• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori dan Praktik Etika PL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori dan Praktik Etika PL"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Yane Octavia Rismawati Wainarisi

NIM : 1400101

Data Buku : Rogerson, John, Ed all.Theory and Practice In Old Testament Ethics. T&t Clark: New York, 2004. ISBN: 0-8264-7165-X (HB)

13-20

The Old Testament and Social and Moral Questions

(2)

sendiri sebenarnya tidak secara langsung menulis tentang hukum-hukum atau prinsip dalam penciptaan. Allah menyetujui apa yang disebut dengan sensitifitas moral sebagai pegangan terhadap kebenaran. Sensitifitas ini muncul sejalan dengan pertumbuhan seseorang dan dimiliki oleh semua orang meskipun tidak dilakukan secara efektif oleh semua orang. Karena itu penebusan merupakan hal yang mutlak masih diperlukan. Allah menebus Israel agar mereka terdapat membagikan kasih karunia itu juga kepada bangsa lain. Menariknya, dalam PL tanggungjawab ini dilakukan juga secara terstruktur, tidak hanya sebagai legalitas namun juga hati nurani. Kita tetap perlu memberi jawab tentang fenomena-fenomena yang terjadi belakangan. Entah melalui pendekatan PL, dengan cara normatif ataupun melalui penebusan. Tapi kita terbatas, penerapan etis pada akhirnya kembali kepada masing-masing pribadi. Apapun itu, sebaikya lakukanlah demi Kerajaan Allah.

21-28

Christian Morality and The Old Testament

(3)
(4)

menebus sesamanya biasanya dihubungkan dengan kasus perbudakan. Namun zaman sekarang, kasus perbudakan sudah bukan lagi masalah. Masalah-masalah masa kini telah menemukan bentuknya yang baru. Karena itu kontribusi PL bagi moral Kristen sepertinya hanya sebagai contoh ketimbang ajaran. Tapi apapun itu, Kristen masa kini tetap harus terus bertindak secara etis baik secara vertikal maupun horizontal. Sebuah bentuk respon terhadap penebusan Allah di masa sekarang, bukan hanya bagi sesama manusia, namun juga lingkungan sekitarnya, bumi beserta semua yang diam di dalamnya.

34-39

The Old Testament And Christian Ethics

(5)

anugerah Allah, selayaknya untuk membagikan anugerah itu bagi sesamanya. Bagaimanapun PL merupakan buku tentang moral, meski terlihat lebih ekstrim. Adalah suatu hal yang logis jika kemenangan diberikan sebagai ketaatan dan hukuman diberikan sebagai konsekuensi kejahatan. Lalu bagaimana menarik aplikasi etisnya dalam kehidupan masa kini? Rogerson mengadopsi pikiran Habermas tentang etika komunikasi. Bagaimana meretas konteks Yahudi dan dunia masa kini? Komunikasi. PL itu dianggap sebagai kitab Hukum yang menakutkan dan memuat tindakan-tindakan ilegal karena kita tidak bisa mengkomunikasikannya sehingga diterima dengan logis oleh audience. Seorang yang mengaku ahli dalam etika PL sebaiknya tahu bagaimana mengkomunikasikan pesan Alkitab dalam argumentasi yang logis kepada semua audience-nya sehingga mereka mau bertindak etis berdasarkan PL. Letak simpel atau ribetnya serta menakutkanya upaya aplikatif PL terletak pada bagaimana sang komunikator mengkomunikasikan PL itu sehingga tepat diterima dengan rasio atau dianggap logis oleh pemirsanya. Bukan sekedar wacana etis, tapi tindakan etis. dengan demikian, aplikasi PL itu seharusnya mudah dan menyenangkan.

41-50

Life and Death Between Creation and Fall: Some Theological Reflections On Life Issues

(6)

kepedulian terhadap dunia. Ini idealnya, mari lihat fakta lapangan dalam perkembangan sejarah dunia. Seiring kemajuan zaman, paradigma dunia modern tentang penciptaan berubah pula. Cara pandang terhadap penciptaan juga berubah apalagi pikiran tentang kehidupan dan kematian. Yang pasti adalah bahwa setiap orang ingin hidup dan bertahan dalam dunia, namun cara untuk mempertahankan hidup masing-masing orang berbeda. Pengagungan rasio yan menjadi cirikhas dunia modern sepertinya telah menjadi sebuah efek jelas kejatuhan sehingga manusia menjadi sedemikian rumit mempertahankan iman mereka pada masa ini. Manusia berusaha sedemikian rupa dengan rasio mereka untuk memecahkan setiap persoalan yang ada di dalam dunia termasuk juga melawan kematian. Namun kembali lagi, keterbatasan manusia merupakan bukti efek kejatuhan. Bagaimana mungkin mereka melakukan segala sesuatu tanpa landasan kepercayaan, tanpa iman atau sebaliknya. Di zaman Post Modern ini, fakta-fakta hidup, fenomena-fenomena masa kini mebuat kita diperhadapkan pada keputusan-keputusan sulit dan serba dilematis. Setiap orang hadir dengan pembelaan kasus mereka masing-masing dan secara rasio, ini sah. Hukum dan gereja masa kini bahkan sudah melegalkan beberapa fenomena yang dulu dikecam baik oleh agama maupun budaya. Tapi masalahnya, bukankah setiap orang bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri? Pemikiran zaman postmodern ini semakin berkembang. Ruang pribadi semakin diperlebar. Lingkungan sosial masyarakat, tekhnologi, sepertinya juga mendukung paradigma ini. Kepedulian bukan hanya kepada sesama, terhadap Tuhan pun terkesan hambar. Setiap orang mempunyai kebenarannya masing-masing, tidak boleh dipaksa oleh orang lain dan tidak boleh memaksa orang lain. Tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang bisa memaksa manusia untuk tunduk. Hukum pun yang mempunyai pengertian mengikat dan memaksa bagi setiap penganutnya sepertinya malah sudah kehilangan gigi sama sekali. Jika ada paksaan, itu berarti telah terjadi pelanggaran HAM. Dan setiap orang sedang sangat “peduli” dengan istilah ini, “Perjuangan HAM”. Entah HAM ini sebenarnya milik siapa? Tidak ada kebenaran mutlak, semua serba relatif, liberal, individualis. Terserah orang mau bilang apa, terserah orang mau bertindak bagaimana, karena yang paling penting adalah “saya”. Pertanyaannya ada berapa banyak “Saya” di dunia ini? Apakah ini juga merupakan efek kejatuhan? Jika benar, dunia sedang sangat membutuhkan penebusan.

(7)

59 Theology?

(8)

yang mampu menjadikan elemen-elemen ini sebagai pendukung bagi kesuksesannya. Caranya adalah melalui komunikasi yang rasional. Kehidupan pada saat ini sangat kompleks. Masyarakat tidak lagi hidup dalam satu komunitas budaya, kerja, kepercayaan, dan latar belakang, semua serba heterogen dan bertabrakan satu sama lain. Perkembangan sosial dan ekonomi beserta segala kompleksitas permasalahan di dalamnya perlu dikomunikasikan secara rasional jika tidak ingin tabrakan yang terjadi berefek parah.

Berdasarkan pemikiran Habermas ini, ada dua elemen penting komunikasi yaitu “communicative life-world” dan “System”. Untuk dapat berkomunikasi dengan kehidupan dunia, seseorang perlu terlibat secara langsung dengan dunia dan fenomena-fenomena yang ada di dalamnya. Kompleksnya masalah dunia menunjukkan kompleksnya communicative life-world. Bukan hanya sekedar teori, praktisnya pun kompleks. Sementara itu, system yang dimaksud adalah integrasi sosial seperti latihan kekuasaan, pertukaran pernikahan, perkembangan hukum, pertukaran keuangan, dll. Kedua hal ini tidak saling berkaitan secara langsung. Manusialah subyek yang bertanggungjawab untuk mendialogkan sistem dan komunikasi praktis yang ada. Agar setiap potensi ini dapat dimaksimalkan dengan baik, sesama manusia harus saling berkomunikasi, dan untuk itu perlu tujuan. PL bagi Rogerson sebenarnya telah menampilkan bentuk ideal komunikasi antar Allah dan sesama manusia, namun komunikasi ini menjadi kacau karena dosa. Allah membangun ulang komunikasi ini dalam bentuk penyembahan kepada-Nya. Tapi dari pihak manusia, tidak ada jalan lain agar komunikasi ini menjadi harmonis kembali tanpa pengakuan dosa terlebih dahulu.

(9)

sehingga ia sukses. Menjadi manusia adalah menjadi rendah hati agar komunikasi yang ia lakukan tidak berakhir dengan kepentingan pribadi dan akhirnya merusak di sana-sini. Meskipun ada bagian tertentu yang kurang disetujui oleh Rogerson, ia memakai pemikiran Habermas dalam caranya menjelaskan tentang manusia karena cara yang Habermas gunakan ternyata mampu membantu memberi penjelasan terperinci bagi pertanyaan tentang natur dan takdir manusia. Selain itu, ia juga memakai pemikiran De Wette dalam tulisannya tentang komunikasi. Sayangnya dalam kolom ini, Rogerson sendiri sepertinya lupa memberikan pandangan pribadinya sendiri tentang apa itu manusia.

60– 67

Discourse and Biblical Ethics

(10)

apapun sebuah peraturan di mata kita pribadi, tapi jika sudah disetujui umum, maka peraturan itu legal. Idealnya, hukum PL bertujuan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. PL juga memberi perhatian besar pada orang-orang yang tertindas dan hidup dalam kemiskinan. Ide ini diterima disepanjang zaman, sampai saat ini banyak orang sedang terus berusaha menegakkan keadilan dan kebenaran dan pembelaan kepada kaum miskin dan tertindas. Hanya masalahnya, pengertian adil dan benar dalam setiap zaman berbeda, siapa subyek, siapa obyek, dan bagaimana harus bertindak adil dan benar itu saja sudah abstrak. Zaman sekarang, sesuatu itu menjadi adil atau benar tidak lagi tergantung pada hukum yang berlaku, tetapi pada apa yang saya pikirkan dan hukum hanya alat untuk memperkuat posisi saya. Yang ada hanyalah kepentingan pribadi dan golongan bukan publik. Pandangan tentang pentingnya umat seperti yang muncul dalam kehidupan umat Israel hanyalah sebuah utopia. Ide tentang “Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi” sudah lama tenggelam dan mulai berbalik arah. Lalu, siapa sekarang yang dimaksud dengan miskin dan tertindas? Lagi-lagi, zaman sudah berubah menjadi sangat berbeda.

67– 79

Ethical Experience In The Old Testament: Legislative Or Communicative Rationality?

(11)
(12)

mereka bertobat. Anehnya, bangsa lain yang kemudian dihukum oleh Allah karena sudah membuat Israel menderita. Allah sendiri yang berperang bagi Israel, padahal dibagian awal, Allah sendiri juga yang memakai bangsa-bangsa itu untuk memberi pelajaran bagi Israel. Akhirnya ketika mereka akan dimasukkan ke pembuangan, para nabi sudah memperingatkan mereka tentang pembuangan ini, namun mereka tidak mau mendengar. Pembuangan mendatangkan tekanan dan penderitaan pada masa pembuangan, di sinilah mereka berbalik lagi kepada Allah. Memang tidak heran jika dikatakan diawal bahwa hukuman itu membawa kepada pertobatan. Yang mengherankan buat saya justru Allah. Lagi-lagi, itu karena saya memandangnya dari perspektif saya, generasi postmodern.

81– 87

The Old Testament and The Debate About Nuclear Disarmament

Hukum ke-6 dari Dasa Titah berbunyi “Jangan Membunuh”. Hukum PL juga memberikan tanggungjawab bagi setiap penganutnya untuk melindungi orang lain yang lemah dan melawan yang kuat. Namun sepertinya telah terjadi pelanggaran terhadap hukum ini. Ada beberapa kasus yang menunjukkan bahwa Allah sendiri mengizinkan adanya pembunuhan massal. Bukan hanya mengizinkan, Allah bahkan menjadi Pemimpin yang memerintahkan terjadinya dan melakukan sendiri dalam pemusnahan massal saat terjadi perang. Berdasarkan hal itu, bukankah pemusnahan massal melalui nuklir bisa dibenarkan?

(13)

menentukan bagi perjalanan iman suatu bangsa. Jika pemimpin menolak perintah Allah, maka bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa yang kudus. Allah adalah penguasa dari segala sesuatu yang ada. Bangsa lain bisa saja kuat dan mampu memusnahkan Israel dengan kekuatan mereka, tapi Allah lebih dari itu. Karena itu kepatuhan pertama justru seharusnya adalah kepada Allah. Allahlah pemberi kekuasaan dan kekuatan kepada manusia. Allah berkuasa untuk menghancurkan dan membangun kembali. Dengan demikian, Israel sebagai umat harus menjaga loyalitas mereka sebagai suatu bangsa dalam ketaatan kepada Allah dan tidak menyeleweng kepada ilah lain. Jika mereka menyeleweng, mereka akan tahu konsekuensinya. Selain itu, takut akan Allah ini akan membawa bangsa Israel kepada harapan tentang masa depan dan harmonisasi di antara bangsa-bangsa karena mereka tunduk kepada perintah Allah dan hukum-Nya.

88– 99

Using The Bible In Debate About Abortion

(14)

menjawab suara Allah. Jadi bagaimana mungkin gambaran Allah yang tersimpan dalam rahim seorang ibu dibunuh? Tapi bagaimana jadinya jika bayi yang dikandung itu terletak di luar rahim ibu? Alih-alih bingung menanggapi kasus aborsi, Rogerson mengalihkan sementara kasus ini pada penebusan manusia untuk menemukan jalan keluar dari masalah ini. Penebusan dilakukan sebagai bukti kasih Allah kepada dunia. Dasar penebusan adalah kasih. Ada banyak orang yang belum lahir secara rohani dan bisa saja mati di pertengahan jalan tanpa sempat lahir baru, dan untuk orang-orang inilah Allah datang menebus mereka. Jadi demi alasan keselamatan dan dasar cinta kasih suatu tindakan dapat diambil. Tapi perlu diperhatikan ada dua tipe janin dalam kandungan. Ada janin yang belum lahir karena memang belum waktunya, ada yang meninggal atau tidak bisa bertumbuh dalam kandungan karena faktor-faktor tertentu, namun ada janin yang sengaja dihentikan proses pertumbuhannya dalam rahim ibu karena memang dia tidak diinginkan. Alasan pertama dan kedua masih disertai cinta kasih, tapi untuk kasus ketiga, ini murni pembunuhan. Dan segala sesuatu bagi bayi ini yang dilakukan tanpa cinta kasih adalah pembunuhan. Yang percaya, mari berpikir lebih dalam, kita ada di pihak yang mana?

100 – 108

The Use Of Old Testament With Reference To Work And Unemployment

(15)
(16)

tidak bisa bekerja, bukan malas bekerja. Membagikan karunia Allah kepada mereka yang lemah, membutuhkan pertolongan, dan tangan-tangan yang terbuka dengan penuh kasih menyambut mereka sebagaimana Allah telah terlebih dahulu menyambut kita.

109 – 112

Welfare: Some Theoretical Reflections

(17)

seseorang harus sehat. Agar seseorang sehat, segala sesuatunya harus seimbang antara apa yang masuk dan apa yang keluar. Dengan demikian, kesejahteraan adalah keseimbangan.

113 – 120

The Enemy In The Old Testament

(18)

dunia, kasih. 121

– 133

The Family and Structures Of Grace In The Old Testament

(19)

mengumandangkan kepedulian bagi sesama manusia. Selain itu, wanita juga mulai mendapat arti positif di mata orang-orang Yahudi. Setiap pergantian masa, keluarga memiliki makna barunya di kalangan Israel. Keluarga pada masa Abraham, sebelum penempatan, setelah pendudukan Kanaan, masa Hakim-hakim, raja-raja, dst berbeda konsep. Meski tidak terlalu jauh, namun ada hal baru dalam pengertian mereka tentang keluarga. Dengan demikian diperoleh sebuah pengertian baru tentang keluarga yaitu mereka yang dipanggil menjadi orang-orang kudus walau tidak sedarah. Musuhpun bisa dianggap sebagai saudara. Semua orang masuk dalam struktur anugerah Allah.

135 – 143

Exegesis And World Order

(20)

sosial. Jadi masalah-masalah yang dibahas sudah tidak benar-benar murni berkaitan dengan kehidupan seperti bayangan ideal kaum tradisional. Sehingga hasilnya lebih obyektif. Perlu untuk melihat teks dari berbagai segi kehidupan yang mungkin mempengaruhi latarbelakang munculnya teks. Dengan demikian kita tidak asal menuduh bahwa masalah yang terjadi dalam PL itu tidak rohani, teks itu tidak pantas karena memuat hal-hal yang tidak masuk di akal, porno, ngawur, dsb. Kita selalu melihat dari sisi di mana kita berdiri, kita selalu memandang dari kacamata kita, tidak pernah beralih dan tidak pernah mencoba sejenak meminjam kacamata orang lain. Jika demikian, jangan pernah memaksakan orang lain berdiri di tempatmu dan atau memakai lensa yang kita pakai untuk dipakai oleh orang lain kalau lensa itu nyata-nyata tidak cocok. Lihat saja tempat di mana kamu berdiri atau jenis lensa apa yang sedang kamu pakai. Eksegese yang dilakukan memang tidak sepenuhnya bisa diterapkan sebagai hukum atau peraturan dalam kehidupan masa kini. Seperti yang berulang-ulang dikatakan bahwa konteks kita berbeda. Tapi dari hasil eksegese ini diperoleh gambaran jelas tentang kehidupan pada masa PL sehingga kita tidak menimbulkan interpretasi “Mana Suka”. Seperti tulisan Rogerson, Kristen sekarang hidup dalam dua tuntutan zaman sekaligus. Di satu pihak ia harus hidup serius dalam dunia realitas namun di lain pihak ia harus tetap menghadirkan Kerajaan Allah. Dengan demikian, tugas utama bagi kita saat ini adalah tetap hidup dalam dunia dimana kita berada tapi tetap menghadirkan Kerajaan Allah dengan menjadi penyalur kasih Allah bagi dunia. Itulah yang dinamakan “stuktur anugerah”.

(21)

“Stuktur Anugerah” dalam rencana Allah. Pernyataan ini membuat saya membayangkan bagaimana bentuk bagan struktur ini kelak dan berapa luas hasilnya jika mampu bermultiplikasi hanya jika satu orang dapat membagikan kasih Allah kepada satu orang? Mengapa saya, kita, tidak memulainya? Atau kapan kita memulainya? Menurut saya inilah tema buku ini, dan inilah tindakan etis yang perlu diambil dari kitab PL, yaitu agar setiap manusia di dunia terhisab dalam struktur anugerah ini. Lebih jelas lagi, silahkan kaji ulang buku ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

http://philosophyresearcher.blogspot.com/2014/01/habermas-tentang-komunikasi konsensus.html

http://id.wikipedia.org/wiki/J%C3%BCrgen_Habermas http://jalantelawi.com/2010/05/habermas-dan-etika-wacana/ http://naninamarine.blogspot.com/

Sukmono, Banin Diar (Tugas Kuliah)

2014 Filsafat Komunikasi Jurgen Habermas Mempertahankan Pencerahan Menuju Masyarakat Rasional. Yogyakarta: UGM.

http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/08/etika-komunikasi-dan-teori-tindakan komunikatif-509500.html

selak.blogspot.com/2010/05/habermas-dan-etika-wacana.html

http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=78519&lokasi=lokal http://translate.google.com/translate?

(22)

Referensi

Dokumen terkait

PPKA Bodogol atau yang dikenal dengan Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol adalah sebuah lembaga konservasi alam di daerah Lido Sukabumi dan masih merupakan bagian dari

Dodge (1983, dalam Santrock, 2002) meyakini bahwa ketika seseorang melakukan interaksi sosial, ia melampaui lima tahap dalam memroses informasi tentang dunia

Tegasnya, Syaykh Abd Aziz bin Abd Salam telah memberi suatu sumbangan yang besar terhadap metodologi pentafsiran kepada pengajian tafsir di Malaysia.. Sumbangan

Untuk mendapatkan jarak pupil pada penglihatan jauh dapat dilakukan dengan cara yang sama, namun pasien memfiksasikan penglihatannya pada objek yang jauh.. Selain itu jarak pupil

Hasil tersebut konsisten dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ardhini (2011) dan Losa (2012) yang menunjukkan bahwa secara statistik adanya rasio

Prasasti mempunyai sifat resmi sebagai suatu keputusan atau perintah yang diturunkan oleh seorang raja atau penguasa, sehingga dalam penulisannya ada aturan- aturan penulisan

Tabel 3 menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada perubahan skor tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu serta tingkat kecukupan energi,

Berdasarkan hasil analisis, maka simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini bahwa variabel website quality dan perceived quality memiliki pengaruh yang positif