2021
PEDOMAN PELATIHAN DASAR PEKERJAAN SOSIAL (PDPS) E-LEARNING
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke Hadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga buku Pedoman Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial (PDPS) Tahun 2021 dapat disusun dan diselesaikan. Buku Pedoman ini disusun sebagai langkah mewujudkan acuan penyelenggaran PDPS yang memenuhi standarisasi pelatihan kesejahteraan sosial yang terkendali dan terjamin mutunya. Pada gilirannya dapat menghasilkan tenaga kesejahteraan sosial/
pegawai pada instansi/lembaga/unit pelaksana teknis di lingkungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang mampu mengidentifikasi, menganalisis dan melakukan kajian kebutuhan pelayanan mengacu pada dasar kompetensi pekerjaan sosial.
Upaya penjaminan mutu pelatihan kesejahteraan sosial, baik bagi peningkatan kualitas penyelenggaraan pelatihan maupun kualitas peserta pelatihan yang nantinya menjadi tenaga kesejahteraan sosial pegawai yang handal dalam melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di instansi/Dinas di mana mereka bertugas. Pedoman ini merupakan unsur komponen utama yang dapat menentukan kualitas penyelenggaraan pelatihan. Kualitas penyelenggaraan pelatihan yang baik menghasilkan lulusan pelatihan yang berkualitas.
Demikian Buku Pedoman PDPS ini disusun, semoga dapat menjadi acuan bagi proses penyelenggaraan Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial oleh pihak penyelenggara diklat. Sekian dan terima kasih.
Jakarta, Juli 2021
Kepala Pusdiklat Kesejahteraan Sosial
Mulia Jonie
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
A. PENDAHULUAN 1
1. Latar Belakang 1
2. Maksud dan Tujuan 1
3. Sasaran 2
4. Landasan Hukum 3
B. KOMPONEN PELATIHAN 3
1. Panitia Penyelenggara 3
2. Fasilitator/Narasumber 3
3. Durasi Waktu Pelaksanaan Kegiatan 3
4. Materi Pelatihan 4
5. Kriteria Perangkat Pelatihan 5
6. Pendekatan, Metode dan Media Pembelajaran 7
C. PENYELENGARA PELATIHAN 7
1. Prinsip Pengelolaan dan Pendekatan Pelatihan 7
2. Tahapan Kegiatan 7
3. Jadwal Pelaksanaan 7
D. MEKANISME KEGIATAN 7
1. Prinsip Pengelolaan dan Pendekatan Pelatihan 7
2. Tahapan Kegiatan 8
3. Jadwal Pelaksanaan 12
E. KELULUSAN 11
1. Kriteria Peserta 11
2. Kriteria Kelulusan 11
3. Surat Tanda Tamat Pelatihan (STTP) 13
F. PENDANAAN 13
G. PENUTUP 13
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Kurikulum Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial 4
PEDOMAN
PELATIHAN DASAR PEKERJAAN SOSIAL (PDPS) E-LEARNING
TAHUN 2021
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Seiring dengan tuntutan penjangkauan Pelayanan Kesejahteraan Sosial bagi sasaran pelayanan di kalangan penerima manfaat yang luas, maka diperlukan Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) yang memiliki kompetensi dasar untuk merancang, menerapkan dan melayani para Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) maupun memanfaatkan potensi dan sumber kesejahteraan sosial secara komprehensif dan terstandar. Dibutuhkan TKS di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kompeten di bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dapat melayani para penerima manfaat kesejahteraan sosial secara optimal.
Sejalan dengan latar belakang tersebut maka perlu diselenggarakan kegiatan peningkatan pemahaman dan kapasitas TKS Pegawai, di antaranya melalui pelatihan. Mengingat tuntutan kebutuhan bagi pengembangan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang begitu besar, maka perlu membangun kualitas SDM yang mampu dan memiliki pemahaman dasar tentang pekerjaan sosial sebagai pilar utama di bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial.
Jawaban terhadap tuntutan kebutuhan yang strategis tersebut adalah dengan penyelenggaraan “Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial”. Pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan standar bagi pihak penyelenggara dan pihak terkait dalam menyelenggarakan pelatihan sekaligus sebagai standar bagi penyelenggaraan PDPS dalam penyediaan SDM kesejahteraan sosial yang kompeten.
2. Maksud Dan Tujuan a. Maksud
Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan standar bagi pelaksanaan PDPS secara e-learning tahun 2021 pada Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) di lingkungan Kementerian Sosial dan Instansi terkait.
b. Tujuan
a. Terselenggaranya PDPS secara e-learning sebagai langkah awal dalam penyiapan TKS di lingkungan pemerintahan, baik pada tingkat pusat maupun di daerah, lembaga masyarakat yang berkiprah di bidang kesejahteraan sosial sebagai pelatihan dasar profesi.
b. Meningkatkan kinerja organisasi dalam melaksanakan pelayanan kesejahteraan sosial yang didukung oleh dasar-dasar profesi pekerjaan sosial.
c. Dihasilkan tenaga-tenaga kesejahteraan sosial pegawai yang memiliki kompetensi dan kapabilitas dasar dalam menerapkan pengetahuan, keterampilan dan nilai pekerjaan sosial di unit kerjanya atau di lembaga kerjanya masing-masing.
d. Terwujudnya alumni pelatihan sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) kesejahteraan sosial yang kompeten.
3. Sasaran
Fokus dari sasaran pelatihan ini adalah para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlatar belakang pendidikan sarjana atau diploma III non kesejahteraan sosial/pekerjaan sosial yang berasal dari lembaga pemerintahan pusat, maupun lembaga kesejahteraan sosial, maupun daerah yang menyelenggarakan pelayanan kesejahteraan sosial.
Sasaran utama dari kepesertaan adalah mereka yang berada di wilayah layanan diklat Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) di lingkungan Kementerian Sosial RI dan instansi terkait.
Ketentuan kepesertaan dalam PDPS ini adalah:
a. Jumlah peserta pelatihan minimal 30 orang per kelas/angkatan.
b. Persyaratan Peserta:
1) Para tenaga kesejahteraan sosial pegawai dengan latar belakang pendidikan minimal Diploma III non pekerjaan sosial/kesejahteraan Sosial.
2) Diusulkan dan ditugaskan oleh Instansi atau lembaganya masing- masing.
3) Mematuhi tata tertib dan peraturan selama mengikuti pelatihan.
c. Pemanggilan Peserta
Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS)/Lembaga penyelenggara pelatihan melakukan pemanggilan peserta sesuai usulan lembaga pengirim dan jumlah kuota peserta yang tersedia.
4. Landasan Hukum
a. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
b. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial;
c. Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN);
d. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
e. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2019 tentang Pekerja Sosial;
f. Peraturan Menteri Sosial R.I Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Standardisasi Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial;
g. Peraturan Menteri Sosial R.I Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial;
h. Peraturan Menteri Sosial Nomor 14 Tahun 2017 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Sosial Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial;
i. Peraturan Menteri Sosial R.I Nomor 22 Tahun 2018 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Menteri Sosial R.I Nomor 20 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sosial.
B. KOMPONEN PELATIHAN 1. Panitia Penyelenggara
Panitia penyelenggara adalah para pegawai di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS)/Lembaga Kediklatan yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan dari Kepala Satuan Kerja dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
2. Fasilitator/Narasumber
a. Widyaiswara sebagai Fasilitator yang telah mengikuti Workshop PDPS Tahun 2021 yang telah dinyatakan lulus menjadi tenaga pelatih PDPS.
b. Dosen dan Praktisi sebagai Narasumber yang kompeten di bidang pelatihan kesejahteraan sosial/pekerjaan sosial.
c. Pejabat yang berwenang /kompeten kebijakan kesejahteraan sosial.
3. Durasi waktu pelaksanaan kegiatan (jam pelatihan/hari)
Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial memiliki durasi waktu selama 120 (seratus dua puluh) jam pelatihan, termasuk di dalamnya kegiatan penunjang meliputi kegiatan: pembukaan, pengarahan teknis, pre test, post test, evaluasi penyelenggara pelatihan, dan penutupan.
4. Materi Pelatihan
Materi PDPS ini terdiri dari materi dasar, materi inti dan materi penunjang. Ketiga materi ini merupakan satu kesatuan dalam kurikulum dan silabi PDPS tahun 2021 ini. Adapun kurikulum dan silabi Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial tersusun sebagaimana tabel berikut ini:
Tabel 1
Kurikulum/Silabi Pelatihan Dasar Pekerjaan Sosial (PDPS) Tahun 2021
No Mata Diklat Total
JP
Daring
Asinkronus Sinkronus A Materi Dasar (23 JP; 19,17%) 23 6 17
Narsum-1 Kebijakan PDPS Kemensos 2 0 2
1 Kebijakan Penyelenggaraan Kesos 3 1 2
2 Masalah, Potensi dan Sumber Kesos 6 2 4 3 Kapita Selekta Penyelenggaraan Kesos 6 2 4 4 Nilai dan Etika Pekerjaan Sosial 4 1 3 Narsum-2 (Nilai dan Etika Peksos) 2 0 2
B Materi Inti (86 JP; 71,67%) 86 34 52
5 Administrasi Pekerjaan Sosial 6 2 4
6 Keterampilan dasar Pekerjaan Sosial 10 4 6 Narsum-3 Keterampilan Dasar Peksos 2 0 2 7 Proses pertolongan Pekerjaan Sosial 10 4 6 8 Metode dan Teknik Pekerjaan Sosial (30 JP) Narsum-4 Metoda dan Teknik Peksos 2 0 2
a. Mikro 9 4 5
b. Mezzo 9 4 5
c. Makro 10 4 6
9 Praktek Belajar Lapangan (28 JP)
a. Pengarahan PBL 2 JP 2 0 2
b. Pelaksanaan PBL 20 JP 20 10 10
c. Seminar hasil PBL 4 JP 4 0 4
d. Perbaikan laporan hasil PBL 2 JP 2 2 O
C Penunjang (11 JP; 9,16%) 11 6 5
10 Building Learning Commitment (BLC) 3 1 2
11 Pengarahan Teknis Pelatihan 1 0 1
12 Pembukaan dan Penutupan 2 0 2
13 Pre Test dan Post Test 2 2 0
No Mata Diklat Total JP
Daring
Asinkronus Sinkronus 14 Evaluasi Penyelenggaraan Pelatihan 2 2 0
15 Ujian Komprehensif 1 1 0
Jumlah JP Pelatihan 120 46 74
Jumlah JP Pelatihan per Hari (Unsin @ 7 JP; Sinc
@ 6 JP) 7 6
Jumlah Hari Pelatihan (Pembulatan) 19 7 12
5. Kriteria Perangkat Pelatihan
a. Tenaga Pengajar/Fasilitator/Narasumber, dengan kriteria:
1) Tenaga Pengajar/Fasilitator telah mengikuti dan dinyatakan lulus Workshop Fasilitator PDPS tahun 2021.
2) Memiliki kewenangan atau kompetensi terkait dengan kebijakan kesejahteraan sosial.
3) Dapat bekerjasama sebagai tim Pelatih.
4) Mampu menerapkan metode pembelajaran secara variatif.
b. Panitia Penyelenggara Persyaratan:
1) Diutamakan bagi mereka yang telah mengikuti TOC/MOT.
2) Bersedia bekerja penuh waktu pada saat pelatihan diselenggarakan.
3) Diangkat berdasarkan Surat Keputusan dari Kepala Satuan Kerja dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
4) Susunan panitia disesuaikan dengan kebutuhan dan bidang tugasnya.
5) Jangka waktu kerja panitia dimulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai dengan akhir (evaluasi dan laporan diklat).
6) Panitia bertanggung jawab sepenuhnya kepada penanggung jawab diklat dalam hal ini Kepala Satuan Kerja.
Kompetensi:
1) Mampu melakukan tugas kepanitiaan dengan baik.
2) Mampu menjalin koordinasi dan kerjasama dengan sesama Panitia, Fasilitator dan Peserta pelatihan.
Tugas dan Tanggung Jawab:
1) Penanggung jawab, bertugas mempertanggungjawabkan seluruh program kegiatan.
2) Koordinator, bertugas: sebagai Pengarah kegiatan diklat, baik secara akademik maupun administrasi dan membuat keputusan yang berhubungan dengan kediklatan.
3) Asisten Bidang Akademik, bertugas:
a) Mengatur kegiatan diklat.
b) Menyusun dan mengatur jadwal.
c) Menetapkan SK Fasilitator.
d) Penghubung Fasilitator.
e) Merancang, mengatur, dan mempersiapkan kunjungan lapangan
f) Bersama Pendamping mencari inisiatif untuk mengisi kekosongan di kelas, bila Pengajar/Fasilitator belum datang.
g) Membuat sambutan pembukaan dan penutupan.
h) Mengatur evaluasi dan menetapkan perankingan.
4) Asisten Bidang Administrasi, bertugas:
a) Mengatur/menyiapkan segala kebutuhan yang berhubungan dengan administrasi diklat, seperti: Daftar riwayat hidup Fasilitator dan Peserta, daftar hadir Fasilitator dan Peserta, form perizinan, evaluasi Fasilitator, evaluasi Peserta, dan lain- lain.
b) Mempersiapkan dan menyusun laporan pembukaan.
c) Mempersiapkan dan menyusun laporan penutupan.
d) Mempersiapkan dan mengatur persiapan ujian.
e) Membuat kearsipan diklat.
5) Sekretariat, bertugas:
a) Urusan kelas: mengecek kesiapan kelas virtual.
b) Urusan keuangan: mempersiapkan pembayaran honor Fasilitator dan Narasumber.
c) Urusan perlengkapan, menyesuaikan dengan alokasi anggaran satker.
d) Urusan penggandaan materi dan bahan ajar menyesuaikan dengan alokasi anggaran satker.
6) Admin kelas daring
Hal-hal yang harus diperhatikan bagi Admin kelas daring, adalah:
a) Admin kelas daring diangkat berdasarkan Surat Keputusan Kepala BBPPKS/Satker dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
b) Admin kelas daring mempersiapkan pelaksanaan PDPS daring mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.
c) Admin kelas daring berkoordinasi dengan pihak Penyelenggara, Fasilitator dan Peserta pelatihan.
6. Pendekatan, Metode dan Media Pembelajaran
Penerapan pendekatan orang dewasa (andragogi) dengan prinsip partisipatif menjadi hal utama dalam penyelenggaraan pelatihan ini.
Keragaman penerapan metode pembelajaran setiap penyajian mata pelatihan bervariatif dengan penerapan kombinasi metode belajar partisipatif sesuai dengan tujuan pembelajaran masing-masing mata pelatihan, di antaranya:
a. Ceramah b. Tanya jawab
c. Curah pendapat (brainstorming) d. Diskusi kelompok
e. Pembahasan kasus
f. Pemutaran dan analisis video/film
g. Praktek baik (Best Practice) pembuatan video
Pelatihan ini ditunjang dengan prasarana dan sarana yang memadai serta didukung media pembelajaran yang representatif, menggunakan http://elearning.kemsos.go.id dan http://meet.kemsos.go.id baik secara asinkronus maupun sinkronus.
C. PENYELENGARA PELATIHAN
1. Lembaga/instansi penyelenggara Kesejahteraan Sosial dapat menyelenggarakan PDPS sesuai dengan pedoman yang sudah ditetapkan.
2. Dalam penyelenggaraan PDPS, Lembaga /instansi penyelenggara kesejahteraan sosial terlebih dahulu berkoordinasi dengan BBPPKS di wilayah masing-masing.
3. Proses pembelajaran PDPS dilakukan secara elearning melalui alamat: http://elearning.kemsos.go.id dan http://meet.kemsos.go.id.
D. MEKANISME KEGIATAN
1. Prinsip Pengelolaan, Pendekatan dan Model Pelatihan a. Konsistensi
Konsistensi berarti bahwa kegiatan pendidikan harus serasi dan ajeg dalam mengembangkan potensi peserta latih
b. Konvergensi
Konvergensi berarti pendidikan bertolak dari suatu landasan yang jelas.
c. Kontinuitas
Kontinuitas berarti bahwa pendidikan harus ditempuh dan berkelanjutan.
Pendekatan pelatihan menganut pendekatan berbasis kompetensi (competence basic approach). Pendekatan ini terkait dengan kompetensi yang harus dicapai mengacu pada kompetensi pelatih dalam mentransformasi dasar-dasar profesi pekerjaan sosial dalam membentuk pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan dasar kepekerjaan sosial SDM Kesejahteraan Sosial. Model pembelajaran yang digunakan adalah metode e-Learning.
2. Tahapan Kegiatan a. Persiapan
Rapat persiapan dapat berupa rapat bersama dengan seluruh komponen atau stakeholder yang akan dilibatkan dalam pelatihan untuk membahas tentang:
1) Penentuan dan penetapan personil Panitia penyelenggara pelatihan.
2) Penentuan penanggung jawab administrasi dan teknis.
3) Pembagian tugas kerja Panitia penyelenggara.
4) Penentuan dan penetapan Narasumber dan Fasilitator 5) Penentuan tim Pendamping kelas/Admin.
6) Penyiapan bahan dan alat bantu pelatihan sesuai dengan pelatihan secara virtual.
7) Penyiapan laporan panitia penyelenggrara dalam acara pembukaan pelatihan.
8) Mempersiapkan acara pembukaan dan penutupan.
b. Pengorganisasian
Tahap pengorganisasian kegiatan pelatihan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen pelatihan dan penyelenggara
1. Kepanitiaan penyelenggara pelatihan
Panitia penyelenggara diklat adalah pegawai yang terlibat langsung dalam tugas penyelenggaraannya atas dasar:
a) Ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan dari Kepala BBPPKS/Satuan Kerja dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
b) Susunan panitia disesuaikan dengan kebutuhan dan bidang tugasnya.
c) Jangka waktu kerja panitia dimulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai dengan akhir (evaluasi dan laporan pelatihan).
d) Panitia bertanggung jawab sepenuhnya kepada penanggung jawab pelatihan dalam hal ini Kepala Satuan Kerja.
2. Widyaiswara, Pakar/Narasumber, Praktisi berperanan penting, dalam:
a) Memfasilitasi kegiatan belajar mengajar secara virtual, agar diklat yang diselenggarakan dapat berjalan efektif dan efisien.
b) Memberikan dorongan atau motivasi kepada peserta untuk mengikuti proses pelatihan hingga akhir.
c) Memberikan beberapa alternatif dalam penyelesaiaan masalah yang timbul selama penyelenggaraan diklat.
d) Memberikan atau menciptakan kondisi yang kondusif atas penyelenggaraan pelatihan selama proses belajar mengajar.
e) Selalu mengamati dan mengevaluasi perkembangan peserta, terutama saat proses belajar mengajar.
f) Dapat dijadikan sebagai suri tauladan dalam bertindak dan bertingkah laku selama kegiatan pelatihan.
g) Menguasai metode dan teknik pembelajaran secara virtual yang bervariasi dalam menunjang pencapaian tujuan pelatihan secara optimal.
3. Admin kelas
Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai Admin kelas, adalah:
a) Admin ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Satuan Kerja dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
b) Hadir di kelas virtual lebih awal untuk mempersiapkan kelas dan absensi peserta.
c) Mempersiapkan curriculum vitae Widyaiswara/Fasilitator.
d) Memperkenalkan dan membacakan curriculum vitae Widyaiswara/Fasilitator.
e) Memberikan gambaran tentang Peserta kepada Widyaiswara/Fasilitator dan memberi gambaran tentang materi yang akan diberikan beserta waktu pemberian materi sesuai dengan jadwal.
f) Mencatat kejadian yang dianggap perlu dan mungkin terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung.
g) Memberi evaluasi/penilaian terhadap kemajuan dari masing- masing peserta pelatihan.
h) Membantu pembagian kelompok diskusi secara virtual, dan lain-lain demi kelancaran pelaksanaannya.
i) Secara rutin mengikuti kegiatan diklat sejak pengarahan teknis sampai dengan pembulatan penyelenggaraan pelatihan.
j) Menyiapkan bahan laporan teknis secara rinci dan lengkap, serta mengajukan saran penyempurnaannya.
k) Menyiapkan sarana pembelajaran secara virtual.
c. Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pelatihan meliputi:
1) Kegiatan Kesekretariatan
a) Melakukan penerimaan/pendaftaran Peserta secara virtual, memberikan informasi secara teknis terkait kegiatan pelatihan.
b) Menyelesaikan persyaratan administrasi yang harus dipersiapkan oleh para Peserta.
c) Melakukan kegiatan ketatausahaan penyelenggaraan pelatihan.
d) Menyiapkan acara penjelasan teknis.
e) Melakukan persiapan acara pembukaan dan penutupan secara virtual.
2) Pre Test
PreTest dilakukan kepada peserta pelatihan setelah acara pembukaan secara virtual.
3) Pembukaan
Persiapan pembukaan secara virtual sesuai dengan Tata Upacara Sipil.
4) Kegiatan Kelas Virtual
Persiapan setiap hari sebelum kegiatan kelas dimulai, antara lain mengecek kehadiran Peserta/Widyaiswara/Fasilitator/Pelatih, daftar hadir peserta, alat bantu latihan, dan lainnya yang diperlukan oleh Petugas/Pendamping kelas/Admin sesuai dengan pedoman pelatihan.
5) Diskusi, Seminar, Penugasan Individu/Kelompok
Penyiapan sarana pendukung dan panduan kegiatan bagi Peserta mulai dari persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran kegiatan dengan menunjukkan hasil capaiannya.
6) PBL secara Virtual
PBL mencakup beberapa rangkaian kegiatan, di antaranya:
persiapan peserta dan pembagian kelompok praktik, pengarahan persiapan praktik, survey lokasi praktik secara
virtual (koordinasi) oleh Panitia, penyusunan jadwal acara kegiatan selama PBL sesuai dengan pedoman yang telah disusun. Selama proses kegiatan PBL berlangsung dibuat video sebagai kelengkapan tugas dalam pelaksanaan PDPS. Kegiatan PBL dilanjutkan dengan seminar hasil PBL secara virtual.
7) Post test dan Pembulatan
Sebelum pelatihan ditutup dilakukan kegiatan post test kepada Peserta, dilanjutkan dengan pembulatan.
8) Penutupan dan Pelaporan
Penutupan kegiatan PDPS dilakukan secara virtual dengan mengacu pada Tata Upacara Sipil dan menyampaikan hasil pembelajaran Peserta PDPS dengan mengumumkan nilai capaian pelatihan (ranking). Selanjutnya Panitia penyelenggara menyusun laporan kegiatan PSDPS sebagai bentuk pertanggungjawaban.
d. Pengendalian
Proses pengendalian dilakukan mencakup:
1) Supervisi bertujuan:
a) Menghindari terjadinya penyimpangan dari rencana penyelenggaraan pelatihan yang telah ditentukan.
b) Mengatasi masalah/kendala yang ditemukan selama proses penyelenggaraan pelatihan.
c) Meningkatkan mutu penyelenggaraan pelatihan sesuai dengan standar pelatihan dan pedoman penyelenggaraan pelatihan.
d) Dilakukan setiap saat, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan hingga berakhirnya kegiatan penyelenggaraan pelatihan.
2) Monitoring/Pemantauan
Kegiatan monitoring dilakukan untuk mengamati berlangsungnya penyelenggaraan pelatihan secara terus-menerus sejak perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan berakhir untuk mengetahui tingkat perkembangan yang diperoleh peserta selama mengikuti pelatihan maupun pasca pelatihan dalam mengimplementasikan pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan dalam melaksanakan tugas pelayanan di bidang penyelenggaraan kesejahteraan sosial di lingkungan lembaga, di mana mereka bertugas.
3) Evaluasi
Kegiatan evaluasi dilakukan pada setiap proses kegiatan maupun evaluasi hasil seluruh rangkaian kegiatan penyelenggaraan pelatihan yang telah selesai.
Tujuan evaluasi adalah untuk:
a) Mengidentifikasi tingkat pencapaian tujuan pelatihan.
b) Mengukur dampak yang terjadi pada peserta latih (sasaran).
c) Mengetahui dan menganalisa seluruh hasil penyelenggaraan pelatihan.
d) Mengetahui pencapaian tujuan praktik belajar lapangan.
e) Mengetahui pencapaian hasil pembelajaran yang diampu oleh setiap Fasilitator/Widyaiswara.
f) Sebagai bahan perbaikan bagi penyelenggaraan pelatihan dengan pertimbangan konsekuensi yang mungkin terjadi di luar perencanaan.
g) Sebagai bahan penyusunan laporan.
e. Pelaporan
Pelaporan merupakan pendokumentasian proses penyelenggaraan pelatihan secara teknis administratif yang disusun dengan tujuan:
1) Terdokumentasikan seluruh rangkaian proses penyelenggaraan pelatihan mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan, hingga tahap pengakhiran dengan berbagai masukan (input), proses penyelenggaraannya dan pencapaian tujuan pelatihan, output pelatihan, outcome, benefit dan impact, baik secara teknis maupun administratif.
2) Terwujudnya pertanggungjawaban (akuntabilitas, kapasitas dan responsibilitas) penyelenggaraan pelatihan.
3) Tersedianya sistem data dan informasi tentang penyelenggaraan pelatihan yang telah dilaksanakan sesuai dengan jenis pelatihan.
3. Jadwal pelaksanaan
Penyelenggaraan PDPS tahun 2021 ini dilaksanakan selama 19 (sembilan belas) hari kerja (120 JP) dengan rincian asinkronus 7 (tujuh) hari sebanyak 46 JP sedangkan sinkronus selama 12 (dua belas) hari sebanyak 74 JP.
E. KELULUSAN
1. Kriteria Peserta
a. Sesuai dengan persyaratan dan kriteria kepesertaan yang telah ditetapkan oleh Penyelenggara, sebagaimana tertuang dalam pedoman penyelenggaraan PDPS.
b. Dinyatakan lulus melalui partisipasi aktif dalam proses pembelajaran daring, penilaian aspek sikap dan disiplin.
2. Kriteria Kelulusan
a. Aspek penilaian sikap dengan indikator:
1) Memenuhi kehadiran 85 % di dalam kelas daring.
2) Memenuhi peraturan dan tata tertib selama mengikuti Pelatihan.
3) Memenuhi hubungan sosial yang baik dengan Rekan Peserta, Panitia, Fasilitator dan Narasumber, serta semua unsur lingkungan
b. Aspek Penilaian pada proses pembelajaran PDPS meliputi:
1) Rangkuman 10 materi 5 %
2) Keaktifan dalam pembelajaran sinkronus 45 % 3) PBL (video 15%, seminar 15%) 30 %
4) Ujian Komprehensif 15%
5) Sikap dan Perilaku 5%
c. Batas kelulusan minimal kriteria penilaian dengan kualifikasi Baik/nilai 71.
d. Kriteria penilaian :
1) <60 : Kurang Baik 2) 60 – 70 : Cukup 3) 71 – 80 : Baik
4) 81 – 90 : Memuaskan
5) 91 – 100: Sangat Memuaskan
3. Surat Tanda Tamat Pelatihan (STTP)
STTP diberikan kepada peserta pelatihan setelah dinyatakan lulus dengan kriteria kelulusan yang telah ditentukan oleh Penyelenggara.
F. PENDANAAN
Pendanaan bersumber dari anggaran lembaga penyelenggara pelatihan yang bersumber dari APBN/APBD.
G. PENUTUP
Demikian Pedoman PDPS dengan metoda daring ini disusun sebagai panduan dan acuan untuk memahami proses penyelenggaraan pelatihan sesuai dengan standar yang tercantum dalam pedoman ini. Semoga pedoman ini dapat bermanfaat bagi pencapaian tujuan pelatihan secara optimal.
Jakarta, Juli 2021
Tim Penyusun