• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KEBIDANAN p-ISSN: 2089-7669 ; e-ISSN: 2621-2870

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL KEBIDANAN p-ISSN: 2089-7669 ; e-ISSN: 2621-2870"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

103

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index Volume 9 Nomor 2 (2019) 103-107

JURNAL KEBIDANAN

p-ISSN: 2089-7669 ; e-ISSN: 2621-2870 http://dx.doi.org/10.31983/jkb.v9i2.4095

Occupational Factors with Toddler Nutrition Status

Rizka Esty Safriana1 Endah Mulyani2 Aidha Rachmawati3

1,2,3Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Gresik, Indonesia

Corresponding author: Rizka Esty Safriana Email: [email protected]

Received: April 15th, 2019; Revised: May 13th, 2019; Accepted: September 4th, 2019

ABSTRACT

Toddler is one of the groups prone to malnutrition because it can cause death. Parents, especially mothers, play a role in fulfilling the nutritional status of toddlers. The purpose of this study was to determine the relationship of maternal employment with the nutritional status of toodler in Tebul Timur Village, Pegantenan District, Pamekasan Regency. The design of this research was observational analytic method with cross sectional approach. Population 251 mothers and toodlers. The sampling technique uses simple random sampling. The sample used was 154 mothers and toodlers. The majority of maternal employment are 93 people (60.4%) and almost all toddlers have good nutritional status as many as 130 children (84.4%). Based on the Lambda test results, the p value (0.018) <α (0.05) means that statistically there is a relationship between maternal employment and the nutritional status of toodler in Tebul-Timur Village, Pegantenan District Pamekasan.

Keyword: maternal employment; toodler nutrition Pendahuluan

Gizi buruk merupakan suatu keadaan yang terjadi ketika bahan makanan yang masuk kedalam tubuh tidak cukup mengandung nutrisi (zat gizi) yang diperlukan oleh tubuh. Di negara miskin dan berkembang, gizi buruk merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap keadaan sakit dan kematian. Gizi buruk yang dialami selama masa kanak-kanak akan berpengaruh terhadap gangguan pertumbuhan sehingga dikhawatirkan akan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian[1].

Setiap tahun lebih dari sepertiga kematian anak di dunia berkaitan dengan masalah kurang gizi. Dimana keadaan kekurangan gizi berpotensi dapat melemahkan daya tahan serta mengganggu pertumbuhan dan perkembangan. Khusus pada perkembangan dapat berakibat menurunkan tingkat kecerdasan anak[2].

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes, 2018) untuk prevalensi gizi kurang (underweight) adalah sebesar 13,8%. Untuk

prevalensi stunting sebesar 11,5% dan untuk wasting (kurus) berada pada angka 6,7%. Data profil kesehatan Indonesia tahun 2017 untuk provinsi Jawa Timur terdapat 15,5% balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang bila dilihat dari BB/U.

Gizi buruk tidak hanya dihubungkan dengan kekurangan energi dan protein tetapi juga mineral (seperti besi, zink dan iodium) dan vitamin A.

Selain itu, keadaan gizi buruk juga dihubungkan dengan kekurangan asam lemak esensial. Data Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017, status gizi balita diukur berdasarkan umur (U), berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel umur, BB dan TB ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu : berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Secara umum indikator status gizi berdasarkan indeks BB/U memberikan indikasi masalah gizi, namun tidak memberikan indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis ataupun

(3)

akut karena berat badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan. Indikator BB/U yang rendah dapat disebabkan karena pendek (stunting) atau kurus (thinnes) atau keduanya, atau disebabkan karena balita/anak sedang menderita diare atau penyakit infeksi lain Indikator status gizi berdasarkan indeks TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama, misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan asupan makanan kurang dalam jangka waktu lama sejak usia bayi sehingga mengakibatkan anak menjadi pendek. Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat). Misalnya: terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang mengakibatkan anak menjadi kurus. Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi kurus dan gemuk. Masalah kurus dan gemuk pada umur dini dapat berakibat pada risiko berbagai penyakit degeneratif pada saat dewasa[3].

Kelompok rawan gizi adalah ibu dan anak.

Masalah gizi ditandai dengan meningkatnya prevalensi gizi kurang (BB/U) dan pendek (TB/U) pada anak balita. Rendahnya aksesibilitas pangan, yaitu kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi kebutuhan pangan anggota keluarganya, mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi-seimbang, dan aman di tingkat rumah tangga. Pada akhirnya akan berdampak pada semakin beratnya masalah kekurangan gizi masyarakat.

Masalah gizi adalah masalah intergenerasi yaitu ibu hamil kurang gizi akan melahirkan bayi kurang gizi. Intervensi untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakan melalui pelayanan berkelanjutan (continum care) pada periode kesempatan emas kehidupan (window of opportunity), yaitu sejak janin dalam kandungan, dan bayi baru lahir sampai anak berusia 2 tahun[4].

Berdasarkan hasil wawancara dengan bidan desa Tebul-Timur Pegantenan Pamekasan didapatkan sebanyak 67,35% ibu balita statusnya bekerja. Hasil penelitian Persulessy, dkk. (2013) diketahui bahwa status gizi balita dipengaruhi oleh banyak hal dari mulai kondisi ibu saat hamil, melahirkan dan menyusui, kondisi pengetahuan ibu, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak dalam keluarga sampai pendapatan dalam keluarga.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai hubungan

pekerjaan ibu dengan status gizi balita di Desa Tebul Timur Pegantenan Pamekasan.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Variabel dalam penelitian terdiri dari variabel dependen dan independen. Pekerjaan ibu sebagai variabel independen dan status gizi balita sebagai variabel dependen. Instrumen penelitian ini menggunakan ceklist dan lembar observasi.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita di desa Tebul-Timur pada bulan Mei tahun 2018 yang berjumlah 251 balita. Teknik pengambilan sampel dengan cara simple random sampling sehingga diperoleh besar sampel penelitian sebanyak 154 balita. Balita yang termasuk dalam kriteria yaitu yang berusia 0-59 bulan dan tidak menderita kelainan bawaan ataupun penyakit akut dan kronis. Pengukuran status gizi balita berdasarkan pada BB/U.

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada saat posyandu di desa Tebul-Timur. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang meliputi variabel bebas dan variabel terikat. Karena dalam penilitian ini memiliki dua variabel yang skala datanya nominal dan ordinal maka menggunakan uji lambda.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada Balita di Desa Tebul-Timur Pada Bulan Mei Tahun 2018 didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 1

Distribusi frekuensi karakteristik ibu.

Karakteristik Katagori 𝐍 % Usia ibu balita 15-19 tahun 10 6,5 20-35 tahun 98 63,2

>36 tahun 46 4,0 Jumlah 154 100,0 Pendidikan ibu

balita

SD/SMP 11 7,2

SMA/sederajat 126 81,8 Akademi/PT 17 11.0 Jumlah 154 100,0 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 63,2% ibu yang memiliki balita di Desa Tebul-Timur berusia 20-35 tahun. Sebagian besar tingkat pendidikan ibu adalah lulusan SMA/

sederajat yakni sebanyak 81,8% dan sebagian

(4)

105

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index besar balita yan menjadi responden berusia antara

13-36 bulan yakni sebanyak 61,7%.

Tabel 2

Distribusi frekuensi karakteristik balita.

Karakteristik Katagori 𝐍 % Usia Balita 0-12 bulan 9 5,8

13-36 bulan

95 61,7

37-59 bulan

50 32,5

Jumlah 154 100,0

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat dari 154 balita di Desa Tebul-Timur pada Mei tahun 2018 sebagian besar berusia 13-36 bulan sebanyak 95 orang (61,7%). Kegiatan pengukuran status gizi balita di posyandu desa Tebul-Timur Pegantenan Pamekasan dilakukan dengan memeriksa BB/U sesuai yang tersedia pada KMS balita. Hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3

Distribusi frekuensi pekerjaan ibu dan status gizi balita.

No Karakteristik Katagori 𝐍 % 1 Status

pekerjaan ibu

Bekerja 61 39,6

Tidak bekerja 93 60,4 Jumlah 154 100,0 2 Status gizi

balita

Buruk <-3SD 1 0,6 Kurang -3SD

s/d -2SD 14 9,1 Baik -2SD s/d

+2SD 130 84,4

Lebih >+2SD 9 5,8 Jumlah 154 100,0 Berdasarkan data tabel 3 dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu bekerja, yakni sebanyak 93 ibu bekerja (60,4%) dan status gizi balita baik (-2SD s/d +2SD) sebanyak 130 anak (84,4%).

Status ibu bekerja berhubungan langsung dengan reduksi waktu yang disediakan untuk menyusui anak dan merawat anak sehingga mempunyai konsekuensi negatif terhadap gizi anak. Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong banyaknya kaum wanita yang bekerja terutama di sektor swasta. Di satu sisi hal ini berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun di sisi lain berdampak negatif terhadap

pembinaan dan pemeliharaan anak terutama dalam menjaga asupan gizi balita[5].

Ibu yang tidak bekerja sangat berperan dalam pemenuhan konsumsi balita dan keluarga.

Ibu yang tidak bekerja lebih memperhatikan pemenuhan gizi dengan memilih bahan makanan yang terbaik dan mengolah makanan dengan lebih higienis. Berbeda dengan ibu yang bekerja, sebagian ibu tidak memiliki cukup waktu untuk sekedar berbelanja memilih bahan makanan dan mengolahnya menjadi makanan kaya gizi untuk anak dan keluarganya sehingga anaknya dapat menderita gizi kurang[1].

Peranan orang tua sangat penting yaitu mengasuh, merawat dan mengasah anak selama dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya terutama ibu. Ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak sekaligus sebagai pengatur ketersediaan makanan bagi keluarganya. Peran ibu dalam asupan makanan bagi anaknya berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu, jenis pekerjaan ibu, tingkat pendapatan keluarga dan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi[6].

Status gizi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung status gizi dipengaruhi oleh asupan zat gizi dan secara tidak langsung dipengaruh oleh beberapa faktor. Karakteristik ibu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi balita secara tidak langsung, antara lain tingkat pendidikan ibu, pengetahuan tentang gizi, dan pekerjaan ibu[7].

Balita atau anak di bawah lima tahun merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan paling pesat, namun juga merupakan kelompok paling rawan menderita gizi kurang maupun gizi buruk[8].

Status gizi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan balita. Status gizi juga berpengaruh pada kecerdasan balita, balita dengan gizi kurang atau buruk akan memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah, nantinya mereka tidak mampu bersaing. Dampak jangka pendek dari gizi buruk adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan perkembangan, sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor IQ, penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori. Gizi buruk jika tidak dikelola dengan baik pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya generasi bangsa[6].

Keadaan gizi buruk dan kurang juga dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap berbagai

(5)

penyakit, terutama penyakit infeksi yang mengganggu pertumbuhan, perkembangan fisik, mental dan jaringan otak serta masalah gizi memiliki dampak yang luas, tidak saja terhadap kesakitan, kecacatan dan kematian, tetapi juga terhadap pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas dengan produktivitas optimal[1].

Masalah gizi anak secara garis besar merupakan dampak dari ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran zat gizi (nutritional imbalance), disamping kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk disantap. Anak yang memiliki status gizi kategori kurang dan buruk dapat disebabkan oleh masukan energi dan protein yang sangat kurang dalam waktu yang lama[9].

Hubungan pekerjaan ibu dengan status gizi balita di desa Tebul-Timur Kecamatan Pegantenan Pamekasan

Tabel 4

Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Status Gizi Balita.

Pekerjaan Ibu

Status Gizi Balita

Jumlah

p value

Buruk Kurang Baik Lebih

𝐍 % 𝐍 % 𝐍 % 𝐍 % 𝐍 %

Bekerja 1 1,6 11 18 47 77 2 3,3 61 100

Tidak Bekerja - - 3 3,2 83 89,2 7 7,5 93 100 0,018

Jumlah 1 0,6 14 9,1 130 84,4 9 5,8 154 100

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat hampir seluruh ibu yang tidak bekerja memiliki balita yang status gizinya baik yaitu sebanyak 83 orang (89,2%) namun terdapat sebagian kecil ibu yang tidak bekerja balitanya memiliki balita yang gizinya kurang yaitu sebanyak 3 orang (3,2%) dan balita yang status gizinya lebih yaitu 7 orang (7,5%).

Selain itu, dari tabel 4 dapat dilihat sebagian besar ibu yang bekerja memiliki balita yang status gizinya baik yaitu sebanyak 47 orang (77%) namun terdapat sebagian kecil yang memiliki gizi buruk yaitu sebanyak 11 orang (18%).

Berdasarkan hasil uji lambda, didapatkan nilai p (0,018) < α (0,05) yang berarti secara statistik bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di Desa Tebul-Timur Kecamatan Pegantenan pada Mei Tahun 2018. Hal ini sejalan dengan penelitian Lukitawati (2010) bahwa terdapat hubungan antara status pekerjaan orang tua dengan status gizi balita. Ibu yang bekerja akan kehilangan waktu untuk memperhatikan asupan makanan bagi balitanya sehingga akan mempengaruhi status gizi balitanya.

Ibu yang memiliki balita kemudian bekerja lebih banyak memiliki status gizi balita kurang dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. [10]

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Handayani (2013) yang mengatakan ada hubungan pekerjaan ibu terhadap status gizi balita.

Adanya hubungan tersebut dikarenakan perhatian ibu terhadap asupan makanan balitanya

mempengaruhi status gizi balitanya. Ibu-ibu yang memiliki pekerjaan diluar rumah harus meninggalkan balita di rumah sampai sore sehingga perhatian terhadap asupan gizi menjadi berkurang dan mengakibatkanbalita menderita gizi kurang atau gizi buruk[11].

Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa walaupun ibu bekerja berada di luar rumah tetapi jika di dukung oleh pengetahuan yang cukup, ibu tersebut tetap dapat mengatur waktu dalam mengasuh dan memperhatikan asupan gizi balita. Selain itu, faktor lain yang ditemukan peneliti di lapangan yaitu adanya peran dari nenek atau orang tua ibu balita yang ikut merawat dan mengasuh balita ketika ibu bekerja di luar rumah[12].

Simpulan

Simpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di Desa Tebul-Timur Kecamatan Pegantenan Pamekasan.

Daftar Pustaka

[1] Vitrianingsih. (2017). Analisis Hubungan Karakteristik Ibu dengan Status Gizi Balita di Posyandu Empu Kunir 8 Rejowinangun Kotagede Yogyakarta. Yogyakarta : Skripsi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta .

(6)

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index 107 [2] Gunawan, G., Fadlyana, E., & Rusmil, K.

(2011). Hubungan Status Gizi dan Perkembangan Anak Usia 1-2 tahun. Sari Pediatri , 142-146.

[3] Andriani, M., & Wirjatmadi, B. (2014). Gizi dan kesehatan balita: Peranan mikro zinc pada pertumbuhan balita. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.

[4] BAPPENAS. (2011). Rencana aksi nasional pangan gizi 2011-2015. Jakarta: Badan Perencana Pembangunan Nasional.

[5] Labada, A., Ismanto, A. Y., & Kundre, R.

(2016). Hubungan Karakteristik Ibu dengan Status Gizi Balita yang Berkunjung di Puskesmas Bahu Manado. Jurnal Keperawatan, 4-9.

[6] Eshete H., Abebe Y., Loha E., Gebru T., Tesheme T. (2014). Nutritional Status and Effect of Maternal Employment among Children Aged 6–59 Months in Wolayta Sodo Town, Southern Ethiopia: A Cross-sectional Study. Ethiop J Health Sci. Vol. 27, No. 2:

155-162

[7] Sediaoetama. (2006). Ilmu gizi untuk mahasiswa dan profesi. Jakarta: Dian Rakyat.

[8] Proverawati, A., & Wati, E. (2011). Ilmu Gizi untuk Perawat dan Gizi Kesehatan.

Yogyakarta: Yulia Medika.

[9] Niska. (2017). Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu dan Status Pekerjaan Ibu dengan Status Gizi Berdasarkan BB/TB pada Anak Usia Prasekolah. Pangkalpinang:

Skripsi Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang.

[10] Lukitawati, N. (2010). Hubungan antara status pekerjaan orang tua dengan status gizi balita usia 1-5 tahun di desa Jatisarono Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta. Yogyakarta: Skripsi STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta.

[11] Handayani, L., Mulasari, S. A., & Nurdianis, N. (2008). Evaluasi program pemberian makanan tambahan anak balita. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 11, 21-26.

[12] Purwanti, R., Wati, E. K., & Rahardjo, S.

(2016). Karakteristik keluarga yang berhubungan dengan status gizi balita umur 6- 59 bulan. Jurnal Gizi Indonesia, 5, 50-54.

[13] Dinkes Jatim. (2015). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Surabaya: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

[14] Direktorat Gizi Masyarakat. (2017). Buku Saku Pemantauan Status Gizi Tahun 2017.

Jakarta: Kementerian Kesehatan.

[15] Kemenkes. (2017). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

[16] Kristianti, D. (2015). Hubungan antara karakteristik pekerjaan ibu dengan status gizi anak usia 4-6 tahun di TK Salomo Pontianak.

Pontianak: Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak.

[17] Persulessy, V., Mursyid, A., & Wijanarka, A.

(2013). Tingkat pendapatan dan pola makan berhubungan dengan status gizi balita di Daerah Nelayan Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura. Jurnal gizi dan dietetik Indonesia, 1, 143-150.

[18] Rozli, N. (2016). Peranan pendidikan, pekerjaan ibu dan pendapatan keluarga terhadap status gizi balita di posyandu rw 24 dan 08 wilayah kerja puskesmas nusukan kota surakarta. Surakarta: Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[19] Saaka, Mahama. (2014). Relationship between Mothers’ Nutritional Knowledge in Childcare Practices and the Growth of Children Living in Impoverished Rural Communities. Journal Health Popul Nutr.

Jun;32(2):237-248

[20] Saputri, I. (2016). Hubungan Pekerjaan dan Pendidikan Ibu terhadap Status Gizi Balita di Desa Pulo Ara Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen. Jurnal kesehatan almuslim , 2, 19-23.

[21] Setiaji, A. P. (2012). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di Kabupaten Sukoharjo. Surakarta:

Skripsi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

[22] WHO. (2013, September 9). Childhood Stunting : Context, Causes and Consequences WHO. Maternal and Chind Nutrition , pp. 27- 45.

(7)

Volume 9 Nomor 2 (2019) 108-113

JURNAL KEBIDANAN

p-ISSN: 2089-7669 ; e-ISSN: 2621-2870 http://dx.doi.org/10.31983/jkb.v9i2.4332

Early Breastfeeding Initiation of Postpartum Hemorrhage Events

Ike Putri Setyatama1 Ika Esti Anggraeni2

1,2 STIKes Bhakti Mandala Husada Slawi, Tegal

Corresponding author: Ike Putri Setyatama Email: [email protected]

Received: May 6th, 2019; Revised: May 31th, 2019; Accepted: September 4th, 2019

ABSTRACT

Hemorrhage was the main cause of maternal mortality in Tegal, 2017. Based on the survey at Puskesmas Slawi in January-December 2018, 30 women gave birth and experienced postpartum hemorrhage. Early breastfeeding helps to reduce hemorrhage and shrink uterus after birth. The research analyzed the effect of Early Initiation of Breastfeeding towards postpartum hemorrhage at Puskesmas Slawi. The population was 215 women who gave birth at Puskesmas Slawi in January- December 2018 with 140 samples. The research design applied case control study. Based on Chi Square with α = 0.05, p value was 0.048. It means that there was a relationship in both variables. As the result of logistic regression test, Sig. value was 0.029 stating that there was an effect of those variables.

OR value was 2.495 meaning that mothers who performed early initiation of breastfeeding were 2.5 times lower risk at postpartum hemorrhage than those who did not act early initiation of breastfeeding. Asymp.

Sig (2-Sided) was 0.032 describing that it represented population.Thus, there were a relationship and an effect of Early Initiation of Breastfeeding towards postpartum hemorrhage at Puskesmas Slawi.

Keywords: early initiation of breastfeeding; postpartum hemorrhage Pendahuluan

Angka Kematian Ibu merupakan salah satu indikator yang peka dalam menggambarkan kesejahteraan di suatu negara [1]. Berdasarkan SDKI (2012) Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 359/100.000 kelahiran hidup, namun mengalami penurunan pada tahun 2015 yaitu sebesar 305/100.000 kelahiran hidup.

Penyebab dari Angka Kematian Ibu di Indonesia antara lain preeklamsi 27,1%, infeksi 7,3%, partus lama 1,8%, abortus 1,6%, perdarahan 30,1% (penyebab dari perdarahan antara lain: retensio plasenta 15,1%, sisa plasenta 10%, rupture perineum 5%)[2].

Perdarahan merupakan salah satu penyebab kematian ibu bersalin dengan

persentase 16,44 % di Jawa Tengah yang memberikan kontribusi cukup besar setelah Preeklamsi[3]. Perdarahan pasca persalinan dan atonia uteri merupakan penyebab paling sering[4]. Perdarahan pasca persalinan merupakan kejadian yang tidak dapat diprediksi.

Kualitas penanganan perdarahan menjadi hal yang penting agar nyawa ibu dapat terselamatkan[5].

Perdarahan Post Partum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml. Perdarahan post partum tahap primer merupakan perdarahan post partum yang terjadi dalam 24 jam pertama.

Penyebabnya antara lain atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir[6].

Untuk menurunkan AKI dan AKB, dibutuhkan strategi yang memiliki daya ungkit,

(8)

1109

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index salah satunya adalah program intensif IMD.

Menyusu dini dapat membantu mengurangi perdarahan dan mengecilkan rahim setelah melahirkan sehingga ibu dianjurkan sesegera mungkin menyusui bayinya. Salah satu caranya agar uterus dapat berkontraksi dengan baik yaitu dengan menyusui sedini mungkin atau dengan melaksanakan inisiasi menyusu dini (IMD) dalam kurun waktu kurang dari 60 menit setelah bayi lahir, karena isapan bayi pada payudara akan menstimulasi produksi hormon oksitosin secara alami. Hormon Oksitosin ini membantu uterus untuk berkontraksi, sehingga pelepasan plasenta dapat lebih cepat serta dapat mengontrol perdarahan setelah kelahiran[7].

Inisiasi Menyusu Dini adalah perilaku pencarian putting payudara ibu sesaat setelah bayi lahir[8].

Suatu penelitian di Inggris menyebutkan bahwa, perempuan melahirkan yang melakukan Inisiasi Menyusu Dini mengalami kenaikan sejak tahun 2005 hingga 2010, dari 76% menjadi 81%.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan, bahwa menyusui memiliki dampak yang positif untuk hubungan ibu dan bayi, mendukung perkembangan kesehatan bayi meliputi fisik, sosial dan emosional bayi. Hal ini membuat pemerintah setempat membuat kebijakan yang mendukung peningkatan informasi terkait menyusui dini dan dampak positifnya[9].

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, ditahun 2017 terdapat 14 kasus kematian maternal. Perdarahan dan PEB sebagai penyebab utama kematian ibu di Kabupaten Tegal 2017dan penyebab perdarahan tersebut sebesar 21,4%[10]. Berdasarkan hasil survey di wilayah kerja Puskesmas Slawi selama 1 tahun, terhitung mulai bulan Januari sampai Desember tahun 2018, terdapat 215 ibu bersalin yang melakukan persalinan di Puskesmas Slawi dan terdapat 30 ibu nifas yang terjadi perdarahan postpartum[11]. Dari 215 ibu bersalin yang melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) 129 ibu (60%) dikatakan berhasil dilakukan IMD karena sesuai protap atau aturan yang tepat, sedangkan 86 ibu (40%) dikatakan kurang berhasil atau tidak sesuai protap maupun karena kondisi fisik tertentu dari ibu dan bayi.

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap kejadian perdarahan postpartum di wilayah kerja Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.Berdasarkan data diatas, inisiasi menyusu dini sangat penting bagi ibu dan bayi sehingga penting untuk

melakukan penelitian tentang Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini terhadap Kejadian Perdarahan Postpartum di wilayah kerja Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

Metode Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan case control. Metode survei yaitu penelitian yang observasinya dilakukan secara langsung dengan mengambil sampel dari satu populasi dengan menggunakan lembar observasi sebagai alat pengumpul data yang pokok[12]. Dalam penelitian ini, data pokok yang di observasi adalah kejadian perdarahan postpartum pada ibu bersalin, dan faktor yang berhubungan dengan penyebab perdarahan postpartum tersebut adalah keefektifan ibu dalam inisiasi menyusu dini (IMD).

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal periode bulan Januari-Desember tahun 2018 sejumlah 215 orang ibu bersalin.

Sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal periode bulan Januari-Desember tahun 2018, dihitung dengan menggunakan rumus besar sampel, dan diperoleh hasil besar sampel sejumlah 140 orang ibu bersalin.

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, yaitu hubungan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan kejadian perdarahan postpartum, dihitung menggunakan uji statistik Chi Square dengan derajat kepercayaan 95%[13]. Untuk melihat Pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat, yaitu pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap kejadian kejadian perdarahan postpartum dihitung menggunakan uji statistik Regresi Logistik Sederhana dengan α = 0,05 dan pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS versi 16. Nomor ethical clearence penelitian ini adalah No. 546/VIII/2019/Komisi Bioetik.

Hasil dan Pembahasan

Hasil Analisa Bivariat Praktik Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Dan Perdarahan Postpartum.

Tabel 1

Praktik Pelaksanaan IMD dan Kejadian Perdarahan Postpartum di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

(9)

Variabel Perdarahan Postpartum Tot al

% Per

dar aha n

% Tida k Perd araha

n

%

Tidak IMD

19 13, 6

45 32, 1

64 45, 7 IMD 11 7,9 65 46,

4

76 54, 3 TOTAL 30 21,

4

110 78, 6

140 100 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini aktif dalam pelaksanaan IMD, yaitu 76 orang (54,3%) dan 64 orang responden (45,7%) kurang efektif dalam pelaksanaan IMD pada ibu bersalin di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

Variabel perdarahan postpartum diketahui bahwa 78,6% responden dalam penelitian ini tidak mengalami perdarahan postpartum dan 21,4%

responden mengalami perdarahan postparum di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

Hasil tabel bivariat menunjukkan bahwa, responden yang melakukan IMD lebih sedikit yang mengalami perdarahan postpartum (7,9%), dibandingkan dengan responden yang tidak melakukan IMD dengan baik lebih banyak yang mengalami perdarahan postpartum (13,6%)

Tabel 2

Hubungan IMD dengan Kejadian Perdarahan Postpartum di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal dengan Chi-Square Test.

Value df

Asym p. Sig.

(2- sided)

Exac t Sig.

(2- sided )

Exac t Sig.

(1- sided ) Pearson

Chi- Square

4.776a 1 .029 Continu

ity Correcti onb

3.915 1 .048 Likeliho

od Ratio 4.786 1 .029 Fisher's

Exact Test

.038 .024 Linear-

by- 4.742 1 .029

Linear Associat ion N of Valid Casesb

140

Berdasarkan perhitungan Chi-Square tabel 2x2 dengan expected count kurang dari 5 yang kurang dari 25% dengan α = 0,05 diperoleh nilai p sebesar 0,048. Karena nilai p < α berarti secara statistik hasil pengujian signifikan, atau menolak Ho, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan IMD dengan kejadian perdarahan postpartum.

Tabel 3

Odds Ratio Hubugan IMD dengan Kejadian Perdarahan Postpartum di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

Mantel-Haenszel Common Odds Ratio Estimate

Estimate 2.495

Asymp. Sig. (2-sided) .032

Asymp. 95%

Confidence Interval

Common Odds Ratio

Lower

Bound 1.083

Upper

Bound 5.746

Nilai OR ditunjukkan dengan nilai

“Estimate” yaitu 2,495, yang artinya ibu yang melakukan IMD 2,5 kali lipat lebih rendah berisiko terjadi perdarahan postpartum dari pada yang tidak melakukan IMD.

Nilai Asymp. Sig (2-Sided) sebesar 0,032 menunjukkan nilai p value atau signifikansi nilai OR, dimana hasilnya < 0,05 maka pada taraf kepercayaan 95%, OR dinyatakan signifikan atau bermakna yang berarti dapat mewakili keseluruhan populasi.

Nilai Common Odds Ratio Lower Bound dan Upper Bound menunjukkan batas atas dan batas bawah OR, yang artinya, setidaknya ibu yang melakukan IMD sekurang-kurangnya lebih tidak beresiko terjadi perdarahan sebesar 1,083 kali lipat dan kemungkinan paling besar tidak terjadi perdarahan sebesar 5,746 kali lipat.

Tabel 4

Pengaruh IMD terhadap Kejadian Perdarahan Postpartum di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

Model

Sum of Squares df

Mean

Square F Sig.

Regre

ssion .804 1 .804 4.87

4 .029a

(10)

111

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index Residu

al 22.767 1 3 8

.165 Total

23.571 1 3 9

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar responden,yaitu ibu bersalin di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal telah melakukan IMD sebanyak 54,3%, dimana IMD adalah permulaan menyusu dini atau menyusu sendiri segera setelah lahir pada bayi dengan cara merangkak mencari payudara. IMD dikatakan berhasil apabila bayi dapat menemukan dan menghisap puting susu ibunya dalam satu jam pertama kelahirannya, dan jika satu jam pertama bayi tidak berhasil maka dicoba lagi diletakkan di dada ibunya dengan kontak kulit dan kulit selama satu jam lagi. Dalam Asuhan Persalinan Normal, jika bayi belum berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu satu jam, posisikan bayi lebih dekat dengan puting susu ibu dan biarkan kontak kulit dengan selama 30-60 menit berikutnya. selama pelaksanaan IMD ibu dapat merangsang bayi dengan memeluk dan membelai bayinya[14]. Dalam penelitian tahun 2012 di Puskesmas Tilamuta, Kabupaten Boalemo menjelaskan bahwa tindakan penolong persalinan merupakan salah satu faktor determinan keberhasilan pelaksaanaan IMD[15].

Upaya menurunkan AKI dan AKB, dibutuhkan strategi yang memiliki daya ungkit, salah satunya adalah program intensif inisiasi menyusu dini (IMD). Menyusu dini dapat membantu mengurangi perdarahan dan mengecilkan rahim setelah melahirkan sehingga ibu dianjurkan sesegera mungkin menyusui bayinya. Hormon oksitosin dapat dirangsang melalui IMD karena Inisiasi menyusu dini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi involusi uterus dimana saat menyusui terjadi rangsangan dan dikeluarkannya hormon antara lain oksitosin yang berfungsi selain merangsang kontraksi otot-otot polos payudara, juga menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus. Hal ini akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Menurut penelitian Thornton et al, menjelaskan bahwa oksitosin dapat dihasilkan oleh tubuh pada saat proses persalinan.

Kadar oksitosin akan meningkat pada kala III oleh

karena pengurangan metabolisme secara tiba-tiba karena pelepasan plasenta, dimana plasenta merupakan sumber utama oksitosin. Akibat pelepasan plasenta, hipotalamus terstimulasi untuk menghasilkan hormon oksitosin[16].

IMD merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi involusi uterus dimana saat menyusu terjadi rangsangan dan dikeluarkannya hormon oksitosin yang berfungsi merangsang kontraksi otot-otot polos payudara, dan menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus. Hal ini akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi perdarahan. Hal ini sesuai dengan peneltitian yang dilakukan Tahun 2013 di Puskesmas Tanah Kali Kedinding yang menyatakan bahwa IMD merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian perdarahan kala IV [17]. Hal tersebut juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan tahun 2010 di RS Sleman Jogjakarta, yang menyimpulkan bahwa keberhasilan IMD mempengaruhi jumlah perdarahan postpartum[18].

Dalam penelitian ini, IMD berpengaruh terhadap kejadian perdarahan postpartum sebesar 3,4%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya. Kesimpulan ini didukung dengan penelitian tahun 2010 dan 2012 melalui dengan metode kohort pada 13.738 keluarga dari berbagai wilayah bagian di negara Chili, yang menyatakan bahwa 92,5% ibu yang menyusui bayinya perlu pemahaman yang baik tentang faktor sosial dan faktor kesehatan yang mendukung manfaat menyusu dini, dan kehadiran pasangan merupakan faktor prediktor yang relevan dari inisiasi menyusu dini dan durasi menyusui[19]. Informasi yang diperoleh ibu tentang IMD juga mendukung dalam keberhasilan pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini[20]. Pada pelaksanaan inisiasi menyusu dini dianjurkan kepada ayah agar membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya diri ibu[14]. Hal tersebut membuktikan bahwa keberhasilan IMD diperngaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kehadiran pendamping persalinan.

Penelitian yang serupa dengan pernyataan tersebut yaitu penelitian yang dilakukan pada tahun 1999-2009 di lima negara bagian di Amerika Serikat yang menyimpulkan bahwa praktik inisiasi menyusui meningkat pada ibu dengan pendidikan rendah di rumah sakit yang ramah bayi, dibandingkan dengan ibu dengan pendidikan

(11)

tinggi[21]. Berdasarkan penelitan tersebut, faktor lain yang mempengaruhi praktik inisiasi menyusu dini adalah pendidikan ibu.

Simpulan

Dalam penelitian ini sebagian besar responden dalam penelitian ini melaksanakan IMD dengan baik (54,3%).Sebagian besar responden, yaitu ibu bersalin di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal tidak mengalami perdarahan postpartum, yaitu sebesar 78,6%. Responden yang tidak melakukan IMD dengan baik, lebih banyak yang mengalami kejadian perdarahan postpartum (13,6%), dibandingan dengan kejadian perdarahan pospartum pada responden ibu bersalin yang melakukan IMD (7,9%)

Berdasarkan perhitungan Chi Square dengan α = 0,05 diperoleh nilai p sebesar 0,048. Karena nilai p < α berarti secara statistik hasil pengujian signifikan,yang berarti ada hubungan antara variabel, dan hasil uji statistik pengaruh dengan Regresi Logistik, diperoleh nilai Sig. 0,029, hal tersebut berarti ada pengaruh antara variabel, dan nilai OR ditunjukkan dengan nilai 2,495 yang artinya ibu yang melakukan IMD 2,5 kali lipat lebih rendah berisiko terjadi perdarahan postpartum dari pada yang tidak melakukan IMD.Nilai Asymp. Sig (2-Sided) sebesar 0,032 menunjukkan signifikansi nilai OR, yang berarti dapat mewakili keseluruhan populasi.Maka kesimpulan dalam penelitian ini ada hubungan dan ada pengaruh IMD terhadap kejadian perdarahan postpartum di Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal.

Rekomendasi

Bagi tenaga kesehatan, diperlukan upaya peningkatan pelayanan asuhan pada ibu bersalin khususnya dalam upaya keberhasilan dan keefektifan praktik pelaksanaan IMD, baik dari ketrampilan pelayanan, maupun pengetahuan oleh tim penolong persalinan, serta upaya pemberian pendidikan kesehatan tentang IMD yang adekuat pada ibu bersalin dan keluarganya, sehingga mendapatkan asuhan yang efektif dan komprehensif dimana pelaksanaan dan disesuaikan dengan standar operasional prosedur dan program dari pemerintah sehingga ibu yang baru melahirkan dan keluarganya termotivasi untuk melakukan IMD dan dapat menurunkan angka morbiditas maupun mortalitas pada ibu bersalin dan bayi baru lahir.

Rekomendasi bagi fasilitas pelayanan kesehatan tingkat dasar, seperti Puskesmas, diperlukan upaya untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dan sesuai standar untuk pelaksanaan IMD, diperlukan pula upaya meningkatkan kualitas tenaga pendukung, dengan mengirimkan tenaga profesional tersebut mengikuti pelatihan maupun seminar terkini mengenai IMD, asuhan persalinan dan bayi baru lahir maupun hal-hal terkait, sehingga dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh seluruh tim penolong persalinan sesuai dengan kewenangannya.

Bagi peneliti lain, perlu dilakukan penelitian yang sejenis dengan responden penelitian adalah bidan maupun tim tenaga kesehatan sebagai penolong pendamping dan fasilitator persalinan

Ucapan Terimakasih

Terima kasih disampaikan Kemenristek Dikti, LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.

Daftar Pustaka

[1] K. Kesehatan and R. Indonesia, PROFIL KESEHATAN INDONESIA. .

[2] “PROFIL KESEHATAN INDONESIA TAHUN 2017.”

[3] Kementrian kesehatan RI, “Pusat data dan informasi,” Buletin jendela data & informasi kesehatan. pp. 2–3, 2013.

[4] T. R. & G. H. W. Abdul Bari Saifuddin, Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo, Edisi 4, Cet. 1. Bina Pustaka Sarw, 2008.

[5] H. Varney, Buku Ajar Asuhan Kebidanan Vol.

2. EGC, 2008.

[6] A. Y. Rukiyah, Asuhan Kebidanan IV : Patologi Kebidanan. TIM, 2014.

[7] “Ida Bagus Surya Manuaba - Pengutipan Google Scholar.” [Online]. Available:

https://scholar.google.co.id/citations?user=.

[Accessed: 08-Aug-2019].

[8] M. K. Yesie Aprillia S.SiT, “Hipnostetri:

Rileks, Nyaman, dan Aman Saat Hamil

&amp; Melahirkan,” 2010.

[9] D. Fraser and M. A. Cooper, A-Z midwifery.

Elsevier, 2017.

[10] “Datasets - OPEN DATA PROVINSI JAWA TENGAH.” [Online]. Available:

http://data.jatengprov.go.id/tl/dataset?license_

id=cc-

by&_organization_limit=0&organization=pe

(12)

113

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index merintah-kabupaten-tegal&_tags_limit=0.

[Accessed: 08-Aug-2019].

[11] “Jumlah Kematian Neonatal, Bayi, dan Balita Tahun 2018 - Datasets - OPEN DATA PROVINSI JAWA TENGAH.” [Online].

Available:

http://data.jatengprov.go.id/tl/dataset/jumlah- kematian-neonatal-bayi-dan-balita-tahun- 2018. [Accessed: 08-Aug-2019].

[12] H. Riwidokdo, “Statistik untuk Penelitian Kesehatan,” 2009.

[13] “full-text.” Kemenkes RI. Bahan Ajar Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK).

PPSDMK. 2018

[14] N. Rany and S. Desfita, “Keberhasilan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Di Rumah Bersalin Dan Balai Pengobatan Taman Sari Pekanbaru The Successful Implementation of Early Suckling Initiation In Taman Sari Clinical Centre Pekanbaru,” vol. 1, no. 5, pp.

31–38, 2010.

[15] S. Sirajuddin, T. Abdullah, and S. N. Lumula,

“Determinan Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini,” Kesmas Natl. Public Heal. J., vol. 8, no. 3, pp. 99–103, Oct. 2013.

[16] Prawestri and K. Nikmatul, “Pengaruh Imd Dengan Perdarahan Ibu 2 Jam Post Partum,”

J. Ris. Kesehat., no. September, pp. 282–285, 2017.

[17] R. K. Afiyah and Y. T. Puji, “INISIASI

MENYUSU DINI MEMPENGARUHI

PERDARAHAN KALA IV PADA

PRIMIPARA DI PUSKESMAS TANAH KALI KEDINDING SURABAYA,” J. Heal.

Sci., vol. 7, no. 1, Feb. 2017.

[18] S. Sumarah, M. Hakimi, S. Prawitasari, and S.

Prawitasari, “PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP JUMLAH PERDARAHAN PASCA PERSALINAN,” J.

Kesehat. Reproduksi, vol. 1, no. 1, Jun. 2014.

[19] C. Farkas and L.-C. Girard, “Breastfeeding initiation and duration in Chile: understanding the social and health determinants,” J.

Epidemiol. Community Health, p. jech-2018- 211148, Mar. 2019.

[20] U. Roesli, Panduan : inisiasi menyusu dini : plus asi eksklusif, Cet. 5. Jakarta: Pustaka Bunda, 2012.

[21] M. A. Puhan et al., “HHS Public Access,” vol.

37, no. 4, pp. 784–790, 2017.

(13)

Volume 9 Nomor 2 (2019) 114-117

JURNAL KEBIDANAN

p-ISSN: 2089-7669 ; e-ISSN: 2621-2870 http://dx.doi.org/10.31983/jkb.v9i2.4092

Analysis Factors The Fulfillment of Health Rights in Children with Disability

Endang Susilowati1 Noveri Aisyaroh2 Sri Wahyuni3

1,2 Universitas Islam Sultan Agung, Indonesia

3YPAC Semarang

Corresponding author: Endang Susilowati Email: [email protected]

Received: April 15th, 2019; Revised: July 10th, 2019; Accepted: September 17th, 2019

ABSTRACT

Most people with disabilities in Indonesia live in conditions that are vulnerable, underdeveloped, and / or poor because there are still restrictions, obstacles, difficulties, and the reduction or elimination of the rights of persons with disabilities. This research was conducted at YPAC Semarang. This study aims to determine the factors that influence the fulfillment of health rights for children with disabilities. The type of crossectional research with bivariate analysis using chi square and multivariate analysis using logistic regression. The research instrument used a questionnaire given to parents of children with disabilities. The results showed that there was a relationship between the age of the mother during pregnancy (P-value 0.008) and the fulfillment of health rights for children with disabilities. There is a relationship between the work of the mother (p-value 0.002) and the fulfillment of health rights for children with disabilities. The most influential factor after multivariate analysis using logistic regression was obtained which most influenced the fulfillment of health rights for children with disabilities was maternal employment (p-value 0,018, Exp (B) 14,593 (CI 1,596-133,433). The work of mothers who are mostly housewives greatly influences the fulfillment of health rights for children with disabilities.

Keywords: health rights; children with disabilities; factor Pendahuluan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Disabilitas menjelaskan Pada pasal 4 disebutkan ragam penyandang disabilitas meliputi : Disabilitas fisik, intelektual, mental dan atau sensorik. Sedangkan pada pasal 5 bagian kesatu disebutkan penyandang Disabilitas memiliki hak: hidup, bebas dari stigma, privasi, keadilan dan perlindungan hukum, pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan dan koperasi, kesehatan, politik dan keagamaan[1].

Disabilitas (orang berkebutuhan khusus) adalah orang yang hidup dengan karakteristik khusus dan memiliki perbedaan dengan orang pada umumnya. Karena karakteristik yang berbeda inilah memerlukan pelayanan khusus agar dia mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang

hidup dimuka bumi ini. Orang berkebutuhan khusus memiliki definisi yang sangat luas, mencakup orang-orang yang memiliki cacat fsik au kemampan IQ (Intelligence Quotient) rendah, serta orang dengan permasalahan sangat kompleks sehingga fungsi-fungsi kognitifnya mengalami gangguan[2].

Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan atau sensorik dalam jangka waktu lamayang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak[1].

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), diartikan sebagai individu-individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda dari

(14)

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index 115 individu lainnya yang dipandang normal oleh

masyarakat pada umumnya. Secara lebih khusus anak berkebutuhan khusus menunjukkan karakteristik fisik, intelektual, dan emosional yang lebih rendah atau lebih tinggi dari anak normal sebayanya atau berada di luar standar normal yang berlaku di masyarakat. Sehingga mengalami kesulitan dalam meraih sukses baik dari segi social, personal, maupun aktivitas pendidikan[3].

Klasifikasi dari anak berkebutuhan khusus apabila termasuk ke dalam salah satu atau lebih dari kategori berikut ini : Kelainan sensori, seperti cacat penglihatan atau pendengaran, Deviasi mental, termasuk gifted dan retardasi mental, Kelainan komunikasi, termasuk problem Bahasa dan ucapan, Ketidakmampuan belajar, termasuk masalah belajar yang serius karena kelainan fisik, Perilaku menyimpang, termasuk gangguan emosional, Cacat fisik dan kesehatan, termasuk kerusakan neurologis, ortopedis, dan penyakit lainnya seperti leukemia dan gangguan perkembangan[4].

Penyandang disabilitas menyandang stigma ketidaksempurnaan, sehingga membuat penyandang disabilitas termarjinalkan dari penerimaan sosial yang utuh. Penyandang disabilitas masih sangat jauh dari kata adil (fair), masih banyak penyandang disabilitas yang mendapatkan diskriminasi terkait dengan pemenuhan hak, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, falisitas publik seperti transportasi, tempat ibadah, tempat hiburan, serta kedudukan yang sama dimuka hukum[5].

Berdasarkan data 2012 penyandang disabilitas terbanyak adalah penyandang yang mengalami lebih dari satu jenis keterbatasan yaitu sebesar 39,97%. Jawa Tengah penyandang disabilitas sebesar 3,19%. Data dari Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) kota Semarang terdapat sejumlah 215 anak yang menyandang disabilitas[6]. Berdasarkan wawancara dengan 15 orang tua yang memiliki anak dengan Disabilitas dan menjadi peserta didik di YPAC Semarang menyatakan bahwa mereka belum mengetahui hak apa saja yang dapat diperoleh anak dengan disabilitas.

Kesehatan merupakan hal yang penting bagi masyarakat baik yang sempurna maupun dengan ketidaksempurnaan. Penyandang Disabilitas mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, hal ini juga di sebut dalam Undang-undang RI No 8 Tahun 2016 Bagian kedelapan pasal 12 menyebutkan tentang hak kesehatan bagi penyandang Disabilitas[1].

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh

peneliti mendapatkan hasil yaitu di Yayasan Pendidikan Anak Cacat Kota Semarang telah menyediakan fasilitas pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai dengan menengah atas. Selain itu ada juga pelayanan di bidang kesehatan salah satunya adalah rehabilitasi medik, hasil wawancara dengan salah satu petugas dari YPAC menyampaikan bahwa masih ada kendala dengan pemenuhan hak anak dibidang kesehatan dikarenakan terbatasnya anggaran.

Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang Disabilitas bagian kedelapan pasal 12 yang membahas tentang hak kesehatan, Hak-hak tersebut belum dipenuhi secara maksimal oleh YPAC karena keterbatasan dari sarana dan prasarana. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor yang mempengaruhi terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas.

Metode Penelitian

Jenis penelitian crossectional dengan analisis bivariat menggunakan chi square dan analisis multivariate menggunakan regresi logistic.

Variabel dalam penelitian ini adalah faktor yang mempengaruhi pemenuhan hak kesehatan anak dan terpenuhinya hak kesehatan anak dengan disabilitas. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang diberikan kepada orangtua anak penyandang disabilitas di YPAC Semarang Sejumlah 46 orang tua/wali yang mempunyai anak dengan disabilitas. Teknik sampling yang digunakan adalah Total sampling yaitu orang tua yang mempunyai anak usia 5-7 tahun yaitu sejumlah 46 responden.

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian didapatkan yaitu:

karakteristik responden 1) usia ibu saat hamil 19,6%

dalam kategori risiko dan 80,4% tidak berisiko, 2) Pekerjaan 32,6% ibu rumah tangga dan 67,4%

karyawan swasta, 3) Pendidikan 56,5% Lulus SMA dan 43,5% Lulus perguruan tinggi, 4) Pengetahuan 23,9% kategori kurang, 43,5% cukup dan 32,6% baik. sedangkan hasil dari analisis bivariat adalah sebagai berikut :

a. Hubungan antara usia ibu saat hamil dengan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas

Tabel 1.

(15)

Hubungan antara usia ibu saat hamil dengan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas.

Umur ibu saat hamil

Hak Kesehatan pada anak disabilitas

Terpenuhi Tidak Terpenuhi

P value Berisiko(<20

tahun, >35 tahun)

7 2 0,008

Tidak Berisiko (20-35 tahun)

11 26

Dari tabel 1 dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara umur ibu saat hamil dengan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas dengan p value 0,008 (<0,05).

Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorangakan lebih matang dalam berpikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih percaya dari pada orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa.

Rencana aksi disabilitas global WHO 2014-2021 adalah langkah penting menuju pencapaian kesehatan dan kesejahteraan dan hak asasi manusia bagi para penyandang cacat. Rencana aksi ini disetujui oleh Negara-negara Anggota WHO pada tahun 2014 dan menyerukan mereka untuk menghilangkan hambatan dan meningkatkan akses ke layanan dan program kesehatan;

memperkuat dan memperluas rehabilitasi, alat bantu dan layanan dukungan, dan rehabilitasi berbasis masyarakat; dan meningkatkan pengumpulan data yang relevan dan dapat dibandingkan secara internasional tentang disabilitas, dan penelitian tentang disabilitas dan layanan terkait. Mencapai tujuan dari rencana aksi memungkinkan orang-orang penyandang cacat untuk memenuhi aspirasi mereka dalam semua aspek kehidupan[7].

b. Hubungan antara pekerjaan ibu dengan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas

Tabel 2.

Hubungan antara pekerjaan ibu dengan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas.

Pekerjaan Hak Kesehatan pada anak

Ibu disabilitas

Terpenuhi Tidak

Terpenuhi P value Ibu Rumah

Tangga

1 14 0,002

Karyawan Swasta

17 14

Dari tabel 2 dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan hak kesehatan pada anak dengan disabilitas.

Disabilitas dalam keluarga seringkali dikaitkan dengan biaya hidup yang semakin tinggi dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, dan dengan demikian dapat meningkat risiko menjadi miskin atau tetap miskin[8].

Kemiskinan membuat anak sulit mendapatkan pelayanan yang mereka dapatkan. Pekerjaan berhubungan dengan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas. Dengan pekerjaan yang menambah penghasilan pada ibu akan membuat terpenuhinya hak kesehatan pada anak[9].

c. Analisis faktor yang mempengaruhi terpenuhinya hak kesehatan anak dengan disabilitas secara multivariat

Tabel 3.

Analisis faktor yang mempengaruhi terpenuhinya hak kesehatan anak dengan disabilitas secara multivariate.

Variabel

Analisis Multivariat P

value

Exp(B)

CI Umur Ibu saat

hamil

0,053 0,153 0,022-1.027 Pekerjaan Ibu 0,018 14,593 1,596-133,4

33 Tabel 3 secara multivariat didapatkan bahwa hal yang paling berpengaruh pada terpenuhinya hak kesehatan pada anak adalah pekerjaan ibu dengan p value 0,018 dan nilai EXP(B) 14,593 dan nilai CI 1,596-133,433. Teori yang menyebutkan bahwa pekerjaan mempengaruhi terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas[10].

Terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas diharapkan dapat membentuk Karakter mandiri pada peserta didik disabilitas.

Ekmandirian kecerdasan adalah terbentuknya kepribadian dari mereka dengan perilaku-perilaku yang mampu melakukan dan mengatasi masalah kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pembelajaran untuk

(16)

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index 117 pembentukan karakter mandiri dibutuhkan mampu

bersosialisasi da- lam ekologi kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karakter mandiri tersebut sebagai wujud aktualisasi kemanusiaan dengan men- jalankan kehidupan yang dengan nilai adaptif dan fungsional[9].

Simpulan

Faktor yang mempengaruhi terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas antara lain:

Pekerjaan ibu dan usia ibu saat hamil. Hal yang paling berpengaruh adalah pekerjaan ibu. Saran bagi pengambil kebijakan adalah agar membantu terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan mensosialisasikan tentang hak-hak anak dengan disabilitas, memberi pendidikan yang layak, dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi anak disabilitas. Untuk para orang tua anak dengan disabilitas agar lebih memperhatikan terpenuhinya hak kesehatan pada anak dengan disabilitas. Untuk faktor pada saat kehamilan sebaiknya diberikan penyuluhan pentingnya hamil pada saat usia tidak berisiko (20-35 tahun) untuk mengurangi kejadian anak dengan disabilitas.

Daftar Pustaka

[1] Undang-UndangRI. (2016). Undang-undang RI No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Th. 2016.pdf

[2] Reefani, N. K. (2013). Panduan Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Imperium.

[3] Bachri, S. . (2010). Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta:

Kencana.

[4] KEMENKES. (2014). Penyandang Disabilitas Pada Anak. Jakarta: Kemenkes RI.

[5] Shaleh, I., Jurnal, K., & Hukum, I. (2018). No Title, 20(1), 63–82.

[6] SUSENAS. (2012). Modul Sosial, Budaya dan Pendidikan. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

[7] WHO. (2014). Disability and Health.

Retrieved from

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs3 5 2/en/

[8] WHO. (2015). WHO Global Disability Action Plan 2014-2021. Retrieved from http://www.who.int/disabilities/actionplan/en/

[9] Mumpuniarti. (2016). PEMBENTUKAN

KARAKTER MANDIRI BAGI

PENYANDANG DISABILITAS

KECERDASAN DALAM KAPASITAS

KEMANUSIAAN. Jurnal Pembangunan Pendidikan : Fondasi Dan Aplikasi, 4(1), 59–

66.

[10] UNICEF. (2013). Anak Penyandang Disabilitas. Retrieved from https://www.unicef.org/indonesia/id/SOWC_

Bahasa.pdf

[11] Irwanto, Kasim, & R. (2010). Analisis Situasi Penyandang Disabilitas di Indonesia. Pusat Kajian Disabilitas. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial & Politik UGM.

[12] Kurniawan, S. (2013). Pendidikan Karakter Konsepsi dan Implementasi Secara Terpadu di Lingkungan Keluarga, Sekolah, Peguruan Tnggi, dan Masyarakat. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

[13] Lestari EY, Sumarto S, I. N. (2017).

PEMENUHAN HAK BAGI PENYANDANG

DISABILITAS DI KABUPATEN

SEMARANG MELALUI IMPLEMENTASI CONVENTION ON THE RIGHTS OF PERSONS WITH DISABILLITIES (CPRD) DALAM BIDANG PENDIDIKAN. Jurnal Integralistik, 1/Th.XXVII(Januari-Juni), 1–9.

[14] Syukria O A, S. S. (2016). Determinan Pemanfaatan Puskesmas Pada Anak Penyandang Disabilitas. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 4(1), 37–47.

[15] https://pryakkum.org/read/22/apa-itu-konv ensi-hak-hak-penyandang-disabilitas.html

(17)

Volume 9 Nomor 2 (2019) 118-124

JURNAL KEBIDANAN

p-ISSN: 2089-7669 ; e-ISSN: 2621-2870 http://dx.doi.org/10.31983/jkb.v9i2.4909

Correlation of Weight Gain During Pregnancy and Onset of Lactation

Yuli Trisetiyono1 Ursheila Haekmatiar2

1,2 Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Corresponding author: Yuli Trisetiyono Email: [email protected]

Received: July 19th, 2019; Revised: September 4th, 2019; Accepted: September 20th, 2019

ABSTRACT

Pregnancy is associated with weight gain. An increase beyond the recommendation of the Institute of Medicine (IOM), has consequences for pregnancy, childbirth, even postpartum. One result of postpartum is a delayed onset of lactation. This study aimed to evaluate the relationship between weight gain during pregnancy and the onset of fluency lactation. The design was observational analytic with a cross-sectional approach which was carried out on postpartum mothers conducted in six primary health centers in the area of Semarang City. The researchers recorded data from the antenatal care book and a questionnaire on the first postpartum visit. The data was analyzed bivariately using Chi-square test. From 89 subjects, 41 people (46%) experienced under-recommendation weight gain during pregnancy, 32 people (36%) according to recommendations, and 16 people (18%) above recommendations. The onset of fluent lactation since the first 24 hours was found in 28 people (31.5%), 41 people (46.1%) start from day 1-7, and 20 people (22.5%) never went fluently until one week postpartum were. Chi-square test showed that the results were not significant (p=0.215). There was no significant relationship between weight gain during pregnancy and the onset of fluency lactation.

Keyword: weight gain; pregnancy; the onset of lactation Pendahuluan

Angka kematian bayi (AKB) di provinsi Jawa Tengah tahun 2015 adalah 9,9 per 1000 kelahiran hidup[1]. Sedangkan AKB Kota Semarang sebesar 8,38, dikatakan memenuhi target Millennium Development Goals (MDGs), yaitu di bawah 23. Namun terjadi kenaikan kasus gizi buruk pada bayi di Kota Semarang dari 32 kasus pada tahun 2014 menjadi 39 kasus pada tahun 2015[2].

AKB dan gizi buruk dapat ditekan salah satunya dengan Air Susu Ibu (ASI) yang mengandung komponen gizi lengkap dan kekebalan tubuh yang dibutuhkan oleh bayi[3].

UNICEF dan WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif minimal 6 bulan guna menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi[4].

Berdasarkan Pemantauan Status Gizi 2016, cakupan ASI eksklusif pada bayi 0-5 bulan di Jawa Tengah berkisar 59,9%,[5] sedangkan di Kota Semarang berdasarkan hasil puskesmas tahun 2015 sebesar 64,69%[2].

Periode kehidupan bayi 1 minggu pascapersalinan merupakan periode kritis untuk laktasi. Permasalahan yang sering timbul dalam laktasi adalah keterlambatan mulai menyusui dan laktasi yang suboptimal, terutama pada persalinan dengan tindakan. Hal – hal tersebut dapat berakibat bayi kehilangan berat badan, dehidrasi, gangguan medis yang serius sampai dengan kematian[6].

Inisiasi menyusui sejak 24 jam pertama akan menurunkan angka kematian bayi[7].

Keterlambatan mulainya laktasi (setelah 24 jam) akan meningkatkan risiko kesakitan bayi 2,4 kali[8].

(18)

119

Copyright @2019, JURNAL KEBIDANAN, http://ejournal.poltekkes-smg.ac.id/ojs/index.php/jurkeb/index Kegagalan pemberian ASI dapat disebabkan

karena faktor status gizi ibu[9]. Status gizi selama hamil dapat dinilai dari kenaikan berat badan selama kehamilan. Selain oleh adanya produk konsepsi[10], kenaikan berat badan juga disebabkan akumulasi lemak viseral, tingkat resistensi insulin, lipid dan trigliserida[11].

Akumulasi simpanan lemak yang dihasilkan saat kehamilan ini yang berguna pada saat menyusui[12].

Peningkatan berat badan tidak selalu baik bagi ibu dan janin. Untuk menentukan berat badan yang optimal selama hamil dapat menggunakan pedoman Institute of Medicine (IOM), yang merekomendasikan pada berat badan kurang (IMT<18,5) disarankan kenaikan berat badan selama hamil sebesar 12,5-18 kg, normal (IMT 18,5 - 24,9) adalah sebesar 11,5-16 kg, kelebihan berat badan (IMT 25.0 - 29,9) adalah sebesar 7- 11,5 kg, dan obesitas (IMT ≥ 30) adalah sebesar 5- 9 kg[13].

Penambahan berat badan selama kehamilan merupakan respons alamiah untuk mengakomodasi pertumbuhan janin. Bertambahnya berat badan gestasional meliputi tubuh maternal, berat janin, plasenta, dan cairan ketuban. Penambahan berat badan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah berkontribusi terhadap komplikasi kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, terutama pada wanita yang sebelum hamil telah memiliki indeks massa tubuh 25 atau lebih. Jumlah wanita hamil dengan IMT tinggi telah meningkat, dan terjadi baik di negara-negara berpenghasilan tinggi maupun rendah[14]. Pada umumnya wanita yang overweight dan obesitas sebelum hamil, akan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kenaikan berat badan hamil lebih dari rekomendasi dibanding dengan IMT normal[15]–[17]. Kenaikan berat badan yang berlebihan selama kehamilan meningkatkan risiko berat lahir janin besar[18], retensi berat postpartum[19], dan bayinya juga memiliki risiko menjadi obesitas, serta mengalami kegagalan dalam menyusui[20][21]. Sedangkan pada wanita dengan IMT underweight cenderung mengalami kenaikan berat badan dibawah rekomendasi [15], dengan konsekuensi kelahiran prematur, hambatan pertumbuhan janin, dan kegagalan untuk memberikan ASI, serta peningkatan angka kematian bayi[22][23].

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara peningkatan berat badan selama hamil terhadap onset ASI yang lancar. Peneliti tertarik hal tersebut karena meningkatnya kasus gizi buruk pada bayi, serta

tingginya jumlah wanita dengan underweight, overweight, dan obesitas di Kota Semarang.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional yang diperoleh dengan teknik consecutive sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2018. Sampel penelitian diperoleh dari 6 wilayah kerja puskesmas Kedungmundu, Tlogosari Wetan, Tlogosari Kulon, Bulu Lor, Karangayu, dan Genuk di Kota Semarang.

Sejumlah 89 wanita pascapersalinan yang sedang menyusui bayinya secara eksklusif memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi yaitu menyusui bayinya secara eksklusif, bayi lahir genap bulan (37 – 42 minggu), tidak ada kelainan bentuk ada bibir dan palatum, ibu tidak mengonsumsi obat memperlancar ASI, dan bersedia mengikuti penelitian dengan menandatangani informed consent. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu tidak menjawab data dan pertanyaan di kuesioner dengan lengkap dan ada gangguan tiroid.

Data penelitian terdiri atas data primer yang diperoleh langsung pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti melalui kuesioner dan data sekunder dari buku KIA. Berat badan sebelum hamil (kg), tinggi badan (m) serta berat badan saat trimester 1, 2, dan 3 diperoleh dari data buku KIA. Pengukuran onset ASI lancar didapatkan melalui kuesioner pada kunjungan pertama pascapersalinan.

Penilaian kenaikan berat badan selama hamil dilakukan dengan menghitung total naiknya berat badan yang dialami ibu dari sebelum kehamilan sampai menjelang persalinan, kemudian dikategorikan berdasarkan rekomendasi IOM.

Penilaian onset keluarnya ASI yang lancar dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisi indikator kelancaran ASI disertai waktu pertama kali keluarnya ASI yang lancar tersebut.

Kuesioner diberikan pada saat kunjungan pertama pasca persalinan, yaitu 1 minggu pascapersalinan.

Analisis data secara deskriptif dan analitik bivariat menggunakan program SPSS. Analisis deskriptif menampilkan frekuensi dari masing- masing variabel. Hubungan kenaikan berat badan selama hamil dengan onset ASI lancar dianalisis secara bivariat menggunakan uji Chi-square, dimana signifikan apabila diperoleh p-value <0,05.

Ethical Clearance telah diperoleh atas persetujuan dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna pada skor pengetahuan sebelum dan setelah intervensi pada kedua kelompok (p=0,006;

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna suhu tubuh BBLR pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol antara sebelum dengan sesudah

Sedangkan pada kelompok perpaduan intervensi abdominal stretching exercise dan senam disminorea tidak di rekomendasikan menjadi intervensi mengurangi nyeri

menggunakan Uji Homogenity Test pada kelompok kontrol dan perlakuan untuk melihat tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah perlakuan pada kedua

Sebelum melaksanakan pembelajaran guru haruslah melakukan persiapan dan merancang sistem pembelajaran yang akan di lakukan selama pandemi yang sedari awal proses pembelajaran

Pengaruh Meditasi Mindfulness dengan Deep Focus Music terhadap Tekanan Darah Sistol Sebelum dan Sesudah pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Penderita Hipertensi Lanjut Usia

Hasil penelitian skor ketrampilan sosial sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok intervensi yang diberikan terapi hortikultura ditandai dengan p value 0,01... 78 bahagia, belajar,

Pada penelitian ini terdapat perbedaan yang signifikan pada sikap responden sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada kedua kelompok dengan nilai p-value 0,000, Hasil dari kedua