• Tidak ada hasil yang ditemukan

Roadmap Litbang Kehutanan 2010 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Roadmap Litbang Kehutanan 2010 2015"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

K

K

K

A

A

A

T

T

T

A

A

A

P

P

P

E

E

E

N

N

N

G

G

G

A

A

A

N

N

N

T

T

T

A

A

A

R

R

R

Puji syukur patut kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala berkah dan karunia-Nya, sehingga kita dapat melaksanakan penyusunan Roadmap Litbang Kehutanan 2010-2025.

Roadmap Litbang Kehutanan ini disusun sebagai bahan dasar dalam penyusunan kebijakan strategis untuk pelaksanaan program riset kehutanan jangka panjang. Roadmap mempunyai arti penting untuk dapat dilaksanakan secara sinergis oleh setiap unsur litbang kehutanan, sehingga dapat mencapai tujuan yang direncanakan. Dokumen roadmap ini merupakan rancangan litbang kehutanan jangka panjang yang bersifat makro, sehingga untuk mengisi dan mengoperasionalkannya perlu dibuat dokumen perencanaan yang lebih detail, yang harus disusun oleh unit-unit penelitian di tingkat pusat penelitian (puslit/puslitbang) serta lembaga lain yang terkait, dalam phase yang lebih pendek (lima tahunan).

Buku ini diharapkan memiliki makna strategis, bukan saja untuk internal Badan Litbang Kehutanan, melainkan bagi institusi lain yang menyelenggarakan penelitian dan pengembangan guna mendukung pembangunan kehutanan nasional.

Semoga dokumen ini bermanfaat bagi pelaku litbang untuk berkontribusi dalam pembangunan kehutanan di Indonesia, sehingga dapat memberikan kontribusi positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan kehutanan yang berbasis IPTEK secara berkelanjutan.

Jakarta, Pebruari 2009 Kepala Badan,

Dr. Ir. Tachrir Fathoni, M.Sc

(4)
(5)

D

D

D

A

A

A

F

F

F

T

T

T

A

A

A

R

R

R

I

I

I

S

S

S

I

I

I

PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... iii

PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Maksud dan Tujuan ... 2

C. Pengertian ... 2

D. Sistematika ... 3

TANTANGAN SEKTOR KEHUTANAN A. Tantangan Operasional ... 5

B. Tantangan Kelitbangan ... 6

ARAHAN ROADMAP LITBANG KEHUTANAN A. Arahan Roadmap ... 9

1. Lansekap Hutan ... 9

2. Pengelolaan Hutan ... 10

3. Perubahan Iklim ... 17

4. Pengolahan hasil Hutan ... 18

5. Kebijakan ... 20

B. Visi dan Misi ... 1. Visi ... 21

2. Misi ... 21

3. Tujuan ... 21

4. Sasaran ... 21

PENUTUP ... 23

(6)

D

D

D

A

A

A

F

F

F

T

T

T

A

A

A

R

R

R

L

L

L

A

A

A

M

M

M

P

P

P

I

I

I

R

R

R

A

A

A

N

N

N

LANSEKAP HUTAN 25 ... LAMPIRAN 1.1 ROADMAP LITBANG LANSEKAP HUTAN

PENGELOLAAN HUTAN 27 ... LAMPIRAN 2.1 ROADMAP LITBANG HUTAN ALAM 29 ... LAMPIRAN 2.2 ROADMAP LITBANG HUTAN TANAMAN 31 ... LAMPIRAN 2.3 ROADMAP LITBANG BIODIVERSITAS 33 ... LAMPIRAN 2.4 ROADMAP LITBANG HASIL HUTAN BUKAN KAYU 35 ... LAMPIRAN 2.5 ROADMAP LITBANG PENGELOLAAN DAS

PERUBAHAN IKLIM 37 ... LAMPIRAN 3.1 ROADMAP LITBANG PERUBAHAN IKLIM

(7)

P

P

P

E

E

E

N

N

N

D

D

D

A

A

A

H

H

H

U

U

U

L

L

L

U

U

U

A

A

A

N

N

N

A. Latar Belakang

Sumberdaya Hutan : Sumberdaya hutan Indonesia pernah menyumbangkan manfaat sebagai salah satu modal utama pembangunan ekonomi nasional, antara lain dalam bentuk pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan pengembangan wilayah. Selain peran ekonomi, sumberdaya hutan juga mempunyai fungsi yang lebih luas yaitu

sebagai salah satu komponen sistem penyangga kehidupan (the life support system).

Untuk itu, sumberdaya hutan harus dikelola secara berkelanjutan agar mampu memberikan manfaat yang optimal dan berjangka panjang.

Komitmen pengelolaan sumberdaya hutan secara berkelanjutan telah banyak dinyatakan oleh berbagai pihak. Pada kenyataannya, sampai saat ini masih banyak terdapat berbagai kelemahan yang menyebabkan penurunan kuantitas dan kualitas sumberdaya hutan. Sebagai akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi dan dampak sosial yang sudah mengarah pada tingkat mengkhawatirkan.

Penyebab utama terjadinya berbagai kelemahan, termasuk kegagalan, dalam menjaga ekistensi dan pelestarian sumberdaya hutan adalah terutama karena adanya keragaman pandangan, kepentingan dan tujuan dari berbagai pihak, baik sektor, pemerintahan, dunia usaha, serta masyarakat baik lokal, nasional maupun global, dalam penekanan prioritas pengelolaan sumberdaya hutan dan pemanfaatan kawasan hutan. Ketidak-berhasilan dalam membangun kesepahaman dan mewujudkan harmonisasi atas berbagai perbedaan tersebut, telah menimbulkan dampak negative terhadap sumberdaya hutan berupa deforestasi dan degradasi hutan yang cenderung semakin meningkat.

(8)

kebenarannya untuk meningkatkan fungsi, manfaat dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau menghasilkan teknologi baru.

Dengan pemahaman tersebut diatas, esensi dari penelitian dan pengembangan adalah menyajikan kebenaran ilmiah dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadikannya sebagai dasar dan mendayagunakannya secara lebih lanjut untuk meningkatkan fungsi, manfaat dan aplikasinya.

Penerapan pengelolaan hutan berkelanjutan dengan berbagai kompleksitas dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan yang ada didalamnya, akan bisa berjalan secara optimal apabila didasari oleh kebenaran ilmiah dan IPTEK yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan. Hasil Litbang akan menjadi input yang obyektif dalam pengambilan kebijakan termasuk dukungan teknologi tepat guna dan inovatif dalam meningkatkan kinerja pengelolaan hutan serta daya saing produk hasil hutan dan jasa.

Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan: Sampai dengan tahun 2009, sudah banyak dilaksanakan kegiatan litbang serta hasilnya. Berdasarkan Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2003–2009, kegiatan dan hasil litbang tersebut dikelompokkan dalam 10 kategori program yaitu: 1) pengelolaan hutan alam produksi lestari, 2) pembangunan dan pengelolaan hutan tanaman, 3) pengelolaan DAS dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis, 4) pengelolaan kawasan yang dilindungi dan pelestarian keanekaragaman hayati, 5) pengembangan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan, 6) peningkatan budidaya HHBK untukmendukung UKM, 7) tekno-ekonomi pemanfaatan hasil hutan, 8) pemanfaatan dan pemasaran jasa hutan, 9) biologi hutan dan sifat dasar hasil hutan, dan 10) pemantapan kelembagaan sektor kehutanan. Selain yang dilakukan oleh Badan Litbang Kehutanan, penelitian yang terkait dengan kehutanan juga dilakukan oleh lembaga lain seperti perguruan tinggi, LIPI, CIFOR, ICRAF, dan BIOTROP.

Selain untuk mendukung 5 Kebijakan Prioritas Departemen Kehutanan, yaitu: 1) pemberantasan pencurian kayu di hutan negara dan perdagangan kayu illegal, 2) revitalisasi sektor kehutanan khususnya industri kehutanan, 3) rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan, 4) pemberdayaan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, dan 5) pemantapan kawasan hutan, serta jabarannya kedalam 18 fokus kegiatan, kegiatan litbang kehutanan diharapkan juga mampu mengakomodasi kondisi dan tantangan sektor kehutanan saat ini dan ke depan yang setidaknya terkait dengan 6 isu utama yaitu 1) pemantapan kawasan hutan, termasuk revitalisasi kawasan hutan dalam DAS dan tata ruang, 2) perbaikan potensi multifungsi hutan, termasuk optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan hutan, 3) rehabilitasi hutan dan konservasi alam, 4) peningkatan daya saing produk dan jasa hutan, 5) pemantapan kelembagaan kehutanan, serta 6) isu global yang terkait dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

(9)

belum memberikan hasil yang optimal mengingat kategori tematik penelitian yang cukup bervariasi dan pada kenyataannya mempunyai keterkaitan erat satu sama lain untuk saling melengkapi. Untuk itu perlu disusun suatu peta arahan atau peta jalan (roadmap) penelitian dan pengembangan kehutanan yang lebih solid dan terfokus, terintegrasi serta berwawasan ke depan (visioner) setidaknya untuk dapat memberikan jawaban akan tantangan kehutanan dalam 15 tahun ke depan (periode 2010-2025). Dengan mempertimbangkan karakteristik tantangan kehutanan, antisipasi arah perkembangan kehutanan ke depan, perkembangan isu global yang terkait dengan kehutanan, serta efektivitas pengintergasian kegiatan litbang, hasil dan pemanfaataannya, dalam roadmap litbang kehutanan diarahkan 5 tema besar yaitu 1) Lansekap hutan, 2) Pengelolaan hutan (mencakup hutan alam, hutan tanaman, DAS, biodiversitas, HHBK), 3) Perubahan iklim, 4) Pengolahan hasil hutan, dan 5) Kebijakan. Roadmap Penelitian Kehutanan 2010-2025 bukan hanya Roadmap Badan Litbang Kehutanan tetapi merupakan roadmap litbang sektor kehutanan, dimana kegiatan litbang didalamnya akan melibatkan instansi lain terkait di luar Badan Litbang Kehutanan.

B. Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan penyusunan Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010–2025 adalah :

1) Maksud : sebagai pedoman dan arah kegiatan penelitian dan pengembangan

Kehutanan bagi Badan Litbang Kehutanan serta para pihak terkait yang menangani penelitian Kehutanan dalam rangka mencapai tujuan bersama

(common goal);

2) Tujuan : mewujudkan penyelenggaraan kegiatan penelitian dan pengembangan

Kehutanan yang efektif, efisien, berjangka panjang dan menghasilkan manfaat yang optimal.

C. Pengertian

Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010–2025, adalah :

1) Rencana penelitian dan pengembangan Kehutanan secara makro,

berjangka-panjang, dan menyeluruh yang memuat tujuan akhir (ultimate goal), tujuan

antara (intermediate goals/ milestones) serta garis besar aktivitas litbang yang dkan dilakukan beserta tahapannya;

2)

Roadmap penelitian dan pengembangan sektor Kehutanan, bukan roadmap

(10)

D. Sistematika

Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010–2025 disusun dengan sistematika sebagai berikut :

1. PENDAHULUAN

2. TANTANGAN SEKTOR KEHUTANAN

3. ARAHAN ROADMAP LITBANG KEHUTANAN

(11)

T

T

T

A

A

A

N

N

N

T

T

T

A

A

A

N

N

N

G

G

G

A

A

A

N

N

N

S

S

S

E

E

E

K

K

K

T

T

T

O

O

O

R

R

R

K

K

K

E

E

E

H

H

H

U

U

U

T

T

T

A

A

A

N

N

N

A

A

A

N

N

N

A. Tantangan Operasional

Dalam rangka mengoptimalkan manfaat hasil penelitian dan pengembangan, arah kegiatan litbang kehutanan harus selaras dengan tantangan dan kebutuhan sektor kehutanan. Untuk itu, pendekatan dalam mengidentifikasi tantangan dan kebutuhan sektor kehutanan ke depan mempertimbangkan tantangan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kehutanan tahun 2006-2025, Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) 2010-2029, serta perkembangan lingkungan strategis yang terkait dengan sektor kehutanan.

Dalam RPJP Kehutanan 2010-2025, tantangan pembangunan kehutanan adalah tercapainya sasaran-sasaran pokok yaitu :

1. Kelembagaan kehutanan yang mantap,

2. Peningkatan produktivitas dan nilai sumberdaya hutan yang berkelanjutan,

3. Produk barang dan jasa yang ramah lingkungan, kompetitif dan bernilai tambah

tinggi (termasuk melalui upaya promosi barang dan jasa kehutanan secara intensif dan efektif),

4. Iklim usaha kehutanan yang kondusif

5. Kesejahteraan dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan hutan.

Untuk RKTN 2010-2029, tantangan pembangunan kehutanan adalah tercapainya kondisi yang diinginkan pada tahun 2029, yaitu :

à Kawasan hutan yang mantap,

à Peningkatan potensi multifungsi hutan (produksi, lindung, konservasi) dan

optimalisasi pemanfaatannya,

à Efektivitas rehabilitasi dalam memulihkan hutan yang terdegradasi,

à Penggunaan kawasan hutan untuk penggunaan di luar sektor kehutanan secara

terkendali,

à ”Best practice” kegiatan kehutanan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,

à Revitalisasi kawasan hutan dalam DAS dan Tata Ruang,

à Pemberdayaan masyarakat,

à Kelembagaan kehutanan yang mantap,

à Kontribusi nyata dalam menjawab tantangan global,

Lingkungan strategis yang terkait dengan sektor kehutanan terutama adalah pelaksanaan otonomi daerah (termasuk desentralisasi kehutanan/ kewenangan dan tanggung jawab Pusat - Daerah dalam pengurusan hutan), penataan-ruang dan implikasinya, antisipasi kelangkaan pangan (food), energi (energy) dan air (water)

(FEW Scarcity), serta isu global terkait dengan komitment internasional antara lain

Ramsar/The Convention on Wetlands of International Importance (1971), CITES

(12)

perubahan iklim, tantangan kehutanan Indonesia akan semakin besar dengan

masuknya isu deforestasi dalam negosiasi UNFCCC. Mekanisme REDD (Reducing

Emissions from Deforestation and Degradation), di satu sisi membuka peluang untuk

memperoleh dukungan pendanaan, peningkatan kapasitas baik SDM maupun institusi dan transfer teknologi, namun demikian dukungan tersebut menuntut komitmen yang tinggi untuk dapat membuktikan bahwa pengurangan emisi dari

deforestasi dan degradasi benar-benar terjadi (memenuhi persyaratan measurable,

reportable, verifiable/MRV). Hutan tropis Indonesia, terluas ketiga setelah Brazil

dan Congo, mempunyai peran dan keterkaitan erat dengan perubahan iklim, yaitu 1) sebagai sumber masalah perubahan iklim (deforestasi/konversi hutan dan degradasi hutan), 2) sebagai sumber solusi perubahan iklim (konservasi, restorasi, rehabilitasi, SFM), 3) sebagai penerima resiko efek perubahan iklim (survival, resiliensi, adaptasi).

B. Tantangan Kelitbangan

Tantangan penelitian dan pengembangan kehutanan dalam era ketidak-pastian yang tinggi serta adanya koneksitas yang kuat antara isu kehutanan dengan isu-isu lainnya baik di tingkat lokal, nasional, maupun global, adalah bagaimana secara visioner dan tepat mampu menjawab tantangan sektor kehutanan ke depan secara komprehensif dan terintegrasi dan mengarah pada akar permasalahannya. Kompeksitas permasalahan kehutanan harus mampu dikemas dalam tema-tema penelitan dan pengembangan yang lebih utuh dan terpadu dan mengarah pada output IPTEK yang scientifically trustable, economically feasible, socially acceptable

dan environmentally suitable.

Selanjutnya, dilakukan kristalisasi keragaman tantangan kehutanan ke depan ke

dalam 5 (lima) tema besar penelitian dan pengembangan kehutanan sebagai dasar dalam penyusunan roadmap, yaitu :

1) Lansekap Hutan

2) Pengelolaan Hutan

3) Perubahan Iklim

4) Pengolahan Hasil hutan 5) Kebijakan

Khusus untuk tema Pengelolaan Hutan, dengan pertimbangan spesifikasi dan karakteristik obyek penelitian, tantangan dan fokus penanganan yang berbeda, maka dikelompokkan lebih lanjut kedalam 5 (lima) sub-tema yaitu :

a. hutan alam,

b. hutan tanaman,

c. pengelolaan DAS,

d. biodiversitas, dan

(13)

Masing-masing tema secara spesifik dan terfokus diarahkan untuk mengakomodasi tantangan sektor kehutanan ke depan, adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Tema Litbang yang diarahkan untuk mengakomodasi tantangan sektor kehutanan ke depan

NO TEMA TANTANGAN

1. Lansekap Hutan Tekanan terhadap kawasan hutan; Land use, land use change and forestry (LULUCF) / Agriculture, Forestry and Other Land Use (AFOLU); Peningkatan penutupan hutan diluar kawasan hutan; Kebutuhan DSS Lansekap Hutan dalam pembuatan kebijakan

2. Pengelolaan Hutan • Degradasi hutan alam; LOA/LOF yang tidak

terkelola; Perlunya upaya pemulihan menuju “Healthy Forests”; Kebutuhan sistem silvikultur yang spesifik dan tepat untuk setiap tipologi hutan;

• Hutan Tanaman sebagai andalan masa depan; Produktivitas dan kualitas HT; Potensi jenis alternative; Kayu enerji; Agroforestry sebagai sumber ekonomi masyarakat

• Bencana alam dan optimalisasi pengelolaan DAS; DAS sebagai basis perencanaan wilayah; Internalisasi dari eksternalitas (dampak kegiatan di suatu wilayah terhadap wilayah lainnya); Keterpaduan dalam pengelolaan DAS

• Potensi biodiversitas; Komitmen Internasional terkait konservasi biodiversitas; Kebutuhan informasi ilmiah biodiversitas; Dampak kerusakan hutan terhadap kelestarian biodiversitas

• Masih terbatasnya pemanfaatan HHBK sebagai sumber ekonomi masyarakat & penerimaan Negara; Nilai tambah & daya saing HHBK; Kelestarian HHBK 3. Perubahan Iklim Kontribusi LULUCF terhadap emisi dan absorbsi

GRK/GHGs; Pendanaan LULUCF dalam skema UNFCC; REDD; dan issue Perubahan Iklim dalam kegiatan sektor dan nasional

4. Pengolahan Hasil Hutan

Daya saing dan nilai tambah; Issue lingkungan dalam pasar HH; Ketersediaan dan akses teknologi PHH 5. Kebijakan Aspek Sosek, Kebijakan, Finansial, dan Kelembagaan

(14)
(15)

A

A

A

R

R

R

A

A

A

H

H

H

A

A

A

N

N

N

R

R

R

O

O

O

A

A

A

D

D

D

M

M

M

A

A

A

P

P

P

L

L

L

I

I

I

T

T

T

B

B

B

A

A

A

N

N

N

G

G

G

K

K

K

E

E

E

H

H

H

U

U

U

T

T

T

A

A

A

N

N

N

A

A

A

N

N

N

A. Arahan Roadmap

1. Lansekap Hutan

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Tekanan terhadap keberadaan hutan, khususnya pada kawasan hutan

negara, semakin meningkat, sejalan dengan laju pertambahan penduduk serta kebutuhan lahan hutan untuk pembangunan sektor non-kehutanan.

2) Meskipun penutupan hutan pada kawasan hutan semakin menurun, tetapi

penutupan hutan di luar kawasan hutan cenderung meningkat dalam bentuk antara lain hutan rakyat (private forests), hutan kota (urban forests), serta berbagai upaya penanaman pohon lainnya baik yang dilakukan oleh masyarakat, dunia usaha serta pihak lain yang semakin sadar akan pentingnya keberadaan hutan atau pepohonan baik untuk estetika, kenyamanan dan penyelamatan lingkungan maupun sumber ekonomi dan investasi berwawasan lingkungan.

3) Tantangan dalam forest in a changing world adalah perlunya melihat

keberadaan dan peranan hutan pada aspek yang lebih luas menyangkut

yang terkait dengan LULUCF (Land Use, Land-Use Change and Forestry) dan

AFOLU (Agriculture, Forestry and Other Land Use) termasuk ekses atau

kerentanan (vulnerabilitas) terhadap perubahan iklim.

4) Manajemen lansekap dilakukan dengan pendekatan berbasis DAS agar

dapat mengakomodasi : proses hidrologi secara menyeluruh dari hulu, tengah hingga hilir, internalisasi dari eketernalitas (dampak suatu kegiatan pada suatu wilayah terhadap wilayah lainnya), dan semua proses yang berlangsung dalam DAS mudah dimonitor dan dievaluasi.

5) Pengambil keputusan/ pembuat kebijakan yang terkait dengan lansekap

tidak dilengkapi dengan informasi/basis ilmiah yang memadai sebagai

Decision Support System (DSS).

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Lansekap Hutan, diarahkan untuk menghasilkan 2 (dua) produk Iptek, yaitu :

1. Decision Support System (DSS) untuk manajemen lansekap berbasis

DAS

2. Decision Support System (DSS) untuk pengembangan hutan kota/

(16)

Pembuatan produk DSS tersebut dilakukan dengan memperhatikan dan arahan sebagai berikut :

1. hutan sebagai ”core” dari lansekap

2. RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) digunakan sebagai

basis dalam arahan lansekap

3. target per-periode (milestone) didasarkan pada urutan prioritas

penanganan obyek, yaitu :

à DSS untuk manejemen lansekap berbasis DAS diarahkan pada DAS

dengan karakteristik : tingkat kepadatan penduduk tinggi, paling rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim, dan tingkat kegiatan/ pembangunan wilayah tinggi,

à DSS untuk pengembangan hutan kota/ lansekap perkotaan

diarahkan pada daerah perkotaan berdasarkan tingkat kepadatan penduduk, daerah land locked cities (daratan tertutup yang tidak mempunyai akses langsung ke laut) yang rentan terhadap dampak perubahan iklim karena terkendala batas administratif pemerintahan wilayah disekitarnya, dan daerah perkotaan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim terutama naiknya permukaan air laut yaitu low-laying coastal cities (perkotaan dengan elevasi rendah yang berada di sepanjang pantai)

2. Pengelolaan Hutan

2.1. Hutan alam

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Kondisi hutan alam Indonesia dewasa ini dicirikan oleh : pengurangan

luasan kawasan berhutan akibat konversi (yang direncanakan maupun tidak direncanakan), penurunan potensi tegakan yang mengakibatkan penurunan produksi kayu per satuan luas (AAC/JPT), ancaman kepunahan sebagian biodiversitas, maraknya pembalakan liar/ illegal, dan rendahnya kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan.

2) Kondisi tersebut di atas bersumber pada satu kesalahan masif yaitu:

praktik pengelolaan hutan alam yang tidak planologically sensible, tidak

ecologically credible, tidak socially responsible, tidak scientifically justifiable, meskipun financially (short-term) practicable.

3) Persoalannya adalah bagaimana memperlambat (bila tidak bisa

menghentikan) proses degradasi hutan alam, memulihkan potensi ekonomi hutan alam (sebagai penghasil kayu), mencegah kepunahan biodiversitas dan penurunan fungsi-fungsi ekologi, serta membangun

sistem pengelolaan sumberdaya hutan alam, yang mensejahterakan

segmen terbesar masyarakat Indonesia.

4) Persoalan sentralnya adalah bagaimana menciptakan kembali hutan alam

(17)

memikul berbagai fungsinya pada tingkat optimal, (b) prospektif dalam arti produktivitasnya tinggi dan dapat dikelola secara efisien, serta (c) lestari dalam arti fungsinya dapat dipertahankan atau ditingkatkan..

5) Langkah viable untuk mewujudkan hutan alam yang sehat diawali dengan

perencanaan pengelolaan (dari tingkat nasional sampai unit manajemen) berbasis data kuantitatif yang akurat dan menyeluruh.

6) Pada tingkat unit manajemen, rencana pengelolaan diimplementasikan

melalui persiapan teknik-teknik silvikultur yang tepat dalam kerangka sistem silvikultur yang spesifik untuk setiap tipologi hutan alam bekas tebangan (LOF-logged over forest). Sistem silvikultur tersebut didisain untuk mengoptimalkan produksi tanpa membahayakan keberlanjutan sumberdaya dan kelestarian biodiversitas serta jasa hidrologis hutan.

7) Implementasi dikomplemen dengan penerapan mekanisme monitoring

dan evaluasi yang mengedepankan capaian output (dengan benchmarking

yang jelas) bukan ketaatan pada prosedur.

8) Menghasilkan perangkat untuk memperoleh data yang akurat dan

menyeluruh sebagai bahan perencanaan dan monitoring, serta menghasilkan sistem silvikultur untuk setiap tipologi hutan, yang menjadi terminal akhir peta-jalan (roadmap) penelitian hutan alam di Indonesia.

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Pengelolaan Hutan, Sub-tema Hutan Alam, diarahkan untuk menghasilkan output akhir yaitu : Pedoman Pengelolaan Hutan Alam Bekas Tebangan: teknik dan sistem silvikultur menurut tipologi LOF (logged-over forest)

Pembuatan output tersebut dilakukan berdasarkan input teknologi dan rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dalam setiap phase/

milestones roadmap, yaitu :

1) perangkat perencanaan/ manajemen (pendugaan potensi dan

produktivitas, pengaturan hasil dan penjadwalan penebangan/ harvest

scheduling), berdasarkan input hasil penelitian perencanaan kuantitatif

(growth & yield) berupa model dinamika tegakan dan model-model

penduga produktivitas/ riap tegakan,

2) hasil pembangunan database tipologi kondisi dan sebaran hutan alam

bekas tebangan berupa tipologi kondisi dan sebaran hutan alam bekas tebangan,

3) hasil penelitian rehabilitasi dan peningkatan potensi hutan bekas

(18)

4) hasil penelitian pengelolaan lingkungan/ ekologi berupa teknologi mitigasi dan model pendugaan dampak hidrologis, degradasi kesuburan tanah dan teknologi pencegahan degradasi biodiversitas,

5) hasil penelitian sosial, ekonomi dan kebijakan berupa rekomendasi aspek

finansial-ekonomi sistem-sistem silvikultur alternative yang terkait dengan tipologi dan sebaran hutan alam bekas tebangan, teknologi silvikultur intensif dan teknologi pengelolaan lingkungan/ ekologi.

2.2. Hutan tanaman

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Hutan tanaman merupakan sumber bahan baku andalan dimasa depan

bagi industri perkayuan nasional, terutama dengan semakin menurunnya

potensi dan ketergantungan kayu dari hutan alam. Berdasarkan Roadmap Revitalisasi Industri Kehutanan (2007), pada tahun 2014 hutan tanaman diharapkan sudah mampu berperan dalam menyediakan sebesar 75% kebutuhan bahan baku industri perkayuan (pulp dan kayu pertukangan) baik dari HTI, HTR, HR dan hutan tanaman lainnya.

2) Tantangan utama pembangunan hutan tanaman adalah peningkatan

produktivitas dan nilai ekonomi hutan.,

3) Berdasarkan tujuan pemanfaatannya, peruntukan produk hutan tanaman

untuk mendukung bahan baku industri perkayuan dikategorikan sebagai kayu pertukangan (costruction wood) dan kayu pulp (pulpwood).

4) Berdasarkan penanganan penelitiannya, jenis tanaman kayu perkakas dan

kayu pulp dikategorikan sebagai jenis unggulan dan jenis alternatif. Jenis unggulan adalah jenis-jenis yang selama ini sudah dimanfaatkan dalam skala besar sebagai sumber bahan baku industri perkayuan, sedangkan jenis altarnatif adalah jenis-jenis yang belum banyak dimanfaatkan (lesser-

used species atau lesser-known species) tetapi berdasarkan sifat-sifat

kayunya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu pertukangan maupun pulp. Untuk jenis alternatif, sebelum memasuki tahapan penelitian yang terkait dengan peningkatan produktivitas dan kualitas, dilakukan kegiatan eksplorasi untuk mengetahui potensi dan sebarannya.

5) Berdasarkan jangka waktu produksinya atau umur panen (kombinasi

antara kelayakan daur teknis dan daur ekonomis), jenis kayu pertukangan unggulan dikategorikan sebagai daur pendek, daur menengah dan daur panjang, sedangkan untuk jenis alternatif dikategorikan sebagai daur pendek dan daur menengah.

6) Untuk mendukung kebutuhan energi pedesaan, juga dilakukan penelitian

(19)

dan sumber perekonomian masyarakat melalui pembangunan hutan yang dipadukan dengan budidaya pertanian termasuk tanaman pangan.

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Pengelolaan Hutan, Sub-tema Hutan Tanaman diarahkan untuk menghasilkan 4 (empat) produk IPTEK, yaitu :

1) Teknologi peningkatan produktivitas hutan tanaman penghasil kayu

pertukangan untuk jenis unggulan dan jenis alternatif.

2) Teknologi peningkatan produktivitas hutan tanaman penghasil kayu pulp

untuk jenis unggulan dan alternatif.

3) Teknologi peningkatan produktivitas hutan tanaman penghasil kayu

enerji.

4) Teknologi peningkatan nilai produksi dan keuntungan usaha

agroforestry.

Target akhir peningkatan produktivitas hutan tanaman :

1) Produktivitas hutan tanaman penghasil kayu pertukangan:

à Jenis unggulan (daur pendek > 45 m3

/ha/th, daur menengah > 15 m3

/ha/th , daur pendek > 20 m3

/ha/th)

à Jenis alternatif (daur pendek > 25 m3/ha/th, daur menengah > 15 m3

/ha/th)

2) Produktivitas hutan tanaman penghasil kayu pulp:

à Jenis unggulan > 40 m3 /ha/th

à Jenis alternatif > 20 m3

/ha/th

3) Produktivitas hutan tanaman penghasil kayu enerji:

à Kayu bakar > 30 m3/ha/th

4) Nilai ekonomi dan keuntungan usaha agroforestry: meningkat 10%-20%

pada setiap phase 5 tahunan.

2.3. Pengelolaan DAS

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Terjadinya bencana alam (banjir, kekeringan, tanah longsor) selalu

(20)

2) Berdasarkan pendekatan ekosistem, DAS adalah suatu ekosistem alamiah berupa geomorfologi, penggunaan lahan, dan kondisi iklim yang secara bersamaan mewujudkan suatu ekosistem hidologi.

3) Pengelolaan berbasis DAS (teknis dan kelembagaan) merupakan

pendekatan yang tepat untuk mengurangi resiko bencana alam, optimalisasi fungsi DAS dan perencanaan wilayah.

4) Dibanding dengan model pendekatan perencanaan wilayah lainnya seperti

wilayah administrasi pemerintahan (pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa), wilayah ekonomi (pusat/ center dan periferi/ pinggiran) dan wilayah homogen (kesamaan kondisi geografis, etnis, budaya, kondisi lingkungan), pendekatan DAS sebagai unit analisis mempunyai beberapa kelebihan antara lain :

a. didasarkan pada proses hidrologis secara menyeluruh (hulu,

tengah, hilir) serta keterkaitan antara komponen dan proses di dalam ekosistem DAS,

b. memungkinkan internalisasi dari eketernalitas (dampak kegiatan

suatu wilayah terhadap wilayah lainnya),

c. mempermudah monitoring dan evaluasi semua proses yang terjadi

dalam suatu DAS)

5) Sejalan dengan prinsip “one plan, (but not) one management” dalam

pengelolaan DAS, sitem pengelolaan DAS dilakukan secara terpadu dan terintegrasi untuk wilayah hulu (kabupaten), lintas kabupaten, lintas provinsi serta pulau-pulau kecil

6) Teknologi pengelolaan sumberdaya alam DAS dibedakan menurut type

lahan (daratan, rawa, pantai) serta pengelolaan manusia.

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Pengelolaan Hutan,Sub-tema Pengelolaan DAS diarahkan untuk menghasilkan 2 (dua) produk IPTEK, yaitu :

1) Sistem Pengelolaan DAS (Sistem Perencanaa, Kelembagaan dan Monev

DAS)

2) Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Alam pada kawasan DAS

Pembuatan produk Sistem Pengelolaan dan Teknologi pengelolaan DAS tersebut dilakukan dengan memperhatikan dan arahan sebagai berikut :

1) Kajian Sistem Pengelolaan DAS mencakup perencanaan dan kelembagaan

pengelolaan DAS, Monitoring dan Evaluasi DAS serta Model Implementasi DAS Mikro,

2) Cakupan penelitian pengelolaan sumberdaya alam/ lahan adalah lahan eks

(21)

3) Cakupan penelitian pengelolaan sumberdaya air adalah tata air sub-DAS, rawa (gambut, genangan), pantai, sedimen dan hasil air.

2.4. Biodiversitas

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Indonesia dengan luas wilayah 1,3% luas dunia mempunyai kekayaan

biodiversitas sebesar 17% dari species yang ada di dunia yang mempunyai nilai penting bagi kehidupan manusia antara generasi.

2) Indonesia telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati

(UN-CBD, 1992) melalui UU No.5/1995 yang menyangkut pengelolaan kawasan Suaka Alam (Cagar Alam dan Suaka Margasatwa), Cagar Biosfer dan Kawasan Pelestarian Alam (Taman Nasional, Tahura, TamanWisata Alam).

3) Kerusakan hutan di Indonesia secara langsung berdampak terhadap

kerusakan dan kepunahan biodiversitas yang sebagian besar belum diketahui nilai dan manfaatnya.

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Pengelolaan Hutan, Sub-tema Biodiversitas diarahkan untuk menghasilkan informasi ilmiah, produk IPTEK, kriteria & indikator, strategi manajemen serta model pengelolaan kawasan konservasi yaitu :

1) Informasi Ilmiah (informasi status dan dinamika ekologi, potensi, tingkat kelangkaan, kondisi habitat serta karakter biologis flora dan fauna, keragaman genetik antar populasi, dan evolusi genetic jenis-jenis yang terancam punah),

2) Teknologi (pemulihan populasi, reproduksi dan penangkaran jenis

terancam punah, pemanfaatan ekonomi, dan bioforensik plasma nutfah), 3) Kriteria & Indikator pengelolaan optimal kawasan konservasi,

4) Strategi manajemen kawasan konservasi prioritas sampai super prioritas,

5) Model pengelolaan (berdasarkan tipologi kawasan, konservasi berbasis

jenis)

2.5. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) adalah salah satu potensi ekonomi

(22)

2) Pemanfaatan HHBK pada umumnya masih bersifat tradisionil terhadap potensi alam yang ada, dan masih menghadapi banyak kendala pengembangannya baik pada aspek budidaya, skala ekonomi, penanganan paska panen, kualitas produk serta pemasaran.

3) Berbeda dengan pengusahaan kayu yang bersifat mekanis massive,

pemungutan HHBK lebih banyak dilakukan secara manual (non-mekanis)

sehingga tidak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Pemanfaatan HHBK yang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat lebih mempunyai peran ekonomis langsung kepada masyarakat dibanding kayu.

4) Berdasarkan jenis produknya HHBK diketegorikan menjadi HHBK FEM

(Food, Energy dan Medicine) dan HHBK lainnya. HHBK FEM adalah

HHBK yang secara umum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pangan (a.l sagu dan sukun), energi (a.l kayu bakar, arang dan biofuel) dan obat-obatan (biofarmaka). Sedangkan HHBK lainnya umumnya berasal dari potensi alam (getah, biji, buah, gaharu, cendana dan minyak atsiri)), dalam hal ini termasuk juga Fauna seperti budidaya/ penangkaran (arwana, kulit buaya, sutera, madu lebah).

5) Berdasarkan “state of the art” atau kedalaman penanganan penelitian dan

pengembangannya, HHBK dikategorikan menjadi 3 (tiga) tahapan (Tiers)

yaitu: Preliminary (Tier 1), Intermediate (Tier 2) dan Advance (Tier 3). Penanganan Tier 1 (Preliminary) masih ditekankan pada aspek eksplorasi sebaran dan potensi, identifikasi prospek pemanfaatannya serta aspek konservasi genetik (untuk HHBK yang terancam punah), penanganan

Tier 2 (Intermediate) lebih terfokus pada pemuliaan, budidaya,

penanganan paska panen dan pengolahan; dan Penanganan Tier 3

(advance) lebih terfokus kepada peningkatan kualitas, diversifikasi dan

daya saing produk dan pengelolaan secara berkelanjutan;

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema pengelolaan Hutan, Sub-tema HHBK diarahkan untuk menghasilkan 3 (tiga) produk yaitu :

1) Informasi jenis HHBK Tier 1 (Preliminary) mencakup jenis, sebaran,

potensi, pemanfaatan jenis-jenis yang

2) Informasi dan/atau Teknologi jenis HHBK Tier 2 (Internadiate) untuk

HHBK FEM maupun HHBK lainnya, mecakup sebaran potensi, teknik budidaya dan pengolahan sampai dengan hasil analisis finansial dan pasar.

3) Informasi dan/atau Teknologi jenis HHBK Tier 3 (Advance), baik untuk

(23)

3. Perubahan Iklim

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) merupakan

permasalahan yang harus ditangani secara global karena peningkatan suhunya juga berdampak global. Menurut IPCC (2007) emisi Gas Rumah

Kaca (GRK) pada tahun 2004 mencapai 49 giga ton (milyar ton) CO2e.

Peningkatan emisi diperkirakan akan terus terjadi dan mencapai 25-90 % pada periode tahun 2000-2030. Menurut hasil kajian Stern--Economist dari UK- tahun 2006, sektor terbesar penyumbang emisi global adalah dari sektor energi yang mencapai 65% terdiri dari Listrik 24%, transportasi 14% dan industri 14% lain-lain 13%. Sedangkan sisanya 35% berasal dari

sektor non energi yakni Pertanian 14%, Kehutanan (Land use-Land use

Change and Forestry) 18% dan lain-lain 3%. Stok karbon yang tersimpan

dari vegetasi dan tanah sebesar ± 7500 Gt CO2 atau setara dengan 2 kali jumlah CO2e di atmosfir. Dari stok karbon di vegetasi dan tanah tersebut 4500 G ton diantaranya merupakan stok karbon di hutan. Lebih dari itu

hutan dapat menyerap 2 Gt CO2e per tahunnya (carbon sink). Di sisi lain

hutan sumber daya hutan juga telah mengemisi atmosfir dari kegiatan deforestasi sebesar 6 Gt CO2e per tahun.

2) Penanganan masalah perubahan iklim dilakukan melalui mitigasi dan

adaptasi yaitu meningkatkan kemampuan pengurangan/ penyerapan konsentrasi GRK di atmospher dan meningkatkan kemampuan survival

(resiliensi) terhadap perubahan iklim. Bila mengacu pada hasil kajian Stern

diatas maka apabila deforestasi merupakan18% dari masalah emisi GRK, maka pencegahan/pengurangan deforestasi dapat menjadi 18 % dari solusi pengurangan emisi. Salah satunya dalam bentuk skema Pengurangan Emisi

dari Deforestatsi dan Degradasi Hutan (REDD-Reducing Emision from

Deforestation and Forest Degradation)

3) Indonesia telah menginisiasi upaya mitigasi perubahan iklim melalui

mekanisme REDD (reducing emission from deforestation and degradation)

yang pada intinya mendorong terwujudnya SFM melalui penerapan best

practices dalam pengelolaan hutan. Peluang untuk mewujudkan SFM dan

REDD semakin didorong dengan mangemukanya mekanisme perdagangan karbon (carbon trading) baik yang bersifat voluntary maupun berdasarkan

ketentuan yang ditetapkan pemerintah (regulated/mandatory) melalui

REDD demonstration activities. Penelitian dan pengembangan Kehutanan

(24)

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Perubahan Iklim, diarahkan untuk menghasilkan 4 (empat) produk IPTEK, yang mencakup aspek-aspek :

1) Metodologi

2) Institusi dan kebijakan

3) Sosial Ekonomi

4) Finansial

Pembuatan produk IPTEK tersebut dilakukan dengan memperhatikan dan arahan sebagai berikut :

1) Methodologi: Iptek metodologi pengukuran dan monitoring yang feasible

secara teknis; dan Iptek model penentuan baseline

2) Adaptasi: Iptek resiliensi dan kerentanan terhadap perubahan iklim pada ekosistem hutan pantai, mangrove, dan hutan di pulau kecil (kerentanan I-III); Strategi adaptasi terhadap Perubahan Iklim pada daerah dengan berbagai tipe kerentanan (I-III); dan Kriteria & indikator (C&I) untuk

adaptive management.

3) Mitigasi: Paket iptek mitigasi Perubahan iklim (pengurangan sumber emisi

GRK dan peningkatan serapan GRK); dan Strategi mitigasi PI berdasarkan target penurunan emisi GRK global.

4) Sosek: Paket iptek sosek PI (pasar karbon, mekanisme distribusi pembayaran dan pendanaan, governance, co-benefit, dll) sesuai target penurunan emisi global; dan Policy options/ rekomendasi untuk posisi negosiasi Indonesia dalam kerangka konvensi internasional.

4. Pengolahan Hasil hutan

Latar Belakang dan Tantangan :

1) Salah satu kunci peningkatan daya saing produk hasil hutan adalah

keunggulan dalam proses pengolahan hasil hutan olahan. Berbeda dengan kondisi hasil hutan di sisi hulu yang masih mengandalkan keunggulan komparatif, pengolahan hasil hutan akan memperkuat keunggulan

kompetitif produk dalam menghadapi highly-competitive market baik

untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

2) Faktor yang mempengaruhi persaingan tidak lagi terbatas pada upaya

cost-eficiency untuk menghasilkan harga yang bersaing, peningkatan

kualitas produk dan desain atau jaminan kontinuitas supply, tapi sudah mengarah ke kompetisi bernuansa isu lingkungan. Pasar atau konsumer akan menilai tingkat keramah-lingkungan suatu produk baik pada proses produksinya (sumber bahan baku, proses pengolahan) serta penggunaan dan disposalnya. Untuk itu, standard of conduct terkait reduced impact

(25)

3) Penelitian dan pengembangan pengolahan hasil hutan diarahkan pada

pemanfaatan dan pengembangan bahan baku (pemanfaatan lesser-used

dan lesser-known species dan bahan berlignoselulosa untuk menjembatani

gap kebutuhan bahan baku), optimasi proses produksi (peningkatan kualitas, diversifikasi), rekayasa alat produksi dan bahan pembantu

(proper technology, ramah lingkungan dan peningkatan pendayagunaan

potensi domestik/local content), analisis pasar serta pengembangan

produk baru (new and improved products) terutama panel kayu, pulp dan

kertas.

4) Dengan alasan harga yang lebih baik dan perolehan devisa, pemasaran

produk kayu olahan sebagian besar berorientasi ekspor, sehingga terhajadi kecenderungan mengabaikan potensi pasar domestik (yang sering diisi produk impor). Untuk kondisi tertentu seperti terjadinya

global financial crisis, orientasi kepada pasar domestik perlu lebih

diperhatikan agar tidak terjadi kemandegan kegiatan industri perkayuan. Mengisi pasar domestik bukan berarti mengabaikan daya saing, karena persaingan dengan produk perkayuan impor akan tetap ada.

5) Teknologi Nano (nano-technology) harus menjadi andalan dan landasan

kedepan untuk pengembangan pengolahan kayu. Teknologi nano adalah

teknologi yang berbasis pada struktur benda berukuran nano meter (10-9

meter atau satu per-milyar meter). Dengan memanipulasi struktur suatu bahan pada skala nanometer (biasanya 0,1-100 nanometer) akan dapat dihasilkan obyek baru yang mempunyai manfaat lebih (antara lain tahan lama, lebih berkualitas dan memakai bahan baku seminimal mungkin). Dengan teknologi nano, bahan kayu yang mempunyai unsur utama carbon dan hidrogen dapat disusun kembali menjadi produk kayu olahan yang lebih kuat, berkualitas, awet dan bernilai ekonomi jauh lebih tinggi.

6) Roadmap teknologi hasil hutan diarahkan pada teknologi panel kayu

(wood-based panel products), pulp dan kertas (pulp and paper products),

dan teknologi pemanenan hutan (forest harvesting) yang terkait dengan

RIL (reduced impact logging), serta opsi/ rekomendasi kebijakan antara lain menyangkut pasar domestik dan ekspor, kebijakan bahan baku, tata-niaga, pajak/kepabeanan, dan sebagainya.

Target produk :

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Pengolahan Hasil Hutan, diarahkan untuk menghasilkan produk IPTEK, yaitu : 1) Basis data sifat dasar dan model optimasi alokasi bahan baku

2) Teknologi dan standarisasi proses dan produk panel kayu, pulp dan kertas, 3) Hasil rekayasa alat dan bahan

4) Teknologi produk efisien dan kompetitif (termasuk nano technology) 5) Protokol panel kayu baru, pulp dan kertas

(26)

5. Kebijakan

Roadmap penelitian dan pengembangan Kehutanan 2010-2025, untuk tema Kebijakan, diarahkan untuk mengantisipasi isu-isu strategis yang terkait dengan

kehutanan serta melengkapi aspek sosial ekonomi yang embodied pada setiap

Tema dan Sub-tema.

Arahan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan tema Kebijakan, antara lain :

Tabel 2. Cakupan dan Aspek Litbang untuk tema Kebijakan

CAKUPAN/ SCOPE ASPEK PENELITIAN

Operasional

à Analisis kelembagaan

à Analisis kelayakan sosial, ekonomi/

finansial

à Impact assessment

à Unit pengelolaan hutan

à Jasa hutan/lingkungan

Nasional

à Harmonisasi perencanaan tata ruang

à Drivers landscape management

à Kajian kebijakan isu aktual/strategis

à Good Governance

à Desentralisasi kehutanan

Internasional/ Global

à Market intelligence

à Non-tariff barriers

à Politik ekonomi

à Strategi dan komitmen global

(27)

B. Visi dan Misi

Visi :

Tujuan akhir (Ultimate Goal) yang ingin dicapai dari roadmap penelitian dan pengembangan kehutanan 2010-2025, dapat diformulasikan juga sebagai Visi penelitian dan pengembangan Kehutanan Nasional 2025, yaitu:

“IPTEK menjadi basis pengelolaan hutan lestari dan kesejahteraan masyarakat”

Makna yang terkandung dalam visi tersebut adalah Iptek Kehutanan harus mampu berperan dalam mendukung seluruh akitivitas Kehutanan untuk mewujudkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat atau pembangunan Kehutanan berbasis Iptek Kehutanan.

Misi :

Untuk mengaktualiasikan peran IPTEK Kehutanan dalam pembangunan kehutanan yang berkelanjutan dan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka Misi penelitian dan pengembangan kehutanan 2025, adalah sebagai berikut:

1) Meningkatkan peran IPTEK sebagai pemandu pembangunan kehutanan.

2) Meningkatkan dampak IPTEK yang dihasilkan dari penelitian dan

pengembangan Kehutanan Tujuan:

Tujuan yang ingin dicapai dari semua tema litbang tersebut di atas, adalah mewujudkan integrasi dan sinergi kegiatan guna menghasilkan manfaat yang nyata dan optimal dalam menjawab tantangan sektor kehutanan, melalui: penyediakan IPTEK yang utuh dan bermanfaat dalam mewujudkan optimalisasi dan harmonisasi dalam penataan dan pemanfaatan lansekap hutan dan lahan, pengelolaan hutan yang dinamis dan berkelanjutan (SFM); penanganan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; mewujudkan produk hasil hutan olahan yang inovatif dan berdaya-saing global; dan mewujudkan kebijakan Kehutanan yang berbasis IPTEK.

Sasaran:

(28)

2010-2025 dibagi menjadi 3 (tiga) phase/tahapan pencapaian sasaran antara

(milestones) dengan horizon waktu lima-tahunan, yaitu:

à phase I (2010–2014),

à phase II (2015–2019), dan

à phase III (2020–2024).

Dalam setiap phase dirumuskan strategi pencapain dan pada setiap akhir phase dilakukan evaluasi pencapaian untuk menuju phase berikutnya. Kegiatan tahun 2025 difokuskan pada evaluasi pencapaian tujuan akhir roadmap.

(29)

P

P

P

E

E

E

N

N

N

U

U

U

T

T

T

U

U

U

P

P

P

Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010-2025 adalah roadmap sektor Kehutanan, bukan terbatas sebagai roadmap penelitian dan pengembangan yang dilakukan

Badan Litbang Kehutanan. Road map dimaksudkan sebagai guidance dan instrumen untuk

mensinergikan program dan kegiatan penelitian kehutanan di Indonesia. Dengan demikian, pelaksana roadmap bukan hanya Badan Litbang Kehutanan tetapi diharapkan secara sinergis dapat dilakukan oleh semua instansi yang terkait atau menangani penelitian dan pengembangan Kehutanan di Indonesia.

Roadmap Litbang Kehutanan, bukan suatu roadmap yang beranjak dari titik awal, tetapi lanjutan dari state of the art atau riset status kehutanan yang telah dicapai sampai dengan

tahun 2009. Hasil riset sampai dengan tahun 2009 digunakan sebagai awal (baseline) Road

Map Kehutanan 2010–2025. Selain itu, setiap tahapan (phase/milestone) roadmap mempunyai

keterkaitan yang progresif antara satu tahap dengan tahap sebelumnya, atau merupakan pra-syarat bagi tahapan berikutnya.

Mengingat road map ini bersifat makro, detail kegiatan akan dijabarkan lebih lanjut pada unit-unit pelaksana kegiatan penelitian dan pengembangan kehutanan. Untuk menjamin efektivitas

roadmap agar selalu bersifat up-to-date dalam menjawab perkembangan tantangan sektor

kehutanan maka setiap phase dilakukan evaluasi arah dan pencapaiannnya. Evaluasi tersebut penting baik untuk mencegah terjadinya deviasi dalam implementasinya maupun untuk selalu mengharmoniskan arah roadmap dengan dinamika perkembangan dan tantangan sektor kehutanan.

Roadmap Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 2010–2025 menjadi pedoman, acuan dan arahan kegiatan penelitian dan pengembangan sampai dengan tahun 2025. Untuk itu, perlu adanya komitmen yang kuat bagi setiap unit kerja untuk mempedomani road map ini sebagai dasar pijakan dan penuntun arah dalam melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan kehutanan. Hal ini akan memperkuat spirit penelitian dan pengembangan kehutanan dalam

leading the way, setting the course dan guiding the move bagi pembangunan kehutanan, serta

(30)

L

(31)

LAMPIRAN : 1.1

TEMA : LANSEKAP HUTAN

SUB TEMA : LANSEKAP HUTAN

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

PRODUK

DSS- untuk manajemen lansekap berbasis DAS : DAS dengan karakteristik :

ƒ

Tingkat kepadatan penduduk tinggi

ƒ

paling rentan terhadap perubahan iklim

ƒ

tingkat/kebutuhan pembangunan wilayah tinggi

DSS- untuk pengembangan hutan kota/ lansekap perkotaan :

ƒ

Daerah perkotaan lainnya yang tidak termasuk periode/ phase I dan II DSS- untuk manajemen

lansekap berbasis DAS : DAS dengan 3 karakteristik: Tingkat kepadatan penduduk tinggi; Paling rentan terhadap perubahan iklim;

Tingkat/kebutuhan

pembangunan wilayah tinggi

DSS- untuk pengembangan hutan kota/ lansekap perkotaan :

ƒPerkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi yang berada di daerah pantai (low laying coastal cities)

ƒPerkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi, yang berada di daerah daratan tertutup (land lock)

DSS- untuk manajemen lansekap berbasis DAS : DAS dengan karakteristik :

ƒTingkat kepadatan penduduk tinggi dan paling rentan terhadap perubahan iklim

ƒTingkat kepadatan penduduk tinggi dan tingkat/kebutuhan pembangunan wilayah tinggi

DSS- untuk pengembangan hutan kota/ lansekap perkotaan :

ƒPerkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi

ƒPerkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk rendah, yang berada di daerah pantai (low laying coastal cities)

ƒPerkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk rendah yang berada di daerah daratan tertutup

(32)

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

R&D

ƒ Review status IPTEK dan analisis lansekap (DAS)

ƒ Modelling lansekap

untuk DAS dengan karekteristik :

à Tingkat kepadatan penduduk tinggi; Paling rentan terhadap perubahan iklim;

Tingkat/kebutuhan

pembangunan wilayah tinggi

ƒ Review status IPTEK dan analisis lansekap (DAS)

ƒ Modelling lansekap

untuk DAS dengan karekteristik :

à Tingkat kepadatan penduduk tinggi dan paling rentan terhadap perubahan iklim

à Tingkat kepadatan penduduk tinggi dan tingkat/kebutuhan pembangunan wilayah tinggi

ƒ Review status IPTEK dan analisis lansekap (DAS)

ƒ Modelling lansekap

untuk DAS dengan karekteristik :

à Tingkat kepadatan penduduk tinggi,

à paling rentan terhadap perubahan iklim,

à tingkat/kebutuhan

pembangunan wilayah tinggi

ƒ Review status IPTEK dan analisis lansekap

ƒ Modelling lansekap

ƒ Identifikasi kesesuaian jenis untuk hutan kota/ lansekap perkotaan (penyiapan untuk periode berikutnya)

untuk karekteristik :

à Perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi yang berada di daerah pantai

(low laying coastal cities)

à Perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi, yang berada di daerah daratan tertutup (land lock)

ƒ Review status IPTEK dan analisis lansekap

ƒ Modelling lansekap

ƒ Identifikasi kesesuaian jenis untuk hutan kota/ lansekap perkotaan (penyiapan untuk periode berikutnya)

untuk karekteristik :

à Perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi

à Perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk rendah, yang berada di daerah pantai

(low laying coastal cities)

à Perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk rendah yang berada di daerah daratan tertutup (land lock)

ƒ Review status IPTEK dan analisis lansekap

ƒ Modelling lansekap

ƒ Identifikasi kesesuaian jenis untuk hutan kota/ lansekap perkotaan (penyiapan untuk periode berikutnya)

untuk karekteristik :

(33)

LAMPIRAN : 2.1

ƒC&I hutan sehat untuk tiap tipolog hutan

ƒPedoman pengelolaan virgin forest dan LOF: teknik dan sistem silvikultur menurut tipologi LOF.

ƒModel-model

perencanaan/manajemen kuantitatif (harvest regulation) pengelolaan virgin forest dan LOF.

ƒKlasifikasi tipologi dan sebaran virgin forest dan LOF berdasarkan

ƒInformasi jenis-jenis unggul setempat untuk rehabilitasi LOF (menurut tipologi LOF).

ƒInformasi dinamika biodiversitas dan kesuburan tanah LOF

ƒModel-model dinamika dan pendugaan produktifitas tegakan virgin forest dan LOF

ƒTeknologi pemulihan potensi dan produktifitas virgin forest dan LOF (menurut tipologi LOF).

ƒTeknologi pencegahan hama, gulma dan penyakit tanaman rehabilitasi LOF

ƒTeknologi mitigasi dampak hidrologis dan penurunan kesuburan tanah dalam pemulihan potensi dan produktifitas LOF

ƒRekomendasi teknis pencegahan degradasi biodiversitas

ƒModel-model dinamika dan pendugaan produktifitas tegakan virgin forest dan LOF yang direhabilitasi

ƒPrototipe/konsep sisstem-sistem silvikultur alternatif

(34)

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

R

R

&

&

D

D

ƒ Inventarisasi biofisik dan sosial budaya virgin forest dan LOF

ƒ Uji jenis dan provenance untuk rehabilitasi setiap tipologi LOF

ƒ Monitoring dinamika biodiversitas LOF

ƒ Monitoring fungsi hidrologis

virgin forest dan LOF

ƒ Monitoring dinamika pertumbuhan tegakan virgin forest dan LOF

ƒ Uji-coba sistem silvikultur alternatif

ƒ Kajian finansial, ekonomi dan sosial

ƒ Rehabilitasi/restorasi LOF dengan jenis-jenis unggul setempat

ƒ Pencegahan hama, gulma dan penyakit tanaman rehabilitasi LOF

ƒ Pencegahan dampak hidrologis rehabilitasi LOF

ƒ Pencegahan degradasi dinamika biodiversitas rehabilitasi LOF

ƒ Modelling dinamika pertumbuhan tegakan virgin forest dan LOF

ƒ Uji-coba sistem silvikultur alternatif

ƒ Kajian finansial, ekonomi dan sosial

ƒ Rehabilitasi/restorasi LOF dengan jenis-jenis unggul setempat

ƒ Pencegahan hama, gulma dan penyakit tanaman rehabilitasi LOF

ƒ Pencegahan dampak hidrologis rehabilitasi LOF

ƒ Pencegahan degradasi dinamika biodiversitas rehabilitasi LOF

ƒ Modelling dinamika pertumbuhan tegakan virgin forest dan LOF

(35)

LAMPIRAN : 2.2

ƒDaur menengah >35 m3/ha/th

ƒDaur panjang >20 m3/ha/th

ƒJenis unggulan >40 m3/ha/th

ƒJenis alternative >20 m3/ha/th

Kayu bakar > 30 m3/ha/th

Agroforestry : Nilai produksi dengan keuntungan usaha meningkat 20% dari phase II

Produktivitas : Kayu Pertukangan Unggulan:

ƒDaur pendek 40m3/ha/th

ƒDaur menengah 30m3/ha/th

ƒDaur panjang 20m3/ha/th Alternatif :

ƒDaur pendek 20 m3/ha/th

ƒDaur menengah 15m3/ha/th

Kayu Pulp :

ƒJenis unggulan 35m3/ha/th

ƒJenis alternative 15m3/ha/th

Kayu bakar 20-25 m3/ha/th

Agroforestry :

Identifikasi hasil kajian nilai produksi dari berbagai komposisi tanaman kehutanan dan pertanian dalam agroforestry

ƒDaur menengah 30-35 m3/ha/th

ƒDaur panjang 20 m3/ha/th Alternatif :

ƒDaur pendek 20-25 m3/ha/th

ƒDaur menengah 15 m3/ha/th Kayu Pulp :

ƒJenis unggulan 35-40 m3/ha/th

ƒJenis alternative15-20m3/ha/th

Kayu bakar 25-30 m3/ha/th

(36)

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

ƒ Pertumbuhan & hasil

ƒ pemanenan

ƒ Pertumbuhan & hasil

ƒ pemanenan

ƒ Pertumbuhan & hasil

ƒ pemanenan

ƒ Pertumbuhan & hasil

ƒ sosekjak

ƒ Pertumbuhan & hasil

ƒ sosekjak

ƒ Pertumbuhan & hasil

ƒ sosekjak Agroforestry :

ƒ pemilihan jenis

ƒ teknik budidaya

ƒ perlindungan

ƒ lingkungan

ƒ pertumbuhan dan hasil

ƒ pemanenan

ƒ sosekjak

Agroforestry :

ƒ pemilihan jenis

ƒ teknik budidaya

ƒ perlindungan

ƒ lingkungan

ƒ pertumbuhan dan hasil

ƒ pemanenan

ƒ sosekjak

Agroforestry :

ƒ pemilihan jenis

ƒ teknik budidaya

ƒ perlindungan

ƒ lingkungan

ƒ pertumbuhan dan hasil

ƒ pemanenan

(37)

LAMPIRAN : 2.3

ƒInfomasi status dan dinamika ekologi di setiap tingkat unit pengelolaan. (Updated)

ƒInformasi potensi, tingkat kelangkaan, kondisi habitat, dan karakter biologis flora & fauna di kawasan konservasi. (Updated)

ƒKriteria dan Indikator pengelolaan optimal kawasan konservasi (Updated)

ƒModel-model pengelolaan di setiap tipologi kawasan.

ƒStrategi manajemen kawasan konservasi di luar phase I dan II

ƒModel-model konservasi berbasis jenis.

ƒInformasi keragaman genetik antar populasi spesies target.

ƒTeknologi reproduksi jenis-jenis target.

ƒTeknologi bioforensik plasma nutfah.

ƒ Informasi status dan dinamika ekologi di setiap tipe ekosistem.

ƒ Informasi potensi, tingkat kelangkaan, kondisi habitat, dan karakter biologis flora & fauna di setiap tipe ekosistem

ƒ Kriteria dan Indikator pengelolaan optimal kawasan konservasi

ƒ Model pengelolaan optimal di setiap tipologi kawasan.

ƒ Strategi manajemen kawasan konservasi super prioritas (sangat kritis)

ƒ Teknologi penangkaran jenis terancam punah

ƒ Informasi keragaman genetik antar populasi spesies target.

ƒ Teknologi reproduksi jenis-jenis target.

ƒ Evolusi genetik jenis target untuk jenis-jenis terancam punah.

ƒInfomasi status dan dinamika ekologi di setiap tingkat regional (Updated)

ƒInformasi potensi, tingkat kelangkaan, kondisi habitat, dan karakter biologis flora & fauna di setiap fungsi kawasan hutan. (Updated)

ƒKriteria dan Indikator pengelolaan optimal kawasan konservasi (Updated)

ƒModel pengelolaan optimal di setiap tipologi kawasan.

ƒStrategi manajemen kawasan konservasi prioritas (kritis)

ƒTeknologi pemulihan populasi (lepas liar fauna, penanaman flora) jenis terancam punah

ƒInformasi keragaman genetik antar populasi spesies target.

ƒTeknologi reproduksi jenis-jenis target.

(38)

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

R

R

&

&

D

D

ƒ Review status IPTEK dinamika ekologi

ƒ Analisis biofisik dan potensi

ƒ Analisis dinamika populasi dan pelestarian ekosistem

ƒ Analisis keragaman dan teknologi reproduksi jenis

ƒ Analisis finansial, sosekjak dan kelembagaan

ƒ Review status IPTEK dinamika ekologi

ƒ Analisis biofisik dan potensi

ƒ Analisis dinamika populasi dan pelestarian ekosistem

ƒ Analisis keragaman dan teknologi reproduksi jenis

ƒ Analisis finansial, sosekjak dan kelembagaan

ƒ Review status IPTEK dinamika ekologi

ƒ Analisis biofisik dan potensi

ƒ Analisis dinamika populasi dan pelestarian ekosistem

ƒ Analisis keragaman dan teknologi reproduksi jenis

(39)

LAMPIRAN : 2.4 c) HHBK Medicine

(termasuk kosmetik) : tengkawang, kemiri, mimba, kenari, kemenyan, saga hutan, lemo, kulilawang, getah jernang, ganitri, masohi, gemor, mabai/ malapari, kihonye, cantigi

A. HHBK Advance (Tier 3)

(1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : sukun, sagu b) HHBK Energy : nyamplung,

sagu

c) HHBK Medicine (termasuk kosmetik) : kayu putih, madu lebah, mimba, kemiri

A. HHBK Advance (Tier 3)

(1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : sukun, sagu b) HHBK Energy : nyamplung,

sagu, kesambi

c) HHBK Medicine (termasuk kosmetik) : kayu putih, madu lebah, mimba, kemiri, kenari, kemenyan, saga hutan, lemo, kulilawang, getah jernang

(2) HHBK lainnya : pinus, gaharu, rotan besar, aren, bambu, cendana

(2) HHBK lainnya : pinus, gaharu, rotan besar, aren, bambu, cendana, kutu lak, arwana, rusa, karang indah (algae)

(2) HHBK lainnya : pinus, gaharu, rotan besar, aren, bambu, cendana, kutu lak, arwana, rusa, karang indah (algae)

INFORMASI/ TEKNOLOGI :

àSilvikultur intensif jenis unggul

àTeknologi peningkatan produktivitas, pengolahan, diversifikasi dan kualitas produk

àModel pengembangan pengelolaan

àHasil analisis tataniaga dan kebijakan

àPerangkat kebijakan pemanfaatan dan regulasi produk

àTeknik pengelolaan lingkungan

TEKNOLOGI/ MODEL :

àTeknologi tepat guna HHBK unggulan

àModel pengelolaan lestari HHBK unggulan

INFORMASI/ TEKNOLOGI :

àSilvikultur intensif jenis unggul

àTeknologi pengelolaan lingkungan

àDiversifikasi dan kualitas produk

àHasil analsisi tataniaga dan kebijakan

TEKNOLOGI/ MODEL :

àTeknologi tepat guna HHBK unggulan

àModel pengelolaan lestari HHBK unggulan

INFORMASI/ TEKNOLOGI :

àSilvikultur intensif jenis unggul

àTeknologi pengelolaan lingkungan

àDiversifikasi dan kualitas produk

(40)

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

PRODUK

B. HHBK Intermediate (Tier 2) (1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : - b) HHBK Energy : - c) HHBK Medicine

(termasuk kosmetik) : embalau, kamper, pakanangi, hangkang, ketiau

B. HHBK Intermediate (Tier 2)

(1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : - b) HHBK Energy : - c) HHBK Medicine (termasuk

kosmetik) : kenari, kemenyan, saga hutan, lemo, kulilawang, getah jernang

B. HHBK Intermediate (Tier 2)

(1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : - b) HHBK Energy : - c) HHBK Medicine (termasuk

kosmetik) : ganitri, masoi, gemor, mabai/ malapari, kihonye, cantigi

(2) HHBK lainnya : kutu lak, arwana, rusa, burung paruh bengkok, karang indah (algae)

(2) HHBK lainnya : nipah, rotan kecil, trenggiling (Manis javanica)

(2) HHBK lainnya :

-INFORMASI/ TEKNOLOGI :

à Sebaran potensi

à Sebaran sumber benih

à Teknologi pemuliaan

à Teknologi budidaya

à Teknik pemanenan dan pengolahan

à Kualitas produk

à Hasil analisis finansial dan pasar

INFORMASI/ TEKNOLOGI :

à Sebaran potensi

à Sebaran sumber benih

à Teknologi pemuliaan

à Teknologi budidaya

à Teknik pemanenan dan pengolahan

à Kualitas produk

à Hasil analisis finansial dan pasar

INFORMASI/ TEKNOLOGI :

à Sebaran potensi

à Sebaran sumber benih

à Teknologi pemuliaan

à Teknologi budidaya

à Teknik pemanenan dan pengolahan

à Kualitas produk

à Hasil analisis finansial dan pasar

C. HHBK Preliminary (Tier 1)

(1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : - b) HHBK Energy : kesambi c) HHBK Medicine (termasuk

kosmetik) : masoi, gemor, mabai/ malapari, kihonye, cantigi, ganitri

C. HHBK Preliminary (Tier 1)

(1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : - b) HHBK Energy : - c) HHBK Medicine (termasuk

kosmetik) : kamper, embalau, pakanangi, hangkang, ketiau

C. HHBK Preliminary (Tier 1) (1) HHBK FEM :

a) HHBK Food : - b) HHBK Energy : - c) HHBK Medicine -

INFORMASI :

à Hasil eksplorasi

à Kearifan lokal : budidaya, pemanenan, pengolahan, pemanfaatan

INFORMASI :

à Hasil eksplorasi

à Kearifan lokal : budidaya, pemanenan, pengolahan, pemanfaatan

PILOT HHBK :

(41)

2010 - 2014

2o15 - 2019

2020 - 2024

R&D

HHBK Tier 3 (advance)

ƒ Seleksi jenis unggul

ƒ Penetapan sumber benih

ƒ budidaya intensif

ƒ Diversifikasi produk

ƒ Standardisasi produk

ƒ Pemanenan dan Pengolahan

ƒ Pengelolaan lingkungan

ƒ Analisis kebijakan pemanfaatan dan tata niaga

HHBK Tier 2 (intermediate)

ƒ Pemetaan (sebaran potensi dan sumber benih)

ƒ Bioteknologi & pemuliaan

ƒ Budidaya

ƒ pemanenan dan pengolahan

ƒ Review kelayakan pemanfaatan

ƒ Analisis kelayakan usaha/ pasar

HHBK Tier 1 (preliminary)

ƒ Survei, eksplorasi dan inventarisasi

ƒ Pengumpulan data kearifan lokal: budidaya, pemanenan, pengolahan, dan pemanfaatan

Pengembangan: Pilot HHBK/Pelepasan produk:

ƒ Pembangunan tanaman percontohan dan pengolahan Nyamplung

ƒ Pembangunan tanaman

percontohan dan produksi Gaharu

ƒ Pembangunan tanaman

percontohan dan usaha kecil Kayu putih

HHBK Tier 3 (advance)

ƒ Budidaya intensif

ƒ Standardisasi produk

ƒ peningkatan produktivitas dan pengolahan biofuel (maksimum 2,5%)

ƒ Pemanenan dan Pengolahan

ƒ Pemanfaatan dan diversifikasi produk

ƒ Pengembangan model pengeloaan

ƒ Pengelolaan lingkungan

ƒ Kajian perangkat kebijakan pemanfaatan dan regulasi produk

HHBK Tier 2 (intermediate)

ƒ Pemetaan (sebaran potensi dan sumber benih)

ƒ Bioteknologi & pemuliaan

ƒ Budidaya

ƒ pemanenan dan pengolahan

ƒ Review kelayakan pemanfaatan

ƒ Analisis kelayakan usaha/ pasar

HHBK Tier 1 (preliminary)

ƒ Survei, eksplorasi dan inventarisasi

ƒ Pengumpulan data kearifan lokal: budidaya, pemanenan, pengolahan, dan pemanfaatan

HHBK Tier 3 (advance)

ƒ Budidaya intensif

ƒ Standardisasi produk

ƒ peningkatan produktivitas dan pengolahan biofuel (maksimum 2,5% - 5%)

ƒ Pemanenan dan Pengolahan

ƒ Pemanfaatan dan diversifikasi produk

ƒ Pengembangan model pengeloaan

ƒ Pengelolaan lingkungan

ƒ Kajian perangkat kebijakan pemanfaatan dan regulasi produk

HHBK Tier 2 (intermediate))

ƒ Pemetaan (sebaran potensi dan sumber benih)

ƒ Bioteknologi & pemuliaan

ƒ Budidaya

ƒ pemanenan dan pengolahan

ƒ Review kelayakan pemanfaatan

ƒ Analisis kelayakan usaha/ pasar

Gambar

Tabel 2. Cakupan dan Aspek Litbang untuk tema Kebijakan

Referensi

Dokumen terkait

prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk menyimpan dana dan pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lain yang

B. Catatan : Melaksanakan Program Media Edukasi Covid dengan mengunggah 3 feeds instagaram dan 1whatssapa stori Pelaksanaan Media Edukasi Covid-19 dan

Agar terarahnya pembahasan dan tidak menyimpang dari materi-materi pokoknya, maka ruang lingkup dalam penelitian ini difokuskan pada kajian dan pembahasan

Pengaruh Stressor Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Pada PT-PLN J&P Unit Produksi Bandung, Tahun 2008.. Skripsi pada Institut Manajemen Telkom Bandung:

Hasil penelitian ini relatif mirip dengan penelitian yang dilakukan Nasser dkk 37 pada spesimen FNAB tiroid yang menunjukkan bahwa CK19 dapat membedakan lesi

Dengan menghidupi rahmat baptis kita sebagaimana yang telah dilakukan Yesus maka kita membuat keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan menjadi nyata di masa

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membantu perusahaan dalam mengaplikasikan reward and punishment system yang tepat agar sumberdaya manusia dapat dikelola

Penelitian ini merumuskan masalah mengenai apakah kecerdasan emosional yang terdiri dari pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan

diperoleh nilai signifikansi p<0,05 adalah pada variabel kualitas alat desinfeksi (p = 0,001 dengan CI 95% (0,626 – 11,183) yang berarti bahwa analisis hubungan

Daun salam dan daun jeruk purut mengandung minyak atsiri dengan kandungan yang berbeda, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini untuk membuktikan perbedaan efektivitas daun

Pada pendaftaran secara offline, setiap peleton peserta wajib membawa persyaratan Foto ukuran 3x4 berwarna di tempel pada formulir pendaftaran serta surat tugas dari

Disampaikan dengan hormat, berdasarkan hasil evaluasi data kualifikasi yang disampaikan oleh Perusahaan calon penyedia jasa untuk paket pekerjaan Pendampingan Materi

Desi Asma W. Program Studi Pendidikan Akuntansi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2015. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1)

Menyusun teks lisan dan tulis untuk menyatakan dan menanyakan tentang perbandingan jumlah dan sifat orang, binatang, benda, dengan memperhatikan fungsi social struktur teks

BAB II UPAYA POLISI DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PERKOSAAN DARI ANCAMAN PELAKU 1. Kasus Tindak Pidana Perkosaan Yang Ditangani Oleh Pihak Kepolisian

1. Keterampilan guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan model concept sentence dengan media kartu kata. 1) Membuka pembelajaran (keterampilan membuka

Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) memberikan arah pengurusan hutan ke depan melalui pemanfaatan sumberdaya hutan secara adil dan berkelanjutan, potensi multi fungsi

- Dalam usaha menimbulkan jiwa ke Islaman pada kampus JUTA-FTSP UII serta dapat memancing peluang komunikasi dan ikutan Ukhuwah Islamiah antar warga kampus maka harus ada 1 ruang

Pada kegiatan administrasi yang ada di SMP Strada Santo Fransiskus Xaverius 2 akan ditangani oleh bagian tata usaha, dan pada tahap ini akan menangani semua hal tentang

Sa|ahsatuunsurpentingda|ampengelo|aantataruangada|ah pemantauan dan pengendalian pemanfaatan ruang' agar selalu sesuai dengan RTRW Kota Metro yang telah dijadikan peraturan

Hal ini berarti kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan, oleh karena itu kas harus direncanakan dan diawasi, baik penerimaan (sumber –

Berdasarkan hasil analisis data penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan efikasi diri akademik pada siswa

Kemudian rekomendasi dokumen dan manajemen akan menambahkan total 9 (sembilan) poin dengan rincian: kriteria prasyarat kategori konservasi air dan kesehatan dan