Filsafat Estetika di Indonesia
Bimbingan Ferry Hidayat, S.Th., S.Fil.
Pendahuluan
Di Indonesia, kajian Filsafat Estetika sangat marak. Di masa pra-kolonial, di Indonesia sudah
ada Filsafat Estetika, baik yang diadaptasi dari India maupun yang dikembangkan sendiri oleh
komunitas lokal (masyarakat adat), misalnya Filsafat Estetika Jawa, Filsafat Estetika Melayu,
Filsafat Estetika Bali, Filsafat Estetika Irian Jaya, Filsafat Estetika Batak, dan lain-lain. Pada
saat kolonialisme bercokol, Filsafat Estetika dari Dunia Barat (Eropa) pun disebar di Indonesia.
Pada era kemerdekaan, Filsafat Estetika di Indonesia benar-benar berkembang, diadaptasi
dari banyak tradisi, baik dari Barat maupun Timur, baik dari tanah air sendiri (lokal) maupun
dari luar negeri, dari tradisi relijius Islam, Kristiani, maupun Buddha dan Hindu; semua
berkembang pesat. Bahkan, di tahun 2000-an, beberapa filosof muda dari aliran Perenialisme
-
(misalnya, Abdullah Imam, Reno Ramutu, Ferry
Hidayat, Khumaedi Sarjono, dan lain-lain) dalam kancah kesenian/kesusastraan di Indonesia
dan turut meramaikan wawasan dan horizon estetika nasional.
Di bawah ini akan dibahas hanya dua Filsafat Estetika saja, yakni Filsafat Estetika Jawa dan
Filsafat Estetika Neo-Adat (Filsafat Estetika Perenialis).
Filsafat Estetika Jawa
Pesastra-pesastra Jawa disebut dengan Kawi atau Mphu, misalnya Mphu Sambhara
Suryawarana (sek. abad 10 M) yang menulis karya sastra Jawa (Kakawin) berjudul Sang Hyang
Kamahayanikam, Mphu Prapanca (1335-1380 M) yang menulis Kakawin berjudul
Negarakertagama, Mphu Tantular (sek. abad 14 M) yang menulis Kakawin berjudul Sutasoma,
Mphu Panuluh yang menulis Kakawin berjudul Hariwangsa, dan lain-lain.
Kakawin adalah sejenis tulisan sastra berbentuk naratif yang ditulis dengan kaidah puitika India
(Kavya). Kakawin sudah pasti merupakan karya sastra yang indah (Kalangwan), sebab jika ia
tidak indah, maka ia bukanlah Kakawin.
Bagaimana agar Kakawin mencapai derajat keindahan (Kalango) yang tertinggi sehingga
diakui sebagai karya sastra nan indah (Kalangwan)? Berikut ini kita kutipkan bagaimana Mphu
Panuluh (penulis Kakawin Hariwangsa) menjelaskan proses menulis Kakawin nya:
Ke puncak gunung nun jauh di sana aku berkelana untuk melakukan ibadahku, rindu mencari hubungan dengan alam dewata. Batinku terpusat pada bhatara Wisnu, agar beliau sudi turun dalam batinku bagaikan dalam bunga teratai. Kebaktianku terhadap Wisnu lewat samadi ada satu tujuan, ialah agar aku dapat berhasil dalam membuat suatu karya yang indah ( ö) dan supaya beliau sudi membantu aku dengan kesaktian menciptakan sebuah syair yang menegakkan kedudukanku di antara mereka yang pantas disebut kawi.
Cerita yang akan kuutarakan merupakan pujian terhadap dewa Wisnu sehingga kemurahan hatinya terungkapkan dalam sajak ini dan diabadikan dalam goresan papan tulis...Inilah satu-satunya maksud usahaku meletakkan bunga-bunga pada kaki Janardana (Wisnu).
(Hartoko 1986:78-79).
turun ke pena, sehingga ia menggerakkan penanya dan menggoreskan tinta dengan kata-kata
nan indah dari inspirasi ilahi. Kemudian, sang mphu berusaha menyatukan dirinya dengan
dewanya itu dengan sarana moksha (melepas kemanusiaannya sehingga menggapai
sinar-sinar ketuhanan). Setelah itu, sang mphu berupaya agar karya seni yang sedang
diciptakannya menjadi sejenis sembahyang (yantra), dan terakhir, dalam keadaan menyatu
dengan dewa (moksha) dan yantra tadi, maka sang mphu pun mulai menulis kakawin nya
(Hartoko 1986:10-105).
Dengan proses tersebut, wajar sajalah kalau Kakawin
y
w
y
w
-dewi untuk menurunkan kata-kata puitis
nan indah dalam kesusastraan Jawa.
Contoh sebait puisi dari Kakawin Sutasoma gubahan Mphu Tantular adalah sebagai berikut:
wâ â w w W w ,
ê w w ,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
ê w .
(Santoso 1975:578)
Artinya:
Orang bilang Buddha dan Siwa adalah dua substansi berbeda, Keduanya memang berbeda, tapi bagaimana mungkin memahami perbedaan keduanya secara sepintas,
sebab kebenaran Jina (Buddha) dan kebenaran Siwa adalah satu,
keduanya memang sungguh berbeda, tapi keduanya dari jenis yang sama, karena tidak ada dualitas dalam Kebenaran.
Saking indahnya bait ini sehingga seorang Soekarno mengambil penggalannya untuk dijadikan
, y
Bhinneka Tunggal Ika
.
Filsafat Estetika Perenialis/Neo-Adat
Filsafat Estetika ini disebut Filsafat Estetika Perenialis karena semua filosof yang menganutnya
mengambil teori-teori estetikanya dari Filsafat Perenialisme
—
sejenis filsafat yang
dikembangkan oleh filosof-filosof seperti Frithjof Schuon (1907-1998), Ananda
Coomaraswamy (1877-1947), Rene Guenon (1886-1951), Seyyed Hossein Nasr (l. 1933),
Huston Smith (l. 1919), William C. Chittick, Titus Burckhardt (1908-1984), dan lain-lain. Juga,
Filsafat Estetika ini disebut dengan sebutan lain, yakni Filsafat Estetika Neo-Adat, karena
semua filosof yang menganutnya memiliki satu misi khusus, yakni memperbaharui Filsafat
y
y
,
Filsafat Estetika
Neo-
Filsafat Estetika
.
Menurut para filosof estetika ini (Abdullah Imam,
Reno Ramutu, Ferry Hidayat, Khumaedi Sarjono, dan lain-lain), Estetika Adat sudah dikotori
oleh tangan-tangan kolonialis (jadi, sudah tidak murni lagi), sehingga ia perlu dibersihkan
kotoran-kotorannya dengan bantuan Filsafat Estetika dari Filsafat Perenialisme. Estetika Adat
sudah dikotori oleh Estetika Modernis Barat warisan kolonialis, sehingga ia perlu dibersihkan
oleh Estetika yang diajarkan Filsafat Perenialisme.
bagian dunia ini. Estetika Adat kita tidak bisa menyatu dengan Estetika Barat Modernis yang
supra-materialistis; tapi ia bisa menyatu dengan semua Estetika yang berkarakter
spiritualistis
—
dan satu-satunya Estetika yang berkarakter spiritualistis yang masih tersisa di
dunia ini hanyalah Estetika yang diajarkan Filsafat Perenialisme ini!
Seni Sakral & Seni Profan
Menurut Estetika Neo-Adat/Perenialis, suatu karya seni disebut indah apabila ia adalah seni
sakral (sacred art). Sebaliknya, suatu karya seni disebut jelek/buruk apabila ia adalah seni
profan (profane art).
Apa itu Seni Sakral (Sacred Art) dan Seni Profan (Profane Art)? Mari kita persilahkan salah
seorang filosof Perenialisme, Frithjof Schuon, untuk menjelaskannya:
Sacred art is made as a vehicle for spiritual presences, it is made at one and the same time for God, for angels and for man; profane art on the other hand exists only for man and by that very fact betrays him (Schuon 1987:31).
...[sacred art]...in reality simply serves to restore to natural phenomena their divine messages, to which men have become insensitive... (Schuon, P .
...traditional art and craftsmanship...traditional architecture, iconography, and other arts and crafts...account spiritually, as meaningful activities which by virtue of their inherent symbolism harbor a doctrinal message, and above all as supports for spiritual realization and means of grace (Stoddard 2005:5).
Artinya:
Seni sakral sengaja diciptakan sebagai salah satu alat penghadiran ruh-ruh, ia sengaja dibuat sekaligus untuk Tuhan, untuk malaikat dan untuk manusia; sedangkan seni profan ada hanya untuk manusia dan justru karena itulah [seni profan] mengkhianati manusia.
...[seni sakral] pada kenyataannya berfungsi mengembalikan pesan-pesan ilahi yang terkandung dalam fenomena alamiah, yang sudah tidak dikenali lagi oleh manusia karena ketidakpekaannya...
Seni dan kerajinan tradisional...arsitektur tradisional, ikonografi, seni-seni dan kerajinan-kerajinan
lainnya...secara spiritual tampak sebagai aktivitas-aktivitas bermakna yang, lewat simbolismenya yang inheren, tersingkaplah suatu pesan doktrinal, dan lebih dari itu, sebagai pendukung realisasi spiritual dan sarana
pemberkatan ilahi.
Jadi, menurut Estetika Perenialis, suatu karya seni disebut
karena sesuatu itu sendiri indah secara
fisikal-material, tapi karena sesuatu itu ada untuk melayani
tujuan yang tertinggi, yaitu kebaktian kepada Yang Ilahi.
Karena itu, walaupun secara inderawiah bentuk pahatan
d
,
karena tidak halus, tidak
teratur, tidak dibuat dengan alat-alat yang modern,
,
,
akademis, tapi
karena dapat mengantarkan manusia Asmat untuk
y
w
y
meta-
w ,
patung
(Hidayat 2010:68).
Dengan kata lain, semua seni adat Nusantara adalah indah, sementara semua seni Indonesia
Modern warisan kolonialis adalah jelek/buruk.
Mengapa semua seni Indonesia Modern warisan kolonialis adalah buruk? Mari kita biarkan
seorang filosof Adat Baru, Ferry Hidayat, menjelaskannya:
Seni Indonesia asli, sebagaimana diungkapkan Romo Mangunwijaya saat berbicara tentang seni sastra Indonesia
, Pada Awal Mula, Segala Sastra Adalah Religius. Seni asli Indonesia lahir dari kultur dan peradaban asli Indonesia yang . lahir dari kultur dan peradaban kosmik, di mana sekularisme Kosmos belum juga dikenal. Realitas masih bulat, satu, menyeluruh. Realitas masih tremendum, sacrum, fascinasum, sanctum. Di mana Sains, Filsafat, Spiritualitas, Seni, Kultur, Peradaban, Teknik masih berpadu
dalam naun . y , P y y ,
kecuali segi- y . , P ,
gambaran yang ia proyeksikan hanya gambaran parsial dari keseluruhan realitas, yaitu gambaran profannya saja.
, P y y
memilih parsialitas profan daripada universalitas sakral)...
P , hanya memandang aspek profan dari segala produk artistik suku asli Indonesia. Produk pahat dan ukiran Mbis suku Asmat, misalnya, tidak lagi dipahami menyeluruh sebagai ekspresi kesakralan masyarakat yang memuja kesakralan leluhur, tapi dipahami sekadar komoditas komersial yang dapat dijual dan dibeli dengan ukuran harga tinggi. Tari Tunggal Penaluan suku Batak juga tidakkan dipahami lagi sebagai tarian pemanggil kekuatan gaib dan penjemput roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan, tapi sekadar dipahami sebagai tari eksotik penyambut turis-turis asing dan penjemput devisa di bidang pariwisata. Begitu pula seni-seni lain dari penduduk asli Indonesia, tidak akan dipahami secara sakral, tapi seluruhnya dipahami secara profan: dari nilai komersial dan keuntungan material.
Terhadap produk seni asli pra- , P memperlakukannya sebagai komoditas, sedangkan terhadap produk seni modern, bagaimana P memperlakukannya? Tidak jauh berbeda dengan produk seni pra-modern: komoditas belaka, tidak lebih. Semakin indah, semakin mahal. Tapi, apa kriteria atau ukuran
y y ? , y
P .
Untuk menjelaskan masalah kriteria ini, kita memerlukan tinjauan Estetika atau Philosophy of Art. Estetika yang
P . P sesuatu
sebagai , itu dapat memuaskan citarasa sebatas mata atau telinga. Jika mata menangkap
kesan- y y y , . Jika telinga menangkap
gelombang suara yang dapat menyenangkan , . P sesuatu sebagai
hanya berhenti pada penyenangan inderawi, tidak lebih dari itu. Sementara,
sendiri ada, tapi karena sesuatu itu ada untuk melayani tujuan yang tertinggi, yaitu kebaktian kepada Yang Ilahi.
Jika P y y , yang kemudian lahir semata-mata Naturalisme.
y , mengambil Alam sebagai obyek seninya, maka yang kemudian lahir bukanlah
Naturalism , . sebagai Arketip (Archetype) atau Simbol atau
Gambar atau Manifestasi Ilahi. Alam sebagai Manifestasi Ilahi diungkap sangat baik dalam hadits kaum Islam: â î , y - â (Sesungguhnya Ilahi itu Indah; Ia menyukai Keindahan). Segala hal alamiah yang indah merupakan manifestasi Keindahan lahi. Gambar bulan dan matahari dalam pahatan Mbis, misalnya, bukanlah mengekspresikan fenomena bulan dan matahari yang sempat ditangkap oleh mata telanjang manusia Asmat, tapi merepresentasikan Yang Ilahi.
Jika P y y , y semata-mata
Naturalisme (yang dalam bentuknya yang paling vulgar menjadi Pornografi Sempurna
. y , sebagai obyek seninya, maka yang kemudian lahir
bukanlah Naturalisme, tapi lagi- . adalah Arketip atau Manifestasi Ilahi. Gambar wajah-wajah leluhur yang dipahat pada pahatan suku Asmat, misalnya, bukanlah semata-mata dibuat
untuk menirukan wajah y , y y .
K y y , P dan , tentu saja dimaknai
misalnya, dipahami sebagai (yang dilambangkan dengan kemaluan lelaki)
yang dilambangkan dengan kemaluan wanita) dan menyuburkannya, sehingga
lahirlah tetumbuhan. Sebaliknya, dalam P y
kemaluan, alat seksual, alat reproduksi.
P dalam menggambarkan kemaluan. Kemaluan hanya
digambarkannya untuk menimbulkan efek- y ,
, kemaluan digambarkan lagi-lagi sebagai simbol berkarakter spiritual. Ronggowarsito, dalam Serat Wirid Hidayat Jati, mengambil kemaluan lelaki (yang disebutnya konthol Adam) sebagai obyek, yang dapat
mengantarkan manusia menuju pemahaman spiritual akan Yang Ilahi.
Dalam seni Yunani-Kuno, Priapus digambarkan sebagai dewa yang berkemaluan besar sekali: simbol kesuburan. Bahkan, orang Yunani-Kuno membangun suatu monumen berbentuk kemaluan lelaki (phallus) setinggi 54 meter di depan Kuil Afrodisia, untuk menyembah Afrodisia (Dewi Cinta), Dionysus (Dewa Kesenangan Memabukkan), dan Priapus (Dewa Kesuburan). Orang Funisia juga melambangkan Adonis (Dewa Penyubur Tetumbuhan) dengan lambang kemaluan lelaki (phallus).
Dalam seni India, kemaluan lelaki (lingam) dan kemaluan wanita (yoni) merupakan simbol kemahapenciptaan Syiwa. Raja Sanjaya di Kerajaan Mataram Hindu pernah mendirikan pada tahun 730 M, di Muntilan, Jawa Tengah, sebuah bangunan berbentuk linga untuk Syiwa. Selain untuk memuja Syiwa, bangunan linga ini juga berfungsi sebagai tempat pemakaman, yang menurutnya, akan memungkinkannya menyatu dengan Syiwa.
Tapi, bagaimana lingam atau phallus P ? ungkin, tidak akan lebih jauh daripada sekadar dildo! Gatholoco, suatu naskah sastra sakral dari Jawa pun akan dimaknai semata-mata sebagai
Gatho (Ujung yang Rahasia, Penis) dan Loco (Dirancap-rancap). Dewi Lupitwati, yang merupakan lawan dialog tokoh utama bernama Gatholoco, juga akan dimaknai secara
literal-Lu atau Alu (Penis), Pit (Dijepit), Wati (Vagina), dan Dewi Prejiwati semata-mata dipahami sebagai vag Preji (Biji) dan Wati (Vagina). Pendangkalan-pendangkalan makna inilah yang hendak dilawan oleh
P y 65-72).