• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik

Dr. Ahmad Zuber, D.E.A.

Email: [email protected]

Prodi Sosiologi, FISIP, UNS

(2)

Materi Bahasan

Pendekatan-Pendekatan dalam Ilmu Politik.

Pendekatan Legal/ Institusional

Pendekatan prilaku.

Pendekatan neo-Marxis

Teori ketergantungan (Dependency Theory)

Pendekatan Pilihan Rasional (Rational Choice)

Pendekatan Institusionalisme Baru

(3)

Definisi Pendekatan

Menurut Vernon van Dyke (dlm Budiarjo, 2008):

Pendekatan adalah kriteria untuk menyeleksi masalah dan data yang relevan.

Pendekatan mencakup: Standar atau tolak ukur yang dipakai untuk memilih masalah dan menentukan

data mana yang akan diteliti serta data yang mana yang akan dikesampingkan.

Berbeda dg metode yg hanya mencakup prosedur utk memperoleh dan mempergunakan data.

(4)

Pertama, Pendekatan Legal/ Institusional

Disebut juga sbg pendekatan tradisional Isi Kajian dan Ciri:

– Filsafat.

• Normatif: Menjelaskan yang seharusnya, bukan keadaan sebenarnya.

• Preskriptif: Paduan mana yang baik dan buruk.

– Sejarah.

• Historis: Kajiannya tentang masa lampau.

• Deskriptif: Bersifat paparan.

– Hukum.

• Legal konstitusional: Lembaga formal

(5)

Lainnya:

– Sarat Nilai: Syarat-syarat baik dan buruk dalam masyarakat.

– Pendekatan tradisional gagal dalam pembangunan teori.

• Namun banyak menghasilkan filsafat politik atau acuan hukum atau etika politik.

• Teori adalah penjelasan yang berasal dari fakta empirik.

• Filsafat adalah penjelasan yang tidak berasal dari fakta empirik.

Metode:

– Kualitatif: Tidak memakai bantuan statistik dan matematika.

– Metode kuantitatif menggunakan bantuan statistik dan matematika. Dimulai sejak 1932.

(6)

Contoh karya Buku Pendekatan Tradisional

Algemene Staatleer (Ilmu Negara Umum) oleh R.

Krannenburg (1959).

(7)

Pendekatan pd kegiatan dan proses

Sarjana Amerika, pertengahan awal 1930-an muncul pendekatan yg lebih melihat pd kegiatan dan proses.

Madzhab Chicago, seperti Charles E. Merriam dg karyanya, Political Power: its composition and incidence (1934).

Harrold D. Laswell, Politics: Who gets What, When, How (1936).

Bg mereka esensi dr politik adlah kekuasaan, terutama kekuasaan utk menentukan kebijakan publik (Budiarjo, 2008).

(8)

Pendekatan Prilaku (Behavioral Approach)

Mulai berkembag di Amerika pd th 1950.

Sebab-sebab munculnya:

1. Sifat deskriptif dr ilmu politik diangap tdk memuaskan, karena tdk realistik dan sangat berbeda dg kenyataan sehari-hari

2. Ada kekhawatiran bhw jika ilmu politik tdk maju dg pesat, maka ia akan ketinggalan dibandingkan dg ilmu yg lain.

3. Di kalangan pemerintah Amerika telah muncul keraguan mengenai kemampuan para sarjana ilmu politik utk

menerangkan fenomena politik.

(9)

Pendekatan Prilaku (Behavioral Approach)

Pada pendekatan prilaku ini:

– Pembahasan struktur berubah menjadi pembahasan proses.

– Pembahasan lembaga berubah menjadi pembahasan perilaku.

– Mengkaji tdk hanya perilaku dan kegiatannya saja tetapi jg pada orientasinya thdp kegiatan tertentu seperti sikap, motivasi, evaluasi, tuntutan, harapan, dsb.

– Cenderung bersifat interdisipliner

(10)

endekatan Prilaku (Behavioral Approach)

David Easton (1962), dan Albert Somit (1967) menguraikan konsep pokok pendekatan perilaku

1. Perilaku politik menampilkan keteraturan (regularities)

2. Harus ada usaha membedakan scr jelas antara norma (ideal atau standard sbg pedoman utk perilaku) dan fakta

(sesuatu yg dapat dibuktikan berdasarkan pengamatan dan pengalaman).

3. Analisis politik tdk boleh dipengaruhi oleh nilai-nilai pribadi si peneliti; setiap analisis harus bebas nilai (value-free),

sebab benat tidknya nilai-nilai spt misalnya demokrasi, persamaan, kebebasan, tdk dapat diukur scr ilmiah.

(11)

4. Penelitian harus sistematis dan menuju pembentukan teori (theory building).

5. Ilmu politik harus bersifat murni (pure science);

kajian terapan utk mencari penyelesaian masalah (problem solving) dan menyusun rencana perbaikan perlu dihindarkan. Akan tetapi ilmu politik harus

terbuka bagi dan terintegrasi dg ilmu-ilmu lainnya.

 Ciri khas pendkt perilaku adlh masyarakat dipandang

sbg suatu sistem sosial, dan negara dipandang sbg suatu sistem politik yg menjadi subsistem dari sistem sosial.

(12)

Contoh Pendekatan Prilaku

The Civic Culture (1963) dan The Civic Culture

Revisited (1980) oleh Gabriel A. Almond dan Sidney Verba.

Structural Functional Analysis oleh Gabriel A.

Almond.

General System Analysis oleh David Easton.

Communication Theory oleh Karl Deutsch.

(13)

Kritik Terhadap Pendekatan Prilaku

Hanya mementingkan pembangunan teori, tanpa mengindahkan kebutuhan “aksi” dan “relevansi.”

Aspek “kuantitatif” dalam banyak hal dianggap terlalu menyederhanakan kesimpulan.

“Norma-norma” politik ditinggalkan oleh penganut prilaku.

(14)

Pendekatan Pascaprilaku

(Post-Behavioral Approach)

Beberapa Ciri:

Dalam usaha mengadakan penelitian empirik dan

kuantitatif, ilmu politik menjadi terlalu abstrak dan tidak relevan dengan masalah-masalah sosial. Menangani

masalah-masalah sosial lebih penting daripada kecermatan dlm penelitian.

Bersifat konservatif, karena terlalu menekankan keseimbangan dalam sistem dan kurang memberi peluang-peluang pada perubahan.

Dalam penelitian, nilai-nilai tidak boleh dihilangkan. Ilmu tidak boleh value free dalam evaluasinya.

(15)

Pendekatan Pasca-Prilaku

(Post-Behavioral Approach)

– Para cendekiawan mempunyai tugas historis

melibatkan diri dalam usaha mengatasi masalah- masalah sosial dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.

Sarjana harus action oriented. Membentuk masyarakat yang lebih baik.

Mereka harus merasa committed utk aktif mengubah masyarakat agar menjadi lebih baik. Sarjana harus

berorientasi pd tindakan (action oriented).

(16)

Hasilnya:

Pendekatan membaur satu sama lain.

Pendekatan deskriptif dilengkapi dengan analisis pelaku-pelakunya.

Nilai-nilai dan norma didudukan kembali pada tempatnya yang terhormat.

Contoh pendekatan pascprilaku adalah The New Revolution in Political Science (1969) oleh David Easton.

(17)

Pendekatan Neo-Marxis

Tokoh imuah antara lain Georg Lukacs (1885-1971) dlm karyanya History and Class Conciousness.

Para Neo-Marxis menolak komunisme dr Uni Soviet yg represif, tapi di satu sisi juga tdk setuju dg banyak aspek dari kapitalisme.

Di Amerika Serikat setelah PD II muncul istilah perang dingin antara Amerika dg Uni Soviet.

Th 1960-an, di Eropa barat dan Amerika dilanda berbagai konflik sosia, ekonomi, dan rasial yg meresahkan.

Sbg reaksi banyak cendekiawan mencari jalan keluar.

(18)

Tokoh Neo-Marxis, Bertell Olman& Edward Vernofff

berpendapat bhw membahas masalah sosial scr holistik (semua berkaitan erat dan tdk boleh dipisah-pisahkan) dan dialektis

(mereka melihat sejarah soalah-olah terdorong oleh

pertentangan antara dua kelas sosial), yt: adanya dua himpunan massa (aggregates) yg sedikit banyak kohesif serta memiliki

banyak fasilitas(the advantage) dan mereka g tdk mempunyai fasilitas (the disadvantage).

Negara cenderung memberi dukungan pd kelas pertama.

Neo-Marxis menghapus ketidakadilan, & membentuk tatanan masyarakat yg memenuhi kepentingan seluruh masyarakat (Budiarjo, 2008).

(19)

Pendekatan Teori ketergantungan (Dependency Theory)

Kaum yg menghususkan penelitiannya pd hubungan

negara Dunia Pertama dan negara Dunia Ketiga th 1970- an dan 1980-an (Paul baron, Andre Gunder Frank).

Kaum ini berpendapat bhw imperialisme masih hidup, tetapi dlm bentuk lain, yt dominasi dr negara-negar kaya thd negara yg kurang maju (underdeveloped).

(20)

Pembangunan negara Dunia Ketiga terkait dg kepentingan Pihak Barat

1. Negara bekas jajahan dpt menyediakan sumber daya alam.

2. Negara kurang maju dpt menjadi pasar utk hasil produks negara maju, sedangkan produksi utk ekspor sering ditentukan oleh negara maju.

Mengakibatkan keterbelakangan/ kemiskinan pada negara-negara kurang maju.

Contoh Negara-negara Amerika Selatan

(21)

Pendekatan pilihan rasional

Bahwa manusia politik (homo politicus) sudah menuju ke arah manusia ekonomi (homo

economicus).

Perilaku manusia dpt dg mudah diramalkan dg cara melihat kepentingan-kepentingan dari aktor yg

bersangkutan (involved).

(22)

Prinsip dari Pelaku Rational Action;

Politisi, birokrat, pemilih dan aktor ekonomi, pd

dasarnya egois dan segala tindakannya berdasarkan pd kecenderungan ini.

Mereka sll mencari cara yg efisien utk mencapai tujuannya.

Optimalisasi kepentingan dan efisiensi merupakan ini dari teori rational choice.

(23)

Doktrin Jame B. Rule ttg penganut rational choice

1. Tindakan manusia pd dasarnya adalah instrumen (dlm arti alat bantu) untuk mencapai tujuan yg diinginkan

2. Para aktor merumuskan perilakunya mll

perhitungan rasional mengenai aksi mana yg akan memaksimalkan keuntungannya.

3. Proses-proses sosial berskala besar termasuk

ratings, praktik-praktik merupakan hasil kalkulasi perhitungan rasional (dlm Budiarjo, 2008).

(24)

Pendekatan institusionalisme baru

Mengapa disebut institusionalisme baru, karena ia mrpkn penyimpangan dari institusionalisme lama.

Pendekatan institusionalisme lama memandang negara sebagai institusi yg statis.

Pendekatan institusionalisme baru memandang

negara sbg institusi yang dpt diperbaiki utk mencapai tujuan tertentu. Contoh, membangun masyarakat yg lebih makmur.

(25)

Pendekatan institusionalisme baru Robert E.

Goodin

1. Aktor dan kelompok melaksanakan proyeknya dlm suatu konteks yg dibatasi scr kolektif.

2. Pembatasan2 itu terdiri dari institusi2, yt:

a) pola norma, dan pola peran yg telah berkembang dlm kehidupan sosial, dan

b) perilaku dari mereka yg memegang peran itu.

3. Pembatasan2 ini dlm banyak hal memberikan keuntungan bagi individu atau kelompok dlm mengejar proyek masing-masing.

(26)

4) Hal ini disebabkan karena faktor-faktor yg membatasi kegiatan individu dan kelompok, juga memengaruhi

pembentukan preferensi dan motivasi dr aktor & kelompok- kelompok.

5) Pembatasan-pembatsan ini mempunyai akar historis, sbg peninggalan dari tindakan dan pilihan-pilihan masa lalu.

6) Pembatasan-pembatasan ini mewujudkan, memelihara, dan memberi peluang serta kekuatan yg berbeda kpd individu dan kelompok masing-masing.

(27)

Terima kasih

Referensi

Dokumen terkait