Tesis Oleh:
SUARNIH
Nomor Induk Mahasiswa : 105040909714
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2016
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Magister
Program studi
Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun dan Diajukan oleh
SUARNIH
Nomor Induk Mahasiswa : 105040909714
Kepada
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2016
YANG DIGUNAKAN KORAN TRIBUN TIMUR DENGAN KORAN FAJAR
Nama Mahasiswa : SUARNIH
Nim : 105.04.09.097.14
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Telah menyeraHkan satu (1) tesis masing-masing kepada:
No Dosen pembimbing/unit Tanggal
terima
Tanda tangan 1 Prof. Dr. Lukman, M.Hum.
(Ketua/Pembimbing I)
2 Dr. H. Bahrun Amin, M.Hum (Sekertaris/Pembimbing II)
3 Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd.
Penguji I
4 Dr. A. Rahman Rahim, M. Hum.
Penguji II
5 Pascasarjana/Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
6 Kepala Lembaga Perpustakaan Unismuh Makassar
Komunikasi cetak adalah salah satu bentuk komunikasi yang juga sangat berkembang pesat hingga sekarang. Koran menjadi media cetak yang populer untuk mengetahui informasi-informasi yang terjadi dalam kehidupan manusia, biasanya ditunjukan sebagai kegiatan komersil dari penerbit koran yang bersangkutan.
Dalam koran terdapat berita utama yang merupakan kepala berita atau judul berita. Pada bagian inilah yang menjadi inti berita dan membuat pembaca tertarik atau tidak tertarik membaca sebuah berita. Pada berita utama,kadang- kadang digunakan gaya bahasa tertentu untuk menarik minat seseorang membaca berita tersebut, walaupun tanpa memperhatikan tingkat pemahaman pembaca.
Penelitian ini membahas berita utama sepak bola pada Koran Tribun Timur dan Koran Fajar edisi Mei 2016 sebanyak 20 data yang menggunakan gaya bahasa.
Hasil penelitian terhadap perbandingan gaya bahasa berita utama bola yang digunakan Koran Tribun Timur dengan Koran Fajar Edisi Mei 2016 yaitu perbandingan gaya bahasa Koran Tribun Timur dan Koran Fajar. Koran Tribun Timur menggunakan lima gaya bahasa, yaitu gaya bahasa perbandingan sebanyak 14 data, gaya bahasa perulangan sebanyak 1 data, gaya bahasa sindiran sebanyak 1 data, gaya bahasa pertentangan juga sebanyak 3 data dan gaya penegasan sebanyak 1 data. Sedangkan, Koran Fajar hanya menggunakan 4 gaya bahasa yaitu gaya bahasa perbandingan sebanyak 12 data, gaya bahasa perulangan sebanyak 1 data, gaya bahasa pertentangan 2 data, dan gaya bahasa penegasan 1 data.
Kata Kunci: Gaya Bahasa, Perbandingan Gaya Bahasa
Print communication is one form of communication which also is growing rapidly until now. Newspaper become a popular print media to find information that happen in people's lives, usually indicated as the commercial activities of newspaper publishers concerned.
In newspaper headlines there is a headline or headline. In this section the core story and keep readers interested or not interested in reading a story. In the headlines, sometimes used specific language style to attract someone to read the news, although regardless of the reader's understanding. This study discusses the football headlines in newspapers and newspaper Dawn East Tribune edition of 20 May 2016 data using a style language.
The study of comparative stylistics headlines balls used by the East Tribune newspaper Dawn newspaper edition of May 2016 which is the ratio stylistic East Tribune newspapers and newspaper Dawn. East Tribune newspaper uses five styles of language, which is stylistic comparison of as many as 14 data, the repetition language style as much as 1 data, the language style of satire as much as 1 data, the language style of contention as well as 3 data and the style of affirmation as much as 1 data. Meanwhile, Dawn newspaper only uses 4 style that is as much as 12 stylistic comparison of data, stylistic repetition as much as 1 data, the language style of contention 2 data, and stylistic affirmation 1 record.
Keywords: Language Style, Comparison of Language Style
Gaya Bahasa Berita Utama Sepak Bola yang Digunakan Koran Tribun Timur dengan Koran Fajar” ini dapat diselesaikan.
Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis sadar banyak hambatan yang menghadang dalam proses penyusunan laporan ini, dikarenakan keterbatasan kemampuan penulis sendiri.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih, kepada Prof. Dr. Lukman, M.Hum. sebagai pembimbing I dan kepada Dr. H. Bahrun Amin, M.Hum. sebagai pembimbing II atas bimbingan, arahan, dan waktu yang telah diluangkan kepada penulis untuk berdiskusi.
Tak lupa pula penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd., Dr. A. Rahman Rahim, M. Hum.
yang telah memberikan masukan dan saran pada saat seminar proposal dan seminar hasil tesis, seluruh dosen Program Pascasarja Bahasa dan Sastra Indonesia serta kepada semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Dengan keterbatasan pengalaman, ilmu maupun pustaka yang ditinjau, penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan pengembangan lanjut agar benar benar bermanfaat. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran agar tesis ini lebih sempurna serta sebagai masukan bagi penulis
Makassar, Desember 2016
Suarnih
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 6
C. Tujuan Penelitian 6
D. Manfaat Penelitian 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Pustaka 7
B. Kerangka Pikir 35
BAB III METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian 36
B. Definisi Operasional
C. Batasan Penelitian 36
D. Data dan Sumber Data 38
E. Teknik Pengumpulan Data 38
F. Teknik Analisis Data 39
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kesimpulan 98
B. Saran 98
DAFTAR PUSTAKA 99
LAMPIRAN 101
RIWAYAT HIDUP 102
1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Bahasa adalah salah satu identitas sebuah bangsa, demikian juga halnya dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki dialek yang terdiri atas latar belakang etnis, budaya, dan bahasa yang berbeda beda, seperti bahasa Indonesia, dialek Batak, Jawa, dan lain- lain.
Bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia di atas dunia ini, dengan bahasa orang bisa berinteraksi dengan sesamanya karena bahasa merupakan sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Adapun bahasa dapat digunakan apabila saling memahami atau saling mengerti erat hubungannya dengan penggunaan sumber daya bahasa yang kita miliki. Kita dapat memahami maksud dan tujuan orang lain berbahasa atau berbicara apabila kita mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan.
Bahasa sebagai alat komunikasi yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa terdiri atas kata- kata atau kumpulan kata. Setiap kata mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakilinya.
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Selaku makhluk sosial yang memerlukan orang lain sebagai mitra berkomunikasi, manusia memakai dua cara berkomunikasi, yaitu verbal dan nonverbal.
Berkomunikasi secara verbal dilakukan menggunakan alat/media bahsa (lisan dan tulis), sedangkan berkomunikasi secara nonverbal dilakukan menggunakan media
berupa aneka simbol, isyarat, kode, dan bunyi seperti tanda lalu lintas,sirene setelah itu diterjemahkan kedalam bahasa manusia.
Perkembangan komunikasi saat ini sudah semakin maju.Kini orang dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapa saja. Komunikasi itu sendiri memiliki pengertian, yaitu pertukaran ide atau gagasan yang diwujudkan melalui kata-kata atau simbol. Kini banyak orang yang dapat saling bertukar pikiran dengan akses yang sangat mudah.
Dalam berkomunikasi, manusia tentunya memerlukan media komunikasi.
Media komunikasi adalah semua sarana yang dipergunakan untuk memproduksi, mereproduksi, mendistribusikan atau menyebarkan dan menyampaikan informasi.
Media komunikasi sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Proses pengiriman informasi pada era sekarang ini sangat canggih. Teknologi telekomunikasi paling dicari untuk menyampaikan atau mengirimkan informasi ataupun berita karena teknologi telekomunikasi semakin berkembang, semakin cepat, tepat, akurat, mudah, murah, efektif dan efisien. Berbagi informasi antar- benua dan negara di belahan dunia mana pun semakin mudah dengan adanya media komunikasi.
Era komunikasi cetak adalah salah satu bentuk komunikasi yang juga sangat berkembang pesat hingga sekarang. Dalam komunikasi cetak terdapat media cetak, media cetak sendiri memiliki pengertian alat perantara dari media ke masyarakat untuk menginformasikan suatu hal atau pesan dalam bentuk cetak.
Koran menjadi media cetak yang populer untuk mengetahui informasi- informasi yang terjadi dalam kehidupan manusia, biasanya ditunjukkan sebagai
kegiatan komersil dari penerbit koran yang bersangkutan. Berita dalam koran adalah sesuatu yang termasa (baru) yang dipilih oleh wartawan karena dapat menarik atau memiliki makna bagi pembaca koran, atau dapat menarik minat pembaca untuk membacanya. (Trimansyah, 2010 :34)
Menurut Kusumaningrat ( dalam Hermawan, 2010:48) Informasi suatu berita harus memperhatikan unsur layak berita yaitu:
1. Akurat, yaitu para reporter atau wartawan yang terlibat dalam berita tersebut harus memiliki kehati-hatian yang sangat tinggi dalam melakukan pekerjaannya, mengingat dampak yang luas yang ditimbulkan oleh berita yang dibuatnya. Kehati-hatian dimulai dengan cermat dalam ejaan nama, angka, tanggal dan usia, serta disiplin diri untuk melakukan periksa ulang terhadap keterangan dan fakta yang ditemuinya.
2. Lengkap, adil, dan berimbang yaitu melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi, memberikan keterangan yang lengkap, adil, dan berimbang baik berupa pernyataan maupun siapa narasumbernya.
3. Objektif, yaitu berita yang dibuatnya sesuai dengan kenyataan, tidak berat sebelah, bebas dari prasangka .
4. Ringkas dan jelas, yaitu berita dibuat haruslah dapat dicerna dengan tepat, oleh karena itu, tulisan haruslah ringkas, jelas, dan sederhana.
5. Hangat, berita haruslah selalu baru, selalu hangat dalam perbincangan.
Dalam koran terdapat berita utama yang merupakan kepala berita atau judul berita. Pada bagian inilah yang menjadi inti berita dan membuat pembaca tertarik atau tidak tertarik membaca sebuah berita. Pada berita utama, kadang-
kadang digunakan gaya bahasa tertentu untuk menarik minat seseorang membaca berita tersebut, walaupun tanpa memperhatikan tingkat pemahaman pembaca.
Beberapa fenomena penggunaan gaya bahasa dalam koran, baik dalam koran Tribun Timur maupun koran Fajar seperti contoh berikut.
Berita utama Tribun Timur
1. Sepanjang Sejarah Piala Thomas, Indonesia Belum Pernah Kalah dari Denmark di Final. Tanggal terbit, 22 Mei 2016.
Kata Sepanjang Sejarah Piala Thomas menggunakan gaya bahasa perbandingan yaitu alusi karena kata tersebut merujuk secara tidak langsung pada suatu peristiwa yang sudah diketahui bahwa tim bulutangkis putra Indonesia selalu menang ketika berhadapan dengan tim bulutangkis putra dari Denmark .
2. Babak Pertama Usai, PS TNI Ungguli PSM 1-0. Tanggal terbit, 29 Mei 2016.
Kata Ungguli menggunakan gaya bahasa perbandingan yaitu eufemisme karena kata tersebut menggantikan kata “mengalahkan” untuk menghaluskan maksud yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan, atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
3. Real Madrid Juara, Luka Modric Merasa Bersalah ke Atletico Madrid.
Tanggal terbit 29 Mei 2016.
Kata Juara menggunakan gaya bahasa pertentangan paradoks karena klub sepak bola Real Madrid menjadi juara Liga Champions 2016, tetapi salah satu pemain Real Madrid yaitu Luka Modric merasa bersalah atas kemenangan mereka melawan Atletico Madrid.
Berita utama Koran Fajar
1. Wah, Denmark Bilang Indonesia Hanya Beruntung ke Final Thomas Cup.
Tanggal terbit, Minggu 22 Mei 2016.
Kata Denmark Bilang Indonesia menggunakan gaya bahasa perbandingan yaitu sinekdok totem pro parte karena kata Denmark Bilang Indonesia Hanya Beruntung menggunakan kata yang menyatakan keseluruhan pada kata Indonesia padahal yang ditujukan hanya pemain bulu tangkis putra dari Indonesia.
2. Babak Pertama, PSM Tertinggal 1-0. Tanggal terbit, 29 Mei 2016.
Kata Tertinggal menggunakan gaya bahasa perbandingan yaitu eufemisme karena menggantikan kata Kalah 1-0 dari PS TNI .
3. Dihantui Kegagagaan Penalti, Pemain Atletico ini Menulis Surat yang Sangat Mengharukan. Tanggal Terbit 31 Mei 2016.
Kata Dihantui menggunakan gaya bahasa perbandingan yaitu hiperbola karena kata tersebut mengandung pernyataan berlebih-lebihan dari kenyataan.
Berdasarkan contoh berita utama diatas, koran Tribun Timur dan koran Fajar memiliki perbedaan gaya bahasa pada penulisan berita utama, dari segi kejujuran kata-kata pada Koran Tribun Timur lebih baku atau mengikuti kaidah- kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa sedangkan pada Koran Fajar kurang memperhatikan aturan atau kaidah-kaidah yang baik dalam berbahasa. Dari segi sopan santun lebih sopan bahasa yang digunakan Koran Tribun Timur daripada Koran Fajar Namun dari segi kemenarikan gaya bahasa yang digunakan, kata-kata pada Koran Fajar lebih menarik daripada Koran Tribun Timur.
Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti lebih lanjut tentang gaya bahasa yang digunakan oleh kedua Koran tersebut. Dengan mengangkat judul “PERBANDINGAN GAYA BAHASA BERITA UTAMA SEPAK BOLA YANG DIGUNAKAN KORAN TRIBUN TIMUR DENGAN KORAN FAJAR”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, fokus permasalahan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana perbandingan gaya bahasa pada berita utama yang digunakan dalam Koran Tribun Timur dan Koran Fajar dengan tema khusus olahraga sepak bola ?
2. Gaya bahasa apakah yang lebih dominan pada berita utama Koran Tribun Timur dan Koran Fajar dengan tema khusus olahraga sepak bola?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini untuk : 1. Mengungkap perbandingan gaya bahasa pada berita utama yang digunakan
dalam Koran Tribun Timur dan Koran Fajar dengan tema khusus olahraga sepak bola.
2. Mengungkap gaya bahasa yang lebih dominan digunakan pada berita utama Koran Tribun timur dan Koran Fajar dengan tema khusus olahraga sepak bola.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini mudah–mudahan dapat bermanfaat bagi peneliti sendiri, maupun bagi para pembaca atau pihak–pihak lain yang berkepentingan.
1. Manfaat akademis
Penelitian ini erat hubungannya dengan mata kuliah Bahasa Indonesia, dan mata kuliah Ilmu Komunikasi sehingga dengan melakukan penelitian ini diharapkan penulis dan semua pihak yang berkepentingan dapat lebih memahaminya.
2. Manfaat dalam implementasi atau praktik
Penelitian ini memfokuskan kepada perusahaan pembuatan Koran sebagai objek penelitian sehingga diharapkan para pengambil kebijakan dalam penerbitan atau pembuatan Koran Fajar dan Tribun Timur maupun pihak – pihak lain yang berkepentingan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
7
TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat Perbandingan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia perbandingan bersangkutan dengan kata banding, pembanding membanding, membandingkan, dan pembanding.
Banding merupakan persamaan atau mengimbankan antara objek yang satu dengan yang lainnya. Pembanding merupakan orang yang melakukan banding antara objek yang satu dengan yang lainnya. Membanding merupakan memberi imbangan; mengimbangi. Pembanding merupakan proses, cara, perbuatan membandingkan dan perbandingan adalah perbedaan (selisih) kesamaan antara objek yang satu dengan yang lain, perbandingan ini bertujuan untuk melihat keungggulan objek yang diteliti.
Dalam kamus tesaurus perbandingan sama halnya analogi, ibarat, kesetaraan, kesetimpalan, komparasi, nisbah, parameter, patokan, pedoman, perbedaan, perimbangan, perpadanan, perpaduan, persamaan, pertimbangan, perumpamaan, proporsi, rasio, skala, tolok ukur.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perbandingan merupakan pertimbangan, perumpamaan perimbangan yang akan dibandingkan dengan pembandingan objek tertentu, seperti dalam penelitian ini yang akan membandingkan dua Koran yang berada di Kota Makassar.
2. Pengertian gaya bahasa
Gaya bahasa sering dianggap sebagai sinonim dari Majas, namun sebenarnya majas termasuk dalam gaya bahasa. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu, oleh orang tertentu, untuk tujuan tertentu. Pemakaian gaya bahasa yang tepat (sesuai dengan waktu dan penerima yang menjadisasaran) dapat menarik perhatian penerima. Sebaliknya, bila penggunaannya tidak tepat, maka penggunaan gaya bahasa akan sia-sia belaka, bahkan mengganggu pembaca.
Berikut ini akan diutarakan pengertian gaya bahasa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gaya bahasa atau majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. Dengan kata lain, gaya bahasa atau majas adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan atau lisan. Kekhasan dari gaya bahasa ini terletak pada pemilihan kata-katanya yang tidak secara langsung menyatakan makna yang sebenarnya.
Menurut Tarigan yang dikutip oleh Fajrul Islam dalam blognya bahwa majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis.
Menurut Keraf (2007:35), sebuah majas dikatakan baik bila mengandung tiga dasar, yaitu: kejujuran,sopan santun, dan menarik.
a. Kejujuran
Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah- kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa.Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Pembicara atau penulis tidak menyampaikan isi pikirannya secara terus terang; seolah-olah ia menyembunyikan pikirannya itu di balik rangkaian kata-kata yang kabur dan jaringan kalimat yang berbelit-belit tidak menentu. Ia hanya mengelabui pendengar atau pembaca dengan mempergunakan kata-kata yang kabur dan “hebat”, hanya agar bisa tampak lebih intelek atau lebih dalam pengetahuannya. Di pihak lain, pemakai bahasa yang berbelit-belit menandakan bahwa pembicara atau penulis tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia mencoba menyembunyikan kekurangannya di balik berondongan kata-kata hampa. Bahasa adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul.Oleh sebab itu, bahasa harus digunakan pula tepat dengan memperhatikan sendi kejujuran.
b. Sopan santun
Pengertian sopan santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara jelas berarti tidak membuat pembaca atau pendengar memeras keringat untuk mencari apa yang ditulis atau dikatakan. Di samping itu, pembaca atau pendengar tidak perlu membuang-buang waktu untuk mendengar atau membaca sesuatu secara panjang lebar, kalau hal itu diungkapkan dalam beberapa
rangkaian kata. Kejelasan dengan demikian akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu:
a) kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat;
b) kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat tadi;
c) kejelasan dalam pengurutan ide secara logis;
d) kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan.
Kesingkatan sering jauh lebih efektif daripada jalinan yang berliku- liku.Kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efisien, meniadakan penggunaan dua kata atau lebih yang bersinonim secara longgar, menghindari tautology; atau mengadakan repertisi yang tidak perlu.
c. Menarik
Sebuah gaya yang menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik,tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi). Penggunaanvariasi akan menghindari monotoni dalam nada, struktur, dan pilihan kata. Untuk itu, seorang penulis perlu memiliki kekayaan dalam kosa kata, memiliki kemauan untuk mengubah panjang-pendeknya kalimat, dan struktur-struktur morfologis. Humor yang sehat berarti gaya bahasa itu mengandung tenaga untuk menciptakan rasa gembira dan nikmat. Vitalitas dan daya khayal adalah pembawaan yang berangsur-angsur dikembangkan melalui pendidikan, latihan, dan pengalaman.
Atmazaki (2005:08), mengemukakan “gaya bahasa naratif merupakan bentuk-bentuk ungkapan yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan ceritanya.penggunaan gaya bahasa dalam mengungkapan ide atau tema yang diajukan dalam karya sastra dapat beragam dari pengarang yang satu kepada pengarang yang lain”.
Menurut Muhardi dan Hasanuddin , (2006:43-45) Gaya bahasa menyangkut kemahiran mengarang mempergunakan bahasa sebagai medium fiksi. Penggunaan bahasa tulis dengan segala kelebihan dan kekurangannya harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pengarang.Penggunaan bahasa harus relevan dan menunjang permasalahan-permasalahan yang hendak dikemukakan; harus serasi dengan teknik-teknik yang digunakan; dan harus tepat menggunakan alur, penokohan, latar, tema dan amanat. Penggunaan gaya bahasa oleh pengarang yang langsung jadi narrator akan memberi petunjuk suasana, waktu dan tempat.
Keraf (2007, 112-113) mengungkapkan bahwa gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin yaitu stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.
Karena perkembangan itu gaya bahasa meliputi semua yang berhubungan dengan kebahasaan. Walaupun style berasal dari bahasa Latin, orang Yunani sudah mengembangkan sendiri teori-teori mengenai style itu. Ada dua aliran yang terkenal, yaitu :
a) Platonik : menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan;
menurut mereka ada ungkapan yang memiliki style, ada yang tidak memiliki style.
b) Aristoteles : menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang inheren, yang ada dalam setiap ungkapan.
Meilany (2009: 62) mengungkapkan bahwa majas dan peribahasa itu termasuk dalam gaya bahasa dan gaya bahasa itu adalah cara khas menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah gaya bahasa ditekankan pada keahlian untuk menulis indah dan unik.gaya bahasa yang digunakan seseorang bertujuan untuk mengungkapkan pikiran yang dapat mencerminkan jiwa dan kepribadian pengarang. Walaupun banyak defenisi gaya bahasa, tetapi dalam penelitian ini fokus penelitiannya hanya majas saja.
2.1.3Jenis-Jenis Gaya Bahasa
Keraf (2007: 124-145) membagi gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yang meliputi: 1) klimaks; 2) antiklimaks; 3) paralelisme; 4) antitesis;
dan 5) repetisi (epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanolepsis, dan anadiplosis). Kemudianberdasarkan langsung tidaknya makna, meliputi: 1) gaya bahasa retoris terdiri dari aliterasi, asonansi, anastrofa, apofasis (preterisiso), apostrof, asindenton, polisindenton, kiasmus, elipsis, eufemisme, litotes, histeron prosteron, pleonasme dan tautologi, perifrasis, prolepsis, erotesis, silepsis dan zeugma, koreksio, hiperbola, paradoks dan oksimoron; 2) gaya bahasa kiasan, meliputi persamaan atau simile, metafora, alegori, parabel, fabel, personifikasi, alusi, eponim, epitet, sinekdok, metonimia, antonomasia, hipalase, ironi, sinisme dan sarkasme, satire, innuendo, dan antifrasis. Berbeda dengan Perrin (Tarigan, 1995: 141) membedakan gaya bahasa menjadi tiga yaitu:
1) perbandingan, yang meliputi metafora, kesamaan, dan analogi;
2) hubungan, yang meliputi metonimia dan sinekdok;
3) pernyataan, yang meliputi hiperbola, litotes, dan ironi.
Sementara itu Nurdin, dkk.(2004: 21-30) berpendapat:
Gaya bahasa dibagi menjadi lima golongan, yaitu: 1) gaya bahasa penegasan, yang meliputi repetisi dan paralelisme; 2) gaya bahasa perbandingan, yang meliputi hiperbola, metonimia, personifikasi, perumpamaan, metafora, sinekdok, alusi, simile, asosiasi, eufemisme, pars pro toto, epitet, eponim, dan
hipalase; 3) gaya bahasa pertentangan, mencakup paradoks, antitesis, litotes, oksimoron, histeron prosteron, dan okupasi; 4) gaya bahasa sindiran, yang meliputi ironi, sinisme, innuendo, melosis, sarkasme, satire, dan antifrasis; 5) gaya bahasa perulangan, yang meliputi aliterasi, atnaklasis, anafor, anadiplosis, asonansi, simploke, mesodiplosis, epanolepsis, dan epizeuksis.
Meilany membagi gaya bahasa menjadi lima kelompok yaitu: 1) gaya bahasa perbandingan, meliputi: hiperbola, metonimia, personifikasi, metafora, sinekdok, alusi, simile, asosiasi, eufemisme, pars pro toto, epitet, eponim, dan hipalase; 2) gaya bahasa perulangan, meliputi: aliterasi, anafora, anadiplosis, mesodiplosis, epanolipsis, dan epizeuksis; 3) gaya bahasa sindiran, meliputi:
ironi, sinisme, innuendo, sarkasme, satire, dan antifrasis; 4) gaya bahasa pertentangan, meliputi: paradoks, antitesis, litotes, oksimoron, dan histeron prosteron; 5) gaya bahasa penegasan, meliputi: repetisi dan paralelisme.
Adapun penjelasan masing-masing gaya bahasa di atas adalah sebagai berikut.
1) Gaya bahasa perbandingan
Pradopo (1997: 62) berpendapat bahwa gaya bahasa perbandingan ialah gaya bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata perbandingan seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, seumpama, laksana, sepantun, penak, dan kata-kata perbandingan yang lain. Gaya bahasa perbandingan meliputi: hiperbola, metonimia, personifikasi, perumpamaan, metafora, sinekdok, alusi, asosiasi, eufemisme, pars pro toto, epitet, eponim, dan hipalase.
a. Hiperbola
Keraf (2007: 141) menyatakan bahwa hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa hiperbola. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan dari kenyataan. Contoh:
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku.
b. Metonimia
Nurdin, dkk. (2004: 23) berpendapat bahwa metonimia adalah gaya bahasa penamaan terhadap suatu benda dengan mempergunakan nama pabrik, merek dagang, nama penemu, nama jenis, dan lain-lain. Keraf (2007: 141) menyatakan bahwa metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa metonimia.
Metonimia adalah penamaan terhadap suatu benda dengan mempergunakan nama yang sudah terkenal atau melekat pada suatu benda tersebut. Contoh:
Ia membeli sebuah chevrolet.
c. Personifikasi
Personifikasi merupakan gaya bahasa yang menganggap benda mati sebagai manusia (dalam Learning Central, 2004: 1).
Sementara itu Pradopo (1997: 75) berpendapat bahwa personifikasi adalah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia, benda- benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir, dan sebagainya seperti manusia. Keraf (2007: 142) personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa personifiksi. Personifikasi adalah gaya bahasa yang mempersamakan benda-benda mati seolah-olah dapat hidup atau mempunyai sifat kemanusiaan. Contoh: Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami.
d. Metafora
Metafora adalah gaya bahasa yang memperbandingkan benda dengan benda lain yang mempunyai sifat sama (dalam Learning Central, 2004: 1). Secara lengkap Nurdin, dkk.(2004: 24) memberikan pengertian tentang metafora sebagai gaya bahasa perbandingan atau analogi dengan membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dengan cara singkat dan padat.
Contoh:
Pemuda adalah bunga bangsa.
e. Sinekdok
Nurdin, dkk.(2004: 24) menyatakan sinekdok adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk
menyatakan sebagian.Sejalan dengan pendapat tersebut, Keraf (2007:
142) berpendapat bahwa sinekdok adalah semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian.
Secara lebih singkat Yandianto (2004: 145) mengelompokkan sinekdok menjadi dua, yaitu pars pro toto, yang menyatakan sebagian untuk seluruh, dan totem pro parte, yang menyatakan umum menjadi khusus, dalam hal ini artinya menyempit. Hal ini juga sesuai pendapat dari Meilany ( 2009: 71-72) hanya saja meilany memasukkan sinekdok kedalam majas pertautan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai sinekdok. Sinekdok adalah gaya bahasa yang menggunakan nama sebagian untuk seluruhnya atau sebaliknya, menggunakan nama seluruh untuk sebagian. Contoh: Setiap kepala dikenakan sumbangansebesar Rp 1.000,00. Dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3-4.
f. Alusi
Nurdin, dkk. (2004: 24) berpendapat bahwa alusi adalah gaya bahasa yang merujuk secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa yang sudah diketahui. Keraf (2007: 142) menyatakan bahwa alusi adalah semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang,
tempat, atau peristiwa. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa alusi. Alusi adalah gaya bahasa yang merujuk sesuatu secara tidak langsung kesamaan antara orang, peristiwa, atau tempat. Contoh: Kartini kecil itu turut memperjuangkan persamaan haknya.
g. Asosiasi
Nurdin, dkk.(2004: 24) berpendapat bahwa asosiasi adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskan. Masih dalam pengertian yang sama Yandianto (2004: 142) berpendapat asosiasi adalah memperbandingkan suatu benda terhadap benda lain sehingga membawa asosiasi benda yang diperbandingkan, dengan demikian sifat benda pertama lebih jelas.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa asosiasi. Asosiasi adalah gaya bahasa yang berusaha membandingkan sesuatu dengan hal lain yang sesuai dengan keadaan yang digambarkan. Contoh: Rambutnya bagai mayang terurai.
h. Eufemisme
Nurdin, dkk.(2004: 25) berpendapat bahwa eufemisme adalah gaya bahasa perbandingan yang bersifat menggantikan satu pengertian dengan kata lain yang hampir sama untuk menghaluskan maksud.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Keraf (2007: 132) menyatakan bahwa eufemisme yakni semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak
menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan, atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.bahwa eufemismus adalah wacana yang dituturkan dengan maksud halus sehingga mengaburkan makna aslinya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa eufemisme. Eufemisme adalah gaya bahasa yang berusaha menggunakan ungkapan-ungkapan lain dengan maksud memperhalus. Contoh: Ayahnya sudah tak ada di tengah-tengah mereka (= mati)..
i. Epitet
Nurdin, dkk.(2004: 25) berpendapat bahwa epitet adalah gaya bahasa berwujud seseorang atau sesuatu benda tertentu sehingga namanya dipakai untuk menyatakan sifat itu. Sementara itu Keraf (2007:
141) menyatakan bahwa epitet adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa epitet. Epitet adalah gaya bahasa acuan yang menjadi suatu ciri dari seseorang atau sesuatu hal. Contoh: Lonceng pagi untuk ayam jantan.
j. Eponim
Nurdin, dkk.(2004: 25) berpendapat bahwa eponim adalah gaya bahasa yang dipergunakan seseorang untuk menyebutkan sesuatu hal atau nama dengan menghubungkannya dengan sesuatu berdasarkan sifatnya. Sejalan dengan pendapat tersebut, Keraf (2007: 141) menyatakan bahwa eponim adalah suatu gaya bahasa di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa eponim. Eponim adalah pemakaian nama seseorang yang dihubungkan berdasarkan sifat yang sudah melekat padanya. Contoh: Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan.
k. Hipalase
Nurdin, dkk.(2004: 25) hipalase adalah gaya bahasa yang menggunakan kata tertentu untuk menerangkan sesuatu, namun kata tersebut tidak tepat bagi kata yang diterangkannya. Keraf (2007: 142) berpendapat bahwa hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa hipalase. Hipalase merupakan gaya bahasa yang menerangkan sebuah kata tetapi sebenarnya kata tersebut untuk menjelaskan kata yang lain. Contoh:
Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah. (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya).
l. Simile
Keraf (2002: 139) mendefinisikan simile adalah perbandingan yang bersifat secara langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Kata- kata yang biasanya digunakan antara lain: seperti, bagaikan, laksana, sama, dan sebagainya.
Sementara itu, Bakar (2003: 1) menyatakan simile adalah perbandingan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang dibuat secara langsung melalui penggunaan kata-kata tertentu, misalnya: bak, bagaikan, laksana, ibarat, seperti, umpama, serupa, dan semacamnya. Contohnya: Bibirnya seperti delima merekah.
2) Gaya bahasa perulangan
Nurdin, dkk.(2004: 24) berpendapat bahwa gaya bahasa perulangan adalah gaya bahasa yang mengulang kata demi kata, entah itu yang diulang pada bagian depan, tengah, atau akhir sebuah kalimat. Gaya bahasa perulangan meliputi:
aliterasi, anafora, anadiplosis, mesodiplosis, epanolipsis, epizeuksis.
a. Aliterasi
Nurdin, dkk.(2004: 28) berpendapat bahwa aliterasi adalah gaya bahasa yang memanfaatkan kata-kata yang permulaannya sama bunyinya. Daud (1998:
3) secara lengkap memberikan definisi aliterasi merupakan pengulangan bunyi konsonan awal yang sama atau bunyi vokal yang berturut-turut atau pengulangan perkataan atau suku kata yang berhampiran. Keraf (2007: 138) menyatakan bahwa aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa aliterasi. Aliterasi adalah gaya bahasa yang mengulang kata pertama yang diulang lagi pada kata berikutnya. Contoh: Takut titik lalu tumpah.
b) Anafora
Nurdin, dkk. (2004: 28) berpendapat bahwa anafora adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan kata pertama dari kalimat pertama menjadi kata pertama dalam kalimat berikutnya. Secara lebih lengkap Daud (1988: 3) menyatakan anafora ialah pengucapan (perkataan atau perkataan-perkataan) yang sama diulang-ulang pada permulaan dua kata atau lebih baris, ayat atau ungkapan. Keraf (2007: 128) menyatakan bahwa anafora adalah perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa anafora. Anafora adalah perulangan kata pertama yang sama pada kalimat berikutnya. Contoh: Bahasa yangbaku pertama-pertama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh bawah sadar pamakai bahasa Indonesia, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara.
Bahasa yang baku itu akan mengakibatkan selingan bentuk yang sekecil-
kecilnya.
c) Epanolepsis
Nurdin, dkk. (2004: 30) berpendapat bahwa epanolepsis adalah gaya bahasa repetisi kata terakhir pada akhir kalimat atau klausa. Kemudian
menurut Keraf (2007: 128) yang dimaksud epanolepsis adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kalimat pertama.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa epanolepsis. Epanolepsis adalah pengulangan kata pertama untuk ditempatkan pada akhir baris dari suatu kalimat. Contoh: Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
d) Anadiplosis
Nurdin, dkk.2004: 28) berpendapat bahwa anadiplosis adalah gaya bahasa yang selalu mengulang kata terakhir atau frasa terakhir dalam suatu kalimat atau frasa pertama dari klausa dalam kalimat berikutnya. Sementara itu, menurut Keraf (2007: 128) anadiplosis adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa anadiplosis. Anadiplosis adalah gaya bahasa yang mengulang kata pertama dari suatu kalimat menjadi kata terakhir. Contoh: Dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara.
e) Mesodiplosis
Nurdin, dkk. (2004: 29) berpendapat bahwa mesodiplosis adalah gaya bahasa yang menggunakan pengulangan di tengah-tengah baris atau kalimat secara berurutan. Keraf (2007: 128) mesodiplosis adalah perulangan di tengah-tengah baris atau beberapa kalimat berurutan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa mesodiplosis. Mesodiplosis adalah gaya bahasa repetisi yang mengulang kata di tengah-tengah baris atau kalimat. Contoh: Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon. Para pembesar jangan mencuri bensin.
f) Epizeuksis
Nurdin, dkk. (2004: 30) berpendapat bahwa epizeuksis adalah gaya bahasa repetisi yang bersifat langsung dari kata-kata yang dipentingkan dan diulang beberapa kali sebagai penegasan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Keraf (2007: 127) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata-kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa epizeuksis. Epizeuksis adalah pengulangan kata yang langsung secara berturut-turut untuk menegaskan maksud. Contoh: Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita.
3) Gaya bahasa sindiran, meliputi: sinisme, innuendo, sarkasme, satire, dan antifrasis.
a) Sinisme
Keraf (2007: 143) berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sebagai suatu sindiran yng berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sementara itu menurut Nurdin, dkk. (2004: 27) berpendapat bahwa sinisme adalah gaya bahasa sindiran yang cara pengungkapannya lebih kasar. Secara lebih lengkap Yandianto
(2004: 148) mendefinisikan sinisme sebagai gaya bahasa yang hampir sama dengan ironi, hanya dalam sinisme nada suara atau ungkapannya agak lebih kasar, tujuannya untuk menyindir.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa sinisme. Sinisme adalah gaya bahasa yang bertujuan menyindir sesuatu secara kasar. Contoh: Harum benar badanmu.
(padahal bau busuk karena belum mandi, atau karena bau badannya yang memang busuk)
b) Innuendo
Keraf (2007: 144) berpendapat bahwa innuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Kemudian menurut pendapat Nurdin, dkk. (2004: 27) innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengecilkan maksud yang sebenarnya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa innuendo. Innuendo adalah gaya bahasa sindiran yang mengungkapkan kenyataan lebih kecil dari yang sebenarnya. Contoh:
Ia menjadi kaya raya karena sedikit mengadakan komersialisasi jabatannya.
c) Sarkasme
Sarkasme adalah mengejek dengan kasar (dalam Learning Central, 2004: 2).Nurdin, dkk. (2004: 27) berpendapat sarkasme adalah gaya bahasa yang sindirannya paling kasar dalam penggunaannya. Secara lebih lengkap Yandianto (2004: 148) menyatakan sarkasme adalah gaya bahasa yang tidak
lagi merupakan sindiran, tetapi lebih berbentuk luapan emosi orang yang sedang marah, oleh karena itu kata yang dipergunakan biasanya kasar dan tak terdengar tidak sopan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa sarkasme. Gaya bahasa sarkasme adalah penyindiran dengan menggunakan kata-kata kasar. Contoh: Kelakuannya memuakkan saya.
d) Satire
Nurdin, dkk. (2004: 28) berpendapat bahwa satire adalah gaya bahasa yang berbentuk penolakan dan mengandung kritikan dengan maksud agar sesuatu yang salah itu dicari kebenarannya. Sementara itu, menurut Keraf (2007: 144) satire adalah ungkapan yang menertawakan sesuatu.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa satire. Satire adalah gaya bahasa yang menolak sesuatu untuk mencari kebenarannya sebagai suatu sindiran. Contoh: Sekilas tampangnya seperti anak berandalan, tapi kita jangan langsung menuduhnya, jangan melihat dari penampilan luarnya saja.
e) Antifrasis
Nurdin, dkk.(2004: 28) berpendapat bahwa antifrasis adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang bermakna kebalikannya dan bernada ironis. Sementara itu, Keraf (2007: 144) menjelaskan bahwa antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap ironi sendiri, atau kata- kata yang dipakai menangkal kejahatan, roh jahat, dan sebagainya.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa antifrasis. Antifrasis adalah gaya bahasa dengan kata-kata yang bermakna kebalikannya dengan tujuan menyindir. Contoh: Lihatlah si raksasa telah tiba.
(maksudnya si cebol) 4) Gaya bahasa pertentangan
Gaya bahasa pertentangan adalah gaya bahasa yang maknanya bertentangan dengan kata-kata yang ada. Menurut Nurdin, dkk. (2004: 26) gaya bahasa pertentangan meliputi: paradoks, antitesis, litotes, oksimoron, dan histeron prosteron.
a) Paradoks
Paradoks adalah gaya bahasa yang menunjukkan seolah-olah bertentangan padahal tidak (dalam Learning Central, 2004: 2). Sementara itu, Nurdin, dkk.(2004: 26) menyatakan bahwa paradoks adalah gaya bahasa yang bertentangan dalam satu kalimat. Keraf (2007: 144) menyatakan bahwa paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa paradoks. Paradoks adalah gaya bahasa yang kata- katanya mengandung pertentangan dengan fakta yang ada. Contoh: Musuh sering merupakan kawan akrab.
b) Antitesis
Antitesis adalah penyebutan kata yang berlawanan (dalam Learning Central, 2004: 3). Sementara itu, Nurdin, dkk. (2004: 26)
berpendapat bahwa antitesis adalah gaya bahasa yang menggunakan paduan kata yang artinya bertentangan. Secara lebih lengkap Yandianto (2004: 147) menyatakan antitesis adalah gaya bahasa yang mempergunakan paduan kata yang berlawanan makna.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa antitesis. Antitesis adalah gaya bahasa yang kata- katanya merupakan dua hal yang bertentangan. Contoh: Sukaduka kita akan bersama.
c) Litotes
Litotes adalah teknik bahasa untuk memperkecil/memperhalus (dalam Learning Central, 2004: 1). Masih dalam pengertian yang sama Keraf (2007:
132) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan litotes yakni semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Secara lebih lengkap Nurdin, dkk. (2004: 26) berpendapat bahwa litotes adalah gaya bahasa yang ditujukan untuk mengurangi atau mengecilkan kenyataan yang sebenarnya, tujuannya untuk merendahkan diri.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa litotes adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikurangi (dikecilkan dari makna yang sebenarnya). Contoh:
Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.
d) Oksimoron
Oksimoron adalah sesuatu yang membuat pembaca/pendengar terpikat (dalam Learning Central, 2004: 2).Sementara itu, Nurdin, dkk. (2004: 26)
menjelaskan bahwa oksimoron adalah gaya bahasa yang antara bagian- bagiannya menyatakan sesuatu yang bertentangan. Masih dalam pengertian yang sama Keraf (2007: 136) menyatakan oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa oksimoron. Oksimoron adalah gaya bahasa yang menyatakan dua hal yang bagian-bagiannya saling bertentangan. Contoh: Keramah-tamahan yang bengis.
e) Histeron prosteron
Keraf (2007: 136) berpendapat bahwa histeron prosteron yakni semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Nurdin, dkk. (2004: 26) berpendapat bahwa histeron prosteron adalah gaya bahasa yang berwujud kebalikan dari sesuatu yang logis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa histeron prosteron. Histeron prosteron adalah gaya bahasa yang menyatakan makna kebalikannya yang dianggap bertentangan dengan kenyatan yang ada. Contoh: Jendela ini telahmemberi sebuah kamar padamu untuk dapat berteduh dengan tenang.
5) Gaya bahasa penegasan
Gaya bahasa penegasan adalah gaya bahasa yang mengulang kata- katanya dalam satu baris kalimat. Nurdin, dkk. (2004: 22) membagi gaya bahasa penegasan menjadi dua, yaitu: repetisi dan paralelisme.
a) Repetisi
Repetisi adalah penyebutan baik kata maupun kalimat diulang- ulang (dalam Learning Central, 2004: 2). Sementara itu Keraf (2007: 127) berpendapat bahwa repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Masih dalam pengertian yang sama Nurdin, dkk. (2004: 22) repetisi adalah gaya bahasa penegasan yang mengulang- ulang suatu kata secara berturut-turut dalam suatu kalimat atau wacana.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa repetisi. Repetisi adalah gaya bahasa yang mengulang kata-kata sebagai suatu penegasan terhadap maksudnya.
Contoh: Maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergibersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam?
b) Paralelisme
Keraf (2007: 127) berpendapat bahwa paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat
yang sama. Sementara itu, Nurdin, dkk. (2004: 22-23) paralelisme adalah gaya bahasa pengulangan seperti repetisi yang khusus terdapat dalam puisi, terdiri dari anafora (pengulangan pada awal kalimat) dan epidofora (pengulangan pada akhir kalimat).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan mengenai gaya bahasa paralelisme. Paralelisme adalah gaya bahasa yang mengulang kata atau yang menduduki fungsi gramatikal yang sama untuk mencapai suatu kesejajaran. Contoh: Sangat ironiskedengaran bahwa ia menderita kelaparan dlam sebuah daerah yang subur dan kaya serta mati terbubuh dalam sebuah negeri yang sudah ratusan hidup dalam ketentraman dan kedamaian.
2.14 Pengertian Berita Utama
Salah satu bagian penting dalam pemberitaan adalah berita utama atau kerap dikenal dengan kepala berita. Dengan letak strategis ditambah lagi penekanan-penekanan tertentu, berita utama maka dapat menjadi santapan awal bagi khalayak media massa, bahkan berita utama sering menjadi indikator penilaian tentang topik-topik yang dianggap penting. Bukan saja yang bersinggungan dengan politik struktural tapi juga yang sifatnya sensasional, atau yang kerap disebut jurnalisme “kuning”. Proses penentuan berita utama diangkat dari berita yang dianggap paling penting untuk diketahui oleh masyarakat, serta isu-isu yang menonjol yang memiliki daya tarik dan mengundang minat masyarakat untuk membaca berita tersebut, tentunya dengan memperhatikan
kepentingan pembaca akan nilai berita tersebut. Proses penentuan berita utamaerat hubungannya dengan kebijakan redaksi suatu perusahaan pers. Sepertidiyakini banyak pemikir komunikasi, media massa mempunyai kemampuan dalam memberi penekanan khusus pada isu-isu tertentu, sehingga isu yang dianggap penting bagi media menjadi penting bagi masyarakat. (Santoso dan Setiansyah, 2010:89).
Secara sederhana berita utama didefinisikan sebagai kepala berita atau judul berita. Di bagian inilah sari berita akan ditampilkan. Bagian ini pula yang akan membuat seorang pembaca berhenti dan membaca berita yang bersangkutan atau akan melewatinya begitu saja. berita utama yang bagus adalah yang mampu membuat orang tertarik dan penasaran membaca beritanya hingga tuntas. Di samping itu ada pula pengertian berita utama yang lain yaitu berita-berita menarik yang dijadikan topik utama dan dipasang di halaman depan pada media massa koran.
Djunaedy (1990:29) mendefinisikan berita utama sebagai suatu berita yang dianggap paling layak untuk dimuat di halaman depan, dengan judul yang menarik perhatian dan menggunakan tipe huruf lebih besar dari suatu surat kabar.
Menurut kamus TI Online, berita utama adalah Informasi utama yang ingin disampaikan, biasanya diberikan ciri khusus agar mudah terlihat dan terbaca.Misalnya tulisan dicetak tebal dengan ukuran font yang besar dan menarik. Headline dapat ditemui pada media iklan ataupun informasi diantaranya poster, koran, majalah ataupun tabloid.
Menurut Anneahira dalam blognya, headline merupakan kepala berita atau judul berita.Dibagian inilah yang menjadi sari berita dan membuat pembaca meneruskan membaca berita atau berhenti membaca berita dan melangkah ke berita lainnya.
Menurut Basuki 1993:22-25 berita utama biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul.Ia berguna untuk: (1) menolong pembaca agar segera mengetahui peristiwa yang akan diberitakan; (2) menonjolkan satu berita dengan dukungan teknik grafika.
B. Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian sebelumnya yang dinilai relevan antara lain:
1. Kusumawati (2010) dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Pemakaian Gaya Bahasa pada Iklan Produk Kecantikan Perawatan Kulit Wajah di Televisi” Dalam penelitiannya tersebut kusuma menyimpulkan bahwa:
Pemakaian gaya bahasa yang digunakan dalam iklan produk kecantikan perawatan kulit wajah di televisi meliputi gaya bahasa: a) personifikasi; b) pertanyaan retoris; c) mesodiplosis; d) anafora; e) klimaks; f) koreksio;
g) aliterasi; h) asindenton; i) epistrofa; j) antiklimaks; k) repetisi; l) asonansi;
anadiplosis; dan n) erotesis. Gaya bahasa yang paling banyak digunakan dalam penayangan iklan tersebut adalah gaya bahasa anafora. Anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Penggunaan gaya bahasa anafora bermaksud menekankan atas
produk yang ditawarkan sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk mengingatnya, hingga akhirnya membeli produk tersebut.
2. Triyatmi dalam penetian berjudul “Kajian Gaya Bahasa dalam Kain Rentang Kampanye Pemilu 2004” penelitian ini disimpulkan: 1) Gaya bahasa yang digunakan dalam kain rentang kampanye 2004, baik kampanye legislative, calon presiden, dan calon wakil presiden sebagai berikut: a) Empat jenis gaya bahasa yang digunakan: (1) Gaya bahasa perbandingan meliputi eufemisme, epitet, hiperbola, simile, personifikasi, sinekdoke, dan asosiasi; (2) Gaya bahasa perulangan, meliputi anaphora dan aliterasi;
(3) Gaya Bahasa sindiran (satire); (4) Gaya bahasa pertentangan (oksimoron).
b) Tidak ditemukan gaya bahasa penegasan. c) Gaya bahasa yang sering digunakan dalam kain rentang kampanye 2004 adalah eufemisme dan epitet. 2) Alasan penggunaan gaya bahasa pada kain rentang kampanye 2004, yaitu: a) Penyesuaiaan konsep yang menjadi dasar penulisan kain rentang oleh masing-masing tim sukses partai; b) Kain rentang yang dibuat merupakan salah satu media publikasi yang digunakan untuk sosialisasi program kerja partai yang bersangkutan; c) Bahasa yang sederhana, simpatik, dan meyakinkan merupakan media yang mudah diingat dan menarik perhatian massa calon pemilih.
Dari contoh skripsi diatas memiliki kesamaan yaitu menganalisis gaya bahasa, peneliti berusaha mempelajari serta membedakan bahwa skripsi yang peneliti buat adalah relevan sehingga pantas untuk diterbitkan karena tidak mengandung unsur plagiat.
C. Kerangka Pikir
Penelitian ini dilandasi oleh teori-teori mengenai gaya bahasa. Landaasan berfikir yang dimaksud tersebut akan mengarah peneliti menentukan data informasi dari penelitian ini guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan, akan diuraikan secara rinci landasan berfikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian, yakni perbandingan gaya bahasa pada headline yang digunakan Koran Tribun Timur dengan Koran Fajar. Untuk lebih jelasnya proses pengungkapan variable penelitian dapat dilihat pada bagan kerangka pikir berikut.
Berita utama Tribun Timur
dengan Fajar
Gaya bahasa
Perulangan Penegasan
Perbandingan gaya
Perbandingan Sindiran Pertentangan
36
METODE PENELITIAN
Sesuai dengan karakteristik objek penelitian, maka penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan objektif, yang tidak mempertimbangkan unsur luar dari koran, melainkan hanya otonomi dari Koran tersebut. Metode tersebut digunakan bertujuan memberi gambaran secara tepat perbandingan gaya bahasa pada headline yang digunakan Koran Tribun Timur dengan Koran Fajar dan gaya bahasa apakah yang lebih dominan pada headline kedua Koran tersebut.
A. Desain Penelitian
Untuk mengungkap fokus di atas, dilakukan serangkaian penelitian dengan rancangan atau desain sbb:
1. Pengidentifikasian masalah yang berkaitan dengan penelitian.
2. Menelaah studi kepustakaan yang relevan dengan masalah.
3. Analisis dan penyajian data.
B. Definisi Operasional
Definisi operasional pada hakikatnya adalah pendefinisian aspek dalam bentuk yang dapat diukur, lebih lugas dan tidak menimbulkan bias atau membingungkan. Definisi operasional digunakan untuk menghindari agar tidak terjadi penafsiran ganda terhadap istilah-istilah yang peneliti gunakan dalam penelitian ini, sehingga hal yang dimaksudkan dalam penelitian ini menjadi jelas dan dapat mencapai sasaran yang diinginkan oleh peneliti, yaitu:
1. Berita utama adalah kepala berita atau judul berita pada koran.
2. Gaya bahasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah majas yaitu cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan atau lisan.
Kekhasan dari gaya bahasa ini terletak pada pemilihan kata-katanya yang tidak secara langsung menyatakan makna yang sebenarnya.
3. Gaya bahasa atau majas yang dalam penelitian ini yaitu semua gaya bahasa yang dibagi dalam lima kelompok : 1). Perbandingan, 2). Perulangan, 3).
Sindiran. 4). Pertentangan. 5). Penegasan.
C. Batasan Penelitian
Pembahasan Batasan Masalah dalam penelitian ini bertujuan untuk membatasi pembahasan pada pokok permasalahan penelitian saja. Ruang lingkup menentukan konsep utama dari permasalahan sehingga masalah-masalah dalam penelitian dapat dimengerti dengan mudah dan baik. Dalam penelitian ini peneliti melakukan batasan dalam melakukan penelitian terdapat dua variable.
Batasan Masalah penelitian sangat penting dalam mendekatkan pada pokok permasalahan yang akan dibahas. Hal ini agar tidak terjadi kerancuan ataupun kesimpangsiuran dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Ruang lingkup penelitian dimaksudkan sebagai penegasan mengenai batasan-batasan objek.
Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu:
1) Variabel Independen (bebas) adalah gaya bahasa, Koran Tribun Timur dan Koran Fajar.
2) Sampel yang dijadikan objek penelitian adalah seluruh berita pada Koran Tribun Timur dan Koran Fajar khusus bertema olahraga sepak bola edisi mei 2016.
D. Data dan Sumber Data 1. Data
Data dalam penelitian ini adalah berita utama Koran Tribun Timurdan Koran Fajar yang menggunakan gaya bahasa (majas).
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh berita utama Koran Tribun Timur dengan Koran Fajar yang terbit pada bulan Mei 2016 dengan tema olahraga.
D. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini merupakan penelitian pustaka.Sasaran penelitian berupa bahan tertulis atau teks berita dalam berita utama. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi.
Teknik tersebut digunakan untuk mengumpulkan data melalui sumber tertulis yaitu berita utama pada Koran Tribun Timur dan Koran Fajar.Dengan demikian, penelitian ini berbentuk penelitian pustaka.
Berdasarkan hal tersebut, maka teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data, yaitu:
1. Data primer atau data langsung yaitu data yang merupakan objek yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu berita utama dalam Koran Tribun Timur dengan Koran fajar.
2. Data sekunder adalah data yang tidak langsung yaitu data yang diperoleh dari berbagai sumber atau bahan acuan yang ada kaitannya dengan objek pembahasan (gaya bahasa dalam koran)
E. Teknik Analisis Data.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini, dianalisis dengan menggunakan teori tentang gaya bahasa atau majas perbandingan dan sindiran. Penelitian hanya dikaitkan pada berita utama pada Koran Tribun Timur dengan Koran Fajar yang terbit pada bulan Mei 2016 dengan tema olahraga.
Adapun langkah yang digunakan dalam analisis ini adalah sebagai berikut:
1. Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data,
2. Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan gaya bahasa yang berasal dari data.
3. Menuliskan gaya bahasa yang ditemukan.
4. Koding terhadap gaya bahasa yang telah ditemukan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penyajian Hasil Analisis Data
Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa tujuan penelitian ini adalah mengungkap perbandingan gaya bahasa pada berita utama yang digunakan dalam Koran Tribun Timur dan Koran Fajar dan mengungkapkan gaya bahasa yang lebih dominan digunakan pada berita utama Koran Tribun Timur dan Koran Fajar edisi 1 Mei – 31 Mei yang bertema olahraga khususnya kategori bola. Terdapat lima kelompok gaya bahasa yang menjadi acuan dalam penelitian ini yaitu gaya bahasa perbandingan, gaya bahasa perulangan, gaya bahasa sindiran, gaya bahasa pertentangan dan gaya bahasa penegasan.
Tabel 1
Data Berita Utama di Koran Tribun Timur dan Koran Fajar Sebagai Bahan Penelitian
No Edisi Tema berita Koran Tribun
Timur
Koran Fajar 1 2 Mei 2016 Pertandingan antara
klub Chelsea dengan Totenham Hotspur
Perang Setan Merah
Tetap Fight
2 4 Mei 2016 kesiapan Manchester City menghadapi Real
Madrid
Yakin Bisa Curi Gol di Bernabeu
Tantang Terbuka
3 9 Mei 2016 Pertandingan antara Klub Leicester City
dengan Everton
Gila dan Aneh Pesta Sempurna
4 10 Mei 2016 Pertandingan antara Klub West Ham dengan Klub Manchester United
Partai Perpisahan di Boleyn Ground
Ancaman Militin
5 12 Mei 2016 Klub West Ham menang dari Klub Manchester
United
Perpisahan Sempurna
Lampu Kuning Setan Merah
6 13 Mei 2016 Kemenangan Klub Chelsea melawan Klub
Liverpool
Hazard is Back Hazard Telat Kembalikan sentuhan terbaiknya 7 14 Mei 2016 Pertandingan antara
Klub Napoli dengan Klub As Roma
Berburu Tiket langsung ke liga
champion
Bukan Pemanasan
8 15 Mei 2016 Pertandingan antara Klub Manchester City
dengan Klub Manchester United
Palagan Terakhir Penghakiman Manchester
9 16 Mei 2016 Suarez mencetak gol terbanyak tahun 2016
Goyang Dominasi Messi dan
Ronaldo
Suarez, Penakluk Pertama Ronaldo-
Messi 10 17 Mei 2016 Kekalahan Klub PSM
melawan Klub Semen Padang
Ganti Luciano PSM Kalah, Luci Pasrah
11 18 Mei 2016 Pertandingan antara Klub Liverpool dengan
Sevilla
Faktor Pembeda Lapar Gelar
12 19 Mei 2016 Kemenangan Klub MU melawan Klub
Bournemouth
Disorakin, Van Gall Ngotot
Bertahan
Tetap diminta Pergi
Data di atas merupakan data yang didapat dari Koran Fajar dan Koran Tribun Timur edisi Mei bertema olahraga dengan khusus kategori bola. Terdapat 20 berita utama yang memiliki gaya bahasa yang akan dianalisis berdasarkan 5 kelompok gaya bahasa.
13 20 Mei 2016 Kekalahan Klub Liverpool dari Klub
Sevilla
Biang Kerok Legenda Salahkan Mantan Sevilla
14 21 Mei 2016 Pertandingan antara Klub Bayern Munchen
dengan Klub Borussia Dortmund
Kado Perpisahan Guardiola
Berburu Kado Perpisahan
15 22 Mei 2016 Kemenangan Klub PSM dari Klub Barito Putera
PSM Menang Luciano Ngurung
Diri di Hotel
Jantung Berdebar Sepanjang Laga 16 23 Mei 2016 Klub MU menjuarai
Piala FA 2015/2016
Sempurna Meneer
Pelepas dahaga
17 24 Mei 2016 Kekalahan Klub Timnas Urugay dari Klub Timnas Kosta Rika
Suarez menangis di Bangku Cadangan
Jadi Tumbal, Suarez Terisak
18 25 Mei 2016 Pemain Klub PSM tambah jam latihan
Syamsul Cs Tambah Latihan
Syamsul-Rasyid Tambah Jam Latihan 19 26 Mei 2016 Robert Albert akan
dijadikan pelatih Klub PSM
Suporter Dukung Manajemen Datangkan Robert
Albert
PSM Pernah Menyerah Nego
Robert 20 30 Mei 2016 Robert Albert
menyaksikan pertandingan antara Klub PSM dengan Klub
PS TNI
PSM Imbangi PS TNI disaksikan
Robert
Robert “ Sembunyi “ di Kursi Penonton
Tabel 2
Wujud Gaya Bahasa dalam Berita Utama Koran Tribun Timur dan Koran Fajar
No Edisi Wujud Gaya Bahasa
Koran Tribun Timur Koran Fajar 1 2 Mei 2016 Perbandingan Metafora Pertentangan Antitesis 2 4 Mei 2016 Penegasan Paralelisme Perbandingan Hiperbola 3 9 Mei 2016 Pertentangan Histeron Prosteron Perulangan aliterasi 4 10 Mei 2016 Perbandingan Personifikasi Perbandingan Hiperbola 5 12 Mei 2016 Perbandingan Eufemisme Perbandingan Metafora 6 13 Mei 2016 Perbandingan Alusi Perbandingan Eufemisme 7 14 Mei 2016 Perbandingan Personifikasi Perulangan Aliterasi 8 15 Mei 2016 Perbandingan Hiperbola Perbandingan
Personifikasi
9 16 Mei 2016 Perbandingan Personifikasi Perbandingan Hiperbola 10 17 Mei 2016 Perbandingan Eufemisme Perulangan Aliterasi 11 18 Mei 2016 Perbandingan Eufemisme Perulangan Aliterasi 12 19 Mei 2016 Pertentangan Oksimoron Pertentangan Paradoks 13 20 Mei 2016 Sindiran Sarkasme Perulangan Aliterasi 14 21 Mei 2016 Perbandingan Eufemisme Perbandingan
Personifikasi
15 22 Mei 2016 Pertentangan Histeron Prosteron Perbandingan Hiperbola 16 23 Mei 2016 Perbandingan Eufemisme Perbandingan Hiperbola 17 24 Mei 2016 Perbandingan Epitet Perbandingan Hiperbola 18 25 Mei 2016 Perbandingan Sinekdoke Totem
Pro Parte
Perbandingan Sinekdoke Pars Prototo
19 26 Mei 2016 Perulangan Aliterasi Perbandingan Personifikasi
20 30 Mei 2016 Perbandingan Personifikasi Penegasan Paralelisme