• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN

PENGAWASAN INTERNAL KAS PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA MEDAN II

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Diploma III

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN

PENGAWASAN INTERNAL KAS PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA MEDAN II

TUGAS AKHIR

Diajukan Oleh :

JULI CHATERINE SITOHANG 132101144

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Diploma III

PROGRAM STUDI DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN

PENGAWASAN INTERNAL KAS PADA KANTOR PELAYANAN

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MEDAN

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK

NAMA : JULI CHATERINE SITOHANG

NIM : 132101144

PROGRAM STUDI : DIPLOMA III MANAJEMEN KEUANGAN

JUDUL : PENGENDALIAN INTERNAL

KAS PADA KANTOR PELAYANAN

PERBENDAHARAAN NEGARA MEDAN II

Tanggal: Juni 2016 Dosen Pembimbing Tugas Akhir

Syafrizal Helmi Situmorang,SE, M.Si NIP. 19760124 20051 1 002

Tanggal: Juni 2016 Sekretaris Program Diploma III Keuangan

Syafrizal Helmi Situmorang,SE, M.Si NIP. 19760124 20051 1 002

Tanggal: Juni 2015 Dekan

Prof. Dr. Ramli, S.E, M.S NIP. 19580602 198803 001

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji Syukur penulis panjatkan karena pertolongan Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan hikmat, berkat dan kemurahan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul “PENGAWASAN INTERNAL KAS PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA MEDAN II”. Dan disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Diploma III Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik berupa materil, sumbangan pemikiran, dan doa dalam penyusunan Tugas Akhir ini, yaitu kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, S.E, M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Yeni Absah, SE, M.Si selaku ketua Program Studi Diploma III Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan masukan yang sangat membantu penulis.

3. Bapak Syafrizal Helmi Situmorang, SE, M.Si selaku Sekretaris Program

(4)

petunjuk, saran-saran, dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

4 Orang tua penulis, Ayahanda Rommel Sitohang, SE, MM dan Ibunda Rosmawati Panggabean yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa, dukungan, semangat dan materil selama ini. Terimakasih juga penulis ucapkan untuk Abang saya Agung Perdana Sitohang dan Adik saya Martin Leo Sitohang, Yang telah turut mendukung dan doa kepada saya selama penyelesaian Tugas Akhir ini dan seluruh keluarga besar penulis.

5 Dosen dan staff pengajar sera pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

6 Seluruh pegawai di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Medan II yang juga turut membantu, memberi dukungan dan doa kepada penulis untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.

7 Sahabat-sahabat Kristel Emanuella, Raudha Pasaribu, Jesica Manihuruk, Gita Oktavia, Susi Puspita, Ulfa Namira, Devi Rahma, Dinda Amelia, Oka Salamah, Theresia Simanungkalit dan teman-teman seperjuangan Program Studi Diploma III Manajemen Keuangan.

(5)

Akhirnya penulis menyadari semua keberhasilan tidak terlepas dari petunjuk Tuhan yang Maha Esa. Penulis berharap Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Medan, Juli 2016

Juli Chaterine Sitohang NIM. 132101144

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Rumusan Masalah ... 4

B. Tujuan Penelitian ... 4

C. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II PROFIL KPPN MEDAN II ... 6

A. Sejarah KPPN Medan II ... 6

B. Jenis Kegiatan KPPN Medan II ... 9

C. Struktur Organisasi ... 10

D. Job Discription ... 12

E. Kinerja Terkini KPPN Medan II ... 16

F. Rencana Kegiatan KPPN Medan II... 17

BAB III PEMBAHASAN ... 19

A. Pengendalian Internal Kas ... 19

1. Pengertian Kas ... 19

2. Pengertian Pengendalian Kas ... 20

B. Prosedur Penerimaan Kas di KPPN ... 23

1. Prosedur Penerimaan Kas di KPPN ... 23

2. Pembahasan ... 27

C. Prosedur Pengeluaran ... ... 29

1. Prosedur Pengeluaran Kas di KPPN ... 29

2. Pembahasan ... 33

D. Lingkungan Pengendalian Intern Kas ... 35

1. Lingkungan Pengendalian Intern Kas ... 35

2. Pembahasan ... 38

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 41

A. Kesimpulan ... 41

B. Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... vi

iv

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Logo KPPN Medan II ... 8

Gambar 2.2 Struktur Organisasi KPPN Medan II ... 11

Gambar 3.1 Mekanisme Pelaksanaan Rekening Penerimaan ... 24

Gambar 3.2 Mekanisme Pelaksanaan Rekening Pengeluaran ... 30

(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu fungsi manajemen yang penting ialah fungsi pengawasan, pengawasan dapat diartikan sebagai alat untuk mengkoordinasikan aktivitas perusahaan agar sesuai dengan rencana semula. Pengawasan dapat di laksanakan secara efektif melalui pemeriksaan dan pelaporan. Salah satu pengawasan yang dilakukan adalah pengawasan internal kas.

Menurut Halim ( 2015:207) defenisi pengendalian intern adalah “suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: (a) keandalan pelaporan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.”

Pada umumnya setiap perusahaan, baik perusahaan kecil maupun perusahaan besar pasti memiliki kas. Kas merupakan salah satu modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Kas merupakan sumber atau sasaran yang yang paling mudah untuk setiap kegiatan untuk mencegah terjadinya kekeliruan.

Dengan adanya pengendalian internal yang memadai sangat dibutuhkan untuk melindungi kas.

Pengendalian Intern menurut Tunggal (2013:78) pengendalian yang baik tidak hanya melindungi organisasi, tetapi juga karyawan. Manajemen bertanggung jawab secara moral bahwa tidak ada celah untuk melakukan

1

(9)

kecurangan. Kebanyakan karyawan akan menghargai operasi yang dikendalikan dengan baik. Kelemahan pengendalian menimbulkan celah dan memudahkan karyawan untuk mengajukan alas an:karena manajemen juga tidak memerhatikan, kenapa kita tidak melakukan kecurangan? Misalnya penumpukan tugas semua bagian operasi ditangan satu orang adalah berbahaya tidak baik untuk organisasi dan juga masing-masing individu.

Manajemen biasanya menghadapi dua masalah akuntansi untuk transaksi kas, yaitu pengendalian internal harus ditetapkan dan menjamin bahwa tidak ada transaksi yang tidak diotorisasi oleh pejabat atau pegawai, dan informasi yang diperlukan untuk manajemen kas yang ada di tangan dan transaksi harus tersedia.

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II merupakan salah satu lembaga pemerintah yang memerlukan adanya suatu sitem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas serta sistem pengendalian internal yang mampu menjaga integritas informasi akuntansi, melindungi aktiva perusahaan terhadap kecurangan, pemborosan dan pencurian yang dilakukan oleh pihak di dalam maupun di luar perusahaan.

Masalah yang mendasari perlu adanya sistem pengawasan kas terhadap kas di KPPN adalah kas merupakan aset lancar yang sensitif terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan. Kesalahan yang terjadi seperti kesalahan penulisan pembukuan, perencanaan-perencanaan yang telah disusun namun tidak

(10)

dana kepada satker yang dibayarkan walaupun kelengkapan berkas dari satker tersebut belum lengkap atau sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh KPPN, mewujudkan bahwasanya penarikan dan pengeluaran dana dapat seimbang per hari, per bulan, dan per tahun.

Dengan adanya sistem pengawasan internal kas yang baik yaitu dengan cara melindungi dan menjamin keakuratan catatan akuntansi kas dalam pengendalian internal yang efektif atas kas merupakan suatu keharusan.

Pengendalian internal yang baik menghindari terjadi penyelewengan seperti melakukan perubahan laporan atau perhitungan. Adanya prosedur pencatatan yang sesuai sehingga dapat dilakukan pengendalian yang tepat terhadap harta, utang, pendapatan dan biaya. Perangkat pengendalian canggih untuk melakukan suatu kecurangan yang dapat menyebabkan pengendalian tersebut tidak berguna lagi, diharapkan baik penerimaan dan pengeluaran kas di KPPN dapat dilakukan secara tepat, aman, terkendali, transparan, dan dapat menghindari kecurangan yang mungkin saja bisa terjadi. Manfaat sistem pengawasan intern bagi KPPN dalam pengelolaan kas adalah untuk mengamankan harta di kantor pemerintahan ini.

Melihat betapa pentingnya pengawasan intern kas di dalam suatu perusahaan, maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui seperti apa sistim pengawasan intern kas yang dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN)

(11)

Medan II, maka penulis mengambil judul : “PENGAWASAN INTERNAL KAS PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA (KPPN) MEDAN II”.

B. Rumusan Masalah

Setelah memahami bahwa kas merupakan salah satu aktiva lancar yang paling berharga bagi perusahaan, dan jikalau pengelolaan kas tidak baik maka hal tersebut dapat mengganggu kelancaran aktivitas operasional perusahaan, maka penulis membuat suatu rumusan masalah dalam Laporan Tugas Akhir ini, yaitu :

1. Bagaimana sistem pengawasan internal kas pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II?

2. Apakah sistem pengawasan intern atas penerimaan kas yang diterapkan sudah dapat menjamin keamanan dalam pengelolaan kas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dapat disimpulkan oleh penulis adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana sistem pengawasan internal kas yang

dilakukan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II.

(12)

3. Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada Program Diploma III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

D. Manfaat Penelitian

Adapun beberapa manfaat dari tugas akhir ini adalah : 1. Bagi Penulis

Bagi penulis tugas akhir ini merupakan salah satu pembelajaran yang sangat berharga terutama dalam rangka memperbaiki cara berpikir penulis dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengawasan internal kas

2. Bagi KPPN Medan II

Bagi KPPN Medan II tugas akhir ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pimpinan untuk melakukan perbaikan dari kelemahan-kelemahan sistem pengawasan internal kas yang diterapkan pada kantor tersebut, sehingga dapat lebih meminimalkan kemungkinan terjadinya penyalahgunaan kas pada kantor tersebut dimasa yang akan datang.

(13)

3. Bagi Pihak Ketiga

Bagi pihak ketiga tugas akhir ini dapat menjadi suatu referensi untuk memahami bagaimana sistem pengawasan internal kas pada kantor tersebut.

(14)

BAB II

PROFIL KPPN MEDAN II

A. Sejarah KPPN Medan II

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara telah diundangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 April 2003 sebagai awal dari Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah. Salah satu hal penting dalam undang-undang tersebut adalah peniadaan fungsi ordonansering pada departemen Keuangan dalam hal ini Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) yang dialihkan kepada kantor/satuan kerja kementrian Negara/Lembaga.

Hal tersebut diikuti dengan reorganisasi Kementrian Keuangan , dimana KPKN berubah menjadi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sehingga hanya menjalankan fungsi Bendahara Umum Negara.

KPPN sebagai satu unit organisasi pemerintah pada Kementrian Keuangan mempunyai tanggung jawab yang sama dengan unit organisasi pemerintah yang lain dalam mewujudkan tata kelola pemerintah yang baik (good goverment).

Untuk mewujudkan good goverment di seluruh unit kerjanya, Kementrian Keuangan menjalankan program Reformasi Birokrasi. Langkah awal perwujudan Reformasi Birokrasi untuk bidang pekerjaan Perbendaharaan Negara, pada tanggal 30 Juli 2007 Departemen Keuangan membentuk 18 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) percontohan di 17 Provinsi dan salah satu KPPN Percontohan yang telah di bentuk adalah KPPN Medan II. Melalui konsep KPPN Percontohan inilah tekad melaksanakan layanan cepat, tepat, transparan, dan tanpa

7

(15)

biaya dicanangkan. Hingga awal tahun 2009 departemen Keuangan telah membentuk 37 KPPN Percontohan dari 178 KPPN Konvensional.

1. Visi KPPN Medan II

KPPN Medan II berusaha melaksanakan tugas dan fungsi sebaik-baiknya sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.01/2008 tanggal 11 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Hal tersebut tergambar pada visi dan misi organisasi yang dicanangkan oleh KPPN Medan II.

“Menjadi Pelaksana Kuasa Bendahara Umum Negara di Daerah yang Profesional, Kredibel Transparan dan Akuntabel guna mewujudkan pelayanan yang Prima”.

2. Misi KPPN Medan II

1. Memantapkan pelaksanaan sistem pencairan dana yan g transparan dan akuntabel;

2. Mewujudkan pengelolaan kas Negara yang transparan dan akuntabel;

3. Meningkatkan kinerja pelayanan publik;

4. Meningkatkan pengelolaan administrasi dan kualitas SDM;

5. Meningkatkan kualitas penyusunan laporan keuangan secara cepat, tepat dan akurat.

3. Logo Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Medan II

(16)

Gambar 2.1 Logo KPPN

Sumber : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Medan II

4. Motto KPPN Medan II

Layanan prima bagi semua: HORAS BANG !!! (Hasilnya Orang Senang dan Bangga).

5. Janji Layanan KPPN Medan II

1. Layanan diberikan secara cepat, tepat dan akurat.

2. Layanan diberikan tanpa biaya.

3. Layanan diberikan secara transparan 6. Tujuan KPPN Medan II

1. Memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, profesional dan berintegritas tinggi sebagai aparatur pemerintah yang mampu menghadapi segala tantangan;

2. Mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat dalam penyaluran dana APBN;

3. Mewujudkan KPPN Medan II sebagai model kantor pelayanan yang bersih dan transparan.

B. Jenis Kegiatan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Medan II

(17)

Kegiatan KPPN Medan II berupa bentuk pelayanan untuk membantu di bidang perbendaharaan, antara lain :

1. Pencairan Dana

Merupakan bagian dari SPM LS Belanja Pegawai, SPM LS Non Belanja Pegawai, SPM UP, TUP, GU, GU-Nihil.

2. Rekonsiliasi

Rekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan beberapa sistem/subsistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama.

3. SKPP

Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP) adalah surat keterangan tentang terhitung mulai bulan dihentikan pembayaran yang dibuat/dikeluarkan oleh pengguna anggaran/KPA berdasarkan surat keputusan yang diterbitkan oleh Kementrian Negara/Lembaga atau satker dan disahkan oleh KPPN setempat.

(18)

4. Ralat SPM/SP2D

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) adalah surat perintah yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM.

5. Retur SP2D

Retur SP2D adalah penolakan/pengembalian pemindah bukuan dan/transfer pencairan APBN dari Bank/Kantor Pos penerima kepada Bank Operasional/kantor pos karena nama, alamat, nomor rekening, dan nama Bank /Kantor Pos yang dituju tidak sesuai dengan data rekening Bank/Kantor Pos penerima atau rekening penerima tidak aktif.

C. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi diperlukan untuk membedakan batas-batas wewenang dan tanggung jawab secara sistematis yang menunjukkan adanya hubungan/keterkaitan antara setiap bagian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Demi tercapainya tujuan umum suatu instansi diperlukan suatu wadah untuk mengatur seluruh aktivitas maupun kegiatan instansi tersebut.Pengaturan ini dihubungkan dengan pencapaian instansi sebelumnya.Wadah tersebut disusun dalam suatu struktur organisasi dalam instansi.

Melalui struktur organisasi yang baik, pengaturan pelaksanaan dapat diterapkan, sehingga efisiensi dan efektivitas kerja dapat diwujudkan melalui kerja sama dengan koordinasi yang baik sehingga tujuan organisasi dapat dicapai.

Suatu instansi terdiri dari berbagai unit kerja yang dapat dilaksanakan perseorangan, maupun kelompok kerja yang berfungsi melaksanakan serangkaian

(19)

kegiatan tertentu dan mencakup tata hubungan secara vertikal melalui saluran tunggal. Struktur KPPN Medan II . Dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini:

KEPALA KANTOR AMRA

KEPALA SUBBAG UMUM EKO ARI SUSANTO

IRWANSYAH ROSLIANA S

AZHARI FITRI M

SYAMSUL B SONDANG T

SAKSI PENCAIRAN DANA SEKSI MSKI SEKSI BANK SEKSI VERA

AGUS SUPRIYATNA HARTINA NOVA J ROIYADI

KUKUH P BUDIARTO ERAWATI ISWITA MEGA S WASKITA IDA

DARWAN ASHARI ELISA MANGASI S ENDANG R BAMBANG AMNUR

HENRY JUANRI

RIZAL FAKHRUDDIN

YUNIZAR WAGIARTY

Gambar : 2.2

Sumber : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Medan II

(20)

D. Job Description

Berikut adalah Job Description pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II :

Kepala Kantor Tugas:

Merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Fungsi:

1. Penyiapan perumusan kebijakan Departemen Keuangan di bidang perbendaharaan negara;

2. Pelaksanaan kebijakan di bidang perbendaharaan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

3. Penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang perbendaharaan negara;

4. pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perbendaharaan negara;

5. pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal.

Sub Bagian Umum

Sub Bagian Umum mempunyai tugas : 1. Menyusun rencana kegiatan;

2. Menyiapkan bahan kerja;

(21)

3. Menghimpun, menelaah dan mendokumentasikan peraturan perundang-undangan dibidang kepegawaian;

4. Menyiapkan dan memfasilitasi urusan hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan Badan;

5. Menyelenggarakan tata naskah dinas, humas dan protokol, kearsipan,kepustakaan, surat-menyurat, dan alat tulis unit kerja;

6. Melaksanakan administrasi dan kearsipan data kepegawaian Badan;

7. Mengelola kebersihan, ketertiban dan keamanan ruang kerja serta lingkungan Badan;

8. Menyimpan, memelihara, mengelola, dan mendistribusikan barang kebutuhan Badan;

9. Mengkooordinasikan penyusunan rencana kebutuhan dan pengadaan barang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;

10. Melaksanakan administrasi perjalanan dinas bagi pejabat dan staf Badan;

11. Menyiapkan perlengkapan rapat dan melayani tamu dinas;

12. Memberikan saran dan atau pertimbangan kepada atasan mengenai langkah atau tindakan yang diambil sesuai bidang tugasnya;

13. Menginventarisasi, mengidentifikasi dan menyiapkan bahan pemecahan permasalahan sesuai bidang tugasnya;

(22)

Seksi Pencairan Dana

Pasca penerapan proses bisnis baru akan mempunyai tugas melayani satuan keerja mulai dari proses pendaftaran tagihan sampai dengan pembayaran yang resume tagihan dan SPM, penerbit SPPT (Surat Persetujuan Pembayaran Tagihan), Penerbitan Surat Pengesahan Pendapatan dan Belanja (Badan Layanan Umum)

BLU, pengelolaan data kontrak, data meliputi : pengujian suplier, dan belanja pegawai satker, serta monitoring dan evaluasi penyerapan anggaran satker.

Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal (MSKI) Seksi MSKI mempunyai tugas-tugas sebagai berikut:

1. Tugas di bidang manajemen satker:

a. melakukan pembinaan dan bimbingan teknis pengelolaan perbendaharaan.

b. fungsi customer service.

c. supervisi teknis SPAN dan helpdesk SAKTI.

d. pemantauan standar kualitas layanan KPPN dan penyediaan layanan perbendaharaan.

(23)

2. Tugas di bidang kepatuhan internal:

a. pemantauan pengendalian intern, pengelolaan risiko, kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin, dan tindak lanjut hasil pengawasan.

b. perumusan rekomendasi perbaikan proses bisnis.

Seksi Bank

Mempunyai tugas melakukan penyelesaian transaksi pencairan dana dengan penerbitan SP2D atas tagihan yang telah jatuh tempo sesuai SPPT yang telah diterbitkan oleh seksi Pencairan Dana, melaksanakan fungsi Manajemen Kas, pengelolaan rekening Kuasa BUN dan Bendahara serta penatausahaan pengembalian Pendapatan/Penerimaan Negara.

Seksi Verifikasi dan Akutansi (VERA)

Mempunyai tugas untuk melakukan rekonsiliasi laporan akuntansi, penyusunan Laporan Keuangan tingkat Kuasa BUN, realisasi dan analisis kinerja anggaran serta analisis data statistik laporan keuangan regional.

E. Kinerja Terkini KPPN Medan II

Evaluasi Pelaksanaan Anggaran Tahun 2014 Menuju Kesempurnaan Kinerja Tahun 2015 merupakan tema dari Kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Perencanaan Kas Generasi Kedua (Renkas G2) dan Aplikasi SAKPA 2015 yang diadakan oleh KPPN Medan II di awal tahun ini. Kegiatan ini dilaksanakan secara maraton selama dua hari berturut turut tanggal 20 s.d 21 Februari 2014 di

(24)

seluruh perwakilan satker atas kerja keras dan maksimal sehingga berkontribusi atas pencapaian target kinerja yang diamanatkan kepada KPPN Medan II. Capaian kinerja penyerapan dana APBN adalah 91,57% dari target tahun 2014 sebesar 90%. Pada tahun 2015, diharapkan pelaksanaan kinerja penyerapan anggaran bukan hanya dipertahankan tetapi harus ditingkatkan.

Sosialisasi dan Bimbingan Teknis terkait dengan Perencanaan Kas Generasi Kedua (Renkas G2) disampaikan oleh tim gabungan Seksi Pencairan Dana dan MSKI. Renkas G2 atau Aplikasi Perencanaan Satker (APS) lebih sederhana dan menitik beratkan kepada akurasi perencanaan kas harian. Hal yang membedakan dengan Renkas G1 yang terdahulu (AFS), adalah penyampaian APS dan update-nya hanya didiwajibkan kepada Satker yang memiliki transaksi besar, dan diklasifikasikan berdasar besaran transaksi dan tipe KPPN. Untuk sesi Bimtek Aplikasi SAKPA 2014, dijelaskan mengenai perkembangan aplikasi sampai dengan terkini dan format baru Berita Acara Rekonsiliasi (BAR) berikut batas waktu penyampaiannya ke KPPN. Hal lain yang disampaikan adalah PER- 3/PB/2014 tentang Juknis penatausahaan, pembukuan dan pertanggungjawaban bendahara pada satker pengelola APBN serta verifikasi LPJ Bendahara. Sebagai bentuk layanan yang optimal, pada kesempatan ini KPPN Medan II memberikan penghargaan kepada sepuluh satker yang memiliki kinerja terbaik pada tahun anggaran 2014. Selain surat penghargaan, kepada sepuluh satker tersebut diberikan Kartu Layanan Prioritas bebas antrian selama dua bulan. Untuk mengetahui tingkat efektifitas dan komunikasi, disampaikan pula quesioner

(25)

layanan, pre & post test, kepada peserta kegiatan yang paling aktif dan bersemangat, diberikan cinderamata yang menarik.

Prestasi yang pernah di dapatkan KPPN Medan II adalah Juara Harapan Ketiga Percontohan berdasarkan Keputusan Dirjen Perbendaharaan Nomor 179/PB/2007 tentang Penetapan Pemenang Penilaian KPPN Percontohan di Lingkungan Direktorat Jendral Pembendaharaan Tahun 2007

F. Rencana Kegiatan KPPN Medan II

Rencana kegiatan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II (Sumber: Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II), antara lain sebagai berikut :

1. Mewujudkan Pelaksanaan Anggaran Berbasis Kinerja

2. Mewujudkan Pengelolaan Kas Negara Yang Transparan dan Akuntabel 3. Mewujudkan Pelayanan di Bidang Perbendaharaan dan Informasi

Keuangan Cepat, Tepat dan Bebas Biaya

4. Memberikan Pelayanan Yang Prima Kepada Pihak Instansi Vertikal dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang Mendapat Alokasi Dana APBN

5. Menyelenggarakan Tata Usaha Bendahara Umum Sesuai dengan Perundang- undangan yang Berlaku.

(26)

BAB III

SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL TERHADAP KAS PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA (KPPN)

MEDAN II

A. Pengendalian Internal Kas

1. Pengertian Kas

Kas adalah alat tukar yang umum dan standar, dibutuhkan setiap perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya, baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari, maupun untuk mengadakan investasi baru. Hal ini disebabkan oleh sifat dari perusahaan yang meliputi harga dan kondisi yang menjurus kepada penetapan suatu medium pertukaran. Perantaraan standar dari penukaran adalah uang tunai.

Menurut Kamaludi dan Indriani (2012:123) pengertian kas dimaksudkan adalah terdiri dari mata uang dan rekening koran/giro yang dimiliki oleh perusahaan. Ada banyak alas an baik perusahaan perseorangan maupun perseroan memiliki uang kas namun secara umum ada empat alas an utama memegang kas atau dana tunai, yaitu:

a) Motif transaksi b) Motif berjaga-jaga c) Motif spekulasi

d) Saldo kompensasi yang diisyaratkan oleh bank.

(27)

Dan menurut Rudianto (2012:188) “ kas merupakan alat pertukaran yang dimiliki perusahaan dan siap digunakan dalam transaksi perusahaan, setiap saat diinginkan.”

Dengan demikian kas merupakan komponen modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya, berarti bahwa semakin besar jumlah kas yang dimiliki perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya tetapi perusahaan yang mempunyai tingkat perputaran kas tersebut rendah dan mencerminkan kelebihan investasi dalam kas. Makin tinggi tingkat perputaran kas maka makin cepat kembalinya kas masuk pada perusahaan. Dengan demikian kas akan dapat dipergunakan kembali untuk membiayai kegiatan operasional sehingga tidak mengganggu kondisi keuangan perusahaan.

Menurut Suyonto dan Susanti (2015:56) Kas dalam pengertian lain disebut sebagai aktiva yang tidak menghasilkan (non-earning asset). Kas diperlukan untuk menjaga likuiditas perusahaan, seperti: membayar tenaga kerja, membeli bahan baku, membayar utang, bunga atau lain sebagainya. Akan tetapi jika kas yang dimiliki disimpan di brankas perusahaan, maka kas tersebut tidak menghasilkan.

Kas sangat berperan dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa suatu perusahaan harus memiliki anggaran kas untuk menjaga posisi likuiditas dan untuk mengetahui deficit dan surflus kas.

Perusahaan yang memiliki kelebihan kas dapat dibelikkan surat-surat berharga

(28)

karena hakikatnya efek tersebut ialah uang tunai, artinya mudah dijual di pasar bursa dan untuk tujuan investasi pembedaan harga jual dan harga beli.

2. Pengertian Pengendalian Internal

Pengendalian internal merupakan tanggung jawab tim di dalam perusahaan.

Namun kenyataannya sering kali direksi menganggap bahwa sistem pengendalian internal hanya merupakan tanggung jawab bagian akuntansi sehingga bagian tersebut diberi tanggung jawab untuk merancang sistem pengendalian internal.

Direksi bahkan mungkin menganggap bahwa sistem pengendalian inernal tersebut merupakan tanggung jawab direktur keuangan atau bahkan satuan pengawas internal. Hal ini tidaklah benar. Direksi harus secara penuh mendukung perancangan sistem pengendalian internal karena sistem ini merupakan salah satu alat yang dipakai oleh pihak direksi untuk mencapai tujuan perusahaan.

Secara garis besar, berikut ini adalah beberapa penerapan prinsip pengendalian internal atas penerimaan kas:

1. hanya karyawan tertentu saja yang secara khusus ditugaskan untuk menangani penerimaan kas.

2. adanya pemisahan tugas antara individu yang menerima kas, mencatat/membukukan penerimaan kas dan yang menyimpan kas.

3. setiap transaksi penerimaan kas harus didukung oleh dokumen (sebagai buktu transaksi), seperti slip berita pembayaran (pengiriman) uang/remittance advices ( dalam kasus penerimaan uang lewat pos/mail receipts), struk/cash register records (dalam kasus penerimaan uang

(29)

lewat konter penjualan/counter receipts), dan salinan buti setor uang tunai ke bank (deposit slips).

4. uang kas penerimaan penjualan harian atau hasil penagihan piutang dari pelanganan harus disetor ke bank setiap hari oleh departemen kasir.

5. dilakukannya pengecekan independen atau verifikasi internal. Misalnya saja dalam kasus penerimana uang lewat konter penjualan, dimana biasanya supervisor akan memverifikasi kebenaran atas jumlah penerimaan kas harian yang telah dihasilkan oleh operator mesin register kas dengan cara mencocokkan antara total catatan register kas dengan total fisik uang kas aktual; sedangkan bagian keuangan juga akan memverifikasi (mengecek) kebenaran atas jumlah penerimaan kas harian ini dengan cara membandingkan antara salinan lembar kedua dari ringkasa total penerimaan kas harian dengan salinan bukti sector bank.

6. mengikat karyawan yang menangani penerimaan kas dengan uang pertanggungan. (Hery 2014:173)

Pengendalian intern ini dilakukan bukan untuk mencari kesalah seseorang atau kesalah manajemen saja, tetapi pengendalian intern ini mempunyai jangkauan yang lebih luas yaitu membangun suatu sistem yang melindungi (protektif) dan membina agar seluruh kegiatan perusahaan dapat berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan hungga pada akhirnya tujuan dari

(30)

memiliki lingkungan pengendalian yang kua. Lingkungan pengendalian yang lemah kemungkinan besar diikuti dengan kelemahan dalam komponen pengendalian internal yang lain. Lingkungan pengendalian, sebagai komponen pengendalian yang pertama, meliputi faktor-faktor sebagai berikut:

1. filosopi manajemen dan gaya operasi,

2. komitmen terhadap integritas dan nilai-nilai etika.

3. komitmen terhadap Kompetensi.

4. komite audit dari dewan direksi 5. Struktur Organisasi

Pengendalian internal adalah semua rencana organisasional, metode, dan pengukuran yang dipilih oleh suatu kegiatan usaha untuk mengamankan harta kekayaan, mengecek keakuratan dan keandalan data akutansi usaha tersebut, meningkatkan efisiensi operasional, dan mendukung dipatuhinya kebijakan manajerial yang ditetapkan.

Fungsi pengendalian intern yaitu untuk menentukan apakah ada penyimpangan dalam pelaksanaan. Untuk dapat menentukan adanya penyimpangan, perlu diketahui ukuran yang menjadi dasar hasil pelaksanaan yang diharapkan dan kebijakan dalam pelaksanaan. Pengawasan dan penelaahan pada sistem pengendalian intern yang baik akan mampu melindungi kelemahan manusia dan mengurangi kemungkinan kesalahan dan ketidaktelitian yang terjadi.

B. Prosedur Penerimaan Kas

1. Prosedur Penerimanaan Kas Pada KPPN

(31)

Prosedur penerimaan kas yang diterapkan pada KPPN bersumber dari penerimaan perpajakan, penerimaan bukan pajak, penerimaan hibah, penerimaan pengembalian belanja, penerimaan pembiayaan dan penerimaan Negara yang ditatausahakan oleh KPPN sebagai berikut:

a. Penerimaan Negara melalui Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi dan Pos Persepsi.

b. Penerimaan Negara yang berasal dari potongan SPM, yaitu penerimaan perpajakan, dan penerimaan Negara bukan pajak, termasuk penerimaan PFK.

c. Penerimaan melalui Bank Tunggal/Bank Operasional meliputi Penerimaan Kiriman Uang, pelimpahan penerimanaa PBB dan BPHTB.

Dalam rangka penerimaan negara telah ditetapkan ketentuan penatausahaan penerimaan negara, seperti Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK/2006 tentang Modal Penerimaan Negara dan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara 78/PB/2006 tetntang Penatausahaan Penerimaan Negara melalui Modul Penerimaan Negara. Dalam hal ini KPPN menerapka sistem TSA, dimana dalam rangka pelaksanaan TSA, penerimaan yang berasal dari wajib pajak/bayar harus disetorkan melalui Bank Persepsi.

Selanjutnya pada hari itu juga melimpahkan ke Rekening Kas Umum Negara

(32)

Pemerintah bagian pusat Bank Indonesia rekonsiliasi

Daerah (RKUN) DJPBN

Bagian Pelimpahan Penerimaan

Pemda Setiap Hari Laporan

BO III KPPN

Laporan Laporan

Bank Persepsi Bank Bank Bank PBB?BPHTB Persepsi Persepsi Persepsi

Wajib Bayar Wajib Pajak/ Wajib Pajak/ Wajib Pajak PBB/BPTHB Bayar Bayar Bayar

Gambar 3.1

Bagan Alir Pelaksanaan TSA di KPPN untuk Rekening Penerimaan Sumber: Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan

II

(33)

Penjelasan :

1. Wajib bayar atau wajib pajak akan melakukan penyetoran kewajibannya pada Bank Pesepsi

2. Pada setiap akhir hari kerja, Bank Persepsi melimpahkan seluruh penerimaan pada hari itu ke Bank Indonesia.

3. Bank Persepsi menyampaikan Laporan Harian Penerimaan (LHP) kepada KPPN setiap akhir hari kerja.

4. Wajib bayar PBB/BPHTB melakukan penyetoran pada Bank Persepsi PBB/BPHTB yang ditunjuk.

5. Bank Persepsi PBB/BPTHB melimpahkan seluruh penerimaan setiap hari ke Bank Operasional III.

6. Bank Operasional III memberikan laporan penerimaan PBB/BPHTB setiap harinya kepada KPPN.

7. Bank Operasional III membagi habis penerimaan PBB/BPTHB antara bagian pemerintahaan pusat dan pemerintah daerah setiap akhir hari kerja.

8. KPPN menyampaikan laporan penerimaan ke Kantor Pusat DJPBN.

9. DJPBN dan Bank Indonesia melakukan rekonsiliasi

Dokumen yang digunakan sebagai dasar pencatatan penerimaan negara anatara lain:

a. Surat setoran pajak (SSP) adalah surat setoran atas pembayaran atau

(34)

b. Surat Setoran Pajak Bumi dan Bangunan (SSPBB) merupakan surat setoran yang digunakan untuk pembayaraan PBB dari tempat pembayaran ke Bank Persepsi PBB.

c. Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) merupakan surat setoran untuk pembayaran BPTHB dari tempat pembayaran ke Bank Persepsi.

d. Surat Setoran Pabean, Cukai, dan Pajak dalam Rangka Impor (SSPCP) adalah surat setoran atas penerimaan negara dalam rangka inport berupa bea masuk, bea masuk dari SPM Hibah, denda administrasi, penerimaan pabean lainnya, cukai, penerimaan cukai lainnya, jasa pekerjaan, bungan dan PPh pasal 22 Impor, PPN Impor, serta PPnBM Impor.

e. Surat Setoran Cukai atas Barang Kena Cukai dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri (SSCP) adalah surat setoran atas penerimaan negara atas Barang Kena Cukai Buatan Dalam Negeri berupa cukai hasil tembakau, cukai etil alcohol, cukai minuman mengndung etil alcohol, denda administrasi penerimaan cukai lainnya, jasa pekerjaan, dan PPH Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri.

f. Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) adalah setoran atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

g. Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSBP) digunakan untuk penyetoran penerimaan pengembalian belanja tahun anggaran belanja.

(35)

h. Surat Tanda Bukti Setor (STBS) adalah surat setoran atas pembayaran pungutan ekspor

i. Bukti Penerimaan Negara (BPN) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Bank/Pos atas transaksi penerimaan negara dengan teraa Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Bank (NTB)/Nomor Transaksi Pos (NTP) dan dokumen yang diterbitkan oleh KPPN atas transaksi penerimaan negara bukan yang berasal dari potongan SPM dengan teraan NTPN dan Nomor Penerimaan Potongan (NPP).

2. Pembahasan Prosedur Penerimaan Kas

Menurut teori seluruh penerimaan uang yang diterima oleh perusahaan setelah dicatat dan dibukukan hendaknya langsung disetorkan ke bank sebagaimana adanya serta terdapat pemisahan tugas antara yang menyimpan, menerima dan yang mencatat penerimaan uang. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penyelewengan terhadap penerimaan tersebut. Pada KPPN yang paling ditekankan adalah penerimaan perpajakan, penerimaan bukan pajak, penerimaan hibah, penerimaan pengembalian belanja, penerimaan pembiayaan dan penerimaan non anggaran. Prosedur penerimaan kasnya adalah wajib bayar atau wajib pajak akan melakukan penyetoran kewajibannya pada bank persepsi.

Lalu Bank Persepsi/Devisa Persepsi/Pos Persepsi melaporkan penerimaan negara

(36)

tersebut maka KPPN (Seksi Bendum/Persepsi) memeriksa/meneliti dokumen harian termasuk kode MAP dan jumlah penerimaan.

KPPN segera melakukan konfirmasi kepada Bank Persepsi/Devisa Persepsi/Pos Persepsi apabila ditemukan ketidakcocokan data dalam DNP, ADK, maupun Surat Tanda Setoran (STS) serta meminta perbaikannya. Setelah data kiriman bank/pos diyakini kebenarannya, maka operator persepsi melakukan op load ke dalam data base termasuk pengawasan penerimaan LHP. KPPN berhak membuat surat teguran kepada Bank Persepsi/Devisa Persepsi/Pos Persepsi apabila terlambat menyampaikan LHP dan surat pemberitahuan kepada Bank Indonesia atas keterlambatan/kekurangan pelimpahan penerimaan negara.

Penerimaan kas pada KPPN melalui : 1. Bank Persepsi

2. Bank Devisa Persepsi 3. Pos Persepsi

Dari uraian pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya penerimaan kas pada KPPN telah dilakukan dengan baik, dimana wajib bayar atau wajib pajak melakukan penyetoran kewajibannya pada bank persepsi dan pada setiap akhir hari kerja, bank persepsi melimpahkan seluruh penerimaan pada hari itu ke Bank Indonesia.

C. Prosedur Pengeluaran Kas

1. Prosedur Pengeluaran Kas Pada KPPN

Pengeluaran kas di dalam keuangan negara adalah untuk :

(37)

a. Belanja rutin, yaitu pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan tugas-tugas rutin instansi pemerintah yang terdiri atas :

- Belanja rutin pegawai, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk pembayaran gaji, tunjangan, honorarium pegawai dan sejenisnya.

- Belanja rutin non pegawai, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk pembelian keperluan kantor, biaya pemeliharaan dan biaya perjalanan dinas pegawai.

b. Belanja pembangunan, yaitu pengeluaran negara yang dilakukan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan di lingkungan instansi pemerintah yang terdiri atas :

- Belanja penunjang, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai kegiatan yang menunjang pelaksanaan proyek dan bersifat konsumtif. Misalnya untuk pembayaran gaji pegawai proyek, pembelian bahan baku, biaya perjalanan dan sebagainya.

- Belanja modal, yaitu pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai kegiatan proyek yang diperkirakan dapat memberi manfaat pada periode yang panjang. Misalnya untuk pembelian tanah, mesin, bangunan, dan sebagainya.

Kegiatan-kegiatan tersebut dituangkan dan dananya disediakan dalam DIPA. PA/Kuasa PA mengajukan SPM dilengkapi dengan dokumen

(38)

beban APBN berdasarkan SPM. Sebelum SP2D ini diterbitkan oleh KPPN maka terlebih dahulu Surat Permintaan Pembayaran (SPP). Setelah menerima SPP, pejabat penerbit SPM menerbitkan Surat Permintaan Membayar (SPM).

Pengeluaran negara harus mendapat perhatian yang serius dari KPPN maupun kantor pusat Ditjen Perbendaharaan. Kelebihan/kekurangan kas harus dikelola dengan baik melalui manajemen kas. Dalam pengelolaan kas ini, telah dilaksanakan rekening bersaldo nihil yang disebut dengan TSA Pengeluaran.

Mekanisme pelaksanaan TSA pengeluaran dapat dilihat dalam gambar 3.2 di bawah ini :

Pengisian dana Awal : 07.00

DJPBN Bilyet Bank KP BO I Tamb.Terakhir :

15.00 wib

Giro Indonesia

Penihilan secepat- RPK- Cepatnya pukul 16.30 BUN-P

>Rencana Kebutuhan Dana Waktu setempat

>Tambahan pukul s.d 14.00 Selambat-lambatnya Pukul 17.30 wib

e-kirana BO I

Penyampaian SP2D/SPT Non-gaji pukul 07.30-15.00

SP2D KPPN Pemindah Bukuan

Gaji 3 hari kelender sebelum tanggal pembayarannya

5 hari kalendar sebelum tanggal

pembayaran Kantor pos BO II Bayar Yang berhak

gaji

Gambar 3.2

Bagan Alir Pelaksanaan TSA di KPPN untuk Rekening Pengeluaran Sumber: Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II

(39)

Catatan :

BO I = Bank Operasional I BO II = Bank Operasional II BO III = Bank Operasional III Penjelasan :

1. KPPN setiap sore (paling lambat pukul 16.00 waktu setempat) menyampaikan perkiraan kebutuhan dana ke DJPB (Direktorat Pengelolaan Kas Negara) untuk keperluan hari berikutnya. Perkiraan dana yang disampaikan mencakup dana untuk mengisi BO I, BO II dan SGG/Pos.

2. Direktorat Jenderal Perbendaharaan setiap pagi hari (sekitar pukul 07.00) meminta Bank Indonesia untuk melakukan transfer dana dari RKUN ke kantor pusat bank umum untuk mengisi dana di Rekening Pengeluaran Kuasa BUN Pusat (RPK-BUN-P) pada kantor pusat bank umum berdasarkan jumlah kebutuhan semua KPPN yang telah disampaikan ke Ditjen Perbendaharaan sore sehari sebelumnya.

3. Bank Indonesia melakukan transfer dana ke kantor pusat bank umum (RPK-BUN-P) melalui RTGS.

4. Bank Operasional I menarik dana dari RPK-BUN-P sesuai dengan SP2D yang dikirimkan oleh KPPN dan surat permintaan transfer ke SGG/Pos

(40)

gaji bulanan yang diterbitkan. Bank Operasional I melakukan transfer ke SGG berdasarkan permintaan KPPN sesuai dengan jumlah SP2D gaji yang diterbitkan.

6. SGG membayar/melakukan transfer dana ke bendahara/rekanan sesuai SP2D yang disampaikan oleh KPPN.

7. Bank Operasional I membayar/mentransfer dana kepada rekanan/bendahara sesuai dengan SP2D non-gaji yang dikirimkan.

8. Bank Operasional II membayar transfer dana kepada bendahara/pegawai sesuai SP2D gaji yang disampaikan oleh KPPN.

9. Pada setiap akhir hari kerja Bank Operasional II dan SGG/Pos menihilkan sisa dana ke Bank Operasional I.

10. Bank Operasional I pada setiap akhir hari kerja menihilkan sisa dana ke RPK-BUN-P.

11. Bank Operasional III membayar/mencairkan dana kelebihan pembayaran PBB kepada wajib bayar PBB sesuai dengan SP2D pengembalian yang dikirimkan.

Dokumen yang digunakan sebagai dasar pencatatan penerimaan negara adalah sebagai berikut:

1. SPP yaitu surat permhonan dari bendahrawan kantor atau proyek atau satuan kerja untuk memperoleh dana agar dapat dibelanjakan untuk keperluannya masing-masing.

(41)

2. SPM yaitu dokumen yang diterbitkan oleh KPPN sebagai bukti bahwa permohonan pembayaran yang diajukan bendaharawan kantor atau proyek tau satuan kerja telah diotorisasikan.

3. Buku Kas pembantu pengeluaran (BKPK) yaitu buku kas yang mencatat setiap pengeluaran menurut jenisnya yang dicatat berdasarkan SPM yang diterbitkan.

4. Buku Bank Tunggal umum dan Giro Pos Umum adalah buku yang mencatat rekapitulasi pengeluaran yang terjadi pada seluruh bank atau sentral giro pos setiap hari.

5. Rangkuman SPJ Bendaharawan Umum adalah buku yang mencatat rangkuman seluruh pengeluaran yang terjadi baik pada bank tunggal maupun sentral giro pos setiap harinya.

6. Penjelasan selisih saldo adalah penjelasan mengenai perbedaan saldo dan perbedaan transaksi yang terdapat dalam buku bank dengan rekening Koran.

2. Pembahasan Prosedur Pengeluaran Ka

Secara teori pengendalian intern pengeluaran kas harus diawasi dan perlu pemisahan tugas antara pemberi persetujuan faktur dan pembuatan cek. Karena dengan adanya pemisahan tugas tersebut maka dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan oleh perusahaan. Sebagaimana yang diketahui untuk mengawasi suatu perusahaan diperlukan suatu prinsip kas yang baik.

(42)

Pencairan Dana yang selanjutnya disebut SP2D. Sebelum SP2D ini diterbitkan oleh KPPN maka terlebih dahulu Surat Permintaan Pembayaran. Setelah menerima SPP, pejabat penerbit SPM menerbitkan Surat Permintaan Membayar.

Penyampaian SPM beserta dokumen pendukung yang dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos, kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM, mengisi check list kelengkapan berkas SPM, mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke Seksi Perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut.

Prosedur yang ditetapkan dan dilakukan dengan baik pastinya akan memperlancar dan mempermudah suatu perusahaan dalam menangani pengeluaran kasnya. Demikian halnya dengan KPPN. Adapun prosedur pengeluaran yang dilakukan oleh KPPN adalah sebagai berikut.

a. Pembayaran yang dilakukan dengan menerbitkan SP2D harus mendapat otorisasi terlebih dahulu oleh bagian yang berwenang;

b. Diadakannya pemisahan antara orang yang menerima, meneliti SPM/

kelengkapan dokumen lainnya, menerbitkan SP2D dengan orang yang menandatanganinya.

c. Diadakannya pemisahan antara orang yang menerima, meneliti SPM/

kelengkapan dokumen lainnya, menerbitkan SP2D dengan orang yang menandatanganinya.

(43)

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwasanya prosedur pengeluaran kas yang diterapkan oleh KPPN sudah cukup baik karena telah melibatkan beberapa bagian dalam proses pelaksanaannya, sehingga tidak terpusat dalam satu bagian saja.

D. Lingkungan Pengendalian Intern Kas

1. Lingkungan Pengendalian Intern Kas Pada KPPN

Pengendalian meliputi struktur organisasi dan semua cara-cara yang dikoordinasikan yang digunakan di dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga keamanan harta milik perusahaan, memeriksa kebenaran dan ketelitian data akuntansi, meningkatkan efisiensi di dalam operasi, dan mendorong agar semua kebijaksanaan manajemen dapat dipenuhi. Lingkungan pengawasan kas meliputi bagaimana falsafah manajemen dan gaya operasi, struktur organisasi, tanggung jawab, metode pengawasan manajemen, kebijakan dan prosedur personalia serta pengaruh eksternal terhadap kantor. Adapun lingkungan pengawasan kas tersebut di atas adalah sebagai berikut.

a) Nilai integritas dan etika

KPPN Medan II sebagai salah satu instansi pemerintah dimana seluruh personelnya merupakan pegawai negeri sipil yang dituntut untuk memiliki integritas dan nilai-nilai etika yang telah ditetapkan. Setiap karyawan selalu ditekankan akan tanggung jawabnya dalam

(44)

Pegawai KPPN harus memenuhi salah satu syarat antara lain memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dibebankan kepadanya serta menguasai bidang pekerjaannya. Untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan seluruh pegawai maka sebaiknya mengusahakan agar pegawainya mendapat kesempatan yang sama untuk mengikuti penataran ataupun pelatihan.

c) Dewan komisaris dan komite audit

Dalam hal ini pemerintah melalui Departemen Keuangan yaitu Kepala Kantor Wilayah Dirjen Anggaran Sumut berperan sebagai Dewan komisaris dan komite audit yang bertanggung jawab dalam memberikan pembinaan kepada seluruh pimpinan KPPN agar dapat memenuhi tanggung jawab dalam mengembangkan dan menyelenggarakan kegiatan operasional terhadap pengelolaan kas negara.

d) Filosofi dan gaya operasi manajemen

Filosofi dan gaya operasi manajemen KPPN Medan II nampak terlihat dari tindakan pimpinan yang selalu mengadakan pengawasan yang efektif terhadap adanya kemungkinan penyalahgunaan dana kas. Pengawasan ini tampak terlihat dari prosedur-prosedur yang harus dilalui dalam rangka penerimaan dan pengeluaran kas kantor dan juga kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh manajemen kantor.

e) Struktur organisasi

Adanya struktur organisasi yang baik dalam suatu perusahaan akan sangat mendorong pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan dengan efektif.

(45)

Dalam suatu struktur organisasi dapat dilihat pembagian fungsi, tugas dan wewenang masing-masing bagian organisasi dengan jelas sehingga tiap bagian dapat bekerja sesuai dengan apa yang digariskan KPPN Medan II yang dipimpin oleh seorang kepala kantor. Dalam struktur organisasinya masing-masing bagian mempunyai tugas, fungsi dan wewenang yang jelas.

f) Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala KPPN tidak mungkin melaksanakan tugasnya sendiri. Oleh karena itu dalam melaksanakan kepemimpinannya kepala kantor membagi sebagian wewenang dan tanggung jawab kepada para pejabat pimpinan lainnya.

g) Kebijakan dan praktik sumber daya manusia

Pengawasan terhadap pegawai adalah penting dalam rangka pelaksanaan tugasnya yang berpengaruh akan hasil kerjanya, Untuk itu para pegawai diberi kepercayaan dalam melakukan apa yang didelegasikan kepadanya dan untuk meningkatkan kemampuannya di dalam mengemban tugas diadakan pelatihan-pelatihan, mengikutsertakan dalam seminar-seminar sehingga sumber daya pegawai terutama yang berkaitan dengan pengelolaan kas dapat ditingkatkan dan dana kas dapat dikelola dengan baik.

(46)

pengawasan intern kas yang dilakukan dan dijalankan oleh KPPN Medan II.

Lingkungan pengawasan memegang peranan penting jika hendak menilai baik tidaknya suatu struktur pengawasan intern. Di dalam lingkungan pengawasan tercakup tindakan, kebijakan dan prosedur yang mencerminkan sikap keseluruhan unsur-unsur lingkungan kas, antara lain :

a) Nilai integritas dan etika

Setiap pegawai di KPPN Medan II memiliki tanggung jawab penuh atas hasil kerjanya masing-masing. Walaupun seperti diketahui bahwa struktur organisasi cukup sederhana tetapi dapat memberikan suatu pengawasan yang cukup baik terhadap penggunaan kas perusahaan dan selalu dapat dipertanggungjawabkan oleh pihak yang bersangkutan.

b) Komitmen terhadap kompetisi

Untuk setiap tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepada setiap personil di lingkungan KPPN selalu disesuaikan dengan tingkat kepangkatan, golongan, senioritas, keahlian serta latar belakang pendidikan akademis masing-masing personel. Selain itu untuk meningkatkan kompetensi maka setiap personel mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan. Dengan adanya kebijakan tersebut berarti bahwa KPPN telah melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan kompetensi demi meningkatkan keefektifan struktur pengawasan intern.

c) Dewan komisaris dan komite audit

Kepala kantor wilayah Dirjen Anggaran Sumut yang dalam hal ini berperan sebagai dewan komisaris telah menjalankan fungsinya dengan

(47)

baik di dalam melakukan pengawasan dan pengkoordinasikan terhadap pengelolaan kas negara sehingga menciptakan suatu kondisi yang mendukung tercapainya tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.

d) Filosofi dan gaya operasi manajemen

Penulis menilai bahwa manajemen KPPN Medan II dalam menjalankan kegiatan operasional kantor sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam rencana kerja yang telah disusun. Dalam hal pelaksanaan pengawasan intern terhadap kas perusahaan telah mempunyai beberapa kebijakan seperti prosedur-prosedur yang harus dilalui dalam rangka penerimaan dan pengeluaran kas.

e) Struktur organisasi

Pada struktur organisasi KPPN Pematang Siantar pemisahan fungsi dan garis tanggung jawab pada perusahaan terlihat cukup jelas. Seperti kita ketahui, struktur organisasi yang sehat akan menggambarkan adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab serta pendelegasian wewenang yang jelas yang akan menciptakan kegiatan harmonis dan kerja sama yang baik diantara pelaksana operasi perusahaan. Dari struktur organisasi yang diperoleh penulis, bahwa pada KPPN Medan II masalah pengelolaan kas yakni tanggung jawab, mengelola bukti-bukti

(48)

kecurangan yang mungkin terjadi yang nantinya dapat memudahkan manajemen dalam mengelola perusahaan.

f) Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab

Dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya pimpinan KPPN telah melimpahkan sebagai wewenang dan tanggung jawabnya kepada parapejabat pempinan di bawahnya baik di dalam melaksanakan fungsiotorisasi, pengawasan dan pelaporan. Hal ini telah sesuai dengan teoritis untuk mencegah terpusatnya seluruh wewenang dan tangung jawab pada satu pihak.

g) Kebijakan dan praktik sumber daya manusia

Penulis menilai kebijakan dan prosedur personalia sudah cukup baik.Dimana untuk meningkatkan kwalitas para pegawai diadakan pelatihan-pelatihan dengan mengikuti seminar-seminar sehinnga para karyawan dapat menjalankan semua pekerjaan dengan baik, sesuai dengan apa yang diharapkan KPPN Medan II.

(49)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian teoritis yang telah diuraikan sebelumnya dan berdasarkan data yang diperoleh sehubungan dengan kegiatan penelitian yang telah dilakukan di KPPN Medan II maka penulis dapat membuat suatu kesimpulan serta mencoba memberikan saran yang kiranya dapat dimanfaatkan oleh pihak KPPN Medan II dalam memecahkan permasalah yang dihadapi.

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah KPPN Medan II telah melaksanakan pemeriksaan atas peneriman dan pengeluaran kas melalui operasional audit untuk meningkatkan pengendalian internal terlihat dari :

a. Sistem pengawasan internal kasyang dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II pada dasarnya sudah memadai karena didasarkan atas bukti pengeluaran uang yang sudah mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang.

b. Pengawasan internal penerimaan dan pengeluaran kas pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II sudah tepat, dan dapat menjamin keamanan dalam pengelolaan kas di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II dengan predikat memadai.

(50)

B. Saran

Dari kesimpulan tersebut maka penulis memberikan saran yang nantinya berguna bagi perusahaan dan penelitian selanjutnya di masa yang akan datang.

1. Sebaikanya sistem pengawasan internal kas yang dilaksanakan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II dilakukan dengan lebih baik seperti mengadakan rotasi kerja pegawai. Hal ini dilakukan untuk menjaga terjadinya kesalahan-kesalahan yang akan terjadi.

2. Sebaiknya pemeriksaan dan pengawasan kas perusahaan harus sering dilaksanakan tanpa memberitahukan kepada bagian Bendaharawan. Hal ini dimaksudkan agar tidak bisa melakukan kecurangan atas pemakaian uang kas yang ada padanya. Untuk pembinaan moral dan mental pegawai maka Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II perlu melakukan sebuah program pembinaan dengan melakukan pengajian atau bimbingan spiritual yang dapat memberikan masukan kepada pegawai tentang perbuatan yang baik dan buruk. Hal ini dinilai penting karena jika program ini terlaksana dengan baik maka akan tercipta praktek yang sehat dan pegawai jujur dalam kegiatan operasional Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Medan II terutama yang berhubungan dengan sistem pengawasan intern kas.

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Diana, Setiawati, 2011, Sistem Informasi Akuntansi. Penerbit Andi, Yogyakarta Halim, Abdul, 2015. Auditing 1, Edisi Kelima, Cetakan Pertama, UPP STIM

YKPN. Jakarta

Hery, 2014, Akuntansi Dasar 1&2. Grasindo, Jakarta

Kamaludin, Indriani, 2012. Manajemen Keuangan. Edisi Revisi, Mandar Maju.

Bandung

Rudianto,2012, Pengantar Akuntansi. Erlangga, Jakarta

Suyonto, Susanti, 2015. Manajemen Keuangan Untuk Perusahaan. CAPS (Centre of Academy Publishing Service), Yogyakarta

Tunggal, Widjaja, 2013. Pengendalian Internal, Harvindo, Jakarta

Gambar

Gambar 2.1 Logo KPPN

Referensi

Dokumen terkait

Konsep dari sebuah relasi fuzzy dalam sebuah database Management System menggunakan derajat keanggotaan µ yang didefinisikan pada kumpulan domain X = (X1,...,Xn), dan telah

Melalui sun shading kita dapat memperoleh pencahayaan yang maksimal dengan melakukan analisisnya terlebih dahulu menggunakan solar chart, dari situ kita akan

Adapun kelebihan-kelebihan strategi inkuiri terbimbing di antaranya adalah: (1) siswa secara aktif terlibat dalam penyelidikan, (2) siswa membangun kon- sep dari apa

Berangkat dari fenomena diatas serta potensi yang dimiliki oleh kota Surakarta pada umunya dan Solo baru pada umumnya, bahwa perencanaan dan perancangan Movie Center di Solo

Dari hasil pengujian dengan memberikan variasi beban, sistem kendali hybrid mempunyai daya tahan yang lebih besar terhadap pemberian beban, ini dapat dilihat dengan pemberian

Pada saluran tataniaga tingkat 2 (Gambar 2), distributor adalah pedagang beras yang membeli beras langsung dari pemasok dalam jumlah yang sangat besar. Beras lalu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: apakah model pembelajaran Student Team Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar peserta

Botol kaca yang bersih direndam di dalam air yang mengandung kaporit 5-10 ppm (5 sampai 10 gram kaporit per 1m3 air) selama 30 menit di dalam wadah tahan karat. Botol disusun di