23 Upaya Guru Bimbingan dan Konseling (BK)
dalam Membimbing Belajar Siswa Oleh:
Baiturrahman Dosen STIT Jembrana
Abstrak
Proses pembelajaran atau transfer knowledge pada dasarnya memerlukan perangkat tambahan sebagai pendukung kelancaran pendidikan bagi para siswa. Namun tidak sesimpel itu lantas seorang guru dengan mudahnya dapat menginternalisasi keilmuan terhadap siswa. Seorang guru terutama guru PAI dianjurkan untuk terampil dalam membimbing serta mengkonselingi siswanya dalam pelaksanaan bimbingan pembelajaran. Tulisan sederhana ini mengurai tentang konsep kiat-kiat dalam membimbing pembelajaran siswa.
Kata kunci: Guru, Membimbing, Pembelajaran Siswa A. Pendahuluan
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrati manusia akan hidup bersama, antara manusia yang satu dengan yang lain dalam bentuk komunikasi. Menurut Prayitno (1995:11), “Manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak dapat hidup berkembang secara layak apabila ia hidup sendiri dan menyendiri”. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan bersamaan dengan proses interaksi atau komunikasi. Baik interaksi lingkungan, interaksi dengan sesamanya, maupun interaksi dengan Tuhannya.
Interaksi belajar mengajar yang ada di sekolah mengandung suatu arti bahwa, adanya kegiatan interaksi dari tenaga pengajar yang melaksanakan tugas mengajar, dengan anak didik (siswa) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar, akan sangat membantu berlangsungnya proses belajar mengajar. Dengan demikian, guru tersebut dapat mengarahkan dan membimbing siswa secara individu maupun secara kelompok. Hal ini tampak pada kegiatan guru Bimbingan dan Konseling untuk memberikan pemecahan masalah yang dihadapi siswa tersebut. “Dalam proses belajar mengajar pada
24 hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu kepenerima pesan” (Sadiman, 2005;11-12). Sesuai dengan tanggung jawab guru yaitu “bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik” (Djamarah, 2000;34-35). Maka, menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma kehidupan kepada anak didik agar tahu mana perbuatan yang susila dan perbuatan yang asusila.
Di dalam Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang, pendidik dan tenaga pendidikan menyebutkan bahwa „tenaga professional yang bertugas memecahkan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Oleh karena itu, seorang guru Bimbingan dan konseling harus mempunyai kemampuan dan pengalaman (professional dalam dunia pendidikan). Karena, seorang guru sebagai pendidik harus mampu dan melaksanakan tugas dan peranannya untuk mendidik, mengajar, serta melatih murid- muridnya. “Guru merupakan profesi atau jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru atau pendidik. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih dilakukan orang diluar kependidikan” (Usman, 2004: 6-7).
B. Guru Bimbingan dan Konseling (BK) 1. Pengertian Guru
Dalam kamus besar bahasa Indonesia edisi kedua 1991 yang dikutip oleh Muhibbin (1995:223) guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar.
Artinya, guru ialah seseorang yang pekerjaannya mengajar orang lain. Di dalam SISDIKNAS UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 39 tentang pendidik dan tenaga kependidikan menyebutkan bahwa
“pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas memecahkan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi” (Mulyasa, 2005:197-198).
25 Dalam pengertian yang sederhana menurut Djamarah (2000:31), guru adalah “orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sedangkan, Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan ditempat-tempat tertentu dan tidak harus dilaksanakan di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga dimasjid, disurau, dirumah dan sebagainya”. Mulyasa (2005:37), juga menegaskan “guru dapat diidentifikasikan sedikitnya 19 peran guru yakni guru sebagai pendidik, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembawa cerita, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, aktor, emansipator, evaluator, pengawet dan sebagai kulminator”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tugas dan fungsi guru dalam proses pendidikan disekolah (Madrasah) tidak hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan semata melainkan juga bertugas sebagai pendidik, pembimbing atau konselor, melatih serta mengevaluasi hasil belajar siswa.
2. Pengertian Guru Bimbingan dan Konseling (BK)
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah seorang guru yang berkedudukan sebagai koordinator bimbingan bila di sekolah tidak terdapat penyuluhan pendidikan (Winkel, 1992:
161). Dengan adanya hal tersebut, dimana tugas seorang guru Bk semakin kompleks, maka guru BK dituntut untuk lebih meningkatkan potensi pada dirinya baik dari segi intelektualnya, moral maupun kemampuannya. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam kitab Terjemah Ta‟lim Muta‟allim bahwa:
ِمْلِعْلا ُةَّل ِذُم ِوْيِف اَّمَع َزَّرَحَتَ يَو ٍعَمْطَم ِرْيَغ ىِف ٍعَمَّطل اِب ُوَسْفَ ن َّلِذُيَلا ْنَا ِمْلِعْلا ِلْىَلا ِ ْيِغَبْنَ يَو اًعِضاَوَ تُم ُنْوُكَيَو ِوِلْىَاَو ىِف َكِلَذ ُفَرْعُ يَو َكِل اَذَك ُةَّفِعْلاَو ِةَّل ِذُملْاَو ِرُّبَكَّتلا َنْيَ ب ُعُضاَوَّ تلاَو .
ِبْيِدَلاْاِب ُفْوُرْعَملْا ِمَلاْس ِلاْا ُنْكُر ُذاَتْسُلاْا َّلَج َلاْا ِماَم ِلاْا ُخْيَّشلْا َدَشْنَا ِقَلاْخَلاَا ِباَتِك ِوِسْفَ نِلاًرْعِ ِراَتْ ُملْا .
Artinya: “Dan seyogyanya bagi Ahli Ilmu, janganlah mempunyai sifat tamak (menginginkan sesuatu yang bukan semestinya).
Sebab, hanya akan menjadikan dirinya hina. Juga menjaga sesuatu yang dapat menyebabkan ilmu beserta ahlinya menjadi hina. Selanjutnya, hendaklah melakukan tawaduk
26 (rendah diri). Dalam kitab akhlaq diterangkan „tawaduk dan iffah, keduanya hampir sama pengertiannya, yaitu perilaku yang tengah-tengah antara sombong dan rendah diri” (Az Zarnuji, TT: 13-14).
Dalam Islam, guru mempunyai citra yang baik dihadapan peserta didik. Karena, guru BK dituntut untuk meningkatkan pelayanan, meningkatkan pengetahuan, memberikan arahan, dan dorongan kepada peserta didiknya. Guru BK dalam pelaksanaan bimbingan belajar siswa adalah bertujuan untuk mentransformasikan nilai-nilai agama kedalam pribadi peserta didik yang tekanan utamanya adalah mengubah sikap dan mental peserta didik kerah beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta mampu mengamalkan ajaran-ajaran agama. Selain itu juga, Guru BK bertujuan untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang di pikul olah peserta didik dengan teknik individual yakni direktif, non direktif maupun eklektif dan teknik kelompok yakni home room, karyawisata, diskusi kelompok, kegiatan kelompok dan lain-lain.
C. Upaya Guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Pelaksanaan Bimbingan Belajar Siswa
Adapun langkah-langkah yang digunakan oleh guru BK sebagai pembimbing dalam pelaksanaan bimbingan belajar siswa adalah sebagai berikut:
1) Langkah Pengumpulan data
Langkah ini bertujuan untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar siswa dan ini diperlukan banyak informasi.
Dalam pengumpulan data dapat dipergunakan berbagai metode diantaranya adalah: Obervasi, Kunjungan rumah, Case study, Case history, Daftar pribadi, Meneliti pekerjaan anak, Tugas kelompok, dan Melaksanakan tes.
2) Langkah pengolahan data
Langkah ni dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang nampak. Dalam langkah ini pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih mana yang terlebih dahulu mendapat bimbingan.
Adapun cara-cara dam pengolahan data adalah identifikasi kasus,
27 membandingkan antar kasus, membandingkan dengan hasil tes dan menarik kesimpulan.
3) Langkah diagnosa
Langkah untuk menetapkan jenis masalah yang dihadapi peserta didik beserta latar belakangnya. Dalam langkah ini kegiatan yang dilakukan ialah mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap anak, dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data, setelah data terkumpul kemudian ditetapkan masalah yang dihadapi beserta latar belakangnya
4) Langkah prognosa
Langkah untuk menetapkan jenis bimbingan apa yang dilaksanakan untuk menyelesaikan masalahnya. Langkah ini ditetapkan berdasarkan kesimpulan dalam langkah diagnosa yaitu ditetapkan permasalahannya dan latar belakangnya
5) Langkah treatmen (perlakuan)
Langkah pemberian bantuan bagi peserta didik yang mempunyai masalah (kesulitan belajar). Adapun bentuk bantuan yang dapat diberikan antara lain: melalui bimbingan kelompok atau melalui konseling individual bahkan jika diperlukan dapat berupa remedial teaching
6) Langkah evaluasi
Langkah dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh mana treatmen yang dilakukan, apakah sudah mencapai hasil yang diharapkan ataukah belum (Ahmadi, 1991: 91-95).
Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru BK diatas dapat dilakukan kepada peserta didik yang cepat dalam belajar, peserta didik yang lambat dalam belajar, dan peserta didik yang kreatif dalam belajar. Dengan adanya beberapa jenis sifat murid tersebut dapat mempengaruhi proses belajar dan dapat menimbulkan beberapa akibat tertentu di antaranya adalah peserta didik yang putus belajar (Drop – Out) dan berprestasi kurang (Underachiever).
28 D. Teori Bimbingan dan Konseling
1. Bimbingan dan Konseling a. Pengertian Bimbingan
Menurut Priyatno (1999:99), ”Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat di kembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Natawidjaya dalam Winkel (1997: 79), menyatakan Bimbingan adalah “proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan keadaan keluarga, sekolah dan masyarakat”. Dengan demikian, dapat mengecap kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang berarti. Bantuan disini tidak diartikan sebagai bantuan materiil (seperti uang, hadiah, sumbangan dan lain-lain) melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi pengembangan pribadi individu yang dibimbingnya. Purwanto, (1993: 169) mengatakan bahwa bimbingan (guidance) telah mencakup pengertian dari penyuluhan (counseling). Jadi, yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan.
Dari uraian di atas, dapatlah kita berikan batasan sebagai berikut: bimbingan dalah bantuan yang diberikan oleh konselor kepada individu untuk mengatasi kesulitan-kesulitan didalam kehidupannya agar individu itu dapat mencapi kesejahteraan hidupnya. Atau dengan kata lain bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh konselor kepada seseorang dalam usaha memecahkan kesukaran-kesukaran yang dialami.
b. Pengertian Konseling
Kata konseling (Counseling) berasal dari kata Counsel yang diambil dari bahasa latin yaitu Counsilium, artinya “bersama”
atau “bicara bersama” (Latipun, 2001:14). Sartono juga
29 menjelaskan konseling adalah bantuan yang diberikan kepada anak dalam memecahkan masalah-maslah kehidupan dengan wawancara yang dilakukan secara face to face, atau dengan cara- cara yang sesuai dengan keadaan klien yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya (1998:14).
Sesuai dengan pendapat Mulyasa (2004:41) bahwa, “Tugas guru adalah menetapkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya serta kompetensi apa yang mereka perlukan untuk dipelajari dalam mencapai tujuan“. Di lingkup sekolah, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) merupakan figur atau tokoh utama di sekolah yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh untuk meningkatkan kualitas peserta didik dalam bidang pendidikan agama Islam. Sesuai dengan Firman Allah SWT:
رٌرْ يِبَخ َنْوُلَمْعَ اَمِب ُااَو ٍ َجَرَد َمْلِعْلااوُ ْوُا َنْيِذَّلاَو ْمُكْنِم اْوُ نَمَا َنْيِذَّلا ُاا ِعَف ْرَ ي ...
.
( ولداجملا :
11 )
Artinya: “…Niscaya Allah akan mengangkat kamu orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa tingkatan.
Dan Allah Swt maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”
(Q.S Al Mujadilah:11). (Sai‟id, 1991:490).
Seperti yang terlukis dalam sabda Nabi SAW:
اًئْيَ ْمُىَرْوُجُأ ْنِم َكِلَذ ُصُقْ نَ يَلا ُوَعِبَ ْنَم ِرْوُجُأ ُلْثِم ِرْجَلأْا َنِم ُوَل َناَك ىًدُى ىَلِا اَعَد ْنَم ( ملسم هاور )
Artinya: “Barang siapa memberikan petunjuk kebaikan, maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya, daan tidak berkurang sedikitpun hal itu dari ganjaran orang tersebut” (HR.
Muslim)
Dilihat dari firman Allah SWT dan Hadis Nabi SAW di atas. Maka, besar peranan dan pengaruh pribadi guru terhadap anak didiknya. Karena, tugas-tugas guru dalam memberikan pengetahuan kepada anak didiknya sangatlah besar. Selain guru sebagai pengajar, juga sebagai pembimbing bagi anak didiknya.
30 2. Hubungan Bimbingan dan Konseling
Di atas telah diuraikan tentang pengertian bimbingan (Guidance) dan penyuluhan (Counseling). Maka, sekarang timbullah pertanyaan, bagaimanakah hubungan antara kedua pengertian tersebut? Dari uraian di atas, jelaslah bahwa counseling merupakan salah satu teknik layanan dari bimbingan.
Dengan demikian wawasan bimbingan lebih luas daripada konseling secara keseluruhan memberikan bantuan terhadap individual (face to face relationship). Selama ini, para ahli belum memiliki kata sepakat tentang hubungan antara bimbingan dan konseling tersebut. Blum dan Balinsky yang dikutip oleh Sartono (1998:17) berpendapat bahwa “Kedua pengertian istilah tersebut adalah identik atau sama saja, artinya tidak ada perbedaan yang fundamental antara guidance atau counseling”.
Sedangkan, Menurut Jones yang dikutip oleh Walgito (1993:5) memandang, “konseling merupakan salah satu teknik dari bimbingan, sehingga dengan pandangan ini maka pengertian bimbingan adalah pengertian yang lebih luas bila dibandingkan dengan konseling, dan konseling merupakan bagian dari bimbingan”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara bimbingan dan konseling itu sangat erat sekali.
Dari satu segi dapat kita lihat bahwa kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama yaitu proses pemberian bantuan terhadap seseorang atau sekelompok orang, dan dari segi yang lain konseling merupakan alat dalam pemberian bimbingan terhadap siswa. Namun demikian, konseling merupakan alat yang utama dan paling ampuh dalam keseluruhan program bimbingan atau dengan kata lain konseling merupakan titik sentral dari keseluruhan kegiatan bimbingan.
3. Tujuan Bimbingan dan Konseling
Sejalan dengan perkembangannya konsepsi bimbingan dan konseling, maka, tujuan bimbingan dan konselingpun mengalami perubahan dari yang sederhana sampai yang lebih komprehensif.
Menurut Priyatno (1999:114) tujuan bimbingan dan konseling yaitu:
a. Tujuan umum bimbingan dan konseling yaitu untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal
31 sesuai dengan tahap perkembangan yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakatnya). Berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.
b. Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah-masalah individu bermacam- macam ragam jenis, intensitas dan sangkut pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari individu lainnya.
Tujuan bimbingan yang dimaksud adalah tidak lain merupakan suatu yang ingin dicapai oleh bimbingan, sehingga upaya yang diharapkan dapat membantu siswa dalam menghadapi berbagai kesulitan atau problem. Jadi guru sebagai pembimbing dituntut untuk mengadakan pendekatan terhadap siswa. Baik berupa pendekatan instruksional maupun pendekatan yang bersifat pribadi.
Sesuai dengan pendapat Ahmadi (2005:110-111), bahwa tujuan bimbingan dan konseling bagi siswa adalah untuk membantu dalam memahami tingkah laku orang lain, membantu murid-murid supaya hidup dalam kehidupan yang seimbang antara aspek fisik, mental dan sosial, membantu proses sosialisasi dan sikap sensitive terhadap kebutuhan orang lain, membantu murid-murid untuk mengembangkan pemahaman diri (sesuai dengan kecakapan, minat, bakat, kecakapan belajar dan kesempatan yang ada), membantu murid-murid untuk mengembangkan motif-motif intrinsic dalam belajar sehingga dapat mencapai kemajuan yang berarti dan bertujuan, memberikan dorongan dalam (pengarahan diri, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan keterlibatan diri dalam proses pendidikan), mengembangkan nilai dan sikap secara menyeluruh serta perasaan sesuai dengan penerimaan diri (self acceptance), membantu murid-murid untuk memperoleh
32 keputusan pribadi dalam penyesuaian diri secara maksimal terhadap masyarakat.
4. Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
Upaya peningkatan taraf kehidupan bangsa diharapkan mampu menaikkan harkat dan martabat manusia, secara terus- menerus khususnya guru bimbingan dan konseling dituntut untuk bisa mendidik, mengajar, melatih dan juga mengarahkan siswanya kejalan yang benar. Dalam pelaksanaan bimbingan belajar siswa, guru harus mampu mempraktikkan teknik-teknik bimbingan baik secara individu maupun secara kelompok.
Adapun teknik-teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling terhadap siswa adalah sebagai berikut:
a. Teknik Konseling Individual 1) Directive Counseling 2) Non Directive Counseling 3) Eclective Counseling b) Teknik Bimbingan kelompok
1 Hom Room program 2 Karyawisata
3 Diskusi kelompok 4 Kegiatan kelompok 5 Organisasi murid 6 Sosiodrama
7 Psikodrama, dan Remedial Teaching (Ahmadi, 2004:
119).
a. Teknik Konseling Individual
1) Directive Counseling (tekhnik konseling secara langsung) Pendekatan ini dipelopori oleh E. G. William son dan J. G. Darley dikutip oleh Priyatno (1999:299) yang berasumsi dasar bahwa “klien tidak mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Karena itu, klien membutuhkan bantuan dari orang lain yaitu konselor.
Dalam konseling direktif ini klien bersifat pasif dan yang aktif adalah konselor”. Dengan demikian inisiatif dan peranan utama pemecahan masalah lebih banyak dilakukan oleh konselor. Menurut tokoh dari aliran Williamson yang
33 dikutip oleh Ahmadi (2004:120) menunjukkan alasan bahwa:
a. Anak yang belum matang mendiagnosis sendiri sukar memecahkan masalahnya, tanpa bantuan dari pihak lain yang berpengalaman.
b. Anak yang berkesulitan, sekalipun sudah diberi petunjuk apa yang harus dilakukan, mereka tidak mau dan tidak berani.
c. Mungkin ada masalah yang berat untuk dipecahkan oleh anak tanpa bantuan dengan orang lain.
Sukardi (1983:167), menyebutkan beberapa ciri dari teknik konseling yang secara langsung adalah, “konselor sebagian besar memikul tanggung jawab dalam berbagai keputusan yang diambil dan pemilihan pemecahan, konselor mengumpulkan berbagai data, fakta atau informasi mengenai masalah klien, klien menerima pendekatan ini secara langsung dari konselor, klien menentukan rencana pemecahan masalah yang akan datang dan mulai menyempurnakan keputusannya, dan konselor merekam serta melaporkan hasil proses konseling kepada klien agar klien dengan jelas mengetahui dan cara pemecahan masalahnya.”
2) Non Directive Counseling
Menurut Priyatno (1999:300) menjelaskan konseling non direktif merupakan “upaya bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien”. Melalui pendekatan ini klien diberi kesempatan untuk mengemukakan persoalan, perasaan dan pikirannya secara bebas. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasi masalahnya sendiri.
Dengan prosedur ini pelayanan bimbingan difokuskan pada anak yang bermasalah (klien) juga disebut dengan clien centeret counseling (Ahmadi 2004:120).
Sedangkan, Menurut Rogers yang dikutip oleh Priyatno (1999:300), “yang menjadi tanggungjawab klien untuk membangun dirinya adalah dirinya sendiri, salah satu prinsip yang penting dalam konseling non direktif adalah
34 mengupayakan agar klien mencapai kematangannya, produktif, merdeka, dan dapat menyesuaikan diri dengan baik‟.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, teknik ini yang memberikan suatu gambaran bahwa dalam proses konseling yang menjadi pusatnya adalah klien bukan konselornya. Oleh karena itu, dalam proses konseling ini aktivitas yang banyak dilakukan adalah dipundak klien itu sendiri dalam memecahkan masalah.
3) Eclective Counseling
Teknik ini merupakan gabungan antara teknik direktif dengan teknik non direktif. Karena, teknik eklektif ini lebih luwes (fleksibel) jika dibandingkan dengan kedua teknik tersebut. Dengan teknik eklektif, pelayanan tidak hanya dipusatkan kepada konselor ataupun klien. Tetapi, masalah yang dihadapinya itulah yang harus ditangani secara luwes dan terperinci. Menurut Prayitno (1987) yang dikutip oleh priyatno (1999:301), “konseling Direktif dan konseling non Direktif merupakan dua pendekatan yang amat berbeda yang satu lebih menekankan pada peranan konselor. Sedangkan, yang lain menekankan pada peranan klien itu sendiri”.
Jadi, peran konselor eklektif sangat ditentukan oleh pendekatan yang digunakan dalam proses konseling itu.
Beberapa ahli eklektif memberi pemahaman dan penekanan bahwa konselor perlu memberikan perhatian yang tinggi terhadap kliennya, menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan yang diinginkan oleh klien.
Karena, pada dasarnya seluruh pendekatan yang dilakukan oleh konselor eklektif ini berkeinginan untuk membantu klien mengubah dirinya sebagaimana yang dia alami.
Berdasarkan ketiga uraian teknik konseling di atas, supaya berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka teknik yang terbaik digunakan dalam proses konseling ini adalah harus disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kondisi dari klien, jenis-jenis masalah yang dihadapi, waktu yang tersedia untuk konseling dengan
35 kepribadian dan keterampilan yang dimiliki dari pihak konselor.
b. Teknik Bimbingan Secara Kelompok 1) Home Room program
Home room program merupakan kegiatan bimbingan yang dilakukan guru bersama murid didalam ruang kelas diluar jam pelajaran. Dalam kegiatan ini oleh pembimbing atau konselor sekolah dan murid dapat lebih dekat, seperti dalam situasi rumah. Kegiatan home room dapat pula digunakan sebagai suatu cara dalam bimbingan belajar, melalui kegiatan ini pembimbing atau konselor dan murid dapat berdiskusi berbagai aspek tentang belajar (Ahmadi, 2004: 121).
Pendapat tersebut menuntut bahwa, ahli bimbingan untuk lebih berfungsi sebagai pendidik dari pada sebagai pengajar, terutama dalam mengembangkan pribadi dan pergaulan sosialnya.
2) Karyawisata
Dalam bimbingan karyawisata merupakan cara yang banyak membantu sehingga relasi sosial positif dapat dikembangkan dengan baik. Karya wisata sebagai kegiatan kelompok yang bisa digunakan oleh anak misalnya bermain bersama, melaksanakan kebersihan bersama, rekreasi bersama dan piket bersama” (Ahmadi, 2004: 122).
Dengan karyawisata murid mendapat kesempatan meninjau obyek-obyek yang menarik dan mereka mendapat informasi yang lebih baik dari obyek itu. Disamping itu murid-murid mendapat kesempatan untuk memperoleh penyesuaian dalam kehidupan kelompok, misalnya dalam berorganisasi, kerja sama, rasa tanggung jawab, percaya pada diri sendiri. Juga dapat mengembangkan bakat dan cita-cita yang ada. Sebelum karyawisata dilaksanakan hendaknya guru telah memberikan orientasi umum mengenai objek yang akan dikunjungi dan mengadakan perencanaan yang matang mengenai pemilihan objek yang menarik dan ada hubungannya dengan pelajaran disekolah.
3) Diskusi kelompok
36 Diskusi kelompok merupakan cara dimana murid- murid akan mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suatu masalah.
Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggung jawab dan harga diri. Masalah-masalah yang mungkin dapat didiskusikan antara lain:
a. Masalah pergaulan dengan orang tua b. Kesukaran dalam belajar
c. Masalah kesiapan dalam melanjutkan pendidikan atau sekolah
d. Masalah penggunaan waktu senggang; dan
e. Masalah-masalah lain seperti persahabatan, masalah organisasi sekolah, dan sebagainya (Ahmadi, 2004: 122).
Beberapa masalah yang hendak didiskusikan hendaknya ditentukan oleh pembimbing itu sendiri, dengan merumuskan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing kelompok diskusi.
4) Kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok dapat sebagai teknik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berpartisipasi dengan sebaik-baiknya. Dengan kegiatan ini setiap anak mendapat kesempatan untuk menyumbangkan pikirannya, juga dapat mengembangkan rasa tanggung jawab. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan dapat dilakukan melalui kegiatan kelompok. Dengan kegiatan ini setiap anak mendapat kesempatan untuk menyumbangkan pikirannya, juga dapat mengembangkan rasa tanggungjawab.
(Ahmadi,2004: 122).
5) Organisasi murid
Kegiatan organisasi siswa misalnya OSIS sangat membantu dalam proses pembentukan anak, baik secara pribadi maupu sebagai anggota masyarakat. Dengan organisasi asas keseimbangan dapat dikembangkan dalam
37 pembentukan pribadi. Kemampuan pribadi dapat dikembangkan dengan baik, kesiapan sebagai anggota kelompok atau masyarakat dapat dikembangkan dengan baik pula (Ahmadi, 2004: 123).
Dalam organisasi murid, murid mendapat kesempatan untuk belajar mengenai berbagai aspek kehidupan sosial dan dapat mengembangkan bakat kepemimpinan disamping memupuk rasa tanggungjawab dan harga diri (Muhlis, 2000: 217).
6) Sosiodrama
Teknik sosiodrama adalah suatu cara dalam bimbingan yang memberikan kesempatan pada murid- murid untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku, atau penghayatan seseorang seperti yang dilakukan dalam hubungan sosial sehari-hari di masyarakat. Maka, dari itu sosiodrama dipergunakan dalam pemecahan masalah- masalah sosial yang mengganggu belajar dengan kegiatan drama sosial (Sukardi, 1983:160).
Tujuan penggunaan sosiodrama dalam bimbingan adalah:
a. Menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang dalam menghadapi situasi sosial.
b. Bagaimana menggambarkan cara memecahkan suatu masalah sosial.
c. Menumbuhkan dan mengembangkan sikap kritis terhadap tingkah laku yang harus atu jangan sampai diambil dalam situasi sosial tertentu saja.
d. Memberikan pengalaman atau penghayatan situasi tertentu.
e. Memberikan kesempatan untuk meninjau situasi sosial dari berbagai sudut pandang (Ahmadi, 2004:123 ).
Dalam kesempatan itu, siswa akan menghayati secara langsung situasi masalah yang dihadapinya, dari pementasan itu kemudian diadakan diskusi mengenai cara- cara pemecahan masalahnya.
7) Psikodrama, dan remedial teching
Psikodrama adalah teknik untuk memecahkan masalah-masalah psykis yang dialami oleh individu. Dengan
38 memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat dikurangi atau dihindarkan. Kepada sekelompok murid dikemukakan suatu cerita yang didalamnya tergambarkan adanya suatu ketegangan psykis yang dialami oleh individu. Kemudian murid-murid diminta untuk memainkn dimuka kelas. Bagi murid yang mengalami ketegangan, permainan dalam peranan itu dapat mengurangi ketegangannya ( Muchlis, 2000: 218 ).
Sedangkan, remedial teaching atau pengajaran perbaikan yaitu bentuk pengajaran yang diberikan kepada seorang murid untuk membantu memecahkan kesulitan belajar yang dihadapinya. Menurut Ahmadi (2004: 152),
“Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan singkat pengajaran yang membuat menjadi baik”.
Remedial teaching ini dapat berbentuk penambahan pelajaran, pengulangan kembali, latihan-latihan, penekanan aspek-aspek tertentu, tergantung dari jenis dan tingkat kesulitan belajar yang dialami murid. remedial teaching ini merupakan salah satu teknik memberikan bimbingan yang dapat diberikan secara kelompok ataupun individual tergantung dari kesulitannya. Teknik remedial ini dilaksanakan setelah diadakan diagnosa terhadap kesulitan yang dialami murid.
E. Penutup
Bimbingan merupakan faktor krusial dalam kesuksesan pembelajaran siswa. Dalam segala hal, siswa dituntut untuk fokus meraup ilmu namun di satu sisi seringkali mereka membutuhkan adanya bimbingan secara khusus, baik individu maupun kelompok guna menempatkannya pada kondisi efektif dan konsentrasi belajar.
Bimbingan dan konseling menjadi aspek yang perlu dimiliki oleh seorang guru dalam membina keilmuan dan karakter belajar siswa, terlebih bagi guru PAI.
Daftar Pustaka
39 Ahmadi, Abu, dan Widodo Supriyono, 1991, Psikologi Belajar, Jakarta, PT
Rineka Cipta
Az-Zarnuji, Asy-Syekh, TT, Pedoman Belajar Untuk Pelajar dan Santri, Surabaya:
PT Al-Hidayah
Djamarah, Syaiful Bahri, 2000, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta
Latipun, 2001, Psikologi Konseling, Malang: PT UMM
Mulyasa, 2005, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pem6elajaran Kreatif danMenyenangkan, Bandung: Remaja Roesdakarya
Prayitno, 1995, Layanan Bimbingan dan Konseling (Dasar dan Frofil), Jakarta;
Ghalia Indonesia (GI) .
Priyatno, Erman Anti, 1999, Dasar-Dasar dan Bimbingan, Jakarta: PT Rineka Cipta
Sartono, M.,Umar, 1998, Bimbingan dan Penyuluhan, Bandung: PT Pustaka Setia
Sukardi, Dewa Ketut, 1983, Bimbingan dan Penyuluhan, Surabaya: PT Usaha Nasional.
Syah, Muhibbin, 1995, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Usman Moh., Uzer, 2004, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Walgito, Bimo, 1993, Bimbingan dan Penyeluhan di Sekolah, Yogyakarta: PT Andi Offset.
Winkel, 1992, Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Pustaka Panjimas