BERTANI DI TENGAH KOTA DENGAN MODAL BUDAYA SUBAK UNTUK MENUMBUHKAN EKONOMI KREATIF.

Download (0)

Teks penuh

(1)

1) Artikel disa paika pada a ara “e i ar I ter asio al Agri is is da Perta ia Orga ik Berkela juta ya g diselenggarakan oleh Yayasan Maharishi Vedic Vishva Prahasan Bali di Hotel Werdhapura, Jalan Danau Tamblingan No. 49 Sanur, Denpasar 15 Desember 2013. 2) Dosen Konsentrasi Pengembangan Masyarakat, Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Universitas Udayana

BERTANI DI TENGAH KOTA DENGAN MODAL BUDAYA SUBAK

UNTUK MENUMBUHKAN EKONOMI KREATIF

1)

Dr. I Gede Setiawan Adi Putra, SP., MSi2)

ABSTRAK

Artikel ini berguna untuk petani miskin, rumah tangga miskin di perkotaan, pemerintah daerah, serta para agen pembaharu dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bali terkenal dengan pariwisata dan di sisi lain, banyak masyarakat menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Faktanya pembangunan pariwisata diduga memberi dampak buruk pada pembangunan pertanian. Salah satunya adalah banyak lahan sawah yang kini beralih fungsi menjadi bangunan hotel dan restoran serta fasilitas pendukung pariwisata lainnya. Bertani di tengah kota adalah suatu upaya memanfaatkan lahan-lahan kosong yang ada di rumah tangga dengan teknik budidaya tanaman vertikultur. Jika dulu orang menanam memerlukan lahan horizontal, dengan teknologi ini masyarakat dapat menanam vertical. Dengan teknik vertikultur rumah tangga miskin di perkotaan dapat menanam sayur hijau pada bekas air mineral, kaleng bekas, kantong plastik dan barang-barang bekas lainnya. Kegiatan ini adalah implementasi konsep pemberdayaan masyarakat dengan mengeluarkan segala potensi yang ada pada masyarakat sekitar. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan tambahan penghasilan rumah tangga yang ada di perkotaan dengan usaha agribisnis sekaligus menjaga lingkungan perkotaan yang terbebas dari sampah dan polusi udara. Jika semua rumah tangga melakukan kegiatan bertani di tengah kota, maka kesan kota yang jorok, panas, dan tidak nyaman menjadi terbalik. Hasilnya adalah ibu-ibu rumah tangga dapat memetik sayur dari kebunnya sendiri, dan tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk kebutuhan dapurnya sehari-hari. Artikel ini berguna bagi pimpinan di daerah yang berpenduduk padat guna memberikan salah satu alternatif untuk mengubak kehidupan masyarakat kota. Pariwisata yang selama ini diduka menjadi penyebab mundurnya pembangunan pertanian dapat diubah menjadi pariwisata sebagai pangsa pasar komoditas pertanian. Kedepan, upaya bertani di tengah kota dengan metode vertikultul dan ramah lingkungan tanpa bahan kimia harus dikembangkan dan diduplikasikan sehingga memberikan multiple efek yang lebih luas.

Kata kunci: pertanian, alih fungsi, vertikultur

Petani dan Pertanian Bali “Sakit” Ibu Pertiwi

Cipt. Anonim

Kulihat Ibu Pertiwi, Sedang bersusah hati, Air matanya berlinang, Mas intanmu terkenang,

(2)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 2

Kutipan bait-bait lagu berjudul Ibu Pertiwi sangat sesuai menggambarkan pertanian Bali

yang sedang “sakit”. Sakit yang diderita bukan sekedar “flu” yang dapat diatasi dalam waktu 2-3

hari melainkan sakit kronis berkepanjangan yang membutuhkan penanganan serius. Sakit dari

sisi lahan, air irigasi, perilaku petani, minat pemuda Bali menjadi petani, bahkan perhatian

pemerintah daerah. Apabila “sakit kronis” ini tidak segera ditolong maka pertanian Bali segera menjemput “ajalnya.”

Kesehatan dan kesuburan tanah sawah semakin menurun. Pemakaian pupuk kimia dan

pestisida sintetis secara terus menerus membuat tanah sawah “sakit”. Tanah menjadi keras,

padat, lengket, sulit diolah, dan tidak mampu mengikat/menyimpan air. Inilah yang

menyebabkan produksi padi di Bali sulit meningkat.

Sumberdaya air irigasi di Bali berkurang dan cenderung menjadi langka. Terjadi

persaingan penggunaan sumberdaya air irigasi dengan sektor pariwisata, rumah tangga,

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan perusahaan air dalam kemasan. Ketika air irigasi

sulit dan langka, petani menghambur-hamburkan air untuk usahatani padinya dengan

penggenangan sepanjang musim.

Petani sangat senang jika melihat padinya hijau royo-royo, untuk itu penggunaan Urea,

TSP, KCL tidak bisa dihindarkan. Selain itu, ketika ada hama seperti belalang, ulat, wereng dan

lainnya maka dalam benak petani hama tersebut harus segera dimusnahkan. Cara yang ditempuh

adalah dengan pemberian racun berupa pestisida sintetis. Dampaknya dalam jangka panjang dari

perilaku petani ini di Bali adalah pencemaran lingkungan, terbunuhnya jasad non sasaran,

keragaman hayati berkurang, hama menjadi kebal, timbulnya hama sekunder, peledakan hama

bahkan akhirnya berdampak pada kesehatan manusia.

Sungguh ironi tatkala membandingkan penggunaan pupuk kimia dan tingkat produksi

padi, dan penggunaan pestisida sintetis dengan laju hama di Bali. Setelah era tahun 1980an masa

swasembada beras, dengan penggunaan pupuk kimia yang semakin tinggi ternyata produksi

beras di Bali semakin menurun. Demikian pula dengan penggunaan pestisida sintetis yang

semakin tinggi, tetapi jumlah hama bukannya semakin menurun, melainkan semakin meningkat.

Jika demikian, masihkah Bali mengembangkan sistem pertanian yang seperti ini?

Perilaku petani padi di Bali juga dalam keadaan “sakit” dan menyimpang. Terjadi

(3)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 3

(pemindahan dari persemaian ke lahan) bibit padi disiksa dengan jalan dicabuti, diikat, diangkut,

dipotong, dibenamkan, digenangi, bahkan diracun. Perilaku lain petani Bali yang menyimpang

adalah budaya membakar jerami setelah panen. Pesta bakar jerami ini masih ditemukan hampir

di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Selain menimbulkan polusi asap, tindakan ini adalah

kesalahan besar dalam budidaya padi. Padahal, jerami mengandung unsur hara yang tidak

ditemukan dalam pupuk manapun dan sangat dibutuhkan oleh tanaman padi. Jerami adalah

bahan dasar pembuatan kompos yang potensial untuk mengembalikan struktur tanah yang

sedang “sakit.”

Ada “obat” mujarap yang dapat “menyehatkan” pertanian Bali. Obat itu adalah System of

Rice Intensification (SRI). Dari namanya sudah mengandung kekuatan spiritual yaitu Dewi Sri

yang sebagian besar masyarakat Bali percaya sebagai dewi kesuburan dan kemakmuran. SRI

adalah cara bercocok tanam padi dengan pengelolaan tanah, tanaman, dan air secara intensif dan

efisien melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal, serta berbasis pada kaidah ramah

lingkungan dan berkelanjutan.

SRI merupakan model pertanian yang menekankan pada pengolahan sistem pertanian

yang ramah lingkungan dan mulai dikembangkan di Madagaskar awal tahun 1980 oleh Fr. Henri

de Laulanie, S.J. yang datang dari Prancis sejak tahun 1961. Henri menghabiskan waktu selama

34 tahun bekerja bersama petani Madagaskar, mengamati dan bereksperimen, dalam rangka

meningkatkan sistem pertanian, terutama produksi padi yang menjadi makanan pokok di

Madagaskar. Henri merekomendasikan perubahan yang sederhana dan murah pada praktik

penanaman, seperti tanam bibit muda pada jarak yang lebar, penanaman bibit dilakukan pada

saat 7-12 hari setelah benih disebar dengan jarak 25 x 25 cm, selain itu menghemat air, namun

produktivitas tetap tinggi dan menguntungkan petani.

Subak sebagai lembaga tradisional pengelola air irigasi di Bali memiliki potensi yang

besar untuk mengadopsi inovasi SRI. Namun, dari sembilan kabupeten/kota yang ada di Bali

baru tujuh kabupaten yang mengadopsi SRI. Dari tujuh kabupaten yang telah mengadopsi SRI

jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah subak yang ada di Bali. Subak

subak yang telah menerapkan SRI diantaranya Subak Padang Keling di Kabupaten Buleleng,

Subak Bergiding dan Subak Buangga di Kabupeten Badung, Subak Payangan dan Subak Timpag

(4)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 4

Kabupaten Bangli, Subak Tohpati dan Subak Dawan di Kabupten Klungkung, Subak Telaga

Lebah dan Subak Mascatu di Kabupaten Karangasem.

SRI sebagai ”obat mujarap” untuk mengobati petani dan pertanian Bali yang sedang

”sakit” seharusnya disebarluaskan kepada seluruh subak-subak yang ada di Bali. Untuk itu perlu

dukungan dari berbagai stakeholder yang terlibat dalam pembangunan pertanian di Bali seperti

pemerintah daerah, perguruan tinggi, LSM, PPL, serta pengurus subak.

Pengurus subak dibantu oleh PPL harus lebih aktif dalam menyebarluaskan informasi

tentang SRI kepada anggotanya, karena pengurus subaklah yang berhadapan langsung dengan

petani. Kepada perguruan tinggi yang ada di Bali, terutama yang memiliki fakultas pertanian

agar membentuk laboratorium lapangan berupa denplot-denplot percontohan SRI sebagai upaya

menumbuhkan minat masyarakat Bali menjadi petani. Laboratorium lapangan ini menjadi

tempat interaksi antara civitas akademika pertanian dengan masyarakat tani untuk mengenal

suatu inovasi sekaligus sebagai tempat belajar bersama. Kepada pemerintah daerah Provinsi Bali

mulai sekarang sebaiknya mengembangkan kemandirian petani berupa program aksi pembuatan

denplot-denplot SRI di seluruh kabupaten dan kota di Bali sehingga Bali dapat menjadi provinsi

yang dapat memenuhi kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok masyarakatnya sekaligus

meningkatkan kualitas hidup petani Bali menjadi lebih sejahtera.

Budaya Subak Sebagai Modal Dasar

Kebudayaan Bali adalah kebudayaan yang kental bernafaskan Hindu, yang sudah

menyatu dengan adat budaya lokal. Kebudayaan itu tumbuh dan berakar pada berbagai lembaga

tradisional yang bersifat sosial religious seperti subak, dan desa adat dengan banjarnya.

Lembaga-lembaga tradisional ini, disamping lembaga-lembaga lainnya, merupakan pilar-pilar

penyangga kelestarian kebudayaan Bali. Ini berarti mundurnya kebudayaan Bali sangat

tergantung pada lembaga tradisional, sedangkan pariwisata tergantung pada kebudayaan, maka

hal ini langsung berarti bahwa pariwisata tergantung pada eksistensi lembaga-lembaga tersebut.

Masalah kelestarian/keberlanjutan subak dan pertanian Bali dalam konteks perubahan

situasi global yang sangat structural, merupakan main issue dalam tulisan ini. Globalisasi yang

semakin pesat lewat sistem perdagangan bebas yang dikembangkan oleh WTO sedikit banyak

berpengaruh terhadap keberadaan subak yang selama ini berorientasi centrifugal. Mau tidak mau

(5)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 5

Sutawan (2005) menyampaikan ‘kegelisahannya’ di dalam melihat eksistensi subak ke depan.

Dengan menekankan fungsi-jamak (multifunctional roles) dari subak, menjaga kelestarian subak

merupakan suatu keharusan di dalam pembangunan Bali. Kelestarian/keberlanjutan subak harus

dilihat secara holistic, yang mencakup kelestarian kelembagaan subak (institutional

sustainability), jaringan irigasi (technical sustainability), produksi pangan (economic

sustainability), ekosistem lahan sawah (ecological sustainability), tradisi dan ritual keagamaan

terkait dengan budaya padi (socio-cultural sustainability), dan lingkungan alami lokal yang

merupakan faktor eksternal subak tetapi berdampak langsung dan nyata kepada kelestarian

kelima komponen dari sistem subak tersebut (environmental sustainability).

Dengan logika di atas, maka seharusnya ada usaha-usaha nyata sektor pariwisata untuk

memperkuat eksistensi lembaga-lembaga tradisional ini. Tetapi kenyataannya belum ada

usaha-usaha dari sektor pariwisata untuk memperkuat lembaga tradisional seperti subak dan desa adat.

Hubungan yang ada masih bersifat asimetris, dimana lembaga tradisional diakui peranannya

dalam kepariwisataan, tetapi peranan tersebut lebih banyak memposisikan lembaga tradisional

sebagai objek.

Sejalan dengan trend pembicaraan mengenai pembangunan berkelanjutan, konsep

berkelanjutan juga sangat dominan dalam wacana pembangunan kepariwisataan. Pembangunan

pariwisata berkelanjutan diartikan sebagai proses pembangunan kepariwisataan yang tidak

mengesampingkan kelestarian sumberdaya yang dibutuhkan untuk pembangunan di masa yang

akan datang. Dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, penekanan keberlanjutan tidak

cukup dengan keberlanjutan ekologis dan keberlanjutan pembangunan ekonomi. Yang tidak

dakalah pentingnya adalah keberlanjutan kebudayaan, karena kebudayaan merupakan salah satu

‘sumberdaya’ yang sangat penting dalam pembangunan kepariwisataan.

Keterlibatan masyarakat lokal (community-based approach) merupakan prasyarat mutlak

tercapainya pembangunan pariwisata berkelanjutan. Pengelolaan pembangunan harus

benar-benar dilakukan oleh mereka yang hidup dan kehidupannya paling dipengaruhi oleh

pembangunan tersebut. Agar masyarakat dapat secara langsung berperan secara aktif dalam

pembangunan kepariwisataan maka jenis kepariwisataan yang harus dikembangkan adalah

pariwisata kerakyatan. Salah satu cirri hakiki dari model ini adalah skalanya yang kecil. Skala

kecil ini, berdasarkan berbagai pengalaman di berbagai Negara, lebih menguntungkan bagi

(6)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 6

Apakah konsep pariwisata budaya sudah dilaksanakan secara konsisten di Bali?

Jawabanya tentu belum. Kalau saja konsep pariwisata budaya dilaksanakan secara konsisten,

maka lembaga-lembaga tradisional seperti subak dan desa adat harus berperan secara aktif,

termasuk aktif di dalam menikmati manfaat ekonomi pembangunan kepariwisataan. Bukti-bukti

empiris sebagaimana terlihat dari hasil penelitian di berbagai subak dan desa adat menunjukkan

bahwa sesungguhnya subak dan desa adat mempunyai potensi yang memadai untuk mengelola

obyek wisata yang ada di daerahnya.

Subak dan Desa Adat dapat dijadikan modal dasar dalam peningkatan pariwisata,

ekonomi kreatif, dan kesejahteraan masyarakat. Bagaimana caranya? Melalui tulisan inilah akan

dirumuskan suatu mekanisme untuk mengembalikan sebagian dari manfaat ekonomi pariwisata

kepada sumber-sumber asset pariwisata, sehingga sumber tersebut dapat tumbuh subur, yang

akan menjamin keberlanjutan pariwisata itu sendiri. Tanpa ada usaha-usaha seperti ini, lambat

lain akar budaya Bali akan rapuh sehingga pohon budaya Bali tidak akan mampu menghasilkan

bunga dan buah yang dinikmati oleh pariwisata.

Menumbuhkan Ekonomi Kreatif

Kemiskinan merupakan penyebab masalah sosial, masalah sosial yang tidak

tertanggulangi memicu terjadinya berbagai masalah kehidupan manusia. Kemiskinan merupakan

suatu keadaan seseorang yang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf

kehidupan kelompok, dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya

dalam kelompok tersebut (Soekanto, 2001:406). Kemiskinan di Denpasar bagaikan lingkaran

setan dimana banyak faktor mempengaruhi. Adapun lingkaran tersebut digambarkan Nasution

(1996:30) sebagai berikut:

(7)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 7

Bila dicemati lebih jauh, paradigma lingkaran setan tersebut cendrung menyalahkan

faktor internal, padahal faktor eksternal ikut menentukan proses pemiskinan suatu bangsa. Dan

ketergantungan yang terjadi persis seperti yang digambarkan oleh Jonathan Swift dalam Djopari

(1997:28) bagaikan kutu memakan kutu yang lebih kecil, dan kutu yang lebih kecil tersebut

memakan kutu yang lebih kecil lagi dan begitu seterusnya tanpa akhir.

Kota Denpasar, masih memiliki beberapa Rumah Tangga Miskin (RTM) yang

memerlukan penanganan yang serius agar dapat “mengeluarkan” mereka dari “lingkaran setan

kemiskinan” seperti yang telah diuraikan pada latar belakang sebelumnya. Program pelatihan

budidaya tanaman metode vertikultur merupakan suatu progam yang bertujuan untuk

mempercepat penanggulangan kemiskinan berdasarkan pengembangan kemandirian masyarakat

melalui peningkatan kapasitas masyarakat, partisipasi masyarakat dan kelembagaan dalam

penyelenggaraan pembangunan

RTM di Kota Denpasar perlu diberdayakan. Salah satu upaya memberdayakan RTM di

Kota Denpasar adalah dengan pelatihan budidaya tanaman metode vertikultur sebagai upaya

menumbuhkan ekonomi kreatif di Kota Denpasar. Berdasarkan kegiatan pelatihan yang telah

dilaksanakan tersebut, maka tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisis model

pemberdayaan bagi RTM melalui pelatihan budidaya tanaman metode vertikultur sebagai upaya

menumbuhkan ekonomi kreatif di Kota Denpasar.

Populasi penelitian ini adalah kelompok Rumah Tangga Miskin di Kota Denpasar.

Berdasarkan metode sensus, seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Penelitian dirancang

dengan penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang dirancang untuk mengumpulkan

informasi tentang keadaan-keadaan nyata sekarang (sementara berlangsung), dan menentukan

tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu pupulasi. Tujuan utama dalam

menggunakan metode ini adalah untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara

berjalan pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala tertentu

(Sevilla et.al, 1993). Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif sebagai

tumpuan analisis. Teknik observasi dengan bantuan cecklist pada akhirnya dapat membangun

suatu model pemberdayaan yang efektif untuk RTM di Kota Denpasar.

Model pemberdayaan RTM yang dibutuhkan bukan kegiatan yang sifatnya top-down

(8)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 8

kegiatan swadaya. Akan tetapi yang paling dibutuhkan RTM di Kota Denpasar adalah pola

pemberdayaan yang sifatnya bottom-up intervention yang menghargai dan mengakui bahwa

RTM memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhannya, memecahkan permasalahannya, serta

mampu melakukan usaha-usaha produktif dengan prinsip swadaya dan kebersamaan.

Budidaya tanaman metode vertikultur sebagai Program Developmental untuk

menumbuhkan ekonomi kreatif di kalangan RTM. Program ini lahir setelah dilakukan

identifikasi masalah spesifik yang dihadapi RTM di Kota Denpasar. Dari hasil identifikasi

masalah ditemukan bahwa kebanyakan RTM adalah petani/buruh tani sayur skala kecil dengan

karakteristik luas penguasaan tanah yang sempit bahkan tidak sama sekali, tingkat pendidikan

rendah, dan tingkat pendapatan yang rendah.

Anggota RTM kebanyakan adalah ibu rumah tangga, yang banyak memiliki waktu luang.

Bertani di tengah kota dijadikan tema yang dapat menggugah keinginan RTM untuk

berusahatani. Lahan yang sempit, bahkan tidak ada sama sekali di Kota Denpasar menjadi

masalah besar dalam pengembangan usaha agribisnis di Kota Denpasar. Namun, kekhawatiran

tersebut melahirkan solusi berupa bertani metode vertikultur. Biasanya pertanian konvesional

memerlukan lahan yang horisontal, namun karena di Denpasar sudah tidak ada lagi lahan yang

bisa digarap, maka ide untuk menanam ke atas (vertikal) menjadi sebuah solusi bertani di tengah

kota. Barang-barang bekas (bekas gelas air mineral, paralon, kaleng, bambu, seterofom, dll.)

dapat digunakan sebagai media tanam tanaman sayur hijau dan kangkung.

Tanaman juga seperti manusia yang membutuhkan nutrisi (makanan) yang cukup agar

tumbuh dengan baik. Untuk itu, dalam program ini RTM dilatih membuat pupuk organik cair

berupa mikro organisme lokal (MOL). Selain sebagai pupuk yang dapat diberikan langsung ke

tanaman, Mol menjadi dekomposer yang paling baik dalam pembuatan kompos. Bahan kompos

banyak berasal dari sampah-sampah organik buangan rumah tangga maupun pasar tradisional

yang ada di Kota Denpasar. Dengan demikian, isu pelestarian lingkungan seperti Bali Clean &

(9)

“e i ar I ter asio al Agribis is da Perta ia Orga ik Berkela juta 9 Penutup

Model pemberdayaan RTM di Kota Denpasar yang paling sesuai dengan karakteristik

RTM adalah Model Program Developmental. Model program ini mengidentifikasi

masalah-masalah pokok klien, masyarakat, atau segmen masyarakat. Setelah itu program pendidikan

yang mampu menolong orang, dapat dikembangkan. Program pendidikan tersebut menyangkut

pengetahuan, keterampilan dan sikap yang merupakan alat pendukung pemecahan masalah. Ini

berarti pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut diprogramkan. Kesuksesan program diukur

dari keberhasilan sasaran dalam memecahkan masalahnya sendiri.

Daftar Pustaka

Djopari J. 1997. Teori-Teori Pembangunan. Jakarta: Yarsif Watampone.

Nasution Z. 1996. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sevilla, C.G,, J.A. Ochave, T.G. Punsalan, B.P. Regala, dan G.G. Uriarte. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Alimuddin Tuwu, Penerjemah. Jakarta: UI Press.

Soekanto S. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sutawan, N. 2005. “Subak Menghadapi Tantangan Globalisasi, Perlu Upaya Pelestarian dan

Pemberdayaan Secara Lebih Serius”. dalam Revitalisasi Sibak dalam Memasuki Era

Figur

Gambar 1. Lingkaran Setan Kemiskinan di Negara Dunia Ketiga

Gambar 1.

Lingkaran Setan Kemiskinan di Negara Dunia Ketiga p.6

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di