• Tidak ada hasil yang ditemukan

ETIKA KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ETIKA KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM (1)"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

ETIKA KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A. Definisi Etika Komunikasi Islam

Pengertian etika (etimologi), berasal dari bahasa Yunani yaitu “Ethos”. Yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik dan menghindari hal-hal yang buruk.

Komunikasi berasal dari perkataan Yunani, yaitu communicare yang bermaksud menjadikan sesuatu itu milik bersama dimana penyampai menyampaikan sesuatu message kepada pendengar, pendengar pula bertindak dengan memberi maklum balas yang berkesesuaian. Bercakap, mendengar, menonton, membaca, menulis, berdo’a, menilai diri dan sebagainya juga adalah aktivitas komunikasi.

Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan keislaman dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi dalam Islam. Maka komunikasi Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how), dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan dalam komunikasi Islam meliputi seluruh ajaran Islam, meliputi akidah (iman), syariah (Islam), dan akhlak (ihsan). Pesan-pesan keislaman yang disampaikan tersebut disebut sebagai dakwah. Dakwah adalah pekerjaan atau ucapan untuk mempengaruhi manusia mengikuti islam.

Dalam konteks komunikasi di masyarakat, ada 2 kata yang dirasa perlu untuk dibicarakan disini yaitu etika dan komunikasi. Kata etika diartikan sebagai: (1)himpunan asas-asas nilai atau moral. (2)kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak, (3)nilai mengenai benar dan salah yang dianut golongan atau masyarakat, (4)norma, nilai, kaidah atau ukuran tingkah laku yang baik. etika menyangkut persoalan tata susila, tetapi ia tidak membuat seseorang lebih baik. etika hanya menunjukkan baik buruknya perbuatan seseorang.

(2)

disampaikan dengan mengandung unsur islami mengarahkan manusia kepada kemaslahatan dunia dan akhirat.

B. Urgensi Etika Komunikasi Perspektif Islam

Dalam etika-etika komunikasi islam ada 6 jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yaitu:

1. Qaulan Sadidan (perkataan benar, lurus, jujur).

Kata “qaulan sadidan” disebut dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama, Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan, terdapat dalam Firman Allah QS. An-Nisa ayat 9:

ادديددسس لووقس اوللوقليسلووس هسللسلا اوقلتلسيسلوفس موهديولسعس اوفلاخس افداعسضد ةديلسرلدذل موهدفدلوخس نومد اوكلرستس وولس نسيذدللسا شسخويسلووس Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadidan)”.

Kedua, Allah memerintahkan qaulan sadidan sesudah taqwa: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah qaulan sadidan. Nanti Allah akan membaikkan amal-amal kamu, mengampuni dosa kamu. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nyaia akan mendapat keuntungan yang besar.

Apa arti qaulan sadidan? Qaulan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur, (Picthall menerjemahkannya “straight to the point”), lurus, tidak bohong, tidak berbelit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut Al-Quran adalah berkata yang benar. Ada beberapa makna dari pengertian yang benar:

Sesuai dengan kriteria kebenaran

(3)

ilmu. Jadi, kalau kita sedang berdiskusi dalam perkuliahan maupun organisasi harus merujuk pada Al-Qur’an, petunjuk dan ilmu.

Tidak bohong

Arti kedua dari qaulan sadidan adalah ucapan yang jujur, tidak bohong. Nabi Muhammad saw bersabda: “Jauhi dusta karena dusta membawa kamu pada dosa, dan dosa membawa kamu pada neraka. Lazimlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu kepada kebajikan, membawa kamu pada surga.” Meskipun kepada anak-anak kita tidak dianjurkan berbohong kepada mereka, bahkan seharusnya kita mengajarkan kejujuran kepada mereka sejak dini.

2. Qaulan Balighan (perkataan yang membekas pada jiwa, tepat sasaran, komunikatif, mudah mengerti).

Ungkapan ini terdapat dalam QS An-Nisa ayat 63 yang berbunyi:

اغديلدبس لووقس موهدسدفلنوأس يفد موهللس لوقلوس موهلظوعدوس موهلنوعس ضوردعوأسفس موهدبدوللقل يفد امس هلللسلا مللسعويس نسيذدللسا كسئدلسوأل Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. Kata “baligh” dalam bahasa arab artinya sampai, mengenai sasaran atau mencapai tujuan. Apabila dikaitkan dengan qaul (ucapan atau komunikasi), “baligh” berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat menggunakan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu prinsip qoulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.

(4)

Sebagai orang yang bijak bila berdakwah kita harus melihat stuasi dan kondisi yang tepat dan menyampaikan dengan kata-kata yang tepat. Bila bicara dengan anak-anak kita harus berkata sesuai dengan pikiran mereka, bila dengan remaja kita harus mengerti dunia mereka. Jangan sampai kita berdakwah tentang teknologi nuklir dihadapan jamaah yang berusia lanjut yang tentu sangat tidak tepat sasaran, malah membuat mereka semakin bingung. Gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa.

Rasulullah sendiri memberi contoh dengan khotbah-khotbahnya. Umumnya khotbah Rasulullah pendek, tapi dengan kata-kata yang padat makna. Nabi Muhammad menyebutnya “jawami al-qalam”. Ia berbicara dengan wajah yang serius dan memilih kata-kata yang sedapat mungkin menyentuh hati para pendengarnya. Irbadh bin Sariyah, salah seorang sahabatnya bercerita: “Suatu hari Nabi menyampaikan nasihat kepada kami. Bergetarlah hati kami dan berlinang air mata kami. Seorang diantara kami berkata Ya Rasulullah, seakan-akan baru kami dengar khotbah perpisahan. Tambahlah kami wasiat”. Tidak jarang disela-sela khotbahnya, Nabi berhenti untuk bertanya kepada yang hadir atau memberi kesempatan kepada yang hadir untuk bertanya. Dengan segala otoritasnya, Nabi adalah orang yang senang membuka dialog.

3. Qaulan Masyura (perkataan yang ringan).

Dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, mempergunakan bahasa yang mudah, ringkas dan tepat sehingga mudah dicerna dan dimengerti. Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah qaulan maisura yang merupakan salah satu tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengertidan melegakan perasaan.

Dalam Firman Allah dijelaskan:

اردوسليومس لووقس موهللس لوقلفس اهسوجلروتس كسبلدرس نومد ةةمسحورس ءساغستدبوا ملهلنوعس نلسضسردعوتل املسإدوس Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (QS. Al-Israa’: 28).

(5)

ucapan yang menyulitkan. Bila qaulan ma’rufa berisi petunjuk via perkataan yang baik, qaulan maisura berisi hal-hal yang menggembirakan via perkataan yang mudah dan pantas. Dakwah dengan qaulan maisura yang artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat dipahami secara spontan tanpa harus berpikir dua kali. Pesan dakwah model ini tidak memerlukan dalil naqli maupun argument-argumen logika. Dakwah dengan pendekatan ini harus menjadi pertimbangan mad’u misalnya yang dihadapi itu terdiri dari orang yang tergolong didzalimi haknya oleh orang-orang yang lebih kuat dan masyarakat yang secara sosial berada dibawah garis kemiskinan, lapisan masyarakat tersebut sangat peka dengan nasihat yang panjang, karenanya da’i harus memberikan solusi dengan membantu mereka dalam dakwah bil hal.

4. Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut).

Perintah menggunakan perkataan yang lemah lembut ini terdapat dalam AlQur’an:

ىشسخويس ووأس رلكلسذستسيس هلللسعسلس انديلدلس لووقس هللس لوقلفس Artinya: ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaahaa:44).

Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita.

Dari ayat tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan suara. Siapapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang yang kasar. Rasullulah selalu bertutur kata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata-kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

(6)

demikian, selain tidak komunikatif, juga membuat komunikan mengambil jarak disebabkan adanya perasaan takut di dalam dirinya.

Islam mengajarkan agar menggunakan komunikasi yang lemah lembut kepada siapa pun. Dalam lingkungan apapun, komunikator sebaiknya berkomunikasi pada komunikan dengan cara lemah lembut, jauh dari pemaksaan dan permusuhan. Dengan menggunakan komunikasi yang lemah lembut, selain ada perasaan bersahabat yang menyusup ke dalam hati komunikan, ia juga berusaha menjadi pendengar yang baik.

Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi. Allah melarang bersikap keras dan kasar dalam berdakwah, karena kekerasan akan mengakibatkan dakwah tidak akan berhasil malah ummat akan menjauh.

5. Qaulan Karima (perkataan yang mulia).

Islam mengajarkan agar mempergunakan perkataan yang mulia dalam berkomunikasi kepada siapapun. Perkataan yang mulia ini seperti terdapat dalam ayat Qur’an (QS. Al-Isra ayat 23) yaitu:

امسهلروهسنوتس لوس فلةأل امسهللس لوقلتس لفس امسهللكد ووأس امسهلدلحسأس رسبسكدلوا كسدسنوعد نلسغسللبويس املسإد انداسسحوإد نديودسلداوسلوابدوس هلايلسإد لإد اودلبلعوتس لأس كسبللرس ىضسقسوس امديردكس لووقس امسهللس لوقلوس Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perktaan yang baik”.

Dengan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa qaulan karimah adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna mengunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri, dan sadis.

(7)

manusia meskipun telah mencapai usia lanjut, bisa saja berbuat salah atau melakukan hal-hal yang sesat menurut ukuran agama.

Komunikasi yang baik tidak dinilai dari tinggi rendahnya jabatan atau pangkat seseorang, tetapi ia dinilai dari perkataan seseorang. Cukup banyak orang yang gagal berkomunikasi dengan baik kepada orang lain disebabkan mempergunakan perkataan yang keliru dan berpotensi merendahkan orang lain. Permasahan perkataan tidak bisa dianggap ringan dalam komunikasi. Karena salah perkataan berimplikasi terhadap kualitas komunikasi dan pada gilirannya mempengaruhi kualitas hubungan sosial. Bahkan karena salah perkataan hubungan sosial itu putus sama sekali.

6. Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik).

Qaulan ma’rufa dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Kata ma’rufa berbentuk isim maf’ul yang berasal dari madhinya, ’arafa. Salah satu pengertian mar’ufa secara etimologis adalah al-khair atau al-ihsan, yang berarti yang baik-baik. Jadi qawlan ma’rufa mengandung pengertian perkataan atau ungkapan yang baik dan pantas.

Jalaluddin rahmat menjelaskan bahwa qaulan ma’rufan adalah perkataan yang baik. Allah menggunakan frase ini ketika berbicara tentang kewajiban orang-orang kaya atau kuat terhadap orang-orang miskin atau lemah. Qaulan ma’rufa berarti pembicaraan yang bermamfaat memberikan pengetahuan, mencerahkan pemikiran, menunjukan pemecahan terhadap kesulitan kepada orang lemah, jika kita tidak dapat membantu secara material, kita harus dapat membantu psikologi. Qaulan Ma’rufa juga bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan (maslahat). Sebagai muslim yang beriman, perkataan kita harus terjaga dari perkataan yang sia-sia, apapun yang kita ucapkan harus selalu mengandung nasehat, menyejukkan hati bagi orang yang mendengarnya. Jangan sampai kita hanya mencari-cari kejelekan orang lain, yang hanya bisa mengkritik atau mencari kesalahan orang lain, memfitnah dan menghasut.

Kata Qaulan Ma`rufa disebutkan Allah dalam ayat Al-Qur'an (QS. Al-Ahzab ayat 32) ialah:

(8)

reference

rohmah ftriyani., etika komunikasi dalam perspektif islam, diakses melalui academi.edu., pada tanggal 19 desember 2015.

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan pernah lepas dari komunikasi. Dari mulai kita bangun tidur sampai kemudian tertidur kembali, komunikasi selalu menjadi kegiatan utama kita entah itu komunikasi verbal atau non verbal, entah itu komunikasi antar pribadi atau komunikasi organisasi.

Hal seperti ini memang telah menjadi kodrat kita sebagai seorang manusia yang memang tidak dapat hidup sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain disekitar kita, walaupun hanya untuk sekedar melakukan obrolan basa-basi karena manusia adalah makhluk sosial dan dari dalam interaksi itulah manusia lambat laun menciptakan nilai-nilai bersama yang kemudian disebut sebagai kebudayaan.

Dalam nilai-nilai yang terbentuk tersebut terdapat beberapa kaidah yang bertujuan mengatur tata cara kita berkomunikasi antar sesama tanpa menyakiti hati dan menjunjung tinggi etika sebagai sebuah tanda penghargaan pada lawan bicara kita. Namun terkadang pemakaian sesuatu yang kita anggap sebuah etika dapat berakibat pada sesuatu yang tidak

menyenangkan dan menimbulkan kesalahpahaman antar sesama. Mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal tujuan kita menggunakan etika adalah untuk mencoba menghargai khalayak. Pemakaian etika dalam konteks komunikasi antar pribadi memiliki paradoks tersendiri. Di lain pihak, hal ini dapat menjadi hal yang positif namun terkadang sesuatu yang negatif dan cenderung merusak dan memperburuk keadaan juga dapat terjadi. Berbagai hal dinilai bertanggung jawab atas hal ini. Dari mulai cara kita berkomunikasi antar sesama sampai pada saat kita menggunakan etika dalam berinteraksi.

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Menyandang predikat sebagai mahkluk sosial, manusia selalu terlibat dan berinteraksi dengan orang lain baik secara kelompok maupun secara personal. Dalam keterlibatannya dalam interaksi antar pribadi, manusia melakukan pertukaran pesan melalui berbagai macam simbol yang disepakati bersama dimana penggunaan pancaindra yang dimiliki dapat secara

maksimal dan saling memberikan umpan balik. Komunikasi yang memang terjadi di dalam lingkup kecil ( hanya antara 2-3 orang) ini memiliki pengaruh yang besar dalam

(9)

Banyak orang beranggapan bahwa dalam sebuah pembicaraan, kita harus menggunakan etika untuk menghargai dan menghormati lawan bicara. Ada sebuah teori yang mendefinisikan etika sebagai, “sebuah cabang ilmu filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma, moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya”. Dalam teori ini, etika memiliki 3 tujuan, yaitu:

· Membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggung jawabkan · Membantu manusia mengambil sikap dan tindakan secara tepat dalam hidup ini · Tujuan akhir untuk menciptakan kebahagiaan.

Terlepas setuju atau tidaknya kita dengan teori diatas, namun ada hal yang bisa kita sepakati bahwa etika berhubungan dengan moral,”sistem tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.”

ETIKA KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Persoalan etika yang potensial selalu melekat dalam setiap bentuk komunikasi antar pribadi sehingga komunikasi dapat dinilai dalam dimensi benar-salah, melibatkan pengaruh yang berarti terhadap manusia lain, sehingga komunikator secara sadar memilih tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai dan cara-cara komunikasi guna mencapai tujuan tersebut. Apakah seorang komunikator bertujuan menyampaikan informasi, meningkatkan pemahaman

seseorang, memudahkan keputusan yang bebas pada orang lain, menawarkan nilai-nilai yang penting, memperlihatkan eksistensi dan relevansi suatu persoalan sosial, memberikan sebuah jawaban atau program aksi atau memicu pertikaian—persoalan etika yang potensial terpadu dalam upaya-upaya simbolik sang komunikator. Demikianlah keadaannya pada sebagian besar komunikasi pribadi, baik komunikasi antara 2 orang, dalam kelompok kecil, dalam retorika gerakan sosial maupun dalam hubungan masyarakat.

Bahkan muncul ungkapan bahwa manusia adalah satu-satunya hewan” yang secara harfiah dapat disebut memiliki nilai”. Lebih khusus lagi, barangkali esensi tertinggi manusia adalah homo ethicus, manusia adalah pembuat penilaian etika. Tetapi muncul pertanyaan, mengapa mempersoalkan etika dalam komunikasi antar pribadi? Jelas, dengan menghindari

pembicaraan mengenai etika dalam komunikasi, orang akan bersandar pada berbagai macam pembenaran: (1) setiap orang tahu bahwa teknik komunikasi tertentu adalah tidak etis jadi tidak perlu dibahas; (2) karena yang penting dalam komunikasi hanyalah masalah kesuksesan maka masalah etika tidak relevan; (3) penilaian etika hanyalah masalah penilaian individu secara pribadi sehingga tak ada jawaban pasti; dan (4) menilai etika orang lain itu

menunjukkan keangkuhan atau bahkan tidak sopan.

(10)

maslah etika. Kita boleh merasa bahwa tujuan-tujuan etika itu tidak dapat dicapai secara nyata sehingga tidak banyak manfaatnya.

Bagaimana para peserta dalam sebuah transaksi komunikasi pribadi menilai etika dari komunikasi itu, atau bagaimana para pengamat luar menilai etikanya, akan berbeda-beda tergantung pada standar etika yang mereka gunakan. Sebagian diantara bahkan mungkin akan memilih untuk tidak mempertimbangkan etika. Namun demikian, masalah etika yang

potensial tetap ada meskipun tidak terpecahkan atau tidak terjawab.

Apakah seorang komunikator menginginkan penilaian etika atau tidak? Komunikan

umumnya akan menilai, secara resmi ataupun tidak resmi, upaya komunikator berdasarkan standar etika yang relevan menurut mereka. Jika bukan karena alasan lain, selain alasan pragmatik, yakni untuk kesempatan meningkatkan kesuksesan , komunikator perlu mempertimbangkan kriteria etis para khalayaknya.

KESIMPULAN

Pemahaman yang berbeda mengenai nilai-nilai etika yang ada membuat setiap orang dapat memiliki penilaian yang berbeda terhadap setia etika komunikasi. Dalam komunikasi antar pribadi penggunaan etika haruslah berhati-hati karena bukanlah tidak mungkin bahwa pemahaman etika kita berbeda dengan komunikan. Kurangnya pemahaman antar sesama dapat memunculkan miss communication yang akan berujung pada timbulnya berbagai macam prasangka dan salah paham.

Dalam berbagai macam perbedaan tersebut, kita harus mampu beradaptasi dengan cepat. Nilai-nilai yang membentuk etika harus kita pahami dengan benar karena sebenarnya tidak ada komunikasi yang tidak menggunakan nilai-nilai etika di dalamnya, setiap bentuk komunikasi selalu menggunakan etika walaupun dalam kadarnya masing-masing sesuai dengan konteks, tujuan dan situasi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

L.JOHANSEN, RICHARD. 1996. Etika Komunikasi, Penerbit Rosda, Bandung BLAKE, REED H. dan HAROLDSEN. EDWIN O. 2003. Taksonomi Konsep Komunikasi, Penerbit Papyrus, Surabaya

CUTLIP, SCOTT M. dan CENTER, ALLEN H. 2006. Effective Public Relation, Prenada Media Grup, Jakarta

BAB I

(11)

A. Latar Belakang

Komunikasi merupakan suatu cara individu untuk melakukan interaksi dengan individu yang lain. Tanpa komunikasi, individu akan sulit mengungkapkan keinginan, pendapat dan menjalankan hubungan silaturahmi dengan individu lain. Komunikasi sangat erat hubungannya dengan kehidupan sosial individu. Bayangkan, apa yang terjadi jika antara satu individu dengan individu yang lain tidak mengetahui bagaimana cara berkomunikasi, kehidupan sosial tidak akan terjadi, informasi tidak didapatkan dan masyarakat akan menjalani kehidupan yang membosankan karena tidak dapat mencurahkan ide, pendapat dan perasaan mereka.

Komunikasi erat kaitanya dengan sistem indera, misalnya pendengaran. Untuk dapat memahami apa yang dikatakan secara verbal, kita harus mendengarkan. Jika pendengaran terganggu maka akan sulit untuk memahami informasi yang disampaikan secara lisan. Masih banyak lagi contoh hubungan komunikasi dengan sistem indera.

Perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan informasi dalam jarak jauh. Komunikasi dapat dilakukan dengan menggunakan media massa ataupun elektronik, hanya saja tidak selamanya komunikasi yang dilakukan ini efektif. Hal ini tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang kita alami.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu komunikasi?

2. Penjelasan perkembangan setelah berkomunikasi

3. Apa itu Makna Komunikasi?

4. Sebutkan pengertian komunikasi Verbal yang Efektif?

5. Berikan beberapa contoh Konmunika

BAB II

(12)

A. Pengertian Etiket

alam Kamus Umum Bahasa Indonesia diberikan beberapa arti dari kata “etiket”, yaitu: Etiket (Belanda) secarik kertas yang ditempelkan pada kemasan barang-barang (dagang) yang bertuliskan nama, isi, dan sebagainya tentang barang itu. Etiket (Perancis) adat sopan santun atau tata krama yang perlu selalu diperhatikan dalam pergaulan agar hubungan selalu baik.

B. Kode etik profesi

merupakan sarana untuk membantu para pelaksana seseorang sebagai seseorang yang professional supaya tidak dapat merusak etika profesi. Ada tiga hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik profesi, Kode etik profesi memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan. Kode etik profesi merupakan sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan. Kode etik profesi mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.

C. Pengertian Etika Komunikasi

Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat suatu sistem yang mengatur tentang tata cara manusia bergaul. Tata cara pergaulan untuk saling menghormati biasa kita kenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler, dan lain-lain.

Tata cara pergaulan bertujuan untuk menjaga kepentingan komunikator dengan komunikan agar merasa senang, tentram, terlindungi tanpa ada pihak yang dirugikan kepentingannya dan perbuatan yang dilakukan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku serta tidak bertentangan dengan hak asasi manusia secara umum

Tata cara pergaulan, aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam

bermasyarakat dan menentukan nilai baik dan nilai tidak baik, dinamakan etika.

Istilah etika berasal dari kata ethikus (latin) dan dalam bahasa Yunani disebut

(13)

Jadi, etika komunikasi adalah norma, nilai, atau ukuran tingkah laku baik dalam kegiatan komunikasi di suatu masyarakat.

Beberapa pendpat para ahli mengenai pengertian etika antara lain sebagai berikut:

a. Pendapat Drs. D.P. Simorangkir

Etika atau etik adalah pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.

b. Pendapat Drs. Sidi Cjajalba

Etika ialah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

c. Pendapat Dr. A. Voemans

Etika dan etik terdapat hubungan yang erat dengan masalah pendidikan.

D. Etiket

Istilah etika dan etiket ada kalanya digunakan untuk pengertian yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Etika lebih luas pengertian dan penggunaannya daripada etiket.

Istilah etiket, berasal dari kata etiquette (Perancis), yang berarti kartu

undangan, yang biasa digunakan oleh raja-raja Perancis ketika menyelenggarakan pesta. Dalam perkembangan selanjutnya istilah etiket tidak lagi berarti kartu undangan. Etiket artinya lebih menitikberatkan pada cara-cara berbicara yang sopan, cara berpakaian, cara duduk, cara menerima tamu di

rumah/di kantor dan sopan santun lainnya. Etiket ini sering disebut pula tata

krama. Maksudnya kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan

pergaulan setempat. Tata mempunyai arti adat, aturan, norma, peraturan,

sedangkan krama berarti tindakan, perbuatan. Dengan demikian tata krama

(14)

Etiket merupakan sejumlah peraturan kesopanan yang tidak tertulis, namun harus diketahui, diperhatikan dan ditaati dalam kehidupan bermasyarakat. Etiket juga berisi sejumlah aturan yang lama mengenai tingkah laku perorangan dalam masyarakat beradab berupa tata cara formal atau tata krama lahiriah untuk mengatur hubungan antar pribadi sesuai dengan status sosialnya.

Etiket didukung oleh nilai-nilai berikut:

a. Nilai-nilai kepentingan umum.

b. Nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, kebaikan

c. Nilai-nilai kesejahteraan

d. Nilai-nilai kesopanan, harga menghargai

e. Nilai-nilai pertimbangan rasional, mampu membedakan sesuatu yang bersifat

rahasia dan yang bukan rahasia.

E. Perbedaan antara etika dengan etiket

a. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia.

Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalamsebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

b. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan.

Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjamharus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.

c. Etiket bersifat relative.

(15)

d. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam.

Penipu misalnya tutur katanyalembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiketnamun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidakmungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikapetis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

a. Etiket hubungan primer

Aturan” etika yang mengatur hubungan langsung yang diperlukan perusahaan untuk melaksanakan fungsi dan misinya yang utama yaitu memproduksi barang dan jasa

b. Hubungan sekunder

Aturan” etika yang mengatuk hubungan intern perusahaan dengan ekstern perusahaan misalnya hubungan antara produsen dengan konsumen

a. Etiket hubungan penjual dengan pelanggan Meliputi hal”

1. Penggunaan kemasan yang beragam dan berbeda-beda membuat konsumen

sulit untuk membedakan perbandingan harga dengan produknya 2. Perlu memberikan informasi penjelasan

3. Promosi dilakukan dengan jujur dan bersaing dengan sehat

4. Pemberian service/garansi

b. Etiket hubungan perusahaan dengan karyawan

1. Recruitment (Penarikan)

2. Training (latihan)

3. Promosi / Kenaikan pangkat

4. Transfer

5. Demosi/penutunan pangkat

6. Layoff (Pemutusan hubungan kerja/PHK)

c. Etiket hubungan dengan investor

Posting Perusahaan berbentuk PT harus memberikan informasi yang baik dan jujur kepoada para investornya

(16)

Hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan terutama jawaban pajak adalah hubungan yang bersifat finansial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan rugi laba. Misalnya laporan finansial tersebut haruslah disusun secara baik dan benar sehingga tidak terjadi kecenderungan ke arah penggelapan pajak.

F. Etika Komunikasi

Etika komunikasi perkantoran merupakan suatu rangkuman istilah yang mempunyai pengertian tersendiri, yakni norma, nilai atau ukuran tingkah laku yang baik dalam kegiatan komunikasi dalam kegiatan komunikasi di suatu perkantoran. Pada dasarnya komunikasi perkantoran dapat berlangsung secara lisan maupun tertulis. Secara lisan dapat terjadi secara langsung (tatap muka), maupun dengan menggunakan media telepon. Secara tertulis misalnya dengan mempergunakan surat. Baik komunikasi langsung maupun tidak langsung, norma etika perlu diperhatikan.

Komunikasi perkantoran merupakan proses komunikasi antara pimpinan dengan anggota, antar anggota, maupun antar unsur pimpinan. Untuk menjaga agar proses komunikasi tersebut berjalan baik, agar tidak menimbulkan dampak negatif, maka diperlukan etika berkomunikasi. Cara paling mudah menerapkan etika komunikasi perkantoran ialah, semua anggota dan pimpinan perkantoran perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Tata krama pergaulan yang baik

2. Norma kesusilaan dan budi pekerti

3. Norma sopan santun dalam segala tindakan

(17)

persiapan komunikasi yang sesui dengan tuntutan etis kedua belah pihak. Ketika kita paham tentang karakter orang yang kita hadapi kita akan lebih mudah berusaha menamppilkan diri sebaik-baiknya dalam berkomunikasi.

Hak untuk berkomunikasi di ruang publik merupakan hak yang paling mendasar. Jika hak itu tidak dijamin akan memberi kebebasan berpikir sehingga tidak mungkin bisa ada otonomi manusia. Hak untuk berkomunikasi di ruang publik ini tidak bisa dilepaskan dari otonomi demokrasi yang didasarkan pada kebebasan untuk berekspresi (B. Libois, 2002:19). Jadi, untuk menjamin otonomi demokrasi ini hanya merupakan bagian dari upaya untuk menjamin otonomi demokrasi tersebut.

Etika komunikasi selalu dihadapkan dengan berbagai masalah, yaitu antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab terhadap pelayanan publik. Etika komunikasi memiliki tiga dimensi yang terikat satu dengan yang lain, yaitu:

1. Aksi komunikasi

Aksi komunikasi yaitu dimensi yang langsung terikat dengan perilaku aktor komunikasi (wartawan, editor, agen iklan, dan pengelola rumah produksi). Perilaku aktor komunikasi hanya menjadi salah satu dimensi etika komunikasi, yaitu bagian dari aksi komunikasi. Aspek etisnya ditunjukkan pada kehendak baik ini diungkapkan dalam etika profesi dengan maksud agar ada norma intern yang mengatur profesi.

2. Sarana

Dalam masalah komunikasi, keterbukaan akses juga ditentukan oleh hubungan kekuasaan. Penggunaan kekuasaan dalam komunikasi tergantung pada penerapan fasilitas baik ekonomi, budaya, politik, atau teknologi (bdk. A. Giddens, 1993:129). Semakin banyak fasilitas yang dimilki semakin besar akses informasi, semakin mampu mendominasi dan mempengaruhi perilaku pihak lain atau publik.

3. Tujuan

(18)

Komunikasi merupakan salah satu bidang yang sangat penting dalam kegiatan kantor melihat hakikat kantor sebagai kumpulan orang yang bersama-sama menyelenggarakan kegiatan kantor atau kegiatan ketatusahaan. Seorang manajer harus dapat berkomunikasi secara efektif dengan semua pegawai kantor baik sacara horizontal maupun vertikal atau secara diagonal. Pengurusan informasi (information handling) yakni menyampaikan dan penerimaan berita akan berjalan dengan baik bila dalam kantor itu terdapat komunikasi yang efektif.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Komunikasi ialah suatu proses pengiriman pesan atau simbol-simbol yang mengandung arti dari seseorang komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu. Komunikasi mempunyai komponen-komponen agar komunikasi dapat berjalan dengan baik, yaitu:

1. Komunikator atau pengirim pesan

2. Pesan atau informasi

3. Media atau saluran

4. Komunikan atau penerima pesan

5. Umpan balik atau feedback

6. Gangguan

(19)

mempengaruhi kehidupan manusia. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita.

Aliran etika menurut John C. Merill (1975: 79-88) antara lain deontologis,

teleologis, egoisme, dan utilitarisme. Deontologis artinya suatu tindakan secara

hakiki mengandung nilai sendiri apakah baik atau buruk. Aliran teleologis melihat

nilai etis bukan pada tindakan itu sendiri, tetapi dilihat atas tindakan itu. Aliran

egoisme artinya tindakan dikategorikan etis dan baik, apabila menghasilkan

terbaik bagi diri sendiri. Aliran utilitarisme yaitu yang memandang suatu

tindakan itu baik jika akibatnya baik bagi orang banyak.

Profesi menurut De George adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Kode etik merupakan standar moral bagi setiap anggota profesi yang dituangkan secara formal, tertulis dan normatif dalam suatu bentuk aturan main. Disusunnya kode etik profesi ialah merupakan komitmen terhadap tanggung jawab pelaksanaan tugas dan kewajiban. Fungsi kode etik profesi ialah memandu, mendampingi, memberi arah tingkah laku anggota profesi agar tidak keluar dari etika yang menjadi panutan.

Etika komunikasi perkantoran merupakan suatu rangkuman istilah yang mempunyai pengertian tersendiri, yakni norma, nilai atau ukuran tingkah laku yang baik dalam kegiatan komunikasi dalam kegiatan komunikasi di suatu perkantoran. Untuk menjaga agar proses komunikasi tersebut berjalan baik, agar tidak menimbulkan dampak negatif, maka diperlukan etika berkomunikasi. Cara paling mudah menerapkan etika komunikasi perkantoran ialah, semua anggota dan pimpinan perkantoran perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Tata krama pergaulan yang baik

2. Norma kesusilaan dan budi pekerti

3. Norma sopan santun dalam segala tindakan

BAB I PENDAHULUAN

(20)

kata lain komunikasi berfungsi sebagai arus informasi timbal balik dari seorang individu ke individu lainnya dengan adanya komunikasi maka akan memudahkan hubungan tersebut, manusia secara naluri membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya namun dalam penyampaian informasi, tidak semua manusia mampu menyampakan informasi tersebut dengan mudah, terkadang seorang individu mengalami kendala, baik berupa pemilihan kata, penyampaian yang tidak efektif, pemborosan kata, faktor perasaan ataupun maksud berbeda dari pemikiran individu tersebut dengan informasi yang dipaparkan. semua hal tersebut merupakan hambatan komunikasi seorang individu yang perlu ditangani, untuk mengetahui lebih jelasnya perlu disimak beberapa point penting, yang perlu kita penuhi, agar komunikasi berjalan lancar, efektif serta efisien (tidak bertele-tele).

BAB II

ETIKA BERKOMUNIKASI A. Pengertian Etika.

Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).*sumber ( wikipedia.org )

B. Pentingnya Etika Dalam Berkomunikasi.

(21)

dan jika komunikasi telah terjalin dengan mudah maka proses transaksi informasi pun akan lebih efektif.

Pentingnya etika dapat dilihat jika seseorang berkomunikasi, kita tentu lebih menghargai orang yang berbicara dengan sopan ketimbang orang yang berbicara dengan kasar atau tidak sopan, seorang komunikan akan ragu untuk terbuka dengan orang yang memiliki kredibilitas yang rendah, penyampaian pesan yang tidak valid juga akan menyulitkan seorang komunikan dalam menangkap pesan maka dari itu kita perlu mengetahui etika apasaja yang perlu kita penuhi sebelum berkomunikasi.

C. Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Berkomunikasi.

Ada beberapa hal pokok yang mana kita selaku komunikator perlu lakukan dan perlu aplikasikan dalam kehidupan, antara lain :

a. Fokus pada lawan bicara

Fokus dalam berkomunikasi merupakan kunci agar informasi yang disampaikan komunikator kepada kita berjalan lebih efektif, orang yang cinderung tidak memperhatikan lawan bicaranya biasanya kehilangan beberapa potong informasi yang disampaikan dan terjadi kesenjangan antara kedua belah pihak, biasanya pihak yang menyampaikan informasi (komunikator) secara perasaan akan tersinggung dengan kita dan secara otomatis kesalahan fatal informasi (informasi yang salah) yang masuk dapat berdampak langsung dengan pengplikasian kita.

b. Fokus pada masalah

Dalam beberapa kasus komunikasi beberapa individu melupakan pokok permasalah yang ingin dibicarakan hal ini terjadi karena informasi yang seharusnya disampaikan terlalu melenceng dari yang dibicarakan (basa-basi), perlu adanya penyusunan konsep sebelum berbicara dengan orang lain, komunikasi ini biasanya disebut dengan komunikasi yang tidak efisien karena informasi yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan komunikator. Maka dari itu perlu adanya focus masalah, yaitu tidak mencampur adukkan masalah lain yang tidak memilik kaitan dengan informasi tersebut.

c. Jangan menimpali pembicaraan.

Komunikan yang baik adalah komunikan yang mau mendengarkan dengan bijaksana perkataan dari komunikator, menghargai apa yang dikatakannya dan tidak menimpali atau menyela perkataannya sebelum selesai.

d. Saling menghargai

(22)

tinggi jika dua individu memiliki kesamaan yang besar, sebagai contoh seorang collecor barang antik tentu akan lebih cenggung berkomunikasi dengan seorang pecinta ayam hias dari pada seorang collector lainnya. Namun meski demikian jika kita dan orang lain tidak memiliki faktpr kesamaan, kita harus tetap menjaga etika dengan menghargai tiap ucapan orang tersebut dengan menyimak dan mendengarkan apa yang dikatakannya, dengan demikian rasa pengahargaan akan timbul pula pada orang yang kita hargai tersebut.

e. Selingi Dengan Humor

Ada kalanya dalam berkomunikasi kita merasa bosan dengan informasi yang disampaikan tentu ini bukan kesalahan pendengar namun dalam proses penyampaian informasi tersebut kurang bumbu yang menarik pendengar, dalam hal ini kita perlu menyelinginya dengan candaan atau gurauan agar para pendengar atau komunikan tidak merasa bosan dengan apa yang kita sampaikan.

D. Hal-Hal Yang Perlu Dihindari Dalam Berkomunikasi

Dalam berkomunikasi dengan orang lain ada etika tersendiri yang harus kita pegang, kita selaku individu perlu menjaga perasaan lawan bicara kita agar mereka tidak tersinggung ataupun salah paham dengan maksud dan tujuan kita. Adapun point-point berikut ditujukan kepada lawan bicara yang biasanya baru kita temui, baru kita kenal ataupun kurang akrab dengan orang tersebut diantaranya :

a. Penggunaan kalimat informal (tidak baku)

Dalam proses transaksi informasi seorang individu termasuk kepada orang yang tidak dikenal atau belum memiliki kedekatan sama sekali, kita perlu menggunakan kalimat baku atau formal agar orang lain merasa dihargai.

b. Berbicara sambil melakukan hal lain

(23)

Dalam beberapa kasus, ada beberapa orang yang cinderung lebih menyukai penyampaian langsung (to the point) sebuah informasi, meski sebagian juga menyukai basa-basi, namun dalam komunikasi formal kita tidak memerlukan basa-basi kita hanya perlu memaparkan garis besarnya.

d. Berbicara dengan nada kasar

Berbicara dengan nada kasar tidak perlu penjelasan lebih lanjut, orang tentu tidak akan suka jika dibentak dan dimaki.

e. Nada memerintah

Dalam hal ini orang cinderung tidak sadar menggunakan kalimat-kalimat memerintah yan seharusnya kita hindari karena bisa menyinggung lawan bicara sebagai contoah “bapak harus lebih kompeten dalam mengajar” kalimat tersebut jelas berisi kalimat perintah.

f. Tidak boleh menghakimi

Dalam komunikasi kita tidak boleh mengajukan kalimat yang menghakimi seprti “bapak pasti korupsi.!” atau “tentu bapak telah melakukan hal yang keji..” dan sebagainya

g. Manage intonasi

Perlu adanya control dengan nada suara kita, tidak boleh terlalu tinggi (akan terkesan membentak) dan tidak boleh terlalu rendah (terkaesan berbisik). Perlu nada yang sesuai dan nyaman didengar.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain. Dengan adanya komunikasi, maka terjadilah hubungan sosial karena bahwa manusia itu adalah sebagai makhluk sosial, diantara satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi timbal balik.

(24)

berkomunikasi dalam ruang lingkup perkantoran. Cara yang paling mudah menerapkan etika komunikasi dalam perkantoran ialah, semua anggota dan pimpinan perkantoran perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Tata krama pergaulan yang baik

2. Norma kesusilaan dan budi pekerti

3. Norma sopan santun dalam segala tindakan

Dalam suatu organisasi penerapan etika komunikasi dibutuhkan untuk semua bentuk kegiatan kerja. Etika komunikasi yakni etika komunikasi yang terjadi dan berlangsung dalam kantor (office communication). Dengan terciptanya etika komunikasi timbal balik yang baik antara pimpinan dan karyawan, akan menimbulkan produktivitas kerja yang baik. Dengan kata lain tanpa adanya komunikasi, maka pekerjaan kantor akan menjadi tidak sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan sehingga tujuan-tujuan yang diharapkan tidak akan tercapai. Pada dasarnya komunikasi kantor dapat berlangsung secara lisan maupun tulisan. Secara lisan, dapat terjadi secara langsung (tatap muka atau face to face) tanpa melalui perantara. Setiap individu berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola perilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh setiap individu atau apa yang seharusnya dijalankan individu, dan apa tindakan yang seharusnya dilakukan.

B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan pengertian komunikasi!

2. Jelaskan pengertian etika!

3. Apa saja aliran-aliran etika?

4. Jelaskan pengertian profesi!

5. Bagaimana etika profesi itu?

6. Seperti apa etika dalam berkomunikasi?

C. Tujuan

Bagi Pembaca:

(25)

2. Pembaca dapat mengetahui lebih mendalam mengenai Etika

Komunikasi. Bagi Penulis:

1. Penulis menjadi lebih mengetahui secara mendalam mengenai Etika

Komunikasi.

2. Sebagai acuan dalam membuat makalah selanjutnya.

D. Manfaat

Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap semua pihak dalam mempelajari tentang Etika Komunikasi. Selain itu dapat menambah wawasan kita semua mengenai berkomunikasi dengan baik yang selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikasi

Meskipun komunikasi merupakan kegiatan yang sangat dominan dalam kehidupan sehari-hari, namun tidaklah mudah memberikan definisi yang dapat diterima semua pihak. Sebagaimana layaknya ilmu sosial lainnya, komunikasi mempunyai banyak definisi sesuai dengan persepsi ahli-ahli komunikasi yang memberikan batasan pengertian. Beberapa contoh definisi komunikasi menurut beberapa tokoh antara lain:

1. Wilbur Schramm (1955)

Komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan pengirim, dengan bantuan pesan, pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.

(26)

Komunikasi ialah proses yang didalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus.

3. Edward Depari (1990)

Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan.

Dari beberapa pengertian komunikasi menurut beberapa tokok diatas, dapat kita kemukakan pengertian yang sederhana, bahwa komunikasi ialah suatu proses pengiriman pesan atau simbol-simbol yang mengandung arti dari seseorang komunikator kepada komunikan dengan tujuan tertentu.

Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, maka komponen-komponen komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Komunikator atau Pengirim Pesan

Komunikator ialah individu atau orang yang mengirim pesan. Seorang komunikator menciptakan pesan, untuk selanjutnya mengirimkannya dengan saluran tertentu kepada orang atau pihak lain.

2. Pesan atau Informasi

Pesan adalah informasi yang diciptakan komunikator dan akan dikirimkan kepada komunikan. Pesan ini dapat berupa pesan verbal maupun non-verbal. Pesan verbal ialah pesan yang berbentuk ungkapan kata/kalimat baik lisan maupun tulisan. Pesan non-verbal ialah pesan isyarat, baik berupa isyarat gerakan badan, ekspresi wajah, nada suara, dan sebagainya.

3. Media atau Saluran

Media ialah suatu sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari seorang komunikator kepada komunikan. Ada berbagai macam media, meliputi media cetak, audio, audio visual.

4. Komunikan atau Penerima

Komunikan adalah pihak penerima pesan. Selain menerima pesan, komunikan juga bertugas untuk menganalisis dan menafsirkan sehingga dapat memahami makna pesan tersebut.

5. Umpan Balik atau Feedback.

(27)

6. Gangguan atau Noise

Gangguan komunikasi sering kali terjadi, baik gangguan yang bersifat teknis maupun semantis. Gangguan teknis bisa saja terjadi karena saluran tidak berfungsi secara baik. Sementara itu gangguan semantis bermula dari perbedaan dalam pemaknaan arti lambang atau simbol dari seorang komunikator dengan komunikan. mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.

Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.

Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik.

(28)

pula yang dinilai buruk. Etika juga disebut ilmu normatif, maka dengan sendirinya berisi ketentuan-ketentuan yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai tingkah laku apakah baik atau buruk, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini :

a. Drs. O.P. Simorangkir : etika atau etik sebagai pandangan manusia

dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.

b. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang

tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari seg baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

c. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara

mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yang pelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

Ada dua macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :

1. Etika deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis

dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.

2. Etika normatif, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap

(29)

Etika secara umum dapat dibagi menjadi :

1. Etika umum, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana

manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat di analogkan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.

2. Etika khusus, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam

bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis, cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakan, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya. Etika khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :

a. Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia

terhadap dirinya sendiri.

b. Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola

perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

Perlu diperhatikan bahwa etika individual dan etika sosial tidak dapat dipisahkan satu sama lain dengan tajam, karena kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan sebagai anggota umat manusia saling berkaitan.

Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan idiologi-idiologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup.

Dengan demikian luasnya lingkup dari etika sosial, maka etika sosial ini terbagi atau terpecah menjadi banyak bagian atau bidang. Dan pembahasan bidang yang paling aktual saat ini adalah sebagai berikut :

1. Sikap terhadap sesama

(30)

3. Etika profesi

4. Etika politik

5. Etika lingkungan

6. Etika idiologi

Sistem Penilaian Etika :

1. Titik berat penilaian etika sebagai suatu ilmu, adalah pada perbuatan

baik atau jahat, susila atau tidak susila

2. Perbuatan atau kelakuan seseorang yang telah menjadi sifat baginya

atau telah mendarah daging, itulah yang disebut akhlak atau budi pekerti. Budi tumbuhnya dalam jiwa, bila telah dilahirkan dalam bentuk perbuatan namanya pekerti. Jadi suatu budi pekerti, pangkal penilaiannya adalah dari dalam jiwa; dari semasih berupa angan-angan, cita-cita, niat hati, sampai ia lahir keluar berupa perbuatan nyata.

3. Burhanuddin Salam, Drs. menjelaskan bahwa sesuatu perbuatan di

nilai pada 3 (tiga) tingkat :

a. Tingkat pertama, semasih belum lahir menjadi perbuatan, jadi masih

berupa rencana dalam hati, niat.

b. Tingkat kedua, setelah lahir menjadi perbuatan nyata, yaitu pekerti.

c. Tingkat ketiga, akibat atau hasil perbuatan tersebut, yaitu baik atau

buruk.

C. Aliran Etika

Suatu ukuran baik dan buruk sifatnya individual yakni akan dilihat dari orang yang menilainya, karena baik dan buruk itu terikat pada ruang dan waktu, sehingga ia tidak berlaku secara universal. Suatu perbuatan dinilai baik atau buruk dapat dilihat dari beberapa aliran-aliran dari berbagai sudut pandang, antara lain:

1. Adat Kebiasaan

Ukuran baik atau buruk menurut adat kebiasaan yakni tergantung kepada kesetiaan dan ketaatan seseorang (loyal) terhadap ketentuan adat istiadat. Namun demikian, ukuran menurut adat ini tidak dapat digunakan sepenuhnya karena ketentuan-ketentuan dari Hukum Adat yang berasal dari adat istiadat banyak yang irasional (tidak dapat diterima oleh akal sehat).

(31)

Yang menjadi ukuran baik atau buruk menurut paham ini yaitu apakah suatu perbuatan tersebut melahirkan kebahagiaan dan kenikmatan / kelezatan. Dalam paham ini terbagi lagi menjadi:

a. Aliran hedonisme individualistis

Maksud dari aliran ini yaitu suatu kebahagiaan yang bersifat individualistis (egoistik hedonism), jika suatu keputusan baik bagi pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya.

b. Kebahagiaan rasional (Rasionalistik Hedonism)

Aliran ini berpendapat, bahwa kebahagiaan atau kelezatan individu itu haruslah berdasarkan pertimbangan akal sehat.

c. Kebahagiaan Universal (Universalistic Hedonism)

Lain halnya dengan aliran ini, yang menjadi tolak ukur apakah suatu perbuatan baik atau buruk dapat melihat kepada suatu akibat perbuatan tersebut apakah melahirkan kesenangan atau kebahagiaan terhadap seluruh makhluk (bukan untuk diri sendiri/pribadi).

3. Bisikan Hati (Instuisi)

Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran hedonisme, yakni menilai suatu perbuatan baik atau buruk adalah dengan kekuatan batin tanpa melihat terlebih dahulu akibat yang ditimbulkan dari perbuatan itu, akan tetapi tujuannya kepada kebaikan budi pekerti.

4. Evolusi

Paham ini berpendapat bahwa segala sesuatunya yang ada di alam ini selalu (secara berangsur-angsur) mengalami perubahan yakni berkembang menuju ke arah kesempurnaan. Adapun seorang Filsuf Herbert Spencer (1820-1903) mengemukakan bahwa perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhana kemudian dengan berlakunya (evolusi) akan menuju ke arah cita-cita , dan cita-cita inilah yang dianggap sebagai tujuan. Yang menjadi tujuan dari cita-cita manusia adalah kebahagiaan dan kesenangan, sehingga suatu kesenangan atau kebahagiaan itu akan selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi sosial.

5. Paham eudaemonisme

(32)

a. Kesehatan, kebebasan, kemerdekaan, kekayaan dan kekuasaan menurut penganut paham ini ukuran baik atau buruk itu bukanlah alam tetapi “vitae” yakni yang sangat diperlukan untuk hidup. Tokoh terpenting dari aliran ini yaitu F. Niettsche, dia banyak sekali memberi pengaruh terhadap tokoh revolusioner seperti Hitler. Pada akhir hayatnya ia menjadi seorang ateis dan mati dalam keadaan gila, dia memproklamirkan gagasan “God is dead”, Tuhan telah mati, Tuhan itu tidak ada lagi, maka jauhkanlah diri (putuskan hubungan dengan Tuhan). Aliran vitalisme ini dikelompokkan menjadi:

a. Vitalisme Pessimistis (Negatif Vitalistis). Disebut pesimis karena

manusia yang dilahirkan adalah celaka, maksudnya karena ia telah dilahirkan dan hidup, sedangkan lahir dan hidupnya manusia itu tiada guna. Terdapat ungkapan yakni “homohomini lupus”, artinya manusia yang satu adalah segala bagi manusia yang lainnya.

b. Vitalisme Optimisme. Menurut aliran ini, hidup atau kehidupan adalah

berarti pengorbanan diri karena itu hidup yang sejati adalah kesediaan dan kerelaan untuk melibatkan diri dalam setiap kesusahan, yang paling baik adalah segala sesuatu yang menempa kemauan manusia untuk berkuasa. Oleh karena itu, perang adalah halal, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan memegang kekuasaan.

7. Aliran Pragmatisme

Aliran ini menitikberatkan pada hal yang berguna dari diri sendiri,baik yang bersifat moril maupun materil. Serta menitikberatkan padapengalaman, oleh karena itu penganut ini tidak mengenal istilah kebenaran, sebab kebenaran itu bersifat abstrak dan tidak diperoleh dalam dunia empiris.

8. Aliran Gessingnungsethik

(33)

9. Aliran Idealisme

Istilah tersebut berasal dari bahasa Gerika (Yunani), yaitu dari kata “idea” yang secara etimologis berarti: akal, pikiran, atau sesuatu yang hadir dalam pikiran, atau dapat juga disebut sesuatu bentuk yang masih ada dalam alam pikiran manusia. Aliran ini berpendapat bahwa segala yang ada hanyalah tiada, sebab yang ada itu hanya gambaran dari alam pikiran (bersifat tiruan), sebaik apa pun suatu tiruan tentunya tidak akan seindah aslinya (ide). Dengan demikian, yang baik itu hanya apa yang ada di dalam ide itu sendiri.

Selain itu, aliran etika lainnya diuraikan oleh John C. Merill (1975:79-88) yang dapat digunakan sebagai standar menilai tindakan etis, antara lain deontologis, teleologis, egoisme, dan utilitarisme.

Aliran deontologis (deon = yang harus/wajib, Yunani) melakukan penilaian atas tindakan dengan melihat tindakan itu sendiri. Artinya, suatu tindakan secara hakiki mengandung nilai sendiri apakah baik atau buruk. Kriteria etis ditetapkan langsung pada jenis tindakan itu sendiri. Ada tindakan/perilaku yang langsung dikategorikan baik, tetapi juga ada perilaku yang langsung dinilai buruk.

Ukuran etis yang berbeda, dikemukakan oleh aliran teleologis (telos berarti tujuan). Aliran ini melihat nilai etis bukan pada tindakan itu sendiri, tetapi dilihat atas tindakan itu. Jika tujuannya baik dalam arti sesuai dengan norma moral, maka tindakan itu digolongkan sebagai tindakan etis. Jadi apabila suatu tindakan betujuan jelek, akan dikategorikan tidak etis.

Etika egoisme menetapkan norma moral pada akibat yag diperoleh oleh pelakunya sendiri. Artinya tindakan dikategorikan etis dan baik, apabila menghasilkan terbaik bagi diri sendiri.

Etika utilitarisme (utilitis = berguna) adalah kebalikan dari paham egoisme, yaitu yang memandang suatu tindakan itu baik jika akibatnya baik bagi orang banyak. Dengan demikian, tindakan itu tidak diukur dari kepentingan subyektif individu, melainkan secara obyektif pada masyarakat umum. Semakin universal akibat baik dari tindakan itu, maka dipandang semakin etis.

(34)

Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.

Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan

tugasnya memerlukan/menuntut keahlian (expertise),

menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian diperoleh dari lembaga pendidikan yang khusus diperuntukkan untuk itu dengan kurikulum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang-bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya, tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut De George, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi. Berikut pengertian profesi dan profesional menurut De George :

· Profesi, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk

menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

· Profesional, adalah orang yang mempunyai profesi atau pekerjaan

purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu dengan mengandalkan suatu keahlian yang tinggi. Atau seorang profesional adalah seseorang yang hidup dengan mempraktekkan suatu keahlian tertentu atau dengan terlibat dalam suatu kegiatan tertentu yang menurut keahlian, sementara orang lain melakukan hal yang sama sebagai sekedar hobi, untuk senang-senang, atau untuk mengisi waktu luang.

Yang harus kita ingat dan fahami benar bahwa “pekerjaan/profesi” dan “profesional” terdapat beberapa perbedaan, yaitu:

· Profesi :

(35)

b. Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna

waktu).

c. Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.

d. Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.

· Profesional :

a. Orang yang tahu akan keahlian dan keterampilannya.

b. Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatannya itu.

c. Hidup dari situ.

d. Bangga akan pekerjaannya.

Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :

1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan

ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.

2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya

setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.

3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana

profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.

4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan

selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.

5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

Dengan melihat ciri-ciri umum profesi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kaum profesional adalah orang-orang yang memiliki tolak ukur perilaku yang berada di atas rata-rata. Di satu pihak ada tuntutan dan tantangan yang sangat berat, tetapi di lain pihak ada suatu kejelasan mengenai pola perilaku yang baik dalam rangka kepentingan masyarakat. Seandainya semua bidang kehidupan dan bidang kegiatan menerapkan suatu standar profesional yang tinggi, bisa diharapkan akan tercipta suatu kualitas masyarakat yang semakin baik. Prinsip-prinsip etika profesi :

1. Tanggung jawab

a. Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.

b. Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau

(36)

2. Keadilan.

Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.

3. Otonomi.

Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

segolongan orang saja, tetapi milik setiap kelompok masyarakat, bahkan kelompok yang paling kecil yaitu keluarga sampai pada suatu bangsa. Dengan nilai-nilai etika tersebut, suatu kelompok diharapkan akan mempunyai tata nilai untuk mengatur kehidupan bersama.

2. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang

3. Sorotan masyarakat menjadi semakin tajam manakala perilaku-perilaku

(37)

Selain ciri-ciri profesi yang telah disebutkan diatas, James J.

4. Melalui periode panjang menjalani pendidikan, latihan dan sertifikasi,

5. Menjadi anggota asosiasi atau organisasi profesi tertentu sebagai

wadah komunikasi, membina hubungan baik dan saling tukar-menukar informasi sesama para anggotanya,

6. Memperoleh pengakuan terhadap profesi yang disandangnya,

7. Sebagai profesional memiliki perilaku dengan tanggungjawab sesuai

kode etik.

Kode etik merupakan standar moral bagi setiap anggota profesi yang dituangkan secara formal, tertulis dan normatif dalam suatu bentuk aturan main. Disusunnya kode etik profesi ialah merupakan komitmen terhadap tanggung jawab pelaksanaan tugas dan kewajiban. Fungsi kode etik profesi ialah memandu, mendampingi, memberi arah tingkah laku anggota profesi agar tidak keluar dari etika yang menjadi panutan. Kode etik profesi memberi gambaran nyata tentang:

Untuk mendapatkan atau melakukan kebenaran tindakan, maka kita harus taat etika. Untuk mendapatkan kebenaran hukum, para profesional di bidang ini harus taat pada kode etik hukum. Untuk melaksanakan kebenaran jurnalistik, maka para anggota profesi wartawan harus memperhatikan kode etik profesinya.

Pada hakikatnya tindakan yang benar hanya satu, tetapi yang tidak benar banyak tidak terhingga. Oleh karena itu, tindakan profesional perlu dipandu oleh etika profesi. Melalui pemahaman, penghayatan dan pengamalan etika profesi, diharapkan semua anggota perkantoran memiliki kualifikasi etis yang meliputi:

Referensi

Dokumen terkait

Kendaraan pribadi (mobil) atau kendaraan roda dua (motor) sampai lokasi Makanan dan minuman tersedia dilokasi. 09 DIBUAT OLEH

Dengan bertebarannya para sahabat ke berbagai daerah semenjak masa al-Khulafaur Rasyidun (terutama sejak Usman bin Affan menduduki jabatan Khalifah, 33 H./644 M.),

Di dalam ALO 4.0 Lost in Wonderland, kalian akan menemukan 2 Fitur baru yang sangat menarik yaitu Fitur New Pet Sistem dimana kalian bisa mendapatkan pet baru dengan

Serta nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 (0,092 > 0,05) Sehingga, dapat disimpulkan bahwa variabel pelatihan secara parsial berpengaruh positif tetapi

5 AGUS SALEH ATMADIPOERA PUPT Lanjut. 6 ANI KURNIAWATI

Sementara pertanyaan dengan respon paling rendah adalah model pembelajaran berdasarkan masalah (PBL) yang dilaksanakan memotivasi siswa untuk belajar (75,86%),

Disamping karena pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfsme juga dipengaruhi oleh fuida, dimana fuida (H2O) dalam jumlah bervariasi di antara butiran mineral atau pori-pori

Berbeda dengan di atas, Resiliensi didefinisikan oleh (Wolin, 1999) sebagai proses tetap berjuang saat berhadapan dengan kesulitan, masalah, atau penderitaan, sedangkan