ANALISA PERFORMANCE LINK A3/A7 TERHADAP PENGARUH HANDOFF INTER BSC6600 CDMA 20001X (STUDY KASUS PERANGKAT BSC PADA MSC SIMPANGLIMA)

11 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Analisa Performance Link (Sri Heranurweni, Agus Budiarto)

654

ANALISA PERFORMANCE LINK A3/A7 TERHADAP PENGARUH

HANDOFF INTER BSC6600 CDMA 20001X

(STUDY KASUS PERANGKAT BSC PADA MSC SIMPANGLIMA)

Sri Heranurweni1, Agus Budiarto2

1

Jurusan Teknik Elektro, Universitas Semarang Jl. Soekarno Hatta. Tlogosari Semarang

Email: heranur@gmail.com

Abstract

Development and use of CDMA multiple access technique in mobile communication ko based on the consideration the increasing needs of today's mobile communication Channel capacity of cellular systems that have been applied during this start experiencing limitations. Telecommunications system Code Division Multiple Access (CDMA) 20001x there is a device called a base station subsystem (BSS), also known as the radio subsystem, each controller BSS consists of many base transceiver stations (BTS) or called by the base station controller (BSC) , which connects the phone with the network subscriber subsystem (NSS) through the mobile switching controller (MSC), where the BSC is connected through a media intermediary, called the link A3A7. By analyzing the performance A3A7 link is expected to overcome the factors that cause inter-BSC handoff so as to reduce the number of drop call in any telecommunications activities on going communication in a network CDMA 20001x.

The calculation results in a study based on reporting data obtained showed that the level of inter-BS highest ratio of soft handoff failures or in other words the worst when compared to others BSC that exist on the BSC 2 with the percentage of 30 264% where the average ratio for each day of registration failures 2.0176%, due to some status e1 canal to link two troubled BSC A3A7 in error detection based on the results of measurements with BER TEST.

Keywords: BSC, CDMA, Handoff Failure Ratio

Abstrak

Pengembangan dan penggunaan teknik multiple access CDMA dalam komunikasi selular didasari oleh pertimbangan meningkatnya kebutuhan komunikasi selular dewasa ini. Kapasitas kanal sistem selular yang sudah diterapkan selama ini mulai mengalami keterbatasan.

Sistem telekomunikasi Code Division Multiple Access (CDMA) 20001X terdapat suatu perangkat yang disebut Base Station Subsistem (BSS) juga dikenal sebagai subsistem radio. Setiap BSS terdiri dari banyak pengendali Base Transceiver Station (BTS) atau yang disebut dengan Base Station Controller (BSC), yang menghubungkan ponsel dengan Network Subscriber Subsistem (NSS) melalui Mobile Switching Controller (MSC), dimana antara BSC dihubungkan melalui media perantara yang disebut dengan link A3/A7. Dengan melakukan analisa terhadap performance link A3/A7 diharapkan mampu mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya handoff antar BSC sehingga dapat mengurangi jumlah dropcall dalam setiap aktivitas telekomunikasi yang sedang berlangsung dalam suatu jaringan CDMA 20001X. Hasil perhitungan dalam penelitian berdasarkan data reporting yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat Inter-BS Soft Handoff Failures Ratio tertinggi atau dengan kata lain paling buruk bila dibandingkan dengan BSC lainnya yaitu ada pada BSC 2 dengan prosentase sebesar 30.264% dimana rata-rata failures ratio per hari sebesar 2.0176 %, hal ini disebabkan beberapa status kanal E1 untuk link A3/A7 di BSC 2 bermasalah / error detection berdasarkan hasil pengukuran dengan BER TEST.

(2)

Techno Science Vol.5 No.1 Mei 2011

655

1. PENDAHULUAN

Salah satu karakteristik dari pelayanan dan aplikasi teknologi komunikasi nirkabel selular generasi ketiga adalah kemampuan masing-masing pengguna terminal selular untuk menjalankan beberapa aplikasi dan layanan secara bersamaan. Artinya masing-masing pelanggan teknologi baru ini dapat melakukan percakapan sekaligus mengakses intranet maupun internet untuk mendapatkan informasi penting yang dibutuhkan. Pelanggan juga dapat menggunakan terminal selularnya untuk video conference dan dalam waktu yang bersamaan dapat saling bertukar informasi melalui e-mail ataupun multimedia mail.

Beberapa layanan masa depan untuk multimedia pita lebar secara nirkabel adalah pengiriman berita/koran secara interaktif (berupa suara, video, teks, grafik/gambar), multimedia

e-mail (berupa teks, gambar, klip video), audio interactive (suara berkualitas), video conference

(konferensi melalui audio/video), web interactive (aplikasi internet secara interaktif, contohnya permainan-permainan di internet) dan transfer file berkapasitas besar dari intranet maupun internet (dalam waktu yang lebih singkat).

Sistem telekomunikasi Code Division Multiple Access (CDMA) 20001X terdapat suatu perangkat yang disebut Base Station Subsistem (BSS) juga dikenal sebagai subsistem radio. Setiap BSS terdiri dari banyak pengendali Base Transceiver Station (BTS) atau yang disebut dengan Base Station Controller (BSC), yang menghubungkan ponsel dengan Network

Subscriber Subsistem (NSS) melalui Mobile Switching Controller (MSC), dimana antara BSC

dihubungkan melalui media perantara yang disebut dengan link A3/A7. Dengan melakukan analisa terhadap performance link A3/A7 diharapkan mampu mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya handoff antar BSC sehingga dapat mengurangi jumlah dropcall dalam setiap aktivitas telekomunikasi yang sedang berlangsung dalam suatu jaringan CDMA 20001X.

Proses Handoff Dan Prosedur Analisis Soft Handover Performance Pada Link A3/A7 Handoff (saat peralihan)

Pada komunikasi yang memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, ada kemungkinan pelanggan bergerak dari satu sel menuju sel lain yang memakai pasangan frekuensi yang berbeda ketika sedang terjadi percakapan. Untuk menjamin bahwa pembicaraan akan terus tersambung diperlukan fasilitas handover, yaitu proses otomatisasi pergantian frekuensi ketika mobile

station (MS) bergerak ke dalam daerah atau sel yang mempunyai kanal dengan frekuensi

berbeda dengan sel sebelumnya, sehingga pembicaraan dijamin akan terus tersambung tanpa perlu melakukan pemanggilan ulang atau inisialisasi ulang. Pada gambar 2 menunjukkan bahwa user bergerak dari sel satu ke sel yang lain, channel frekuensi secara otomatis akan dirubah dari set f1 ke set f2. Handover adalah proses otomatis, jika kekuatan sinyal jatuh dibawah level threshold. Hal ini tidak diketahui oleh pemakai karena terjadi dengan sangat cepat antara 200 – 300 ms. Kebutuhan akan handover mungkin disebabkan oleh radio,

operation and management (O&M), atau oleh traffic dimana radio merupakan penyebab utama

permintaan handover. Parameter yang dilibatkan adalah tingkatan low signal atau high error

rate. Ini disebabkan oleh pergerakan mobile station pindah ke suatu sel atau sinyal terhalang

oleh suatu objek.

(3)

Analisa Performance Link (Sri Heranurweni, Agus Budiarto)

656

Suatu handover dilakukan melalui tiga langkah. mobile station (MS) secara terus menerus mengumpulkan informasi level sinyal yang diterima dari base station (BS) yang telah dihubungkan, dan semua base station (BS) yang lain dapat mendeteksi. Informasi ini kemudian merata-rata untuk menyaring efek fast fading. Data yang telah dirata-rata kemudian dihitung pada algoritma keputusan, yang memutuskan jika itu meminta handover ke stasiun lain. Ketika memutuskan untuk melakukannya, handover dieksekusi oleh kedua base station (BS) dan

mobile station (MS).

a. Hard handover

Hard handover merupakan mekanisme yang sederhana tetapi juga merupakan mekanisme handover yang paling cepat. Penyimpangan yang terjadi telah merubah jalur traffic melalui

suatu jalur baru menuju Base Station (BS) yang baru, yang mana hubungan antara sumber dan penyimpangan tanpa terjadi perubahan. Sejauh ini telah diasumsikan bahwa penyimpangan telah ditentukan untuk koneksi yang terjadi. Kelemahan dari algoritma ini adalah packet loss,

packet yang menyangkut selama terjadi handover karena akan segera meninggalkan Base Station (BS) yang lama dan mobile terminal akan dihubungkan dengan yang baru.

b. Soft Handover

Soft handover adalah cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas dan keandalan jaringan code division multiple acceess (CDMA). Pada jaringan 2G dan 3G soft handover diperluas oleh macro-diversity. Macro-diversity menyatakan terminal mobile diijinkan untuk berkomunikasi

dengan base station (BS) secara bersama-sama. Seperti halnya pada soft handover komunikasi terminal mobile melalui base station (BS) yang dikenal dengan active set, sedangkan base station (BS) yang berdekatan disebut neighbour base station (BS). Ketika sinyal base station (BS) menjadi lebih besar dari threshold yang mana dikenal sebagai

add_threshold. Sama halnya ketika sinyal menjadi lebih rendah dari threshold yang dikenal

dengan drop_threshold.

Proses Handover (Peralihan Frekuensi)

Salah satu permasalahan berat yang berhubungan dengan channel assignment (CA) adalah mekanisme handover, yang mana dihubungkan dengan pergerakan mobile station (MS).

Handover digambarkan sebagai perubahan channel radio yang digunakan mobile terminal

(MT). Manajemen handover memungkinkan jaringan untuk memelihara koneksi dari user yang berpindah . Hal ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu : inisialisasi, koneksi, dan kontrol data. Salah satu penyebab terjadinya handover adalah perubahan kualitas radio yang lemah dalam suatu lingkungan atau pergerakan mobile terminal (MT). Ketika mobile terminal (MT) dalam melayani suatu area, propagasi dan interferensi mungkin dapat berubah sama seperti saat sel atau base station (BS) berbagai bentuk gelombang yang tidak dapat mendukung terminal. Secara umum proses handover disebabkan oleh penurunan kualitas link radio atau inisialisasi, dengan cara sistem menyusun channel radio untuk menghindari kebuntuan. Handover sangat penting pada mobile network karena arsitektur jaringan selular dibuat untuk memaksimalkan penggunaan spektrum.

Untuk dapat mengetahui persentase tingkat rata-rata keberhasilan dari hard handover pada

MSC dapat dihitung dengan rumus:

... (1)

Keterangan:

Avr_Succes : Nilai rata-rata keberhasilan dalam proses call set up Frq_Ho : Jumlah terjadinya handover

Call_attempt : Peningkatan jumlah panggilan

Spesifikasi yang terjadi mengijinkan mobile terminal (MT) untuk berbicara kepada enam sel secara bersamaan, meskipun sekarang ini tidak ada mobile terminal (MT) yang mempunyai kemampuan ini.

(4)

Techno Science Vol.5 No.1 Mei 2011

657

Ada dua kunci untuk merealisasikan soft handover, yaitu : a. Distribusi data dan seleksi.

Memisahkan salinan data yang sama untuk dikirimkan melalui base station (BS) kepada

mobile terminal (MT) yang sama dan sebaliknya.

b. Sinkronisasi isi data.

Jenis data yang tiba dari berbagai base station (BS) kepada mobile terminal (MT) pada waktu yang sama harus di salin data yang sama untuk dikirim mobile terminal (MT) agar dapat dengan tepat di salin menjadi data tunggal. Dalam arah yang berkebalikan hanya satu salinan data yang dikirim oleh mobile terminal (MT) ke berbagai base station (BS) harus diseleksi untuk diserahkan ke berbagai tujuan.

Proses handover terjadi dalam beberapa tahap. Pertama, telepon mengirimkan pesan. Kedua, sel dan sistem membawa panggilan itu kepada ke dua sel. Ketika telepon melanjutkan untuk bergerak, secepatnya kekuatan sinyal dari kedua sel yang sedang berpindah akan mengalami

drop pada suatu titik dimana tidak mempunyai manfaat. Selanjutnya sel akan menginformasikan

sel sistem berdasarkan fakta ini dan sistem akan meninggalkan sel yang asli.

Perbaikan Performansi karena Soft Handover

Performansi transmisi kanal forward dalam bentuk distribusi kumulatif dari full-rate FER (frame

erasure rate) sebagai akibat proses soft handover. Performansi ini akan meningkat jika mobile station (MS) menerima sinyal yang sama kuat dari base station (BS) tetapi tidak akan terlalu

berarti jika kuat sinyalnya tidak sama kuat. Untuk itu diperlukan perencanaan yang teliti agar dapat memanfaatkan keuntungan dari soft handover. Pada kanal reverse adanya operasi soft

handover tidak mempengaruhi performansi.

Faktor kegagalan handover pada sistem Code Division Multiple Access (CDMA)

Pada saat handover terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kegagalan. Faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan handover antara lain :

 Peningkatan jumlah panggilan (call_attempt).

Jumlah panggilan (call_attempt) yang berlangsung dalam sistem komunikasi selular dapat mempengaruhi tingkat kegagalan yang terjadi pada handover.

 Interferensi.

Gangguan yang disebabkan karena adanya sinyal lain yang tidak dikehendaki yang frekuensinya sama atau hampir sama dan dayanya cukup besar yang masuk bersama dengan sinyal yang seharusnya diterima.

 Propagasi.

Propagasi adalah pelemahan yang diperkirakan akan dialami sinyal dari base station (BS) ke mobile station (MS). Hal ini disebabkan adanya pergerakan dari mobile station (MS) yang menyebabkan kuat sinyal yang diterima mobile station (MS) bervariasi.

 Fading

Perubahan kuat sinyal yang terjadi akibat gangguan propagasi, seperti adanya pemantulan yang disebabkan oleh kontur alam, gedung, rumah, dan lain-lain.

Konfigurasi Bandwidth Link A7

Kapasitas bandwdith yang dibutihkan untuk link A7 berdasarkan pada alokasi E1 yang terpasang pada interface link A3/A7, berikut ini bandwidth yang direkomendasikan untuk link A7.

(5)

Analisa Performance Link (Sri Heranurweni, Agus Budiarto)

658

Jika bandwidth yang dialokasikan untuk link A7 tidak cukup, link A7 tidak dapat mendukung proses handover pada jam sibuk sehingga mengakibatkan proses call set up mengalami kegagalan, sehingga dalam menentukan alokasi serta jumlah E1 untuk link A7 harus tepat dan disesuaikan dengan bandwidth yang tersedia karena setiap sumber BSC hanya terdapat satu

link A7 yang dikonfigurasikan dengan BSC tujuan yang menjadi target dalam proses handover.

Konfigurasi Bandwidth Link A3

Pengaturan traffic inter-BSC soft handoff (SHO) antara dua BSC harus disesuaikan dengan alokasi traffic pada bandwidth SHO. Untuk menentukan sumber transmisi yang digunakan diperlukan perhitungan keseluruhan bandwidth dengan alokasi bandwidth sebesar 20 kbit/s pada setiap bagian SHO. Besarnya nilai bandwidth yang dikonfigurasikan harus lebih besar dari

traffic link bandwidth yang digunakan dan kurang dari traffic link bandwidth yang direncanakan.

Besarnya traffic link bandwidth pada setiap E1 harus 2,4 Mbit/s (nilainya sama dengan abis

link).

2. METODE PENELITIAN

Kegiatan penelitian dilakukan di ruang sentral pada Mobile Switching Controller (MSC) Simpang Lima dimana lokasi yang dimaksud ditunjukkan pada Gambar 2.

Pada gambar tersebut menjelaskan bahwa di dalam ruang sentral terdiri beberapa perangkat pendukung sistem telekomunikasi Code Division Multiple Access (CDMA) dengan coverage

area meliputi daerah Jawa Tengah yang dikendalikan oleh MSC Simpang Lima dan didukung

oleh BSC 1, BSC 2, BSC 3, BSC 4 dan BSC 5 yang mengendalikan beberapa Base

Transceiver Station (BTS) yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Pada Gambar 6. menjelaskan alur kerja penelitian BSC handover performance yang dimulai dengan pengumpulan data-data yang berkaitan dengan beberapa perangkat pendukung selama terjadinya handover yang kemudian dilanjutkan dengan pengambilan data melalui pengukuran menggunakan BER TEST dan pengambilan data reporting BSC handover performance melalui software dari vendor huawei yaitu Local Maintenance Terminal (LMT) dan M2000.

(6)

Techno Science Vol.5 No.1 Mei 2011

659

Gambar 3. Proses Inter-BS Soft Handover yang terjadi pada kanal link A3/A7

PENGUMPULAN DATA PENDUKUNG BSC HANDOVER PERFORMANCE PENGUMPULAN DATA ALOKASI E1 PADA KANAL LINK A3/A7 PENGUMPULAN DATA PENGUKURAN PADA KANAL LINK A3/A7 DENGAN BER TEST

PENGUMPULAN DATA REPORTING BSC HANDOVER PERFORMANCE VIA LMT & M2000 ANALISIS DATA KESIMPULAN TOTAL SUCCESS RATIO DAN TOTAL

FAILURES RATIO BSC HANDOVER PERFORMANCE NILAI RATA-RATA SUCCESS RATIO FAILURES RATIO BSC HANDOVER PERFORMANCE

Gambar 4. Blok Diagram Penelitian BSC Handover Performance

Setelah seluruh data berhasil diperoleh kemudian dilakukan analisa dari data tersebut untuk menentukan jumlah total success ratio dan jumlah total failures ratio pada masing-masing Base Station Controller (BSC) kemudian dilanjutkan untuk melakukan analisa data per hari untuk nilai rata-rata jumlah success ratio dan jumlah failures ratio dimana hasil dari analisa tersebut dijadikan petunjuk dalam mengambil kesimpulan apakah aktifitas handover yang terjadi pada tanggal 1 Desember 2010 sampai dengan tanggal 15 Desember 2010 masih sesuai dengan standarisasi handover performance yang telah ditentukan oleh pihak PT. Telkom Indonesia, Tbk (Divisi Telkom Flexi RO Semarang).

Pengukuran Kanal E1 Pada Link A3/A7 Menggunakan BER TEST

Bert atau bit rate tes kesalahan adalah metode pengujian untuk sirkuit komunikasi digital yang

menggunakan pola stres bert yang telah ditentukan terdiri dari urutan yang logis dan nol yang dihasilkan oleh pseudorandom biner sequencer. Sebuah bert biasanya terdiri dari generator pola uji dan penerima yang dapat diatur dengan pola yang sama. Bert dapat digunakan dengan cara ganda yaitu menghubungkan di kedua ujung link transmisi, atau tunggal dengan menghubungkan salah satu ujungnya dengan loopback pada akhir remote. Dalam penggunaan jika terdapat jumlah kesalahan kemudian akan dihitung dan disajikan dengan perbandingan seperti 1 dalam 1.000.000, atau 1 di 1e06.

(7)

Analisa Performance Link (Sri Heranurweni, Agus Budiarto)

660

Gambar 5. menunjukkan BER Tester yang digunakan dan spesifikasi dari BER Tester yang digunakan dalam kegiatan pengukuran untuk memperoleh data yang dibutuhkan yang berkaitan dengan link status operation pada setiap kabel E1 yang digunakan pada kanal link A3/A7 sehingga mempermudah dalam proses analaisa dan pembahasan. Proses pengukuran menggunakan pola stres bert dengan sistem Pseudo Random Biner Sequencer (PRBS) dimana pola urutan ini digunakan untuk mengukur laju kecepatan TX-Data sehingga diperoleh beberapa hasil pengukuran yang menunjukkan link status dari sebuah trnasmisi yang menggunakan media berupa kabel E1, optik data link dan listrik.

Gambar 5. Bit Error Rate (BER) Tester SunSet E20c dan Spesifikasi BER Tester SunSet E20c

Pengukuran dilakukan secara manual menggunakan BER Tester dengan cara mengukur

operational status dari setiap alokasi E1 yang digunakan pada kanal link A3/A7.

Pengukuran yang dilakukan dalam rangka memperoleh beberapa data pendukung yang berkaitan dengan kinerja pada setiap alokasi E1 yang berfungsi sebagai pendukung kanal link A3/A7 dalam proses Inter-BS Soft Handover. Dari data hasil pengukuran yang diperoleh terdapat beberapa parameter yang harus diperhatikan karena parameter tersebut menentukan

performance dari setiap kanal link A3/A7, dimana parameter dalam pengukuran menggunakan

BER Tester tersebut meliputi link status, internal clock, error injection, level measurement dan

(8)

Techno Science Vol.5 No.1 Mei 2011

661

MULAI KESIMPULAN PENELITIAN: A. PENGUMPULAN DATA B. INTERVIEW / WAWANCARA

PENELUSURAN DATA SOFT HANDOVER DENGAN LMT: A. BSC YANG MENGALAMI HANDOVER

B. ALOKASI KANAL E1 PADA LINK A3/A7

HASIL PENGUKURAN BER TEST DAN DAILY REPORT SOFTWARE M2000: A. TABELKAN DATA B. GRAFIKAN DATA

PENGUKURAN STATUS KANAL E1 PADA LINK A3/A7 DENGAN BER TEST

PENGAMBILAN DATA CHECKLIST SOFT HANDOVER PERFORMANCE MELALUI DAILY REPORTING M2000

PROSES ANALISIS DATA: A. SUCCESS RATIO DAN FAILURES RATIO SOFT HANDOVER

B. NILAI RATA-RATA SOFT HANDOVER PER HARI VALIDASI DATA HANDOVER PERFORMANCE OK (NO ERROR)

NOT OK (ERROR DET)

YA TIDAK

Gambar 6. Flowchart Alur Penelitian Soft Handover Performance

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Soft Handover Performance Pada Link A3/A7 Data Alokasi E1 Pada Link A3/A7

Dari penelitian yang telah dilakukan di PT. Telkom Indonesia, Tbk (Divisi Telkom Flexi RO Semarang), diperoleh data mengenai jumlah dan alokasi E1 yang digunakan pada kanal link A3/A7, dimana total keseluruhan ada 60 E1 yang digunakan untuk link A3/A7 dengan penjabaran data hasil penelitiannya adalah sebagai berikut :

(9)

Analisa Performance Link (Sri Heranurweni, Agus Budiarto)

662

Tabel 2. Alokasi E1 Untuk Link A3/A7 Pada BSC 1 (Total = 16 E1)

Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa alokasi E1 yang digunakan pada link A3/A7 diBSC 1 total keseluruhan ada 16 E1 aktif yang terhubung ke BSC 2, BSC 3 dan BSC 5 akan tetapi terdapat 1 kanal E1 error di subrack 2 slot 0 port 18 sehingga erformance handover dari BSC 1 ke BSC 5 kurang optimal.

Dari tabel 3. menunjukkan bahwa alokasi E1 yang digunakan pada link A3/A7 di BSC 5 total keseluruhan ada 12 E1 aktif yang terhubung ke BSC 1, BSC 2 dan BSC 3, akan tetapi terdapat 2 kanal E1 error masing- masing di subrack 2 slot 0 port 2 dan port 9 sehingga performance

handover dari BSC 5 ke BSC 1 dan dari BSC 5 ke BSC 5 kurang optimal.

Tabel 3. Alokasi E1 Untuk Link A3/A7 Pada BSC 5 (Total = 12 E1)

Data yang diperoleh mengenai alokasi dan jumlah E1 yang digunakan kemudian dilakukan penelitian berupa pengecekan status dari E1 yang berkaitan dengan performance dari link A3/A7 dalam mendukung proses handover antar Base Station Controller (BSC).

Pengukuran dilakukan secara otomatis melalui LMT dengan cara memasukkan data berupa alokasi E1 yang digunakan untuk link A3/A7 pada setiap BSC dalam rangka memperoleh data checklist tentang status kelayakan E1 yang digunakan dalam kondisi good (baik) atau error (rusak).

Tabel 4 menunjukkan bahwa alokasi E1 yang digunakan pada link A3/A7 di BSC 1 total keseluruhan ada 16 E1 aktif yang terhubung ke BSC 2, BSC 3 dan BSC 5, akan tetapi terdapat 1 kanal E1 dengan link status LFA;RRA;AIS;LMFA dengan keterangan out of frame yang ditunjukkan pada hasil pengukuran BER TEST melalui Local Maintenance Terminal (LMT) dengan nilai 2.79e+000 di subrack 2 slot 0 port 18 sehingga performance handover dari BSC 1 ke BSC 5 kurang optimal karena kemungkinan akan terjadi link A3/A7 setup failed ketika proses

(10)

Techno Science Vol.5 No.1 Mei 2011

663

Tabel 4. Pengukuran Link A3/A7 Pada BSC 1 Melalui LMT Huawei

Analisa Total Success Ratio dan Failures Ratio Performance Handover Semua BSC (Base Station Controller)

Nilai rata-rata success yang dialami setiap harinya pada Soft Handover sebesar 98,75532 %. Sedangkan nilai rata-rata kegagalan (fail) yang dialami setiap harinya sebesar 1,24468 %. Sesuai dengan standar yang telah ditentukan oleh pihak PT. Telkom Indonesia, Tbk (Divisi Telkom Flexi RO Semarang) maka, untuk Soft Handover dikatakan memenuhi standar apabila tingkat success Soft Handover > 90 % dan tingkat failures Soft Handover < 10%. Apabila tingkat success Soft Handover < 90 % dan tingkat failures Soft Handover > 10% maka perlu dilakukan pengamatan dan pengkajian terhadap proses Soft Handover yang terjadi.

Gambar 7. Grafik Hubungan Perbandingan Total Jumlah Inter-BS Soft HO Succes Ratio dan

Inter-BS Soft HO Failures Ratio Pada Setiap BSC

Berdasarkan Gambar 7 diatas menunjukkan kondisi handover performance all BSC per day berupa korelasi hubungan antara tingkat success ratio dengan failures ratio yang berbanding terbalik dimana semakin tinggi tingkat keberhasilan atau success ratio maka akan menyebabkan semakin rendah tingkat kegagalan atau failures ratio yang ditunjukkan melalui nilai rata-rata keberhasilan yang dialami setiap harinya sebesar 98,75532 % (dibulatkan 99%), sedangkan nilai rata-rata kegagalan yang dialami setiap harinya sebesar 1,24468 % (dibulatkan 1%) dimana jika kedua parameter nilai tersebut dijumlahkan hasilnya adalah 100% dengan demikian sesuai dengan presentase total handover performance per hari dari seluruh BSC. Secara teknis faktor yang mempengaruhi handover performance antara lain kondisi fisik link A3/A7 tidak boleh rusak serta kecepatan laju data pada link A3/A7 tersebut harus stabil yaitu pada 2.048 Mbps.

(11)

Analisa Performance Link (Sri Heranurweni, Agus Budiarto)

664

4. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang soft handover performance untuk Inter-BS Soft Handoff pada seluruh Base Station Controller (BSC) dalam area lingkup Mobile Switching Controller (MSC) Simpang Lima yang telah dilakukan di PT. Telkom Indonesia, Tbk (Divisi Telkom Flexi RO Semarang) dengan rentang waktu sejak tanggal 1 Desember 2010 sampai dengan 15 Desember 2010 dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut:

1. Untuk memperbaiki quality of service (QoS) dalam soft handover performance sangat ditentukan oleh infrastruktur dari status kanal E1 yang digunakan untuk link A3/A7, hali ini dapat dibuktikan dengan hasil reporting yang menunjukkan BSC 4 memiliki Inter-BS Soft Handoff Success Ratio yang lebih baik daripada BSC lainnya yaitu sebesar 1486.323 % dengan rata-rata success ratio per hari sebesar 99.0882 % selain itu faktor penyebab lainnya karena alokasi 4 kanal E1 untuk link A3/A7 di BSC 4 secara pengukuran menggunakan BER TEST dinyatakan bagus / no error.

2. Hasil perhitungan dalam penelitian berdasarkan data reporting yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat Inter-BS Soft Handoff Failures Ratio tertinggi atau dengan kata lain paling buruk bila dibandingkan dengan BSC lainnya yaitu ada pada BSC 2 dengan prosentase sebesar 30.264% dimana rata-rata failures ratio per hari sebesar 2.0176 %, hal ini disebabkan beberapa status kanal E1 untuk link A3/A7 di BSC 2 bermasalah / error detection berdasarkan hasil pengukuran dengan BER TEST.

3. Hasil perhitungan dalam penelitian berdasarkan data reporting yang diperoleh menunjukkan bahwa Nilai Rata-Rata Total Inter-BS Soft Handoff Success Ratio dari semua BSC adalah sebesar 98.75532 % per hari sedangkan untuk Nilai Rata-Rata Total Inter-BS Soft Handoff Failures Ratio dari semua BSC adalah sebesar 1.24468% per hari, dengan demikian soft handover performance masih dalam standarisasi yang diharapkan pihak PT. Telkom Indonesia, Tbk (Divisi Telkom Flexi RO Semarang) karena tingkat success Soft Handover > 90 % dan tingkat failures Soft Handover < 10%.

DAFTAR PUSTAKA

[1]. McLoughlin; Desember 2001; CDMAone and CDMA2000; www.Nationwidewireless.net [2]. Mehrotra, Asha; 1996; Celluler Radio; Artech House; Boston-London

[3]. Parry, Richard; Juli 2004; CDMA 2000 1x EV-DO, http://www.IEEE.com

[4]. Prasad, Ramjee; 1996; CDMA for Wireless Personal Communications; Artech House; Boston-London

[5]. Rappaport Theodore; 1999;. Wireless Communication; New Jersey: Prentice-Hall,Inc. [6]. Roger L. Freeman.; 1998; Telecommunication Transmission Handbook; Fourth Edition;

Canada; John Wiley & Son,Inc.

[7]. Santoso, Gatot;2004; Sistem Selular CDMA; Graha Ilmu; Yogyakarta

[8]. William C. Y. Lee; 1995; Mobile Cellular Telecommunications; Second Edition; McGraw-Hill, Inc; New York: .

Figur

Memperbarui...

Related subjects :