Model Pengamanan Berbasis Network Administrator Security sebagai Solusi Pencegahan Cybercrime dalam Pelaksanaan E-Government di Indonesia
Oleh :
Vincentius Dhanang W E0012390
Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Bab I Pendahuluam A. Latar Belakang
Semakin canggihnya alat-alat teknologi dan informasi dewasa ini telah menimbulkan dampak terbentuknya culture-culture baru yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia, tak terkecuali dalam lingkungan aparatur pemerintahan. Belakangan ini, aparatur pemerintahan sedang dihebohkan dengan trend penggunaan elecktronic government ( e-Government). E-Government ialah penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan aktivitas pemerintahan. E-Government dapat diaplikasikan pada legislatif, yudikatif, atau administrasi publik, untuk meningkatkan efisiensi internal, menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis. Model penyampaian yang utama adalah Government-to-Citizen
atau Government-to-Customer (G2C), Government-to-Business (G2B) serta
Government-to-Government (G2G). Keuntungan yang paling diharapkan dari e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan publik.1
Namun, dalam perkembangannya kejahatan peretasanan (cybercrime) masih rawan terjadi dalam e-Government karena masih lemah sistem pengamanannya. Hal ini diturakan oleh Wakil Ketua Indonesia Security Acident Response Team Internet Infrastrukture (ID-SARTH) Iwan Sumantri. Saat berbicara dalam Workshop Keamanan Informasi yang mengambil tema Keamanan Informasi untuk Penyelenggaraan e-Government yang efektif, efisien dan transparan pernah mengingatkan bahwa sistem jaringan keamanan admistrasi e-Government harus ditingkatkan karena telah terjadi fakta bahwa pada tahun 2013 lalu saja
terjadi 72.225.360 serangan atau 200.626 / hari, 82 persen serangan terjadi untuk kategori SQL, Malware, Web Base dan Botnet.2
Mengingat bahwa manfaat-manfaat e-Government sangat penting bagi jalannya birokrasi pemerintahan, maka melalui paper ini penulis ingin memberikan gagasan dengan model pengamanan berbasis network administrator security sebagai solusi pencegahan cybercrime dalam pelaksanaan e-Government di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk pengaturan tentang cybercrime di Indonesia?
2. Model pengamanan berbasis network administrator security seperti apakahyang ideal untuk solusi pencegahan cybercrime dalam pelaksanaan
e-Government di Indonesia ?
Bab II Pembahasan A. Bentuk cybercrime di Indonesia
Ada begitu banyak definisi cybercrimes, baik menurut para ahli maupun berdasarkan peraturan perundang-undangan. Definisi-definisi tersebut dapat dijadikan dasar pengaturan hukum pidana siber materil. Misalnya, Sussan Brenner membagi cybercrimes menjadi tiga kategori:
“crimes in which the computer is the target of the criminal activity, crimes in which the computer is a tool used to commit the crime, and crimes in which the use of the computer is an incidental aspect of the commission of the crime.”3
Sedangkan menurut instrumen PBB dalam Tenth United Nations Congress on the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders yang diselenggarakan di Vienna, 10-17 April 2000, kategori cyber crime, Cyber crime dapat dilihat secara sempit maupun secara luas, yaitu:
a) Cyber crime in a narrow sense (“computer crime”): any illegal behavior directed by means of electronic operations that targets the security of computer systems and the data processed by them;
b) Cyber crime in a broader sense (“computer-related crime”): any illegal behaviour committed by means of, or in relation to, a computer system or network, including such crimes as illegal possession, offering or distributing information by means of a computer system or network.
Selain itu ada juga Convention on Cybercrime (Budapest, 23.XI.2001), yang memberikan ketentuan-ketentuan cybercrime yang dapat diklasifikasikan menjadi:
Title 1 – Offences against the confidentiality, integrity and availability of computer data and systems
Title 2 – Computer-related offences
Title 3 – Content-related offences
Title 4 – Offences related to infringements of copyright and related rights
Title 5 – Ancillary liability and sanctions Corporate Liability
Berdasarkan Instrumen PBB di atas, maka pengaturan cybercrime
di Indonesia dapat dilihat dalam arti luas dan arti sempit. Secara luas, tindak pidana siber dalam arti luas. Demikian juga tindak pidana dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana maupun tindak pidana perbankan serta tindak pidana pencucian uang.
Akan tetapi, dalam pengertian yang lebih sempit, pengaturan
cybercrime yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sama halnya seperti Convention on Cybercrimes, UU ITE membagi cybercrimes, menjadi beberapa pengelompokkan yang mengacu pada Convention on Cybercrimes, yakni:4
1. Tindak pidana yang berhubungan dengan aktivitas illegal a. Distribusi atau penyebaran, transmisi, dapat diaksesnya
konten illegal, yang terdiri dari, kesusilaan Pasal 27 ayat (1) UU ITE; perjudian Pasal 27 ayat (2) UU ITE penghinaan atau pencemaran nama baik Pasal 27 ayat (3) UU ITE; pemerasan atau pengancaman Pasal 27 ayat (4) UU ITE; berita bohong yang menyesatkan dan merugikan konsumen Pasal 28 ayat (1) UU ITE; menimbulkan rasa kebencian berdasarkan SARA Pasal 28 ayat (2) UU ITE; mengirimkan informasi yang berisi
ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi Pasal 29 UU ITE.
b. dengan cara apapun melakukan akses illegal (Pasal 30 UU ITE);
c. intersepsi illegal terhadap informasi atau dokumen elektronik dan Sistem Elektronik (Pasal 31 UU ITE); 2. Tindakpidana yang berhubungandengangangguan
(interferensi)
a. Gangguan terhadap Informasi atau Dokumen Elektronik (data interference – Pasal 32 UU ITE); b. Gangguan terhadap Sistem Elektronik (system
interference – Pasal 33 UU ITE);
3. Tindak pidana memfasilitasi perbuatan yang dilarang (Pasal 34 UU ITE);
4. Tindak pidana pemalsuan informasi atau dokumen elektronik (Pasal 35 UU ITE);
5. Tindak pidana tambahan (accessoir Pasal 36 UU ITE); dan 6. Perberatan-perberatan terhadap ancaman pidana (Pasal
52 UU ITE).
Selain, UU ITE juga mengatur cybercrime formil, khususnya dalam bidang penyidikan. Pasal 42 UU ITE mengatur bahwa penyidikan terhadap tindak pidana dalam UU ITE dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan ketentuan dalam UU ITE. Artinya, ketentuan penyidikan dalam KUHAP tetap berlaku sepanjang tidak diatur lain dalam UU ITE. Kekhususan UU ITE dalam penyidikan antara lain:
Penyidikan dilakukan dengan memperhatikan perlindungan terhadap privasi, kerahasiaan, kelancaran layanan publik, integritas data, atau keutuhan data;
Penggeledahan dan atan penyitaan terhadap Sistem Elektronik yang terkait dengan dugaan tindak pidana harus dilakukan atas izin ketua pengadilan negeri setempat;
Dalam melakukan penggeledahan dan/atau penyitaan Sistem Elektronik, penyidik wajib menjaga terpeliharanya kepentingan pelayanan umum.
B. Model pengamanan e-Government dari cybercrime
Langkah yang perlu dilakukan untuk memberikan keamanan pada
e-Government adalah penjaminan layanan elektronik yang menyediakan akses melalui portal dan secure gateway bagi seluruh stakeholder
pemerintahan. Beberapa metode pengamanan yang dapat dilakukan adalah pengaturan5 :
1. Authentication, Pemahaman tentang personal dan jenis perangkat yang dipergunakan untuk mengakses sistem. Hal yang menjadi perhatian utama dalam proses authentication adalah :
o Komponen informasi yang dimiliki oleh pengguna, seperti smart card atau hardware token.
o Komponen informasi yang secara natural dimiliki oleh pengguna, seperti fingerprint atau iris scan.
Satu hal yang perlu diingat bahwa model authentication bukan suatu metode pengamanan tunggal, melainkan salah satu bagian dari metode pengamanan modul e-Government. Beberapa alternatif implementasi yang dapat dipilih pada proses online atuhentication diantaranya :
o One-time password, akan mengeliminasi resiko ini dengan mempergunakan perangkat keras yang mampu
membangkitkan kode unik setiap pengguna memasuki aplikasi. Token password dibangkitkan dengan model symmetric key yang hanya akan valid pada saat itu saja.
o Challenge and response system, dapat
diimplementasikan dengan menggunakan cara manual (dengan form register) dan secara otomatis (menggunakan perangkat keras atau token). Secara manual pengguna akan memasukan ID dan password, selanjutnya sistem akan secara acak menanyakan suatu informasi dari biodata yang terdapat dalam form registrasi. Sedangkan Proses secara otomatis melibatkan
asymmetric cryptography dan user mempergunakan perangkat keras pembangkit sandi yang unik sesuai dengan yang diisukan oleh sistem.
o Biometrics, teknologi biometric menggunakan suatu ciri fisika atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh pengguna sistem. Sebagai contoh adalah : Iris Scan, Retina scan, Finger scan, hand geometry, voice verification dan dynamic signature verification. Seluruh metode tersebut mencoba menyajikan ciri fisik manusia ke dalam bentuk informasi digital yang dapat diinterpresikan oleh sistem serta dapat di identifikasi secara unik.
o Conventional encryption, algoritma yang bekerja menyandikan suatu text.
validasi. Pasangan kunci ini dinyatakan sebagai public key dan private key. Public key berfungsi menangani proses enkripsi dengan cara sebagai berikut: Pada saat penggunakan pasangan kunci authentication, pengguna menyebarkan informasi public key ke seluruh komponen sistem, jika terdapat sebuah modul sistem yang memiliki public key yang sama maka modul sistem mampu mendekripsi public key yang dikirim serta memberikan penjaminan untuk pengiriman private key yang dipergunakan pada proses dekripsi level berikutnya.
o Pretty good privacy (PGP), enkripsi yang diperuntuk bagi sekelompok kecil orang yang ingin bertukar informasi secara aman. Proses ini sepenuhnya dilakukan dengan pertukaran private key di antara sesama pengguna.
o Secure socket layer (SSL) dan Transport Layer Security
(TLS) SSL protokol adalah satu set aturan komunikasi yang sepenuhnya disandikan dan hanya dapat dipahami oleh pengguna dan server yang sedang berkomunikasi. Protokol ini dikembangkan untuk mengamankan transmisi data penting pada jaringan internet.
2. Authorization, pemahaman tentang sumberdaya apa yang tersedia untuk pengguna dan perangkat yang telah lulus proses validasi. Proses ini sepenuhnya diserahkan pada tahapan identifikasi kebutuhan sistem dan identifikasi komponen yang terlibat dalam desain e-Government.
o Firewall, sistem proteksi untuk melaksanakan pengawasan lalu lintas paket data yang menuju atau meninggalkan sebuah jaringan komputer sehingga paket data yang telah diperiksa dapat diterima atau ditolak atau bahkan dimodifikasi terlebih dahulu sebelum memasuki atau meninggalkan jaringan tersebut.
o Intrusion Detection System, sistem ini akan mendeteksi pola atau perilaku paket data yang masuk ke jaringan untuk beberapa waktu sehingga dapat dikenali apakah paket data tersebut merupakan kegiatan dari pihak yang tidak berhak atau bukan.
o Network Scanner, program yang secara otomatis akan mendeteksi kelemahan-kelemahan (security weaknesses) sebuah komputer di jaringan local (local host) maupun komputer di jaringan dengan lokasi lain (remotehost).
o Packet Sniffing, sebagai alat untuk memonitor jaringan komputer. Alat ini dapat diperasikan hampir pada seluruh tipe protokol seperti Ethernet, TCP/IP, IPX, dan lain-lain. Prosedur yang sederhana dan mudah untuk mengevaluasi aspek keamanan jaringan komputer dalam model e-Government dari cybercrime
adalah dengan memanfaatkan seluruh program mengenai hacking (hacking tools) yang ada melalui network administrator security. Program ini dicobakan pada jaringan komputer sehingga dapat dilihat seberapa parah dampak negatif yang akan ditimbulkan. Beberapa program atau utility tersebut antara lain IP Scanner, IP Sniffer, Networ Analyzer, Email Bombs, Spamming, TCP Wrapper, Password Cracking, dan sebagainya, maka akan segera dapat dilihat kemampuan pengamanan dan keamanan jaringan komputer yang sering disebut sebagai “security holes” atau “back doors”6.
Bab III
Penutup A. Simpulan
Pengaturan cybercrime di Indonesia dapat dilihat dalam arti luas dan arti sempit. Secara luas, cybercrime ialah semua tindak pidana yang menggunakan sarana atau dengan bantuan Sistem Elektronik secara konvensional yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sedangakan dalam pengertian yang lebih sempit, pengaturan
cybercrime yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Dalam pelaksanaan e-Government masih rawan terjadi cybercrime. Peralatan dan metode telah tersedia dalam jumlah yang memadai untuk mengamankan suatu sistem jaringan. Tidak semua sitem jaringan dapat dipergunakan secara efektif karena sesuatu yang kita anggap aman untuk saat ini akan terbukti menjadi tidak aman lagi pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, model network administrator security sangat penting dalam menjaga keamanan sistem secara keseluruhan. Beberapa program yang dapat digunakan ialah IP Scanner, IP Sniffer, Networ Analyzer, Email Bombs, Spamming, TCP Wrapper, Password Cracking, dan sebagainya.
B. Saran
Segera dibentuk peraturan perundang-undangan baik itu kepres, inpres, permen ataupun kepmen untuk merealisasikan network administrator security. Selain itu, Kementrian Teknologi dan Informatika harus segera pula menyiapkan sumber daya-sumber daya yang dapat menopang network administrator security.
Brenner, Sussan W, 2001, Defining Cybercrime: A review of State and Federal Law di dalam Cybercrime: The Investigation, Prosecution and Defense of A Computer-Related Crime, Durham, North Carolina: Carolina Academic Press
https://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_elektronik http://pangea.standord.edu/computerinfo/network/security http://www.geocities.com/seminartc
http://www.pekalongan-news.com/2014/11/indonesia-rawan-serangan-cyber.html