Analisis Waktu Evakuasi berdasarkan Simulasi Tanggap Darurat, Perhitungan SFPE, dan Simulasi Software Pathfinder
Tita Ayu Pradita
1, Moch. Luqman Ashari
2, Lukman Handoko
3123Program Studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya 60111
*E-mail: [email protected]
Abstrak
Salah satu persyaratan penerapan K3 untuk menanggulangi bahaya pada proses pembangunan dan perbaikan kapal adalah adanya Emergency Response Plan yang efektif dan dapat mencakup seluruh skenario keadaan darurat.
Skenario ini dapat diwujudkan dengan pelaksanaan proses evakuasi seluruh pekerja untuk dapat keluar dari lambung kapal menuju ke tempat aman. Proses evakuasi dapat dilakukan dalam bentuk simulasi tanggap darurat, sehingga proses yang terjadi akan memiliki prosedur yang lebih kompleks. Dalam proses evakuasi, waktu evakuasi adalah nilai utama yang harus diperhatikan. Dimana proses evakuasi harus dapat dicapai dengan waktu yang singkat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui total waktu evakuasi yang diperoleh dari seluruh pekerja yang melaksanakan simulasi tanggap darurat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan proses simulasi tanggap darurat, perhitungan waktu evakuasi dan validasi menggunakan piranti lunak pathfinder. Hasil penilaian menunjukkan total waktu evakuasi berdasarkan simulasi tanggap darurat sebesar 7,91 menit, berdasarkan perhitungan sistematis sebesar 8,01 menit dan berdasarkan piranti lunak pathfinder sebesar 8,13 menit. Nilai persentase error antara simulasi tanggap darurat dengan perhitungan SFPE sebesar 2,1 % dan nilai persentase error untuk simulasi piranti lunak pathfinder dengan perhitungan SFPE sebesar 0,618%.
Kata Kunci: Rencana Tanggap Darurat, Evakuasi, Simulasi Tanggap Darurat, Waktu Evakuasi, Pathfinder Abstract
One of the requirements for implementing K3 to overcome hazards in the shipbuilding and repair process is the existence of an effective Emergency Response Plan that can cover all emergency scenarios. This scenario can be realized by implementing the evacuation process for all workers to be able to get out of the hull of the ship to a safe place. The evacuation process can be carried out in the form of an emergency response simulation so that the process that occurs will have more complex procedures. In the evacuation process, evacuation time is the main value that must be considered. Where the evacuation process must be achieved in a short time. The purpose of the study was to determine the total evacuation time obtained from all workers who carried out emergency response simulations. The method used in this research is based on the simulation process of emergency response, calculation of evacuation time, and validation using pathfinder software. The results of the assessment show that the total evacuation time based on emergency response simulation is 7.91 minutes, based on systematic calculations is 8.01 minutes, and based on pathfinder software is 8.13 minutes. The error percentage value between emergency response simulation and SFPE calculation is 2.1% and the error percentage value for pathfinder software simulation with SFPE calculation is 0.618%.
Keywords:Emergency Response Plan, Evacuation, Emergency Response Simulation, Evacuation Time, Pathfinder
1. PENDAHULUAN
PT. PAL Indonesia (Persero) merupakan salah satu perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia. Sebagai perusahaan yang berfokus pada bidang konstruksi, khususnya konstruksi pembangunan kapal, PT. PAL Indonesia harus memperhatikan penerapan K3 dengan sangat baik. Hal ini dikarenakan pada bidang konstruksi pembangunan kapal terdapat berbagai jenis pekerjaan yang kompleks dan berisiko tinggi. Menurut World Shipbuilding Statistics dalam (Sunaryo & Priandini, 2016) industri perkapalan merupakan salah satu industri konstruksi yang memiliki angka risiko kecelakaan yang cukup tinggi, mengingat banyaknya pekerjaan berisiko seperti pekerjaan pada ketinggian, ruang terbatas, pekerjaan panas, pekerjaan kelistrikan dan pekerjaan berisiko lainnya
Melakukan perencanaan dan penerapan K3 yang baik, salah satunya dapat dilakukan dengan adanya penerapan
Emergency Response Plan yang efektif sebagai bentuk penanggulangan bahaya. (International Labour Organization, 2019) pada sub klausul 3.5 poin 3.5.2 βEmergency preparednessβ menegaskan bahwa Emergency Response Plan harus tersedia untuk setiap kapal yang sedang dibangun atau diperbaiki, serta harus dapat mencakup seluruh skenario kejadian darurat yang mungkin dapat terjadi. Salah satu skenario keadaan darurat yang dapat dipertimbangkan adalah proses evakuasi pekerja yang harus keluar dari lambung kapal untuk mengevakuasi diri ketika terjadi suatu keadaaan darurat. Evakuasi adalah suatu upaya pemindahan orang atau kelompok penghuni yang dilakukan karena adanya suatu kondisi darurat yang memaksa individu atau kelompok individu tersebut melakukan pengungsian ke tempat yang aman. Salah satu standar perlindungan terhadap potensi bahaya adalah standard rencana evakuasi. (Harmanto et al., 2015)
Proses evakuasi dapat dilakukan dengan pelaksanaan simulasi tanggap darurat yang bertujuan untuk memberi gambaran nyata tentang proses evakuasi yang harus dilakukan oleh pekerja, selain itu simulasi tanggap darurat juga berguna untuk mengetahui estimasi waktu evakuasi yang dibutuhkan oleh pekerja dalam suatu skenario kejadian yang dianalisis berdasarkan hasil video dari proses tanggap darurat. Berdasarkan total waktu evakuasi yang dihasilkan dapat dilakukan validasi dengan penggunaan metode lain yaitu berdasarkan perhitungan sistematis dan juga dapat dilakukan dengan menggunakan software pathfinder. Sehingga dapat dilakukan perbaikan yang dapat menunjang optimalnya waktu evakuasi.
2. METODOLOGI
Penelitian ini dimulai dengan melakukan review pada hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko (IBRK) dengan menggunakan metode HIRARC yang telah dilakukan oleh perusahaan. Proses review dilakukan dengan melakukan pendataan terkait jenis dan jumlah dari setiap risiko yang muncul untuk dapat mengetahui jumlah risiko terbanyak. Dimana jumlah risiko terbanyak akan dijadikan sebagai skenario keadaan darurat dalam proses simulasi tanggap darurat.
Pada proses analisis waktu evakuasi dilakukan dengan menggunakan 3 metode, yaitu berdasarkan proses simulasi tanggap darurat, perhitungan sistematis menggunakan rumus SFPE 3th edition dan divalidasi dengan menggunakan software pathfinder. Pada proses simulasi tanggap darurat dapat diketahui jumlah penghuni yang terlibat pada saat proses evakuasi baik dari area main deck maupun below deck. Dari total penghuni yang didapatkan, akan digunakan untuk perhitungan waktu evakuasi dengan menggunakan rumus Time for passage (tp) SFPE 3th edition dan juga digunakan pada saat proses simulasi menggunakan software pathfinder.
Perhitungan waktu evakuasi dilakukan dengan menggunakan rumus dan beberapa asumsi berdasarkan NFPA 101 Life Safety Code edisi tahun 2018 dan SFPE 3th edition 2016, berikut merupakan langkah untuk melakukan perhitungan waktu evakuasi:
1. Densitas (D)
Merupakan nilai kepadatan yang diperoleh berdasarkan data jumlah orang dengan luas area yang digunakan.
Dimana jumlah orang yang digunakan dapat melalui perhitungan ataupun jika diketahui secara pasti.
D =
2. Kecepatan perpindahan individual (S)
Merupakan kecepatan pergerakan manusia selama proses evakuasi berlangsung. Besarnya nilai k adalah 1,4 dan nilai a adalah 0,266m/detik.
π = π β πππ·
3. Specific flow of person (Fs)
Specific flow of person merupakan banyaknya orang yang melintasi titik pada exit route per unit waktu per unit lebar efektif (We).
πΉπ = π Γ π·
4. Calculated flow (Fc)
Perhitungan flow of person merupakan prediksi jumlah orang yang melintasi titik pada satu pintu exit Fc = πΉπ Γ ππ
5. Time for passage (tp)
Time for passage merupakan total waktu yang dibutuhkan N orang untuk melintasi titik pada satu pintu exit.
Tp =
Proses simulasi juga akan dilakukan dengan menggunakan software pathfinder. Tahap ini merupakan tahap untuk memvalidasi hasil perhitungan waktu evakuasi yang telah diperoleh dari proses simulasi tanggap darurat dan perhitungan menggunakan rumus SFPE. Pembuatan simulasi dimulai dari pembuatan geometri bangunan, menentukan jumlah occupant, menentukan occupant behavior, menentukan pintu keluar, tangga, dan emergency exit. Kemudian mengatur mode yang akan digunakan, baik mode steering ataupun SFPE.
Berdasarkan penelitian dan pengamatan mengenai waktu evakuasi pada bangunan bertingkat yang dituangkan dalam SFPE : Handbook of Fire Protection Engineering bagian 3 bab 13 mengenai Movement of People: The Evacuation Timing dijelaskan bahwa pada penelitian tersebut menghasilkan suatu grafik hipotesis mengenai hubungan antara jumlah lantai pada bangunan bertingkat dengan waktu yang diperlukan oleh penghuni terakhir untuk melakukan evakuasi, seperti terlihat pada gambar grafik dibawah ini.
Gambar 1. Hipotesis Waktu Evakuasi untuk Bangunan Bertingkat Sumber : SFPE Handbook of Fire Protection Engineering, 2002
Dari Gambar 1 tersebut dapat diketahui bahwa hasil dari total waktu evakuasi untuk bangunan dengan 2 lantai yaitu membutuhkan waktu 0,96 menit atau 58 detik.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil review IBRK, diketahui sebanyak 63 risiko dengan 246 kemungkinan kejadian teridentifikasi pada IBRK tahun 2020 Div. GE. Dimana risiko tertinggi terletak pada risiko tersengat listrik dengan total nilai 21 kemungkinan atau sebesar 8,53 % disusul dengan resiko cedera dengan nilai 18 kemungkinan kejadian atau sebesar 7,3 % dan dilanjutkan dengan risiko kebakaran dengan nilai 13 kemungkinan kejadian atau sebesar 5,3%.
Berdasarkan ketiga risiko tertinggi tersebut, dapat dikombinasikan sebagai suatu skenario pada simulasi tanggap darurat. Sehingga simulasi tanggap darurat dilakukan dengan skenario terjadinya kebakaran yang disertai dengan pengaktifan prosedur pemadaman aliran listrik, pemadaman api serta pelaksanaan prosedur P3K sebagai proses penanganan adanya cedera pada penghuni ketika melaksanakan proses evakuasi.
Proses simulasi tanggap darurat dilakukan oleh seluruh pekerja yang berada di area barge kapal BMPP baik di area below deck maupun area main deck pada saat jam kerja. Pada proses evakuasi ini, terdapat beberapa fasilitas jalur keluar yang digunakan, yaitu berupa 1 tangga yang berada di area below deck, platform kerja, jembatan, dan 1 tangga lain berada di luar barge kapal menuju halaman muster point. Simulasi tanggap darurat dilaksanakan dengan tanpa pemberitahuan dimulai sejak alarm bahaya di bunyikan dan tim tanggap darurat melakukan sweeping area.
Berdasarkan analisis video, diketahui sebanyak 108 penghuni keluar dari barge untuk melakukan evakuasi dengan sebanyak 14 penghuni berasal dari area below deck, dan 94 penghuni berasal dari area main deck. Hasil total waktu evakuasi dari proses simulasi tanggap darurat adalah sebesar 7,91 menit. Dimana total waktu evakuasi tersebut diperoleh berdasarkan waktu terlama dari penghuni terakhir yang meninggalkan tangga halaman untuk menuju ke muster point.
Proses perhitungan waktu evakuasi dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari proses simulasi tanggap darurat. Hal ini meliputi jumlah penghuni, posisi penghuni, jumlah dan jenis fasilitas keluar yang digunakan serta jalur keluar yang digunakan oleh para penghuni. Dengan menggunakan rumus perhitungan yang disediakan oleh SFPE 3th edition, maka total waktu evakuasi dari proses perhitungan waktu evakuasi adalah sebesar 8,08 menit.
Berikut merupakan gambar grafik total waktu evakuasi dari hasil perhitungan sistematis.
Setelah mendapatkan nilai total waktu evakuasi berdasarkan simulasi tanggap darurat dan perhitungan waktu evakuasi, dilakukan validasi untuk membuktikan sekaligus menguji ulang hasil waktu evakuasi yang diperoleh.
Simulasi dilakukan dengan menggunakan software Pathfinder yang dikembangkan oleh Thunderhead Engineering.
Simulasi ini juga dilakukan berdasarkan kondisi dalam simulasi tanggap darurat dan perhitungan time for passage (tp) yang dilakukan secara matematis. Mode yang digunakan pada simulasi ini merupakan mode steering + SFPE..
Sehingga kecepatan dan nilai fraksi kecepatan disesuaikan dengan hasil perhitungan SFPE dan proses simulasi
evakuasi tidak akan terjadi tabrakan karena memiliki collision handling Berikut merupakan gambaran proses simulasi dengan menggunakan software pathfinder.
Gambar 2. Proses Simulasi Software Pathfinder Sumber : Data yang diolah, 2021
Berdasarkan proses simulasi dengan menggunakan software pathfinder, total waktu evakuasi yang dihasilkan adalah sebesar 8,13 menit. Sehingga dari hasil total waktu evakuasi dengan menggunakan 3 metode, dapat diketahui nilai persentase error yang didapatkan dengan memperbandingkan antara hasil perhitungan dengan simulasi. Berikut merupakan nilai persentase error dari kedua proses simulasi.
Tabel 1. Nilai Persentase Error
No. Total Waktu Evakuasi Simulasi Persentase Error
1. Simulasi Tanggap Darurat 2.1
2. Simulasi Software Pathfinder 0.618 Sumber : Data primer yang diolah, 2021
Pada tabel 1 terlihat bahwa nilai persentase error dari proses simulasi tanggap darurat adalah sebesar 2.1%
,menandakan bahwa nilai keakuratan simulasi tersebut adalah sebesar 97,9% dan nilai persentase error dari proses simulasi dengan software pathfinder adalah sebesar 0.62 % dengan nilai keakuratan sebesar 99.38 %. Berdasarkan pada perolehan nilai persentase error hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Thunderhead Engineering, maka besarnya persentase error pada proses simulasi ini bisa diterima karena tidak jauh berbeda dan bahkan kurang dari ketiga hasil persentase error yang dilakukan oleh Thunderhead Engineering.
Sedangkan menurut grafik hipotesis terkait total waktu evakuasi untuk bangunan bertingkat, maka apabila diterapkan untuk proses simulasi pada penelitian ini akan sulit dicapai dikarenakan total waktu evakuasi untuk penghuni yang berada di area below deck mencapai main deck membutuhkan waktu yang lebih lama dari hasil hipotesis total waktu evakuasi untuk bangunan 2 lantai, Sehingga pemberian rekomendasi dilakukan untuk mengurangi total waktu evakuasi dari total waktu evakuasi sebelumnya. Dan rekomendasi diberikan berupa penambahan tangga darurat yang dapat digunakan ketika terjadi keadaan darurat. Peletakan tangga darurat berada diluar barge kapal, yang juga terhubung langsung dengan halaman muster point.
Penambahan tangga darurat dilakukan perhitungan total waktu evakuasi dengan menggunakan rumus yang sama, hanya berbeda pada jumlah orang yang akan melewati. Jumlah orang yang akan melalui tangga existing ataupun tangga darurat disesuaikan dengan lokasi pekerja saat dilakukan simulasi. Dimana pekerja akan cenderung mengarah untuk melalui tangga yang lebih dekat dari dirinya.
Penambahan tangga darurat diberikan dengan ukuran dimensi yang sama dengan tangga existing. Dan berdasarkan simulasi, maka jumlah orang yang akan melalui tangga existing adalah sebanyak 69 orang dan penghuni yang melalui tangga darurat adalah sebanyak 39 orang. Dari kedua tangga tersebut, waktu evakuasi penghuni ketika melalui tangga darurat adalah sebesar 5,54 menit dan ketika melalui tangga existing sebesar 3,9 menit. Sehingga waktu terlama yang dapat dicapai oleh pekerja adalah 5,54 menit. Total waktu evakuasi ini berkurang dari total waktu evakuasi sebelumnya yang mencapai 8,08 menit. Sehingga pemberian 2 tangga darurat dapat dipertimbangkan.
4. UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis menyadari dalam penyelesaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak. Pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada :
1. Bapak Moch Luqman Ashari, ST, MT., selaku dosen pembimbing I penulis 2. Bapak Lukman Handoko S.KM, M.T., selaku dosen pembimbing II penulis
3. Seluruh staff HSE dan pekerja pada proyek pembangunan kapal BMPP yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan simulasi tanggap darurat.Dan semua pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu oleh penulis.
5. KESIMPULAN
Total waktu evakuasi berdasarkan proses simulasi tanggap darurat didapatkan hasil sebesar 7,91 menit, berdasarkan perhitungan waktu evakuasi didapatkan hasil sebesar 8,08 menit, dan berdasarkan simulasi menggunakan software pathfinder didapatkan hasil sebesar 8,13 menit. Sedangkan nilai persentase error yang dihasilkan antara perhitungan sistematis dengan proses simulasi tanggap darurat adalah sebesar 2,1 % dan persentase error antara perhitungan sistematis dengan simulasi software pathfinder sebesar 0,618 %.
6. DAFTAR PUSTAKA
Harmanto, O., Widjasena, B., Keselamatan, B., & Masyarakat, F. K. (2015). Analisis Implementasi Sistem Evakuasi Pasien dalam Tanggap Darurat Bencana Kebakaran pada Gedung Bertingkat Di Rumah Sakit X Semarang. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal), 3(April), 555β562.
International Labour Organization. (2019). Safety and Health in Shipbuilding and Ship Repair.
https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/ed_dialogue/sector/documents/normativeinstrument/wcms_
618575.pdf
NFPA 101. (2018). Life Safety Code.
SFPE. (2016). Handbook of Fire Protection Engineering.
Sunaryo, & Priandini, R. Y. (2016). Analisis Kecelakaan Kerja Pada Galangan Kapal. Seminar Nasional Teknologi Dan Rekayasa, Sunaryo, Priandini, R. Y. (2016). Analisis Kecelakaan Kerja Pada Galangan Kapal. Seminar Nasional Teknologi Dan Rekayasa, 251β255., 251β255.
Thunderhead Engineering. (2014). Pathfinder User Manual. 3304(January), 1β148.