• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keputusan Menteri Keuangan, 486/KMK.017/1996

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Keputusan Menteri Keuangan, 486/KMK.017/1996"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 486/KMK.017/1996

TENTANG

PERUSAHAAN PENJAMINAN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

a. bahwa untuk meningkatkan kemampuan pendanaan dan memperlancar kegiatan dunia usaha, diperlukan kesempatan yang lebih luas kepada dunia usaha dalam mengakses sumber-sumber pendanaan;

b. bahwa untuk itu, diperlukan peranan perusahaan penjaminan untuk mendukung perusahaan dalam memperoleh pembiayaan dari berbagai sumber pendanaan;

c. bahwa berhubung dengan itu, perlu menetapkan ketentuan mengenai perusahaan penjaminan, dalam Keputusan Menteri Keuangan.

Mengingat :

1. Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Staatsblad 1847 Nomor 23);

2. Keputusan Presiden Nomor 96/M Tahun 1993 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 388/M Tahun 1995;

MEMUTUSKAN : Menetapkan :

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUSAHAAN PENJAMINAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan:

a. Menteri adalah Menteri Keuangan;

b. Terjamin adalah pihak yang memperoleh penjaminan dari Perusahaan Penjaminan;

c. Penerima Jaminan adalah pihak yang berhak menerima pembayaran dari Perusahaan Penjaminan, apabila Terjamin tidak dapat memenuhi kewajiban perikatannya;

d. Perusahaan Penjaminan adalah badan usaha yang bergerak di bidang keuangan yang kegiatan usaha pokoknya melakukan usaha penjaminan;

e. Sertifikat Penjaminan adalah bukti persetujuan penjaminan dari Perusahaan Penjaminan kepada Terjamin;

BAB II BIDANG USAHA

Pasal 2

Perusahaan Penjaminan melakukan kegiatan dalam bentuk pemberian jasa penjaminan untuk menanggung pembayaran kewajiban keuangan Terjamin, apabila Terjamin tidak dapat memenuhi kewajiban perikatannya kepada Penerima Jaminan yang timbul dari transaksi:

(2)

a. kredit, yaitu penyediaan uang berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank atau badan usaha lain dengan pihak peminjam, yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan;

b. pembiayaan sewa guna usaha, pembiayaan anjak piutang, pembiayaan konsumen, dan pembiayaan dengan pola bagi hasil;

c. pembelian barang secara angsuran;

Pasal 3 (1)

Jasa penjaminan dari Perusahaan Penjaminan kepada Terjamin atas transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, diberikan dalam bentuk Sertifikat

Penjaminan.

(2)Sertifikat Penjaminan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang- kurangnya

memuat:

(3)

a. Nama dan alamat Perusahaan Penjaminan, Penerima Jaminan, dan Terjamin;

b. Syarat- syarat pemberian kredit atau transaksi lain yang dijamin;

c. Ketentuan dan persyaratan penjaminan, meliputi antara lain:

1) hak dan kewajiban Perusahaan Penjaminan, Penerima Jaminan, dan Terjamin;

2) jumlah, jangka waktu, dan ganti rugi

penjaminan;

3) tatacara pengajuan dan

perhitungan jumlah ganti rugi

penjaminan;

serta 4)

daluwarsa.

(3) Untuk memperoleh Sertifikat Penjaminan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), permohonan dapat diajukan kepada Perusahaan

Penjaminan secara langsung atau melalui Penerima Jaminan.

BAB III

TATA CARA PENDIRIAN DAN PERIZINAN Pasal 4

(1)Perusahaan Penjaminan berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas atau Koperasi.

(2)

Perusahaan Penjaminan harus secara jelas

mencantumkan dalam

anggaran dasarnya, kegiatan usaha penjaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.

Pasal 5

Jumlah modal disetor atau jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib Perusahaan Penjaminan ditetapkan sekurang- kurangnya sebesar Rp10.000.000.000 (sepuluh milyar rupiah).

Pasal 6

(4)

(1)Perusahaan Penjaminan wajib memperoleh izin usaha dari Menteri.

(2)Pemberian izin usaha Perusahaan Penjaminan dilakukan dalam 2 (dua) tahap:

a. persetujuan prinsip, yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian Perusahaan Penjaminan;

b. izin usaha, yaitu izin yang diberikan untuk melakukan usaha setelah persiapan sebagaimana dimaksud dalam huruf a selesai dilakukan.

(3)

Permohonan untuk mendapatkan persetujuan prinsip dan izin usaha Perusahaan

Penjaminan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan kepada Menteri dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.

(5)

(4)

Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dialamatkan kepada Direktorat Perbankan dan Usaha Jasa Pembiayaan, Gedung A Lantai 7, Jl. Dr. Wahidin No. 1, Jakarta Pusat.

Pasal 7

Permohonan untuk mendapatkan persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3), diajukan oleh calon pendiri dan dilampiri dengan:

a. rancangan anggaran dasar/akte pendirian Perusahaan Penjaminan yang sekurang-kurangnya memuat:

1)nama dan tempat

kedudukan;

2)lingkup kegiatan usaha;

3)permodalan;

4)kepemilikan;

5)wewenang, tanggung jawab, dan masa jabatan direksi/pengurus serta dewan komisaris;

a. daftar calon direksi/pengurus, dewan komisaris, dan calon pemegang saham disertai dengan:

1)identitas diri berupa

fotocopy Kartu Tanda

Penduduk (KTP) atau paspor;

2)daftar riwayat hidup bagi calon

direksi/pengurus dan dewan komisaris;

a. rencana susunan organisasi;

b. bukti setoran modal sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh per seratus) dari modal disetor minimum, dalam bentuk fotocopy bilyet deposito atas nama calon pendiri Perusahaan Penjaminan yang bersangkutan pada bank umum di Indonesia, dan telah dilegalisasi oleh bank yang bersangkutan.

(6)

Pasal 8

Persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a, berlaku untuk jangka waktu selama-lamanya 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal dikeluarkan persetujuan prinsip.

Pasal 9 (1)Permohonan untuk

mendapatkan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3), diajukan oleh direksi/pengurus dan sekurang-kurangnya dilampiri dengan:

(7)

a. anggaran dasar/akte pendirian yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang;

b. daftar susunan

direksi/pengurus dan

dewan komisaris disertai dengan fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau paspor dan daftar riwayat hidup;

c. susunan organisasi, termasuk susunan personalia;

d. bukti pelunasan modal disetor, dalam bentuk fotocopy bilyet deposito atas nama Perusahaan Penjaminan yang

bersangkutan pada

bank umum di Indonesia dan telah dilegalisasi oleh bank yang

bersangkutan;

e. bukti kesiapan operasional lainnya yang berupa:

1) bukti kepemilikan, penguasaan atau perjanjian sewa- menyewa gedung kantor;

2) neraca pembukaan Perusahaan Penjaminan;

3) contoh Sertifikat Penjaminan;

4)Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Perusahaan Penjaminan.

(2)

Izin usaha berlaku sejak tanggal ditetapkan oleh Menteri, dan selama perusahaan masih menjalankan kegiatan usahanya serta tidak melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 10 (1)Perusahaan

Penjaminan dapat membuka Kantor Cabang di seluruh wilayah negara Republik Indonesia.

(8)

(2) Untuk membuka Kantor Cabang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), terlebih dahulu harus memperoleh persetujuan dari Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.

(3)

Tata cara dan

persyaratan untuk memperoleh persetujuan pembukaan Kantor Cabang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),

ditetapkan oleh Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.

BAB IV PELAPORAN

Pasal 11 (1)Setiap Perusahaan

Penjaminan wajib menyampaikan kepada Menteri:

(9)

a. laporan operasional dan laporan keuangan secara semesteran selambat- lambatnya 1

(satu) bulan setelah semester yang

bersangkutan;

b. laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik selambat- lambatnya 3

(tiga) bulan setelah tahun buku berakhir.

(2)

Perusahaan

Penjaminan wajib mengumumkan Neraca dan Perhitungan

Laba/Rugi Singkat dalam 1 (satu) surat kabar harian selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun buku perusahaan berakhir.

(3)Bentuk dan tatacara penyampaian laporan sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1), diatur oleh Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.

Pasal 12

Setiap perubahan alamat kantor, pengurus, pemegang saham, dan anggaran dasar Perusahaan Penjaminan wajib dilaporkan kepada Menteri selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak perubahan tersebut dilakukan.

Pasal 13

Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dan Pasal 12 dialamatkan kepada Direktorat Perbankan dan Usaha Jasa Pembiayaan, Gedung A Lantai 7, Jl. Dr. Wahidin No. 1, Jakarta Pusat.

BAB V SANKSI

Pasal 14

(10)

(1)

Perusahaan

Penjaminan yang dalam melakukan kegiatannya

bertentangan dengan ketentuan dalam Keputusan ini, terlambat

menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 12, atau tidak aktif melakukan kegiatan usaha dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak memperoleh izin usaha, dapat dicabut Izin Usahanya.

(2)Pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan setelah:

a. diberikan peringatan tertulis kepada yang bersangkutan sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan tenggang waktu 2 (dua) bulan; dan b. dilakukan

pembekuan kegiatan.

(3)Selama masa pembekuan kegiatan sebagaimana

dimaksud dalam ayat (2) huruf b, Perusahaan

Penjaminan:

(11)

a. tidak

diperkenankan melakukan kegiatan penjaminan baru;

b. bertanggung jawab untuk

menyelesaikan segala

kewajiban termasuk kewajiban penjaminan yang telah dilakukan sebagaimana tercantum dalam Sertifikat Penjaminan.

(4)Pencabutan izin usaha dilakukan setelah Perusahaan Penjaminan menyelesaikan kewajiban sebagaimana

dimaksud dalam ayat 3 huruf b.

BAB VI

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 15

Bentuk hukum Perusahaan Penjaminan sebagaimana diatur dalam Keputusan ini tidak berlaku bagi Perusahaan Umum Pengembangan Keuangan Koperasi.

BAB VII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 16

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Juli 1996 MENTERI KEUANGAN, ttd

MAR'IE MUHAMMAD

(12)

Referensi

Dokumen terkait

(1) Pengeluaran mesin dan/atau peralatan pabrik dari EPTE ke dalam DPIL atau EPTE lainnya atau Kawasan Berikat dengan tujuan reparasi dan/atau dipinjamkan kepada perusahaan

Pengeluaran mesin dan/atau peralatan pabrik dari Kawasan Berikat kepada perusahaan industri yang berada di Kawasan Berikat Lainnya atau EPTE atau dalam Daerah Pabean Indonesia

Konsultan Pajak yang telah memiliki Sertifikat B berhak memberikan jasa di bidang perpajakan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan dalam melaksanakan hak dan memenuhi

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 42 TAHUN 1995 TENTANG BEA MASUK, BEA MASUK TAMBAHAN, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN

Perusahaan Pembiayaan, Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank yang telah memperoleh Izin Usaha dari Menteri atau telah melakukan kegiatan pembiayaan, tetap dapat

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) suatu kegiatan dinyatakan layak secara ekonomis untuk dibiayai, maka Menteri akan menetapkan persetujuan pembiayaan kegiatan dalam

(4) Bangunan atau tanah dengan bangunan yang dipakai sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf e seluruhnya tidak melebihi 20 % (dua puluh per seratus) bagi

Penggunaan jasa pihak ketiga dalam pengelolaan investasi Dana Pensiun atau pemanfaatan saran, pendapat, dorongan, dan hal- hal selain yang telah ditetapkan dalam Arahan Investasi