Mencari
Tujuan Hidup Mencari Tujuan Hidup
Pernahkah Anda merasa tersesat di dalam hidup dan tidak yakin ke mana Anda melangkah?
Anda tak perlu mencoba bunuh diri untuk bertanya- tanya apakah hidup Anda sungguh berarti. Anda tak perlu terpuruk dalam utang untuk dapat mengetahui rasanya bangkrut. Anda tak perlu berada di balik jeruji penjara untuk merasa terpenjara oleh hasrat diri sendiri. Anda tak perlu berada di jalanan untuk menjual tubuh Anda bagi orang lain.
Anda tak perlu menjadi miliuner untuk berada dalam jerat cinta akan uang. Anda tak perlu ke tempat pembuangan sampah untuk merasakan kotornya hidup ini. Anda tak perlu menjadi tuna wisma untuk merasa terhilang dalam dunia ini. Dalam suatu masa dalam hidup ini, setiap orang—kaya atau miskin—bergumul dengan arti hidup yang sejati.
Blaise Pascal, seorang ahli matematika dan filsuf Prancis di abad ke-17, mengajukan suatu penjelasan. Ia mengatakan bahwa ada satu ruang di dalam hati setiap manusia yang hanya dapat diisi oleh Allah. Di lubuk hati kita yang terdalam, ada suatu kerinduan yang kuat untuk mengenal Pribadi yang menciptakan kita. Kita ingin mengetahui tujuan yang dimiliki-Nya dari keberadaan kita di alam semesta-Nya yang teramat luas ini. Meskipun kita dapat menekan atau menyangkalnya, kerinduan tersebut akan muncul terus-menerus.
Renungan-renungan terpilih dari Santapan Rohani ini bertujuan untuk membantu Anda menemukan arti hidup yang sejati. Bila Anda menikmati renungan-renungan ini dan ingin menerima buku renungan Santapan Rohani secara rutin, silakan mengisi formulir permohonan yang tersedia dan mengirimkannya kembali kepada kami. Anda dapat menerima materi-materi yang kami terbitkan tanpa dikenai biaya apa pun. Kami didukung oleh persembahan kasih para anggota dan sahabat kami.
© 2017 Our Daily Bread Ministries. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI ©1974.
Indonesian ‘Seeking Life’s Purpose’ V9695
Persembahan kasih seberapa pun dari para sahabat memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun.
Our Daily Bread Ministries
PO Box 15, Kilsyth, VIC 3137, Australia Tel: (+61-3) 9761-7086, [email protected] Our Daily Bread Ministries Ltd.
PO Box 74025, Kowloon Central Post Office, Kowloon, Hong Kong Tel: (+852) 2626-1102, Fax: (+852) 2626-0216, [email protected] ODB Indonesia
PO Box 2500, Jakarta 11025, Indonesia
Tel: (+62-21) 2902-8950, Fax: (+62-21) 5435-1975, [email protected] Daily Bread Co. Ltd.
PO Box 46, Ikoma Nara 630-0291, Japan
Tel: (+81-743) 75-8230, Fax: (+81-743) 75-8299, [email protected] Our Daily Bread Berhad
PO Box 86, Taman Sri Tebrau, 80057 Johor Bahru, Malaysia Tel: (+060-7) 353-1718, Fax: (+060-7) 353-4439, [email protected] Our Daily Bread Ministries
PO Box 303095, North Harbour, Auckland 0751, New Zealand Tel: (+64-9) 444-4146, [email protected]
Our Daily Bread Ministries Foundation PO Box 47-260, Taipei 10399, Taiwan R.O.C.
Tel: (+886-2) 2585-5340, Fax: (+886-2) 2585-5349, [email protected] Our Daily Bread Ministries Thailand
PO Box 35, Huamark, Bangkok 10243, Thailand
Tel: (+66-2) 718-5166, Fax: (+66-2) 718-6016, [email protected] Our Daily Bread Ministries Asia Ltd.
MacPherson Road Post Office, PO Box 146, Singapore 368025 Tel: (+65) 6858-0900, Fax: (+65) 6858-0400, [email protected]
Hidupilah hari ini seolah Anda akan menghadap Allah esok hari.
Menanti
D
i tahun 1940-an, Samuel Beckett menulis drama berjudul Waiting For Godot (Menanti Godot) yang kini dikenal sebagai karya klasik. Di drama itu, dua pria berdiri di panggung dengan tangan dimasukkan ke saku dan saling berpandangan. Mereka hanya berdiri dan saling pandang. Tak ada gerakan, tak ada alur cerita, mereka hanya berdiri dan menantikedatangan Godot.
Namun, siapakah Godot?
Apakah ia manusia? Apakah ia mewakili Allah? Lewis Smedes, pakar etika Kristen, berpendapat bahwa Godot adalah “khayalan yang dipegang banyak orang sebagai pelarian.” Sampai drama itu berakhir, dua pria itu masih
berdiri menanti di panggung tanpa melakukan apa pun.
Dalam perayaan ulang tahun ke-50 pertunjukan drama itu, seseorang bertanya pada Beckett, “Maukah kini Anda mengatakan siapa sebenarnya Godot?” Beckett menjawab, “Saya saja tidak tahu.”
Waiting For Godot adalah perumpamaan tentang kehidupan dari kebanyakan orang—kehidupan yang hampa dan tidak berarti, suatu penantian yang sia-sia.
Jika tak ada Allah yang memberikan kasih, anugerah, dan hikmat, hidup kita hanya merupakan penantian yang sia- sia untuk mengisi waktu kosong.
Betapa berbedanya dengan pengharapan orang Kristen! Saat ini kita sedang menantikan “penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (TIT. 2:13). Pengharapan inilah yang menopang kita—pengharapan bahwa setelah hidup di dunia ini berlalu, kita memiliki hidup yang penuh dengan berkat yang tak terlukiskan. VERNON GROUNDS
Tuna Wisma
S
aya sering melihat mereka berbaring di bangku taman di Chicago. Pernah saya amati mereka tertidur di pintu masuk di seputar Gedung Putih.Sebagian dari mereka juga ada yang menyandarkan tubuh di dinding terowongan bawah tanah New York atau berdesakan di sepanjang lorong Los Angeles.
Mereka adalah para tuna wisma yang gelisah, bersembunyi dari masyarakat, dan sering sakit- sakitan.
Menurut saya, keadaan mereka menggambarkan kondisi manusia tanpa Allah. Alkitab mengatakan,
“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (YES. 53:6). Menyangkali Allah, seperti yang dilakukan banyak orang saat ini, berarti menjadi tuna wisma di dunia yang Dia ciptakan untuk kemuliaan-Nya. Mengabaikan hukum moral-Nya berarti terhanyut tanpa tujuan. Menolak-Nya berarti membuat hidup ini tidak berarti. Menolak kasih-Nya berarti tenggelam dalam keputusasaan yang fana.
Jawaban dari dilema umat manusia ini adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus. Agustinus (354–430), seorang pemimpin gereja mula-mula, berkata, “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, dan hati manusia tidak akan menemukan damai sejati kecuali di dalam-Mu.”
Percaya kepada Kristus berarti masuk dalam keluarga Allah, keluarga yang penuh kasih dan kehangatan.
Berharap kepada-Nya berarti menantikan rumah surgawi yang kekal (YOH. 14:1-3). Menerima-Nya berarti menjadi bagian dari dunia-Nya yang penuh kebenaran, moralitas, dan damai sejahtera.
Apakah Anda merasa seperti seorang tuna wisma?
Datanglah kepada Allah. DAVE EGNER
Hari ke- 5 Hari ke- 6
Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Filipi 3:20
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Yohanes 14:2
Sukacita terbesar di bumi ini adalah
memiliki pengharapan yang pasti akan surga. Kita adalah tuna wisma sebelum Kristus tinggal di hati kita.
BACAAN HARI INI
Titus 2:11-15 BACAAN HARI INI
Yohanes 14:1-7
santapanrohani.org
Mencari
Tujuan Hidup Mencari Tujuan Hidup
Pernahkah Anda merasa tersesat di dalam hidup dan tidak yakin ke mana Anda melangkah?
Anda tak perlu mencoba bunuh diri untuk bertanya- tanya apakah hidup Anda sungguh berarti. Anda tak perlu terpuruk dalam utang untuk dapat mengetahui rasanya bangkrut. Anda tak perlu berada di balik jeruji penjara untuk merasa terpenjara oleh hasrat diri sendiri. Anda tak perlu berada di jalanan untuk menjual tubuh Anda bagi orang lain.
Anda tak perlu menjadi miliuner untuk berada dalam jerat cinta akan uang. Anda tak perlu ke tempat pembuangan sampah untuk merasakan kotornya hidup ini. Anda tak perlu menjadi tuna wisma untuk merasa terhilang dalam dunia ini. Dalam suatu masa dalam hidup ini, setiap orang—kaya atau miskin—bergumul dengan arti hidup yang sejati.
Blaise Pascal, seorang ahli matematika dan filsuf Prancis di abad ke-17, mengajukan suatu penjelasan. Ia mengatakan bahwa ada satu ruang di dalam hati setiap manusia yang hanya dapat diisi oleh Allah. Di lubuk hati kita yang terdalam, ada suatu kerinduan yang kuat untuk mengenal Pribadi yang menciptakan kita. Kita ingin mengetahui tujuan yang dimiliki-Nya dari keberadaan kita di alam semesta-Nya yang teramat luas ini. Meskipun kita dapat menekan atau menyangkalnya, kerinduan tersebut akan muncul terus-menerus.
Renungan-renungan terpilih dari Santapan Rohani ini bertujuan untuk membantu Anda menemukan arti hidup yang sejati. Bila Anda menikmati renungan-renungan ini dan ingin menerima buku renungan Santapan Rohani secara rutin, silakan mengisi formulir permohonan yang tersedia dan mengirimkannya kembali kepada kami. Anda dapat menerima materi-materi yang kami terbitkan tanpa dikenai biaya apa pun. Kami didukung oleh persembahan kasih para anggota dan sahabat kami.
© 2017 Our Daily Bread Ministries. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang.
Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI ©1974.
Indonesian ‘Seeking Life’s Purpose’
V9695 Persembahan kasih seberapa pun dari para sahabat memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun.
Our Daily Bread Ministries
PO Box 15, Kilsyth, VIC 3137, Australia Tel: (+61-3) 9761-7086, [email protected] Our Daily Bread Ministries Ltd.
PO Box 74025, Kowloon Central Post Office, Kowloon, Hong Kong Tel: (+852) 2626-1102, Fax: (+852) 2626-0216, [email protected] ODB Indonesia
PO Box 2500, Jakarta 11025, Indonesia
Tel: (+62-21) 2902-8950, Fax: (+62-21) 5435-1975, [email protected] Daily Bread Co. Ltd.
PO Box 46, Ikoma Nara 630-0291, Japan
Tel: (+81-743) 75-8230, Fax: (+81-743) 75-8299, [email protected] Our Daily Bread Berhad
PO Box 86, Taman Sri Tebrau, 80057 Johor Bahru, Malaysia Tel: (+060-7) 353-1718, Fax: (+060-7) 353-4439, [email protected] Our Daily Bread Ministries
PO Box 303095, North Harbour, Auckland 0751, New Zealand Tel: (+64-9) 444-4146, [email protected]
Our Daily Bread Ministries Foundation PO Box 47-260, Taipei 10399, Taiwan R.O.C.
Tel: (+886-2) 2585-5340, Fax: (+886-2) 2585-5349, [email protected] Our Daily Bread Ministries Thailand
PO Box 35, Huamark, Bangkok 10243, Thailand
Tel: (+66-2) 718-5166, Fax: (+66-2) 718-6016, [email protected] Our Daily Bread Ministries Asia Ltd.
MacPherson Road Post Office, PO Box 146, Singapore 368025 Tel: (+65) 6858-0900, Fax: (+65) 6858-0400, [email protected]
Hidupilah hari ini seolah Anda akan menghadap Allah esok hari.
Menanti
D
i tahun 1940-an, Samuel Beckett menulis drama berjudul Waiting For Godot (Menanti Godot) yang kini dikenal sebagai karya klasik. Di drama itu, dua pria berdiri di panggung dengan tangan dimasukkan ke saku dan saling berpandangan. Mereka hanya berdiri dan saling pandang. Tak ada gerakan, tak ada alur cerita, mereka hanya berdiri dan menantikedatangan Godot.
Namun, siapakah Godot?
Apakah ia manusia? Apakah ia mewakili Allah? Lewis Smedes, pakar etika Kristen, berpendapat bahwa Godot adalah “khayalan yang dipegang banyak orang sebagai pelarian.” Sampai drama itu berakhir, dua pria itu masih
berdiri menanti di panggung tanpa melakukan apa pun.
Dalam perayaan ulang tahun ke-50 pertunjukan drama itu, seseorang bertanya pada Beckett, “Maukah kini Anda mengatakan siapa sebenarnya Godot?” Beckett menjawab, “Saya saja tidak tahu.”
Waiting For Godot adalah perumpamaan tentang kehidupan dari kebanyakan orang—kehidupan yang hampa dan tidak berarti, suatu penantian yang sia-sia.
Jika tak ada Allah yang memberikan kasih, anugerah, dan hikmat, hidup kita hanya merupakan penantian yang sia- sia untuk mengisi waktu kosong.
Betapa berbedanya dengan pengharapan orang Kristen! Saat ini kita sedang menantikan “penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (TIT. 2:13). Pengharapan inilah yang menopang kita—pengharapan bahwa setelah hidup di dunia ini berlalu, kita memiliki hidup yang penuh dengan berkat yang tak terlukiskan. VERNON GROUNDS
Tuna Wisma
S
aya sering melihat mereka berbaring di bangku taman di Chicago. Pernah saya amati mereka tertidur di pintu masuk di seputar Gedung Putih.Sebagian dari mereka juga ada yang menyandarkan tubuh di dinding terowongan bawah tanah New York atau berdesakan di sepanjang lorong Los Angeles.
Mereka adalah para tuna wisma yang gelisah, bersembunyi dari masyarakat, dan sering sakit- sakitan.
Menurut saya, keadaan mereka menggambarkan kondisi manusia tanpa Allah. Alkitab mengatakan,
“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (YES. 53:6). Menyangkali Allah, seperti yang dilakukan banyak orang saat ini, berarti menjadi tuna wisma di dunia yang Dia ciptakan untuk kemuliaan-Nya. Mengabaikan hukum moral-Nya berarti terhanyut tanpa tujuan. Menolak-Nya berarti membuat hidup ini tidak berarti. Menolak kasih-Nya berarti tenggelam dalam keputusasaan yang fana.
Jawaban dari dilema umat manusia ini adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus. Agustinus (354–430), seorang pemimpin gereja mula-mula, berkata, “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, dan hati manusia tidak akan menemukan damai sejati kecuali di dalam-Mu.”
Percaya kepada Kristus berarti masuk dalam keluarga Allah, keluarga yang penuh kasih dan kehangatan.
Berharap kepada-Nya berarti menantikan rumah surgawi yang kekal (YOH. 14:1-3). Menerima-Nya berarti menjadi bagian dari dunia-Nya yang penuh kebenaran, moralitas, dan damai sejahtera.
Apakah Anda merasa seperti seorang tuna wisma?
Datanglah kepada Allah. DAVE EGNER
Hari ke- 5 Hari ke- 6
Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Filipi 3:20
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Yohanes 14:2
Sukacita terbesar di bumi ini adalah
memiliki pengharapan yang pasti akan surga. Kita adalah tuna wisma sebelum Kristus tinggal di hati kita.
BACAAN HARI INI
Titus 2:11-15 BACAAN HARI INI
Yohanes 14:1-7
santapanrohani.org
Anda dapat menerima se cara langsung!
Saya ingin menjadi pembaca buku renungan Santapan Rohani edisi triwulanan.Saya ingin mendapatkan buku-buku yang memperlengkapi pertumbuhan iman.
Berikan tanda” 3” di tempat yang tersedia untuk mendaftarkan diri Anda.Untuk memproses permintaan Anda, kami meminta Anda untuk memberikan data Anda sebagai berikut.Kami menjamin bahwa data Anda akan dirahasiakan dan tidak akan digunakan untuk kepentingan lain.
Nama Lengkap: _______________________________________________________________________________________________________________
Alamat: ________________________________________________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________________ Kode Pos: ____________________________Tel: (Rumah)_______________________________________(Kantor)_____________________________ (HP)__________________________________Pekerjaan: _____________________________________________________________________________________________________________________
Email: __________________________________________________________________________________ Tgl. Lahir:____________________________
Silakan mengirim formulir yang telah diisi lengkap ke kantor kami yang terdekat. (Daftar alamat tercantum di bagian belakang pamflet.)
V9695
Kepuasan Sejati
S
eseorang datang ke biro perjalanan dan berkata bahwa ia ingin pergi berlayar. “Ke mana?” begitu ia ditanya. “Aku belum tahu,” jawabnya. Lalu petugas biro perjalanan tersebut menyarankan supaya ia memperhatikan sebentar bola dunia yang ada di ruangan.Ia melihat-lihat sebentar, kemudian dengan frustrasi bertanya, “Apakah hanya ini yang
Anda tawarkan?”
Dunia tempat kita tinggal berisi banyak hal yang menarik perhatian kita. Di luar dari hal-hal yang tidak benar, kita bisa dan sebaiknya menikmati kesenangan- kesenangan itu. Menyantap makanan yang lezat ditemani para sahabat bisa menghangatkan hati kita. Keindahan alam akan menimbulkan inspirasi dan
memenuhi benak kita dengan kekaguman. Musik yang indah bisa menyegarkan jiwa kita. Dan pekerjaan dapat memberikan kepuasan kepada kita.
Di dalam dunia yang penuh tekanan pun, kita bisa menikmati beragam kesenangan. Namun mengejar kesenangan-kesenangan duniawi tidaklah dapat memberikan kepuasan yang penuh dan abadi. Bahkan orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kepuasan diri, setinggi apa pun prestasi mereka, akan selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Walaupun mereka telah menikmati berbagai kesenangan dunia, rasa dahaga mereka tetap takkan terpuaskan. Mau tak mau, mereka harus setuju dengan Salomo yang berkata, “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin”
(PKH. 2:17).
Hanya dengan hidup bagi Yesus Kristus, kita akan mengalami kepuasan sejati. RICHARD DEHAAN
“Aku Mau Lagi”
S
egala sesuatu berjalan dengan baik seperti yang biasa terjadi dalam kelas Sekolah Minggu untuk kelompok anak umur dua tahun. Namun kemudian, datanglah “Charlie”. Begitu kami mengambil Charlie dari gendongan ibunya, ia mulai rewel dan meronta-ronta. Ia terus merengek, mula-mula kepada ibunya, lalu kepada ayahnya.Lalu terjatuhlah sekeping uang logam dari kantung bajunya, dan tiba-tiba sikap Charlie pun berubah. Sambil menggenggam uang logam itu dengan tangannya yang mungil dan lucu, mulailah Charlie menjerit, “Aku mau uang lagi!” Akhirnya, seseorang di tempat itu berpikir mungkin ia dapat menenangkan Charlie dengan memberinya sekeping
uang logam yang nilainya lebih besar. Segera jeritannya berubah menjadi, “Aku mau sekeping lagi!” Lalu ia kembali merengek, “Aku mau uang lagi.”
Saya pikir, orang dewasa pun sering bertingkah seperti Charlie. Memang kita membutuhkan uang. Namun seperti yang disadari oleh seorang bijaksana yang menulis kitab Pengkhotbah, siapa yang mencintai uang tidak akan pernah puas olehnya (5:9). Oleh karena itu, cara terbaik untuk hidup adalah dengan bekerja keras dan bersikap puas sambil bersyukur atas pertambahan apa pun yang Tuhan berikan.
Ya, mengasihi dan mempercayai Allah itu jauh lebih bijaksana daripada memiliki sikap seperti Charlie, yang menghadapi keresahannya dengan rengekan, “Aku mau uang lagi!” Jika kita memiliki Tuhan di dalam hidup, itu sudah cukup bagi kita. MART DEHAAN
Salah Mencari
S
etelah menghabiskan jutaan dolar dalam proyek yang telah berjalan 40 tahun, para ilmuwan masih belum bisa berhubungan dengan makhluk angkasa luar. Namun penelitian itu terus berlanjut. Robert Jastrow, direktur Mount Wilson Institute, berkata bahwa ia berharap bisa menemukan “makhluk yang lebih unggul dari manusia . . . , tak hanya secarateknis, tetapi juga secara moral dan rohani.”
Jastrow dan para rekan ilmuwannya berharap bahwa peradaban makhluk angkasa luar yang berusia miliaran tahun
akan bisa menjelaskan mengapa kita ada di dunia, dan bagaimana kita bisa mengatasi kecenderungan diri untuk merusak, kecenderungan yang membuat kemajuan dalam teknologi persenjataan menjadi hal yang menakutkan. Ketakutan bahwa umat manusia akan menghancurkan diri sendiri, dan kerinduan terdalam untuk menemukan arti hidup, mungkin menjadi alasan munculnya banyak buku dan film populer tentang makhluk angkasa luar. Dalam bukunya Show Me God (Tunjukkan Allah Padaku), Fred Heeren membahas minat pada makhluk angkasa luar itu: “Manusia ingin teman yang lebih mulia, tetapi tak terlalu mulia . . . Manusia mencari pengantara, tetapi yang sama dengan kita sebagai sesama makhluk ciptaan.”
Alangkah menyedihkan! Manusia mencari di tempat yang salah untuk sesuatu yang telah Allah sediakan di dalam Kristus! Alkitab mengatakan bahwa ada satu
“pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia” (1TIM. 2:5,6). Yesus telah menunjukkan Allah dan membuka jalan bagi kita untuk menuju hidup kekal. HERB VANDERLUGT
Jalan Bahagia
T
ak ada kepuasan sejati di dunia ini. Baik pernikahan, keluarga, uang, ketenaran, pengetahuan, perjalanan, olahraga, maupun prestasi akademis, tidak akan dapat melengkapi sukacita kita. Kepuasan yang kita peroleh dari segala jerih payah kita akan segera hilang dan hanya tinggal kenangan, kalaupun hal-hal itu masih dapat kita ingat.Memang, pasti ada sejumlah peristiwa membahagiakan di sepanjang perjalanan hidup, dan momen tak terduga yang membawa sukacita luar biasa. Namun, momen-momen tersebut pun hanya sementara, dan kita tidak akan pernah dapat kembali
ke masa lalu untuk mengalami dan merasakan kembali sensasi sukacita tersebut.
Lalu, mengapa kita terus-menerus mencari sesuatu yang dapat memuaskan kita? Jawabannya sederhana, karena memang demikian sifat dasar kita. Sadar atau tidak, sebenarnya jiwa kita haus akan Allah. Setiap keinginan, cita-cita, dan kerinduan jiwa kita mengungkapkan kebutuhan kita akan Allah. Kita dilahirkan untuk mengalami kasih-Nya dan kita tidak dapat hidup tanpa kasih itu. Dialah kebahagiaan yang selama ini kita cari dalam hidup. Segala sesuatu yang kita rindukan dapat ditemukan di dalam Dia yang memang lebih dari segalanya.
Oleh karena itu, pada saat Anda merasa resah dan haus akan sesuatu yang lebih di dalam hidup ini, terimalah undangan Yesus untuk “datang kepada-[Nya] dan minum” (YOH. 7:37). Datanglah kepada-Nya, nikmatilah anugerah dan pengampunan-Nya yang berlimpah, dan alamilah sukacita yang sejati. DAVID ROPER
Hari ke- 1 Hari ke- 2 Hari ke- 3 Hari ke- 4
Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
Pengkhotbah 1:8
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.
Pengkhotbah 5:9
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Yohanes 1:14
Yesus berdiri dan berseru:
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Yohanes 7:37
Mengutamakan Kristus
akan membawa kepuasan abadi. Lebih baik kaya di dalam Allah
daripada kaya di dalam harta. Untuk memiliki pandangan yang jelas tentang Allah,
fokuskan perhatian Anda kepada Yesus Kristus. Kebahagiaan tergantung pada apa yang terjadi, tetapi sukacita tergantung kepada Yesus.
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 2:1-11
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 5:9-19 BACAAN HARI INI
Yohanes 1:1-14 BACAAN HARI INI
Yohanes 7:25-38
Anda dapat menerima se cara langsung!
Saya ingin menjadi pembaca buku renungan Santapan Rohani edisi triwulanan.Saya ingin mendapatkan buku-buku yang memperlengkapi pertumbuhan iman.
Berikan tanda” 3” di tempat yang tersedia untuk mendaftarkan diri Anda.Untuk memproses permintaan Anda, kami meminta Anda untuk memberikan data Anda sebagai berikut.Kami menjamin bahwa data Anda akan dirahasiakan dan tidak akan digunakan untuk kepentingan lain.
Nama Lengkap: _______________________________________________________________________________________________________________
Alamat: ________________________________________________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________________ Kode Pos: ____________________________Tel: (Rumah)_______________________________________(Kantor)_____________________________ (HP)__________________________________Pekerjaan: _____________________________________________________________________________________________________________________
Email: __________________________________________________________________________________ Tgl. Lahir:____________________________
Silakan mengirim formulir yang telah diisi lengkap ke kantor kami yang terdekat. (Daftar alamat tercantum di bagian belakang pamflet.)
V9695
Kepuasan Sejati
S
eseorang datang ke biro perjalanan dan berkata bahwa ia ingin pergi berlayar. “Ke mana?” begitu ia ditanya. “Aku belum tahu,” jawabnya. Lalu petugas biro perjalanan tersebut menyarankan supaya ia memperhatikan sebentar bola dunia yang ada di ruangan.Ia melihat-lihat sebentar, kemudian dengan frustrasi bertanya, “Apakah hanya ini yang
Anda tawarkan?”
Dunia tempat kita tinggal berisi banyak hal yang menarik perhatian kita. Di luar dari hal-hal yang tidak benar, kita bisa dan sebaiknya menikmati kesenangan- kesenangan itu. Menyantap makanan yang lezat ditemani para sahabat bisa menghangatkan hati kita. Keindahan alam akan menimbulkan inspirasi dan
memenuhi benak kita dengan kekaguman. Musik yang indah bisa menyegarkan jiwa kita. Dan pekerjaan dapat memberikan kepuasan kepada kita.
Di dalam dunia yang penuh tekanan pun, kita bisa menikmati beragam kesenangan. Namun mengejar kesenangan-kesenangan duniawi tidaklah dapat memberikan kepuasan yang penuh dan abadi. Bahkan orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kepuasan diri, setinggi apa pun prestasi mereka, akan selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Walaupun mereka telah menikmati berbagai kesenangan dunia, rasa dahaga mereka tetap takkan terpuaskan. Mau tak mau, mereka harus setuju dengan Salomo yang berkata, “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin”
(PKH. 2:17).
Hanya dengan hidup bagi Yesus Kristus, kita akan mengalami kepuasan sejati. RICHARD DEHAAN
“Aku Mau Lagi”
S
egala sesuatu berjalan dengan baik seperti yang biasa terjadi dalam kelas Sekolah Minggu untuk kelompok anak umur dua tahun. Namun kemudian, datanglah “Charlie”. Begitu kami mengambil Charlie dari gendongan ibunya, ia mulai rewel dan meronta-ronta. Ia terus merengek, mula-mula kepada ibunya, lalu kepada ayahnya.Lalu terjatuhlah sekeping uang logam dari kantung bajunya, dan tiba-tiba sikap Charlie pun berubah. Sambil menggenggam uang logam itu dengan tangannya yang mungil dan lucu, mulailah Charlie menjerit, “Aku mau uang lagi!” Akhirnya, seseorang di tempat itu berpikir mungkin ia dapat menenangkan Charlie dengan memberinya sekeping
uang logam yang nilainya lebih besar. Segera jeritannya berubah menjadi, “Aku mau sekeping lagi!” Lalu ia kembali merengek, “Aku mau uang lagi.”
Saya pikir, orang dewasa pun sering bertingkah seperti Charlie. Memang kita membutuhkan uang. Namun seperti yang disadari oleh seorang bijaksana yang menulis kitab Pengkhotbah, siapa yang mencintai uang tidak akan pernah puas olehnya (5:9). Oleh karena itu, cara terbaik untuk hidup adalah dengan bekerja keras dan bersikap puas sambil bersyukur atas pertambahan apa pun yang Tuhan berikan.
Ya, mengasihi dan mempercayai Allah itu jauh lebih bijaksana daripada memiliki sikap seperti Charlie, yang menghadapi keresahannya dengan rengekan, “Aku mau uang lagi!” Jika kita memiliki Tuhan di dalam hidup, itu sudah cukup bagi kita. MART DEHAAN
Salah Mencari
S
etelah menghabiskan jutaan dolar dalam proyek yang telah berjalan 40 tahun, para ilmuwan masih belum bisa berhubungan dengan makhluk angkasa luar. Namun penelitian itu terus berlanjut. Robert Jastrow, direktur Mount Wilson Institute, berkata bahwa ia berharap bisa menemukan “makhluk yang lebih unggul dari manusia . . . , tak hanya secarateknis, tetapi juga secara moral dan rohani.”
Jastrow dan para rekan ilmuwannya berharap bahwa peradaban makhluk angkasa luar yang berusia miliaran tahun
akan bisa menjelaskan mengapa kita ada di dunia, dan bagaimana kita bisa mengatasi kecenderungan diri untuk merusak, kecenderungan yang membuat kemajuan dalam teknologi persenjataan menjadi hal yang menakutkan.
Ketakutan bahwa umat manusia akan menghancurkan diri sendiri, dan kerinduan terdalam untuk menemukan arti hidup, mungkin menjadi alasan munculnya banyak buku dan film populer tentang makhluk angkasa luar.
Dalam bukunya Show Me God (Tunjukkan Allah Padaku), Fred Heeren membahas minat pada makhluk angkasa luar itu: “Manusia ingin teman yang lebih mulia, tetapi tak terlalu mulia . . . Manusia mencari pengantara, tetapi yang sama dengan kita sebagai sesama makhluk ciptaan.”
Alangkah menyedihkan! Manusia mencari di tempat yang salah untuk sesuatu yang telah Allah sediakan di dalam Kristus! Alkitab mengatakan bahwa ada satu
“pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia” (1TIM. 2:5,6). Yesus telah menunjukkan Allah dan membuka jalan bagi kita untuk menuju hidup kekal. HERB VANDERLUGT
Jalan Bahagia
T
ak ada kepuasan sejati di dunia ini. Baik pernikahan, keluarga, uang, ketenaran, pengetahuan, perjalanan, olahraga, maupun prestasi akademis, tidak akan dapat melengkapi sukacita kita. Kepuasan yang kita peroleh dari segala jerih payah kita akan segera hilang dan hanya tinggal kenangan, kalaupun hal-hal itu masih dapat kita ingat.Memang, pasti ada sejumlah peristiwa membahagiakan di sepanjang perjalanan hidup, dan momen tak terduga yang membawa sukacita luar biasa. Namun, momen-momen tersebut pun hanya sementara, dan kita tidak akan pernah dapat kembali
ke masa lalu untuk mengalami dan merasakan kembali sensasi sukacita tersebut.
Lalu, mengapa kita terus-menerus mencari sesuatu yang dapat memuaskan kita? Jawabannya sederhana, karena memang demikian sifat dasar kita. Sadar atau tidak, sebenarnya jiwa kita haus akan Allah. Setiap keinginan, cita-cita, dan kerinduan jiwa kita mengungkapkan kebutuhan kita akan Allah. Kita dilahirkan untuk mengalami kasih-Nya dan kita tidak dapat hidup tanpa kasih itu. Dialah kebahagiaan yang selama ini kita cari dalam hidup. Segala sesuatu yang kita rindukan dapat ditemukan di dalam Dia yang memang lebih dari segalanya.
Oleh karena itu, pada saat Anda merasa resah dan haus akan sesuatu yang lebih di dalam hidup ini, terimalah undangan Yesus untuk “datang kepada-[Nya] dan minum” (YOH. 7:37). Datanglah kepada-Nya, nikmatilah anugerah dan pengampunan-Nya yang berlimpah, dan alamilah sukacita yang sejati. DAVID ROPER
Hari ke- 1 Hari ke- 2 Hari ke- 3 Hari ke- 4
Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
Pengkhotbah 1:8
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.
Inipun sia-sia.
Pengkhotbah 5:9
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Yohanes 1:14
Yesus berdiri dan berseru:
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Yohanes 7:37
Mengutamakan Kristus
akan membawa kepuasan abadi. Lebih baik kaya di dalam Allah
daripada kaya di dalam harta. Untuk memiliki pandangan yang jelas tentang Allah,
fokuskan perhatian Anda kepada Yesus Kristus. Kebahagiaan tergantung pada apa yang terjadi, tetapi sukacita tergantung kepada Yesus.
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 2:1-11
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 5:9-19 BACAAN HARI INI
Yohanes 1:1-14 BACAAN HARI INI
Yohanes 7:25-38
Apakah Anda menerima manfaat dari bacaan ini? Berikan tanggapan
dan usul Anda di sini.
Jika Anda ingin menerima
Seri Pengharapan Hidup terbaru secara rutin atau ingin membagikan materi ini
kepada orang lain, silakan:
KOMENTAR BACA ARTIKEL LAIN
Daftar di sini
Anda dapat menerima se cara langsung!
Saya ingin menjadi pembaca buku renungan Santapan Rohani edisi triwulanan.Saya ingin mendapatkan buku-buku yang memperlengkapi pertumbuhan iman.
Berikan tanda” 3” di tempat yang tersedia untuk mendaftarkan diri Anda.Untuk memproses permintaan Anda, kami meminta Anda untuk memberikan data Anda sebagai berikut.Kami menjamin bahwa data Anda akan dirahasiakan dan tidak akan digunakan untuk kepentingan lain.
Nama Lengkap: _______________________________________________________________________________________________________________
Alamat: ________________________________________________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________________ Kode Pos: ____________________________Tel: (Rumah)_______________________________________(Kantor)_____________________________ (HP)__________________________________Pekerjaan: _____________________________________________________________________________________________________________________
Email: __________________________________________________________________________________ Tgl. Lahir:____________________________
Silakan mengirim formulir yang telah diisi lengkap ke kantor kami yang terdekat. (Daftar alamat tercantum di bagian belakang pamflet.)
V9695
Kepuasan Sejati
S
eseorang datang ke biro perjalanan dan berkata bahwa ia ingin pergi berlayar. “Ke mana?” begitu ia ditanya. “Aku belum tahu,” jawabnya. Lalu petugas biro perjalanan tersebut menyarankan supaya ia memperhatikan sebentar bola dunia yang ada di ruangan.Ia melihat-lihat sebentar, kemudian dengan frustrasi bertanya, “Apakah hanya ini yang
Anda tawarkan?”
Dunia tempat kita tinggal berisi banyak hal yang menarik perhatian kita. Di luar dari hal-hal yang tidak benar, kita bisa dan sebaiknya menikmati kesenangan- kesenangan itu. Menyantap makanan yang lezat ditemani para sahabat bisa menghangatkan hati kita. Keindahan alam akan menimbulkan inspirasi dan
memenuhi benak kita dengan kekaguman. Musik yang indah bisa menyegarkan jiwa kita. Dan pekerjaan dapat memberikan kepuasan kepada kita.
Di dalam dunia yang penuh tekanan pun, kita bisa menikmati beragam kesenangan. Namun mengejar kesenangan-kesenangan duniawi tidaklah dapat memberikan kepuasan yang penuh dan abadi. Bahkan orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kepuasan diri, setinggi apa pun prestasi mereka, akan selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Walaupun mereka telah menikmati berbagai kesenangan dunia, rasa dahaga mereka tetap takkan terpuaskan. Mau tak mau, mereka harus setuju dengan Salomo yang berkata, “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin”
(PKH. 2:17).
Hanya dengan hidup bagi Yesus Kristus, kita akan mengalami kepuasan sejati. RICHARD DEHAAN
“Aku Mau Lagi”
S
egala sesuatu berjalan dengan baik seperti yang biasa terjadi dalam kelas Sekolah Minggu untuk kelompok anak umur dua tahun. Namun kemudian, datanglah “Charlie”. Begitu kami mengambil Charlie dari gendongan ibunya, ia mulai rewel dan meronta-ronta. Ia terus merengek, mula-mula kepada ibunya, lalu kepada ayahnya.Lalu terjatuhlah sekeping uang logam dari kantung bajunya, dan tiba-tiba sikap Charlie pun berubah. Sambil menggenggam uang logam itu dengan tangannya yang mungil dan lucu, mulailah Charlie menjerit, “Aku mau uang lagi!” Akhirnya, seseorang di tempat itu berpikir mungkin ia dapat menenangkan Charlie dengan memberinya sekeping
uang logam yang nilainya lebih besar. Segera jeritannya berubah menjadi, “Aku mau sekeping lagi!” Lalu ia kembali merengek, “Aku mau uang lagi.”
Saya pikir, orang dewasa pun sering bertingkah seperti Charlie. Memang kita membutuhkan uang. Namun seperti yang disadari oleh seorang bijaksana yang menulis kitab Pengkhotbah, siapa yang mencintai uang tidak akan pernah puas olehnya (5:9). Oleh karena itu, cara terbaik untuk hidup adalah dengan bekerja keras dan bersikap puas sambil bersyukur atas pertambahan apa pun yang Tuhan berikan.
Ya, mengasihi dan mempercayai Allah itu jauh lebih bijaksana daripada memiliki sikap seperti Charlie, yang menghadapi keresahannya dengan rengekan, “Aku mau uang lagi!” Jika kita memiliki Tuhan di dalam hidup, itu sudah cukup bagi kita. MART DEHAAN
Salah Mencari
S
etelah menghabiskan jutaan dolar dalam proyek yang telah berjalan 40 tahun, para ilmuwan masih belum bisa berhubungan dengan makhluk angkasa luar. Namun penelitian itu terus berlanjut. Robert Jastrow, direktur Mount Wilson Institute, berkata bahwa ia berharap bisa menemukan “makhluk yang lebih unggul dari manusia . . . , tak hanya secarateknis, tetapi juga secara moral dan rohani.”
Jastrow dan para rekan ilmuwannya berharap bahwa peradaban makhluk angkasa luar yang berusia miliaran tahun
akan bisa menjelaskan mengapa kita ada di dunia, dan bagaimana kita bisa mengatasi kecenderungan diri untuk merusak, kecenderungan yang membuat kemajuan dalam teknologi persenjataan menjadi hal yang menakutkan.
Ketakutan bahwa umat manusia akan menghancurkan diri sendiri, dan kerinduan terdalam untuk menemukan arti hidup, mungkin menjadi alasan munculnya banyak buku dan film populer tentang makhluk angkasa luar.
Dalam bukunya Show Me God (Tunjukkan Allah Padaku), Fred Heeren membahas minat pada makhluk angkasa luar itu: “Manusia ingin teman yang lebih mulia, tetapi tak terlalu mulia . . . Manusia mencari pengantara, tetapi yang sama dengan kita sebagai sesama makhluk ciptaan.”
Alangkah menyedihkan! Manusia mencari di tempat yang salah untuk sesuatu yang telah Allah sediakan di dalam Kristus! Alkitab mengatakan bahwa ada satu
“pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia” (1TIM. 2:5,6). Yesus telah menunjukkan Allah dan membuka jalan bagi kita untuk menuju hidup kekal. HERB VANDERLUGT
Jalan Bahagia
T
ak ada kepuasan sejati di dunia ini. Baik pernikahan, keluarga, uang, ketenaran, pengetahuan, perjalanan, olahraga, maupun prestasi akademis, tidak akan dapat melengkapi sukacita kita. Kepuasan yang kita peroleh dari segala jerih payah kita akan segera hilang dan hanya tinggal kenangan, kalaupun hal-hal itu masih dapat kita ingat.Memang, pasti ada sejumlah peristiwa membahagiakan di sepanjang perjalanan hidup, dan momen tak terduga yang membawa sukacita luar biasa.
Namun, momen-momen tersebut pun hanya sementara, dan kita tidak akan pernah dapat kembali
ke masa lalu untuk mengalami dan merasakan kembali sensasi sukacita tersebut.
Lalu, mengapa kita terus-menerus mencari sesuatu yang dapat memuaskan kita? Jawabannya sederhana, karena memang demikian sifat dasar kita. Sadar atau tidak, sebenarnya jiwa kita haus akan Allah.
Setiap keinginan, cita-cita, dan kerinduan jiwa kita mengungkapkan kebutuhan kita akan Allah. Kita dilahirkan untuk mengalami kasih-Nya dan kita tidak dapat hidup tanpa kasih itu. Dialah kebahagiaan yang selama ini kita cari dalam hidup. Segala sesuatu yang kita rindukan dapat ditemukan di dalam Dia yang memang lebih dari segalanya.
Oleh karena itu, pada saat Anda merasa resah dan haus akan sesuatu yang lebih di dalam hidup ini, terimalah undangan Yesus untuk “datang kepada-[Nya]
dan minum” (YOH. 7:37). Datanglah kepada-Nya, nikmatilah anugerah dan pengampunan-Nya yang berlimpah, dan alamilah sukacita yang sejati. DAVID ROPER
Hari ke- 1 Hari ke- 2 Hari ke- 3 Hari ke- 4
Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
Pengkhotbah 1:8
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.
Inipun sia-sia.
Pengkhotbah 5:9
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Yohanes 1:14
Yesus berdiri dan berseru:
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Yohanes 7:37
Mengutamakan Kristus
akan membawa kepuasan abadi. Lebih baik kaya di dalam Allah
daripada kaya di dalam harta. Untuk memiliki pandangan yang jelas tentang Allah,
fokuskan perhatian Anda kepada Yesus Kristus. Kebahagiaan tergantung pada apa yang terjadi, tetapi sukacita tergantung kepada Yesus.
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 2:1-11
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 5:9-19 BACAAN HARI INI
Yohanes 1:1-14 BACAAN HARI INI
Yohanes 7:25-38
Anda dapat menerima se cara langsung!
Saya ingin menjadi pembaca buku renungan Santapan Rohani edisi triwulanan.Saya ingin mendapatkan buku-buku yang memperlengkapi pertumbuhan iman.
Berikan tanda” 3” di tempat yang tersedia untuk mendaftarkan diri Anda.Untuk memproses permintaan Anda, kami meminta Anda untuk memberikan data Anda sebagai berikut.Kami menjamin bahwa data Anda akan dirahasiakan dan tidak akan digunakan untuk kepentingan lain.
Nama Lengkap: _______________________________________________________________________________________________________________
Alamat: ________________________________________________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________________ Kode Pos: ____________________________Tel: (Rumah)_______________________________________(Kantor)_____________________________ (HP)__________________________________Pekerjaan: _____________________________________________________________________________________________________________________
Email: __________________________________________________________________________________ Tgl. Lahir:____________________________
Silakan mengirim formulir yang telah diisi lengkap ke kantor kami yang terdekat. (Daftar alamat tercantum di bagian belakang pamflet.)
V9695
Kepuasan Sejati
S
eseorang datang ke biro perjalanan dan berkata bahwa ia ingin pergi berlayar. “Ke mana?” begitu ia ditanya. “Aku belum tahu,” jawabnya. Lalu petugas biro perjalanan tersebut menyarankan supaya ia memperhatikan sebentar bola dunia yang ada di ruangan.Ia melihat-lihat sebentar, kemudian dengan frustrasi bertanya, “Apakah hanya ini yang
Anda tawarkan?”
Dunia tempat kita tinggal berisi banyak hal yang menarik perhatian kita. Di luar dari hal-hal yang tidak benar, kita bisa dan sebaiknya menikmati kesenangan- kesenangan itu. Menyantap makanan yang lezat ditemani para sahabat bisa menghangatkan hati kita. Keindahan alam akan menimbulkan inspirasi dan
memenuhi benak kita dengan kekaguman. Musik yang indah bisa menyegarkan jiwa kita. Dan pekerjaan dapat memberikan kepuasan kepada kita.
Di dalam dunia yang penuh tekanan pun, kita bisa menikmati beragam kesenangan. Namun mengejar kesenangan-kesenangan duniawi tidaklah dapat memberikan kepuasan yang penuh dan abadi. Bahkan orang-orang yang hidup hanya untuk mengejar kepuasan diri, setinggi apa pun prestasi mereka, akan selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Walaupun mereka telah menikmati berbagai kesenangan dunia, rasa dahaga mereka tetap takkan terpuaskan. Mau tak mau, mereka harus setuju dengan Salomo yang berkata, “Segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin”
(PKH. 2:17).
Hanya dengan hidup bagi Yesus Kristus, kita akan mengalami kepuasan sejati. RICHARD DEHAAN
“Aku Mau Lagi”
S
egala sesuatu berjalan dengan baik seperti yang biasa terjadi dalam kelas Sekolah Minggu untuk kelompok anak umur dua tahun. Namun kemudian, datanglah “Charlie”. Begitu kami mengambil Charlie dari gendongan ibunya, ia mulai rewel dan meronta-ronta. Ia terus merengek, mula-mula kepada ibunya, lalu kepada ayahnya.Lalu terjatuhlah sekeping uang logam dari kantung bajunya, dan tiba-tiba sikap Charlie pun berubah. Sambil menggenggam uang logam itu dengan tangannya yang mungil dan lucu, mulailah Charlie menjerit, “Aku mau uang lagi!” Akhirnya, seseorang di tempat itu berpikir mungkin ia dapat menenangkan Charlie dengan memberinya sekeping
uang logam yang nilainya lebih besar. Segera jeritannya berubah menjadi, “Aku mau sekeping lagi!” Lalu ia kembali merengek, “Aku mau uang lagi.”
Saya pikir, orang dewasa pun sering bertingkah seperti Charlie. Memang kita membutuhkan uang. Namun seperti yang disadari oleh seorang bijaksana yang menulis kitab Pengkhotbah, siapa yang mencintai uang tidak akan pernah puas olehnya (5:9). Oleh karena itu, cara terbaik untuk hidup adalah dengan bekerja keras dan bersikap puas sambil bersyukur atas pertambahan apa pun yang Tuhan berikan.
Ya, mengasihi dan mempercayai Allah itu jauh lebih bijaksana daripada memiliki sikap seperti Charlie, yang menghadapi keresahannya dengan rengekan, “Aku mau uang lagi!” Jika kita memiliki Tuhan di dalam hidup, itu sudah cukup bagi kita. MART DEHAAN
Salah Mencari
S
etelah menghabiskan jutaan dolar dalam proyek yang telah berjalan 40 tahun, para ilmuwan masih belum bisa berhubungan dengan makhluk angkasa luar. Namun penelitian itu terus berlanjut. Robert Jastrow, direktur Mount Wilson Institute, berkata bahwa ia berharap bisa menemukan “makhluk yang lebih unggul dari manusia . . . , tak hanya secarateknis, tetapi juga secara moral dan rohani.”
Jastrow dan para rekan ilmuwannya berharap bahwa peradaban makhluk angkasa luar yang berusia miliaran tahun
akan bisa menjelaskan mengapa kita ada di dunia, dan bagaimana kita bisa mengatasi kecenderungan diri untuk merusak, kecenderungan yang membuat kemajuan dalam teknologi persenjataan menjadi hal yang menakutkan.
Ketakutan bahwa umat manusia akan menghancurkan diri sendiri, dan kerinduan terdalam untuk menemukan arti hidup, mungkin menjadi alasan munculnya banyak buku dan film populer tentang makhluk angkasa luar.
Dalam bukunya Show Me God (Tunjukkan Allah Padaku), Fred Heeren membahas minat pada makhluk angkasa luar itu: “Manusia ingin teman yang lebih mulia, tetapi tak terlalu mulia . . . Manusia mencari pengantara, tetapi yang sama dengan kita sebagai sesama makhluk ciptaan.”
Alangkah menyedihkan! Manusia mencari di tempat yang salah untuk sesuatu yang telah Allah sediakan di dalam Kristus! Alkitab mengatakan bahwa ada satu
“pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia” (1TIM. 2:5,6). Yesus telah menunjukkan Allah dan membuka jalan bagi kita untuk menuju hidup kekal. HERB VANDERLUGT
Jalan Bahagia
T
ak ada kepuasan sejati di dunia ini. Baik pernikahan, keluarga, uang, ketenaran, pengetahuan, perjalanan, olahraga, maupun prestasi akademis, tidak akan dapat melengkapi sukacita kita. Kepuasan yang kita peroleh dari segala jerih payah kita akan segera hilang dan hanya tinggal kenangan, kalaupun hal-hal itu masih dapat kita ingat.Memang, pasti ada sejumlah peristiwa membahagiakan di sepanjang perjalanan hidup, dan momen tak terduga yang membawa sukacita luar biasa.
Namun, momen-momen tersebut pun hanya sementara, dan kita tidak akan pernah dapat kembali
ke masa lalu untuk mengalami dan merasakan kembali sensasi sukacita tersebut.
Lalu, mengapa kita terus-menerus mencari sesuatu yang dapat memuaskan kita? Jawabannya sederhana, karena memang demikian sifat dasar kita. Sadar atau tidak, sebenarnya jiwa kita haus akan Allah.
Setiap keinginan, cita-cita, dan kerinduan jiwa kita mengungkapkan kebutuhan kita akan Allah. Kita dilahirkan untuk mengalami kasih-Nya dan kita tidak dapat hidup tanpa kasih itu. Dialah kebahagiaan yang selama ini kita cari dalam hidup. Segala sesuatu yang kita rindukan dapat ditemukan di dalam Dia yang memang lebih dari segalanya.
Oleh karena itu, pada saat Anda merasa resah dan haus akan sesuatu yang lebih di dalam hidup ini, terimalah undangan Yesus untuk “datang kepada-[Nya]
dan minum” (YOH. 7:37). Datanglah kepada-Nya, nikmatilah anugerah dan pengampunan-Nya yang berlimpah, dan alamilah sukacita yang sejati. DAVID ROPER
Hari ke- 1 Hari ke- 2 Hari ke- 3 Hari ke- 4
Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
Pengkhotbah 1:8
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.
Inipun sia-sia.
Pengkhotbah 5:9
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Yohanes 1:14
Yesus berdiri dan berseru:
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Yohanes 7:37
Mengutamakan Kristus
akan membawa kepuasan abadi. Lebih baik kaya di dalam Allah
daripada kaya di dalam harta. Untuk memiliki pandangan yang jelas tentang Allah,
fokuskan perhatian Anda kepada Yesus Kristus. Kebahagiaan tergantung pada apa yang terjadi, tetapi sukacita tergantung kepada Yesus.
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 2:1-11
BACAAN HARI INI
Pengkhotbah 5:9-19 BACAAN HARI INI
Yohanes 1:1-14 BACAAN HARI INI
Yohanes 7:25-38
Mencari
Tujuan Hidup Mencari Tujuan Hidup
Pernahkah Anda merasa tersesat di dalam hidup dan tidak yakin ke mana Anda melangkah?
Anda tak perlu mencoba bunuh diri untuk bertanya- tanya apakah hidup Anda sungguh berarti. Anda tak perlu terpuruk dalam utang untuk dapat mengetahui rasanya bangkrut. Anda tak perlu berada di balik jeruji penjara untuk merasa terpenjara oleh hasrat diri sendiri. Anda tak perlu berada di jalanan untuk menjual tubuh Anda bagi orang lain.
Anda tak perlu menjadi miliuner untuk berada dalam jerat cinta akan uang. Anda tak perlu ke tempat pembuangan sampah untuk merasakan kotornya hidup ini. Anda tak perlu menjadi tuna wisma untuk merasa terhilang dalam dunia ini. Dalam suatu masa dalam hidup ini, setiap orang—kaya atau miskin—bergumul dengan arti hidup yang sejati.
Blaise Pascal, seorang ahli matematika dan filsuf Prancis di abad ke-17, mengajukan suatu penjelasan. Ia mengatakan bahwa ada satu ruang di dalam hati setiap manusia yang hanya dapat diisi oleh Allah. Di lubuk hati kita yang terdalam, ada suatu kerinduan yang kuat untuk mengenal Pribadi yang menciptakan kita. Kita ingin mengetahui tujuan yang dimiliki-Nya dari keberadaan kita di alam semesta-Nya yang teramat luas ini. Meskipun kita dapat menekan atau menyangkalnya, kerinduan tersebut akan muncul terus-menerus.
Renungan-renungan terpilih dari Santapan Rohani ini bertujuan untuk membantu Anda menemukan arti hidup yang sejati. Bila Anda menikmati renungan-renungan ini dan ingin menerima buku renungan Santapan Rohani secara rutin, silakan mengisi formulir permohonan yang tersedia dan mengirimkannya kembali kepada kami. Anda dapat menerima materi-materi yang kami terbitkan tanpa dikenai biaya apa pun. Kami didukung oleh persembahan kasih para anggota dan sahabat kami.
© 2017 Our Daily Bread Ministries. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI ©1974.
Indonesian ‘Seeking Life’s Purpose’ V9695
Persembahan kasih seberapa pun dari para sahabat memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun.
Our Daily Bread Ministries
PO Box 15, Kilsyth, VIC 3137, Australia Tel: (+61-3) 9761-7086, [email protected] Our Daily Bread Ministries Ltd.
PO Box 74025, Kowloon Central Post Office, Kowloon, Hong Kong Tel: (+852) 2626-1102, Fax: (+852) 2626-0216, [email protected] ODB Indonesia
PO Box 2500, Jakarta 11025, Indonesia
Tel: (+62-21) 2902-8950, Fax: (+62-21) 5435-1975, [email protected] Daily Bread Co. Ltd.
PO Box 46, Ikoma Nara 630-0291, Japan
Tel: (+81-743) 75-8230, Fax: (+81-743) 75-8299, [email protected] Our Daily Bread Berhad
PO Box 86, Taman Sri Tebrau, 80057 Johor Bahru, Malaysia Tel: (+060-7) 353-1718, Fax: (+060-7) 353-4439, [email protected] Our Daily Bread Ministries
PO Box 303095, North Harbour, Auckland 0751, New Zealand Tel: (+64-9) 444-4146, [email protected]
Our Daily Bread Ministries Foundation PO Box 47-260, Taipei 10399, Taiwan R.O.C.
Tel: (+886-2) 2585-5340, Fax: (+886-2) 2585-5349, [email protected] Our Daily Bread Ministries Thailand
PO Box 35, Huamark, Bangkok 10243, Thailand
Tel: (+66-2) 718-5166, Fax: (+66-2) 718-6016, [email protected] Our Daily Bread Ministries Asia Ltd.
MacPherson Road Post Office, PO Box 146, Singapore 368025 Tel: (+65) 6858-0900, Fax: (+65) 6858-0400, [email protected]
Hidupilah hari ini seolah Anda akan menghadap Allah esok hari.
Menanti
D
i tahun 1940-an, Samuel Beckett menulis drama berjudul Waiting For Godot (Menanti Godot) yang kini dikenal sebagai karya klasik. Di drama itu, dua pria berdiri di panggung dengan tangan dimasukkan ke saku dan saling berpandangan. Mereka hanya berdiri dan saling pandang. Tak ada gerakan, tak ada alur cerita, mereka hanya berdiri dan menantikedatangan Godot.
Namun, siapakah Godot?
Apakah ia manusia? Apakah ia mewakili Allah? Lewis Smedes, pakar etika Kristen, berpendapat bahwa Godot adalah “khayalan yang dipegang banyak orang sebagai pelarian.” Sampai drama itu berakhir, dua pria itu masih
berdiri menanti di panggung tanpa melakukan apa pun.
Dalam perayaan ulang tahun ke-50 pertunjukan drama itu, seseorang bertanya pada Beckett, “Maukah kini Anda mengatakan siapa sebenarnya Godot?” Beckett menjawab, “Saya saja tidak tahu.”
Waiting For Godot adalah perumpamaan tentang kehidupan dari kebanyakan orang—kehidupan yang hampa dan tidak berarti, suatu penantian yang sia-sia.
Jika tak ada Allah yang memberikan kasih, anugerah, dan hikmat, hidup kita hanya merupakan penantian yang sia- sia untuk mengisi waktu kosong.
Betapa berbedanya dengan pengharapan orang Kristen! Saat ini kita sedang menantikan “penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (TIT. 2:13). Pengharapan inilah yang menopang kita—pengharapan bahwa setelah hidup di dunia ini berlalu, kita memiliki hidup yang penuh dengan berkat yang tak terlukiskan. VERNON GROUNDS
Tuna Wisma
S
aya sering melihat mereka berbaring di bangku taman di Chicago. Pernah saya amati mereka tertidur di pintu masuk di seputar Gedung Putih.Sebagian dari mereka juga ada yang menyandarkan tubuh di dinding terowongan bawah tanah New York atau berdesakan di sepanjang lorong Los Angeles.
Mereka adalah para tuna wisma yang gelisah, bersembunyi dari masyarakat, dan sering sakit- sakitan.
Menurut saya, keadaan mereka menggambarkan kondisi manusia tanpa Allah. Alkitab mengatakan,
“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (YES. 53:6). Menyangkali Allah, seperti yang dilakukan banyak orang saat ini, berarti menjadi tuna wisma di dunia yang Dia ciptakan untuk kemuliaan-Nya. Mengabaikan hukum moral-Nya berarti terhanyut tanpa tujuan. Menolak-Nya berarti membuat hidup ini tidak berarti. Menolak kasih-Nya berarti tenggelam dalam keputusasaan yang fana.
Jawaban dari dilema umat manusia ini adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus. Agustinus (354–430), seorang pemimpin gereja mula-mula, berkata, “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, dan hati manusia tidak akan menemukan damai sejati kecuali di dalam-Mu.”
Percaya kepada Kristus berarti masuk dalam keluarga Allah, keluarga yang penuh kasih dan kehangatan.
Berharap kepada-Nya berarti menantikan rumah surgawi yang kekal (YOH. 14:1-3). Menerima-Nya berarti menjadi bagian dari dunia-Nya yang penuh kebenaran, moralitas, dan damai sejahtera.
Apakah Anda merasa seperti seorang tuna wisma?
Datanglah kepada Allah. DAVE EGNER
Hari ke- 5 Hari ke- 6
Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Filipi 3:20
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Yohanes 14:2
Sukacita terbesar di bumi ini adalah
memiliki pengharapan yang pasti akan surga. Kita adalah tuna wisma sebelum Kristus tinggal di hati kita.
BACAAN HARI INI
Titus 2:11-15 BACAAN HARI INI
Yohanes 14:1-7
santapanrohani.org
Mencari
Tujuan Hidup Mencari Tujuan Hidup
Pernahkah Anda merasa tersesat di dalam hidup dan tidak yakin ke mana Anda melangkah?
Anda tak perlu mencoba bunuh diri untuk bertanya- tanya apakah hidup Anda sungguh berarti. Anda tak perlu terpuruk dalam utang untuk dapat mengetahui rasanya bangkrut. Anda tak perlu berada di balik jeruji penjara untuk merasa terpenjara oleh hasrat diri sendiri. Anda tak perlu berada di jalanan untuk menjual tubuh Anda bagi orang lain.
Anda tak perlu menjadi miliuner untuk berada dalam jerat cinta akan uang. Anda tak perlu ke tempat pembuangan sampah untuk merasakan kotornya hidup ini. Anda tak perlu menjadi tuna wisma untuk merasa terhilang dalam dunia ini. Dalam suatu masa dalam hidup ini, setiap orang—kaya atau miskin—bergumul dengan arti hidup yang sejati.
Blaise Pascal, seorang ahli matematika dan filsuf Prancis di abad ke-17, mengajukan suatu penjelasan. Ia mengatakan bahwa ada satu ruang di dalam hati setiap manusia yang hanya dapat diisi oleh Allah. Di lubuk hati kita yang terdalam, ada suatu kerinduan yang kuat untuk mengenal Pribadi yang menciptakan kita. Kita ingin mengetahui tujuan yang dimiliki-Nya dari keberadaan kita di alam semesta-Nya yang teramat luas ini. Meskipun kita dapat menekan atau menyangkalnya, kerinduan tersebut akan muncul terus-menerus.
Renungan-renungan terpilih dari Santapan Rohani ini bertujuan untuk membantu Anda menemukan arti hidup yang sejati. Bila Anda menikmati renungan-renungan ini dan ingin menerima buku renungan Santapan Rohani secara rutin, silakan mengisi formulir permohonan yang tersedia dan mengirimkannya kembali kepada kami. Anda dapat menerima materi-materi yang kami terbitkan tanpa dikenai biaya apa pun. Kami didukung oleh persembahan kasih para anggota dan sahabat kami.
© 2017 Our Daily Bread Ministries. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Kutipan ayat diambil dari teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, LAI ©1974.
Indonesian ‘Seeking Life’s Purpose’ V9695
Persembahan kasih seberapa pun dari para sahabat memampukan Our Daily Bread Ministries untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup. Kami tidak didanai atau berada di bawah kelompok atau denominasi apa pun.
Our Daily Bread Ministries
PO Box 15, Kilsyth, VIC 3137, Australia Tel: (+61-3) 9761-7086, [email protected] Our Daily Bread Ministries Ltd.
PO Box 74025, Kowloon Central Post Office, Kowloon, Hong Kong Tel: (+852) 2626-1102, Fax: (+852) 2626-0216, [email protected] ODB Indonesia
PO Box 2500, Jakarta 11025, Indonesia
Tel: (+62-21) 2902-8950, Fax: (+62-21) 5435-1975, [email protected] Daily Bread Co. Ltd.
PO Box 46, Ikoma Nara 630-0291, Japan
Tel: (+81-743) 75-8230, Fax: (+81-743) 75-8299, [email protected] Our Daily Bread Berhad
PO Box 86, Taman Sri Tebrau, 80057 Johor Bahru, Malaysia Tel: (+060-7) 353-1718, Fax: (+060-7) 353-4439, [email protected] Our Daily Bread Ministries
PO Box 303095, North Harbour, Auckland 0751, New Zealand Tel: (+64-9) 444-4146, [email protected]
Our Daily Bread Ministries Foundation PO Box 47-260, Taipei 10399, Taiwan R.O.C.
Tel: (+886-2) 2585-5340, Fax: (+886-2) 2585-5349, [email protected] Our Daily Bread Ministries Thailand
PO Box 35, Huamark, Bangkok 10243, Thailand
Tel: (+66-2) 718-5166, Fax: (+66-2) 718-6016, [email protected] Our Daily Bread Ministries Asia Ltd.
MacPherson Road Post Office, PO Box 146, Singapore 368025 Tel: (+65) 6858-0900, Fax: (+65) 6858-0400, [email protected]
Hidupilah hari ini seolah Anda akan menghadap Allah esok hari.
Menanti
D
i tahun 1940-an, Samuel Beckett menulis drama berjudul Waiting For Godot (Menanti Godot) yang kini dikenal sebagai karya klasik. Di drama itu, dua pria berdiri di panggung dengan tangan dimasukkan ke saku dan saling berpandangan. Mereka hanya berdiri dan saling pandang. Tak ada gerakan, tak ada alur cerita, mereka hanya berdiri dan menantikedatangan Godot.
Namun, siapakah Godot?
Apakah ia manusia? Apakah ia mewakili Allah? Lewis Smedes, pakar etika Kristen, berpendapat bahwa Godot adalah “khayalan yang dipegang banyak orang sebagai pelarian.” Sampai drama itu berakhir, dua pria itu masih
berdiri menanti di panggung tanpa melakukan apa pun.
Dalam perayaan ulang tahun ke-50 pertunjukan drama itu, seseorang bertanya pada Beckett, “Maukah kini Anda mengatakan siapa sebenarnya Godot?” Beckett menjawab, “Saya saja tidak tahu.”
Waiting For Godot adalah perumpamaan tentang kehidupan dari kebanyakan orang—kehidupan yang hampa dan tidak berarti, suatu penantian yang sia-sia.
Jika tak ada Allah yang memberikan kasih, anugerah, dan hikmat, hidup kita hanya merupakan penantian yang sia- sia untuk mengisi waktu kosong.
Betapa berbedanya dengan pengharapan orang Kristen! Saat ini kita sedang menantikan “penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (TIT. 2:13). Pengharapan inilah yang menopang kita—pengharapan bahwa setelah hidup di dunia ini berlalu, kita memiliki hidup yang penuh dengan berkat yang tak terlukiskan. VERNON GROUNDS
Tuna Wisma
S
aya sering melihat mereka berbaring di bangku taman di Chicago. Pernah saya amati mereka tertidur di pintu masuk di seputar Gedung Putih.Sebagian dari mereka juga ada yang menyandarkan tubuh di dinding terowongan bawah tanah New York atau berdesakan di sepanjang lorong Los Angeles.
Mereka adalah para tuna wisma yang gelisah, bersembunyi dari masyarakat, dan sering sakit- sakitan.
Menurut saya, keadaan mereka menggambarkan kondisi manusia tanpa Allah. Alkitab mengatakan,
“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (YES. 53:6). Menyangkali Allah, seperti yang dilakukan banyak orang saat ini, berarti menjadi tuna wisma di dunia yang Dia ciptakan untuk kemuliaan-Nya. Mengabaikan hukum moral-Nya berarti terhanyut tanpa tujuan. Menolak-Nya berarti membuat hidup ini tidak berarti. Menolak kasih-Nya berarti tenggelam dalam keputusasaan yang fana.
Jawaban dari dilema umat manusia ini adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus. Agustinus (354–430), seorang pemimpin gereja mula-mula, berkata, “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, dan hati manusia tidak akan menemukan damai sejati kecuali di dalam-Mu.”
Percaya kepada Kristus berarti masuk dalam keluarga Allah, keluarga yang penuh kasih dan kehangatan.
Berharap kepada-Nya berarti menantikan rumah surgawi yang kekal (YOH. 14:1-3). Menerima-Nya berarti menjadi bagian dari dunia-Nya yang penuh kebenaran, moralitas, dan damai sejahtera.
Apakah Anda merasa seperti seorang tuna wisma?
Datanglah kepada Allah. DAVE EGNER
Hari ke- 5 Hari ke- 6
Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Filipi 3:20
Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Yohanes 14:2
Sukacita terbesar di bumi ini adalah
memiliki pengharapan yang pasti akan surga. Kita adalah tuna wisma sebelum Kristus tinggal di hati kita.
BACAAN HARI INI
Titus 2:11-15 BACAAN HARI INI
Yohanes 14:1-7
santapanrohani.org