39
4. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
Profil PUSPIPTEK
PUSPIPTEK adalah kawasan penelitian yang berlokasi di Kelurahan Setu, Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan (sebelum pemekaran wilayah dahulu disebut Serpong, Kabupaten Tangerang Provinsi Banten). Berdirinya PUSPIPTEK berawal dari gagasan Menteri Riset Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, yang diwujudkan pelaksanaanya oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi yaitu Prof. Dr.-Ing. B.J.
Habibie. Melalui Keputusan Presiden (KEPPRES) Nomor 43 tahun 1976 didirikanlah Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang selanjutnya disingkat PUSPIPTEK. Bertujuan untuk mendukung proses industrialisasi di Indonesia maka PUSPIPTEK dirancang untuk menjadi kawasan yang mensinergikan SDM terdidik dan terlatih, peralatan penelitian dan pelayanan teknis yang paling lengkap di Indonesia serta teknologi dan keahlian yang telah terakumulasikan selama lebih dari 35 tahun.
Kawasan PUSPIPTEK terdapat 47 Laboratorium telah beroperasi, dan merupakan koordinasi teknis antara LIPI, BPPT, BATAN dari Kementerian Riset dan Teknologi serta dua laboratorium dibawah Kementerian Lingkungan Hidup yaitu Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan (Sarpedal), dan Pusdiklat Lingkungan. Adapun Visi Pembangunan IPTEK 2025 adalah ”Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa”. Sedangkan misi pembangunan IPTEK 2025 sebagai berikut; 1) Menempatkan iptek sebagai landasan kebijakan pembangunan nasional yang berkelanjutan; 2) Memberikan landasan etika pada pengembangan dan penerapan iptek; 3) Mewujudkan sistem inovasi nasional yang tangguh guna meningkatkan daya saing bangsa di era global; 4) Meningkatkan difusi iptek melalui pemantapan jaringan pelaku dan kelembagaan Iptek termasuk pengembangan mekanisme dan kelembagaan intermediasi iptek; 5) Mewujudkan SDM, sarana dan prasarana serta kelembagaan iptek yang berkualitas dan kompetitif; 6) Mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas dan kreatif dalam suatu peradaban masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge based society).
Fasilitas yang berada Kawasan PUSPIPTEK antara lain adalah:
1) Laboratorium BPPT 2) Laboratorium LIPI 3) Laboratorium BATAN 4) Laboratorium KLH
5) Perumahan dinas 700 unit (Type 50, 70, 90,120)
6) Wisma Tamu PUSPIPTEK dengan kapasitas 110 kamar 7) Balai Pengobatan PUSPIPTEK
8) Fasilitas Pendidikan (TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi) 9) Fasilitas Ibadah (Masjid0
10) Fasilitas Pendukung meliputi:
a. Gardu induk PLN
Energi listrik disuplai oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara) melalui sentral listrik yang khusus dibangun dalam kawasan ini, dengan daya 2 x 60 MVA dan tegangan sebesar 20 KV.
b. Pengolahan air bersih
Pengolahan air bersih dilakukan secara mandiri dalam rangka memenuhi kebutuhan air bersih bagi pemukiman dan perkantoran di kawasan PUSPIPTEK, dibangun sarana pengolah air bersih yang dilengkapi dengan laboratorium analis,
mikrobiologi dan mempunyai kapasitas 100 liter/detik dengan bahan baku air sungai Cisadane lalu diproses dan disimpan di reservoir berkapasitas 18.000 m3.
c. Incinerator
Incinerator Pyromat Type HP - 500 - D digunakan untuk membakar sampah padat dengan kapasitas pembakaran sebesar 1.200.000 Kcal/jam atau sekitar 200 - 300 kg sampah campuran. Alat ini dilengkapi dengan dua buah brander yang berfungsi untuk membakar sampah hingga terurai menjadi gas, dan brander kedua berfungsi untuk membakar gas-gas yang tidak terbakar dengan sempurna, sehingga asap yang keluar bebas dari polusi.
d. Kebun Botani (kebun provinsi 1 & 2) dan Hutan Tropis; Kebun propinsi yang merupakan miniatur kebun provinsi yang ada di Indonesia dengan adanya gazebo atau rumah adat masing-masing provinsi. Kebun porvinsi 1 terdapat 27 gazebo atau rumah adat provinsi sedangkan kebun provinsi 2 merupakan pengembangan dari kebun provinsi 1.Hutan tropis yang ada merupakan bagian dari lahan terbuka hijau yang ada dikawasan PUSPIPTEK yang berfungsi sebagai paru-paru kawasan.
Arahan pengembangan wilayah di Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur (Jabodetabekpunjur) ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan ruang kawasan Jabodetabekpunjur. Dalam Perpres tersebut, disebutkan bahwa Kawasan Jabodetabekpunjur, adalah kawasan strategis nasional yang meliputi seluruh wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sebagian wilayah Provinsi Jawa Barat, dan sebagian wilayah Provinsi Banten. Dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang ditetapkan melalui PP No 26 Tahun 2008, Kawasan strategis nasional didefinisikan sebagai wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Dalam Lampiran RTRWN tersebut, Kawasan Perkotaan Jabodetabekpunjur, dikategorikan sebagai Kawasan Strategis Nasional dengan sudut pandang kepentingan ekonomi.
Adapun struktur Kawasan Metropolitan Jabodetabekpunjur, menunjukkan suatu pola struktur yang polisentrik (banyak pusat), yaitu DKI Jakarta sebagai pusat utamanya, dan memiliki Bogor (kabupaten dan kota), Kota Depok, Tangerang (kabupaten dan kota), Bekasi (kabupaten dan kota) sebagai sub pusat yang melayani kota dan daerah otonomnya, serta ditambah dengan kawasan Puncak-Cianjur yang juga diperhatikan pengaruhnya terhadap wilayah metropolitan. Tingginya urbanisasi mengakibatkan daya tampung lahan untuk permukiman dan aktivitas ekonomi wilayah menjadi terbatas. Hal ini mendorong peningkatan pemanfaatan lahan di wilayah sekitar Jakarta yakni Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Cianjur.
Beberapa hal yang dapat dicermati dari kebijakan Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur, dalam kaitannya dengan pengembangan Kota Tangerang Selatan pada umumnya dan khususnya Kawasan PUSPIPTEK, diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan tinjauan struktur ruangnya, Kota Tangerang (termasuk di dalamnya Kawasan PUSPIPTEK yang saat ini berada di wilayah administratif Kota Tangerang Selatan), diarahkan menjadi Kota Satelit, dengan fungsi pengembangan diantaranya:
perumahan hunian dengan kepadatan tinggi dan sebagian rendah,
perdagangan dan jasa dengan skala nasional,
industri ringan non polutan yang berorientasi pasar dan tenaga kerja,
pertanian/ ladang, perikanan, peternakan, agroindustri.
41
Beberapa hal yang dapat dicermati dari kebijakan Penataan Ruang Kawasan JABODETABEKPUNJUR, dalam kaitannya dengan pengembangan Kota Tangerang Selatan pada umumnya dan khususnya Kawasan PUSPIPTEK, diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut:
2. Berdasarkan tinjauan struktur ruangnya, Kota Tangerang (termasuk di dalamnya Kawasan PUSPIPTEK yang saat ini berada di wilayah administratif Kota Tangerang Selatan), diarahkan menjadi Kota Satelit, dengan fungsi pengembangan diantaranya:
Perumahan hunian dengan kepadatan tinggi dan sebagian rendah,
Perdagangan dan jasa dengan skala nasional,
Industri ringan non polutan yang berorientasi pasar dan tenaga kerja,
Pertanian/ ladang, perikanan, peternakan, agroindustri.
Kondisi wilayah JABOTABEKPUNJUR tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Kondisi Wilayah JABODETABEKPUNJUR
Nama Wilayah Luas ( Km ) Jumlah Jumlah Kepadatan
kecamatan Penduduk (jiwa/km
Provinsi DKI
JAKARTA 661,52 44 9.014.605 13.668
Kota Jakarta Utara 142,20 6 1.446.728 10.174
Kota Jakarta Pusat 47,90 8 861.531 17.986
Kota Jakarta Timur 187,73 10 2.393.788 12.751
Kota Jakarta Barat 126,15 8 2.322.232 18.408
Kota Jakarta Selatan 145,73 10 1.995.214 13.691
Kepulauan Seribu 11,81 2 22.122 1.872
Provinsi JAWA BARAT 3.833,21 87 8.898.942 2.32
Kota Depok 212,24 6 1.373.860 6.473
Kota Bogor 108,24 6 844.778 7.751
Kabupaten Bogor 2.237,09 40 4.100.934 1.832
Kota Bekasi 209,55 12 1.994.850 9.519
Kabupaten Bekasi 1.066,35 23 1.953.380 1.833
Provinsi Banten 1.294,38 39 4.862.193 3.756
Kota Tangerang 184,00 13 1.537.244 8.355
Kabupaten Tangerang 1.110,38 26 3.324.949 2.994
Sumber : Kemendagri, 2008
3. Dalam arahan struktur ruang dikembangkan Jalan Lingkar Luar Jakarta Kedua (Jakarta Outer Ring Road 2) dan jalan radialnya sebagai pembentuk struktur ruang Jabodetabekpunjur dan untuk memberikan pelayanan pengembangan sub pusat perkotaan antara lain Serpong/Kota Mandiri Bumi Serpong Damai, Cinere, Cimanggis, Cileungsi, Setu, dan Tambun/Cikarang.
Keberadaan Serpong/Kota Mandiri Bumi Serpong Damai dan Kecamatan Setu sebagai lingkungan yang terdekat dengan Kawasan PUSPIPTEK memberi pengaruh yang besar, terkait dengan aksesibilitas Kawasan PUSPIPTEK dengan lingkup regionalnya.
Beberapa isu permasalahan ruang yang terjadi di JABODETABEKPUNJUR dan perlu diantisipasi kaitannya dengan pengembangan Kawasan PUSPIPTEK diantaranya:
a. Terjadinya krisis air; hal ini berkaitan dengan keberadaan Sungai Cisadane yang melintasi Kawasan PUSPIPTEK-Serpong perlu diperhatikan tata cara pemanfaatannya sebagai sumber air baku utama di Kota Tangerang Selatan pada umumnya dan secara khusus bagi Kawasan PUSPIPTEK. Keberadaan dan aktivitas industri yang cukup banyak di wilayah Tangerang juga berpengaruh terhadap kualitas air sungai yang digunakan sebagai sumber air baku
b. Permasalahan kemacetan; dimana dibutuhkan pengembangan sistem pengelolaan transportasi yang utuh dan terpadu untuk wilayah Jabodetabek Punjur, baik dalam hal pengelolaan lalu lintas, maupun program pembangunan infrastrukturnya.
Pengembangan tata ruang suatu wilayah atau kawasan harus mengacu dan terintegrasi pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten atau Kota, yang dalam hal ini adalah RTRW Kota Tangerang Selatan. Kota Tangerang Selatan ditetapkan sebagai wilayah otonom baru berdasarkan UU Nomor 51 Tahun 2008, yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang (kabupaten induk). Sebagai Kota Otonom yang baru terbentuk, hingga saat ini Tangerang Selatan belum memiliki RTRW yang dapat diacu sebagai matra spasial pengembangan wilayahnya hingga 20 tahun ke depan, sesuai dengan amanat UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Namun, walaupun demikian dapat diidentifikasi beberapa hal terkait pengembangan ruang dari Kota Tangerang Selatan yang dapat diadopsi berdasarkan RTRW Kabupaten induknya, yaitu Kabupaten Tangerang. Selain itu pula, berdasarkan hasil survei yang dilakukan di instansi Bappeda Kota Tangerang Selatan, terdapat arahan umum rencana struktur ruang dan pola ruang Kota Tangerang Selatan yang dapat diacu sebagai tinjauan eksternal dari penyusunan Master Plan PUSPIPTEK ini. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa lokasi Kawasan PUSPIPTEK, sebagian besar terletak di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Tinjauan struktur ruang dan pola ruang Kota Tangerang Selatan ini perlu dilihat pengaruhnya terutama bagi pengembangan kawasan PUSPIPTEK dalam konteks regional.
Kawasan PUSPIPTEK merupakan sebuah obyek yang penting bagi kehidupan bangsa dan negara baik ditinjau dari aspek kepentingan penelitian iptek maupun aspek ekonomi, politik, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Melalui Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 112/M/Kp/IX/2004, PUSPIPTEK telah ditetapkan sebagai obyek vital nasional. Dengan ditetapkannya sebagai obyek vital nasional, maka terdapat konsekuensi sistem dan pola pengelolaan keamanan dan keselamatan kawasan khususnya untuk mencegah kemungkinan adanya ancaman dan gangguan termasuk aksi terorisme terhadap kegiatan maupun aset-aset negara yang ada di PUSPIPTEK.
Saat ini, PUSPIPTEK menempati lahan seluas 460 Ha dan 360 Ha diantaranya berada di wilayah administratif Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten, dan 100 Ha berada di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. 30-40% dari seluruh luasan kawasan, dialokasikan sebagai kawasan terbuka hijau. Meskipun PUSPIPTEK merupakan aset nasional, namun bagi Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor keberadaan PUSPIPTEK tersebut merupakan potensi penting untuk daerah ini. Bagi Kota Tangerang Selatan, PUSPIPTEK diharapkan memberikan kontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah berbasis iptek menuju visi “Kota Tangerang Selatan sebagai kota mandiri, damai, asri, dan sejahtera”. Salah satu misi pencapaian Tangerang Selatan sebagai kota mandiri adalah terwujudnya kehidupan ekonomi berbasis iptek.
Keseluruhan luas 460 Ha area PUSPIPTEK ini terbagi menjadi: (1)zona laboratorium, perkantoran, ruang hijau, dan wisma tamu; (2) zona pemukiman; dan (3) zona pendidikan. Dalam perencanaan pengembangan kawasan PUSPIPTEK ke depan,
43
peruntukan lahan kawasan dirancang untuk: (1) zona perkantoran dan laboratoria; (2) zona pemukiman; (3) zona pendidikan dan pelatihan; (4) zona pelayanan umum; (5) zona komersialisasi hasil iptek; dan (6) zona kebun percontohan. Peta peruntukkan lahan kawasan tersebut dapat dilihat jelas pada Gambar 8.
Sarana-prasarana kawasan yang dibangun di PUSPIPTEK ditujukan untuk mendukung operasional seluruh kawasan, dengan 47 pusat/balai litbang didalamnya, perkantoran, dan perumahan pegawai. Beberapa sarana-prasarana tersebut antara lain berupa bangunan gedung, rumah dinas, jalan dan drainase, instalasi dan pengelolaan air bersih, listrik, sarana telekomunikasi, sarana keamanan dan keselamatan, wisma tamu, fasilitas kesehatan, sarana olah raga, sarana ibadat, sarana pendidikan, pengelolaan limbah, serta kawasan hijau dan kebun percontohan. Semua sarana-prasarana tersebut memerlukan perawatan dan peningkatan terus-menerus agar memberikan daya dukung yang optimal bagi fungsi PUSPIPTEK.
Pasokan listrik dan air bersih di kawasan perlu dijaga dan ditingkatkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan. Listrik yang dipasok dari Gardu Induk (GI) Serpong milik PLN, memiliki kapasitas terpasang sebesar 38.951 kVA,dengan total daya rata-rata terpakai untuk seluruh kawasan pada tahun 2012 mencapai kurang lebih 83%. Sistem air bersih yang tersedia di kawasan PUSPIPTEK sejauh ini cukup untuk melayani seluruh PUSPIPTEK, termasuk untuk pendingin reaktor nuklir dan kebutuhan kawasan perumahan. Di masa mendatang, kebutuhan air bersih kawasan diperkirakan akan terus meningkat, sehingga diperlukan penambahan kapasitas instalasi pengolahan dan distribusinya.
Demikian pula halnya dengan sistem telekomunikasi. Sejak tahun 1987, sistem telekomunikasi di Kawasan PUSPIPTEK menggunakan teknologi PABX dengan kapasitas 320 line Telkom dan 3.500 extension. Teknologi tersebut memerlukan modernisasi dan pembaharuan. Disamping itu, untuk memenuhi tuntutan akses internet yang lebih cepat dan handal, diperlukan pengembangan jaringan data melalui layanan pita lebar yang membutuhkan dukungan jaringan fiber optic di seluruh kawasan.
Seiring berkembangnya pembangunan laboratorium dan gedung pendukungnya, selain memerlukan biaya perawatan gedung yang lebih besar, juga diperlukan pengembangan akses jalan berserta pelengkapnya (lampu penerangan dan sistem drainase) menuju gedung baru tersebut. Begitu pula halnya dengan dukungan sistem keamanan dan keselamatan kawasan perlu terus ditingkatkan untuk tetap menjamin keamanan dan keselamatan PUSPIPTEK sebagai sebuah objek vital nasional.
Gambar 8. Peta peruntukan lahan Kawasan PUSPIPTEK
Sumber Daya Air
Penyediaan air bersih tergantung dari para pengelola sarana air bersih dan terpeliharanya tingkat partisipatif pengguna yang merupakan faktor signifikan yang dapat mempengaruhi kondisi sistem penyediaan air bersih. Tanpa melupakan pentingnya posisi DAS Cisadane sebagai pemasok air baku bagi kepentingan instalasi penjernihan air di PUSPIPTEK, mengharuskan dilakukannya pengelolaan DAS sebagai suatu unit pengelolaan. Sistem penyediaan air bersih di Kawasan PUSPIPTEK yang mulai beroperasi pada tahun 1980 bertujuan untuk mensuplai air ke perumahan dinas serta untuk kepentingan kegiatan laboratorium dan perkantoran.
Satu-satunya sumber air baku Instalasi Pengolahan Air (IPA) PUSPIPTEK saat ini, masih dari Sungai Cisadane, dan bangunan penyadapannya berjarak kira-kira 1,5 Km dari IPA. Pompa yang digunakan untuk memompakan air baku adalah pompa jenis submersible sebanyak tiga unit yang tidak terganggu jika terjadi banjir. Pompa itu telah mengalami penggantian beberapa kali, karena mengalami kerusakan dan terakhir kali diganti pada tahun 2009. Air baku dari Sungai Cisadane mengalir ke bangunan Intake melalui dua buah pipa yang berdiameter 400 mm sebanyak tiga buah pada musim kemarau yang digunakan pada saat musim banjir dimana yang pada saat tersebut permukaan air sungai lebih tinggi. Pada IPA air baku masuk ke prasedimentasi untuk mengendapkan pasir/lumpur berat dan diharapkan dapat menurunkan beban bak sedimentasi serta mengurangi konsumsi bahan kimia. Air dari bak prasedimentasi ditambah dengan bahan kimia/koagulasi pada bak koagulasi dilanjutkan ke bak flokulasi yang menggunakan paddle sebagai pengaduk mixer. Air dari bak flokulasi air masuk ke bak sedimentasi, pada bak ini diharapkan terjadi pemisahan air dengan Lumpur. Lumpur akan mengendap pada bak sedimentasi dan air akan masuk ke filter untuk penyaringan akhir.
Setelah air mengalami filtrasi, air masuk ke reservoir secara gravitasi, dan dengan reservoir tersebut dipompakan ke elevated reservoir, kemudian secara gravitasi didistribusikan ke masing-masing kantor, laboratorium dan perumahan dinas PUSPIPTEK. Jaringan distribusi berpusat dari menara air dengan tinggi 40 meter dan kapasitasnya 583 M3 dengan jaringan melingkar ke setiap sektor untuk menjamin tersedianya air bersih setiap saat. Air bersih diproduksi oleh Instalasi Penjernihan Air/Water Treatment Plant di PUSPIPTEK dengan air baku yang diambil dari air Sungai Cisadane. Dua unit yang ada masing-masing berkapasitas 80 lt/detik (operasional) dan 100 lt/detik (tidak berfungsi). Jaringan distribusi berpusat dari menara air dengan tinggi 40 meter dan kapasitas 583M³ dengan jaringan melingkar ke setiap sektor untuk menjamin tersedianya air bersih setiap saat bagi kepentingan laboratorium/perkantoran dan daerah perumahan.
Dalam struktur organisasi Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan Pengguna, pengolahan air bersih berada pada tingkat koordinator dibawah Sub Bidang Sarana Teknik Bidang Pengembangan Sarana Kawasan PUSPIPTEK. Letak instalasi penjernihan air berada di sebelah Barat Kawasan PUSPIPTEK, berbatasan dengan Sungai Cisadane yang mengalir dari Selatan ke Utara. Berdasarkan perhitungan debit air Sungai Cisadane (DPU, DT I Tangerang, 1982) diperoleh rata-rata debit selama 10 tahun terakhir sebesar 87,8M³/dt. Bulan basah (curah hujan lebih dari 100 mm/bulan) jatuh pada bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Agustus, Oktober dan Desember. Sedang untuk bulan lembab (curah hujan 60 - 100 mm/bulan) jatuh pada bulan Juli dan Nopember. Bulan Kering (curah hujan kurang dari 60 mm/bulan) jatuh pada bulan Juni dan September.
Adanya penggolongan bulan basah dan bulan kering, maka didapat angka debit air sungai
46
pada musim penghujan sebesar 93,8M³/dt dan antara 31,5-60,2 M³/dt pada musim kemarau, angka tersebut merupakan debit maksimum dan debit minimum.
Penyelenggaraan air bersih di Kawasan PUSPIPTEK baru mencakup lahan seluas 360 hektar dari 460 hektar luas lahan PUSPIPTEK, dirancang untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang meliputi kegiatan di 35 laboratorium/perkantoran, dan 698 unit perumahan dinas serta fasilitas lainnya di daerah perumahan tersebut seperti sekolah TK.
SD & SMP), guest house, balai kesehatan, dormitori, masjid, gedung olah raga, gedung pertemuan dan lain-lainnya. Hasil penelusuran dengan kuesioner pada beberapa kegiatan di 47 laboratorium/perkantoran dengan jumlah karyawan sebanyak 4.300 orang dan sarana di areal pemukiman yang ada sekitar 4.000 orang belum lagi ditambah dengan pembangunan sekaligus kepindahan pegawai untuk mengisi laboratorium/perkantoran baru yang telah selesai dibangun secara bertahap mulai tahun 2010 dari rencana pengembangan 6 cluster BPPT, akan sangat membutuhkan ketersediaan air bersih untuk menunjang kegiatan yang dilakukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk mengembangkan kegiatan laboratorium di masa mendatang dibutuhkan ketersediaan antara 100 - 300 M³/hari/laboratorium. Apabila diambil angka rata-rata 200 M³/hari sebagai patokan pemakaian air bersih setiap laboratorium, maka kapasitas air bersih yang dibutuhkan diproyeksikan sebesar 81,02 l/dt. Foto udara lokasi instalasi pengolahan air bersih di PUSPIPTEK disajikan pada Gambar 9.
Gambar 9 Lokasi instalasi pengolahan air bersih PUSPIPTEK
Terdapat dua buah bangunan intake yang digunakan untuk sistem penyediaan air bersih di Kawasan PUSPIPTEK dengan sumber air baku berasal dari Sungai Cisadane.
Intake I :
Bangunan Intake 1 terletak pada jarak + 479,90 m di sebelah barat laut instalasi pengolahan (hasil pengukuran lapangan, April 2011), yang mempunyai ketinggian
Lokasi PAB WTP Lokasi PAB
WTP
elevasi muka air baku pada bak penampung + 64,57 m. Bangunan intake I dibangun pada tahun 1978 dan saat tidak dipergunakan karena abrasi.
Intake II :
Bangunan Intake II terletak pada jarak + 681 m di sebelah timur laut instalasi pengolahan dan mempunyai elevasi muka air baku + 59,120 m. Air baku dari Sungai Cisadane disadap dan dialirkan kebangunan bak pengumpul menggunakan dua buah pipa jenis black steel diameter 400 mm sepanjang 50 meter. Pompa yang ada sebanyak 3 (tiga) unit pompa submersible terletak di bangunan rumah pompa, masing-masing pompa mempunyai kapasitas 100 l/dt dengan head 40 meter.
Panel control utama pompa submersible terdapat pada bangunan ruang panel sebelah gardu PLN dekat lokasi Intake II, untuk menjalankan dan mengoperasikan pompa submersible dapat dilakukan dari ruang panel yang terdapat pada bangunan instalasi pengolahan air. Juga dapat dioperasikan dari ruang pompa di IPA.
Secara terinci sumber air baku dan penyadapan sistem penyediaan air bersih Kawasan PUSPIPTEK disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Sumber air baku sistem penyediaan air bersih Kawasan PUSPIPTEK
Jenis sumber/ Elevasi Kapasitas Selesai
Lokasi Tanah Muka Air Terpasang Tahun
(m) (m) (l/dt)
Sungai Cisadane:
- Intake I (tidak
digunakan) 1980
- Intake II + 63,920 + 59,120 100 1991
Sumber : PUSPIPTEK, 2013
Gambar 10 Rumah inlet intake
Jaringan pipa transmisi air baku dan air bersih pada sistem penyediaan air bersih, secara garis besar dibagi menjadi tiga sistem, yaitu :
a. Sistem pemompaan air baku dari Intake I ke instalasi pengolahan (tidak berfungsi)
b. Sistem pemompaan air baku dari Intake II ke instalasi pengolahan
c. Sistem pemompaan air bersih dari pengolahan air (ground reservoir) ke menara air.
Air baku dari sungai Cisadane pada intake II sampai ke instalasi dialirkan melalui pipa jenis DCIP berdiameter 400 mm sepanjang pipa 681 meter dengan sistem pemompaan.
48
Pipa transmisi air bersih dari instalasi pengolahan ke menara air dengan cara pemompaan menggunakan pipa jenis DCIP diameter 400 mm dan jenis pipa DCIP diameter 350 mm sepanjang 1.228 meter. Saat ini pipa yang dipergunakan adalah pipa yang berdiameter 300 mm, sedangkan pipa diameter 250 mm digunakan hanya dalam keadaan darurat. Pada Tabel 5dapat dilihat sistem penyediaan air bersih.
Tabel 5 Pipa transmisi sistem penyediaan air bersih Transmisi
dari
Menuju ke Diameter Pipa (mm)
Panjang Pipa
(m)
Jenis Pipa
Sistem Pengaliran
Intake II
WTP (IPA)I dan WTP (IPA)II
400 681 DCIP Pemompaan
Air baku WTP (IPA)I
dan WTP (IPA)II
Menara Air
300 dan 250
1.228 1.228
DCIP DCIP
Pemompaan Air baku Sumber : PAB –PUSPIPTEK, 2013
Sistem pengolahan air bersih di PUSPIPTEK disajikan pada Gambar 11.
Gambar 11 Sistem pengolahan air bersih di PUSPIPTEK
Kapasitas produksi adalah sebesar 80l/detik, namun seiring dengan perkembangan di PUSPIPTEK, terjadi penambahan fasilitas laboratorium dan sarana lainnya serta untuk mendukung PUSPIPTEK sebagai I-STP dan mengatasi kebutuhan air yang semakin meningkat diperlukan pengembangan pengelolaan air dalam upaya memenuhi ketersediaan kebutuhan air tersebut. Pengembangan pengelolaan yang akan dirancang adalah sistem pengelolaan eko-inovasi dengan menggunakan alternatif penyediaan sumber air yang tidak hanya dari sungai tetapi dari danau/situ resapan air hujan yang akan dialirkan secara gravitasi ke IPA, sehingga terjadi penghematan biaya energi dari pompa penyedot air sungai dan menjaga keberlanjutan ketersediaan yang tidak hanya tergantung
pada satu sumber. Pada penelitian ini selanjutnya akan dihitung biaya penghematan pada penerapan eko-inovasi pengelolaan air dan dihitung kelayakan finansialnya.
Sumber Daya Energi
Listrik untuk Kawasan PUSPIPTEK adalah mengembangkan dan melanjutkan dari sistem yang sudah berjalan karena realisasi beban terpakai masih kecil dibanding kapasitas terpasang, maka sisa kapasitas dalam gardu induk masih cukup besar untuk digunakan. Adanya tujuh jalur yang masing-masing memuat 7 MVA (total 49 MVA) menggunakan kabel XLPE 3 x 240 mm2, maka masih memungkinkan ditambah beban dan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan PUSPIPTEK. Sedangkan tersebarnya lokasi gardu di seluruh fasilitas PUSPIPTEK, maka penyambungan jaringan untuk beban-beban/bangunan baru tinggal dimanfaatkan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka rencana pengembangan jaringan distribusi listrik di Kawasan PUSPIPTEK dapat di arahkan sebagai berikut :
1. Peningkatan pelayanan di wilayah jaringan eksisting, meliputi :
Laboratorium dan perkantoran: jaringan distribusi dalam tegangan menengah (20 KV) menggunakan kabel bawah tanah. Di setiap litbang dan perkantoran disediakan bangunan untuk menempatkan transformer dan panel distribusi utama TM (MVMDV) dan TR (LVMDP).
Perumahan, fasilitas umum dan fasilitas sosial : jaringan distribusi dalam tegangan rendah (220 V) menggunakan kabel udara.
2. Pembangunan jaringan distribusi baru di wilayah pengembangan yang belum terlewati sistem jaringan, meliputi bangunan transformer dan panel distribusi utama TM (MVMDV) dan TR (LVMDP) serta jaringan distribusi dalam tegangan rendah (220 V) menggunakan kabel udara.
Pada model pengelolaan energi eko-inovasi meliputi perhitungan kuantitatif penggunaan energi lampu dengan LED dan penggunaan AC dengan solar cell sehingga dapat dihitung penghematan biaya pengelolaan energi dan kelayakannya.
Pengelolaan Limbah
Pengolahan limbah cair di Kawasan PUSPIPTEK dibedakan menjadi dua klasifikasi limbah cair yaitu limbah cair domestik (kawasan perumahan dan kantor/kantin) dan limbah cair non domestik (laboratorium). Pengelolaan limbah cair dan padat di Kawasan PUSPIPTEK saat ini adalah sebagai berikut :
Limbah cair dari perumahan dan perkantoran diolah secara setempat menggunakan septic tank dilengkapi bidang resapan baik secara individu maupun komunal.
Dikembangkan pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) di dalam Kawasan.
Limbah B3 dan limbah laboratorium padat dikumpulkan dalam suatu tempat tertutup, secara periodik dibuang ke luar kawasan
Limbah laboratorium cair diolah dalam IPAL mini di masing-masing fasilitas, sebelum dibuang ke saluran drainase
Limbah organik dan non organik masih belum dipisahkan untuk pengolahan lebih lanjut.
50
Pada model pengelolaan limbah eko-inovasi yaitu meliputi limbah domestik yaitu dengan metode komposting untuk limbah organik dan pengolahan limbah cair menjadi bahan bagi pengolahan sumber air embung dan pemilihan pengelolaan limbah terpadu terhadap limbah B3 yang dihasilkan oleh laboratorium di Kawasan, sehingga dihasilkan model pengelolaan limbah terpadu dengan teknik AHP dan kelayakan pengelolaan sampah dengan teknik komposting.
Aspek Sosial Budaya
Sebagai upaya untuk menciptakan kenyamanan, keamanan bagi para pekerja di PUSPIPTEK serta masyarakat sekitar maka dilakukan berbagai upaya menciptakan kawasan yang akan membawa dampak lingkungan yang lebih baik karena adanya ruang terbuka hijau lebih banyak bahkan Puspiptek telah menjadi paru-paru bagi Tangerang Selatan dengan keberadaan kebun hutan provinsi, taman kupu-kupu dan taman yang luas.
Untuk keberadaan reaktor non daya telah dilakukan antisipasi terhadap sistem keamanan bagi daerah sampai ring 5 kilo meter dari reaktor. Sebagai kawasan yang didalamnya ada reaktor nuklir non daya komersial maka kegiatan pengendalian daerah kerja di Kawasan Nuklir Serpong (KNS) yang meliputi pembagian daerah kerja dan pemantauannya memiliki tujuan membatasi dan memperkecil dosis radiasi dalam batas keselamatan sebagaimana yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif serta Peraturan Kepala BAPETEN tentang proteksi dan keselamatan radiasi dalam pemanfaatan tenaga nuklir.
Pembagian daerah kerja di KNS untuk keperluan pembatasan penyinaran sebagai wujud implementasi tujuan proteksi radiasi, maka daerah kerja di KSN dibagi menjadi:
a. Daerah Instalasi Nuklir adalah daerah yang dibatasi oleh pagar kuning yang di dalamnya terdapat instalasi nuklir dan fasilitas pemanfaatan zat radio aktif yang hanya boleh dimasuki oleh pekerja radiasi dan orang telah diberi izin
b. Daerah Non Instalasi Nuklir adalah daerah di luar pagar kuning yang mencakup laboratorium, fasilitas penunjang, administrasi dan sarana pelayanan lainnya.
Pada daerah bahaya khusus nuklir ini, Bidang Keselamatan bertanggung jawab menentukan pemasangan tanda bahaya yang memberikan peringatan kepada pekerja radiasi bahwa ada radiasi tinggi dan memberi petunjuk pelaksanaan untuk merespon tanda-tanda peringatan. Tanda peringatan bahaya ini dapat berupa:
a. Bunyi atau sirene b. Cahaya
c. Atau tanda lain
Sistem pemantauan kritikalitas yang dipasang di ruang tertentu pada instalasi harus digabungkan dengan tanda bahaya guna keperluan evakuasi di dalam gedung dan dihubungkan pula dengan tanda bahaya di luar gedung untuk memberitahu personil yang ada sekitar gedung. Tanda peringatan dalam gedung juga dilakukan dengan menggunakan pengeras suara (paging system). Untuk pencegahan dan pengawasan penyebaran kontaminasi maka setiap orang yang berada di daerah instalasi nuklir harus dikenal identitasnya dengan memakai tanda pengenal. Kartu tanda pengenal pekerja dilengkapi dengan pasfoto. Para pekerja atau pegawai KNS yang mempunyai kegiatan di daerah instalasi nuklir, masuk melalui pintu utama dengan tetap mengenakan tanda pengenal selama berada di daerah instalasi nuklir. Tamu ataupun pengunjung sebelum memasuki daerah instalasi nuklir diharuskan meminta izin di MGS (Main Gate Station-Pos Gerbang Utama) untuk memperoleh kartu tanda pengenal dan mentaati prosedur dan peraturan keamanan sesuai standard operational procedure (SOP).
Lokasi pemantauan lingkungan Kawasan Puspiptek disajikan pada Gambar 12, sedangkan untuk lokasi pemantauan lingkungan lepas kawasan sejauh 5 Km dari reaktor disajikan pada Gambar 13. Peta evakuasi di kawasan Puspiptek jika terjadi kecelakaan disajikan pada Gambar 14. Untuk prosedur evakuasi keselamatan di kawasan Puspiptek ini sebaiknya disosialisasikan dengan berbagai cara diantaranya pemasangan poster, cerama dan diskusi dan simulasi gabungan bersama aparat Kepolisian dan Pemda Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor.
Gambar 12 Lokasi Pemantauan Lingkungan Puspiptek (Sumber: Pedoman Keselamatan dan Proteksi Radiasi Kawasan Nuklir Serpong, Batan, 2011)
Gambar 13 Lingkungan Pemantauan Lingkungan Lepas Kawasan (Sumber: Pedoman Keselamatan dan Proteksi Radiasi Kawasan Nuklir Serpong, Batan, 2011)
52
Gambar 14 Peta Evakuasi Kawasan Puspiptek
Lebih jauh, terkait dengan upaya pembenahan terhadap Pengelolaan Keamanan dan Keselamatan Kawasan Puspiptek kedepan, maka sebaiknya dilakukan pembenahan menyangkut:
a Menambah peran, tugas dan tanggung jawab Bidang Keselamatan dan Keamanan dalam struktur organisasi Puspiptek menjadi Sub Lembaga Bidang Keamanan dan Keselamatan Kawasan Puspiptek (Bakorkamlam Puspiptek) yang memiliki Tupoksi sebagai Lembaga Koordinasi Tunggal terhadap Sarana Prasarana dan Pengelolaan
masing-masing Lembaga serta Fasilitas lain dan atau dengan unsure pengamanan luar terkait.
b Peningkatan Sistim Manajemen Keamanan Dan Keselamatan Kawasan Puspiptek.
c Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Pelaku / Petugas / Personil Keamanan Dan Keselamatan Kawasan Puspiptek.
d Peningkatan Sarana Prasarana / Perangkat / Alat Lengkap sesuai Standar Keamanan Dan Keselamatan Nasional pada Kawasan Puspiptek Baik bersifat Elektronis, Maupun Mekanis.
e Pembuatan SOP Sistem Kemanan dan Keselamatan Kawasan dan sosialisasi ke seluruh kawasan dan daerah sekitar.
f Sebagai kawasan obyek vital nasional sebaiknya pengamanan menerapkan pengamanan berlapis berdasarkan zona dimana ada prosedur khusus bagi SDM dan tamu untuk masuk ke zona ring satu, ring dua dan ring tiga. Untuk SOP tersebut perlu disusun untuk pelaksanaannya.
Pengelolaan Kawasan Saat Ini
Kepala PUSPIPTEK yaitu Asdep Jaringan Penyedia dengan Pengguna memiliki tugas pokok sebagaimana yang tercantum Pasal 255 Peraturan Menteri Negara Ristek Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi yaitu :
a) melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi pelaksanaan kebijakan, serta pemantauan, evaluasi dan analisis di bidang jaringan penyedia dengan pengguna.
b) sebagai pengelola kawasan penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi di Serpong.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255, Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan Pengguna menyelenggarakan beberapa fungsi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 256 Peraturan Menteri Negara Ristek Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi yaitu :
a) penyiapan perumusan kebijakan jaringan penyedia dengan pengguna di bidang perkembangan;
b) penyiapan perumusan kebijakan jaringan penyedia dengan pengguna di bidang perancangan dan pemberdayaan;
c) penyiapan perumusan kebijakan jaringan penyedia dengan pengguna di bidang pengelolaan keamanan dan keselamatan; dan
d) penyiapan perumusan kebijakan jaringan penyedia dengan pengguna di bidang pengembangan sarana kawasan.
Pada penelitian ini akan dilakukan pemilihan model pengelolaan kawasan dengan menggunakan teknik AHP. Tujuannya untuk memilih model pengelolaan kawasan yang terbaik untuk diimplementasikan di PUSPIPTEK.
Kelembagaan Kawasan Saat Ini
Tujuan pembangunan PUSPIPTEK pada awal berdirinya adalah untuk memindahkan sejumlah pusat penelitian milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ke suatu kawasan agar pusat-pusat tersebut, dengan kelangsungan identitasnya masing-masing, dapat membentuk kemampuan yang kuat bagi pengamanan
54
dan pelaksanaan kegiatan penelitian iptek yang berhubungan dengan Program Riset Nasional.
Pada masa Menegristek Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, arah pengembangan PUSPIPTEK diperluas dengan memasukkan kawasan industri teknologi tinggi dan kawasan pendidikan tinggi sebagai elemen baru dalam keseluruhan kawasan PUSPIPTEK. Beberapa laboratorium dibangun untuk menunjang BUMN industri strategis (seperti PT. IPTN, sekarang PT. DI dan PT PAL). Keberadaan laboratorium tersebut dharapkan dapat mendukung proses industrialisasi di Indonesia yang menjadi prioritas pembangunan nasional. Oleh karena itu, PUSPIPTEK dirancang untuk menjadi kawasan yang mensinergikan sumber daya manusia terdidik dan terlatih, peralatan penelitian dan pelayanan teknis yang paling lengkap di Indonesia serta teknologi dan keahlian yang telah terakumulasikan selama lebih dari seperempat abad. Sarana dan prasarana yang ada di kawasan PUSPIPTEK sejak perencanaannya telah diarahkan untuk kegiatan penelitian dan pelayanan teknis, kawasan industri teknologi tinggi dan pendidikan tinggi strata pasca sarjana.
Pada tahun 1976 PUSPIPTEK Serpong didirikan sesuai dengan Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1976 tentang Pembangunan Pusat Penelitian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong (selanjutnya akan disebut Keppres No.43 Tahun 1976.) Realisasi pembentukan proyek pembangunan PUSPIPTEK bermula dari rangkaian perintah presiden RI kepada Menteri Riset pada tahun 1975 dan 1976. Tugas pokok dan fungsi awal yang diharapkan dari PUSPIPTEK adalah sebagai lembaga yang dapat mendukung pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di wilayah Jabotabek. Hal itu pula, dikaitkan dengan pemilihan lokasi dari PUSPIPTEK yang berada di Kecamatan Serpong, Tangerang.
Berdasarkan pasal 4 Keppres No. 43 Tahun 1976, Penasehat/Pengawas Proyek PUSPIPTEK terdiri dari Menteri Negara EKUIN/Ketua BAPPENAS, Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara/Wakil Ketua BAPPENAS, Menteri/Sekretaris Negara, Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik dan Menteri Dalam Negeri dengan tugas memberikan pertimbangan dan saran-saran kepada penanggung jawab Proyek mengenai rencana dan pelaksanaan pembangunan Proyek PUSPIPTEK dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek PUSPIPTEK berdasarkan Rencana Induk yang disetujui oleh Presiden. Penanggung jawab proyek PUSPIPTEK adalah Menteri Negara Riset yang bertugas sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan dan penyelesaian pembangunan proyek PUSPIPTEK berdasarkan Rencana Induk dan Rencana Pentahapannya yang disetujui presiden, selain itu melakukan pengendalian pelaksanaan pembangunan proyek PUSPIPTEK, yang seluruhnya akan dipertanggungjawabkan kepada Presiden. Sesuai dengan Keppres 43 Tahun 1976, mengatur bahwa pelaksanaan proyek pembangunan PUSPIPTEK merupakan tanggung jawab dari Presiden yang kewenangan pelaksanaan teknisnya diberikan kepada Menteri Ristek.
Sampai dengan tahun 2003, keberadaan serta tugas pokok dan fungsi PUSPIPTEK tetap sesuai dengan Keppres No. 43 Tahun 1976. Pada tahun 2003 dikeluarkan Keputusan Presiden No. 49 Tahun 2003 tentang Pencabutan Keputusan Presiden No. 43 Tahun 1976 tentang Pembangunan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Serpong (yang selanjutnya disebut Keppres No. 49 tahhun 2003). Pemberlakuan Keppres No. 49 tahun 2003, merupakan tindak lanjut dari Keputusan Presiden No. 47 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No. 101 tahun 2002 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi daan Tata Kerja Menteri Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir denngan Keppres Presiden No. 29 tahun 2003 dan Keputusan Presiden No. 48 tahun 2003 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden No.
108 tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Menteri Negara sebagaimana
telah Beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden No. 31 tahun 2003.
Ketiga keputusan presiden tersebut diberlakukan berdasarkan pemberlakuan UU No. 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembaangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (selanjutnya akan disebut UU Sisnas P3 Iptek). Berkaitan dengan pengelolaannya, PUSPIPTEK tetap langsung berada dibawah Presiden melalui penanggungjawabnya yaitu Menteri Ristek. Diberlakukannya Keppres 47, 48 dan 49 tahun 2003 tersebut, kegiatan proyek PUSPIPTEK diintegrasikan ke Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) sekaligus berada dibawah tanggung jawab KNRT, yang dilakukan oleh Asisten Deputi Urusan PUSPIPTEK dibawah Koordinasi Deputi Bidang Pengembangan Sipteknas KNRT.
Diberlakukannya UU Sisnas P3 Iptek tahun 2002, PUSPIPTEK menjadi salah satu lembaga yang merupakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan, yang pelaksanaannya tunduk pada UU Sisnas P3 Iptek. Butir 12, Pasal 12 UU Sisnas P3 Iptek mendefinisikan bahwa Lembaga Penelitian dan Pengembangan adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. Lembaga litbang berdasarkan pasal 8 merupakan salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dalam melaksanakan fungsinya tersebut bertanggung jawab mencari berbagai invensi dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. Bentuk dari Lembaga litbang tersebut dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri, atau bagian dari organisasi pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, badan usaha, lembaga penunjang, dan organisasi masyarakat.
Tahun 2006 Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), mengeluarkan peraturan menteri yang mempertegas kedudukan dan bentuk dari PUSPIPTEK Serpong, melalui Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 05/M/PER/VII/2006 tentang Perubahan atas peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 02/M/Per/III/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Ristek. Pada peraturan tersebut dimuat tentang kedudukan PUSPIPTEK Serpong adalah bagian dari KNRT1dan sebagai unsur Penunjang KNRT2. Melalui peraturan ini keberadaan PUSPIPTEK merupakan lembaga yang menunjang dan mendukung kegiatan KNRT yang seluruh pengelolaannya berada dibawah tanggung jawab KNRT. Oleh karena itu pengelolaan PUSPIPTEK harus tunduk pula kepada beberapa Undang-Undang dan peraturan pemerintah lainnya. Undang- undang selain UU Sisnas P3 Iptek berkaitan dengan pengelolaan adalah Undang-Undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara(selanjutnya disebut UU Keuangan Negara), Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara (selanjutnya disebut UU Perbendaharaan Negara). Hal tersebut dapat berpengaruh kepada ruang gerak PUSPIPTEK apabila terdapat rencana kearah bisnis dengan pencapaian profit, sesuai dengan tugas operasional yang diartikan dalam bentuk pengelolaan pemeliharaan, pengembangan dan peningkatan manfaat potensi PUSPIPTEK, khususnya dalam peningkatan peran PUSPIPTEK dalam aspek sosial dan komersialisasi guna menjawab tantangan kebutuhan teknologi masyarakat industri, lembaga pendidikan dan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah, terutama dalam menghasilkan jasa dan produk teknologi dari berbagai laboratoria yang berada di PUSPIPTEK3.
1 Pasal 4 Permenristek No. 06/M/PER/VII/2006.
2 Pasal 454 Permenristek No. 06/M/PER/CII/2006.
3 Buku Profil PUSPIPTEK, penerbit Keasdepan Urusan PUSPIPTEK, Deputi Bidang Pengembangan Sipteknas, Kementerian Riset dan Teknologi.
56
Sesuai dengan Master Plan (Rencana Induk) PUSPIPTEK, kawasan yang awalnya seluas 350 hektar ini terbagi atas tiga area yaitu area laboratoria, area industri dan area pendidikan tinggi. Pada saat ini di kawasan PUSPIPTEK seluas 460 ha telah berdiri 47 pusat/balai/UPT yang dilengkapi berbagai laboratoria yang modern milik BATAN, BPPT, LIPI, dan Pusarpedal (Kementerian Lingkungan Hidup). Sampai sekarang PUSPIPTEK menempati lahan seluas sekitar 460 Ha, dan mempekerjakan lebih dari 4.000 pegawai dengan lebih dari 150 orang diantaranya bergelar Doktor/Ph.D, dan 2.000 orang S1/D3. PUSPIPTEK berkembang di era 90-an karena industri strategis berkembang pada saat itu. Dengan kata lain, terjalin sinergi antara lembaga litbang dan industri.
Pada Tahun 1980 sampai dengan 1997 PUSPIPTEK mempunyai peran penting dalam mendukung pertumbuhan industri strategis. Industri strategis banyak mendapatkan dukungan insentif finansial dan fiskal yang memadai. Pada saat itu, terjalin sinergi antara industri dengan lembaga keuangan. Namun demikian pasca krisis moneter dari tahun 1997 – 2012, PUSPIPTEK mengalami kondisi yang idle sejalan dengan perubahan kondisi dan arah pengembangan industri strategis. Disamping itu tidak ada investasi baru yang signifikan di PUSPIPTEK yang menyebabkan kondisi peralatan yang obsolete dan SDM yang aging. Tahun 2012 terjadi perpindahan sebagian besar unit-unit teknis dan administrasi BPPT dari kantor pusat di Jakarta ke kawasan PUSPIPTEK.
Saat ini Manajemen Pengelolaan PUSPIPTEK berada dalam struktur Asisten Deputi (eselon II) Jaringan Penyedia dengan Pengguna, Deputi Bidang Jaringan Iptek, Kementerian Ristek.Organisasi seperti itu menjadi kendala tersendiri dalam menjalankan PUSPIPTEK, baik dalam hal koordinasi ke LPNK yang membawahi Pusat/Balai yang ada di Kawasan, maupun dalam hal koordinasi dengan stakeholder PUSPIPTEK di luar kawasan baik dengan industri dan masyarakat pada umumnya. Pengkajian lebih lanjut perlu dalam rangka untuk menjadikan PUSPIPTEK sebagai organisasi yang dikelola secara profesional atau semi profesional.
PUSPIPTEK sebagai salah satu pusat perhatian nasional dalam bidang iptek juga semakin dikokohkan dengan hadirnya Reaktor Serbaguna GA Siwabessy. Reaktor nuklir ini memiliki kapasitas 30 MW thermal dan merupakan reaktor nuklir riset terbesar di belahan bumi bagian selatan. Produk-produk litbang dari reaktor ini sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan dan pertanian. Selain teknologi yang dihasilkan, keberadaan reaktor ini juga membuktikan penguasaaan SDM nasional dalam bidang teknologi nuklir.
Sejak tahun 2007 BPPT telah merencanakan Program Pengembangan Laboratoria BPPT Terpadu (PLBT) di PUSPIPTEK. Program PLBT berupa pengembangan laboratoria dan fasilitas pelatihan merupakan bagian rencana BPPT untuk lebih mendekatkan ke industri yang didukung oleh kegiatan perekayasaan teknologi.
Manajemen PUSPIPTEK sebagai pengelola kawasan berperan mendukung program PLBT BPPT tersebut khususnya dalam penyediaan sarana pendukungnya, sesuai dengan peruntukan penggunaan lahan PUSPIPTEK.
Dari kondisi saat ini di PUSPIPTEK baik kondisi fisik kawasan maupun manajemen maka pada penelitian ini dilakukan perancangan struktur kelembagaan eko- inovasi dengan analisis ISM untuk mendapatkan struktur lembaga terbaik dalam pengelolaan Kawasan PUSPIPTEK sebagai kawasan eko-inovasi.
Analisis Sistem
Merujuk kepada pola pikir kesisteman dan karakteristik yang mendasarinya, maka rancang bangun pengembangan kebijakan eko-inovasi kawasan pusat penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan dengan pendekatan sistem karena melibatkan serangkaian kegiatan pengelolaan kawasan yang menyangkut teknologi, kelembagaan dan manajemen pengelolaan dari hulu ke hilir. Selain itu, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi dan banyaknya pelaku (pemangku kepentingan) yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung dengan tingkat kepentingan yang berbeda-beda.
Pengelola kawasan merupakan pelaku kunci, namun sejauh ini perlu dilakukan studi optimalisasi peran kelembagaannya sehingga kawasan mendapatkan penilaian standar berdasarkan konsep eko-inovasi. Konsep eko inovasi ini diharapkan akan memberikan penghematan biaya pengelolaan kawasan, kenaikan standar penilaian eko kawasan dan perbaikan lingkungan dan budaya eko, sehingga pemangku kepentingan Kawasan PUSPIPTEK mendapatkan keuntungan optimal. Terkait hal tersebut maka, diperlukan langkah strategis pengembangan eko-inovasi yang dapat menjamin keberlanjutan pengelolaan kawasan dan kelembagaan semua pemangku kepentingan yang terkait.
Pengembangan PUSPIPTEK sebagai STP dengan konsep eko-inovasi merupakan suatu langkah perbaikan dari kondisi PUSPIPTEK saat ini. Kawasan PUSPIPTEK terdiri dari BATAN, BPPT, LIPI dan PUSARPEDAL (KLH). Ada 47 Balai dan Pusat penelitian yaitu 10 (sepuluh) pusat/balai di bawah BATAN, 30 pusat/balai dibawah BPPT, 5 pusat/balai di bawah LIPI dan 2 pusat/balai di bawah KLH.
Secara organisasi PUSPIPTEK secara umum tetap di bawah Kementerian Ristek ditambah entitas baru sebagai bagian PUSPIPTEK yaitu I-STP dengan organisasi sendiri.
Fungsi yang harus diakomodasi dalam organisasi PUSPIPTEK adalah manajemen ke-tata usaha-an dan rumah tangga, fungsi pengelolaan dan pengembangan sarana-prasarana kawasan serta manajemen keamanan dan keselamatan kawasan, fungsi promosi, marketing dan pengembangan kerjasama iptek, fungsi pengelolaan dan pengembangan inovasi dan fasilitasi inkubasi teknologi dan bisnis di I-STP. Manajemen pengelolaan kawasan PUSPIPTEK menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sedangkan I-STP akan menggunakan APBN, Public Private Partnership (PPP), Badan Layanan Umum (BLU) sehingga komersialisasi hasil iptek akan dilakukan melalui I-STP. Pada penelitian ini diharapkan ada pengembangan kebijakan yang dapat dihasilkan untuk dapat membantu pembuatan keputusan terhadap pengelolaan kawasan dengan konsep eko-inovasi meliputi keputusan pembangunan pengembangan infrastruktur, penilaian Kawasan PUSPIPTEK secara sistem, penghitungan biaya penghematan biaya pengelolaan, sistem pengelolaan dan struktur kelembagaan terbaik dalam pengelolaan kawasan.
Analisis Kebutuhan
Analisis sistem pengembangan kebijakan kawasan eko-inovasi ini melibatkan beberapa pelaku yang terlibat dalam sistem tersebut. Kunci suksesnya sebuah sistem adalah apabila semua pelaku yang terlibat dalam sistem memperoleh manfaat dari sistem yang ada. Bertolak dari hal tersebut maka analisis sistem ini diarahkan untuk dapat merumuskan model yang mampu memenuhi masing-masing kebutuhan dari semua pelaku yang terlibat. Oleh karena itu maka identifikasi pelaku dan kebutuhan masing- masing pemangku kepentingan perlu dilakukan untuk dapat merumuskan suatu model yang baik.
58
Pendekatan sistem mengacu kepada prosedur riset menurut Eriyatno (1999) melalui tahapan yang meliputi analisis kebutuhan, formulasi permasalahan, identifikasi sistem, pemodelan sistem, verifikasi model dan implementasi.
Dalam melakukan analisis kebutuhan ini dinyatakan kebutuhan-kebutuhan yang ada, baru kemudian dilakukan tahap pengembangan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dideskripsikan. Analisis kebutuhan sangat sukar dikerjakan terutama dalam menentukan dari sejumlah kebutuhan-kebutuhan yang ada dimana kebutuhan yang dapat dipenuhi (Eriyatno 1999). Identifikasi pelaku yang terlibat dilakukan untuk mengetahui institusi apa saja yang terkait dengan sistem pengembangan pengembangan kebijakan eko-inovasi, kemudian masing-masing pelaku diidentifikasi kebutuhannya. Pelaku dan kebutuhannya secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Analisis kebutuhan pada masing-masing pelaku pengembangan kebijakan eko- inovasi
No. Pemangku Kepentingan Kebutuhan
1 Pemerintah Pusat : Kementerian Riset dan Teknologi
- Adanya kebijakan pengelolaan kawasan - Peningkatan PNBP
- Peningkatan jaringan iptek
- Pengelolaan kawasan PUSPIPTEK lebih efisien
- Peningkatan standar eko kawasan 2 Pemerintah Pusat :
BAPPENAS, Kemenperin, Kemenkeu
- Adanya sinergi kebijakan - Peningkatan PNBP
- Peningkatan pelayanan industri mitra
- Adanya teknologi tepat guna yang dapat didesiminasikan ke Industri/IKM
- Kepastian pendanaan - Peningkatan jaringan iptek 3 Pemerintah Pusat : KLH Cq
Pusarpedal di kawasan
- Peningkatan standar eko- inovasi untuk kawasan
- Peningkatan kualitas lingkungan eko di Kawasan
4 Pemerintah daerah - Kemitraan yang lebih baik
- Kesepakatan pengelolaan wilayah - Rencana pembangunan kawasan yang
berkelanjutan
- Adanya kerjasama iptek dalam pembangunan daerah
5 Pengelola Kawasan: Asdep Penyedia dan Pengguna Jaringan Iptek
- Peningkatan efisiensi pengelolaan kawasan - Peningkatan standar Eko Kawasan
- Peningkatan kualitas lingkungan kawasan 6 Lembaga Litbang (BPPT, LIPI,
BATAN) di Kawasan PUSPIPTEK
- Peningkatan kualitas lingkungan kawasan - Peningkatan produktivitas dan kenyamanan
tempat kerja
- Peningkatan keamanan kawasan
7 Perguruan tinggi - Tersedianya mitra kerja untuk penelitian dan pengembangan
- Penelitian dan pengembangan berorientasi
No. Pemangku Kepentingan Kebutuhan kebutuhan
8 Industri / IKM (swasta) - Adanya kerjasama iptek saling menguntungkan
- Adanya transfer teknologi - Peningkatan pelayanan industri - Adanya inkubasi teknologi 9 Investor/Lembaga
Keuangan/Modal Ventura
- Adanya dana yang terserap dalam pembiayaan Industri dalam memanfaatkan iptek
- Industri/IKM lebih memahami akses pendanaan untuk usahanya
10 Masyarakat sekitar - Peningkatan ekonomi regional kawasan - Peningkatan kualitas lingkungan di sekitar
kawasan 11 Peneliti / perekayasa Lembaga
Litbang di kawasan
- Peningkatan kualitas lingkungan kawasan - Peningkatan produktivitas dan kenyamanan
tempat kerja 12 Pemanfaat Jasa Wisata IPTEK
(mahasiswa/SLTA/SLTP/SD/
umum)
- Kemudahan prosedur pelayanan - Peningkatan kualitas pelayanan 13 Lembaga Standarisasi Penilai
Eko Kawasan (GBCI)
- Tersosialisasinya standar Eko
- Adanya kerjasama dengan GBCI untuk standar eko kawasan
- Peningkatan kualitas lingkungan 14 Pengguna jasa PUSPIPTEK
(jasa konsultasi, jasa analisa, diklat )
- Kecepatan dan kepastian pelayanan dari waktu dan kualitas pelayanan
- Kemudahan prosedur pelayanan
Adapun pelaku yang terlibat dalam sistem kebijakan eko-inovasi meliputi :
1. Pemerintah Pusat: Kementerian Riset dan Teknologi merupakan Kementerian yang mempunyai tugas pokok dan fungsi kebijakan IPTEK dan penanggungjawab kawasan PUSPIPTEK melalui Asdep Penyedia dan pengguna IPTEK.
2. Pemerintah Pusat: BAPPENAS, Kemenperin, Kemenkeu merupakan kementerian yang terkait dengan pendanaan, pembinaan industri dan kebijakan terkait.
3. Pemerintah Pusat: KLH Cq Pusarpedal di Kawasan, merupakan pusat sarana pengujian dan pengendalian lingkungan dan jasa konsultasi lingkungan.
4. Pemerintah Daerah, Kota Tangerang Selatan sebagai penanggung jawab dan pengelola tata ruang wilayah dan penyedia infrastruktur fasilitas umum.
5. Pengelola Kawasan: Asdep Jaringan Penyedia dengan Pengguna Iptek dengan tugas merumuskan rekomendasi kebijakan jaringan iptek, mengimplementasi dan mengevaluasi kebijakan dan memfasilitasi koordinasi LPNK di bawah koordinasi iptek.
6. Lembaga Litbang (BPPT, LIPI, BATAN) di Kawasan PUSPIPTEK, sebagai lembaga penelitian, pengujian dan administrasi pelayanan pengguna iptek.
7. Perguruan Tinggi, sebagai mitra untuk dapat mengembangkan iptek dan sumber SDM
8. Industri / IKM (Swasta) sebagai pengguna jaringan iptek.
9. Investor/Lembaga Keuangan/Modal Ventura, sebagai sumber pendanaan bagi IKM.
60
10. Masyarakat sekitar, sebagai pihak yang merasakan dampak secara langsung adanya Kawasan PUSPIPTEK. merupakan faktor yang tidak boleh dilupakan karena akan sangat menentukan dimana kawasan itu berada maka akan sangat terkait dengan kondisi masyarakat sekitar tanpa dukungan masyarakat sekitar maka suatu sistem tidak akan dapat berjalan.
11. Peneliti / perekayasa Lembaga Litbang di Kawasan merupakan SDM yang bertugas untuk menjalankan fungsi penelitian, pelayanan dan fasilitasi industri.
12. Pemanfaat jasa wisata iptek (Mahasiswa/SLTA/SLTP/SD/Umum) merupakan pihak pengguna Kawasan PUSPIPTEK.
13. Lembaga standarisasi Penilai Eko Kawasan (GBCI), merupakan lembaga yang menilai kawasan dari segi eko.
14. Pengguna jasa PUSPIPTEK (jasa konsultasi,jasa analisa,diklat ), merupakan pihak pengguna jasa PUSPIPTEK.
Formulasi Masalah
Pengelolaan kawasan yang berkelanjutan membutuhkan komitmen semua pemangku kepentingan untuk dapat mengembangkan kawasan yang berstandar eko.
Penerapan eko-inovasi memerlukan sistem yang dapat menyatukan keinginan pemangku kepentingan sehingga Kawasan PUSPIPTEK menjadi kawasan yang nyaman bagi pemangku kepentingannya. Permasalahan eko-inovasi di Kawasan PUSPIPTEK ini memerlukan komitmen dari para pemangku kepentingan, pendanaan untuk merevitalisasi sarana prasarana, kompetensi SDM, inovasi teknologi, pengelolaan air, energi dan limbah yang mengacu kepada konsep eko sehingga diperlukan pengembangan kebijakan eko- inovasi yang sistematis dan operasional.
Berkaitan dengan hal tersebut maka perlu dirancang model yang dapat membantu para pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan menyangkut pengelolaan air, limbah dan energi, sistem pengelolaan eko-inovasi dan kelembagaan pengelolaan kawasan eko-inovasi yang efektif. Pada pembangunan kawasan atau revitalisasi kawasan yang memiliki konsep eco/green techno park, maka kesemua aspek diatas harus diselaraskan dengan kriteria dalam penentuan apakah suatu kawasan tersebut termasuk dalam kategori green atau tidak. Sederet prasyarat dalam pengembangan kawasan sudah disiapkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI) dalam rangka penilaian tersebut. Pencapaian penilaian green atau tidaknya suatu kawasan disebut dengan peringkat. Peringkat ini merupakan akumulasi nilai yang diperoleh suatu kawasan terhadap penilaian kriteria yang sudah ditetapkan. Kriteria dalam penentuan suatu kawasan telah memenuhi konsep eco/green diantaranya:
a. Kriteria Peningkatan Ekologi Lahan (Land Ecological Enhancement) b. Kriteria Pergerakan dan Konektivitas
c. Kriteria Manajemen dan Konservasi Air
Permasalahan lain yang berkaitan dengan permasalahan sebelumnya adalah belum adanya kelembagaan yang memadai sehingga berimplikasi dengan aspek lainnya.
Pengembangan kawasan eko-inovasi memerlukan perangkat kelembagaan yang memadai meliputi pemerintah pusat yaitu Kementerian Riset dan Teknologi, kementerian terkait, industri pengguna jasa, peneliti di kawasan, petugas pengelola kawasan, balai/laboratorium di kawasan, LPNK di kawasan, perguruan tinggi dan Pemerintah Daerah. Keberadaan kelembagaan tersebut diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan semua pemangku kepentingan sehingga akan tercipta struktur pengelolaan eko-inovasi yang optimal.
Identifikasi Sistem
Identifikasi sistem dilakukan dengan menggunakan diagram input output sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 15. Output yang dikehendaki merupakan pemenuhan kebutuhan pada masing-masing pemangku kepentingan pada identifikasi kebutuhan, sedangkan output yang tidak dikehendaki merupakan hasil samping dari sistem yang merupakan dampak yang ditimbulkan dari sistem tersebut, jika hal ini yang timbul maka dapat ditinjau kembali input terkendali melalui kontrol manajemen.
INPUT LINGKUNGAN 1. Peraturan / Regulasi Pemerintah 2. Kondisi Makro Ekonomi 3. Kondisi Sosial Politik 4. Perubahan Iklim dan cuaca
INPUT TIDAK TERKENDALI - Biaya listrik, air dan limbah - karakteristik lingkungn - Ketersediaan air (kuantitas) dan
energi
- Pertumbuhan kawasan sekitar - Kerusakan lingkungan dan
pemanasan global
OUTPUT YANG DIKEHENDAKI - Peningkatan efisiensi biaya pengelolaan
lingkungan
- Peningkatan perilaku eko pemangku kepentingan
- Peningkatan kualitas lingkungan - Peningkatan produktivitas dan
lingkungan kerja
PENGEMBANGAN KEBIJAKAN EKO- INOVASI
INPUT TERKENDALI - Kelembagaan
- Kebijakan pengembangan - Teknologi
- Infrastruktur - Model Bisnis - Kerjasama
OUTPUT YANG TIDAK DIKEHENDAKI
- Terjadinya kegagalan sistem - Kebijakan yang tidak terarah - Ada konfik kepentingan
- Pengelolaan lingkungan yang tidak kurang terkoordinasi
MANAJEMEN PENGENDALIAN PENGELOLAAN KAWASAN EKO
Gambar 15 Diagram input output sistem pengembangan kawasan eko-inovasi