DIALEKTIKA INTERPRETASI ALQURAN ZAMAN OLD DAN ZAMAN NOW
Oleh :
MHD Tri Rahmadi (31)
15530092
I. Pendahuluan
Sebagai salah satu pedoman yang sangat istimewa, Al-Qur’an tak akan habis -habisnya di bedah dan di bahas untuk di temukan sebuah pemahaman sesuai dengan maksud darinya, yang kemudian akan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk manifestasi dari tujuan di ciptakannya makhluk di muka bumi ini.dan hal ini merupakan bagian dari sebuah keberkahan yang terbesar yang di pancarkan oleh Al-Qur’an.1 upaya untuk menggali pemahaman tersebut tidak lepas dari jangka waktu yang sangat panjang dengan perolehan jejak sejarah yang terukir sejak masa paling awal hingga saat ini yang membuahkan hasil yang beraneka ragam disiplin ilmu dan pengetahuan yang baru, seperti yang di katakan oleh Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA. Salah satu ulama tafsir indonesia yang kini berdomisili di negara kesatuan republik indonesia ini dalam bukunya kaidah tafsir mengatakan bahwa “ Siapa saja yang mengamati dan mencermati keaneka ragaman bentuk disiplin ilmu keislaman tersebut, baik dari berbagai sudut pandang (perspektif), analisis, istilah dan pemaparannya yang berbeda, namun semua itu menjadikan teks-teks Al-Qur’an sebagai inti pokok tinjauan atau titik fokus studinya. Sehingga akhirnya semua disiplin ilmu memiliki ketersinggungan, memperkaya dan menambah berbagai informasi yang saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Selain itu, pada kenyataannya menunjukkan bahwa semua kelompok umat islam, apapun alirannya, selalu merujuk kepada Al-Qur’an untuk memperoleh petunjuk maupun menguatkan pendapat dari aliran maupun kelompoknya, bahkan sebagian orang non muslim menunjuk bahwa ayat-ayat Al-Qur’an sebagai kitab suci umat islam menjadi salah satu inspirasi dalam meluapkan ide-ide berliannya”.2 Selain itu, pengandaian Al-Qur’an itu seperti berlian yang memiliki banyak sisi . jika di pandang pada satu sisi, maka akan menampakkan keindahan tersendiri. Dan apabila dilihat dari sisi yang lainnya akan tampak keindahan yang lain pula. Berlian itu sendiri selalu berkerlipan sepanjang zaman.3
Menurut Sayyed Hussen Nasr, dalam bukunya yang di terjemahkan kedalam bahasa indonesia yang berjudul islam dalam bingkai cita dan fakta mengatakan bahwa Al-Qur’an memiliki tiga jenis petunjuk bagi manusia. Pertama, doktrin yang memberi pengetahuan tentang struktur kenyataan dan posisi manusia di dalamnya. Doktrin tersebut berisikan tentang petunjuk moral dan hukum yang menjadi dasar syariat yang mengatur kehidupan manusia sehari-hari. Kedua, petunjuk yang menyerupai ringkasan sejarah manusia, rakyat biasa, raja-raja, orang-orang suci, dan para nabi sepanjang zaman serta segala cobaan yang menimpa mereka. Ketiga, ia berisi sesuatu yang sulit
1 Hasan Al-Banna. Panggilan Al-Qur’an. , Terjemahan mudzakkir AS.(Bandung :Pustaka .1988)
Hal.3
2 Quraish Shihab, kaidah tafsir (Tangerang: lentera hati, 2013), Hal.6
di jelaskan dalam bahasa modern.4 sesuatu itu dapat di sebut sebagi “magi” yang agung, bukan dalam arti harfiah, tetapi dalam makna metafisis. sehingga Pada hakikatnya, interpretasi (penafsiran) Alquran sudah berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad SAW (571-632H), dan masih tetap berlangsung dan bergerak hingga sekarang, bahkan pada masa yang akan mendatang. Penafsiran Alquran sungguh telah menghabiskan waktu yang sangat panjang dan melahirkan sejarah tersendiri bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu Alquran, khususnya disiplin ilmu tafsir Alquran. Usaha dalam menelusuri sejarah penafsiran Alquran yang sangat panjang dan tersebar luas di segenap penjuru dunia Islam itu tentu saja bukan perkara mudah dan membutuhkan penelitian dan dialektika yang luas.
Berangkat dari pernyataan di atas, penulis berusaha melakukan rangkaian penulisan artikel ini dengan Urgensi ialah untuk mengungkapkan dan mendialogkan pada ranah era saat ini terhadap pola interpretasi (penafsiran) Al-Qur’an di masa klassik dan masa modern-kontemporer, akan tetapi penulis menggunakan istilah zaman now dan zaman old sebagai bentuk dari sebuah ekspresi dari makna istilah yang sangat gencar di saat ini dalam bingkai masyarakat di indonesia terutama di kalangan para pemuda. Sehingga, harapan penulis ialah dapat membantu menambahkan informasi pengetahuan akademika terkait benang panjang interpretasi Al-Qur’an tersebut dari masa klassik (zaman old ) dan masa modern-kontemporer (zaman now).
I. Tinjauan Umum Interpretasi (Tafsir) Al-Qur’an
Defenisi interpretasi Menurut KBBI ialah : Tafsiran, pemberian kesan, pendapat, atau pandangan teoritis terhadap sesuatu.5 Sehingga dapat diketahui, bahwa interpretasi ialah bermakna sama dengan tafsir, hanya saja tafsir berasal dari bahasa arab yang artinya ialah penjelasan atau keterangan. Adapun secara istilah menurut imam zarkasyi yang di kutip dalam buku Al-Qur’an dan ulumul quran karya Prof. Muhammad Chirzin, M.Ag ialah “suatu ilmu untuk memahami kitab allah yang di turunkan kepada nabi muhammad SAW melalui malaikat jibril, menjelaskan makna nya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah di dalamnya”.6 Sedangkan menurut imam as-Suyuti hampir sama memaknai defenisi tersebut yaitu “suatu hasil pemahaman atas Alquran, menjelaskan makna, mengeluarkan hukum dan menggali hikmah rahasianya(as-Suyuthi 1976:2/174)”.7
Berbagai macam formulasi yang di kemukakan para pakar tentang maksud “tafsir (interpretasi )Al-Qur’an”.salah satu defenisi yang singkat, tetapi mencakup keseluruhan menurut Prof. Quraih shihab, M.A. ialah : “penjelasan tentang maksud firman-firman allah sesuai dengan kemampuan manusia”. Tafsir atau interpretasi itu lahir dari upaya sungguh-sungguh dan berulang-ulang sang penafsir untuk ber-istinbath atau menarik dan menemukan makna pada teks ayat-ayat alquran serta menjelaskan apa yang musykil atau samar dari ayat-ayat tersebut sesuai kemampuan
4 Sayyed hussen nasr, islam dalam cita dan fakta, terjemah abdurrahman wahid dan hasyi wahid
(jakarta: leppenas, 1983) Hal. 278
5 https://KBBI.kemdikbud.go.id. Di akses pada tanggal 21 desember 2017
dan kecenderungan sang penafsir seperti corak hukum, atau filosofis, atau kebahasaan, atau sains, dan lain sebagainya.
Perlu di ketahui dan di garis bawahi dari defenisi diatas ialah: seorang interpreter atau penafsir, haruslah bersungguh-sungguh dan berulang-ulang berupaya untuk menemukan makna yang benar dan dapat di pertanggung jawabkannya. Penafsiran bukanlah pekerjaan sampingan. Penafsiran alquran tidak boleh di lakukan tanpa dasar dan sekedarnya kira-kira, karena yang di tafsirkan ialah firman allah yang sangat agung, dan sangat berdampak yang kuat tehadap ranah kehidupan duniawi dan ukhrawi manusia. Selain itu, seorang interpreter atau penafsir tidak hanya bertugas untuk menjelaskan makna yang di pahaminya, tetapi juga harus menyelesaikan kemusykilan (kesamaran) suatu pemahaman dari kandungan suatu ayat, tetapi penyelesainnya jangan di paksakan, karena suatu ketika akan terungkap di akan datang, sebagaiman telah terungkap berbagai penyelesaian yang belum terungkap di masa lalu. Dan yang terakhir ialah karena tafsir merupakan hasil upaya manusia sesuai dengan kemampuan dan kecenderungannya, makanya tidak dapat di hindari terjadinya berbagai perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing menimba dari Al-Qur’an dan akan mempersembahkan apa yanga akan ditimbanya. Walau berbeda, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa bisa jadi semuanya benar.8
II. Sejarah Perkembangan Interpretasi (Tafsir
Konsep pembagian periodisasi sejarah perkembangan interpretasi (tafsir) al quran sangat beraneka ragam, sebagian para mufassir membagi menjadi tiga bagian seperti versi Muhammad Husein Al-Dzahabi dalam kitabnya At-Tafsir wal mufassirun menyatakan tiga periodisasi penafsiran alquran, yaitu : 1) Tafsir alquran pada masa nabi dan sahabat, 2) Tafsir alquran pada masa tabiin, 3) Tafsir alquran pada masa tadwin (kodifikasi)9 Selain itu beberapa ahli tafsir membagi periodisasi penafsiran Alquran ke dalam tiga fase: periode mutaqaddimin (abad 1-4 H), Periode mutaakhirin (abad 4-12H), dan periode modern (abad 12-sekarang). Akan tetapi, penulis akan membagi periodisasi ini menjadi dua bagian besar secara umum, yaitu: pertama Era klassik-pertengahan (zaman old), dan yang kedua ialah Era modern-kontemporer (zaman now).
A. Era klassik-Pertengahan (zaman old)
(abad pertama hingga ke-empat H/IX-XIII)
Era klassik berawal dari zaman mutaqoddimin hingga ke zaman mutaakhirin , pada zaman mutaqaddimin penulis tafsir Alquran ialah gelombang pertama, generasi ini telah bisa memisahkan tafsir dan hadis daripada zaman sebelumnya sesuai dalam Shahih Bukhari yang terdapat pada pembahasan tafsir. Pada era ini bermula sejak Al-Qur’an di turunkan, sejak begitu Al-Qur’am di turunkan kepada Rasulullah SAW. Sejak saat itu pula beliau melakukan proses dan praktik penafsiran untuk menjelaskan Al-Quran kepada para sahabat. dalam bukunya Dr. H Abdul Mustaqim, M.A.g. yang berjudul dinamika sejarah tafsir Al-Quran mengatakan bahwa, “ Rasulullah adalah the first interpreter of the Qur’an ,orang yang pertama menafsirkan Al-Qur’an dan yang
8 Quraish Shihab, kaidah tafsir (Tangerang: lentera hati, 2013), Hal 9-10
9 Muhammad Husein Al-Dzahabi, attafsir wal mufassirun, jilid I (kairo: dar al-kutub al-Hadits,1976),
di anggap paling otoritatif untuk menjelaskan kepada umatnya”.10 Tafsir Mutaqoddimin ini sumber penulisannya meliputi Alquran dan hadis, pendapat para sahabat dan tabi’in,ijtihad atau istinbat dari para tabi’inat-tabi’in. Dengan sumber -sumber tersebut tafsir mutaqoddimin mempunyai dua bentuk yaitu al-ma’sur dan al–
ra’yu. Metode tafsir ini banyak memakai metode tafsir itnabi atau metode tahlili, yaitu menafsirkan ayat menggunakan penjelasan yang sangat rinci. Ruang lingkup tafsir ini terfokuskan pad abidang tertentu, seperti Tafsir al-Kasysyaf karya Imam Zamakhsyari yang difokuskan pada bidang bahasa dan teologis.11
Iqnaz Goldzieher mengatakan dalam bukunya Mazahib Tafsir al-Islami, bahwa tafsir al-Kasysyaf sangat baik, hanya saja pembelaannya terhadap Mu’tazilah sangat berlebihan.12 setelah berakhir dengan zaman mutaqaddimin, kemudian generasi selanjutnya ialah zaman mutaakhirin yang muncul pada abad (IX-XII H/XIII-XIX M)
Pada Generasi ini muncul saat kemunduran Islam,yaitu sejak jatuhnya Baghdad pada tahun656 H/1258M sampai timbulnya gerakan kebangkitan Islam pada 1286 H/1888M atau dari abad VII sampai XIII H. Para mufair mutaakhirin mengambil sumber yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan disampin Alquran dan hadis, cara menjelaskan maksud ayat, memakai metode tahlili dan muqarin.13
Ruang lingkup penafsiran ulama mutaakhirin sudah lebih mengacu pada spesilisasi ilmu, seperti Anwar al-Tanzil wa Asrar al-ta’wil( Tafsir Khazin) karangan al-Khazin(w.741H) dalam bidang sejarah,Tafsir al-Qurthubi (w.744H) dibidang fiqih. Adapula kitab bil ma’tsur antara lain: Tafsir Ibnu Katsir(w.774H) Alquran al‘Adzim
dan al-Durr al-Mansur fiTafsir bi al-Ma’sur, karangan As-suyuti (w.911H).14 Demikian kitab-kitab yang muncul pada periode ulama mutaakhirin.
B. Era modern-kontemporer (zaman now) abad XIV H/XIX M hingga sekarang
Zaman modern ini dimulai sejak gerakan modernisasi Islam di Mesir oleh Jamaluddin al-Afghani (1254H/1838M – 1314H/1896M) dan murid beliau Muhammad Abduh (1266H/1845M – 1323H/1905M), di Pakistan oleh Muhammad Iqbal (1878-1938), di India oleh Sayyid Ahmad Khan (1817-1989), di Indonesia oleh Cokroaminoto dengan Serikat Islamnya,K.H.A. Dahlan dengan Muhammadiyahnya, K.H. Hasyim Asy’ari(1367 H) dengan Nahdlatul Ulamanya di Jawa, dan Syekh Sulaiman ar-Rasuli dengan Pertinya(w.1970) di Sumatera.15 Kitab-kitab tafsir yang dikarang pada zaman modern ini aktif mengambil bagian mengikuti perjuangan dan jalan pikiran umat Islam pada zaman modern ini Para mufassir modern ini dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran lebih menjelaskan bahwa Islam tidak bertentangan
10 Abdul mustaqim, dinamika sejarah tafsir Al-Qur’an (Yogyakarta : idea pers, 2016) cetakan ke-dua
hal.41
11 Nasruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai, 2003),15.
12 Hamim Ilyas,Studi Kitab Tafsir(Yogyakarta: Teras, 2004),60; Iqnaz Goldziher, Mazahib Tafsir
al-Islami, terj. Ke dalam bahasa Arab oleh ‘Abd Halim al-Najjar (Beirut: Dar Iqra’ , 1983), 141. 13 Nasruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai, 2003),17
14 Nasruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai, 2003),19.
dengan ilmu pengetahuan dan kemoderenan. Islam adalah agama yang universal, yang sesuai dengan seluruh bangsa pada semua masa dan setiap tempat.
Metode yang digunakan pada periode modern ini yaitu metode tahlili dan muqarin (komparatif), sama dengan pola yang dianut pada periode Mutaakhirin. Pada periode ini juga muncul pula metde baru yang disebut dengan metode Maudlu’i (tematik), yaitu menafsirkan ayat-ayat Alquran berdasarkan tema atau topik yang dipilih . Ssemua ayat yang berkaitan dengan topik tersebut dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari segala aspeknya. Ruang lingkup penafsiran ini lebih banyak diarahkan pada bidang adab(sastra dan budaya) dan bidang sosial kemasyarakatan, terutama politik dan perjuangan.16
a. Perkembangan Corak dan Metode Interpretasi (Tafsir) Al-Qur’an
dengan berjalannya waktu, Seiring penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran terus berkembang dan perbedaan paham diantara umat Islam dalam memahmi ayat Alquran semakin tidak terhindarkan .
A. Corak penafsiran
Menurut Quraish Shihab,17 terdapat corak penafsiran yang dikenal, diantaranya adalah:
1. Corak sastra bahasa, yang timbul akibat kelemahan-kelemahan orang arab sendiri di bidang sastra, sehingga dirasakan kebutuhan untuk menjelaskan kepada mereka tentang keistimewaan dan kedalaman arti kandungan Alquran di bidang ini.
2. Corak penafsiran ilmiah, karena kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha tafsir untuk memahami ayat-ayat Alquran sejalan dengan perkembangan ilmu. 3. Corak filsafat dan teologi, karen apenerjemahan kitab yang mempengaruhi
beberapa pihak, serta akibat masuknya penganut agama-agama lain masih tidak mempercayai beberapa kepercayaan lama.
4. Corak fiqih atau hukum, akibat berkembangnya ilmu fiqih, terbentuknya madzhab-madzhab fiqih,yang setiap golongan berusaha untuk membuktikan kebenaran pendapat dalam penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum. 5. Corak tasawuf,akibat timbulnya gerakan-gerakan sufi sebagai reaksi terhadap
kecenderungan berbagai pihak terhadap materi, atau sebagai kompensasi kelemahan yang dirasakan.
6. Corak sastra budaya kemasyarakatan, yakni satu corak tafsir yang menjelaskan petunjuk ayat-ayat Alquran yang berkaitan langsung dengan masyarakat serta usaha menanggulangi masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat dan mengemukakannya dengan bahsa yang mudahdimengerti dan tetap indah didengar. Corak ini akibat peran Muhammad Abduh.18
B. Metodologi penafsiran Al-Qur’an
16 Nasruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia, (Solo: Tiga Serangkai, 2003),20.
17 M. Quraish Shihab ,Membumikan Alquran (Bandung : Mizan, 1992),187.
18 Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pengantar Studi Islam,(Surabaya: IAIN Sunan
Metodologi adalah merupakan wacana untuk melakukan sesuatu, sebagai sebuah di siplin ilmu tafsir tidak terlepas dari metode yakni suatu cara yang sistematis untuk mencapai tingkat pemahaman yang benar tentang pesan Alquran yang dikehendaki oleh Allah swt. Metode penafsiran Alquran secara garis besar di bagi menjadi dua bagian. Yaitu:
1. Bil Ma’tsur (riwayat)
Corak tafsir bil Ma’tsur ialah usaha penafsiran Al-Qu’an hanya dengan ayat Alquran itu sendiri dan hadis Rosulullah saw.serta kata-kata sahabat. Metode Tadsir Bil-Ma’tsur ini sangat terkait ketat dengan sistem ilmu Hadis. Karena penulisan tafsir Alquran pada awalnya memang menjadi satu dan merupakan bagian dari ilmu hadis itu sendiri. Metode Ma’tsur memiliki keistimewaan antara lain: menekan pentingnya bahasa dalam memahami Alquran, memaparka ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan–pesannya, mengikat mufasir dalm bingkai teks ayat-ayat sehingga membatasinya tejerumus dalam subyektifitas berlebihan. Sedangkan kelemahannya adalah: terjerumusnya sang mufassir ke dalam uraian kebahasaan dan kesusastraan yang bertele-tele sehingga pesan pokok Alquran menjadi kabur di celah-celah tersebut, seringkali konteks turunnya ayat atau sisi kronlogis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami dari uraian nasikh mansukh hampir dikatakan terabaikan sama sekali, sehingga bagaikan turunnya bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya.19
2. Bil Ra’yu( penalaran akal)
Corak tafsir bil-ra’yi ialah usaha penafsiran Alquran dengan ijtihad akal setelah seorang mufassir itu memenuhi syarat-syarat mufassir.20 Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, sehingga akan sangat luas pembahasannya apabila kita bermaksud menelusurinya satu persatu. Menurut pandangan Al-Farmawi yang membagi metode tafsir yang bercorak penalaran ini kepada empat macam metode, yaitu: tahlili, ijmali, muqarin, dan maudlu’i.21
a. Metode Tahlili (Analitik)
Metode ini adalah yang paling tua dan paling sering digunakan. Menurut Muhammad Baqir ash-Shadr, metode ini, yang ia sebut sebagai metode tajzi’I adalah metode yang mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Alquran dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat Alquran sebagaimana tercantum dalam Alquran.22
Tafsir ini di lakukan berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir sesuai dengan susunan Al-Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang di kehendaki, sasaran yang di tuju dan kandungan ayat, yaitu unsur-unsur ijaz dan balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat di ambil dari ayat yaitu hukum
19M. Quraish Shihab ,Membumikan Alquran (Bandung : Mizan, 1992),Hal 195.
20 Imam Muchlas, Metode Penafsiran Alquran (Malang: UMM Press, 2003), Hal.78
21 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012), 171
fiqh, dan dalil syari, arti secara bahasa, norma-norma kahlak dan sebagainya. Adapun keunggulannya ialah terletak pada cangkupan yang luas, dapat menampung berbagai gagasan dan menyediakan informasi mengenai kondisi sosial, linguistik dan sejarah teks. Sementara kelemahannya ialah membuat petunjuk alquran bersifat parsial, melahirkan penafsiran yang subjektif, memuat riwayat israiliyyat, komentar yang teralu banyak melelahkan informasinya dan tumpang tindih dengan pengetahuan.23
b. Metode Ijmali (Global)
Metode ini adalah berusaha menafsirkan Alquran secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar.Keistimewaan tafsir ini ada pada kemudahannya sehingga dapatdikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.
c. Metode Muqarin
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat lainnya, yaitu ayat-ayat yang mempunyai kemiripan redaksi dalam dua atau lebih kasus yang berbeda, atau ayat dengan hadis, atau antara pendapat-pendapat para ulamatafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu. Sejalan dengan kerangka tersebut diatas, maka prosedur penafsiran dengan cara muqorin tersebut dilakukan sebagai berikut:
1. Menginventarisir ayat-ayat yang mempunyai kesamaan dankemiripan redaksi.
2. Meneliti khusus yang berkaitan dengan ayat-ayat tersebut. 3. Mengadakan penafsiran.
Metode ini unggul karena mampu memberikan wawasan yang relatif luas, mentolerir perbedaan pandangan yang dapat mencegah sikap fanatisme pada aliran tertentu,memperkaya komentar suatu ayat. Sedang kelemahannya adalah tidak cocok dikaji oleh para pemula karena memuat bahasa yang teramat luas, kurang dapat diandalkan dalam menjawab problema masyarakat, dan dominan membahas penafsiran ulama, terdahulu daripada ulama penafsir baru.24
d. Metode Maudhu’i (Tematik)
Tafsir berdasarkan tema, yaitu memilih satu tema dalam Alquran untuk kemudian menghimpun seluruh ayat Alquran yang berkaitan dengan tema tersebut baru kemudian ditafsirkan untuk menjelaskan makna tema tersebut.
23 Ahmad syukri saleh, melacak metodologi tafsir alquran, (vol.6, no 12, 2007),292
Metode ini adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban Alquran dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang mempunyai tujuan satu, yang bersama-sama membahas topik atau judul tertentu dan menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya, kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat lain kemudian mengambil hukum-hukum darinya. Metode ini unggul karena dipandang mampu menjawab tantangan zaman, dinamis dan praktis tanpa harus merujuk pada kitab-kitab tafsir yang tebal dan berjilid-jilid, penatannya sistematis, tema-temanya up to date membuat Alquran tidakketinggalan zaman, serta pemahamannya utuh. Sementara kelemahannya adalah menyajikan Alquran sepotong-sepotong, pemilihan topik tertentumembuat pemahaman terbatas, membutuhkan kecermatan dalam menentukan keterkaitan ayat dengan tema yang diangkat.25
Metode penafsiran Alquran di era kontemporer ialah sebagai berikut:
A. Model Tafsir Sastra
Alquran bersifat unik. Salah satunya adalah adanya pengulangan kata di beberapa ayatnya. Keunikan ini ternyata mengundang banyak perhatian dari kalangan ulama sehingga banyak dari mereka membicarakan keunikan ini serta menghubungkannya dengan studi tematik modern. Muhammad Quthub misalnya, menegaskan sisi tantangan tersebut dengan berbagai gaya bahasa. Dalam melakukan studi tentang pengulangan yang ada dalam al quran, Muhammad Quthub mencontohkan, ibarat mengenal seseorang yang tidak mungkin dengan cara mengetahuinya sepotong-sepotong dari beberapa ciri fisiknya, tetapi harus secara menyeluruh yang meliputi mata, hidung, telinga dan lain sebagainya. Hal itulah. menurut Muhammad Quthub yang disebut sebagai suatu keutuhan. Selain Muhammad Quthub, Muhammad al-Hijazi dalam bukunya al wahdah al maudhuiyyah fi Alquran al karim juga mengatakan bahwa pengulangan itu terjadi dalam bentuk dan corak yang berbeda sesuai dengan kondisi, lingkungan dan waktu di turunkannya. Kesatuan tema seperti inilah yang kemudian memunculkan sebuah aliran penafsiran yang disebut dengan corak tafsir tematik.
Dalam dinamika selanjutnya, lahirlah metode penafsiran model baru, yang bercorak sastra, dan di prakarsai oleh Muhammad Abduh. Metode ini merupakan metode modern yang menggunakan model perkembangan sosial masyarakat yang diintegrasikan dengan sentuhan-sentuhan sastra. seiring berkembangnya pergulatan peneletian, ternyata di temukanlah kelemahan pada metode ini saat awal kemunculnnya. Ialah dari sisi balaghah dan kajian yang di gunakan. Beberapa kajian yang telah di lakukan lebih banyak merujuk pada karyakarya klasik yang di tulis ulamaulama pada abad ke4 sampai abad ke -8. Ketidak puasan terhadap metode inilah yang kemudian menjadikan motivasi tersendiri bagi Bintu al-Syathi’i untuk mengembangkan kajian tematik bahasa sastra dalam tafsir – seorang sastrawan yang berlatar pendidikan bahasa dan sastra dari universitas Al Azhar Asy syarif Kairo. Sebagai Seorang Sastrawan
yang berlatar pendidikan bahasa dan sastra dari Universitas Al Azhar Asy syarif ini menekankan pembahasannya pada aspek kemukjizatan Alquran di bidang sastra dan sebagai kesatuan rasa (wahdah dhawqiyyah dan wijdaniyah). Secara garis besar metode kajian sastra tematiknya dpat di simpulkan dalam empat pokok pikiran:
Pertama, mengumpulkan unsur-unsur tematik secara keseluruhan yang ada di beberapa surat untuk di pelajari secara tematik. Metode yang ia gunakan bukanlah tematik murni melainkan pengembangan induktif. Di sini ia membuka dengan kupasan dalam ayat itu kemudian di bandingkan dengan ayat yang memiliki gaya bahasa yang sama. Kadang menyebut jumlah kata, adakalanya memberikan kesamaan dan perbedaan dalam penggunaannya. Terakhir ia simpulkan korelasi antara gaya bahasa tersebut.
Kedua, memahami beberapa hal di sekitar nash yang ada dengan cara mengkaji asbab an-nuzul ayat tersebut tanpa meninggalkan peran penting kaedah Al-ibrah bi umum al-lafz la bi khusus al-sabab (kesimpulan yang di ambil menggunakan keumuman lafadz bukan dengan kekhususan sebab di turunkannya sebuah ayat).
Ketiga, memahami siyaq khas dan siyaq ‘am dalam ayat Alquran. Apakah ayat tersebut di pahami dzahirnya ataukah mengandung arti majaz (kiasan) dengan berbagai macam klasifikasinya.
Keempat, mengungkapkan keindahan, pemilihan kata, beberapa penakwilan yang ada di berbagai kitab tafsir yang mu’tamad untuk memahami rahasia ta’bir dalam alqur’an tanpa mengesampingkan posisi gramatikal arab dan i’rab dalam kajian balaghah. Metode ini adalah klimaks dari kajian sastra Bintu Al Syathi’.
Adapun bentuk Sastra tematik yang di maksudkan di sini adalah corak tafsir modern yang menganut madzhab dan aliran tematik umum. Pengkajiannya di khususkan pada pembahasan sastra bahasa dalam satu surat dengan mengambil surat pendek saja. Sebagai perbandingan Muhammad Quthub juga mengkaji secara tematik umum persurat dengan klasifikasi makki dan madani.
B. Model Teori Hermeneutik
sekaligus menjadi sebuah urgensi dari hermeneutik itu sendiri.26 Hermenutik berasal dari Bahasa Yunani Hermenuo, yang memiliki beberapa pengertian, yaitu mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata, menterjemahkan atau bertindak sebagai penafsir atau bisa berarti menafsirkan. Term ini memiliki asosiasi etimologis dengan nama dewa dalam mitologi Yunani, Hermes, yang mempunyai tugas menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan kepada manusia. Teori ini bertujuan untuk memahami hakekat atau pesan yang terkandung dari teks, perantara atau penafsir, cara memahami teks dan pemahaman auidence.
Sifat Al-Qur’an yang menyejarah menyebabkan teori hermeneutik (metode penafsiran modern) menjadi kerja yang mendesak untuk di kembangkan dalam memahami makna secara utuh. Harapannya ialah bagian-bagian teologis dan etika legalnya ialah dapat di tempatkan dalam satu keseluruhan yang padu. Melalui metode ini sebuah weltanscauung (pandangan dunia) Al-Qur’an dapat di pahami.27 Sedangkan Menurut pandangan Abu Zayd mufasir asal Mesir bahwa tafsir seringkali di gunakan untuk kepentingan politik atau yang ia sebut dengan problem al-nushus al diniyyah saja.maka jalan keluar yang ia kemukakan adalah memahaminya sebagai literatur. Ia menemukan bahwa penafsiran kontekstual Alquran yang merujuk kepada makna dalam konteks sejarah dan budaya, serta sampai kepada signifikasi konteks kehidupan sekarang akan membuat seseorang dengan sendirinya menangkap secara objektif makna historis teks Alquran itu sendiri. Maka, ia memunculkan teori hermeneutik sebagai literary critism, yang berorientasi untuk mengkaji ma’na dan maghza. Hermeneutic menurut Abu Zayd adalah membahas tentang hubungan antara pembaca teks (mufasir) dengan pemilik teks (Allah).
b. Perbandingan Metode Tafsir (zaman old) dan Tafsir Modern-Kontemporer (zaman now) .
Terdapat dua kelompok yang basis pijakan dan kaidah penafsirannya saling berlawanan Dalam perkembangan ilmu tafsir,. Kelompok yang satu berpegang pada kaidah al-ibrah bi umum lafdzi la> bi khusus as saba> b, sedangkan lainnya berpegang pada kaidah al-ibrah bi khusus as sabab la bi umum lafdzi. Kini, mufassir kontemporer memunculkan kaidah baru yakni ibrah bi maqashid
al-syari’ah, sesuatu yang seharusnya menjadi pegangan adalah apa yang dikehendaki oleh syari’ah.
Muhammad Abduh berpendapat, penafsiran kitab-kitab dimasanya dan masa-masa sebelumnya tidak lebih sekedar pemaparan berbagai pendapat ulama yang sangat bereda-berselisih yang akhirnya menjauh dari tujuan penurunan Alquran itu sendiri. Model penfsirannya yang sangat kaku dan gersang karena penafsiran hanya mengarahkan perhatian pada pengertian kata-kata atau kedudukan kalimat dari segi I’rab, dan penjelasan lainnya yang menyangkut segi teknis kebahasaan yang dikandung oleh redaksi ayat-ayat Alquran. Ini berarti, para mufassir belum maksimal dalam menjadikan Alquran sebagai hudan karena uraian penafsiran dari kandungan ayat-ayat Alquran relatif sangat”dangkal”.
Pada masa kontemporer, metode penafsiran Alquran yang berkembang sudah sangat beragam. Fazlur Rahman, misalnya menggagas metode tafsir kontekstual. Metode ini yang mencoba menafsirkan Alquran berdasarkan pertimbangan analisis bahasa, latar belakang sejarah, sosiologi, filosofis, dan antropologi yan berlaku dan berkembang dalm kehidupan masayarakat Arab pra Islam dan selama proses wahyu Alquran berlangsung.28 Menurutnya, ayat-ayat Alquran tidak bisa dipahami secara literal(harfiah) sebagaimana yang dipahami para mufassir klasik. Baginya, memahami Alquran dengan makna harfiah tidak saja akan menjauhkan seseorang dari petunjuk yang ingin diberikan oleh Alquran, tetapi juga merupakan pemerkosaan terhadap ayat-ayat Alquran. Menurut Fazlur Rahman, pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan Alquran bukanlah makna yang ditunjukkan oleh ungkapan harfiyah suatu ayat, melainkan nilai moral yang ada dibalik ungkapan literal itu. Karena itu, ayat-ayat Alquran harus lebih dipahami dalam kerangka pesan moral yang dikandungnya. Untuk mengetahui pesan moral sebuah ayat Alquran Rahman memandang penting situasi dan kondisi historis yang melatarbelakangi pewahyuan ayat-ayat Alquran. Situasi dan kondisi historis ini bukan hanya apa yang dikenal oleh ilmu tafsir sebagai asbabun nuzul, melainkanjauh lebih luas dari itu. Ayat-ayat Alquran merupakan pernyataan moral,religius,dan sosial Tuhan untuk merespon apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ayt-ayat tersebut memiliki ”ideal moral”yang harus menjadi acuan untuk memahami ayat Alquran.
Salah satu ayat Alquran yang sering dikutip oleh mufassir untuk menguatkan pandangan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah Qs. nisa:34, An-nisa:11 dan Qs.Al-A’raf:7.
Jika penafsiran klasik memperkokoh anggapan yang memposisikan kaum laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan, para mufassir feminis melakukan penafsiran ulang (reinterpretasi) atas ayat-ayat diatas dengan menghindari pendekatan harfiyah. Jelas sekali bahwa langkah ini menghasilkan penafsiran yang sama sekali berbeda dengan penafsiran klasik. Para mufassir feminis berpandangan bahwa posisi laki-laki dan perempuan itu setara.
Diantara mufassir yang memakai model panafsiran klasik adalah Manhaj Tafsir Thabari, Ibnu Katsir dan Zamakhsyari. Sedangkan yang termasuk mufassir yang memakai model penafsiran modern-kontemporer adalah Rasyid Ridla (Tafsir al-Manar), Sayyid Qutb dan Quraysh Shihab(Tafsir Mishbah).
Ulama Kontemporer dalam memahami ayat Alquran:
1. Terdapat kecenderungan penafsiran yang melihat kepada pesan yang ada di balik teks.
2. Konsep Metodologi tafsir kontemporer menjadikan Alquran sebagai kitab petunjuk atau meminjam amin al khuli (w 1966M) al ihtida’ bil Alquran.hal ini tidak terlepas oleh pengaruh Syekh Muhammad Abduh yang ingin mengembalikan Alquran sebagai fungsinya yaitu sebagai petunjuk
3. Tidak langsung begitu saja menerima ungkapan literal Alquran akan tetapi melihat lebih jauh sasaran yang ada dalam ungkapan lateral tersebut, sehingga,
urgensi yang ingin di cari adalah “ruh” atau pesan moral dan hikmah yang terdapat di dalam Alquran.
I. Simpulan
Dari uraian pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa dialektika penafsiran atau interpretasi alquran dari masa dahulu dan sekarang sangat berbeda dan memiliki ciri khasnya masing-masing, keduanya sangat mencolok memberikan peran interpretasi terhadap alquran dngan keberagamannya masing-masing sesuai kondisi, tempat dan waktunya. Sehingga materi tentang interpretasi ini tidak akan habis di bahas tuntas, karena ia berjalan dengan perkembangan zaman dengan pola penafsiran yang sangat beraneka ragamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata. 2012. “Metodologi Studi Islam”. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Al-Banna, Hasan.1988. Panggilan Al-Qur’an. ,Terjemahan mudzakkir AS.Bandung :
Pustaka.
Al-Dzahabi, Muhammad Husein.1976. “At-Tafsir wal Mufassirun”, jilid I . kairo: Dar al-kutub al-Hadits.
Chirzin ,Muhammad. 1998 “Al-Qur’an dan ulumul quran”. Yogyakarta: Dhana Bakti Prima Yasa.
Faiz, Fahruddin. 2015.“ Hermeneutika Al-Qur’an”. Yogyakarta : kalimedia
Hamim Ilyas. 2004 “Studi Kitab Tafsir”.Yogyakarta : Teras.
Iqnaz Goldziher. 1983 “ Mazahib Tafsir al-Islami”. terj. Ke dalam bahasa Arab oleh ‘Abd Halim al-Najjar. Beirut : Dar Iqra’.
Muchlas, Imam 2003. “Metode Penafsiran Alquran”. Malang: UMM Press.
Muhammad Akhsin sakho. 2017. “oase Al-Quran “. jakarta: Qaf Media Kreatif Mustaqim, Abdul. 2016 .“dinamika sejarah tafsir Al-Qur’an”. cetakan ke-dua.
Yogyakarta : idea pers
Nasruddin Baidan. 2003. “ Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia”.Solo: Tiga Serangkai,
Syafii Maarif, Ahmad. 1995 . “membumikan lisan “.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Shihab, M. Quraish, 2013. “kaidah tafsir”.Tangerang: lentera hati.
--- .1992 “Membumikan Alquran”. Bandung : Mizan.
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. 2012. “ Pengantar Studi Islam”. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press