• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENG. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENG. docx"

Copied!
90
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA MATA PELAJARAN INSTALASI PENERANGAN LISTRIK UNTUK PENCAPAIAN HASIL BELAJAR MENYAJIKAN GAMBAR KERJA (RANCANGAN) PEMASANGAN INSTALASI LAMPU PENERANGAN PADA BANGUNAN GEDUNG DI KELAS XI TITL SMK NEGERI 1 SIDOARJO

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan memberikan kemungkinan pada siswa untuk memperoleh kesempatan, harapan, dan pengetahuan agar dapat hidup secara lebih baik. Besarnya kesempatan dan harapan sangat bergantung pada kualitas pendidikan yang ditempuh. Pendidikan juga dapat menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan agar sebuah kondisi menjadi lebih baik. Pendidikan yang berkualitas tentunya melibatkan siswa aktif belajar dan mengarahkan terbentuknya nilai-nilai yang dibutuhkan oleh siswa dalam menempuh kehidupan.

(2)

Perbedaan utama dalam pekerjaan yang dilakukan antara di negara maju dan negara berkembang adalah kreativitas kerja. Pada negara maju, kreativitas bekerja dilakukan dalam pelaksanaan penelitian, pengembangan, desain, pemasaran, dan manajemen kebutuhan global. Kemampuan inovasi dan kreativitas ternyata juga dibutuhkan untuk bekerja pada abad 21.

Di masa mendatang, kita akan menghadapi beberapa tantangan dan perubahan yang menuntut perubahan paradigma pendidikan tradisional yang selama ini diterapkan oleh guru di Indonesia. Pendidikan saat ini seharusnya membentuk siswa yang dapat menghadapi era globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, ekonomi berbasis pengetahuan, pergeseran kekuatan ekonomi dunia, serta pengaruh dan imbas teknologi berbasis sains.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan tujuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional tersebut. Siswa harus dibimbing untuk mengenal potensinya sejak dini dan mampu mengembangkan potensi tersebut dengan bantuan guru sehingga dapat menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan bangsa dan negara.

(3)

menggunakan metode ceramah saja dalam mengajar. Siswa harus diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain, terutama teman sekelas, keluarga, dan masyarakat. Pengetahuan dapat diperoleh ketika siswa melakukan interaksi dengan masyarakat. Oleh sebab itu, pembelajaran perlu didekatkan dengan kondisi lingkungan alam dan sosial.

Proses pembelajaran dengan metode ceramah seharusnya sudah diubah karena dengan model pembelajaran seperti ini siswa tidak dapat berkompetisi di masa depan. Siswa harus dibekali dengan kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, belajar dari aneka sumber, belajar bekerja sama, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.

Peran guru dalam pembelajaran harus bergeser menjadi perancang pembelajaran agar siswa aktif mencari pengetahuan baru. Guru yang kreatif harus terampil merancang aktivitas yang beragam dan memungkinkan siswa terlibat secara penuh dalam belajar sepanjang waktu. Siswa akan merasa bosan jika metode mengajar yang digunakan tidak bervariasi, namun akan termotivasi untuk belajar jika guru menerapkan metode yang bervariasi. Jean Piaget menyatakan bahwa kegagalan sekolah adalah hasil dari terlalu banyak bercerita dan terlalu sedikit bertanya. Jadi alat utama dalam mengajar sebenarnya adalah “bertanya”.

(4)

Pembelajaran dengan integrase kegiatan ilmiah biasanya merupakan kegiatan inkuiri. Inkuiri adalah proses berpikir untuk memahami tentang sesuatu dengan mengajukan pertanyaan. Kegiatan belajar secara inkuiri dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis inkuiri, pembelajaran menemukan, studi kasus, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek dan sebagainya. Namun, pada penelitian ini yang digunakan adalah model pembelajaran berbasis masalah.

Pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik diharapkan dapat memutar arah pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan yang berkarakter yang dapat menjadi kekuatan bangsa di masa depan. Implementasi kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik secara benar dipercaya dapat mengatasi permasalahan sumber daya manusia di negara Indonesia.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang dikemukakan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1. Bagaimanakah kualitas perangkat pembelajaran yang ada di SMK Negeri 1 Sidoarjo?

2. Bagaimanakah potensi siswa yang ada di SMK Negeri 1 Sidoarjo?

Potensi siswa di SMK Negeri 1 Sidoarjo yang akan diteliti adalah keterampilan berfikir.

3. Bagaimanakah kualitas perangkat pembelajaran menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik?

Perangkat pembelajaran yang diteliti kualitasnya adalah sebagai berikut.

a. Silabus.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). c. Lembar Kegiatan Siswa (LKS).

(5)

4. Bagaimanakah keterlaksanaan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran instalasi penerangan listrik di kelas XI TITL SMK Negeri 1 Sidoarjo?

5. Bagaimanakah aktivitas siswa pada saat diajar dengan pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik pada mata pelajaran instalasi penerangan listrik di kelas XI TITL SMK Negeri 1 Sidoarjo?

6. Bagaimanakah respon siswa kelas XI TITL SMK Negeri 1 Sidoarjo pada proses pembelajaran kejuruan instalasi penerangan listrik yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik?

7. Bagaimana hasil belajar siswa kelas XI TITL SMK Negeri 1 Sidoarjo pada mata pelajaran kejuruan instalasi penerangan listrik setelah menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik?

Hasil belajar siswa yang diteliti adalah sebagai berikut. a. Hasil belajar sikap.

b. Hasil belajar pengetahuan. c. Hasil belajar keterampilan.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik.

2. Penelitian ini hanya dilakukan pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Sidoarjo yang mengikuti mata pelajaran kejuruan instalasi penerangan listrik.

3. Materi dalam dibatasi pada mata pelajaran kejuruan instalasi penerangan listrik dengan kompetensi dasar menyajikan gambar kerja (rancangan) pemasangan instalasi lampu penerangan pada bangunan gedung.

(6)

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dideskripsikan, adapun tujuan dari penelitiannya adalah sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan kualitas perangkat pembelajaran yang ada di SMK Negeri 1 Sidoarjo.

2. Mendeskripsikan potensi siswa yang ada di SMK Negeri 1 Sidoarjo.

3. Mendeskripsikan kualitas perangkat pembelajaran menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik.

4. Mendeskripksikan keterlaksanaan pembelajaran berbasis maslah dengan pendekatan saintifik.

5. Mendeskripsikan aktivitas siswa saat diajar dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan pendekatan saintifik.

6. Mendeskripsikan respon siswa terhadap penerapan pendekatan saintifik pada proses pembelajaran instalasi penerangan listrik.

7. Mendeskripsikan hasil belajar melalui penerapan pendekatan saintifik pada proses pembelajaran instalasi penerangan listrik.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagi Guru

a. Hasil penelitian ini dapat membantu guru dalam proses belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran kejuruan instalasi penerangan listrik.

b. Meningkatkan interaksi antara guru dan siswa dan lingkungan sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013.

2. Bagi Siswa

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa kelas XI Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 1 Sidoarjo utnuk mencapai hasil belajar menyajikan gambar kerja (rancangan) pemasangan instalasi lampu penerangan pada bangunan gedung.

(7)

3. Bagi Peneliti

a. Aplikasi dari ilmu pengetahuan yang telah didapatkan di bangku perkuliahan.

b. Memberikan sumbangsih penelitian yang bermanfaaat bagi dunia pendidikan Indonesia.

F. Asumsi Penelitian

Penelitian ini mempunyai asumsi sebagai berikut.

1. Penilai bersifat objektif dalam memberikan penilaian.

2. Subjek penelitian mengerjakan instrumen tes dengan sungguh-sungguh dan sesuai kemampuannya.

3. Pengisisan angket respon siswa dilakukan sesuai dengan fakta yang ada. 4. Kemampuan siswa dalam menjawab instrumen tes menunjukkan

kemampuan siswa tentang materi yang telah diajarkan.

5. Siswa tidak pernah diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah.

BAB II

(8)

A. Kualitas Perangkat Pembelajaran yang ada di Sekolah 1. Analisis Ujung Depan

Kualitas perangkat pembelajaran yang digunakan di SMK Negeri 1 Sidoarjo di analisis menggunakan analisis ujung depan yang merupakan tahap awal dari model pengembangan 4-D (four D), yaitu tahap Define (pembatasan). Analisis ujung depan bertujuan untuk memunculkan masalah dasar yang dibutuhkan dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan survei dan observasi pra penelitian di SMK Negeri 1 Sidoarjo, antara lain wawancara dengan ketua program keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Berdasarkan hasil survei dan observasi maka disusun alternatif perangkat pembelajaran yang relevan untuk mencapai kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

Menurut Thiagarajan, dkk (1974: 15-21) ketika ketidaksesuaian ditemukan antara kriteria dan kinerja sebenarnya, peneliti secara alami mengasumsikan bahwa siswa harus diajarkan keterampilan atau konsep yang belum dikuasai. Memang, perbedaan kinerja kadang-kadang disebabkan oleh kurangnya motivasi atau dari adanya hambatan psikologis (Harless, 1971), masalah yang tidak ada hubungannya dengan pengajaran. Setiap jenis perbedaan membutuhkan solusi yang berbeda. Pada dasarnya, masalah motivasi akan memerlukan manajemen yang efektif, dan masalah lingkungan akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.

(9)

dihadapi dalam pembelajaran di sekolah tersebut sehingga perlu dikembangkan perangkat pembelajarannya.

2. Indikator Penilaian Perangkat Pembelajaran yang ada di SMK Negeri 1 Sidoarjo

Adapun indikator penilaian perangkat pembelajaran secara ringkas terdapat pada Tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1. Indikator Penilaian Perangkat Pembelajaran di Sekolah

No. Aspek Indikator

1. Tujuan pembelajaran a. Perumusan tujuan pembelajaran mengandung perilaku hasil belajar.

b. Perumusan pembelajaran tidak menimbulkan penafsiran ganda. 2. Pemilihan materi

pembelajaran

a. Pemilihan materi ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. 3. Pengorganisasian materi

pembelajaran

a. Kejelasan kerangka/sistematika materi.

b. Kesesuaian dengan alokasi waktu.

4. Pemilihan sumber belajar a. Pemilihan sumber pembelajaran sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran.

5. Skenario Pembelajaran a. Kejelasan scenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran: awal, inti, dan penutup).

b. Kelengkapan instrument evaluasi (soal, kunci, pedoman

penskoran).

c. Alat penilaian belajar yang digunakan dapat mengukur kemampuan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

6. Materi pembelajaran a. Materi berhubungan dengan kebenaran konsep ilmu pengetahuan.

b. Materi berhubungan dengan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif.

7. Penilaian a. Petunjuk penilaian yang

digunakan mudah dipahami, tepat dan jelas.

(10)

Menurut Hafi (1996: 482) kata potensi itu berasal dari bahasa Inggris yaitu potency, potential dan potentiality, yang mana dari ketiga kata tersebut memiliki

arti tersendiri. Kata potency memiliki arti kekuatan, terutama kekuatan yang tersembunyi. Kemudian kata potential memiliki arti yang ditandai oleh potensi, mempunyai kemampuan terpendam untuk menampilkan atau bertindak dalam beberapa hal, terutama hal yang mencakup bakat atau intelegensia. Sedangkan kata potentiality mempunyai arti sifat yang mempunyai bakat terpendam, atau kekuatan bertindak dalam sikap yang pasti di masa mendatang. Secara termonologi menurut Chalijah (1994: 35) potensi sama dengan fitrah. Karena kata fitrah dalam bahasa psikologi disebut dengan potensialitas atau disposisi atau juga kemampuan dasar yang secara otomatis adalah mempunyai kecenderungan untuk dapat berkembang.

Potensi siswa merupakan suatu kemampuan dasar yang dimiliki siswa, tetapi kemampuan tersebut masih terpendam dan memiliki kecenderungan berkembang. Setiap siswa pada dasarnya memiliki potensi yang terpendam karena siswa tersebut tidak mengeksplorasi atau berusaha dengan keras mendayagunakan potensi tersebut. Dalam penelitian ini potensi siswa ditinjau dari keterampilan berfikir.

Keterampilan Berfikir

a. Pengertian Keterampilan Berfikir

(11)

ialah gejala jiwa yang dapat rnenetapkan hubungan-hubungan antara pengetahuan-pengetahuan kita. Berpikir merupakan suatu proses dialektis,

artinya selama

kita berpikir, pikiran kita mengadakan tanya jawab untuk dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita dengan tepat. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa berpikir adalah suatu proses kegiatan untuk memecahkan masalah dengan mengaitkan pengetahuan dengan situasi yang terjadi.

Kemampuan berpikir terdiri dari dua yaitu kemampuan berpikir dasar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir dasar (lower order thinking) hanya menggunakan kemampuan terbatas pada hal-hal rutin

dan bersifat mekanis, misalnya menghafal dan mengulang-ulang informasi yang diberikan sebelumnya. Sementara, kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking) membuatsiswa untuk mengintrepretasikan, menganalisa atau

(12)

Berpikir kritis adalah berpikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berpikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Ini juga berarti mampu menarik kesimpulan dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidakkonsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data. Berpikir kritis adalah analitis dan refleksif.

Berpikir kreatif sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektifitasnya. Berpikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menemukan hasil akhir yang baru.

Dua tingkat berpikir terakhir inilah (berpikir kritis dan berpikir kreatif) yang disebut sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi yang harus dikembangkan dalam pembelajaran.

b. Indikator Keterampilan Berpikir

(13)

tingkat berfikir kreatif apabila menjawab soal benar sebanyak 16-20. Tabel 2.2 di bawah ini menunjukkan arti skor pada AKKB.

Tabel 2.2. Arti Skor AKKB

Skor Tingkat Berfikir

0 – 5 Tingkat Ingatan

6 – 10 Tingkat Dasar

11 – 15 Tingkat Kritis

16 – 20 Tingkat Kreatif

C. Kualitas Perangkat Pembelajaran Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada teori psikologi kognitif, terutama berlandaskan teori Piaget dan Vigotsky (Konstruktivisme). Menurut teori konstruktivisme, siswa belajar mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungannya. Pembelajaran berbasis masalah dapat membuat siswa belajar melalui upaya penyelesaian permasalahan dunia nyata secara terstruktur untuk mengonstruksi pengetahuan siswa (Ridwan, 2014).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan utnuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemapuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada (Tan, 2000).

Tujuan belajar menggunakan pembelajaran berbasis masalah terkait dengan penguasaan materi pengetahuan, keterampilan menyelesaikan masalah, belajar multidisiplin, dan keterampilan hidup (Tan, 2003).

Menurut Norman dan Schmidt, pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam beberapa hal, yaitu: 1) mentransfer konsep pada permasalahan baru, 2) integrase konsep, 3) ketertarikan belajar, 4) belajar dengan arahan sendiri, 5) keterampilan belajar.

(14)

Guru harus menggunakan proses pembelajaran yang akan menggerakkan siswa menuju kemandirian, kehidupan yang lebih luas, dan belajar sepanjang hayat. Lingkungan belajar yang dibangun guru harus mendorong cara berpikir reflektif, evaluasi kritis, dan cara berpikir yang berdayaguna. Peran guru dalam pembelajran berbasis masalah berbeda dengan peran guru di dalam kelas. Guru dalam PBM terus berpikir tentang beberapa hal, yaitu: 1) bagaimana dapat merancang dan menggunakan permasalahan yang ada di dunia nyata, sehingga siswa dapat menguasai hasil belajar?; 2) bagaimana bisa menjadi pelatih siswa dalam proses pemecahan masalah, pengarahan diri, dan belajar dengan teman sebaya?; 3) dan bagaimana siswa memandang diri mereka sendiri sebagai pemecah masalah yang aktif?. Guru dalam PBM juga memusatkan perhatiannya pada: 1) memfasilitasi proses PBM; mengubah cara berpikir; menegmbangkan keterampilan inkuiri; menggunakan pembelajaran kooperatif; 2) melatih siswa tentang strategi pemecahan masalah; pemberian alasan yang mendalam, metakognisi, berpikir kritis, dan berpikir secara sistem; dan 3) menjadi perantara proses penguasaan informasi; meneliti lingkungan informasi, mengakses sumber informasi yang beragam dan mengadakan koneksi (Rusman, 2012).

(15)

Menurut Ridwan (2014: 145) pembelajaran dengan metode PBM dapat dilakukan secara lebih efektif jika siswa mampu mengidentifikasi permasalahan dan memiliki kemampuan melakukan observasi. Informasi yang diperoleh harus diolah dan disampaikan dengan menggunakan kemampuan asosiasi dan menjalin jaringan (networking). Oleh sebab itu, metode ini merupakan metode pembelajaran saintifik yang penting untuk membentuk keterampilan sebagai seorang inovator.

Pembelajaran berbasis masalah (PBM) telah dikembangkan menjadi model pembelajaran dengan sintaks belajar sebagai berikut.

Tabel 2.3. Fase-fase Model Pembelajaran Berbasis Masalah

No. Fase Kegiatan Guru peserta didik untuk terlibat aktif. 2. Mengorganisasikan peserta didik

untuk penyelidikan

Membantu peserta didik dalam mendefinisikan dan

mengorganisasikan tugas belajar/penyelidikan untuk mnyelesaikan permasalahan. 3. Pelaksanaan investigasi Mendorong peserta didik untuk

memperoleh informasi yang tepat, melaksanakan

penyelidikan, dan mencari penjelasan solusi.

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil

Membantu peserta

didikmerencanakan produk yang tepat dan relevan, seperti

laporan, rekaman video, dan sebagainya untuk keperluan penyampaian hasil.

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses penyelidikan

Membantu peserta didik melakukan refleksi terhadap penyelidikan dan proses yang mereka lakukan.

(Sumber Ridwan. 2014: 157)

(16)

Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, menyiapkan media dan sumber belajar yang digunakan, perangkat penilaian pembelajaran, dan scenario pembelajaran. Adapun penyususnan silabus dan RPP harus disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Silabus

a. Pengertian Silabus

Menurut Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran.

Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Silabus berisikan komponen pokok yang dapat menjawab pertanyaan berikut.:

1) kompetensi yang akan ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran;

2) kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan/membentuk kompetensi tersebut; dan

3) upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik.

Silabus bermanfaat sebagai pedoman sumber pokok dalam pengembangan pembelajaran lebih lanjut, mulai dari pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran, dan pengembangan sistem penilaian.

b. Prinsip Pengembangan Silabus

(17)

2) Relevan, artinya cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

3) Sistematis, artinya komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

4) Konsisten, artinya adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

5) Memadai, artinya cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

6) Aktual dan Kontekstual, artinya cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

7) Fleksibel, artinya keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

8) Menyeluruh, artinya komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

c. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

Sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian sebelumnya, Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran. Silabus paling sedikit memuat:

a) identitas mata pelajaran (khusus SMP/MTs/SMPLB/Paket B dan SMA /MA/SMALB/SMK/MAK/ Paket C/Paket C Kejuruan); b) identitas sekolah meliputi nama satuan pendidikan dan kelas;

(18)

d) kompetensi dasar, merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran;

e) tema (khususSD/MI/SDLB/Paket A);

f) materi pokok, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butirbutir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi;

g) pembelajaran,yaitu kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan;

h) penilaian, merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik;

i) alokasi waktu sesuai dengan jumlah jam pelajaran dalam struktur kurikulum untuk satu semester atau satu tahun; dan

j) sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang relevan. Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan pola pembelajaran pada setiap tahun ajaran tertentu.Silabus digunakan sebagai acuan dalam pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran.

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Mengembangkan silabus dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1) Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

(19)

a) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di Standar Isi;

b) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran; dan

c) keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran.

2) Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

a) potensi peserta didik;

b) relevansi dengan karakteristik daerah,

c) tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;

d) kebermanfaatan bagi peserta didik; e) struktur keilmuan;

f) aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

g) relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan dan; dan

h) alokasi waktu.

3) Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

(20)

b) Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.

c) Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.

d) Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.

4) Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

5) Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

a) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi. b) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang

(21)

pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.

c) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan siswa.

d) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.

e) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

6) Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

(22)

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

8) Format dan Model Silabus

Pada dasarnya tidak ada format dan model silabus yan baku. Hal ini disebabkan banyaknya variable yang mempengaruhi pengembangan model silabus, yang mengkibatkan silabus bersifat dinamis, dalam artian suatu model dapat dilaksanakan dengan baik untuk kondisi tertentu,belum tentu cocok untuk kondisi yang lain,atau suatu model berhasil diterapkan dengan baik oleh guru tertentu,belum tentu berhasildengan baik jika diterapkan oleh guru yang lain.Oleh karena itu, setiap guru diharapkan dapat mengembangkan silabus-silabus yang sesuai dengan karakteristik pribadi guru dan kondisi lingkungan dimana guru bertugas.

d. Indikator Silabus Berkualitas

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa silabus yang berkualitas baik memiliki aspek-aspek pada Tabel 2.4 di bawah ini.

Tabel 2.4. Indikator Tingkat Kualitas Silabus

No. Aspek Indikator

1. Identitas mata pelajaran

a. Identitas mata pelajaran ditulis secara jelas dan lengkap

2. Identitas sekolah a. Identitas sekolah ditulis secara lengkap meliputi nama satuan pendidikan dan kelas.

3. Kompetensi inti a. Keseuaian antara kompetensi inti pada silabus dengan kompetensi inti yang ditetapkan oleh pemerintah pada Permendikbud No. 70 Tahun 2013.

(23)

dan lengkap.

4. Kompetensi dasar a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI. b. Keterkaitan antara kompetensi dasar

(KD) dengan kompetensi inti (KI)

e. Kompetensi yang dikembangkan melalui vokasional.

5. Materi pokok a. Sesuai tingkat perkembangan anak meliputi perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik.

b. Relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan.

c. Materi bersifat esensial.

6. Pembelajaran a. Pola pembelajaran berpusat pada peserta didik.

b. Pola pembelajaran aktif-mencari yaitu pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan pendekatan saintifik.

c. Pola belajar kelompok.

d. Pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya).

e. Pembelajran diarahkan untuk melatih berfikir analisis (pengambilan keputusan).

f. Pembelajarn bersifat learning experience.

7. Penilaian a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.

b. Penilaian menggunakan acuan kinerja.

c. Sistem yang dirancang adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.

d. Penilaian autentik. e. Memperkuat PAP.

(24)

b. Kesesuaian alokasi waktu dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan.

9. Sumber belajar a. Kesesuaian sumber belajar dengan materi pembelajaran.

10. Bahasa a. Kebenaran tata Bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia.

b. Kesederhanaan struktur kalimat.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) a. Pengertian RPP

Menurut Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

b. Prinsip Penyusunan RPP

Dalam menyusun RPP hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.

a) Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

(25)

c) Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.

d) Pengembangan budaya membaca dan menulisyang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

e) Pemberian umpan balik dan tindak lanjutRPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

f) Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduanantara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

g) Mengakomodasi pembelajaran tematik terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

h) Penerapan teknologi informasi dan komunikasisecara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

c. Langkah-langkah Penyusunan RPP

Komponen RPP dalam kurikulum 2013 diatur dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, yakni harus mencakup hal-hal antara lain:

a) identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan; b) identitas mata pelajaran atau tema/subtema; c) kelas/Semester;

d) materi pokok;

e) alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai; f) tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan

menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;

(26)

h) materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butirbutir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;

i) metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;

j) media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;

k) sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;

l) langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan

m) penilaian hasil pembelajaran. d. Indikator RPP Berkualitas

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa RPP yang berkualitas baik memiliki aspek-aspek seperti pada Tabel 2.5 di bawah ini.

Tabel 2.5. Indikator Tingkat Kualitas RPP

No .

Aspek Indikator

1. Identitas sekolah a. Nama satuan pendidikan dituliskan secara lengkap dan jelas.

2. Identitas mata pelajaran atau tema/sub tema

a. Identitas mata pelajaran ditulis secara lengkap dan jelas.

b. Identitas mata pelajaran sesuai dengan silabus.

3. Kelas/semester a. Kelas/semester ditulis secara lengkap dan jelas sesuai dengan silabus. 4. Materi pokok a. Materi pokok pembelajaran relevan

dengan KD dan KI.

b. Materi pokok pembelajaran sesuai dengan yang tercantum pada silabus. 5. Alokasi waktu a. Kesesuaian jumlah jam pelajaran yang

tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai.

b. Alokasi waktu untuk satu jam pelajaran adalah 45 menit.

(27)

pembelajaran adalah A (Audience) B (Behavior) C (Conditions) dan D (Degree).

b. Mencerminkan kemampuan siswa dalam mencari tahu dan berfikir tingkat tinggi (higher order thinking).

c. Tujuan pembelajaran mengembangkan seluruh potensi siswa, meliputi hasil belajar sikap, hasil belajar pengetahuan, dan hasil belajar keterampilan.

7. Indikator pencapaian kompetensi

a. Kesesuaian rumusan pencapaian hasil belajar.

b. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur.

c. Indikator mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

8. Materi pembelajaran

a. Materi relevan dengan KI dan KD. b. Urutan penyajian materi

dikelompokkan dalam bagian-bagian yang logis.

9. Model pembelajaran

a. Membuat siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran di kelas. b. Mengajarkan siswa

keterampilan-keterampilan lain selain pengetahuan. c. Ketepatan metode pembelajaran untuk

mencapai kompetensi. 10. Media

pembelajaran

a. Kesesuaian media pembelajaran dengan materi yang diajarkan.

b. Penggunaan media pembelajaran yang unik dan kreatif.

11. Sumber belajar a. Kesesuaian sumber belajar dengan materi yang diajarkan.

b. Menggunakan sumber belajar yang beragam yaitu buku, internet, dll. 12. Pelaksanaan

pembelajaran

a. Kesesuaian dengan sintaks model pembelajaran berbasis masalah. b. Dalam pelaksanaan pembelajaran

terdapat kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. 13. Bahasa a. Kebenaran tata Bahasa yang digunakan

sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baku.

b. Sifat komunikatif bahasa yang digunakan.

(28)

b. Kesesuaian jenis dan ukuran hururf sehingga mudah dibaca.

c. Format penulisan saling terkait.

3. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) a. Pengertian LKS

Hidayah (2008:7) menjelaskan bahwa LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian peserta didik. Sedangkan isi pesan LKS harus memperhatikan unsur-unsur penulisan media grafis, hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulus yang efisien dan efektif.

Tujuan dan Manfaat Pembelajaran Menggunakan LKS Lembar Kegiatan Siswa Depdiknas dalam panduan pelaksanaan materi pembelajaran SMP (2008:42-45) alternatif tujuan pengemasan materi dalam bentuk LKS adalah sebagai berikut.

1) LKS membantu siswa untuk menemukan suatu konsep LKS mengetengahkan terlebih dahulu suatu fenomena yang bersifat konkrit, sederhana, dan berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. LKS memuat apa yang (harus) dilakukan siswa meliputi melakukan, mengamati, dan menganalisis.

2) LKS membantu siswa menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan.

(29)

4) LKS berfungsi sebagai penguatan.

5) LKS berfungsi sebagai petunjuk praktikum.

Menurut Darmojo dan Kaligis (1991:40) mengajar dengan menggunakan LKS dalam proses belajar mengajar memberikan manfaat, diantara lain memudahkan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, misalnya dalam mengubah kondisi belajar yang semula berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered).

Pada proses pembelajaran yang berpusat pada guru akan terjadi interaksi satu arah dimana guru menerangkan, mendikte, dan memerintahkan, sedangkan siswa hanya akan mendengar, mencatat dan mematuhi semua perintah guru. Pada proses pembelajaran yang berpusat pada siswa akan terjadi interaksi antara siswa dengan guru, dan antarsiswa karena dalam pola ini siswa memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya dari perpustakaan, luar sekolah atau pengamatannya sendiri.

(30)

b. Komponen-komponen LKS

Adapun komponen-komponen LKS meliputi judul, tujuan, teori singkat tentang materi, alat dan bahan yang digunakan, langkah-langkah praktikum, data hasil praktikum, serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi.

1) Judul

Judul memuat tema materi pokok yang akan diuji cobakan.

2) Tujuan

Tujuan memuat hasil belajar yang akan dicapai setelah melaksanakan praktikum.

3) Teori singkat

Terori singkat yang baik adalah memaparkan prinsip dan konsep yang dijadikan dasar untuk proses penyelidikan.

4) Alat dan bahan

Memaparkan tentang jenis alat dan bahan yang digunakan baik nama, spesifikasi maupun jumlah yang dibutuhkan dalam praktikum.

5) Langkah-langkah praktikum

(31)

6) Data hasil praktikum

Hasil praktikum yang baik mengungkapkan data yang telah didapatkan melalui praktikum berdasarkan prosedur yang ada pada LKS. Data tersebut juga telah dianalisis baik secara statistik maupun tidak.

7) Pembahasan dan kesimpulan

Pembahasan mengungkapkan penjelasan yang ilmiah terhadap temuan dari hasil melakukan praktikum. Kesimpulan sebagai pernyataan yang singkat namun jelas yang mengungkapkan hasil penyelidikan secara menyeluruh. Kesimpulan merupakan rangkuman dari hasil praktikum yang telah dilakukan.

c. Indikator LKS yang Berkualitas

Berdasarkan penjelasan di atas disimpulkan bahwa LKS yang berkualitas baik memiliki aspek-aspek seperti pada Tabel 2.6 di bawah ini.

Tabel 2.6. Indikator Tingkat Kualitas LKS

No. Aspek Indikator

1. Tujuan a. Memaparkan hasil belajar yang akan dicapai setelah siswa melakukan praktikum. 2. Teori Singkat a. Teori singkat yang baaik memaparkan

(32)

3. Alat dan bahan a. Memaparkan tentang jenis alat dan bahan didapatkan melalui praktikum dengan tingkat ketelitian tinggi sehingga data tersebut valid.

6. Pembahasan dan

kesimpulan

a. Pembahasan mengungkapkan penjelasan yang ilmiah terhadap temuan hasil praktikum.

b. Kesimpulan sebagai pernyataan yang singkat namun jelas yang mengungkapkan hasil penyelidikan secara menyeluruh.

7. Format a. Format sesuai dengan langkah dan struktur penulisan LKS.

8. Bahasa a. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik, sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD).

b. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan menarik bagi siswa.

9. Isi a. Isi materi yang akan dipelajari lengkap. b. Adanya keterkaitan antar setiap alinea. c. Menarik bagi pembaca.

d. Sesuai dengan kurikulum yang berlaku. e. Isi materi sesuai dengan tujuan

pembelajaran.

(33)

a. Pengertian LP

Berdasarkan Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian, penilaian pendidikan merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah.

Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.

1) Objektif, berarti penilaian berbasis pada standard an tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.

2) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.

3) Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya.

4) Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses semua pihak.

5) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.

(34)

Menurut Arikunto (2012: 242) ditinjau dari bentuk yang biasa dikenal, penilaian kelas meliputi 7 (tujuh) bentuk yaitu sebagai berikut.

1) Penilaian melalui tes tertulis.

2) Penilaian melalui tes lisan.

3) Penilaian unjuk kerja.

4) Penilaian produk.

5) Penilaian proyek.

6) Penilaian portofolio.

7) Penilaian diri.

b. Indikator Lembar Penilaian Berkualitas

Lembar penilaian yang berkualitas baik memeiliki aspek-aspek seperti pada tabel 2.7 di bawah ini.

Tabel 2.7. Indikator Tingkat Kualitas.Lembar Penilaian

No aspek Indikator

1 Kondisi alat penilaian

a. Valid

b. Reliabel

c. Objektif

d. Praktis

e. Derajad kesukaran

(35)

g. Efektifitas option

h. Efisien

2 Soal a. Banyak cara untuk menjawab soal tersebut sehingga tidak hanya ada satu jawaban

b. Soal membuat siswa berfikir kreatif

c. Soal dapat mengukur spektum pemahaman siswa

d. Bentuk soal atau lembar lembar kerja atau lembar tugas atau perintah kerja berdasarkan indikator 3 Fungsi a. Mendukung keseimbangan penilaian yaitu tes

standar serta penilaian normatif dan sumatif

b. Menekankan pada pemanfaatan umpan balik berdasarkan kinerja peserta didik

4 Isi a. Kesesuaian instrumen tes dengan pembelajaran

b. Kesesuaian skor dengan bobot soal

c. Keterampilan dalam penulisan

d. Kesesuaian instrumen tes dengan kunci jawaban

e. Kejelasan antara aspek yang di ukur dengan instrumen tes

5 Bahasa a. Kebenaran tata bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa

6 Konstruksi a. Kejelasan petunjuk dalam penggunaan instrumen D. Keterlaksanaan Pembelajaran

1. Pengertian Keterlaksanaan Pembelajaran

(36)

mencapai kompetensi lulusan. Dalam hal ini standar proses meliputi perancanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memiliki dampak yang sangat besar untuk dunia pendidikan Indonesia. Sasaran utamanya adalah peningkatan mutu pendidikan, peningkatan mutu pendidikan dibangun dari berbagai aspek. Guru adalah salah satu faktor yang menentukan untuk mencapai tujuan peningkatan kualitas tersebut.

Salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh guru adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik mencakup kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.

(37)

Guru harus mempunyai keterampilan dalam mengelola kelas, karena pengelolaan kelas merupakan aktivitas yang kompleks. Mulai dari medesain kelas misalnya mengatur tempat duduk siswa, kemudian mengelola peserta didik misalnya menjalin interaksi yang harmonis sampai mengatur lingkungan fisik kelas. Keterampilan mengelola kelas sangat dibutuhkan saat mengajar, guna menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Seorang guru harus dapat menciptakan situasi kelas yang menyenangkan. Untuk itu, pemanfaatan atau implementasi dari strategi, metode dan taktik pembelajaran sangat dibutuhkan. Penggunaan strategi, metode, dan taktik yang tepat akan membuat siswa mengerti apa yang disampaikan oleh gurunya. Dalam memilih strategi, metode, ataupun taktik guru harus memperhatikan kondisi siswanya dan memperhatikan mata pelajaran apa yang akan dipelajari, kemudian disesuaikan dengan metode yang bisa mendukung materi pelajaran.

Secara umum Standar Pengelolaan Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan mutu layanan minimal Pengelolaan Pendidikan Nasional Secara khusus Standar Pengelolaan Pendidikan memiliki tujuan sebagai berikut.

(38)

2) Memberi Kerangka Acuan Bagi pengorganisasian, pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian pendidikan sejalan dengan tuntutan peningkatan mutu dan Standar Pelayanan Pendidikan pada semua bentuk, jenis dan jenjang pendidikan.

3) Sebagai Acuan Dasar pengawasan dan Penilaian Pendidikan, yang relevan dan konsisten dengan sistem perencanaan, dan pelaksanaan program pendidikan pada tingkat pemerintah pusat, pemerintah daerah Propinsi dan Kabupaten dan pada tingkat satuan pendidikan.

4) Memberikan pedoman kepada seluruh warga bangsa dan khususnya yang berkiprah dalam pengelolaan pendidikan bagaimana merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memantau, mengawasi, mengendalikan, dan menilai program pendidikan secara efisien, efektif, baik dan benar.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, tetapi dalam pelaksanaannya kita juga harus melihat situasi dan kondisi yang sewaktu-waktu ada kendala. Pelaksanaan pembelajaran terdiri dari bagian pendahuluan, inti dan penutup yang sesuai dengan sintaks pembelajaran berbasis masalah.

(39)

membimbing siswa dalam mengembangkan dan menyajikan hasil, (6) membimbing siswa dalam menganalisis dan mengevaluasi hasil penyelidikan. Guru yang mampu mengelola kelas dapat dikategorikan dalam jenis guru efektif.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran adalah kemampuan yang dimiliki guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di dalam kelas yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, inti, dan kegiatan penutup yang sesuai dengan fase model pembelajaran dalam RPP.

2. Indikator Keterlaksanaan Pembelajaran

Lebih lanjut, indikator keterlaksanaan pembelajaran ditunjukkan pada Tabel 2.8 di bawah ini.

Tabel 2.8. Indikator Keterlaksanaan Pembelajaran

No. Tahap Indikator

1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengorientasikan siswa terhadap permasalahan yang otentik.

a. Guru menjelaskan materi pembelajaran dengan jelas dan menarik.

b. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya.

c. Guru mengorientasikan siswa kepada permasalahan yang otentik.

2. Antusias siswa. a. Siswa berperan aktif pada proses pembelajaran.

(40)

RPP.

b. Memaksimalkan waktu sehingga seluruh indikator dapat terpenuhi.

4. Mengidentifikasi topik dan pengelompokkan.

a. Membuka proses belajar mengajar.

b. Menjelaskan tujuan pembelajaran.

c. Membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok.

d. Menetukan topik setiap kelompok. 5. Merencanakan

penyelidikan kelompok.

a. Mempersiapkan siswa

merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas, dan tujuan umum yang konsisten dengan topik yang telah dipilih. kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.

7. Menyiapkan laaporan a. Membimbing siswa menyiapkan laporan.

b. Memeriksa dan memberikan informasi atas laporan yang telah dibuat.

8. Menyajikan laporan a. Memfasilitasi kegiatan presentasi si kelas.

b. Membantu siswa dalam menbahas hasil investigasi sebagai narasumber.

9. Evaluasi a. Melakukan evaluasi.

(41)

1. Pengertian Aktivitas Siswa

Menurut Anton M. Mulyono, aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti sering bertanyakepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya.

Seorang pakar pendidikan, Trinandita (1984) menyatakan bahwa hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing -masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

(42)

a) visual activities, yang termasuk didalamnnya misalnya: membaca, memperhatikan gambar demontrasi, percobaan, pekerjaan orang lain;

b) oral activities, seperti: menanyakan, meneruskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi;

c) listening activities, sebagai contoh: mendengarkan, uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato;

d) writing activities, seperti; menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin;

e) drawing activities, misalnya: menggambar, menggambar grafik, peta diagram;

f) motor activities, yang termasuk di dalamnya: melakukan percobaan, melakukan konstruksi, mereparasi model, bermain, berkebun, berternak;

g) mental activities, misalnya: menggali, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan;

h) emotional activities, misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, dan gugup.

(43)

aktif berfikir maka harus diberikan untuk berbuat. Dengan demikian aktivitas belajar siswa adalah serangkaian kegiatan siswa baik fisik maupun mental yang saling berkaitan selama proses pembelajaran sehingga tercipta belajar yang optimal.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa adalah segala bentuk keterlibatan siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar mengajar baik yang bersifat fisik maupun mental. Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar. Tanpa adanya aktivitas, proses belajar mengajar tidak dapat berlangsung dengan baik, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat, dan setiap orang yang belajar harus aktif. Jadi, aktivitas siswa juga berperan dalam menentukan keberhasilan belajar mengajar.

2. Indikator Aktivitas Siswa

Berdasarkan uraian tentang aktifitas tersebut, maka aktivitas-aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut.

a. Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru atau teman kelompok.

b. Mencatat pertanyaan guru.

c. Menanggapi jawaban hasil diskusi kelompok lain.

d. Merangkum jawaban hasil diskusi kelompok lain.

e. Merangkum materi pelajaran.

(44)

Lebih lanjut, indikator aktivitas siswa ditunjukkan pada Tabel 2.9 di bawah ini.

Tabel 2.9. Indikator Aktivitas Siswa

No. Aspek Indikator

1. Aktivitas fisik a. Siswa melakukan pengamatan.

b. Siswa mencatat.

c. Siswa mendengar penjelasan guru.

d. Siswa memperhatikan penjelasan guru.

e. Siswa mengerjakan tugas. 2. Aktivitas mental a. Siswa menganalisis.

b. Siswa memecahkan masalah.

c. Siswa mengingatkan.

d. Siswa menanggapi.

e. Siswa mengembil keputusan.

3. Aktivitas emosional

a. Siswa berani bertanya.

b. Siswa antusias terhadap pelajaran.

c. Siswa menghargai pendapat teman.

d. Siswa gembira dalam mengikuti pelajaran.

F. Respon Siswa

(45)

Menurut Skinner (dalam Sagala 2003:14) belajar merupakan proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Tingkah laku dikontrol oleh stimulasi dan respon yang diberikan siswa. Adapun pengertian dari respon siswa adalah perilaku yang lahir sebagai hasil masuknya stimulus yang diberikan guru kepadanya. Respon siswa merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan keberhasilan belajar. Kurangnya respon siswa terhadap pelajaran akan menghambat proses pembelajaran Rendahnya respon siswa belum tentu sumber kesalahan materi ajar pada diri siswa. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kurangnya respon siswa dalam belajar termasuk pelajaran. Diantaranya; kurangnya interaksi antara guru dengan siswa yang menyebabkan adanya ketidak hormonisan pada saat pembelajaran berlangsung sehingga suasana kelas menjadi kurang menarik dan cenderung membosankan. Sarana dan prasarana kurang memadai untuk meningkatkan respons belajar siswa khususnya pada pembelajaran Sains. Tidak dapat dipungkiri bahwa cara belajar yang tepat dapat meningkatkan respon belajar siswa.

(46)
(47)

yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tanggapan siswa terhadap pembelajaran guru yang dilaksanakan di dalam kelas.

2. Indikator Respon Siswa

Dalam penelitian ini respon yang ingin diketahui dari siswa adalah sebagai berikut.

a. Senang tidaknya siswa terhadap mata pelajaran kejuruan instalasi penerangan listrik dengan kompetensi dasar menyajikan gambar kerja (rancangan) pemasangan instalasi lampu penerangan pada bangunan gedung.

b. Senang tidaknya siswa terhadap proses belajar mengajar dengan model pembelajaran berbasis masalah.

c. Senang tidaknya siswa terhadap cara belajar dengan menggunakan LKS.

d. Senang tidaknya siswa terhadap keterampilan yang diajarkan oleh guru.

Adapun respon siswa ditunjukkan pada Tabel 2.10 sebagai berikut.

Tabel 2.10. Indikator Respon Siswa

N o

Aspek Indikator

1 Sikap siswa terhadap dasar kompetensi kejuruan

a. Menunjukkan minat terhadap mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan.

b. Menunjukkan minat kegunaan mempelajari mata pelajaran dasar kompetensi kejuruan. 2 Sikap siswa terhadap

proses belajar mengajar

(48)

menggunakan model pembelajaran berbasis masalah

b. Menunjukkan kegunaan terhadap proses mengajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

3 Sikap siswa terhadap belajar mengajar menggunakan LKS

a. Menunjukkan minat terhadap proses belajar mengajar menggunakan LKS.

b. Menunjukkan kegunaan terhadap proses mengajar menggunakan LKS.

4 Sikap siswa terhadap keterampilan yang diajarkan oleh guru

a. Menunjukkan minat terhadap keterampilan yang diajarkan oleh guru.

b. Menunjukkan kegunaan terhadap keterampilan yang diajarkan oleh guru.

G. Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan

Tujuan Program Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik secara umum mengacu pada isi Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) pasal 3 mengenai Tujuan Pendidikan Nasional dan penjelasan pasal 15 yang menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Secara khusus tujuan Program Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik

adalah membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar berkompeten di bidang Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Standar kompetensi yang digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum ini adalah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Salah satu standar kompetensi dan level kualifikasi keahlian

Teknik Instalasi Tenaga Listrik adalah memasang instalasi penerangan listrik bangunan sederhana maupun bertingkat.

(49)

or personality characteristics that directly influence job performance. Artinya, kompetensi mengandung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan (keahlian) dan kemampuan ataupun karakteristik kepribadian yang mempengaruhi kinerja.

Pengertian kompetensi sebagai kecakapan atau kemampuan juga dikemukakan oleh Robert A. Roe (2001: 73) sebagai berikut “Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Competence builds

on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing“ Kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.

(50)

Sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kompetensi mencakup hasil belajar sikap. Hasil belajar pengetahuan, dan hasil belajar keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu yang diharapkan. Untuk masing-masing hasil belajar yang harus dimilki siswa dijabarkan sebagai berikut.

1. Hasil Belajar Sikap

a. Pengertian Sikap

Menurut Oxford Advanced Learner Dictionary mencantumkan bahwa sikap (attitude) berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu “Manner of placing or holding the body, dan way of feeling, thinking or behaving”. Campbel (1950) dalam buku Notoadmodjo (2003: 29)

mengemukakan bahwa sikap adalah “A syndrome of response consistency with regard to social object”. Artinya sikap adalah sekumpulan respon yang konsisten terhadap objek sosial. Dalam buku Notoadmodjo (2003: 124) mengemukakan bahwa sikap adalah merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Menurut Eagle dan Chaiken (dalam A. Wawan dan Dewi M, 2010: 20) mengemukakan bahwa sikap dapat diposisikan sebagai hasil evaluasi terhadap objek sikap yang diekspresikan ke dalam proses-proses kognitif, afektif, dan perilaku.

(51)

pembentukan peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, percaya diri, dan bertanggungjawab. Pada jenjang SMA/SMK, hasil belajar sikap spiritual mengacu pada KI-1: menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, sedangkan hasil belajar sikap sosial mengacu pada KI-2: menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif, dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

Hasil belajar sikap spiritual dan sosial yang tercermin dalam Kompetensi Inti (KI) 1 dan 2 dalam setiap Kompetensi Dasarnya tidak memiliki materi pokok yang diberikan dalam pembelajaran, tetapi diajarkan secara indirect learning. Implementasi kurikulum 2013 mengharuskan guru/pendidik menyajikan materi pada KD di KI 3 dan proses pembelajaran pada KD di KI 4 yang mengarah pada pencapaian KD pada KI 1 dan 2 tanpa mengajarkan secara langsung. Bidang sains dan teknologi yang sejatinya dipimpin oleh dunia barat dimana setiap aspek dalam keilmuan yang bersifat ilmiah, objektif, dan terlepas dari nilai-nilai moral. Oleh sebab itu, maka materi dan proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang diterapkan pada kurikulum 2013 dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial agar tidak terbawa oleh semangat barat yang sekuler.

(52)

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar sikap adalah kemampuan siswa untuk merespon rangsangan yang diberikan oleh lingkungan sosial di sekitarnya. Sikap spiritual dan sosial sangat berpengaruh terhadap kamampuan siswa dalam mengembangkan sains dan teknologi serta menyesuaikan siri dalam masyarakat maupun dunia kerja. Indicator pencapaian yang menunjukkan bahwa siswa telah menerapkan sikap spiritual dan sosial sesuai Kompetensi Inti 1 dan 2 dalam proses pembelajaran ditunjukkan pada Tabel 2.11.

Tabel 2.11. Indikator Pencapaian Hasil Belajar Sikap

No .

Sikap Indikator pencapaian

1 Menghargai dan

menghayati ajaran agama yang dianut

a. Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu.

b. Menjalankan ibadah tepat waktu.

c. Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianut.

d. Mengucap syukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu.

e. Menjaga lingkungan hidup di sekitar rumah tempat tinggal, sekolah dan masyarakat.

2 Jujur a. Tidak menyontek dalam

mengerjakan tugas dan ujian.

b. Tidak menjadi plagiat dalam mengerjakan setiap tugas.

(53)

d. Mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki.

3 Disiplin a. Datang tepat waktu.

b. Patuh pada tata tertib atau aturan sekolah.

c. Mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai waktu yang ditentukan.

4 Tanggungjawab a. Melaksanakan tugas individu dengan baik.

b. Menerima resiko dari tindakan yang dilakukan.

c. Mengembalikan barang yang dipinjam.

5 Kerja sama a. Aktif dalam kerja kelompok.

b. Dapat bekerjasama dengan teman sekelompok.

c. Kesediaan melakukan tugas sesuai kesepakatan.

d. Bersedia membantu teman tanpa mengharapkan imbalan.

6 Santun a. Menghormati orang yang lebih

tua.

b. Tidak berkata-kata kotor, kasar, takabur.

c. Tidak menyela pembicaraan.

d. Meminta ijin ketika akan memasuki/keluar ruangan saat pelajaran berlangsung.

(54)

tindakan tanpa ragu-ragu.

b. Mampu membuat keputrusan dengan cepat.

c. Tidak mudah putus asa.

d. Berani presentasi di depan kelas.

e. Berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan.

2. Hasil Belajar Pengetahuan

a. Pembagian Dimensi Kognitif dan Pengetahuan menurut Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disoleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu: Cognitive Domain (Ranah Kognitif), Affective Domain (Ranah Afektif), Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor)

(Leriva, 2012).

(55)

Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi, yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi pngetahuan. Dimensi proses kognitif terdiri dari 1) mengingat (remember); 2) memahami (understand); 3) mengaplikasikan (apply); 4) menganalisis (analyze); 5) mengevaluasi (evaluate); 6) mencipta (create). Sedangkan dimensi pengetahuan terdiri dari 1) pengetahuan faktual; 2) pengetahuan konseptual; 3) pengetahuan prosedural.

Lebih lanjut, dalam spektrum kurikulum SMK/MAK 2013 program keahlian studi keahlian Teknik Ketenagalistrikan paket keahlian Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik di SMK Negeri 1 Sidoarjo terdiri dari kelompok mata pelajaran wajib (kelompok A dan B) dan kelompok mata pelajaran kejuruan (Kelompok C). kelompok mata pelajaran kejuruan dibagi lagi menjadi dasar bidang kejuruan (kelompok C1), dasar kompetensi kejuruan (kelompok C2), kompetensi kejuruan Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik (kelompok C3). Pada mata pelajaran kompetensi kejuruan terdapat tiga mata pelajaran yaitu, Instalasi Penerangan Listrik, Instalasi Motor Listrik dan Instalasi Tenaga Listrik.

(56)

penerangan pada bangunan gedung adalah perhitungan instalasi penerangan listrik.

b. Pengembangan Indikator Hasil Belajar Pengetahuan

(57)

Dimensi

1. Menentukan besar MCB yang digunakan.

2. Menentukan besar luas penampang kabel yang

1. Menghitung jumlah titik cahaya pada bangunan gedung.

2. Menghitung besar arus yang mengalir pada setiap grup.

3. Menghitung besar daya dan arus total yang

(58)

mengalir pada PHB. Dimensi

Metakognitif (metacognitive)

Tabel 2.12. Pembagian Indikator Berdasarkan Dimensi Pengetahuan dan Dimensi Kognitif

Gambar

Tabel 2.1. Indikator Penilaian Perangkat Pembelajaran di Sekolah
Tabel 2.2. Arti Skor AKKB
Tabel 2.3. Fase-fase Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Tabel 2.4. Indikator Tingkat Kualitas Silabus
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penyajian toleransi dapat juga dengan cara menuliskan ukuran maksimum izin dan ukuran minimum izin. Ukuran maksimum ditulis di atas ukuran minimum. Penulisan toleransi yang

Pada grafik (3.1) terlihat bahwa fungsi partisi kanonik lengkap Z untuk sistem paraboson maupun sistem parafermion memiliki pola yang sama dan terlihat nilai -nya

Melaksanakan dan bertanggungjawab atas kelancaran pelaksanaan tugas pekerjaan administrasi afdeling kebun sesuai ketentuan dan arahan dari Kepala Afdeling. c) Uraian

Pendekatan bayani, burhani dan irfani dalam terminologi kontemporer sebagai pendekatan yang bersifat multidisipliner dan interdisipliner dalam memahami Islam sebagai

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pelaksanaan aspek formal dari perencanaan pajak berpengaruh signifikan yang ditunjukkan dengan koefesien korelasi sebesar

rata peserta didik di dalam koesioner yang menyatakan bahwa keterampilan peserta didik sudah cukup baik walaupun masih terdapat beberapa yang kurang optimal dalam

Mahasiswa Baru Universitas Jember Tahun 2O2O mengikuti PKKMB secara.. mandiri dengan memutar video materi PKKMB dan mengerjakan post

Kegiatan Hibah Produk yang Di Desiminasikan Ke Masyarakat ini pada dasarnya adalah mendesiminasikan alat pemanjat pohon kelapa dalam rangka untuk meningkatkan