• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 1 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

P U T U S A N

Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata khusus perselisihan hubungan industrial pada tingkat kasasi memutuskan sebagai berikut dalam perkara antara:

1. BUDHI WIBOWO, kewarganegaraan Indonesia, beralamat di Perum Griya Bekasi Permai Blok I 9 Nomor 3 RT. 004 RW. 011, Desa Telajung, Kecamatan Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat;

2. HERMAN SETIONO, kewarganegaraan Indonesia, beralamat di Desa Karang Banjar RT. 015/RW. 006, Kecamatan Bojong Sari, Purbalingga, Jawa Tengah;

3. SUPRIYONO, kewarganegaraan Indonesia, beralamat di Kampung Teluk Buyung RT. 003/RW. 008, Marga Mulya, Kota Bekasi;

Ketiganya memberi kuasa kepada H. Abdul Rahman, SH., Ali Yamin, SH., Slamet Bambang Waluyo, Solikin dan Amar, semuanya kewarganegaraan Indonesia, Pengurus Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPEE FSPMI), Kabupaten/Kota Bekasi dan Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastic Indonesia, beralamat di Jalan Yapink Putra Nomor 11, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi 17510, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 10 Desember 2014; Para Pemohon Kasasi dahulu Para Penggugat;

m e l a w a n

PT. KAWASHIMA ENGINEERING PLASTIC INDONESIA, tempat

kedudukan di Jalan Bali Blok T-9 Industrial Town MM2100, Cikarang Barat, Bekasi 17520, diwakili oleh Choji Kazuhiko, selaku Presiden Direktur, dalam hal ini memberi kuasa Suherman Iskandar, SH., M. Irwan Nasution, Para Advokat dan Konsultan Hukum pada Kantor Hukum SUHERMAN ISKANDAR, SH. & REKAN, beralamat kantor di Jalan Terusan Kopo Nomor 334,

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 2 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

Margahayu, Kabupaten Bandung, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 25 Agustus 2015;

Termohon Kasasi dahulu Tergugat; Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Para Pemohon Kasasi dahulu sebagai Para Penggugat telah mengajukan gugatan terhadap Termohon Kasasi dahulu sebagai Tergugat di depan persidangan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Bandung, pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa PT. KAWASHIMA ENGINEERING PLASTIC INDONESIA adalah Perusahaan PMA dari Negara Jepang yang bergerak dibidang Plastik Injection Molding;

2. Bahwa pada Perusahaan Tergugat telah didirikan Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang telah disahkan pada tanggal 18 Juni 2007 sesuai dengan Surat Tanda Bukti Pencatatan dengan Nomor 680/CTT.250/VI/2007 yang dikeluarkan oleh Instansi Pemerintah Pada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi yang telah diberinama Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federari Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT.KAWASHIMA ENGINEERING PLASTIC INDONESIA (KEPI), (Bukti P-1);

3. Bahwa Para Penggugat adalah Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. KAWASHIMA ENGINEERING PLASTIC INDONESIA (KEPI), sebagai:

 Sdr. Budhi Wibowo, KETUA PUK SPEE FSPMI PT. KEPI;

 Sdr. Herman Setiono Wakil ketua II (bid advokasi) PUK SPEE FSPMI PT. KEPI;

 Sdr. Supriyono Wakil Sekretaris II (bid advokasi). PUK SPEE FSPMI PT. KEPI (Bukti P-2);

4. Bahwa Para Penggugat adalah Karyawan Pada Perusahaan Tergugat dengan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) diperusahaan Tergugat. yang mana lamanya masa hubungan kerja diantara Para Penggugat bervariasi, sesuai dengan Perjanjian Kerja yang dibuat tersendiri antara Para Penggugat dengan Tergugat sebagaimana rincian sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 3 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

 Sdr, Budhi Wibowo, mulai masuk bekerja 15 Desember 2002;  Sdr, Herman Setiono, mulai masuk bekerja 1 Januari 2007;  Sdr, Supriyono, mulai masuk bekerja 5 Agustus 2004 (Bukti P-3); 5. Bahwa Para Penggugat walaupun sebagai Pengurus Serikat Pekerja tetapi

Para Penggugat juga dalam melakukan pekerjanya menunjukan loyalitas tinggi terhadap Perusahaan Tergugat, terbukti bahwa Para Penggugat mendapatkan Piagam Prestasi kerja yang dikeluarkan oleh Tergugat (Bukti P-4);

6. Bahwa Para Penggugat adalah kepala keluarga yang mempunyai kewajiban untuk menghidupi 1 (satu) orang isteri dan (satu) 1 anak yang masih memerlukan biaya untuk masa depannya;

7. Bahwa selain mempunyai tanggungan biaya hidup keluarganya (isteri dan anaknya) Para Penggugat juga mempunyai tanggungan hutang sebesar Rp49.000.000,00 (empat puluh sembilan juta Rupiah) yang dicicil setiap bulannya sebesar Rp700.000,00 (tujuh ratus ribu Rupiah).;

8. Bahwa awalnya permasalahan ini terjadi pada tanggal 14 Februari 2013 antara pihak Tergugat dalam hal ini Mr. SHIN KAWASHIMA selaku Presiden Direktur (selaku pihak pertama) dengan Para Penggugat sebagai Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) (selaku pihak Kedua) telah menandatangani Perjanjian Bersama (PB) tentang Perubahan Struktur Skala Upah yang mana sudah dilakukan Perundingan Bipartit sebelumnya; Kutipan isi Perjanjian Bersama (PB) sebagai berikut:

(1) Para pihak sepakat menjalani UMKS tahun 2014 sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 561/Kep.1540-Bangsos/2012 tentang Upah Minimum Kabupaten Bekasi;

(2) Selisih UMSK tahun 2012 terhadap tahun 2013 sebesar Rp587.300.00 (27,58%) dibayarkan mulai pengajian bulan Januari 2013, mulai level 103-20 ke dalam base salary dan ditambahkan dengan angka perundingan antara Para Pihak, upah untuk base salary sebesar Rp11.370.000,00 (2.92%)……!

(3) Untuk perubahan skala upah tahun 2013 dibahas tiap bulan ditahun 2013 dan diberlakukan mulai 1 Januari 2013 (Bukti P-5);

9. Bahwa pada tanggal 18 Maret 2013 Para Penggugat selaku Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE se FSPMI) PT. Kawashima

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 4 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

Engineering Plastik Indonesia (KEPI) menyampaikan surat pemberitahuan kepada Dinas Tenagakerja Kabupaten Bekasi terkait pemberitahuan hasil kesepakatan perundingan UMSK 2013, yang telah dibuatkan Perjanjian Besama (PB) tertanggal 14 Februari 2013 (Bukti P-6);

10. Bahwa pada tanggal 20 Maret 2013 diadakan meeting bulanan/Bipartit antara Para Penggugat sebagai Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) dengan Tergugat Mr. SHIN KAWASHIMA selaku Presiden Direktur dan Bpk. Suranta selaku HRD Manager, yang dalam kesepakatannya Tergugat pada poin 4 “Sepakat untuk September 2013 selesai dan ada kesepakatan struktur skala upah tahun 2014”;

11. Bahwa pada tanggal 04 Maret 2014 diadakan bipartit antara Tergugat dengan Para Penggugat tentang skala Upah 2014 yang ke II (dua), namun dalam perundingan bipartit ini Tergugat, terkait struktur dan skala upah 2014 pihak Tergugat hanya mau menggunakan Struktur skala upah pada tahun 2013. Sehingga perundingan Bipartit tidak ada kesepakatan (Bukti P-7);

12. Bahwa pada tanggal 27 Maret 2014 perundingan bipartit antara Tergugat dengan Para Penggugat tentang skala Upah 2014 yang ke III (tiga), namun tidak ada kesepakatan;

Tentang pendapat para pihak dalam Risalah Bipartit:  Tergugat:

(1) Untuk UMSK tahun 2014 kelompok II digunakan sebagai acuan perhitungan struktur skala upah tahun 2014 termasuk juga dengan penilaian masa kerja (sundulan);

(2) Budget sebesar Rp76.019.590,00 Struktur skala upah berlaku untuk Pekerja PKWTT (saja) baik level operator sampai sampai level Asisten Manager;

 Para Penggugat :

(1) Budget dimintakan sebesar Rp686.753.128,00

Alasan karenanya sudah dihitung secara rinci perkaryawan (PKWTT). Jadi budget yang diberikan oleh Tergugat tidak mencukupi apalagi masuk perhitungan Asisten Manager (Bukti P-8);

13. Bahwa pada tanggal 03 April 2014 diadakan Perundingan Bipartit tentang Skala Upah 2014 yang ke IV (empat), antara Para Penggugat dengan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 5 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

Tergugat, namun tidak ada kesepakatan tentang Kriteria dan Budget Penilaian Karyawan PKWTT. Kesimpulannya Para Pihak sepakat dengan pilihan cara loby pada tanggal 23 April 2014, maka sesuai dengan Tata Tertib Perundingan Bipartit skala upahan 2014 Pasal 7 Tata Cara Perundingan ayat (8) yang berbunyi:

“Kedua belah pihak sepakat untuk memperluas alternatif pilihan, menguraikan manfaat untuk kedua belah pihak, membuka pintu dialog karena pada dasarnya tidak ada perundingan yang gagal akan tetapi keputusan yang tertunda” (Bukti P-9);

14. Bahwa pada tanggal 23 April 2014 telah dilakukan alternatif/loby-loby yang I (pertama) oleh Para Penggugat dengan kesimpulan:

(1) Bahwa para pihak belum ada titik temu/tidak ada kesepakatan;

(2) Bahwa Para Pihak sepakat untuk melakukan musyawarah/loby kembali tiga 3 minggu kedepan (Bukti P-10);

15. Bahwa pada tanggal 16 Mei 2014, diadakan loby yang ke II (dua) oleh Para Penggugat namun tidak ada kesepakatan terkait perundingan Upah 2014. Karena Tergugat tidak mau merinci budget kenaikan skala upah, sedangkan Para Penggugat memberikan rincian budget kenaikan upah di hitung terhadap semua Pekerja dari level operator sampai Manager, sehingga pertemuan tidak ada kesepakatan (Bukti P-11);

16. Bahwa pada tanggal 03 Juni 2014 diadakan meeting lobby yang ke III (tiga) oleh Para Pihak, namun tidak ada kesepakatan. Karena Tergugat tetap tidak mau menjalani apa yang dituangkan dalam perjanjian bersama tanggal 14 Februari 2013 dan tanggal 20 Maret 2013. Karena dapat disimpulkan selisih Budget antara pendapat Para Penggugat dan Tergugat Rp117.226.640,00, sehingga pertemuan tidak ada kesepakatan dan Tergugat tidak mau lagi ada perundingan bipartit (Bukti P-12);

17. Bahwa atas gagalnya perundingan/bipartite dan tidak dijalankannya Perjanjian Bersama (PB) tanggal 14 Februari 2013 dan tanggal 20 Maret 2013 yang dilakukan oleh kedua belah pihak, berdasarkan Pasal 137 dan Pasal 138 Undang-Undang nomor 13 Tahun 2003 jo Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 012/PUU-I/2003 tentang Hak Mogok. Para Penggugat pada tanggal 03 Juni 2014 mengajukan surat pemberitahuan mogok kerja kepada Pihak Tergugat dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi serta instansi terkait lainnya. dengan pelaksanaanya dari tanggal 16 Juni 2014 sampai dengan tanggal 30 Juni 2014 (Bukti P-13);

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 6 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

18. Bahwa saat pelaksanaan mogok kerja pada tanggal 16 Juni 2014, yang ditengahi oleh Pihak, yang di mediatori oleh Ibu A. Dewi Kora, SE. pihak Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi dengan menyarankan untuk Bipartit pada tanggal 17 Juni 2014, Para Penggugat menyepakatinya;

19. Bahwa atas saran Pihak Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi untuk melakukan bipartit pada tanggal 17 Juni 2014 Para Penggugat mendatangi Tergugat untuk melakukan Bipartit, namun Pihak Tergugat tetap tidak mau melakukan Bipartit malah mengancam Para Pengugat dan semua Pengurus Serikat Pekerja (PUK SPEE FSPMI) PT. KEPI berserta anggota akan di Putus Hubungan Kerja (PHK)-nya;

20. Bahwa atas tidak ditanggapi oleh Tergugat pada tanggal 17 Juni 2014, Para Penggugat melanjutkan aksi mogok kerja pada tanggal 18 Juni 2014, sesuai dengan Surat tanggal 03 Juni 2014;

21. Bahwa saat pelaksanaan Mogok Kerja pada tanggal 19 Juni 2014 Pihak Tergugat mengajak berunding Bipartit. Dari bipartit yang dituangkan di Risalah Kesepakatan Perundingan upah tahun 2014 tersebut didapatkan kesepakatan Budget 17.10% x Rp515.086.329,00 = Rp88.079.762,00 Perjanjian dihadiri oleh Budhi Wibowo sebagai ketua serikat pekerja dan pengurus, serta Pihak Tergugat yang dihadiri oleh Mr. Azuhiko Choji, Bpk. Suranta, Bpk. Anang dan Bpk. Subekti (Bukti P-14);

22. Bahwa atas kesepakatan risalah perundingan bipartit tanggal 19 Juni 2014 Pihak Tergugat dan Para Penggugat menuangkan risalah tersebut dengan sepakat membuat Perjanjian Bersama (PB);

Kutipan isi Perjanjian Bersama (PB) sebagai berikut:

(Pembayaran untuk Adjustment Base Salary + Assesment + Tunjangan Jabatan (sub Leader, Leader dan Spv) dibayarkan pada penggajian bulan Juni 2014 selambat-lambatnya penggajian bulan Juli 2014) (Bukti P-15); 23. Bahwa pada tanggal 25 Juni 2014 tanpa ada pembicaraan/biaprtit terlebih

dahulu dan surat yang di layangkan oleh Tergugat kepada Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI), Semua Pengurus Serikat Pekerja PT. KEPI . dipanggil kebagian HRD/Personalia. Para Penggugat langsung diberikan surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 4 (empat) orang karyawan, dengan rincian: 3 (tiga) orang Pengurus Serikat Pekerja (Para Penggugat) dan 1 (satu) orang anggota PKWT nama-namanya adalah:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 7 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

1) Budhi Wibowo Jabatan sebagai Ketua Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI);

2) Herman Setiono jabatan sebagai Wakil Ketua bidang II ( Advokasi ) Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI);

3) Supriono jabatan sebagai Wakil Sekretaris bidang II ( Advokasi ) Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI);

4) Anggi Rishadi jabatan Operator produksi (Bukti P-16);

24. Bahwa atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 3 (tiga) orang Pengurus Serikat Pekerja (Para Penggugat) dan 1 (satu) orang anggota, Pengurus Serikat Pekerja mempertanyakan kesalahan Para Penggugat kepada Tergugat, tetapi Tergugat menanggapai secara lisan bahwa Mogok Kerja yang dilakukan oleh Serikat Pekerja pada tanggal 16 Juni 2014 adalah illegal/tidak sah dan pada tanggal 17 Juni 2014 pun Tergugat sudah menyampaikan secara lisan (sesuai dalil posita anggka 19 diatas) dan Tergugat tidak mau melakukan Bipartit tentang masalah PHK ini;

25. Bahwa terkait juga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap Para Penggugat pada tanggal 25 Juni 2014 Para Penggugat diberikan surat skorsing dan pelarangan masuk bekerja diarea Perusahaan Tergugat dengan Nomor HRD/INT-LTR-0004/KEPI. melalui Security/bagian keamanan PT. KEPI yang menerangkan bahwa Para Penggugat terhitung dari tanggal 26 Juni 2014 tidak diperbolehkan lagi masuk ke dalam area PT. Kawashima Engineering Plastics Indonesia dengan alasan apapun sampai dengan adanya keputusan dari Pengadilan Hubungan Industrial (Bukti P-17);

26. Bahwa atas tindakan Tergugat yang Memutus Hubungan Kerja (PHK) terhadap 3 (tiga) orang pengurus dan 1 (satu) orang anggota serikat pekerja tanpa melalui perundingan bipartit hal tesebut telah bertentangan dengan ketentuan Pasal 151 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yang berbunyi:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 8 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

1) Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja;

2) Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh;

3) Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benar-benar tidak menghasilkan persetu-juan, pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial;

27. Bahwa pada tanggal 26 Juni 2014, Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) mengirimkan surat penolakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan memintakan Perundingan Bipartit terhadap 3 (tiga) orang Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) dan 1 (satu) orang Operator PKWT, dengan Surat Nomor 051/PUK-SPEE/FSPMI-KEPI/VI/2014 (Bukti P-18);

28. Bahwa pada tanggal 26 Juni 2014 dilakukan perundingan Bipartit antara Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT.Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) yang tidak ter-PHK dan pihak Tergugat, namun tidak ada kesepakatan/dead lock (Bukti P-19);

29. Bahwa dari tanggal 27 Juni 2014 s/d 30 Juni 2014 Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) melakukan upaya loby terhadap Tergugat. Tapi itikad baik dari Pengurs Serikat Pekerja malah diancam oleh Tergugat dengan mem-PHK seluruh Pengurus Serikat Pekerja beserta anggotanya;

30. Bahwa pada tanggal 30 Juni 2014 Jam 15:15 WIB Tergugat mengeluarkan Surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 7 (tujuh) orang Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 9 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

Engineering Plastik Indonesia (KEPI) dan 1 (satu) orang Anggota Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI). Sehingga Tergugat dalam hal ini mem-PHK semua Pengurus Serikat Pekerja pada Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) (Bukti P-20); 31. Bahwa terkaid dengan Surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada

tanggal 30 Juni 2014, terhadap semua pengurus serikat pekerja, Tergugat juga mengeluarkan surat skorsing dan pelarangan berada diarea Perusahaan Tergugat dimulai pada tanggal 01 Juli 2014 (Bukti P-21); 32. Bahwa tindakan yang dilakukan oleh Tergugat jelas tindakan Tergugat

yang memutus Hubungan Kerja (PHK) terhadap seluruh Pengurus Serikat Pekerja beserta anggotanya yang mana Pengurus serikat pekerja yang sedang menjalankan kegiatan organisasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan, dapat dikategorikan pemberhangusan serikat pekerja (Unio Basting);

33. Bahwa tindakan Tergugat sangat bertentangan dengan Pasal 8 ayat (1) Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (PKB PT. KEPI), Pasal 28 dan Pasal 43 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Perlindungan Hak Berorganisasi.

 Pasal 8 ayat (1) Perjanjian Kerja Bersama Indonesia (PKB PT. KEPI): (Pengusaha tidak akan melakukan tindakan diskriminasi kepada pengurus maupun anggota serikat pekerja yang terkait dalam pelaksanaan tugas serikat pekerja.)

 Pasal 28 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000:

“Siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota dan/atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh dengan cara:

a. Melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi;

b. Tidak membayar atau mengurangi upah pekerja/buruh; c. Melakukan intimidasi dalam bentuk apapun;

d. Melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja/serikat buruh;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 10 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

 Pasal 43 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000:

1) Barang siapa yang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta Rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta Rupiah).

Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan”.

34. Bahwa atas Pemutusan Hubunagan Kerja (PHK) dan Pelarangan berada diarea Perusahaan Tergugat terhadap semua Pengurus Serikat Pekerja PT. KEPI pada tanggal 01 Juli 2014 Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) meminta bantuan Dinas Tenagakerja Kabupaten Bekasi untuk menengahi permasalahan PHK terhadap semua pengurus serikat pekerja dan Mengirimkan Surat Mogok Kerja kepada perusahaan PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) dan Dinas Tenaga Kerja kabupaten Bekasi, dengan Nomor Surat 053/PUK/SPEE-FSPMI-KEPI/VI/2014 (Bukti P-22);

35. Bahwa pada tanggal 01 Juli 2014 saat pelaksanaan mogok kerja dilakukan perundingan di Perusahaan Tergugat dengan Mediator dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi Bagian Pengawas Tenaga Kerja yang di hadiri oleh Bp. Monang Sihotang dan Bpk. Ersada Bangun, serta Pihak dari Kepolisian setempat, namun Pihak Tergugat tetap tidak mau menanggapi; 36. Bahwa pada tanggal 02 Juli 2014 dilakukan Perundingan Bipartit kembali di

Perusahaan Tergugat dengan Mediatori dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi Bagian Pengawas Tenaga Kerja yang dihadiri oleh Bp. Monang Sihotang dan Bpk. Ersada Bangun, serta Pihak dari Kepolisian setempat. Dalam hal bipartit didapatkan Kesepakatan yang dituangkan pada Perjanjian Bersama (PB) yang isinya antara lain:

1) Terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap Para Penggugat akan melalui mekanisme Hukum, Proses Bipartit, Proses Mediasi, Proses Pengadilan Hubungan Industrial (PHI);

2) Bahwa atas nama Anggi Rishadi diberikan konpensasi sisa kontrak beserta tunjangan hari raya keagamaan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 11 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

3) Bahwa selama Proses Pemutusan Hubungan Kerja melalui proses hukum sampai putusan yang bersifat tetap (inkracht) terhadap Para Penggugat tetap mendapatkan Upah Pokok dan Hak-hak lain yang biasa diterimanya;

4) Bahwa Pihak Tergugat atas delapan 8 orang pengurus serikat pekerja yang di PHK tanggal 30 Juni 2014 diberikan Surat Peringatan (SP) ke-3;

5) Bahwa apabila para pihak tidak menjalani isi dari Perjanjian Bersama (PB) maka pihak yang dirugikan dapat memintakan uang paksa (dwangsom) sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu Rupiah) atas tidak dibayarkan/keterlambatan pembayaran upah;

6) Bahwa apabila Pihak Tergugat tidak menjalani isi kesepakatan Perjanjian bersama ini dapat dikenakan uang paksa (dwangsom) sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu Rupiah) terhitung dari perjanjian bersama ini ditandatangani (Bukti P-23);

37. Bahwa Perjanjian Bersama (PB) tanggal 02 Juli 2014 telah didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung tanggal 16 Juli 2014 dan sudah diberi Nomor Akta: 391/BP/2014/PHI/PN.Bdg. (Bukti P-24);

38. Bahwa merujuk pada Perjanjian Bersama (PB) tanggal 02 Juli 2014 dan Akta Bukti Pendaftaran Perjanjian Bersama yang telah didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung, pada tanggal 10 Juli 2014 telah dilakukan perundingan Bipartit pertama antara Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. KEPI dan pihak Tergugat, namun tidak ada kesepakatan (Bukti P-25); 39. Bahwa pada tanggal 17 Juli 2014 telah dilakukan perundingan Bipartit ke II

(dua) antara Para Penggugat serta Pengurus Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPEE FSPMI) PT. Kawashima Engineering Plastik Indonesia (KEPI) dan Tergugat, namun tidak ada kesepakatan (Bukti P-26);

40. Bahwa atas gagalnya perundingan Bipartit tanggal 10 Juli 2014 dan 17 Juli 2014, bahkan Tergugat sengaja memperlama permasalahan, dengan tidak mengidahkan ketentuan Pasal 151 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003;

41. Bahwa Tergugat tanpa konfirmasi kepada serikat pekerja mendaftarkan permasalahan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap Para

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 12 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

Penggugat ke Dinas Tenagakerja Kabupaten Bekasi sedangkan Para Penggugat/Pengurus Serikat Pekerja masih membuka ruang untuk perundingan Bipartit;

42. Bahwa pada tanggal 14 Agustus 2014 Para Penggugat mendapatkan surat perihal Pemanggilan Mediasi di Dinas Tenagakerja Kabupaten Bekasi yang akan dilakukan tanggal 25 Agustus 2014 (Bukti P-27);

43. Bahwa pada tanggal 25 Agustus 2014 dan tanggal 2 September 2014 dilakukan Mediasi di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi, namun tidak ada kesepakatan (Bukti P-28);

44. Bahwa pada tanggal 21 November 2014 Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi mengeluarkan anjuran dengan Nomor 567/3384/HI-Syaker/XI/2014 dengan Memutus Hubungan Kerja (PHK) Para Penggugat yang dalam pertimbangannya:

1. Memutus Hubungan Kerja (PHK) antara Para Penggugat dengan Tergugat berdasarkan Perjajian bersama (PB) tanggal 2 Juli 2014. (dikutip pada alinea 8 halaman 10 Surat Anjuran Mediasi).

2. Memerintahkan Tergugat untuk memberikan konpensasi pesangon 2 x Pasal 156 ayat (2), Kompensasi Masa Kerja sesuai ayat (3) dan Uang Penggantian Hak 15% sesuai Pasal 156 ayat (4) (Bukti P-29);

45. Bahwa atas dikeluarkannya Anjuran oleh Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi dengan Nomor 567/3384/HI-Syaker/XI/2014, Para Penggugat menolak Anjuran dengan Surat Nomor 061/PUK/SPEE-FSPMI-KEPI/XI/ 2014 (Bukti P-30);

46. Bahwa cukup beralasan Para Penggugat menolak anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi karena:

1) Dalam hal Perjanjian Bersama (PB) tanggal 02 Juli 2014 yang disepakati Para Penggugat terhadap perkara Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melalui proses hukum (bipartit, mediasi dan Pengadilan Hubungan Industrial) dikarenakan Para Penggugat tetap menjaga hubungan yang harmonis dengan Tergugat dan selalu melakukan upaya ketentuan yang diamanatkan oleh undang-undang sebagaimana berdasarkan Pasal 151 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Pasal 152 dan Pasal 155 ayat (1), ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003; 2) Terbukti Surat PHK dan skrorsing yang diberikan oleh Tergugat dengan

tanpa adanya pelanggaran yang dibuat terlebih dahulu oleh Para Penggugat contohnya tanpa ada Surat Peringatan (SP) sebagaimana Pasal 161 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 13 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

47. Bahwa merujuk pada Perjanjian Bersama (PB) tanggal 02 Juli 2014 yang telah didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung tanggal 16 Juli 2014 dan sudah diberi Nomor Akta 391/BP/2014/PHI/PN.Bdg. Para Penggugat mengirimkan Surat Somasi Nomor 03/PUK/SPEE-FSPMI-KEPI/I/2015 tanggal 19 Januari 2015 kepada Tergugat tentang Pembayaran Upah yang tetap harus diberikan oleh Tergugat, karena Tergugat tidak mau membayarkan hak-hak Para Penggugat (Bukti P-30);

48. Bahwa Tergugat pada tanggal 23 Januari 2015 membalas Surat Somasi dari Para Penggugat dengan Nomor MGT-003/I/KEPI-2015 yang intinya Tergugat membenarkan tidak lagi membayar Upah Para Penggugat dikarenakan adanya Anjuran dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi (Bukti P-31);

49. Bahwa slah dalam menapsirkan anjuran Mediasi, karena anjuran mediasi dalam artinya hanya sebagai sesuatu yang dianjurkan, namun secara juridis pengertian anjuran dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 13 ayat (2) huruf (a) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004. Di dalam memori vantelicting dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan anjuran tertulis adalah “pendapat atau saran tertulis yang diusulkan oleh Mediator kepada para pihak dalam upaya menyelesaikan perselisihan mereka”;

Bahwa anjuran itu sifatnya saran dari Mediator sehingga tidak mengikat. Para Pihak dapat menerima dan menolak. Kerena sifatnya saran maka anjuran tidak bisa dieksekusi meskipun salah satu pihak menolaknya. Tegasnya, secara relative anjuran tidak menyelesaikan perselisihan. Anjuran hanya bisa mengakhiri sengketa jika kedua belah pihak menerima dan melaksanakannya. Apabila salah satu pihak tidak bersedia melaksanakan maka perselisihan itu berada pada titik nol. Artinya, untuk menyelesaikan perselisihan salah satu pihak harus mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI);

Maka cukup berasalan Para Penggugat mengirimkan surat Somasi kepada Tergugat, sebagai bentuk teguran tertulis untuk menjalankan amanat dari peraturan perundang-undangan;

50. Bahwa sesuai Pasal 151 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 PHK yang sah adalah PHK yang dilakukan setelah ada penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan Industrial (LPPHI). Dalam Pasal 155 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dikatakan bahwa selama LPPHI belum menyatakan Putus Hubungan Kerja Tergugat

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 14 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

wajib memperkerjakan Para Penggugat seperti biasa dengan tetap membayar upah. Ketentuan itu memberi arti bahwa tiada PHK tanpa penetapan LPPHI;

51. Bahwa oleh karena dalam melakukan PHK terhadap Para Penggugat, Tergugat tidak memenuhi ketentuan diatas maka berdasarkan Pasal 155 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 PHK tersebut adalah Batal Demi Hukum, artinya PHK tersebut dianggap tidak pernah ada; 52. Bahwa oleh karena tindakan PHK yang dilakukan oleh Tergugat dapat

dikualifikasikan sebagai PHK yang batal demi hukum maka mohon berkenan Majelis Hakim dalam perkara a quo memutus dan menyatakan bahwa Surat PHK Nomor MGT-013/VIKEPI-2014 atas nama BUDI WIBOWO (NIK: 02120615), Nomor MGT-014/VI/KEPI-2014 atas nama HERMAN SETIONO (NIK: 07010001) dan Nomor MGT-015/VI/KEPI-2014 atas nama SUPRIYONO (NIK: 04080572) Batal Demi Hukum dan selanjutnya berdasarkan Pasal 170 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 menghukum Tergugat untuk memanggil dan mempekerjakan Para Penggugat kembali pada jabatan dan kedudukan semula atau yang setara dengan itu;

53. Bahwa oleh karena selama dalam proses PHK Tergugat semenjak bulan November 2014 sampai dengan gugatan ini didaftarkan tidak lagi membayarkan hak-hak Para Penggugat yang berupa upah pokok yang mana biasa diterima oleh Para Penggugat, karenanya terbukti telah melanggar Perjanjian Bersama (PB) tanggal 2 Juli 2014 yang sudah didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial Pada Pengadilana Negeri KLS 1A Khusus Bandung yang sudah ada Nomor Akta 3197/BP/2014/PHI/PN.Bdg. dikutip dalam isi PB point/angka 3 (tiga): (Bahwa selama proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Para Penggugat tetap mendapatkan upah dan hak-hak lain yang biasa di terimanya) dan sebagaimana diatur dalam Pasal 155 ayat (2) jo Pasal 93 ayat (2) huruf (f) dan huruf (h) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 maka beralasan apabila Majelis Hakim dalam perkara a quo menghukum Tergugat membayar Upah Para Penggugat sejak bulan November 2014 sampai bulan April 2014, dengan rincian sebagai berikut:

 Budhi Wibowo Gaji Pokok Rp 2.976.553,00

Tunjangan tetap Rp 170.000,00

Upah Pokok Rp 3.146.553,00

Rp 3.146.553,00 x 4 bulan upah = Rp 12.586.212,00

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 15 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

 Herman Setiono Gaji Pokok Rp 3.034.542,00

Tunjangan Tetap Rp 255.000,00

Upah Pokok Rp 3.289.542,00

Rp 3.289.542,00 x 4 bulan upah = Rp 13.158.168,00  Supriyono Gaji Pokok Rp 2.972.553,00

Tunjangan Tetap Rp 135.000,00

Upah Pokok Rp 3.107.553,00

Rp 3.107.553,00 x 4 bulan upah = Rp 12.766.212,00

Total Upah Para Penggugat Rp12.586.212,00 + Rp13.158.168,00 + Rp12.766.212,00 = Rp26.667.592,00;

Terbilang total: (dua puluh enam juta enam ratus enam puluh tujuh ribu lima ratus Sembilan puluh dua Rupiah).

54. Bahwa oleh karena selama dalama proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini Tergugat tidak membayar Upah Para Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 19 ayat (1) Nomor 8 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 1981 dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mana terbukti bertentangan dengan hukum maka beralasan apabila Majelis Hakim menghukum Tergugat membayar denda atas keterlambatan pembayaran upah Para Penggugat, dengan ketentuan 50% dari upah yang selama tidak dibayarkan oleh Tergugat dengan dengan rincian sebagai berikut:

- Budhi Wibowo Rp12.586.212,00 x 50% = Rp 6.293.106,00 - Herman Setiono Rp13.158.168,00 x 50% = Rp 6.579.084,00 - Supriyono Rp12.766.212,00 x 50% = Rp 6.383.105,00 Total = Rp 19.255.295,00 Terbilang (sembilan belas juta dua ratus lima puluh lima ribu dua ratus sembilan puluh lima Rupiah).

55. Bahwa oleh karena selama dalama proses Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ini Tergugat tidak membayar Upah Para Penggugat sebagaimana diatur dalam Pasal 19 ayat (2) Nomor 8 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 1981 dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mana terbukti bertentangan dengan hukum maka beralasan apabila Majelis Hakim menghukum Tergugat membayar Bunga 5% yang ditetapkan oleh Bank untuk kredit perusahaan yang bersangkutan, dengan rincian sebagai berikut:

- Budhi Wibowo Rp 12.586.212,00 x 5% = Rp 6.293.10 - Herman Setiono Rp 13.158.168,00 x 5% = Rp 6.579.08

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 16 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

- Supriyono Rp 12.766.212,00 x 5% = Rp 6.383.10 Total = Rp 1.925.528,00 Terbilang (satu juta sembilan ratus dua puluh lima ribu lima ratus dua puluh delapan Rupiah).

56. Bahwa oleh karena gugatan Para Penggugat tidak menuntut kompensasi pesangon tetapi dan kenyataan putusan dalam perkara a quo menghukum Tergugat melakukan suatu perbuatan tertentu yakni memanggil dan memperkerjakan kembali Para Penggugat pada jabatan dan kedudukan semula atau yang setera dengan itu maka beralasan berdasarkan Pasal 606a Rv menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) perhari terhitung sejak perkara ini berkekuatan hukum tetap sampai putusan ini dilaksanakan oleh Tergugat;

57. Bahwa oleh karena gugatan Para Penggugat terbukti berdasarkan hukum dan mengigat putusan perkara a quo menghukum Tergugat mempekerjakan kembali Para Penggugat maka sesuai Pasal 109 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 beralasan menyatakan putusan dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun Tergugat mengajukan perlawanan maupun kasasi. Karena apabila Majelis Hakim dalam perkara a quo menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu tidak akan menimbulkan akibat apapun dikemudian hari sebab apabila Para Penggugat bekerja dan Tergugat mengajukan kasasi, kemudian Judex Juris berpendapat lain dari putusan Judex Facti maka Tergugat hanya membayar sesuai prestasi Para Penggugat sehingga tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Barang kali akan berbeda bila Para Penggugat menuntut uang Pesangon.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Bandung agar memberikan putusan sebagai berikut:

I. DALAM PROVISI

DALAM PUTUSAN SELA:

1. Mengabulkan permohonan Provisi Para Penggugat seluruhnya;

2. Memerintahkan Tergugat berdasarkan ketentuan Pasal 96 Undang Nomor 2 Tahun 2004 jo. Pasal 155 ayat (2), ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 untuk membayar Upah Skorsing yang belum diterima Para Penggugat secara tunai. Dengan rincian sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 17 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

 Budhi Wibowo Gaji Pokok Rp 2.976.553,00 Tunjangan tetap Rp 170.000,00

Upah Pokok Rp 3.146.553,00

Rp 3.146.553,00 x 4 bulan upah = Rp 12.586.212,00  Herman Setiono Gaji Pokok Rp 3.034.542,00 Tunjangan Tetap Rp 255.000,00

Upah Pokok Rp 3.289.542,00

Rp 3.289.542,00 x 4 bulan upah = Rp 13.158.168,00  Supriyono Gaji Pokok Rp 2.972.553,00 Tunjangan Tetap Rp 135.000,00

Upah Pokok Rp 3.107.553,00

Rp 3.107.553,00 x 4 bulan upah = Rp 12.766.212,00

Total Upah Para Penggugat Rp12.586.212,00 + Rp13.158.168,00 + Rp12.766.212,00 = Rp26.667.592,00;

Terbilang total: (dua puluh enam juta enam ratus enam puluh tujuh ribu lima ratus sembilan puluh dua Rupiah).

II. DALAM POKOK PERKARA DALAM PUTUSAN AKHIR:

1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;

2. Menyatakan sah dan tidak bertentangan dengan hukum Perjanjian Bersama (PB) yang dibuat oleh Para Pihak tertanggal 2 Juli 2014; 3. Menyatakan surat yang dikeluarkan oleh Tergugat dengan:

- Nomor MGT-013/VI/KEPI-2014 atas nama BUDHI WIBOWO………. (NIK: 02120615).

- Nomor MGT-014/VI/KEPI-2014 atas nama HERMAN SETIONO…… (NIK: 07010001).

- Nomor MGT-015/VI/KEPI-2014 atas nama SUPRIYONO……… (NIK: 04080572).

perihal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Para Penggugat tanggal 25 Juni 2014 tidak sah/batal demi hukum dan tidak dapat dijadikan pedoman untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap Para Penggugat.

4. Menyatakan hubungan kerja antara Para Penguggat dan Tergugat tidak pernah terputus;

5. Menyatakan perbuatan Tergugat adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum yang menimbulkan kerugian bagi Para Penggugat;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 18 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

6. Memerintahkan Tergugat memanggil dan mempekerjakan kembali Para Penggugat pada pekerjaan dan posisi jabatan yang semula di Perusahaan milik Tergugat, terhitung sejak putusan Pengadilan Hubungan Industrial ini dibacakan walaupun Tergugat melakukan Upaya Hukum Kasasi;

7. Menghukum Tergugat agar membayar Upah Para Penggugat selama Skorsing berikut segala akibat hukumnya sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1981, terhitung sejak bulan November 2014 sampai dengan bulan Maret gugatan ini didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan KLS IA Khusus Bandung. Tolal sebesar Rp47.848.415,00 dengan rincian sebagai berikut:

- Upah bulan November 2014 s/d Maret 2014 Rp 26.667.592,00 - Denda keterlambatan membayar upah

(PP Nomor 8/1981) Rp 19.255.295,00

- Bunga Bank (PP Nomor 8 Tahun 1981) Rp 1.925.528,00 TOTAL: Rp 47.848.415,00 Terbilang: (empat puluh tujuh juta delapan ratus empat puluh delapan

ribu empat ratus lima belas Rupiah).

8. Menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom), terhadap setiap keterlambatan Tergugat dalam melaksanakan putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas 1A khusus Bandung yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta Rupiah) terhadap setiap hari keterlambatan;

9. Menyatakan bahwa putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu, meskipun Tergugat mengajukan upaya perlawanan atau verzet, kasasi, dan/atau peninjauan kembali (uitvoerbaar bij voorraad);

SUBSIDAIR

Apabila Yang Mulia Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya (Ex Aquo Et Bono).

Bahwa, terhadap gugatan tersebut, Tergugat mengajukan Rekonpensi pada pokoknya sebagai berikut:

1. Bahwa karena gugatan Rekonpensi masih merupakan bagian dan berkaitan dengan gugatan pokok perkara (konpensi), maka alasan-alasan dan dalil-dali yang dimuat dan menjadi bagian pokok perkara (konpensi) dengan sendirinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari alasan-alasan dan dalil-dalil dalam Rekonpensi;

2. Bahwa akibat pemogokan kerja yang dilakukan oleh Para Tergugat dalam Rekonpensi telah nyata-nyata bertentangan dengan hukum (illegal), tidak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 19 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

sah serta bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan merupakan pelanggaran dan pengingkaran yang nyata dari PKB perusahaan yang sama-sama telah disepakati oleh Penggugat dan Para Tergugat dalam Rekonpensi;

3. Bahwa dampak lebih jauh dari pemogokan tersebut adalah adanya kerugian, baik moril/immateril dan dampak materil yang harus ditanggung Penggugat dalam Rekonpensi. Dampak moril/immaterial berupa hilang atau berkurangnya kepercayaan publik dan atau relasi bisnis Penggugat dalam Rekonpensi atas intregitas dan nama baik Penggugat dalam Rekonpensi sebagai perusahaan yang harus berkontribusi di masyarakat dan sebagai perusahaan punya responsibilitas tinggi terhadap kesejahteraan para pekerjanya;

4. Bahwa dampak materil yang harus ditanggung Penggugat dalam Rekonpensi akibat pemogokan Para Tergugat dalam Rekonpensi adalah timbulnya kerugian yang terjadi karena berhentinya proses produksi di perusahaan Penggugat dalam Rekonpensi sehingga akibatnya Penggugat dalam Rekonpensi harus menanggung beban kerugian selama 3 hari mogok kerja tersebut, mulai tanggal 16, 18 dan 19 Juni 2014 yang seluruhnya berjumlah sebesar US $ 33.386 = Rp 390.616.200,00 (1 US $ = Rp 11.700,00);

5. Bahwa oleh karenanya perbuatan dan tindakan Para Tergugat dalam Rekonpensi tersebut, dikaitkan dengan peraturan/PKB perusahaan Penggugat dalam Rekonpensi, maka dapat dikategorikan sebagai satu bentuk pelanggaran terhadap PKB perusahaan Pasal 51 poin 1.6 huruf g tentang larangan pekerja untuk melakukan membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini Para Tergugat dalam Rekonpensi telah melakukan perbuatan tersebut dengan memerintahkan para pekerja perusahaan Penggugat dalam Rekonpensi yang menjadi anggota serikat pekerja yang dipimpinnya untuk melakukan pemogokan secara illegal dan bertentangan dengan hukum, baik terhadap perundang-undangan secara procedural menurut Pasal 137 Undang-Undang Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan maupun terhadap perundang-undangan menurut aturan dalam PKB Pasal 9 ayat 3 dan Pasal 53 ayat 4 serta Ketentuan Tata Tertib Perundingan Upah 2014 Pasal 7 ayat 10 dan 11; 6. Bahwa selain pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, perbuatan dan

tindakan Para Tergugat dalam Rekonpensi nyata-nyata juga telah

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 20 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

memberikan dampak kerugian materil dan immateril pada perusahaan Penggugat dalam Rekonpensi;

7. Bahwa oleh karenanya, tindakan dan perbuatan Para Tergugat dalam Rekonpensi tersebut dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk pelanggaran terhadap PKB perusahaan Pasal 51 poin 1.6 huruf h tentang larangan pekerja untuk melakukan “dengan ceroboh atau sengaja membiarkan merusak atau membiarkan barang milik perusahaan dalam keadaan berbahaya sehingga menimbulkan kerugian bagi perusahaan”. Perbuatan dan tindakan mana dilakukan Para Tergugat dalam Rekonpensi dengan sengaja menyuruh teman-teman sekerja untuk melakukan mogok kerja dan membiarkan dengan sengaja agar proses produksi berhenti sehingga Penggugat dalam Rekonpensi harus menanggung beban kerugian sebesar US $ 33.386 = Rp390.616.200,00 (1 US $ = Rp11.700,00);

8. Bahwa terkait pemogokan kerja yang illegal dan dampak kerugian yang ditimbulkannya, hal yang seharusnya adalah kewajiban Para Tergugat dalam Rekonpensi sebagai pengurus dan pimpinan serikat pekerja di perusahaan Penggugat dalam Rekonpensi untuk memberikan jaminan agar di perusahaan Penggugat dalam Rekonpensi tidak terjadi pemogokan kerja atau upaya memperlambat kerja, karena hal itu tidak sesuai dengan semangat hubungan industrial yang dibangun perusahaan, sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 9 ayat 3 PKB perusahaan, yang menyatakan “Serikat pekerja menyadari bahwa tindakan pemogokan kerja dan memperlambat kerja adalah tidak sesuai dengan semangat hubungan industrial, oleh karena itu harus dihindarkan.” Tidak justru sebaliknya, Para Tergugat dalam Rekonpensi memerintahkan pekerja dan anggota serikat pekerja yang dipimpinnya untuk melakukan mogok kerja, padahal itu semua dilakukan tanpa prosedur yang sah dan bertentangan dengan ketentuan dan hukum yang berlaku. Sehingga kemudian berujung pada sejumlah kerugian yang harus ditanggung Penggugat dalam Rekonpensi; 9. Bahwa oleh karenanya adalah sangat wajar dan adil, apabila Penggugat

dalam Rekonpensi menuntut keadilan agar pihak yang bertanggung jawab dalam pemogokan kerja illegal dan menimbulkan terjadinya sejumlah kerugian tersebut untuk bertanggung jawab dan membayar atau mengganti kerugian yang ditimbulkannya tersebut;

10. Bahwa dengan demikian, melalui Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini di Pengadilan, agar menyatakan kepada Para Tergugat dalam

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 21 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

Rekonpensi untuk bertanggung jawab atas timbulnya dampak kerugian tersebut dan memerintahkan kepada Para Tergugat dalam Rekonpensi untuk mengganti besarnya kerugian yang harus dipikul oleh Penggugat dalam Rekonpensi selama terjadinya mogok kerja illegal tersebut, yaitu sebesar US $ 33.386 = Rp390.616.200,00 (1 US $ = Rp11.700,00);

11. Bahwa oleh karena adanya pelanggarannya tersebut, maka adalah hal yang sangat wajar dan cukup beralasan apabila kemudian Penggugat dalam Rekonpensi melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada Para Tergugat dalam Rekonpensi dengan dasar dan alasan hukum berdasarkan Pasal 51 poin 1.6 huruf g dan h, Pasal 56 ayat 6 dan Pasal 59 ayat 7 PKB Perusahaan, yang menyatakan bahwa Perusahaan dapat melakukan PHK karena alasan pelanggaran PKB oleh pekerja, dan khusus apabila pelanggaran tersebut terjadi atas Pasal 51 poin 1.6, maka pekerja yang di-PHK hanya berhak atas uang penggantian hak dan uang pisah sesuai Pasal 58 ayat 4 dan5 PKB perusahaan;

12. Bahwa dengan demikian Para Tergugat dalam Rekonpensi berhak atas pembayaran dari Penggugat dalam Rekonpensi, masing-masing sebagai berikut:

a. Budhi Wibowo:

- Uang Penggantian Hak 15 % x (9+3) x Rp3.092.553,00,00

= Rp 5.566.594,00; - Uang Pisah: 0,5 x Rp3.092.553,00 = Rp 1.546.277,00; Jumlah = Rp 7.112.871,00; b. Herman Setiono:

- Uang Penggantian Hak 15 % X (9+3) x Rp3.191.553,00

= Rp 5.744.795,00; - Uang Pisah: 0,5 x Rp3.191.553,00 = Rp 1.595.777,00; Jumlah = Rp 7.340.572,00; c. Supriyono:

- Uang Penggantian Hak 15 % x (9+3) x Rp3.050.553,00

= Rp 5.490.995,00; - Uang Pisah : 0,5 X Rp.3.050.553,00 = Rp 1.525.277,00; Jumlah = Rp 7.016.272,00; 13. Bahwa terkait pemogokan kerja yang illegal dan dampak kerugian yang

ditimbulkannya, hal yang seharusnya adalah kewajiban Para Tergugat dalam Rekonpensi sebagai pengurus dan pimpinan serikat pekerja di perusahaan Penggugat Dalam Rekonpensi untuk memberikan jaminan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

(22)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Hal. 22 dari 31 hal.Put.Nomor 743 K/Pdt.Sus-PHI/2015

agar di perusahaan Penggugat Dalam Rekonpensi tidak terjadi pemogokan kerja atau upaya memperlambat kerja, karena hal itu tidak sesuai dengan semangat hubungan industrial yang dibangun perusahaan, sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 9 ayat 3 PKB perusahaan, yang menyatakan “Serikat pekerja menyadari bahwa tindakan pemogokan kerja dan memperlambat kerja adalah tidak sesuai dengan semangat hubungan industrial, oleh karena itu harus dihindarkan”;

14. Bahwa, tidak justeru sebaliknya, Para Tergugat Dalam Rekonpensi pada waktu itu malah memerintahkan kepada para pekerja dan anggota serikat pekerja yang dipimpinnya untuk melakukan mogok kerja, padahal itu semua dilakukan tanpa prosedur yang sah dan bertentangan dengan ketentuan dan hukum yang berlaku. Sehingga kemudian berujung pada sejumlah kerugian yang harus ditanggung Penggugat Dalam Rekonpensi; 15. Bahwa oleh karenanya adalah sangat wajar, adil serta karena didasarkan

pada ketentuan yang telah diatur dalam PKB perusahaan Pasal 51 ayat 1 huruf f tentang Jenis-jenis Sanksi, yang antara lain menyebutkan bahwa “Apabila terbukti pekerja dengan sengaja melakukan perbuatan pengrusakan barang milik perusahaan, atau stop produksi yang mengakibatkan kerugian, maka terhadap pekerja tersebut pengusaha dapat meminta ganti rugi seluruh atau sebagian kerugian tersebut”, maka apabila Penggugat Dalam Rekonpensi menuntut keadilan agar Para Tergugat Dalam Rekonpensi sebagai pekerja dan pihak yang bertanggung jawab dalam pemogokan kerja illegal yang mengakibatkan terjadinya stop produksi di perusahaan dan kemudian menimbulkan terjadinya sejumlah kerugian di perusahaan Penggugat Dalam Rekonpensi untuk bertanggung jawab dan membayar atau mengganti kerugian yang ditimbulkannya tersebut sebagaimana yang diatur dalam ketentuan PKB perusahaan tersebut;

16. Bahwa dengan demikian, melalui Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini di Pengadilan, berdasarkan keadilan dan didasarkan kepada ketentuan pada Pasal 51 ayat 1 huruf PKB perusahaan yang masih berlaku, meminta agar kiranya Majelis Hakim Yang Terhormat menyatakan kepada Para Tergugat Dalam Rekonpensi untuk bertanggung jawab atas timbulnya dampak kerugian tersebut dan memerintahkan kepada Para Tergugat Dalam Rekonpensi untuk mengganti besarnya kerugian yang menjadi beban Penggugat Dalam Rekonpensi selama terjadinya mogok kerja illegal tersebut, yaitu sebesar US $ 33.386 = Rp390.616.200,00 (1 US $ =

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Email : [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Untuk itu akan dilakukan penelitian nilai delay untuk mengetahui kinerja dari jaringan nirkabel 4G di Surabaya, agar didapatkan hasil performansi dari TCP/IP, sehingga

Secara hukum, perjanjian yang dibuat menimbulkan akibat hukum dan para pihak yang terkait berhak mengajukan pembatalan perjanjian atau menjadikannya sebagai alasan

Hasil penelitian terhadap nilai bau menunjukkan perbedaan jarak tungku tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) terhadap bau ikan asap, namun dengan semakin

Pada angket no 12 yang menjawab benar atau tahu berjumlah 63 orang atau 63%, kemudian yang menjawab salah/ tidak tahu berjumlah 37 orang atau 37% maka rata-rata

Hal itu sejalan dengan penelitian dari D (2017) nilai OR 11,7 sehingga dapat di simpulkan bahwa terdapat ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian preeklamsia pada

Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat sebuah judul tentang “Pembangunan Aplikasi Mobile Donor Darah Berbasis Geolocation Menggunakan Metode Reactive

Creamer merupakan produk emulsi lemak dalam air yang diproses dari nabati, biasanya banyak digunakan sebagai bahan tambahan untuk minuman kopi, susu, coklat,

Pemodelan hubungan antara angka korban kecelakaan dengan faktor penyebab kecelakaan lalu lintas yang diambil adalah hasil pemodelan kumulatif pada Tahun 2015– 2017