22 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Diagram Alir Penelitian
Diagram alir atau flowchart dapat memvisualisasikan tahapan proses penelitian yang dilakukan dari tahap pertama hingga tahap akhir. Diagram alir penelitian pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1.
CR < 0.1 ?
Ya
Tidak Mulai
Studi lapangan Tahap 1
Pendahuluan
Tahap 2
Pengumpulan Data
Tahap 3 Pengolahan Data
Perumusan masalah
Penentuan kriteria WHATs dan HOWs
Penyusunan dan Penyebaran kuesioner
Penyusunan matriks perbandingan berpasangan
kriteria WHATs Studi literatur
Perhitungan bobot kriteria WHATs dengan Fuzzy AHP
A B
Uji Konsistensi
23
Tahap 4
Analisis dan Pembahasan
Tahap 5
Kesimpulan dan Saran
Penyusunan matriks perbandingan berpasangan rating performance supplier Perhitungan derajat kepentingan
kriteria HOWs pada HOQ Penyusunan Relationship
Matrix pada HOQ
CR < 0.1 ?
Ya
Tidak
Perhitungan skor keseluruhan supplier
Analisa dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Selesai Penyusunan Technical Correlation pada HOQ
Perhitungan rating performance supplier dengan Fuzzy AHP
A B
Uji Konsistensi
Gambar 3.1 Diagram alir tahapan penelitian
24 3.2 Deskripsi Diagram Alir Penelitian
Deskripsi diagram alir penelitian menerangkan langkah-langkah penelitian mulai dari tahap pendahuluan hingga tahap kesimpulan dan saran. Deskripsi tersebut dijelaskan sebagai beriku:
3.2.1 Tahap Pendahuluan 1) Studi Lapangan
Sstudi lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi perusahaan dan menggali permasalahan yang sedang terjadi terkait proses pemilihan supplier. Dalam tahap ini, peneliti menggunakan teknik wawancara untuk mengetahui sistem proses pengadaan bahan baku yang berlangsung dan mendapatkan informasi yang dapat menunjang peneliti dalam melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan di PT.
Kencana Tiara Gemilang, Malang.
2) Studi Literatur
Tahap Studi literatur dilakukan peneliti untuk mencari dan mempelajari referensi serta teori-teori yang dapat digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan. Studi literatur yang digunakan berasal dari buku, jurnal ilmiah, dan penelitian tugas akhir yang sudah ada. Studi yang dilakukan oleh peneliti meliputi pemilihan supplier, Quality Function Deployment, dan Fuzzy Analytical Hierarchy Process.
3) Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dilakukan untuk menentukan pokok permasalahan yang ada dalam perusahaan. Tahap ini didapatkan dari hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti. Dalam studi kasus kali ini, permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan adalah adanya ketidaksesuaian kualitas bahan baku yang diberikan kepada supplier. Kemudian seringkali juga harga bahan baku yang diberikan oleh supplier kepada perusahaan tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.
25 3.2.2 Tahap Pengumpulan Data
1) Penentuan Kriteria WHATs dan HOWs
Kriteria WHATs diartikan sebagai apa yang dinginkan perusahaan dalam mendapatkan bahan baku dari supplier. Kemudian kriteria HOWs adalah kriteria yang digunakan untuk mengukur atau menilai performasi supplier, atau dengan kata lain kriteria HOWs digunakan untuk menjawab dari kriteria WHATs.
Penentuan kriteria tersebut diperoleh melalui wawancara dan diskusi dengan pihak perusahaan. Terdapat pedoman yang digunakan peneliti untuk menentukan kriteria WHATs dan HOWs bersama perusahaan, diantaranya:
Tabel 3.1 Pedoman kriteria berdasarkan literatur
Kriteria WHATs Kriteria HOWs
Quality
(Rajesh & Malliga, 2013)
Quality system certification (Rajesh & Malliga, 2013) Low defect rate (Ho, Xu, & Dey, 2010)
Service
(Rajesh & Malliga, 2013)
Experience level (Rajesh & Malliga, 2013) Techical Capability (Rajesh & Malliga, 2013) Attitude (Rajesh & Malliga, 2013)
Available of raw material (Safari, Fagheyi, Ahangari, Fathi,
& strategy, 2012) Cost
(Abdel-Basset et al., 2018)
Price (Sari et al., 2017)
Price fluctuation (Ho et al., 2010) Discount (Abdel-Basset et al., 2018) Delivery
(Rajesh & Malliga, 2013)
Geographical position (Rajesh & Malliga, 2013) Delivery Time (Jovanović & Delibašić, 2014) Flexibility
(Ho et al., 2010)
Term of payment (Perusahaan)
Complaint feedback (Jovanović & Delibašić, 2014) Special request (Perusahaan)
26 Penjelasan Kriteria
A) Quality
Kriteria quality digunakan sebagai pemilihan supplier berdasarkan kemampuan supplier memenuhi permintaan bahan baku sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Perusahaan akan memilih supplier dengan spesifikasi bahan baku yang sesuai dengan spesifikasi produk pada perusahaam, dimana spesifikasi produk tersebut dicantumkan dalam dokumen TDS (Technical Data Sheet). Kemudian, bagaimana kriteria ini dapat dinilai terdapat 2 poin diantaranya:
a) Quality system certification
Hal ini meliputi bagaimana perusahaan menilai kesesuaian bahan baku terhadap kompetensi sertifikat yang dimiliki oleh supplier. Sertifikat yang dimaksud adalah COA (Certificate of Analysis). COA adalah dokumen yang membuktikan dan menjelaskan bahwa produk tersebut telah melalui pengujian laboratorium terakreditasi sebelum dijual secara bebas.
Sehingga, serifikat ini berfungsi sebagai perusahaan untuk memastikan bahwa bahan baku yang didapat layak untuk digunakan pada proses produksi perusahaan.
b) Low defect rate
Hal ini dinilai berdasarkan seberapa sedikit tingkat produk cacat yang diberikan supplier kepada perusahaan dalam setiap pengirimannya.
B) Service
Kriteria service meliputi pelayanan yang diberikan oleh supplier. Perusahaan akan merasa nyaman apabila bekerjasama dengan supplier yang professional dan menunjukkan keseriusannya. Oleh karena itu, pelayanan supplier dapat dipertimbangkan oleh perusahaan melalui poin-poin sebagai berikut:
a) Experience level
Experience level mengenai tingkat pengalaman supplier dalam bermitra dengan perusahaan, atau berapa tahun supplier sudah didirikan. Karena semakin lama umur supplier berdiri, semakin professional supplier dalam berbisnis.
27 b) Techincal Capability
Technical Capability dapat dinilai perusahaan melalui dokumen legalitas supplier, yaitu seperti Ijin usaha dan NPWP. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan perusahaan terhadap supplier saat penjalanan kontrak berlangsung.
c) Attitude
Attitude merupakan salah satu faktor penting dalam berbisnis. Bagaimana sikap dan respon supplier terhadap customer (dalam hal ini adalah perusahaan) selama penjalanan kontrak atau pada saat perusahaan memesan bahan baku menjadi sebuah penilaian dalam berbisnis.
d) Available of raw material
Kriteria ini menilai supplier dari ketersediaan dan kapasitas yang dimiliki oleh supplier pada saat perusahaan akan memesan bahan baku.
C) Cost
Cost yang dimaksud adalah harga bahan baku yang ditawarkan oleh supplier kepada perusahaan. Tentunya perusahaan akan berminat kepada supplier yang menawarkan produknya dengan harga yang kompetitif. Bagaimana perusahaan dalam menilai penawaran harga yang kompetitif dapat dicerminkan dari 3 poin dibawah ini:
a) Price
Harga bahan baku biji plastik HDPE yang diinginkan perusahaan sesuai dengan harga pasar lokal saat ini yakni berkisar di Rp.17.500,00/kg b) Price fluctuation
Price fluctuation dinilai berdasarkan pergerakan harga produk dari supplier. Perusahaan akan memilih supplier yang mampu mempertahankan harga produknya dengan baik atau dengan kata lain flluktuasi harganya tidak terlalu tinggi.
c) Discount
Hal ini membahas mengenai penawaran diskon harga produk yang diberikan oleh supplier. Selain itu, diskon pengiriman yang ditawarkan oleh supplier juga menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan.
28 D) Delivery
Perusahaan memerlukan kriteria delivery sebagai kecepatan pengiriman oleh supplier dalam memenuhi order. Karena pengiriman bahan baku menjadi salah satu kunci ketepatan jadwal produksi pada perusahaan. Oleh karena itu kriteria ini dapat dinilai berdasarkan ketepatan waktu pengiriman dan lokasi geografis supplier, dengan penjelasan sebagai berikut.
a) Geographical location
Jarak dan lokasi supplier dengan perusahaan akan dinilai oleh perusahaan.
Karena hal tersebut akan berpengaruh pada waktu pengiriman dan biaya pengiriman yang akan ditanggung oleh perusahaan.
b) Delivery Time
Delivery time ditinjau dari ketepatan waktu pengiriman pesanan yang dilakukan oleh supplier. Seberapa sering supplier melakukan keterlambatan pengiriman pesanan selama penjalanan kontrak.
E) Flexibility
Kriteria fleksibilitas meliputi kemudahan atau keringanan yang diberikan oleh supplier kepada perusahaan. Baik melalui negosiasi di tengah perjalanan, maupun kesepakatan diawal kontrak. Bagaimana perusahaan dalam menilai kriteria fleksibilitas dapat ditinjau dari 3 poin sebagai berikut:
a) Term of payment
Kriteria ini dapat dinilai oleh perusahaan berdasarkan jangka waktu pembayaran yang diberikan supplier. Jangka waktu pembayaran yang diinginkan oleh perusahaan adalah 14 hari setelah bahan baku diterima oleh perusahaan.
b) Complaint feedback
Complaint feedback menilai kemampuan supplier dalam menangani keluhan dari perusahaan. Penilaian ini berupa bagaimana perusahaan mendapatkan umpan balik atas complain yang diajukan kepada supplier.
Komplain yang dimaksud bisa seperti harga yang tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dan adanya kecacatan biji plastik atau kapabilitas produk tidak sesuai dengan Certificate of Analysis produk
29 c) Special request
Special request yang dimaksud disini adalah, permintaan khusus yang diminta oleh perusahaan terhadap supplier seperti ketika perusahaan memesan bahan baku sebesar 1000kg untuk 1 bulan, apakah supplier dapat mengirimkan kepada perusahaan secara bertahap (2 kali pengiriman dalam sebulan) atau tidak.
2) Penyusunan dan Penyebaran Kuesioner
Pada kuesioner penelitian ini digunakan teknik Multiattribute Group Decision Making (MAGDM). Umumnya, praktik ini dilakukan dengan mengundang sekelompok ahli untuk mengevaluasi setiap atribut atau kriteria dari alternatif secara individual (Lin, Lee, Chang, & Ting, 2008). Kemudian hasil evaluasi para ahli akan diagregasi menjadi sebuah kesatuan penilaian. Cara ini dilihat memilik nilia evektivitas yang sangat baik jika dibandingkan oleh seorang ahli tunggal yang melakukan penilaian dalam permasalahan multi atribut.
Responden pertama dalam penelitian ini adalah manager supporting.
Manager Supporting melakukan riset dan memilih untuk supplier yang akan bekerja sama dan memastikan tim purchasing sudah melakukan tugasnya dengan baik. Manager Supporting memiliki pengalaman kerja pada posisinya selama 5 tahun. Kemudian responden kedua adalah Staff Purchasing. Tugas dari staff purchasing adalah melakukan pembelian bahan baku kepada supplier dan memastikan pembayaran dan pengiriman bahan baku tepat pada waktunya. Staff purchasing saat ini memiliki pengalaman kerja pada posisinya selama 6 tahun.
Kedua fungsi tersebut merupakan pihak internal perusahaan yang bertanggung jawab menangani proses pengadaan barang di perusahaan. Terlebih lagi dalam implementasi integrasi QFD dan Fuzzy AHP dalam lingkup pemilihan supplier, perusahaan adalah customer yang membeli keahlian teknis dari supplier.
Dan perusahaan yang akan menentukan supplier terbaik berdasarkan kriteria yang ada (Rajesh & Malliga, 2013). Sehinga kedua fungsi ini dianggap sebagai pihak yang expert (ahli) untuk memberikan bobot pada kriteria WHATs dan HOWs pada QFD.
30 Kuesioner dalam penelitian ini terdapat 3 bagian, dimana masing masing bagian memiliki tujuan yaitu:
a) Kuesioner bagian pertama, ditujukan untuk mengetahui nilai bobot kepentingan kriteria WHATs. Nilai bobot yang digunakan dalam pengukuran ini menggunakan skala 1 s/d 9 berdasarkan skala kepentingan Saaty (1990).
Kuesioner ini dibuat dengan konsep perbandingan berpasangan pada masing- masing kriteria, sehingga penilaian bobot sangat bergantung pada tingkat kebutuhan diantaranya. Data kuesioner ini nantinya akan digunakan sebagai salah satu input dalam pembuatan House of Quality.
b) Kuesioner bagian kedua, penyusunan dibuat berdasarkan konsep matriks hubungan (relationship matrix) dan matriks korelasi (technical correlation).
Hal ini guna mengidentifikasi hubungan atau relasi dari masing masing kriteria HOWs terhadap kriteria WHATs, dan memetakan korelasi antar kriteria HOWs. Skala pengukuran yang digunakan menggunakan skala Ficalora and Cohen (2009) seperti yang tertera pada tabel 2.2 dan 2.3. Hasil yang diperoleh dalam kuesioner ini akan digunakan untuk menghitung nilai bobot relatif dari kriteria HOWs pada Houes of Quality.
c) Kuesioner bagian ketiga, ditujukan untuk mengetahui rating performasi supplier dengan mempertimbangkan kriteria HOWs. Pengukuran dalam kuesioner ini dibuat berdasarkan nilai kepentingan Saaty (1990) yakni dengan skala 1 s/d 9. Hasil rating performasi supplier yang didapat dalam kuesioner ini, nantinya akan digunakan sebagai input dalam menentukan supplier terbaik
3.2.3 Tahap Pengolahan Data
1) Penyusunan matrik perbandingan berpasangan kriteria WHATs
Pada data kuesioner bagian pertama yang berupa penilaian decision maker terhadap tingkat kepentingan kriteria WHATs akan dibentuk menjadi matrkis perbandingan berpasangan. Kemudian menggabungkan penilaian responden pada matriks perbandingan berpasangan seperti persamaan 1.
31 2) Uji konsistensi kriteria WHATs
Uji konsistensi digunakan pada hasil kuesioner bagian pertama ditujukan untuk menguji tingkat konsistensi persepsi pengambil keputusan pada matriks perbandingan berpasangan kriteria WHATs. Syaratnya adalah CR (Consistency Ratio) ≤ 0,1. Apabila consistency ratio yang diperoleh > 0,1, maka hasil pengisian kuesioner dinyatakan tidak konsisten. Sehingga diperlukan penyebaran kuesioner kembali untuk mendapatkan hasil yang konsisten.
3) Perhitungan Bobot Kriteria WHATs dengan Fuzzy AHP
Tahapan ini dilakukan apabila penilaian kriteria WHATs oleh decision maker sudah konsisten. Hasil pembobotan yang telah diketahui akan dimasukkan kedalam matriks House of Quality (HOQ). Perhitungan bobot kriteria WHATs ini dilakukan dengan bantuan Microsoft Excel 2019 berdasarkan prosedur metode extend analysis sebagai berikut:
1. Membuat matriks keputusan fuzzy, dengan cara merubah penilaian skala linguistic AHP menjadi skala triangular fuzzy number sesuai dengan tabel 2.6 2. Menggabungkan penilaian responden dengan rata-rata geometrik pada matriks perbandingan berpasangan yang sudah dalam bentuk bilangan fuzzy ditujukan pada persamaan 10
3. Mendefinisikan nilai sintesis fuzzy untuk setiap kriteria berdasarkan persamaan 11
4. Menghtung degree of possibility untuk mendapatkan nilai keanggotaan dari setiap pasangan melalui persamaan 16
5. Membandingkan degree of possibility pada setiap matriks. Apabila fuzzy konveks lebih besar dari nilai k fuzzy, maka hitung degree of possibility dengan persamaan 17.
6. Menghitung nilai bobot vektor dengan persamaan 19, lalu normalisasikan menjadi bobot vekor non fuzzy untuk mendapatkan hasil bobot kriteria WHATs berdasarkan persamaan 20
32 4) Penyusunan relationship matrix pada HOQ
Penyusunan relationship matrix dibuat berdasarkan data kuesioner bagian kedua. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan kekuatan atau hubungan antar kedua matriks. Penentuan hubungannya dilakukan dengan cara mengaitkan hubungan masing-masing kriteria HOWs terhadap kriteria WHATs. Kemungkinan hubungan yang akan terjadi ialah: tidak ada hubungan (0), hubungan rendah (1), hubungan moderat (3), dan hubungan sangat tinggi (9). Hasil dari penilaian hubungan ini nantinya akan digunakan sebagai input dalam tahap penentuan derajat kepentingan kriteria HOWs.
5) Penyusunan technical correlation pada HOQ
Penyusunan technical correlation dibuat berdasarkan hasil pemetaan pada kuesioner bagian kedua. Pemetaan tersebut digunakan untuk mengetahui apakah ketergantungan yang ada mempengaruhi kemampuan item-item kriteria HOWs untuk memenuhi kebutuhan konsumen (perusahaan). Cara memetakan hubungan dan ketergantungan antar kriteria HOWs dilakukan berdasarkan simbol technical correlation yakni: korelasi positif sangat kuat, korelasi positif, tidak ada pengaruh, korelasi negatif sangat kuat, dan korelasi negatif.
6) Perhitungan Derajat Kepentingan Kriteria HOWs pada HOQ
Pada tahap ini digunakan data bobot kriteria WHATs dan nilai skala hubungan pada relationship matrix untuk menghitung derajat kepentingan kriteria HOWs, seperti yang ditunjukkan pada persamaan 20. Kemudian langkah berikutnya yakni menormalisasikan bobot kriteria HOWs dengan persamaan 21.
Hasil normaliasi bobot kriteria HOWs ini akan digunakan sebagai input dalam tahap perhitungan penentuan supplier terbaik.
7) Penyusunan matriks perbadingan berpasangan rating performance supplier Penyusunan matriks perbandingan berpasangan ini merupakan hasil dari data kuesioner bagian ketiga. Selanjutnya menggabungkan penilaian responden pada matriks perbandingan berpasangan rating performance supplier dengan persamaan 1.
33 8) Uji konsistensi rating performance supplier
Uji konsistensi digunakan pada hasil kuesioner bagian ketiga. Tujuannya untuk menguji tingkat konsistensi persepsi pengambil keputusan pada matriks perbandingan berpasangan rating performance supplier. Jika nilai CR ≤ 0,1 data dikatakan konsisten, dan apabila melebihi 0.1 maka diperlukan penyusunan dan penyebaran kuesioner bagian ketiga kembali untuk mendapatkan data yang konsisten.
9) Perhitungan rating performance supplier dengan Fuzzy AHP
Tahap ini dilakukan apabila penilaian performasi supplier oleh decision maker konsisten. Hasil pada tahap ini berupa nilai indeks kriteria HOWs terhadap setiap supplier. Kemudian hasil rating performance supplier akan digunakan sebagai pada tahap perhitungan skor keseluruhan supplier. Untuk mendapatkan nilai performasi supplier dilakukan dengan bantuan Microsoft Excel 2019 berdasarkan prosedur metode extend analysis sebagai berikut:
1. Merubah penilaian skala linguistic AHP menjadi skala triangular fuzzy number sesuai dengan tabel 2.6
2. Menggabungkan penilaian responden dengan rata-rata geometrik pada matriks perbandingan berpasangan yang sudah dalam bilangan fuzzy berdasarkan persamaan 10
3. Mendefinisikan nilai sintesis fuzzy berdasarkan persamaan 11
4. Mendapatkan nilai keanggotaan dari setiap pasangan dengan cara menghitung degree of possibility pada persamaan 16
5. Membandingkan degree of possibility pada setiap matriks. Jika fuzzy konveks lebih besar dari nilai k fuzzy, maka degree of possibility akan dihitung dengan persamaan 17.
6. Menghitung nilai bobot vektor dengan persamaan 19. Kemudian normalisasikan menjadi bobot vekor non fuzzy untuk mendapatkan urutan performasi supplier berdasarkan persamaan 20
34 10) Perhitungan skor keseluruhan supplier
Langkah terakhir adalah melakukan perhitungan skor keseluruhan supplier.
Perhitungan ini dilakukan dengan mengikuti persamaan 22, yakni mengalikan hasil rating performance supplier dengan derajat kepentingan kriteria HOWs. Hasil skor keseluruhan supplier yang didapat dijadikan sebagai penentuan supplier terbaik.
Semakin tinggi skornya, semakin baik supplier tersebut untuk dipilih
3.2.4 Tahap Analisa dan Pembahasan
Tahap ini merupakan analisis dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan.
Analisis dan pembahasan yang disajikan pada penelitian ini meliputi bobot kriteria mana yang menjadi prioritas bagi perusahaan dalam melakukan pemilihan supplier.
Kemudian sajian berikutnya ialah supplier mana yang terbaik dalam memasok biji plastik sesuai dengan mempertimbangkan prioritas kriteria yang dibutuhkan perusahaan.
3.2.5 Tahap Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan dan saran adalah tahap akhir pada penelitian ini. Kesimpulan ini sebagai jawaban dari latar belakang dan permasalahan yang ada dalam penelitian ini. Selanjutnya, peneliti juga akan memberikan saran terhadap pemilihan supplier pada penelitian ini dan pada penelitian selanjutnya.