• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metafora CINTA dalam Bahasa Angkola

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Metafora CINTA dalam Bahasa Angkola"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

Tulisan ini membahas kategorisasi dan pemetaan konseptual pada metafora CINTA dalam bahasa Angkola. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan metode simak dan metode cakap melalui studi lapangan. Seluruh data dianalisis dengan menerapkan metode padan dan keabsahannya diuji dengan teknik triangulasi. Penelitian ini menggunakan teori Metafora Konseptual dengan mengembangkan skema-citra sebagai alat analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseptualisasi cinta dalam bahasa Angkola bersumber dari sembilan citra metaforis utama, yaitu CAIRAN, DAYA, BINATANG BUAS, PASIEN, PERJALANAN, PERANG, BENDA, KESATUAN, dan PERMAINAN. Kategori

CINTA sebagai CAIRAN DALAM WADAH memiliki subkategori CINTA sebagai PANAS dan CINTA sebagai API; kategori CINTA sebagai DAYA memiliki subkategori CINTA sebagai DAYA FISIK, CINTA sebagai DAYA ALAMI, dan

CINTA sebagai DAYA PSIKOLOGIS; kategori CINTA sebagai PASIEN memiliki subkategori CINTA sebagai KEGILAAN; kategori CINTA sebagai BENDA

memiliki subkategori CINTA sebagai OBJEK TERSEMBUNYI, CINTA sebagai KOMODITAS BERHARGA, CINTA sebagai TANAMAN, dan CINTA sebagai BANGUNAN; dan kategori CINTA sebagai KESATUAN memiliki subkategori

CINTA sebagai TALI. Selanjutnya, pemetaan ranah-ranah pengalaman cinta ditata atas lima skema dasar, yaitu skema WADAH, skema DAYA, skema SUMBER-JALUR-TUJUAN, skema RUANG, dan skema HUBUNGAN. Dalam pemetaan itu, persesuaian yang sistematis antara ranah sumber dan ranah sasaran melibatkan gagasan daya dan gagasan kendali.

Kata kunci: metafora cinta, kategorisasi, skema citra, dan pemetaan

(2)

ABSTRACT

This research analyzed the categorization and conseptual mapping of LOVE metaphors in Angkola language. The data obtained by using the observation and interview methods which is conducted through the field research. The data is analyzed by using the identity method and the appropriateness method of the word with the tiangulation technique. This research uses the Conseptual Methapor Theory by using schema of image as analysis tool. The finding show that conseptualization of love in Angkola language derive nine main methapor such as FLUID, FORCE, WILD ANIMAL, PATIENT, JOURNEY, WAR, OBJECT, UNITY, and GAME. Category of LOVE IS A FLUID IN A CONTAINER have subcategory of LOVE IS HEAT and LOVE IS FIRE; category of LOVE IS FORCE have subcategory of LOVE IS PHYSICAL FORCE, LOVE IS NATURAL FORCE, and LOVE IS PSYCHOLOGICAL FORCE; category of LOVE IS PATIENT have subcategory of LOVE IS MAD; category of LOVE IS OBJECT

have subcategory of LOVE IS HIDDEN OBJECT, LOVE IS VALUABLE COMMODITY, LOVE IS PLANT, and LOVE IS BUILDING; and category of

LOVE IS UNITY have subcategory of LOVE IS ROPE. Futhermore, the mapping of love experience domain consist of five basic schema such as schema of CONTAINER, FORCE, SOURCE-PATH-GOAL, SPACE, and LINK. In this mapping the systematical relevancy between the source domain and goal domain involves force and control aspect.

Key words: love methaphors, categorization, image-schemas, and mapping

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian mengembangkan tes yang berorientasi pada keterampilan argumentasi. Instrumen tes digunakan untuk memetakan kemampuan argumentasi siswa dan pemahaman

La fete d’anniversaire de Nico Samedi, le 25 fevrier. A 7 h du soir Au

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi, maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan dan fungsi masjid di Banda Aceh

Jumlah Pekan

PENGURUS ASMINDO JOGJAKARTA / PELANTIKAN INI / JUGA DIHADIRI OLEH DUTA BESAR / AFRIKA SELATAN / MISTER MAMELA DAN / GUBERNUR AFRIKA SELATAN / MISTER

Secara keseluruhan, siswa tunanetra yang memiliki hidrasi saliva rendah (>60 detik), viskositas sedang (frothy bubbly), pH saliva normal (pH >6,8), kuantitas saliva

(1) Dalam rangka penyelenggaraan kegiatan peringatan Hari Jadi sebagaimana dimaksud pada Pasal 2, dibentuk Panitia Penyelenggara Peringatan Hari Jadi Provinsi

 Untuk Mata acara Ketiga Rapat berdasarkan ketentuan Pasal 86 UUPT dan Pasal 87 UUPT, bahwa Rapat sah apabila dihadiri/diwakili lebih dari ½ (satu per dua)