• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alasan Pasien Memilih Terapi Pijat dalam Perawatan Stroke di Kecamatan Gunungsitoli

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Alasan Pasien Memilih Terapi Pijat dalam Perawatan Stroke di Kecamatan Gunungsitoli"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Konsep Stroke 1.1. Definisi Stroke

Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat dalam hitungan detik atau menit. Gejala-gejala ini dapat berlangsung lebih dari 24 jam dan dapat menyebabkan kematian (Ginsberg, 2008).

WHO mendefenisikan stroke sebagai sindrom klinis dengan gejala gangguan fungsi otak secara fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih yang dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang menetap lebih dari 24 jam tanpa penyebab lain kecuali gangguan pembuluh darah otak (Tarwoto, 2007).

1.2. Klasifikasi Stroke

Stroke dapat diklasifikasikan berdasarkan keadaan patologis serta perjalanan penyakitnya. Berdasarkan keadaan patologis, stroke dapat dibagi dua, yaitu stroke iskemia dan stroke hemoragik.

(2)

dengan kerusakan lokal dinding pembuluh darah akibat ateroslerosis. Stroke karena emboli biasanya berasal dari suatu trombosis dalam jantung, dapat juga berasal dari plak ateroslerosis sinus karotikus atau arteri karotis interna. Pada stroke akibat hypoperfusi global biasanya disebabkan karena cardiac arrest dan embolis pulmonal (Tarwoto, 2007).

Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena adanya perdarahan intrakranial non traumatik. Perdarahan intrakranial diklasifikasikan menjadi perdarahan intraserebral dan perdarahan subarakhnoid (Harsono, 2007).

Perdarahan intraserebral merupakan perdarahan primer yang berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan disebabkan oleh trauma. Perdarahan intraserebral sering diakibatkan oleh cedera vaskular yang dipicu oleh hipertensi dan ruptur salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam jaringan otak. Perdarahan di bagian dalam jaringan otak biasanya menyebabkan defisit neurologik fokal yang cepat dan memburuk secara progresif dalam beberapa menit sampai kurang dari 2 jam (Price &Wilson, 2005).

(3)

Sedangkan berdasarkan mekanisme perjalanan penyakitnya, stroke terbagi atas empat, yaitu Transient Ischemic Attack (TIA), Reversible Ischemic Neurologycal Defisit (RIND), stroke progresif (Stroke in Evolution), dan stroke

lengkap (Complete Stroke).

Transient Ischemic Attack (TIA) merupakan gangguan neurologi fokal

yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang dalam beberapa menit sampai beberapa jam. Gejala yang muncul akan hilang secara spontan dalam waktu kurang dari 24 jam (Tarwoto, 2007). Gangguan neurologi ini menimbulkan beragam gejala, bergantung pada lokasi jaringan otak yang terkena. TIA merupakan hal yang penting diperhatikan karena dapat menjadi peringatan dini akan kemungkinan infark serebrum di masa mendatang (Price & Wilson, 2003).

Pada Reversible Ischemic Neurologycal Defisit (RIND), gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih dari 24 jam, tetapi tidak lebih dari seminggu (Harsono, 2007).

Stroke Progresif (Stroke in Evolution) merupakan perkembangan stroke yang terjadi secara perlahan-lahan sampai akut, munculnya gejala semakin memburuk. Proses progresif ini terjadi beberapa jam sampai beberapa hari (Tarwoto, 2007).

(4)

1.3. Penyebab Stroke

Stroke yang terjadi pada pasien dapat disebabkan oleh beberapa kejadian, yaitu trombosis, emboli serebral, dan perdarahan serebral.

Trombosis adalah bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher, yang kemudian menyumbat aliran darah ke otak. Oklusi vaskular hampir selalu disebabkan oleh trombus, yang terdiri dari trombosit, fibrin, sel eritrosit dan leukosit. Jejas pada sel endotelium dapat mempresipitasi pembentukan trombus di pembuluh darah (Lumbantobing, 2001).

Emboli otak merupakan 5-15% dari penyebab stroke. Emboli dapat terdiri dari debris kolesterol, gumpalan trombosit dan fibrin (Lumbantobing, 2001).

Perdarahan serebral dapat mengganggu fungsi otak melalui mekanisme yang berbeda-beda, meliputi adanya kerusakan atau tekanan pada jaringan otak, serta tekanan pada pembuluh darah otak (Simon, 2009).

1.4. Faktor Resiko Stroke

Stroke merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh banyak faktor resiko. Tarwoto (2007) menjelaskan faktor resiko stroke yang meliputi usia, jenis kelamin, ras dan keturunan, hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, polisitemia, merokok, dislipidemia, serta obesitas.

(5)

Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai kecenderungan lebih tinggi untuk menderita stroke dibanding perempuan. Hal ini dapat disebabkan gaya hidup seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol yang lebih sering dijumpai pada laki-laki dibanding perempuan (Weng dkk, 2010).

Ras dan keturunan juga mempengaruhi resiko seseorang menderita stroke. Riwayat penyakit stroke dalam keluarga atau penyakit yang berkaitan dengan stroke menjadi faktor resiko seseorang dapat terserang stroke.

Hipertensi merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam kejadian stroke. Hipertensi dapat menyebabkan terjadinya ateroslerosis pembuluh darah serebral sehingga nantinya akan pecah dan menimbulkan perdarahan pada jaringan otak. Pada pasien dengan penyakit jantung, fibrilasi atrium dapat menyebabkan penurunan cardiac output, sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan perfusi serebral.

Pada pasien dengan penyakit diabetes mellitus terjadi gangguan vaskuler sehingga dapat mengakibatkan terjadinya hambatan aliran darah ke otak. Meningkatnya kadar gula darah secara berkepanjangan berkaitan erat dengan disfungsi sel endotel yang dapat memicu terbentuknya aterosklerosis. Kecenderungan membentuk bekuan abnormal semakin dipercepat oleh resistensi insulin, sehingga kecenderungan mengalami koagulasi intravaskular juga semakin meningkat (Price & Wilson, 2005).

(6)

mengakibatkan darah menjadi lebih kental sehingga aliran darah ke otak menjadi lebih lambat.

Orang yang memiliki kebiasaan merokok dua kali lebih beresiko untuk menderita stroke dibanding orang yang tidak merokok (Stroke Association, 2013). Rokok menimbulkan plak pada pembuluh darah akibat nikotin dan karbon monosida, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya aterosklerosis.

Dislipidemia dapat menjadi salah satu pemicu stroke. Semakin tinggi kadar kolesterol dalam darah, maka semakin besar kemungkinan kolesterol tersebut tertimbun pada dinding pembuluh darah. Kadar kolesterol yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis dan lemak sehingga dapat menghambat aliran darah. Seseorang dengan berat badan berlebih juga beresiko tinggi menderita stroke. Pada pasien obesitas, kadar kolesterol darah tinggi yang dapat memicu terjadinya hipertensi.

1.5. Patofisiologi Stroke

(7)

lebih banyak. Sebaliknya keadaan vasodilatasi memberi efek pada peningkatan tekanan intrakranial (Tarwoto, 2007).

The National Stroke Assoiation (2001 dalam Price & Wilson, 2005) meringkas mekanisme cedera sel akibat stroke sebagai berikut. Tanpa obat-obat neuroprotektif, sel-sel saraf yang mengalami iskemia 80% atau lebih akan mengalami kerusakan irreversibe dalam beberapa menit. Pusat iskemik dikelilingi oleh daerah jaringan lain yang disebut penumbra iskemik atau “zona transisi” dengan CBF antara 20% dan 50% normal (10 sampai 25 ml/100 g jaringan otak/menit). Sel-sel neuron yang berada di daerah ini berada dalam bahaya tetapi belum rusak secara ireversibel.

(8)

meningkatkan banyak fungsi fisiologis yang bergantung pada vasodilatasi, namun dalam jumlah berlebihan, NO dapat menyebabkan kerusakan dan kematian neuron. Sel-sel otak akhirnya mati akibat kerja berbagai protease yang diaktifkan oleh kalsium, lipase, dan radikal bebas yang terbentuk akibat jenjang iskemik. Akhirnya, jaringan otak yang mengalami infark membengkak dan dapat menimbulkan tekanan dan distorsi serta merusak batang otak.

Stroke hemoragik terjadi sesuai dengan perdarahan otak dan lokasi perdarahannya. Perdarahan intraserebral di dalam jaringan otak sering terjadi akibat cedera vaskuler yang dipicu hipertensi dan ruptur salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam otak (Price & Wilson, 2005). Perdarahan subaraknoid menyebabkan disfungsi serebral akibat peningkatan tekanan intrakranial. Penyebabnya yaitu ruptur suatu aneurisma vaskular dan trauma kepala (Price & Wilson, 2005). Daerah yang tertekan tersebut selanjutnya akan mengalami edema sekunder akibat iskemia dan menambah tekanan intrakranial semakin berat. Keadaan hemoragik dan iskemik dapat terjadi bersamaan. Hemoragik dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan menyebabkan iskemia, dan pada daerah yang mengalami iskemia dapat terjadi perdarahan (Lumbantobing, 2001).

1.6. Tanda dan Gejala Sroke

(9)

munculnya secara mendadak satu atau lebih defisit neurologik fokal. Gejala umum berupa baal atau lemas mendadak di wajah, lengan, atau tungkai terutama di salah satu sisi tubuh; gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau kedua mata; bingung mendadak; tersandung saat berjalan, pusing, hilangnya keseimbangan; dan adanya nyeri kepala mendadak tanpa penyebab yang jelas (Price & Wilson, 2005).

Price dan Wilson (2005) menjelaskan sindrom neurovaskular, yang berlaku pada iskemia dan infark akibat trombosis atau embolus sebagai berikut.

Pada arteri karotis interna, lokasi tersering terjadinya lesi adalah bifurkasio arteria karotis komunis ke dalam arteria karotis interna dan eksterna. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya berbagai sindrom dan polanya bergantung pada jumlah sirkulasi kolateral di antaranya dapat terjadi kebutaan satu mata di sisi arteria karotis yang terkena akibat insufisiensi arteria retinalis serta timbulnya gejala sensorik dan motorik di ekstremitas kontralateral karena insufisiensi arteri serebri media. Lesi juga dapat terjadi di daerah antara arteria serebria anterior dan media atau arteria serebri media dengan gejala awal timbul di ekstremitas atas dan mungkin mengenai wajah. Apabila lesi terjadi di hemisfer dominan, maka terjadi afasia ekspresif karena keterlibatan daerah bicara-motorik Broca.

Jika lesi yangb terjadi pada arteri serebri media mengakibatkan pasien mengalami hemiparesis atau monoparesis kontralateral, juga dapat terjadi hemianopsia (kebutaan) kontralateral, afasia global, serta disfasia.

(10)

mengakibatkan gerakan volunter tungkai yang bersangkutan terganggu, defisit sensorik kontralateral, demensia, gerakan menggenggam dan refleks patologis (disfungsi lobus frontalis).

Lesi pada sistem vertebrobasilar dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan di salah satu atau keempat ekstermitas, terjadi peningkatan refleks tendon, ataksia, tanda Babinski bilateral, gejala-gejala serebelum seperti tremor intention dan vertigo, disfagia, disatria, sinkop, stupor, koma, pusing, gangguan daya ingat, disorientasi, gangguan penglihatan (diplopia, nistagmus, ptosis, paralisis satu gerakan mata, hemianopsia homonim), adanya tinitus, serta rasa baal di wajah, mulut dan lidah.

Lesi pada arteri serebri posterior, dapat mengakibatkan pasien mengalami koma, hemiparesi kontralateral, afasia visual atau buta kata (aleksia), serta kelumpuhan saraf kranial ketiga.

1.7. Penatalaksanaan Stoke

(11)

tingkat optimal, serta dipantau agar jangan terjadi penurunan perfusi otak. Kadar gula darah yang tinggi pada fase akut tidak diturunkan dengan drastis, terutama pada penderita diabetes melitus. Bila klien dalam keadaan gawat atau koma, keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa darah harus dipantau.

Obat-obatan yang digunakan untuk memulihkan aliran darah dan metabolisme otak antara lain anti edema otak berupa gliserol 10 % per infus, 1 gr/kg BB/hari dalam 6 jam, kortikosteroid dan deksametason dengan bolus 10-20 mg i.v., diikuti 4-5 jam/6 jam selama beberapa hari, lalu diturunkan pelan-pelan dan dihentikan setelah fase akut. Anti agresasi trombosit asam asetil salisilat (ASA), seperti aspirin, aspilet dengan dosis rendah : 80-300 mg/hari serta antikoagulan misalnya heparin. Setelah fase akut berlalu, sasaran pengobatan dititikberatkan pada tindakan rehabilitasi penderita dan pencegahan terulangnya stroke.

(12)

Terapi preventif bertujuan untuk mencegah terulangnya atau timbulnya serangan baru stroke dengan cara mengobati dan menghindari faktor-faktor resiko stroke, seperti hipertensi, diabetes melitus, rokok, obesitas, dan stres.

2. Konsep Pijat 2.1. Pengertian Pijat

Pijat telah digunakan sebagai salah satu intervensi terapeutik untuk mengatasi berbagai keluhan penyakit selama ribuan tahun. Di Asia pijat telah dikenal sejak 1000 tahun SM, terutama dalam penyembuhan Ayurveda. Pijat merupakan manipulasi terhadap jaringan lunak, umumnya dengan menggunakan tangan, untuk menstimulasi dan merelaksasi, serta untuk mengurangi stres dan kecemasan (Keir, 2010).

2.2. Jenis-Jenis Pijat

Ada berbagai macam terapi pijat yang dikenal di seluruh dunia, yaitu pijat shiatsu, biodinamic massage, refleksologi, sport massage atau pijat Swedia, pijat bayi dan pijat tradisional Indonesia.

(13)

Biodinamic massage merupakan merupakan suatu jenis terapi kesehatan

yang mengkombinasikan terapi pijat dengan elemen olah tubuh dan perkembangan psikologi (Sundari, 2011).

Sport massage atau pijat Swedia merupakan jenis terapi pijat yang

ditujukan untuk merilekskan otot dan melenturkan sendi yang kaku, yang umumnya dilakukan pada olahragawan atau atlet (Sundari, 2011).

Pijat bayi adalah pijat yang berupa usapan-usapan lembut pada tubuh bayi yang umumnya bertujuan untuk memberi rasa aman, nyaman dan menyehatkan bagi bayi. Beberapa penelitian menemukan bahwa pijat bayi dapat membantu meningkatkan berat badan bayi, meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh bayi, serta meningkatkan ikatan kasih sayang antara orang tua dan bayi (Sundari, 2011).

Pijat tradisional Indonesia adalah pijat khas Indonesia yang mengandalkan teknik pemijatan dengan penekanan telapak tangan dan ibu jari ke tubuh. Beberapa terapis pijat tradisional menggunakan minyak kelapa untuk mempermudah pemijatan pada tubuh pasien. Masyarakat di Indonesia menggunakan terapi pijat tradisional sebagai terapi untuk perawatan kesehatan (Ilham, 2011; Sundari, 2011; Agoes & Jacob, 1996).

(14)

2.3. Teknik Pemijatan

Goldstein (2010) membagi teknik pemijatan dalam 5 gerakan utama, yaitu efflurage, friction, petrissage, tapotement, dan vibrasi.

Efflurage adalah gerakan pemijatan dengan mengusap yang dilakukan

secara berirama dan berturut-turut ke arah atas. Gerakan mengusap, yaitu gerakan ringan dan terus-menerus yang dilakukan dengan ujung jari bagian bawah pada bagian wajah yang sempit seperti hidung dan dagu, dan dengan telapak tangan pada bagian wajah yang lebar seperti dahi dan pipi. Efflurage memiliki efek sedatif yaitu memberikan efek menenangkan, sehingga selalu dipakai di awal dan di akhir pemijatan (Goldstein, 2010).

Friction memberi tekanan pada kulit untuk memperlancar sirkulasi darah

dan memperkuat otot dan kulit. Friksi dapat dilakukan dengan ujung0ujung jari atau pangkal telapak tangan, sesuai dengan kebutuhan. Friksi dilakukan dengan menekankan ujung-ujung jari pada bagian tubuh yang dipijat, lalu diputar ringan berurutan sambil berpindah tempat (Goldstein, 2010; Keir, 2005)

Petrissage bertujuan untuk memijat otot dengan menggunakan satu tangan

atau kedua tangan. Pelaksanaan petrissage untuk daerah-daerah yang lebar pada tubuh dapat dilakukan dengan kedua tangan secara bersamaan atau kedua tangan bergantian secara berurutan. Untuk daerah yang sempit, pemijatan dilakukan dengan menggunakan ujung-ujung jari dengan arah gerakannya naik turun bebas (Goldstein, 2010).

Tapotement merupakan gerakan memijat dengan menepuk yang dilakukan

(15)

kedua tangan secara bergatian. Sikap tangan dapat berupa setengah mengepal, jari-jari terbuka atau rapat, serta dapat juga dilakukan dengan mencekungkan telapak tangan dengan jari-jari merapat. Gerakan ini bertujuan untuk mengurangi tonus otot dan memperlancar peredaran darah (Goldstein, 2010).

Vibrasi merupakan gerakan menggetarkan otot secara berirama dengan tekanan ringan. Pada gerakan ini digunakan ujung jari dan telapak tangan untuk menggetarkan massa otot secara bergantian (Goldstein, 2010)

2.4. Manfaat Pijat

Manfaat pijat bersifat universal, positif dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pijat telah digunakan diseluruh dunia sebagai tindakan pencegahan tanpa menggunakan obat atau operasi (Trionggo & Ghofar, 2013).

Pijat memiliki banyak fungsi bagi kesehatan antara lain mengurangi ketegangan otot, meredakan kelelahan, meningkatkan energi, meningkatkan kualias tidur, menenangkan tubuh dan pikiran serta meredakan stres (Trionggo & Ghofar, 2013).

Retno dan Prawesti (2012) menemukan adanya pengaruh pijat slow stroke back terhadap perubahan tekanan darah pada responden. Sentuhan atau tekanan

(16)

Dalam penelitiannya, Givi (2013) menemukan bahwa pijat atau massage dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan pada pasien hipertensi. Pijat menjadi suatu intervensi yang aman, efektif, dan murah untuk mengontrol tekanan darah dan dapat dilakukan di tempat pusat perawatan dan di rumah.

Weerapong (2005) menemukan bahwa pijat atau massage dapat mengurangi respon nyeri pasien dengan mekanisme gerbang kontrol pada spinal cord. Pijat dapat meningkatkan substansi biokimia seperti serotonin, yang merupakan neurotransmitter yang dapat mengurangi respon nyeri. Pijat juga memiliki efek yang positif terhadap tingkat ansietas atau kecemasan pasien.

Penelitian Sajedi (2011) terhadap anak-anak penderita diabetes melitus, didapatkan bahwa massage atau pijat efektif dalam menurunkan kadar gula darah pasien. Pijat juga dapat menurunkan tingkat kecemasan dan hormon stres pasien, sehingga dapat meningkatkan relaksasi.

Anuar (2012) dalam penelitiannya melaporkan adanya efek positif terapi pijat pada pasien paska stroke. Pasien mengaku mengalami kemajuan pemulihan secara fisik dan psikis setelah mengikuti terapi pijat dalam perawatannya.

(17)

memiliki efek samping karena lebih alami, serta dapat melengkapi terapi medis dalam perawatan pasien (Bishop, 2008; Tindle, 2005).

Ada beberapa faktor alasan pasien memilih terapi pijat sebagai terapi komplementer dalam perawatannya, selain menggunakan terapi medis. Faktor-faktor tersebut adalah Faktor-faktor sosial masyarakat, psikologi, ekonomi, Faktor-faktor manfaat dan keberhasilan terapi, dan persepsi tentang penyakit yang diderita (Trionggo & Ghofar, 2013; Bishop, 2010; Potter & Perry, 2009; Walcott, 2004).

3.1. Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya mempengaruhi pemikiran dan keyakinan pasien dalam memilih terapi kesehatan yang akan dijalaninya. Kelompok sosial dapat membantu pasien dalam mengenali ancaman sakit atau mendukung penolakan terhadap sakit. Klien sering bereaksi secara positif terhadap dukungan sosial saat mempraktekkan tingkah laku kesehatan yang positif. Faktor sosial juga sangat mempengaruhi keputusan pasien tentang layanan kesehatan yang dipilihnya (Potter & Perry, 2009).

(18)

3.2. Faktor Psikologis

Menurut Bishop (2010), pasien memilih terapi komplementer karena merasa lebih nyaman, holistik dan lebih personal sesuai dengan kebutuhannya. Pasien merasa yakin bahwa kondisi kesehatannya akan lebih baik dengan perawatan yang dilakukan oleh terapis. Sikap caring yang ditunjukkan oleh terapis juga mempengaruhi keputusan pasien memilih terapi komplementer yang dijalaninya.

Hubungan saling percaya antara pasien dengan terapis juga berdampak positif terhadap efektifitas terapi yang dijalani oleh pasien. Banyak pasien yang meyakini bahwa penyembuhan dapat tercapai dengan sentuhan dan sikap caring serta empati yang ditunjukkan oleh terapis pada mereka (Smith dkk, 2009).

3.3. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi mempengaruhi reaksi pasien terhadap penyakit. Akses layanan kesehatan berkaitan erat dengan faktor ekonomi (Potter & Perry, 2009). Dalam penelitiannya, Walcott (2004) menyatakan bahwa faktor ekonomi mempengaruhi keputusan masyarakat memilih pelayanan kesehatan. Biaya yang murah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pasien memilih terapi pijat sebagai terapi komplementer dalam perawatannya.

(19)

3.4. Faktor Manfaat dan Keberhasilan Terapi

Keefektifan terapi komplementer juga menjadi salah satu alasan pasien untuk memilih terapi. Pasien yang memilih terapi pijat merasakan banyak manfaat selama menjalani terapi. Mengurangi ketegangan otot, meredakan kelelahan, meningkatkan kualitas tidur, meredakan stres dan menenangkan pikiran dan tubuh merupakan manfaat pijat yang banyak dirasakan oleh pasien (Trionggo & Ghofar, 2013).

3.5. Persepsi Tentang Penyakit yang Diderita

Persepsi merupakan pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera. Persepsi pasien terhadap penyakitnya mempengaruhi perilaku pasien terhadap gejala dan tanda penyakit yang dideritanya. Menurut Forster dan Anderson (1986), di Indonesia masyarakat dan pengobat tradisional menganggap ada dua hal yang menjadi penyebab terjadinya suatu penyakit, yaitu naturalistik dan personalistik.

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pertumbuhan belanja pemerintah pusat yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, pembayaran bunga utang,

Jelas menunjukkan bahawa pengaruh Tamadun India terhadap perkembangan sains dalam Islam menjadi asas kepada perkembangan ilmu dalam bidang sains dan teknologi seperti

Dalam hal penjualan kembali Unit Penyertaan REKSA DANA BNP PARIBAS STAR dilakukan oleh Pemegang Unit Penyertaan melalui media elektronik, maka Formulir Penjualan Kembali

Hal yang dapat disimpulkan dari tabel 1.2 adalah jenis produk privat label Giant dengan jenis produk publish label dilihat dari harga yang menjadi perbedaan anatara jenis

Pada kolom Anggaran diisi dengan jumlah anggaran yang dialokasikan pada program tersebut; Pada kolom Keterangan diisi dengan keterangan tambahan yang penting, misalnya proporsi

Penelitian memperlihatkan umumnya laki-laki memiliki intensi untuk berwirausaha yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.. Berpijak pada fenomena kesuksesan bisnis

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pada suhu pengeringan 100˚C dihasilkan pati garut instan dengan warna yang lebih gelap karena nilai L* yang semakin rendah; nilai a*