• Tidak ada hasil yang ditemukan

WELCOME TO KOP APDI XVI 2015 BANDUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "WELCOME TO KOP APDI XVI 2015 BANDUNG"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

Edisi September 2015WELCOME TO KOPAPDI XVI 2015 BANDUNG

(2)
(3)

SUSUNAN REDAKSI:

Penanggung Jawab:

Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP

*Pemimpin Redaksi:

Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM

*Bidang Materi dan Editing:

Dr. Wismandari, SpPD, K-EMD, FINASIM;

Dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD, K-EMD, FINASIM; Dr. Alvin Tagor Harahap, SpPD;

Dr. Nadia A. Mulansari, SpPD; Amril, S SI

*Koresponden:

Cabang Jakarta, Cabang Jawa Barat, Cabang Surabaya, Cabang Yogyakarta, Cabang Sumut, Cabang Semarang,

Cabang Padang, Cabang Manado, Cabang Sumbagsel, Cabang Makassar,

Cabang Bali, Cabang Malang, Cabang Surakarta, Cabang Riau,

Cabang Kaltim, Cabang Kalbar, Cabang Dista Aceh, Cabang Kalselteng, Cabang Sulawesi Tengah, Cabang Banten,

Cabang Bogor, Cabang Purwokerto, Cabang Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau,

Cabang Gorontalo, Cabang Cirebon, Cabang Maluku, Cabang Tanah Papua, Cabang Maluku Utara, Cabang Bekasi, Cabang Nusa Tenggara Barat, Cabang Depok, Cabang Bengkulu, Cabang Sulawesi Tenggara

*Sekretariat:

sdr. M. Muchtar, sdr. Husni, sdr. M. Yunus, sdri. Oke Fitia, sdri. Normalita Sari,

sdri. Dilla Fitria, sdr. Supandi

*Alamat:

PB PAPDI, RUMAH PAPDI, Jl. Salemba I No.22-D, Kel. Kenari,

Kec. Senen, Jakarta Pusat 10430.

Telp: 021-31928025, 31928026, 31928027;

Fax Direct: 021-31928028, 31928027;

SMS 085695785909;

Email: [email protected];

Website: www.pbpapdi.org Sejawat nan terhormat,

W

aktu terus bergulir, tak terasa organisasi yang kita banggakan ini akan kembali mengadakan Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) XVI. PAPDI Cabang Jawa Barat selaku tuan rumah kon- gres siap menyukseskan KOPAPDI XVI yang akan diselenggarakan 9 – 13 September 2015, di Hotel Trans Luxury Bandung. Perhelatan akbar tiga tahunan ini momen yang ditunggu internis di seluruh Indonesia. Mereka akan tumpah ruah di Kota Bandung.

Karenanya, Majalah Halo Internis pada edisi ini mengangkat tema KOPAPDI XVI sebagai sorot utama. Sedikit kilas balik bagaimana PAPDI Cabang Jawa Barat berusaha menger- ahkan potensinya merebut tuan rumah kongres pada bidding KOPAPDI XV di Medan tiga tahun silam. Kemudian, persiapan yang telah dilakukan hingga hari pelaksanaan. Tak lupa, redaksi menurunkan profil Ketua PAPDI Cabang Jawa Barat DR. Dr. Arto Yuwono Soeroso, SpPD, K-P, FINASIM, FCCP, sosok penting di balik suksesnya kongres ini.

KOPAPDI XVI menandakan berakhirnya kepengurusan Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP, FRCPT Ketua Umum PB PAPDI periode 2012 – 2015. Sejatinya ketua baru, Prof. Idrus melanjutkan tradisi dari ketua sebelumnya.

Kemudian, bersama Sekretaris Jenderal Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM FACP dan pengurus lainnya, ia membawa PB PAPDI menjadi organisasi profesi yang lebih solid dan profesional. Di era Prof. Idrus, PAPDI dihadapi berbagai kendala, diantaranya mulai di berlakukan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), AFTA 2015, dan bebera- pa kebijakan yang kurang menguntungkan anggota PAPDI. Seperti apa langkah dan strate- gi mengatasi kendala tersebut, merupakan hal yang perlu disimak pada edisi ini.

Selain itu, pada edisi ini, kami juga menurunkan kabar terkini persiapan PB PAPDI selaku tuan rumah WCIM ke 33, yang akan berlangsung di Bali, 22 – 25 Agustus 2016. Dan keputusan-keputusan Konfe-

rensi Kerja PAPDI 2014 yang diantaranya calon tuan rumah KONKER 2017 dan KOPAPDI 2018. Seberapa besar per- siapan para kandidat calon tuan rumah untuk bidding di Konas Bandung, sejawat da- pat menyimak pada edisi ini

Kemudian, ada pula berita seputar kegiatan-kegiatan lain yang telah dilakukan PB PAPDI dan Cabang PAPDI.

Kami berharap edisi ini dapat menjadi referensi dalam melengkapi informasi seputar organisasi yang kita cintai ini.

Demikian sepatah kata dari redaksi.

BIDANG HUMAS PUBLIKASI DAN

PENGABDIAN

MASYARAKAT

(4)

3 ...SEKAPUR SIRIH

4 ...DAFTAR ISI

6 ...OM INTERNIZ

10 ...SOROT UTAMA Highlight: PB PAPDI Periode 2012 – 2015

15 ...Ketua Umum PB PAPDI 2012–2015 Pengabdian Tiada Batas

21 ...KABAR PAPDI Rakernas PB PAPDI dengan Semua Cabang:

Tetap Profesional Hingga Akhir Periode

23 ...Tim Adhoc Gratifikasi PB PAPDI Sponsorship untuk CME Bukan Gratifikasi

26 ...Tim Adhoc SJSN PB PAPDI Evaluasi JKN pada Layanan Penyakit Dalam

29 ...Dr. Muhammad Yusuf Hamra Evaluasi BPJS dalam Pelayanan Penyakit Dalam

di RSU Bahteramas

30 ...Dr. Dindin Hardiono Handim Pengelolaan BPJS di RS Budi Kemuliaan Bata

32 ...Tim Adhoc Mapping Need PB PAPDI Formulasi PAPDI Penuhi Kebutuhan Internis

34 ...Tim Adhoc Dokter Asing PB PAPDI Perketat Regulasi Dokter Asing

36 ...Tim Adhoc Adolescent PB PAPDI Kesehatan Remaja Bukan Sekadar Batas Yuridis

40 ...PNPK dan PPK PB PAPDI Panduan Standar Pelayanan Penyakit Dalam

7

19

42

SOROT UTAMA:

Satu Periode Kepengurusan Prof. Idrus

KONKER XIII PB PAPDI, Yogyakarta:

Tantangan Baru di Era JKN dan Globalisasi Dr. Sally Aman Nasution:

Dedikasi untuk Eksistensi PAPDI

(5)

44 ...KPK Gratifikasi, Kenali dan Hindari

46 ...Sidang Organisasi PAPDI Siap Menyongsong Era JKN dan Globalisasi

48 ...Calon-calon Tuan Rumah KOPAPDI XVII

52 ....Calon-calon Tuan Rumah KONKER PAPDI XIV

55 ...Malam Keakraban KONKER PAPDI XIII

56 ...DR Yusuf Huningkor Antisipasi Salah Satu Problem BPJS

58 ...Dr. IGP Suka Aryana Jakarta-Bali untuk Suksesnya Akreditasi

60 ...BERITA CABANG Antisipasi Salah Satu Problem BPJS

63 ...KOPAPDI XVI Bandung Perhelatan Akbar di Kota Kembang

65 DR. Arto Yuwono Soeroso

Mencintai Profesi dan Sukses Regenerasi

77

KABAR PAPDI

68 ...Ragam Wisata KOPAPDI XVI Bandung

70 ...KOPAPDI dari Masa ke Masa

73 ...KONVOKASI FINASIM Apresiasi Atas Profesionalisme

80 ...WCIM 2016 Bali Menanti Partisipasi Anggota PAPDI PIN XIII PB PAPDI:

Tingkatkan Kompetensi Demi Layanan Terbaik

82

OBITUARI: Prof. Guntur Hermawan

Dalam Kenangan Kerabat dan Sahabat

(6)

OO MM II NN TTEE RR NN

DIBUKA KANDIDAT KETUM PB PAPDI Periode 2015-2018

(7)

J

umat, dini hari, Ballroom Hotel Arya- duta, Medan masih terdengar riuh.

Tepuk tangan peserta rapat mengge- legar membelah malam ketika palu pimpinan sidang Dr. Bambang Setyohadi, SpPD, K-R, FINASIM diketuk menandai ter- pilihnya Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K- KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP sebagai Ketua Umum PB PAPDI periode 2012 – 2015. Hal tersebut adalah salah satu agenda sidang organisasi yang dihadiri del- egasi dari 36 cabang PAPDI dan undangan dari seluruh Indonesia pada Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) XV di Medan, Desember 2012 silam.

Kiprah Prof. Idrus, begitu biasa disapa, dalam mengembangkan PAPDI tak diragu- kan lagi. Mantan Ketua PAPDI Cabang Ja- karta Raya ini telah lama terlibat aktif di PAPDI, baik di cabang maupun di pusat. Ia paham betul persoalan-persoalan organi- sasi baik internal maupn eksternal PAPDI.

Di pentas nasional, Prof. Idrus cukup dike- nal di lingkungan Ikatan Dokter Indonesia, Konsil Kedokteran Indonesia dan Kemente- rian Kesehatan RI.

Untuk urusan akademik dan kompetensi, ia adalah pakarnya. Guru Besar FK UI ini sangat peduli dengan peningkatan kompe- tensi seorang internis. Kontribusinya dalam mengembangkan program continuing

Satu Periode

Kepengurusan Prof. Idrus

Kiprah Prof. Idrus, begitu biasa disapa, dalam mengem- bangkan PAPDI tak diragukan lagi. Mantan Ketua PAPDI Cabang Jakarta Raya ini telah lama terlibat aktif di PAPDI.

Ia paham betul persoalan-persoalan organisasi baik inter-

nal maupn eksternal PAPDI. Menurutnya kepengurusan PB

PAPDI mendatang harus lebih profesional. Program kerja

dibuat terukur beserta indikator-indikator keberhasilannya.

(8)

professionalism development (CPD) telah banyak dirasakan sejawat. Baginya, seo- rang dokter spesialis penyakit dalam wajib menambah dan memperbaharui keilmuan dan ketrampilan medisnya agar dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan optimal.

Wajar, bila sejawat memintanya maju men- jadi Ketua Umum PB PAPDI. Mantan Kepala Divisi Kardiologi Depar- temen Ilmu Penyakit Dalam RSCM/FKUI ini terpilih secara aklamasi menempati posisi no- mor satu di PB PAPDI.

Ia didukung oleh selu- ruh cabang PAPDI. “Te- man-teman mendorong saya menjadi ketua. Ini amanat yang besar, tanggung jawabnya be- rat, harus memimpin perhimpunan dengan jumlah anggota yang banyak dan memiliki cabang di seluruh Indo- nesia,” kata Prof. Idrus ketika dijumpai di ruang

kerjanya di Divisi Kardiologi RSCM/ FKUI, kilas balik tiga tahun silam.

Bak nakhoda sebuah kapal, Prof. Idrus paham betul kemana PAPDI hendak berla- buh. Namun Kendati demikian, mengawal organisasi profesi ini bukan perkara sepele.

Apalagi kala itu, PAPDI akan memasuki era Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Tepatnya, per satu Januari 2014 sis- tem kesehatan nasional beralih menjadi sis- tem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Sejatinya, sistem kesehatan yang baru, da- lam pelaksanaannya kerap ditemui berbagai kendala. “PAPDI mendukung SJSN, namun kami mesti mengawal sistem ini jangan sampai mengubah tatanan kesehatan men- jadi lebih buruk dan merugikan anggota,”

ungkapnya.

Kemudian, era globalisasi di sektor jasa kesehatan yang ditandai masuknya dokter asing dan investasi asing di bidang kesehat- an akan berdampak pada dokter secara umum. PAPDI mendukung sikap IDI yang menolak praktik dokter asing di Indonesia.

IDI berpandangan bahwa soal kesehatan merupakan bagian dari ketahanan nasional yang mesti dikelola secara mandiri, tidak dilepas ke pihak asing.“Dalam hal ini (dokter asing-red) sikap PAPDI mengikuti IDI,”

katanya.

PAPDI Lebih Profesional

Terpilih menjadi Ketua Umum PAPDI pe- riode 2012-2015, Prof. Idrus segera menen- tukan rencana strategis organisasi. Saat itu, ia berpikir PAPDI adalah organisasi profesi dengan jumlah anggota yang relatif besar dan memiliki cabang di seluruh daerah, ha- rus dikelola lebih professional. “Kepengu- rusan PB PAPDI mendatang lebih profe- sional. Program kerja dibuat terukur beserta indikator-indikator keberhasilannya,” ung- kapnya

Sejatinya sebuah organisasi, PAPDI membuat aturan main mengikuti prinsip- prinsip managemen. Di awal kepengurusan, Prof. Idrus dan Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP yang ditunjuk seba- gai Sekretaris Jenderal beserta jajaran pe- ngurus PB PAPDI mengadakan rencana strategis (renstra) untuk menyusun program kerja satu periode kepengurusan. “Kami merumuskan visi dan misi berdasarkan ang- garan dasar dan anggaran rumah tangga

organisasi. Kemudian, membuat program kerja sesuai dengan visi dan misi, beserta target dan tolak ukur keberhasilannya. Kami lakukan mengikuti kaidah-kaidah manage- men seperti layaknya sebuah perusahaan,”

kata penerima fellow dari ACP itu

Tak sampai di situ, menurut Prof. Idrus,

PB PAPDI harus dikelola layaknya sebuah perusahaan. Pengurus menentukan nilai-ni- lai organisasi yang mencerminkan karakter PAPDI. Ruh PAPDI tersebut tak lepas dari AD/ART yang dituangkan oleh founding fa- ther PAPDI dan kode etik kedokteran Indo- nesia (KODEKI).

“Tata nilai PAPDI yang ditetapkan ada- lah Profesional, Amanah, Peduli, Dedikasi, dan Integritas,” katanya

Prof. Idrus menambahkan, PB PAPDI pada periodenya fokus pada tiga pilar, yaitu pelayanan, peningkatan kompetensi dan pengabdian masyarakat. PAPDI berupaya melayani anggotanya mulai dari pengurus- an surat izin praktik (SIP) hingga memberi- kan bantuan hukum bagi anggota yang ter- kena kasus hukum dalam menjalani praktik.

PAPDI harus dirasakan manfaatnya oleh anggota, terutama anggota yang bertugas di daerah-daerah terpencil.

Peningkatan kompetensi anggota melalui program continuing professionalism deve- lopment (CPD). PB PAPDI menyelenggara- kan beberapa program CPD yang dikemas

Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP; pada KOPAPDI XV Medan.

(9)

apik, seperti Pertemuan Ilmiah Nasional yang digelar setiap tahun, roadshow ilmiah dengan beragam tema ke cabang-cabang PAPDI di daerah, dan lain-lain. Hampir setiap akhir pe- kan pengurus melakukan roadshow keliling ke cabang-cabang. Para pengurus yang pakar di bidangnya turun ke daerah-daerah, bahkan guru besar sekalipun. ”Kepengurus- an PB PAPDI saat ini, paling banyak mela- kukan roadshow. Pembicaranya dari pengu- rus PB PAPDI, para pakar hingga guru be- sar,” ujar Prof. Idrus seraya tersenyum.

Para anggota mesti meng up date kom- petensinya. Perkembangan kedokteran kian pesat. Setiap tahun ada hal-hal baru yang ditemukan. Bahkan guideline dapat berubah dalam waktu dekat. “Internis harus menam- bah keilmuannya agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan ter- hindar dari kasus medikolegal. Hal tersebut terkait dengan patient safety,” tambahnya.

Pilar terakhir, adalah pengadian masya- rakat. Keberadaan PAPDI mesti dapat dira- sakan oleh masyarakat. PB PAPDI menye- lenggarakan seminar kesehatan untuk ma- syarakat awam. Dalam menyambut Hari Ke- sehatan Nasional, Kemenkes RI bersama PB PAPDI menggelar seminar kesehatan untuk masyarakat awam. Hal tersebut juga dilakukan serentak di cabang-cabang PAP- DI di Indonesia. PB PAPDI aktif merespon isu-isu kesehatan yang sedang terjadi mela-

lui konferensi pers. Lewat media masa baik cetak maupun elektronik informasi tentang kesehatan dapat diterima oleh masyarakat luas. Dan PB PAPDI beserta cabangnya aktif memberi bantuan kesehatan kepada korban-korban bencana alam.

PB PAPDI Bersifat Fungsional

Beda pengurus beda pula tantangannya.

Hal serupa dialami PAPDI. Kepengurusan PB PAPDI dihadapkan berbagai persoalan, seperti memasuki era SJSN, menyambut AFTA 2015, gratifikasi, polemik kesehatan remaja, Surat Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia yang meniadakan jenjang sub- spesialis, timpangnya distribusi dokter pe- nyakit dalam di Indonesia dan lain-lain. Tan- tangan tersebut memberi pengaruh yang besar terhadap tatanan sistem kesehatan dan pendidikan kedokteran di Indonesia.

Tentu, perubahan tersebut harus lebih baik dari sudah ada dan tidak merugikan in- ternis. Dengan demikian, PB PAPDI mem- bentuk tim adhoc untuk mengkaji, memberi masukan serta mengevaluasi setiap per- soalan yang timbul dari kebijakan tersebut.

Pada periode ini, PB PAPDI membentuk li- ma tim adhoc, yaitu tim adhoc SJSN, map- ping need, Dokter Asing, Adolescent dan Gratifikasi. “Kepengurusan ini paling banyak

membentuk tim adhoc. Alhamdulillah, pada periode ini beberapa persoalan dapat dise- lesaikan sesuai harapan,” ujar suami DR.

Dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG(K) ini.

PPA APPD DII G Goo IInntteerrnnaattiioonnaall

Eksistensi PAPDI di tingkat Internasional terus menggeliat. Di tingkat regional, PAPDI berperan aktif menghidupkan kembali ASEAN Federation of Internal Medicine (AFIM) dan membentuk American College of Physicians (ACP) Chapter ASEAN. Se- mentara ini, kedua organisasi tersebut me- nitikberatkan pada kegiatan-kegiatan conti- nuing professionalism development (CPD).

Sedangkan di tingkat international, PB PAPDI akan menjadi tuan rumah World Congress of Internal Medicine (WCIM) pada 2016. Perhelatan akbar internis sedunia itu akan digelar di Hotel Bali Nusa Dua Con- vention Center (BNDCC), 22 – 25 Agustus 2016. Kurang dari setahun, Ketua Panitia DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP bersama panitia yang ber- asal dari pengurus pusat dan cabang-ca- bang PAPDI terus bersinergi menyukseskan acara tersebut. Dr. Aru berharap dukungan penuh dari seluruh anggota PAPDI untuk dapat berpartisipasi pada WCIM 2016 di Bali mendatang. (HI)

KOPAPDI XV, di Medan 2012.

(10)

Mengadakan Rapat Rencana strategis (renstra), 16 Februari 2013, Hotel JW Marriot, Jakarta

Pengurus PB PAPDI bersama Pengurus KIPD rapat bersama sosialisasi rencana strategis dan sususan pengurus dari ma- sing-masing lembaga. Kedua lembaga saling memperkenalkan pengurus masing-masing. Rapat ini baru pertama kali diseleng- garakan dimana PB PAPDI dan KIPD bersama-sama menyusun program kerja. Rapat ini dihadiri seluruh staf pengurus PB PAPDI dan KIPD.

Pelantikan Pengurus PB PAPDI dan BPH KIPD, 17 Februari 2013, di Hotel JW Marriot Jakarta

Ketua Umum PB PAPDI Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP, FRCPT dan Ketua KIPD Prof. DR. Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM bersama jajarannya dilantik oleh Ketua Umum PB IDI Dr. Zainal Abidin, MH. Pelantikan berlangsung khidmat yang ditetapkan dalam SK IDI yang dibacakan Ketua Bidang Organisasi PB IDI Dr.

Adib Khumaedi, SpOT. Acara diakhiri dengan penyematan PIN PAPDI oleh Ketua Umum IDI kepada Ketua Umum PB PAPDI dan jajarannya.

Rakernas PB PAPDI dan semua PAPDI Cabang, 6 - 7 April 2013 di Hotel Haris, Jakarta

Ini adalah Rakernas PB PAPDI dan Semua Cabang yang per- tama kali pada kepengurusan Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP, FRCPT.

Rakernas ini sosialisasi program kerja PB PAPDI dan KIPD periode 2012 – 2015. Pada acara tersebut hadir pengurus PB PAPDI, delegasi dari 36 Cabang PAPDI dari seluruh Indonesia, pengurus KIPD, dan delegasi prodi IPD dari Fakultas Kedok- teran di Indonesia. Pada acara ini juga membahas seputar

SJSN dan AFTA 2015 dengan menghadirkan pembicara Dr.

Untung Sutardjo, MKes Kepala BADAN PPDSM Kemenkes RI, Prof. DR. Dr. Agus Purwadianto, SpF, SH Staf Ahli Kemenkes RI dan Prof. DR. Dr. Herkutanto, SpF yang memaparkan sep- utar white paper.

Konvokasi FACP, San Fransisco, April 2013

Ketua Umum PB PAPDI Kepengurusan Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP, FRCPT dan Sekretaris Jenderal PB PAPDI Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP

menerima gelar fellow dari American College of Physicians (ACP).

Eksistensi PAPDI semakin diakui di dunia international.

Kongres AFIM I, 5 – 8 Mei 2013, Manila, Filipina PAPDI terlibat aktif menghidupkan kembali ASEAN Federation of Internal Medicine (AFIM) setelah beberapa tahun mati suri.

Prof. Idrus, dan Dr. Sally serta beberapa pengurus menghadiri Kongres pertama AFIM di Filipina. Kongres tersebut bersamaan denganPhilipine College of Physicians (PCP). Kongres itu

Highlight

PB PAPDI Periode 2012-2015

(11)

membicarakan tentang organisasi AFIM. Indonesia akan menja- di tuan rumah kongres AFIM pada 2016, bersamaan dengan tuan rumah WCIM 2016, di Bali.

Pembentukan South East Asia Chapter of ACP PAPDI berperan aktif menggagas pembentukan South East Asia Chapter of ACP. Menurut Sekretaris Jenderal PB PAPDI Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, pemben- tukan South East Asia Chapter of ACP memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu penyakit dalam di negara-negara Asia Tenggara. Awalnya ide pembentukan organisasi ini, lahir dari PB PAPDI ketika KOPAPDI XV 2012 di Medan. Kemudian gagasan ini disambut baik oleh lima organisasi internis dari Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Proposal pemben- tukan diterima ACP, kemudian delegasi organisasi internis dari lima negara tersebut di undang ke San Fransisco untuk meng- hadiri ACP awal April 2013 lalu. ACP Chapter of ASEAN diresmikan pada 1 Juli 2013.

Hari Kesehatan Dunia 2013

Hari Kesehatan Dunia 2013 mengangkat tema “Waspadai Bahaya Hipertensi”. PB PAPDI bekerjasama Kemenkes RI menyelenggarakan seminar Umum bertema “ Waspadai Hipertensi, Kendalikan Tekanan Darah” di Balai Kartini, 10 April 2013. Hadir sebagai pembicara Dr. Tri juli Edi Tarigan, SpPD, K-EMD, FINASIM, Dr. Aida Lydia, PhD, SpPD, K-GH, FINASIM, dan Dr. Dono Antono, SpPD, K-KV, FINASIM dan sebagai mod- erator Dr. Dharmeizar, SpPD, K-GH. Hari Kesehatan Dunia 2013 juga diselenggarakan serentak di cabang- cabang PAPDI.

PB PAPDI juga menyelenggarakan Konferensi Pers buat insan media yang mengulas pentingnya mencegah hipertensi dengan mengontrol tekanan darah dengan narasumber Ketua Umum PB PAPDI Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP dan Ketua Bidang Humas

Publikasi dan Pengabdian Masyarakat PB PAPDI Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM, dengan moderator Dr.

Eka Ginanjar, SpPD, FINASIM. Pada kesempatan itu juga diu- mumkan Jurnalis Award PAPDI tentang hipertensi bagi awak media. Hal tersebut merupakan bagian dari misi PB PAPDI sebagai pengabdian kepada masyarakat.

PIN XI PAPDI 2013, 28 – 30 Juni 2013, Hotel Pangeran, Pekan Baru, Riau

PAPDI Cabang Riau menjadi tuan rumah Pertemuan Ilmiah Nasioanal XI PB PAPDI. Acara ilmiah tahunan ini dalam rangka continuing professionalisme Development (CPD) untuk selalu meningkatkan dan meng update kompetensi anggota agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Event itu dibuka oleh Wali Kota Pekan Baru Drs. H. Firdaus MT.

Sayangnya, acara ini terkendala oleh asap yang menyelimuti Pekan Baru, namun secara keseluruhan , kata Ketua

Pelaksana DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP, acara berjalan sukses, niat peserta tidak surut meski dihadang asap.

Penyusunan White Paper, Oktober 2013, Hotel JS Luwansa, Jakarta

Tim Adhoc White Paper PB PAPDI menyusun White Paper Ilmu Penyakit Dalam yang akan digunakan menjadi panduan bagi internis ketika membuat white paper di rumah sakit tempat mereka bekerja. Ketua Tim Adhoc Dr. Bambang Setyohadi, SpPD, K-R, FINASIM mengatakan tim ini dibantu Prof. DR. Dr.

Herkutanto, SpF merevisi white paper yang telah dibuat oelh tim adhoc ini. Banyak yang belum paham tentang White paper , karena ini merupakan kebijakan baru yang digulirkan

Kemenkes pada tahun 2011.

(12)

Pelantikan Pengurus PAPDI Cabang di seluruh Indonesia, dari tahun 2013 – 2015

Ketua Umum PB PAPDI bersama pengurus telah melantik 30 Cabang PAPDI pada kurun waktu 2013 – 2015. Sementara 6 Cabang PAPDI tidak dilantik oleh Pengurus PB PAPDI periode 2012 – 2015.

NAMA CABANG TANGGAL PELANTIKAN

1 DEPOK 23 MARET 2013

2 JAKARTA RAYA 18 MEI 2013

3 GORONTALO 22 JUNI 2013

4 CIREBON 24 AGUSTUS 2013

5 SUMATERA SELATAN 31 AGUSTUS 2013

6 SEMARANG 1 SEPTEMBER 2013

7 BENGKULU 14 SEPTEMBER 2013

8 JAWA BARAT 5 OKTOBER 2013

9 BANTEN 3 NOPEMBER 2013

10 SULAWESI TENGAH 9 NOPEMBER 2013

11 BEKASI 17 NOPEMBER 2013

12 MAKASSAR 24 NOPEMBER 2013

13 SUMATERA UTARA 1 DESEMBER 2013

14 PURWOKERTO 21 DESEMBER 2013

15 SURABAYA 11 JANUARI 2014

16 BALI 19 JANUARI 2014

17 KALIMANTAN TIMUR 15 FEBRUARI 2014

18 PROPINSI ACEH 7 MARET 2014

19 YOGYAKARTA 15 MARET 2014

20 TANAH PAPUA 26 APRIL 2014

21 KUPANG 24 MEI 2014

22 JAMBI 31 MEI 2014

23 KALSEL TENGAH 7 JUNI 2014 24 SUMATERA BARAT 15 JUNI 2014

25 MALANG 24 AGUSTUS 2014

26 RIAU 30 AGUSTUS 2014

27 KEPULAUAN RIAU 13 SEPTEMBER 2014

28 LAMPUNG 4 OKTOBER 2014

29 MALUKU UTARA 9 NOPEMBER 2014

30 SULAWESI UTARA 31 JANUARI 2015

CABANG PAPDI

YANG BELUM/TIDAK DILANTIK PERIODE 2012 – 2015 NAMA CABANG KETERANGAN

31 BOGOR TERAKHIR DILANTIK

PERIODE 2009-2012 32 KALIMANTAN BARAT TERAKHIR DILANTIK

PERIODE 2009-2012 33 SULAWESI TENGGARA TERAKHIR DILANTIK

PERIODE 2009-2012 34 NUSA TENGGARA BARAT TERAKHIR DILANTIK

PERIODE 2009-2012

35 MALUKU TERAKHIR DILANTIK

PERIODE 2009-2012

36 SURAKARTA BELUM PERNAH DILANTIK

SEJAK AWAL PENDIRIAN

Roadshow ilmiah ke Cabang – Cabang PAPDI selama 2013 – 2015

Roadshow ilmiah ini berupa seminar yang acara diselenggrakan bersamaan dengan pelantikan pengurus cabang. Baik Ketua Umum , Sekjen serta pengurus lainnya turun ke cabang-ca- bang menjadi pembicara pada seminar tersebut. Bahkan seo- rang Guru Besar pun turut menjadi pembicara dalam roadshow tersebut. Hampir seluruh cabang gtelah disambangi oleh pengurus PB PAPDI.

PAPDI Tolak Kriminalisasi Dokter

PB PAPDI dukung gelombang protes atas putusan Mahkamah Agung yang mempidanakan tiga dokter spesialis obstetrik dan ginekologi di Menado berlangsung diberbagai daerah di Indonesia. Serentak ribuan dokter diberbagai daerah menggelar aksi solidaritas demo nasional pada 27 November 2013. Di Jakarta, ribuan dokter long march dari tugu Proklamasi menuju Mahkamah Agung. Para dokter menuntut bebas Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, SpOG, Dr. Hendry Simanjuntak, SpOG, dan Dr. Hendy Siagian, SpOG dan menolak kriminalisasi dokter.

(13)

Rakernas PB PAPDI dengan Semua Cabang PAPDI 2014, 1 – 2 Maret 2014, Hotel Harris, Jakarta

Rakernas PB PAPDI dan Semua Cabang 2014 adalah raker- nas kedua kepengurusan Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP, FRCPT. Rakernas ini banyak menyoroti tentang SJSN dengan mengundang Direktur Utama BPJS DR. Dr. Fachmi Idris , MKes, Pusat Pembiayaan dan Jaminan Keseahtan Kemenkes RI Drg. Armansyah, MPPM, Wakil Ketua NCC Kemenkes RI Dr. Kalsum Komariyah, MPPM, dan Kepala Seksi tarif BLU Ditjen Pembinaan Penge- lolaan Keuangan BLU Kemkeu RI Dwi edhi Laksono MA.

Pada acara tersebut hadir pengurus PB PAPDI, delegasi dari 36 Cabang PAPDI dari seluruh Indonesia, dan pengurus KIPD.

Presentasi Persiapan WCIM 2016, Bali Indonesia, 26 Oktober 2014 WCIM 2014, Seoul, Korsel

Sekretaris Jenderal PB PAPDI Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K- KV, FINASIM, FACP, memaparkan kesiapan WCIM 2016, di Bali Indonesia dihadapan executive committee ISIM. WCIM 2016 akan di selenggarakan pada 22 – 24 Agustus 2016 di Hotel Bali Nusa Dua Convention Center. Panitia menghimbau agar anggota PAPDI dapat berpartisipasi pada perhelatan akbar tingkat dunia itu.

Internis asal Indonesia menja- bat President Elect ISIM, pada WCIM 2014, Seoul Korsel.

DR. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K- HOM, FINASIM, FACP terpilih men- jabat President Elect ISIM periode 2014 – 2016 pada WCIM 2014, di Seoul Korsel, Oktober 2014 lalu.

KONKER XIII PB PAPDI, pada 27 – 30 November 2014, Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta.

PAPDI Cabang Yogyakarta menjadi tuan rumah Konferensi Kerja (KONKER) XIII PB PAPDI. Acara ini terdiri dua kegiatan yaitu sidang organisasi dan simposium ilmiah. Keputusan pada sidang organisasi akan dibahas pada KOPAPDI XVI 2015 di Bandung, 9 – 12 September 2015

Rumah PAPDI

Sejak berdiri 1957, PAPDI baru memiliki gedung sendiri pada 2014. Mengingat jumlah anggota yang terus bertambah dan padatnya agenda kerja PB PAPDI, sudah selayaknya PB PAPDI memiliki gedung sendiri yang diberi nama

“RumahPAPDI”.

PIN XII PAPDI 2014, 5 – 7 September 2014, Hotel Shangri-La, Surabaya

PAPDI Cabang Surabaya menjadi tuan rumah Pertemuan Ilmiah Nasioanal XII PB PAPDI. Acara ilmiah tahunan ini dalam rangka continuing professionalisme Development (CPD) untuk selalu meningkatkan dan meng update kompetensi anggota, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.

Event itu dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Drs.

Saifullah Yusuf.

(14)

Pertemuan PB PAPDI dengan Dirjen BUK Kemenkes RI PB PAPDI bertatap muka dengan Dirjen BUK Kemenkes Prof.

Dr. Akmal Taher SpU dan Direktur Bina upaya Kesehatan Rujukan Kemenkes RI Dr. Chairul radjab nasution, SpPD, K- GEH, FINASIM, M.Kes FACP. Dari pertemuan itu, dihasilkan keputusan untuk membentuk Tim Nasional Kardiovaskular yang terdiri dari tiga perhimpunan spesialis, yaitu PAPDI, IDAI dan PERKI. Dan, membuiat Pedoman Nasional Pelayanan Jantung di Indonesia.

PB PAPDI audiensi dengan KKI, 6 Januari 2014 PB PAPDI melakukan audiensi dengan Ketua KKI Prof. Dr.

Bambang S. SpA. Pada pertemuan itu, PB PAPDI mengusulkan agar Perkonsil tahun 2012 dicabut atau diubah pasal-pasal yang merugikan PAPDI. Penulisan sebuatan “Konsultan” pada STR, seperti yang dilakukan sebelumnya. Dan, advokasi ten- tang dokter asing dan pendidikan subspesialis.

PB PAPDI audiensi dengan Menteri Kemenkes RI, 30 Januari 2015.

PB PAPDI melakukan audiensi dengan Menteri Kemenkes RI Prof. Dr. Nila Anfasa Moeloek, SpM. Pada pertemuan tersebut

PB PAPDI mengadvokasi tentang gratifikasi, distribusi dokter spesialis penyakit dalam di Indonesia, melaporkan WCIM 2016 di Bali, revisi tarif BPJS, dan menyampaikan sikap PAPDI ter- hadap dokter asing.

Rakernas PB PAPDI dengan Semua Cabang PAPDI 2015, 21–22 Februari 2015, Hotel Harris, Jakarta

Kembali PB PAPDI melakukan “Rakernas PB PAPDI dan Semua Cabang 2015 “ di Hotel Harris Jakarta. Rakernas ini banyak menyoroti tentang SJSN dan isu gratifikasi yang meng- hadirkan narasumber Direktur Utama BPJS DR. Dr. Fachmi Idris , MKes, wakil Ketua Tim Tarif NCC kemenkes RI Dr.

Ahmad Soebagyo, MARS, Dr. Djoko Widyarto, JS DHM, MH.Kes Anggota Tim kajian Gratifikasi IDI, Sekretaris

Inspektorat Jenderal Kemenkes RI Drg. S.R Mustikowati, MKes.

Pada acara tersebut hadir pengurus PB PAPDI, delegasi dari 36 Cabang PAPDI dari seluruh Indonesia, dan pengurus KIPD.

PIN XIII PAPDI 2015, 12 – 14 Juni 2015, Hotel Novotel Palembang

PAPDI Cabang Sumatera Selatan menjadi tuan rumah

Pertemuan Ilmiah Nasioanal XIII PB PAPDI. Acara ilmiah tahu- nan ini dalam rangka continuing professionalisme Development (CPD) untuk selalu meningkatkan dan meng update kompetensi anggota agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal. Event ini dibuka oleh Gubernur Sumatera Selatan Drs.

Alex Noerdin.

(15)

Pengabdian menjadi ba- gian penting tak terpi- sahkan bagi profesi dok- ter. Bukan hanya mengo- bati mereka yang sakit, mengurus organisasi juga menjadi bagian dari pengabdian.

W

aktu berjalan dengan cepat, tak pernah bisa dilupakan ketika PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia) menggelar Kongres Nasional XV PAPDI (KOPAPDI) di Hotel Aryaduta, Medan, Sumatera Utara pada Desember 2012 silam. Kala itu peserta kongres mem- berikan mandat kepada Prof. DR . Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASI, FACC, FESC, FAPSIC, FRCPT untuk menjadi Ketua Umum PB PAPDI periode 2012 - 2015, pemilihan dilakukan tanpa proses yang pan- jang, Prof. Idrus, begitu biasa disapa, dipilih secara aklamasi. Menerima tugas itu, meru- pakan amanah bagi dokter kelahiran Palembang, 22 Maret 1962 ini.

Dan tugas yang mulai diembannya pada Desember 2012 akan berakhir pada tahun 2015 ini. “Saya menyadari, ketika terpilih

Pengabdian Tiada Batas

Ketua Umum PB PAPDI periode 2012 – 2015

Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FRCPT

Pengabdian

Tiada Batas

(16)

tugas berat harus saya emban sebagai Ketua Umum PB PAPDI, sebuah amanah yang harus saya jalani dengan sungguh- sungguh agar organisasi ini bisa menjadi rumah yang sesungguhnya bagi anggota yang jumlahnya ketika itu sekitar 2.900 orang dan kini terus berkembang menjadi lebih dari 3.107 anggota dari 36 cabang yang tersebar dari Aceh hingga Papua,”

ujarnya mengawali perbincangan.

Langkah strategis pun disusun, PAPDI sebagai organisasi profesional tentu harus dikelola dan dijalankan secara profesional, begitu tekad Prof. Idrus. Bersama pengurus PAPDI yang lain, ia menyusun program kerja sesuai dengan visi dan misi PAPDI dan kaidah-kaidah yang berlaku di PAPDI.

“Kemudian kita juga membuat key per- formance indicator, tolok ukurnya serta tar- get yang ingin dicapai. Masing-masing bi- dang yang ada di PAPDI membuat program kerja berdasarkan panduan yang sudah di- susun. Tentu semua harus seiring sejalan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Ru- mah Tangga (AD/ART) PAPDI. Dengan be- gitu, apa yang diinginkan oleh founding father organisasi ini benar-benar bisa kita jalankan, semua dituangkan dalam visi, mi- si, program kerja yang kemudian kita rang- kum dan kita buat Tata Nilai PAPDI yaitu Profesional, Amanah, Peduli, Dedikasi dan Integritas. Tak berhenti sampai di situ, se- mua yang telah kita susun bersama kita selaraskan dengan Kode Etik Kedokteran.

Setelah semua sudah selaras baru kita jalan,” urai Prof. Idrus.

Prof. Idrus mengingatkan, semua yang

sudah tersusun dan terencana dengan baik, semuanya tak bisa dilepaskan dari tiga pilar PAPDI yang menompang organisasi.

Pertama, PAPDI bertugas melayani, kedua PAPDI harus meningkatkan kompetensi anggotanya dan yang ketiga keberadaan PAPDI harus dirasakan oleh masyarakat.

“PAPDI bertugas untuk melayani, di mana pelayanan itu dimulai dari yang seder- hana. Mulai dari mengurus keanggotaan sampai dengan urusan yang terkait dengan kolega jika ada anggota kita yang berma- salah dengan hukum. Secara etik itu menja- di tanggung jawab kita. PAPDI memberikan advokasi walaupun kita bukan pengacara.

Kemudian meningkatkan kompetensi ang- gota harus terus menerus dilakukan dalam bentuk continuing professionalism develop- ment. Saya kira, pada era ini kegiatan se- perti itu yang paling banyak dilakukan. Dan kami semua, seluruh pengurus PAPDI turun langsung, baik saya sebagai Ketua Umum, lalu Sekjen, Wakil Ketua hingga Ketua Bidang. Tak hanya itu, kita juga melibatkan pakar lain, seperti Prof. Daldiyono ikut bicara di Gorontalo. Anggota di daerah bisa up date informasi. Seorang dokter jika tidak mengikuti perkembangan pengetahuan dan informasi dia akan tertinggal. Terapi lima tahun yang lalu dengan terapi yang diterap- kan saat ini sudah berbeda. Akan ada perkembangan seiring berjalannya waktu,”

kata Prof Idrus panjang lebar.

Dia melanjutkan, “Bisa kita bayangkan, seorang dokter tidak mengikuti perkem- bangan. Maka dia tidak bisa memberikan terapi yang optimal pada pasiennya. Terapi

yang diberikan tidak sesuai standar dengan perkembangan. Semua tentu akan berujung pada pelayanan ke masyarakat. Peningkat- an kompetensi juga terkait dengan upaya PAPDI agar para dokter bisa menghindari aspek medikolega. Jadi yang diberikan se- suai dengan yang up to date. Lalu pilar yang ketiga di mana keberadaan PAPDI harus dirasakan masyarakat, maka pengurus PAPDI baik di pusat hingga cabang di dae- rah secara rutin menggelar ceramah dan berbagai kegiatan yang bisa mengedukasi masyarakat.”

Di event tertentu, seperti Hari Kesehatan Nasional, PAPDI turut berkontribusi mem- berikan informasi kepada masyarakat. “Tak sebatas itu, PAPDI juga aktif di berbagai ke- giatan sosial dan berada di tengah masya- rakat ketika masyarakat membutuhkan. Ke- giatan PAPDI Peduli Bencana, PAPDI Pe- duli Banjir sudah berulangkali dilangsung- kan dengan menjalin kerjasama dengan PAPDI Medical Relief, organisasi PAPDI yang bergerak di unit tanggap bencana,”

sambung Prof. Idrus.

Harus diakui, bukan pekerjaan mudah untuk menjalankan roda organisasi dengan ribuan anggota dan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Prof Idrus sebagai Ketua Umum harus terus menjalin komunikasi dan berkordinasi dengan seluruh cabang yang ada. Mengadakan rapat organisasi, mulai dari rapat pengurus besar, lalu juga rapat pleno, rapat regular hingga rapat kerja den- gan seluruh cabang tiap tahun dilakukan.

“Rapat-rapat tersebut bertujuan untuk me- nyatukan langkah,” sergahnya.

PAPDI juga membahas isu yang tengah hangat seperti distribusi dokter. Terkait per- soalan ini, Prof. Idrus secara khusus di- panggil oleh Menteri Kesehatan dan Dirjen BUK untuk membahas distribusi dokter spe- sialis yang merata. Ternyata data yang ada di Kemenkes jauh berbeda dengan data yang PAPDI miliki. “Saya jelaskan kepada bu Menteri bahwa PAPDI sudah sejak lama membuat mapping. Kita sudah meminta data dari seluruh wilayah, di daerah mana saja yang kekurangan internis, dan di wilayah mana yang masih kosong. Rasio penempatan internis berdasarkan rasio rumah sakit bukan berdasarkan rasio jum- lah penduduk,” jelasnya.

Kembali ke soal koordinasi, komunikasi dengan cabang di seluruh penjuru tanah air

Prof. Idrus Alwi, SpPD, dengan Menkumham saat peringatan HKI 2015.

(17)

selalu terjalin, baik langsung maupun tidak langsung. Komunikasi dengan teknologi sudah pasti dilakukan, namun sebagai pemimpin Prof. Idrus lebih memilih untuk datang langsung ke cabang. “Rasanya su- dah hampir 90 persen cabang di daerah saya datangi. Saya datang di berbagai aca- ra yang digelar oleh cabang yang biasanya berdampingan dengan pelantikan pengurus Cabang PAPDI. Ketika datang, kita bisa mendengar langsung masukan-masukan dari cabang termasuk melihat langsung problem-problem yang dialami oleh cabang.

Tiap cabang tentu memiliki problem yang berbeda-beda, sehingga kita tidak bisa memberikan jalan keluar yang sama untuk seluruh daerah,” aku Prof Idrus. Itulah pent- ingnya datang langsung ke daerah. Jika dirinya berhalangan, maka Prof. Idrus akan mendelegasikan kepada pengurus besar PAPDI untuk datang ke daerah.

Tentu banyak cerita berkesan yang di- alaminya, dan semua tersimpan manis se- bagai kenangan yang tidak terlupakan. Na- mun ada peristiwa yang selalu membuat Prof. Idrus terkenang. “Ketika itu, saya dan beberapa pengurus besar PAPDI akan ke Maluku Utara untuk melantik pengurus cabang di sana. Untuk efisiensi, saya dan rekan-rekan memilih direct flight menuju ko- ta itu. Semua berjalan normal, kami board- ing dan menunggu pesawat take off dari Bandara Soekarno Hatta. Seperti biasa, pe- nerbangan ke daerah Indonesia Timur dila- kukan hampir tengah malam. Hampir se- mua penumpang memilih tidur ketika me- nunggu proses take off. Tetapi saya yang masih membaca merasakan hal yang aneh, ketika mesin dinyalakan tiba-tiba seluruh lampu mati, termasuk pendingin dan disusul dengan mesinnya. Kemudian mesin dicoba dinyalakan kembali, berhasil namun kemu- dian mati lagi. Saya panggil pramugari dan bertanya apa yang terjadi, sang pramugari menjelaskan mesin mati dan sedang dalam upaya perbaikan. Saya pikir, wah kalau nan- ti mati mesin ketika berada di atas bagai- mana? Setor nyawa ini namanya. Saya langsung membangunkan pengurus lain yang sudah tertidur dan memilih untuk membatalkan pemberangkatan. Beberapa penumpang yang melihat apa yang kami lakukan juga mengikuti dan akhirnya pener- bangan benar-benar dibatalkan. Saya me- nunggu di Bandara sampai pagi dan ter-

bang dengan penerbangan perta- ma lewat Manado baru ke Maluku Utara. Memang ada waktu yang terbuang tetapi yang penting kami semua selamat,” Prof Idrus tertawa mengenang peristiwa itu.

Meniru Jejak Ayah

Anak Sulung dari 12 bersaudara yang terlahir dari pasangan almarhum Alwi Idrus Shahab dan Nafisah ini sudah bercita-cita menjadi dokter ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Biologi adalah pelajaran yang paling disukai Idrus cilik.

“Menghapal kata-kata latin yang banyak di pelajaran biologi saya suka sekali, selain itu saya juga suka pelajaran matematika dan juga kimia,” ujar Prof. Idrus yang berlangganan mengantungi nilai 9 dan 10 untuk pelajaran-pela- jaran tersebut.

Masa pendidikan dasar hing- ga ke Sekolah Menengah Atas dijalani di kota empek-empek Palembang. Masa remaja dilalui

dengan suka cita, bermain alat musik gitar menjadi salah satu kesukaannya. “Saya sempat belajar gitar klasik, Tetapi salah satu teman saya yang jago main gitar mengajari saya aneka macam lagu, mulai lagu pop sampai dengan lagu klasik.”

Ketika akan menempuh pendidikan ting- gi, Prof. Idrus memantapkan hati untuk me- ngikuti tes masuk perguruan tinggi. ITB (Ins- titut Teknologi Bandung) dan Fakultas Ke- dokteran Universitas Indonesia (FKUI) men- jadi pilihannya. “Kalau mau mendalami bi- dang teknik ITB yang terbaik, tetapi kalau mau jadi dokter, FKUI yang terbaik,” begitu pandangannya

Idrus belia menyempatkan diri untuk me- lihat langsung dua perguruan tinggi papan atas di tanah air itu. Setelah melihat lang- sung, ia semakin mantap memilih FKUI se- bagai kawah candradimuka baginya untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil. Per- siapan dia lakukan, belajar dengan buku- buku seadanya dilakoninya. Dia bersyukur karena dirinya diterima sebagai mahasiswa FKUI. Tahun 1980 lembaran baru kehidup- annya pun dimulai. Jika sejak kecil selalu

tinggal bersama orangtua dan saudara-sau- daranya, Idrus yang masih berusia belasan harus menjadi orang perantauan.

Idrus muda belajar dengan sungguh- sungguh, tak ada kata bermain dan bersan- tai seperti mahasiswa kebanyakan. “Bisa masuk Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi negeri itu berkah yang luar biasa, ka- rena masuknya sangat sulit. Tempat terba- tas sementara peminatnya luar biasa. Ka- rena itu, ketika saya diterima saya harus bisa mempertahankan dan melakukan yang terbaik. Karena ancaman DO (drop out) di depan mata bagi mahasiswa yang tak mampu mengikuti perkuliahan,” ujarnya.

Tak hanya itu, Idrus muda menyadari perjuangan orangtuanya untuk bisa menye- kolahkan di Jakarta. Ayahnya memiliki se- buah toko yang menghidupi Idrus dan adik- adiknya. “Ayah saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi, tetapi karena ayahnya meninggal, ayah memilih berhenti dan menjadi tulang punggung keluarga. Banyak nasihat ayah yang mengajari kami anak-anaknya untuk sekolah negeri dan perguruan tinggi negeri.

Saya sadar, tentu tak mudah membiayai

Bersama istri di lembah Anai.

(18)

anak yang kuliah di perantauan sementara adik-adik saya juga banyak. Jadi hidup pri- hatin bukan hal baru buat saya. Kalau uang saku sudah menipis, warung Padang lang- ganan saya sudah hapal kalau saya hanya makan dengan gulai telur saja. Kalau mau nambah cukup tambah kuah saja, makan dengan ayam cukup sesekali saja hahaha

…,” Prof Idrus tertawa mengenang masa mudanya.

Sosok ayah bagi Prof. Idrus adalah pa- nutan yang selalu dia ingat dan jalankan na- sihat-nasihatnya. Ketika sang ayah wafat, Idrus pun bertekad untuk bisa mengikuti je- jak sang ayah, mengambil alih tanggung- jawab keluarga. Sang ibu meneruskan me- ngelola toko peninggalan suaminya. Prof.

Idrus menjadi pengganti ayah bagi sebelas adik-adiknya. Tentu karena campur tangan Tuhan Yang Maha Pengasih, Nafisah yang sudah kehilangan suami namun mampu mengantar 12 anaknya menyelesaikan pen- didikan tinggi, bahkan sepuluh di antaranya menjadi dokter.

Prof. Idrus sebagai anak tertua memberi contoh. Menyandang gelar dokter tak mem- buatnya berhenti belajar, dirinya pun me- ngambil pendidikan spesialis. “Saya memilih penyakit dalam karena ilmunya sangat luas, dengan keahlian saya di bidang penyakit dalam saya bisa membantu orang lebih ba- nyak. Profesi dokter adalah profesi pengab- dian, jangan menjadikan uang sebagai tu- juan utama. Melayani dan mengabdi itu yang saya tanamkan pada diri saya sehing- ga dengan begitu bekerja dimanapun de- ngan siapapun dan menolong siapa saja akan memberikan kepuasan yang luar bia- sa,” tuturnya.

Bicara tentang pengabdian, ketika Idrus telah diangkat sumpahnya sebagai dokter, dia ditempatkan di kawasan terpencil di pe- losok Sumatera Selatan, kabupaten OKU.

Fasilitasnya sangat terbatas, listrik disel jalan tanah dan rusak. Mengabdi di daerah terpencil adalah pengabdian yang sesung- guhnya. Program Posyandu di perkotaan berbeda dengan Posyandu di daerah, uta- manya daerah terpencil. Posyandu bukan sekedar menimbang dan memberi imunisasi bayi, tetapi di daerah Posyandu menjadi ujung tombak berbagai program kesehatan.

Safari Posyandu, menyambangi satu kam- pung ke kampung lainnya sambil men- sosialisasikan berbagai program sekaligus

mengobati masyarakat yang sakit namun tak memungkinkan untuk memperoleh ak- ses kesehatan.

Di daerah itu, Idrus tak hanya berperan sebagai dokter tetapi juga tokoh masyarakat setempat. “Kalau ada hajatan, kita diberi tempat istimewa bersama tokoh-tokoh ma- syarakat lainnya,” Prof Idrus tersenyum. Tak jarang, dirinya di dapuk menjadi khatib sho- lat Jumat, bahkan khotib sholat Idul Adha di Masjid Raya di kecamatan Belitang.

Ada pertemuan, selalu ada perpisahan.

Idrus yang telah akrab dan memiliki pasien yang banyak mesti berpisah, massa PTT nya sudah berakhir. Kepala Dinas Kesehat- an, kata Idrus, sempat menahannya agar menetap di sana. Sementara, Idrus ingin melanjutkan ke jenjang spesialis. Sang istri, DR. Dr. Dwiana Ocviyanti, SpOG(K) yang juga teman satu kuliah, sumbang saran agar memilih melanjutkan studi.

“Saya senang menjalani itu semua, te- tapi istri mengingatkan dengan keahlian yang kami miliki, kami bisa berbuat lebih ba- nyak untuk membantu masyarakat. Kata is- tri, di tempat itu kami hanya mengobati orang pilek dan batuk, tetapi kalau melan- jutkan pendidikan maka banyak orang de-

ngan penyakit serius yang bisa diobati sesuai dengan kemampuan saya,” ungkap Prof. Idrus yang pernah mendapat penghar- gaan dokter teladan ini.

Semua dijalani dengan sukacita, ganjar- annya dia diberi kemudahan oleh Allah un- tuk menjalani pendidikan spesialis. “Saya banyak ditawarin oleh beberapa profesor untuk mengikuti spesialisasi yang menjadi keahlian mereka, bahkan ada yang mena- wari saya untuk menjadi asistennya. Tetapi saya memilih untuk menjadi spesialis pe- nyakit dalam dan bersaing dengan dokter- dokter lainnya.”

Prof Idrus meyakini ladang pengabdian bisa di mana saja dan dilakukan oleh profe- si apa saja. “Karena saya dokter, maka pengabdian saya adalah mengobati orang yang membutuhkan. Tetapi tentu kita tak bo- leh merasa cukup dan berpuas diri, kita harus bisa mengabdi dengan optimal. Ber- kiprah di organisasi PAPDI juga menjadi ba- gian dari pengabdian. Karena saya meya- kini sesuai dengan tuntunan agama, sebaik- baik manusia, adalah manusia yang ber- manfaat bagi orang banyak. Dan saya ber- usaha untuk menjadi manusia yang ber- manfaat,” pungkasnya. (HI)

Prof. Idrus Bersama anak istri.

(19)

N

amanya sudah tidak asing lagi bagi kalangan dokter penyakit dalam di tanah air. Kiprahnya di organisasi para internis ini dimulai dari nol. Di PAPDI Jaya, tugas pertamanya mengawal bidang Ilmiah. Setelah itu, pindah ke bidang Humas dan Publikasi, lalu menjadi Sekretaris Papdi Jaya hingga menjadi Wakil Ketua PAPDI Jaya yang bersamaan dengan kiprah- nya di Pengurus Besar PAPDI sebagai Wakil Sekjen pada periode sebelumnya (2009- 2012). Dan pada periode kepengurusan PB PAPDI 2012-2015 menjabat sebagai Sekre- taris Jenderal.

“Sejak lulus internis tahun 2003 lalu, saya sudah bergabung di kepengurusan PAPDI di- mulai dari PAPDI Jaya,” ujar dokter kelahiran Medan, 8 Agustus 1967 ini seraya menera- wang. Dunia organisasi bukan hal baru bagi dokter yang menamatkan kedokteran umum- nya di FKUI tahun 1992 silam. Sejak duduk di bangku sekolah dirinya aktif di kepengurusan OSIS, begitu pula saat mahasiswa, Senat Mahasiswa menjadi wadahnya berkiprah.

Karakternya yang mandiri tak lepas dari bimbingan keluarga. Sebagai sulung dari tiga bersaudara, Dr. Sally merasa memiliki tang- gung jawab yang lebih besar dibanding kedua

adiknya. Di sinilah jiwanya yang hobi b e r s o s i a l i s a s i tersalurkan dengan aktif di organisasi pada setiap jen- jang pendidikan yang dijalaninya.

Dokter yang menyelesaikan pendidikan sebagai seorang Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Kardiovaskular dari FKUI ini mengaku, tidak memiliki pendidikan formal untuk bisa terjun sebagai seorang organisato- ris. “Dalam hal manajerial, saya banyak bela- jar dari para senior, seperti Dr. Chairul yang mengajarkan saya banyak hal,” ujarnya.

Salah satu kontribusi Dr. Sally adalah pro- gram roadshow ilmiah antara komisariat yang digagasnya bersama Ketua Papdi Jaya kala itu. ”Setelah dievaluasi, program tersebut ha- silnya cukup baik, buat anggota dan buat PAPDI sendiri. Akhirnya diadopsi jadi program PB hingga sekarang. Kegiatan ini dianggap dalam beberapa hal tertentu lebih efektif dan efisien karena lebih mengutamakan diskusi interaktif dengan para anggota dan dapat mencapai Cabang PAPDI yang jauh-jauh.”

Karena perannya di PAPDI Jaya, Dr. Sally

dilirik para senior untuk bergabung di PB PAPDI. Di sinilah, Dr. Sally merasa tertantang dan menerima tawaran tersebut, mengingat memiliki visi yang sama untuk memajukan organisasi ini. “Saya suka hal-hal yang baru dan kebetulan memiliki visi yang sama de- ngan para senior. Saya banyak berdiskusi dengan para senior tentang masa depan organisasi, sangat seru dan mengasyikkan,”

ujar dokter pecinta kopi ini.

Segala kesibukan ini, apa yang dicari, Dr.

Sally? “Saya tidak mencari apa-apa,” jawab- nya ringan seraya tersenyum. “Keseimbang- an itu diperlukan, baik di kedokteran maupun di organisasi. Sebab saya tidak suka hal yang monoton, harus ada sesuatu yang baru dan menyenangkan untuk dijalani.”

Rahasia untuk tetap energik dan sehat di tengah kesibukan yang padat, dengan ringan beliau memberi bocoran, “Resepnya, menik- mati dan mensyukuri apa yang sudah ada,

Kesibukan sebagai staf pengajar dan praktek setiap harinya, tak membuat Dr. Sally Aman Nasution, Sp.PD, K- KV, FINASIM, FACP mengabaikan tu- gasnya di PB PAPDI. Bersama pengu- rus PB lainnya, beliau berjibaku me- ngawal perjalanan organisasi dengan segala dinamikanya.

Dedikasi untuk

Eksistensi PAPDI

Dr. Sally Aman Nasution, Sp.PD, K-KV, FINASIM, FACP

Dedikasi untuk

Eksistensi PAPDI

(20)

menjalani peran dan tanggung jawab yang diberikan. Dan tentu saja menjaga kesehatan.

Mungkin, kopi adalah ‘dopping-nya’ ya,”

ujarnya terkekeh.

Strategi untuk

Pertahankan Eksistensi

Awal kiprahnya di PAPDI Jaya tahun 2003-2004 disambut dengan problem besar yang mengguncang penyakit dalam, yaitu di- goyangnya eksistensi kardiologi.

“Saya komit dengan keputusan memilih kardiologi, walaupun saat itu merupakan ma- sa-masa sulit ketika eksistensinya mulai digo- yang. Namun, di sinilah perjuangan dibutuh- kan untuk terjun menyelesaikan masalah, mau tidak mau harus berada di dalam dan bekerja, tidak bisa hanya komentar, menge- luh apalagi protes tanpa solusi. Harus terlibat langsung di organisasi, dengan begitu kita pu- nya ruang dan kesempatan untuk berbicara menyampaikan apa yang menjadi aspirasi bersama,” paparnya.

Beruntung pada masa kepemimpinan Dr.

Aru, semua jajaran PB sepakat bahwa kar- diologi dan pulmonologi harus dipertahankan sebagai kompetensi seorang spesialis penya- kit dalam, sama seperti 10 subspesialisasi lainnya. Beberapa cara telah ditempuh teruta- ma kegiatan-kegiatan ilmiah yang menunjuk- kan cara berfikir dan bertindak komprehensif dari seorang dokter spesialis penyakit dalam.

Keberhasilan tersebut tak lepas dari peran personil PB yang solid. ”Kami memiliki visi dan semangat yang sama. Cara kerja dan ga- ya boleh berbeda-beda, asal visi, misi dan tu-

juannya sama, akan menemukan solusi yang baik. Kalau ada orang yang berbeda pendap- at dan beda gaya tidak masalah, justru akan memperkaya organisasi dan menjadi mozaik yang akan saling melengkapi,” tukasnya.

Dunia organisasi dan kardiologi merupa- kan passionnya. Baginya bukan hanya ilmu- nya yang menarik, tapi juga tantangan yang ada di dalamnya sangat menggelitik untuk di- hadapi.

”Saat itu, eksistensi kardiologi IPD kurang kondusif. Ada pihak tertentu, yang ingin meni- adakan profesi ini. Tentu hal ini keliru dan ti- dak berdasar,” sergahnya. “Seorang dokter yang memiliki kompetensi di bidang kardiolo- gi, tapi dilarang atau dibatasi mengerjakan hal-hal yang sesuai kemampuannya oleh pi- hak lain. Apalagi pihak tersebut bukan pihak berwenang.”

Lebih jauh Dr. Sally memaparkan, “Prin- sipnya eksistensi PAPDI ini harus utuh, tidak ada yang terlepas lagi, pertahankan dengan kerja nyata. Salah satu caranya ya turun ke daerah.

Selain itu, penerapan prinisp-prinsip ba- gaimana mengontrol keuangan dan manaje- rial secara umum. ”Organisasi harus dikelola secara profesional, konsolidasi internal dila- kukan, kami menyadari pembenahan harus mulai dari dalam.

Aktif di Forum Dunia

Kiprah Dr. Sally sebagai salah satu duta PB PAPDI tidak hanya di dalam negeri. Di antaranya mengaktifkan kembali peran PAPDI di sebagai anggota dari PAPDI dunia

yaitu International Society of Internal Me- dicine (ISIM).

“Diawali dengan kehadiran delegasi dari PB PAPDI di World Congress of Internal Me- dicine di Taipei, Taiwan tahun 2006. Dan setelah itu kami selalu mengirimkan delegasi untuk menghadiri kongres tersebut. Sampai mengajukan diri untuk ikut merebut kesem- patan sebagai tuan rumah dari kongres dunia tersebut. Pada WCIM tahun 2010 di Melbourne kita berhasil mendapatkan kesempatan tersebut. Dan Insya Allah tahun 2016 yang akan datang, World Congress of Internal Medicine akan diadakan di Bali, Indonesia. PAPDI sebagai tuan rumahnya.

Dan ini akan menjadi kerja besar dari semua cabang PAPDI, tidak hanya oleh pengurus pusat saja.”

“Kami hanya meneruskan upaya yang te- lah dirintis oleh para pioneer PB sebelumnya.

Bangga bahwa Indonesia bisa terpilih seba- gai tuan rumah karena ketat sekali pemilih- annya dan sangat objektif penilaiannya. Mulai dari kesiapan, fasilitasnya, berapa jumlah anggota, kondisi pendidikannya bagaimana, acara-acara ilmiah kita seperti apa, akses, hingga faktor keamanan,” papar Dr. Sally yang mengaku selalu deg-degan ketika harus tampil menyampaikan laporan di forum inter- nasional yang bergengsi ini.

Upaya yang sama dilakukan pula di ka- wasan regional seperti ASEAN. “Kami sema- ngat untuk bangkitkan kembali di forum re- gional yang juga sempat vakum dengan terli- bat aktif mensinergikan konsep, model pene- litian, benchmark yang ada di lima negara inti.

Kami mengaktifkan kembali organisasi AFIM (Asean Federation of Internal Medicine) dan bersama-sama Sejawat Internis dari negara- negara Asean tersebut, kami membentuk salah satu chapter internasional dari Ameri- can College of Physician (ACP).

Sejauh ini Dr. Sally menilai PAPDI dalam beberapa aspek sudah cukup ideal sebagai sebuah organisasi profesi. Secara organi- sasi track-nya sudah dibuat tinggal disem- purnakan. “Salah satu yang masih menjadi PR adalah kemandirian terutama dalam hal finansial seperti juga yang dialami organi- sasi lain, ada bebarapa hal yang bisa di- kembangkan agar PAPDI lebih mandiri dan profesional tidak tergantung pada pihak lain, apalagi kebijakan sekarang sudah sangat ketat,” pungkasnya menutup pembicaraan.

(HI)

Dr. Sally (duduk) bersama sejawat lain di Pelayanan Jantung Terpadu RSCM.

(21)

P

asca Konferensi Kerja XIII No- vember 2014 silam, PB PAPDI kem- bali menggelar Rapat Kerja Nasional PB PAPDI Dengan Semua Cabang PAPDI 2015 yang diselenggarakan di Hotel Harris, Jakarta, 21-22 Februari 2015 lalu.

Rapat kerja tahunan Pengurus Besar Per- himpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) ini dihadiri oleh pen- gurus PB PAPDI, delegasi dari 36 cabang PAPDI dan Departemen ilmu Penyakit Da- lam Fakultas Kedokteran di seluruh Indone- sia. Mereka hadir dari berbagai daerah di Indonesia untuk konsolidasi dan sosialisasi program kerja PAPDI yang akan sampaikan ke anggota PAPDI di daerah masing-ma- sing.

Rapat kali ini merupakan rakernas ter- akhir kepengurusan PB PAPDI periode 2012-2015. Program kerja yang telah dite- tapkan dalam renstra dievaluasi serta di- benahi hingga kepengurusan periode ini se- lesai. Selain merampungkan program-pro- gram yang tersisa, rakernas ini juga menga- gendakan beberapa isu-isu nasional, seper- ti gratifikasi dan evaluasi BPJS. “Rakernas kali ini merupakan rapat kerja tahunan PB PAPDI bersama cabang-cabang PAPDI di seluruh Indonesia yang terakhir untuk kepe-

ngurusan PB PAPDI 2012-2015. Di samping membahas program kerja yang telah dite- tapkan dalam renstra, pada kesempatan ini dipaparkan hasil kerja Tim Adhoc Gratifikasi PB PAPDI,” kata Ketua Umum PB PAPDI Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP

pada sambutan pembukaan Rakernas PB PAPDI.

Persoalan gratifikasi menyita perhatiaan peserta rakernas. Sesi pertama yang meng- angkat tema “Berbagai Aspek terkait Gratifi- kasi dalam Layanan Profesi Dokter” dihujani berbagai pertanyaan dari peserta rakernas.

Rakernas PB PAPDI dengan Semua Cabang PAPDI 2015:

Tetap Profesional Hingga Akhir Periode

Rakernas terakhir untuk kepengurusan periode 2012 – 2015.

Bersama menjalankan renstra untuk mengga- pai visi PAPDI 2015.

Prof. Idrus, memberi sambutan pembukaan Rakernas. Dr. Sally A. Nasution saat Rakernas PAPDI.

Suasana Rakernas PAPDI.

(22)

dalam sesuai dengan tempat institusi mere- ka bekerja.

Selain dua pembicara di atas, sesi yang dimoderatori Sekretaris jenderal PB PAPDI Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINA- SIM, FACP ini juga mengundang Direktur Rumah Sakit Budi kemuliaan, Batam Dr.

Dindin Hardiono Hadim, SpPD, FINASIM dan Wakil Direktur Pelayanan RSU Bahtera- mas, Kendari Dr. M. Yusuf Hamra, SpPD, MSc. Kedua pembicara yang juga anggota PAPDI, berbagai pengalaman dalam me- ngelola JKN di tempatnya masing-masing.

Usai mendapat asupan gratifikasi dan BPJS, rakernas dilanjutkan dengan pema- paran laporan dari setiap bidang. Sebelum- nya, acaranya didahului dengan mende- ngarkan arahan dari Ketua Umum PB PAPDI, Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP mengenai pencapaian yang telah diperoleh pengurus periode 2012-2015. Acara dilan- jutkan dengan laporan persiapan Pertemuan Ilmiah Nasioanal XIII PB PAPDI di Palem- bang oleh Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K- KV, FINASIM, laporan persiapan KOPAPDI XVI di Bandung oleh DR. Dr Arto Yuwono Soeroto, SpPD, K-P, FINASIM dan laporan persiapan WCIM 2016 oleh DR. Dr. Aru W.

Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP.

Kemudian acara dilanjutkan laporan tiap- tiap bidang. Bidang Organisasi mendapat kesempatan pertama untuk menyampaikan laporannya dipresentasikan oleh Dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, K-Ger, FINASIM.

Lalu dilanjutkan Bidang Advokasi oleh Dr.

Prasetyo Widhi Buwono, SpPD, FINASIM, Bidang Kemitraan dan Kerjasama oleh Dr.

Tunggul D. Situmorang, SpPD, K-GH, FINASIM, Bidang Pengembangan Profesi

oleh DR. Dr. Mardi santoso, SpPD, K-EMD, FINASIM, FACE, Bidang Humas, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat oleh Dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, FINASIM, dan Bidang Etik oleh Dr. Bambang Subagyo, SpPD, FINASIM, SE,MM dan terakhir lapo- ran Bidang Medikolegal oleh DR. Dr. Lucky Aziza Bawazier, SH, SpPD, K-GH, FINASIM, FACP. Kemudian ada pula penje- lasan P2KB oleh Dr. Ida Ayu Made Kshanti, SpPD, K-EMD, FINASIM dan laporan penje- lasan PNPK, PPK, serta Clinical Pathway oleh Dr. Muhadi, SpPD, FINASIM.Sesi ini ditutup dengan diskusi yang dimoderatori oleh Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM.

Pada sesi terakhir, peserta menden- garkan laporan dari tim adhoc PB PAPDI, yaitu Tim Adhoc Gratifikasi oleh Dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD, K-GH, FINASIM, Tim Adhoc Adolescent oleh DR. Dr Arto Yuwono Soeroto, SpPD, K-P, FINASIM, Tim Adhoc SJSN oleh Dr. Prasetyo Widhi Buwono, SpPD, FINASIM, Tim Adhoc Mapping need oleh Dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, K-Ger, FINASIM dan laporan Tim Adhoc Dokter Asing oleh DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP.

Pertemuan ini diakhiri oleh pemaparan kesimpulan hasil rakernas oleh Dr. Sally A.

Nasution SpPD, K-KV, FINASIM, FACP.

Dari rakernas ini diharapkan hasil-hasil yang telah diputuskan dapat dilaksanakan dan disosialisasikan ke anggota-anggota PAPDI di daerah sehingga PAPDI sebagai organisasi dapat lebih meningkatkan profes- sionalisme dan dokter-dokter ahli penyakit dalam dapat meningkatkan kompetensinya agar dapat memberi pelayanan kesehatan terbaik. (HI)

Sementara para pembicara dari Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Kese- hatan RI Drg. SR Mustikowati, M.Kes dan Tim Kajian Gratifikasi di Bidang Kedokteran PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Djoko Widyarto, JS, DHM, MH.Kes, mesti ekstra sabar menanggapi banyaknya interupsi dari perwakilan anggota PAPDI dari berbagai daerah di Indonesia. Suasana kian hangat dengan “celetukan” DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP selaku moderator yang mengawal ja- lannya sesi tersebut.

Selain soal gratifikasi, isu seputar Jamin- an Kesehatan Nasional (JKN) masih mena- rik perhatian peserta rakernas. Program JKN yang telah berlangsung lebih dari satu tahun, dalam pelaksanaanya masih banyak ditemui kejanggalan, diantaranya, kurang- nya ketersediaan obat, sistem rujukan yang tidak berjalan, jasa tarif yang dinilai kurang proporsional hingga remunerasi yang tidak berkeadilan. Selain berpengaruh pada pen- dapatan dokter, hal tersebut mengganggu dokter dalam memberi pelayanan kese- hatan. Di samping itu, pelaksanaan program JKN ada yang memberikan keuntungan bagi rumah sakit, namun tak sedikit yang rumah sakit yang kecewa.

Persoalan tersebut mengundang per- tanyaan bagi internis yang hadir pada raker- nas itu. Pada sesi yang mengangkat tema

“Evaluasi Pelaksanaan BPJS dalam Pelayanan Penyakit Dalam” ini meng- hadirkan narasumber Direktur Utama BPJS DR. Dr. Fachmi Idris, MKes, dan Wakil Ketua Tim Tarif NCC, Kemenkes Dr.

Achmad Soebagyo, MARS. Kedua pem- bicara memaparkan hasil evaluasi pelak- sanaan JKN terkait pelayanan penyakit

(23)

P

ersoalan gratifikasi menarik perhati- aan peserta Rakernas PB PAPDI dan Semua Cabang PAPDI 2015.

Pengurus PB PAPDI beserta per-

wakilan cabang PAPDI dari seluruh daerah di Indonesia antusias menanggapi isu grati- fikasi yang dipaparkan oleh narasumber dari Sekretaris Inspektorat Jenderal Kemen-

terian Kesehatan RI Drg. SR Mustikowati, M.Kes dan Tim Kajian Gratifikasi di Bidang Kedokteran PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. Djoko Widyarto, JS, DHM, MH.Kes.

Mereka silih berganti mengajukan berbagai pertanyaan tentang bentuk pemberian dari pihak ketiga yang berpotensi gratifikasi.

Suasana kian hangat dengan “celetukan”

DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP selaku moderator yang mengawal jalannya sesi tersebut.

Isu gratifikasi yang marak diberitakan di beberapa media cetak mengusik dokter, ter- masuk dokter penyakit dalam. Berbagai bentuk gratifikasi yang diterima segelintir dokter dari perusahaan farmasi dapat me- rusak citra profesi dokter yang mulia ini.

Kongkalikong “oknum dokter” dengan per-

Tim Adhoc Gratifikasi PB PAPDI:

Sponsorship untuk CME

Bukan Gratifikasi

Sponsor kepada tenaga medis dalam event CPD atau P2KB tidak melanggar etika profesi dan etika bisnis baik nasional maupun international.

Hingga kini Negara belum mampu menfasilitasi atau membiayai CME, PAPDI akan terus mem- perjuangkan sponsorship dalam rangka koridor ilmiah bukan termasuk gratifikasi suap.

Dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD, K-GH, FINASIM saat Rakernas PAPDI.

(24)

usahaan farmasi dalam pemasaran obat da- pat mencederai kode etik kedokteran. Me- nanggapi hal ini, PB PAPDI pada Konferensi Kerja XIII PB PAPDI di Yogyakarta No- vember 2014 lalu merespon cepat dengan membentuk Tim Adhoc Gratifikasi. “Tim Adhoc Gratifikasi merupakan amanat Kon- ker XIII PB PAPDI di Yogyakarta,” kata Ketua Umum PB PAPDI Prof. DR. Dr. Idrus Alwi, SpPD,K-KV, FINASIM, FACC, FESP, FAPSIC, FACP pada sambutan pembukaan rakernas itu.

Pembentukan tim ini, kata Prof. Idrus, untuk mengkaji hal-hal yang dapat terkait gratifikasi. Pasalnya, hingga kini persepsi gratifikasi antar dokter atau institusi cukup beragam. Mana yang termasuk gratifikasi, mana yang bukan, masih terbilang samar- samar. Batas-batas gratifikasi masih berbe- da-beda pendapat. Untuk itu, PB PAPDI membentuk Tim Adhoc Gratifikasi yang te- lah ditetapkan 6 Januari 2015 dengan dike- tuai Dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD, K- GH, FINASIM.

Pengendalian Gratifikasi di Lingkungan

Kemenkes

Gratifikasi telah diatur dalam Undang- Undang dan berbagai peraturan. Namun, menurut Drg. Mustikowati, dokter seringkali tidak mengetahui pemberian dari pihak keti- ga termasuk kategori gratifikasi. Padahal, Kemenkes telah menerbitkan Permenkes

No. 14 tahun 2014 tentang Pengendalian Gratifikasl di Lingkungan Kementerian Ke- sehatan RI yang menjadikan Kemenkes ke- menterian pertama yang mengeluarkan per- aturan gratifikasi dan mendapat apresiasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

”Larangan gratifikasi di lingkungan Kemen- kes telah diatur dalam Permenkses terse- but,” katanya.

Drg. Mustikowati mengatakan penerbitan Permenkes No. 14 bukan untuk mempersu- lit pegawai Kemenkes, namun sebaliknya.

Permenkes ini sebagai wujud peduli terha- dap pegawai Kemenkes terkait pemberian dari pihak ketiga yang terindikasi gratifikasi.

”Peraturan ini sebagai peringatan agar tidak terperangkap korupsi. Prinsipnya, agar dok- ter mengetahui apa yang dilakuan termasuk ada unsur gratifikasi atau tidak. Jangan sampai hal-hal yang dianggap biasa, kemu- dian temen-temen profesi terkena gratifi- kasi.” ujarnya.

Dalam Permenkes tersebut dijelaskan secara rinci gratifikasi di lingkungan Kemen- terian Kesehatan. Gratifikasi adalah pem- berian uang, barang, rabat (discount), ko- misi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalan- an, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lain- nya baik yang diterima di dalam negeri mau- pun di luar negeri dan yang dilakukan de- ngan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik yang berhubungan dengan jabatan atau kewenangan.

Drg. Mustikowati mengatakan gratifikasi

meliputi 2 kategori. Yaitu, gratifikasi yang dianggap suap dan gratifikasi yang tidak di- anggap suap. Gratifikasi yang dianggap suap adalah penerimaan yang tidak terba- tas pada: a) marketing fee atau imbalan yang bersifat transaksional dan terkait den- gan pemasaran suatu produk; b) cashback yang diterima instansi digunakan untuk ke- pentingan pribadi; c) gratifikasi yang terkait pelayanan barang dan jasa, pelayanan pub- lik dan lainnya; d) sponsorship yang terkait pemasaran dan penelitian suatu produk.

Sedangkan, gratifikasi yang tidak diang- gap suap meliputi 2 kategoti. Kategori perta- ma, gratifikasi yang tidak dianggap suap ter- kait kedinasan, misalnya seperti pemberian berupa cindera mata dalam kegiatan resmi kedinasan seperti rapat, seminar, workshop, konferensi dan kegiatan lain sejenis, dan sponsorship yang diberikan kepada organi- sasi terkait pengembangan institusi yang di- manfaatkan secara transparan dan akunta- bel pelatihan atau kegiatan lain sejenis. Dan kedua, gratifikasi yang tidak dianggap suap tidak terkait kedinasan, misalnya pemberian dari orang lain yang terkait dengan acara pernikahan, keagamaan, upacara adat, ke- lahiran, aqiqah dan lain-lain sepanjang tidak memiliki konflik kepentingan dan dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan setelah diverifikasi dan klarifikasi dinyatakan tidak dianggap suap.

Dalam hal ini, penerima gratifikasi ada- lah pegawai negeri sipil, penyelenggara ne- gara, pegawai pemerintah dengan perjan- jian kerja dan pegawai lain yang bekerja di lingkungan Kementerian kesehatan. “Bila ada yang menerima gratifikasi maka harus melaporkan ke Unit Pengendalian Gratifi- kasi (UPG) Kemenkes yang selanjutnya akan diteruskan ke KPK,” katanya.

Sponsorship yang

Berkaitan dengan P2KB, Gratifikasi?

Profesi dokter dituntut selalu menjaga dan meningkatkan kompetensi. Lalu apakah sponsorship yang dalam rangka continuing professionalism development (CPD) terma- suk gratifikasi dengan kategori suap? Dr.

Djoko Widyarto, JS, DHM, MH.Kes, dari PB IDI menjelaskan profesi dokter memiliki ko- de etik yang menyataan bahwa seorang dokter tidak dalam melakukan pekerjaannya

Dr. Djoko Widyarto, JS, DHM, MH.Kes saat Rakernas PAPDI.

(25)

tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang dapat menghilangkan kebebasan dan ke- mandirian profesi. “Setiap dokter dilarang membuat ikatan atau menerima imbalan dari pihak manapun yang akan menghilang- kan kepercayaan publik dan menurunkan martabat dokter,” tegas anggota Tim Gratifi- kasi PB IDI ini ketika mempresentasikan makalahnya.

Lebih lanjut Dr. Djoko mengatakan ter- kait dengan mengikuti pertemuan ilmiah, dokter dilarang mengikatkan diri untuk mempromosikan atau meresepkan obat.

Pemberian sponsor ke dokter hendaknya di- batasi pada kewajaran dan dijelaskan tu- juan, waktu, tempat dan nama kegiatan ilmi- ahnya. Pemberian tersebut dilaporkan ke pimpinan organisasi setempat dan diterus- kan ke pimpinan nasional IDI. Dalam hal ini, tambah Dr. Djoko, sponsor kepada tenaga medis dalam event CPD atau P2KB tidak melanggar etika profesi dan etika bisnis baik nasional maupun international.

Hal senada disampaikan Prof. Idrus. Ia mengatakan kerjasama dokter dengan ber- bagai mitranya dalam koridor continuing medical education (CME) hendaknya tidak termasuk gratifikasi. Pasalnya, dokter untuk menjaga dan meningkatkan kompetensinya seperti diamanatkan dalam UUPK memer- lukan biaya yang tidak sedikit, sementara negara hingga saat ini belum mampu mem- fasilitasi atau membiayai dokter untuk meng up date keilmuan dan ketrampilan medis-

nya. “Kegiatan dalam koridor ilmiah tidak bi- sa menafikkan sponsorship dari mitra far- masi dan alkes. Selama negara belum mampu memfasilitasi CME, PAPDI akan te- rus memperjuangkan sponsorship bukan gratifkasi,” ujar Prof. Idrus.

Lewat Tim Adhoc Gratifikasi, PAPDI ber- upaya mendorong agar sponsorship pada kegiatan CME bukan gratifikasi. Ketua Tim Gratifikasi PB PAPDI Dr. Tunggul mengata- kan, tim ini telah melakukan audiensi ke Ke- menkes dan instansi lain yang terkait. Se- belumnya, tim ini telah bekerja mengkaji hal-hal seputar gratifikasi dengan mengha-

dirkan narasumber dari IDI, pengacara hing- ga KPK. “Kami mendukung segala upaya yang dilakukan PB IDI yang terkait masalah etik kedoktetan,” kata Dr. Tunggul.

Untuk menghindari gratifikasi, Drg. Mus- tikowati mengatakan semua pemberian dari pihak ketiga yang bertujuan penelitian, CME baik mengikuti seminar ke dalam atau luar negeri hendaknya ditujukan kepada pimpin- an institusi. Dari pimpinan nanti didistribu- sikan kepada para dokter secara transpa- ran. ”Silahkkan didiskusi oleh pimpinan, me- kanisme seperti apa. Yang penting pembe- rian bukan ke individu,” katanya. (HI)

Drg. SR Mustikowati, M.Kes saat Rakernas PAPDI.

Prof Idrus bersama pembicara dan moderator.

Referensi

Dokumen terkait