1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Amerika adalah negara yang memiliki kedudukan yg besar di mata negara-negara lain. Negara ini juga disebut sebagai negara yang mengusungkan tinggi nilai-nilai demokrasi di dunia, banyak kebijakannya menyiratkan dan menyerukan hal yang berkaitan dengan demokrasi. Beberapa negara sudah menerima bantuan dari Amerika dalam proses pembuatan sistem demokrasinya, baik dalam bentuk dana atau bentuk dukungan lainnya. Pada tahun 2000, Amerika mencoba mendekati China sebagai kompetitor Amerika dan mempromosikan nilai-nilai demokrasi yang dianggap sesuai dengan keadaan China pada saat itu akan tetapi memang tidak sesuai dengan kondisi ideologi China yang ada.1 Pada 11 September 2001 warga Amerika mengalami traumatik pada teroris yang menewaskan kurang lebih 3000 orang yang berasal dari pesawat jet menabrak gedung World Trade Center yang diindikasi adalah jaringan teroris.2Setelah kejadian tersebut Amerika berkeinginan menghilangkan seluruh keberadaan teroris di dunia sekaligus mempromosikan demokrasi di kawasan Timur tengah dan Afrika Utara.Amerika sudah menghabiskan beratus juta dolar untuk melancarkan niatannya tersebut. September 2002 Amerika
1Zabarowski, M. (2008). Bush Legacy's and American's Next Foregin Policy.Institute for Securities Studies , 22.
2BBC. (n.d.). History. Retrieved December 2015, 20, from BBC Web site:
www.bbc.co.uk
2 merilis strategi keamanan nasional pertamanya yang meninggalkan konsep pencegahan dan penahanan untuk negara yang bermusuhan dan kelompok teroris, pada saat yang sama, nilai demokrasi dimasukkan kedalam salah satu agenda dari strategi tersebut.3 Kepemimpinan George W. Bush membawa Amerika pada perluasan perluasan prinsip demokrasi di beberapa negara seperti, Mesir, Indonesia, Liberia, Russia, Ukraina dan Venezuela.4 Kejadian 11 September 2001, Amerika berkomitmen lebih dalam penyebaran nilai demokrasi di dunia, pada tahun 2005 George W Bush berkata dalam pidatonya di Kairo untuk menunjukkan simpatiknya ke persoalan demokrasi, “Now, we are supporting the democratic aspirations of all people”.5Kalimat tersebut menunjukkan bahwa Amerika menentang pemerintah yang otoriter dan mendukung masuknya demokrasi di Mesir. Pada perang di Iraq tahun 2006, Amerika menyatakan bahwa maksut dan tujuan mereka adalah untuk membawa demokrasi yang dipercaya sebagai sistem yang terbaik, ke dalam Negara Iraq demi pencapaian negara yang lebih baik, ditegaskan oleh Presiden George W. Bush, “We are committed to a strategic goal of a free Iraq that is democratic, that can
3Reimer, A. K. (2008). U.S. foreign policy from Bush to Bush : Enduring parameters and policy options.AARMS , 7.
4Carothers, T. (2007). U.S. Democracy Promotion During and After Bush. Washington : Carnegie Endowment for International Peace.
5Gilley, B. (2013). Did Bush Democratize the Middle East? The Effectof External- Internal Linkages. Political Sience Quarterly , 659.
3 govern itself, defend itself and sustain itself”6Amerika bertujuan untuk mencapai Iraq yang bebas yakni demokrasi, yang dapat mengatur dirinya sendiri, mempertahankan diri dan memelihara dirinya sendiri.Jelas dalam perkataan presiden Amerika tersebut bahwa tujuannya adalah sebuah kebebasan dalam arti demokrasi.dalam banyaknya usaha Amerika yang terlah dipaparkan bahwa Amerika adalah sebuah Negara yang menjunjung sebuah kemerdekaan yang tercermin dalam sebuah demokrasi.
Namun, kejanggalan terjadi pada fenomena tahun 2008 dalam konflik Georgia dan Ossetia Selatan, adanya kejanggalan sikap Amerika terhadap prinsip dan komitmennya untuk mempromosikan nilai demokrasi pada konflik ini.Ditunjukkan dengan keterlibatan Amerika yang lebih mendukung Georgia dari pada Ossetia Selatan yang sudah berupaya dalam meraih sebuah kemerdekaan.Kebebasan yang menjadi salah satu nilai demokrasi yang seharusnya dibela oleh Amerika, kejadian ini menunjukkan adanya keanehan dalam sikap Amerika dalam mempromosikan nilai demokrasi yang lebih mendukung Georgia.Georgia melihat Ossetia Selatan adalah hal yang penting dan pusat budaya spiritual yang tertua dan telah menjadi bagian tidak terpisahkan oleh Georgia selama berabad-abad.7
6Congressional Research Servis. (2007). Democracy Promotion: Cornerstone of U.S.
Foreign Policy? Specialists in Foreign PolicyForeign Affairs, Defense, and Trade Division, 2.
7Cvetkovski, D. S. (1996). The Georgia-South Ossetia Conflict. 7.
4 Gambar 1.1.Peta Georgia dan Ossetia selatan
Wilayah Ossetia terbagi dalam dua negara yaitu Ossetia Utara di Rusia dan Ossetia Selatan berada di wilayah kedaulatan Georgia.Pasca pecahnya Uni Soviet dan Georgia menjadi negara merdeka, Ossetia mulai merasa terancam dengan berbagai kebijakan domestik Georgia seperti penetapan bahasa Georgia sebagai bahasa nasional di seluruh wilayah Georgia, sementara orang-orang Ossetia menuntut agar bahasa mereka juga menjadi bahasa resmi untuk wilayah Ossetia Selatan.8
8Chicky, J. E. (2009). The Russian-Georgian War : Political and MilitaryImplications for U. S. Policy. Central Asia- Caucasus Institute Silk RoadStudies Program , 9.
sumber : http://www.fpri.org/articles/20
5 Konflik antara para separatis Ossetia dan pemerintah pusat Georgia ini berawal dari kejatuhan Uni Soviet yang dipandang Ossetia selatan Sebagai kesempatan untuk merdeka dari Georgia.Konflik pertama pecah pada tahun 1990 yang dampak yang sangat besar ke dalam kedua belah pihak.Kesepakatan damai dicapai pada tahun 1992 dengan bantuan Rusia dan bisa terus dipertahankan sampai 2004.Georgia dan Ossetia Selatan sudah mengalami konflik wilayah, masalah ini didasari oleh keinginan Ossetia Selatan untuk merdeka dari Georgia.Kemudian kemunculan Russia sebagai penengah berhasil meredam perasalahan tersebut.Pada tanggal 7 Agustus 2008, Georgia dan Ossetia Selatan saling tuduh bahwa salah satu dari mereka meluncurkan serangan.Georgia menganggap bahwa Ossetia Selatan tidak menghormati perjanjian yang telah ada, ini mebuat Georgia mengirimkan pasukannya. Merasa sebagian penduduknya ada di Ossetia Selatan, Russia meluncurkan serangan udara sepanjang wilayah perbatasan Georgia pada 8 Agustus 2008, dengan cepat pada tanggal 10 Agustus 2008 tentara Russia sudah menduduki sebagian besar Ossetia Selatan kemudian mencapai perbatasan Georgia.9
Keinginan Ossetia Selatan untuk merdeka sepenuhnya belum hilang. Keadaan sudah memungkinkan menjadikan Ossetia Selatan menjadi Negara bebas sepenuhnya dengan adanya pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Eduard Kokoity yang memenangkan pemilu
9Congresional Research Service. (2009, March 3). Context and Implications for U.S.
Interest. Russia-Georgia Conflict in August 2008 , hal. 2.
6 dan menjabat dari 18 Desember 2001 dan wilayah Ossetia Selatan yang mempunyai luas wilayah 3.900 km² terdiri dari Dzau, Khaisa, Znaur, Leningor dan Tskhinval sebagai ibukota. Untuk memperkuat kedudukannya, Ossetia Selatan berupaya untuk diakui menjadi Negara dengan pengakuan dari Negara lain. PBB sudah mengakui Ossetia Selatan pada 26 September 2007 dan Russia menjadi Negara yang mengakui Ossetia Selatan sebagai Negara yang berdaulat, beralasan bahwa Osseria Selatan dihuni mayoritas oleh warga Ossetia Selatan dan menggunakan bahasa mereka sendiri, warga Georgia sudah banyak yang berpindah dari Ossetia Selatan saat itu.10
Di sisi lain Amerika juga sudah mengikuti konflik antara Georgia dan Ossetia Selatan.Amerika mendukung Georgia agar segera menyelesaikan konflik yang telah terjadi selama berkepanjangan.
Penolakan Amerika terhadap kemerdekaan usaha Ossetia selatan ditujunkan dengan sumbangan dana kepada Georgia dari tahun 1991 hingga 2006, selain itu Amerika juga menerjunkan pasukannya ke Georgia pada tahun 2002 sekitar 200 pasukan, ditambah dengan bantuan persenjataan.11Amerika menunjukkan ketidak setujuannya dengan tidak membuka hubungan diplomatik dengan Ossetia Selatan dan tidak menempatkan kementriannya di Ossetia Selatan.Pada tanggal
10BBC. (2015, August 11). South Ossetia profile - Overview. Retrieved December 12, 2015, from http://www.bbc.com/news/world-europe-18269210
11Patricia L. Sullivan, B. F. (2011). US Military Aid and Recipient State Cooperation.
276-277.
7 26 Agustus 2008, mantan Presiden Bush mengecam keputusan Medvedev untuk mengakui Ossetia Selatan dengan pidatonya :
“The United States condemns the decision by the Russian president to recognize as independent states the Georgian regions of South Ossetia and Abkhazia. The territorial integrity and borders of Georgia must be respected, just as those of Russia or any other country. Russia's action only exacerbates tensions and complicates diplomatic negotiations”.12
Dari apa yang telah dijabarkan, Amerika mempunyai sikap yang aneh dalam konflik Georgia dan Ossetia Selatan. Ossetia Selatan sudah mempunyai persyaratan yang cukup sebagai sebuah Negara dengan adanya pemimpin, masyarakat, bahasa, wilayah dan pengakuan dari Negara atau pihak lain. Namun, sebagai Negara yang menjunjung akan nilai-niai demokrasi dan kebebasan Amerika tetap menunnukkan sikap penolakan akan usaha Ossetia Selatan dalam menjadi sebuah Negara yangbebas dari Georgia.
B. Rumusan Masalah
Apa yang menjadi tujuan strategis Amerika Serikat memihak kepada pemerintahan Georgia dalam konflik dengankelompok separatis Ossetia Selatan tahun 2008?
12Nichol, J. (2009). Russia-Georgia Conflict in August 2008: Context and Implications for U.S. Interest. Congressional Research Service, 23.
8 C. Kerangka Teoritik
1. Konsep Kebijakan Politik Luar Negri
Secara pengertian umum, politik luar negeri merupakan suatu perangkat formula nilai, sikap, arah serta sasaran untuk mempertahankan, mengamankan, dan memajukan kepentingan nasional di dalam percaturan dunia internasional.Suatu komitmen yang pada dasarnya merupakan strategi dasar untuk mencapai suatu tujuan baik dalam konteks dalam negeri dan luar negeri serta sekaligus menentukan keterlibatan suatu negara di dalam isu-isu internasional atau lingkungan sekitarnya.
Politik luar negeri menurut Jack C. Plano dan Roy Olton adalah:
“Foreign policy is a strategy or planned course or action developed by the decision makers of a state vis a vis other states or international entities, aimed at achieving specific goals defined in term of national interest.”13
Jadi politik luar negeri adalah strategi atau tindakan terencana yang dikembangkan oleh pembuat keputusan, yang ditujukan kepada negara lain atau entitas internasional untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan tujuan nasionalnya.
Sementara menurut Holsti, kebijakan luar negeri meliputi semua tindakan serta aktivitas negara terhadap lingkungan eksternalnya dalam upaya memperoleh keuntungan dari lingkungan tersebut, serta
13Jack C. Plano dan Roy Olton, International Relations Dictionary (USA: Rinehart and Wingston, Inc., 1969), hal 127.
9 hirau akan berbagai kondisi internal yang menopang formulasi tindakan tersebut.14
2. Konsep Kepentingan Nasional
Konsep kepentingan nasional dikemukakan oleh Hans. J.
Morgenthau dalam bukunya berjudul Politics Among Nations. Dalam bukunya, konsep kepentingan dinyatakan erat dengan istilah kekuasaan atau power.Dalam bukunya pula Morgenthau menyatakan bahwa kepentingan adalah standar dimana tindakan politik harus dinilai dan diarahkan karena tujuan dari kebijakan luar negeri harus didefinisikan dalam hal kepentingan nasional. Meskipun ia mengakui bahwa pada waktu tertentu kepentingan bangsa harus ditunjukkan dalam konteks politik dan budaya, mendefinisikan kepentingan dalam konteks kekuasaan akan lebih baik dalam mengatasi masalah subjektivitas.15Kekuatan relatif negara- bangsa dapat dinilai dan diukur, dan hal tersebut merupakan realitas objektif yang penting.Kepentingan nasional biasanya didefinisikan dalam hal kemampuan keamanan dan ekonomi karena politik internasional dipandang terutama perebutan kekuasaan antara negara-negara. Namun, Morgenthau mengakui bahwa definisi kekuasaan akan berubah dari waktu ke waktu pada beberapa kesempatan kekuatan ekonomi akan sangat penting, di lain waktu kekuatan militer atau budaya akan menentukan.
14K.J. Holsti, 1992. Politik International: Suatu Kerangka Analisis. Bandung: Bina Cipta, hal. 21
15 Hans J. Morgenthau. (1985). Politics Among Nations.
10 Morgenthau melihat dua tingkat kepentingan nasional, yakni kepentingan vital dan sekunder.16Kepentingan vital merupakan kepentingan yang menyangkut kehidupan dasar negara yang tidak dapat dikompromikan karena menyangkut keberlangsungan atau hidup-mati sebuah negara.Kepentingan nasional vital lebih mudah dinyatakan dengan terciptanya keamanan sebagai bangsa yang bebas dan independen serta adanya perlindungan atas lembaga, rakyat, dan nilai-nilai fundamental.17
Sementara menurut Jack C. Plano dan Roy Olton konsep kepentingan nasional diberi batasan sebagai berikut:
“Tujuan mendasar serta faktor paling menentukan yang memandu para pembuat keputusan (Decision Making) dalam merumuskan politik luar negeri.Kepentingan nasional merupakan konsepsi yang sangat umum dan merupakan unsur yang menjadi kebutuhan yang sangat vital bagi Negara untuk mencakup mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan Negara, kemerdekaan dan kedaulatan, keutuhan wilayah, keamanan militer dan kesejahteraan ekonomi”.18
Dalam pengertian konsep kepentingan nasional menurut Jack C.
Plano, terdapat unsur-unsur kepentingan nasional yang terdiri atas (1) mempertahankan kelangsungan hidup, yakni bahwa negara perlu mempertahankan diri dari segala potensi ancaman yang dapat mengganggu stabilitas negara; (2) kemerdekaan, yakni bahwa suatu negara berhak untuk tidak dijajah ataupun tunduk kepada negara lain serta tidak patuh ataupun berada dalam pengaruh negara lain, maka kemerdekaan dan
16 Morgenthau, The Impasse of American Foreign Policy, Chicago: University of Chicago Press, 1962, hal. 191.
17 Michael G. Roskin.(1994). National Interest: From Abstraction To Strategy, hal. 5.
18Jack C. Plano dan Roy Olton, International Relations Dictionary (USA: Rinehart and Wingston, Inc., 1969), hal 128.
11 kedaulatan ini perlu dicapai dan dipertahankan; (3) keutuhan wilayah, yakni kebutuhan setiap negara menjaga keutuhan wilayahnya; (4) keamanan militer, yakni bahwa negara berkepentingan untuk menjaga negaranya dari gangguan ataupun ancaman militer dari negara lain; dan (5) kesejahteraan ekonomi, dimana negara harus menjamin kestabilan ekonomi untuk menciptakan kesejahteraan.
Dalam kebijakan politik luar negri, Amerika menunjukkan adanya suatu kepentingan nasional yang ingin diraih, karna kebijakan luar negri suaru Negara adalah kepanjangan dari kepentingan nasional Negara tersebut.Melihat fenomena yang ada penulis menyimpulkan adanya kepentingan nasional Amerika pada keamanan wilayah Georgia.Dilihat dari kondisi geografis, Geogia berada cukup dekat dengan Russia yang selalu menjadi saingan Amerika.Adanya bantuan Russia ke Ossetia Selatan, Amerika melihat Rusia memiliki kepentingan tertentu sehinggaAmerika berupaya membantu Georgia untuk mencegah tercapainya kepentingan Russia. Untuk menjamin keselamatan dan kemanan wilayah Georgia, Amerika juga berupaya mendirikan pangkalan militer yang akan memudahkan memantau dan mobilisasi Amerika di wilayah tersebut. Amerika membantu dengan mengirim tentara dan pasokan senjata adalah tindakan untuk mendekatkan Amerika dengan Georgia karena keinginan Amerika memasukkan Georgia untuk memperkuat NATO, dalam kawasan tersebut sudah banyak Negara yang
12 tergabung dalam NATO, seperti Turki dan Yunani yang berdekatan dengan Georgia.
Dari segi ekonomidisebabkan oleh terganggunya kepentingan Amerika atas produksi minyak yang melewati kawasan tersebut. Georgia bukanlah negara penghasil minyak akan tetapi Negara ini terletak di titik pengiriman minyak bumi dari Kaspia dan Asia Tengah menuju Eropa dan Amerika. Jalur pipa ini mampu mengirim sekitar 1 juta barel minyak bumi setiap hari dari Baku di Azerbaijan menuju Yumurtalik di Turki, sebelum dimasukkan ke kapal tanker untuk dikirim ke Eropa dan AS. Sekitar 249 km pipa tersebut melewati Georgia, dan hanya 55 km pipa tersebut melewati Ossetia Selatan.
Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut penulis melihat adanya kepentingan nasional Amerika yang berupa ekonomi dan keamanan dalam usahanya membantu Georgia pada konflik tersebut.
D. Hipotesis
Amerika memihak kepada Georgia dalam usaha kemerdekaan Ossetia Selatan tahun 2008 untuk :.
1. Mendorong upaya Georgia bergabung dalam NATO.
2. Mengamankan jalur minyak yang ada di Georgia.
13 E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
1. Untuk memberikan alasan-alasan Amerika yangcenderung mendukung Georgia dalam upaya kemerdekaaan Ossetia Selatan.
2. Untuk memberikan informasi adanya persaingan Amerika dan Russia dalan konflik Georgia dan Ossetia Selatan.
3. Untuk mengetahui dan memberikan informasi tindakan-tindakan Amerika dalam konflik Georgia dan Ossetia Selatan.
F. Jangkauan Penelitian
Untuk membatasi penulisan ini, penulis melakukan pembatasan mengenai intervensi yang dilakukan Amerika dalam kasus Georgia dan Ossetia Selatan sepanjang tahun 2008. Tetapi tidak menutup kemungkinan penulis akan membahas konflik Georgia dan Ossetia Selatan pada tahun-tahun sebelumnya untuk mengetahui dinamika konflik.
G. Metode Penelitian
Dalam penulisan, penulis menggunakan metode studi kepustakaan dengan menggali literatur dari berbagai sumber baik melalui buku, jurnal, surat kabar, artikel, dokumen pemerintah, ataupun berbagai sumber online termasuk official website. Untuk menganalisa kasus, penulis menggunakan konsep kepentingan nasional.
14 H. Sistematika Penulisan
Bab. I Pendahuluan
Bab ini mencakup latar belakang, rumusan masalah, kerangka teoritik, hipotesis, tujuan penelitian, jangkauan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab. II Politik Luar Negri Amerika Terhadap Negara Pecahan Uni Soviet Bab ini menerangkan tentang politik luar negri Amerika dan perannya dalam berbagai kasus termasuk perannya membantu negera-negara dalam upaya demokratisasi.
Bab. III Konflik Georgia dan Ossetia Selatan Serta Peran Amerika
Bab ini menjelaskan keterlibatan Amerika dalam konflik Georgia dan Ossetia Selatan.bagaimana konflik Georgia dan Ossetia Selatan terjadi serta bagaimana intervensi Amerika dalam konflik tersebut.
Bab. IV Analisis Tindakan Amerika Mendukung Georgia Dalam Upaya Ossetia Selatan Meraih kemerdekaan
Bab ini membahas analisis yang mendasari tindakan Amerika dalam konflik Georgia dan Ossetia Selatan.Dijelaskan pula bagaimana konsep Kebijakan Politik Luar Negri dan konsep Kepentingan Nasional yang menjadi dasar tindakan Amerika dalam kasus Georgia dan Ossetia selatan.
Bab. V Penutup
Bab ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan.
15