, 1993, hal 25
Komarudin Hidayat, “Agama dan Kegalauan Masyarakat Modern” dalam Nurcholish Madjid (Ed), “Kehampaan Spiritual Masyarakat Modern,”
Jakarta, Mediacita, 2002, hal 100.
Sayyed Hossein Nasr, “Islam and The Plight of Modern Man,” London & New York: Longman Group Ltd, 1975, hal 4-5.
Sayidiman Suryohaniprojo, “Makna Modernitas dan Tantangannya Terhadap Iman”, dalam Nurcholish Madjid dkk, Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, Cetakan I, 1994, hal 553-554.
Mazheruddin Siddiqi, “Modern Reformist in The Muslim World,” Adam Publisher and Distributor, India, 1993, hal.1.
Jalaluddin Rahmat, “Psikologi Agama Sebuah Pengantar,” Mizan, Bandung, 2005, Hal 153.
M.Jakfar Puteh, “Dakwah di Era Globalisasi (Strategi Menghadapi Perubahan Sosial),” AK Group, Yogyakarta, Cetakan 3, 2006, hal 131-132.