i
PENGANTAR ANALISIS
KEBIJAKAN PUBLIK
Dr. (C) Arman Maulana, S.Sy., M.M.
Dr. (C) Siti Rosmayati, SST., M.M.
ii PENGANTAR ANALISIS
KEBIJAKAN PUBLIK
Penulis: 1. Dr.(c) Arman Maulana, S.Sy., M.M. 2. Dr.(c) Siti Rosmayati, SST., M.M.
Editor: Arman Maulana Tata Letak: Arman Maulana
Sampul: Guepedia.com ISBN : 978-623-270-092-5
Diterbitkan Oleh: Guepedia
The First On-Publisher in Indonesia E-mail: [email protected]
Fb. Guepedia Twitter. @guepedia Website: www.guepedia.com
Hak Cipta dilindungi Undang-undang All right reserved
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kepada suara-suara hati yang bersifat mulia. Sumber ilmu pengetahuan, Sumber segala kebenaran, Sang Maha Cahaya, Penabur cahaya ilham, pilar nalar kebenaran dan kebaikan yang terindah, Sang Kekasih tercinta yang tak terbatas pencahayaan cinta-Nya bagi umat, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat serta salam teruntuk Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan serta menyampaikan kepada kita semua ajaran Rukun Iman dan Rukun Islam yang telah terbukti kebenarannya, serta makin terus terbukti kebenarannya.
Alhamdulillah penulistelah menyelesaikan buku dengan judul Policy Analysis For Public Decision (Pengantar Analisis Kebijakan Publik) yang merupakan salah satu aspek dari Kebijakan Publik Dan Kinerja Birokrasi. Penulis mengucapkan terima kasih kepada keluarga, sahabat, rekan-rekan teman mahasiswa, dan pihak-pihak lainnya yang membantu secara moral dan material bagi tersusunnya buku ini. Buku yang tersusun ini tentu masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan agar buku ini bisa lebih baik nantinya untuk memberikan dukungan pengetahuan di kalangan perguruan tinggi.
Bandung, 27 April 2020 Penulis (Penulis) .
iv
Daftar Isi
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... iv
Bab I Pendahuluan ... 1
Bab II Analisis Kebijakan Keputusan Publik ... 10
Bab III Definisi Permasalahan ... 23
Bab IV Kriteria Pilihan Kebijakan ... 38
Bab V Alternatif, Model, Dan Keputusan ... 51
Bab VI Pasar Sempurna, Pasar Tidak Sempurna Dan Perbaikan Kebijakan ... 61
Bab VII Kelayakan Politik: Pengesahan Dan Implementasi ... 75
Bab VIII Siklus Analisis Kebijaksanaan ... 88
Bab IX Penutup ... 94
Daftar Pustaka ... 112
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebijakan publik merupakan suatu hal
yang diputuskan oleh pemerintah, baik pemerintah di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan dalam pembuatan kebijakan publik sangatlah penting karena menyangkut kepentingan orang banyak. Menurut Anderson (1973:3) menyatakan bahwa kebijakan publik meliputi segala sesuatu yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak
2
dilakukan oleh pemerintah. Dan output dari sebuah kebijakan publik adalah sebuah keputusan yang benar benar harus dilakukan. Jika kebijakan tidak diperhitungakan dan mempertimbangkan prosedur serta prinsip pembuatan kebijakan publik, maka akan banyak berdampak pada ketidakberterimaan kebijakan tersebut yang akibatnya menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan perilaku masyarakat. Oleh karena itu proses analisis kebijakan publik untuk membuat keputusan publik harus dipahami pada berbagai kalangan terutama bagi mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama orang banyak.
Dalam beberapa tahun belakangan ini,
dimana persoalan-persoalan yang dihadapi pemerintah sedemikian kompleks akibat krisis multidimensional, maka keadaan ini tentu membutuhkan perhatian yang besar dan penanganan pemerintah yang cepat namun juga akurat agar masalah-masalah segera dapat diatasi. Kondisi ini pada akhirnya menempatkan pemerintah dan lembaga tinggi negara lainnya berada pada
3
pilihan-pilihan kebijakan yang sulit. Kebijakan yang diambil tersebut terkadang membantu pemerintah dan rakyat keluar dari krisis, tetapi dapat juga terjadi sebaliknya, yakni malahan mendelegitimasikan pemerintah itu sendiri. Dengan demikian, dalam kehidupan moderen seperti sekarang ini, kita tidak dapat lepas dari apa yang disebut sebagai kebijakan publik. Kebijakan-kebijakan tersebut kita temukan dalam bidang kesejahteraan sosial, di bidang kesehatan, perumahan rakyat, pertanian, pembangunan ekonomi, hubungan luar negeri, pendidikan nasional dan lain sebagainya. Kebijakan-kebijakan tersebut ada yang berhasil namun banyak juga yang gagal. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang bagaimana proses pembuatan kebijakan publik terutama analisis kebijakan untuk keputusan publik.
Bidang analisis kebijakan merupakan
suatu perkembangan yang relatif baru dalam sistem pendidikan khususnya di perguruan tinggi. Pada tahap-tahap awal perkembangannya, analisis kebijakan dipandang sebagai “interdisipliner”, di
4
tempatkan pada disiplin-disiplin yang sudah ada. Pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, analisis kebijaksanaan merupakan bidang yang seharusnya didefinisikan berdasarkan logika internalnya sendiri, dan merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Seiring dengan perkembangannya, muncul
buku-buku teks tentang analisis kebijakan dengan memberikan pengenalan tersendiri dan analisisnya didasarkan pada logika internal analisis kebijakan.
Sehubungan dengan itu, Macrae dan Widle
menyajikan ide-idenya dalam buku “Policy Analysis
For Public Decision”. Buku itu tidak hanya diperuntukan bagi mahasiswa pemula bidang analisis kebijakan, tetapi juga diperuntukan bagi para dosen di semua tingkatan jenjang karirnya dan khalayak umum yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses pembuatan kebijakan publik.
B. Ruang Lingkup
Materi-materi yang disajikan dalam buku
5
kebijakan yang sekarang ini diajarkan secara tersendiri di perguruan tinggi. Pembatasan masalah-masalahnya berkaitan dengan sosiologi, ilmu politik, dan sejarah. Kriteria etis untuk penentuan pilihan terutama didasarkan pada sudut pandang filsafat, ekonomi, dan juga teori-teori politik. Model-model yang digunakan untuk menghubungkan kebijakan-kebijakan yang efek-efeknya sama dengan yang digunakan dalam ilmu-ilmu alam dan sosial. Keputusan-keputusan dibuat tersendiri dalam rumusan-rumusan umum berdasarkan analisis statistik, operasional penelitian-penelitian, analisis system dan rekayasa sistem-sistem (System
engineering). Program perkuliahan analisis kebijakan
dirancang untuk tingkatan mahasiswa tertentu, dapat dikembangkan menjadi program-program inti yang lebih khusus yakni sesuai dengan topik-topik dalam buku yang dilaporkan ini.
Berdasarkan uraian tersebut, secara
konseptual dapat dikatakan bahwa “Analisis
Kebijakan untuk Pengambilan Keputusan Publik” dapat diinterprestasikan dalam beberapa dimensi. Analog dengan ungkapan Lincoln, analisis
6
pemerintahan dapat melibatkan pemerintahan dan rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pengertian yang pertama ungkapan tersebut adalah interprestasi yang paling umum karena semua
kebijakan pemerintah mempengaruhi publik atau menentukannya. Dimensi yang kedua dari ungkapan
Linclon tersebut mendapat perhatian khusus dari Macrae dan Wilde. Demikian pula halnya dengan pengertian yang ketiga. Pengertian yang ketiga ini dijelaskan dan dianalisis secara mendalam oleh Macrae dan Wilde. Khususnya pengertian kedua dan ketiga dianalisis dalam hubungannya dengan konsep
“oleh rakyat dan untuk rakyat”
Berdasarkan uraian diatas, dapat
dikatakan bahwa permasalahan analisis kebijakan, khususnya analisis kebijakan untuk pengambilan keputusan-keputusan publik memiliki ruang lingkup yang luas. Hal ini, menurut tim penulis, erat kaitannya dengan sejarah perkembangan bidang analisis kebijakan dalam program-program pendidikan di lingkungan perguruan tinggi
7
Sebagaimana telah disinggung bahwa
pada mulanya analisis kebijakan diajarkan secara terpisah dalam disiplin-disiplin yang relevan, namun topik-topik yang berhubungan dengan analisis kebijakan sebagaimana diajarkan dalam disiplin ilmu lainnya, semua dipandang sebagai
“interdisipliner” inilah yang mendasari keyakinan
bahwa analisis kebijakan merupakan suatu disiplin
yang berdiri sendiri, dapat dikembangkan sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri
Berikut ini disajikan rumusan-rumusan
masalah dalam konteks analisis kebijakan untuk keputusan-keputusan publik.yang umum:
1. Apa yang dimaksud dengan analisis kebijakan ? 2. Masalah-masalah apa yang perlu dikaji dalam
analisis kebijakan, khususnya untuk keputusan-keputusan umum/khusus ?
3. Kriteria apa yang digunakan untuk menentukan pilihan (dalam pengambilan keputusan) ?
4. Berapa banyak alternatif, model, dan keputusan dalam kebijakan publik?
5. Apakah Pasar sempuna dan pasar tidak sempurna dan koreksi kebijakan?
8
6. Bagaimana hubungan antara analisis kebijakan dan kelayakan politik?
7. Apa yang dimaksud dengan siklus analisis kebijakan ?
D. Tujuan Penulisan
Berdasarkan permasalahan yang
dirumuskan diatas, maka penulis dalam buku ini bertujuan untuk menganalisa apa sebenarnya yang dimaksud dengan analisis kebijakan untuk keputusan-keputusan yang bersifat publik. Secara operasional, masalah-masalah yang akan dijawab melalui penulisan laporan buku ini adalah untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai hal-hal berikut ini :
1. Pengertian analisis kebijakan
2. Masalah yang dihadapi dalam analisis kebijakan, khususnya untuk keputusan-keputusan yang bersifat umum/publik
3. Kriteria yang di gunakan untuk penentuan pilihan (dalam pengambilan keputusan )
4. Alternatif-alternatif, model-model, dan keputusan-keputusan dalam analisis kebijakan
9
5. Pasar sempurna, dan tidak sempuna dan koreksi kebijaksanaan
6. Hubungan antara analisis kebijakan dan kelayakan politis dan
7. Siklus analisis kebijakan E. Sistematika Penulisan
Buku yang dilaporkan, “Policy Analysis for
Public Decision”, ditulis oleh Duncan MacRae, Jr dan
James A Wilde, diterbitkan di AS, oleh University Press of America, pada tahun 1985. MacRae dan Wilde menyajikan pemikiran-pemikirannya tentang analisis kebijakan untuk keputusan-keputusan publik. Sistematika penulisannya dimulai dari pengertian analisis kebijakan, masalah-masalah analisis, kriteria dan ketentuan alternatif pilihan, model, dan keputusan. Buku ini dilengkapi dengan biografi, indeks, tabel-tabel, diagram-diagram, bahkan rumus-rumus statistik yang digunakan dalam penelitian analisis kebijakan.
10
BAB II
ANALISIS KEBIJAKAN KEPUTUSAN PUBLIK
A. Apakah Analisis Kebijakan
Suatu kebijakan biasanya mencakup peraturan, atau menentukan cara bertindak sehingga bisa menjadi acuan bagi banyak kasus. Sebagaimana Macrae dan Wilde tegaskan dalam buku ini, menganalisa kebijakan dengan alasan untuk memilih fakta sebagai alternatif di antara urutan kebijakan yang terbaik. Setiap anggota dalam setiap komunitas memiliki kesempatan untuk mempengaruhi pilihan-pilihannya, apakah dengan cara pemungutan suara atau voting, bekerja dengan kelompok-kelompok yang terorganisir, bicara atau
11
menulis surat, atau dengan mempublikasikan pemikiran-pemikirannya mengenai issue-issue tertentu.
Biasanya tipe-tipe pilihan ini berbeda antara komunitas satu dengan komunitas lainnya. Komunitas nasional (pemernitah) membuat pilihan pilihan tentang perpajakan, pembelanjaan negara, peraturna dan kebijaakn militer. Negara, kota, daerah lokal, daerah istimewa fokus dengan berbagai masalah yang sama, misalnya kebijakan tentang pendidikan dasar dan menengah, transportasi, keamanan dan perlindungan kebakaran, pembuangan sampah/barang bekas , rekreasi lokal. Maka dari itu kajian analisis kebijakan merupakan konsep-konsep, dan prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk membantu individu membuat pilihan secara cerdas, beretika dan efektif. Dalam suatu kebijakan, program pilihan secara signifikan dapat mempengaruhi banyak orang. Jika pilihan itu dilakukan oleh pemerintah, maka pilihan itu disebut sebagai ”pilihan publik”. Jika pilihan itu dilakukan oleh swasta atau individu yang memiliki pengaruh, maka hal ini juga masih dapat mempengaruhi
12
banyak orang. Intinya bahwa dalam berbagai catatan analisis kebijakan lebih memperhatikan kehidupan sesama manusia .
Analisis kebijakan adalah penggunaan alasan dan bukti untuk memilih kebijakan terbaik diantara sejumlah alternatif. Analisis kebijakan adalah sebagai suatu metode menggunakan argumentasi rasional dan fakta-fakta untuk menjelaskan, menilai, dan membuahkan pemikiran dalam upaya memecahkan masalah publik. Atau suatu prosedur yang menggunakan metode inquiri dan argumentasi berganda untuk menghasilkan dan mendayagunakan informasi kebijakan yang sesuai dalam suatu proses pengambilan keputusan yang bersifat politis dalam rangka memecahkan masalah kebijakan.
Pendekatan dalam analisis kebijakan
menggunakan pendekatan deskriptif dan
normatif. Pendekatan deskriptif dimaksudkan untuk menyajikan informasi apa adanya kepada pengambil keputusan, agar pengambil keputusan memahami permasalahan yang sedang disoroti dari suatu isu kebijakan. Sedangkan pendekatan
13
normatif dimaksudkan untuk membantu para pengambil keputusan dalam memberikan gagasan hasil pemikiran agar para pengambil keputusan dapat memecahkan suatu kebijakan.
Dalam analisis kebijakan ada dua paradigma metodologi yang sering dipakai, yaitu paradigama
kuantitatif dan paradigma kualitatif. Namun
paradigma kualitatiflah yang sering dipakai karena analisis kebijakan pada dasarnya merupakan suatu proses pemahaman terhadap masalah kebijakan sehingga dapat melahirkan gagasan dan pemikiran untuk pemecahannya.
Prosedur analisis kebijakan pendidikan tinggi mempertimbangkan tiga hal yaitu, pertama fungsi
alokasi yaitu mengalokasikan agenda penelitian,
pengembangan, dan analisis kebijakan itu sendiri, kedua fungsi inquiri yaitu penemuan yang bersifat integral dari semua agenda yang telah dilakukan, ketiga fungsi komunikasi dilaksanakan jika analisis kebijakan telah menghasilkan berbagai gagasan atau usulan kebijakan yang realistis. Isu-isu sttrategis dalam dunia pendidikan dewasa ini meliputi tiga hal yaitu pemerataan dan perluasan akses, peningkatan
14 mutu, relevansi dan daya saing, serta penguatan tata
kelola dan akuntabilitas.
B. Komponen Komponen Analisis Kebijakan
Setiap pilihan analisis kebijakan melibatkan serangkaian elemen umum. Bab-bab selanjutnya dalam buku ini menjabarkan elemen-elemen analisis kebijakan secara rinci dan meringkasnya secara singkat, serta akan menunjukkan hubungan lebih lanjut antara analisis kebijakan dan bidang lainnya. 1. Definisi Masalah (bab 2). Dalam
mendefinisikan masalah, seseorang memiliki dua tugas, yaitu memahami bagaimana pandangan orang lain tentang masalah dan mendefinisikannya kembali dengan lebih jelas untuk keperluan analisis. Seseorang dapat memperbesar (memperluas) masalah dengan ruang lingkup negara atau dunia dan memasukkan langkah-langkah alternatif untuk mengatur masalah yang dihadapi, juga dapat membatasi definisi masalah ke tingkat lokal dan mempertimbangkan kebijakan lokal untuk mengatasi kekurangan tersebut. Ketika
15
seseorang memilih diantara berbagai definisi masalah, juga akan secara eksplisit atau implisit memilih lamanya waktu yang dibutuhkan untuk analisis dan kemudahan atau kesulitan untuk mendapatkan rekomendasi. Jika definisi tentang masalahnya sama dengan yang dipegang (diketahui) oleh orang-orang yang dapat mempengaruhi adopsi solusi, tugas dalam mengimplementasikan solusi akan lebih sulit daripada jika harus membujuk mereka untuk menerima definisinya.
2. Kriteria Pilihan (bab 3). Analisis kebijakan yang sistematis membutuhkan pernyataan kriteria yang jelas dan konsisten dengan kebijakan yang akan dinilai. Kriteria ini adalah pokok masalah filsafat atau etika tetapi juga dipertimbangkan dalam ilmu sosial, terutama dalam ilmu ekonomi dan politik. Beberapa interpretasi dari pilihan melihat perbedaan berdasar pada kepuasan dari preferensi warga negara. Namun, ada perbedaan antara memilih dalam hal preferensi egois -memilih untuk diri sendiri- semua orang - memilih dalam hal
16
kesejahteraan umum. Kita masih akan meminta analis kebijakan untuk peduli, bukan dan memilih dalam hal memaksimalkan kepuasan gabungan dari preferensi dengan kepuasan preferensi pribadi, tetapi dengan kombinasi preferensi semua. Ini termasuk keadilan atau kesetaraan individu; perkembangan atau
kesempurnaan individu; dan "kualitas
kehidupan" subyektif individu.
3. Alternatif, model, dan keputusan (bab 4). Untuk merumuskan kebijakan, berbagai alternatif atau kemungkinan yang akan menyelesaikan masalah, meminimalkan efek samping yang berbahaya, menghindari keberatan politik, dan menghasilkan informasi yang akan membantu pilihan lebih lanjut. Harapannya bahwa suatu kebijakan akan menangani masalah atau mempengaruhi suatu nilai biasanya didorong dari beberapa model umum proses sebab akibat. Model analisis kebijakan mengaitkan alternatif kebijakan dengan kriteria atau nilai yang ditentukan, seperti yang ditunjukkan Gambar 1-1 berikut :
17
Untuk satu jenis nilai seperti efisiensi, ekuitas, pengembangan manusia, atau kesejahteraan subjektif kita perlu tahu apakah suatu kebijakan akan menyebabkan nilai tersebut lebih daripada yang lain. Hubungan sebab akibat semacam ini sesuai dengan panah solid
horisontal pada Gambar 1- 1. Untuk jenis nilai
atau kriteria lain seperti larangan moral atau konstitusional, mempertimbangkan kebijakan itu sendiri dan bukan konsekuensinya, ALTERNATIVE S Policy 0 (do nothing) Policy 1 Policy 2 Policy 3 CRITERIA
How much does each policy alternative produce of – Efficiency? Equity? Human developing? Subjective well-being? Etc. Model of Causation Direct relation Other variables not
controlled by policy
Is policy morally prohibited? Is policy constitutionally
Gambar 1.1. How a Model Relates Alternatives to
18
sebagaimana ditunjukkan oleh panah putus-putus. Model ini juga harus memperhitungkan variabel, selain yang dirubah oleh kebijakan, yang mempengaruhi hasil yang dipertimbangkan, sebagaiman ditunjukkan oleh panah padat diagonal. Panah mengandung implikasi probabilitas atau kekuatan sebab akibat, terkait dengan kelayakan. Dengan demikian tidak diperlakukan sebagai kriteria penilaian. Model dapat melibatkan teori ilmu alam, seperti hukum mekanika, atau generalisasi ilmu kedokteran, seperti hubungan yang diharapkan antara pemberian obat dan pengurangan gejala. Hal tersebut mungkin juga merupakan simulasi yang lebih kompleks dari sistem alami, sosial, atau mesin manusia. Pilihan kebijakan biasanya memerlukan pengumpulan informasi tentang konsekuensi yang diharapkan dari kebijakan alternatif. Sumber informasi pertama yang harus Anda cari terletak pada studi sebelumnya tentang masalah atau pilihan yang serupa. Sumber kedua terletak pada generalisasi atau penelitian ilmiah yang tersedia.
19 4. Kelayakan Politik (bab 6). Memilih tindakan
yang akan membantu menerapkan kebijakan yang diusulkan biasanya merupakan bagian paling sulit dari analisis kebijakan. Ini membutuhkan keterampilan pribadi, pengetahuan terperinci tentang institusi dan kepribadian politik, dan sering kali keberuntungan juga. Bahkan kebijakan terbaik yang dapat dibayangkan, sebagaimana dinilai dalam istilah etis (moral), tidak mungkin untuk diberlakukan karena perlawanan dari orang-orang yang akan dirugikan olehnya atau menganggapnya tidak diinginkan atau tidak bertindak dari orang-orang yang memberikan prioritas rendah. Selain itu, nilai-nilai pribadi Anda sendiri dapat mengganggu upaya Anda mencapai kesejahteraan umum. Kondisi untuk memaksimalkan kelayakan politik berbeda-beda tergantung pada orang. Dalam menilai kelayakan Anda harus membuat penilaian intuitif yang tidak mudah diungkapkan dalam istilah ilmiah. Jika ingin menjadi analis yang efektif, maka harus mengetahui siapa yang
20
bertindak berdasarkan rekomendasi Anda, apa yang memotivasi dan memengaruhi pribadi-pribadi masing-masing, dan bagaimana rekomendasi itu diprioritaskan. Anda juga harus menyadari peran Anda sendiri dalam kaitannya dengan individu yang mungkin Anda pengaruhi - dalam mengatasi masalah Anda, dalam berkonsultasi dengan orang lain ketika analisis Anda berlanjut, dalam mengantisipasi reaksi mereka, dan dalam menerjemahkan temuan Anda ke dalam istilah yang dapat dipertukarkan dan dapat diterima oleh khalayak.
5. Siklus Analisis Kebijakan (bab 7). Setelah kebijakan itu mengambil bentuk program tertentu, serangkaian program, atau mungkin eksperimen, dapat dipertimbangkan kembali sebagai opsi kebijakan mengingat informasi yang diperoleh dari pelaksanaannya. Siklus kedua dari analisis kebijakan ini mungkin mengharuskan kami merancang implementasi kebijakan awal untuk menghasilkan data yang berguna mengenai seberapa baik kerjanya.
21
Dalam evaluasi ini, nilai-nilai dari mereka yang melaksanakan program yang ada dan pertaruhan politik dari mereka yang berkomitmen padanya memengaruhi definisi masalah, kemungkinan mengumpulkan informasi, pengembangan kriteria, dan generalisasi pertanyaan yang diajukan. Meskipun kita akan membahas lima elemen analisis kebijakan ini secara terpisah, dalam praktiknya mereka saling terkait. Kita telah melihat pada Gambar 1-1 bagaimana kriteria, alternatif, dan model saling berhubungan. Definisi masalah oleh mereka yang terlibat membantu kami dalam penilaian kelayakan. Kebijakan yang kami usulkan mungkin merupakan respons terhadap satu kelompok yang memiliki masalah tetapi tidak terhadap kelompok yang mungkin menentangnya. Selain itu, kriteria penilaian terlibat sepanjang proses atau analisis. Definisi masalah, biasanya dibuat dalam hal nilai-nilai yang ditangani atau dapat dicapai. Kriteria penilaian adalah variabel akhir dalam model kami, dan penilaian kelayakan
22
23
BAB III
DEFINISI PERMASALAHAN
Dalam mendefinisikan masalah pada konteks analisis kebijakan, ada dua hal yang harus diperhatikan.
Pertama, memahami bagaimana orang lain memandang
masalah tersebut, dan kedua, mendefinisikannya dengan cara yang lebih fleksibel untuk kebutuhan analisis selanjutnya. Suatu definisi permasalahan sering mempengaruhi tujuan tertentu atau nilai yang dicari. Nilai tujuan tertentu yang sangat pokok yang dimiliki kelompok tertentu, memerlukan hubungan dengan definisi akhir yang lebih bernilai secara menyeluruh.
24
Analisis kebijakan dimulai dengan pernyataan yang jelas tentang masalah yang usulkan untuk dianalisis. Masalah akan didefinisikan terlebih dahulu, mempertimbangkan cara lain untuk mendefinisikannya, untuk meningkatkan analisis dan mengantisipasi masalah kelayakan politik yang dihasilkan dari perbedaan pandangan orang tentang masalah tersebut. A. Kondisi Masalah dan Persoalan Analis
Sebagai analis perlu mempertimbangkan untuk mendefinisikan kembali masalah dengan menggeneralisasikannya, membuatnya lebih spesifik, atau mengusulkan alternatif baru. Selain itu, juga harus mempertimbangkan redefinisi yang baik karena nilai-nilai yang melibatkan berbagai bidang masalah saling terkait. Kebijakan di satu bidang akan mempengaruhi nilai atau masalah di bidang lain, atau karena kebutuhan akan dukungan memerlukan reformulasi yang lebih dapat diterima oleh pendukung yang potensial.
Masalah (atau peluang), tediri dari seperangkat defenisi masalah dari orang lain - mereka yang dapat mempengaruhi pilihan kebijakan
25
atau dipengaruhi oleh mereka. Berbeda dengan situasi masalah, aspek situasi yang dipilih untuk dikerjakan sebagai masalah analis. Kita dapat menggeneralisasi situasi masalah atau memilih sebagian masalah, situasinya berkaitan dengan nilai-nilai yang lebih umum atau lebih tepat, mencoba untuk menyelesaikan berbagai pandangan orang yang terkena dampak atau orang yang membuat keputusan, atau memilih sudut pandang suatu kelompok peserta lebih dari yang lain.
Oleh karena itu, mulai dengan melihat keprihatinan masyarakat serta masalah-masalah substantif yang menjadi perhatiannya. Dengan demikian deskripsi situasi masalah merupakan deskripsi dari keprihatinan orang. Perumusan masalah analis adalah pernyataan substantif masalah yang melibatkan alternatif kebijakan dan konsekuensinya. Salah satu cara untuk dapat mendefinisikan kembali situasi masalah adalah dengan berusaha merumuskan nilai-nilai umum yang mendasar. Sulitnya untuk menyelidiki semua kebijakan alternatif yang mungkin dapat menangani masalah tertentu dan menganalisis konsekuensinya.
26
Pandangan awal yang luas diinginkan, tetapi keterbatasan waktu dan sumber daya biasanya mengharuskan kita untuk berkonsentrasi pada beberapa alternatif untuk analisis intensif.
Gambar 2-1. menunjukkan beberapa contoh masalah dari berbagai tingkat originalitas. Setiap masalah umum yang terdaftar menggabungkan dua atau lebih masalah tingkat menengah.
Definisi situasi masalah seringkali menyiratkan bahwa tujuan atau nilai tertentu harus dicari. Nilai-nilai seperti tujuan organisasi tertentu, yang penting hanya untuk anggota organisasi tertentu, perlu dikaitkan dengan tujuan yang lebih ditentukan oleh nilai-nilai umum. Kemampuan kami untuk melihat melampaui tujuan organisasi tertentu ke nilai yang lebih besar yang dapat digunakan oleh organisasi ini sebagai analogi dalam kebijakan internasional. Klaim-klaim yang saling bersaing tentang pandangan umum dan khusus tentang masalah merasuki baik teori maupun praktik analisis kebijakan. Dalam pergantian yang diusulkan ini, yang ia sebut "pemindaian campuran," seseorang dapat mengambil pandangan
27
yang lebih luas pada waktu-waktu tertentu dan pada waktu lain bekerja dalam sekumpulan kendala yang untuk sementara diberikan. Dari yang lebih luas, melihat masalah dan nilai tujuan dapat dilihat secara lebih umum; dan berbagai alternatif kebijakan yang layak - mungkin dalam jangka panjang - dapat diperbesar.
28 Gambar : 2-1
Specific and Genaral Problems Blackout of electrical power Gasoline shortages Natural-gas shortages Water shortages Air pollution Water Reso urch shorta ges Interrelated problems of energy, ecology, population ( “spaceship Earth”). Disorganization of modern society Need for New resources Inefficiency in use of resources Exess population in relations to resources External, nonmarket effect of the economy, releted to the population decinty SPECIFC INTERMEDIATE GENERAL Problem in functioning of criminal justice system Increases in crime Need for day care for working mother Need for equal employment for women Need for equal employment for minorities Poverty Need for equality in education Need for equality in ehousing Need for excellence and l d hi General problems of crime and justice Family disorganization Economic inequality
29 B. Perubahan Struktur Masalah Keputusan Politik
Dalam pandangan yang sangat luas dapat mempertimbangkan untuk mengubah struktur sistem keputusan daripada membuat keputusan individu dalam sistem tersebut. Pilihan antara pandangan yang lebih luas dan sempit tergantung pada tingkat kepercayaan yang dimiliki dalam kombinasi bagian-bagian dalam keseluruhan system, juga tergantung pada diagnosis tentang kemungkinan dan sumber-sumber yang dapat dicurahkan untuk analisis dan tindakan. Keputusan hanya berurusan dengan masalah yang lebih kecil dalam buku ini mencerminkan sebagian kesesuaiannya di tingkat pengantar dan sebagian keyakinan bahwa masalah yang lebih besar dapat diatasi utuk langkah berikutnya.
C. Bagaimana Situasi Permasalahan Muncul?
Masalah sosial yang diketengahkan oleh Robert K. Menton, sangat penting agar terdapat kecocokan antara keadaan yang diharapkan dan keadaan yang terjadi. Suatu definisi yang mendekati
30
keadaan yang tidak sesuai dengan nilai yang signifikan dari berbagai kalangan msyarakat yang menyetujuinya, memerlukan tindakan untuk merubah situasi.
Definisi mengenai permasalahan sosial memberi harapan masyarakat tentang kebenaran terbaik yang diinginkan, suatu perubahan atau efektifitas yang diinginkan dan mereka ajukan. Tugas kita adalah menyajikan kebijakan antara dua kebenaran dan efektifitas yang diperlukan dan jarang dicurahkan untuk suatu permasalahan yang penting, serta menawarkan harapan yang sesungguhnya untuk penawar.
Agar memahami berbagai prespektif terhadap suatu masalah yang kita cari akar permasalahannya, sesuai harapan masyarakat dengan urusan subjektifnya. Maka kita harus menggambarkan situasi permasalahan dengan nilai estimasi perorangan atau kelompok yang merasa tertantang.
Salah satu sumber permasalahan adalah perubahan sosial yang secara perlahan meningkat dari kehidupan masyarakat, seperti masalah
31
ekonomi, perubahan demografi, alih profesi pekerjaan, sebagai salah satu sisi kekuatan negara. Kemajuan Barat yang menyebabkan masalah regional, dahulu dianggap skeptik, saat ini dapat dikompromi. Perubahan teknologi juga menjadi salah satu permasalahan. yang terpenting
Perubahan kekuatan yang berhubungan antara kelompok-kelompok juga dapat menjadi masalah sehingga bercabang-cabang, melebihi hubungan kekuatan mereka sendiri. Perubahan sosial mungkin mempengaruhi kedua substansi yang terbuka (mengenai kasus migrasi) dan tingkah masyarakat mengenai masalah yang dihadapi. Kasus proyeksi migrasi akan menjadi bagian analisis-analisis kita tentang kondisi kebijakan di bawah. Tugas pertama dari analisis kebijakan sebagai alasan penelitian dari suatu permasalahan yang dimunculkan, juga saran yang berhubungan dengan situasi sosial terhadap perorangan.
Analisis perseorangan mempengaruhi proses yang lainnya dengan symbol yang dimanipulasi golongan, yang semestinya menyajikan tes sebagai alasan umum dengan sedikit fakta yang menyeluruh
32
untuk keadilan bersama.
D. Penggunaan Statistik untuk Mendefinisikan Permasalahan
Keinginan masyarakat yang kuat tergantung pada pengalaman mereka di masa lampau. Indikasinya adalah, perubahan yang menyeluruh terutama mengenai ekonomi atau masyarakat, yang diketahui sebagai indikator sosial. Sebagai tambahan untuk membandingkan data selanjutnya, dapat membandingkan data antara populasi kelompok sebagai cara mendefinisikan permasalahan.
Statistik sangat penting untuk mengidentifikasikan permasalahan, sehingga sering digunakan untuk perbandingan antara situasi aktual dan situasi yang lainnya. Dengan demikian harapan bisa terduga, dan dapat mendefinisikan suatu masalah dengan hati-hati.
33 Table 2-1.
Pengeluaran Militer AS dan Uni Soviet, 1936-1948 (Military Expenditures)
Year (billon dollars) US Billion rubles)* USSR
1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 0.91 0.94 1.03 1.08 1.50 b 6.04 23.94 63.16 76.70 8L22 43.18 14.39 b 11.77 14.8 20.1 27.0 4L0 b 57.1 70.9 108.4 124.7 137.9 128.2 72.2 68.5 66.0 Source:
Ole R. Holsti The Baseline Problem in Statistics: Examples front the Study of American Policy," Journal of Politics 37(1975): 190. Reprinted by permission of The Journal of Politics, © 1975. Old rubles (officially valued at $20). b Figures selected by Kolko and Kolko to depict tree
Harapan sebagian orang bergantung pada apa yang dialami di masa lalu. Indeks semacam ini, yang mengukur trend ekonomi di masyarakat, dikenal sebagai indikator ekonomi atau sosial. Selain membandingkan data dari waktu ke waktu, juga
34
dapat membandingkan data antara kelompok populasi sebagai cara untuk mendefinisikan masalah.
Tabel 2-2 menyajikan perbandingan antara kulit putih dan non-putih rentan terhadap kejadian kematian dini (sebelum usia 65) dari berbagai penyebab pada tahun 1972. Untuk setiap baris dalam tabel, kemungkinan kematian dini dihitung untuk non-kulit putih dan untuk kulit putih, dan rasio keduanya dimasukkan dalam tabel. Non-kulit putih ditemukan 8,9 kali lebih mungkin meninggal lebih awal dari pembunuhan seperti halnya orang kulit putih. Untuk TBC, rasionya adalah 5,4 dan seterusnya sampai rasio terakhir dan terendah dalam tabel, 037 untuk bunuh diri.
35
Table 2-2.
The Ratio of Nonwhite to White Early Death Rates for Varidus Causes of Death in 1972
Likelihood of Early Death from This Cause for Nonwhites As a Multiple of the Cause of DeathLikelihood
for Whites at 1972 Mortality Rates
Homicide 8.9
Tuberculosis 5.4
Nephritis and Nepitrosis 4.8
Diabetes Mellitus 3.1
Influenza and Pneumonia 2.5
Appendicitis 2.4
Hernia and Intestinal Obstruction 2.0
Infant Mortality 2.0
Cirrhosis of Liver 1.9
Accidents, other than Motor Vehicle 1.8
Cardiovascular Disease 1.7
Peptic Ulcer 1.7
Malignant Neoplasms (Cancer) 1.3
Motor Vehicle Accidents 1.2
Suicide 0.57
Source:
James W. Vaupel, "Early Death: An American Tragedy," p. 109. Reprinted with permission from a smposiumon Valuing Lives appearing in Law and Contemporary Problems Volume XL,
36 Number 4, Autumn, 1976, published by the Duke University School of Law, Durham. North Carolina. Copyright 1977 by Duke University.
Contoh yang kami berikan menunjukkan bahwa statistik merupakan sarana penting untuk mendefinisikan masalah; bahwa mereka sering digunakan untuk melakukan perbandingan antara situasi aktual dan situasi lain di mana harapan kita didasarkan; dan bahwa mereka harus digunakan dengan hati-hati dalam mendefinisikan analis masalah.
E. Mendenfinisikan kembali permasalahan
Ketika memilih definisi tentang analisis masalah dan analisis kita, kemudian mengarahkan untuk membuat rekomendasi, perlu menyampaikannya keapada orang lain bahwa definisi kita lebih baik daripada mereka. Persuasi ini mungkin dimulai sebelum analisis selesai.
Dalam proses persuasi dan diskusi, adanya kemungkinan untuk mendefinisikan kembali masalah yang lebih penting atau kurang penting, lebih umum atau kurang umum, atau melibatkan
37
nilai-nilai yang berbeda dari yang disajikan sebelumnya. Dalam mendefinisikan kembali masalah, sering memiliki kemungkinan untuk menyalahkan orang atau institusi. Dengan demikian, beragam pandangan tentang masalah yang menjadi dasar peserta dapat ditekankan dan dipolarisasi melalui eskalasi counteraccusations.
F. Definisi Pilihan Analisis
Analis warga dapat mempertimbangkan semua cara redefinisi yang baru saja kami jelaskan. Definisi awal suatu masalah seringkali terkait dengan penyebabnya yang nyata. Warga-analis diharapkan mengambil perspektif yang luas dan mempertimbangkan terkait bagaimana kebijakan muncul. Dengan mempertimbangkan berbagai konsekuensi dan kepentingan definisi masalah, dapat menilai di antara kebijakan dengan cara yang lebih mencerminkan kepentingan publik, dengan tujuan meningkatkan tidak hanya kesejahteraan umum tetapi juga kelayakan politis.
38
BAB IV
KRITERIA PILIHAN KEBIJAKAN
Untuk memilih kebijakan terbaik dari sekumpulan alternatif, kita harus mengetahui secara jelas tentang arti "terbaik." Memilih makna yang jelas untuk "terbaik" akan memungkinkan kita untuk mengumpulkan data yang relevan dan membandingkan hasil kebijakan yang diharapkan untuk melihat mana yang terbaik. Pedoman yang dapat gunakan untuk menyatakan dan menyesuaikan kriteria untuk pilihan kebijakan berasal dari banyak sumber, namun sumber penting dari kriteria yang digunakan dalam analisis
39
kebijakan adalah disiplin ekonomi. Selain itu, Ekuitas (Keadilan/kesamaan-equty) atau kewajaran/kejujuran (fairness) menjadi penting untuk analisis kebijakan. Kriteria semacam ini dapat digunakan dalam analisis kebijakan jika dapat diukur secara kuantitatif.
A. Bentuk Prinsip System Moral (Etis)
Kita sering memulai dengan mengumpulkan nilai khusus dan umum dimana selanjutnya kita mengaturnya secara sistematis Kita harus mencoba membabat kriteria prinsip moral yang jelas sehingga mereka dapat menggunakan analisis yang luas konsistennya sehingga bisa menggabungkan berbagai nilai dan menyeluruh sehingga mereka akan membandingkan suatu rentang yang luas
sebagai alternatif kebijaksanaan. Kita telah
membicarakan tentang kemaslahatan bersama serta ketertarikan umum sebagai bentuk yang merujuk pada bentuk kriteria dengan maksud prinsip moral. Tetapi bentuk ini terbentuk dengan sendirinya maka moral diperlukan.
B. Keinginan dan Kelayakan Politik
40
tetap dengan satu sama lainnya untuk suatu
kemungkinan yang sama sebagai alternatif. Suatu
ukuran yang akan kita tetapkan agar mendekati kejelasan, berkelanjutan dan jaringan menyeluruh
yang bermanfaat sebagai alternatif. Suatu ukuran
yang akan kita tetapkan sehingga mendekati kejelasan, berkelanjutan dan jaringan menyeluruh yang bermanfaat untuk analisis, yaitu dengan menggunakan lengkungan kriteria tunggal, suatu system yang berkelanjutan.
Kriteria yang digunakan untuk semua pilihan bagaimanapun juga hal ini sangat umum dan mungkin hal itu tidak ada sesuai nilai moral.
C. Sifat Kriteria Keadilan yang diinginkan dan kebijakan/ keputusan yang mungkin dilaksanakan.
Maksud dari kata “baik” dari yang kita dipilih
untuk dilaksanakan dengan sesuatu yang
diinginkan dari suatu kebijakan, apakah berhubungan dengan kebijakan umum atau standar umum mengenai moral. Kita diminta pula untuk membedakan yang diinginkan dari suatu keputusan
41
yang mungkin dilaksanakan, membandingkan suatu kemungkinan sehingga suatu keputusan dapat dijadikan atau dijalankan.
Nilai akhir yang dihasilkan dari suatu keputusan juga tergantung pada beberapa banyak usaha kita dan hasil kerja kita. Keputusan yang tidak mungkin dilaksanakan, sebab nilai yang sebenarnya bisa ditemukan oleh adanya penelitian. Banyak sistematika kajian tentang memilih keputusan meski terfokus searah dengan apa yang
dilaksanakan sesuai dengan harapan. Total
keputusan yang dijalankan bukan hanya dijalankan suatu kebaikan tetapi juga suatu analisis yang mendalam seperti diplomasi, mungkin suatu seni pertama kita menentukan yang relative berhaga dari suatu kebijakan. Kita mulai menjumpai alternative yang tidak mungkin dijalankan tanpa adanya bantuan dan memerlukan koordinir yang jelas tentang alternatif-alternatif tersebut.
Kondisi yang terpenting untuk kemungkinan dijalankan dengan mudah satu kebijakan harus ada persetujuan dari masyarakat untuk mendukung
42
dalam diskusi kita apa satu keputusan akan menjadi besar manfaatnya dari yang lainnya, para pelaksana alternative perbandingan atau “kebijakan terbaik” akan berpengaruh pada beberapa perbandingan dengan kriteria teleologis.
Untuk memilih berbagai keputusan dalam peraturan sosial yang tertentu (warga Negara, pegawai negeri, pekerja) ini membuat suatu perlakuan yang besar dari aturan-aturan yang ada. Kriteria-kriteria teleologis dibuat secara jelas, mereka sering mengambil jalan pintas maka sebab dari itu kita harus memaksimalkan ketentuan yang terus menghasilkan secara menyeluruh diantara jalan pintas kesejahteraan, pilihan yang memuaskan, jaringan yang berguna, dan perbandingan secara keseluruhan dari keistimewaan ini tampak yang bukan merupakan teleologis biasa mempunyai ciri-ciri tersendiri. Mereka menyuplai kelas khusus terhadap tindakan yang dilarang sehingga tidak terjadi pada kelas lainnya. Suatu cara untuk memutuskan dua tipe yang prinsip atau kebersamaan yaitu dengan menggunakan system perhitungan yang konsisten, hanya untuk
43
memaksimalkan norma, ukuran teleologis yang diikuti oleh nonteleologis yang dipaksakan. Kita bisa menunda alternative yang kita pilih dengan penghapusan dari analisis kita sehingga melarang adanya paksaan dari semua alternative tersebut bisa dilaksanakan dengan mudah.
Persetujuan ini membutuhkan pendekatan-pendekatan terhadap system deduktif/awal supaya persetujuan dapat bersatu. System deduktif digunakan sebagai analisis untuk membandingkan
akibat yang ditimbulkan oleh keputusan. Meskipun
kita diminta untuk belajar memilih analisis keputusan dalam bentuk kriteria moral umum, karena mereka melakukannya karena kejelasan yang tenis-menerus adalah bagian terpenting dari pendidikan tentang problem masyarakat. Banyak analisis professional siap melakukan analisis yang bermanfaat, oleh karena itu kita akan menemukan banyak guna untuk mengerti alasan terhadap system nilai.
D. Moral: Tujuan dan keharusan
Analisis yang luar biasa menggunakan dua tipe perbedaan mengenai kriteria moral untuk
44
memilih ketentuan. Satu tipe diketahui sebagai “Teleologi” dari bahasa Yunani yang berasal dari kata “Telos atau end” yang memperhatikan tujuan akhir (hasil) bertindak dengan konsisten suatu kebijakan kita yang berbentuk hukum atau
kebenaran. Kita juga membuat banyak pilihan
dalam berbagai bentuk kriteria sehingga bebas dan
konsekuen atau yang “bukan teleologis”. Kriterian
non teleologis tipe yang terpenting di dunia sebagai mana mereka katakan pada kita tidak diangkat sebagai tipe keputusan yang jelas.
Standar pengukuran teleologis yang luar biasa sebagai alternative cara terpenting dengan rasa bangga untuk apa mereka mengeluarkan sebagai hasil yang spesifik. Bagaimanapun juga terdapatnya kriteria menjadi batasan yang ditentukan atau ketidak bebasan tetapi tidak muncul dari peraturan
moral atau social Ukuran lainnya tampak, sehingga
mempunyai cirri-ciri tersendiri dan nonteleologis sebagai jaminan bagi level pendidikan rendah atau masalah kesehatan seluruh warga Negara. Tetapi dari waktu ke waktu kita juga mungkin memutuskan kembali sebuah peraturan yang sangat
45
berharga dan bermanfaat. Meningkatkan atau menurunkan tingkat sumber penghasilan yang tersedia mungkin naik atau turun pada yang level
rendah. Terakhir standar ukuran antara kriteria
teleologis dan nonteleologi kadang menghasilkan perbandingan.
E. Sumber Kriteria Moral
Segenap warga Negara terdapat berbagai kelompok yang berpihak pada nilai atau system nilai, struktur keagamaan dan persetujuan yang diakui dari berbagai nilai. Contoh, nilai yang secara tidak langsung dalam etnik Yahudi Kristen. Kultur politik suatu Negara mewujudkan suatu pengertian
suatu nilai yang pantas. Tugas yang umum dalam
memformulasikan hasil untuk analisis keputusan untuk dimengerti dan memungkinkan menyatukan nilai yang bertebaran oleh partisipan serta menafsirkan nilai ke dalam bentuk yang mudah diukur.
Kriteria yang digunakan untuk menganalisa keputusan atau suatu program, selalu dengan indicator yang spesifik daripada variabel-variabel
46
yang menyeluruh sebab indikator yang khusus bisa
diukur dengan mudah. Menentukan kebijaksanaan
yang baku menjadikan masyarakat lebih baik dalam hal pengetahuan sosialnya dalam menjaga berbagai perdekatan yang berbeda. Kedua pendekatan ini berhubungan dengan berbagai karakter kedisiplinan dan catatan nilai yang tersirat dalam berbagai disiplin dengan apa tujuan yang “Terbaik” untuk menikmati suatu keadilan yang luar biasa atau kehidupan yang normal. Suatu perbandingan yang sistematis suatu kebijakan yang dihasilkan dari ekonomi yang menampilkan gambaran dalam pemasaran ekonomi atau taksiran keuntungan dalam keberhasilan yang berharga. Penelitian sosiolog dan penelitian lainnya yang dipercayakan pada survey sampel selalu menanyakan yang menarik pada masyarakat diukur berdasar ketentuan masa lalu, dan tidak membiarkan suatu pertanyaan berbentuk ilmu moneter. Ilmu politik mempunyai banyak pertanyaan mengenai tanggapan responden, opini diharapkan sebagai keputusan alternatif.
47
adalah dua keseimbangan dari suatu pemasaran yang dibandingkan secara keseluruhan. Keuntungan dari suatu kebijakan harus berupa keuntungan sosial yang dikalkulasikan sebagai perbedaan antara keuntungan mendapatkan kenaikan bayaran dan kehilangan bayaran ketika penghasilan menurun. Ketika suatu asosiasi membutuhkan pengajuan ketentuan nilai dana belanja maka jelas mencakup semua analisa nilai keuntungan pula. Jika kita menggolongkan dalam analisis kita konsep. “kesempatan yang berharga” terhadap ”kesempatan ekonomi yang berharga dari suatu nilai yang berharga pula,” maka tidak jadi dilakukan dengan alternatif penyelesaian.
Analisis yang berharga yang telah dijalankan dengan begitu intensif oleh pemerintah. Walaupun kemampuan untuk menjalankan suatu standar ukuran yang umum sebagai salah satu sifat yang terpenting dari teknik analisis ini, berusaha mengaplikasikan dengan berbagai pertemuan yang membicarakan tentang keuntungan dan
kekurang-jelasan terhadap evaluasi keuangan. Di sisi lain
48
kebijaksanaan yang baik serta kehati-hatian untuk suatu keputusan yang terbaik. Ini memerlukan suatu pengetahuan yang mungkin tidak leluasa untuk membuat suatu keputusan seperti langkah-langkah dari suatu bantuan yang diperlukan.
Analogi rasio keuntungan yang berharga dalam kasus ini yang kita tidak bisa mengkur dalam bentuk keuangan yang menguntungkan, tetapi dapat memberikan beberapa keuntungan lainnya kepada mereka. Jika keuntungan kita ataupun keunutungan keberhasilan yang digambarkan
berbentuk urutan dari suatu pekerjaan seseorang.
Rasio keuntungan yang berharga atau rasio kefektifan yang berharga dapat dilakukan untuk sebuah test yang efisien. Standar ukuran kadang
digunakan untuk memilih suatu ketentuan
efisiennya untuk masalah ini dengan maksud mendapatkan jumlah bayaran per unit yang lebih besar dari hasil yang diinginkan atau mendapatkan hasil jumlah nilai akhir.
F. Kriteria Keadilan
49
: ‘keuntungan apakah seorang ahli yang ”efisien” selalu meminimalkan biaya atau memaksimalkan
jaringan keuntungan dalam pilihan yang memuaskan hati, sehingga terfokus kepada keadilan yang sering dijalankan oleh peraturan yang menyeluruh dan kajian kebijakan umum. Bentuk keadilan yang digunakan begitu luas oleh ahli ekonomi tetapi mendekati “efisien” sebagai standar moral walaupun terdapat beberapa nilai yang dicoba mengangkat sebuah kerangka berpikir yang didalamnya terdapat sedikit perbedaan mengenai keadilan atau kejujuran yang bisa dibandingkan. Suatu percobaan sebagai gambaran suatu perbedaan antara “keadilan vertikal atau keadilan horizontal” keadilan horizontal telah menegaskan “perlakuan sama dan yang sama”.
Dalam keadilan vertikal telah ditegaskan sebagai “perlakuan tidak sama dan keadaan yang tidak sama” terbiasa menjadikan mereka mendekati
kesamaan. Kita akan sering menemukan standar
tersebut tentang keadilan vertikal yang lebih sulit untuk menerapkan dengan keadilan horizontal, bukan hanya kita memberikan alasan yang
50
menyenangkan masyarakat tentang ketidak adilan tetapi kita mesti memutuskan bagaimana ketidak
adilan bisa menyenangkan mereka. Aturan putusan
yang adil khususnya bisa menjadi penting dalam analisa bayaran yang di transfer pemerintah. Jika mereka tidak miskin maka tidak mengharapkan distribusi bantuan kemiskinan. Jika standar ukuran patreo akan melarang berbagai transfer dan yang kaya ke yang miskin.
Penafsiran lainnya tentang keadilan, sehingga masyarakat berupaya menerima terhadap apa yang mereka lakukan, kemampuan, atau dengan cara yang terbiasa, sehingga peranan penting diskusi kita mengenai pendapatan swasta bisa bermanfaat. Dari berbagai diskusi kita harus berhati-hati dalam membedakan antara kriteria keadilan dengan kriteria
keefektifan. Sebagai aspek tambahan mengenai keadilan yang bijaksana sehingga mengubah sedikit situasi masyarakat terhadap apa yang mereka harapkan masalah yang pantas muncul dengan kejahatan perorangan dengan perubahan yang legal telah diserahkan sebagai “Peralihan Kebijakan”.
51
BAB V
ALTERNATIF, MODEL, DAN KEPUTUSAN
Setelah kita memilih kriteria, untuk menganalisis pendapat, kita harus berhubungan dengan mereka untuk mengantisipasi jalan pintas suatu kebijakan untuk memilih antara berbagai kebijakan. Pertama kita harus menerapkan alternatif kebijakan yang jelas, dengan penafsiran yang luas dari berbagai alternatif yang akan dihasilkan dimana hasil (positif atau negatif) yang cocok dengan kriteria kita. Hubungan keputusan ini dengan hasil mereka yang mencakup berbagai model formulasi.
52 A. Alternatif kebijakan
Analisa kebijakan meliputi perbandingan suatu alternatif kebijakan yang mendekati bentuk kriteria khusus, tetapi tidak mempunyai pandangan. Situasi permasalahan tidak selalu mendekati bentuk aslinya. Situasi permasalahan berikutnya mungkin terfokus dalam bentuk gambaran nilai secara lisan
yang samar-samar. Dalam kasus berikutnya kita
akan menyetting sebuah daftaran alternatif
kebijakan selanjutnya untuk di analisis. Suatu
alternatif kebijakan sering menggunakan rancangan yang dipersiapkan dalam suatu undang-undang untuk dipatuhi.
Analisis yang mendalam untuk mengajukan sebuah rancangan kebijakan lebih spesifik untuk ditampilkan dalam dua bentuk. Pertama, asumsi hipotesis kita sebagai aktifitas dalam bentuk rancangan yang akan dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, ketepatan serta teruji terhadap apa yang akan terjadi. Kedua, asumsi kita harus mencakup segala aktifitas yang akan dilaksanakan terhadap beberapa perbandingan efektifitas terpercaya yang diharapkan dari suatu agensi terhadap tugas yang diberikan.
Variasi ini sebagai implementasi suatu gambaran perbedaan arti antara suatu “kebijakan” dan “suatu perencanaan”. Suatu kebijakan
53
mendekati kemiripan dengan suatu perencanaan kecuali mencakup kebiasaan kurang pasti sehingga apa yang direnungkan akan benar-benar dijalankan sebagai perencanaan yang menjamin sedikit nasehat tidak formal. Diantara alternatif kebijakan yang kita putuskan, suatu kebiasaan tanpa pelaksanaan untuk diambil tanpa adanya tindakan baru perintah, diakui situasi yang ada untuk
berlangsung. Ini penting dalam keputusan awal kita.
Sebuah gambaran alternatif dan kreatif. Suatu variasi yang melebar dari suatu alternatif yang sedang berjalan dengan aspek pembesaran dan pengadilan dari suatu permasalahan yang
membutuhkan keputusan. Suatu sumber alternatif
yang akan kita putuskan dalam bab 5 tentang operasional pemasaran. Sumber alternatif lainnya adalah pengalaman di kota-kota lain di berbagai
negara. Lebih dulu menggunakan kebijakan di
tempat lain, mempersiapkan kita bukan hanya alternatif, tetapi juga dengan informasi mengenai pengaruh mereka. Sebagai tambahan mengenai sumber alternatif adalah keilmuan kita dan teknologi.
B. Alternatif Perorangan
Pilihan alternatif anda untuk menganalisis bagian yang sebenarnya dari suatu perkumpulan
54
alternatif perorangan yang lebih besar. Satu pilihan perorangan pilihan anda untuk mencurahkan usaha anda, untuk menganalisis suatu permasalahan
dalam bentuk pertanyaan. Juga apapun pilihan
anda untuk langsung merekomendasi ke depan dari berbagai informasi yang mendetail untuk memutuskan apa yang mencakup lebih luas, dengan meperhatikan waktu untuk bertemu dan bertindak. Jika kira-kira analisis ini perlu diputuskan sehingga memerlukan analisis selanjutnya, jika anda mempunyai waktu dan sebagai inti untuk di kerjakan.
C. Model dan Cara
Untuk memilih di antara alternatif kebijakan dalam bentuk konsekuensi, kita harus memprediksikan konsekuensi mereka. Dugaan kita mengenai acuan kebijakan yang akan menghasilkan yang baik jika dikerjakan secara tidak langsung, tidak menghasilkan hal yang diharapkan terhadap penyebab dan pengaruh tersebut, dengan persiapan pemilihan model pada aspek global. karena sering berdasarkan perasaan atau pandangan suatu bangsa yang mengakibatkan dugaan semu di samping keputusan awal kita mengenai suatu alternatif.
55
tentang konsekuensi alternatif seperti model kita, memperbaiki perumusan kita, dan dalam proses perbaikan daftaran kita sebagai jalan pintas yang di
persiapkan. Berbagai variasi model perbandingan
mereka mengenai kekerasan dan tingkat kerpercayaan bahkan hanya dalam bentuk pengetahuan yang meliputi (ilmu social) tetapi juga mengenai waktu dari berbagai sumber yang telah
kita analisis. Suatu variasi yang berhubungan
dengan model kebijakan yang telah di ajukan, suatu sumber khusus penemuan bidang ilmu sosial seperti model di lapangan adalah operasional lapangan, system analisis, dan menejemen keilmuan.
Berbagai model dalam analisis kebijakan harus selalu berhubungan dengan berbagai pilihan yang memungkinkan terhadap tindakan yang di hargai atau hasil yang tidak di hargai atau variable, mutu yang berharga, harus berhubungan dengan system moral yang umum dimanapun hasil variable yang menyeluruh, sugesti kita beberapa tahun mengenai, kehidupan penghasilan,s erta efisiensi yang memerlukan hubungan dalam kebanyakan dalam system moral yang umum. Jika kita memilih diantara berbagai kebijakan yang mempengaruhi tiga perbedaan nilai.
Kita perlu mengetahui pengaruh variable non kebijakan sebagai salah satu dari berbagai
56
kebijakan. Model-model yang digunakan untuk analisa kebijakan mungkin baik, yang umum atau
yang khusus. Mungkin mereka menerapkan
berbagai situasi berbeda dengan seluruh pengetahuan yang tersedia, sehingga mungkin perpindahan dari lapangan yang satu ke lapangan
yang lainnya. Untuk mengevaluasi suatu program
yang dipersiapkan hanya pada program tersebut, rentangnya dari yang simple sampai kompleks, mengandalkan system alam yang kita gambarkan, serta waktu dan hasil yang kita gambarkan. Mungkin juga alternatif kita diantara yang simple dan model yang kompleks yang kita rubah antara yang lebih kecil dan yang lebih besar di dalam
paduan pendekatan. Pada prakteknya penerapan
analisis kita yang mendalam bukan hanya penting mengenai keputusan akan tetapi waktu serta hasil yang ada. Prinsip yang menyeluruh yang kita cari dari alternatif kebijakan, tidak hanya mencari perbaikan dengan segera dari suatu permasalahan. D. Ketidakpastian Model
Beberapa model yang kita gunakan tidak hanya kompleks dan rumit tetapi juga dalam perbandingannya jelas dengan hasil yang mereka prekdisikan. Model –model yang mencakup ilmu alam sering membuat prediksi singkat mengenai
57
ketidak -jelasan variasi statistik, ilmu sosial biasanya mencakup pengalaman yang tersurat sehingga mungkin kesalahan random yang ditampilkan dan prediksi mereka berkarakter statistik.
Model kualitatif digunakan untuk mengatakan kepada kita apapun alasannya bahwa kebijakan lebih baik daripada pilihan yang lainnya diantara berbagai politik yang luas, ekonomi, atau system sosial juga memiliki konsekuensi terhadap berbagai kemungkinan kebijaka. Tipe objektif kebijakan bahwa hubungan alternatif keputusan antara proses dalam system yang digunakan. Penafsiran kita pada suatu ketika menjadi kurang valid,tipe/ model selanjutnya yang sulit membuat penafsiran untuk mengimplementasikan kebijakan. Jika kita mempunyai pengetahuan yang sistematis, maka memutuskan sebagian yang kita pilih dari variable-variable tersebut terbatas pada perasaan yang kontak perorangan. Kita lebih dibatasi oleh analisis formal kita terhadap model yang mempengaruhi “kebijakan” untuk mengimplementasikan.
E. Model-model Statistik
Ketika mendapat ketidak pastian dalam system pembelajaran kita, ketidak pastian
58
digambarkan secara kuantitatif dalam ketidak pastian kita dapat menganalisis statisitik karena mencakup beberapa hubungan.
1. Daftar hasil
Kriteria model digambarkan dengan kata-kata clan konsep-konsep melebihi dari yang telah diperhitungkan. Dalam ilmu sosial terdapat dua keputusan yang hampir sama. Jika kita mengharapkan nilai alternatif kebijakan, pertama kita memilih indeks yang valid, berhubungan dengan kriteria valuatif kota untuk ,mengukur nilai hasil kebijakan. Analisis ini mungkin lebih untung dan berhasil dibanding kebijakan yang di buat dengan bentuk lain.
2. Menguji dan memperbaiki model.
Jika kita menyebabkan yang berhubungan dengan yang kita putuskan dan ketekunan dengan memikirkan model, cara dan akhirnya selalu digunakan clan testing kita banyak menghabiskan waktu. Tingkat permulaan model kita, khusus nya jika kita dibawah tekanan waktu mungkin tergantung pada gambaran yang kasar clan waktu yang tersedia. Untuk pengembangan dari verifikasi model akhir yang
panjang, memandang kedepan dengan
59
khususnya yang relevan. Untuk analisa kebijakan kita memerlukan bukan hanya perbaikan model kita tetapi keputusan mereka yang cukup untuk tujuan indra untuk melihat apa yang mereka perlu perbaikan. Kita harus “sensitif” mengetest hasil kita untuk merubah model variabel atau parameter model kebijakan yang berhubungan di dalam prakteknya yang memerlukan pengetestan, bukan hanya kontrol atau kondisi “laboraturium” diantara analisis serta tindakan, dapat diambil untuk berbagai tujuan, terus menerus melakukan perbaikan fungsi organisasi atau memutuskan kembali mengenai status organisasi itu sendiri.
Evaluasi penelitian dapat memudahkan pengembangan seperti berbagai model serta pengaruh yang luas. Cara penelitian sosial khususnya yang berhubungan dengn cara pengetestan dengan model kebijaksanaan yang relevan. Jika kita dapat mengkhususkan berbagai variabel itu mempermudah mahasiswa dalam penyelesaian dan baik dalam menghilangkan rasial system sekolah, kita lebih baik memutuskan suatu kebijakan mengenai system pendidikan. Konsekuensi yang di adopsi mengenai suatu kebijakan walau bagaimanapun tidak terbatas pada pengaruh yang cepat
60
terhadap perorangan yang secara langsung. 3. Diagram keputusan
Analisis kebijakan menggunakan berbagai model keputusan yang telah disetujui untuk berbagai pilihan mempunyai ciri tersendiri dalam pendekatan penggunaan diagram untuk membuat keputusan. Untuk tujuan inti, harus melampirkan berbagai nilai hasil cabang sebelah kanan, contoh-contoh yang kita berikan disini sebagai asumsi kita yang simple dan diharapkan membuat keputusan tentang populasi dari yang digambarkan, komplikasi selanjutnya ,mencakup lebih dari satu langkah dalam lingkaran suatu aksi dan observasi, dengan berbagai fokus suatu keputusan yang serius.
Kita membuat suatu keputusan dan mengobservasi berbagai hasil yang di percaya dari suatu pilihan kita dan bagian yang tidak diketahui atau variabel-variabel random kontrol kita, hasil kita selanjutnya membuat suatu keputusan lain. Dengan berbagai cabang yang dimungkinkan dalam diagram. Langkah akhir berbagai alternatif bisa lebih banyak dalam berbagai cabang pilihan bentuk ini memerlukan perhitungan yang lebih kompleks.
61
BAB VI
PASAR SEMPURNA, PASAR TIDAK
SEMPURNA DAN PERBAIKAN KEBIJAKAN
Bidang ekonomi telah berkontribusi dalam meciptakan kumpulan teknik analitik dalam model pasar, yang juga memiliki peran penting dalam analisis kebijakan. Model-model ini memberikan dua fungsi yang bermanfaat. Fungsi pertama yaitu salah satu pemahaman deksripsi, dimana model ini mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat dan meningkatkan kemampuan untuk memperkirakan hasil perubahan dalam lingkungan kebijakan. Fungsi kedua yaitu fungsi petunjuk. Mengikuti jejak Adam Smith mengenai
62
“invisible hand” (kekuasaan tak terlihat) dalam pasar, para ekonomi telah mengidentifikasi sebuah kombinasi khusus dalam kondisi pasar yang mampu menghasikan hasil terbaik, yaitu yang memuaskan pelanggan. Ketika semua kondisi ini terjadi secara simultan, terjadilah sebuah kondisi yang disebut “pasar bebas”.
Bab ini menghadirkan bagan dasar dari model pasar ekonomi. Dikarenakan keterbatasan tempat, perluasan tidak bisa diberikan kepada tingkat struktur pasar. Oleh karenanya, pasar bebas diberlakukan untuk mengilustrasikan hubungan timbal balik antara peserta pasar dan kekuatan pasar dan kita harus menguraikan perannya dalam memuaskan pelanggan.
A. Permintaan dan Penawaran dan Memaksimalkan Sumber Daya
Mahasiswa yang belajar Pengantar ekonomi sudah tak asing lagi bahwa semua yang berkaitan dengan ekonomi adalah tentang demand and supply (permintaan dan penawaran). Meskipun secara umum benar, banyak hal kompleks yang ada didalamnya.
Jika kita membayangkan permintaan adalah sebuah pasar barang konsumen, kita mengobservasi minat seorang individual, keluarga dan masyarakat secara khusus dalam barang atau jasa. Dalam mewujudkan hasratnya, para pelanggan harus
63
mengetahui sumber daya yang mereka miliki dan apakah barang tersebut membahagiakan. Mereka pun harus menyadari biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Kurva permintaan tradisional menunjukkan seberapa besar keinginan pembeli untuk membeli suatu barang dipengaruhi oleh perubahan hanya dalam satu pengaruh, yaitu harga produk tersebut. Pada setiap harga yang mungkin (diasumsikan konstan terlepas dari jumlah yang dibeli), kurva permintaan menunjukkan jumlah unik dari barang yang ingin dibeli oleh pembeli. Basis yang mendasari permintaan dan penawaran menunjukkan kepentingan yang bertentangan dari kedua belah pihak dalam hal harga, dengan permintaan lebih memilih harga yang lebih rendah dan pemasok dengan harga yang lebih tinggi.
B. Kondisi untuk Pasar Bebas
Hingga saat ini sangat sedikit yang telah dikatakan tentang kondisi yang harus ada dalam solusi pasar bebas. Salah satu yang paling umum dalam kondisi ini menentukan bahwa pembeli dan penjual harus sangat banyak di setiap pasar sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang dapat memberikan pengaruh yang cukup besar pada harga yang dihasilkan.
64
setiap pelaku pasar hanya akan merespons situasi harga, daripada secara individual menentukan harga-harga itu. Akibatnya, sinyal harga menjadi refleksi akurat dari preferensi peserta. Agar sistem pasar bebas dapat menyesuaikan diri dengan kondisi dan preferensi yang berubah, para peserta tidak hanya dibatasi memiliki pangsa pasar yang kecil tetapi juga dapat memasuki atau meninggalkan pasar secara bebas. Kondisi kunci lainnya menyangkut jenis informasi yang harus dimiliki oleh penuntut dan pemasok. Jika informasi itu tidak memadai, keputusan yang dihasilkan tidak akan benar-benar mencerminkan kepentingan peserta. C. Pengaruh dan Ajakan
Asumsi paling besar dalam model pasar bebas adalah transaksi akan menjadi bebas, tanpa adanya pengaruh atau paksaan. Pembeli dan penjual melakukan transaksi secara sukarela sehingga memungkinkan melakukan itu dengan situasi yang lebih diminati. Sangat jelas bahwa akan ada ketidaksetaraan setelah transaksi, namun sebuah transaksi yang ideal tidak akan menyengsarakan. Hingga pada kondisi ini, hukum yang legal akan hak milik akan dianjurkan.
65
Sebuah system pasar bersandar pada dasar hukum yang sah. Hukum yang mengatur transaksi ada untuk mengatur penipuan maupun paksaan. Transaksi membetuk sebuah kesepakatan antara dua pihak. Jika barang yang diberikan berbeda dari yang dijanjikan, diperbolehkan untuk mengajukan upaya hukum. Ketidak cukupan informasi akan membentuk kondisi dimana penjual dan pembeli akan berusaha untuk mencari kebenaran atas pihaknya dalam persetujuan. Salah satu fungsi dari system yang legal adalah untuk menjaga konidisi sesuai dengan perjanjian yang mana yang akan diikuti.
E. Kurangnya Persaingan
Meskipun barang terjual dengan kondisi transaksi yang sukarela dan informasi akurat, model pasar bebas mungkin saja gagal dikarenakan kurangnya persaingan. Kondisi ini muncul ketika jumlah penjual atau pembeli kurang sehingga akan berperngaruh pula pada pemasukan. Dalam kasus produsen, ini berarti keputusan untuk mengubah hasil produksinya akan mempengaruhi harga yang bisa ia peroleh. Kekuatan yang ia miliki dalam pasar mengindikasikan bahwa dia tidak hanya merespon harga pasar namun lebih ke mempermainkan harga. Dengan “kuasa” atas monopoli harga yang bukan
66
hanya tinggi tetapi juga gagal dalam memberikan harga yang akurat atas barang tersebut. Hal ini menunjukkan kegagalan koordinasi system harga yang seharusnya mempertimbangkan produsen dan konsumen.
F. Efek Eksternal pada Pasar
Meskipun ketika dorongan produsen dan pembeli yakin untuk bertransaksi di pasar bebas, kegiatan yang dilakukan bisa saja memiliki konsekuensi yang tak mempengaruhi harga dan transaksi. Seperti konsekuensi yang beristilah “efek eksternal” disebabkan mereka menyertakan orang-orang yang tidak berpartisipasi dalam keputusan pasar sehingga mengalami efek eksternal pada mekanisme transaksaksi sukarela. Hal-hal diluar pasar ini bisa negative atau positif. Jika seorang produsen atau pelanggan menciptakan penglihatan, pendengaran, bau, atau kondisi air yang akan menurunkan kesejahteraan produsen atau pelanggan lain tanpa pengganti yang sesuai untuk efek yang ditimbulkan, hal eksternal negative atau biaya tak terduga dari luar akan muncul. Masalah dengan biaya eksternal adalah bahwa produsen tidak akan menyesuaikan tingkat produksinya dan pilihan inputnya untuk memperhitungkan biaya-biaya ini. Dia tidak akan menjadi kalkulator yang
67
efektif untuk kontribusinya sendiri pada biaya dan manfaat sosial.
G. Barang Kolektif: Jenis Eksternalitas
Kita selanjutnya mempertimbangkan kategori luas ketidaksempurnaan pasar yang tumpang tindih sebagian dengan kasus penurunan biaya dan manfaat eksternal. Istilah "barang kolektif" yang mengacu pada kategori ini, dapat didefinisikan sebagai barang yang dikonsumsi secara kolektif, bukan secara terpisah, oleh dua atau lebih konsumen yang konsumsinya tidak dapat dipisahkan dengan mudah. Kita akan mendefinisikan barang kolektif bukan sebagai mengidentifikasi kasus baru kegagalan pasar tetapi lebih pada membedakan kasus sebelumnya dan menguraikan kasus kombinasi.
Barang-barang pribadi dicirikan oleh persaingan yang dimaksudkan bahwa satu orang dapat menikmati manfaat kemeja, sejumlah sumber daya atau input yang produktif harus habis sehingga tidak dapat digunakan untuk memuaskan preferensi kemeja orang lain. Oleh karena itu dua peminat kemeja adalah saingan untuk sumber daya produktif, dan dua set input akan diperlukan untuk memenuhi kedua permintaan. Dalam hal barang kolektif seperti pertahanan nasional, sumber daya
68
perlu menyediakan perlindungan seharga satu kapal selam, satu orang secara bersamaan dapat memberikan perlindungan bagi individu lain. Konsumen pertahanan nasional bukan saingan dari input pertahanan nasional, berbagi daripada bersaing untuk sumber daya.
H. Barang Kolektif: Jenis Biaya-Berkurang
Mari kita mengalihkan perhatian kita ke contoh situasi penurunan biaya, sekali lagi berfokus pada kasus-kasus ekstrim atau kutub. Mengingat bahwa dalam situasi penurunan biaya, biaya tetap dari produksi mendominasi biaya variabel, kita dapat beralih ke kasus ekstrim di mana tidak ada biaya variabel sama sekali (biaya marjinal adalah nol). Pertimbangkan kasus jembatan di mana unit output yang relevan adalah jumlah penyeberangan. Jika tidak ada keausan pada jembatan dari perlintasan kendaraan atau pejalan kaki, maka kita dapat mengatakan bahwa biaya marjinal penyeberangan adalah nol dan bahwa biaya rata-rata per persimpangan menurun secara terus-menerus ketika output naik. Anggap saja keadilan bahwa tidak ada masalah kemacetan di jembatan.
Dalam situasi jembatan yang baru saja dijelaskan, tampak jelas bahwa penyeberangan jembatan tidak saling bertentangan. Setiap