• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesi 2 3 ATP WTP PBPU Syamsu Hidayat dan Vini Aristianti KPMAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sesi 2 3 ATP WTP PBPU Syamsu Hidayat dan Vini Aristianti KPMAK"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Berapa ATP dan WTP Masyarakat kurang Mampu? Peran Pemerintah Daerah dalam Memperluas Cakupan Kepesertaan

(2)

PBPU, 14.96, 9.54%

Non PBPU; 141,83 ; 90,46%

Latar Belakang

Trend Peningkatan Peserta PBPU

Peningkatan Peserta PBPU

Sebesar 65%

Peserta 156,79 juta jiwa

(3)

Missmatch

PBPU 4675 8,86% Non PBPU;

48103; 91,14%

Pendapatan Iuran Rp.52,78 Triliun

PBPU 16.678 29,22% Non PBPU;

40.405 ; 70,78%

(4)

LATAR BELAKANG

1. BESAR IURAN/PREMI PBPU

2. ATP/WTP PBPU KURANG MAMPU

3. KESADARAN DALAM PERLINDUNGAN TERHADAP RISIKO KESEHATAN

4. Faktor Kemauan membayar

Sektor Formal

• Dibiayai melalui pajak pendapatan atau asuransi wajib bagi pekerja sektor formal dan keluarganya

Missing middle

• Pekerja sektor informal/wirausaha

dan keluarganya

• Tingkat kepesertaan asuransi yang

rendah serta permasalahan adverse selection

Masyarakat Miskin

(5)

TUJUAN PENELITIAN

.

Tersedianya

(6)
(7)
(8)
(9)

Metode pengambilan sampel melalui multistage random sampling. Besar sampel setiap kabupaten/kota sebanyak 50 responden, setiap provinsi sebanyak 150 responden, sampel responden nasional sebanyak 1.800 responden. Sampel daerah responden juga

(10)

Riau Sumatera Utara Banten Jawa Timur Kalimanta n Timur Kalimanta n Barat Bali Sulawesi Utara NTT Sulawesi Tengah Papua Papua Barat

- Provinsi dengan Fiskal Rendah

- Provinsi dengan Fiskal Sedang

- Provinsi dengan Fiskal Tinggi

- Provinsi dengan Fiskal Sangat Tinggi

(11)
(12)

Karakteristik Responden

13% 26% 27% 20% 10% 4%

Proporsi Usia Responden

25 kebawah 26-35 36-45 46-55 56-65 66 keatas 47% 53%

Proporsi Jenis Kelamin

Sebagian besar responden pada kajian ini adalah masyarakat

pada usia produktif (15-64

tahun) ((95,62%)

Sebagian besar responden

pada kajian ini berjenis

(13)

Karakteristik Responden

tidak sekolah/tamat SD SD SMP SMA D1/D2/D3 S1 S2 S3

- 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 8,18 18,95 17,68 45,51 3,28 5,93 0,29 0,17

Pendidikan

Percent kaki lima buruh pensiunan tani nelayan tukang honorer pegawai swasta wiraswasta/pedagang IRT rohaniawan tidak bekerja supir/ojek

- 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 2,28 8,19 2,17 17,67 2,17 6,20 3,86 14,92 25,69 2,34 0,35 2,93 11,23

Pekerjaan Utama Responden PBPU

Percent

Sebagian besar responden

(45,51%) mempunyai

tingkat pendidikan tamat

SMA

(14)
(15)

Gambaran ATP

Diagram menunjukkan bahwa rata-rata potensi kemampuan membayar rumah tangga (POPB) terhadap premi JKN sebesar Rp 16.571,-.

Rata-rata kemampuan membayar yang paling tinggi (18.097,-) berada pada daerah fiskal tinggi.

13.489

17.497 18.097

16.571 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000 18.000 20.000

ATP berdasarkan kapasitas fiskal

(16)

Gambaran WTP

Diagram menunjukkan bahwa rata-rata kemauan membayar rumah tangga (POPB) terhadap premi JKN sebesar Rp 12.485,-.

Rata-rata nilai kemauan membayar yang lebih tinggi (14.493,-) berada pada daerah fiskal sedang.

9.886

14.493

12.415 12.485

2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 16.000

Fiskal rendah Fiskal sedang Fiskal tinggi Nasional

WTP berdasarkan kapasitas fiskal

(17)

0 5 10 15 20 25 30 35 40

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000

Kemauan Membayar

Percent

(18)

Variabel Nilai Premi Kelas III 25,500

ATP Kajian 16,571 ATP Susenas 2015 22,775

(19)

Grafik menunjukkan secara keseluruhan kemampuan membayar rumah tangga di Indonesia (POPB) berada dibawah premi kelas III saat ini, baik di daerah kapasitas fiskal rendah, sedang dan tinggi

25.500 25.500 25.500

13.489

17.497 18.105

9.886 14.493 12.415 0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000

Fiskal Rendah Fiskal Sedang Fiskal Tinggi

Perbandingan ATP, WTP dan Premi Kelas III JKN

Premi Kelas III ATP

(20)

Faktor-faktor yang mempengaruhi WTP

Willingness to Pay Ability to Pay Pendapatan per kapita Usia Jumlah ART Utilisasi RJ Puskesmas Utilisasi RI Klinik Utilisasi RI RS Kepuasan di Dokter Keluarga Desa Kota Alasan mendaftar BPJS
(21)

Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap

WTP dari hasil kajian ini

No. Faktor-faktor yang mempengaruhi WTP Sumbangan Efektif

1 ATP 3.92%

2 Pendapatan perkapita 1.33% 3 Alasan daftar BPJS 0.90%

4 Usia 0.87%

(22)

Faktor-faktor yang mempengaruhi WTP

Kenaikan pendapatan dan ATP akan berpengaruh terhadap

kenaikan kemauan masyarakat untuk membayar premi JKN.

(23)

Faktor-faktor yang mempengaruhi

WTP

Responden yang puas terhadap pelayanan dokter keluarga dan rumah sakit

mempunyai pengaruh yang lebih kecil terhadap kemauan membayar

responden dibandingkan dengan mereka yang tidak puas.

Utilisasi rawat jalan di puskesmas dan rawat inap di klinik menurunkan

kemauan responden dalam membayar premi.

Kemauan membayar premi untuk responden yang tinggal di kota

cenderung lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di kabupaten.

Persepsi responden yang jelas terhadap manfaat JKN mempengaruhi

kemauan membayar premi yang lebih besar dibandingkan dengan

responden yang mendaftar karena ada keluarga yang sakit atau yang

(24)

Alasan Menunggak

Alasan Menunggak Persentase

pendapatan tidak menentu 38

malas mengantri 4

kecewa terhadap pelayanan

fasilitas kesehatan

13

kecewa terhadap pelayanan

BPJS-Kesehatan

8

kesulitan akses membayar 13

lupa membayar 14

(25)

Model Subsidi I

Rp

Rp 25,500 Premi Kelas III

Ability to Pay

Willingness To Pay

Rp 16,571

Rp 12,485

Perlu Subsidi Rp. 8.929

(26)

Kesimpulan

1. ATP peserta PBPU Kelas III yang menunggak membayar iuran

sebesar Rp 16.571 POPB, nilai ini masih dibawah besar iuran kelas

III saat ini.

2. WTP peserta PBPU Kelas III yang menunggak membayar iuran

rata-rata sebesar Rp 12.485,- dengan 35,99% menjawab mau

membayar Rp 0 (nol rupiah atau gratis)

(27)

Kesimpulan

4. Semua Pemda Memiliki Pandangan positif terhadap Program JKN

dan sebagian besar memiliki komitmen untuk mengintegrasikan

Jamkesda ke program Jaminan Kesehatan Nasional

5.

Bentuk

komitmen

pemerintah

daerah

diwujudkan

dengan

penyusunan

Memorandum of Understanding

(MoU) dengan BPJS

Kesehatan, alokasi anggaran dan peraturan kepala daerah

(28)

Rekomendasi

• Pemerintah memang perlu memberikan subsidi bagi kelompok masyarakat pekerja bukan penerima upah terutama kelompok yang kurang mampu, karena memang ability dan willingness to pay masyarakat berada dibawah besar iuran kelas III JKN saat ini.

• Edukasi terhadap masyarakat terutama kelompok pekerja bukan penerima upah, sangat diperlukan dari setiap stakeholder baik di pusat dan daerah, hal ini akan meningkatkan pemahaman dan kesadaran penanggulangan sebuah risiko sakit di masyarakat.

• Perlu disusun pedoman integrasi jamkesda ke JKN sebagai panduan pemerintah daerah dalam integrasi jamkesda

• Validitas data menjadi kunci penting keinginan pemda untuk integrasi Jamkesda ke JKN

• Tetap memberikan peran peran pemerintah daerah dalam JKN seperti untuk validitas data dan penggunaan dana desa untuk mendukung JKN

(29)

Gambar

Grafik menunjukkan secara keseluruhan kemampuan membayar rumah

Referensi

Dokumen terkait