• Tidak ada hasil yang ditemukan

Traktor Tangan TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Traktor Tangan TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Traktor Tangan

Traktor tangan atau dikenal juga dengan nama traktor roda dua sudah lama dikenal oleh petani di Indonesia, serta semakin banyak digunakan khususnya dalam pengolahan tanah oleh para petani sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas, yang terlihat dengan semakin bertambahnya jumlah traktor tangan di lapangan. Data terakhir diketahui bahwa populasi traktor tangan di Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 97,033 unit (BPS 2000). Walaupun masih banyak keluhan yang disampaikan oleh petani dalam penggunaan traktor tangan di lapangan, baik dari segi biaya investasi yang masih sangat mahal bagi ukuran petani di Indonesia maupun dari segi teknis seperti dimensi traktor tangan yang terlalu besar dibandingkan dengan ukuran tubuh para petani serta sulit dan beratnya beban dalam mengoperasikan traktor tangan jika dibandingkan dengan menggunakan tenaga hewan (Akbar et al. 2003), penggunaan traktor tangan tidak dapat dihindari terlihat dengan semakin banyaknya populasi traktor tangan di lapangan.

Walaupun produktivitas traktor tangan masih lebih kecil dari traktor roda empat, tetapi masih lebih tinggi produktivitasnya dibandingkan tenaga ternak atau manusia sehingga petani dapat menikmati kecepatan dan ketepatan kerja serta membuat kerja menjadi lebih ringan (Sakai 1989). Kecilnya skala usaha tani yang dilakukan oleh sebagian besar petani di Indonesia serta sempitnya petakan lahan yang dimiliki merupakan kendala tradisional dalam penggunaan traktor tangan di lapangan. Dari hasil sensus yang telah dilakukan oleh Deptan (2003) diketahui bahwa dalam kurun waktu 1983 – 1993 terjadi penurunan jumlah kepemilikan lahan oleh petani yaitu untuk luas kepemilikan di bawah 0.5 ha mengalami penurunan sebesar 2.53% sedangkan untuk luas kepemilikan di atas 0.5% terjadi penurunan sebesar 11.93%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama petakan lahan yang dimiliki oleh petani di Indonesia semakin sempit sehingga akan berpengaruh terhadap aplikasi mekanisasi pertanian (khususnya traktor tangan) di lapangan.

Pada sisi yang lain terlihat bahwa jumlah tenaga kerja pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan dan hortikultura pada kurun waktu 2000 – 2001 mengalami penurunan sebesar 6.2% menjadi 33,796,073 tenaga kerja (Deptan 2003). Hal ini akan memacu petani melakukan budidaya pertanian dengan menggunakan alat dan mesin pertanian sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas.

Dalam upaya memasyarakatkan penggunaan traktor tangan, pemerintah telah menggulirkan beberapa program diantaranya dengan program revolving yang telah dievaluasi oleh Dewi (1995) di Kabupaten Karawang. Dari hasil evaluasi tersebut diperoleh suatu kondisi bahwa perkembangan jumlah traktor tangan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pengelola jasa pengolahan tanah membayar angsuran, jumlah tenaga kerja pengolahan tanah yang tersedia, jumlah tenaga ternak, biaya pengolahan tanah dan jumlah traktor yang rusak. Disamping beberapa kondisi di atas penggunaan traktor tangan dipengaruhi juga oleh hari kerja yang tersedia untuk pengolahan tanah pada setiap musim tanam serta upah operator

(2)

yang berlaku, jika semakin mahal maka akan semakin membebani biaya operasional traktor tangan dalam pengolahan tanah (Ali et al. 2002).

Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu terapan yang menggabungkan ilmu biologi bersama dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai kecocokan atau penyesuaian (to mach) terhadap suatu produk, pekerjaan dan tempat kerja dengan orang yang menggunakan, di mana manfaatnya diukur dari efisiensi dan kesejahteraan atau kenyamanan kerja (Riyadina 2002). Faktor-faktor seperti pencahayaan, kebisingan, temperatur, kelembaban, aliran udara, posisi kerja, posisi peralatan (instrumen) dan kontrol akan mempengaruhi kesehatan, keselamatan dan kenyamanan pekerja atau operator ( Callimachos 1987). Ergonomi yang juga dikenal dengan human engineering merupakan suatu konsep penyesuaian antara mesin dengan manusia yang memfokuskan pada performance manusia, perilaku dan pelatihan dalam sistem manusia dan mesin (system ) serta desain dan pengembangan

man-machine-system (Gambar 2).

Faktor Manusia dalam

Keteknikan (ergonomi)

Gambar 2. Kontribusi human science terhadap ergonomi (Callimachos 1987)

Faktor manusia merupakan hal yang penting dalam menentukan kualitas dan keselamatan kerja. Suatu alat atau mesin dapat dikatakan berkualitas tinggi jika nyaman digunakan, yang berarti memiliki kesesuaian antara alat dan manusia dalam work space (aspek anthropometri), mudah digunakan yang berarti tidak memberatkan pemakai (aspek biomekanik), mudah dioperasikan dan ramah terhadap pemakai (user friendly).

Pertimbangan ergonomi yang berkaitan dengan getaran mesin, kebisingan, efek gas buang, beban traktor terhadap operator dan bentuk rancangan menjadi hal penting dalam pemillihan suatu tipe traktor tangan. Secara empirik terlihat di lapangan bahwa beberapa kasus yang berkaitan dengan gangguan fisik pernah terjadi terhadap penggunaan traktor tangan (operator) seperti adanya gangguan

Psikologi

Keteknikan Lingkungan I lmu Kedokteran Fisiologi T erapan Anthropometri Anatomi Sosiologi T oksiologi Riset Operasi Desain I ndustri Keteknikan

(3)

pada persendian (pinggang dan tangan), pusing-pusing dan rasa mual serta gangguan pada telinga / mendenging (Kastaman 1999).

Anthropometri

Aplikasi ergonomi untuk peningkatan kesehatan, keselamatan dan produktivitas kerja diperoleh melalui kualitas alat atau mesin yang baik. Salah satu pendekatan diperoleh melalui adaptasi mesin, peralatan dan tempat kerja terhadap manusia (operator) berdasarkan ukuran anthropometri pekerja (Suma’mur 1987).

Anthropometri adalah salah satu bidang dalam ergonomi yang menyangkut masalah pengukuran statis manusia yang digunakan untuk optimasi dimensi berbagai macam peralatan yang digunakan oleh manusia. Pengetahuan mengenahi dimensi tubuh sangat penting dalam mendesain peralatan, mesin dan tempat kerja serta rangkaian kerja fisik dengan kenyamanan dan efektifitas kerja (Saha 1987). Oleh Nurmianto (1992) anthropometri didefinisikan sebagai kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia dalam segi ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.

Penerapan data anthropometri dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan SD (standar deviasi) dari suatu distribusi normal, sedangkan percentil adalah suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Dalam anthropometri, 95 percentil menunjukkan tubuh berukuran besar, sedangkan 5 percentil menunjukkan tubuh berukuran kecil. Untuk meng-akomodasi 95% ukuran dimensi dari suatu populasi maka rentang percentil 2.5 dan percentil 97.5 adalah batas yang dapat dipakai (Nurmianto 1992). Untuk kesesuaian desain alat dan mesin pertanian biasanya menggunakan nilai percentil 50 atau nilai rata-rata (Fatah 1991; Nurul 1992; Kastaman 1999; Nasir 2001).

Dalam pengukuran, data anthropometri traktor tangan akan digunakan untuk mengetahui dan menentukan posisi optimum lebar dan tinggi stang kemudi terhadap operator (Fatah 1991; Kastaman 1999; Nasir 2001). Dengan bantuan data anthropometri dapat dirancang area kerja optimum pada posisi tubuh yang baik yang dapat memberikan pengaruh terhadap penurunan beban kerja serta dapat meningkatkan kemampuan kerja atau produktivitas (Zander 1972). Dalam aplikasinya data anthropometri dibuat dalam bentuk gambar atau pola untuk menunjukkan area kerja optimum. Oleh Zander (1972) dan Cormick (1976) area kerja yang ergonomis dibagi menjadi dua yaitu :

1. Area kerja optimum (normal area) yaitu area kerja yang dapat dijangkau dengan tepat oleh lengan bawah di mana lengan atas tetap pada posisi menggantung alami (posisi rileks).

2. Area kerja maksimum yaitu area kerja yang dapat dijangkau dengan memanjangkan lengan tanpa melakukan perpindahan tempat (posisi tubuh tetap alami).

(4)

Faktor fisik yang berpengaruh terhadap beban kerja adalah kebisingan yang diterima oleh

pekerja (operator). Kebisingan adalah bunyi-bunyi yang tidak dikehendaki yang didengar sebagai rangsangan pada telinga atau getaran-getaran melalui media yang elastis. Bunyi dikatakan sebagai bising jika memenuhi kriteria mengganggu pembicaraan, membahayakan pendengaran dan mengurangi efisiensi kerja.

Ada dua hal yang menentukan kualitas bunyi yaitu frekuensi dan intensitas bunyi (Sanders and Cormick 1987). Frekuensi didefinisikan sebagai jumlah siklus perdetik yang dinotasikan sebagai hertz (Hz). Secara umum pendengaran manusia sensitif pada frekuensi antara 20 – 20000 Hz. Sedangkan intensitas suara didefinisikan sebagai daya fisik penyerapan bunyi, di mana kuantitasnya tergantung jarak dari kekuatan sumber bunyi yang menyebabkan getaran, semakin besar daya maka intensitas bunyi semakin tinggi. Intensitas bunyi menggunakan skala logaritma yaitu Bel (B) di mana 1dB = 0.1B, yang dapat diukur dengan menggunakan alat sound level meter. Standar tingkat kebisingan yang diperbolehkan oleh lembaga OSHA (Occupational Safety and Health Andministration) ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Standar tingkat kebisingan berdasarkan OSHA

Intensitas (dB) Waktu yang diperbolehkan (Jam)

80 85 90 95 100 105 115 32 16 8 4 2 1 0.5

Sumber : Sanders and Cormick (1987)

Kebisingan pada tingkat tertentu bisa menimbulkan ganguan pada fungsi pendengaran manusia, resiko terbesar adalah hilangnya pendengaran (hearing loss) secara permanen. Secara umum tingkat kebisingan dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1. Dampak auditorial, yaitu dampak atau pengaruh yang berhubungan dengan fungsi pendengaran seperti hilangnya atau berkurangnya fungsi pendengaran.

2. Dampak non auditorial, yaitu pengaruh yang bersifat psikologis seperti ganguan cara berkomunikasi, timbulnya stress dan berkurangnya kepekaan terhadap masalah keselamatan kerja.

Beberapa tingkat kebisingan dari berbagai sumber suara dapat dijadikan acuan dalam menilai tingkat keamanan kerja, misalnya ; percakapan biasa (45-60 dB), suara anak ayam di peternakan (105 dB), gergaji mesin (110 – 115 dB), musik rock atau metal (115 dB), sirine ambulan (120 dB), pesawat terbang jet (140 dB). Lingkungan dengan tingkat kebisingan lebih besar dari 140 dB atau kondisi kerja yang mengakibatkan pekerja harus menghadapi kebisingan lebih besar dari 85 dB selama lebih dari 8 jam tergolong sebagai high level of noise related risks.

(5)

Dalam menghitung waktu maksimum yang diperbolehkan bagi pekerja untuk berada pada tempat kerja dengan tingkat kebisingan yang dianggap tidak aman dapat menggunakan beberapa formula yaitu :

1. Formula NIOSH (National Institute of Occupational Safety and Health). (L 85)/3

2

8

=

Waktu(jam)

... (1) 2. Formula OSHA (Occupational Safety and Health Administrations).

(L 90)/5

2

8

=

Waktu(jam)

... (2) 3. Formula DOD (The U.S. Departement of Defense standard).

(L 84)/4

2

8

=

Waktu(jam)

... (3) di mana : L = tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya

Dari kedua formula jika dibandingkan terlihat bahwa formula yang dikeluarkan oleh NIOSH dan DOD lebih ketat (ekstrim) dalam membatasi waktu bagi pekerja di daerah kerja dengan tingkat kebisingan yang dianggap berbahaya, untuk tingkat kebisingan 90 dB direkomendasikan oleh OSHA boleh bekerja selama kurang dari 8 jam sedangkan standar NIOSH dan DOD masing-masing hanya memberi toleransi sekitar 2.5 jam dan 2.8 jam. Intensitas bunyi akan semakin berkurang jika jarak sumber bising semakin jauh. Perambatan atau pengurangan tingkat bising dari sumbernya dinyatakan dengan persamaan berikut (Wilson 1989) :

θ Sumber diam

SL1 – SL2 = 20 Log (r2/r1) ...(4)

θ Sumber bergerak

SL1 – SL2 = 10 Log (r2/r1) ...(5)

di mana :

SL1 = intensitas bunyi 1 pada jarak r1 dari sumber suara SL2 = intensitas bunyi 2 pada jarak r2 dari sumber suara

Penelitian mengenai pengaruh tingkat kebisingan dari berbagai penggunaan alat kerja telah banyak dilakukan, diantaranya oleh Adinata (2003) yang mempelajari tingkat kebisingan dan getaran pada mesin pemetik teh serta Hasmanto (1983) yang menyatakan bahwa penggunaan alat penutup telinga dapat menurunkan tingkat kebisingan yang diterima pekerja rata-rata 21.1 dB. Kastaman (1999) menyatakan bahwa tingkat kebisingan traktor tangan yang digunakan oleh petani di beberapa daerah di Jawa Barat (tipe BTL 8 dan AST85L) pada kisaran putaran mesin antara 660 – 2300 rpm adalah antara 78 – 96 dB. Dengan tingkat kebisingan tersebut, disarankan penggunaan traktor tangan tidak dilakukan secara terus-menerus tetapi dilakukan dalam waktu yang pendek (2 jam sampai 4 jam).

(6)

Getaran

Getaran oleh peralatan atau mesin dapat mencapai operator atau pekerja melalui beberapa cara, diantaranya getaran yang dihantarkan ke seluruh tubuh pekerja melalui badan (bodi) mesin yang bergetar yang dikenal dengan istilah whole body vibration. Cara yang lainnya, getaran dihantarkan melalui salah satu bagian tubuh pekerja yang dalam banyak kasus adalah melalui tangan, pergelangan tangan, lengan atau melalui kaki yang dikenal dengan istilah hand vibration (Sanders and Cormick 1987).

Dampak atau pengaruh getaran terhadap operator adalah timbulnya sindroma getaran (vibration sindrome) atau lebih populer dengan istilah mati rasa pada tangan atau jari yang disebabkan oleh penurunan aliran darah ke jari-jari tangan atau tangan operator. Untuk mengurangi efek negatif akibat penggunaan peralatan yang bergetar dianjurkan agar tidak melakukan kontak dengan getaran maksimum 50% dari waktu kerja atau direkomendasikan untuk beristirahat setiap 1 – 1.5 jam dengan gemastik tangan antara 5 -10 menit ( Istigno 1971 diacu dalam Satrio 1991).

Heryanto (1988) menyatakan bahwa untuk mencegah efek yang ditimbulkan oleh getaran dianjurkan untuk melakukan tindakan pencegahan dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Pemeriksaan kesehatan awal terhadap operator.

b. Pekerja dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang cukup untuk melindungi tubuh dari suhu lingkungan serta menggunakan sarung tangan selama menggunakan alat yang bergetar.

c. Jam kerja diselingi waktu istirahat minimal sepuluh menit tiap satu jam kerja.

d. Pemeriksaan kesehatan berkala minimal setahun sekali terutama pada masalah VWF(vibration – induced white finger).

Getaran pada traktor tangan bersumber atau berasal dari motor

penggerak (engine). Satrio (1991) menjelaskan bahwa besarnya getaran pada

traktor tangan dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :

θ Getaran motor penggerak

Getaran pada motor penggerak disebabkan oleh gerakan dan gesekan pada komponen-komponen motor bakar untuk menghasilkan tenaga, getaran ini sulit untuk dihilangkan sama sekali.

θ Konstruksi komponen traktor tangan

Konstruksi traktor tangan yang terdiri dari rangka yang tidak utuh atau terpisah-pisah maka pada tiap sambungan tersebut akan mengalami pengurangan (kehilangan) energi getaran dalam bentuk friksi.

θ Ukuran komponen traktor tangan

Getaran dapat ditransmisikan dalam bentuk gaya dengan berbagai arah maupun dalam bentuk momen gaya yang dapat dipengaruhi oleh dimensi struktur yang berhubungan.

θ Bahan komponen traktor tangan

Penggunaan bahan logam akan dapat menimbulkan getaran yang lebih besar pada stang kemudi bila dibandingkan dengan penggunaan bahan yang lebih lunak (elastik) misalnya karet.

θ Keadaan dan jenis tanah

Penggunaan traktor tangan di lahan kering akan memberikan efek getaran yang lebih besar dibandingkan dengan di lahan sawah.

(7)

θ Kondisi operator

Kekuatan operator untuk meremas stang kemudi tidak sama. Hal ini berhubungan dengan pengukuran getaran di stang kemudi, semakin kencang pegangan yang dilakukan maka getaran yang terukur akan menurun.

Beban Kerja

Salah satu aspek penting dalam menentukan tingkat

kenyamanan kerja yang berpengaruh terhadap efektifitas dan efisiensi

kerja adalah menentukan beban kerja yang sesuai dengan

kemampuan fisik manusia (operator) yang melakukan pekerjaan.

Dengan beban kerja yang sesuai dengan kemampuan kerja maka akan

terjadi kenyamanan kerja yang akhirnya berpengaruh pada kualitas

pekerjaan dan juga kesehatan pekerja. Hubungan tingkat kerja

dengan kebutuhan energi dan denyut jantung oleh Sanders dan

Cormick (1987) yang ditampilkan dalam Tabel 4 di bawah ini.

Tabel 4. Hubungan tingkat kerja fisik dengan denyut jantung

Tingkat Kerja Kebutuhan Energi

(kkal/menit)

Denyut Jantung

Per Menit

Istirahat

Sangat ringan

Ringan

Sedang

Berat

Sangat berat

Luar biasa

berat

1.5

1.6 – 2.5

2.5 – 5.0

5.0 – 7.5

7.5 – 10.0

10.0 – 12.5

> 12.5

60 – 70

65 – 75

75 – 100

100 – 125

125 – 150

150 – 180

> 180

Sumber : Sanders and Cormick (1987)

Aktifitas fisik dan faktor lingkungan merupakan sumber

ketegangan fisiologis bagi pekerja yang sangat mempengaruhi

kebutuhan energi. Pengeluaran energi dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu pengeluaran tenaga total tubuh atau lebih dikenal dengan laju

metabolisme dan pengeluaran tenaga mekanis yang merupakan tenaga

yang dihasilkan oleh otot dalam melakukan kerja fisik (Sanders and

Cormick 1987). Semakin berat suatu beban kerja yang diterima maka

semakin tinggi energi yang dibutuhkan, sehingga akan mengakibatkan

pernafasan semakin cepat dalam rangka memenuhi kebutuhan

oksigen yang semakin meningkat.

(8)

Laju metabolisme berhubungan langsung dengan tenaga yang

dikeluarkan sehingga besarnya tenaga yang dikeluarkan dapat

dihitung dengan dasar prinsip metabolisme. Laju metabolisme dapat

dihitung berdasarkan parameter konsumsi oksigen pernafasan,

jumlah CO2 pernafasan, denyut jantung, dan suhu tubuh. Cormick

(1976) menyatakan bahwa beban kerja fisik yang dilakukan dapat

diukur berdasarkan tiga variabel, yaitu banyaknya konsumsi O2,

denyut jantung dan suhu tubuh.

Cara termudah untuk melakukan pengukuran beban kerja fisik

di lapangan adalah melalui pengukuran denyut jantung (Herodian

1997; Hayashi et al. 1997). Dari hasil penelitian Sribudiani (2002)

dengan menggunakan metode pengukuran denyut jantung, diperoleh

suatu kesimpulan bahwa dalam berbagai kondisi kerja yang dilakukan

oleh tenaga penyarad kayu menunjukkan bahwa denyut jantung

meningkat seiring dengan peningkatan beban kerja, serta metode

pengukuran denyut jantung cukup mudah dan tepat sehingga sangat

sesuai untuk pengukuran kegiatan di lapangan.

Denyut jantung mempunyai korelasi yang tinggi dengan

penggunaan energi (konsumsi oksigen), tetapi denyut jantung

dipengaruhi juga oleh beban psikologi (mental), sehingga penggunaan

metode pengukuran denyut jantung untuk mengetahui beban kerja

membutuhkan suatu kalibrasi. Salah satu metode yang dapat

dipergunakan untuk kalibrasi denyut jantung adalah dengan

menggunakan metode step test, yang memiliki komponen pengukuran

yang mudah, selalu tersedia di mana saja dan kapan saja (Herodian

1997).

Laju denyut jantung operator traktor tangan pada saat

pengolahan tanah sangat dipengaruhi oleh kemampuan (skill) dalam

mengoperasikan traktor. Laju denyut jantung operator yang memiliki

pengalaman kerja lebih lama akan lebih rendah dibandingkan dengan

operator yang belum berpengalaman. Pada kondisi tertentu laju

denyut jantung tidak linier dengan konsumsi oksigen, hal ini

menunjukkan bahwa pengukuran beban kerja fisik dengan

parameter laju denyut jantung juga dipengaruhi oleh beban kerja

psikis (Syuaib 2003).

Jaringan Syaraf Tiruan (Aritificial Neural Network)

Jaringan syaraf tiruan merupakan sebuah model sistem komputasi yang bekerja seperti syaraf biologis pada saat berhubungan dengan dunia luar. Jaringan syaraf tiruan terdiri dari neuron elemen

(9)

penghitung dalam jumlah banyak dan saling terhubungkan serta mempunyai kemampuan untuk merespon input atau masukan dan belajar beradaptasi dengan lingkungannya (Patterson 1996).

Proses pembelajaran atau learning dari jaringan syaraf tiruan (JST) dilakukan dengan perubahan pada tingkat hubungan antar neuron, yaitu pada faktor pembobotnya selama proses belajar di mana nilai-nilai faktor pembobot yang dihasilkan akan ditetapkan dan digunakan sebagai faktor pembobot terpakai. Secara sederhana bentuk JST oleh Patterson (1996) diilustrasikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Ilustrasi sederhana jaringan syaraf tiruan (JST)

Modifikasi dari nilai faktor pembobot dilakukan secara sistematis dengan menggunakan aturan belajar (learning rule), yang secara umum prosedur proses pembelajaran dikelompokkan menjadi lima, yaitu :

1. Pembelajaran tanpa pengawasan (unsupervised learning)

Proses pembelajaran hanya dilakukan dengan menggunakan data-data input saja, sedangkan data output dari proses yang dimodelkan tidak diketahui. Model JST berfungsi untuk menemukan pola (patterns), karakteristik (features), keteraturan (regularities) dan kategori dari domain input. Selama proses pembelajaran JST melakukan pengaturan (reorganise) secara internal, sehingga proses pembelajaran ini banyak digunakan pada permasalahan pattern recognition, klasifikasi dan cluster

analysis.

2. Pembelajaran dengan pengawasan (supervised learning)

Proses pembelajaran JST dilakukan dengan memberikan beberapa data input-output. Data-data ini dinamakan dengan data latihan (training data set), di mana modifikasi dari nilai-nilai faktor pembobot dimaksudkan agar output dari JST dapat sesuai dengan output dari datanya sehingga akan menghasilkan nilai minimum dari kesalahan (mean square error/MSE) antara output model JST dengan output data.

3. Pembelajaran dengan nilai

Proses pembelajaran ini secara prinsip sama dengan prosedur pembelajaran dengan pengawasan, tetapi dalam pembelajaran ini target pencapaian outputnya dievaluasi dengan nilai atau score untuk mengukur seberapa dekat output model dengan output pengamatan. Proses ini banyak digunakan dalam problem controlling dan optimasi di mana dijumpai kesulitan dalam memperoleh respon atau output yang tepat.

4. Pembelajaran gabungan (hybrid learning)

Proses pembelajaran ini dilakukan dengan menggabungkan proses pembelajaran tanpa pengawasan dan pembelajaran dengan pengawasan yang bertujuan untuk mempercepat proses pembelajaran.

Input hidden layer

X

1

X

2

output

Y

(10)

5. Pembalajaran Non adaptive

Pada proses ini tidak dilakukan modifikasi terhadap nilai faktor pembobot. Dengan menggunakan fungsi energi maka faktor pembobotnya tetap hanya selama proses pembelajaran modifikasi dilakukan terhadap status node-nodenya sampai diperoleh fungsi yang steady state.

Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran (pelatihan) untuk mendapatkan penyelesaian yang cepat dari JST, dilakukan dengan menggunakan algoritma backpropagation, yang efektif untuk memecahkan berbagai permasalahan diantaranya mengidentifikasi mutu buah dengan citra digital (Arham 2003), memprediksi pengaruh tinggi dan lebar kemudi traktor tangan terhadap beban kerja (Akbar & Herodian, 2004), klasifikasi data (Suprayogi 2003), peramalan dan pemecahan masalah kombinatorial seperti peramalan penjualan (sales forecasting), proses kontrol, riset pelanggan, validasi data, manajemen resiko serta target penjualan (Stergiou 1996). Selain itu, JST mampu untuk memecahkan permasalahan di mana hubungan antara masukan (input) dan keluaran (output) tidak diketahui dengan jelas (Yang et al. 1998).

Beberapa keuntungan menggunakan JST oleh Stergiou (1996) dijelaskan sebagai berikut :

θ Mempunyai kemampuan untuk mempelajari bagaimana basis data yang diberikan untuk pelatihan (adaptive learning)

θ JST dapat mengorganisasi secara mandiri dan menampilkan informasi yang diterima selama waktu pembelajaran (self organisation).

θ Toleransi kesalahan disampaikan melalui kode informasi.

Rejo et al. (2001) menyimpulkan bahwa penggunaan model jaringan syaraf tiruan untuk memprediksi tingkat ketuaan dan kematangan buah durian memberikan tingkat ketelitian hampir 100% pada 5000 iterasi, sedangkan pada 1000 iterasi hanya memberikan tingkat ketelitian 87.5%.

Gambar

Gambar 2. Kontribusi human science terhadap ergonomi (Callimachos 1987)
Tabel 3. Standar tingkat kebisingan berdasarkan OSHA
Gambar 3. Ilustrasi sederhana jaringan syaraf tiruan (JST)

Referensi

Dokumen terkait

Jaringan Komunikasi Petani dalam Adopsi Inovasi Teknologi Pertanian (Kasus Adopsi Inovasi Traktor Tangan di Desa Neglasari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Propinsi

Hasil akhir Sistem Pakar Diagnosa Kerusakan Traktor Tangan berupa 32 halaman web pasif yang berakhiran HTM atau HTML, 2 buah halaman aktif yang berakhiran ASP,

Rancangbangun dan penggunaan traktor tangan harus memperhatikan tingkat kebisingan dan getaran mekanis yang ditimbulkan untuk mendapatkan kenyamanan, kesehatan, dan

Petani pemilik traktor tangan yang ada di lokasi penelitian pasti menguntungkan apabila traktornya digunakan untuk mengolah lahan persawahan petani lain yang tidak

Upaya yang dapat dilakukan untuk men- gatasi masalah kebisingan dan getaran mekanis pada traktor tangan adalah perbaikan konstruksi, diantaranya dengan perbaikan rancangbangun

Pada praktikum Teknologi Traktor kali ini, praktikan melakukan perhitungan nilai slip pada traktor tangan, praktikum dilakukan di lapangan merah dengan kondisi tanah yang

Petani pemilik traktor tangan yang ada di lokasi penelitian pasti menguntungkan apabila traktornya digunakan untuk mengolah lahan persawahan petani lain yang tidak