• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Dinamika Makna Ritual Cukur Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng (Studi Living Al-Qur`an)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of Dinamika Makna Ritual Cukur Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng (Studi Living Al-Qur`an)"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

DINAMIKA MAKNA RITUAL CUKUR RAMBUT GIMBAL DI DATARAN TINGGI DIENG

(Studi living qur’an)

Oleh: Musianto Prihatin

Mahasiswa Pascasarjana UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo email:

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang Makna Ritual Rambut Gimbal di Dataran Tinggi Dieng dalam (Studi Living Qur’an). Dalam penulisan ini, penulis mengfokuskan pembahasan pada makna yang terkandung dalam ritual pemotongan Rambut Gimbal yang merupakan pesan moral dan juga kearifan local masyarakat Dieng, dimana tradisi-tradisi tersebut merupakan tradisi local yang memiliki nilai spiritualitas bagi masyarakat Dieng. Memaknai tradisi tersebut adalah dilihat dari aspek substansinya dan bukan hanya simbol. Karena, jika memandang tradisi tersebut hanya dari aspek simbolnya, maka akan mendapati pada tradisi tersebut hanyalah sebuah tontonan atau hiburan belaka, bahkan yang lebih ekstrim akan menyalkahkan, menyesatkan, dan menganggap aneh dan tidak masuk akal tradisi tersebut.

Untuk itu, perlu sudut pandang yang intensif untuk memahami tradisi tersebut.

Diantara beberapa sudut pandang yang penulis gunakan dalam kaitannya dengan living Qur’an penulis menggunakan paradigma akulturasi. Dengan paradigma akulturasi, peneliti berupaya mengetahui unsur-unsur dari tradisi rambut gimbal yang mempengaruhi pola interpretasi atau pemahaman masyarakat Dieng terhadap al- Qur’an, dan bagaimana ajaran-ajaran dalam al-Qur’an kemudian berkolaborasi dengan tradisi rambut gimbal. Selain itu, penulis juga menggunakan paradigma fenomenologi, paradigma ini digunakan untuk mempelajari suatu gejala sosial-budaya untuk mengungkap kesadaran atau pengetahuan pelaku mengenai pemaknaan mereka terhadap perilaku-perilaku mereka sendiri. Dengan perspektif fenomenologi ini, peneliti tidak lagi akan menilai kebenaran atau kesalahan pemahaman para pelaku tertentu mengenai al-Qur’an.

Kata Kunci: Rambut Gimbal, Al-Qur’an, Makna

A. Latar Belakang Masalah

Berawal dari fenomena alam yang terjadi di dataran tinggi Dieng, selain

menyajikan berbagai panorama alam yang indah nan eksotis, Dieng juga memiliki berbagai macam cerita rakyat yang

(2)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

menarik untuk dibahas. Salah satunya adalah fenomena rambut gimbal. Rambut gimbal, umumnya terjadi pada anak-anak Dieng yang masih berusia sekitar dua sampai dua belas tahun. Diantara keunikan-keunikan yang akan penulis bahas adalah ritual pencukurannya, dan lain-lain. Mengenai pencukurannya, si anak baru akan dicukur setelah si anak minta untuk dicukur, dan juga ada permintaan dari si anak yang harus dikabulkan dan harus keinginan sendiri.1 Permintaan (jejaluk) dari si rambut gimbal dipercayaoleh masyarakat, yang percaya bahwa permintaan dari anak yang berrambut gimbal adalah permintaan dari Kiai Kolodete.

Sedangkan tradisi pencukuran rambut gimbal atau yang dinamakan dengan Ruwetan atau ruwatan yang berasal dari kata ruwat atau mengruwat yang berarti membuat lemah atau melemahkan, menghilangkan kekuatan lain yang mengganggu anak-anak Dieng yang berrambut gimbal, atau disebut mbuwang sukerto (membuang sial).2 Dinamkan ritual pemotongan rambut

1 Wawancara dengan Naryono seorang tokoh adat di Dieng Kulon Banjarnegara 22 Februari 2016.

2 Wawancara dengan Naryono di Dieng Kulon Banjarnegara 22 Februari 2016.

gimbal yang ada di Dieng, adalah sebuah tradisi yang memiliki nilai spiritualitas dan makna kehidupan yang luar biasa, dan jugas sebagai simbol kearifan lokal masyarakat Dieng.

Budaya yang sekaligus sebagai sumber kearifan lokal tersebut, adalah budaya asli Indonesia. Sebuah budaya yang mana jika dilihat dari sejarahnya, budaya lokal tersebut merupakan hasil adopsi dari budaya Hindu, dan di dalamnya mengandung unsur teologi Hindu. Maka dari itu, baik secara langsung ataupun tidak, orang yang mempercayai, bahkan mengamalkan aturan budaya tersebut secara totalitas akan bertentangan dengan ajaran Islam.

Hal ini dilarang dalam ajaran Islam.

Darisinilah pentingnya seseorang memahami antara hal yang sakral dengan yang profan agar seseorang tersebut tidak terjebak pada perbuatan syirik yang mengakibatkan seseorang tersebut dianggap kafir.

B. Pegertian Living Qur’an

Living Qur’an hakikatnya adalah fenomena Qur’an in Everiday Live, yakni makna dan fungsi al-Qur’an yang rill dipahami dan dialami masyarakat muslim.

(3)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

Artinya praktik mengfungsikan al-Qur’an dalam kehidupan praktis, di luar kondisi tekstualnya.3 Sedangkan menurut Muhammad Yusuf, living Qur’an adalah respon sosial terhadap al-Qur’an, baik itu anggapan masyarakat terhadap al-Qur’an sebagai ilmu yang profan (tidak keramat), atau anggapan masyarakat terhadap al- Qur’an sebagai kitab petunjuk yang sakral.4

Living Qur’an, juga dapat diartikan sebagai “fenomena yang hidup di tengah masyarakat muslim terkait dengan al-Qur’an sebagai objek studinya”.

Oleh karena itu, kajian tentang Living Qur’an dapat diartikan sebagai kajian tentang “berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran al-Qur’an atau keberadaan al-Qur’an di sebuah komunitas muslim tertentu.5 Dengan begitu, maka dalam bentuknya yang paling sederhana The Living Qur’an tersebut pada dasarnya sudah sama tuanya dengan al-Qur’an itu sendiri. Meskipun

3 Shairon Syamsudin, Metodologi.,hal.

46.

4 Yusuf, M., “Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur’an”, dalam Heddy Shri Ahimsa Putra, “The Living Al-Qur’an:

Beberapa Perspektif Antropologi,” Walisongo, No.

1, Vol. 20 (Mei, 2012), hal. 239.

5 M. Mansyur, dkk.,“Metodologi

Penelitian Living Qur’an dan Hadits”, dalamIbid, hal. 238.

demikian, praktek-praktek tersebut belum menjadi objek kajian penelitian mengenai al-Qur’an, sampai ketikapara ilmuwan Barat tertarik untuk meneliti fenomena Living Qur’an tersebut.

Namun, living Qur’an Jika dilihat secara bahasa, adalah gabungan dari dua kata yang berbeda, yaitu living, yang berarti ‘hidup’ dan Qur’an, yaitu kitab suci umat Islam. Darisini, maka secara sederhana living Qur’an dapat diartikan sebagai “(teks) al-Qur’an yang hidup di dalam masyarakat”.6 Al-Qur’an yang hidup di mayasarakat merupakan perwujudan dari tingkah laku masyarakat yang didasarkan pada ajaran al-Qur’an, artinya al-Qur’an dijadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari, hal ini yang kemudian dimaknai sebagai Living Qur’an. Pemaknaan tersebut yang oleh Heddy Shri Ahimsa Putra diklasifikasikan menjadi tiga kategori7:

Pertama, Living Qur’an yang didasarkan pada hadist Nabi Muhammad SAW.

Kedua, adalah Living Qur’an yang mengacu pada suatu masyarakat yang

6 Sahiron Syamsudin, “Ranah-ranah Penelitian dalam Studi al-Qur’an dan Hadis”, dalam Didi Junaedi, “Memahamil., hal. 172.

7 Heddy Shri Ahimsa-Putra, “The Living.,”, hal. 227.

(4)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

menggunakan al-Qur’an sebagai pedoman atau tolak ukur kebenaran dalam perbuatannya sehari-hari. Sehingga masyarakat tersebut seperti al-Qur’an yang hidup, hal ini karena kehidupan mereka yang sepenuhnya didasarkan pada undang-undang al-Qur’an.8

Ketiga, dari kedua ungkapan di atas tersebut, yang kemudian diartikan bahwa al-Qur’an bukanlah hanya sebuah kitab, akan tetapi sebuah “kitab yang hidup”, yang perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari.Darisinilah kemudian Living Qur’an dikatakan sebagai sebuah kajian atau penelitian ilmiah tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan keberadaan al-Qur’an di sebuah komunitas muslim tertentu.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Living Qur’an atau “al-Qur’an yang hidup”, adalah suatu kajian ilmiah dalam bidang studi al-Qur’an yang menjadikan dialektika antara al-Qur’an dengan kondisi realitas sosial di masyarakat sebagai objek penelitian. Dengan begitu,maka Living Qur’an bisa diartikan sebagai praktek- praktek pelaksanaan ajaran al-Qur’an di

8Ibid,hal. 243.

masyararakat.9 Sampai di sini, dapat dinyatakan juga bahwa sebenarnya, yang dimaksud dengan living Qur’an dalam konteks ini adalah kajian atau penelitian ilmiah tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran al-Qur’an atau keberadaan al-Qur’an disebuah komunitas muslim tertentu.

Artinya, jika dilihat dari kacamata keislaman, praktek-praktek yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yang berlandaskan al-Qur’an. Gambaran secara umum bagaimana kaum muslimin merespon terhadap al-Qur’an tergambar dengan jelas sejak zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Tradisi yang muncul adalah al-Qur’an dijadikan objek hafalan (tahfidz) , listening (simā’) dan kajian tafsir dan sebagainya, adalah living Qur’an.10

Kemudian setelah Islam berkembang dan meluas ke seluruh penjuru dunia, respon kaum muslimin terahadap al-Qur’an juga semakin berkembang dan bervariatif. Tak terkecuali respon kaum muslimin yang ada di Indonesia, Bahkan kaum muslim di Indonesia sangat respek dan perhatian

9 Ibid, hal. 245.

10 Shairon Syamsudin, Metodologi., hal.

63.

(5)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

terhadap al-Qur’an. Fenomena tersebut terlihat dari beberapa kegiatan yang mencerminkan life of the Qur’an, sebagai berikut:

1. Pembacaan al-Qur’an yang dilakukan secara rutin di tempat- tempat tertentu seperti di masjid, mushola, madrasah, di rumah- rumah, bahkan di makam-makam para wali dan orang-orang shalih.

2. Al-Qur’an yang senantiasa dihafalkan, di pondok pesantren yang berbasis al-Qur’an, kemudian al-Qur’an yang dipelajari di madrasah-madrasah dan sebagainya.

3. Ayat-ayat al-Qur’an yang digunakan sebagai hiasan, seperti kaligafi yang menghiasi masjid- masjid, rumah, mushola, tempat pengajian, dan dijadikan sebagai asesoris dan lainnya.

4. Pembacaan ayat al-Qur’an yang dilakukan oleh para qāri’

(pembaca profesional) dalam acara-acara tertentu, bahkan dijadikan sebagai ajang perlombaan.

5. Ayat al-Qur’an dibaca setiap malam jum’at, dan dibacakan

untuk acara selametan seperti yasinan, tahlilan, dan amalan- amalan seperti mujahadah dan lainnya.

6. Ayat-ayat al-Qur’an yang dijadikan sebagai jampi-jampi atau digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu, dan al- Qur’an yang dibaca dengan tujuan agar dimudahkan segala urusan baik urusan dunia maupun urusan akhirat.11

Masih banyak inventarisasi fenomenologi yang ada di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa al-Qur’an telah direspon oleh umat Islam dalam berbagai ragam praktik, dan hal inilah yang menjadi pokok kajian dan penelitian para pengkaji al-Qur’an. fenomena-fenomena yang banyak terjadi di Indonesia diantaranya merupakan hasil ijtihad para ulama nusantara dalam membumikan ajaran-ajaran al-Qur’an di bumi pertiwi.

C. Living Qur’an dalam Lintas Sejarah

Secara historis, praktek menggunakan sebagian ayat-ayat tertentu di dalam al-Qur’an yang digunakan untuk

11 Ibid, hal. 64.

(6)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

kehidupan praksis umat Islam, pada hakikatnya sudah terjadi masa Rasulullah SAW. Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAW melakukan praktek ruqyah menggunakan surat al-Fātihah dan menolak sihir dengan surat al- Mu’awwidhatain.12 Dalam sejarah bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membaca surat al-Falaq dan an-Nās atau yang dikenal dengan surat al-Mu‘awwidhatain, dan sahabat Nabi juga pernah mengobati seseorang yang tersengat kalajengking dengan membaca surat al-Fātihkah.13

Dari beberapa keterangan sejarah di atas, menunjukkan bahwa praktek interaksi umat Islam dengan al-Qur’an sudah terjadi sejak awal masa Islam, yakni pada masa Rasulullah SAW. Jika dicermati, praktek yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya tersebut sudah di luar teks. Sebab secara semantis tidak ada kaitan antara makna teks dengan penyakit yang dialami oleh Rasulullah SAW dan sakit akibat disengat kalajengking.

Dari praktek yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan sahabatnya tersebut, maka dapat dipahami jika kemudian

12 Didi Junaedi, “Sebuah Pendekatan.,”

hal. 172.

13 Ibid,hal. 173.

berkembang pemahaman di masyarakat tentang keutamaan dan khasiat surat ataupun ayat tertentu di dalam al-Qur’an yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit fisik. Bahkan tidak jarang aya- ayat al-Qur’an juga digunakan oleh beberapa umat Islam untuk menjadi solusi atas persoalan ekonomi, yaitu sebagai alat untuk memudahkan datangnya rezeki.14

Jika mengacu pada salah satu pengertian di atas, sebagaimana telah disebutkan bahwa living Qur’an diartikan sebagai kajian tentang “berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran al-Qur’an atau keberadaan al-Qur’an di sebuah komunitas muslim tertentu.15 Dengan pengertian seperti ini, maka secara sederhana The Living Qur’an pada dasarnya sudah sama tuanya dengan al- Qur’an itu sendiri. Dimana al-Qur’an turun berlatar belakang peristiwa yang terjadi di masyarakat pada waktu itu. Dari sinilah kemudian dikenal istilah asbab an- nuzūl, atau sebab-sebab diturunkannya al- Qur’an.

Meskipun demikian, praktek- praktek tersebut belum menjadi objek

14 Sahiron Syamsuddin,Metodologi., hal.

69.

15 M. Mansur, “Living Qur’an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur’an,” dalam Didi Junaedi, “Memahami Teks.,”, hal. 172.

(7)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

kajian penelitian mengenai al-Qur’an.

Selain itu, Jika mengacu pada salah satu pengertian di atas, sebagaiamana telah disebutkan bahwa living Qur’an, diartikan sebagai kajian tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran al-Qur’an atau keberadaan al-Qur’an di sebuah komunitas muslim tertentu. Dengan pengertian seperti ini, maka secara sederhana The Living Qur’anpada dasarnya sudah sama tuanya dengan al- Qur’an itu sendiri.16

Al-Qur’an yang diturunkan dengan berlatar belakang peristiwa yang terjadi di masyarakat pada waktu itu, peristiwa tersebut diantaranya adalah berbagai praktek-praktek sosial, budaya, dan keagamaan. Meskipun demikian, praktek- praktek tersebut belum menjadi objek kajian penelitian mengenai al-Qur’an, sampai ketikapara ilmuwan Barat tertarik untuk meneliti fenomena Living Qur’an tersebut. Banyak fenomena yang terjadi di masyarakat yang terlewatkan begitu saja.

Hal ini karena kecenderungan orang-orang muslim lebih menganggap al-Qur’an sebagai hal yang sakral dibanding hal yang profan.

16 M. Mansur, “Living Qur’an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur’an,”dalam Ibid, hal238.

Paradigma dalam Mempelajari Living Qur’an

Menjadikan sosial-budaya pembahasan, berarti menempatkan asumsi-asumsi paradigma antropologi hermeneutik atau antropologi interpretif sebagai landasan pemikiran untuk menelaah dan memperbincangkan gejala tersebut. Banyak paradigma antropologi hermeneutik yang dapat digunakan untuk mempelajari The Living al-Qur’an.

Namun tidak semua paradigma ini dapat diterapkan dengan mudah di Indonesia, karena terbatasnya kepustakaan yang tersedia. Dari sekian banyak paradigma tersebut, paradigma yang sering dipakai adalah paradigma berikut.17

1. Paradigma Akulturasi

Akulturasi adalah sebuah proses yang terjadi ketikasuatu kebudayaan bertemu dengan kebudayaan lain, dan kemudian mengambil sejumlah unsur-unsur budaya baru tersebut, serta mengubahnya sedemikian rupa sehingga unsur-unsur budaya baru tersebut terlihat seperti unsur budayanya sendiri. Dengan sudut

17 Ahimsa Putra Heddy Shri,“ The Living., hal. 254.

(8)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

pandang akulturasi ini seorang peneliti fenomena The Living al- Qur’an akan mencoba mengetahui hasil interaksi antara ajaran-ajaran yang ada dalam al-Qur’an dengan sistem kepercayaan atau budaya lokal dan unsur mana dari budaya lokal yang mempengaruhi pola interpretasi terhadap al-Qur’an oleh masyarakat.

2. Paradigma Fungsional

Paradigma fungsional adalah fungsi sosial atau fungsi kultural. Gejala-gejala tersebut, seperti pola-pola perilaku yang muncul dari pemaknaan- pemaknaan tertentu terhadap ayat- ayat al-Qur’an. Misalnya pemaknaan terhadap surat-surat dan ayat-ayat tertentu, yang kemudian melahirkan pola-pola perilaku tertentu dengan fungsi sosio-kultural tertentu pula.

3. Paradigma Struktural

Adalah paradigma yang menggunakan pendekatan struktural untuk mengungkap struktur yang ada di balik gejala- gejala sosial-budaya yang digunakan untuk memahami gejala

pemaknaan al-Qur’an lewat model-model struktural tertentu, dan memandang berbagai fenomena pemaknaan al-Qur’an sebagai serangkaian transformasi dari suatu struktur tertentu.18

4. Paradigma Fenomenologi

Adalah mempelajari suatu gejala sosial-budaya untuk mengungkap kesadaran atau pengetahuan mengenai “dunia”

atau tempat dimana mereka berada dan juga kesadaran mereka mengenai perilaku-perilaku mereka sendiri, dengan memahami

‘pandangan dunia’ atau

‘pandangan hidup’ ini akan dapat

‘mengerti’ tentang mengapa pola- pola perilaku tertentu diwujudkan, dan bukan perilaku-perilaku yang lain.

Di sini maka bisa mengungkap misalnya pandangan masyarakat mengenai surat Yāsīn yang menjadi tonggak utama ritual Yasinan, atau pandangan mereka mengenai pengobatan dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an, pandangan mereka mengenai

18 Ibid.

(9)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

kedudukan surat-surat atau ayat- ayat tertentu dalam kehidupan mereka sehari-hari.

5. Paradigma Hermeneutik (Interpretative )

Yang dimaksud dengan paradigma hermeneutik dalam artian tertentu gejala sosial-budaya memang dapat dikatakan sebagai teks, sebab gejala ini terbangun dari sejumlah simbol-simbol, sebagai sebuah teks maka gejala sosial-budaya tersebut kemudian harus ‘dibaca’, ditafsir.19 Oleh karena gejala sosial-budaya tidak sama persis dengan teks. Maka, mau tidak mau diperlukan metode yang lain untuk membacanya, untuk menafsirkannya. Di sinilah terletak perbedaan antara hermeneutik dalam kajian teks dengan hermeneutik dalam kajian gejala sosial-budaya.

D. Asal-usul Rambut Gimbal

Rambut gimbal (hair dreadlocks) adalah merekatnya helai-helai rambut yang kemudian menjadi gimbal. Hal ini umumnya dialami oleh anak yang masih

19 Ibid, hal. 557.

berusia sekitar satu sampai enam tahun,anak yang akan mengalami rambut gimbal, terlebih dahulu akan mengalami sakit panas, kejang-kejang, dan lainnya.

Rambut gimbal, yang tumbuh pada anak terus tumbuh seiring dengan pertambahan usia anak. Kemudian kalau sudah waktunya, si anak akan dicukur setelah si anak meminta untuk dicukur. Hal ini karena kalau si anak sembarangan dicukur, maka akan berakibat rambut gimbalnya akan tumbuh kembali.20

Dulunya, sebagian masyarakat Dieng meyakini bahwa si anak baru akan dicukur setelah anak mengalami pupak.21 Namun sekarang, karena alasan si anak malu dengan rambutnya yang gimbal, terutama ketika di sekolah, maka pemotongannya menunggu si anak minta untuk dicukur. Sebelum anak rambutnya gimbal, berdasarkan pengalaman masyarakat Dieng, terutama orang tua yang anaknya rambutnya gimbal, anak- anak akan mengalami sakit dan sebagainya. Dimana sakit tersebut tidak juga sembuh meskipun diobati dengan

20 WawancaradenganNaryono di Dieng Kulon Banjarnegara 22 Februari 2016.

21 Pupak, adalah ompong gigi pertama kalinya yang dialami oleh anak-anak yang sedang masa pertumbuhan. Wawancara dengan Sarno Kusnandar, Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

(10)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

berbagai macam cara. Namun sakit tersebut akan sembuh setelah rambutnya benar-benar menjadi gimbal.22

Sampai saat ini, mengenai asal- usul rambut gimbal dari bebrapa cerita dari kalangan masyarakat Dieng yang percaya mengenai beberapa cerita tentang asal-usul adanya rambut gimbal.

berdasarkan beberapa cerita tersebut memang belum ada yang membuktikan darimana asal-usul rambut gimbal di Dieng. Hal ini karena masih banyaknya cerita mitos yang menyelimuti cerita rambut gimbal yang ada di Dieng.

Di awali dari cerita mengenai asal- usul rambut gimbal, adalah cerita mengenai kisah antara Pangeran Kidang Garungan dan Shinta Dewi.23Namun cerita Pangeran Kidang Garungan dan Shinta Dewi dianggap hanya sebuah cerita mitos belaka, dan tidak bisa dijadikan sebagai dasar mengenai sejarah asal mula munculnya rambut gimbal di Dieng.

Namun ada pendapat berdasarkan cerita tutur yang dipercaya loleh sebagian masyarakat Dieng terutama bagi kalangan

22 Disampaikanoleh Sarno Kusnandar, ketua Paguyuban Tungul Sado Jati. dalam wawancara di Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

23 Bambang Hengki, Babad Tanah Wonosobo, Video Arsip Pemda Wonosobo.

penghayat kepercayaan tunggul sabdo jati24, yang mungkin dapat dijadikan sebagai landasan sejarah asal mula rambut gimbal yang ada Dieng.

Berdasarkan dari cerita yang disampaikan oleh Sarno Kusnandar, bahwa anak yang berrambut gimbal adalah anak kesayangan Kiai Kolodete.

Dimana dulunya Kiai Kolodete rambutnya gimbal, bahkan rambut disekujur tubuhnya juga gimbal. Karena Kiai Kolodete merasa tidak nyaman dengan rambut gimbalnya tersebut, dikarenakan beliau adalah seorang perajurit, maka untuk melakukan kewajibannya, agar tidak terganggu dengan rambut gimbalnya, maka rambut gimbalnya dititipkan kepada anak-anak yang dicintainya.25

Menurut Sarno Kusnandar, asal usul rambut gimbal belum diketahui dari mana asalnya. Namun yang jelas, berdasarkan cerita tutur yang sudah turun temurun yang dipercayainya, Kiai Kolodete diketahui sudah berrambut gimbal. Dan dari mana rambut gimbal Kiai kolodete sampa saat ini belum

24 Nurul Mubin, Ritual., hal. i.

25 Wawancara dengan Naryono di Dieng Kulon, Banjarnegara, 22 Februari 2016.

(11)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

diketahui secara pasti asal-usulnya.26 Mengenai sejarah asal-usul rambut gimbal, sebagaimana yang disebutkan di dalam serat babat Kedu yang isinya sebagai berikut.

“Sak banjure ana ing salah sijine serat babat kedhu, mertelakake, nalika jaman semana kraton Demak Bintara wiwit ngadeg adi kraton anyar nyirnakake penguwasane kraton Majapahit tumraping tanah Jawa, para wali mupakat yen kepingin kasi ngislamake wong Jawa kudu bisa ngilangake pengaruh-pengaruh Hindu salah sijine ya kangana wewengkon Dieng, lan Dieng sakkiwa tengene kudu dibabad, ora ana lia ya mung pengaruh Hindune dadi dudu alas gung liwang liwung.

Sunan Bonang ngutus santri loro kang aran Ki Walik lan Ki Karim, keutus supayane bisa mbabad wewengkon Dieng sakkiwa tengene supaya bisa salin Agama suci agamaning Rasul yaiku Islam. Santri loro kui banjur lumarah tindhak sak anak brayate tumuju ing sak kiwa tengene Dieng, kanthi nganggo sarana dakwah mawa seni budaya kang banjur diarani seni tari lengger, sing minangka tembung

26 Wawancara dengan Sarno Kusnandar, Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

kerata basa elinga ngger, saya suewe akeh kang kasemsem marang agama anyar iki, nanging emane ana siji sing durung bisa salin agama yaiku penguasa khayangan Dieng kang peparab Kolodete, mbok menawa asalae saka tembung kaladitya. Mula Kiai Karim tindhak ing Dieng Bantha kawruh banjur gelem ngrasuk Islam, lan peparah Kiai Kolodete, namung piambake banjur moksa lan ninggal kepepiling seng sapa wonge duwe anak rambute gembel kuwi kudu direksa amarga bocah kuwi isih tedhak turune Kiai Kolodete”.27

Dalam seratan diatas yang bertuliskan “namung piambake (Kiai Kolodete) banjur moksa lan ninggal kepepiling seng sapa wonge duwe anak rambute gembel kuwi kudu direksa amarga bicah kuwi isih tedhak turune Kiai Kolodete”, menerangkan bahawa anak gimbal merupakan keturunan dari Kiai Kolodete, dimana Kiai Kolodete adalah seorang penguasa Dieng yang beragama Hindu, kemudian diIslamkan oleh Kiyai Karim. Seperti dalam penjelasan lain, Kiai Kolodete dulunya adalah seorang “Resi” atau “kesatria” di dataran tinggi Dieng dan tokoh besar

27 Nurul Mubin, Islam., hal. 77-78.

(12)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

dalam Agama Hindu dan juga seorang penguasa Dieng pada waktu itu.28

Mengenai asal-usul Kiai Kolodete dan rambut gimbalnya, memang belum diketahu dengan pasti, dimana dalam pendapat lain dijelaskan bahwa, Kiai Kolodete adalah salah seorang utusan dari kerajaan Mataram Kuno untuk mempersiapkan pemerintahan di daerah Wonosobo dan sekitarnya, yang pada waktu itu diperintah antara lain adalah Kiai Walik di daerah Wonosobo, Kiai Karim di daerah Kalibeber, kemudian yang diperintahkan untuk membuka wilayah Dieng dan memperluas daerah kekuasaan kerajaan Mataram adalah Kiai Kolodete.29

Cerita tersebut menyebutkan bahwa Kiai Kolodete adalah seorang pendatang, yang datang dari arah terbenamnya matahari. Kedatangan Kiai Kolodete adalah bertujuan untuk menyebarkan Islam di tanah khayangan Dieng dan kemudian Kiai Kolodete menetap di Dieng. Setelah menetap di

28 Wawancara dengan Alif Fauzan di Dieng Kulon Banjarnegara, tanggal 26 Agustus 2016

29 Tim Penulis, Sejarah Perjuangan Rakyat Wonosobo. (Yogyakarta: Kerjasama Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Wonosobo dengan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1994-1995), hal. 59.

Dieng, kemudian Kiai Kolodete mendapatkan pesan atau wasiat dari Nyai Roro Kidul, bahwa akan ada manusia- manusia yang berrambut gimbal dari keturunan Kiai Kolodete.30

Mengenai hubungan Kiai Kolodete dan Nyai Roro Kidul, telah disebutkan bahwa, keberadaan Kiai Kolodete yang tidak memiliki hubungan apapun dengan keberadaan Nyai Roro Kidul. Dalam cerita lain Kiai Kolodete datang ke Dieng dalam keadaan rambutnya yang gimbal.

Sedangkan orang Dieng dahulu beranggapan bahwa jika ada orang asing dan tidak diketahui asal-usulnya masyarakat Dieng dulu menyebutnya sebagai orang sebrang.31

Orang sebrang, dimana sebrang yang dimaksud oleh orang-orang Dieng pada waktu itu adalah sebuah tempat yang oleh orang Dieng sendiri disamakan dengan “segoro kidul”. Dari anggapan inilah yang akhrinya memunculkan istilah yang berkembang di masyarakat yang sering dikenal dengan “si bajang dari segoro kidul”. Si anak bajang, nama yang akrab disebutkan oleh masyarakat Dieng

30 Wawancara dengan Rusmanto di Dieng Wetan, Kejajar, Wonosobo, tanggal 26 Oktober 2016

31 Nurul Mubin, Ritual., hal. 125.

(13)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

kepada anak yang berrambut gimbal.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa cerita mengenai rambut gimbal dengan Nyai Roro Kidul adalah anggapan masyarakat terhadap Kiai Kolodete sebagai orang asing yang datang ke Dieng. Karena beliau (Kiai Kolodete) adalah orang asing yang berrambut gimbal maka beliau disebut sebagai orang sebrang atau orang yang berrambut gimbal dari segara kidul.

Disebutkan oleh Nurul Mubin, dalam wawancaranya dengan Ruswanto32, bahwa “Kiai Kolodete datang ke Dieng sekitar tahun 1628 M. Beliau (Kiai Kolodete) adalah seorang raja besar di Jawa Timur. Ketika peristiwa runtuhnya Majapahit banyak yang melarikan diri ke daerah Bali. Sementara Kiai Kolodete bersama Kiai Karim dan juga Kiai Walik lari ke daerah Wonosobo dan dataran tinggi Dieng, dimana dataran tinggi Dieng yang waktu itu Dieng masih berupa hutan belantara”.33

Hal ini juga erat kaitannya dengan asal-usul daerah Wonosobo. Mengenai sejarah Wonosobo tidak lepas dari tiga aktor legendaris yaitu Kiai Walik, Kiai

32 Rusmanto, adalah sesepuh penghayat kepercayaan Tunggul Sabdo Jati.Ibid, hal. 66.

33 Ibid.

Kolodete dan Kiai Karim. Dimana Kiai Kolodete yang berada di dataran tinggi Dieng, Kiai Walik berada di daerah Wonosobo, dan Kiai Karim yang berada di daerah Kalibeber.34 Demikianlah sejarah mengenai Kiai Kolodete dan rambut gimbalnya yang belum diketahui secara pasti. Namun yang jelas, banyak masyarakat Dieng terutama kalangan

penghayat kepercayaan tunggul sabdo jati,

umumnya percaya dan yakin mengenai keberadaan Kiai Kolodete. Dan keberadaan Kiai Kolodete berkaitan erat dengan keberadaan anak-anak yang berrambut gimbal yang berada di Dieng.

E. Sejarah Islam di Dataran Tinggi Dieng

Berawal dari masa Pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613- 1645 M), dimana Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah Raja Mataram Islam yang menggantikan Sultan

Anyokrowati. Pada masa

pemerintahannya, Mataram Islam mengalami masa kejayaan. Sultan Agung Hanyakrakusuma bercita-cita

34 Tim Penulis, Sejarah., hal. 58.

(14)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

mempersatukan kerajaan-kerajaan Jawa di bawah Mataram Islam.35

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, beliau secara berturut-turut menaklukan berbagai daerah, termasuk Wirosobo (1615), Lasem (1615), Pasuruan (1616), Gresik (1618), dan daerah lain pada tahun 1621. Pada saat itu, kekuasaan Mataram meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Dalam beberapa operasi yang dilakukan oleh Sultan Agung, orang-orang Bagelen seringkali ikut berpartisipasi membantu Sultan Agung. Misalnya dalam penyerangan terhadap Batavia tahun 1629 M, penumpasan pemberontakan Pati, penumpasan pemberontakan Trunojoyo, dan lain sebagainya.

Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Islam mengalami kemajuan dan keberhasilan yang pesat. Banyak rakyat yang berbondong-bondong masuk Islammengikuti rajanya yang sudah dulu memeluk agama Islam.36 Kebijakan- kebijakan politik yang diterapkannya

35Sutrisno Kutoyo, “Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta”, Dalam , Ida Nur Azizah. Islamisasi Di Wonosobo Pada Masa Demak dan Mataram Islam. Diss. Fakultas Ilmu Sosial, 2013.

36 Fredy Heryanto, Mengenal Keraton Yogyakarta Hadiningrat, (Yogyakarta: Warna Grafika, 2004), hal. 26.

selalu penuh perhitungan dan dilandasi dengan nilai-nilai Islam. Dengan kebijakan tersebut, Sultan Agung berhasil mengembangkan Islam ke berbagai daerah, termasuk Wonosobo.

Wonosobo yang merupakan wilayah pedalaman tidak luput dari perhatian Sultan dalam menyebarkan Islam. Sultan Agung mengutus tiga orang ulama untuk datang dan menyebarkan Islam di Wonosobo.

Ketiga pengelana tersebut ialah Kiai Walik, Kiai Kolodete, dan Kiai

Karim. Kemudian pada

perkembangannya, Kyai Karim berada di daerah Ledok, Kiai Kolodete berada di dataran tinggi Dieng, sedangkan Kiai Walik berada di sekitar kota Wonosobo sekarang ini.37

Dari ketiga tokoh tersebut, yakni Kiai Kolodete yang menyebarkan Islam ke Dieng. Beliau mengajarkan Islam di Dieng dengan menerapkan metode yang diajarkan oleh Sultan Agung. Metode tersebut ialah memadukan nilai Islam dengan kebudayaan Jawa yang telah tercampur dengan pengaruh Hindu- Buddha.

37 Tim Penulis, Sejarah.,hal. 60.

(15)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

Ada juga pendapat seperti yang telah dituliskan di atas, bahwa Kiai Kolodete datang ke Dieng sekitar tahun 1628 M. Dimana Kiai Klodete merupakan seorang raja besar di Jawa Timur. Namun, peristiwa runtuhnya Majapahit, Kiai Kolodete bersama Kiai Karim dan juga Kiai Walik lari ke daerah Wonosobo. Kiai Kolodete yang berada di dataran tinggi Dieng, Kiai Walik berada di daerah Wonosobo, dan Kiai Karim yang berada di daerah Kalibeber.38

F. Bentuk Living Qur’an pada Ritual Rambut Gimbal di Dataran Tinggi

Dieng

Manusia disamping mempunyai kewajiban religius menundukan diri kepada kepada ajaran-ajaran Agama, kewajiban terhadap sosial yang merupakan implikasi dari eksistensi umat Islam sebagai bagian dari umat manusia di dunia. Perbedaan Agama, status sosial, dan budaya bukan sesuatu yang membedakan antara satu dengan yang lain, namun menjadi inspirasi untuk mengembangkan toleransi.39

38 Abdul Kholik Arif, Mata Air Peradaban Dunia Milenium Wonosobo, Cet. 1.

(Yogyakarta: LKiS),hal. 77.

39 Ali Sodiqin, Antropologi., hal. 204.

Pluralitas tersebut memunculkan sikap dinamis untuk memberikan kontribusi bagi pembentuk sistem sosial- budaya yang berkeadilan sebagaimana yang telah ditunjukan oleh al-Qur’an.

Akulturasi yang sudah berjalan, jika dilihat sejarah proses penyebaran Islam di Indonesia menggunakan pendekatan budaya. Di kalangan masyarakat Islam Jawa, banyak didapati berbagai macam upacara adat seperti selametan, tahlilan, manaqiban, mauludan, rajaban, syawalan, bahkan ritual rambut gimbal yang ada di dataran tinggi Dieng.

Keberadaan tradisi-tradisi tersebut secara tekstual tidak ada dalam dalil al- Qur’an maupun Hadiś. Namun tradisi tersebut muncul karena merupakan hasil ijtihad umat Islam dalam membumikan ajaran-ajaran al-Qur’an ke dalam masyarakat yang berbudaya. Untuk itu, untuk memposisikan tradisi ini adalah dengan melihat substansi dari unsur-unsur yang sama dan tidak bertentangan.

Seperti halnya dalam Ritual rambut gimbal dalam pelaksanaannya mampu mendatangkan banyak orang dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat yang bercampur baur dalam satu wadah yaitu upacara pencukuran rambut gimbal.

(16)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

Melihat hal tersebut, secara substansi maka tidak salah jika memaknai ritual sebagai ajang untuk silaturahmi atau nyambung sedulur (Jawa). Karena dengan bertemunya antara satu individu dengan individu lain akan menambah erat tali persaudaraan di antara mereka. Hal ini dapat disesuaikan dengan al-Qur’an surat an-Nisā ayat 1.

$pκš‰r'¯≈tƒ â¨$¨Ζ9$#

(#θà)®?$#

ãΝä3−/u‘

“Ï%©!$#

/ ä3s)n=s{

ÏiΒ

<§ø ¯Ρ

;οy‰Ïn≡uρ t,n=yzuρ

$pκ÷]ÏΒ

$yγy_÷ρy—

£]t/uρ

$uΚåκ÷]ÏΒ Zω%y`Í‘

#ZŽÏWx.

[!$|¡ÎΣuρ

4

(#θà)¨?$#uρ

“Ï%©!$# ©!$#

tβθä9u!$|¡s?

ϵÎ/

tΠ%tnö‘F{$#uρ

4

¨βÎ) tβ%x. ©!$#

öΝä3ø‹n=tæ

$Y6ŠÏ%u‘

∩⊇∪

Artinya:“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lai], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.40

Dengan menjalin silaturahmi, seseorang akan merasa sangat dekat,

40QS. An-Nisā: [4] 1.

sehingga dengan tujuan ibadah seseorang akan saling bantu-membantu dan tolong menolong. Bantu-membantu dan tolong- menolong yang dipraktikan dalam ritual tersebut adalah terwujudnya hubungan timbal balik antara penduduk lokal Dieng dan juga para wisatawan yang menghadiri ritual tersebut. Dimana sebuah simbiosis mutualisme terjadi di sini.

Senada dengan apa yang sampaikan oleh KH. Said Aqil Siraj, bahwa kebaikan yang paling sempurna adalah kebaikan secara jam’iyyah atau organisai, atau berkelompok bukan individu.41 Penyebutan dalam al-Qur’an, bahwa manusia dalam jenis ini desebut dengan kata an-nās. Dan kata an-nās dalam al-Qur’an mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial, dengan kata an- nāslah manusia paling banyak disebutkan dalam al-Qur’an.42 Dan ayat-ayat tersebut lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min an-nās yang artinya, “dan diantar sebagian manusia”, Seperti dalam surat al-Baqarah ayat 8 di bawah ini.

41 Said Aqil Siraj, dalam Video ceramah Agama yang disampaikan dalam acara khaflah di Pondok pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri.

Home Video Production, 2007.

42 Dadan Rusmana, dkk, Tafsir Ayat- ayat.,

(17)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

zÏΒuρ Ĩ$¨Ψ9$#

ãΑθà)tƒ tΒ

$¨ΨtΒ#u

«!$$Î/

ÏΘöθu‹ø9$$Î/uρ

̍ÅzFψ$#

$tΒuρ tÏΨÏΒ÷σßϑÎ/ Νèδ

∩∇∪

Artinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang- orang yang beriman”.43

Dalam ayat di atas penyebutan manusia menggunakan an-nās yang menunjukan kelompok sosial dengan karakteristiknya. Dimana ayat-ayat seperti ini dikenal dengan ungkapan wa min an- nās (dan diantara sebagian manusia), dengan ungkapan ini dapat ditemukan keberadaan sekelompok manusia dan segala macam jenis perbedaan baik suku, bangsa, agama, dan perbedaan-perbedaan lainnya.44

Selain itu, pemaknaan ritual rambut gimbal oleh penghayat tunggul sabdo jati, jika mengacu pada pengertian living Qur’an yang dikemukakan oleh Heddy Shri Ahimsa Putra, dimana living Qur’an yang didasarkan pada tingkah laku manusia (Nabi Muhammad SAW) yaitu sebuah perilaku yang didasarkan pada al- Qur’an. Atau Living Qur’an yang mengacu pada suatu masyarakat yang

43 QS. Al-Baqarah [2]: 8.

44 Ibid.

menggunakan al-Qur’an sebagai pedoman atau tolak ukur kebenaran dalam perbuatannya sehari-hari. Sehingga masyarakat tersebut seperti al-Qur’an yang hidup.45

Seperti dalam ritual rambut gimbal, dimana banyak sekali hal-hal yang dilakukan diantaranya adalah melakukan ziarah kubur ke para pepunden, pepunden dalam hal ini adalah orang tua dan juga leluhur desa atau pendiri daerah yang ditempati oleh warga tersebut. Dalam ajaran Islam juga dianjurkan untuk melakukan ziarah, karena ziarah dapat mengingat akan adanya kehidupan di hari akhir. Anjuran ziarah seperti dalam hadist Nabi SAW.

Ziarah dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur mereka. Karena leluhur yang sālih pada hakikatnya tidak mati, hal ini sesuai dengan al-Qur’an surat al-‘Imran ayat 169-171 dan surat al- Baqarah ayat 154.

Artinya:“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup46 disisi

45 Ahimsa Putra Heddy Shri. “Beberapa., hal. 243.

46 Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya

(18)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

Tuhannya dengan mendapat rezki.(169)Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang- orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka47, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(170) Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia- nyiakan pahala orang-orang yang beriman.(171).48

Selain itu, ziarah juga dimaksudkan sebagai salah satu bentuk penghormatan mereka terhadap orang tua, dengan meminta restu dari para orang tua ketika akan melaksanakan hajatan.49 Dengan begitu, secara etika mereka (pelaku ritual) telah melaksanakan kewajibannya berbakti, dan menghormati, serta memuliakan orang tua yang sudah

Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu. http://www.alquran-digital.com.

47 Maksudnya ialah teman-temannya yang masih hidup dan tetap berjiad di jalan Allah SWT.http://www.alquran-digital.com.

48 QS. Ali “imran 169-171.

49 Wawancara dengan Sarno Kusnandar, Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

lebih dulu meninggalkan kehidupan dunia dan menuju ke kehidupan akhirat.

Makna lain dari tradisi ritual rambut gimbal adalah makna yang terkandung di beberapa unsur pokok dalam ritual tersebut, diantaranya adalah tumpeng kalung. Tumpeng kalung ini dimaknai sebaga manusia yang dikalungi atau dibebani kewajiban oleh Yang Maha Kuasa untuk menjaga kelestarian alam, dimana alam adalah pemberian dari Sang Maha Kuasa yang harus dijaga agar kehidupan ini tetap lestari.50 Dan tumpeng kalung juga diibaratkan anak yang berrambut gimbal yang diberi beban kewajiban untuk merawat keberadaan rambut gimbal dari Kiai Kolodete.51

Yang kedua adalah tumpeng robyong. Tumpeng robyong ini dimaknai sebagai rambut gimbal yang diartikan sebagai hutan atau bumi yang subur yang ditumbuhi pohon-pohon52, dimana dari pohon tersebut menyimpan air, dan air adalah sebagai sumber kehidupan. Selain itu, hutan juga sebagai paru-paru dunia.

Maka dari itu, manusia wajib menjaga

50 Wawancara dengan Sarno Kusnandar, Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

51 Nurul Mubin, Ritual., hal. 134.

52 Wawancara dengan Sarno Kusnandar, Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

(19)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

kelestarian alam. Karena hakikatnya menjaga alam adalah menjaga kehidupan diri sendiri dan kehidupan semua makhluk yang ada di bumi.

Tumpeng robyong ini juga dimaknai sebagai simbolisasi rambut gimbal yang menempel pada Kiai Kolodete sebagai leluhur dan sebagai pemilik rambut gimbal yang diturunkan kepada anak-cucu yang disayangi.

Tumpeng robyong ini merupakan wujud persembahan dan pengabdian sebagai ganti rambut gimbal yang akan dipotong.53

Makna yang terkandung pada kedua unsur tersebut, yaitu tumpeng kalung dan tumpeng robyong. Jika dikaitkan pada beberapa ayat dalam al- Qur’an, akan ada kesesuaian antara makna kedua unsur tersebut dengan surat ar-Rūm ayat 41.

Artinya:“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.54

53 Nurul Mubin, Ritual., hal. 134.

54 QS. ar-Rūm [30]: 41.

Ayat tersebut dijelaskan oleh M.

Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, kata al-fasād menurut al-Ashfahani adalah keluarnya sesuatu dari keseimbangan, baik sedikit maupun banyak, dan besar ataupun kecil. Kata tersebut adalah antonim dari as-sālh, yang berarti manfaat atau berguna.55

Jika dikaitkan pada pesan moral yang terkandung di kedua tumpeng tersebut, dimana manusia diperintahkan untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan alam, karena jika alam tidak lagi seimbang, maka alam akan kehilangan fungsinya seperti hutan yang gundul tak lagi dapat menyimpan air, dan juga tidak lagi menahan banjir dan tanah longsor, dan sebagainya.

Ketidak seimbangan serta kekurangan manfaat seperti laut yang tercemar dan ikan-ikan yang mati, bumi yang semakin panas dan terjadi kemarau panjang. Hal tersebut adalah akibat kerusakan alam dimana alam telah kehilangan keseimbangannya. Itulah pesan moral dalam ritual rambut gimbal kepada manusia.

55 M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta:

Lentera Hati, 2002), Vol. 11, hal.76-77.

(20)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

Untuk mengetahui hal itu tentu kita perlu memandang ritual tersebut dari segi substansinya, namun akan berbeda jika kita hanya memandang ritual tersebut hanya secara simbolis saja. Pesan moral yang mengajarkan manusia agar bisa hidup harmonis dengan alam. Dimana sekarang di Dieng terjadi konversi56 dari hutan lindung menjadi ladang pertanian.

Hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan dan memprihatinkan, bahkan mengancam kehidupan manusia.

Karena hal tersebut, dalam jangka waktu yang tidak terduga mengakibatkan terjadinya bencana yang senantiasa mengancam keselamatan kehidupan umat manusia, bahkan semua makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan yang ada di sekitarnya juga akan merasakan dampak tersebut.

Selain itu, jika dilihat dari aspek geomorfologi, Dieng merupakan kawasan terjal dengan kemiringan kira-kira 15º- 30º bahkan dibeberapa tempat lebih dari 45º atau > 100%.57 Hal ini sangat

56 Konversi adalah perubahan dari satu bentuk rupa, fungsi ke bentuk rupayang lain.

https://id.wikipedia.org/wiki/Kamus_Besar_Bahas a_Indonesia.

57Abdul Kholik Arif, The History.,hal.

110.

berpotensi terjadinya tanah longsor, maka dari itu untuk mencegah hal-hal tersebut perlu kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungannya tersebut. Lewat ritual inilah pesan-pesan moral tentang lingkungan di sampaikan, nilai-nilai inilah yang harus dipertahankan salah satunya dengan mempertahankan ritual rambut gimbal.

Bumi yang telah diciptakan dengan kehususan, kesesuaian dan juga kondusif bagi kehidupan manusia sebagai sarana untuk mendapatkan rezeki dan penghidupan.58 Allah menciptakan bumi sebagai tempat yang cocok bagi manusia, yang seimbang antara suhu, udara, dan kondisi tubuh manusia. Dalam paradigma fenomenologi, gejala sosial-budaya yang terjadi di masyarakat Dieng, dimana kesadaran pengetahuan tentang alam dapat diketahui dengan pola-pola perilaku masyarakat Dieng ketika melakukan ritual cukur rambut gimbal. Pendidikan tentang alam yang dituangkan melalui pesan moral yang terkandung dalam ritual tersebut.

Yang selanjutnya adalah Jajanan pasar. Adalah jajanan yang terdiri dari

58Anwar Sutoyo, Manusia dalam Perpektif Al-Qur’an, Cet I, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2005), hal. 70.

(21)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

tujuh macam jajanan pasar meliputi:

klepon, serabi, pasung, ketan abang, ketan putih, opak, krecek (rengginang), yang mana semua itu mengandung makna sebagai petunjuk bagi kehidupan agar apa yang menjadi sejo (harapan dan cita-cita), dapat tercapai. Hal ini sesuai dengan namanya “jajanan pasar” yang bermakna

“aja kesasar; Jawa”atau jangan tersesat.59 Disediakannya jajanan pasar dan segala macam tumpeng yang ada, secara umum adalah sebagai bentuk shadaqah kepada para warga yang hadir dalam acara ritual cukur rambut gimbal. Karena nantinya semua uborampe yang telah disediakan akan dibagi-bagikan kepada para warga yang hadir dalam acara tersebut, dan pembagian ini diniatkan sebagai shadaqah sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia dan nikmat yang luar biasa kepada para hamba-Nya.60

Al-Qur’an memerintahkan orang Islam untuk bershadaqah, perintah tersebut seperti yang disebutkan dalam al- Qur’an surat al-Baqarah ayat 254.

59 Ibid, hal. 134.

60Wawancara dengan Lukman, Sembungan, Dieng, Kejajar, Wonosobo, 20 November 2016.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim”.61

Mengenai doa, dalam ritual rambut gimbal berdoa dilakukan dari pra acara, prosesi, dan pasca acara. Jika menmgacu pada pengertian dimana Living Qur’an pada hakikatnya adalah fenomena Qur’an in Everiday Live, yakni makna dan fungsi al-Qur’an yang rill dibaca, dipahami, dan dialami masyarakat muslim. Artinya praktik mengfungsikan al-Qur’an dalam kehidupan praktis, di luar kondisi tekstualnya.62

Dalam pengertian ini, dimana masyarakat mengfungsikan al-Qur’an sebagai sarana untuk tolak balak atau untuk mengobati orang yang sakit, dan mempermudah segala urusan dunia dan akhirat. Hal semacam inilah yang berlaku di masyaraka Dieng ketika akan melakukan ruwatan rambut gimbal, khususnya di Desa Sembungan, Kejajar, Wonosobo. Pada pra acara ruwatan

61QS. Al-Baqarah [2]: 254.

62 Shairon Syamsudin, Metodologi Penelitian.,hal. 46.

(22)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

rambut gimbal mereka melakukan istigāzah, khataman al-Qur’an, dan shalawatan atau berzanji.63

Adapun pada saat istigāzah. yang sering dibaca pada saat penulis melakukan wawancara adalah amalan-amalan yeng ada buku panduan mujahadah nihādlul mustaghfirīn yang disusun oleh KH.

Ahmad Muhammad atau yang akrab dipanggil Gus Muh atau Mbah Muh dari Tegalrejo Magelang Jawa Tengah.

Setiap bacaan-bacaan yang ada dalam buku istigāzah nihādlul mustaghfirīn, mengandung keutamaan- keutamaan tersendiri, hal ini sudah dijelaskan dalam buku panduan mujahadah tersebut, dan dipercaya juga oleh masyarakat yang membacanya.64 berikut adalah ayat al-Qur’an yang dibaca dan juga keutamaan-keutamannya sebagai berikut. Dalam mujahadah tersebut ayat al-Qur’an yang dibaca diantaranya adalah surat al-Anbyā ayat 87.

Ayat ini adalah doanya Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan.

Ayat ini diyakini oleh pembacanya, bahwa

63 Wawancara dengan Lukman, Sembungan, Dieng, Kejajar, Wonosobo, 20November 2016.

64 Wawancara dengan Lukman, Sembungan, Dieng, Kejajar, Wonosobo, 20November 2016.

barang siapa yang membaca ayat ini maka semua hajatnya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Namun yang dibaca hanya sebagian ayatna saja yaitu:

Hω tµ≈s9Î) HωÎ)

|MΡr&

šoΨ≈ysö6ß™

’ÎoΤÎ) àMΖà2 zÏΒ

šÏϑÎ=≈©à9$#

∩∇∠∪

Ayat al-Qur’an yang dibaca selanjutnya adalah surat al-Fātihah ayat 1 sampai 7.

Ayat ini dipercaya dapat mengobati berbagai macam penyakit, selain surat al-Fātihah adalah Surat al- Baqarah ayat 255.

Ayat ini yang lebih dikenal dengan ayat kursi, ayat ini dipercaya memiliki khasiat yang luar biasa, bahwasanya barang siapa dalam keadaan susah ataupun bahaya kemudian membaca ayat ini, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada orang yang membacanya tersebut. Atau masyarakat menyebutnya sebagai doa untuk menolak

(23)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

bencana atau kesusahan (tolak bala’;

Jawa).65

Sebagian ayat dari ayat kursi ini berkhasiat mampu mengendalikan hujan, ayatnya adalah sebagai berikut.

Ÿωuρ

…çνߊθä↔tƒ

$uΚßγÝàø Ïm

4

uθèδuρ

÷’Í?yèø9$#

ÞΟŠÏàyèø9$#

∩⊄∈∈∪

potongan ayat ini dibaca sebanyak 49 kali.

Dan ayat al-Qur’an yang selanjutnya dibaca adalah surat al-Ikhlās ayat 1 sampai 4. Surat al-Ikhlās ini dipercaya, bahwa barang siapa yang memperbanyak membaca sirat al-Ikhlās dapat menjadi seseorang yang membacanya dekat dengan Allah SWT.

Selain ayat-ayat di atas, ada ayat lain yang dibaca ketika mujahadah, namun ayat tersebut tidak tercantum dalam buku istighāzah nihādlul mustaghfirīn. Ayat tersebut adalah ayat yang dikenal dengan sebutan surat al-Muawwidhatain, adalah surat an-Nās dan al-Falaq. Ayat ini dipercaya dapat menolak sihir, dan kejahatan-kejahatan dari makhluk lain.

Berikut adalah ayat-ayat Muawwadhatain: pertama (QS. Al-Falaq

65 Wawancara dengan Lukman, Sembungan, Dieng, Kejajar, Wonosobo, 20November 2016.

[113]: 1-5) dan Kedua adalah (QS. an-Nās [114]: 1-6)

Dalam ritual rambut gimbal, yang diadakan secara pribadi agak berbeada dengan ritual yang diadakan secara masal.

Dalam rambut gimbal yang diadakan secara pribadi atau kekeluargaan, biasanya juga diadakan selametan. Selametan dihadiri oleh warga sekitar, para warga yang menghadiri selametan tersebut membawa uang, dan uang tersebut diberikan kepada si anak yang diruwat.

Hal ini dipercaya akan membawa barakah dari Kiai Kolodete.66 Selametan yang dilakukan sama dengan selametan pada umumnya yang dilakukan pada malam, jum’at. Adapun yang paling inti dibaca dalam selametan tersebut adalah surat yāsīn ayat 1 sampai 83.

Dalam ritual cukur rambut gimbal secara substansi mengandung banyak pesan bagi manusia, pesan tersebut terkait manusia sebagai makhluk siosial dimana manusia harus mampu hidup berdampingan bersama orang lain. Dan kedudukan manusia sebagai hamba Alah SWT, dimana manusia mempunyai kewajiban untuk taat kepada Allah SWT.

66 Wawancara dengan Sarno Kusnandar, Binangun, Mudal, Mojotengah, Wonosobo, 28 Oktober 2016.

(24)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

G. Implikasi dari Akulturasi antara Al-Qur’an dengan Makna Ritual Rambut Gimbal di Dataran Tinggi

Dieng

Implikasi Menurut para ahli adalah suatu konsekuensi atau akibat langsung dari hasil penemuan suatu penelitian ilmiah. Pengertian lainnya dari implikasi menurut para ahli adalah suatu kesimpulan atau hasil akhir temuan atas suatu penelitian.67 Dalam hal ini implikasi yang dimaksud adalah dampak positiaf dari akulturasi yang terjadi antara ritual pemotongan rambut gimbal dengan al-Qur’an dalam studi living Qur’an.

Sedangkan akulturasi dapat diartikan sebagai usaha masuk dalam suatu budaya, meresapi suatu kebudayaan, menjadi senyawa, dan dan membudaya dengan menjelma dalam suatu kebudayaan.

Dengan kata lain, akulturasi adalah penanaman nilai-nilai al-Qur’an ke dalam tradisi lokal.68

Akulturasi yang terjadi antara al- Qur’an dan budaya lokal, setidaknya telah memberikan sumbangan bagi msyarakat Dieng yang sudah berbudaya. Dimana

67 KBBI,

https://id.wikipedia.org/wiki/Kamus_Besar_Bahas a_Indonesia

68 Ali Sodiqin, Antropologi Al-Qur’ân., hal. 298.

nilai-nilai etik yang ada dalam al-Qur’an mampu diamalakan dengan baik meskipun budaya yang dijalankan bukanlah budaya dari al-Qur’an. Namun dengan adanya akulturasi antara keduanya, setidaknya telah memberikan pandangan hidup baru dalam kehidupan masyarakat Dieng.

Dalam hal ajaran moral baik dan buruk, al-Qur’an menggariskan prinsip- prinsip kebaikan dan keburukan yang didasarkan pada nilai-nlai teologis, dan sosio-masyarakat. Dimana rumusan- rumusan moral dalam al-Qur’an lebih diserahkan kepada manusia sesuai dengan situasi dan kondisi manusianya.

Dengan adanya akulturasi antara al-Qur’an dengan tradisi lokal akan melahirkan sebuah kearifan local yang Qur’ani. Dimana akan tumbuh sebuah masyarakat yang berkarakter, berbudi, dan agamis, serta berbudaya. Semua itu tercipta karena adanya ajaran yang baik dari al-Qur’an, dan ajaran-ajaran kearifan local yang luhur, yang syarat akan budi pekerti yang mengajarkan bagaimana menghormati sesama manusia, alam, dan makhluk Allah yang lain yang ada di muka bumi ini.

Inilah ijtihad para ulama terdahulu dalam membumikan al-Qur’an. Dimana

(25)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

ajaran-ajaran al-Qur’an bisa hidup di masyarakat, namun masyarakat tidak kehilangan budaya sebagai kebiasaan baik mereka, dimana tradisi-tradisi tersebut dijadikan sebagai wahana dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan dan ajaran- ajaran al-Qur’an kepada masyarakat.69

Dialektika antara al-Qur’an dan budaya lokal Dieng mengedepankan upaya rekonstruktif dan bukan distruktif.

Dimana kebudyaan harus dipandang sebagai sesuatu yang luhur, karena merupakan hasil pemikiran dan usaha masyrakat. Hasil dari ini adalah seperti yang sudah disebutkan diatas akan melahirkan manusia-manusia yang beragama yang taat, berbudaya yang aktif dan juga luhur. Dengan begitu akulturasi akan membumikan rasa tolernasi terhadap sesama muslim, bahkan sesama manusia, baik sesama muslim maupun dengan non muslim sekalipun. Dengan begini maka akan terciptalah ukhwah Islāmiyyah, ukhwah insāniyyah, dan ukhwah wațāniyyah.

Yang terpenting dari akulturasi ini adalah tumbuhnya rasa toleransi yang kuat yang timbul ditengah masyarakat yang

69 Ali Sodiqin, Antropologi Al-Qur’ân., hal. 202.

berbeda pemahaman, bahkan keyakinan.

Artinya, dalam kehidupan bermasyarakat seorang muslim tidak menjadi hakim yang kemudian mengadili orang lain yang tidak sepaham. Dengan timbulnya rasa kerendahan hati bagi setiap muslim untuk menyerahkan pengadilan hanya kepada Allah.70 Meskipun begitu, pelanggaran yang dilakukan oleh setiap individu tetap mendapatkan sanksi dari masyarakat, meskipun sanksi tersebut tidak sampai level vonis.

Dengan begitu mereka akan hidup rukun meskpun terjadi perbedaan pandangan, karena mereka telah menyerahkan kebenaran itu adalah milik Allah, selain itu juga mereka menggunakan sanksi-sanksi adat untuk mengatur kondisi sosial. Dengan begitu aka tercipta bukan hanya masyarakat yang agamis, namun juga mutamaddun atau berbudayada, dan penuh toleransi dan kesadaran akan berartinya ukhwah Islāmiyyah (persaudaraan antara umat islam) Ukhuwah wațāniyyah (persaudaraan sesama warga negara), dan ukhuwah jam’iyah (persaudaraan dalam suatu komunitas atau organusasi).

70 Dadan Rusmana,dkk.,Tafsir Ayat-ayat., hal. 282.

(26)

Qaf, Vol. III, No. 01, Januari 2018

Selain itu, jika diamati berkembangnya wisata di Dieng tidak lepas dari kekompakan masyarakat Dieng, dimana dari semua kalangan masyarakat bersatu padu, bergotong royong bersama- sama membangun, dan mengembangkan potensi wisata yang ada di dataran tinggi Dieng. Yang salah satunya adalah wisata budaya yang ada di dataran tinggi Dieng yaitu ritual pencukuran rambut gaimbal, atau ruawtan rambut gimbal.

Dan Dieng tidak akan terjadi seperti sekarang ini tanpa adanya peran aktif dari berbagai tokoh dan masyarakat yang berbeda-beda pandangan tersebut, yang kemudian bersatu dan bekerjasama membangun masyarakat yang berbudaya tetapi juga tetap agamis, hingga akhiranya mampu mengembangkan potensi-potensi wisata yang ada di Dieng, dan jadilah Dieng seprti sekarang ini.

Kehidupan masyarakat Dieng yang tidak bisa dipisahkan dengan budaya rambut gimbalnya, itu karena budaya adalah kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya. Karena hal itu merupakan karakter dasar dari setiap budaya adalah perubahan yantg terus menerus sebagaimana kehidupan itu sendiri. Dan

karena diciptakani oleh manusia, maka budaya juga bersifat beragam sebagaimana keragaman mansusia, meskipun Agama yang mereka yakini hanya satu yaitu Islam, namun perbedaan budaya tidak menjadikan sifat keagamaan mereka terganggu.71

Implikasi lain adalah tertanamnya nilai-nilai Qur’ani di dalam ritual yang dilakukan oleh masyarakat Dieng. Secara substansi hal ini terlihat dari adanya praktik-praktik yang mengandung unsur ajaran-ajaran yang sesuai dengan ajaran Islam, mekipun secara simbolis budaya tersebut hampir tidak ada kaitanya dengan ajaran-ajaran al-Qur’an, namun makna- makna sebagai pesan moral yang terkandung di dalam upacara adat tersebut juga tidak bertentangan dengan al-Qur’an.

Dari sini penulis dapat mengambil kesesuaian antara al-Qur’an dengan makna ritual rambut gimbal yang ada di dataran tinggi Dieng secara substansi.

Dampak lain dari akulturasi antara al-Qur’an dengan makn ritual rambut gimbal, mampu memberikan perubahan sosial kearah yang positif, suatu perubahan yang melalui pengenalan, pengajaran, pengalaman, dan pembinaan

71Ali Sodiqin, Antropologi., hal. 204.

Referensi

Dokumen terkait

5.22 Analisis Multivariate Hubungan Karakteristik Individu dan Lingkungan Sosial terhadap Perilaku Buang Air Besar Sembarangan di Wilayah Kerja Puskesmas Jambon Kabupaten

Beberapa manfaat bersepeda disampaikan oleh Oja et al., (2011), diantaranya adalah : 1) Kegiatan mengayuh pada bersepeda menyebabkan tidak tertekannya lutut oleh karena

Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pada perhitungan beban kerja mental mahasiswa Universitas XYZ Yogyakarta jurusan Teknik Industri

Adapun jika dilihat dari tujuannya sebagian besar upaya menghidupkan al-Qur’an tidak hanya memiliki tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, namun juga bertujuan

(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat

pembelajaran menulis, salah satunya dalam penelitian sebelumnya metode STAD digunakan dalam jurnal berjudul “Penerapan Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada

Berdasarkan analisis, hasil penelitian adalah: hasil belajar mata kuliah permesinan mahasiswa dengan pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dari pada mahasiswa dengan