Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya i
KATA PENGANTAR
Modul Pendampingan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang kegiatan pendampingan kepada masyarakat dalam penyelenggaraan rumah swadaya.
Modul ini disusun dalam tujuh bab yang terdiri dari Pendahuluan, Pergeseran Paradigma Pembangunan Penyelenggaraan Rumah Swadaya, Pendampingan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya, Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendampingan Penyelenggaraan Rumah Swadaya, Komunikasi dan Fasilitasi dalam Pendampingan Penyelenggaraan Rumah Swadaya, Tahapan Umum Pendampingan Perumahan Swadaya Berbasis Kelompok serta Penutup. Modul ini disusun secara sistematis agar peserta pelatihan dapat mempelajari materi dengan lebih mudah.
Metode yang digunakan dalam penyelenggaraan pembelajaran diharapkan dapat mendorong peran aktif peserta pelatihan.
Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada tim penyusun dan tim penyempurna atas tenaga dan pikiran yang dicurahkan untuk mewujudkan modul ini. Penyempurnaan maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Harapan kami, modul ini dapat memberikan manfaat.
Semarang, Oktober 2017
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman, dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah
ii Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... I DAFTAR ISI ... II DAFTAR TABEL ... V DAFTAR GAMBAR ... VI PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... VII
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 2
Deskripsi Singkat ... 2
Tujuan Pembelajaran ... 3
Materi Pokok ... 3
Estimasi Waktu ... 4
BAB 2. PERGESERAN PARADIGMA PEMBANGUNAN PENYELENGGARAAN RUMAH SWADAYA ... 5
Indikator Keberhasilan ... 6
Pengertian Paradigma Pembangunan... 6
Pergeseran Paradigma Pembangunan ... 7
Pergeseran Paradigma Pembangunan Di Indonesia ... 9
Pengaruh dan Implikasi Pergeseran Paradigma Pembangunan ... 12
Latihan ... 14
Rangkuman ... 14
BAB 3. PENDAMPINGAN DALAM PENYELENGGARAAN RUMAH SWADAYA ... 17
Indikator Keberhasilan ... 18
Pengertian dan Tujuan Pendampingan ... 18
Peran Pendamping ... 20
Jenis Pendampingan ... 23
Latihan ... 29
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya iii
Rangkuman ... 29
BAB 4. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENDAMPINGAN PENYELENGGARAAN RUMAH SWADAYA ... 31
Indikator Keberhasilan ... 32
Pengertian dan Tujuan Pemberdayaan Masyarakat ... 32
Prinsip Pemberdayaan Masyarakat ... 36
Pola Pemberdayaan Masyarakat ... 38
Proses Pemberdayaan Masyarakat ... 41
Latihan ... 44
Rangkuman ... 44
BAB 5. KOMUNIKASI DAN FASILITASI DALAM PENDAMPINGAN PENYELENGGARAAN RUMAH SWADAYA ... 47
Indikator Keberhasilan ... 48
Pengertian serta Tujuan Komunikasi dan Fasilitasi ... 48
Teknik Membangun Komunikasi dan Motivasi Masyarakat ... 54
Teknik Fasilitas dalam Pendampingan Masyarakat ... 64
Latihan ... 80
Rangkuman ... 81
BAB 6. TAHAPAN UMUM PENDAMPINGAN PERUMAHAN SWADAYA BERBASIS KELOMPOK ... 83
Indikator Keberhasilan ... 84
Sosialisasi Penyelenggaraan Perumahan Swadaya Berbasis Kelompok .... 84
Pengorganisasian/Pembentukan KSM ... 85
Penyusunan Rencana Tindak KSM ... 86
Penyepakatan Pola Pembangunan/Perbaikan Perumahan Swadaya ... 87
Pembangunan dan Penghunian Perumahan Swadaya Berbasis Kelompok ... 89
Pengembangan Dan Peningkatan Ekonomi KSM ... 89
iv Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Latihan ... 90
Rangkuman ... 90
BAB 7. PENUTUP ... 91
Kesimpulan ... 92
Tindak Lanjut ... 92
PANDUAN GAMES DAN DISKUSI ... 94
DAFTAR PUSTAKA ... 105
GLOSARIUM ... 107
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya v
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Teknik Mendampingi ... 67 Tabel 2. Teknik Analisis Bersama ... 74 Tabel 3. Teknik Pengambilan Keputusan/Rumusan Kesimpulan Bersama ... 77
vi Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tahapan Pendampingan Masyarakat ... 28
Gambar 2. Pembangunan Masyarakat dalam Rangka Peningkatan dan Pemberdayaan Kapasitas ... 34
Gambar 3. Model Proses Pemberdayaan Masyarakat ... 41
Gambar 4. Tahapan Proses Pemberdayaan Masyarakat ... 43
Gambar 5. Unsur-unsur Komunikasi ... 51
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya vii
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
A. Deskripsi
Modul Pendampingan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya ini terdiri dari lima kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar pertama membahas tentang pergeseran paradigma pembangunan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, dengan sub materi pengertian paradigma pembangunan, pergeseran paradigma pembangunan, pergeseran paradigma pembangunan di Indonesia, peran pendamping, jenis pendampingan, serta pengaruh dan implikasi pergeseran paradigma pembangunan. Kegiatan belajar kedua membahas tentang pendampingan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, dengan sub materi pengertian dan tujuan pendampingan, peran pendamping serta jenis pendampingan. Kegiatan belajar ketiga membahas tentang pemberdayaan masyarakat dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya dengan sub materi pengertian dan tujuan pemberdayaan masyarakat, prinsip pemberdayaan masyarakat pola pemberdayaan masyarakat, serta proses pemberdayaan masyarakat. Kegiatan belajar keempat membahas tentang komunikasi dan fasilitasi dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya, dengan sub materi pengertian serta tujuan komunikasi dan fasilitasi, teknik membangun komunikasi dan motivasi masyarakat, serta teknik fasilitasi dalam pendampingan masyarakat.
Kegiatan belajar kelima membahas tahapan umum pendampingan perumahan swdaya berbasis kelompok, dengan sub materi sosialisasi penyelenggaraan perumahan swadaya berbasis kelompok, pengorganisasian/pembentukan KSM, penyusunan rencana tindak KSM, penyepakatan pola pembangunan/perbaikan perumahan swadaya, pembangunan dan penghunian perumahan swadaya berbasis kelompok, pengembangan dan peningkatan ekonomi KSM.
Peserta pelatihan mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan.
Pemahaman setiap materi pada modul ini sangat diperlukan karena materi ini menjadi dasar pemahaman sebelum mengikuti pembelajaran modul-modul berikutnya. Hal ini diperlukan karena masing-masing modul saling berkaitan. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan latihan atau evaluasi. Latihan atau evaluasi ini menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta pelatihan setelah mempelajari materi dalam modul ini.
viii Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
B. Persyaratan
Dalam mempelajari modul ini peserta pelatihan dilengkapi dengan skema, gambar, table, dan lembar kerja yang difungsikan untuk mempermudah peserta latih agar lebih memahami materi modul.
C. Metode
Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang digunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh pemberi materi (narasumber), adanya kesempatan Tanya jawab, curah pendapat, diskusi, serta games dan simulasi sederhana.
D. Alat Bantu/Media
Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan alat bantu/
media pembelajaran tertentu, yaitu:
1. Notebook dan LCD Projector
2. Papan tulis atau white board dengan spidol dan penghapusnya 3. Bahan tayang
4. Modul dan/atau bahan ajar 5. Lembar kerja peserta
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 1
BAB 1
PENDAHULUAN
2 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Pendahuluan
Latar Belakang
Pembangunan Rumah Swadaya merupakan salah satu kegiatan terbesar di Indonesia yang dilakukan oleh masyarakat di berbagai lokasi. Masyarakat tentu saja merupakan aktor utama dalam penyelenggaraan rumah swadaya. Rumah-rumah yang dibangun secara individual tersebut kemudian dapat membentuk permukiman yang tumbuh dan berkembang secara inkremental dengan pola pertumbuhan yang tidak teratur. Keterbatasan kemampuan sosial ekonomi masyarakat mengakibatkan semakin bertumbuhnya jumlah rumah tidak layak huni. Program bantuan stimulan dari pemerintah bagi penyelenggaraan rumah swadaya merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan mengantisipasi masalah perumahan.
Proses pendampingan kepada masyarakat penerima bantuan untuk pembangunan dan peningkatan kualitas rumah oleh SKPD Kabupaten/Kota merupakan proses yang sangat penting dalam mendorong partisipasi masyarakat demi keberhasilan program pemerintah untuk memberikan rumah yang layak huni bagi masyarakat.
Dalam melakukan pendampingan di dalam masyarakat, tenaga pendamping masyarakat perlu memiliki beberapa pemahaman dan kemampuan, antara lain kemampuan komunikasi dan memfasilitasi masyarakat dalam rangka memberdayakan dan mendorong partisipasi masyarakat.
Deskripsi Singkat
Modul Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya ini bertujuan memberikan pemahaman kepada peserta tentang kegiatan pendampingan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, melalui beberapa materi pembahasan, antara lain pergeseran paradigma pembangunan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, pendampingan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, pemberdayaan masyarakat dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya, komunikasi dan fasilitasi dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya, serta tahapan umum pendampingan perumahan swdaya berbasis kelompok. Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui ceramah interaktif, tanya jawab dan diskusi, latihan soal, serta games tentang berkomunikasi.
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 3
Tujuan Pembelajaran Hasil Belajar
Setelah mengikuti mata pelatihan ini, peserta mampu memahami tentang kegiatan pendampingan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, melalui pendampingan dalam penyelenggaraan rumah swadaya, pemberdayaan masyarakat dalam pendamingan penyelenggaraan rumah swadaya, pemberdayaan msayarakat dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya, komunikasi fasilitasi dalam penyelenggaraan rumah swadaya.
Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu:
a. Menjelaskan pengertian paradigma pembangunan, pemerintah sebagai pelaku stering dan pemampu, masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan dan peran penting masyarakat dalam penyelenggaraan rumah swadaya.
b. Menjelaskan pengertian, tujuan, jenis pendampingan, serta peran pendamping dalam penyelenggaraan rumah swadaya.
c. Menjelaskan pengertian, tujuan, pola, serta bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya.
d. Menjelaskan pengertian, tujuan, teknik membangun komunikasi dan teknik fasilitasi dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya.
e. Menjelaskan tahapan umum dan tahapan varian untuk penyelenggaraan rumah swadaya berbasis komunitas.
Materi Pokok
Materi pokok dan sub materi pokok yang akan dibahas dalam modul ini antara lain:
1. Pergeseran Paradigma Pembangunan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya a. Pengertian Paradigma Pembangunan
b. Pergeseran Paradigma Pembangunan
c. Pergeseran Paradigma Pembangunan di Indonesia
d. Pengaruh dan Implikasi Pergeseran Paradigma Pembangunan 2. Pendampingan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya
4 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
a. Pengertian dan Tujuan Pendampingan b. Peran Pendamping
c. Jenis Pendampingan
3. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendampingan Penyelenggaraan Rumah Swadaya
a. Pengertian dan Tujuan Pemberdayaan Masyarakat b. Prinsip Pemberdayaan Masyarakat
c. Pola Pemberdayaan Masyarakat d. Proses Pemberdayaan Masyarakat
4. Komunikasi dan Fasilitasi dalam Pendampingan Penyelenggaraan Rumah Swadaya
a. Pengertian serta Tujuan Komunikasi dan Fasilitasi
b. Teknik Membangun Komunikasi dan Motivasi Masyarakat c. Teknik Fasilitasi dalam Pendampingan Masyarakat
5. Tahapan Umum Pendampingan Perumahan Swadaya Berbasis Kelompok a. Sosialisasi Penyelenggaraan Perumahan Swadaya Berbasis Kelompok b. Pengorganisasian/Pembentukan KSM
c. Penyusunan Rencana Tindak KSM
d. Penyepakatan Pola Pembangunan/Perbaikan Perumahan Swadaya e. Pembangunan dan Penghunian Perumahan Swadaya Berbasis Kelompok f. Pengembangan dan Peningkatan Ekonomi KSM
Estimasi Waktu
Alokasi waktu yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Modul Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya ini adalah 4 (empat) jam pelajaran (JP) @ 45 menit (180 menit)
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 5
BAB 2 PERGESERAN PARADIGMA PEMBANGUNAN PENYELENGGARAAN RUMAH SWADAYA
6 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Pergeseran Paradigma Pembangunan Penyelenggaraan Rumah Swadaya
Indikator Keberhasilan
Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat menjelaskan pengertian paradigma pembangunan, pemerintah sebagai pelaku stering dan pemampu, masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan dan peran penting masyarakat dalam penyelenggaraan rumah swadaya.
Pengertian Paradigma Pembangunan
Kata paradigma berasal dari Yunani, semula lebih merupakan istilah ilmiah dan sekarang lebih lazim digunakan dengan arti model, teori dasar, persepsi, asumsi atau kerangka acuan. Dalam bahasa sehari-hari paradigma juga disebut sebagai “cara kita memandang dunia”, bukan dalam arti visual tetapi lebih dalam arti mempersepsi, mengerti atau menafsirkan (Stephen R Covey. 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif)
Lebih lanjut “paradigma” adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola sosial seseorang sebagai titik tolak pandangan seseorang. Konsekuensinya paradigma ini juga akan membentuk citra subyektif seseorang mengenai realita dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita.
Paradigma adalah sumber dari sikap dan perilaku seseorang, berkenaan dengan tindakan mempersepsi, memahami dan menafsirkan sesuatu hal. Dengan kata lain manakala seseorang menguraikan sesuatu yang dilihat atau dialami, sebenarnya orang tersebut sedang menguraikan pandangannya/anggapannya mengenai hal tersebut atau sebenarnya dia sedang menjabarkan dirinya sendiri, citra subyektifnya, persepsinya, pandangannya yang dilandasi oleh paradigmanya.
Penafsiran masing-masing orang tentang sesuatu hal menggambarkan pengalaman orang tersebut sebelumnya.
Semakin sadar seseorang akan paradigmanya yang dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya, maka semakin orang tersebut bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi akibat paradigma yang dianutnya. Dia akan makin terbuka dan terus menguji paradigmanya berdasarkan realita baru yang ditemuinya,
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 7
mendengarkan orang lain dan bersikap terbuka terhadap persepsi orang lain, sehingga mendapatkan gambaran yang lebih besar dan pandangan yang lebih obyektif sehingga yang terjadi kemudian adalah penguatan atau justru perubahan paradigma.
Perubahan paradigma menggerakkan seseorang untuk beralih dari satu cara pandang ke cara pandang yang lain. Perubahan paradigma bersifat kuat. Paradigma seseorang, terlepas dari benar atau salah, adalah sumber dari sikap dan perilakunya, yang akhirnya akan menjadi sumber dari hubungan orang tersebut dengan orang lain.
Hampir setiap terobosan penting di dalam berbagai bidang kehidupan, pada mulanya merupakan pemutusan dengan tradisi, cara berpikir dan paradigma yang lama. Perlu juga selalu diingat bahwa tidak semua perubahan paradigma memiliki arah positif dan tidak semua perubahan paradigma terjadi seketika.
Pergeseran Paradigma Pembangunan
Secara singkat dan sederhana terjadinya pergeseran paradigma global didunia ini dapat diuraikan sebagai berikut di bawah ini
1. Paradigma Ekonomi
Paradigma ekonomi merupakan yang paling tua dan paling dominan dalam menentukan pembangunan. Hal ini disebabkan oleh pengertian ekonomi itu sendiri sebagai “mengatur rumah tangga sendiri” yang dapat dipahami sebagai upaya mengatur kesejahteraan keluarga, komunitas dan bangsa dalam skala yang lebih luas. Pada awalnya (ekonomi klasik) paradigma ini menekankan pertumbuhan dan melihat pembangunan sebagai pembangunan ekonomi (developmen = economic development) sehingga ukuran keberhasilan pembangunan adalah pertumbuhan produksi barang dan jasa secara nasional (Produksi Nasional Bruto/Gross National Product). Makin tinggi pertumbuhannya makin berhasil pembangunan suatu bangsa/negara. Paradigma ini juga menekankan perlunya kebebasan, pemupukan modal dan pembagian kerja (spesialisasi). Kelompok yang tidak puas dengan paradigma ini kemudian melaku pembaruan yang kemudian dikenal dgn Neo Ekonomi yang lebih menekankan pada pemerataan dgn mengukur berapa % dari PNB/GNP diraih oleh penduduk miskin.
Meskipun paradigma neo-ekonomi ini masih sangat jelas dipengaruhi nilai-nilai ekonomi klasik, tetapi ada beberapa perbedaan yang fundamental dalam indikator-
8 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
indikator yang digunakan untuk mengukur pembangunan dan makna pertumbuhan itu sendiri. Paradigma neo-ekonomi menggunakan indikator dalam mengukur pembangunan sebagai berkurangnya kemiskinan, pengangguran dan berkurangnya kesenjangan.
Masih dalam paradigma ekonomi ini muncul juga pandangan (ekonomi politik neo klasik) yang melihat hubungan antara masyarakat maju (kapitalis) dengan masyarakat yang belum maju (pra kapitalis) yang melahirkan eksploatasi dari masyarakat maju kepada masyarakat belum maju sehingga yang terjadi adalah keterbelakangan (underdevelopment) dari masyarakat yg blm maju
Meskipun sudah banyak perubahan dalam 8 ocial 8 m ekonomi tetapi perkara utamanya tetap pertumbuhan dan pemerataan dipercayakan melalui mekanisme penetesan (trickle down effect)
2. Paradigma Kesejahteraan Sosial
Pada awalnya paradigma kesejahteraan social ini melihat pembangunan sebagai pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Indikator pembangunan diukur dari pemenuhan kebutuhan dasar, seperti antara lain MASOL (Minimum Acceptable Standard of Living) yang dikembangkan oleh Doh Joon Chien atau PQLI (Physical Quality Life Index) yang sedikit lebih maju dengan mengukur harapan hidup, kematian bayi dan melek huruf sampai dengan yang lebih canggih yang melihat pembangunan sebagai upaya terencana untuk memenuhi kebutuhan social yang lebih tinggi, bukan berapa banyak, tetapi berapa baik, bukan kualitas barang tetapi kualitas hidup seperti antara lain keadilan, pemerataan, peningkatan budaya, kedamaian, dsb. (Bauer, 1966; Conyers, 1986)
Meskipun telah terjadi banyak perkembangan tetapi perkara utama 8ocial8m ini masih tetap pemenuhan kebutuhan hidup sehingga sering dikritik “mendudukkan masyarakat sebagai obyek bantuan” (Freire, 1984)
3. Paradigma Pembangunan Manusia
Melihat pembangunan sebagai pembangunan manusia untuk mampu berbuat dan menciptakan sejarahnya sendiri. Manusia sebagai fokus utama dan sumber utama pembangunan (Korten). Penghormatan terhadap martabat manusia, pembebasan manusia dari dominasi teknologi (Illich), pembebasan manusia dari dominasi pasar (Ramos), pembangunan manusia ; kelangsungan hidup, kehormatan dan kebebasan
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 9
(Goulet), pembebasan manusia dari dominasi manusia lain melalui proses penyadaran diri (Freire).
Fokus pembangunan bukan lagi pada ekonomi, social atau teknologi melainkan pada manusia itu sendiri.
……….a sense of self worth and a personal capacity for actively participating in life’s important decision ………….
……….social development become the liberation of human being and community from passive recipients towards a developed, active citizenry, capable of participating in in choice about community issues (Thomas, 1984)
Penganut-penganut teori ini adalah Ivan Illich, Denis Goulet, Mahbub ul Haq, Freire, Guerreiro Ramos, David Korten, dsb.
Pergeseran paradigma seperti tersebut di atas bergerak dari paradigma ekonomi ke paradigma kesejahteraan sosial akhirnya ke paradigma pemanusiaan.
Pembangunan menurut kedua 9ocial9m terdahulu (ekonomi dan kesejahteraan sosial) adalah pembangunan yang berkiblat ke manusia, sedangkan pembangunan menurut paradigma pemanusiaan adalah pembangunan manusia itu sendiri untuk menjadi manusia yang utuh dan merdeka atau secara ekonomi produktif dan secara sosial efektif (Soedjatmoko).
Pergeseran Paradigma Pembangunan Di Indonesia
Pergeseran paradigma global tersebut juga terjadi di Indonesia, dari Repelita ke Repelita sampai ke Propenas
Repelita 1 (1979-1974)
Kita baru saja lepas dari musibah nasional G 30 S sehingga nuansa yang dominan mempengaruhi paradigma pembangunan adalah keamanan dimana pendekatan yang digunakan adalah pendekatan stabilitas, sehingga Trilogi Pembangunan dimulai dari Stabilitas, Pertumbuhan dan baru Pemerataan.
Peran utama pemerintah adalah menciptakan suasana aman dan stabil.
Repelita 2 (1974-1979)
Pada waktu itu suasana sudah cukup tenang dan stabil sehingga mulai berkembanglah paradigma ekonomi untuk memperbesar kue pembangunan dengan meningkatkan pertumbuhan. Trilogi Pembangunan dengan serta merta
10 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
diubah urutannya dari Stabilitas, Pertumbuhan dan Pemerataan menjadi Pertumbuhan, Stabilitas dan Pemerataan. Dengan menerapkan pendekatan pertumbuhan ini berarti prioritas pembangunan diberikan kepada kegiatan- kegiatan yang dianggap dapat menjamin terjadinya pertumbuhan, termasuk prioritas pilihan model dan pelaku pembangunan yang akhirnya jatuh ke sector formal yang dianggap paling mampu menjadi mitra pemerintah dalam menciptakan pertumbuhan. Pada masa inilah merupakan masa kebangkitan sector formal dengan konsekwensi logic terpinggirkannya sector informal baik kegiatannya maupun pelakunya dengan akibat turutannya dari proses marjinalisasi ini adalah kesenjangan dan keterbelakangan. Pintu terjadinya kemiskinan structural terbuka lebar.
Repelita 3 (1979-1984) s/d Repelita 5 (1989-1994)
Berangkat dari situasi menganganya jurang kesenjangan, keterbelakangan dan munculnya banyak OKB (orang kaya baru) dan diwarnai dengan banyak protes maka Repelita 3 dirumuskan dengan landasan paradigma yang jauh berbeda yaitu
“kesejahteraan social” dalam rangka menutup jurang kesenjangan dan keterbelakangan sebagai upaya koreksi terhadap kesalahan pembangunan di masa sebelumnya. Pendekatan yang digunakan adalah “pemerataan”, sehingga dengan serta merta Trilogi Pembangunan urutannya juga diubah dari Pertumbuhan, Stabilitas dan Pemerataan menjadi Pemerataan, Pertumbuhan dan Stabilitas.
Muncullah waktu itu “8 Jalur Pemerataan” yang harus dianut oleh semua instansi dalam mengajukan anggaran biaya pembangunan. Dalam prakteknya pemerataan ini lebih diartikan sebagai pemerataan pembangunan dan pemerataan hasil pembangunan dalam bentuk pelayanan kebutuhan dasar, air bersih, SD Inpres, dsb, dimana masyarakat didudukan sebagai penerima manfaat yang pasif (obyek bantuan, Freire, 1984). Untuk mengurangi ketimpangan ini kemudian dimunculkan upaya untuk menggalakkan lagi partisipasi masyarakat melalui instruksi Menteri Dalam Negeri dan diterapkannya mekanisme perencanaan dari bawah yang dikenal sebagai P5D. Dalam prakteknya semua gagasan yang indah ini tidak diterapkan sepenuh hati. Malah pergeseran paradigma ini tidak pernah secara sistematik dibahas apa pengaruhnya terhadap pembangunan daerah, posisi masyarakat dan perubahan peran para pelaku pembangunan. Akibatnya alih-alih mengurangi kesenjangan yang terjadi justru; (i) pemerataan terbatas pada apa yang disebut pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan, (ii) merebaknya semangat
“project oriented” yang melanda semua pelaku pembangunan, sehingga tupoksi
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 11
tidak jalan karena tidak ada proyek dan tumbuhnya para konsultan maupun kontraktor yang bermental ABS (asal bapak senang), (iii) merebaknya semangat apatisme dari masyarakat sebagai penerima manfaat proyek, masyarakat menjadi pasif tinggal menunggu saja, (iv) yang sangat menyedihkan adalah justeru kesenjangan makin melebar karena justru yang menikmati pembangunan adalah pelaku pembangunan (kaum elit) dan bukan pemanfaat (rakyat jelata). Situasi tersebut menunjukkan bahwa yang sangat parah terpengaruh dengan model pembangunan repelita demi repelita dalam masa PJP I adalah mentalitas manusianya, terjadi proses pembodohan, dehumanisasi dan lunturnya nilai-nilai luhur universal (demoralisasi). Marjinalisasi makin keras dan keterbelakangan makin nyata
Awal PJP II dan Masa Reformasi dgn Propenas (1999-2004)
Hal tersebut di atas yang terjadi selama masa PJP I juga disadari dan dilakukan koreksi pada masa pembangunan jangka panjang kedua.
Pada waktu Repelita 6 (1994-1999). Kesadaran akan akibat-akibat negatif dari model pembangunan sebelumnya telah membawa model pembangunan yang sangat lain yang dilandasi “paradigma pembangunan manusia” melalui pendekatan pemberdayaan. Dimana urutan prioritas Trilogi Pembangunan tetap Pemerataan, Pertumbuhan dan Stabilitas hanya maknanya berubah dari pemerataan hasil pembangunan menjadi pemerataan kesempatan membangun. Sayangnya penerapan paradigma ini dalam model-model pembangunan kurang dihayati dan kurang tulus dilaksanakan.
Setelah pergantian pemerintahan maka Repilita tidak diberlakukan lagi dan disusunlah Propenas (Program Pembangunan Nasional) 1999-2004 dengan tujuan jangka panjangnya adalah :
“Terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertakwa, barakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hokum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi dan berdisiplin”.
12 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Prioritas Pembangunan ditetapkan sebagai berikut
1. Membangun system politik yang demokratis serta mempertahankan persatuan dan kesatuan
2. Mewujudkan supremasi hukum dan pemerintahan yang baik
3. Mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan yang berdasarkan system ekonomi kerakyatan 4. Membangun kesejahteraan rakyat, meningkatkan kualitas kehidupan beragama
dan ketahanan budaya
5. Meningkatkan pembangunan daerah
Dari judul prioritas pembangunan yang dicanangkan melalui Propenas jelas prioritas pembangunan manusia menjadi kabur atau melemah padahal persoalan utama yang kita hadapi sebenarnya adalah adanya krisis moral dan kepemimpinan yang mampu menjadi teladan pelaku moral.
Disisi lain secara umum terlihat pengaruh paradigma ekonomi dan kesejahteraan social sangat kuat, mungkin ini adalah dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan, tetapi jelas tanpa pembangunan manusia dari aspek kritis manusia tidak mungkin dicapai prioritas pembangunan di atas sebab semuanya itu memerlukan pelaku yang memiliki komitmen moral yang tinggi yang mampu menjadi teladan bagi sesama.
Pengaruh dan Implikasi Pergeseran Paradigma Pembangunan Pengaruh dari pergeseran paradigma pembangunan akan terlihat dari :
1. Penetapan ukuran keberhasilan 2. Perumusan permasalahan 3. Penetapan model pembangunan
Pergeseran paradigma pembangunan tersebut berdampak pada berbagai proses dalam tahapan pembangunan, dimana masing-masing peran sudah bergeser seperti:
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 13
Pergeseran paradigma tersebut kemudian mendorong timbulnya reorientasi pola pembangunan sebagai berikut.
1. Pola pembangunan konvensional menjadi pola pembangunan berbasis komunitas, di mana masyarakat menjadi pelaku utama dan penentu keputusan.
2. Posisi perencana sebagai “jagoan”/penentu keputusan menjadi perencana sebagai fasilitator yang duduk dintara berbagai kepentingan para stakeholders.
3. Fungsi pemerintah sebagai pemberi atau penyedia (provider) menjadi fungsi pemerintah sebagai pemampu (enabler).
Pendekatan perencanaan partisipatif, diartikan sebagai berikut :
1. Merupakan titik temu antara pendekatan top-down dan bottom-up agar terjadi implementasi pembangunan yang sesungguhnya.
2. Inisiatif pembangunan dari masyarakat, perencanaan oleh masyarakat bersama pelaku lain, hasilpembangunan dinikmati terutama oleh masyarakat.
3. Proses perencanaannya merupakan dialog antarpelaku (stakeholders).
4. Masyarakat pasif menjadi masyarakat aktif melalui pembangunan institusi di masyarakat.
Pentingnya peran masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan adalah sebagai berikut :
1. Pada tahap perencanaan: identifikasi kebutuhan masyarakat 2. Pada tahap pembangunan: fungsi kontrol dan gotong royong
3. Pada tahap pemanfaatan: menjaga pemanfaatan agar sesuai dengan kebutuhan dan dan perencanaannya
14 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
4. Pada tahap pengendalian: merasa sebagai pemilik hasil pembangunan dan merasa bertanggung jawab pada keberlanjutan pembangunan
Manfaat dari pemposisian masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan mutu proses dan produk perencanaan 2. Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat 3. Menghasilkan transparansi kebijakan
4. Menjamin pelibatan aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan
Latihan
1. Sebutkan pengertian Paradigma Pembangunan.
2. Sebutkan dan Uraikan secara singkat Jenis Paradigma yang dikenal dalam pergesaran paradigma pembangunan.
3. Sebutkan dan uraikan secara ringkas yang dimaksud pergeseran paradigma pembangunan di Indonesia
4. Apa Implikasi pergeseran paradigma terhadap pola atau pendektan pembangunan
Rangkuman
Paradigma adalah sumber dari sikap dan perilaku seseorang, berkenaan dengan tindakan mempersepsi, memahami dan menafsirkan sesuatu hal. Dengan kata lain manakala seseorang menguraikan sesuatu yang dilihat atau dialami, sebenarnya orang tersebut sedang menguraikan pandangannya/anggapannya mengenai hal tersebut atau sebenarnya dia sedang menjabarkan dirinya sendiri, citra subyektifnya, persepsinya, pandangannya yang dilandasi oleh paradigmanya.
Penafsiran masing-masing orang tentang sesuatu hal menggambarkan pengalaman orang tersebut sebelumnya.
Semakin sadar seseorang akan paradigmanya yang dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya, maka semakin orang tersebut bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang terjadi akibat paradigma yang dianutnya. Dia akan makin terbuka dan terus menguji paradigmanya berdasarkan realita baru yang ditemuinya, mendengarkan orang lain dan bersikap terbuka terhadap persepsi orang lain,
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 15
sehingga mendapatkan gambaran yang lebih besar dan pandangan yang lebih obyektif sehingga yang terjadi kemudian adalah penguatan atau justru perubahan paradigma.
Perubahan paradigma menggerakkan seseorang untuk beralih dari satu cara pandang ke cara pandang yang lain. Perubahan paradigma bersifat kuat. Paradigma seseorang, terlepas dari benar atau salah, adalah sumber dari sikap dan perilakunya, yang akhirnya akan menjadi sumber dari hubungan orang tersebut dengan orang lain.
Hampir setiap terobosan penting di dalam berbagai bidang kehidupan, pada mulanya merupakan pemutusan dengan tradisi, cara berpikir dan paradigma yang lama. Perlu juga selalu diingat bahwa tidak semua perubahan paradigma memiliki arah positif dan tidak semua perubahan paradigma terjadi seketika.
Pengaruh
Paradigma ekonomi melihat pembangunan sebagai pembangunan ekonomi dan menekankan pertumbuhan, ukuran keberhasila juga adalah ukuran ekonomi spt berapa GDP/PDB dapat dicapai suatu daerah. Sangat menggantungkan pada potensi-potensi unggulan dan potensi pasar. Meskipun dalam perkembangannya juga mulai berpikir pemerataan hasil pertumbuhan dan dominansi dari Negara maju thd Negara berkembang. Kelompok ini mempercayakan proses pemerataan melalui proses penetesan (trickle down effect)
Paradigma kesejahteraan social melihat pembangunan sebagai upaya mengoreksi ketimpangan yang terjadi akibat pertumbuhan
Dengan mendudukkan pemerintah sebagai “service provider” dan masyarakat yang terpinggirkan disantuni dengan berbagai pelayanan yang ingin dicapai adalah pemenuhan kebutuhan dasarSedikit lebih maju dengan mengukur harapan hidup, kematian bayi dan melek huruf sampai dengan yang lebih canggih yang melihat pembangunan sebagai upaya terencana untuk memenuhi kebutuhan sosial yang lebih tinggi, bukan berapa banyak, tetapi berapa baik, bukan kualitas barang tetapi kualitas hidup seperti antara lain keadilan, pemerataan, peningkatan budaya, kedamaian, dsb. (Bauer, 1966; Conyers, 1986) tetapi tetap “work for”
16 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Paradigma pembangunan manusia melihat pembangunan sebagai pembangunan manusia untuk mampu berbuat dan menciptakan sejarahnya sendiri. Manusia sebagai focus utama dan sumber utama pembangunan. Fokus pembangunan bukan lagi pada ekonomi, social atau teknologi melainkan pada manusia itu sendiri untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri jadi lebih “work with”.
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 17
BAB 3
PENDAMPINGAN DALAM PENYELENGGARAAN
RUMAH SWADAYA
18 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya
Indikator Keberhasilan
Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat menjelaskan pengertian, tujuan, jenis pendampingan, serta peran pendamping dalam penyelenggaraan rumah swadaya.
Pengertian dan Tujuan Pendampingan 1. Pengertian Pendampingan
Mengapa istilah “pendampingan” muncul dalam kosakata pengembangan masyarakat? Proses kemunculan istilah ini merupakan kritik terhadap cara kerja para petugas penyuluhan (extension worker) yang semata-mata hanya melakukan kegiatan penyampaian informasi dan teknologi kepada masyarakat. Dari kritik terhadap penyuluhan konvensional seperti ini berkembang istilah petugas penyuluh lapangan/PPL (extension field worker) dengan maksud untuk memberi arti yang lebih luas dari sekedar penyuluhan, tetapi juga diserta pendampingan sosial (misalnya: pendampingan dan pembentukan organisasi seperti kelompok tani).
Istilah petugas penyuluh lapangan/PPL saat ini digunakan pemerintah untuk petugas yang bekerja sebagai penyuluhan pertanian. Pada prakteknya, PPL pemerintah ini hanya melakukan kegiatan penyuluhan saja.
Sementara, di kalangan LSM lebih berkembang penggunaan istilah petugas lapangan/PL (field worker) yang tugasnya jauh lebih luas dari hanya sekedar melakukan penyuluhan teknis saja. Sejalan dengan perkembangan wacana mengenai metodologi pendekatan program, istilah petugas lapangan (PL) juga menjadi lebih bervariasi. PL seringkali disebut sebagai pendamping masyarakat atau petugas yang menjalankan sejumlah pekerjaan pengembangan masyarakat. PL juga seringkali disebut fasilitator masyarakat (community facilitator/CF) karena tugasnya lebih sebagai pendorong, penggerak, katalisator, motivator masyarakat, sementara pelaku dan pengelola kegiatan adalah masyarakat sendiri.
Pendampingan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh PL atau fasilitator atau pendamping masyarakat dalam berbagai kegiatan program. Pada prakteknya, di
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 19
kalangan LSM, pendampingan lebih banyak ditujukan untuk pengembangan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin meskipun disertai penguatan organisasi dan kepemimpinan lokal.
Dalam strategi pemberdayaan masyarakat miskin, upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan kemampuan atau kapasitas/masyarakat khususnya masyarakat miskin. Meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat ini disebut juga dengan penguatan kapasitas (capacity building). Penguatan kapasitas ini merupakan suatu proses dalam pemberdayaan masyarakat dengan meningkatkan atau merubah pola perilaku individu, organisasi, dan sistem yang ada di masyarakat untuk mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif dan efisien.
Melalui penguatan kapasitas ini, maka masyarakat dapat memahami dan mengoptimalkan potensi yang mereka miliki untuk mencapai tujuan pemberdayaan, yaitu kesejahteraan hidup masyarakat. Strategi yang digunakan dalam penguatan kapasitas ini adalah melalui pendampingan. Jadi, strategi pendampingan sangat efektif dan efisien dalam proses pemberdayaan masyarakat, karena dengan adanya pendampingan maka kapasitas masyarakat dapat dikembangkan atau diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan secara tidak langsung dapat membantu pemerintah dalam mengurangi tingkat kemiskinan.
Menurut Sumodiningrat (2009:106), pendampingan merupakan kegiatan yang diyakini mampu mendorong terjadinya pemberdayaan masyarakat berpenghasilan rendah secara optimal. Perlunya pendampingan dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan pemahaman di antara pihak yang memberikan bantuan dengan sasaran penerima bantuan. Kesenjangan dapat disebabkan oleh berbagai perbedaan dan keterbatasan kondisi sosial, budaya dan ekonomi. Dalam melaksanakan tugasnya, para pendamping memposisikan dirinya sebagai perencana, pembimbing, pemberi informasi, motivator, penghubung, fasilitator, dan sekaligus evaluator.
Sumodiningrat (2009:104-106) lebih dalam menjelaskan bahwa bagi para pekerja sosial di lapangan, kegiatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui pendampingan sosial. Pendampingan dilakukan oleh petugas lapangan atau fasilitator atau pendamping masyarakat dalam berbagai kegiatan program. Pada prakteknya, pedampingan lebih banyak ditujukan untuk pengembangan ekonomi dan
20 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin dengan disertai penguatan organisasi dan kepemimpinan lokal.
2. Tujuan Pendampingan
Bila kembali pada inti pengertian pendampingan yaitu terjadinya proses perubahan kreatif yang diprakarsai oleh masyarakat desa sendiri, jelas menunjukan adanya proses inisiatif dan bentuk tindakan yang dilakukan oleh masyarakat desa sendiri, tanpa adanya intervensi dari luar.
Dengan demikian tujuan utama dari pendampingan adalah adanya kemandirian kelompok masyarakat. Kemandirian disini menyiratkan suatu kemampuan otonom masyarakat untuk mengambil keputusan bertindak berdasarkan keputusannya itu dan memilih arah tindaknnya sendiri tanpa terhalang oleh pengaruh dari luar atau yang diinginkan oleh pihak lain. Untuk mencapai kemandirian yang demikian dibutuhkan suatu kombinasi dari kemampuan materi, intelektual, organisasi dan manajemen.
Peran Pendamping
Secara umum tugas pendamping desa yaitu mendampingi desa dalam penyelenggaraan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.
Pendamping desa dibagi dalam tiga kategori yang terdiri atas tenaga pendamping profesional, kader pemberdayaan masyarakat desa, dan atau pihak ketiga. Tenaga pendamping professional biasanya terdiri atas pendamping desa (berkedudukan di kecamatan), pendamping teknis (berkedudukan di kabupaten), dan tenaga ahli pemberdayaan masyarakat (berkedudukan di pusat dan provinsi).
Keberadaan pendamping/fasilitator sebagai unsur penggerak tercapainya keswadayaan dan kemandirian masyarakat mempunyai posisi yang strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat di perdesaan. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa suatu gerakan pemberdayaan berangkat dari kondisi ketidakberdayaan masyarakat untuk memperjuangkan hidupnya ke `arah yang lebih baik. Oleh karenanya dibutuhkan pendamping, baik yang berasal dari “luar” masyarakat, ataupun pendamping yang berasal dari masyarakat itu sendiri.
Berkaitan dengan siapa yang akan melaksanakan tugas pendampingan, juga merupakan bahasan tersendiri. Sumodiningrat, 1996, mengemukakan bahwa pendampingan dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu: pertama Pendamping setempat yaitu tokoh-tokoh masyarakat dan kader-kader yang ada di desa
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 21
setempat. Kedua, Pendamping Teknis, yang berasal dari tenaga penyuluh lapangan, petugas sosial dan petugas-petugas lapangan lainnya. Ketiga, Pendamping Khusus, yang disediakan bagi masyarakat desa miskin tertinggal dengan pembinaan khusus.
Mengacu pada Ife (1995), peran pendamping umumnya mencakup tiga peran utama, yaitu fasilitator, pendidik, perwakilan masyarakat, dan peran-peran teknis bagi masyarakat yang didampinginya.
1. Fasilitator. Merupakan peran yang berkaitan dengan pemberian motivasi, kesempatan, dan dukungan bagi masyarakat. Beberapa tugas yang berkaitan dengan peran ini antara lain menjadi model, melakukan mediasi dan negosiasi, memberi dukungan, membangun konsensus bersama, serta melakukan pengorganisasian dan pemanfaatan sumber.
2. Pendidik. Pendamping berperan aktif sebagai agen yang memberi masukan positif dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagasan dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya. Membangkitkan kesadaran masyarakat, menyampaikan informasi, melakukan konfrontasi, menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa tugas yang berkaitan dengan peran pendidik.
3. Perwakilan masyarakat. Peran ini dilakukan dalam kaitannya dengan interaksi antara pendamping dengan lembaga-lembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat dampingannya. Pekerja sosial dapat bertugas mencari sumber-sumber, melakukan pembelaan, menggunakan media, meningkatkan hubungan masyarakat, dan membangun jaringan kerja.
4. Peran-peran teknis. Mengacu pada aplikasi keterampilan yang bersifat praktis.
Pendamping dituntut tidak hanya mampu menjadi ‘manajer perubahan” yang mengorganisasi kelompok, melainkan pula mampu melaksanakan tugas-tugas teknis sesuai dengan berbagai keterampilan dasar, seperti; melakukan analisis sosial, mengelola dinamika kelompok, menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi, memberi konsultasi, dan mencari serta mengatur sumber dana.
22 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Terdapat beberapa prinsip dasar untuk melakukan pendampingan masyarakat, antara lain:
a. Belajar Dari Masyarakat
Prinsip yang paling mendasar adalah prinsip bahwa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti, dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri.
b. Pendamping sebagai Fasilitator
Pendamping/fasilitator perlu menyadari bahwa masyarakat adalah sebagai pelaku dan perannya adalah sebagai fasilitator dan bukannya sebagai pelaku atau guru. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta ketersediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami keadaan masyarakat itu. Bahkan dalam penerapannya masyarakat dibiarkan mendominasi kegiatan. Kalaupun pada awalnya peran pendamping lebih besar, harus diusahakan agar secara bertahap peran itu bisa berkurang dengan mengalihkan prakarsa kegiatan-kegiatan pada warga masyarakat itu sendiri.
c. Saling Belajar
Saling berbagi pengalaman merupakan salah satu prinsip dasar pendampingan untuk pemberdayaan masyarakat. Hal ini merupakan pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat.
Hal ini juga bukanlah berarti bahwa masyarakat selamanya benar dan harus dibiarkan tidak berubah. Kenyataan objektif telah membuktikan bahwa dalam banyak hal perkembangan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak sempat mengejar perubahan-perubahan yang terjadi dan tidak lagi dapat memecahkan masalah-masalah yang berkembang. Namun sebaliknya, telah terbukti pula bahwa pengetahuan modern dan inovasi dari luar yang diperkenalkan oleh orang luar tidak juga memecahkan masalah mereka.
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 23
Jenis Pendampingan
Pendampingan yang dilaksanakan oleh PL/CF meliputi banyak jenis kegiatan.
Kegiatan teknis program (misalnya pertanian, pembangunan rumah) seringkali menjadi kegiatan utama seorang PPL, disertai dengan kegiatan-kegiatan lainnya (seperti pengelolaan program mulai dari perencanaan sampai monev, pengembangan organisasi masyarakat baik berupa kelompok tani, KSM, sampai ke pengembangan jaringan seperti forum petani atau jaringan pemasaran, yang disertai juga dengan pelatihan kepemimpinan lokal agar mereka bisa mengelola organisasi-organisasi tersebut dengan baik).
Kegiatan pendampingan dapat dilakukan dalam beberapa cara, antara lain:
Konsultasi: membantu masyarakat atau kelompok masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan terhadap informasi dan wawasan baru khususnya berkaitan dengan perencanaan dan perancangan pembangunan rumah, melalui dialog, diskusi, penyebaran informasi, dan sejenisnya.
Asistensi: membantu masyarakat atau kelompok masyarakat dalam meningkatkan keterampilan, misalnya berkenaan dengan penyusunan konsep perancangan dan menggambar rancangan, menyusun rencana anggaran biaya, dan lainya.
Fasilitasi: membantu masyarakat atau kelompok masyarakat untuk meningkatkan proses pembelajaran dalam kelompok, membuka akses dan berhubungan dengan pihak lain, membuat jaringan dan lain-lain.
Tahapan dalam Kegiatan Pendampingan
Garis besar tahapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan pendampingan, yaitu:
1. Tahap Persiapan (Engagement)
Tahap persiapan merupakan tahap awal dan fondasi bagi pelaksanaan pendampingan. Tahap persiapan bertujuan menyadarkan dan memotivasi masyarakat agar mau berpartisipasi dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk peningkatan keberdayaan dan kesejahteraan mereka. Tahap persiapan ini umumnya terdiri dari beberapa kegiatan antara lain:
24 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
a. Motivasi
Masyarakat khususnya keluarga berpenghasilan rendah perlu didorong untuk membentuk kelompok untuk mempermudah dalam hal pengorganisasian dan melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat.
Kemudian memotivasi mereka agar dapat terlibat dalam kegiatan pemberdayaan yang nantinya dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan menggunakan kemampuan dan sumber daya yang mereka miliki.
Serta menyamakan persepsi setiap anggota kelompok b. Peningkatan Kesadaran dan pelatihan kemampuan
Di sini peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan dasar dan sosialisasi tentang program kegiatan rumah swadaya, sedangkan bila dibutuhkan kegiatan keterampilan bisa dikembangkan melalui cara-cara partisipatif. Sementara pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat melalui pengalaman mereka dapat dikombinasikan dengan pengetahuan yang dari luar yang dimiliki fasilitator.
2. Tahap Identifikasi (Assessment)
Tahap identifikasi merupakan suatu tahap dimana pendamping/fasilitator bersama masyarakat mengenali dan menggali potensi sumberdaya dan permasalahan berkaitan dengan pembangunan rumah swadaya di wilayah pendampingan.
Ketepatan dalam mengidentifikasi potensi merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena akan mempengaruhi keberhasilan pendampingan. Identifikasi bersama masyarakat penting dilakukan karena seringkali persepsi dan penilaian pendamping kurang tepat atau tidak sesuai dengan persepsi dan penilaian masyarakat. Tahap identifikasi ini umumnya terdiri dari kegiatan:
a. Manajemen diri
Setiap kelompok harus mampu memilih atau memiliki pemimpin yang nantinya dapat mengatur kegiatan mereka sendiri seperti melaksanakan pertemuan-pertemuan atau melakukan pencatatan dan pelaporan. Disini pada tahap awal, pendamping membantu mereka untuk mengembangkan sebuah sistem. Kemudian memberikan wewenang kepada mereka untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut.
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 25
b. Mobilisasi sumber
Merupakan sebuah metode untuk menghimpun setiap sumber-sumber yang dimiliki oleh individu-individu yang dalam masyarakat melalui tabungan dan sumbangan sukarela dengan tujuan untuk menciptakan modal sosial. Hal ini didasari oleh pandangan bahwa setiap orang memiliki sumber daya yang dapat diberikan dan jika sumber-sumber ini dihimpun, maka nantinya akan dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat secara substansial. Pengembangan sistem penghimpunan, pengalokasian, dan penggunaan sumber-sumber ini perlu dilakukan secara cermat sehingga semua anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama dan hal ini dapat menjamin kepemilikan dan pengelolaan secara berkelanjutan.
3. Tahap Perencanaan (Designing)
Tahap ini merupakan tahap penentuan kegiatan pendampingan yang terkait dengan program kegiatan yang akan dilaksanakan. Penentuan kegiatan pendampingan ini dipertimbangkan atas dasar hasil dari tahap identifikasi. Pelibatan masyarakat secara aktif dalam proses perencanaan merupakan tahap penting untuk menumbuhkan sense of belonging terhadap kegiatan pendampingan yang direncanakan. Pada tahapan ini penting sekali pendamping memperhatikan peranannya sebagai fasilitator, yang memberikan berbagai alternatif tetapi tidak mengambil keputusan untuk masyarakat. Masyarakat sendiri yang menentukan pilihan program yang ditawarkan pendamping, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka, merumuskan tujuan yang ingin dic apai, membuat urutan pelaksanaan kegiatan (isi kegiatan) dan jadwal kegiatan, memiliki metode dan pendekatan yang akan digunakan, serta petugas yang bertanggungjawab pada setiap kegiatan, serta menentukan anggaran yang dibutuhkan. Dalam tahapan ini juga dilaksanakan pembangunan dan pengembangan jaringan kelompok dengan sistem sosial di sekitarnya. Pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial di sekitarnya (warga lain yang dapat membantu dengan tenaga untuk pembangunan dan perbaikan rumah, toko bahan material, dan lainnya). Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat yang didampingi.
26 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
4. Tahap Pelaksanaan (Implementation)
Inti dari tahap pelaksanaaan pendampingan ialah meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan empat aspek pengelolaan, yaitu pengelolaan kelembagaan, pengelolaan sosial, dan pengelolaan usaha. Pelaksanaan pendampingan dalam pengelolaan kelembagaan adalah kegiatan dalam rangka menumbuhkembangkan kelembagaan KSM sehingga menjadi organisasi yang dinamis dan mandiri. Pendampingan KSM dalam mengembangkan pengelolaan sosial yaitu menumbuhkembangkan modal sosial kelompok: kepercayaan, kejujuran, keswadayaan dan kerja sama/gotong royong sehingga menjadi kelompok yang dinamis, kokoh, mandiri dan berkelanjutan. Pendampingan kelola usaha dilakukan dalam rangka memfasilitasi KSM sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya, sekaligus untuk membantu kelompok dalam kegiatan pemeliharaan dan pemanfaatan rumah.
Pada tahapan ini kegiatan fisik pembangunan atau peningkatan kualitas rumah akan dilaksanakan. Kegiatannya antara lain:
a. Merinci prosedur operasional untuk melaksanakan program pembangunan dan peningkatan kualitas rumah
b. Melaksanakan kegiatan pembangunan atau peningkatan kualitas rumah sesuai rencana yang telah disusun
5. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahap penilaian dan pengawasan bersama semua pihak terhadap pelaksanaan pendampingan. Tahap pelaksanaan evaluasi meliputi serangkaian kegiatan yang dimulai dari kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan terhadap kegiatan pendampingan kelompok swadaya masyarakat.
a. Monitoring. Monitoring diarahkan untuk mengetahui/mencatat kemajuan dan realisasi program, serta permasalahan yang dihadapi kelompok swadaya masyarakat berlandaskan perencanaan yang telah disusun serta kondisi sarana prasarana kelompok dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan rumah swadaya;
b. Evaluasi. Evaluasi diarahkan untuk mengetahui/mencatat/menilai efektifitas dan dampak kegiatan pendampingan kelompok tani hutan dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga petani serta kelestarian fungsi hutan dan lingkungan.
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 27
c. Pelaporan. Laporan pendampingan diperlukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengetahui kinerja pendamping dan dampak yang terlihat dari hasil pendampingan. Hasil dan dampak kegiatan pendampingan tersebut tentunya harus terekam dalam sebuah laporan. Laporan ini kemudian dapat dijadikan acuan pelaksanaan pendampingan sejenis baik oleh pendamping lain maupun oleh pemerintah kabupaten/kota terhadap sasaran pendampingan lainnya.
6. Tahap Terminasi
Tahap terminasi merupakan tahap akhir dari proses pendampingan, dimana seluruh program/kegiatan telah berjalan dan kelompok swadaya masyarakat dianggap telah mencapai tahap mandiri sehingga proses pendampingan harus diakhiri. Pendamping meninggalkan komunitas secara bertahap namun masih berperan sebagai mitra bagi kelompok swadaya masyarakat/masyarakat yang telah didampinginya.
Pada akhirnya sebuah kelompok swadaya masyarakat dituntut untuk dapat lebih mandiri dan unggul dibandingkan kondisi sebelum dilakukan pendampingan.
Sehingga fungsi pendampingan sedikit demi sedikit dapat dikurangi porsinya sampai kelompok swadaya masyarakat benar-benar telah mandiri dan bahkan diharapkan kelompok swadaya masyarakat yang berhasil di dampingi ini akan memberikan pendampingan ulang kepada kelompok swadaya masyarakat lainnya atau masyarakat sekitarnya.
Dalam tahap ini, pendamping harus benar-benar yakin bahwa proses pemberdayaan dan kegiatan dalam kelompok akan terus berjalan meskipun kelompok sudah tidak didampingi. Pendamping pada tahap ini berperan sebagai mitra bagi kelompok swadaya masyarakat yang sudah didampingi dengan tugas sebatas:
a. Memberikan informasi baru tentang hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan dan usaha kelompok.
b. Menjembatani hubungan kelompok dengan mitra usaha, pemerintah dan instansi/mitra lainnya.
c. Membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi kelompok jika diminta.
28 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Gambar 1. Tahapan Pendampingan Masyarakat
Kiat-kiat Pendampingan dalam Penyelenggaraan Rumah Swadaya
1. Temukan orang yang setempat/local yang sesuai untuk membantu menangani program yang sudah disusun untuk penyelenggaraan rumah swadaya
2. Tetapkan pola dan cara pembinaan yang sederhada tapi mengena dan sesuai dengan masyarakat lokal
3. Kaitkan program pembangunan rumah swadaya dengan struktur dan administrasi setempat yang sudah terbentuk sebelumnya
4. Untuk mendapatkan dampak yang luas dan besar, bangun jaringan kerjasama/ sinergisitas dengan pihak/program lain
5. Gunakan momentum yang tepat sehingga bisa menimbulkan efek ganda (multiplier effects) bagi program pembangunan rumah swadaya yang dikembangkan
6. Ciptakan hubungan yang baik secara pribadi dengan mayarakat tempat program dilaksanakan
7. Mulailah dengan potensi yang ada di dalam masyarakat walaupun kecil 8. Sederhanakan sistem sehingga dapat diterapkan sesuai kemampuan
dan kapasitas warga setempat
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 29
Latihan
1. Sebutkan secara singkat pengertian dan tujuan dari pendampingan masyarakat.
2. Sebutkan cara-cara yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan.
3. Salah satu prinsip dasar untuk melakukan pendampingan dalam masyarakat adalah “belajar dari masyarakat”. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hal tersebut!
4. Apa gunanya proses monitoring dan evaluasi dalam pemberdayaan masyarakat di penyelenggaraan rumah swadaya?
5. Sebutkan enam tahapan besar yang perlu dilakukan dalam kegiatan pendampingan?
6. Jelaskan secara umum apa yang menjadi peran tenaga pendamping?
7. Ada tiga kategori tenaga pendamping, sebutkan dan jelaskan secara singkat?
Rangkuman
Pendampingan merupakan kegiatan yang diyakini mampu mendorong terjadinya pemberdayaan masyarakat berpenghasilan rendah secara optimal. Perlunya pendampingan dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan pemahaman di antara pihak yang memberikan bantuan dengan sasaran penerima bantuan.
Tujuan utama dari pendampingan adalah adanya kemandirian kelompok masyarakat, yang menyiratkan suatu kemampuan otonom masyarakat untuk mengambil keputusan bertindak berdasarkan keputusannya itu dan memilih arah tindaknnya sendiri tanpa terhalang oleh pengaruh dari luar atau yang diinginkan oleh pihak lain.
Pendampingan yang dilaksanakan oleh PL/CF meliputi kegiatan teknis program (misalnya pertanian, pembangunan rumah) yang seringkali menjadi kegiatan utama seorang PPL, disertai dengan kegiatan-kegiatan lainnya (seperti pengelolaan program mulai dari perencanaan sampai monev, pengembangan organisasi masyarakat baik berupa kelompok tani, KSM, sampai ke pengembangan jaringan seperti forum petani atau jaringan pemasaran, yang disertai juga dengan pelatihan kepemimpinan lokal agar mereka bisa mengelola organisasi-organisasi tersebut
30 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
dengan baik). Kegiatan pendampingan dapat dilakukan dalam beberapa cara, antara lain: melalui konsultasi, asistensi, atau melalui fasilitasi.
Garis besar tahapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan pendampingan, yaitu: 1) tahap persiapan (Engagement), 2) tahap identifikasi (Assessment), 3) tahap perencanaan (designing), 4) tahap pelaksanaan (implementation), 5) Tahap Evaluasi, 6) tahap terminasi.
Secara umum tugas pendamping desa yaitu mendampingi desa dalam penyelenggaraan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.
Pendamping desa dibagi dalam tiga kategori yang terdiri atas tenaga pendamping profesional, kader pemberdayaan masyarakat desa, dan atau pihak ketiga. Tenaga pendamping professional biasanya terdiri atas pendamping desa (berkedudukan di kecamatan), pendamping teknis (berkedudukan di kabupaten), dan tenaga ahli pemberdayaan masyarakat (berkedudukan di pusat dan provinsi). Peran pendamping umumnya mencakup tiga peran utama, yaitu fasilitator, pendidik, perwakilan masyarakat, dan peran-peran teknis bagi masyarakat yang didampinginya
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 31
BAB 4
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
PENDAMPINGAN PENYELENGGARAAN RUMAH
SWADAYA
32 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya
Pemberdayaan Masyarakat Dalam
Pendampingan Penyelenggaraan Rumah Swadaya
Indikator Keberhasilan
Dengan mengikuti pembelajaran ini, peserta pelatihan diharapkan dapat menjelaskan pengertian, tujuan, pola, serta bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pendampingan penyelenggaraan rumah swadaya.
Pengertian dan Tujuan Pemberdayaan Masyarakat Pengertian Pemberdayaan Masyarakat
Para ilmuwan sosial dalam memberikan pengertian pemberdayaan mempunyai rumusan yang berbeda-beda dalam berbagai konteks dan bidang kajian, artinya belum ada definisi yang tegas mengenai konsep tersebut. Namun demikian, bila dilihat secara lebih luas, pemberdayaan sering disamakan dengan perolehan daya, kemampuan dan akses terhadap sumber daya untuk memenuhi kebutuhannya.
Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang mendapat awalan ber- yang menjadi kata “berdaya” artinya memiliki atau mempunyai daya. Daya artinya kekuatan, berdaya artinya memiliki kekuatan. Pemberdayaan artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau mempunyai daya atau mempunyai kekuatan. Pemberdayaan dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari empowerment dalam bahasa inggris. Pemberdayaan sebagai terjemahan dari empowerment menurut Merrian Webster dalam Oxford English Dictionary mengandung dua pengertian:
a. To give ability or enable to, yang diterjemahkan sebagai memberi kecakapan/ kemampuan atau memungkinkan
b. To give power of authority to, yang berarti memberi kekuasaan.
Pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya peningkatan kemampuan masyarakat (miskin, marjinal, terpinggirkan) untuk menyampaikan pendapat dan atau kebutuhannya, pilihan-pilihannya, berpartisipasi, bernegosiasi, mempengaruhi dan mengelola kelembagaan masyarakatnya secara bertanggung-gugat (accountable) demi perbaikan kehidupannya.
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 33
Dalam pengertian tersebut, pemberdayaan mengandung arti perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan setiap individu dan masyarakat baik dalam arti:
a. Perbaikan ekonomi, terutama kecukupan pangan,
b. Perbaikan kesejahteran sosial (pendidikan dan kesehatan) c. Kemerdekaan dari segala bentuk penindasan,
d. Terjaminnya hak asasi manusia yang bebas dari rasa takut dan kekhawatiran dan lain-lain.
Meskipun rumusan konsep pemberdayaan berbeda-beda antara ahli yang satu dengan yang lainnya, tetapi pada intinya dapat dinyatakan bahwa pemberdayaan adalah sebagai upaya berencana yang dirancang untuk merubah atau melakukan pembaruan pada suatu komunitas atau masyarakat dari kondisi ketidakberdayaan menjadi berdaya dengan menitikberatkan pada pembinaan potensi dan kemandirian masyarakat. dengan demikian mereka diharapkan mempunyai kesadaran dan kekuasaan penuh dalam menentukan masa depan mereka, dimana provider dari pemerintah dan lembaga non government hanya mengambil posisi sebagai partisipan, stimulan, dan motivator.
Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Tujuan yang ingin dicapai dari sebuah pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat yang mandiri, yaitu mandiri dalam berpikir, bertindak, dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Masyarakat yang mandiri adalah masyarakat yang memiliki kemampuan untuk memikirkan, memutuskan, hingga melakukan tindakan yang dianggap tepat demi mencapai kesepakatan dan kondisi yang dicita-citakan dengan menggunakan kemampuan/sumber daya yang dimiliki.
34 Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya Kualitas Hidup, Kesejahteraan Keluarga, dan Kemajuan Bangsa
Kapasitas Masyarakat
Kapasitas Masyarakat
Kapasitas Masyarakat
Pemberdayaan memberikan pemahaman tentang:
Hak – Kewajiban
Peran – Tanggungjawab
Kemandirian sikap
Cara berpikir
Kemampuan berkomunikasi yang baik
Semangat dalam melakukan perubahan
Perilaku yang lebih baik untuk berpartisipasi aktif dalam keluarga dan masyarakat
Pemberdayaan Masyarakat yang Terarah
Perbaikan Kualitas Hidup
Gambar 2. Pembangunan Masyarakat dalam Rangka Peningkatan dan Pemberdayaan Kapasitas
Secara rinci kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik dan afektif serta sumber daya lainnya yang bersifat fisik/material.
Kondisi kognitif pada hakikatnya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seseorang dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Kondisi konatif merupakan suatu sikap perilaku masyarakat yang terbentuk dan diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai- nilai pemberdayaan masyarakat. Kondisi afektif adalah merupakan perasaan yang dimiliki oleh individu yang diharapkan dapat diintervensi untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku. Kemampuan psikomotorik merupakan kecakapan keterampilan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya mendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pembangunan. Pemberdayaan Masyarakat
Pendampingan dalam Penyelenggaraan Perumahan Swadaya 35
Pemberdayaan dapat mencakup beberapa aspek yaitu:
a. Peningkatan kepemilikan sumberdaya (fisik) dan mampu memanfaatkan asset tersebut demi perbaikan kehidupan mereka.
b. Hubungan antar individu dan kelompok c. Pemberdayaan kelembagaan
d. Pengembangan jaringan dan kemitraan di segala tingkat.
Ciri-ciri pemberdayaan masyarakat antara lain:
a. Pembentukan kelompok kecil yang dapat dilakukan berdasarkan umur yang sama, minat yang sama dan sukarela. Pemberdayaan menekankan pada kebersamaan langkah yang memungkinkan kelompok masyarakat dapat berkembang.
b. Pemberian tanggungjawab kepada masyarakat, yang sudah dilibatkan dalam kegiatan perencanaan, penyusunan program, sampai dengan evaluasi program yang sudah dilaksanakan
c. Kepemimpinan kelompok dipegang sepenuhnya oleh warga masyarakat.
Semua kegiatan diatur oleh kelompok, sehingga semua warga masyarakat sebagai anggota memiliki tanggungjawab dalam setiap kegiatan
d. Melibatkan tokoh masyarakat sebagai agen perubahan, yaitu: ulama/ ustad, guru, dan tutor, sebagai pendidik berperan sebagai fasilitator
e. Proses pengambilan keputusan untuk setiap kegiatan harus berdasarkan musyawarah bersama atau hasil pemungutan suara
f. Adanya kesamaan pandang dan langkah di dalam mencapai tujuan tertentu, yang dapat ditumbuhkan dari masalah-masalah aktual. Analisis masalah dalam proses pemberdayaan merupakan hal yang sangat penting, yang dalam pelaksanaannya diperlukan kehadiran fasilitator yang cakap dan jeli dalam mengungkapkan masalah atau kebutuhan yang dirasakan oleh warga masyarakat
g. Metode yang digunakan harus dipilih yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi warga masyarakat–seperti dialog dan kegiatan kelompok bebas–antara lain: kelompok diskusi dan workshop yang dilengkapi dengan peralatan yang dapat digunakan warga masyarakat dan berbagai latihan mandiri