• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini melibatkan 30 pasien dengan Abses Leher Dalam dengan 11

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini melibatkan 30 pasien dengan Abses Leher Dalam dengan 11"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini melibatkan 30 pasien dengan Abses Leher Dalam dengan 11 pasien derajat keparahan tidak berat dan 19 pasien dengan derajat keparahan berat. Data penelitian berupa data numerik yang memenuhi asumsi normalitas (usia) ditampilkan dalam nilai mean+SD, dan dilanjutkan dengan uji t test. Uji normalitas dalam peneltiain ini menggunakan uji Shapiro wilk karena sampel kecil (sampel <50), (lampiran). Sedangkan data kategorik nominal (jenis kelamin, komorbid, komplikasi dan MSCT) disajikan dengan nilai distribusi frekuensi (%), uji statistik menggunkana uji chi square.

Karakteristik gambaran data dasar penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1.

Kaeakteristik dasar yang ditampilkan yaitu usia, jenis kelamin, komorbid dan komplilasi.

Tabel 4.1 Data Karakteristik Subyek Penelitian

Variabel Derajat Keparahan

Total

26 Tidak Berat Berat Usia

Jenis Kelamin Perempuan

43.27 +13.90 5 (45.5%)

50.05 +15.22 2 (10.5%)

47.57 +14.88 7 (23.3%) Laki-laki 6 (54.5%) 17 (89.5%) 23 (76.7%)

(2)

P value

Komorbid 0.199

Tidak Ada 10 (90.9%) 12 (63.2%) 22 (73.3%)

Ada 1 (9.1%) 7 (36.8%) 8 (26.7%)

Komplikasi 0.001

Tidak Ada 10 (90.9%) 5 (26.3%) 15 (50.0%)

Ada 1 (9.1%) 14 (73.7%) 15 (50.0%)

Keterangan : aData ditampilkan dalam nilai mean +SD, uji independent t test, bData ditampilkan dalam nilai distribusi frekuensi (%), Uji chi square, * signifikan pada α=5%

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa usia pada pasien abses leher dalam derajat tidak berat dengan rata-rata 43.27 +13.90 tahun, dan pasien pada pasien abses leher dalam derajat berat dengan rata-rata 50.05 +15.22 tahun. Hasil Uji statistik mendapatkan nilai p=0,236 (p>0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan usia pasien antara pasien abses leher dalam dengan derajat tidak berat dan derajat berat.

Jenis kelamin pada pasien abses leher dalam derajat tidak berat sebagian besar laki-laki yaitu ada 6 pasien (54,5%), dan pasien pada pasien abses leher dalam derajat berat sebagian besar juga dengan jenis kelamin laki-laki yaitu ada 17 pasien (89,5%).

Komorbid pada pasien abses leher dalam derajat tidak berat sebagian besar tidak ada yaitu ada 10 pasien (90,9%), dan pasien pada pasien abses leher dalam derajat berat sebagian besar juga dengan tidak ada komorbid yaitu ada 12 pasien (63,2%). Hasil Uji statistik mendapatkan nilai p=0,199 (p>0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan proporsi pasien berdasarkan komorbid antara pasien abses leher dalam dengan derajat tidak berat dan derajat berat.

Komplikasi pada pasien abses leher dalam derajat tidak berat sebagian besar tidak ada yaitu ada 10 pasien (90,9%), dan pasien pada pasien abses leher dalam

(3)

derajat berat sebagian besar terdapat komplikasi yaitu ada 14 pasien (73,7%).

Hasil Uji statistik mendapatkan nilai p=0,001 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan proporsi pasien berdasarkan komplikasi antara pasien abses leher dalam dengan derajat tidak berat dan derajat berat, dimana pasien abses leher dalam dengan derajat berat banyak yang mengalami komplikasi dibandingkan dengan derajat tidak berat. Komplikasi yang sering muncul adalah mediastinitis (lampiran)

1. Perbedaan Hasil Pemeriksaan RNL berdasarkan Derajat Keparahan Abses Leher Dalam

Analisis perbedaan hasil pemeriksaan RNL berdasarkan derajat keparahan abses leher dalam penelitian ini menggunakan uji beda tidak berpasangan.

Karena data RNL berupa data numerik yang tidak memenuhi asumsi normalitas (lampiran) ditampilkan dalam nilai rata-rata +sd, dan dilanjutkan dengan uji mann whitney. Hasil analisis perbedaan hasil pemeriksaan RNL berdasarkan

derajat keparahan abses leher dalam dapat dilihat pada tabel 4.2 sebagai berikut.

Tabel 4.2 Analisis perbedaan hasil pemeriksaan RNL berdasarkan derajat keparahan abses leher dalam

Variabel Derajat Keparahan

Total p-value Tidak Berat Berat

RNL 5.08 +3.07 17.80 +12.75 13.13 +11.96 <0.001*

Keterangan : Data ditampilkan dalam nilai mean +SD, uji Mann Whitney; * signifikan pada α=5%

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa RNL pada pasien abses leher dalam derajat Tidak Berat dengan rata-rata 5.08 +3.07, dan pasien pada pasien abses leher dalam derajat berat dengan rata-rata 17.80 +12.75. Hasil Uji statistik mendapatkan nilai p=<0,001 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat perbedaan

(4)

yang signifikan hasil pemeriksaan RNL antara pasien abses leher dalam dengan derajat Tidak Berat dan derajat berat. Dimana pasien abses leher dalam dengan derajat berat mendapatkan hasil RLN lebih tinggi dibandingkan dengan derajat Tidak Berat.

Gambar 4.1 Diagram Batang Hasil Pemeriksaan RNL Berdasarkan Derajat Keparahan Abses Leher Dalam

2. Uji Diagnostik

2.1 Penentuan Cutoff RNL Sebagai Prediktor Abses Leher Dalam derajat Berat

Penelitian ini mendapatkan hasil dengan jumlah 11 pasien dengan abses leher dalam derajat tidak berat dan 19 pasien dengan derajat berat.

Berdasarkan hasil tersebut yang dibandingkan dengan hasil pemeriksaan RNL didapatkan hasil kurva ROC sebagai berikut.

RNL

35,00 30,00 25,00 20,00 15,00 10,00

5,08 5,00

0,00

Tidak Berat Berat

Derajat Keparahan Abses Leher Dalam 0 17,8

Rata-rata

(5)

Gambar 4.2 Kurva ROC Penentuan cut off RNL

Kurva ROC diatas didapatkan nilai AUC sebesar 0,928 (95%CI= 0.840- 1.017) dengan nilai p=<0,001, pada nilai AUC yang mendekati 1 berarti memiliki kemampuan prediksi yang semakin tinggi. Hal ini mengartikan bahwa RNL dapat sebagai prediktor yang tinggi terhadap derajat keparahan abses leher dalam.

Gambar 4.3 Grafik Penentuan Titik Potong RNL

Sensitivity Specificity 1,2

1 0,8 0,6 0,4 0,2 0

- 0 , 2 6 1 , 1 4 1 , 6 6 2 , 2 3 3 , 0 9 3 , 5 9 5 , 1 8 6 , 8 1 7 , 0 1 7 , 1 7 7 , 4 5 7 , 6 3 7 , 6 7 8 , 6 6 9 , 6 5 9 , 7 1 1 0 , 4 1 1 1 , 2 2 1 3 , 1 0 1 5 , 3 5 1 6 , 5 3 1 7 , 3 5 1 7 , 7 2 1 9 , 0 7 2 0 , 4 5 2 1 , 2 3 2 6 , 0 3 3 2 , 5 3 4 6 , 9 1 6 0 , 0 6

(6)

Berdasarkan gambar 4.3 diketahui bahwa titik potong grafik sensitifitas dan spesifitas pada RNL dengan nilai 7,67, dengan nilai sensitifitas 0,789 dan spesifisitas 0,818. Rangkuman hasil dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut

Tabel 4.3 Hasil Penentuan Cut off RNL berdasarkan Keparahan Abses Leher Dalam

AUC Sensitivity Specificity Cutoff Value p-value

0,928 0,789 0,818 7,67 0,000*

Keterangan : * signifikan pada α=5%

Berdasarkan hasil penghitungan kurva ROC didapatkan nilai AUC sebesar 0,928 dengan nilai p=0,000 (P<0,01). Nilai Cutoff Value untuk RNL adalah 7,67 yaitu pada Sensitivity = 0,789 dan Specificity = 0,818

2.2 Pemeriksaan RNL Sebagai Prediktor Abses Leher Dalam derajat Berat Berdasarkan cutoff value pada kurva ROC maka RNL dibagi menjadi 2 kategori guna keperluan uji diagnostik yaitu dengan RNL > 7,67 dan RNL < 7,67. Dengan demikian didapatkan hasil tabulasi silang dengan hasil berikut.

Tabel 4.4 Tabel Crostabb (2x2) Hasil Uji Diagnostik RNL Sebagai Prediktor Abses Leher Dalam Derajat Berat

RNL Berat Tidak Berat Total

>=7,67 15 2 17

<7,67 4 9 13

Total 19 11 30

Sensitifitas 0.789 95%CI= 0,644 -0,935 Spesifisitas 0.818 95%CI= 0,680 -0,956

NDP 0.882 95%CI= 0,767 -0,998

NDN 0.692 95%CI= 0,527 -0,857

RKP 4.342

RKN 0.257

Keterangan: NDP (nilai duga positif), NDN (nilai duga negatif), RKP (rasio kemungkinan positif), RKN (rasio kemungkinan negatif)

(7)

Hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa diagnosis derajat berat dengan sampel RNL pada cut off >7,67 mendapatkan sensitivitas sebesar 0,789, yang artinya 78,9% pasien abses leher dalam derajat berat dapat dideteksi dengan pemeriksaan RNL >7,67, dan nilai spesifisitas pemeriksaan RNL yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 0,818 artinya besar kemungkinan diagnosa derajat Tidak Berat yang dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki RNL <7,67 sebesar 81,8%. Pada analisis didapat nilai NDP sebesar 0,882 yang artinya bahwa pemeriksaan RNL apabila hasilnya >7,67 maka ada kemungkinan 88,2% dengan hasil diagnosis abses leher dalam derajat berat. Sedangkan Nilai NDN adalah 0,692 yang artinya bahwa RNL apabila hasilnya <7,67 maka ada kemungkinan 69,2% pasien dengan hasil diagnosis abses leher dalam derajat Tidak Berat.

Nilai rasio kemungkinan positif adalah 4,342 yang artinya bahwa rasio kemungkinan pasien dengan RNL >7,67 akan mendapatkan hasil diagnosis abses leher dalam derajat berat sebesar 4,342 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan hasil pemeriksaan RNL

<7,67 . Nilai rasio kemungkinan negatif adalah 0,257 yang artinya bahwa rasio kemungkinan pasien dengan nilai pemeriksaan RNL <7,67 akan mendapatkan hasil diagnosis derajat berat adalah sebesar 0,257 kali lebih kecil dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan hasil pemeriksaan RNL >7,67.

(8)

2.3 Korelasi RNL Dengan Derajat Keparahan Abses Leher Dalam

Berdasarkan tabel 2x2 yang didapatkan diatas (tabel 4.4) maka dilajutkan uji korelasi RNL dengan derajat keparahan abses leher dalam yaitu dengan uji korelasi koefisien kontingensi karena data berupa data dengan skala kategori nominal. Hasil korelasi RNL dengan derajat keparahan abses leher dalam dapat dilihat pada tabel 4.5.

Tabel 4.5 Korelasi RNL Dengan Derajat Keparahan Abses Leher Dalam Keparahan Abses Leher Dalam

Variabel rk

(koefisien kontingensi) p-value

RNL 0,509 0,001

Keterangan : Uji Korelasi Koefisien kontingensi * signifikan pada α=5%

Hasil uji korelasi didapatkan nilai r=0,509 (r=0,400 -0,599), nilai p=0,001 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan sedang antara RNL dengan derajat keparahan abses leher dalam, dimana semakin tinggi RNL cederung semakin berat derajat keparahan abses leher dalam.

B. PEMBAHASAN

Penelitian-penelitian terkait rasio neutrofil limfosit pada abses leher dalam masih jarang dilakukan. Pada penelitian ini karakteristik usia pasien abses leher dalam antara usia 40-50 tahun dengan usia rata-rata 47,57. Sedangkan pada penelitian oleh Luh dkk (2014) yang menyebutkan karakteristik usia adalah usia 40-60 dengan rata-rata usia 57,77 tahun. Berbeda dengan penelitian oleh Arvin dkk (2017) bahwa kelompok usia paling banyak dari pasien abses leher dalam adalah usia 20-30 atau kelompok usia yang lebih muda (Arvin 2017; Luh, 2014).

(9)

Jenis kelamin paling banyak pada penelitian ini adalah Laki-laki (76,7%).

Hasil penelitian tersebut sama dengan penelitian oleh Arvin yang mendapatkan hasil laki- laki lebih banyak yaitu 75% serta sama dengan penelitian oleh Luh yaitu 65 %. Namun hasil berbeda pada penelitian oleh Gauraf bahwa laki-laki memiliki prevalensi yang sama dengan perempuan terhadap angka kejadian abses leher dalam (Arvin, 2017; Gauraf 2015; Luh, 2014).

Pada penelitian ini ada tidaknya komorbid seperti Diabetes Melitus (DM) serta hipertensi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap angka kejadian terjadinya abses leher dalam baik derajat berat maupun derajat tidak berat dengan nilai p = 0,199 (p>0,05). Hal ini berbeda dengan hasil penelitian oleh Kalpana et al. (2017) bahwa DM merupakan komorbid yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya komplikasi dari pasien abses leher dalam. Hal lain juga didapatkan dari penelitian oleh Surapok et al.,(2017) dimana didapatkan factor komorbid seperti diabetes melitus, hipertensi, gagal ginjal dan penyakit autoimun mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keparahan abses leher dalam. ( Kalpana et al., 2017; Surapok et al. 2017).

Pada penelitian ini komplikasi paling banyak dari abses leher dalam adalah mediastinitis sebanyak (33%) dan sumbatan jalan nafas atas (10%) Dimana komplikasi mempunyai hubungan signifikan terhadap terjadinya abses leher dalam derajat berat dengan p<0,005. Penelitian oleh Surapok et.al. (2017) komplikasi abses leher dalam paling banyak adalah obstruksi jalan nafas(15,7%) dan mediastinitis (6,7%). Disebutkan bahwa adanya komplikasi mempengaruhi

(10)

keparahan abses leher dalam serta lama rawat pasien abses leher dalam ( Surapok et al. 2017).

Pada penelitian ini didapatkan cut off dari RNL pasien abses leher dalam sebesar 7,67. Dimana nilai RNL > 7,67 mengartikan abses leher dalam derajat berat. Penelitian yang dilakukan oleh Forget dkk pada tahun 2017 berhasil mengidentifikasi nilai normal RNL pada orang dewasa, non-geriatri, populasi umum yang berada dalam kondisi kesehatan yang baik yaitu 0,78- 3,53. Artinya pada penelitian ini rata-rata pasien abses leher dalam mengalami peningkatan RNL (Forget et al., 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Gallagher dkk pada tahun 2020 melaporkan bahwa RNL (p < 0,01) saat masuk secara signifikan berkaitan dengan length of stay (LOS). RNL dapat digunakan sebagai penanda prognostik untuk pasien yang dirawat dengan infeksi leher dalam akibat infeksi odontogenik. Pasien dengan RNL >4.65 cenderung memiliki LOS > 2 hari (Gallagher et al., 2021).

Pada penelitian ini didapatkan hubungan positif yang signifikan dengan kekuatan sedang antara RNL dengan derajat keparahan abses leher dalam, dimana semakin tinggi RNL cederung semakin berat derajat keparahan abses leher dalam. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Candra (2020) dimana RNL merupakan parameter yang memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap infeksi bakteri dengan p < 0,001. (Candra, 2020).

(11)

C. KETERBATASAN PENELITIAN

Penelitian ini mempunyai keterbatasan terhadap variabel terikat yaitu Derajat keparahan abses leher dalam. Faktor yang mempengaruhi dari derajat keparahan abses leher dalam diantaranya usia tua, komorbid, ruang leher yang terlibat atau lokasi abses dan resistensi terhadap antibiotik (Ling jin et al., 2020).

Pada penelitian ini usia tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap derajat keparahan abses leher dalam. Berbeda dengan penelitian oleh Lin Jin (2020) dimana semakin tua semakin menunjukkan komplikasi yang lebih banyak dari abses leher dalam. Hal ini dikarenakan sampel pada penelitian ini hanya memiliki jumlah sampel dengan usia dibawah 30 adalah 4 pasien, diatas 60 hanya 3 pasien.

Menurut Kalpana et al. (2017 komorbid memiliki hubungan yang signifikan terhadap terjadinya komplikasi dari pasien abses leher dalam.

Hal ini juga disebutkan oleh Surapok et al.,(2017) dimana didapatkan faktor komorbid seperti diabetes melitus, hipertensi, gagal ginjal dan penyakit autoimun mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keparahan abses leher dalam. ( Kalpana et al., 2017; Surapok et al.

2017). Sedangkan hal tersebut berbeda dengan penelitian ini, dimana komorbid tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap derajat keparahan abses leher dalam.

(12)

keparahan abses leher dalam. Sedangkan pada penelitian ini tidak diperiksa. (Ling et.al.,2020).

Gambar

Gambar 4.1 Diagram Batang Hasil Pemeriksaan RNL Berdasarkan Derajat  Keparahan Abses Leher Dalam
Gambar 4.3 Grafik Penentuan Titik Potong RNL

Referensi

Dokumen terkait

Target program PKM ini adalah sekelompok orang yang produktif secara ekonomi (usaha kecil). Program ini bertujuan untuk mengembangkan komunitas yang mandiri secara

Sejalan dengan hal tersebut, uji-t menunjukkan hasil uji beda sebesar 14,20 lebih besar dari ttabel 2,092, sehingga dapat disimpulkan penerapan media video berpengaruh

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan arti dan latar belakang pemberian nama tempat yang ada di Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Karawang, mengidentifikasi

Anak mampu melakukan kegiatan gerak dan lagu dan dapat memberikan contoh pada temannya 4 Menggunakan kalimat pendek untuk berinteraksi dengan anak atau orang

Jepang membawa merian ini ke Bengkulu tahun 1942, adalah merupakan persenjataan yang dipakai tentara Jepang untuk mempertahankan daerah kekuasaannya di Bengkulu Selatan

Tindakan meng- update status sosial ketika di kedai kopi saat ini sudah banyak dan sering dilakukan oleh remaja masa kini sehingga kita menganggapnya tindakan yang

Secara umum buku ini memuat potensi sumber daya mineral, potensi energi (air, panas bumi maupun sumber energi dari PT. PLN), airtanah (potensi airtanah, jumlah wajib pajak,

Tempat/Tanggal Lahir : Makassar, 21 Desember 1968 Alamat Tempat Tinggal : Kota Kembang Depok Raya sektor. Anggrek -3 Blok F1/14, Depok, Jabar Jenis Kelamin