34 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian
Saat mengerjakan penelitan, adapun opsi pendekatan penelitian yang dapat diaplikasikan oleh seorang peneliti. Muri Yusuf (2014 : 44) memaparkan bahwa ada tiga macam pendekatan yang digunakan saat penelitian, yaitu pendekatan kuantitatif, kualitatif, serta gabungan keduanya. Penelitian dengan judul “Komparasai Pesan Jurnalisme Entertainment Pada Media Siber Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com” ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. Karena peneliti mengikuti pola pemikiran deduktif, yang mana proses penarikan kesimpulan diambil dari pernyataan yang bersifat umum ke khusus.
Aspek keluasan pada penelitian ini dinilai krusial jika dibanding dengan kedalaman sebuah data, maka adapun hasil penelitian ini dapat digeneralisi, karena merupakan representasi dari keseluruhan populasi pada penelitian dengan kuantitatif (Kriyantoro, 2009:55).
3.2 Tipe dan Dasar Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian komparatif. Yang mana pada penelitian dengan tipe komparatif dapat dilakukan terhadap suatu fenomena empiris-sistematis. Variabel bebas tidak dikendalikan oleh peneliti secara langsung dikarenakan telah terjadi keberadaan atau eksistensi adanya variabel tersebut (Machmud, 2016:138).
Sedangkan jenis penelitian berikut mengkomparasikan konten dua jenis media secara berbeda. Eriyanto (2011 : 33) di dalam bukunya menjelaskan jika ada empat jenis perbandingan dalam analisis isi konten seperti yang dipaparkan pada gambar berikut.
35
Gambar 1 Fokus Analisis Isis
Peneliti menggunakan dasar penelitian analisis isi. Di mana dasar penelitian analisis isi adalah dasar dari penelitian yang digunakan untuk memeriksa isi pesan dalam media, baik dalam bentuk media cetak, online, dan elektronik. Sejalan dengan apa yang sedang diselidiki oleh peneliti adalah analisis pesan pada media cyber. Layaknya yang dijelaskan oleh Neuendorf (2002) dan dirujuk oleh Eriyanto (2011: 16), wujud ringkasan atau peringkasan jumlah teks berdasarkan metode ilmiah objektif - interubjektif, andal, akurat, dan direplikasi. Secara umum, model dan hipotesis tidak terbatas pada variabel dan konteks tertentu di mana teks dibuat dan ditampilkan merupakan arti dari analisis isi.
36
Peneliti mempunyai maksud untuk mengkomparasi unsur pesan sensasional pada media siber yang berbeda satu sama lainnya. Dalam hal ini, peneliti akan menjelaskan dan menyajikan pesan dari pembawa pesan yang berbeda. Hasil akhir dalam penelitian ini akan bermannfaat dalam mengetahui apa yang akan menjadi perbandingan akan penerapan unsur pesan sensasional di antara kedua media.
Gambar 2 Desain Analisis Isi (Perbedaan Komunikator)
3.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkung pada penelitian ini adalah informasi berita berjenis
entertainment yang di-publish oleh Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com dari
tanggal 1 November 2019 hingga 30 November 2019. Sedangkan batasan berita yang diteliti adalah berita artis yang terbit dalam kurun waktu tersebut. Menurut data yang sudah dirangkum oleh peneliti, sejak tanggal 1 November 2019 hingga 30 November 2019, Kapanlagi.com tercatat telat mempublikasikan sejumlah 96 berita, sedangkan Tribunstyle.com sebanyak 106 berita. 96 berita adalah populasi 1, sedangkan 106 berita adalah populasi 2.
Selanjutnya, peneliti menentukan ukuran sampel dengan mengurangi metode yang tepat menggunakan metode sistematis. Penelitian ini menggunakan formula untuk menarik jumlah sampel yang dikembangkan oleh Taro Yamane.
37 Penarikan sampel pada populasi 1:
𝐧 = N N𝑑2+ 1= 96 96. 0,12+ 1 = 96 0,96 + 1= 48,9795 (49)
Penarikan sampel pada populasi 2
𝐧 = N N𝑑2+ 1= 106 106. 0,12+ 1 = 106 1,06 + 1= 51,4563 (51)
Ketika dihitung dengan formula Taro Yamane, tingkat kesalahan pengambilan sampel (sampling error) adalah 0,1 atau 10%, dan kemudian dapat dihasilkan 49 item berita untuk populasi 1 dan 51 item berita untuk populasi 2. Kemudian, peneliti menggunakan teknologi systematic random sampling atau disebut juga teknik sampe acak sistematis.
*Daftar sampel dan populasi berita Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com terlampir. (Lampiran 3.1,3.2,3.3,3.4)
3.4 Unit Analisis dan Satuan Ukur
Muhammad Idris(2009: 95) memaparkan bahwa unit analisis adalah unit pengukuran yang akan digunakan sebagai populasi sebuah penelitian. Komponen utama dan unit penelitian terkecil adalah unit analisis, bukan hanya pada analisis konten. Dalam penelitian berikut, kata adalah unit analisisnya. Dan adapun kalimat yang merupakan unit analisis pada penelitian berikut adalah judul dan teks berita.
Kemudian, dalam hal menentukan persentase konten pesan yang sensasional di kedua media, yaitu Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com, peneliti
38
menggunakan kemunculan frekuensi unsur pesan sensasi pada judul dan teks berita sebagai satuan ukur.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Tentunya informasi atau data harus dikumpulkan sebleum melakukan penelitian. Banyak cara atau metoda untuk mengumpulkan data yang dijelaskan para ahli. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Dokumentasi adalah cara paling lazim untuk mencari dan menganalisis konten yang berkaitan dengan skrip media. Proses dokumen dilakukan dengan mendaftarkan berita yang pertama kali diterbitkan dari 1 November 2019 hingga 30 November 2019. Item berita disusun berdasarkan tanggal dan nomor dan agar kemudian memudahkan peneliti untuk mengambil sampel dari seluruh populasi.
Pada langkah berikutnya, peneliti membuat sebuah lembar koding, yang merupakan alat pengukur yang digunakan untuk mendata konten media berdasarkan kategori dan unit analisis yang sebelumnya ditentukan. Kemudian diukur atau dihitung aspek yang akan diteliti. Lembar koding ini sama dengan kuisioner survei. Data-data pada penelitian ini mengacu pada artikel yang dipublikasikan di media Kapanlagi.com dan Tribunstyle.com kemudian diproses dengan mengubah (mengkonversi) data dalam nominal atau angka.
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis pada data laiknya langkah krusial pada sebuah penelitian. Analisis data ini melibatkan beberapa langkah yang dimulai dengan penyajian, olah data, dan proses interpretasi (Martono, 2010: 171). Penyajian data pada penelitian ini dilakukan dengan lembar koding. Peneliti dan koder kemudian mengisi lembar koding. Proses penkodingan juga dibantu dua orang koder lainnya. Hal ini dibutuhkan karena ditujukan untuk penelitian kuantitatif sehingga dapat digeneralisir. Dengan bantuan dua orang koder, penelitian ini objektif dan tidak subyektif. Koder-koder dipilih berdasarkan kriteria berikut:
1. Paham dengan aturan jurnalisme beserta unsur-unsurnya 2. Kategorisasi yang ditentukan oleh peneliti dapat dipahami
39 3. Pernah melakukan penelitian
4. Mengikuti berita dan perkembangan dunia entertainment
Setelah peneliti dan dua orang koder memproses atau melakukan pengkodingan, peneliti memproses data ke lembar koding menggunakan teknik statistika. Ada dua jenis teknik statistik. Namun teknik yang tepat untuk penelitian berikut adalah teknik statistik deskriptif. Tujuannya adalah menjelaskan fenomena atau gejala dari variabel tanpa berusaha menjelaskan adanya hubungan (Kriyantoro, 2009: 167). Dalam statistik deskriptif, ada banyak metode yang sering digunakan, antara lain, dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi, tendensi sentral, dan standar deviasi.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan tabel distribusi frekuensi. Tabel ini akan digunakan sebagai referensi bagi peneliti untuk menginterpretasikan data yang diperoleh.
40 Tabel 3.3
41 3.7 Uji Keabsahan Data
Ada kebutuhan untuk keakuratan atau kebenaran data dalam penelitian sehingga informasi yang dikumpulkan dapat terbukti kesahihan dan tingkat kepercayaannya. Akurasi atau keabsahan data memiliki dua aspek: validitas beserta reliabilitas. Machmud (2016: 63-64) menjelaskan jika validitas terkait dengan keakuratan alat pengukuran dalam mengukur fungsi pada unit analisis. Sejalan dengan hal tersebut, reliabilitas menunjukkan konsistensi pada alat pengukur dalam pengukuran yang sama.
Validitas sangat penting dilakukan ketika menganalisis konten. Jika alat pengukuran yang digunakan salah, tentu saja, hasilnya tidak dapat diandalkan atau tidak akurat. Peneliti harus cermat dan berhati-hati ketika menggunakan alat pengukur. Dalam melakukan pengujian akurasi penelitian ini, jenis validitas informasi yang digunakan peneliti berfokus pada lembar koding yang diisi peneliti dan dua orang koder lain, agar dapat dipastikan jika ukuran (kategorisasi di analisis isi) yang digunakan sesuai dengan apa yang akan diukur. Pendekatan utama untuk menangani validitas adalah "what you see is what you get" sejalan dengan yang diungkapkan Neuendorf (2002) dalam Eriyanto (2011).
Metode yang digunakan untuk memeriksa apakah alat pengukur valid atau tidaknya adalah dengan memeriksa jurnal, buku referensi, dan konferensi ilmiah yang diadakan oleh komunitas ilmiah berdasarkan pendidikan atau keahliannya. Buku dan jurnal ilmiah yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini untuk menentukan kesesuaian adalah buku yang berisi tentang jurnalime, berita dan jurnal komunikasi yang mencakup bahasan yang konsisten dengan penelitian ini.
Keandalan atau reliabitias sama pentingnya dengan validitas. Pentingnya reliabilitias, karena informasi yang dihasilkan tergantung pada peristiwa, instrumen, atau orang yang mengukurnya, hal tersebut juga dikemukakan oleh Kaplan dan Goldsen dalam Kassarjian (1977: 13). Kemudian, data dapat dikatakan reliabel bilamana data konsisten dalam kesuruhan jumlah variasi pengukuran. Ini dapat diandalkan jika data tetap stabil di semua format pengukuran. Keandalan juga mengukur kemampuan alat ukur yang digunakan untuk mencapai hasil yang sama, bahkan jika diulang. Ada perbandingan sederhana yang dapat menentukan apakah alat ukur itu dapat diandalkan atau tidak.
42
Pada penelitian ini, keandalan suatu data akan tercapai dengan bantuan koder. Hasil pengkodean selanjutnya akan digunakan sebagai perbandingan dengan hasil pengkodean peneliti. Uji ini disebut juga uji antar koder. Setelah koder dan peneliti mengisi lembar koding, hasil kemudian diukur menggunakan rumus Ole R. Holsty:
43 Tabel 3.5
Tabel 3.6
Nilai ambang penerimaan yang umum digunakan dalam uji reliabilitas adalah 0,75. Bilamana hasilnya belum mencapai 0,75, dapat dikatakan bahwa kategorisasi tidak memenuhi nilai keandalan atau reliabilitas sebagaimana disebutkan dalam Kriyantoro (2009: 238).