1
STRATEGI PENANGANAN DAMPAK LINGKUNGAN
PRODUKSI
CRUDE PALM OIL
MENGGUNAKAN
METODE
SOFT SYSTEM METHODOLOGY
(SSM)
Oleh:
Purwo Subekti/ F361150141, Universitas Pasir Pengaraian Dedi Dwi Haryadi/ F361150131, Politeknik Negeri Jakarta
Muji Paramuji/ F36115011, Universitas Islam Sumatera Utara
Mahasawa Program Pascasarjana Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Nopember 2015
1.
LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan negara dengan perkebunan sawit terluas di dunia, pada tahun 2014 luas kebun kelapa sawit mencapai 10,9 juta hektar dengan produksi Cr ude P a lm Oil (CPO) sebesar 29,3 juta ton dengan jumlah Pabrik Kelapa Sawit 695 unit (BPS 2014). Perkembangan industri kelapa sawit akan terus meningkat seiring dengan rencana pemerintah tahun 2020, Indonesia ditargetkan mampu menghasilkan 40 juta ton CPO per tahun. Rencana tersebut didukung dengan adanya Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) tahun 2011-2030, pemerintah akan mengalokasikan kawasan hutan untuk dimanfaatkan menjadi sektor perkebunan (Kemenhut 2011).
Perkembangan pesat sektor industri kelapa sawit tersebut ternyata menimbulkan dampak lain. Dari proses produk CPO, dihasilkan limbah padat dan limbah cair kelapa sawit. Limbah pabrik kelapa sawit di Indonesia mencapai 28,7 juta ton limbah cair/tahun dan 15,2 juta ton limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS)/tahun (Kementerian Pertanian 2008). Berbagai persoalan muncul berkaitan dengan isu lingkungan yang disebabkan aktivitas industri kelapa sawit. Permasalahan kerusakan lingkungan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun dunia internasional.
2
(N2O). Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), menjelaskan bahwa setiap GRK mempunyai potensi pemanasan global (Globa l Warming Potential/GWP) yang diukur secara relatif berdasarkan emisi CO2. Semakin besar nilai GWP maka akan semakin bersifat merusak (IPCC 2007).
Environmental Protection Agency (EPA), lembaga pemerintah urusan lingkungan hidup AS menyatakan bahwa sumberdaya energi terbarukan harus bisa mengurangi emisi GRK sebesar 20 % (EPA 2011). Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka akan berdampak pada daya beli produk turunan kelapa sawit oleh negara-negara maju. Sebagai langkah solutif meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia, pemerintah menerapkan peraturan yang tersusun dalam Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Terdapat 7 prinsip ISPO yang harus dipenuhi perusahaan perkebunan kelapa sawit yaitu sistem perizinan dan manajemen perkebunan, penerapan pedoman teknis budidaya dan pengolahan kelapa sawit, pengelolaan lingkungan, tanggung jawab terhadap pekerja, tanggung jawab sosial dan kominitas, pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat, dan peningkatan usaha secara berkelanjutan. Salah satu kriteria dalam prinsip pengelolaan lingkungan adalah perusahaan diharuskan melakukan identifikasi sumber emisi GRK (Ditjenbun 2014). Untuk penanganan dampak lingkungan produksi CPO maka perlu suatu sistem manajemen yang holistik, sehingga diharapkan akan ditemukan akar permasalahan dan alternatif pengembangan sistem yang ideal untuk mengatasinya.
3
Seperti pendekatan sistem lainnya, inti dari SSM ini sendiri adalah memberikan perbandingan antara dunia nyata dengan beberapa permodelan yang diperkirakan merepresentasikan dunia itu sendiri. Dengan tujuan perbandingan ini nantinya akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai dunia nyata (research) dan memberikan ide-ide perbaikan (action) (Sonata & Prayama, 2011; Checkland & Scholes, 1990; Brocklesby, 1995). SSM memiliki kapabilitas dalam menyediakan kerangka kerja untuk memahami masalah yang dihadapi bahkan masalah yang kompleks sekalipun (Daellenbach & McNickle, 2005). Implementasi SSM pada berbagai disiplin ilmu sudah banyak diterapkan oleh para pakar, peneliti dan akademisi, mulai dari persoalan struktural, kebijakan, militer, lingkungan, metode pengajaran, sosial, permasalahan energi, inovasi dan sebagainya (Khisty, 1995; Bjerke, 2008; Patel 1995; Cox, 2010; Konis 1994; Staker 1999).
Penerapan metode SSM untuk penanganan dampak lingkungan pada produksi CPO ini dilakukan di P a b r i k P e n go l a h a n K e l a p a S a w i t ( P P K S ) PTPN V Lubuk Dalam Kabupaten Siak Propinsi Riau, yang merupakan salah satu industri kelapa sawit milik pemerintah Indonesia. Penanganan dampak lingkungan dilakukan mulai tahap pembibitan, perkebunan, transportasi, dan pengolahan CPO. Dengan penerapan SSM ini, diharapkan mampu memberikan informasi dan rekomendasi bagi perusahaan dalam mengambil keputusan terkait permasalahan penggunaan sumberdaya, energi, dan dampaknya terhadap lingkungan serta solusi alternatif penanganannya.
2. METODE ANALISIS
4
Gambar 1. Tahapan Soft System Methodology (Checkland & Schole,1990)
1. Mengkaji masalah yang tidak terstruktur, Pada tahap ini akan dilakukan
pengumpulan sejumlah informasi yang diperlukan berkaitan dengan dampak lingkungan produksi CPO termasuk pandangan dan asumsi para pihak yang terlibat. Informasi dapat diperoleh dari pelaku industri kelapa sawit, dokumen-dokumen kepustakaan lembaga pemerintah dan swasta termasuk bahan-bahan hasil penelitian, juga dari hasil wawancara atau focus group discussion (FGD). Tujuan tahap ini bukan untuk mendefinisikan masalah, tetapi untuk memperoleh sejumlah pemikiran yang sedang berkembang sehingga rentang pilihan- pilihan keputusan yang mungkin menjadi terbuka (Martin, 2008).
2. Mengekspresikan situasi masalah, informasi yang diperoleh pada tahap
pertama, selanjutnya digunakan untuk membangun rich picture (penggambaran peta dunia nyata) atau disebut juga representasi keadaan sekarang. Gambar ini melukiskan proses aktivitas dari setiap institusi dan aktor yang terlibat dalam situasi tersebut yang mengindikasikan struktur-struktur elemen, aliran komunikasi dan lingkungan interpretasi individu (Sonatha & Prayama 2011; Eriyatno & Larasati, 2013).
1. Mengkaji Masalah Yang Tidak Terstruktur
3. Membangun Definisi Permasalahan Yang Berkaitan Dengan
Situasi Masalah 2. Mengekspresikan Situasi
Masalah
6. Menetapkan Perubahan Yang Layak Dan Diinginkan
4. Membangun Model Konseptual 5. Membandingkan Model
Konseptual Dengan Situasi Masalah 7. Melakukan Tindakan Perbaikan Atas Masalah
Dunia Nyata
5
3. Membangun definisi permasalahan yang berkaitan dengan situasi masalah, pada
bagian ini akan merumuskan root definition (definisi akar), yaitu suatu kalimat singkat yang menyatakan “suatu sistem melakukan P dengan cara Q untuk mencapai R”. Root definition selanjutnya dituangkan dalam elemen dan deskripsi CATWOE yang rinciannya pada Tabel 1.
Tabel 1. Desripsi CATWOE
Elemen CATWOE Deskripsi
Costumer Siapa yang mendapatkan manfaat dari aktivitas tujuan? Actor Siapa yang melaksanakan aktivitas-aktivitas?
Transformation Apa yang harus berubah agar input menjadi output? World-view Cara pandang seperti apa yang membuat sistem berarti? Owner Siapa yang dapat menghentikan aktivitas-aktivitas? Environment Hambatan apa yang ada dalam lingkungan sistem? Sumber: Checkland & Scholes, 1990
4. Membangun model konseptual, Berdasarkan root definition di atas untuk setiap
elemen yang didefinisikan, kemudian dibangun model konseptual yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang ideal. Model ini mengidentifikasi sistem aktivitas manusia hasil ekspresi situasi masalah dalam rich picture dan mempresentasikan hubungan antar kegiatan. Model konseptual ini merupakan proses adaptif, karena terjadi umpan balik antara proses memodelkan dengan hasil ekspresi situasi masalah. Semua elemen yang tertuang dalam CATWOE disertakan dalam model konseptual.
5. Membandingkan model konseptual dengan situasi masalah, model
6 (keberlanjutan).
6. Menetapkan perubahan yang layak dan diinginkan, tujuan tahap ini adalah untuk
mengidentifikasi dan mencari perubahan yang diinginkan secara sistemik dan layak menurut budaya. Perubahan dapat terjadi dalam hal struktur, prosedur, atau sikap orang-orang.
7. Melakukan tindakan perbaikan atas masalah, pada tahap ini akan muncul
rekomendasi perubahan untuk dapat diimplementasikan. Akan ditunjukkan sistem yang tepat untuk melakukan perubahan yang aktivitasnya dapat menjadi “dunia nyata”.
Inti dari SSM adalah membangun model dari sistem-sistem yang berkaitan dengan situasi masalah. Model-model ini digunakan sebagai media diskusi guna membawa perubahan situasi aktual. Proses diskusi membolehkan partisipan untuk berdebat dan saling bertanya sedemikian rupa sehingga keragaman perspektif dapat terungkapkan (Martin, 2008).
3. ANALISA HASIL
3.1 . Identifikasi Masalah Yang Tidak Terstruktur
7
sedikit sehingga tidak akan berpengaruh banyak. Pada perkebunan kelapa sawit sendiri pupuk organik yang digunakan berasal dari limbah padat pabrik seperti tandan kosong dan lumpur limbah cair.
Pestisida dan herbisida juga memberikan dampak terhadap lingkungan karena dapat menghasilkan emisi. Pestisida dan herbisida memiliki konversi emisi yang cukup besar (ISCC 2011). komponen lain di perkebunan yang memberikan dampak lingkungan adalah penggunaan bahan bakar fosil seperti solar (IPCC 2006). Solar biasanya digunakan untuk menjalankan mesin pertanian atau transportasi selama di kebun. Dari hasil studi kasus di PKS Lubuk dalam menunjukkan aktifitas kebun tidak menggunakan peralatan yang menggunakan solar untuk perkebunan. Pestisida dan herbisida digunakan pada waktu tertentu saja dalam artian tidak rutin digunakan. Penggunaan pestisida hanya jika kebun terserang hama seperti ulat api dan kumbang tanduk. Herbisida digunakan jika kondisi sekitar tanaman sawit terdapat banyak gulma sehingga perlu dibasmi agar tidak mengganggu pertumbuhan sawit.
Analisis selanjutnya adalah tahap transportasi tandan buah begar (TBS) dari kebun ke pabrik. Transportasi TBS dilakukan dengan menggunakan truk berbahan bakar solar. Kebutuhan solar inilah yang nantinya diperhitungkan penggunaannya karena penggunaan solar sebagai bahan bakar memberikan dampak langsung kepada lingkungan (IPCC 2006). TBS yang diolah oleh PKS berasal dari kebun sendiri dan kebun pihak luar. Pada kajian ini diasumsikan bahwa semua TBS yang diterima pabrik kelapa sawit berasal dari kebun sendiri. TBS diangkut dari kebun ke PKS dengan menggunakan truk berkapasitas rata-rata 9 ton. Jumlah pengangkutan dapat diperkirakan yakni dengan membagi total TBS diterima dengan kapasitas angkut truk. Kebutuhan solar yang sebenarnya tidak tercatat karena truk yang digunakan merupakan truk pihak luar yang disewa berdasarkan jumlah TBS yang diangkut. Oleh karena itu, kebutuhan solar diestimasi berdasarkan konsumsi solar truk per km jarak yang ditempuh. Truk kosong membutuhkan solar 0,25 liter/km sedangkan truk bermuatan (10 ton) membutuhkan solar 0,49 liter/km (ISCC 2011).
8
Steam digunakan pada proses perebusan TBS yang diperoleh dari pembakaran cangkang dan fiber pada boiler. Berikut di tampilkan data tentang dampak lingkungan yang di timbulkan dari prose pembibitan, perkebunan, transportasi dan pengolahan di PPKS Lubuk Dalam di Kabupaten Siak.
Tabel 1. Data PKS Lubuk Dalam
Lokasi Kab. Siak
Luas kebun 5870 ha
Kapasitas produksi 40 ton TBS/jam
Produk CPO & PK
Sertifikasi ISPO Belum
PLT Biogas Tidak ada
Sumber: Nugroho, 2014
Sedangkan pada tabel 2 merupakan rincian data penggunaan utilitas pembibitan, perkebunan, transportsi, pengolahan dan out put dari PPKS Lubuk Dalam.
Tabel 2. Data Utilitas PKS Lubuk Dalam
Utilitas Satuan Jumlah (per ton CPO) Pembibitan dan
Perkebunan Tandan Buah Segar (TBS)
ton 4,83
Pupuk N kg 2,57
Pupuk P kg 4,80
Pupuk K kg 8,96
Urea kg 11,29
Kieserit kg 0,26
Dolomit kg 26,29
Herbisida liter 0,05
Pestisida liter 0,02
Transportasi TBS
Solar liter 3,25
Pengolahan
Listrik kwh 58,35
9
Uap kg 2360,49
Air m3 2,19
Output
CPO ton 1,00
Palm Kernel ton 0,27
Mesocarp Fiber ton 0,65
Shell ton 0,32
Tandan Kosong ton 0,95
Limbah Cair m3 2,90
Sumber: Nugroho, 2014
Untuk tabel 3 diperlihatkan data kebutuhan energi pada produksi 1 ton CPO, Net energi menunjukkan seberapa besar energi yang dibutuhkan dan yang dihasilkan yang dinyatakan dalam MJ/ton CPO. Setiap utiliti memiliki konversi energi (calorific value) masing-masing yang menunjukkan jumlah energi (MJ) dari setiap volume. Tabel 3 merupakan hasil perhitungan energi, sedangan tabel 4 menunjukkan nilai NEV dan NER.
Tabel 3. Kebutuhan energi pada produksi 1 ton CPO
Aktivitas Jumlah Energi (MJ/ton CPO)
Input
Pembibitan dan Perkebunan
Pupuk N 360,86
Pupuk P 51,79
Pupuk K 44,80
Herbisida 12,88
Pestisida 4,56
Transportasi TBS
Solar 116,86
Pengolahan
Listrik 210,06
Solar 28,31
Uap 5499,94
Output
CPO 39360
10
Tabel 4. Total energi masuk, energi keluar, Net Energy Ratio (NER) dan Net Energy Value (NEV)
Energi masuk (MJ) 6330
Energi keluar (MJ) 39360
Net Energy Ratio 6,2
Net Energy Value (GJ) 33,03 Sumber: Nugroho, 2014
Efisiensi energi yang ditunjukkan berdasarkan nilai NER dan NEV menunjukkan hasil yang baik dimana nilai NER positif dan NEV lebih dari 1. Peningkatkan efisiensi energi dapat dilakukan dengan beberapa upaya, misalnya dengan meningkatkan rendemen CPO, meningkatkan kinerja boiler, dan pemanfaatan gas metana sebagai pembangkit listrik. Peningkatan rendemen CPO akan meningkatkan NER dan NEV. Setiap 1 % peningkatan rendemen akan meningkatkan 4 % NER dan 5 % NEV. Teknologi proses yang diterapkan seperti kondisi mesin dan teknik pengolahan sangat menentukan hasil rendemen. Faktor penting lain yang cukup berpengaruh terhadap rendemen adalah kematangan TBS yang diolah dan lama waktu tunggu TBS sejak pemetikan hingga diproses.
Pemanfatan gas metana sebagai pembangkit listrik akan meningkatkan efisiensi energi berupa kenaikan NER dan NEV. Gas metana yang dihasilkan limbah cair cukup besar. Pada pengolahan limbah cair kolam terbuka, akan dihasilkan sekitar 12,36 kg CH4/ton POME (Yacob et al. 2006). Setiap kg gas metana setara dengan 45,1 MJ (JRC 2011). Emisi CO2 dipengarui oleh faktor emisi CO2 yang berasal dari penggunaan dan produksi utilitas maupun energi.
Tabel 5. Jumlah emisi pada produksi 1 ton CPO di PPKS Lubuk Dalam
Aktivitas Jumlah Emisi (kg CO2-eq/ton CPO) Pembibitan dan
Perkebunan
Pupuk N 15,11
Pupuk P 4,85
Pupuk K 5,11
Urea 37,35
Kieserit 0,05
Dolomit 3,42
Herbisida 0,54
11
Dari data-data diatas dapat di simpulkan dalam penagnan dan penggulangan dampak lngkungan pada PPKS, Tabel 6 menunjukkan detail herarki permasalahan penanganan dampak lingkungan produksi CPO.
12
Dari tabel 6 diatas terlihat analisis awal para pihak yang terlibat dalam penanganan dampak lingkungan PPKS. Karena Peran pemangku kepentingan dalam bentuk kelembagaan sangat penting dalam strategi pengembangan sistem manajemen kualitas agroindustri terutama sebagai media penyebaran inovasi hasil pertanian (Budi dkk., 2009). Kelembagaan adalah suatu sistem organisasi dan kontrol terhadap sumberdaya dan sekaligus mengatur hubungannya (Nasution, 2002). Sedangkan untuk klasifikasi sistem yang ada di PPKS bisa dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Matrix Klasifikasi Sistem
Kajian Pemanfaatan Limbah PPKS untuk pupuk
Kajian Efisiensi Energi Untuk Pengolahan
Kajian pemanfaatan teknologi pengolahan limbah yang
Peningkatan efisiensi energi untukpengolahan
Efisiensi dan efektifitas penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM)
Efesiensi energi, peningkatan kualitas SDM, kontrol pemeliharaan utilitas dan penanganan Limbah PPKS yng ramah lingkungan dan berkelanjutan
Pengurangan emisi akibat penggunaan pupuk dan pestisida
Pengurangan emisi akibat oenggunaan BBM
13
Pengembangan bibit unggul dan penerapan efisiensi penggunaan utilitas
Penggunaan teknologi yang efektif untuk pengolahan Berkuranganny emisi udara
yang menyebabkan gas rumah kaca (GRK) dari limbah PPKS
Pemberian insentif dari pemerintah dan lembaga
Kolaborasi pengawsan dan kerjasama antar instansi
Adanya perbaikan dari hasil tindak lanjut analisa menjadi lebih baik lakukan oleh pengelola PPKS, tetapi harus adanya keterlibatan pemerintah dan masyarakat sekitar. Sehingga diharpkan akan didapatkan lingkungan yang kondusif dan berkelanjutan, dengan sendirinya terciptanya kerjasama antar pelaku usaha PPKS, pemerintah dan masyarakat akan mendukung terciptanya penurunan emisi udara.
3.2. Mengekspresikan Situasi Masalah
Dampak lingkungan dari produksi CPO di PPKS meliputi peningkatan emisi udara, bau yang kurang mengenakan, daerah aliran sungai dan struktur tanah. Dalam kajian ini yang akan di bahas adalah tentang emisi udara sebagai salah satu penyebab meningkatnya suhu udara. Dari tabel 5 diatas terlihat bahwa emisi terbesar berasal dari proses pengolahan. PKS Lubuk Dalam menerapkan pengolahan limbah cair sistem anaerobik sehingga dihasilkan gas methane yang tinggi. Menurut Yacob et al. (2006), limbah cair dapat menghasilkan 12,36 kg CH4/ton POME. Gas metan (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca yang membahayakan. 1 kg CH4 setara dengan 25 kg CO2 (IPCC 2007).
14
14 PENANGANAN DAMPAK
LINGKUNGAN PRODUKSI CPO
Gambar 2. Rich Picture Penanganan Dampak Lingkungan Produksi CPO PEMDA
15
Dari gambar 2 terlihat bahwa penangan dampak lingkungan dari produksi CPO merupakan tanggung jawab bersama antara pihak PPKS, Pemerintah dan masyarakat. Ketika sektor tersebut salng terkait, pihat peerintah mengeluarkan regulasi dan pengawasan terhadap lingkungan PPKS, pihak PPKS melaksanakan proses produksi CPO dengan berpedoman pada SOP PPKS dan regulasi dari pemerintah. Sedangkan pihak masyarakat, dalam hal ini baik masyarakat sekitar PPKS, media dan LSM bersama manajemen PPKS untuk saling kontrol terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan dari produksi CPO. Dengan sinerginya koordinasi antar sektor diharapkan akan tercipta lingkungan yang baik sesuai prinsip dari ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil)
3.3. Membangun Definisi Permasalahan Yang Berkaitan Dengan Situasi Masalah
(Root Definition)
16 Tabel. 8. Analisa CATWOE dan Root Difinition
Deskripsi Analisa
C Costumer
Kementrian ESDM, Kementrian BUMN, Kementrian KLHK, Kementrian Pertanian (Dirjen Perkebunan), Pemerintah Daerah, Direksi, Manajer Operasional, Manajer PPKS, Manajer Kebun dan Masyarakat.
A Actor
Manajer PPKS, Koordinator operasional seluruh unit di PPKS Manajer Kebun, Koordinator operasional di Kebun
Operator PPKS, pelaksana masing-masing unit di PPKS mulai dari penerimaan TBS dari Kebun, proses, kontrol hasil CPO dan operasional unit limbah.
Operator Kebun, pelaksana masing –masing unit di kebun mulai dari pembibitan, pemupukan, pemeliharaan, panen, transportasi ke PPKS dan kontrol kualitas TBS.
T Transformation
Koordinasi antar lembaga pemerintah, PPKS dan masyarakat semakin baik sehingga akan terbentuk efektifitas dan peningkatan SDM dalam rangka pelaksanaan program penanganan dampak lingkungan produksi CPO menjadi lebih baik.
W World-view
Efisensi energi dan utiliti yang ada di setiap unit, sehingga akan menurunkan emisi udara
Pemanfaatan by produk untuk kebun dalam rangka penurunan emisi akibat penggunaan pupuk sintetis.
Pemanfaatan limbah cair untuk biogas sebagi usaha untuk meningkatkan niali ekonomis dan menurunkan emisi udara.
O Owner Pemerintah, PPKS, Masyarakat
E Environment
Kurangnya SDM pemerintah untuk pengawasan, kontrol dan menjalin kerjasama dengan PPKS
Membutuhkan biaya mahal untuk konversi LCPK dan TKKS ke biogas Belum adanya insentif dari pemerintah bagi PPKS dengan emisi udara
rendah
ROOT DEFINITION :
Sistem untuk melakukan kegiatan perencanaan, proses dan penanganan dampak lingkungan produksi CPO (P) melalui pelaksanaan dan koordinasi perencanaan, proses dan penanganan dampak lingkungan produksi CPO oleh semua lembaga terkait (Q) sehingga dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh produksi CPO yaitu Emisi Udara dapat berkurang (R)
3.4. Membangun Model Konseptual
17
1.Pembibitan, inofasi
bibit unggul, penggunaan pupuk by produk PPKS
2.Perkebunan, Peningkatan
SDM, penggunaan pupuk by produk PPKS, pengurangan penggunaan pestisida, Kualtias TBS
3.Transportasi, perbaikan
jalan, efektifitas Armada
4.Energi, fisiensi
penggunaan energi, Pemanfaatan Energi PLTBg dari LCPKS
5.Pengolahan TBS,
Peningkatan SDM, efektifitas Utiliti PPKS, Peningkatan Rendemen, Kualitas CPO
6.Pengolahan
Limbah,
Pengkomposan TKKS, PLTBg LCPKS
7.Pengawasan, kontorl
regulasi dan pelaksanaan
penanganan dampak
lingkungan oleh manajemen PPKS, pejabat Pemerintah dan masyarakat
8. Inovasi Teknologi,
Perlu tindak lanjut penggunaan tenologi
mathane capture
LPCKS untuk PLTBg
9.Standar, tercapinya PPKS sesuai standar ISPO
18
Dari gambar 3 terlihat transformasi koseptual sebagai strategi untuk penanganan dampak lingkungan dari produksi CPO, untuk melihat koseptual dapat dinilai optimal atau belum berdasarkan 5 (lima) krteria yang di susun dalam formula 5 E seperti di uraikan dalam tabel 9.
Tabel.9 Formulasi 5 E
No Aspek Formulasi
1 Efficacy
Koordinasi antara pemerintah PPKS dan masyarakat akan menciptakan suasana kondusif dalam penanganan dampak lingkungan
2 Efficiency Efisiensi energi, transportasi dan efektifitas untiliti proses kebun dan PPKS 3
Effectiveness
Perencanaan, pelaksanaan proses dan pengawasan yang lebih baik meningkatkan produktifitas dan penurunan emisi udara
4 Ethicallity Kontrol dan pelaksanaan regulasi yang konsisten akan mempermudah pencapaian penurunan emisi udara
5 Elegance Tercapinya standar ISPO sebagi wujud komitemen PPKS ramah lingkungan dan berkelanjutan
3.5. Membandingkan Model Konseptual Dengan Situasi Masalah
Untuk mendapatak rekomendasi yang bisa di ralisasikan perlu adanya pembanding antara model koseptual yang sudah dibuat dengan situasi masalah (dunia nyata). Dengan adanya rekomendasi y a n g t e r u k u r m a k a a k a n t e r l i h a t sebagai indikator keberhasilan proses perbaikan. Perbandingan tersebut selengkapnya dapat dilihat pada tabel 10 dibawah ini.
Tabel 10 . Perbandingan Model Konseptual Dengan Situasi Masalah
AKTIVITAS DUNIA NYATA REKOMENDASI
Pembibitan
Penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk sintesis, penggunaan pupuk by produk PPKS.
Maksimalkan penggunaan pupuk by produk PPKS untuk mengurangi emisi udara akibat penggunaan pupuk sintesis.
Perkebunan
Peningkatan SDM, penggunaan pupuk by produk PPKS, pengurangan penggunaan pestisida, kualtias TBS, belum dimanfaatkannya pelepah sawit untuk peningkatan nilai tambah dan masih adanya pekerjaan pemangkasan rumput pada kebun.
19
pemakaian pupuk, pestisida dapat di kurangi.
Transportasi
Perbaikan jalan, efektifitas Armada, jalan diperbaiki jika ada kendala transportasi, penyedia jasa trasportasi kurang memperhatikan performance armada, sehingga sering terjadi macet di areal kebus sehingga meningkatkan emisi udara akibat penggunaan BBM yang tidak efektif.
Perbaikan jalan secar berkala biarpun belum terjadi kerusakan parah, serta kordinasi dengan pihak penyedia armada angkutan TBS untuk selalu memelihara armada sehingga tidak menimbulkan kemacetan, dengan sendirinya efektifitas penggunaan armada dan jalan yang baik akan mengurangi penggunaan BBM secara langsung mengurangi emisi udara.
Energi
Fisiensi penggunaan energi, masih menggunakan sumber listrik dari Turbin yang di gerakan dengan uap dari Boiler, sedangkan untuk emergensi menggunakan genset dengan solar sebagai BBM, belum adanya pemanfaatan Energi PLTBg dari LCPKS maka emisi yang ditimbulkan dari penggunaan energi masih tinggi.
Efektifitas, perawatan dan penggunaan utilit yang baik di PPKS akan menurunkan penggunaan energi, disamping itu juga pertimbangan manajemen untuk alternatif pemanfaatan LCPKS sebagi Pembangkit Tenaga Listrik Biogas (PLTBg), sehingga penggunaan listrik dari Power Plant di proses akan berkurang sehingga menurunkan kerja Boiller sehingga dengan sendirinya asap yang ditimbulakn dari pembakaran bahan bakar berkurang.
Pengolahan TBS
Peningkatan kualitas SDM terus berjalan sesuai program, efektifitas utiliti PPKS akan meningkatkan kinerja dan capaian kapasitas olah, peningkatan rendemen terus diupayakan untuk menekan biaya operasional, kualitas CPO terus ditingkatkan sebagi efek persaingan yang semakin ketat.
Program peningkatan kualitas SDM harus di ditambah dengan kerjasama dengan PPKS lain dalam rangka berbagi pengalaman dan motifasi, pengawasan kinerja operator terus ditingkatkan seiring dengan capian peningkatan rendemen untuk meningkatkan kualitas CPO, monitoring utiliti PPKS yang ketat sehingga downtime setiap unit semakin turun sehingga meningkatkan performance unit.
Pengolahan Limbah
Pengkomposan TKKS belum dilakukan, TKKS langsung di aplikasikan ke lahan tanpa melalui pengkomposan terlebih dahulu, LCPKS setelah melalui proses di kolam pengolahan langsung di alirkan ke lahan.
Alternatif peningkatan kualitas TKKS dengan melakukan pengkomposan, dengan media LCKS sehingga dihasilkan kualitas pupuk kompos yang lebih baik dengan sendirinya tingkat kesuburan tanah di perkebunan juga baik. Alternatif lain melakukan pemanfaatan LCPKS untuk PLTBg dengan melakukan methane capture untuk mendapatkan biogas sebagi bahan bakar genset , sehingga di hasilkan listrik sebagai alternatif peningkatan nilai tambah LCPKS dan pengurangan emisi udara.
Pengawasan
Kontorol regulasi dari pejabat terkait dari pemerintah masih lemah dan pelaksanaan penanganan dampak lingkungan oleh manajemen PPKS
20 masih kurang maksimal ini di tandai tidak konsistennya nilai kadar limbah masih ada yang diatas amabng batas, serta kerjasama dengan masyarakat dalam bidang pengawasan masih sangat lemah masyarakat, hal ini seringnya ketidaktahuan masyarakat tentang kadar ambang batas limbah PPKS.
lingkungan PPKS, sehingga tidak ada selisih paham dengan masyarakat sekitar. Dengan pelaksanaan pengawasan, kontrol dan kerjasama yang baik diharapkan akan tercipata pengangan dampak yang kondusif dan berkelanjutan
Pemanfaatan LCPKS untuk PLTLBg membutuhkan biaya yang mahal sehingga perlu adanya kerja sama dengan sewasta dan pemerintah memberikan insentif bagi PPKS yang menerapkan PLTBg. Dengan pemanfaatan LCPKS akan menurunkan emisi udara sehingga limbah cair yang diaplikasikan untuk perkebunan sudah berkurang gas metan.
Standar ISPO
Tercapinya PPKS sesuai 7 standar ISPO (sistem perizinan dan manajemen perkebunan, penerapan pedoman teknis budidaya dan pengolahan kelapa sawit, pengelolaan lingkungan, tanggung jawab terhadap pekerja, tanggung jawab sosial dan kominitas, pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat, dan peningkatan usaha secara berkelanjutan.) merupakan tanggung jawab pelaku usaha PPKS sebagi pelaksanaan regualsi pemerintah.
Pemanfaatan teknologi pengkomposan TKKS dan teknologi methan capture untuk PLTBg dengan kerjasam dengan instansi terkait dan lembaga sewasta. Sehingga akan tercapi PPKS yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
3.6. Menetapkan Perubahan Yang Layak Dan Diinginkan
21
Tabel 11. Perubahan yang layak dan diinginkan untuk penanganan dampak lingkungan PPKS
Perubahan
3.7. Melakukan Tindakan Perbaikan Atas Masalah
Tindakan perbaikan atas masalah penanganan dampak lingkungan PPKS adalah Pemanfaatan Limbah Padat, Penangkapan Biogas Limbah Cair (Methane Capture) dan Integrasi Sawit – Sapi.
3.7.1. Pemanfaatan Limbah Padat
Setiap indutri kelapa sawit akan menghasilkan limbah padat berupa tandan kosong, pelepah, cangkang, dan serabut. Pengelolaan limbah padat dalam masih belum optimal. Padahal limbah padat tersebut berpotensi sebagai sumber hara yang mampu menggantikan pupuk sintetis (Urea, TSP, dan lain-lain). Namun pemanfaatan TKKS sampai saat ini masih terbatas. Selama ini limbah dibakar dan sebagian ditebarkan di lapangan sebagai mulsa.
22
Setiap limbah padat yang dibuang ke tanah akan mengalami pembusukan oleh mikroorganisme baik mikroba dari tanah atau mikroba dari limbah itu sendiri. Faktor penting dalam proses pengomposan adalah kebutuhan nitrogen untuk pertumbuhan mikroba yang dinyatakan dalam nisbah C/N. Jika nisbah C/N dalam limbah terlalu besar berarti N tidak mencukupi sehingga akan menggunakan cadangan N dalam tanah. Nisbah C/N yang optimal untuk pengomposan adalah antara 15-20. Sebelum melakukan pengomposan, tankos dirajang untuk memperkecil ukuran agar dekomposisi dapat dipercepat atau bisa juga pengomposan dilakukan tanpa perajangan. Meskipun biaya lebih tinggi, pengomposan dengan dirajang struktur yang dihasilkan lebih homogen, mudah dalam distribusi, dan memungkinkan produk kompos dapat dijual. Pengomposan tanpa dirajang memerlukan biaya lebih rendah namun kompos yang dihasilkan tidak homogen dan sulit dalam pendistribusian (Deptan 2006).
Limbah padat Tandan Kosong (Tankos) merupakan limbah padat yang jumlahnya cukup besar yakni sekitar 5 ribu ton yang tercatat pada tahun 2013 ( PKS Lubuk Dalam). Setiap ton Tankos mengandung unsur hara N, P, K dan Mg berturut-turut setara dengan 3 kg Urea; 0,6 kg CIRP; 12 kg MOP; dan 2 kg Kieserit (Lubis dan Tobing, 1989). Apabila semua tankos yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan demikian akan dihasilkan pupuk organik setara dengan 15 ton Urea; 3 ton CIRP; 60 ton MOP; dan 10 ton Kieserit.
Penggunaan pupuk organik akan mengurangi penggunaan pupuk sintetik sehingga akan dapat mengurangi dampak emisi CO2. Berdasarkan ekivalen masing-masing pupuk maka penggunaan pupuk organik sebagai subtitusai pupuk sintetik akan mengurangi emisi sebesar 75 ton CO2 –eq/tahun atau sekitar 1,5 kg CO2 –eq/ton CPO/tahun.
3.7.2. Penangkapan Biogas Limbah Cair (Methane Capture)
Limbah cair industri kelapa sawit masih banyak mengandung bahan organik dalam jumlah besar. Pengolahan limbah cair biasanya dilakukan dengan sistem kolam terbuka karena lebih sederhana dalam operasional dan mudah dalam konstruksinya. Sistem ini memiliki beberapa kelemahan seperti memerlukan lahan yang luas, efisiensi eliminasi bahan organik rendah (60-70%), biogas tidak dapat ditampung dan dimanfaatkan, menimbulkan bau busuk dan membutuhkan pengambilan sludge/endapan secara reguler (Suprihatin 2009).
23
dioksida, dan sedikit H2S. Dengan sistem kolam terbuka, produksi biogas secara teknis sulit dikumpulkan dan dimanfaatkan, sehingga terbuang ke atmosfir dan berkontribusi terhadap masalah lingkungan global (efek rumah kaca). Setiap 1 kg gas metana setara dengan 25 kg gas CO2 (IPCC 2007).
Jumlah gas metana yang dihasilkan dari limbah cair cukup besar. Limbah cair sendiri dihasilkan oleh industri sebanyak 0,5-0,7 ton limbah cair/ ton TBS yang diolah. Pada pengolahan limbah cair kolam terbuka, akan dihasilkan sekitar 12,36 kg CH4/ ton POME (Yacob et al. 2006). Jumlah biogas yang dihasilkan juga dapat diestimasi secara teoritis dan empiris berdasarkan nilai COD limbah cair dan tingkat degradasinya. Setiap kg COD yang terdegradasi pada kondisi anaerobik dapat dihasilkan sekitar 0,4 m3 CH4 (USDA dan NSCS 2007).
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan di PKS Lubuk Dalam pengolahan limbah cair dilakukan pada kolam terbuka tanpa ada pemanfaatan biogas. Selama tahun 2013, PKS Lubuk Dalam menghasilkan 157 ribu m3 limbah cair/tahun yang setara dengan 895 kg CO2 –eq/ ton CPO. Melihat besarnya reduksi emisi GRK yang besar pada tahap ini, pemanfaatan biogas tersebut sangat disarankan. Dengan menggunakan teknologi yang sesuai, misalnya UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) dan AFBR (Anaerobic Fluidized Bed React), bahan organik dalam limbah cair minyak kelapa sawit dapat dikonversi menjadi energi terbarukan berupa biogas pada kondisi yang lebih terkendali, dan biogas yang diproduksi dengan mudah dapat dikumpulkan ditampung untuk dimanfaatkan (Suprihatin 2009).
Selain dapat mengurangi emisi, biogas yang ditangkap dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Biogas diperangkap untuk digunakan sebagai pembangkit listrik. Menurut Hutzler (2004), satu kg COD dapat dikonversi menjadi 0,6 m3 biogas yaitu gas campuran dengan kandungan utama metana (50-70%vol.), karbon diokasida (30-40%vol.) serta sejumlah kecil gas kelumit seperti H2•H2S, uap H2O, dan nitrogen. Nilai kalor biogas adalah sekitar 6 kWh/m3, setara dengan 0,5 Liter solar. Menurut JRC (2011), setiap kg CH4 yang dihasilkan setara dengan 45,1 MJ.
24
mikroorganisme. Limbah lumpur kering kelapa sawit yang terdiri dari sludge dan serat cukup potensial untuk diolah lebih lanjut. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai pakan ternak. Dalzell (1978) setelah melakukan kajian dengan menambahkan limbah kelapa sawit pada makanan sapi, akhirnya menyimpulkan bahwa limbah kelapa sawit merupakan bahan pakan yang potensial, selain itu juga dapat mengatasi masalah polusi dan memberi nilai tambah pada pabrik pengolahan kelapa sawit.
3.7.3. Integrasi Sawit – Sapi
Salah satu skenario yang akhir-akhir ini banyak dibahas dalam pengembangan daur hidup perkebunan sawit yakni integrasi antara pengelolaan perkebunan sawit dengan usaha peternakan sapi. Di beberapa lokasi perkebunan telah melaksanakan program integrasi tersebut. Sebagai bentuk integrasi, sapi memperoleh makanan berupa dari hijauan perkebunan dan limbah pabrik sawit. Kotoran sapi digunakan sebagi pupuk kompos dan dapat juga sebagai penghasil biogas. Perkebunan sawit berpotensi besar dalam pola pengembangan daur hidup ini karena banyak manfaat yang diperoleh antara lain:
a. Pupuk organik kotoran sapi
Penggunaan hijauan antar tanaman sebagai pakan sapi akan mengurangi penggunaan herbisida sebagai pembasmi hama. Selain itu sapi juga menghasilkan kotoran yang dapat digunakan sebagai pupuk kompos. Satu ekor sapi dewasa menghasilkan 4 ton pupuk kandang dalam setahun. Dengan demikian pemeliharaan 2-3 ekor sapi akan dapat menghemat pemakaian pupuk anorganik minimal 50%/kavling/ tahun (Disnak Jambi 2003).
b. Memanfaatkan limbah pelepah dan hijauan antar tanaman
25
adalah 25 kg/hari x 365 hari = 9.125 kg, maka setiap ha kebun sawit dapat memenuhi 80% kebutuhan pakan satu ekor sapi.
Hijauan antar tanaman (HAT) dapat dimanfaatkan untuk pakan hijauan ternaknya. Namun sampai sekarang belum terdata potensi nyata dari HAT ini. Potensi ini dapat ditingkatkan dengan menanam rumput yang tahan naungan dan pada lahan yang kosong karena pohon sawitnya mati. Berdasarkan pengamatan Dinas Peternakan Jambi (2003), HAT dapat memenuhi kebutuhan minimal 1 ekor sapi/ha.
c. Penghasil Biogas
Pemanfaatan kotoran sapi sebagai penghasil biogas banyak dilakukan di sejumah tempat karena menghasilkan gas metan yang cukup tinggi. Dalam kotoran sapi terkandung berbagai bahan yang dapat menghasilkan biogas melalui reaksi anaerobik. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa kotoran sapi mengandung 22,59% sellulosa; 18,32% hemiselulosa; 10,20% lignin; 34,72% total karbon organik; 1,26% total nitrogen; 27,56:1 rasio C:N; 0,73% P, dan 0,68% K (Lingaiah dan Rajasekaran 1986). Produksi biogas/gas metana dipengaruhi oleh C/N rasio input (kotoran ternak), residence time, pH, suhu dan toksisitas. Menurut Sutarno dan Firdaus (2007), kotoran sapi seberat 25 kg setara dengan 1 m3 biogas.
4. SIMPULAN
Penerapan metode SSM dalam penangan dampak lingkungan PPKS dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang tidak terstruktur. Untuk kasus di atas, solusi yang ditawarkan adalah melakukan perbaikan mulai dari tingkat pembibitan, perkebunan, transportasi, penggunaan energi, pengolahan TBS dan pengolahan Limbah. Dengan harapan dampak lingkungan yaitu tigginya emisi udara yang ditimbulkanoleh aktifitas PPKS dan diturunkan sehingga dampaknya terhadap lingkungan bisa dikurangi.
26
5. UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan Terimakasih Disampaikan Kepada Prof. Dr. Ir. M. Syamsul Maarif, M.Eng, Dipl.Ing, DEA, Sebagai Dosen Rekayasa Sistem Dan Strategi Agroindustri Program Pascasarjana Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor, Desember 2015
6. DAFTAR PUSTAKA
Budi LS, Maarif MS, Sailah I, dan Raharja S. 2009. Strategi Pemilihan Model Kelembagaan dan Kelayakan Finansial Agroindustri Wijen. Jurnal Teknologi Industri Pertanian 19:2, 56-63.
Cicerone R J. 1987. Changes in Stratospheric Ozone. J. Science 237: 35-42.
Checkland P & Scholes J. 1990. Soft System Methodology in Action, England: Jhon Wiley & Sons Ltd.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014, Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015,[diunduh tanggal 01 Desember 2015]
Dalzell R. 1978. A case Study on The Utilization of Effluent and by Products of Oil Palm by cattle and Buffaloes on an Oil Palm Estate. Malaysian Agriculture Research and Development Institute. Serdang-Selangor.
Daellenbach H & McNickle D. 2005. Management Science: Decision Making through Systems Thinking. Hampsire: Palgrave Macmillan.
[Deptan] Departemen Pertanian. 2008. Pedoman Pengelolaan Limbah Industri kelapa Sa wit. Jakarta.
[Disnak] Dinas Peternakan Provinsi Jambi. 2003. Potensi Dan Peluang Pengembangan Sistem Integrasi Sa wit-Sapi Di Provinsi Jambi. Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi.
[EPA] Environmental Protection Agency. 2011. Regulatory Announcement: EPA Issues Notice of Data Availability Concerning Renewable Fuels Produced from Palm Oil Under the RFS Program. Environmental Protection Agency. United States.
Hutzler N. 2004. Solid Waste Management. Lecture Note online. www.cee.mtu.edu/~hutzler/ce3503/Solid Waste Managementnjh.ppt. [Diunduh 07 Desember 2015].
[IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2006. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories Volume 2: Energy. www.ipcc.ch. [Diunduh 07 Desember 2015].
[IPCC] Intergovernmental Panel on Climate Change. 2007. IPCC Fourth Assessment Report: Climate Change 2007. www.ipcc.ch. [Diunduh 07 Desember 2015].
[ISCC] International Sustainability and Carbon Certification. 2011. GHG Emissions Calculation Methodology and GHG Audit. www.iscc-system.org [Diunduh 07 Desember 2015].
27
[Kemenhut] Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 2011. Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) 2011-2030. http://www.dephut.go.id. [Diakses 07 Desember 2015]. Khisty CJ. 1995. Soft-System Methodology, as Learning and Management Tool. Journal of
Urban Planning and Development 121: 3, 91-107.
Lingaiah V dan Rajasekaran P. 1986. Biodigestion of Cowdung and Organic Wastes Mixed with Oil Cake in Relation to Energy in Agricultural Wastes 17 (1986): 161-173.
Lubis dan Tobing. 1994. Penggunaan Betagen-Rispa Untuk Pengendalian Limbah Kelapa Sa wit. Berita PPKS. 2 (3) 221-230.
Martin E. 2008. Aplikasi Metodologi Sistem Lunak untuk Pengelolaan Kawasan Hutan Rawan Konflik: Kasus Hutan Penelitian Benakat, Sumatera Selatan. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Nasution M. 2002. Pengembangan Kelembagaan Koperasi Pedesaan untuk Agroindustri. Bogor: IPB Press.
Nugroho W.A., 2014. Life Cycle Assessment (Lca ) Industri P engolahan Crude Palm Oil (Cpo) (Studi Kasus Di Ptpn V (P ersero) Provinsi Ria u), Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.
[RSPO] Roundtable on Sustainable Palm Oil. 2012. A Greenhouse Ga s Accounting Tool for Palm Products. Malaysia. www.rspo.org [Diunduh 07 Desember 2015].
Patel NV. 1995. Application of Soft Systems Methodology to the Real World Process of Teaching and Learning. International Journal of Educational Management 9: 1, 13-23. Sinn JS. 1998. A Comparison of Interactive Planning and Soft Systems Methodology:
Enhancing the Complementarist Position. Systemic Practice and Action Research 11: 4, 435–453.
Sonatha Y & Prayama D. 2011. Penerapan Soft System Methodology dalam Mengatasi Permasalahan Home Monitoring. Poli Rekayasa 6: 2, 154-160.
Suprihatin. 2009. Manfaat Ekologis Dan Finansial Pemanfaatan Limbah Cair Agroindustri Sebagai Bahan Baku Dalam Produksi Biogas Untuk Mereduksi Emisi Gas Rumah Kaca. Departemen Teknologi Industri Pertnaian. Institut Pertanian Bogor. Sutarno dan Firdaus. 2007. Analisis Prestasi Produksi Biogas (CH4) dari Polyethilene
Biodigester Berbahan Baku Limbah Ternak Sapi. Teknik Kimia FTI UII
Subekti Purwo, 2015, Pengolahan Limbah Cair Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit Menja di Biogas Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Mahasiswa Program Pascasarjana Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor.
USDA dan NSCS. 2007. An Analysis of Energy Production Costs from Anaerobic Digestion Systems on U.S. Livestock Production Facilities. Technical Note No. 1, Issued October 2007.
Vijaya et al. 2008b. Life cycle inventory of the production of crude palm oil – Agate to gate case study of 12 palm oil mills. Journal Of Oil Palm 30 Research 20:484-494.