PENYELIDIKAN TERPADU LIMBONG
KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN
Yuanno Rezky, Hari Prasetya, Andri Eko Ari. W, Janes Simanjuntak
Kelompok Program Penelitian Panas Bumi
SARI
Daerah panas bumi Limbong secara administratif berada dalam wilayah Kecamatan Limbong,
Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada koordinat antara 119°55'00" - 120°04'30" BT dan 02°30'00" - 02°37'00" LS.
Indikasi manifestasi panas bumi berupa mata air panas, uap panas, tanah panas, bertemperatur tinggi (45 oC – 102,2 oC) dan daerah batuan teralterasi yang terdapat di sekitar sungai Kanandede, dan mata air panas di daerah Komba, Balanalu dan Salu Rongkong yang memiliki temperatur 50,2 oC – 53,1 oC, serta daerah alterasi yang muncul di lingkungan batuan granitik. Air panas sebagian besar termasuk dalam tipe klorida-bikarbonat dan berada pada zona full equilibrium hingga perbatasan antara partial equilibrium dan immature waterSumber panas sistem panas bumi Limbong diduga berupa tubuh intrusi yang diperkirakan berumur Kuarter dan kubah lava pada komplek vulkanik Tabuan. Panas bumi Limbong termasuk sistem dominasi air panas. Temperatur bawah permukaan diperkirakan lebih dari 220 oC, termasuk entalpi sedang.
PENDAHULUAN
Kebutuhan tenaga listrik di Kabupaten Luwu Utara masih disuplai oleh PLTD milik PT. PLN (Persero). Sampai akhir tahun 2007, tercatat 48.074 pelanggan dengan daya dari 450 VA sampai 2.200 kVA, daya listrik yang terpasang adalah sebanyak 42.531.818 kWh. Kebutuhan listrik kabupaten Luwu Utara terus meningkat, dibutuhkan energi lain untuk dapat dikonversi menjadi listrik dan salah satunya energi panas bumi. Salah satu potensi Panas bumi yang dimiliki Kabupaten Luwu Utara adalah panas bumi Limbong.
Untuk memanfaatkan energi panas bumi menjadi listrik, dilakukan penyelidikan di daerah ini melalui dengan disiplin ilmu kebumian geologi dan geokimia.
Penyelidikan terpadu panas bumi Limbong bertujuan untuk mengetahui indikasi batuan sumber panas, suhu fluida di kedalaman, konfigurasi batuan, struktur permukaan daerah panas bumi, luas daerah prospek dan model sistem panas bumi. Sehingga potensi sumber daya panas bumi hipotetik dapat diketahui.
Penyelidikan daerah panas bumi Limbong menggunakan dua metode, pertama metode geologi dan metode geokimia, dilakukan dengan pengambilan contoh batuan dan tanah untuk diolah dan dianalisa sehingga menghasilkan peta-peta
yang berhubungan dengan kepanasbumian.
GEOLOGI
Secara umum satuan geomorfologi daerah panas bumi Limbong terbagi menjadi 3 satuan berdasarkan morfografi dan morfometri yaitu 1). Morfologi perbukitan bergelombang Lemah, 2) Morfologi perbukitan bergelombang kuat, dan 3). Morfologi perbukitan terjal.
Stratigrafi batuan yang ditemukan disusun oleh batuan plutonik, batuan vulkanik, batuan malihan dan endapan permukaan. Dari hasil pengamatan megaskopis di lapangan diperoleh 16 satuan batuan yang dari tua ke muda terdiri dari; Batuan Malihan (Km), Granit Tua (Togt), Granit Biotit (Togb), Granodiorit Biotit (Tmgd), Granit Porfir (Tmgp), Vulkanik Tak Terpisahkan (Tplv), Sienit (Tps), Granodiorit (Tpgd), Granit – Aplit (Tpga), yang berumur Tersier, kemudian Diorit (Qd), Aliran Lava Andesitik (Qla), Jatuhan Piroklastik (Qjp), Aliran Lava Dasitik (Qld), Aliran Piroklastik (Qap), Kubah Lava (Qkl), dan Aluvium (Qal) yang berumur Kuarter. Penyebaran satuan batuan ini dapat dilihat pada gambar 2.
Pleistosen Atas, satuan batuan ini diperkirakan sebagai produk terakhir aktivitas vulkanik di daerah ini.
Pola umum tektonik yang terbentuk di daerah survei tersusun oleh 3 sesar utama, yaitu ; Sesar menganan berarah baratlaut – tenggara, Sesar mengiri berarah barat – timur, Sesar normal berarah timurlaut - baratdaya yang merupakan sesar yang mengontrol manifestasi Kanandede.
Batuan ubahan ditemukan di sekitar manifestasi Kanandede berupa silisifikasi dan argilitisasi. Silisifikasi dijumpai di bagian barat manifestasi dengan tingkat ubahan sedang hingga lemah. Tekstur batuan asal masih terlihat jelas, berasal dari batuan beku terobosan berkomposisi granitik, pada satuan granit porfir. Sedangkan argilitisasi lebih dominan di bagian tengah hingga utara manifestasi, dengan tingkat ubahan dari sedang hingga sangat kuat, dimana tekstur batuan asal sudah tidak nampak, dibeberapa tempat memperlihatkan bekas manifestasi solfatara dengan endapan sulfur. Hasil analisis PIMA (portable infrared mineral analyzer) pada beberapa sampel ubahan ini menunjukkan mineral ubahan berupa mineral lempung (argilik) yang didominasi oleh kaolonit, haloisit dan montmorilonit. Zona-zona ubahan berupa fosil yang sudah tidak memperlihatkan aktivitas hidrotermal dijumpai di Dusun Komba. Di lokasi ini ubahan argilik memliliki tingkat ubahan sangat kuat, dan dijumpai juga sisa solfatara dengan endapan sulfur. Dari hasil analisis PIMA, mineral ubahan terdiri dari
mineral lempung (argilik) didominasi oleh montmorilonit, illit, gipsum, dan jarosit.
Penentuan nilai heat loss di daerah penyelidikan dilakukan pada 13 manifestasi yang kesemuanya berupa mata air panas. Total energi panas yang hilang (heat loss) di daerah panas bumi Limbong adalah sebesar ± 531.506 kWth.
GEOKIMIA
Manifestasi panas bumi di daerah penyelidikan Limbong terdiri dari 5 kelompok manifestasi, yaitu: Kanandede, Kanan Sawah, Kanan Bulo, Komba dan Tandung. Air panas Kanandede memiliki temperatur terukur berkisar antara 45,4 – 100,6 °C, pH normal sebesar 6,65 – 8,02 dan daya hantar listrik (DHL) 1146 – 3010 µs/cm. Fumarola di kelompok manifestasi ini mempunyai temperatur 101,6 – 102,1 °C. Air panas Kanan Sawah memiliki temperatur sebesar 49,7 °C, pH normal sebesar 6,53 dengan DHL 1160 µs/cm. Air panas Kanan Bulo bertemperatur 52,8 °C, mempunyai pH normal sebesar 7,06 dengan DHL yang cukup rendah sebesar 258 µs/cm. Air panas Komba bertemperatur 44,4 – 56,1 °C mempunyai pH 6,72 – 6,92 serta DHL antara 2920 – 3230 µs/cm. Sedangkan Air panas Tandung bertemperatur 71,3 °C, mempunyai pH 7,45 serta DHL 643 µs/cm.
equilibrium, dan perbatasan antara partial equilibrium dan immature water. Termasuk sistem dominasi air panas. Temperatur bawah permukaan yang berhubungan dengan reservoir panas bumi, menggunakan persamaan geotermometer SiO2, diperkirakan lebih dari 220
o
C, termasuk entalpi sedang.
Hasil analisis contoh tanah memperlihatkan anomali Hg terkonsentrasi pada bagian tengah daerah penyelidikan yaitu sekitar pemunculan mata air panas Limbong di komplek Kanandede yang menyebar ke arah tenggara ke arah mata air panas Tandung (Gambar 3), sedangkan anomali konsentrasi CO2 berada di tengah daerah
penyelidikan yang menyebar ke arah tenggara, yang merupakan lokasi-lokasi munculnya mata air panas di daerah penyelidikan (Gambar 4). Dari jenis pemunculan manifestasi panas bumi Limbong, pada manifestasi Kanandede diperkirakan merupakan up flow.
PEMBAHASAN
Mekanisme Pembentukan Sistem Panas Bumi berkaitan dengan aktivitas vulkanik yang terjadi di zaman Kuarter yaitu pada kala Pleistosen Awal. Proses orogenesa yang menyebabkan pengangkatan (uplift) diakhiri oleh pembentukan kubah lava pada kala Pleistosen Atas. Tubuh kerucut kubah lava ini diperkirakan sebagai produk terakhir dari aktivitas vulkanik di daerah penyelidikan dan diduga sebagai sumber panas (heat source) yang memiliki sisa panas dari dapur magma.
Penampang model panas bumi (Gambar 5) menggambarkan model tentatif sistem panas bumi Limbong. Sumber panas memanaskan batuan dasar, kemudian memanaskan air meteorik yang masuk ke bawah permukaan melalui zona-zona resapan sehingga fluida yang terpanaskan dan naik ke atas dan terjebak dalam reservoir panas bumi yang ditutupi oleh batuan penudung (cap rock).
Manifestasi panas bumi Limbong berada pada lingkungan batuan granitik yang berumur Tersier.
Litologi pembentuk reservoir diduga merupakan batuan terobosan berkomposisi granitik, yang kaya akan rekahan dan bersifat permeabel. Sifat permeabel itu sendiri diakibatkan oleh rekahan yang terbentuk akibat aktifitas struktur sesar yang ada.
Air panas daerah panas bumi Limbong termasuk ke dalam tipe air panas klorida - bikarbonat. Dari arah manifestasi air panas di komplek Kanandede yang didominasi air klorida, air panas ini semakin ke arah Barat dan tenggara, kearah air panas Kanan Sawah, Kanan Bulo dan Tandung semakin bersifat bikarbonat.
pengaruh dari air permukaan atau pengenceran air meteorik. Sedangkan mata air panas di luar komplek Kanandede berada pada zona partial equilibrium dan perbatasan partial equilibrium dan
immature water yang mengindikasikan
pemunculan air panas kemungkinan mendapat pengaruh dari air permukaan atau pengenceran air meteorik. Sebaran area prospek panas bumi Limbong berdasarkan hasil kompilasi metode geologi dan geokimia, terdapat di sekitar mata air panas di komplek Kanandede yang menyebar ke arah tenggara. Dari hasil ini didapat luas area prospek panas bumi Limbong sekitar 5 km2 (Gambar 6).
Estimasi potensi panas bumi Limbong ini dihitung dengan asumsi tebal reservoir = 1 km, recovery factor = 50%, faktor konversi = 10%, dan lifetime = 30 tahun, temperatur geotermometer 220°C dan temperatur cut-off 180°C, sebesar:
Q = 0.11585 x 8.0 x (220 – 180) = 58 MWe
KESIMPULAN
Gejala panasbumi daerah Limbong yang memiliki entalpi sedang hingga tinggi (220oC) dan berhubungan dengan batuan vulkanik Kuarter (berumur 0.4 ± 0.1 juta tahun) serta batuan granitik diperkirakan memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan. Pola struktur yang berkembang juga memungkinkan untuk membentuk permeabilitas batuan yang baik.
Mata air panas di Komplek Kanandede berada di zona full equilibrium (diagram
Na-K-Mg) yang menunjukkan kondisi air panas kemungkinan berasal langsung dari kedalaman dengan temperatur cukup tinggi. Sedangkan mata air panas di luar komplek Kanandede berada pada zona perbatasan partial equilibrium dan immature water, yang menunjukkanadanya pengaruh kontaminasi air permukaan pada pembentukan air panas tersebut. Maka diperkirakan daerah prospek berada di sekitar manifestasi Kanandede hingga ke arah baratlaut.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim penyelidikan geologi dan geokimia Panas Bumi Limbong, Program Penelitian Panas Bumi, Pusat Sumber Daya Geologi serta seluruh instansi terkait yang telah banyak membantu dalam proses penyelidikan Panas Bumi daerah Limbong hingga terselesaikannya tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bachri, S., dan Alzwar,M., (1975):
Kegiatan Inventarisasi Kenampakan Gejala Panas bumi di Daerah Sulawesi Selatan, Dinas Vulkanologi, Bandung, unpubl.
Badan Pusat Statistik (2008), Luwu Utara Dalam Angka, Badan Pusat Statistk Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
“Geothermal System : Principles and Case Histories”. John Willey & Sons, New York.
Giggenbach, W.F., (1988), Geothermal Solute Equilibria Deviation of Na – K - Mg – Ca Geo Indicators, Geochemica Acta 52, 2749 – 2765.
Mahon K., Ellis, A.J., (1977), Chemistry and Geothermal system, Academic Press, Inc. Orlando.
Ratman,N. dkk. (1993),Geologi lembar Mamuju, Sulawesi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Simandjuntak, T.O., dkk. (1993), Geologi lembar Mamuju, Sulawesi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Tim Terpadu Panas Bumi (2002),
Gambar 1 Peta Lokasi Penyelidikan Terpadu Daerah Panas Bumi Limbong, Kabupaten Luwu
Utara, Sulawesi Selatan
LOKASI
Gambar 2 Peta Geologi daerah panas bumi Limbong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan
Gambar 4 Peta Anomali CO2 daerah panas bumi Limbong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi