• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PASANG SURUT HUBUNGAN ANTARA KOREA SELATAN DAN KOREA UTARA. Sementara bagian timur dan barat dikelilingi oleh perbatasan laut 36.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II PASANG SURUT HUBUNGAN ANTARA KOREA SELATAN DAN KOREA UTARA. Sementara bagian timur dan barat dikelilingi oleh perbatasan laut 36."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

xxxv BAB II

PASANG SURUT HUBUNGAN ANTARA KOREA SELATAN DAN KOREA UTARA

2.1Sejarah Konflik Semenanjung Korea

Korea terletak di ujung timur benua Asia, terdiri dari semenanjung Korea dan 3,305 pulau disekitarnya. Wilayah Korea secara keseluruhan meliputi luas 220.000 kilometer persegi, sementara luas Korea Selatan adalah 98.000 kilometer persegi, sisanya adalah milik Korea Utara. Wilayah Korea pada bagian utara berbatasan dengan Sungai Yalu dan Tumen. Sementara bagian timur dan barat dikelilingi oleh perbatasan laut36.

Menurut Soong Hoom Kil dan Chung-in Moon karena letak geografisnya semenanjung Korea secara tradisional menjadi jembatan penghubung antara benua Asia (Cina) di Utara dengan wilayah Jepang di Selatan. Selama abad kesembilanbelas, Jepang dan kekuatan Barat melihat Korea sebagai batu loncatan dimana mereka dapat meproyeksikan kekuatan dan pengaruhnya ke Manchuria37.

Sementara itu, China dan Rusia menggunakan Korea sebagai batu loncatan untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka ke pasifik utara.Karena letaknya yang strategis itulah, Jepang menduduki Korea pada tahun 1910. Jepang secara efektif menduduki Korea melalui Perjanjian Aneksasi Jepang-Korea. Selama penjajahan, sekalipun Jepang membangun jalan dan jaringan komunikasi modern, namun kehidupan rakyat Korea kritis38. Hal itu dikarenakan sistem kerja paksa yang diberlakukan oleh Jepang. 39Selain itu juga, ekspor tanaman Korea ke Jepang menyebabkan kekurangan pangan terjadi di Korea. Jepang melakukan eksploitasi ekonomi terhadap Korea dengan

36

Soong Hoom dan Chung-in Moon. 2001. Understanding Korean Politics; an Introduction. USA: State University of New York Press, h.11.

37

Chung-In Moon. 2012. The Sunshine Policy; In Defense of Engagement as a Path to Peace in Korea. ROK: Yonsei University Press, h.11.

38

Young Ick Lew. 2000. Brief History of Korea; A Bird's Eye View. New York: The Korea Society,h.23.

39

(2)

memanfaatkan makanan, ternak, dan logam dari Korea untuk tujuan perang dan pertahanan Jepang. Dari sisi kebudayaan, Jepang juga melakukan asimilasi kebudayaan di Korea. Jepang pada tahun 1937 melarang penggunaan bahasa Korea, dan pengajaran sejarah dan budaya Korea di sekolah. Jepang juga menerapkan larangan penggunaan nama Korea.

Menurut Lew, terdapat tiga fase kepemimpinan Jepang di Korea. Jepang memerintah Korea melalui Gubernur Jendral yang biasanya adalah seorang militer Angkatan Darat atau Angkatan Laut dari Jepang. Selama tahap pertama pendudukan Jepang (1910-1919), masyarakat Korea dikendalikan oleh sistem yang merampas kebebasan dasar masyarakat sipil Korea40. Adanya kontrol sosial yang ketat akhirnya menghasilkan gerakan berupa demonstrasi nasional pada tanggal 1 Maret 1919 disebut sebagai Gerakan Pertama Maret (the March First Movement). Demonstrasi tersebut memaksa Jepang untuk melonggarkan konstruksi peraturan mereka konstriksi pada masyarakat Korea.

Pada fase kedua pemerintahan kolonial (1919-1932), Pemerintah Jenderal memberikan kebebasan berekspresi dan berkumpul bagi masyarakat Korea. Pada awal 1920-an, misalnya, tiga surat kabar Korea diterbitkan dalam bahasa asli Korea. Selain itu, pada tahun 1927, terbentuk partai politik Korea yang terdiri dari partai nasionalis sayap kanan dan sayap kiri, Sin'ganhoe (masyarakat Korea baru).

Fase ketiga dari pemerintahan Jepang (1932-1945) kembali memberlakukan aturan keras ke masyarakat Korea, dengan cara mengeksploitasi tenaga serta sumber daya yang dimiliki masyarakat Korea untuk mendukung upaya Jepang menyarang ke Manchuria (1932), Cina daratan (setelah 1937), dan Pasifik (setelah tahun 1941). Masyarakat Korea dipaksa untuk berhenti menggunakan bahasa mereka sendiri dan

40

(3)

xxxvii

diwajibkan mengadopsi nama Jepang serta beribadah di kuil Shinto.

2.2Akhir Perang Dunia Ke-II dan Pembagian Dua Korea

Memasuki akhir Perang Dunia II, negara-negara sekutu melakukan pertemuan untuk membahas masalah Asia, termasuk permasalahan Korea di Kairo, Mesir41. Pertemuan ini menghasilkan Konferensi Kairo (Cairo Conference) pada Desember 1943. Konferensi Kairo merupakan konferensi yang berlangsung dari tanggal 23-26 November dan 3-7 Desember 1943. Dalam Deklarasi Kairo, yang dikeluarkan pada 1 Desember 1943 oleh Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Presiden Cina Chiang Kai-shek, ketiga pemimpin Sekutu, untuk mengantisipasi kekalahan Jepang, berjanji untuk memberikan kemerdekaan kepada orang-orang Korea „pada waktunya‟. Marsekal Stalin menunjukkan dukungannya terhadap

deklarasi ini pada Juli 1945 ketika ia menandatangani Deklarasi Potsdam.

Menurut Fact File situs berita BBC , dalam konferensi ini juga, sekutu memutuskan untuk melucuti Jepang di semua daerah yang telah diperoleh sejak awal Perang Dunia I (1914), Amerika Serikat, Cina, dan Inggris telah sepakat di Kairo bahwa Korea akan diizinkan untuk menjadi bebas dan merdeka pada waktunya setelah kemenangan Sekutu42. Uni Soviet juga menyetujui prinsip yang sama dalam deklarasi perang melawan Jepang.

Pada tanggal 8 Agustus 1945, selama hari-hari terakhir Perang Dunia II, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang dengan meluncurkan invasi Manchuria dan Korea. 43Pada saat itu, Jepang telah habis oleh perang berlarut-larut melawan Amerika Serikat dan Sekutu. Peristiwa penjatuhan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada

41

Young Ick Lew. 2000. Brief History of Korea; A Bird's Eye View. New York: The Korea Society, h. 24.

42

http://news.bbc.co.uk/2/hi/7317086.stm diakses pada 30 Juni 2017

43

Henneka, Andreas. Reflections on Korean history and Its Impacts on the US-North Korean Conflict. ISYP Journal on Science and World Affairs, Vol. 2, No. 1, 2006, h.21.

(4)

tanggal 6 dan juga 9 Agustus telah membuat pemerintah Jepang berupaya mencari cara untuk mengakhiri perang. Hingga akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Sejak kemunduran Jepang, Uni Soviet mendaratkan pasukannya di Korea dari arah utara. Hal tersebut juga diikuti oleh Amerika Serikat yang mendaratkan pasukannya dari arah selatan sebagai upaya untuk mencegah salah satu pihak menguasai seluruh Semenanjung Korea.

Ketika perang berakhir dengan menyerahnya Jepang pada 15 Agustus 1945, rakyat Korea menerima berita pembebasan mereka dengan kegembiraan sekaligus kecemasan44. Rakyat Korea gembira bahwa mereka dibebaskan dari penindasan Jepang

tetapi cemas karena negara mereka harus dibagi sepanjang garis 38o Lintang Utara (38o

parallel) menjadi dua zona pendudukan militer. Garis 38o Lintang Utara dipelopori oleh para pembuat kebijakan AS di Washington sepanjang malam 10-11 Agustus yang diklaim sebagai cara terbaik untuk mencegah Uni Soviet menempati seluruh semenanjung Korea.

Presiden Harry S. Truman menjamin dan membuat perjanjian dengan Marsekal

Joseph Stalin untuk menghormati garis 38o Lintang Utara pada 16 Agustus tanpa harus

berkonsultasi dengan Korea. Di bawah garis 38o Lintang Utara, Korea bagian selatan diduduki oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat pada bulan September, satu bulan setelah militer Soviet mulai menempati bagian utara. Pasukan pendudukan AS menyelenggarakan pemerintahan militer sementara di Korea bagian selatan dengan nama Pemerintah Militer Amerika Serikat di Korea (United States Army Military Government in Korea/USAMGIK) di Seoul dan memerintah Korea Selatan selama tiga tahun dengan dukungan dari Partai Demokrat Korea.

Hingga kemudian, pada 15 Agustus 1948, Korea Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat memerdekakan diri sebagai sebuah negara dengan nama resmi Republic

44

(5)

xxxix

of Korea (ROK) dan diakui oleh PBB sebagai pemerintahan yang sah45. Sementara itu, Uni Soviet juga mendukung berdirinya pemerintahan di Pyongyang dan menghasilkan kemerdekaan Korea Utara dengan nama resmi Democratic People Republik Korea (DPRK) pada 9 September 1948.

Pembagian Semenanjung Korea merupakan salah satu bukti jelas yang diakibatkan persaingan ideologi. Setelah sekutu memenangkan Perang Dingin II. Semenanjung Korea

dibagi dua oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada garis lintang 38o. Secara geografis, Semenanjung Korea dikelilingi oleh Negara-negara besar dan kuat, seperti Cina, Jepang, dan Rusia. Sejarah mencatat bahwa sejak jaman kerajaan kuno hingga Negara modern, Negara Korea pernah mengalami lima kali masa penjajahan atau penguasaan, seperti Cina, Bangsa Mongol, Jepang dan Amerika Serikat serta Uni Soviet pasca Perang Dingin Kedua.

46Semenanjung Korea memiliki lokasi yang strategis, sehingga Negara-negara besar yang

menjadi Negara tetangga, menjadikan Semenanjung Korea sebagai sasaran dari perluasan pengaruh serta kepentingan Negara-negara besar tersebut.

Korea adalah sebuah semenanjung di Asia Timur, yang memanjang sekitar 1.100 kilometer kearah selatan daratan Asia kontinental hingga Samudra Pasifik dan dikelilingi Laut Jepang di timur, Laut China Timur di Selatan, dan Laut Kuning di barat47. Semenanjung Korea mempunyai wilayah seluas 220.000 km², sebanyak 70 persen wilayah Semenanjung Korea adalah pegunungan dan tanah yang bisa diusahakan untuk lahan pertanian lebih kecil. Jajaran pegunungan berbaris di wilayah sebelah utara dan timur, dengan puncak tertinggi adalah Gunung Baekdu (2.744 m) di wilayah perbatasan dengan Republik Rakyat Cina. Panjang garis pantai semenanjung Korea adalah 8.460 kilometer.

45

Kim Yukhoon. Korean History for International Citizens. Seoul: Northeast Asia Foundation. 2007, h. 83.

46

Yang Seung-Yoon dan Mohtar Mas‟eod, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Internasional”, Gadjah Mada University Press, 2002, h. 15.

47

Diakses dari,

http://indonesiaseoul.org/pictures/korea.jpg&w=396&h=425&ei=eWxdT5qnBIfTrQf884WjDA&z oom=1, di akses pada 05 Juli 2017.

(6)

Gambar 2.2 Peta Korea

Sumber: Peta Korea

http://indonesiaseoul.org/pictures/korea.jpg&w=396&h=425&ei=eWxdT5qnBIfTrQf884WjDA&z oom=1,

pada 05 Juli 2017

2.2Perang Korea (1950-1953)

Pasca berdiri sebagai dua negara yang memiliki kedaulatannya masing- masing, hubungan Korea Selatan dengan Korea Utara diliputi konfrontasi dan ketegangan militer yang merupakan upaya untuk menyatukan kembali kedua Korea48. Konfrontasi militer pasca kemerdekaan menemukan titik puncak ketika pecahnya Perang Korea pada tanggal 25 Juni 1950. Ketika itu pasukan Korea Utara secara tiba-tiba menyerang Korea Selatan pada pagi

hari dan melintasi perbatasan garis 38o Lintang Utara, yang merupakan garis batas antara wilayah Korea Utara dengan Korea Selatan. Penyerangan tersebut didukung oleh rezim Kim Il Sung yang juga mendapat dukungan dari Uni Soviet dan Cina. 49Penyerangan inilah yang disebut sebagai awal dari Perang Korea. Perang Korea berlangsung dari 25 Juni 1950 hingga 27 Juli 1953. Perang ini disebut juga sebagai proxy war (perang yang dimandatkan) antara Amerika Serikat dan sekutunya dari Blok Barat dengan Republik Rakyat Cina (RRC) dan

48

Kim Yukhoon. Korean History for International Citizens. Seoul: Northeast Asia Foundation. 2007, h. 84.

49

Agus N Cahyo. Perang-Perang Paling Fenomenal, Dari KlasikSampai Modern. Yogyakarta: Bukubiru. 2012, h. 175-176.

(7)

xli

Uni Soviet dari Blok Timur.

Beberapa jam pasca penyerangan, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengecam invasi Korea Utara terhadap Korea Selatan melalui Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB50. PBB pun kemudian menerbitkan resolusi 83 yang merekomendasikan negara anggota untuk memberikan bantuan militer ke Korea Selatan pada 27 Juni 1950. Hal ini membuat wakil menteri luar negeri Uni Soviet menilai Amerika memulai intervensi bersenjata atas nama Korea Selatan.

Korea Utara kemudian mengajukan perundingan gencatan senjata pada 10 Juli 1951 di Kaesong, wilayah Korea Utara bagian selatan. Negosiasi gencatan senjata pun berlanjut dua tahun kemudian di Panmunjon (perbatasan kedua Korea).

Akhirnya, pada 27 Juli 1953, AS, RRC, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presien Korea Selatan, Syngman Rhee menolak menandatangani namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Walaupun begitu, secara resmi, perang ini belum berakhir51.

2.3Hubungan Antara Korea Selatan dan Korea Utara Pasca Perang Dingin

Politik Internasional pasca Perang Dingin ditandai dengan pergeseran dalam hubungan antar Negara. Adanya pengkajian ulang dan penyesuaian kebijakannya harus terkait dengan kepentingan strategisnya. Demikian halnya dengan hubungan antara kedua Negara Korea dalam proses dialog reunifikasi di Semenanjung Korea. Pergantian Chun Doo Hwan kepada Roh Tae Woo, membuat beberapa kemajuan dalam dialog antar Korea dan Semenanjung Korea pada pertengahan 1980-an. Pada bulan Agustus tahun 1980, telah ditandanganinya

Law on North-South Exchanges dan Cooperation yang menjadi kerangka dasar bagi kerjasama antar Korea. 52Dan pada tahun 1989, juga Roh Tae Woo mengeluarkan Unification

50 Ibid, h. 177. 51 Ibid, h. 178. 52

Young Sun Ji,”Conflicting Visison For Korean Reunification”, Fellow, Weatherhead Center For International Affairs, Harvard University, Juni 2001, h. 7. Diakses dari http://www.wcfia.harvard.edu, pada 8 Juli 2017.

(8)

Formula for The Korean National Community yang merupakan model dari kebijakan unifikasi pada masa pemerintahannya. Tujuannya melalui tiga tahap, yaitu: Confidence Building dan Kerjasama antar Korea, Konferensi Korea dan Estabilishment of Unified Government.

Kebijakan ke Utara (Northern Policy) pada masa Roh Tae Woo memiliki sasaran yaitu untuk meredakan situasi ketegangan diantara kedua Negara Korea. Korea Selatan mengajukan sebuah konferensi puncak dengan Kim II Sung dan sebuah deklarasi yang berisi tentang kesepakatan non agresi atau larangan pengunaan kekuatan bersenjata diantara kedua Negara. Roh Tae Woo mengusulkan untuk dibentuk sebuah konferensi yang melibatkan dua Negara Korea, plus empat Negara kunci (AS, Rusia, Cina dan Jepang) sebagai wahana konsultasi untuk mempromosikan keamanan di Semenanjung Korea. 53Pada tanggal 31 Desember 1991, ditandatanganinya “Basic Agreement on Reconciliation, Non-Agression,

and Exchange and Cooperation oleh kedua Perdana Menteri setelah berbagai pembicaraan-pembicaraan tingkat tinggi kedua belah pihak.

Basic Agreement ini berlaku efektif bersamaan dengan Joint Declaration on The Denuclearization of The Korean Peninsula pada tanggal 19 Februari 1992. Dalam pelaksanaan Basic Agreement, telah disusun suatu protokol pada tanggal 17 September 1992. Namun mengalami kendala akibat pengembangan nuklir Korea. Memasuki tahun 1993, dalam mengakhiri era otoriterisme Korea Selatan, Presiden Kim Young Sam dilantik menjadi Presiden Korea yang secara aktif mempromosikan dialog antar Korea. Kesungguhan Kim dalam untuk rekonsiliasi yaitu dengan mengembalikan seorang mata-mata Korea Utara yang ditahan Korea Selatan tanpa syarat apapun. Namun usaha Kim Young Sam kembali mengalami kegagalan dengan adanya konflik antar AS dengan Korea Utara. 54Krisis ini merupakan masalah yang cukup serius ketika AS berencana akan menghancurkan fasilitas

53

Young Jeh Kim, North Korea‟s Nuclear Program and Its Impact On Neighboring Countries, dalam Korea and World Affairs, Vol. 17, No. 3, Fall 1993, h. 482.

54

(9)

xliii

nuklir Korea Utara, sehingga perang tidak dapat dihindarkan.

Namun krisis tersebut dicairkan dengan kerjasama diplomatik antar Seoul- Washington pada saat mantan Presiden AS J. Carter berkunjung ke Pyongyang untuk melakukan pertemuan dengan Kim II Sung. 55Pertemuan tersebut merupakan pertemuan puncak antara Korea Utara-AS dan perundingan untuk membicarakan permasalahan nuklir di Korea Utara. Dengan ditandatanganinya

Agreed Framework sebagai bukti bahwa Korea Utara setuju untuk membekukan program nuklirnya selama delapan tahun. Akan tetapi dalam perjanjian Agreed Framework, AS menjanjikan pengiriman bahan bakar dan bantuan teknologi untuk membangun dua reaktor air raksasa untuk kepentingan energi, sebagai resiprositas atas sikap kooperatif Korea Utara yang menghentikan proyek nuklirnya. Selain itu, dari pertemuan tersebut terbentuk pula KEDO, Organisasi Energi di Semenanjung Korea. 56Melalui organisasi ini,Korea Selatan, AS, dan Jepang secara bersama-sama memberikan bantuan untuk mendirikan dua buah reaktor Light-water di Korea Utara. Namun dilain pihak, KTT antara Korea Selatan dengan Korea Utara mengalami kegagalan. Ini disebabkan meninggalnya Kim II Sung tujuh belas hari sebelum KTT.

Setelah meninggalnya Kim II Sung, hubungan kedua Negara sempat mengalami masalah kembali. Hal ini disebabkan, pada masa berkabung di Korea Utara, Korea Selatan tidak menunjukan sikap yang kurang baik yaitu dengan tidak menyampaikan belasungkawanya. Bahkan malah menyiagakan pasukannya di perbatasan sebagai antisipasi perkembangan di Korea Utara. Kim Yong Sam, mencoba mengeksploitasi kematian Kim II Sung sebagai harapan bahwa dengan lemahnya rejim Korea Utara tersebut maka akan membuka kesempatan bagi masuknya Korea Selatan secara perlahan sehingga akhirnya mampu menguasai Korea Utara. Namun prediksi bahwa proses pengantian akan melemahkan

55

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 67.

56

(10)

rejim Korea Utara tidak terjadi. 57Kim Jong Il naik tahta dan menggantikan mendiang ayahnya sebagai pemimpin Korea Utara. Sementara itu, Korea Selatan merasa tidak nyaman dengan hubungan antara Korea Utara dengan AS. Dalam hal ini, Korea Selatan takut bila nantinya AS Tidak akan mendukung Korea Selatan dan bahkan akan mendukung Korea Utara dalam hubungan bilateralnya dengan AS.

2.4 Kebijakan Korea Selatan Terhadap Korea Utara Sebelum Pemerintahan Roh

Moo Hyun

Pasca berdiri sebagai sebuah negara yang berdaulat, Korea Selatan telah mengalami masa krisis dari segi tatanan konstitusional dan ketidakstabilan politik. Sejak 1948 yang merupakan tahun kelahiran konstitusi Korea, sampai 1987, tidak kurang dari enam republik didirikan di Korea. 58Selama jangka waktu tiga puluh sembilan tahun, konstitusi direvisi sembilan kali, dan Korea dipimpin oleh presiden dengan latar belakang militer selama periode 1961-1992. Baru kemudian pada tahun 1993, Korea dipimpin oleh pemerintahan demokratis di bawah pimpinan sipil, yakni pada masa pemerintahan Kim Young Sam yang mulai menjabat secara resmi pada 23 Februari 1993.

Republik pertama di bawah Presiden Syngman Rhee, didirkan pada tahun 1948, dan runtuh pada 19 April 1960 oleh revolusi Mahasiswa59. Runtuhnya Syngman Rhee melahirkan republik kedua di bawah Perdana Menteri Chang Myon. Republik kedua (1960-1961) tidak berlangsung lama, namun, berakhir dengan kudeta militer oleh Park Chung Hee pada tanggal 16 Mei 1961. Park Chung Hee kemudian muncul sebagai pemimpin republik ketiga (1961-1973) dan republik keempat (1973-1979). Kemudian republik kelima (1980-1988) dan keenam dipimpin oleh Chun Doo Hwan dan Roh Tae Woo.

57

Keun-Sik Kim, Inter-Korean Relation and Thr Future of the Sunshine Policy, the Journal of East Asian Affairs, Vol. XVI, No. 1 Spring/Summer 2002, (The Research Institute for International Affairs, Seoul, Korea 2002), h. 100.

58

Hoom Soong dan Moon Chung-in. 2001. Understanding Korean Politics; an Introduction. USA: State University of New York Press. h. 33.

59

(11)

xlv

Baik di bawah kepemimpinan militer maupun sipil, kebijakan reunifikasi Korea Selatan terhadap Korea Utara sejak berdirinya Republik Korea pada tahun 1948, mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk meredam potensi konflik terutama dalam bidang militer dengan Korea Utara yang diharapkan dapat menyatukan kembali Korea(reunifikasi) sebagai tujuan jangka panjang60. Hanya saja, instrumen yang digunakan oleh setiap pemerintahan Korea Selatan untuk mencapai tujuan itu berbeda satu sama lain. Pilihan instrumen yang digunakan itu terkat dengan sifat dasar masig-masing pemerintahan.

2.4.1. Kebijakan Korea Selatan Terhadap Korea Utara di Bawah Pemerintahan Militer (1948-1992)

Masa pemerintahan Syngman Rhee/ 이승만 (26 Maret 1875 - 19 Juli 1960)

Presiden pertama Korea Selatan yang juga merupakan salah satu tokoh perintis kemerdekaan Korea Selatan ialah Syngman Rhee (1948-1960). Dalam kepemimpinannya di awal kemerdekaan, Syngman Rhee mengusung kebijakan resmi pemerintahannya dengan nama march north for unification, yang secara jelas menerapkan kebijakan unifikasi dengan kekuatan bersenjata dan menolak untuk hidup berdampingan dengan damai besama Korea Utara61.

Dalam usaha mewujudkan reunifikasi Korea, pemerintahan Presiden Rhee Syngman mempertahakan sifat permusuhan yang tidak dapat didamaikan terhadap Korea Utara dan berusaha mencapai reunifkasi melalui penaklukan terhadap komunisme Korea Utara. 62

Kebijakan reunifikasi Presiden Rhee Syngman itu terkait dengan dua faktor, yaitu rasa antisipasi dan tidak percaya terhadap komunisme serta klaim Korea Selatan untuk menjadi satu-satunya pemerintahan yang sah di Semenanjung Korea. Klaim ini didasarkan pada

60

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 31.

61

Cha, Victor D, Rhee-straint: The Origins of the U.S.-ROK Alliance. International Journal of Korean Studies Vol. XV, No. 1, 2011

62

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 31-32.

(12)

Resolusi Dewan Umum PBB, No. 195 (III) tahun 1948 dan tetap dipertahankan oleh pemerintahan-pemerintahan Korea Selatan selanjutnya. Resolusi ini menyatakan bahwa pemerintahan Republik Korea adalah pemerintahan Semenanjung yang sah karena dibentuk melalui pemilu yang sah dan wilayah Republik Korea didiami oleh sebagian besar rakyat Korea.

Instrumen utama yang digunakan oleh Presiden Rhee untuk mencapai tujuan politiknya adalah diplomasi, terutama dengan negara sekutu. Ia mengandalkan kekuatan Amerika Serikat untuk mendapatkan dan mempertahankan kemerdekaan Korea Selatan dan untuk menyatukan kembali dua Korea63. Presiden Rhee adalah seorang internasionalis yang mengeluarkan kebijakanya didasarkan pada kepentingan internal Korea Selatan, karenanya, ia menggunakan kekuatan asing (negara lain) untuk kepentingan bangsanya.

Dalam pemerintahannya, Presiden Rhee mendesak komandan pasukan Amerika Serikat bahwa Amerika Serikat yang menjaga keamanan di Korea Selatan untuk memanfaatkan monopoli nuklirnya dalam memaksa Soviet untuk menarik diri dari Semenanjung Korea64. Ketika Amerika Serikat memasuki negosiasi gencatan senjata (pasca perang Korea), Presiden Rhee dengan terbuka menentang penghentian permusuhan. Rhee menuntut agar Eisenhower (Presiden Amerika Serikat saat itu) untuk menarik pasukan Amerika Serikat dari Semenanjung jika gencatan senjata itu akan ditandatangani, dan juga gertak bahwa Korea Selatan lebih memilih bertarung sendirian melawan Korea Utara, Cina, dan Soviet daripada memilih gencatan senjata.

Selain itu, Presiden Rhee melakukan tindakan destruktif yang sengaja dirancang untuk menyalakan kembali permusuhan dengan Korea Utara. 65Salah satu tindakan Prsiden Rhee yang provokatif terjadi pada bulan Juni 1953 ketika ia secara sepihak mengumumkan adanya

63

Han, Ki-shik S.J. Understanding Korean Politics. USA: State University of New York Press. 2001. h. 10.

64

Cha, Victor D, Rhee-straint: The Origins of the U.S.-ROK Alliance. International Journal of Korean Studies Vol. XV, No. 1, 2011. h. 6.

65

(13)

xlvii

25.000 tawanan perang Korea yang ditawan di Selatan. Tindakan ini merupakan salah satu upaya yang disengaja untuk melemahkan negosiasi gencatan senjata, yakni dengan cara melakukan repatriasi/pengembalian tawanan perang ke negeri asalnya. Repatisi tersebut merupakan titik utama negosiasi. Pada Akhirnya, Perjanjian Gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan terjadi. Namun presiden Rhee menolak untuk menandatangani perjanjian, ia berjanji untuk menghormati perjanjian gencatan senjata tersebut.

Kontribusi Presiden Rhee terhadap sejarah politik Korea salah satunya adalah kemampuanya melindungi negaranya dari ancaman komunis selama masa awal kemerdekaan66. Sementara itu, ideologi politik yang ia terapkan selama masa pemerintahanya adalah ideologi anti-Jepang dananti-komunis. Pemerintahan Presiden Rhee berakhir pada April 1960, ketika ia digulingkan oleh aksi pemberontakan mahasiswa.

Masa Perdana Menteri Chang Myon/ 장면 (1960-1961)

Pasca pemberontakan mahasiswa di Korea Selatan yang menggulingkan Presiden

Rhee Syngman, pemerintah peralihan Korea dipimpin oleh Ho Chong/ 허정 yang

memegang kekuasaan Korea Selatan selama tiga bulan. 67Di bawah pemerintahannya, Korea Selatan mulai bersedia untuk memperlunak sikapnya mengenai reunifikasi Korea. Meskipun di sisi lain, Ho Chong tetap mempertahankan dua kunci utama politik luar negerinya, yakni berusaha memperbaiki hubungan Korea Selatan dengan Jepang dan negara-negara non-blok, dan bersedia melakukan usaha-usaha untuk mengakhiri pemisahan Semenanjung Korea sesuai dengan prinsip-prinsp resolusi PBB.

Pemerintahan peralihan Ho Chong kemudian digantikan oleh kepemimpinan Perdana Menteri Chang Myon yang melanjutkan kebjakan Ho Chong tersebut68. Dua hal yang jelas berbeda dari politik luar negeri yang dijalankan oleh Presiden Rhee dan Perdana Menteri

66

Han, Ki-shik S.J. Understanding Korean Politics. USA: State University of New York Press. 2001. h. 109.

67

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 34.

68

(14)

Chang Myon adalah bahwa Chang secara eksplisit menyatakan Korea Selatan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mencapai reunifikasi dan mengembangkan sikap fleksibel teradap negara-negara non-blok. 69Chang Myon hanya memimpin selama delapan bulan sebagai Perdana Menteri sebelum akhirnya mundur akibat kudeta militer yang dilakukan oleh Jendral Park Chung Hee pada bulan Mei 1961.

Masa pemerintahan Park Chung-hee/ 박정희 (1963-1979)

Setelah kudeta yang dilakukannya, Jendral Park Chung-hee muncul sebagai Presiden. 70

Presiden Park mengkonsentrasikan semua kekuatan sosial, politik, dan ekonomi Korea Selatan di bawah komandonya. Sebagai mantan militer, Presiden Park tertarik untuk menciptakan stabilitas, membangun perekonomian, dan memperkuat pertahanan nasional. Ia tidak mengenal prinsip-prinsip demokrasi atau cara hidup demokrasi. Menurutnya, cara demokrasi tidak hanya akan membawa kemajuan ekonomi yang lamban tetapi juga pemisahan sosial dan memperlemah pertahanan nasional. Baginya yang berlaku adalah demokrasi „terbatas‟, membatasi kebebasan sipil, kebebasan bicara dan pers. Ia sangat dekat

dengan birokratisme dan kepemimpinan militer ala Jepang pada periode Meiji, yang di bawah kepemimpinan militer yang kuat mendorong modernisasi ekonomi dan pembangunan militer melalui ideologi Yishin atau revitalisasi.

Park Chung-hee membuat pemerintahannya bertumpu pada kekuatan yang berasal dari militer, birokrat, dan teknokrat. Oleh karena itu rezim Korea Selatan di bawah Park Chung-hee disebut Rezim Otoriter Birokratis.Presiden Park termasuk salah seorang peletak dasar strong military-dominated government di Asia. 71Dalam rangka memenuhi tuntutan untuk mengatasi kebutuhan ekonomi yang mendasar dan mendesak, pemerintahan militer di

69

Han, Ki-shik S.J. Understanding Korean Politics. USA: State University of New York Press. 2001. h. 108.

70

Nahm, Andrew C. Introduction to Korean History and Culture,. Seoul: Hollym International. 1993. h. 196.

71

(15)

xlix

bawah Park Chung-hee mengambil beberapa langkah penting. Pertama, membuka hubungan diplomasi dengan Jepang untuk mengundang arus perdagangan dan bantuan ekonomi dari negara tersebut. Kedua, mengambil sikap mengalah terhadap tekanan-tekanan dari Amerika Serikat (terutama untuk mendapatkan dukungan politik dan pengakuannya) serta menerima saran dari kelompok teknokrat untuk menggalakkan usaha-usaha ekspor, terutama ekspor hasil-hasil industri manufaktur.

Sementara, terkait kebijakan reunifikasi dengan Korea Utara, Pemerintahan Park Chung-hee mendasarkanya pada tiga hal, yaitu:

1. Anti komunisme sebagai tujuan nasional terpenting dan terus memperkuat rasa anti komunisme tersebut,

2. Menghormati piagam PBB, melaksanakan perjajian-perjanjian inernasional, dan memperkuat ikatan dengan Amerika Serikat dan negara-negara bebas lainnya,

3. Menggunakan seluruh tenaga untuk membangun kekuatan yang memungkinkan untuk melawan komunisme demi tercapainya unifikasi nasional72.

Ketiga hal tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan luar negeri pemerintahan sebelumya. Hal yang membedakan kebijakan presiden Park dengan kebijkan pemerintaan sebeumnya adalah, strategi reunifikasi yang digunakan oleh Presiden Park menekankan pada pentingnya pelaksanaan pembangunan kekuatan nasional sebagai langkah pendahulan atas hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai reunifikasi73.

Selain itu, menurut Yoon dan Mas‟oed, salah satu hal penting yang tercakup dalam politik luar negeri Presiden Park adalah apa yang disebut sebagai good will diplomacy yang diterapkan terhadap negara-negara non-blok dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman negara-negara tersebut terhadap permasalahan Semenanjung Korea74.

72

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 35.

73

Ibid.

74

(16)

Di samping kemajuan politik, Presiden Park juga memberikan perhatian pada perkembangan perekonomian Korea Selatan75. Laju perekonomian Korea Selatan terus ditingkatkan melalui pembangunan ekonomi. Selain itu, peningkatan hubungan dengan Amerika Serikat juga dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan bantuan ekonomi dan militer. Pemerintahan Park mengejar laju industrialisasi yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama tahun 1960-an dan 1970-an, yang sering dijuluki sebagai „Keajaiban Sungai Hangang”. 76

Tapi di sisi lain, kekuasaannya itu sejalan dengan pembatasan yang ketat terhadap hak-hak politik dan kebebasan sipil rakyat.

Menurut Ki-shik S.J Han , Pemerintahan Park Chung-hee yang dijalankan selama delapan belas tahun adalah pemerintahan yang sukses dalam hal pertahanan nasional, kesejahteraan ekonomi, dan perkembangan national pride. Presiden Park tewas pada penembakan yang terjadi pada Oktober 197977.

Masa pemerintahan Chun Doo-hwan/전두환 (1980-1988)

Setelah pembunuhan Presiden Park, Korea Selatan mengalami periode transisi di

bawah darurat perang. Perdana menteri, Choi Kyu-hah/최규하 (1979-1980) dilantik sebagai

Presiden sementara dan mengundurkan diri pada 198078.

Setelah mundurnya Choi Kyu-hah, Chun Doo-hwan/전두환 (1980-1988), Kepala

Pertahanan Komando Korea Selatan mengambil alih kekuasaan. 79Menurut Ki- shik S.J. Han terdapat kontribusi yang diberikan oleh pemerintah Presiden Chun, antara lain adalah: pertama, kekacauan politik setelah pembunuhan Presiden Park berhasil diredam dan stabilitas politik Korea Selatan kembali terjaga. Kedua, perdagangan Korea Selatan pada saat itu

75

Ibid. h. 197.

76

Pelayanan Kebudayaan dan Informasi Korea. Fakta-Fakta Tentang Korea. Seoul, Republik Korea. 2008. h. 27.

77

Han, Ki-shik S.J. Understanding Korean Politics. USA: State University of New York Press. 2001. h. 117.

78

Pelayanan Kebudayaan dan Informasi Korea. Fakta-Fakta Tentang Korea. Seoul, Republik Korea. 2008. h. 27.

79

(17)

li

berhasil mencatat surplus untuk pertama kalinya dalam sejarah Korea, ia memegang periode pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan melengkapi dan mendorong kemajuan industri Korea yang telah diawali sejak masa pemerintahan Presiden Park. Ketiga, Presiden Chun mampu memperluas diplomasi Korea Selatan serta meningkatkan hubungan dengan Negara lain. Salah satunya dapat dilihat dari keberhasilan Korea Selatan menjadi tuan rumah Asian Games 1986 dan Olimpiade ke-24 pada tahun 1988. Presiden Chun mundur setelah tujuh tahun masa jabatannya dan melakukan transisi kekuasaan secara damai dan tanpa kudeta.

Masa pemerintahan Roh Tae-woo/노태우 (1988-1993)

Kekuatan ekonomi Korea Selatan semakin berkembang pada tahun 1980-an, dan hal tersebut muncul sebagai salah satu instrumen diplomatik dalam kebijakan terhadap Korea Utara yang dikenal dengan istilah Nordpolitik dari pemerintahan Presiden Roh Tae Woo80. Kebijakan di masa pemerintahan Roh Tae Woo berfokus pada pendekatan Korea Selatan dengan sekutu komunis Korea Utara agar mau membuka hubungan dalam bidang ekonomi dan politik. Nordpolitik berhasil membangun hubungan antara Korea Selatan dan negara-negara komunis di Eropa Timur, termasuk Uni Soviet yang pada akhirnya mengakui Korea Selatan pada tahun 1990. Sementara itu untuk Korea Utara, Presiden Roh mengajukan visi antar-Korea berupa kerjasama yang merupakan langkah menuju unifikasi menjadi Masyarakat Nasional Korea (Korean National Community).

Usulan Utama Korea Selatan terhadap Korea Utara terkait unifikasi, yang diusulkan Roh adalah adalah konfederasi/negara perserikatan dari dua sistem politik yang ada di Semenanjung Korea, pertama kali dijelaskan pada tahun 1980. Korea Utara telah menunjukan fleksibilitasnya dalam menjalankan usulan Presiden Roh untuk konfederasi dan bersedia untuk melihat konfederasi bukan sebagai tujuan akhir penyatuan (unifikasi) tetapi merupakan

80

(18)

institusi transisi/peralihan dalam upaya pemersatuan dua „pemerintah daerah‟ (Korea Utara

dan Korea Selatan) 81.

2.4.2. Kebijakan Korea Selatan Terhadap Korea Utara di Bawah Pemerintahan Sipil (1992-2002)

Masa pemerintahan Kim Young-sam/김영삼 (1993-1998)

Setalah Uni Soviet dan blok Eropa Timur runtuh pada akhir tahun 80-an sampai awal tahun 90-an, sikap Korea Utara jauh lebih keras daripada masa-masa sebelumnya di mana Korea Utara masih mendapatkan bantuan dan dukungan besar dari masyarakat sosialis internasional. Menyadari kedaan Korea Utara khususnya keadaan perekonomian nasionalnya yang semakin memburuk, pemerintah Kim Young Sam mencoba mendekati Korea Utara seperti halnya Jerman Barat terhadap Jerman Timur82. Namun usaha pemerintahan Kim Young Sam itu justru mengarahkan Korea Utara menuju ke arah yang lebih keras lagi, memperkuat kekuatan militer sambil mengembangkan kekuatan senjata modern.

Masa pemerintahan Kim Dae-jung/김대중 (1998-2003)

Pemerintah Kim Dae-jung diresmikan pada Februari 1998 ditandai dengan peralihan kekuasaan politik secara damai yang terjadi pertama kali di Korea Selatan83. Pada awal kepemimpinannya, pemerintahan Kim Dae-jung meluncurkan kebijakannya yang diberi nama „Sunshine Policy‟, atau kebijakan untuk melakukan kerjasama, mengendurkan ketegangan

militer, melakukan pertukaran dan kerjasama, serta membangun perdamaian dengan membangun kepercayaan bersama dengan Korea Utara. 84Kebijakan pemerintah Kim Dae-jung terhadap Korea Utara secara resmi bernama the Policy of Reconciliation and Co-operation, tapi presiden Kim secara pribadi lebih suka menggunakan Sunshine Policy.

81

Ibid. h. 7.

82

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 167.

83

Chung-In Moon. The Sunshine Policy; In Defense of Engagement as a Path to Peace in Korea. ROK: Yonsei University Press. 2012. h. 1.

84

(19)

liii

Kebijakan ini didasarkan pada tiga prinsip utama berdasarkan pidato pelantikan Kim Dae-jung pada tahun 1998. Pertama, prinsip non-toleransi terhadap segala bentuk ancaman militer maupun provokasi bersenjata oleh Korea Utara. Kedua, prinsip unifikasi dua Korea tanpa menggunakan ancaman ataupun kekerasan. Ketiga, prinsip mendorong peningkatan pertukaran serta kerjasama antara Korea Selatan- Korea Utara melalui pemberlakukan kembali perjanjian rekonsiliasi tahun 1991. 85Perjanjian rekonsiliasi atau Treaty of Reconciliation and Nonaggression, merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh Korea Selatan dan Korea Utara pada tanggal 13 Desember 1991. Pada perjanjian itu, Seoul dan Pyongyang sepakat untuk menghentikan hubungan permusuhan dan bekerja sama dalam bidang keamanan.

Melalui kebijakannya, pemerintahan presiden Kim Dae-jung menekankan pentingnya keadaan kebersamaan, perdamaian, dan peningkatan kerjasama dengan Korea Utara daripada masa pemerintahan sebelumnya. Melalui kebijakannya, pemerintah Kim Dae Jung memilih kebijakan penyatuan Korea secara de facto melalui lebih banyak kontak dan kerjasama antara Utara dan Selatan daripada penyatuan sistem dan hukum (de jure) 86.

Menurut Geetha Govindasamy, reunifikasi kedua Korea merupakan tujuan akhir Kim Dae-jung. Namun ia mengerti bahwa reunifikasi sulit direalisaikan tanpa mengakhiri kebijakan ala Perang Dingin yang diadaptasi oleh pemerintahan sebelumnya. Kim percaya bahwa kebijakan bermusuhan dan blokade hanya memperburuk situasi dan mengintensifkan kemungkinan konfrontasi militer antara kedua Korea. Sebagai alternatif, Kim Dae-jung merancang formula unifikasi tiga tahap yang mencakup ko-eksistensi damai, pertukaran damai antar-Korea dan unifikasi damai87.

Hal tersebut senada dengan apa yang dituliskan oleh Chung-in Moon, bahwa Presiden

85

Ibid. h. 21.

86

Mohtar Masóed, dan Yang Seung-Yoon, “Politik Luar Negeri Korea Selatan : Penyesuaian Diri Terhadap Masyarakat Masyarakat Internasional”, h. 41.

87

Geetha Govindasamy. Kim Dae Jung and The Sunshine Policy: An Appealing Policy Option for Inter-Korean Relations. Sarjana. Vol. 27. No. 1, June 2012. h. 2.

(20)

Kim merumuskan konsep perdamaian ke dalam tiga prinsip utama, yakni: hidup berdampingan secara damai/peaceful co-existence (pembangunan perdamaian dengan mengakhiri hubungan permusuhan, perungan penggunaan senjata, dan pengawasan bersama serta membangun rezim keamanan dan kerjasama multilateral); pertukaran perdamaian/peaceful exchange (restorasi identitas nasional bersama melalui interaksi politik, ekonomi, sosial, budaya, dan kemanusiaan, serta perluasan kepentingan bersama melalui peningkatan pertukaran/kerjasama dalam bidang ekonomi ekonomi); dan unifikasi damai/

peaceful unification (peningkatan unifikasi dan penolakan terhadap unifikasi dengan kekuatan militer maupun tindak manipulasi). Sunshine policy dapat dilihat sebagai bentuk dari tiga prinsip perdamaian tersebut88.

Semua kebijakan, baik kebijakan publik, domestik, maupun luar negeri merupakan instrumen yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu.Tujuan tersebut menjadi dasar perumusan kebijakan dan pengarah kebijakan. 89Menurut Chung-In Moon, dasar perumusan. Sunshine policy ditujuan untuk mencapai lima tujuan besar, yakni:

Tujuan pertama adalah penolakan mutlak dari setiap perang atau konflik militer besar di semenanjung Korea. Presiden Kim berulang kali menyatakan bahwa tidak ada yang bisa membenarkan perang dan bahwa hal itu harus dicegah dengan biaya apapun. Perang bisa membawa sebuah unifikasi nasional, tetapi penyatuan dicapai melalui cara-cara kekerasan kemungkinan akan menelurkan benih kebencian dan menetaskan divisi nasional lainnya.

Tujuan kedua adalah untuk memperoleh unifikasi secara de facto. Sunshine Policy

mengasumsikan bahwa de jure atau unifikasi kelembagan melalui musyawarah dan referendum nasional akan memakan waktu lebih lama. Menyadari kendala yang realistis, pemerintah Kim Dae-jung bertujuan untuk menciptakan tahap awal unifikasi ( quasi-unification) untuk mengaktifkan pertukaran pekerja, barang, dan jasa demi mewujudkan

88

Chung-In Moon. The Sunshine Policy; In Defense of Engagement as a Path to Peace in Korea. ROK: Yonsei University Press. 2012. h. 2.

89

(21)

lv

pembangunan kepercayaan bersama dan pengawasan senjata secara bersama-sama.

Tujuan ketiga yang mendasari Sunshine Policy adalah keyakinan Kim Dae- jung bahwa kebijakan keterlibatan dan akomodasi (policy of engagement and accommodation) bisa membawa perubahan di Korea Utara, dan bahwa transformasi menjadi keadaan normal bisa menawarkan momentum menentukan bagi ko- eksistensi damai di semenanjung Korea.

Tujuan keempat adalah sentralitas Korea Selatan dalam mengelola masalah Korea dan lingkungan keamanan eksternal. Sunshine Policy mengakui pentingnya Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang dalam mempengaruhi masa depan semenanjung Korea, namun membantah determinisme tradisional dalam menilai keseimbangan kekuasaan ini atau tingkat pengaruh mereka.

Tujuan terakhir adalah Kim Dae Jung mencoba untuk mencapai konsensus dalam negeri dan dukungan politik bipartisan dalam melaksanakan Sunshine Policy.

Presiden Kim menyadari bahwa di bawah sebuah pemerintahan yang demokratis, tidak mudah untuk membangun dukungan politik bipartisan untuk kebijakan apapun, baik itu asing maupun domestik90. Namun, Presiden Kim percaya bahwa sejauh kebijakan terhadap Korea Utara dan unifikasi nasional yang bersangkutan dapat membentuk konsensus dalam negeri, memenangkan dukungan bipartisan bukan merupakan hal yang mustahil.

Selain itu, ciri lain kebijakan pemerintah Kim Dae-jung adalah membangun kebijakan yang bersifat timbal balik (reciprocity) dan fleksibel terhadap Korea Utara91. Timbal balik berarti bahwa kebijakan Korea Selatan yang salah satunya adalah memberikan bantuan kepada Korea Utara tidak perlu diberi balasan atau ganti yang setara (dalam arti bentuk dan jumlah bantuan yang telah diberikan), namun Korea Utara hanya perlu meningkatkan hubungan baik dengan Korea Selatan. Selain itu, sekalipun nuklir Korea Utara telah diakui

90

Chung-In Moon. The Sunshine Policy; In Defense of Engagement as a Path to Peace in Korea. ROK: Yonsei University Press. 2012. h. 21-25.

91

Geetha Govindasamy. Kim Dae Jung and The Sunshine Policy: An Appealing Policy Option for Inter-Korean Relations. Sarjana. Vol. 27. No. 1, June 2012. h. 5.

(22)

sebagai salah satu masalah utama, namun secara resmi, hal tersebut dipisahkan dari kebutuhan untuk memperbaiki hubungan antar-Korea. Pemerintah Kim tidak memprioritaskan kebijakannya pada masalah senjata nuklir Korea Utara. Sebaliknya, pemerintah Kim menekankan kebijakannya pada kebutuhan ekonomi dan kemanusiaan Korea Utara.

Hasil penerapan Sunshine Policy yang dilakukan oleh pemerintah Kim Dae- jung membawa kemajuan bagi hubungan dua Korea. Pencapaian-pencapaian penting yang berhasil direalisasikan antara lain adalah pada 1998, Kim Dae-jung berhasil melancarkan proyek bersama antar Korea yakni proyek pariwisata dan turisme Gunung Kumgang dan proyek Komplek Industri Kaesong di Korea Utara. Selain itu juga, pada Juni 2000, ia berhasil melaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi Korea (Korean Summit) yang dilakukan oleh presiden Kim Dae-jung dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il92.

92

Chung-In Moon. The Sunshine Policy; In Defense of Engagement as a Path to Peace in Korea. ROK: Yonsei University Press. 2012. h. 4.

Gambar

Gambar 2.2 Peta Korea

Referensi

Dokumen terkait