i
EKSPOSE HASIL-HASIL PENELITIAN
BALAI PENELITIAN KEHUTANAN
MANAD0
Manado, 2011
Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Balai Penelitian Kehutanan Manado
ii
PROSIDING
EKSPOSE HASIL-HASIL PENELITIAN
“HUTAN LESTARI UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT”
Manado, 2011 Terbit Tahun 2012
Foto Sampul oleh:
Kristian Mairi dan Arif Irawan
Desain:
Lulus Turbianti
Diterbitkan oleh:
Balai Penelitian Kehutanan Manado
Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas Kec. Mapanget Manado Telp. 0431-3666683
Email: [email protected]
Website: www.bpk-manado.litbang.dephut.go.id
Dicetak oleh:
Balai Penelitian Kehutanan Manado
iii
atas dasar itulah Balai Penelitian Kehutanan Manado selaku institusi penelitian menggelar Ekspose dengan tema “Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Ekspose perdana Balai Penelitian Kehutanan Manado memuat paparan peneliti dari sisi tanaman sejenis, eksplorasi hutan alam, penyelamatan satwa langka, dan contoh peranan langsung hutan untuk masyarakat sekitarnya.
Penyelenggaraan ekspose ini merupakan perwujudan salah satu fungsi BPK Manado yakni pelayanan data dan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi hasil-hasil penelitian kepada masyarakat pengguna.Tujuan akhir yang hendak dicapai adalah dapat meningkatkan dan menjawab kebutuhan pengguna. Dimana penelitian di masa yang akan datang menjadi sebuah solusi permasalahan yang ada .
Prosiding ini memuat 10 judul materi yang dibahas dan 6 materi penunjang serta rumusan seminar berdasarkan hasil diskusi.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada penyaji materi, panitia penyelenggara, moderator, peserta serta semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan kegiatan ekspose.
Semoga prosiding ini bermanfaat.
Manado, Juli 2012 Kepala BPK Manado
iv
TIM PENYUNTING
Koordinator : Ir. Eva Betty Sinaga, MP Ketua : Ir. La Ode Asir, M.Si.
Anggota : Kristian Mairi, S.Hut, M.Sc. Julianus Kinho, S.Hut.
Diah Irawati Dwi Arini, S.Hut. Sekretariat : Lulus Turbianti, S.Hut.
v
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... v
Laporan Ketua Panitia ... viii
Sambutan Kepala Badan Litbang ... xi
Rumusan ... xiv Strategi Rehabilitasi Lahan dan Sistem Kelembagaan
Dalam Pengendalian Banjir dan Longsor Di Daerah Tangkapan Air Limboto
La Ode Asir ... 1-20 Pola Insentif Efektif dalam Rangka Pemberdayaan
Masyarakat di Sekitar Hutan
Kristian Mairi ... 21-40 Partisipasi Masyarakat Mengkang dalam Menjaga
Kelestarian Hutan di Sekitar Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Lis Nurrani ... 41-60 Studi Keragaman Jenis Cempaka Berdasarkan Karakteristik
Morfologi di Sulawesi Utara
Julianus Kinho dan Arif Irawan ... 61-78 Identifikasi Keberadaan Tegakan Cempaka (Magnolia
Elegans (Blume.) H. Keng) di Hutan Lindung Lolombulan sebagai Sumber Benih Potensial
Arif Irawan dan Jafred E. Halawane ... 79-92 Potensi dan Strategi Pengelolaan Keanekaragaman
Hayati Jenis Pohon di Cagar Alam Tangkoko sebagai Sumber Plasma Nutfah
vi Teknik Budidaya Jabon Merah
(Anthocephalus macrophyllus (ROXB.) Havil)
Hanif Nurul Hidayah ... 115-120 Identifikasi Sumber Pakan Alami Anoa (Bubalus spp.)
Di Suaka Marga Satwa Nantu
Diah Irawati Dwi Arini ... 121-142 Peluang Konservasi Ex Situ Burung Sampiri (Eos histrio)
Melalui Penangkaran
Anita Mayasari dan Ady Suryawan ... 143-154 Arboretum BPK Manado
“Sebuah Bentuk Konservasi Ex Situ di Kawasan Wallacea
Sumarno N. Patandi ... 155-166 Struktur dan Komposisi Vegetasi Habitat Eboni
(Diospyros spp.) pada Hutan Dataran Rendah Di Cagar Alam Tangkoko
Julianus Kinho, Ady Suryawan dan Titiek Setyawati ... 167-180 Potensi dan Sebaran Nyatoh (Palaquium obtusifolium Burck)
Di Sulawesi Utara
Ady Suryawan, Julianus Kinho dan Anita Mayasari ... 181-188 Karakteristik Tingkat Degradasi Sub DAS Biyonga
Di Provinsi Gorontalo
Supratman Tabba ... 189-216 Penghitungan Emisi dan Serapan CO2 Tahun 2000-2009
Pada Sektor Berbasis Lahan di Sulawesi Utara
vii Provinsi Sulawesi Utara
Lis Nurrani dan Supratman Tabba ... 227-244 Uji Daya Kecambah dan Pertumbuhan Awal Semai
Acacia mangium 40 Famili berasal dari 10 Famili Terbaik 4 Kebun Benih Semai F2 Sub Line
Sugeng Pudjiono... 245-257 Variasi Pertumbuhan Beberapa Klon Jati pada Dua Jarak
Tanam di RPH Banaran BPKH Playen Gunung Kidul
Mahfudz dan Soni Anggoro ... 257-270 Peranan Penelitian dan Pengembangan
Dalam Mendukung Pengelolaan Merbau
Mahfudz dan Sugeng Pudjiono ... 271-290 Teknologi Pengembangan Hutan Rakyat
(Pembibitan untuk Mendukung Pengembangan Hutan Rakyat)
viii
LAPORAN KETUA PANITIA
Ekspose Hasil-Hasil Penelitian
“Membangun Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat”
Manado, 2011
Selamat pagi,
Assalau’alaikum Wr. Wb. Yang saya hormati:
Bapak Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara Bapak Hj. Armusi (PT. Sarana Tani)
Bapak Ir. Linus Sisman (PT. Silva Tropikakultura) Bapak Hilman Manan
Kepala Desa Mengkang
Para Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota se-Provinsi Sulawesi Utara
Kepala UPT Kementerian Kehutanan se-Provinsi Sulawesi Utara Para akademisi, peneliti, Lembaga Swadaya Masyarakat dan peserta
seminar yang berbahagia. Dasar Pelaksanaan
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 41 Tahun 1999 tentang Undang-Undang Pokok Kehutanan;
2. Undang-Undang RI Nomor: 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;
3. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 40/Menhut-III/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan;
4. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 39/Menhut-II/2011 tentang struktur Organisasi dan Tata Kerja Balai Penelitian Kehutanan Manado; 5. Surat pengesahan DIPA Balai Penelitian Kehutanan Manado Nomor:
ix Balai Penelitian Kehutanan Manado. Tema
Tema yang diangkat dalam pertemuan ini adalah ”Membangun Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat”
Tujuan
Menginformasikan hasil-hasil penelitian BPK Manado agar dapat diketahui dan dikembangkan serta dipergunakan oleh pengguna.
Hasil yang diharapkan
Terjalin interaksi dan kerjasama antara pengguna dengan Balai Penelitian Kehutanan Manado dalam pemanfaatan dan peningkatan kualitas hasil-hasil litbang.
Manfaat
1. Hasil-hasil Litbang dapat dijadikan bahan acuan dalam pembangunan Kehutanan.
2. Meningkatkan peluang pemasaran hasil Litbang pada skala komersial.
Materi
Informasi dan data berbagai hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh BPK Manado dan institusi terkait. Dalam kesempatan ini akan dipresentasikan 10 makalah utama dan akan dilanjutkan dengan diskusi.
Pembiayaan
Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manado dilaksanakan dengan dana yang dialokasikan melalui DIPA BPK Manado Tahun 2011.
x Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan Ekspose dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2011, yang bertempat di Ruang Serba Guna Balai Penelitian Kehutanan Manado.
Peserta
Peserta yang diundang terdiri dari UPT Kementerian Kehutanan di Provinsi Sulawesi Utara, Dinas Kehutanan Provinsi, Bakorluh Provinsi, Bakorluh Kab. Minahasa Utara, Universitas Samratulangi, Kalangan Industri, Dinas Kehutanan Kab. Halmahera Barat, Media dan Kelompok Masyarakat lainnya dengan jumlah peserta ± 50 orang.
Akhirnya kami sampaikan terimakasih kepada segenap panitia dan rekan-rekan kerja Balai Penelitian Kehutanan Manado atas dukungan dan kerjasamanya dalam mensukseskan kegiatan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Bapak Kepala Dinas Kehutanan, Entrepreneur bidang kehutanan, Bapak Kepala Desa Mengkang dan tamu undangan atas kehadiran dalam Ekspose BPK Manado Tahun 2011. Kami harap Bapak/Ibu sekalian dapat mengikuti acara hingga selesai.
Pada kesempatan berikutnya, kami mohon agar Bapak Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara berkenan memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan manado.
Demikian Laporan kami, atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Ketua
xi
Ekpose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manado ““Membangun Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat”
Manado, 27 Desember 2012
Bapak dan Ibu para undangan yang saya hormati. Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perkenanNya sehingga kita dapat hadir dalam acara Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Manado.
Para hadirin yang berbahagia,
Sesuai dengan tema yang dipilih, semoga apa yang disajikan dalam ekspose ini bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat di 3 wilayah kerja BPK Manado yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara. Terutama pemecahan masalah kehutanan dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengelolaan hutan harus dilaksanakan secara terpadu, agar manfaat hutan dapat dirasakan oleh semua pihak. Perlu adanya kolaborasi untuk mewujudkan pembangunan hutan yang lestari untuk kesejahteraan masyarakat.
Paradigma pembangunan kehutanan di orde baru adalah eksploitasi hutan alam untuk pemenuhan pendapatan daerah. Paradigma tersebut sudah berubah. Tindakan yang harus dilaksanakan saat ini adalah memperbaiki kondisi hutan yang rusak dan mempertahankan hutan yang masih utuh. Selain itu masyarakat perlu memiliki akses untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. Saat ini di Sulawesi Utara telah dicanangkan areal seluas 48 Ha yang dialokasikan untuk hutan rakyat. Di samping itu, telah ada pula hutan kemasyarakatan dan hutan desa. Ada potensi sumberdaya hutan yang cukup baik dan bisa dikembangkan untuk ekowisata dan jasa lingkungan. Semoga BPK Manado bisa menemukan formulasi yang tepat yang berkontribusi dalam pengelolaan hutan.
xii
Kerusakan hutan tidak hanya disebabkan oleh oknum kehutanan, tapi juga oleh pihak-pikah lain misalnya dari sektor pertambangan yang hal ini terkait langsung dengan pemerintah kabupaten. Kebanyakan ijin pertambangan diberikan pada kawasan hutan produksi yg dapat dikonversi. Memang dilihat dari statusnya, kawasan ini dapat dikonversi untuk penggunaan lainnya. Namun diharapkan para pengambil kebijakan tidak dengan mudah memberikan ijin kepada investor. Hampir 53% kawasan propinsi Sulawesi Utara berupa hutan. Peranan hutan sangatlah penting, namun saat ini 35% kawasan hutan berada dalam kondisi rusak. Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain adalah rehabilitasi hutan dan lahan, pengamanan kawasan hutan, pembangunan kebun bibit rakyat serta pembagian bibit gratis untuk masyarakat.
Dinas Kehutanan telah menandatangani MoU dengan salah satu perusahaan besar di Sulawesi Utara, bekerja sama dalam menggerakkan masyarakat agar mau menanam pohon secara swadaya. Di dalam kerja sama tersebut, Dinas Kehutanan menyediakan bibit gratis untuk masyarakat. Selain itu dibentuk pula tim pembina dan penggerak rehabilitasi hutan dan lahan. Dalam hal keamanan sumberdaya hutan, telah dibentuk tim terpadu pengamanan hasil hutan dan kawasan hutan bekerja sama dengan Polisi dan TNI. Satu tim terdiri dari 4 orang Polisi Kehutanan, 2 orang anggota TNI dan 2 orang anggota Polri. Pada tahun 2011, diperoleh 50 m3 kayu hasil operasi yang hasilnya dilelang dan disetor sebagai pendapatan negara.
Pada tahun 2012 ini, akan dibangun Taman Hutan Raya di Gunung Tumpa, di mana 70% arealnya termasuk wilayah Manado dan 30% lagi termasuk wilayah Kabupaten Minahasa Utara. Pembangunan tahura ini dialokasikan dari DAK Dinas Kehutanan Sulawesi Utara, Pemerintah Daerah Manado dan Pemerintah Daerah Minahasa Utara. Hal ini merupakan salah satu wujud komitmen Dinas Kehutanan untuk mewujudkan visi Manado sebagai Kota Model Ekowisata dan visi Kabupaten Minahasa Utara sebagai kabupaten terdepan dalam pariwisata.
xiii
menyatakan bahwa ekspose ini secara resmi dibuka.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara
xiv
RUMUSAN
Ekspose Hasil-hasil Penelitian BPK Manado dengan tema “Membangun Hutan Lestari untuk Kesejahteraan Masyarakat”, dilaksanakan tanggan 9 Februari 2012 di Gedung Serbaguna Balai Penelitian Kehutanan Manado. Berdasarkan sambutan Kepala Dinas Kehutanan Sulawesi Utara, pemaparan materi keynote speech tentang Enterpreneur di Bidang Kehutanan, pemaparan dari para peneliti serta diskusi yang berkembang dari peserta ekspose, maka hasil ekspose dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengelolaan hutan harus dilaksanakan secara terpadu dan perlu ada kolaborasi oleh para pihak dalam mewujudkan pembangunan hutan lestari untuk menyejahterakan masyarakat.
2. Perubahan paradigma pembangunan kehutanan Indonesia membuka peluang bisnis di bidang kehutanan oleh masyarakat.
3. Usaha pelestarian hutan dengan cara memberdayakan masyarakat sekitar hutan dapat dilaksanakan melalui pola insentif yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
4. Penelitian tentang keanekaragaman hayati terutama jenis endemik dan unggulan hendaknya tidak hanya sebatas eksplorasi, namun juga meliputi teknik budidaya yang mudah dipraktekkan oleh masyarakat. 5. Konservasi flora dan fauna secara ek situ merupakan salah satu strategi
konservasi keanekaragaman hayati.
1
STRATEGI REHABILITASI LAHAN DAN SISTEM KELEMBAGAAN
DALAM PENGENDALIAN BANJIR DAN LONGSOR
DI DAERAH TANGKAPAN AIR LIMBOTO
La ode Asir
Balai Penelitian Kehutanan Manado
d/a : Jl. Raya Adipura Kelurahan Kima Atas Kecamatan Mapanget Kota Manado E- mail : [email protected] /[email protected]
RINGKASAN
Perubahan penutupan lahan di beberapa wilayah daerah tangkapan air (DTA) Danau Limboto disebabkan tekanan masyarakat di areal hulu hingga hilir yang telah melakukan upaya usaha tani pada lereng-lereng yang curam dan tidak menerapkan kaidah konservasi tanah yang baik. Sehingga kejadian banjir yang berulang setiap tahunnya di beberapa daerah Provinsi Gorontalo mengakibatkan ribuan hektar lahan sawah, jagung, hortikultura di kota dan kabupaten terendam akibat musim hujan. Berdasarkan SK.328/Menhut-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, DAS Limboto dikategorikan sebagai salah satu dari 108 DAS prioritas di Indonesia, dengan isu utamanya adalah degradasi lahan yang sangat kritis menyebabkan pendangkalan Danau Limboto. Isu lain berupa non fisik adalah program pemerintah tentang pengelolaan DAS masih bersifat parsial, masing-masing institusi yang memiliki kepentingan saling tumpang tindih, konflik kepentingan, kurang membangun sistim kordinasi lintas sektor, rendahnya pendidikan masyarakat, dan rendahnya pendapatan sehingga penerapan teknologi konservasi tanah dan air menjadi sulit untuk dapat dilaksanakan. Oleh sebab itu upaya untuk mengatasinya harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan pembangunan yang menyeluruh dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan analisis permasalahan di DAS Limboto, maka perlu dilakukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan serta mendukung terbentuknya suatu lembaga koordinasi yang dapat mengatasi berbagai permasalahan dalam mewujudkan sistem tata air dan kelestarian Danau Limboto.
Kata kunci : Konservasi tanah, banjir, degradasi lahan, parsial, rehabilitasi, koordinasi
2 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011 I. PENDAHULUAN
Selain faktor alam, aktivitas masyarakat petani di daerah hulu sangat berperan sebagai penyebab timbulnya lahan-lahan kritis. Pada umumnya mereka memiliki pengetahuan yang rendah dan pendapatan yang rendah. Usaha pengelolaan lahan yang dilakukan dengan teknik dan input yang terbatas, mengakibatkan banyak lahan hutan menjadi lahan pertanian yang berdampak pada penurunan kualitas sistem hidrologi DAS, utamanya pada daerah hulu (upper catchment) dimana akan terjadi daur air yang tidak seimbang, erosi, banjir, longsor dan perubahan iklim yang dapat mempengaruhi stabilitas suatu wilayah secara luas. Masalah lain adalah bermukimnya manusia dan melakukan berbagai kegiatan di kawasan yang berupa dataran banjir (flood plain) suatu sungai.
Tanggal 19 Juni 2010, Danau Limboto meluap yang menyebabkan sedikitnya 262 rumah di kawasan bantaran Danau Limboto, Kel. Lekobalo, Kec. Kota Barat, Gorontalo terendam sedalam 1,5 meter dan 1.236 warganya mengungsi, (http://www.antaranews.com/, Rabu, 23 Juni 2010). Selanjutnya kejadian banjir bandang tanggal 13 September 2011 di Desa Masiaga Kec. Bone, Kab. Bone Bolango, Prov. Gorontalo DAS Bone Pantai mengakibatkan 2059 ha lahan sawah, jagung, hortikultura di kota dan kabupaten terendam akibat guyuran hujan mengguyur Gorontalo. Pada kondisi lain daerah-daerah yang mengalami banjir pada umumnya memiliki tanah subur serta menyimpan berbagai potensi dan kemudahan sehingga mempunyai daya tarik yang tinggi untuk dibudidayakan. Oleh karena itu, kota-kota besar serta pusat-pusat perdagangan dan kegiatan-kegiatan penting lainnya seperti kawasan industri, pariwisata, prasarana perhubungan dan sebagainya sebagian besar tumbuh dan berkembang di kawasan ini. Sebagai contoh, di Jepang sebanyak 49% jumlah penduduk dan 75% properti terletak di dataran banjir yang luasnya 10% luas daratan; sedangkan sisanya 51% jumlah penduduk dan hanya 25% properti yang berada di luar dataran banjir yang luasnya 90% luas daratan. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia juga berada di dataran banjir (Tabel 1).
3 Tabel 1. Kota-kota yang sebagian/ seluruhnya berada di dataran banjir
No Kota Sungai
1 Jakarta
Kanal,Tanjungan,Angke,Pesanggrahan,Grogol,Krukut, Cideng,Ciliwung,Cipinang,Sunter,Buaran,Jatikramat,Cak ung
2 Semarang Kali Garang / Kali semarang 3 Bandung Selatan Sungai Citarum Hulu 4 Surabaya Kali Brantas
5 Palembang Sungai Musi
6 Padang Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Air Dingin 7 Pekanbaru Sungai Siak
9 Jambi Sungai Batanghari
10 Medan Sungai Belawan, Deli, Babura, Percut, Kera 11 Banda Aceh Krueng Aceh
12 Pontianak Sungai Kapuas 13 Banjarmasin Sungai Barito 14 Samarinda Sungai Mahakam 15 Makassar Sungai Jeneberang 16 Gorontalo Sungai Bone, Bolango.
Sumber : Dirjen Sumber Daya Air, Departemen Pekerjaan Umum.
Masalah banjir berdampak sangat luas terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, sehinga memerlukan upaya yang terpadu dalam penanganannya. Hal ini terkait dengan paradigma baru dalam pembangunan dan penyelenggaraan otonomi daerah. Apalagi krisis ekonomi serta berbagai permasalahan yang ada semakin meningkat sejalan kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penyempurnaan terhadap kebijakan, strategi dan upaya penanganan masalah banjir yang ada, baik yang menyangkut aspek teknis maupun nonteknis.
Berdasarkan SK.328/Menhut-II/2009 tanggal 12 Juni 2009, daerah aliran sungai (DAS) Limboto dikategorikan sebagai salah satu dari 108 DAS Prioritas di Indonesia. Isu utama yang dialami DAS Limboto adalah degradasi lahan yang sangat kritis yang menyebabkan pendangkalan Danau Limboto. Kondisi daerah tangkapan air (catchment area) di kawasan hulu
4 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
(upper watershed), Danau Limboto ini telah banyak terjadi penggundulan hutan, dan praktek-praktek pengolahan tanah yang tidak sesuai dengan kaidah yang benar. Salah satu akibat yang ditimbulkan adalah terjadinya fluktuasi debit yang ekstrim yaitu pada musim hujan, air berlimpah, namun saat musim kemarau terjadi kekurangan air. Perbedaan debit air yang ada di sungai pada musim hujan dan pada musim kemarau itu menunjukkan kualitas lingkungan di DAS ini sudah sangat terganggu.
II. PERMASALAHAN DI DAS LIMBOTO
A.
Pendangkalan dan Penurunan Kualitas Air DanauPermasalahan biofisik utama yang terjadi di Danau Limboto seperti digambarkan dalam matrik adalah sebagai berikut:
Tubuh Air Lahan
D al am Kawasan H u ta n
1. Erosi tebing sungai yang tinggi 1.Pembakaran hutan, penebangan liar, peladangan berpindah, perambahan hutan termasuk pencurian kayu.
2. Tebal solum yang tipis dengan tingkat kelerengan yang curam (banyak tanah granit terbuka) menjadikan tanah mudah erosi dan longsor.
3. Sistem pengolahan lahan serta kawasan tidak menerapkan kaidah konservasi dan masih bersifat tradisional.
4. Pembukaan lahan dengan tanaman semusim.
5. Belum adanya batas dan aturan jalur hijau sepanjang DAS Lu ar Kawasan H u tan
1. Penguasaan jaring apung dan lahan sekitar pesisir bukan oleh masyarakat setempat namun juga oleh para oknum pejabat. 2. Tingginya angka
ketergantungan ekonomi pada kawasan danau berakibat rebutan kapling lahan pada tepian Danau Limboto 3. Erosi tebing sungai yang tinggi 4. Pendangkalan Danau Limboto 5. Kualitas air danau menurun 6. Produktifitas perikanan
menurun
7. Pertumbuhan eceng gondok
1. Penataan pemukiman penduduk yang tidak teratur
2. Tingginya laju pemukiman di bantaran sungai dan masyarakat yang bermukim di pesisir danau semakin masuk ke areal kawasan danau dan terjadi Okupasi tanah timbul di kawasan Danau Limboto oleh masyarakat
3. Tingginya angka eksploitasi kawasan berakibat penataan ruang yang semrawut. 4. Pemukiman masyarakat peladang sekitar
bantaran sungai.
5. Masalah sanitasi lingkungan. Ternak (sapi) yang digembalakan membuang kotoran disembarang tempat, sangat mengganggu
5
yang sangat tinggi karena eutrofikasi yang berlebih di Danau Limboto
8. Perilaku yang menjadikan sungai sebagai Tempat Pembuangan sampah.
jika dekat kawasan pemukiman
6. Banjir, terutama di wilayah sekitar Danau Limboto.
Permasalahan fisik lainnya adalah kualitas air danau menunjukkan beban pencemaran organik yang tinggi dari sumber aliran yang melalui kawasan perkotaan, seperti terlihat pada kandungan oksigen terlarut di Sungai Alo 0,77 mg/l, Sungai Biyonga 0,94 mg/l, dan kandungan total nitrogennya adalah 2,69 mg/l, sementara total fosfornya 1,44 mg/l. Akibat
eutrofikasi berbagai tanaman pengganggu tumbuh subur yang banyak
menyerap air dan dapat mempercepat pendangkalan danau.
Masukan bahan organik dan hara ini menyebabkan kondisi perairan danau menjadi subur, seperti terlihat dari hasil perhitungan Indeks Status Kesuburan yang menunjukkan perairan Danau Limboto termasuk kedalam kategori perairan eutrofik ke hypereutrofik. Hal ini sejalan dengan fakta di lapangan dimana tampak tumbuhan air dan fitoplankton sangat melimpah di Danau Limboto (LIPI, 2007) dalam Balihristi,(2009).
Gambar 1. Status trofik di Danau Limboto
Tingkat cemaran organik yang tinggi juga terindikasi dari kelimpahan biota benthik, khususnya dari kelas tubificidae yang tinggi di dasar perairan
6 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
danau. Kawasan pemukiman juga berkembang di lingkungan sekitar danau, bahkan di beberapa bagian tepian danau, pemukiman penduduk secara langsung bersentuhan dengan badan air danau (LIPI, 2007) dalam Balihristi, (2009). Meskipun demikian masalah pencemaran ini perlu mendapat perhatian khusus karena terdeteksinya kandungan logam merkuri dalam konsentrasi yang tinggi di badan perairan danau tersebut.
Gambar 2. Nilai indeks kimia Kirchoff di Danau Limboto
B.
BanjirMenurut BPDAS Bone Bolango (2010), bahwa telah terjadi pendangkalan danau setinggi 46,66 cm/tahun dan penyempitan danau sebesar 66,66 Ha dan terjadi penurunan muka air normal danau sebesar kurang lebih 1,75 cm/tahun. Penurunan daya tampung danau, menyebabkan terjadi banjir. Banjir terjadi setiap tahun di wilayah hilir selama tiga tahun terakhir dengan curah hujan yang relatif sama antara 1700-2000 mm/tahun.
Hasil analisis spasial menunjukan bahwa ratio limpasan permukan terhadap curah hujan di DAS Limboto, 29 % dalam kondisi sangat buruk (lebih dari 75 % CH menjadi limpasan). Sekitar 61,27 % dalam kondisi buruk (nilai rasio 50 – 75 %). Daerah–daerah dengan kondisi sangat buruk ini berpotensi banjir atau terjadi genangan jika terjadi hujan. Dari gambar 3 terlihat bahwa daerah DAS Limboto dalam kondisi sangat buruk terutama berada sekitar daerah cekungan Limboto. Fisiografi daerah tersebut sangat datar dengan tutupan lahan lebih dominan pertanian lahan kering dan
7 sawah. Ditambah lagi dengan muka air tanah yang dangkal sehingga laju infiltrasi relatif rendah. Tabel 2 menunjukan bahwa kondisi sangat buruk lebih banyak berasal dari Sub DAS Alo (1.288 Ha) dan Marissa (1.654 Ha). Kondisi buruk paling banyak terdapat di Sub DAS Pulubala (9.665 Ha) dan Molamahu (8.990 Ha).
Tabel 2. Luas kelas rasio run off terhadap CH di setiap Sub DAS
Sub DAS*
Kelas Rasio Limpasan Terhadap CH
0 - 25 % 25 - 50 % 50 - 75 % 75 - 100 % Total (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha)
Alo 0 0,00 2.207 19,58 7.776 68,99 1,.288 11,43 11.270 Batulayar 236 1,56 6.271 41,52 7.782 51,52 816 5,40 15.104 Biyonga Bulota 0 0,00 3.801 42,64 3.880 43,52 1.234 13,84 8.915 Marisa 0 0,00 2.800 37,14 3.085 40,92 1.654 21,94 7.539 Molamahu 8 0,07 3.792 29,63 8.990 70,25 7 0,06 12.797 Payunga 189 4,06 1.805 38,88 2.649 57,04 1 0,02 4.644 Pilolalenga 368 8,10 1.081 23,84 1.973 43,49 1.115 24,57 4.537 Pone 0 0,00 1.094 35,11 1.365 43,79 658 21,10 3.117 Pulubala 0 0,00 559 5,18 9.665 89,58 565 5,24 10.789 Tabongo 47 1,70 237 8,50 2.427 86,93 80 2,87 2.792 Talumelito 0 0,00 582 36,80 965 61,00 35 2,21 1.583 Tuladenggi 0 0,00 397 14,00 2.085 73,63 350 12,37 2.832 Grand Total 848 0,99 24,628 28,66 52.641 61,27 7.803 9,08 85.919 Ket: *) Tidak termasuk wilayah danau, Sumber : BPDAS Bone-Bolango,2007.
8 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
Gambar 3. Peta sebaran rasio limpasan terhadap curah hujan (hasil analisis) dan banjir bandang di Bone Bolango September 2011. (BPDAS Bone-Bolango, 2011). Perbedaan elevasi yang relatif rendah antara outlet Danau Limboto dengan outlet Sungai Topudu yang bertemu dengan Sungai Bolango (0,98 m) atau pun pertemuan antara Sungai Bolango dan Sungai Bone (1 m) sangat berpotensi terjadi arus balik jika terjadi debit aliran yang tinggi di Sungai Bone dan Sungai Bolango serta terjadi pasang di Teluk Tomini. Air dari DTA Sungai Bolango akan masuk ke Danau Limboto dan air dari DTA Danau Limboto tidak bisa keluar, akibatnya banjir akan menggenangi cekungan Limboto semakin luas.
C.
ErosiLaju pendangkalan danau akibat erosi dari lahan dan tebing-tebing sungai yang terbawa oleh aliran sungai ke danau ini sangat besar. Pada tahun 1932, rata-rata kedalaman Danau Limboto 30 meter dengan luas 7.000 Ha. Pada tahun 1955 kedalaman danau menurun menjadi 16 meter. Dalam tempo 30 tahun, (tahun 1961) rata-rata kedalaman Danau Limboto telah berkurang menjadi 10 meter dan luasnya menyusut menjadi 4.250 Ha. Pada tahun 1990 – 2008 kedalaman Danau Limboto rata-rata 2,5 meter dan luas yang tersisa 3.000 Ha. Jika kita hitung, maka tingkat penyusutan danau rata-rata mencapai 65,89 hektar/tahun. Kalau tidak ada upaya untuk mempertahankan kondisi yang memprihatinkan ini, maka diperkirakan
9 pada tahun 2025 Danau Limboto lenyap dari muka bumi Gorontalo. Pendangkalan ini selain dipicu oleh erosi sungai dan lahan, juga disebabkan oleh para nelayan yang selama bertahun-tahun membangun perangkap ikan yang menggunakan gundukan tanah dari darat serta batang-batang pohon. Hasil erosi tebing sungai banyak sekali ditemukan di lapangan, seperti gambar 4 di bawah ini.
Gambar 4. Hasil erosi tebing sungai di bagian hulu sub DAS Biyonga
Hasil Analisis spasial menunjukan bahwa sekitar 8,54 juta ton/tahun hasil sedimen masuk ke Danau Limboto. Hasil sedimen dari Sub DAS Alo, Molamahu dan Pulubala masuk ke cekungan limboto sebagai bagian dari Sub DAS Batulayar, sekitar 3,8 juta ton/tahun. Sub DAS bagian Utara yang berkontribusi sedimen ke Danau Limboto adalah Pone, Marisa, Biyonga, Talumelito dan Tuladenggi. Sedangkan dari selatan adalah Pilolalenga, Payunga dan Tabongo. Mengendap di danau sekitar 5,95 juta ton/tahun dan sisanya melayang ke Sungai Topudu dan bermuara di Teluk Tomini Hasil sedimen yang diberikan setiap sub DAS tersaji dalam Tabel 3.
Tabel 3. Hasil sedimen di setiap sub DAS di DAS Limboto
No Sub DAS Luas DAS (ha) Hasil erosi (juta ton/th) SDR (%) Hasil Sedimen (Juta ton/th) % 1 Alo 11.270 7,67 26,21 2,01 17,7 2 Batulayar 15.104 5,55 25,27 1,40 12,3 3 Biyonga Bulota 8.915 8,42 26,99 2,27 20,0
10 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011 No Sub DAS Luas DAS (ha) Hasil erosi (juta ton/th) SDR (%) Hasil Sedimen (Juta ton/th) % 4 Marisa 7.539 4,24 27,56 1,17 10,3 5 Molamahu 12.797 4,57 25,79 1,18 10,4 6 Payunga 4.644 2,18 29,28 0,64 5,6 7 Pilolalenga 4.537 1,51 29,36 0,44 3,9 8 Pone 3.117 1,19 30,78 0,37 3,2 9 Pulubala 10.789 2,30 26,35 0,61 5,3 10 Tabongo 2.792 1,17 31,20 0,36 3,2 11 Talumelito 1.583 1,34 33,50 0,45 4,0 12 Tuladenggi 2.832 1,53 31,15 0,48 4,2 Total 85.919 41,68 11,38 100,0
Sumber : BPDAS Bone-Bolango, 2007
Berdasarkan kelas erosi, wilayah DAS Limboto lebih didominasi oleh kelas sangat berat (29,28 %). Daerah ini memiliki tingkat erosi lebih dari 480 ton/ha/tahun. Paling banyak berada di Sub DAS Alo (4.513 ha), Biyonga Bulota (4.215 ha) dan Marisa (3.147 ha). Sekitar 19,59 % lahan DAS Limboto termasuk kategori berat (erosi lahan 180 – 480 Ton/ha/Tahun). Kategori ini paling banyak berasal dari Sub DAS Batulayar (4.032 ha). Peta kelas erosi di DAS Limboto dapat dilihat pada Gambar 5. Rekapitulasi luas kelas erosi tersaji tabel di bawah ini.
12 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
Tabel 4. Kelas erosi di setiap sub DAS di DAS Limboto
Sub DAS
Kelas Erosi Lahan
Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat Total (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) Alo 1.370 12,16 458 4,06 1.691 15,00 3.239 28,74 4.513 40,04 11.270 Batulayar 2.410 15,96 2.142 14.18 3.576 23,67 4.032 26,69 2.945 19,50 15.104 Biyonga Bulota 3.073 34,46 654 7,34 353 3,96 620 6,96 4.215 47,28 8.915 Marisa 2.698 35,79 302 4,01 507 6,72 885 11,74 3.147 41,74 7.539 Molamahu 4.002 31,27 1.806 14,11 1.758 13,74 2.421 18,92 2.811 21,96 12.797 Payunga 690 14,85 586 12,62 785 16,91 686 14,78 1.897 40,84 4.644 Pilolalenga 1.497 33,00 305 6,71 1.011 22,28 654 14,43 1.070 23,58 4.537 Pone 958 30,75 54 1,73 566 18,17 802 25,72 737 23,64 3.117 Pulubala 748 6,93 1.547 14,34 5.191 48,12 2.468 22,87 836 7,75 10.789 Tabongo 184 6,59 102 3,64 965 34,58 460 16,48 1.081 38,72 2.792 Talumelito 110 6,93 320 20,21 106 6,69 173 10,96 874 55,21 1.583 Tuladenggi 603 2,28 792 27,95 8 0,30 394 13,89 1.036 36,57 2.832 Total 18.342 21,35 9.066 10,55 16.517 19,22 16.834 19,59 25.160 29,28 85.919
Sumber : BPDAS Bone Bolango, 2007
11
13 Gambar 5. Sebaran kelas erosi di DAS Limboto (BPDAS, 2010)
Laju kerusakan lahan yang demikian pesatnya akhir-akhir ini menimbulkan pengaruh yang cukup signifikan sehingga luas hutan lindung mengalami penyusutan. Dibeberapa tempat di dalam kawasan hutan lindung banyak ditemukan kegiatan pertanian misalnya tanaman palawija, tanaman kelapa, kemiri dll. Luas lahan pertanian pada areal DTA Limboto telah mencapai 40,58%, selain itu perladangan liar dan penggembalaan liar masih terus berlangsung. Bekas penanaman jagung yang menimbulkan lahan kritis seperti pada gambar 6.
14 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
Gambar 6. Lahan Kritis bekas lahan pertanian di Sub DAS Biyonga bagian hulu. Berdasarkan klasifikasi hutan, sebagian besar daerah tangkapan air hujan pada DAS Limboto ternyata telah lama dilegalisasi menjadi Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang telah mendorong secara formal eksploitasi hutan secara besar-besaran sementara luas hutan di DAS Limboto hanya 14.893 hektar (16,37 % dari luas DAS) jauh di bawah persyaratan minimum (30 %). Kerusakan hutan memperbesar tingkat erosi tanah dan menyebabkan lahan-lahan yang ada menjadi kritis. Berdasarkan RTL-RLKT DAS Limboto (2004), tingkat erosi di DAS Limboto mencapai angka 9.902.588,12 ton/tahun atau rata-rata 108,81 ton/ha/tahun. Sedimentasi di Danau Limboto sebesar 0,438 mm/tahun. Luas lahan kritis mencapai angka 26.097 hektar lahan kritis terdiri dari 12.573 hektar lahan kritis di dalam kawasan hutan dan 13.524 hektar di luar kawasan hutan.
Kendala non fisik yang terjadi di banyak daerah di Indonesia termasuk di Gorontalo adalah belum ada Peraturan Pemerintah mengenai pembagian kewenangan dibidang kehutanan dengan dasar Undang-undang No. 22 Tahun 1999 namun telah dilaksanakan wewenang atas pengurusan hutan. Pengusahaan hutan dalam rangka otonomi diartikan bahwa setiap hutan dengan segala fungsinya (produksi, lindung dan konservasi) dapat menghasilkan uang dengan tetap berwawasan lingkungan dan tanpa merubah banyak fungsi hutan. Akan tetapi, sayang sekali yang pertama dilakukan adalah pengeluaran ijin pemanfaatan hasil hutan tanpa terlebih
15 dulu merancang program kehutanan menyeluruh sebagai panduan pengeluaran ijin tersebut.
D.
Permasalahan Non FisikBeberapa permasalahan non fisik yang di temukan di DAS Limboto adalah sebagai berikut :
1. Program pemerintah tentang pengelolaan DAS masih bersifat parsial, masing-masing institusi yang memiliki kepentingan saling tumpang tindih, konflik kepentingan, kurang membangun sistem koordinasi lintas sektor.
2. Rendahnya pendidikan masyarakat, dan rendahnya pendapatan sehingga penerapan teknologi konservasi tanah dan air menjadi sulit untuk dapat dilaksanakan.
3. Peran kelembagaan masyarakat tingkat desa dan kecamatan rendah.
4. Rendahnya koordinasi tingkat aparatur berwenang dalam melaksanakan pengawasan maupun penegakan hukum bagi yang melakukan perilaku menyimpang dalam merusak hutan/kawasan. 5. Tingkat kesadaran masyarakat kurang terhadap lingkungan.
6. Kurangnya peran serta seluruh pihak dalam mendorong gerakan konservasi, perlindungan, pengawasan, dan sebagainya.
7. Kurangnya koordinasi antar sektor/lintas sektor pemerintah.
E.
Strategi Pengelolaan DAS LimbotoDalam mengatasi permasalahan utama DAS Limboto, sesuai dengan analisis kondisi yang ada, maka perlu dibangun strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan melakukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan serta mewujudkan terbentuknya suatu lembaga koordinasi yang dapat menghimpun seluruh stakeholder terkait dalam mempertahankan umur Danau Limboto.
Strategi untuk pencapaian tujuan dalam pengelolaan DAS Limboto berbasis kelembagaan maupun rehabilitasi hutan dan lahan, yaitu :
Merumuskan faktor penting dalam pengelolaan secara terpadu di DAS Limboto, meliputi:
16 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
- Kebijakan dan regulasi ditingkat stakeholder terkait, yang berwawasan lingkungan sehingga memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
- Dukungan finansial baik dari APBN, APBD ataupun dari sumber lain untuk menjamin keberlangsungan program kegiatan konservasi dan rehabilitasi sumber daya air dan lahan baik bersifat fisik dan non fisik. Merumuskan aturan kelembagaan
- Terbentuknya lembaga yang bersifat lintas sektoral dan berperan sebagai koordinator stakeholder yang ada dalam catchment area DAS Limboto dengan meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kapasitas sumberdaya manusia sehingga dapat berperan lebih optimal secara terpadu.
- Melalui lembaga ini dapat mengkoordinir stakeholder yang ada dalam DAS Limboto untuk metetapkan aturan main bagi seluruh stakeholder yang berkepentingan dengan ekosistem DAS Limboto agar dapat berperan lebih jelas, masing-masing faham dengan tugas-tugasnya dalam mewujudkan sistem pengelolaan DAS yang berkelanjutan.
Merumuskan instrumen pengelolaan DAS Limboto, meliputi :
- Penilaian sumber daya air dan lahan sebagai alat untuk memahami antara sumber daya yang ada dengan tingkat kebutuhannya
- Perencanaan pengelolaan DAS terpadu yang mengkombinasikan rencana tata ruang wilayah (RTRW), pengelolaan dan penilaian resiko lingkungan, ekonomi dan sosial dengan partisipasi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan.
- Peningkatan efesiensi penggunaan air di setiap stakeholder melalui pengelolaan permintaan dan pemasokan air lebih optimal.
- Instrumen perubahan perilaku sosial melalui perumusan kurikulum pendidikan yang berbasiskan pengelolaan DAS sehingga muncul kesadaran dari masyarakat sendiri untuk menjaga ekosistem DAS agar tetap lestari.
- Instrumen Ekonomi, menjadikan DAS memiliki nilai secara ekonomi melalui mekanisme jasa lingkungan dan memberlakukan subsidi,
17 - Instrumen regulasi untuk mengontrol kualitas air, distribusi jumlah air, perencanaan penggunaan lahan dan perlindungan lingkungan sehingga memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi semua pihak.
- Resolusi konflik melaui manajemen konflik dan kebiasaan membangun konsensus untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. - Pertukaran data dan informasi antar stakeholder melalui satu sistem
manajemen informasi yang berifat terbuka.
Strategi pencapaian tujuan berbasiskan kegiatan RHL yang digunakan di kawasan daerah tangkap air Danau Limboto, dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu kegiatan vegetatif, sipil teknis berbasis lahan dan sipil teknis berbasis alur sungai. Penjelasan terhadap ketiga jenis kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
- Kegiatan vegetatif, melakukan penanaman kembali lahan-lahan kosong dengan tanaman lokal yang spesifik maupun jenis tanaman yang diadopsi dalam rangka meningkatkan daya resapan air hujan ke dalam tanah sehingga jumlah air yang menjadi limpasan permukaan dapat ditekan hingga pada jumlah yang diinginkan. Kegiatan ini dapat dilakukan jika tersedia lahan yang masih sesuai untuk dilakukan penanaman. Termasuk dalam jenis kegiatan ini adalah penanaman vegetasi jenis kayu-kayuan yang memliki perakaran cukup baik sebagai peresapan air, melalui kegiatan penghijauan dan reboisasi, agroforestry dan pengkayaan jenis rumput, pembuatan alur hijau dengan jarak sesuai dengan aturan di kanan-kiri sungai.
- Kegiatan sipil teknis berbasis lahan, merupakan kegiatan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah dan menampung air hujan di atas permukaan tanah sebelum menjadi limpasan permukaan yang masuk ke dalam aliran/sungai melalui bangunan-bangunan sipil teknis. Kegiatan ini bertujuan untuk meresapkan air hujan sampai dengan jumlah yang telah ditentukan. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pembuatan sumur resapan di kawasan pemukiman, pembuatan teras gulud, parit buntu/rorak, biopori dan embung.
18 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
- Kegiatan sipil teknis berbasis alur sungai terutama di bagian hulu; merupakan kegiatan untuk menahan/menampung air di badan air untuk waktu tertentu sehingga sedimen dan air mempunyai waktu untuk meresap, dan mengatur kebutuhan air sesuai dengan kebutuhan air untuk kebutuhan masyarakat dengan cara membuat bendung, gully
plug, dam penahan, dan dam pengendali. Selain menahan/menampung
air, kegiatan ini juga dapat memperpanjang waktu tempuh aliran sehingga dapat menurunkan debit puncak dari suatu sungai sehingga air tidak sampai dalam waktu yang bersamaan ke tempat di bagian hilir.
Ketiga kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan tersebut merupakan suatu bentuk kegiatan yang saling berurutan dengan logika sebagai berikut: jika kegiatan vegetasi sudah tidak mampu lagi menurunkan debit limpasan sampai dengan tingkat yang diinginkan, maka akan diterapkan kegiatan sipil teknis berbasis lahan sehingga prioritas di lahan-lahan kritis harus ada upaya kegiatan sipil teknis. Selanjutnya jika debit limpasan tidak dapat diresapkan atau ditahan di lahan maka kegiatan sipil teknis berbasis alur sungai di ordo sungai pertama, diterapkan untuk mengurangi debit puncak dari aliran. Ketiga jenis kegiatan tersebut harus disertai dengan kegiatan yang bersifat non biofisik yang mencakup aspek kelembagaan, penyuluhan, pemberdayaan dan pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan dan pembiyaannya.
Penetapan lokasi areal berbagai bentuk rehabilitasi lahan seperti kegiatan vegetasi tetap, penghijauan, agroforestry, teras gulud, strip rumput, rorak, dam penahan, dam pengendali, gully plug, dan embung dilakukan melalui identifikasi lokasi yang memungkinkan dengan mengacu pada Pedoman Teknis Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL/GERHAN) yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan tahun 2007.
19
III. KESIMPULAN
Kondisi DAS Limboto demikian menghawatirkan, sehingga perlu dilakukan upaya aksi dari berbagai pihak secara serius dalam mengatasi permasalahan yang ada. Permasalahan lahan kritis, erosi, banjir, pada daerah tangkapan air Limboto yang menyebabkan pendangkalan Danau Limboto hanya dapat diatasi dengan adanya kesamaan persepsi dan kerjasama institusi yang berada di hulu maupun di hilir, sehingga diperlukan adanya suatu lembaga yang dapat mengkoordinir secara terpadu dalam mewujudkan kelestarian Danau Limboto. Pendekatan kepada lembaga masyarakat melalui penyuluhan yang intensif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga mereka dapat dilibatkan dalam menyusun rencana, melaksanakan, dan mengevaluasi seluruh upaya rehabilitasi lahan. Dalam menentukan arah pembangunan yang berwawasan lingkungan di daerah tangkapan air Limboto maka perencanaan pengelolaan DAS terpadu yang mengkombinasikan rencana tata ruang wilayah (RTRW), pengelolaan dan penilaian resiko lingkungan, ekonomi dan sosial dengan partisipasi masyarakat perlu segera diwujudkan.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, 1995. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
BPDAS Bone Bolango. 2007. Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan DAS (RTK-RHL DAS) Wilayah Kerja BPDAS Bone Bolango. Buku II (Data Numerik)
BP DAS Bone Bolango, 2010. Penyusunan Pengelolaan DAS Limboto Terpadu. Gorontalo
Fahmuddin Agus Dkk, 2007. Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. Jakarta.
Irma Kusmawati (2006). Pendugaan erosi dan sedimentasi dengan menggunakan Model Geowepp (Studi Kasus DAS Limboto, Propinsi Gorontalo); tesis. Bandung: Institut Teknologi Bandung Program Studi Teknik Sumber Daya Air.
20 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Sumapapua, 2005. Ekositem Daerah Aliran Sungai Limboto. Makassar.
21
POLA INSENTIF EFEKTIF DALAM RANGKA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN
Kristian Mairi
Balai Penelitian Kehutanan Manado
Jl. Raya Adipura Kel. Kima Atas, Kec. Mapanget Manado 95119 Telp. (0431) 3666683, e-mail : [email protected]
RINGKASAN
Sampai saat ini kemiskinan dan keterbelakangan merupakan potret masyarakat desa di Indonesia khususnya yang berada di sekitar hutan. Padahal konsep pembangunan berkelanjutan telah dilakukan selama lebih dari setengah abad. Berdasarkan pengalaman penelitian di lapang, akar masalah kurang berhasilnya pembangunan di desa yang dilakukan selama ini adalah karena masyarakat sebagai target pembangunan tidak merasa memiliki hasil pembangunan tersebut sehingga cenderung acuh tak acuh pasca kegiatan. Padahal aset yang telah dibangun seharusnya dipelihara dan terus dikembangkan masyarakat desa secara mandiri untuk kemajuan masyarakat itu sendiri. Untuk itu maka dipandang perlu untuk merancang dan mengimplementasikan konsep pembangunan yang membumi, yang diharapkan dan dicintai oleh masyarakat itu sendiri. Konsep yang telah diujicobakan adalah konsep social engineering (rekayasa sosial) yaitu bagaimana seni merancang kegiatan di bidang kehutanan yang dapat mengatasi masalah-masalah sosial khususnya kemiskinan. Strategi yang diterapkan adalah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat desa yang sumberdayanya berasal atau berhubungan dengan keberadaan hutan. Salah satu sumberdaya hutan yang logis dan mudah dimengerti oleh masyarakat desa dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar adalah hasil air dari hutan. Contohnya misalnya pemanfaatan air di sungai untuk pengembangan mikrohidro elektrik (Kapasitas 10 – 30 KWH). Listrik merupakan salah satu kebutuhan vital dan mendasar bagi masyarakat dewasa ini. Contoh lain adalah pemanfaatan mata air untuk kebutuhan air bersih rumah tangga, irigasi dll. Dengan adanya hubungan/link fungsional yang nyata dan jelas manfaatnya antara eksistensi hutan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat maka secara otomatis masyarakat akan menjaga dan melestarikan hutan tersebut karena telah tercipta saling ketergantungan antara hutan dan kebutuhan dasar masyarakat desa.
22 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
Bila sudah tercipta kondisi demikian maka kegiatan penanaman pohon untuk rehabilitasi hutan dan lahan akan lebih berhasil. Disamping itu masyarakat akan melakukan penjagaan secara swakarsa terhadap ancaman penebangan liar. Dengan demikian maka kegiatan lain seperti social forestry, dinamisasi kelompok tani dll, akan terimplementasi dengan baik
Kata Kunci : Pemberdayaan, Mikrohidro Elektrik, Kelembagaan, Partisipasi
I. PENDAHULUAN
Sampai dengan saat ini kerusakan hutan yang terjadi seringkali menjadi ”tertuduh utama” dari terjadinya berbagai gangguan dalam sistem DAS seperti banjir, longsor, dan kekeringan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi hutan di berbagai daerah yang berada di hulu DAS dari hari ke hari semakin merosot baik dalam luas maupun kualitasnya. Berbagai masalah gangguan hutan seperti perambahan hutan, dan penebangan liar nampak terlihat di berbagai kawasan hutan.
Perambahan hutan merupakan masalah klasik yang terjadi khususnya pada kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan masyarakat. Perambahan untuk memenuhi kebutuhan lahan terutama dipicu oleh rendahnya pendapatan masyarakat. Pada masyarakat yang umumnya berpendidikan rendah, meningkatkan luas lahan garapan adalah cara yang paling mudah dilakukan untuk meningkatkan pendapatan.
Disamping perambahan hutan, gangguan terhadap hutan yang paling nyata adalah penebangan/pencurian kayu. Pada kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan masyarakat, penebangan liar merupakan gangguan yang umum terjadi. Manfaat ekonomis langsung dari hutan yang mudah dimengerti, dipahami, dan langsung dirasakan adalah kayu. Kayu yang diambil pada umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi seperti bahan bangunan dan kayu bakar. Tetapi tidak jarang pula pencurian kayu dilakukan untuk maksud dijual.
Salah satu penyebab utama yang ditengarai sebagai pemicu terjadinya tekanan masyarakat terhadap hutan adalah kemiskinan dan minimnya tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap upaya pelestarian fungsi hutan. Kemiskinan merupakan potret umum masyarakat
23 di bagian hulu di sekitar hutan. Aksesibilitas yang rendah, akses ke sumber-sumber perekonomian yang terbatas, dan pendidikan serta modal finansial yang pas-pasan merupakan karakteristik yang tergambar jelas. Dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rata-rata rendah, masyarakat terlihat sukar untuk menghindarkan diri dari ketergantungan sumber pendapatannya dari hutan dan lahan. Salah satu upaya yang diyakini efektif dalam rangka mengatasi masalah tersebut adalah dengan pemberdayaan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan.
Pada kenyatannya dilapangan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kehutanan masih lemah karena belum didukung oleh kelembagaan masyarakat yang kuat antara lain pengetahuan dan ketrampilan yang rendah, sistem pengorganisasian yang belum sempurna, kesulitan memperoleh modal dan akses pemasaran yang belum memadai. Padahal aspek kelembagaan mempunyai peranan sangat besar bagi kesuksesan pembangunan, hingga dapat dikatakan bahwa kegagalan pembangunan umumnya dikarenakan lemahnya kelembagaan yang ada termasuk di sektor kehutanan.
Dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri sebagai pelaku pembangunan kehutanan dimasa yang akan datang sebagaimana semangat dalam program Social Forestry maka hal yang sangat urgen dilakukan adalah membangun, memperkuat dan mengembangkan kelembagaan masyarakat yang terkait dengan pembangunan kehutanan.
Proses pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan upaya bagaimana masyarakat itu dapat mengenal dan merefleksikan permasalahannya sendiri, potensi diri dan lingkungannya serta memotivasi dalam mengembangkan potensi tersebut secara proporsional dengan cara/metode partisipatif.
II. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI MASA LALU
Sesungguhnya proses pemberdayan masyarakat di sekitar hutan dalam rangka pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia sudah dimulai sejak lama yang implementasinya dalam bentuk penghijauan, reboisasi dan rehabilitasi lahan kritis diberbagai Daerah Aliran Sungai (DAS) sejak tahun
24 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
PELITA I (1970-an). Semua program tersebut dimaksudkan supaya nilai-nilai pengelolaan hutan dan lahan dapat melembaga di masyarakat. Dari segi keproyekan sudah ribuan hektar lahan yang sudah direboisasi, dihijaukan dan direhabilitasi. Demikian juga pembinaan masyarakat, sudah ribuan orang dilatih dan disuluhkan nilai-nilai pengelolaan hutan dan lahan. Namun demikian isu dan permasalahan yang berkaitan dengan kelestarian hutan dan lahan masih saja menjadi isu atau problematik yang menarik untuk dibicarakan dan memerlukan penanganan tersendiri. Fenomena kerusakan hutan dan lahan dalam satuan DAS seperti kekeringan, banjir, erosi dan sedimentasi masih saja terjadi bahkan kecenderungannya meningkat. Data terakhir menunjukkan bahwa laju kerusakan hutan sebesar 1,6 juta ha/tahun jauh melebihi kemampuan untuk merehabilitasinya yang hanya sekitar 900.000 s/d 1,2 juta ha/tahun. Dari beberpa laporan menunjukkan bahwa:
1. tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolan hutan dan lahan masih rendah
2. banyak proyek-proyek yang keberhasilannya sulit dipertahankan
3. kebijakan antar pemerintah atau NGO sering tidak sejalan (conflik of
interest)
4. intervensi masyarakat terhadap lahan semakin ganas karena telah mamasuki zona lindung. Padahal undang-undang telah menegaskan bahwa setiap masyarakat atau lembaga yang mengelolah atau memanfaatkan sumberdaya alam diwajibkan untuk memelihara dan melakukan kegiatan konservasi tanah dan air.
Dari fenomena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa pengelolaan hutan dan lahan Indonesia belum melembaga dalam kehidupan masyarakat. Masih banyak pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak menerapkan konsep-konsep pengelolaan hutan lestari. Indikasi ini menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai pengelolaan hutan lestari masih rendah, belum diikuti oleh partisipasi masyarakat.
Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah strategi yang dilaksanakan selama ini kurang melibatkan masyarakat. Keterlibatan mereka dalam pengelolaan hutan menjadi terbatas bahkan di berbagai
25 lokasi menjadi hilang. Hal ini membuat masyarakat merasa asing terhadap lingkungan yang selama puluhan tahun digelutinya, bahkan di beberapa tempat kegiatan mereka di hutan dianggap ilegal. Lebih jauh lagi, rasa memiliki mereka terhadap hutan di sekelilingnya menghilang. Di berbagai daerah di Indonesia banyak terjadi konflik antara masyarakat dengan pihak swasta (HPH) dan BUMN (Perhutani, Inhutani), dan antara masyarakat dengan pemerintah berkaitan dengan pemanfaatan dan pemilikan hutan. Dampak dari keadaan ini adalah kerusakan hutan yang tak terkendali disamping itu kesejahteraan masyarakat juga tidak kunjung membaik.
Disamping itu paradigma yang berkembang dimasa lalu adalah bahwa problema pengelolaan hutan dan lahan bukanlah problema masyarakat akan tetapi merupakan problema pemerintah. Karena kegiatan yang dilakukan bersifat top down dan instruksional serta kurang memperhatikan faktor-faktor yang mendorong terjadinya proses pelembagaan baik dari aspek teknologi maupun dari aspek organisasi dan nilai yang menyertainya. Teknologi yang diintrodusir biasanya merupakan paket yang ditentukan dari pusat, demikian juga dalam penentuan organisasi kelompok tani peserta kegiatan proyek tertentu.
Untuk dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekaligus melindungi dan atau memperbaiki kondisi hutan yang telah rusak, oleh pemerintah sekarang ini lebih menekankan bentuk keterlibatan masyarakat secara luas dalam pengelolaan hutan dengan menjadikan mereka sebagai partner. Sehingga pada tahun 2003, berlokasi di Kalimantan Tengah, Pemerintah Indonesia c.q Departemen Kehutanan mencanangkan program nasional Social Forestry. Program ini diharapkan dapat mengurangi kerusakan hutan dan menjaga kelestarian hutan itu sendiri serta memberikan penghasilan dan sumber pangan bagi masyarakat setempat. Sebagai pilot percontohan telah dipilih 11 lokasi Social Forestry di seluruh Indonesia. Kesebelas lokasi tersebut mewakili berbagai tipe peruntukan hutan.
Social Forestry atau Perhutanan Sosial dapat didefinisikan sebagai
26 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
aktif didalamnya untuk mensejahterakan mereka dan sekaligus melestarikan atau memperbaiki hutan di sekelilingnya.
Dalam program Social Forestry ini, masyarakat akan dilibatkan dalam pengelolaan hutan dari perencanaan, pemanfaatan, dan pemasarannya. Masyarakat juga diberi hak untuk mengelola kawasan hutan dengan batasan-batasan tertentu. Menurut versi Departemen Kehutanan, Social
Forestry meliputi 3 aspek yaitu aspek kelola kawasan, kelola kelembagaan
dan kelola usaha/bisnis. Adanya aspek ‘kelola kelembagaan’ menunjukkan bahwa kelembagaan merupakan salah satu kunci penting keberhasilan pengelolaan hutan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kelembagaan ditingkat masyarakat sangat lemah karena banyak kelembagaan yang merupakan bentukan dari luar untuk penyaluran atau mendapatkan proyek. Karenanya banyak program, proyek ataupun bantuan dari luar yang bermaksud untuk membangun masyarakat desa berakhir dengan kegagalan. Sebagai contoh, IDT (Inpres Desa Tertinggal), PPPK (Proyek Pembangunan Kecamatan), Program Pembangunan Masyarakat Desa Hutan, PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri, dan sebagainya.
Dengan pengalaman tersebut, dalam pelaksanaan Social Forestry, perencanaan yang matang dan keterlibatan berbagai pihak sejak awal merupakan bagian penting dalam mengawali program ini. Pemerintah pusat menyediakan banyak dana untuk pembuatan Rencana Teknis Social
Forestry (RTSF). Dalam pembuatan RTSF, pemerintah pusat tidak lagi
memakai jasa konsultan namun dilakukan oleh masyarakat sendiri bersama instansi pemerintah daerah terkait, Perguruan Tinggi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka diberi pelatihan oleh tenaga ahli dari pusat dan didampingi dalam pelaksanaan pembuatan RTSF. Kelompok-kelompok dibentuk, merencanakan kegiatan yang mereka minati sesuai dengan kemampuan mereka dan nantinya akan melaksanakan kegiatan yang mereka rencanakan tersebut. Dikarenakan keterbatasan tenaga dari Pemerintah Pusat maka dipersiapkan tenaga-tenaga pendamping lokal untuk melanjutkan kegiatan lapangan.
27
III. TEKNIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pada tahap awal yang terpenting dilakukan adalah membangun fondasi sosial karena fondasi sosial merupakan kunci utama terhadap penumbuhan dan pembinaan masyarakat terhadap aspek-aspek yang lain. Oleh karena itu pendampingan sosial sebaiknya lebih dahulu dilakukan sebelum kegiatan pendampingan yang lain dalam rangka pemberdayan kelompok yang mandiri dalam mengelola sumberdaya hutan.
Dalam proses pemberdayaan juga terjadi proses belajar bersama dan berusaha bersama memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Berikut ini adalah proses pendampingan yang dapat dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat yang mandiri:
a. Membangun Kedekatan
Kedekatan antara pendamping dengan masyarakat sangat diperlukan dalam melakukan pendampingan. Hal ini dapat dipelajari dari pengalaman kegagalan dalam pembinaan masyarakat pedesaan yang pada umumnya gagal karena petugas hanya berkunjung beberapa saat saja bilamana ada kepentingan kemudian meninggalkan desa dan masyarakatnya. Oleh karena itu membangun kedekatan adalah sangat penting, dan berarti para pendamping harus tinggal bersama-sama masyarakat.
b. Membangun Pertemanan
Dalam tahap ini terjadi proses keakraban antara masyarakat dengan pemdamping. Hal ini bisa terjadi karena pendamping hidup bersama-sama masyarakat. Mewujudkan pertemanan bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu baik pendamping maupun masyarakat harus memahami prinsip-prinsip pertemanan. Prinsip-prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh P3AE-UI dkk. dalam pendampingan masyarakat antara lain adalah kesetaraan, demokrasi dan keadilan. Kesetaraan artinya semua individu mempunyai status atau derajat yang sama, tidak membeda-bedakan antara pendamping dengan masyarakat maupun antar individu di dalam masyarakat. Demokrasi artinya semua mempunyai hak yang sama, hak untuk mengemukanan pendapat, mengungkapkan permasalahan dan menyampaikan keinginan. Sedangkan
28 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
keadilan artinya mereka mempunyai kewajiban dan hak yang sama dalam memecahkan masalah dan mewujudkan keinginan bersama.
Suatu hal yang sangat perlu ditumbuhkembangkan dalam pertemanan adalah rasa saling senasib sepenanggungan, saling menjaga antara sesama teman, saling menghormati dan saling memberi toleransi. Senasib sepenanggungan karena mereka mempunyai permasalahan dan keinginan yang sama. Saling menjaga, saling menghormati dan saling memberi toleransi kerena pada dasarnya mereka terdiri dari individu-individu yang berbeda.
c. Membangun Kepercayaan
Kepercayaan tidak dapat dibangun hanya dengan janji-janji belaka. Akan tetapi kepercayaan dapat dibangun dengan cara menunjukan kenyataan bahwa apa yang diucapkan itulah yang kemudian dilakukan. Untuk itu dalam melakukan pendampingan hendaknya menghindari ucapan janji-janji, dan mengutamakan upaya berbuat bersama antara pendamping dan masyarakat. Membangun kepercayaan adalah sangat penting karena rasa saling percaya merupakan pilar utama dari semua interaksi antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Dengan rasa saling percaya kita dapat menciptakan kedekatan, keterbukaan, kerjasama, kelompok dan kelembagaan.
d. Membangun Keterbukaan
Keterbukaan diperlukan dalam mengungkapkan masalah yang dihadapi, keinginan yang diharapkan, potensi yang dimiliki dan kelemahan serta kekurangan yang ada. Keterbukaan ini tidak akan dapat dilakukan apabila sebelumnya tidak ada kedekatan dan rasa saling percaya.
Perlu disadari bahwa didalam pendampingan terkandung kegiatan identifikasi masalah dan potensi yang terdapat didalam masyarakat. Melalui membangun keterbukaan inilah sebenarnya proses identifikasi tersebut berjalan dan mengalir dengan sendirinya. Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan potensi yang diungkapkan oleh masyarakat dengan cara keterbukaan tadi, kemudian pendamping bersama-sama masyarakat dapat menarik kesimpulan bahwa sebenarnya mereka memiliki masalah yang
29 sama, keinginan yang sama pula, dan juga memiliki potensi yang dapat diberdayakan untuk mencapai keinginan bersama tersebut.
e. Membangun Kerjasama
Masing-masing individu dalam masyarakat pada tahap ini sudah mengetahui bahwa mereka memiliki masalah yang sama, keinginan yang sama pula, dan juga memiliki potensi yang dapat diberdayakan untuk mencapai keinginan bersama tersebut. Akan tetapi potensi yang mereka miliki tidak mungkin dapat diberdayakan untuk memecahkan masalah dan mencapai keinginan apabila potensi tersebut masih terpecah-pecah pada masing-masing individu.
Pada tahap inilah saatnya seluruh masyarakat bersama-sama pendamping memikirkan perlunya membangun kerjasama. Dalam membangun kerjasama ini mereka secara lebih nyata dituntut memahami dan melaksanakan prinsip-prinsip kesetaraan, demokrasi, keadilan, dan pertemanan yang meliputi rasa saling senasib sepenanggungan, saling menjaga antara sesama teman, saling menghormati dan saling memberi toleransi.
Setelah masyarakat memahami, mau dan mampu bekerjasama, maka kegiatan-kegiatan bermusyawarah mulai dapat dilakukan. Pertemuan-pertemuan untuk membahas masalah dan keinginan dalam pengelolaan kebun garapan di kawasan hutan dapat dijadwalkan secara berkala. Kemudian bagaimana melakukan kerjasama menggarap kebun dan bagaimana melakukan langkah-langkah untuk mendapatkan kepastian jaminan atas status pengelolaan lahan garapannya tersebut.
f. Membangun Kelompok
Kerjasama dengan berbagai aktivitasnya merupakan proses yang dinamis, oleh karena itu diperlukan wadah yang dapat menampung dinamika kerjasama tersebut. Pada status yang demikian perlu dibentuk kelompok sebagai wujud atau wadah dari interaksi atau kerjasama yang sudah dan sedang dibangun. Pembentukan kelompok-kelompok tersebut dimaksudkan agar kerjasama diantara anggota kelompok akan menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam pembentukan kelompok disamping
30 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
mempertimbangkan prinsip-prinsip yang telah disebutkan di atas, juga mempertimbangkan kesatuan lokasi garapan dan kesatuan lokasi tempat tinggal.
g. Membangun Kelembagaan
Kelembagaan merupakan kelanjutan dari kelompok yang telah dilengkapi dengan pranata-pranata atau aturan-aturan yang dibuat dan disepakati oleh anggota kelompok. Di samping itu kelompok yang sudah melembaga juga memiliki struktur kepengurusan sesuai dengan aturan-aturan yang telah disepakati para anggotanya. Dengan demikian mekanisme kerja kelompok menjadi lebih sistematis dan terpimpin. Suatu hal yang perlu dipahami dan ditekankan bahwa peran kepengurusan didalam membangun kelembagaan adalah mewakili, memfasilitasi dan melaksanakan kesepakatan atau kerjasama yang diputuskan oleh seluruh anggota kelompok.
Kelembagaan masyarakat dalam kaitannya dengan upaya pengelolaan lahan garapan di dalam kawasan hutan, bukan hanya sekedar bertujuan memenuhi persyaratan untuk mendapatkan kepastian jaminan dari pemerintah. Akan tetapi dalam membangun kelembagaan yang lebih penting adalah bagaimana mencapai kemandirian masyarakat dalam upaya pengelolaan hutan secara lestari dan menjadikan masyarakat lebih sejahtera.
Seluruh proses pendampingan masyarakat seperti telah diuraikan di atas sebaiknya dilakukan dengan konsep belajar bersama dan mengikuti arus perkembangan yang diinginkan masyarakat. Belajar bersama artinya baik pendamping maupun masyarakat dalam kegiatan ini tidak ada yang merasa lebih pintar, lebih tahu atau lebih mampu dari pada yang lain. Akan tetapi mereka sama-sama menyadari bahwa pendamping harus belajar dari masyarakat karena kenyataannya masyarakatlah yang lebih tahu tentang diri mereka sendiri, demikian juga masyarakat belajar dari pendamping karena kenyataannya pendamping lebih banyak mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah tentang ketentuan-ketentuan pengelolaan hutan oleh masyarakat. Demikian juga tentang hal-hal yang lain menyangkut
31 pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan, mereka saling belajar. Sedangkan mengikuti arus keinginan masyarakat pengertiannya adalah bahwa proses pendampingan yang dilakukan tidak membuat target-target tertentu yang dibatasi oleh waktu ataupun hasil yang harus dicapai dengan cara setengah dipaksakan. Karena praktek pendampingan yang dibatasi oleh waktu dan setengah dipaksakan banyak mengalami kegagalan, sebagaimana kebiasaan yang terjadi pada berbagai proyek pada masa lalu.
IV. PENGALAMAN LAPANGAN POLA INSENTIF EFEKTIF
Pengertian insentif menurut Hani Handoko yang dikutip oleh Anwar Prabu Mangkunegara (2000 : 89) sebagai berikut: “Insentif adalah untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam upaya mencapai tujuan-tujuan organisasi”. Malayu P. Hasibuan (2000 : 116) mendefinisikan insentif sebagai “Tambahan balas jasa yang diberikan kepada karyawan tertentu yang prestasinya diatas prestasi standar”. Dengan demikian maka insentif dapat bermakna sebagai suatu upaya untuk merangsang atau pun meotivasi orang agar mau melakukan sesuatu yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Terkait dengan pola insentif dalam rangka pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan maka pola-pola insentif yang pernah dilakukan dan diujicoba di lapangan adalah:
a) Pemberian upah harian kerja (HOK),
32 | Ekspose Hasil Litbang BPK Manado Tahun 2011
b) Instalasi air bersih untuk rumah penduduk,
Gambar 2. Instalasi air bersih bagi penduduk di sekitar hutan c) Bantuan ternak bergulir,
33 d) Kredit usaha tani,
e) Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH)
Gambar 4. Komponen PLTMH
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan bahwa metode insentif yang paling disukai oleh masyarakat adalah pemberian HOK dalam setiap tahapan kegiatan. Hal ini disebabkan oleh tiga alasan utama yaitu bahwa dengan pemberian HOK maka masyarakat langsung dapat menerima uang
cash jadi langsung manfaatnya:
- Bersifat langsung (unsur kepastian) - Bersifat individual
- Alat tukar universal
Namun kelemahan dari metode ini adalah bahwa setelah kegiatan/proyek selesai dan tidak ada lagi upah harian yang diperoleh masyarakat maka kegiatan tersebut terbengkalai dengan demikian kegiatan/proyek tidak berkelanjutan lagi sehingga bisa gagal khususnya terkait dengan penananam sampai pemeliharaan pohon.
Terkait dengan ke empat metode insentif diatas maka yang paling efektif agar kegiatan itu berkelanjutan dan dampak ikutannya (teori efek