• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN Media Massa majalah docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN Media Massa majalah docx"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. PERKEMBANGAN MAJALAH

Majalah merupakan media yang favorit pada orang-orang elit di Inggris pada pertengahan 1700-an (saat itu ada 2 perusahaan kolonial yang terkemuka). Pada tahun 1741 di Philadelphia, Andrew Bradford menerbitkan sebuah majalah (American Magazine, or a Monthly View of the Political State of the British Colonies. Diikuti oleh Benjamin Franklin dengan General Magazine dll. saat ini, publikasi sangat menghabiskan banyak biaya sehingga ditujukan pada sejumlah kecil koloni atau kelompok (hanya sekelompok kecil saja yang dapat membaca majalah). Pada zaman ini masalah dalam perusahaan majalah adalah kekurangan system pos yang terorganisir dan distribusi yang sulit sehinngga mempengaruhi keberhasilan suatu majalah.

Antara tahun 1741 dan tahun 1794, muncul 45 majalah baru yang berniat untuk menarik orang-orang yang berpendidikan, berbudaya dengan menyajikan hal-hal yang membuat mereka tertarik.

1. Awal Industri Majalah

Tahun 1821 muncul the Saturday Evening Post yang mana bertahan selama 148 tahun. Majalah yang tersukses di antara majalah lainnya adalah Harper’s (1850) dan Atlantic Monthly (1857). Pada tahun ini, biaya percetakan sudah lebih murah sehingga dapat dijangkau oleh lebih banyak orang. Selain itu, isi yang menarik pada awal penyebarannya adalah tentang gerakan-gerakan sosial seperti abolitionisme (gerakan anti perbudakkan) dan reformasi perburuhan. Pada tahun 1825 terdapat 100 majalah yang beroperasi; tahun 1850 (25 tahun kemudian) sudah ada 600 majalah. Perusahaan majalah sebisa mungkin membangun karakteristik majalah yang benar-benar khas dari usaha penerbitan lain seperti buku dan surat kabar. Sudah ada tulisan dari para spesialis (misal psikolog menulis tentang hal-hal mengenai dinamika psikologis) dan ilustrasi yang banyak dan terperinci di halaman-halaman majalah.

(2)

2. Era Sirkulasi Massal

Era modern majalah dapat dibagi menjadi dua bagian, masing-masing ditandai dengan hubungan yang berbeda antara media dan khalayak. Sirkulasi massal majalah popular mulai makmur pada tahun-tahun pasca perang saudara. Tahun 1865 ada 700 penerbitan majalah; tahun 1870= 1200 majalah; tahun 1885= 3300 majalah. Hal yang penting dalam perluasan ini adalah majalah wanita. Hak suara perempuan untuk memilih merupakan gerakan sosial yang mengisi halaman majalah. Contoh ladies’ home journal dan good housekeeping.

Fenomena pertumbuhan besar dalam majalah di karenakan: 1. Isu-isu yang ada dalam buku-buku atau literasi

2. Murahnya biaya majalah untuk tersebar luas

Kalau dulu hanya bisa dijangkau oleh kaum-kaum elit, sekarang sudah bisa dijangkau oleh banyak orang. Perang sirkulasi antara majalah raksasa menyebabkan terjadinya perang harga.

3. Perang harga yang terjadi memungkinkan terujinya kemampuan baru majalah untuk menarik pertumbuhan jumlah iklan. Bila majalah di baca oleh khalayak ramai, maka akan ada banyak iklan yang tertarik.

4. Industrialisasi yang menyediakan orang dengan waktu luang dan pengahsilan yang lebih pribadi.

Majalah menjadi media massa nasional pertama Amerika, seperti buku, mereka memiliki andil penting dalam perubahan sosial. Khususnya pada era muckraking dari decade pertama abad ke-20.

Sirkulasi massa majalah tumbuh seiring perkembangan bangsa. Awalnya, majalah yang memabhas kepentingan umum, majalah perempuan dan majalah intisari. Yang ada dalam majaalah ini semuanya kesamaan ukuran dan luas dari pembaca. Mereka adalah pasar missal, publikasi sirkulasi massal untuk nasional dan terjangkau. Mereka membantu menyatukan bangsa, majalah adalah televise pada massanya, media periklanan yang dominan, sumber utama distribusi berita nasional dan penyedia visual unggul atau foto jurnalistik.

(3)

Setelah berakhirnya perang dunia II, banyak industri majalah yang ditutup. Dan dengan munculnya televisi maka hubungan antara majalah dan pembacanya menjadi tak sama. Majalah tidak dapat menandingi televisi. Maka hasilnya majalah mulai kehilangan para pengiklan.

Setelah perang dunia II itu juga sifat kehidupan para penonton di Amerika berubah. Mereka jadi memiliki lebih banyak waktu luang dan uang untuk dihabiskan. Dari situ industri majalah menemukan kunci sukses mereka dengan berorientasi pada pengkhususan dan aya hidup. Majalah sering kali menjadi pertanda bagi perubahan. Karena majalah selalu yang pertama bergerak saat ada perubahan dimasyarakat.

Sedangkan di Indonesia sendiri, munculnya media massa di Indonesia dimulai pada massa menjelang dan awal kemerdekaan Indonesia. Di Jakarta pada tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan Pantja Raja pimpinan Markoem Djojohadisoeparto dengan prakarsa dari Ki Hadjar Dewantoro.

Sejarah Perkembangan Majalah di Indonesia

Awal Kemerdekaan

Soemanang, SH yang menerbitkan majalah Revue Indonesia, dalam salah satu edisinya pernah mengemukakan gagasan perlunya koordinasi penerbitan surat kabar, yang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Semuanya terbit dengan satu tujuan, yakni menghancurkan sisa-sisa kekuasaan belanda, mengobarkan semangat perlawanan rakayat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional untuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.

Zaman orde lama

Pada masa ini, perkembangan majalah tidak begitu baik, kaena relatif sedikit majalah yang terbit. Sejarah mencatat majalah Star Weekly, serta majalah mingguan yang terbit di Bogor bernama Gledek, namun hanya berumur beberapa bulan saja.

Zaman orde baru

(4)

Sekarang, seperti yang terjadi di sepanjang sejarahnya,majalah-majalah besar merupakan medium massa yang mempengaruhi masyarakat khususnya Indonesia.literatur besar dan ide-ide besar lainnya masuk dalam format yang berbeda dengan buku,dapat dijangkau oleh hampir semua orang.majalah juga perekat nasional karene majalah bisa memberi para bapak pendiri bangsa sebuah audiens yang amat luas.

Majalah sebagai innovator media

Pada zamannya majalah telah mengungguli media lainnya dengan inovasi yang signifikan dalam jurnalisme,advertising dan sirkulasi,inovasi itu mencakup laporan investigasi, profil tokoh secara lengkap,dan foto jurnalisme.

 Pelaporan investigasi:muckraking(pengungkapan kebobbrokan)yang sekarang bisa di sebut investigative reporting,dikembangkan dalam majalah sebagai jurnalistik di tahun-tahun pertama abad ke-20 majalah memuat eksplorisasi panjang tentang institusi yang menyelewengkan di dalam masyarakat.

 Profil personalitas:yang mendalam adalah ciptaan majalah. Profil personalitas ini menggunakan banyak wawancara dengan berbagai sumber dan bukan hanya bicara dengan tokoh yang diangkat profilnya tetapi juga dengan orang-orang yang dapat memberi komentar tentang sang tokoh termasuk kawan dan lawanya,dan ini memerlukan waktu yang cukup panjang.

 Foto jurnalisme:majalah memasukan visual ke media massa dengan cara yang tak pernah di pakai oleh buku.

Majalah konsumen

 Katagori majalah yang paling mencolok adalah majalah umum (general,interest),yang tersedia dan dipajang di rak-rak toko dan juga bisa di peroleh dengan berlangganan,biasanya majalah ini disebut majalah konsumen.

Jenis majalah di Indonesia

 Majalah berita: tempo,majalah ini menyajikan ringkasan berita berdasarkan katagori seperti persoalan nasionalis dan bisnis.

(5)

 Majalah pria:matra,majalah ini terkenal karena isinya yang bermutu sastra dan fasyen juga menjadi aspek penting dalam isi majalah ini.

 Majalah bersponsor:majalah ini guna mempromosikan lembaganya dan menarik lebih banyak anggota.

Mengevaluasi majalah

 Sirkulasi dan penerimaan iklan adalah ukuran dari kesuksesan profill majalah,yang paling sulit adalah menemukan majalah yang secara regular mewujudkan potensinya untuk mengkaji isu signifikan dan memberi kontribusi abadi bagi untuk masyarakat yang luas.mengevaluasi majalah dengan cara sebagai brikut:

 Ukuran populis ukuran yang paling sukses adalah penerimaan iklan,pengiklan menggunakan semua riset dan analisis canggih untuk menntukan kemana iklan akan di tempatkan.

 Ukuran kualitas suatu majalah yang editorialnya sering mendapat penghargaan,banyak yang menempelkan iklan pada majalah tersebut dan juga sudah menjadi magnet di masyarakat.

 Reader usage measure: alat yang di buat oleh industri majalah untuk menilai pengalaman pembaca sebagai pedoman untuk mendisain majalah secara konseptual dan pedoman untuk mengedit isi majalah.

Pengaruh perkembangan majalah terhadap industri majalah lokal di Indonesia

Melihat perkembangan majalah yang sudah ada sejak masa-masa awal penerbitan pers, majalah hanya digunakan untuk penggerak massa melawan pemerintahan yang tidak berpihak pada rakyat. Kemudian juga untuk penyebaran ideologi, kebijakan, atau pun memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu.

Kemudian setelah konflik politik mengendur, pers muncul dengan lebih liberal. Fokus majalah bergeser kearah bisnis dan mulai muncul konten umum yang bertujuan meraih pasar seluas – luasnya dan menghasilkan keuntungan sebanyak – banyaknya.

(6)

terbit majalah dwimingguan Perintis yang membidik target khalayak spesifik, yakni para supir. Namun kedua majalah tersebut berumur pendek (Junaedhie, 1995: 195).

Sekitar tahun 1993 gejala itu muncul lagi. Beberapa majalah terbitan baru memiliki lingkup bahasan dan target pembaca yang lebih sempit yang disebut majalah khusus. Melihat kecenderungan ini, menjelang abad ke-20, Jakob Oetama meramalkan bahwa majalah khusus akan menjadi tren penerbitan selanjutnya. David Sparkers (tenaga ahli biro Survey Research Indonesia) mengatakan hal itu didukung oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah situasi ekonomi Indonesia yang membaik, sehingga masyarakat rela mengeluarkan uang untuk membeli majalah. Faktor kedua, lapisan piramida penduduk paling tebal saat itu adalah di kelompok umur 15-19 tahun, di mana mereka dipandang mengenyam pendidikan layak, dan oleh karena itu berpotensi menjadi pembaca atau pembeli.

Pada awalnya, industri majalah lokal cukup menjanjikan. Tetapi, sejak dibebaskannya majalah asing masuk ke indonesia, peminat majalah lokal menurun drastis. Pelonggaran peraturan dalam industri media cetak, membuat mudahnya industri majalah di indonesia mendirikan franchise majalah asing di Indonesia.

Franchising (pewaralabaan) adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahkan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, keculai kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Bisnis franchise masuk ke Indonesia sejak era 70-an, pertama kali dipelopori oleh masuknya Shakey pisa, KFC, dan Busrger King.

Dapat kita lihat, dari anak-anak, remaja hingga dewasa, mereka lebih memilih mambaca majalah franchise dari pada majalah lokal. Pada era 90-an, kita masih bisa melihat anak kecil membaca majalah bobo, ina, ino, dll. Sejak majalah asing masuk ke Indonesia, anak-anak lebih memilih membaca majalah princess. Begitu juga dengan remaja dan dewasa. Mereka lebih memilih untuk membaca majalah franchise asing seperti gogirl, cosmogirl, cosmopolitan, menshealth,dll, dibandingkan dengan majalah lokal seperti femina, gadis, kartini, kawanku, dll. Sepertinya majalah lokal saat ini sudah dianggap kuno untuk di konsumsi.

(7)

kehadiran majalah franchise yang semakin menjamur dan dianggap sebagai lahan segar dalam media cetak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan-perkembangan hal-hal baru dan menjadi salah satu penentu opini public terhadap isi dari majalah tersebut.

Contoh perbandingannya seperti terdapat dalam majalah local Gadis dengan majalah franchise Go girl yang memilki segmentasi pasar yang sama yaitu remaja, berdasarkan segi isi majalah Gadis lebih mengutamakan tips dan trik dalam berpenampilan juga informasi-informasi penting dalam meraih sukses untuk kita generasi muda, sementara Go girl yang memiliki isi lebih banyak tentang perkembangan fashion dunia dan para selebritis mancanegara juga perkembangan gossip-gosip terkini juga tips dan trik berpenampilan ala artis idola. Dapat dilihat melalui contoh diatas, walaupun majalah local dan majalah franchise memiliki segmentasi pasar yang sama, namun dari segi penyampaian dan isi yang terdapat dalam tiap majalah tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok dimana budaya yang tempat asal majalh franchise tidak dapat dipungkiri dan memiliki peranan besar dalam opini public yang terdapat di masyarakat Indonesia yang semakin berkembang.

Dalam hal pernikahan contohnya, semakin banyaknya wanita karir yang juga sebagai ibu rumah tangga selain itu mereka tidak lagi malu dalam membahas masalah sex pada beberapa kesempatan pada rubric- rubric majalah. Karena banyaknya opini yang menyatakan bahwa sudah saatnya wanita Indonesia menjadi wanita pintar yang mandiri dan mampu mengemukakan pendapatnya. Hal ini sangat berpengaruh pada penjualan majalah franchise yang semakin meningkat sedangkan penjualan majalah local yang semakin menurun, karena dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan masa. Kemudian contohnya pada hal fashion dimana banyak remaja Indonesia berpenampilan mencontoh budaya amerika atau artis – artis Hollywood sehingga banyak dari mereka yang berpenampilan lebih dewasa dari seharusnya.

(8)

semakin menjamurnya majalah-majalah franchise lainnya yang masuk ke Indonesia dengan spesialisasi khusus.

Semua itu memberikan efek besar terhadap industry majalah local di Indonesia yang semakin sepi peminat seiring perkembangan industry media cetak, namun kreatifitas dan kerja keras dituntut keras untuk dalam industry majalah local di Indonesia. Dimana pada saat ini banyak majalah-majalah lokal terus memperbarui isi dari majalah tersebut dengan variasi berita dan info yang semakin menarik, bahkan dari segi kemasan dan ukuran majalah yang dibuat semenarik mungkin guna menarik minat pembacanya. Contohnya seperti majalah Gadis yang merubah ukuran kemasan majalah menjadi lebih kecil guna lebih praktis untuk para remaja. Dari segi isi pun, majalah Gadis melakukan pembaruan berita dan informasi terkini yang mengikuti perkembangan global.

B. LATAR BELAKANG PENELITIAN

Kemudian dari perkembangan majalah tersebut, muncul majalah – majalah internal di suatu institusi tertentu. Pada suatu institusi menggunakan majalah untuk menginformasikan berita seputar institusi tersebut dimana penulis dan penerbit majalah tersebut adalah bagian khusus di institusi tersebut. Berikut adalah contoh penelitian mengenai majalah internal di suatu institusi: Efektivitas majalah “warta keluarga djarum” sebagai wahana komunikasi internal perusahaan. Hasilnya menunjukkann bahwa penggunaan majalah internal “warta keluarga djarum” di perusahaan sudah cukup baik. Majalah memberikan informasi dengan nilai-nilai positif kepada karyawan, memberikan berita internal terkait kegiatan perusahaan maupun karyawan, dan memberikan inspirasi bagi karyawan dalam bekerja. (Nur Dinna Utami. 2010. Efektivitas majalah “warta keluarga djarum” sebagai wahana komunikasi internal perusahaan. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Bogor).

(9)

responden di 9 kota besar di Indonesia. Hasil dari survey membuktikan bahwa terjadi penurunan pembaca Majalah dari tahun 2005 sebesar 20% dari total populasi menjadi 12% dari total populasi pada tahun 2009.

Setelah melihat dari perkembangan efektifitas majalah baik di Amerika maupun di Indonesia yang menunjukkan bahwa majalah masih menjadi salah satu media massa yang masih eksis dan masih menjadi media yang cukup efektif untuk mendapatkan informasi. Dengan melihat perkembangan majalah yang ada di Indonesia, dimana majalah di Indonesia dipengaruhi oleh majalah asing (franchise) dan semakin mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia. Untuk itu, kami melakukan penelitian tentang efektifitas majalah pada kehidupan masyarakat saat ini. Selain itu, kami juga ingin melihat di kalangan yang seperti apakah majalah masih menjadi media yang masih banyak diminati sekarang ini.

(10)

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena mengenai efektivitas majalah di masyarakat. Melalui penelitian ini, akan dideskripsikan secara kuantitatif mengenai efektivitas majalah berdasarkan fakta-fakta di lapangan dan deskripsi subjek. Penelitian ini juga dapat menerangkan dan memprediksi terhadap suatu gejala yang diperoleh di lapangan. Penelitian kuantitatif sendiri adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan dan menggunakan model-model yang berhubungan dengan teori-teori atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena yang terjadi di alam atau masyarakat. Analisis deskriptif kuantitatif adalah cara analisis dengan mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Pada penelitian kami terdapat 40 responden yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, minat akan membaca majalah, cara memperoleh majalah, frekuensi membaca majalah, biaya yang dihabiskan untuk membeli majalah, waktu untuk membaca majalah, tujuan membaca majalah, manfaat membaca majalah dan bagian yang paling disukai.

B. METODE PENGUMPULAN DATA

(11)

Setelah mendapatkan persetujuan (informed consent) dari partisipan, peneliti memberikan kuesioner dan memberikan waktu kepada partisipan untuk menjawabnya. Setelah selesai dikerjakan, peneliti mengambil kembali lembar kuesioner tersebut dan memastikan bahwa semua pertanyaan dijawab dengan jelas oleh partisipan dan kemudian barulah memasukkan data yang sudah terkumpul ke dalam tabel sebagai langkah pertama untuk mengklasifikasikan atau mengkoding. Dalam pengkodingan, peneliti melihat sebaran seluruh jawaban partisipan dan kemudian mulai membuat tema serta memasukkan jawaban subjek yang sesuai dengan tema yang ada. Setelah menemukan tema-tema yang dimaksud, peneliti meminta pendapat dari beberapa peneliti lain sebagai proses peminimalisiran subjektivitas yang tidak disadari peneliti. Kemudian, peneliti mulai membuat hasil pentemaan ke dalam bentuk grafik dan diagram yang mana hasil penelitian ini selanjutnya di deskripsikan dalam bentuk laporan.

C. GAMBARAN UMUM RESPONDEN DALAM PENELITIAN

(12)

8 9 10 12 13 14 15 16 20 21 22 40 41 42 43 44 46 50 56

Seluruh koresponden penelitian berjumlah 40 orang yang terdiri dari 5 orang anak-anak yang berjenis kelamin laki-laki dan 5 orang anak-anak yang berjenis kelamin perempuan. 5 orang remaja berjenis kelamin laki-laki dan 5 orang remaja berjenis kelamin perempuan. 5 orang dewasa awal yang berjenis kelamin laki-laki dan 5 orang remaja berjenis kelamin perempuan dan 5 orang dewasa madya yang berjenis kelamin laki-laki dan 5 orang remaja berjenis kelamin perempuan. Dari diagram batang di atas dapat diketahui bahwa subjek terbanyak berumur 20 tahun.

(13)

50%

25% 10%

10% 5%

Pekerjaan

Pelajar Mahasiswa Wiraswasta PNS Tidak bekerja

Pekerjaan partisipan yang mengerjakan kuesioner yang diberikan berbagai macam mulai dari pelajar, mahasiswa, PNS, wiraswasta dan lain sebagainya. Seperti yang ditunjukkan pada diagram, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden merupakan pelajar.

D. DESKRIPSI HASIL PENELITIAN

Setelah melakukan pentemaan dalam setiap jawaban yang diberikan partisipan, kami menyajikan hasil pentemaan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

1. Pertanyaan pertama tentang minat partisipan terhadap majalah

65%

35%

Minat Responden pada Majalah

(14)

Dari 40 partisipan yang mengisi kuesioner, terdapat 65 % partisipan yang suka untuk membaca majalah dan terdapat 35 % tidak suka membaca majalah. Dengan kata lain, dari 40 partisipan dari beberapa tahap perkembangan terdapat 26 orang diantaranya suka membaca majalah dan 14 lainnya tidak suka membaca majalah.

2. Alasan partisipan untuk suka dan tidak suka

4%

Alasan Suka / Tidak Suka Majalah

Malas Partisipaan yang suka membaca majalah lebih memberikan jawaban yang beragam dengan partisipan lain yang juga suka membaca majalah. Berbeda dengan partisipan yang tidak suka membaca majalah cenderung memberika jawaban yang beraneka ragam, mulai dari faktor internal dari dalam diri partisipan (tidak suka membaca, tidak ada waktu, bosan dan malas) dan faktor eksternal dari majalah itu sendiri (tidak menarik).

(15)

pelajar pada tahap perkembangan tersebut juga lebih berfokus pada pendidikan sehingga kebanyakan semuanya berisi pengetahuan yang disampaikan dengan cara yang berbeda-beda untuk mengundang daya tarik pelajar. Berbeda dengan dua kelompok umur lainnya, mahasiswa misalnya, orang tua dan majalah mecari pengetahuan dari media massa lain. Sehingga membaca majalah yang lebih diutamakan adalah hiburan bukan mencari pengetahuan.

3. Cara partisipan memperoleh majalah

Beli Langganan Meminjam Download 0

5 10 15 20 25

Beli; 21

Langganan; 5

Meminjam; 19

Download; 2

Cara Memperoleh Majalah

(16)

4. Cara akses majalah

Fisik; 79% Online; 21%

Cara Akses

Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa banyak partisipan lebih suka membaca majalah secara fisik. Ada pula yang menyukai kedua-duanya. Dari survey ini, kami dapat memahami bahwa banyak partisipan yang menyebut majalah sebagai buku. Sehingga terdapat generalisasi bentuk buku pada majalah yang menyebabkan majalah yang sering dibaca dinamakan dengan buku. Beberapa partisipan memilih untuk membaca secara online. Terdapat 21% partisipan yang mengakses majalah dengan online seirama dengan jawaban partisipan ketika ditanya tentang cara memperoleh majalah, yaitu 4% jawaban partisipan adalah download.

5. Frekuensi Membaca Majalah

Setiap Hari0 Tidak tentu Mingguan Bulanan 2

4 6 8 10 12 14 16

Setiap Hari; 3

Tidak tentu; 6

Mingguan; 15

Bulanan; 11

(17)

Dari hasil survey didapatkan bahwa banyak partisipan yang lebih menyukai untuk membaca majalah permingguan misalnya 1 kali seminggu, 2 kali seminggu atau 3 kali seminggu. Terdapat 9% partisipan yang membaca majalah setiap hari karena menyesuaikan dengan kebutuhan partisipan yang perlu bantuan dalam hal fashion

yang berbeda di setiap hari. Selain itu cukup banyak partisipan yang tidak tentu membaca majalah, karena membaca hanya ketika perlu hiburan saja dan tidak setiap minggu partisipan memilih untuk dihibur oleh majalah.

6. Biaya yang dikeluarkan untuk membaca majalah

< Rp. 10.000 Rp. 10.000 - 50.000 > Rp. 50.000 Tidak ada Tidak tentu 0

2 4 6 8 10 12

< Rp. 10.000; 7

Rp. 10.000 - 50.000; 10

> Rp. 50.000; 3

Tidak ada; 9

Tidak tentu; 6

Biaya yang Dikeluarkan

(18)

7. Waktu yang dikeluarkan untuk membaca majalah

73% 14%

11%

3%

Waktu membaca majalah

Waktu Senggang Hari Libur Tidak tentu Hari Kerja

Dalam membaca majalah, sedikit partisipan yang menjadikannya prioritas utama. Partisipan paling banyak membaca pada saat waktu senggang. Pentemaan waktu senggang di sini adalah ketika partisipan sedang tidak ada pekerjaan apapun. Kemudian pada saat hari libur sebagai sarana untuk menghibur diri. Beberapa partisipan membaca majalah pada hari kerja dan beberapa tidak tentu. Hal tersebut dapat dipahami karena isi dari majalah bulanan misalnya tidak selalu mengupdate

berita setiap hari seperti halnya media massa yang lain.

8. Tujuan membaca majalah

Hiburan; 80% Menambah Ilmu; 20%

(19)

Dari berbagai macam jawaban yang diberikan partisipan, kami hanya menjadikan dua tema untuk semua jawaban yaitu sebagai saran menambah pengetahuan dan sebagai hiburan. Menambah pengetahuan dijawab partisipan dengan berbagai macam hal yang membuat partisipan dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Misalnya tentang resep, artikel keluarga, ilmu pengetahuan teknologi dan lain sebagainya. Sedangkan untuk tema hiburan bekisar tentang fasilitas-fasilitas yang tersedia di majalah seperti teka-teki silang, cerpen, komik dan lain sebagainyaa.

Hal tersebut juga tergantung pada sudut pandang partisipan. Partisipan mungkin saja mendapatkan ilmu pengetahuan dari membaca komik yang ada di majalah sehingga komik tidak menjadi sarana hiburan melainkan sebagai sumber informasi. Walaupun demikian, 80% partisipan membaca majalah untuk menjadikan dirinya lebih terhibur dengan segala penyajian majalah yang menarik.

9. Manfaat membaca majalah

Penerapan Ilmu Hiburan 0

5 10 15 20 25 30 35

Penerapan Ilmu; 29

Hiburan; 7

Manfaat Membaca Majalah

(20)

10. Bagian majalah yang disukai

Cerita Iklan Informasi Hiburan 0

5 10 15 20 25

Cerita; 22

Iklan; 1

Informasi; 15

Hiburan; 10

Bagian yang Disukai

(21)

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kebanyakan partisipan yang membaca majalah adalah untuk menambah ilmu pengetahuan di waktu senggang atau di waktu luang. Majalah masih menjadi media massa yang diminati diberbagai kelompok umur. Penyajian majalah yang menarik dan isi yang sesuai dengan kebutuhan membuat majalah tetap menjadi sarana untuk menambah ilmu dan sebagai hiburan bagi pembacanya. Dengan penanganan yang tepat pada isi dan daya tarik majalah, majalah masih menjadi media massa yang efektif pada masa kini. Dengan kata lain, masih bisa menjangkau semua kalangan kelompok umur.

Saran

(22)

Daftar pustaka

Baran, Stanley J. 2010. Introduction to Mass Communication Media Literacy and Culture Sixth Edition. New York: McGraw Hill

http://kesehatan.kompas.com/read/2009/07/16/16015757/survei.nielsen.pembaca.med ia.cetak.makin.turun

(23)

Lampiran 1

FORM PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT)

Kami selaku mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang sedang mengikuti mata kuliah Psikologi Media Masa memohon kepada anda untuk menjadi partisipan dalam penelitian kami yang berjudul “Efektivitas Majalah Sebagai Media Massa pada Masa Kini”. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur keefektivan Majalah sebagai media massa di masyarakat pada masa kini. Oleh karena itu, kami meminta partisipasi anda dalam pengisisan kuesioner.

Hasil dari penelitian ini akan kami serahkan kepada dosen pengampu mata kuliah Psikologi Media Masa. Kami menggunakan data kelompok sehingga nama anda tidak akan dicantumkan ke dalam hasil penelitian. Penelitian ini tidak bersifat memaksa sehingga anda berhak menolak untuk mengikuti penelitian ini.

Bila anda berkenan untuk berpartisipasi, maka anda dapat menandatangani lembar persetujuan ini.

Yogyakarta, November 2012

Partisipan Peneliti

(24)

Referensi

Dokumen terkait