• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE POTENTIAL OF GANG BARU WET MARKET AS TOURISM DESTINATION IN SEMARANG. Abstract

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE POTENTIAL OF GANG BARU WET MARKET AS TOURISM DESTINATION IN SEMARANG. Abstract"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

POTENSI PASAR TRADISIONAL GANG BARU SEMARANG SEBAGAI DESTINASI

PARIWISATA Shinta Teviningrum

. . .

Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gunadarma Jl. Margonda Raya No. 100, Depok 16424, Jawa Barat

. . . Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk melihat potensi Pasar Gang Baru di Semarang sebagai bagian dari pembangan destinasi pariwisata. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan, wawancara narasumber, desk study. Penelitian tersebut menghasilkan temuan bahwa Pasar Gang Baru memiliki potensi untuk dikembangan sebagai sebagai destinasi pariwisata karena keunikan lokasi, karakter, dan sejarah. Kata Kunci: pasar tradisional, pengembangan pasar, destinasi pariwisata

THE POTENTIAL OF GANG BARU WET MARKET AS TOURISM DESTINATION IN SEMARANG

Abstract

This study aims to look at the potential of the Gang Baru Market in Semarang as part of the development of tourism destinations. The research method used was field observation, interviewees, desk study. The research produced findings that Pasar Baru Gang has the potential to be developed as a tourism destination because of its unique location, character and history.

Key words: Wet/traditional market, market development, tourism destination PENDAHULUAN

Semarang, sebagaimana kota besar lainnya di Indonesia, dihuni warga dengan kultur beragam. Sejarah menunjukkan adanya akulturasi budaya dengan etnis bangsa asing, yaitu etnis Tionghoa, Arab, dan Belanda. Tentang sejarah perkembangan etnis Tionghoa, khususnya mengenai Pecinan, tercatat cukup baik. Termasuk di dalam catatan tersebut adalah keberadaan pasar tradisional di Gang Baru sejak awal abad XIX hingga kini.

Kawasan Pecinan telah dikembangkan oleh Pemerintah Daerah sebagai destinasi pariwisata budaya. Pasar Semawis berada di Jalan Gg. Warung No.50, Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kotamadya Semarang, Provinsi Jawa Tengah (Intaniar) Di Pasar Semawis para pengunjung dapat menikmati berbagai kuliner tradisional Semarang juga berbagai hiburan – khususnya pada Hari Raya Imlek. Pasar Semawis diselenggarakan pada Jumat malam dan Sabtu malam. Hal itu tentu menyulitkan untuk wisatawan yang berkunjung di Semarang diluar Hari Jumat dan Sabtu malam tetapi ingin menikmati suasana pasar Pecinan.

Maka, perlu dilakukan penelitian tentang potensi Pasar Gang Baru, sebagai alternatif destinasi wisata budaya, bukan hanya dalam konsep sebagai pasar tempat berbelanja masyarakat setempat. Dengan mengetahui potensi tersebut Pasar Gang Baru dapat terus dilestarikan, Penelitian sejenis dengan fokus atau lokus berbeda pernah dilakukan, di antaranya adalah Interaksi Sosial Antar Etnis Di Pasar Gang Baru Pecinan Semarang Dalam Perspektif Multikultural, Identifikasi Karakteristik Pasar Tradisional Di Wilayah Jakarta Selatan (Studi Kasus: Pasar Cipulir, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Bata Putih, Dan Pasar Santa).

(2)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan situasi dan potensi Pasar Gang Baru Semarang. Adapun tipe penelitiannya adalah deskriptif dengan metode penelitian kualitatif. Data yang diperolah berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder didapat dari prosedur awal yaitu desk study. Data sekunder tersebut sangat bermanfaat sebagai referensi awal sebelum terjun ke lapangan untuk melakukan observasi dan wawancara. Desk study juga membantu agar penelitian berlangsung efisien dan efektif.

Metode penelitian lainnya adalah observasi lapangan dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data primer. Prosedur berikutnya adalah observasi lapangan. Observasi lapangan dilaksanakan sejak pasar buka pukul 04.30 WIB hingga tutup pada pukul 12.00 WIB. Dalam kegiatan observasi, dilakukan pengamatan dengan mengikuti berbagai kegiatan di pasar, sejak pedagang membuka kios atau menggelar barang dagangan, kegiatan di pasar selama perdagangan berlangsung hingga berakhirnya kegiatan jual-beli di Pasar Gang Baru. Dalam observasi tersebut dapat diperoleh sejumlah informan yang mampu memberikan informasi terkait dengan penelitian.

Prosedur berikutnya adalah melakukan wawancara pada narasumber dan informan di lapangan. Narasumber yang terpilih adalah , staf Dinas Pariwisata Kotamadya Semarang dan budayawan Yongki Tio, sedangkan wawancara sederhana dilakukan pada beberapa informan yakni penjual di Pasar Gang Baru. Wawancara berlangsung dalam waktu yang singkat di sela-sela kegiatan perdagangan.

Jenis penelitian adalah metodologo Naturalistik Fenomenologi. Tujuannya untuk menggambarkan secara sistematik, faktual mengenai fakta di lapangan, sifat-sifat serta hubungan antara gejala yang diteliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Beberapa teori dipergunakan untuk mengangkat Pasar Gang Baru sebagai destinasi pariwisata budaya. Pariwisata berbasis budaya merupakan kegiatan pariwisata yang menggunakan

(3)

3

selama berwisata. Varian ini memiliki ketertarikan yang tergolong rendah terhadap makanan local. Hal itu karena tujuan utamanya untuk berwisata, bukan untuk menikmati makanan lokal.

2. Culinary tourism, berupa kegiatan mengunjungi pasar tradisional, restoran lokal, festival makanan saat ke destinasi wisata, Ketertarikan pada makanan lokal tergolong sedang, karena menikmati menu lokal merupakan bagian dari aktivitas gaya hidup. Varian food tourism ini dikenal dengan istilah wisata kuliner.

3. Gastronomi tourism/cuisine tourism/gourmet tourism yaitu bepergian ke destinasi khusus untuk menikmati makanan lokal, festival makanan, atau mempelajari makanan lokal secara serius. Tujuan utama kegiatan perjalanan ini adalah menikmati, terutama mempelajari makanan local. Wisatawan jenis ini memiliki ketertarikan tinggi terhadap makanan lokal.

Dari penjelasan tersebut tampak bahwa kunjungan wisatawan ke pasar tradisional dapat dimasukkan ke dalam kelompok Culinary Tourism.

Dalam pemasaran pariwisata terdapat panduan analisis penawaran. Di antaranya tentang kecenderungan memilih suatu produk berupa adanya pengembangan produk baru yang berbeda dari yang lain. (Yoeti, 1996)

Keberhasilan pariwisata berkelanjutan menuntut adanya pengembangan yang menyangkut budaya, ekonomi dan lingkungan. (Padin, 2012)

Sejarah dan pengertian pasar tradisional

Menurut catatan sejarah, masa Kerajaan Majapahit abad 14 pasar telah ada dalam lingkungan pusat kota yang terletak di persimpangan jalan (Santoso, 2008). Menurut Eerste dalam (Adrisijanti, 2000), tahun 1646 di Kota Banten pun telah berdiri beberapa pasar tradisional yaitu di Paseban, Pecinan, dan Karangantu.

Pada masa awal tersebut pasar tradisional berupa tanah lapang tanpa bangunan permanen (Graaf, 1989). Pasar tradisional merupakan tempat berkumpul untuk berjual-beli (Graaf, 1989). Letak pasar tradisional mudah dicapai, baik oleh penjual maupun pembeli dekat desa, antar desa dan tempat yang aman dari gangguan umum (Rutz, 1987). Seiring perkembangan zaman pasar tradisional mulai menempati bangunan berupa kios, los meski masih ada yang di atas tanah terbuka.

Pasar tradisional mulai memiliki struktur. Ada bagian utama berupa kios permanen, juga los yakni bangunan darurat atau semi permanen, dan bagian ‘oprokan’ atau bagian terbuka untuk pedagang sementara yang lebih sempit daripada los (Kusmawati, 1996). Dalam lingkup lebih besar, pasar tradisonal merupakan bagian dari struktur dasar Kota Jawa. Beberapa tipikal kota tradisional jawa mengidentifikasikan bahwa pasar tradisonal merupakan bagian yang selalu ada dalam pola penataan ruang kota-kota di Jawa. (Istijabatul Aliyah)

Pasar tradisional merupakan asset ekonomi daerah sekaligus perekat hubungan sosial dalam masyarakat. Pasar tradisional tidak semata mewadahi kegiatan ekonomi berupa jual-beli, tetapi juga wadah interaksi sosial budaya, sekaligus sarana rekreasi (Pamardhi, 1997). Wiryomartono menyebutkan, kata benda “pasar” bersinonim dengan kata “pekan” atau “peken” dalam bahasa Jawa dari kata “mapeken” yang artinya berkumpul, atau tempat berkumpul untuk berjual-beli. Sebuah rekaman sejarah Jawa menyebutkan bahwa, pada tahun 1830, perdagangan melalui darat telah berkembang dengan baik. Saat itu telah ada jaringan pasar yang luas dan pasar-pasar wilayah permanen yang besar berperan penting dalam lintas perdagangan (Wiryomartono, 2000). Sebagian pasar-pasar tradisional Jawa mencerminkan pola kehidupan agraris masyarakatnya. Dengan demikian tidak lepas dari karakter matapencaharian masyarakat yang ada di sekitarnya. Sebagai suatu gambaran, pasar tradisional biasanya selalu ada kegiatan pande wesi (besi) sebagai kegiatan produksi alat-alat pertanian, dikarenakan sebagian besar pasar awalnya tumbuh di wilayah agraris (Sunoko,

(4)

2002). Dengan berjalannya waktu dan perkembangan perdagangan melalui darat pada tahun 1830, mulai ada jaringan pasar yang luas dan pasar-pasar wilayah yang bersifat permanen, dan berperan penting dalam lintas perdagangan. (Wiryomartono, 2000).

Sisi lain dari pasar tradisional adalah mencerminkan kehidupan masyarakat. Hal itu ditandai dengan dominasi sosial ekonomi masyarakat sebagai lingkungan terbentuknya pasar (Hayami, 1987). Juga menurut Bromley pasar tradisional di negara-negara Asia berlokasi di pedesaan dan area urban (Bromley, 1987).

Dalam Permendagri 2007 dinyatakan bahwa pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, swasta, koperasi atau swadaya masyarakat setempat dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, atau nama lain sejenisnya, yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil menengah, dengan skala usaha kecil dan modal kecil, dengan proses jual-beli melalui tawar-menawar. Selain itu, pasar tradisonal merupakan pusat kegiatan sosial ekonomi kerakyatan. Maka pola hubungan ekonomi di pasar tradisional memungkinkan terjadi interaksi sosial yang akrab antara pedagang-pembeli, antarpedagang, dan pedagang-pemasok.

Bahkan dapat diketahui pula bahwa eksistensi pasar tradisional, terletak pada modal sosial yang terdiri dari norma, kepercayaan, dan tawar menawar yang dapat memperkuat jaringan loyal dari pengunjung pasar untuk tetap bertahan berbelanja di pasar tradisional Andriani & Ali, 2013). Pasar pun tumbuh dan berkembang sebagai simpul dari pertukaran barang dan jasa secara regional yang kemudian membangkitkan berbagai aktivitas di dalam kota. Saat orang melakukan jual dan beli bukan sekadar barang dan jasa yang dipertukarkan, tetapi juga informasi dan pengetahuan (Ekomadyo, 2012).

Pemahaman tentang pasar, sejalan dengan teori Geertz bahwa “pasar” memberi akomodasi pada “bazaar economy”, Geertz mengasumsikan bahwa kata ‘pasar’ merupakan dialek lokal dari ‘bazaaar’. Pasar dalam hal ini identik dengan pasar tradisional merupakan suatu pranata ekonomi dan sekaligus cara hidup, suatu gaya umum dari kegiatan ekonomi yang mencakup berbagai aspek dari suatu masyarakat, hingga aspek kehidupan sosial budaya secara lengkap. Berbagai produk atau barang dagangan diperjualbelikan di pasar tradisional, pangan, sandang, dan barang lain yang sebagian besar memiliki karakter mudah dipindah-pindahkan (Geertz, 1963). Dalam lingkup masyarakat Jawa, kekuatan aktivitas ekonomi berpusat di pasar tradisional.

Pasar tradisional bukan sekedar sebagai tempat jual beli semata, namun lebih dari itu pasar terkait dengan konsepsi hidup dan interaksi sosial budaya. Pasar tradisional tidak semata mewadahi kegiatan ekonomi, akan tetapi pelaku juga dapat mencapai tujuan-tujuan lain (Pamardhi, 1997). Sejalan dengan hal tersebut diatas, Reardon mengungkapkan pula bahwa pasar tradisional menjadi titik fokus untuk aktivitas komersial. Pasar tradisional memegang peran sosial dengan menyediakan kebutuhan harian, barangbarang keperluan lain dan pelayanan pada daerah setempat. Begitu juga pasar tradisional memainkan peran ekonomi dengan secara langsung mendukung aktivitas ekonomi masyarakat atau wilayah, dan menghasilkan keuntungan finansial bagi yang terlibat dalam perdagangan maupun pendapatan bagi daerah setempat. Namun di samping fungsi utamanya itu, pasar tradisional juga mengemban misi sebagai fasilitas perbelanjaan bagi wilayah pelayanan, serta berperan sebagai wahana kegiatan sosial dan rekreasi (Reardon, 2003).

(5)

5

Pasar Gang Baru ditengarai mulai berdiri pada masa bersamaan, sekitar tahun 1800-an/.

(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)

11

Adapun kendala lain seperti ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan dalam hal ini adalah kebersihan lingkungan. Banyak sampah-sampah yang berserakan di tengah kios-kios pedagang. Tidak di sediakannya tempat-tempat sampah di sekitar kios pedagang, membuat para pedagang merasa kurang nyaman berdagang di tempat ini. Banyak pedagang yang mengeluhkan tempat sampah ini. Pedagang yang setiap bulannya membayar iuran kebersihan, tetapi kebersihan tidak bisa di realisasikan oleh pihak pasar. Bau sampah yang sangat menyengat ketika pedagang itu membuka kiosnya, membuat sebagian pedagang merasa kurangnya keterlibatan pihak pasar terhadap lingkungan di pasar. Rasa kenyamanan dalam berbelanja pun tidak di rasakan oleh para pembeli. Waktu dan cuaca juga mempunyai andil yang tidak bisa diremehkan, waktu disini terkait dengan hari dan jam, dalam arti pada hari tertentu dan jam tertentu. Sedangkan cuaca terkait dengan hujan dan tidak hujan, panas dan dingin. Hujan, cerah, panas dan dingin merupakan faktor cuaca yang walaupun tidak begitu berpengaruh langsung namun secara psikologis mampu menghambat dan memperlancar proses jual beli. Harapan mereka adalah cuaca cerah dan suhu sedang. Kondisi seperti ini membuat mereka bertahan untuk melakukan rutinitasnya sebagai pedagang. Mereka lebih santai dalam melayani pembeli, karena pembeli tidak datang secara bergerombol dan tidak tergesa-gesa, sehingga mereka tidak merasa tertekan oleh pembeli dan rasa takut untuk rugi. Tetapi sebaliknya apabila cuaca buruk, mendung dan udara panas atau hujan dengan udara dingin, pembeli datang berbarengan atau bergerombol dan tergesa-gesa. Bagi pembeli yang datang disaat masih mendung, mereka tergesa-gesa karena takut akan kehujanan, dibarengi dengan kesibukan penjual mempersiapkan barang dangannya. Dengan demikian pelayanan tergesa-gesa, setengah-setengah dan kurang perhatian. Bagi pembeli yang datang sehabis hujan disamping jalan becek membuat mereka malas, mereka juga tergesa-tergesa karena waktunya berbelanja terpotong karena hujan. Bagi pedagang sayuran, dan pedagang buah kondisi cuaca sangat di perhitungkan. Karena cuaca juga menentukan masa panen sayuran dan buah. Disaat hujan turun sayuran pun ikut layu dan tidak bisa dijual kembali. Begitu pula yang terjadi pada

(12)

pedagang buah, pada pedagang buah jika hujan, maka buah yang dipanen saat itu dilihat dulu, apa ada yang sudah membusuk. Di musim penghujan kadar air dalam tanaman itu sangat di tentukan, jika kebanyakan air maka hasil panennya akan layu bagi tumbuhannya Strategi yang di lakukan oleh pedagang tradisional demi mencari keuntungan di Pasar Gang Baru yaitu: menjalin relasi sosial. Menjalin relasi sosial adalah salah satu cara yang dilakukan para pedagang untuk mencari keuntungan. Cara tersebut digunakan untuk menjaring relasi-relasi sosial yang berkembang di kalangan pedagang ada yang berlangsung lama dan ada yang sementara. Ada faktor-faktor yang dapat melanggengkan atau meruntuhkan relasi sosial seperti konflik, komunikasi dan bahasa. Bahasa mengandung makna tingkah laku dan kata-kata secara sosiokultural.

Menurut para pedagang hubungan antara pedagang dan pembeli haruslah di jaga dengan baik, karena itu komunikasi yang baik dengan pelanggan merupakan hal utama. Meskipun pedagang tidak harus mengenal pelanggan secara personal, namun kemampuan untuk mendapatkan

kepercayaan pelanggan adalah hal yang paling utama. Menurut Pak AR untuk dapat bertahan adalah dengan bisa mengambil hati pelanggan dengan sikap yang ramah.

pemikiran yang sederhana bagaimana mempertahankan usaha mereka, seperti yang disampaikan pak AR:

“Jualan di sini ini yang penting sabar mbak, kalau sabar pasti ada aja pelanggan yang beli, yang penting ditekuni aja mbak. ’ Pendapat tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan pak MD:

“kalau udah rejeki gak kemana mbak, pasti onok wae”

Pada umumnya para pedagang sayuran membuka kiosnya setelah menjalankan sholat subuh. Sebelum dijual sayurannya, maka dibersihkan terlebih dahulu agar kelihatan lebih segar dan fresh. menutup kiosnya sekitar jam 13.00. Pelanggan mulai berdatangan sekitar jam 05.30. Ia memberikan pelayanan yang terbaik. Pelayanan terbaik itu dengan cara mengutamakan tali silaturahmi antar konsumen dan tidak membedakan etnis.

Mengutamakan silaturahmi adalah jika ada pembeli selalu bertukar pikiran. Sehubungan itu ada salah satu pelanggan bernama Mulyono yang membeli beras di Tatik lebih sering marah kepada dia. Deskripsi diatas menunjukkan bahwa banyak relasi yang terjadi pada pemilik modal bukan hanya sebatas pada hubungan antara pedagang dan konsumen melainkan juga hubungan antar sesama pedagang sayuran, buah, dan sembako yang bisa memberikan keuntungan lain dalam kegiatan dagang mereka. Masih banyak masyarakat yang menyukai pasar tradisional, dengan ini sebagian masyarakat datang lebih awal dari pada pedagang itu sendiri. Hal tersebut bisa dilihat pada hubungan antara pemilik modal dengan pedagang, baik hubungan yang lepas ataupun terikat, keduanya memberikan kontribusi dalam hal penjualan. Sedangkan kegiatan transaksi menunjukkan bahwa terjadi kedua yang melembaga dalam hubungan dagang antara pemilik modal dengan konsumen yakni: konsumen dan

(13)

13

minoritas atau mayoritas. Di pasar tidak boleh ada budaya tertentu mendominasi budaya yang lain, karena mereka telah menyatu dalam budaya pasar. Areal pasar menjadi tempat pembauran berbagai macam etnis, baik etnis Tionghoa, Arab, Gujarat, India, dan etnik yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara. Pasar dalam konteks ini benar-benar menjadi perekat identitas budaya bangsa sejalan dengan sesanti “Bhinneka Tunggal Ika”. Para pedagang dituntut memiliki kemampuan merayu pembeli untuk memengaruhi dan meluluhkan hati pembeli dengan

menggunakan bahasa atau simbol-simbol kesukuan. Seorang pedagang asal Bali akan mencoba merayu pembeli yang kebetulan orang Jawa dengan bahasa Jawa logat Jawa Timur. Demikian juga pedagang Tionghoa berbicara dengan berlogat kental Bali atau Jawa dan sebagainya, padahal sesama orang Tionghoa sehari-hari mereka berkomunikasi dengan bahasa mandarin. Para konsumen juga melakukan hal yang mirip seperti yang dilakukan oleh para pedagang. Para pembeli banyak dapat dijumpai cara mereka menyapa para pedagang dengan sapaan-sapaan yang umumnya dipakai di intern asal para pedagang, misalnya bli, mbak, koh, cik, mas, bang, dan lain-lain, walaupun mereka bukan berasal dari suku tersebut. Sapaan-sapaan itu sesungguhnya bermaksud merayu agar pembeli diberikan harga yang lebih murah. Namun apabila dicermati lebih saksama ternyata di

balik sapaan-sapaan tadi sesungguhnya terimplikasi suatu makna sebagai bentuk penghargaan dan ingin menjadi bagian dari budaya asal si pedagang. Di samping itu, sapaan-sapaan tadi juga mengandung makna mengingatkan akan akar budaya para pelaku pasar oleh sesama mereka. Bahkan di beberapa daerah para pembeli berusaha menggunakan bahasa sehari-hari asal pedagang, untuk menunjukkan bahwa mereka bukan orang jauh, sehingga dengan demikian mereka akan diberi harga lebih murah. Rasa solidaritas sosial diantara para pedagang juga sangat tinggi. Apabila salah seorang pedagang harus pergi sejenak untuk menjemput anak pulang sekolah, sembahyang, kundangan atau pergi melayat, biasanya pedagang tersebut akan menitipkan dagangannya kepada rekan sesama pedagang terdekat. Apabila pembeli atau pelanggan dari pedagang yang menitipkan dagangan tadi datang, maka pedagang yang dititipi dengan senang hati melayani keinginan pembeli atau pelanggan dari pedagang yang sedang ada kepentingan di luar tadi. Dalam bentuk yang lain solidaritas para pedagang juga dapat dilihat apabila mereka tidak diperlakukan secara adil. Misalnya dalam penertiban pasar atau

penggusuran lokasi berjualan,

SIMPULAN DAN SARAN

Bagian ini memuat kesimpulan dan saran. Kesimpulan dan saran dapat dibuat dalam sub bagian yang terpisah. Kesimpulan menjawab tujuan, bukan mengulang teori, berarti menyatakan hasil penelitian secara ringkas (tapi bukan ringkasan pembahasan). Saran merupakan penelitian lanjutan yang dirasa masih diperlukan untuk penyempurnaan hasil penelitian supaya berdaya guna. Penelitian tentunya tidak selalu berdaya guna bagi masyarakat dalam satu kali penelitian, tapi merupakan rangkaian penelitian yang berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Seperti yang dikatakan Geertz (1963) bahwa dalam suatu organisasi kerja, hubunganhubungan kerja yang stabil hanya terdapat pada unsur-unsur yang menyangkut induvidu tersebut dalam jaringan hubungan kerjasama (Ahimsa 2003:153).

(14)

Ahimsa-Putra , H.S (2003) Ekonomi Moral, Rasional dan Politik; dalam Industri Kecil di Jawa Timur, Jogjakarta: Kepel Press.

DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Hadi, A. (2012). Culture, Quality of life, Globalization and Beyond. Procedia Social and Behavior Sciences , 11-19.

Abdullah, I. (2006). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Adrisijanti, I. (2000). Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Penerbit Jendela. Alexander, J. (1987). Trade, Trades and Trading in Rural Java. Singapore: Oxford University Press.

Anas, A., Arnott, R., & Small, K. A. (1998). Urban Spatial Structure. Journal of Economic Literature , 1426–1464.

Andriani, M. N., & Ali, M. M. (2013). Kajian Eksistensi Pasar Tradisional Kota Surakarta. Jurnal Teknik PWK Universitas Diponegoro Volume No 2 No 2 , 252-269.

Basyir Z.B, M. (1987). Kota Gede Kuno, Studi Pola Tata Kota dan Kehidupan Masyarakatnya. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Bromley, R. (1987). Traditional and Modern Change in the Growt of Systems of Market Centres in Highland Equador. Vancouver: The Centre for Transportasion Studies.

Chen, F. (2011). Traditional Architecture Form in Market Oriented Chinese Cities? Habitat International , 410-418.

Cheshmehzangi, A., & Heat, T. (2012). Urban Identities: Influences on Socio-Environmental Values and Spatial Inter-Relations. Procedia - Social and Behavioral Sciences , 253-264. Christaller, W. (2014, Mei 2). Central place theory. Retrieved Mei 3, 2014, from

en.wikipedia.org: http://en.wikipedia.org/wiki/Centr al_place_theory Deprizal. (2013, Mei 4). deprizal.blogspot.com. Retrieved April 23, 2014, from deprizal.blogspot.com:

http://deprizal.blogspot.com/2013/ 05/1.html

Djakfar, M. (2009). Hukum Bisnis. Malang: UIN Malang Press. Ekomadyo, A. S. (2007, November 12). Menelusuri Genius Loci Pasar Tradisional sebagai Ruang Sosial Urban di Nusantara. Retrieved Februari 2, 2014, from www.ar.itb.ac.id:

http://www.ar.itb.ac.id/pa/wpcontent/upload/2007/11/201212

Erkip, F., Kızılgün, Ö., & Akinci, G. M. (2014). Retailers’resilience Strategies and Their Impacts on Urban Space in Turkey. Cities , 112-120.

Gallion, A. B., & Eisner, S. (1983). The Urban Pattern: City Planning and Design. New York: Van Nostrand Reinhold. Geertz, C. (1963). Peddlers and Princes: Social Change and Economic Cakra Wisata Vol 18 Jilid 2 Tahun 2017

Modernization in Two Indonesian Towns. Chicago: The University of Chicago Press. Giddens, A. (1991). Modernity and selfidentity: self and society in the late modern age. Cambridge: Cambridge: Polity Press.

(15)

15

Kusmawati, F. (1996). Pola Hari Pasar di Kabupaten Gunungkidu. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Laksono, S. (2009). Runtuhnya Modal Sosial, Pasar Tradisional. Malang: Citra Malang.

Lauermann, J. (2013). Practicing Space : Vending Practices and Street Markets in Sana’a Yemen. Geoforum , 65-72.

Malano, H. (2011). Selamatkan Pasar Tradisional. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Mannan, M. (1992). Ekonomi Islam “Teori dan Praktek”. Jakarta: PT Intermasa.

Munoz, L. (2001). THE TRADITIONAL MARKET AND THE SUSTAINABILITY MARKET: IS THE PERFECT MARKET SUSTAINABLE? International Journal of Economic Development , 34-45.

NÆss, P., & Jensen, O. B. (2004). Urban structure matters, even in a small town. Journal Environmental Planning and Management , 3557.

Natawidjaja, R. (2005). Modern market growth and changing map of retail food sector in Indonesia. Bandung: Padjadjaran University.

Negara, P. D. (2011, Juli 26). Kumandang Pasar Tradisional. Retrieved Mei 3, 2014, from suaramerdeka.com: http://m.suaramerdeka.com/index. php/read/cetak/2011/07/26/15386 4 Pamardhi, R. (1997). Planing for Traditional Javanese Markets in Yogyakarta Region. Sydney: University of Sydney.

Permendagri. (2007). PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI No42 Tahun 2007 Tentang Pasar Desa. Jakarta: Menderi Dalam Negeri Republik Indonesia.

Permendagri. (2012). PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2012 Tentang Pengelolaan Dan Pemberdayaan Pasar Tradisional. Jakarta: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.

Rahadi, R. A. (2012). Factors Related to Repeat Consumption Behaviour: Istijabatul Aliyah : Pemahaman Konseptual Pasar …

16

A Case Study in Traditional Market in Bandung and Surrounding Region. Procedia - Social and Behavioral Sciences, Volume 36, 529-539.

Reardon, T. (2003). The Rise of supermarket in Africa, Asia, and Latin America. American Journal of Agricultural Economics , 85-90.

Ropke, I. (1999). The Dynamics of Willingness to Consume. Ecological Economics , 399-420. Rutz, W. (1987). Cities and Town in Indonesia. Berlin: Gebruder Borntraeger .

Santoso, J. (2008). Arsitektur-Kota Jawa, Kosmos, Kultur dan Kuasa. Jakarta: Centropolis Press. Sharifi, A., & Murayama, A. (2013). Changes in the traditional urban form and the social

sustainability of contemporary cities: A case study of Iranian cities. Habitat International , 126-134.

Sirait, T. S. (2006). Identifikasi Karakteristik Pasar Tradisional Yang Menyebabkan Kemacetan Lalu-Lintas Di Kota Semarang. Semarang: Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota .

Sitepu, R. K.-K. (2011). Dampak Keberadaan Pasar Modern Terhadap Kinerja Ekonomi Regional. QE Journal | Vol.01 - No.01 , 1-17.

Smith, J. W., & Floyd, M. F. (2013). The Urban Growth Machine, Central Place Theory and Access to Open Space. Journal City Culture and Society , 87-98.

Soemardjan, S. (1991). Perubahan Sosial di Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada Press. Spaargaren, G. a. (2000). Lifestyle, Consumption and the Environment : The Ecological Modernisation of Domestic Consumption. Environmental Politics , 50-75.

Sunoko, K. (2002). Perkembangan Tata Ruang Pasar Tradisional (Kasus Kajian Pasar-pasar Tradisional di Bantul). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

(16)

Suryadarma, D., Poesoro, A., Budiyati, S., & Rosfadhila, A. M. (2007). Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel Tradisional di Daerah Perkotaan di Indonesi. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU.

Tjiptoatmodjo, F. S. (1980). Struktur Birokrasi Mataram. Yogyakarta: Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM.

Toni, A. (2013). Eksistensi Pasar Tradisional Dalam Menghadapi Pasar Modern Di Era Modernisasi. http://www.stainumadiun.ac.id/w p-content/uploads/2014/03/ EKSISTENSI-PASARTRADISONAL-DALAMMENGHADAPI-PASAR.pdf 22 April 2014, Jam 17.11WIB. Wiryomartono, B. (2000). Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zakariya, K., & Harun, N. Z. (2013). The People’s Dataran : Celebrating Historic Square as A Potential Temporary Market Space, Procedia - Social and Behavioral Sciences , 592-601.

(17)

17

Ritchie dan Zins. Tourism in Contemporary Society, An Introductory Text. Chapter 19: Social and Cultural Impacts. Page 221

Tribuntravel.com dengan judul Panduan Lengkap Wisata ke Pasar Semawis Semarang untuk

Tahun Baru Imlek 2020,

https://travel.tribunnews.com/2020/01/18/panduan-lengkap-wisata-ke-pasar-semawis-semarang-untuk-tahun-baru-imlek-2020. Penulis: Nurul Intaniar

Editor: Arif Setyabudi Santoso

Yoeti, Oka A. 1996. Pemasaran PariwisataBandung. Penerbit Angkas

Aall, C. (2014). Sustainable tourism in practice: Promoting or perverting the quest for a sustainable development?. Sustainability, 6(5), 2562-2583.

professor Karl Georg Høyer [3] noted that tourism practices presenting themselves as

environmental friendly, using headings like “eco-tourism”, “green tourism”, “sustainable tourism” and alike, have a tendency to imply longer travel distances to more remote places and more frequent use of air and private car transportation than the “standard” forms of tourism. Thus, he points out that the number one acquirement for making tourism more in line with the goal of a sustainable development is to reduce tourism mobility.

(18)

Weaver, D., Lawton, L., De Lacy, T., & Tourism, C. (1999). Sustainable tourism: A critical analysis.

Kasim, A. (2006). The need for business environmental and social responsibility in the tourism industry. International journal of hospitality & tourism administration, 7(1), 1-22.

Padin, C. (2012). A sustainable tourism planning model: Components and relationships. European business review.

Referensi

Dokumen terkait