• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Objek Penelitian

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak dalam industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta untuk periode tahun 2002 – 2005. Berdasarkan data yang diperoleh dari BEJ diketahui bahwa jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta sampai tahun 2005 adalah sebesar 146 (lihat lampiran 1). Dari 146 perusahaan tersebut, terdapat 6 perusahaan yang tidak memiliki laporan keuangan pada tahun 2002, sehingga tidak dapat memenuhi syarat dalam penelitian ini. Selanjutnya, dari 140 perusahaan yang memiliki laporan keuangan dari tahun 2002 – 2005, sebanyak 14 perusahaan laporan keuangannya tidak lengkap. Dengan demikian, jumlah perusahaan manufaktur yang memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam penelitian ini adalah sebesar 126 perusahaan. Berikut ini adalah rincian pemilihan sampel penelitian:

Tabel 4.1. Rincian Pemilihan Sampel Penelitian

Deskripsi karakteristik sampel penelitian Jumlah Perusahaan Perusahaan yang listed di BEJ sampai tahun 2005 146 Perusahaan tidak memiliki laporan keuangan tahun 2002 6 Perusahaan listed sampai tahun 2005 dan memiliki laporan

keuangan tahun 2002 – 2005 140

Perusahaan yang laporan keuangannya tidak lengkap 14 Perusahaan listed BEJ sampai tahun 2005, memiliki laporan

keuangan periode 2002 – 2005, dan memiliki laporan keuangan

lengkap 126

4.2. Deskripsi Data

Pada bagian ini akan dideskripsikan hasil penelitian berupa deskripsi variabel penelitian yang terdiri atas firm size, profitability, growth, pertumbuhan

(2)

penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility, serta capital structure perusahaan yang bergerak dalam industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta untuk tahun 2002 – 2005.

Tabel 4.2 menunjukkan deskripsi data variabel penelitian yang menunjukkan maximum value, minimum value, mean value, serta standar deviasi masing-masing variabel penelitian. Rata-rata Firm Size dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 13,267 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Prydam Farma Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Gudang Garam Tbk.

Rata-rata Profitabilitas dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 0,055 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Textile Manufacturing Company Jaya (Texmaco Jaya) Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Surabaya Agung Industri Pulp Tbk. Rata-rata Pertumbuhan Penjualan dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 0,198 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Textile Manufacturing Company Jaya (Texmaco Jaya) Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Davomas Abadi Tbk. Rata-rata Earning Volatility dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 10,119 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Siwani Makmur Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari

126 126 126 126 126 126 126 126

0 0 0 0 0 0 0 0

13.267 .055 .198 10.119 .430 .048 .076 .186 13.200 .045 .092 10.091 .434 .026 .048 .098 1.349 .311 .573 1.417 .197 .125 .083 .239 1.821 .097 .328 2.008 .039 .016 .007 .057 .284 6.571 6.833 .141 .175 1.130 1.919 3.546 -.043 69.671 55.841 .767 -.867 2.641 4.162 19.021 6.626 4.102 5.792 8.039 .861 .748 .419 1.825 10.336 -1.069 -.440 6.262 .054 -.195 .002 .002 16.962 3.033 5.352 14.301 .915 .553 .421 1.827 Valid

Missing N

Mean Median

Std. Deviation Variance Skewness Kurtosis Range Minimum Maximum

FIRM PROF PENJ EARN ASS GROW FLEX CAPS

(3)

PT Astra International Tbk. Rata-rata Assets Tangibility dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 0,430 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Resource Alam Indonesia Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Surabaya Agung Industri Pulp Tbk. Rata-rata Growth dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 0,048 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Barito Pacific Timber Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Multipolar Corporation Tbk.

Rata-rata Fleksibilitas dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 0,076 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Sari Husada Tbk. Rata-rata Capital Structure dari 126 perusahaan yang menjadi sampel sebesar 0,186 dengan nilai minimum yang didapat dari PT Jaya Pari Steel Tbk dan nilai maksimumnya didapat dari PT Sekar Laut Tbk.

4.3. Analisis Data

4.3.1. Structural Equation Modelling

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis faktor konfirmatori (confirmatory factor analysis) atau CFA dengan menggunakan model SEM (structural equation modelling). Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dikalkulasi berdasarkan indikatornya maka dilakukan input data yang selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan bantuan program AMOS 4.01 maka diperoleh hasil sebagai berikut:

(4)

Firm size

Profitabilitas

Pertumbuhan penjualan

Earning Volatility

Asset Tangibility

Growth

Fleksibilitas

,10

Capital structure

,25 -,03

,14 -,27 -,09 -,11 -,27 ,11

,10 ,33

,03

-,13 ,04

-,06 -,48 ,11

,12

,07 ,12

,06 ,74

,02 ,09

,08 ,03,11

-,05

,15

ecap

Gambar 4.1. Output Olahan Data Pengaruh Firm Size, Profitabilitas, Pertumbuhan Penjualan, Earning Volality, Assets Tangibility, Growth, Fleksibilitas Terhadap

Capital Structure Sumber: Lampiran 3

Berdasarkan Gambar di atas maka dapat diperoleh besaran estimasi pengaruh yang diberikan oleh masing-masing variabel yaitu:

Tabel 4.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Estimate

CAPS <--- FIRM 0,254492 CAPS <--- PROF -0,031125 CAPS <--- PENJ 0,142673 CAPS <--- EARN -0,272091 CAPS <--- ASS -0,093217 CAPS <--- GROW -0,108964 CAPS <--- FLEX -0,274932

Sumber: Lampiran 3

(5)

Tabel 4.4. Korelasi antar Faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Estimate

FIRM <--> FLEX 0,112 PROF <--> FLEX 0,097 PENJ <--> GROW 0,327 PENJ <--> ASS 0,029 ASS <--> GROW -0,127 PENJ <--> FLEX 0,045 EARN <--> FLEX -0,061 ASS <--> FLEX -0,476 FIRM <--> GROW 0,109 PROF <--> GROW 0,117 EARN <--> GROW 0,074 PROF <--> ASS 0,125 EARN <--> ASS 0,056 FIRM <--> EARN 0,744 PROF <--> EARN 0,018 PENJ <--> EARN 0,087 PROF <--> PENJ 0,083 FIRM <--> PENJ 0,029 FIRM <--> PROF 0,111 FIRM <--> ASS -0,050 GROW <--> FLEX 0,153 Sumber: Lampiran 3

Tabel di atas menunjukkan bahwa korelasi yang terjadi diantara faktor- faktor yang mempengaruhi capital structure adalah sangat kecil dan bervariasi baik positif maupun negatif. Meskipun demikian, terdapat satu korelasi yang positif dan kuat yaitu korelasi antara ukuran perusahaan dengan earning volatility.

Selanjutnya untuk menguji ketepatan model atau good fit maka dilakukan uji kesesuaian indeks, di mana hasilnya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5. Uji Kesesuaian Indeks

Goodness of fit Cut off value Hasil Statement X2-Chi Square Statistic Diharapkan kecil 12,125 Baik Significance probability ≥ 0,05 0,405 Baik

RMSEA ≤ 0,08 0,211 Tidak Baik

GFI ≥ 0,90 0,785 Tidak baik

AGFI ≥ 0.90 0,724 Tidak baik

CMIN/DF ≤ 2,00 6,588 Tidak baik

TLI ≥ 0.95 0,000 Tidak baik

CFI ≥ 0.95 0,000 Tidak baik

Sumber: data sekunder

(6)

Tabel di atas menunjukkan bahwa beberapa indeks tidak terpenuhi.

Meskipun demikian, dalam penelitian ini tidak dilakukan modifikasi data karena nilai chi square yang dihasilkan merupakan nilai yang diharapkan, yaitu sangat rendah dengan tingkat probabilitas sebesar 0,405 yang lebih besar daripada 0,05.

Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya (bab 3) bahwa alat uji paling fundamental untuk mengukur overall fit adalah likelihood ratio chi-square statistic. Chi-square ini bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang digunakan. Karena itu bila jumlah sampel adalah cukup besar yaitu lebih dari 200 sampel, maka statistik chi-square ini harus didampingi oleh alat uji lainnya.

Model yang diuji akan dipandang baik atau memuaskan bila nilai chi-squarenya rendah. Semakin kecil nilai X2 maka semakin baik model itu. Dalam pengujian ini nilai X2 yang rendah yang menghasilkan sebuah tingkat signifikansi yang lebih besar dari 0,05 akan mengindikasikan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara matriks kovarians data dan matriks kovarians yang diestimasi. Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan masih berada pada kisaran 100 – 200, sehingga tidak lebih dari 200.

4.3.2. Pengujian Hipotesis 1. Pengujian Hipotesis I

a. H0: Firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara simultan tidak mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

H1: Firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara simultan mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

Pengujian hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai korelasi berganda (R) yang dihasilkan di mana:

1) Jika nilai multiple R (R) yang dihasilkan > r tabel maka tolak H0 atau hipotesis alternatif (H1) diterima.

(7)

2) Jika nilai multiple R (R) yang dihasilkan < r tabel maka gagal tolak H0 atau H1tidak diterima.

Dengan demikian, uji hipotesis I dilakukan dengan melihat nilai koefisien determinasi berganda (squared multiple correlation atau squared R) sebesar 0,096. Nilai koefisien determinasi berganda merupakan hasil penkuadratan nilai multiple R (R), oleh karena itu langkah selanjutnya adalah menghitung nilai multiple R (R) yang merupakan akar kuadrat dari koefisien determinasi tersebut. Hasil akar kuadrat dari squared multiple correlation adalah sebesar 0,310. Dengan demikian, multiple R (R) yang dihasilkan adalah 0,310 yang lebih besar daripada 0,176 (lampiran 4), sehingga dapat dikatakan bahwa tolak H0 atau hipotesis alternatif (H1) diterima. Dengan kata lain, firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara simultan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

b. H0: Firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara parsial tidak mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

H1: Firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility secara parsial mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 2002 – 2005.

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan ketentuan bahwa:

1) Jika significant value (p-value) < α (1% – 10%) maka tolak H0

atau hipotesis alternatif (H1) diterima; dan

Jika significant value (p-value) > α (1% – 10%) maka gagal tolak H0 atau H1tidak diterima.

2) Melihat posisi nilai CR pada gambar wilayah distribusi penerimaan atau penolakan hipotesis.

(8)

Hasil penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.6. Pengujian Hipotesis 1b

Estimate CR ttabel Prob Ket

CAPS <--- FIRM * 0,254492 1,916716 1,645 ,055274 Signifikan pada 10%

CAPS <--- PROF -0,031125 -,351319 1,645 ,725349 Tidak sig CAPS <--- PENJ 0,142673 1,569758 1,645 ,116471 Tidak sig

CAPS <--- EARN * -0,272091 -2,063555 1,645 ,039060 Signifikan pada 5%

CAPS <--- ASS -0,093217 -,938392 1,645 ,348043 Tidak sig CAPS <--- GROW -0,108964 -1,183455 1,645 ,236629 Tidak sig

CAPS <--- FLEX * -0,274932 -2,742550 1,645 ,006096 Signifikan pada 1%

Sumber: Lampiran 3

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari tujuh variabel yang diamati maka hanya ada tiga faktor yang signifikan karena memiliki tingkat probability yang lebih kecil daripada 1%, 5%, dan 10%, sehingga memenuhi ketentuan yang telah ditentukan dalam pengujian hipotesis. Ketiga variabel tersebut adalah firm size (p

= 0,055 < 0,1), earning volatility (p = 0,039 < 0,05), dan fleksibility (p = 0,006 <

0,01), di mana pengaruh yang diberikan oleh firm size adalah positif, yang artinya bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan akan semakin mudah untuk mendapatkan dana dari pihak eksternal. Sementara itu, pengaruh yang diberikan oleh earning volatility dan fleksibility adalah negatif, yang artinya bahwa jika fleksibilitas perusahaan dan earning volatility perusahaan semakin besar maka leverage perusahaan akan semakin kecil.

Untuk lebih jelasnya mengenai penerimaan atau penolakan hipotesis maka dapat dilihat pada gambar wilayah penerimaan dan penolakan hipotesis sebagai berikut:

Gambar 4.2. Wilayah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Ib Sumber: Tabel 4.6

(9)

2. Pengujian Hipotesis II

Hipotesis kedua dalam penelitian ini ditentukan sebagai berikut:

H0: Tidak terdapat hubungan saling mempengaruhi di antara faktor-faktor ukuran firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility.

H1: Terdapat hubungan saling mempengaruhi di antara faktor-faktor ukuran firm size, profitability, growth, pertumbuhan penjualan, assets tangibility, flexibility, dan earning volatility.

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat posisi nilai CR pada gambar wilayah distribusi penerimaan atau penolakan hipotesis.

Output hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai CR masing- masing hubungan antar faktor adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7. Korelasi antar Faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Estimate CR ttabel Keterangan

FIRM <--> FLEX 0,112 1,253 1,645 Tidak signifikan PROF <--> FLEX 0,097 1,086 1,645 Tidak signifikan PENJ <--> GROW * 0,327 3,851 1,645 Signifikan PENJ <--> ASS 0,029 0,322 1,645 Tidak signifikan ASS <--> GROW -0,127 -1,423 1,645 Tidak signifikan PENJ <--> FLEX 0,045 0,498 1,645 Tidak signifikan EARN <--> FLEX -0,061 -0,679 1,645 Tidak signifikan ASS <--> FLEX * -0,476 -6,020 1,645 Signifikan FIRM <--> GROW 0,109 1,223 1,645 Tidak signifikan PROF <--> GROW 0,117 1,308 1,645 Tidak signifikan EARN <--> GROW 0,074 0,827 1,645 Tidak signifikan PROF <--> ASS 0,125 1,400 1,645 Tidak signifikan EARN <--> ASS 0,056 0,621 1,645 Tidak signifikan FIRM <--> EARN * 0,744 12,389 1,645 Signifikan PROF <--> EARN 0,018 0,197 1,645 Tidak signifikan PENJ <--> EARN 0,087 0,978 1,645 Tidak signifikan PROF <--> PENJ 0,083 0,929 1,645 Tidak signifikan FIRM <--> PENJ 0,029 0,321 1,645 Tidak signifikan FIRM <--> PROF 0,111 1,247 1,645 Tidak signifikan FIRM <--> ASS -0,050 -0,558 1,645 Tidak signifikan GROW <--> FLEX * 0,153 1,725 1,645 Signifikan Sumber: Lampiran 3

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 21 hubungan saling mempengaruhi yang diamati maka dapat dilihat bahwa hanya ada empat hubungan antar faktor yang signifikan karena memiliki tingkat probability yang lebih kecil daripada 1%,

(10)

5%, dan 10%, sehingga memenuhi ketentuan yang telah ditentukan dalam pengujian hipotesis. Keempat hubungan tersebut adalah hubungan antara pertumbuhan penjualan dan growth (CR = 3,851); flexibility dan asset tangibility (CR = -6,020); earning volatility dengan firm size (CR = 12,389); dan flexibility dan growth (CR = 1,725). Untuk mengetahui pengambilan keputusan penerimaan atau penolakan hipotesis maka dapat dilihat pada gambar wilayah penerimaan dan penolakan hipotesis sebagai berikut:

Gambar 4.3. Wilayah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis II Sumber: Tabel 4.7

4.3.3. Interpretasi Model

Tabel 4.8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Signifikan Tidak Signifikan

Firm Size 0,25 Pertumbuhan Penjualan 0,14 Earning Volatility - 0,27 Growth - 0,11 Fleksibility - 0,27 Assets Tangibility - 0,09 Sumber: Tabel 4.6

Tabel 4.8 menjelaskan bahwa ada 3 faktor yang berpengaruh signifikan terhadap capital structure yaitu firm size, earning volatility, dan fleksibilitas; serta ada 3 faktor juga yang tidak mempengaruhi capital structure yaitu pertumbuhan penjualan, growth, dan assets tangibility

(11)

Tabel 4.9. Korelasi antar Faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Signifikan Tidak Signifikan

PENJ <--> GROW 0,327 FIRM <--> FLEX 0,112 ASS <--> FLEX - 0,476 PROF <--> FLEX 0,097 FIRM <--> EARN 0,744 PENJ <--> ASS 0,029 GROW <--> FLEX 0,153 ASS <--> GROW - 0,127

PENJ <--> FLEX 0,045

EARN <--> FLEX - 0,061

FIRM <--> GROW 0,109

PROF <--> GROW 0,117

EARN <--> GROW 0,074

PROF <--> ASS 0,125

EARN <--> ASS 0,056

PROF <--> EARN 0,018

PENJ <--> EARN 0,087

PROF <--> PENJ 0,083

FIRM <--> PENJ 0,029

FIRM <--> PROF 0,111

FIRM <--> ASS - 0,050 Sumber: Tabel 4.7

Tabel 4.9 menjelaskan bahwa hanya ada 4 faktor yang saling memberikan pengaruh yang signifikan yaitu antara earning volatility dan ukuran perusahaan, antara growth dan pertumbuhan penjualan, dan antara flexibility dan assets tangibility, serta growth dan flexibility.

Dengan melihat tabel di atas maka dapat dianalisis besaran pengaruh tidak langsung yang diberikan oleh masing-masing variabel. Di mana dalam penelitian ini yang memiliki pengaruh tidak langsung hanya dua faktor yaitu firm size dan earning volatility, karena kedua faktor ini mempengaruhi faktor lain selain capital structure, di mana selanjutnya faktor tersebut juga mempengaruhi capital structure. Sementara faktor flexibility, meskipun mempengaruhi faktor lain, tetapi faktor lain tersebut tidak mempengaruhi capital structure.

(12)

Berikut ini adalah besaran pengaruh tidak langsung yang diberikan oleh firm size dan earning volatility terhadap capital structure.

1. Besaran pengaruh langsung yang diberikan oleh firm size terhadap capital structure adalah sebesar 0,25. Sementara firm size sendiri merupakan model yang mendapat pengaruh langsung sebesar 0,744 dari earning volatility, demikian juga sebaliknya. Selanjutnya earning volatility memberikan pengaruhnya terhadap capital structure sebesar -0,27. Dengan demikian besarnya pengaruh tidak langsung yang diberikan oleh firm size terhadap capital structure adalah:

(EARN <-- FIRM) x (CAPS <-- EARN) = (0,744) x (-0,27)

= -0,201

Jadi pengaruh tidak langsung yang diberikan oleh firm size terhadap capital structure adalah negative sebesar -0,201. Sehingga dapat dijelaskan bahwa besaran pengaruh tidak langsung memiliki nilai yang lebih kecil daripada pengaruh langsung yaitu (-0,201 < 0,25).

2. Besaran pengaruh langsung yang diberikan oleh earning volatility terhadap capital structure adalah sebesar -0,27. Sementara sendiri earning volatility merupakan model di mana mendapat pengaruh langsung sebesar 0,744 dari firm size, demikian juga sebaliknya. Selanjutnya firm size memberikan pengaruhnya terhadap capital structure sebesar 0,25. Dengan demikian besarnya pengaruh tidak langsung yang diberikan oleh firm size terhadap capital structure adalah:

(FIRM <--EARN) x (CAPS <-- FIRM) = (0,744) x (0,25)

= 0,186

Jadi pengaruh tidak langsung yang diberikan oleh firm size terhadap capital structure adalah positive sebesar 0,186. Sehingga dapat dijelaskan bahwa besaran pengaruh tidak langsung memiliki nilai yang lebih besar daripada pengaruh langsung yaitu (0,186 > -0,27).

(13)

4.4. Pembahasan

4.4.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang memiliki pengaruh terhadap capital structure adalah firm size, earning volatility, dan flexibility, di mana:

1. Firm size (FIRM) memberikan pengaruh yang positif terhadap capital structure (CAPS)

Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan, di mana semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan akan semakin mudah untuk mendapatkan dana dari pihak eksternal. Hasil ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Soliha dan Taswan (2002) yang menunjukkan bahwa kebijakan hutang tergantung dari ukuran perusahaan. Ang, Chua dan McConnell (1982) serta Gaver (1993) yang dikutip oleh Mahadwarta (2002) membuktikan bahwa perusahaan besar akan menggunakan leverage lebih banyak dibandingkan dengan perusahan kecil. Ang, Chua dan McConnell (1982) juga menemukan bahwa biaya kebangkrutan bagi perusahaan besar adalah rendah sehingga semakin mendorong perusahaan besar untuk menggunakan lebih banyak hutang. Hasil ini juga mendukung trade off theory bahwa firm size berpengaruh positif terhadap leverage, karena perusahaan dengan ukuran besar mempunyai risiko kebangkrutan yang kecil dibandingkan dengan perusahaan level yang lebih kecil.

Meskipun demikian, hasil ini bertentangan dengan pecking order theory yang memberikan asumsi bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap leverage. Perusahaan dengan level yang lebih kecil mempunyai asymetric information yang tinggi dan sedikit untuk mendapatkan sumber dana eksternal (hutang) yang akan digunakan untuk operasional perusahaan.

Selanjutnya, hasil penelitian ini juga tidak mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) yang menunjukkan bahwa firm size tidak memberikan pengaruhnya terhadap leverage perusahaan.

(14)

2. Earning volatility (EARN) memberikan pengaruh yang negatif terhadap capital structure (CAPS)

Hasil ini menunjukkan bahwa earning volatility merupakan faktor yang diperhatikan dalam penentuan kebijakan struktur modal, di mana semakin tinggi tingkat volatilitas pendapatan perusahaan maka tingkat leverage perusahaan juga semakin kecil. Artinya bahwa perusahaan yang memiliki tingkat volatilitas yang tinggi akan sulit untuk mendapatkan dana dari pihak eksternal. Hasil ini mendukung trade off theory dan pecking order theory bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara earning volatility dan tingkat leverage perusahaan. Bradley, Jarrel dan Kim (1984); Friend dan Lang (1988); Long dan Malitz (1985), yang dikutip oleh Mahadwartha (2002) menemukan bahwa semakin tinggi volatilitas earnings maka leverage akan semakin rendah. (Crutchley dan Hansen, 1989) yang dikutip oleh Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa volatilitas earnings yang tinggi akan meningkatkan biaya kebangkrutan (agency cost of debt) sehingga leverage yang digunakan dalam rangka pengendalian agency cost of equity akan berkurang. Penelitian oleh Chen & Jiang (2001) yang dikutip oleh Christianti (2006) menyatakan bahwa earning volatility perusahaan yang tinggi dianggap oleh pasar sebagai hasil kinerja manajemen yang buruk, oleh karenanya perusahaan yang seperti ini sulit untuk mendapatkan dana eksternal.

Sebagaimana dinyatakan oleh Petrovic at.al. (2006) bahwa pihak investor atau pihak eksternal cenderung memperhatikan kondisi ini karena pada dasarnya respon pihak eksternal terhadap kenaikan earnings yang tidak terduga akan sama dengan respon pihak eksternal terhadap penurunan earnings yang tidak terduga.

Namun demikian, hasil penelitian ini tidak mendukung agency theory, karena berdasarkan teori ini dinyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara earning volatility dan tingkat leverage perusahaan, karena masalah investasi menurun ketika volatilitas return perusahaan meningkat (penelitian oleh Cools (1993) yang dikutip dari Christianti (2006)). Hasil penelitian ini juga bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Christianti (2006) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif antara tingkat volatilitas laba dengan penggunaan leverage perusahaan.

(15)

3. Flexibility (FLEX) memberikan pengaruh yang negatif terhadap capital structure (CAPS)

Hasil ini menunjukkan bahwa fleksibilitas perusahaan merupakan faktor yang diperhatikan oleh pihak manajemen dan pihak eksternal dalam menentukan proporsi struktur modal, di mana hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh yang diberikan adalah negatif. Artinya, bahwa semakin tinggi tingkat fleksibilitas perusahaan maka semakin sulit perusahaan untuk mendapatkan dana dari pihak eksternal. Hasil ini mendukung pendapat Opler, et all, (1999) yang dikutip oleh Christianti (2006) yang menyatakan bahwa jika pasar tidak efektif dalam mengontrol perusahaan, manajemen akan mempertahankan kelebihan kas. Hasil penelitian juga mendukung pecking order theory bahwa fleksibilitas mempunyai hubungan negatif dengan leverage perusahaan.

Meskipun demikian, hasil penelitian ini bertentangan dengan trade off theory yang menyatakan bahwa fleksibilitas mempunyai hubungan yang positif terhadap leverage. Artinya, semakin tinggi tingkat fleksibilitas perusahaan akan menggunakan hutang yang besar pula dalam mendanai perusahaan. Sementara itu penelitian ini tidak mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) yang menunjukkan bahwa fleksibilitas tidak memberikan pengaruh terhadap capital structure.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa empat faktor lain yaitu profitability (PROF), pertumbuhan penjualan (PENJ), assets tangibility (ASS), dan growth (GROW) tidak memberikan pengaruhnya secara langsung terhadap capital structure (CAPS). Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) yang menunjukkan bahwa profitability, assets tangibility, dan growth memiliki pengaruh terhadap capital structure. Di mana:

1. Profitability (PROF)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitability tidak memberikan pengaruh terhadap capital structure. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) yang menunjukkan bahwa profitability memiliki hubungan negatif dengan leverage. Dalam penelitian

(16)

tersebut Christianti menggunakan dua ukuran untuk leverage yaitu long term debt dan short term debt. Untuk long term debt maka hasilnya menunjukkan bahwa profitability yang diindikatori oleh operating ratio tidak memberikan pengaruhnya terdap leverage, namun jika menggunakan short term debt, maka profitability yang diindikatori oleh operating ratio memberikan pengaruhnya terhadap leverage.

Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa yang diperhatikan oleh pihak manajemen dan pihak eksternal adalah bukan dari profitabilitasnya itu sendiri tetapi dari perubahan profitabilitas, yaitu fluktuasi yang terjadi pada perolehan profit yang ditunjukkan dari hasil penelitian ini bahwa dalam hal ini earning volatility merupakan faktor yang memberikan pengaruh negatif terhadap tingkat leverage perusahaan.

Hasil penelitian ini juga tidak mendukung pernyataan:

a. Myers & Majluf (1984) yang dikutip oleh Christianti (2006) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara profitability dengan leverage, dan pecking order theory bahwa terdapat pengaruh negatif antara profitability dengan leverage. Artinya, perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang rendah mempunyai tingkat leverage yang tinggi. Perusahaan yang mempunyai tingkat profitabilitas yang tinggi akan cenderung mempunyai rasio hutang yang rendah karena perusahaan tersebut akan terlebih dahulu memilih pendanaan internal berupa laba ditahan, dan apabila kebutuhan pendanaan tidak dapat dicukupi dengan hanya mengunakan sumber dana internal, perusahaan akan memilih menggunakan hutang, baru kemudian penerbitan saham.

b. Jensen (1986) yang dikutip oleh Christianti (2006) yang menyatakan terdapat hubungan positif antara leverage dengan profitability jika pasar dalam mengontrol perusahaan efektif. Sebaliknya, jika pasar dalam mengontrol perusahaan tidak efektif terdapat hubungan negatif antara profitability dengan leverage perusahaan.

c. Menurut MM theory profitabilitas mempunyai pengaruh yang positif terhadap struktur modal, perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi

(17)

akan menggunakan utang dalam jumlah yang besar guna memperoleh manfaat pajak.

2. Pertumbuhan Penjualan (PENJ)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak memberikan pengaruh terhadap capital structure (CAPS). Hasil ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) bahwa pertumbuhan penjualan tidak memberikan pengaruhnya kepada capital structure. Dalam penelitiannya tersebut, Christianti menggunakan pertumbuhan penjualan sebagai indikator bagi pertumbuhan perusahaan (growth). Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa yang diperhatikan oleh pihak manajemen dan pihak eksternal adalah bukan dari pertumbuhan penjualannya itu sendiri tetapi pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan perusahaan yang berasal dari nilai penjualan. Hal ini ditunjukkan dari adanya pengaruh positif yang diberikan oleh firm size yang diindikatori oleh kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan yang berasal dari nilai penjualan terhadap tingkat leverage perusahaan.

3. Assets Tangibility (ASS)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang diberikan oleh assets tangibility (ASS) terhadap capital structure (CAPS). Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif antara assets tangibility dengan tingkat leverage.

Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian terdahulu tersebut. Harris dan Raviv (1991) yang dikutip oleh Christianti (2006) menyatakan perusahaan dengan level fixed assets yang rendah mempunyai lebih banyak masalah asymetric information dibandingkan perusahaan dengan level fixed assets yang tinggi. Perusahaan dengan level fixed assets yang tinggi umumnya adalah perusahaan yang besar, yang dapat menerbitkan saham dengan harga yang fair sehingga tidak menggunakan hutang untuk mendanai investasi.

Selain itu, hasil penelitian ini juga tidak mendukung pecking order theory yang menjelaskan bahwa semakin tinggi assets tangibility perusahaan, maka

(18)

perusahaan akan lebih memilih untuk mendanai perusahaan dengan menggunakan modal internal yang berasal dari earning yang diperolehnya, sehingga akan ada hubungan negatif antara assets tangibility terhadap leverage.

Penelitian ini juga tidak mendukung trade off theory bahwa assets tangibility berpengaruh positif terhadap leverage. Ini karena semakin banyak assets tangibility suatu perusahaan berarti semakin banyak collateral assets untuk bisa mendapatkan sumber dana eksternal berupa hutang. Hal ini dikarenakan pihak kreditur akan meminta collateral assets untuk memback-up hutang.

4. Growth (GROW)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan (GROW) tidak memiliki pengaruh terhadap capital structure (CAPS). Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Christianti (2006) menunjukkan bahwa growth yang diindikatori oleh Ln (outstanding stocks value x Close Price)/Total Equity memiliki pengaruh negatif terhadap leverage yang menggunakan short term debt untuk menentukan tingkat leverage perusahaan, tidak memiliki pengaruh terhadap leverage yang menggunakan long term debt. Demikian pula dengan growth yang menggunakan indikator perubahan asset, tidak memberikan pengaruh terhadap leverage. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Christianti tersebut.

Hasil ini juga tidak mendukung pecking order theory yang dikemukakan oleh Myers (1977) dan Jensen (1986) yang dikutip oleh Mahadwarta (2002) yang menjelaskan bahwa semakin tinggi pertumbuhan (growth) perusahaan, maka perusahaan akan lebih memilih untuk mendanai perusahaan dengan menggunakan modal internal.

Myer (1977) dan Jensen (1986) yang dikutip oleh Mahadwarta (2002) menemukan bahwa perusahaan high growth mempunyai leverage yang rendah.

Keadaan ini dimungkinkan bila perusahaan high growth tersebut menggunakan aliran kas internal untuk membiayai investasinya karena aliran kas internal mempunyai resiko kesulitan keuangan (financial distress) yang rendah dibandingkan dengan hutang.

(19)

4.4.2. Hubungan antar Faktor yang Mempengaruhi Capital Structure

Selanjutnya, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa di antara faktor- faktor yang mempengaruhi capital structure tersebut maka ada beberapa faktor memiliki korelasi yang signifikan yaitu:

1. Pertumbuhan penjualan (PENJ) dan growth (GROW) memiliki hubungan positif sebesar 0,327

Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pertumbuhan perusahaan maka semakin tinggi pula pertumbuhan penjualan, demikian pula sebaliknya.

Semakin tinggi tingkat penjualan maka perusahaan memiliki kesempatan untuk bertumbuh lebih cepat. Sebaliknya, semakin cepat perusahaan bertumbuh maka respon pasar juga semakin tinggi karena pasar akan lebih percaya kepada produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang mampu menunjukkan kapabilitas dan konsistensinya dalam menghasilkan produk atau jasa. Dengan demikian, perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang cepat dan stabil juga akan semakin bagus tingkat pertumbuhan penjualannya.

2. Flexibility (FLEX) dan assets tangibility (ASS) memiliki hubungan negatif sebesar -0,476

Hasil ini menunjukkan bahwa semakin kecil tingkat fleksibilitas perusahaan maka assets tangibility perusahaan akan mengalami kenaikan, begitupun sebaliknya. Harris dan Raviv (1991) yang dikutip oleh Christianti (2006) menyatakan perusahaan dengan level fixed assets yang rendah mempunyai lebih banyak masalah asymetric information dibandingkan perusahaan dengan level fixed assets yang tinggi. Perusahaan dengan level fixed assets yang tinggi umumnya adalah perusahaan yang besar, yang dapat menerbitkan saham dengan harga yang fair sehingga tidak menggunakan hutang untuk mendanai investasi.

Artinya, semakin besar assets tangibility maka perusahaan akan cenderung membatasi fleksibilitasnya untuk mendapatkan dana eksternal.

(20)

3. Earning volatility (EARN) dan firm size (FIRM) memiliki hubungan positif sebesar 0,744

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi earning volatility (EARN) yang menunjukkan bahwa semakin besar pula ukuran perusahaan.

Demikian pula sebaliknya, bahwa semakin besar firm size maka earning volatility juga semakin besar. Hal ini karena sebagaimana prinsip yang berlaku bahwa semakin tinggi risiko maka semakin tinggi pula pendapatan. Dengan demikian, semakin besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dari nilai penjualan maka semakin tinggi pula risiko yang dihadapi oleh perusahaan, sehingga lebih mudah terjadi fluktuasi pada pendapatan tersebut.

4. Growth (GROW) dan flexibility (FLEX) memiliki hubungan positif sebesar 0,153

Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pertumbuhan perusahaan maka semakin tinggi pula fleksibilitas perusahaan untuk mendapatkan dana dari pihak eksternal pada saat perusahaan memerlukan tambahan dana di waktu krisis.

Demikian pula sebaliknya, semakin tinggi tingkat fleksibilitas perusahaan maka semakin tinggi pula pertumbuhan perusahaan. Hal ini karena pertumbuhan perusahaan yang tinggi akan lebih dipercaya oleh pihak eksternal, sehingga akan memudahkan perusahaan untuk mendapatkan dana eksternal tersebut.

Sementara itu, faktor-faktor lain yang tidak memiliki hubungan signifikan satu dengan yang lainnya adalah:

1. Firm size (FIRM) tidak memiliki hubungan dengan flexibility (FLEX)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan fleksibilitas perusahaan. Hasil ini bertentangan dengan pendapat yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan tersebut akan lebih mudah mengakses pihak eksternal untuk mendapatkan pinjaman. Kemudahan untuk mengakses ke pasar modal berarti perusahaan memiliki fleksibilitas dan kemampuan untuk mendapatkan dana (Taswan, 2003), sehingga dapat dijelaskan bahwa firm size memiliki pengaruh terhadap fleksibilitas perusahaan dalam mengontrol kebijakan hutangnya.

(21)

2. Firm size (FIRM) tidak memiliki hubungan dengan pertumbuhan penjualan (PENJ)

Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan penjualan. Hasil ini bertentangan dengan pernyataan yang menyatakan bahwa perusahaan yang besar cenderung memiliki kemudahan dalam mengakses pasar sehingga perusahaan dengan ukuran besar akan dapat meningkatkan penjualan di mana pada akhirnya pertumbuhan penjualan juga akan mempengaruhi ukuran perusahaan, karena pertumbuhan penjualan akan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan melalui nilai penjualan tersebut.

Hasil ini dapat dijelaskan bahwa penelitian menghasilkan tidak adanya hubungan antara ukuran perusahaan yang dilihat dari nilai penjualan tidak memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan penjualan, karena pertumbuhan penjualan merupakan suatu fungsi dari ada tidaknya perubahan nilai penjualan yang dapat dicapai oleh perusahaan, sementara ukuran perusahaan adalah nilai penjualan itu sendiri.

3. Firm size (FIRM) tidak memiliki hubungan dengan profitability (PROF) Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan profitabilitas. Hal ini dapat dijelaskan bahwa ukuran perusahaan adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan dari nilai penjualan, sementara profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam mengelola operasionalnya sehingga dapat menghasilkan laba. Artinya, meskipun perusahaan mampu menghasilkan nilai penjualan yang tinggi, tetapi jika tidak mampu mengendalikan pembiayaan operasional perusahaan maka tingkat profitabilitas perusahaan tersebut juga akan rendah.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan asumsi awal yang dibangun dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa perusahaan yang besar juga cenderung memiliki kemudahan dalam mengakses pasar sehingga perusahaan dengan ukuran besar akan dapat meningkatkan penjualan di mana pada akhirnya akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Profitabilitas perusahaan itu sendiri pada akhirnya juga akan mempengaruhi ukuran perusahaan, karena laba

(22)

yang dihasilkan oleh perusahaan akan dapat digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan nilai penjualannya.

4. Firm size (FIRM) tidak memiliki hubungan dengan assets tangibility (ASS) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan assets tangibility. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan dengan ukuran besar mampu mengubah komposisi asset yang dimiliki. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan bahwa komposisi asset belum tentu dapat menunjang kemampuan perusahaan dalam meningkatkan nilai penjualannya. Hal ini karena kemampuan perusahaan dalam menghasilkan penjualan juga tidak semata-mata dipengaruhi oleh besarnya asset yang dimiliki, karena terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi penjualan seperti bauran pemasaran dan lain-lain.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang dibangun dalam penelitian ini bahwa perusahaan yang besar juga cenderung memiliki kemudahan dalam mengakses pasar sehingga perusahaan dengan ukuran besar akan dapat meningkatkan penjualan di mana pada akhirnya akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Profitabilitas perusahaan itu sendiri pada akhirnya juga akan mempengaruhi ukuran perusahaan, karena laba yang dihasilkan oleh perusahaan akan mempengaruhi jumlah asset yang dimiliki oleh perusahaan.

5. Firm size (FIRM) tidak memiliki hubungan dengan pertumbuhan perusahaan (GROW)

Hasil ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan perusahaan. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan pendapatan melalui nilai penjualannya akan mampu meningkatkan kepemilikan assetnya dari tahun ke tahun secara stabil. Demikian juga, tidak semua perusahaan yang mampu meningkatkan kepemilikan assetnya dari tahun ke tahun akan mempu menghasilkan pendapatan melalui peningkatan nilai penjualan. Hal ini karena tidak semua perusahaan mampu mengendalikan perolehan pendapatannya untuk membiayai operasional perusahaan sehingga akan mampu menambah

(23)

kepemilikan asset perusahaan. Begitu pula dengan perusahaan yang mampu meningkatkan jumlah asetnya belum tentu mampu meningkatkan nilai penjualannya, karena terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi penjualan seperti bauran pemasaran dan lain-lain.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi semula bahwa perusahaan yang besar akan mampu mengakses pasar, sehingga akan mampu meningkatkan penjualannya dan mampu memperoleh profit, di mana pada akhirnya laba tersebut akan digunakan untuk menambah kepemilikan asset.

6. Profitability (PROF) tidak memiliki hubungan dengan flexibility (FLEX) Hasil ini menunjukkan bahwa profitabilitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan fleksibilitas. Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan di dalam mengakses pihak eksternal secara efektif untuk mengubah kuantitas dan waktu aliran kas sehingga aliran kas tersebut dapat merespon kebutuhan dan peluang yang tidak diharapkan tidak terkait dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hal ini karena kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba lebih berkaitan dengan kemampuan internal perusahaan dalam mengelola pendapatan yang diperoleh dari penjualan untuk membiayai operasional perusahaan. Dengan demikian, kemampuan memperoleh laba tidak berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam mengakses pihak eksternal dan tidak berkaitan dengan perubahan aliran kas.

Akan halnya, dengan profitabilitas dalam kaitannya dengan fleksibilitas, maka dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi mampu menjaga perubahan aliran kas yang dimiliki, sehingga hasil penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan timbal balik di antara keduanya.

Meskipun demikian, hasil ini bertentangan dengan asumsi awal bahwa profitabilitas perusahaan yang tinggi akan memberi kemudahan bagi perusahaan untuk mengakses pihak eksternal karena pihak eksternal akan mempertimbangkan kemampuan perusahaan tersebut dalam menghasilkan laba sebelum memberikan pinjaman dana bagi perusahaan tersebut.

(24)

7. Profitability (PROF) tidak memiliki hubungan dengan pertumbuhan perusahaan (GROW)

Hasil ini menunjukkan bahwa profitabilitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan perusahaan. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa perusahaan yang mampu menciptakan laba tinggi belum tentu digunakan untuk menambah asset perusahaan sehingga meskipun perusahaan mampu meningkatkan profitabilitas, tetapi tidak terjadi penambahan jumlah asset dari periode ke periode secara signifikan. Demikian pula sebaliknya, perusahaan yang mampu meningkatkan kepemilikan asset dari tahun ke tahun belum tentu diiringi dengan adanya kemampuan dalam memperoleh laba. Hal ini karena profitabilitas perusahaan lebih ditentukan oleh nilai penjualan dan kemampuan pembiayaan operasional perusahaan.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang menyatakan bahwa profitabilitas perusahaan akan dapat digunakan untuk menambah asset perusahaan.

8. Profitability (PROF) tidak memiliki hubungan dengan assets tangibility (ASS) Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan assets tangibility. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba tidak terkait dengan komposisi asset perusahaan. Hal ini karena profitabilitas perusahaan lebih menekankan pada kemampuan perusahaan dalam mengelola pendapatan yang diperoleh pada satu periode untuk membiayai operasional perusahaan. Sementara perubahan komposisi asset perusahaan lebih mengacu pada kebijakan perusahaan apakah laba yang diperoleh akan diinvestasikan dalam bentuk asset tetap atau digunakan untuk meningkatkan pendapatannya.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang menyatakan bahwa profitabilitas perusahaan akan dapat digunakan untuk menambah asset perusahaan.

(25)

9. Profitability (PROF) tidak memiliki hubungan dengan earning volatility (EARN)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan earning volatiliy. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa volatilitas earnings tidak mempengaruhi profitabilitas perusahaan, dan sebaliknya, profitabilitas tidak mempengaruhi earning volatility. Hal ini sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa earning volatility merupakan kondisi yang menunjukkan ketidakstabilan atau ketidakpastian earnings perusahaan (kenaikan atau penurunan earnings yang sangat cepat). Sementara “profitabilitas menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor” (Taswan, 2003).

Hasil ini juga disebabkan karena earning volatility dalam penelitian ini lebih mengacu pada fluktuasi pendapatan operasi perusahaan, sementara profitabilitas, selain mempertimbangkan pendapatan operasi perusahaan juga mempertimbangkan besarnya nilai pendapatan yang digunakan untuk operasional perusahaan.

Dengan demikian, hasil penelitian ini bertentangan dengan asumsi sebelumnya bahwa earning volatility menunjukkan kinerja manajemen yang buruk, di mana jika kinerja manajemen buruk maka akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam mengelola pendapatan yang diperoleh perusahaan untuk membiayai operasional perusahaan. Demikian pula dengan profitabilitas yang tidak stabil akan mencerminkan kemampuan kinerja yang buruk sehingga akan menyebabkan timbulnya earning volatility.

10. Profitability (PROF) tidak memiliki hubungan dengan pertumbuhan penjualan (PENJ)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan penjualan. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa profitabilitas perusahaan merupakan fungsi keuangan yang berdiri sendiri yang tidak ada kaitannya dengan pertumbuhan penjualan, yang merupakan kemampuan perusahaan dalam menggunakan hasil penjualan perusahaan untuk membiayai operasional perusahaan. Sementara pertumbuhan

(26)

penjualan juga merupakan fungsi tersendiri yang tidak ada kaitannya dengan besarnya biaya yang digunakan untuk operasional perusahaaan tetapi hanya mempertimbangkan ada tidaknya peningkatan penjualan dari tahun ke tahun.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang dibangun dalam penelitian ini bahwa perusahaan yang besar juga cenderung memiliki kemudahan dalam mengakses pasar sehingga perusahaan dengan ukuran besar akan dapat meningkatkan penjualan di mana pada akhirnya akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Sebagaimana dikatakan oleh Andjarwati dan Chandrarin (2006) mengutip Husnan (1998, p.376) bahwa pertumbuhan penjualan adalah variabel yang pada dasarnya mengukur stabilitas keuntungan yang diperoleh perusahaan.

11. Pertumbuhan penjualan (PENJ) tidak memiliki hubungan dengan assets tangibility (ASS)

Hasil ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak memiliki hubugan yang signifikan dengan assets tangibility. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan yang mengalami pertumbuhan penjualan yang tinggi akan memiliki komposisi asset dengan struktur tertentu,tetapi pada umumnya komposisi asset perusahaan dipengaruhi oleh kebijakan pihak manajemen perusahaan. Sementara assets tangibility merupakan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan yang memberikan manfaat ekonomi kepada perusahaan dan dapat dijadikan sebagai jaminan bagi perusahaan di mana dapat dilihat dari hasil bagi antara aktiva tetap yang telah didepresiasi dengan total asset.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan asumsi awal yang dibangun dalam penelitian ini bahwa ada hubungan timbal balik antara pertumbuhan penjualan dengan assets tangibility. Di mana pertumbuhan penjualan akan mempengaruhi pertumbuhan perusahaan yang selanjutnya mempengaruhi struktur aktiva perusahaan, karena dengan adanya tingkat profitabilitas yang tinggi maka perusahaan akan dapat menginvestasikan dana internalnya pada fixed asset.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara

(27)

growth dengan pertumbuhan penjualan dan dengan struktur aktiva, serta dengan profitabilitas.

12. Pertumbuhan penjualan (PENJ) tidak memiliki hubungan dengan flexibility (FLEX)

Hasil ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak memiliki hubugan yang signifikan dengan flexibility. Artinya, bahwa kemampuan perusahaan dalam mengakses pihak eksternal untuk mendapatkan dana guna menjaga aliran kas tidak berhubungan dengan pertumbuhan perusahaan, yang diproksi oleh pertumbuhan penjualan. Hal ini karena pertumbuhan penjualan merupakan variabel yang pada dasarnya mengukur stabilitas keuntungan yang diperoleh perusahaan (Andjarwati dan Chandrarin (2006) mengutip Husnan (1998:376)).

Meskipun demikian, hasil penelitian ini bertentangan dengan asumsi awal yang dibangun dalam penelitian ini bahwa fleksibilitas perusahaan dalam mengakses dana eksternal untuk mempertahankan aliran kas dapat digunakan untuk meningkatkan volume penjualan.

13. Pertumbuhan penjualan (PENJ) tidak memiliki hubungan dengan earning volatility (EARN)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan earning volatility. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan yang memiliki volatilitas earnings yang buruk tidak mampu meningkatkan penjualannya. Hal ini karena pertumbuhan penjualan hanya melihat sisi peningkatan penjualan tanpa mempertimbangkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai penjualan dan operasional perusahaan secara keseluruhan, sementara earning volatility mempertimbangkan faktor variabilitas biaya tersebut, karena earning volatility merupakan volatilitas earnings yang merupakan laba operasi perusahaan, yaitu pendapatan dikurangkan dengan biaya-biaya operasional perusahaan dan biaya produksi.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang dikemukakan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan timbal balik antara earning volatility

(28)

dengan pertumbuhan penjualan. Di mana semakin tinggi tingkat earnings volatility sebuah badan usaha maka hal ini mengindikasikan kondisi perusahaan semakin buruk (semakin berisiko), karena earning volatility perusahaan yang tinggi dianggap oleh pasar sebagai hasil kinerja manajemen yang buruk, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap aktivitas penjualan perusahaan.

14. Earning volatility (EARN) tidak memiliki hubungan dengan flexibility (FLEX) Hasil penelitian menunjukkan bahwa earning volatility tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan flexibility. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa dalam penelitian ini, earning volatility merupakan tingkat volatilitas (perubahan yang cepat) dari earnings (Mahadwarta, 2002) yang diindikatori oleh nilai perubahan earning dari tahun ke tahun, sementara fleksibilitas diindikatori oleh aliran kas dan total asset. Dengan demikian, tidak dapat dilihat adanya hubungan secara langsung di antara kedua variabel tersebut.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang dikemukakan pada penelitian ini bahwa earning volatility yang merupakan indikasi kinerja perusahaan yang buruk akan mempengaruhi kepercayaan pihak eksternal, sehingga akan mempengaruhi fleksibilitas perusahaan dalam mengakses pihak luar tersebut untuk mendapatkan dana yang efektif guna menjaga aliran kas perusahaan.

15. Earning volatility (EARN) tidak memiliki hubungan dengan pertumbuhan perusahaan (GROW)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa earning volatility tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan perusahaan. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan yang memiliki volatilitas earnings yang buruk tidak mampu meningkatkan asset perusahaan. Hal ini karena pertumbuhan perusahaan hanya melihat sisi peningkatan asset tanpa mempertimbangkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai penjualan dan operasional perusahaan secara keseluruhan, sementara earning volatility mempertimbangkan faktor variabilitas biaya tersebut, karena earning volatility merupakan volatilitas earnings yang merupakan laba operasi perusahaan, yaitu pendapatan dikurangkan

(29)

dengan biaya-biaya operasional perusahaan dan biaya produksi. Apalagi, dalam penelitian ini earning volatility merupakan indikator dari risiko bisnis, di mana menurut Gitman (2003, p.525) “business risk adalah risiko yang dihadapi oleh perusahaan di mana perusahaan tidak mampu menutup biaya operasional”.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang dikemukakan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan timbal balik antara earning volatility dengan pertumbuhan perusahaan. Di mana semakin tinggi tingkat earnings volatility sebuah badan usaha maka hal ini mengindikasikan kondisi perusahaan semakin buruk (semakin berisiko), karena earning volatility perusahaan yang tinggi dianggap oleh pasar sebagai hasil kinerja manajemen yang buruk, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap aktivitas penjualan perusahaan.

Sementara pertumbuhan perusahaan itu sendiri pada hakikatnya dipengaruhi oleh pertumbuhan penjualan dan profitabilitas perusahaan. Semakin tinggi tingkat penjualan dan tingkat profitabilitas perusahaan maka perusahaan memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih cepat. Semakin cepat perusahaan bertumbuh maka respon pasar juga semakin tinggi karena pasar akan lebih percaya kepada produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang mampu menunjukkan kapabilitas dan konsistensinya dalam menghasilkan produk atau jasa. Dengan demikian, perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang cepat dan stabil juga akan mempengaruhi earning volatility, karena semakin bagus tingkat pertumbuhan penjualan dan profitabilitas maka operating income perusahaan juga akan semakin bagus.

16. Earning volatility (EARN) tidak memiliki hubungan dengan assets tangibility (ASS)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa earning volatility tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan assets tangibility. Hasil ini dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan yang memiliki volatilitas earnings yang buruk tidak melakukan perubahan pada komposisi asset yang dimiliki. Hal ini karena perubahan komposisi asset lebih dipengaruhi oleh faktor kepemilikan asset oleh perusahan tanpa mempertimbangkan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membiayai penjualan dan operasional perusahaan secara keseluruhan, sementara

(30)

earning volatility mempertimbangkan faktor variabilitas biaya tersebut, karena earning volatility merupakan volatilitas earnings yang merupakan laba operasi perusahaan, yaitu pendapatan dikurangkan dengan biaya-biaya operasional perusahaan dan biaya produksi. Apalagi, dalam penelitian ini earning volatility merupakan indikator dari risiko bisnis, di mana menurut Gitman (2003, p.525)

“business risk adalah risiko yang dihadapi oleh perusahaan di mana perusahaan tidak mampu menutup biaya operasional”.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan asumsi awal dalam penelitian ini bahwa perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang cepat dan stabil juga akan mempengaruhi earning volatility, karena semakin bagus tingkat pertumbuhan penjualan dan profitabilitas maka operating income perusahaan juga akan semakin bagus. Pertumbuhan perusahaan tersebut selanjutnya mempengaruhi struktur aktiva perusahaan, karena dengan adanya tingkat profitabilitas yang tinggi maka perusahaan akan dapat menginvestasikan dana internalnya pada fixed asset. Assets tangibility merupakan sumberdaya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan dapat diharapkan akan diperoleh perusahaan, yang terdiri atas aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap, aktiva tidak berwujud, dan aktiva lain-lain (PSAK per 1 April 2001 paragraph 9, dikutip oleh Andjarwati dan Chandarin, 2006).

17. Assets tangibility (ASS) tidak memiliki hubungan dengan pertumbuhan perusahaan (GROW)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa assets tangibility tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan perusahaan. Assets tangibility merupakan perbandingan antara fixed assets dan total assets. Sementara pertumbuhan perusahaan merupakan rasio pertumbuhan asset perusahaan dari tahun ke tahun. Dengan mengacu pada hasil penelitian ini maka dapat dijelaskan bahwa tidak semua perusahaan memiliki komposisi asset yang sama karena komposisi asset ini merupakan kebijakan perusahaan, di mana merupakan sumberdaya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan dapat diharapkan akan diperoleh perusahaan, yang terdiri atas aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap,

(31)

aktiva tidak berwujud, dan aktiva lain-lain (PSAK per 1 April 2001 paragraph 9, dikutip oleh Andjarwati dan Chandarin, 2006). Sedangkan pertumbuhan perusahaan diukur dengan tanpa mempertimbangkan komposisi asset tetapi merupakan jumlah dari keseluruhan asset yang dimiliki oleh perusahaan.

Hasil ini bertentangan dengan asumsi awal yang dikemukakan pada penelitian ini bahwa pertumbuhan perusahaan dan assets tangibility memiliki hubungan timbal balik dengan pertumbuhan perusahaan. Ini karena pertumbuhan perusahaan mempengaruhi assets tangibility, karena dengan adanya tingkat profitabilitas yang tinggi maka perusahaan akan dapat menginvestasikan dana internalnya pada fixed asset. Di mana dalam penelitian ini pertumbuhan asset dilihat dari nilai total asset yang dimiliki perusahaan dari tahun ke tahun yang dimiliki oleh perusahaan dengan komposisi tertentu, dan komposisi ini mencerminkan assets tangibility itu sendiri. Sebagaimana pendapat Titman dan Wessel (dalam Karyono, 2006) bahwa struktur aktiva dapat diukur dengan menggunakan hasil bagi antara aktiva tetap bersih dengan total aktiva. Sebaliknya, assets tangibility juga mempengaruhi pertumbuhan asset perusahaan, di mana semakin besar asset tetap pada perusahaan maka semakin lama asset tersebut akan dapat dipertahankan oleh perusahaan karena sifat aktiva tetap yang dapat dipertahankan oleh perusahaan sebagai asset perusahaan.

Gambar

Tabel 4.1. Rincian Pemilihan Sampel Penelitian
Tabel 4.2 menunjukkan deskripsi data variabel penelitian yang  menunjukkan maximum value, minimum value, mean value, serta standar deviasi  masing-masing variabel penelitian
Gambar 4.1. Output Olahan Data Pengaruh Firm Size, Profitabilitas, Pertumbuhan  Penjualan, Earning Volality, Assets Tangibility, Growth, Fleksibilitas Terhadap
Tabel di atas menunjukkan bahwa korelasi yang terjadi diantara faktor- faktor-faktor yang mempengaruhi capital structure adalah sangat kecil dan bervariasi  baik positif maupun negatif
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pasca Kemerdekaan peran Amerika Serikat dalam hal kemanusiaan tidak terlalu mencolok, hal ini dikarenakan dengan bantuan yang diberikan oleh Amerika Serikat kepada

Skripsi ini dilatarbelakangi pembelajaran yang selama ini dilakukan di kelas VIII A SMP TAQ Sadamiyyah Guyangan Bangsri Jepara yang masih melakukan proses pembelajaran

Mantan Walikota Jakarta Utara ini menyampaikan, jumlah tenaga kerja kontrak yang akan direkrut di masing- masing kelurahan bervariasi antara 40-70 orang, tergantung dari luasan

Berdasarkan data terlihat bahwa status sosial ekonomi keluarga mempunyai peran yang cukup tinggi dalam hal percepatan umur menarche saat ini. Hal ini berhubungan

Dalam proses menangani masalah konflik agraria tersebut, hal yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Siak adalah dengan melakukan mediasi dengan

1) Pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media Power Point pada pokok bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung lebih efektif dibanding dengan pembelajaran kooperatif

Bentuk gerbang, relief, serta konsep integrasi berupa satu garis aksial dengan Balai Desa tersebut dirancang oleh seorang budayawan Kampung Tahunan bernama Bapak