Kaitan Doktrin Piercing The Coorporate Veil Dengan Doktrin Business Judgement Rule pada Perseroan Terbatas di Indonesia1
Oleh :
Adi Seno2
PENDAHULUAN
Di picu meledaknya revolusi industri yang setidaknya dalam sejarah yang diketahui bermula di kawasan Inggris, langkah awal adalah memenuhi kebutuhan pokok manusia dengan membangun antara lain pabrik tekstil dan pabrik mesin tekstil yang dikategorikan berteknologi rendah dan minim modal.3 Berpijak dari revolusi bersejarah tersebut pertumbuhan sains dan teknologi pesat tak lagi terhindarkan mendorong kebutuhan manusia yang semakin menuntut keberagaman, sudah barang tentu kompleksitas. Maka produk dan jasa makin membanjiri dunia yang saat ini katanya telah digandrungi globalisasi serta berbanding lurus dengan makin suburnya praktek produksi sebagai mula-mula terbentuknya komoditas tersebut baik itu produk atau jasa.
Barang tentu atas adanya perkembangan di bidang ekonomi tersebut perlu adanya sebuah pengaturan demi adanya ketertiban. Pengaturan dan ketertiban dalam perkembangannya merupakan sovereignty dari hukum. Seperti yang didengungkan Roscoe Pound bahwa hukum sebagai sarana rekayasa sosial (law as tool of social engineering).4 Badan hukum merupakan rekayasa manusia untuk membentuk suatu badan agar dapat bertindak dalam status, kedudukan, kewenangan yang seakan-akan sama seperti manusia dalam lingkup hukum perdata. Badan ini disebut artificial person karena merupakan hasil rekayasa yang berupa tiruan, tidak sama namun dalam hal tertentu dapat dipersamakan dengan aslinya.5 Maka perusahaan sebagai suatu rekayasa sosial yang baik untuk mengayomi kegiatan produksi tersebut.
Perkembangan perusahaan sebagai suatu rekayasa sosial ekonomi khususnya di Indonesia dalam kenyataannya (das sollen) sudah terjadi bahkan sebelum negara ini berdiri. Terbatasnya waktu membuat penulis membuat terbatasanya pembahasan mengenai perkembangannya perusahaan apabila ditelusuri dari sifat-sifat dan ciri-cirinya paling tidak yang paling sederhana antara lain mencari keuntungan, melakukan pembukuan dll.6 Penulis hanya
1 Disampaikan dalam diskusi sore hari
2 Bukan Mahasiswa Strata satu Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
3 Lebih jauh. Lihat Kunio, Yoshihara, Kapitalisme Semu Asia Tenggara. 1990. LP3ES. Jakarta. Hlm. xvii. Tulisan tersebut merupakan buah tangan Arief Budiman yang memberikan pengantar atas buku Kapitalisme Semu Asia Tenggara. Dalam tulisan tersebut diruntutkan awal mula perkembangan dunia industri di kawasan Uni Eropa 4 Marwan, Awaludin, Satjipto Rahardjo Sebuah Biografi Intelektual dan Pertarungan Tafsir terhadap Filsafat Hukum Progresif. 2013. Thafa Media. Yogyakarta. Hlm. 259
5 Analisis Pemahaman Business Judgement Rule, Kristanto, fakultas hukum, universitas indonesia, 2010
mencantumkan salah satu peristiwa yang secara nyata menunjukan eksistensi perusahaan di Indonesia sebelum Indonesia merdeka yaitu Bremen Case.7
Sejarah perkembangan perusahaan di Indonesia apabila ditelisik lebih jauh dalam segi hukum utamanya hukum positif yang diartikan sebagai aturan hukum tertulis mulanya dapat dilihat dari KUHD dan KUHPer yang merupakan warisan hukum “Londo”.8 Kemudian dianggap memerlukan pengaturan yang lebih kompleks dan modern mengikuti perkembangan genderang tabuh ekonomi munculah UU no 1 tahun 1995 yang selanjutnya akan disebut “rezim lama” tentang perseroan terbatas yang kemudian diganti dengan UU no 40 tahun 2007 yang selanjutnya akan disebut “rezim baru”.
MENGETAHUI MAKNA DUA DOKTRIN
Mengkerucutkan kembali bahasan kita hanya pada lingkup perusahaan jenis perseroan terbatas maka dengan munculnya pengaturan yang modern dan sesuai tata hukum Indonesia yaitu UU no 1 tahun 1995 yang kemudian diganti dengan UU no 40 tahun 2007 terdapat beberapa doktrin-doktrin yang memang dengan pada masa sekarang ini dirasa sangat perlu untuk dimasukan dalam pengaturan hukum positif sebagai pegangan para pemilik modal untuk selanjutnya mengharmoniskan dan mengungkit perekonomian Indonesia pada umumnya ke level yang lebih tinggi. Doktrin itu antara lain :
1. Piercing the corporate veil 2. Fiduciary Duty
3. Derivative Action 4. Ultras Vires Doctrine 5. Liability of Promotors
7 Diperoleh dari pertemuan mata kuliah Hukum Internasional yang diampu oleh Prof Dr. FX Adji Samekto, S.H., M.H., secara singkat bahwa Bremen Case ialah sengketa yang terjadi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda. Bermula dari Rezim Soekarno yang sedang gencar melakukan nasionalisasi atas misi politik ingin mengambil kembali Irian Barat dan mencabut pengaruh-pengaruh kolonialisme di Indonesia.
Awalnya perkebunan tembakau tersebut dimiliki perusahaan Belanda yaitu NV Verenigde Deli-Maatschappijen dan NV Sanembah-Maatschappi kemudian dinasionalisasi dengan kompensasi ganti rugi. Kemudian hasil perkebunan tersebut dijual di kota Bremen Jerman oleh Indonesia dengan menggunakan perusahaan patungan baru. Kemudian tidak terima atas kejadian tersebut Pemerintah Belanda mengklaim hasil perkebunan tersebut dan sengketa tersebut kemudian disidangkan. Putusan pengadilan negeri Bremen lebih berpihak ke sikap yang diambil Pemerintah Indonesia begitu juga Pengadilan Tinggi Bremen yang memperkuat posisi Pemerintah Indonesia. Dalil yang diajukan oleh
Pemerintah Belanda ialah mengenai ganti rugi oleh Pemerintah Indonesia yang dianggap kurang dapat dipertanggungjawabkan namun pengadilan secara garis besar memberikan argumen bahwa sebagai negara yang baru merdeka bahwasanya Pemerintah Belanda harus sabar dalam menerima ganti rugi Pemerintah Indonesia yang pasti diberikan namun dengan jangka waktu dan Itikad baik Pemerintah Indonesia juga menjadi salah satu pertimbangan. Kasus tersebut terjadi pada tahun 1959. Kejadian tersebut langsugn direspon cepat oleh Pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah no 9 tahun 1959 yang didalamnya mengatur bahwa atas hasil perkebunan disisihkan sebagian hasil untuk membayar ganti rugi yang ditimbulkan akibat adanya peristiwa nasionalisasi.
6. Business Judgement Rule 7. Self Dealing
8. Corporate Opportunity.9
Saat ini akan dibahas keterkaitan utama antara doktrin piercing the corporate veil dengan doktrin business judgement rule. Sebelum itu perlu adanya untuk mengetahui apa makna dua doktrin tersebut
Pertama, secara umum doktrin piercing the corporate veil yaitu mengoyak tirai perusahaan. Sedangkan dalam ilmu hukum kewenangan untuk meminta pertanggung jawaban pribadi terhadap orang atau perusahaan lain terhadap aksi yang dilakukan senyata-nyatanya atas nama perusahaan. Memang ini mengabaikan tanggung jawab terbatas pada Perseroan Terbatas namun ada pengecualian karena biasanya ada pihak lain yang dirugikan atas tindakan tersebut. Doktrin ini sesungguhnya telah diakui hampir diseluruh sistem hukum namun dalam kesehariannya derajat pengakuan atas doktrin ini yang berbeda-beda di tiap sistem hukum. Hal tersebut dipengaruhi pandangan suatu sistem hukum mengenai badan hukum perseroan yang memiliki beberapa teori.10 Ada teori yang pandangannya menyebabkan timbulnya pendangan bahwa perusahaan adalah manusia yang mengendalikannya sehingga kesalahan perusahaan pasti salah manusianya.
Berdasarkan pengamatan penulis baik dalam peraturan rezim lama maupun rezim baru pada pasal 1 yang tidak berubah secara substansial terlihat bahwa Indonesia menggunakan teori realistis yang mulanya diprakarsai oleh Otto Von Gierke dalam memandang perusahaan sebagai badan hukum.11 Terlihat dalam aturan tersebut mengakui bahwa badan usaha perseroan terbatas adalah subjek hukum yang digerakan oleh organ perusahaan yang berimpas bahwa perusahaan memiliki hak dan kewajiban terlepas dari orang-orang yang ada di dalamnya. Dengan adanya pengakuan serta diikuti cagak penguatnya tersebut maka eksistensi PT sebagai subjek yang mandiri diakui yang menyebabkan kadar derajat pengakuan piercing the corporate veil melemah.
Adapun syarat terpenuhinya unsur-unsur piercing the corporate veil secara universal adalah sebagai berikut:
1. Terjadinya penipuan 2. Didapatkan ketidakadilan 3. Terjadinya suatu penindasan 4. Tidak memenuhi unsur hukum
5. Dominasi pemegang saham yang berlebihan
6. Perusahaan merupakan alter ego dari pemegamg saham mayoritasnya12
9 Dapat diliihat di Fuady, Munir, Doktrin, Doktrin Modern Dalam Corporate Law dan Eksistensinya Dalam hukum Indonesia.2002. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. 10 ibid hlm. 3 disadur dari (Mayson, Stephen W, 1988: 161) ada beberapa teori yaitu teori fiksi, individualisme, simbolis, realistis, ciptaan diri sendiri, kesatuan bisnis dan teori kontrak.
11 Lihat lampiran
Selebihnya daripada itu penulis ingin menambahkan bahwa tidak memenuhi unsur hukum merupakan kesalahan fatal yang sekuat-kuatnya harus dihindari.13 Tak lepas juga hubungan holding company sangatlah beresiko pula dikenakan doktrin ini karena tidak jarang transaksi dengan perusahaan induk menyalahi aturan dan adanya pemisahaan badan hukum yang hanya terpisah secara artifisial.14 Dalam hal-hal penjalanan perusahaan pihak direksi adalah yang paling rentan terkena doktrin ini. Ada beberapa pasal dalam aturan baik dalam rezim lama maupun rezim baru yang mengatur tentang piercing corporate veil.15
Kedua, doktrin business judgement rule merupakan cermin dari kemandirian direksi sebagai roda penggerak perusahaan untuk mengambil keputusan. Doktrin ini merupakan perlindungan bagi direksi yang beritikad baik dalam menjalankan tugasnya. Hanya salah dalam mengambil keputusan atau kesalahan yang jujur tidak dapat dipikulkan tanggung jawabnya terhadap direksi. Namun dalam catatan ada direksi-direksi tertentu yang dibebankan tanggung jawab yang lebih dari direksi yang lainnya dan kaitan hal ini berdasarkan jenis bisnis perusahaan yang ia pegang.16 Aturan ini diatur jelas baik dalam aturan rezim lama maupun rezim baru.17 Latar belakang doktrin ini dikarenakan bahwa penunjukan terhadap direksi telah dilakukan melalui RUPS dan orang yang ditunjuk sebagai direksi telah dipandang mampu untuk mengelola perusahaan. Oleh karena itu tidak ada satu orangpun yang dapat menghakimi keputusan dari direksi sebagai orang yang tau betul apa yang sedang terjadi. Karena dalam hal perusahaan menjalankan suatu bisnis selalu terkandung resiko dan hampir dapat dipastikan tidak mungkin selalu untung. Oleh karena itu tidak semerta-merta faktor internal merupakan penyebab kerugian.18 Sesungguhnya doktrin ini memiliki kaitan erat dengan doktrin fiduciary duty karena fiduciary duty merupakan awalan dan dasar untuk melakukan akhiran yaitu business judgement rule. Hubungan dua doktrin ini dapat dianalogikan sebagai suatu proses input kemudian output.
Pernyataan diatas semua dibenarkan selama keputusan yang diambil direksi meskipun pada akhirnya merugikan memenuhi unsur berikut :
1. Putusan sesuai hukum yang berlaku 2. Dilakukan dengan itikad baik
3. Dilakukan dengan tujuan yang benar
4. Putusan tersebut mempunyai dasar-dasar yang rasional
5. Dilakukan dengan kehati-hatian, seperti dilakukan oleh orang yang cukup hati-hati dalam keadaan serupa
13 Raden Roosman v. Perusahaan Otobis N.V. Sendiko, No. 224/1950/Perdata (1951). dan O. Sibarani v. PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Gesuri Lloyd”, No. 21/Sip/1973 (1973) merupakan kasus yang karena adanya unsur tidak memenuhi unsur hukum karena telah memenuhi salah satu unsur piercing corporate veil maka pemegang saham bertanggung jawab pribadi atas ganti rugi. Lebih jelas lihat lampiran 2
14 Fuady, Munir, Doktrin, Doktrin Modern Dalam Corporate Law dan Eksistensinya Dalam hukum Indonesia.2002. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. Hlm.11
15 Lihat lampiran 16 Ibid Hlm.197 17 Lihat lampiran
6. Dilakukan dengan cara yang layak dipercayainyasebagai yang terbaik bagi perseroan.19
IMPLEMENTASI KETERKAITAN DOKTRIN DALAM PERJALANAN PERSEROAN TERBATAS DI INDONESIA
Pertama, dalam perkara Herman Rachmat v. Ny. Maryam Abas, No. 268 K/Sip/1980 (1982), Mahkamah Agung berpendapat Tergugat Ny. Maryam Abas sejak tanggal 20 Desember 1977 bukanlah Direktris lagi dari PT. Cikembang. Oleh karena PT. Cikembang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman tanggal 13 Januari 1976, dengan demikian Perseroan Terbatas tersebut telah merupakan dan berbentuk badan hukum. Oleh karena itu Penggugat tidak dapat mengajukan gugatan terhadap pribadi tergugat, yang tidak ada hubungan dan sangkut paut sama sekali dengan PT. Cikembang. Perkara ini bermula dari PT. Cikembang pada masa Direktrisnya Ny. Maryam Abas, yang memesan bahan-bahan bangunan untuk proyeknya yang bernilai Rp. 23.869.655,-. Sampai dengan Pengugat mengajukan gugatannya, hutang tersebut belum dibayar. Pengadilan Negeri berpendapat, yang harus digugat adalah PT. Cikembang, yang diwakili oleh Direkturnya yang sekarang, bukan Direkturnya yang telah berhenti, yaitu Tergugat Ny. Maryam Abas.20
Pada tingkat banding, Pengadilan Tinggi dalam pertimbangannya menyatakan :
“..., akan tetapi apabila kewajiban hukum tersebut adalah tanggung jawab PT. Cikembang sebagai “rechts persoon” maka yang harus disebutkan dalam gugatan adalah pengurusnya yang sekarang, sebab tanggung jawab dari suatu badan hukum adalah melekat pada badan hukum itu sendiri.”21
Pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung membenarkan putusan Pengadilan Tinggi, sehingga menolak permohonan kasasi dari Penggugat, Herman Rachmat tersebut.22
ANALISIS :
Dalam kasus tersebut perlu dilihat kembali unsur-unsur yang kiranya membenarkan bahwa memang Ny Maryam Abas selaku mantan direktris PT Cikembang dilindungi doktrin business judgement rule. Adapun ketentuan yang harus dilihat sama seperti yang telah ditulis diatas yaitu :
1. Putusan sesuai hukum yang berlaku 2. Dilakukan dengan itikad baik
3. Dilakukan dengan tujuan yang benar
4. Putusan tersebut mempunyai dasar-dasar yang rasional
19 Fuady, Munir, Doktrin, Doktrin Modern Dalam Corporate Law dan Eksistensinya Dalam hukum Indonesia.2002. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. Hlm.198
20 Dapat dilihat di ermanhukum.com makalah PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK : TANGGUNG JAWAB PEMEGANG SAHAM, KOMISARIS, DAN DIREKSI kasus Herman Rachmat v. Ny. Maryam Abas, No. 188/1978/C/Bdg (1979).
5. Dilakukan dengan kehati-hatian, seperti dilakukan oleh orang yang cukup hati-hati dalam keadaan serupa
6. Dilakukan dengan cara yang layak dipercayainyasebagai yang terbaik bagi perseroan.
Selaku mantan direktris PT Cikembang tidk terlihat Ny Maryam Abas melakukan piercing the corporate veil baik dilihat dari ia menjalankan perusahaan dengan semestinya dan mendaftarkan perusahaan ke kementrian berwenang. Uang tersebut juga dipinjam atas nama perseroan dan demi kebaikan perseroan. Kemudian yang paling krusial tidak dapat dibuktikan bahwa Ny Maryam Aabas melakukan transaksi demi kepentingan dirinya sendiri atau afiliasi lainnya. Terakhir bahwa demi kepentingan berjalannya perseroan merupakan hal yang rasional bahwa Ny Maryam Abas meminjam uang. Perlu dijadikan catatan ialah selisih waktu Ny Maryam berhenti menjadi direktris hingga saat ini mengapa belum terlunasi utang perseroan tersebut harusnya ditujukan pada pengurus yang sekarang. Karena logikanya tidak ada direksi ataupun komisaris yang mundur atau dipecat untuk tidak meninggalkan utang apabila memang modal kerja perusahaan tersebut didapat dari perputaran utang.
Kemudian atas putusan pengadilan tersebut didasari pada analisis ecek-ecek ini saya membenarkannya isi putusan tersebut.
menyatakan, antara lain, hutang tersebut adalah hutang PT. Djaja Tunggal dan karenanya menjadi tanggung jawab PT. Djaja Tunggal, sebatas harta kekayaan perusahaan tersebut. Oleh karenanya Tergugat II dan sampai V secara pribadi tidak harus dimintai tanggung jawab terhadap hutang PT. Djaja Tunggal (Tergugat I).
Pengadilan Negeri Bogor dalam putusannya, antara lain, menyatakan :
1. Tergugat I, PT. Djaja Tunggal berhutang kepada Penggugat sebesar Rp. 5.502.293.038,83,-.
2. Tergugat I, PT. Djaja Tunggal telah ingkar janji (wanprestasi) kepada Penggugat.
3. Tergugat II-III-IV-V-VI dan VII melakukan perbuatan melawan hukum oleh pengurus.
4. Menghukum Tergugat I, PT. Djaja Tunggal untuk mengembalikan seluruh pinjamannya berikut bunga Rp. 5.502.293.038,83,-.
5. Menghukum Tergugat II-III-IV-V-VI-VII untuk membayar ganti kerugian Rp. 100.0000.000,secara tunai kepada Penggugat.23
Pada tingkat banding, Pengadilan Tinggi Bandung menguatkan putusan Pengadilan Negeri Bogor tersebut di atas.24
Pada tingkat kasasi Mahkamah Agung menyatakan, adalah merupakan fakta, bahwa yang menjadi pengurus dari Tergugat I adalah bersamaan pula dengan pengurus dari Penggugat sebelum Penggugat sebagai PT. Bank Perkembagan Asia diambil alih Bank Indonesia karena mengalami kekalahan kliring. Dengan demikian pada diri Tergugat I dan Penggugat I pada saat terjadi pemberian kredit bersatu pada diri Tergugat II sampai dengan V. Jadi pada saat perjanjian kredit ditandatangani dan direalisasi Dewan Direksi dan Dewan Komisaris dari Penggugat dan Tergugat sebagai Badan Hukum (PT) bersatu pada diri para tergugat tersebut.
Berdasarkan fakta dimaksud dihubungkan dengan cara pemberian kredit dari Penggugat yang nota bene dikuasai oleh para Tergugat II-V, yang diberikan kepada perusahaan yang mereka kuasai pula (Tergugat I : PT. Djaja Tunggal), dapat diduga adanya persekongkolan dan itikad buruk pada diri para Tergugat I, II, III, IV dan V. Dalam kasus seperti ini telah dikembangkan suatu ajaran hukum yang disebut “piercing the corporate veil” yakni pembatasan pertanggung jawaban dari suatu Perseroan Terbatas (PT) dapat dipikulkan kepada pengurus, apabila tindakan hukum yang mereka lakukan untuk dan atas nama P.T. mengandung persekongkolan secara itikad buruk yang menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Dalam perkara ini para Tergugat II, III, IV dan V sebagai
23 Ibid PT. Bank Perkembangan Asia v. PT. Djaja Tunggal cs, No. 136/Pdt.G/1987/PN.Bgr (1988).
pengurus dari PT. Perkembangan Asia (Penggugat) dan sekaligus pula pengurus dari Tergugat I (PT. Djaja Tunggal) dengan itikad buruk meminjamkan uang kepada Tergugat tanpa analisis kredit serta agunannya pun Hak Guna Bangunan (HGB) No. 39-40 yang mereka sendiri tahu sudah habis waktunya pada tanggal 24 September 1980. Dengan demikian kerugian yang diderita Penggugat tidak hanya dibebankan kepada Tergugat I, tapi meliputi Tergugat II, III, IV dan V secara tanggung renteng.
Mahkamah Agung membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung tanggal 12 Februari 1990. Mahkamah Agung memutuskan, antara lain, menyatakan Tergugat I, II, III, IV dan V berhutang kepada Penggugat sebesar Rp. 5.502.293.038,83,-. Menghukum Tergugat I, II, III, IV dan V untuk membayar hutang tersebut secara tanggung renteng.25
ANALISIS :
Dalam kasus ini dapat diidentifikasikan beberapa unsur agar dapat dijatuhkannya doktrin piercing the corporate veil seperti yang telah dijelaskan diatas. Lengkapnya yaitu :
1 Terjadinya penipuan 2 Didapatkan ketidakadilan 3 Terjadinya suatu penindasan 4 Tidak memenuhi unsur hukum
5 Dominasi pemegang saham yang berlebihan
6 Perusahaan merupakan alter ego dari pemegamg saham mayoritasnya
Dari kasus tersebut ada beberapa poin yang mutlak terpenuhi, yaitu :
1.Terjadinya penipuan
Tergugat II, III, IV, dan V yang merupakan direksi dan komisaris Tergugat I dan Penggugat telah secara sengaja mengucurkan uang dari Penggugat ke Tergugat I dikarenakan posisi penggugat sebagai badan hukum dengan salah satu tugas pemberian kredit maka Tergugat II, III, IV, dan V memanfaatkan kekuasaan mereka untuk meloloskan sejumlah kredit kepada Tergugat I yang sedang membutuhkan kucuran kredit meskipun apabila dilakukan prinsip kehati-hatian maka Tergugat I tidak layak mendapatkan sejumlah kredit tertentu.
2.Tidak memenuhi unsur hukum
Lebih jauh sesungguhnya suatu proses due diligence oleh kreditur terhadap debitur telah setidaknya diatur dalam peraturan perundang-undangan atau otoritas tertentu yang mengedepankan prinsip prudent. Terlebih agunan yang diberikan Tergugat I tidaklah layak.26 Bahkan itu merupakan tanah negara yang tidak dapat diangunkan.
25 Ibid PT. Bank Perkembangan Asia v. PT. Djaja Tunggal cs, No. 1916 K/Pdt/1991 (1996), 26 Lihat di Ibrahim, Johannes, Bank Sebagai Lembaga Intermediasi Dalam Hukum Positif.
Kemudian atas analisis yang mungkin tidak seberapa ini penulis setuju terhadap putusan yang diambil baik di tingkat negeri sampai ke MA
KETERKAITAN DUA DOKTRIN
Pertemuan doktrin ini sesungguhnya memiliki dua hubungan yaitu hubungan mutualisme dan hubungan kontradiktif.27 Hubungan mutualisme yaitu baik satu sama lain sesungguhnya menjaga agar para direksi utamanya disini menjaga keseimbangan dalam melakukan tugasnya dengan segala kewenangannya. Apabila diumpamakan kurang lebih seperti suatu check and balances apabila ditinjau dari tujuan untuk mensejahterakan baik pribadi maupun perseroan. Namun apabila ditinjau dari fungsinya, kedua doktrin ini seakan menjatuhkan satu sama lain yang dimana doktrin business judgement law menganggap keputusan direksi tidak dapat diganggu gugat sementara doktrin piercing the corporate law menganggap tidak boleh ada keputusan yang kebal atas kesalahan. Hubungan seperti yang tersebut diatas memang tak dapat dihindarkan namun kita manusia yang hidup di bumi manusia haruslah memetik manfaat dan barang tentu keadilan dari tidak sempurnanya baik kedua doktrin ini maupun dengan doktrin lain yang sempat disebutkan diatas.
LAMPIRAN
UU no 1 tahun 1995
Pasal 1
1. Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut perseroan adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.
2. Organ Perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan Komisaris.
3. Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disebut RUPS adalah organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala wewenang yang tidak diserahkan kepada Direksi atau Komisaris.
4. Direksi adalah organ perseroan yang bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk
kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar.
5. Komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan atau khusus serta memberikan nasihat
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku apabila:
a. persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;
b. pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung
UU No 40 tahun 2007
Pasal 1
1. Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah badan hukum yangmerupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, m elakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dalam undang - undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi
Perseroan sendiri, komunitas
setempat, maupunmasyarakat pada umumnya.
4. Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS, adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang
ditentukan dalam undang - undang ini dan/atau anggaran dasar.
5. Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh ataspengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan
Perseroan serta mewakili Perseroan, pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi. pada ayat (1) tidak berlaku apabila:
a. persyara tan Perseroan sebagai
c. pemegang saham yang bersangkutan terlibatdalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan; atau
d. pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang perseroan.
Pasal 23
atas segala perbuatan hukum yang dilakukan perseroan.
Pasal 60
(3) Dalam hal dokumen perhitungan tahunan yang disediakan ternyata tidak benar dan atau menyesatkan, anggota Direksi dan Komisaris secara tanggung renteng bertanggungjawab terhadap pihak yang dirugikan.
(4) Anggota Direksi dan Komisaris dibebaskan dari tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) apabila terbukti bahwa keadaan tersebut bukan karena kesalahannya.
Pasal 85
(1) Setiap anggota Direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan.
(2) Setiap anggota Direksi
bertanggungjawab penuh secara bersangkutan baik langsungmaupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi;
menggunakan kekayaan Perseroan,
yang mengakibatkan
kekayaanPerseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan.
Pasal 104
(1) Direksi tidak berwenang mengajukan permohonan pailit atas Perseroan sendiri kepada Pengadilan Niag a sebelum memperoleh persetujuan
RUPS, dengan tidak
mengurangiketentuan sebagaimana diatur dalam undang - undang
tentang Kepailitan dan
PenundaanKewajiban Pembayaran Utang.
(2) Dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat terjadi karena kesalahan ataukelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.
(3) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga bagi anggota Direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.
tindakan pengurusan yang dilakukan; dan
(1) Setiap anggota Direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan.
(2) Setiap anggota Direksi bertanggungjawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(3) Atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara yang sah dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada perseroan.
d. telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.
Pasal 97
(5) Anggota Direksi tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) apabila dapat membuktikan:
a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan
pengurusan dengan itikad baik dan kehati - hatian untuk kepentingan dansesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan