• Tidak ada hasil yang ditemukan

FINANCIAL PERFORMANCE VARIABILITY OF FATTENING SHEEP AT SENGON AND JARAK KULON VILLAGES JOMBANG DISTRICT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "FINANCIAL PERFORMANCE VARIABILITY OF FATTENING SHEEP AT SENGON AND JARAK KULON VILLAGES JOMBANG DISTRICT"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

FINANCIAL PERFORMANCE VARIABILITY OF FATTENING SHEEP AT SENGON AND JARAK KULON VILLAGES JOMBANG DISTRICT

Toni Erwansyah 1) , Bambang Ali Nugroho 2), Suprih Bambang Siswijono 3) Faculty of Animal Husbandry, University of Brawijaya Malang

ABSTRACT

This research was started at 1st January until 31st January, 2013 at fattening sheep

farm on Sengon and Jarak Kulon villages, Jombang District. The purpose of this research analysis was to know R/C Ratio, Rentability, Break Even Point (BEP), Payback Period, and the unit cost of fattening sheep farm. The material of this research were small-scale and medium-scale fattening sheep. Data were analyzed using descriptive financial analysis method. The R/C ratio were 1.09 for small-scale farm and 1.15 for medium-scale farm. Value rentability were 24.75% for small-scale farm and 45.79% for medium-scale farm. Value of BEP were Rp. 1,057,578,- for small-scale farm with 23 heads production per period and Rp. 998,621,- for medium-scale farm with 97 heads production per period. The payback period were 4.02 for small-scale farm and 2.18 medium-scale farm. The sale advantages were Rp. 92,442,-/head for small-scale farm and Rp. 151,379/head for medium-scale farm. The conclusion of this research were fattening sheep farm in Sengon and Jarak Kulon was feasible, which is shown by the value of R/C ratio above 1 and both fattening sheep farm is proper to develop as seen from the value of small-scale farm BEP Rp. 1,057,578 and medium scale Rp. 998 621 with values below the selling price, the value of R/C ratio of small-scale and medium-scale were 1.09, 1.15.

Keywords: R/C Ratio, Rentability, Break Even Point, Payback Period, Unit cost

KERAGAAN KINERJA FINANSIAL USAHA PENGGEMUKAN DOMBA DESA SENGON DAN JARAK KULON DI KABUPATEN JOMBANG

ABSTRAK

Penelitian ini dimulai pada tanggal 1 Januari sampai 31 Januari 2013 pada usaha penggemukan domba di Desa Sengon dan Desa Jarak Kulon Kabupaten Jombang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai R C Ratio, Rentabilitas, Break Even Point,

Payback Period, Unit Cost dari usaha penggemukan domba. Matari dari penelitian ini yaitu

usaha penggemukan domba skala kecil dan skala menengah. Data di analisisa dengan menggunakan analisis finansial deskriptif. Hasil penelitian itu, nilai R/C Ratio 1,09 skala kecil dan menengah 1,15. Nilai rentabilitas skala kecil 24,75% dan menengah 45,79%. Nilai BEP, BEP harga kecil sebesar Rp. 1.057.578,- dan BEP produk 23 ekor. BEP harga skala menengah sebesar Rp. 998.621, - dan BEP produk 97 ekor. Payback periode skala kecil 4,02 dan skala menengah 2,18. Keuntungan Unit Cost/ekor skala kecil sebesar Rp. 92.442/ekor dan skala menengah senesar Rp. 151.379/ekor. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa usaha penggemukan domba di Desa Sengon dan Desa Jarak Kulon layak untuk dijalankan, karena terlihat dari dari nilai BEP skala kecil sebesar Rp. 1.057.578,- dan skala menengah sebesar Rp. 998.621,- dengan nilai dibawah harga jual, nilai R/C Ratio diatas angka 1 yaitu skala kecil 1.09 dan skala menengah 1.15.

(2)

Pendahuluan

Pembangunan sub sektor peternakan sangat penting guna memenuhi permintaan masyarakat akan hasil peternakan. Pendapatan masyarakat meningkat, bertambahnya jumlah penduduk dan kesadaran pemenuhan kebutuhan akan gizi, menyebabkan permintaan hasil-hasil peternakan semakin meningkat terutama produksi peternakan akan daging yang semakin bertambah.

Sebagai sumber penghasil daging, domba sebenarnya memiliki beberapa kelebihan dibandingkan hewan ternak penghasil daging lainnya. Menurut Sudarmono (2007) domba memiliki sifat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan, lebih mudah dalam perawatan, modal yang diperlukan untuk membuka usaha peternakan domba relatif kecil. Sehingga dalam rangka memenuhi permintaan daging, domba memiliki peluang yang cukup baik untuk dikembangkan.

Usaha penggemukan domba di Indonesia biasanya dilakukan petani-ternak dengan cara sederhana. Pada umumnya, petani-ternak dalam melakukan usaha penggemukan adalah dengan membeli anak domba usia pascasapih yang berkelamin jantan dengan berat 9-10 kg. Kemudian dipelihara selama 7-10 bulan dan dijual sesudah mencapai berat badan 20-30 kg (Murtidjo, 1993).

Salah satu sub-sektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai penghasil daging adalah sub sektor peternakan domba. Populasi domba di Kabupaten Jombang 2003 mengalami peningkatan. Pada tahun 2003 prosentase menunjukkan 18,71 %, tahun 2004 17,89 %, tahun 2005 21,24 %, tahun 2006 21,28 % dan tahun 2007 22,86 %. Pertumbuhan

jumlah populasi di Kabupaten Jombang mengalami kenaikan setiap tahunnya, dari tahun 2003 hingga 2007. Pengembangan usaha penggemukan di Jombang mempunyai peluang yang cukup besar untuk memenuhi permintaan untuk pasar lokal dan antar pulau (Anonymous. 2009).

Materi Dan Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di usaha peternakan penggemukan domba skala menengah milik Bapak Chalid berada di Desa Sengon, Kecamatan Tunggorono, Kabupaten Jombang sedangkan skala kecil milik Bapak Sumarto di Desa Jarakkulon, Kecamatan Joggoroto, Kabupaten Jombang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode studi kasus. Studi kasus adalah studi terhadao masalah atau kejadian yang terjadi.

Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menggunakan tabel dari angka-angka yang tersedia, kemudian melakukan uraian dengan menggunakan rumus-rumus ekonomi sesuai dengan tujuan penelitian sehingga dapat memberikan gambaran realitas yang ditemukan dari penelitian.

Rumus yang digunakan antara lain:

1. Biaya Total

TC = FC + VC (Suratiyah, 1996). Keterangan :

TC = Total cost (biaya total) FC = Fixed cost (biaya tetap)

(3)

2. Penerimaan Total TR = Py x Y (Suratiyah, 1996). Keterangan : TR = Total revenue Py = Harga jual Y = Jumlah produksi 3. Pendapatan π = TR – TC (Suratiyah, 1996). Keterangan : π = Pendapatan TR = Total revenue TC = Total cost 4. Efisiensi usaha RC Ratio = R / C (Riyanto, 1997). Keterangan : R = Revenue (penerimaan) C = Cost (biaya) 5. Rentabilitas usaha R = M / L (Riyanto, 1997). Keterangan : R=Rentability (rentabilitas) L = Profit (laba bersih) M = Modal

6. Break Even Point (BEP) B E P(hasil)= Biaya Total Harga Output BEP(harga) = Biaya Total Produksi (Suratiyah,1996). 7. Payback Periode

Payback periode= Modal yang ditanam

Laba tunai rata-rata (Mulyadi, 1978) 8. Unit cost

Unit cost = Total biaya produksi

Jumlah outpun produksi (Kurnia, 1995).

Hasil dan Pembahasan

Pengelolaan usaha penggemukan domba skala kecil dan skala menengah a. Skala kecil

Usaha penggemukan domba skala kecil milik Bapak Sumarto, setiap bulannya membeli bakalan 25 ekor jenis domba jantan dan di jual 25 ekor setelah digemukkan selama 3 bulan (satu periode). Pada periode pertama tidak melakukan penjulan dan periode ke dua melakukan penjualan sebnayak 25 ekor dan membeli bakalan 25 ekor. Sehingga jumlah ternak pada bulan ke tiga dan seterusnya jumlahnya sama yaitu 75 ekor. Peternak skala kecil jenis domba yang dipelihara adalah domba sapudi dan domba ekor tipis.

Pemilik memiliki kriteria dalam pemilihan domba bakalan yang akan dibeli dengan menentukan bobot bakalan berkisar 19-21 kg dan umur domba 8-9 bulan, domba dalam keadaan sehat. Umur domba bisa diketahui melalui dengan melihat keadaan gigi. Keadaan gigi susu masih utuh menandakan umur domba kurang dari 1 tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat Harianto (2010) bahwa syarat bakalan untuk penggemukan diantaranya sehat, tidak cacat, umur kurang dari 1 tahun, dan bobot ideal 15-20 kg.

b. Skala menengah

Usaha penggemukan domba skala menengah milik Bapak Chalid adalah jenis domba sapudi. Domba-domba tersebut dibeli dari pasar hewan di sekitar lokasi peternakan hingga Kabupaten Nganjuk, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung dan ada juga

(4)

didatangkan dari luar jawa timur seperti Yogyakarta.

Pemilik usaha penggemukan domba menggunakan sistem in out, tiap bulan membeli bakalan sebanyak 112 ekor dengan lama penggemukan 3 bulan dan di jual 112 ekor pada bulan ke empat. Pada periode pertama tidak melakukan penjualan dan pada period ke dua melakukan penjualan sebanyak 112 ekor dan membeli bakalan 112 ekor. Sehigga jumlah ternak pada bulan ke tiga dan seterusnya jumlahnya sama yaitu 336 ekor. Bobot awal pembelian bakalan 18-20 kg dan domba dijual dengan target bobot badan 30 kg, sehingga rata-rata pertambahan bobot badan sebesar 0,15 kg per harinya.

Nilai keragaan kinerja finansial usaha penggemukan domba skala kecil dan skala menengah

 Modal

Modal usaha penggemukan domba berasal dari modal intern. Modal intern ini berasal dari pemilik sendiri atau tidak mengeluarkan bunga.

Biaya modal digunakan untuk pembuatan kandang, pembelian bakalan dan peralatan pendukung proses kerja di dalam peternakan. Modal terdiri dari biaya pembuatan kandang, pembelian peralatan, pembelian tanah, pembelian ternak, pakan, listrik, upah tenaga kerja, obat-obatan, lain-lain.

Tabel 1. Nilai modal usaha penggemukan domba berdasrkan skala usaha No Jenis Skala kecil (Rp) Persentase(%) Skala menengah (Rp) Persentase (%)

I Modal Tetap Tanah 10.000.000 8,93 50.000.000 11,25 Bangunan 7.000.000 6,25 25.000.000 5,63 Peralatan kandang 8.588.000 7,67 8.952.000 2,01 Kendaraan 9.000.000 8,03 30.000.000 6,75 Ternak 41.250.000 36,82 184.800.000 41,59 Total modal tetap 75.838.000 298.752.000

II Modal tidak tetap

Pakan 32.602.500 29,10 134.492.400 30,27 Gaji tenaga kerja 2.700.000 2,41 8.100.000 1,82 Obat-obatan 300.000 0,27 1.350.000 0,30 Sewa tanah 150.000 0,13 750.000 0,17 Listrik+telepon, dll 450.000 0,40 900.000 0,20 Total modal tidak tetap 36.202.500 145.592.400

Total investasi 112.040.500 100 444.344.400 100

Tabel 1 menunjukkan Total investasi skala kecil sebear Rp. 112.040.500,- dan skala menengah sebesar Rp. 444.344.400,-. Ternak merupakan persentase terbesar dari keseluruhan modal usaha, yaitu skala kecil Rp. 41.250.000,- atau 36,82%. Sedangkan

skala menengah persentase ternak Rp. 184.800.000,- atau 41,59% dari keseluruhan modal usaha. Pakan juga merupakan modal paling besar dalam modal tidak tetap yaitu skala kecil Rp. 32.602.500,- menunjukkan persentase 29,10% dari keseluruhan modal usaha. Sedangkan skala menengah persenatse

(5)

pakan Rp. 139.492.400,- atau 30,27% dari keseluruhan modal usaha.

 Biaya Produksi

Biaya produksi adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan perusahaan, yang dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya tidak tetap (Widodo dan Ngapuli, 1993). Biaya produksi yang ada di “skala kecil dan skala menengah” termasuk kedalam biaya variable dan biaya tetap.Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah walaupun terjadi perubahan volume produksi. Biaya tetap akan mengalami penyusutan setiap tahunnya, biaya tetap pada masing-masing skala meliputi penyusutan bangunan, penyusutan peralatan kandang, penyusutan kendaraan.

Tabel 2. Biaya produksi usaha penggemukan berdasarkan skala usaha

Uraian Skala kecil Skala menengah

Total biaya tetap (Rp) 1.121.950 3.414.722 Total biaya tidak tetap (Rp) 25.317.500 108.430.800 Total pengeluaran/bulan (Rp) 26.439.450 111.845.522

Tabel 2 menunjukkan jumlah total biaya produksi pada skala kecil sebesar Rp. 26.439.450.- dan skala menengah sebesar Rp. 111.845.522.- Dari hasil biaya produksi di atas biaya digunakan untuk pembelian bakalan masing-masing skala seharga Rp. 550.000,- sedangkan pakan diberikan ternak sebanyak 1,5 kg per ekornya dengan harga pakan skala kecil Rp. 3.220,- per ekor, sedangkan skala menengah harga pakan per ekornya Rp. 2.965,-.

 Penerimaan

Penerimaan adalah nilai uang yang diperoleh produsen dari hasil penjualan

output, sehingga penerimaan merupakan

perkalian antara total hasil dengan harga. Artinya, penerimaan yang akan diperoleh

dari suatu proses produksi dapat ditentukan dengan mengalikan jumlah hasil produksi dengan produk per unit.

Tabel3. Nilai penerimaan usaha penggemukan domba berdasarkan skala.

Uraian Skala kecil Skala menengah

Bakalan /ekor 25 112

Harga jual Rp/ekor 1.150.000 1.150.000 Total penerimaan Rp 28.750.000 128.800.000

Penerimaan yang diperoleh oleh peternak berasal dari penjualan hasil pemeliharaan bakalan selama 3 bulan. Tabel 3 menunjukkan total penerimaan selama satu periode pada skala kecil sebesar Rp. 28.750.000,- dan skala menengah sebesar Rp. 128.800.000,-. Harga jual ternak pada masing-msing skala tidak ada perbedaan, dikarenakan pemilik usaha menjual domba berdasarkan harga pasaran dan juga pertimbangan penentapan harga berdarsarkan informasi dari harga pesaing atau peternak lain.

 Pendapatan

Pendapatan yaitu perbedaan antara nilai penerimaan dengan nilai pengeluaran. Nilai penerimaan adalah hasil yang dicapai suatu usaha bilamana produksinya dijual, sedangkan nilai pengeluaran merupakan biaya-biaya yang harus dikeluarkan saat proses produksi.

Tabel 4. Nilai pendapatan usaha penggemukan berdasarkan skala

Uraian Skala kecil Skala menengah Penerimaan 28.750.000 128.800.000 Total Biaya produksi 26.439.450 111.845.522 Pendapatan 2.310.550 16.954.478 Efisiensi Usaha 1,09 1,15

Tabel 4 menunjukkan pendapatan sealama satu periode pada skala kecil sebesar Rp. 2.310.300,- dan skala menengah sebesar Rp 16.954.478,-. Data

(6)

tersebut menunjukkan biaya produksi per ekor skala menengah lebih efisien. Hal ini terjadi karena pada peternak membeli bahan-bahan penyusun biaya produksi dalam jumlah yang besar atau banyak, ada kemungkinan peternak tersebut mendapatkan diskon atau potongan harga dari penjualnya sehingga peternak dapat menghemat uang yang dikeluarkan.

 Rentabilitas

Rentabilitas adalah perbandingan antara laba dengan modal yang menghasilkan laba. Kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Riyanto, 1997).

Tabel 5. Nilai rentabilitas usaha penggemukan domba berdasarkan skala usaha

Skala Pendapatan/tahun Modal Rentabilitas (%) Kecil (Rp) 27.726.600 112.040.500 24,75 Menengah (Rp) 203.453.733 444.344.400 45,79

Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai rentabilitas usaha penggemukan domba pada masing-masing skala usaha yaitu, skala kecil sebesar 24,75% dalam kategori buruk dan skala menengah 45,79% dalam kategori rendah. Data di atas menunjukkan bahwa semakin besar skala usaha yang dikelola, maka peternak semakin efektif dan efisien dalam mengelola peternakannya.

 Efisiensi Usaha

Efisiensi usaha dapat pula digunakan untuk menilai kelayakan usaha tani, salah satunya adalah melalui “Receipt per rupiah

Expenses” atau penerimaan (Revenue/R)

yang dihasilkan dari setiap satu rupiah biaya (Cost/C). suatu usaha dikatakan menguntungkan jika perbandingan antara R dan C (R/C) bernilai lebih besar dari satu dan dapat dikatakan menguntungkan. R/C

Rasio (Return Cost Ratio)yaitu

perbandingan antara penerimaan dengan biaya (Soekartawi, 1993).Efisiensi usaha pada peternakan penggemukan domba skala kecil sebesar 1,09 dan skala menengah sebesar 1,15.

Pada peternakan skala kecil arti R/C ratio 1,09 adalah setiap Rp 100.000 yang diinvestasikan akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 109.000 dan peternakan skala menengah R/C ratio sebesar 1,15 adalah setiap Rp 100.000 yang diinvestasikan maka memperoleh penerimaan sebesar Rp. 115.000.

 Break Event Point (BEP)

Penghitungan suatu usaha peternakan yaitu analisis Break Event Point (BEP) memberikan informasi mengenai jumlah volume penjualan minimum agar peternakan tidak menderita rugi. Angka

Break Event Point dihubungkan dengan

angka hasil penjualan tertentu, akan diperoleh informasi mengenai berapa volume penjualan yang ditargetkan supaya perusahaan tidak menderita rugi (Mulyadi,1978).

Tabel 6. Analisa Break Event Point pada usaha penggemukan domba berdasarkan skala.

Uraian Skala Kecil Skala Menengah BEP Harga (Rp)/ekor 1.057.578 998.621

BEP Hasil /ekor 23 97

Table 6 menunjukkan supaya tercapai BEP maka harga minimal domba skala kecil Rp. 1.057.578,- sedangkan titik BEP dalam unit dicapai 23 ekor. Skala menengah supaya tercapai BEP maka harga minimal domba Rp. 998.621,- sedangkan titik BEP dalam unit dicapai domba 97/ekor. Harga jual domba dari masing-masing skala sama, yaitu sebesar Rp.

(7)

1.150.000,- dikarenakan pemilik usaha menjual domba berdasarkan harga pasaran dan juga pertimbangan penentapan harga berdarsarkan informasi dari harga pesaing atau peternak lain. Dengan demikian berdasarkan nilai BEP harga dan produksi dari dua skala usaha menunjukkan bahwa usaha penggemukan domba layak untuk dikembangkan.

 Payback Periode (PBP)

Pay Back Periode (PBP) adalah jangka

waktu tertentu yang menunjukkan terjadinya arus penerimaan (cash in flow) secara kumulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value (Ibrahim, 2009).

Tabel 7. Payback period usaha

penggemukan domba

berdasarkan skala.

Uraian Skala Kecil Skala Menengah Modal (Rp) 112.040.500 444.344.400 Pendapatan + penyusutan (Rp) 27.898.550 203.918.456

PBP 4,02 2,18

Hasil perhitungan PBP pada tabel 7, pada peternakan usaha penggemukan domba skala kecil diperoleh sebesar 4,02 yaitu, pengembalian modal skala kecil kembali dalam jangka waktu 4 tahun 7 hari. PBP pada usaha penggemukan domba skala menengah diperoleh sebesar 2,18. Menunjukkan bahwa pengembalian modal skala menengah kembali dalam jangka waktu 2 tahun 2 bulan 5 hari.

 Unit Cost

Unit cost (biaya satuan) merupakan

unit yang dapat ditentukan jika semua biaya dari semua unit non produktif telah dialokasikan ke unit produktif, sedangkan total biaya unit produktif merupakan total biaya operasional. Kemudian untuk menghitung besarnya unit cost, total biaya

ini dibagi dengan jumlah produksi (Kurnia, 1995).

Tabel 8. Unit cost harga/ekor dan harga bobot hidup/kg usaha penggemuka domba berdasarkan skala.

Uraian Bakalan Biaya produksi (Rp) Unit cost/ekor (Rp) Unit cost bobot hidup/kg (Rp)

Skala kecil 25 26.439.450 1.057.578 35.253

Skala menengah 112 111.845.522 998.621 33.287

Tabel 8 menunujukkan nilai unit cost per ekor skala kecil selama satu periode yaitu, unit cost per ekor Rp. 1.057.578 dan harga per kilogram bobot hidup Rp. 34.253,-. Sedangkan skala menengah unit

cost per ekor Rp. 998.621,- dan unit cost

per kilogram bobot hidup Rp. 33.287,-. Dengan demikian, diketahui nilai unit cost dapat menjadi dasar dalam menentukan besarnya harga.

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan

1. Peternakan penggemukan domba baik skala kecil maupun skala menengah pemeliharaan sama-sama selama tiga bulan. Pakan diberikan dua kali, pagi hari dan sore hari. Jumlah pemberian pakan 1,5 kg/ekor/hari, pakan yang diberikan berupa complete feed.

2. Usaha penggemukan ternak domba baik skala kecil maupun skala menengah layak untuk dikembangkan dilihat dari nilai BEP dengan nilai dibawah harga jual, R/C Ratio diatas angka 1. Sedangkan PBP skala kecil sebesar 4,02 bulan dan skala menengah 2,18 bulan.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. Produk Unggulan

Sektor

PeternakanKabupatenJombang.http://jo

mbangkab.go.id/index.php/page/detail/in fo-potensi-sektor-peternakan-potensi

sektorpeternakankabupaten-jombang.html. Diakses 25 Mei 2012. Harianto. 2010. Beternak & Bisnis Domba.

PT AgroMediaPustaka.

Ibrahim, Y. 2009. Studi Kelayakan Bisnis

Edisi Revisi. Rineka Cipta. Jakarta.

Kurnia, I. 1995. Analisis Tarif Rawat Inap. Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia. Jakarta

Mulyadi. 1978. Akuntansi Biaya. Fakultas

Ekonomi. UGM. Yogyakarta.

Murtidjo, 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius

Sudarmono A S, Sugeng Y B. 2007.

Beternak Domba. Jakarta : Penebar

Swadaya.

Riyanto, B. 1997. Dasar-Dasar

Pembelanjaan Perusahaan. BPFE.

Yogyakarta.

Suratiyah, K. 1996. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.

Soekartawi, A. 1993. Prinsip Dasar

Ekonomi Pertanian Teori dan

Aplikasinya. Rajawali Press. Jakarta.

Widodo, W dan Ngapuli, P. 1989.

Pengantar Ilmu Pertanian dan

Peternakan. Fakultas Peternakan

Gambar

Tabel 1. Nilai modal usaha penggemukan domba berdasrkan skala usaha
Tabel  2  menunjukkan  jumlah  total  biaya produksi pada skala kecil sebesar Rp.
Tabel  5.  Nilai  rentabilitas  usaha  penggemukan  domba berdasarkan skala usaha

Referensi

Dokumen terkait