• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI IV FARMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI IV FARMA"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI IV FARMAKOTERAPI PASIEN ADENO CA PARU, ANEMIA

Disusun oleh :

1. Nilta Dizzania (G1F014009) 2. Windi Agle Liza S. (G1F014025) 3. Fitta Azhlina Ismail (G1F014041) 4. Siti Sarah Ch (G1F014063)

Asisten : Tri Budi Hastuti

Dosen : Laksmi Maharani, M.Sc., Apt.

Laboratorium Farmasi Klinik Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

(2)

A. KASUS

REKAM KASUS FARMAKOTERAPI PASIEN RAWAT INAP

Identitas Pasien

Nama Pasien Ny. D Umur/TTL 62 th

No. Rekam Medik 508xxx BB 39 kg

Alamat - TB 150 cm

Status Jaminan Askes Jenis

Kelamin

P

Riwayat MRS

Tanggal MRS 20/3/2015 Tanggal KRS

Riwayat MRS -Pasien dating ke poli dengan keluhan pusing, mual, muntah, dan lemas.

-pasien dating untuk program chemotherapy S VI

Riwayat Penyakit 04-02-2015 melakukan program kemo ke 4. Adeno Ca paru dextra, anemia

Riwayat Obat/Supplemen

-Riwayat lifestyle

-Alergi

-Diagnosa Adeno Ca Paru, Anemia

Parameter penyakit

(3)

Data Laboratorium

Kreatinin darah mg/dl 1,4 1,03

Leukosit /µL 3200-10.000 6450 6910

HCT % 35-45 23 31

Menurun (anemia)

Eritrosit 106/µL 4,3-5,9 2,9 4,0

Menurun

MCV fL 80-100 79,6 78,4

Menurun (anemia)

MCH Pg/sel 28-34 30,9 30,2

MCHC g/dl 33-36 30,9 38,5

RDW % 10- 15 14,0 13,7

20/3 21/3 22/3 23/3

PRC √ √

(4)

Gemsar 1300 √

Cisplatin 78 √

O2 √

IVFD NACL 0.9%

√ √ √ √

ORAL

Obat Aturan

Pakai

20/3 21/3 22/3 23/3

Sulcralfat syr 3 x 1 √

Amoxicillin 3 x 500 mg √

Dexamethason √

Ondansentron √

B. DASAR TEORI 1. Patofisiologi

Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru (WHO, 2015). Kanker paru bermula dari karsiogenesis. Karsinogenesis ini bisa disebabkan oleh lingkungan, genetik, atau paparan asap rokok. Karsinogenesis dapat terjadi pada sel neuroendokrin dan sel epitelial. Pada sel neuroendokrin dapat menyebabkan SCLC (Small Cell Lung Cancers), sementara pada sel epitelial dapat menyebabkan NSCLC (Non Small-Cell Lung Cancers). SCLC berkontribusi terhadap sentral tumor, sementara NSCLC berkontribusi terhadap sentral tumor dan periferal tumor (Wong et al., 2012).

(5)
(6)

2. Guideline terapi

(Lee, 2016).

(7)

C. PENYELESAIAN KASUS DAN PEMBAHASAN Dokumen Farmasi Pasien (DFP)

Nama pasien : Ny. D

Usia : 62 tahun

Jenis kelamin : P

BB/TB : 39 kg/150 cm

Tgl MRS : 20/03/2015

Tgl KRS :

-No. RM : 0090xx

Riwayat penyakit saat MRS : -Pasien dating ke poli dengan keluhan pusing, mual, muntah, dan lemas.

-pasien datang untuk program chemotherapy S VI

Riwayat pengobatan

:-Riwayat penyakit terdahulu : 04-02-2015 melakukan program kemo ke 4. Adeno Ca paru dextra, anemia

(8)
(9)

PROBLEM TERAPI

Pada kasus pasien menerima obat ranitidine iv, sulcralfat , dexametason, ondansentron untuk mengatasi efek samping mual muntah dari penggunaan obat cisplatin. Menurut Chu (2015), gemcitabin memiliki efek emetic 10-30% dan cisplatin memiliki efek emetic sebesar 90%. Hal tersebut tergolong moderate-high emetogenicity

sehingga perlu diberikan antiemetic sebelum kemoterapi yaitu ondansentron atau granisentron plus dexametason dan pemberian antiemetic setelah kemoterapi adalah dexametason plus prochlorperazine atau metoklorpromide (Hoskins, 2012).

Ranitidine dihilangkan diganti menjadi

-Pretreatment: Hari pertama (ondansentron + dexametason) gemcitabine dengan dosis 78 mg dan 1300 mg. Dosis ditentukan dengan perhitungan BSA dan

(10)

pertimbangan CrCl. BSA pasien adalah 1,275 mg/m2 dan CrCl pasien adalah 34.86 ml/menit. CrCl dibawah 45 perlu dilakukan penurunan dosis untuk cisplatin sebesar 50% dan gemcitabine sebesar 25% (Chu et al, 2015 dan Lee, 2016).

Pusing, lemas

Hb (8,9 mg/dl), Hct (23 dan 31 mg/ dl)

Anemia Kebutuhan terapi tambahan

ANEMIA

- - - Terapi tanpa

indikasi

Pasien mendapat terapi amoksisilin.

Antibiotik diindikasikan untuk infeksi bakteri dan dari data lab pasien tidak ada yang menunjukan bahwa pasien mengalami infeksi. Menurut Zhang et al (2008), penggunaan antibiotik pada pasien kanker paru umumnya digunakan untuk infeksi respiratori. Namun pasien juga tidak mengalami indikasi tersebut.

(11)

PLAN TERAPI PILIHAN UNTUK KASUS

Nama obat (dan alasan penggunaan) Aturan pakai dan KIE Monitoring (parameter, waktu pemantauan)

Lebih efektif untuk mengatasi emetic yang disebabkan pemberian cisplastin dibandingkan prochlorperazine (Harder, 2017), selain itu

prochlorperazine sebaiknya dihindari untuk pasien dengan disfungsi renal mengingat clcr pasien hanya 35 (Chambers, 2010).

-ondansentron

Menurut Honskin (2012), ondansentron dan granisentron memiliki efektivitas yang sama, dan pada kasus pasien telah menerima ondansentron sehingga tetap dipilih

Pre treatment:

Hari pertama: dexametason 4 mg po sore setelah kemoterapi, dilanjutkan 4 mg 2 x 1 selama 3 hari + metoklorpromide 40 mg po prn selama 3 hari (prn)

(12)

ondansentron

-dexametason

Berdasarkan protokol pengobatan untuk sebelum dan sesudah

kemoterapi antiemetic dikombinasikan dengan dexamethason (Hoskins, 2012).

Hari delapan: dexamethason 4 mg po 2x1 selama 3 hari

(Hoskins, 2012).

KIE untuk tenaga

kesehatan: memantau profil cairan pasien, memantau efek samping mual muntah

(Chu, 2015).

Berdasarkan protocol untuk kemoterapi pada kanker paru

Dosis Cisplatin 47,8125mg pada hari pertama dan gemcitabine 1195,3125 mg pada hari pertama dan delapan

KIE untuk tenaga kesehatan:

Memonitoring CBC, proteinuria, fungsi renal (BUN, creatinin), serum elektrolit (Na, Ca, Mg, K)

(13)

kacang, tempe

Adeno Ca Paru

-Konsumsi makanan kaya zat besi seperti buah, kacang-kacangan

-Konsumsi vitamin C guna meningkatkan absorbsi zat besi oleh tubuh

Darbopoetin alfa

Frekuensi penggunaan darbopoetin alfa lebih sedikit dibandingkan epoetin alfa dengan efektivitas yang sama, selain itu darbopoetin alfa terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dan menurunkan frekuensi transfuse pada pasien kanker paru (Crawford et al, 2006).

2, 25 mcg/kg tiap minggu

KIE tenaga kesehatan:

-monitoring Hb, HCT, MCH, dan MCHC

Hb normal (12 mg/ dl), Hct normal (35-45%)

Monitoring Hb dan Hct 1 minggu

(14)
(15)

Pembahasan

Pada kasus, pasien Ny.D terdiagnosis adeno ca paru dan anemia. Pasien mendapatkan regimen kemoterapi cisplatin-gemcitabine. Menurut Schiller (2002), cisplatin-gemcitabine termasuk regimen kemoterapi generasi ketiga untuk kanker paru bukan sel kecil, regimen generasi ketiga memiliki nilai survival rate pada pasien hingga 33% selama satu tahun. Hal tersebut lebih tinggi dibandingkan regimen generasi pertama (mitomycin, ifosfamide) yang memiliki nilai survival rate 10-15% selama satu tahun, dan regimen generasi kedua (etoposide) sebesar 20-25% selama satu tahun. Berdasarkan Schiller (2012), dapat diketahui tidak ada perbedaan yang signifikan diantara regimen generasi ketiga yaitu docetaxel, cisplatin-paclitaxel, cisplatin-gemcitabin, dan carboplatin-paclitaxel dalam nilai survival rate pada pasien kanker paru, tetapi pada pasien yang menerima regimen cisplatin-gemcitabin, progesifitas penyakit terjadi lebih lama tetapi memiliki resiko efek samping toksisitas renal lebih besar dibandingkan dengan regimen lainnya sehingga penggunaan regimen cisplatin-gemcitabine harus disesuaikan dengan keadaan klinis pasien.

(16)

21 22 23 24 25

Siklus V (gemci+ci s)

26 27 28

Maret

1 2 3 4

Siklus V (gemci)

5 6 7 8 9 10

11 12 13 14 15 16 17 18

Siklus VI (gemci+c is)

19 20

21 22 23 24 25

Siklus VI (gemci)

26 27 28 29 30

31

(17)

Berdasarkan tabel diatas, seharusnya pasien melakukan hari pertama siklus ke 6 pada tanggal 18 Maret 2015 tetapi pasien melakukan kemoterapi pada tanggal 21 Maret 2015, hal tersebut dapat disebabkan Hb pasien dibawah 10 g/dl sehingga pasien belum memenuhi syarat untuk menjalani kemoterapi.

(PDPI, 2003).

Permasalahan terapi yang diterima oleh pasien antara lain :

1. Obat Kurang Tepat

(18)

(Hoskins, 2012).

(19)

(Harder, 2017).

(Chambers, 2010).

2. Overdose (Cisplatin dan Gemcitabine)

Pada kasus, pasien mendapatkan cisplatin dan gemcitabine dengan dosis 78 mg dan 1300 mg. Menurut Chu et al (2015), dosis obat biasanya dihitung berdasarkan BSA atau luas permukaan tubuh pasien, selain itu CrCl juga dipertimbangkan dalam perhitungan dosis obat untuk pasien. CrCl pasien adalah 34.86 ml/menit sehingga dilakukan penurunan dosis cisplatin sebesar 50% dan dosis gemcitabine sebesar 75%.

(Chu et al, 2015).

(Lee, 2016).

(20)

berikut

Sehingga terapi yang disarankan kepada pasien adalah sebagai berikut ;

Hari pertama

Pukul Rincian

00.00 NaCl 0,9% infus1 20 tts/menit

06.00 NaCl 0,9% 1 koff / 3 jam

07.30 Ondansentron 8 mg Po + Dexamethason 12 mg Po

08.00 Gemcitabine 1195,3125 mg dalam 250 ml NaCl 0,9%

08.30 1000 ml NaCl 0,9%

(21)

10.30 NaCl 0,9% 1 koff / 3 jam

15.00 Dexamethason 4 mg po + metoklopromide 40 mg po

Hari kedelapan

Pukul Rincian

07.30 Dexamethason 12 mg po

08.00 Gemcitabine 1195,3125 mg dalam 250 ml NaCl 0,9%

3. Terapi tanpa indikasi

(22)

Berdasarkan data lab, pasien mengalami penurunan nilai Hb dan Hct yang mengindikasikan anemia. Anemia akibat kemoterapi dapat diobati dengan agen stimulasi eritropoiesis (ESA), transfusi sel darah merah (RBC), atau kombinasi. ESA memerlukan waktu untuk menginduksi respons hemoglobin dan oleh karena itu tidak sesuai untuk pasien yang memerlukan penanganan segera terhadap anemia. ESA juga dimulai saat hemoglobin berkisar 9 -10 g / dL (Pirker et al, 2012). Untuk terapi transfusi tidak boleh dimulai pada pasien sebelum kadar hemoglobinnya diturunkan menjadi 7 atau 8 g / dL atau lebih rendah. Pada pasien yang Hb di bawah 7 g / dL atau memerlukan koreksi hipoksia, pada pasien dengan anemia simtomatik kronis refraksi EPO, atau pada pasien dengan anemia berat yang tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk menerima pengobatan EPO, transfusi darah dapat dipertimbangkan (CSCO, 2012).

Pirker et al, 2012

Menurut Crawford et al (2006), anemia induced chemotherapy dengan nilai Hb dibawah 10 mg/dl dapat diterapi dengan ESA. Terapi ESA yang dapat diberikan yaitu epoetin alfa, dan darbopoetin alfa. Darbopoetin alfa memiliki frekuensi penggunaan lebih sedikit dibandingkan epoetin alfa dengan efektivitas yang sama, selain itu darbopoetin alfa terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dan menurunkan frekuensi transfuse pada pasien kanker paru (Crawford et al, 2006). Darbepoetin 2,25 mcg / kg secara subkutan sekali seminggu atau 500 mcg secara subkutan setiap tiga minggu. Biasanya akan memberi efek peningkatan Hb setelah 4 minggu terapi sehingga dimonitoring setiap 2 minggu sekali untuk mencegah Hb >12 Dosis diturunkan 40% jika setelah kemoterapi, Hb pasien>10 (BCCA, 2017).

(23)

CSCO, 2012

MONITORING

Nama Obat Efek Samping Nadir Monitoring

Cisplatin dan setelah treatment terakhir

Tanda- tanda infeksi dan WBC. dimonitoring 2 minggu setelah treatment

Penurunan platelet Selama atau setelah treatment hari pertama, dan kembali normal setelah hari

Frekuensi mual muntah

dimonitoring pada 3 jam dan 24 jam setelah pemberian

Neutropenia, dan trombositopenia

Darbopoetin alfa Kelelahan, diare, edema, demam,

Muncul ketika Hb <12

(24)

Dimonitoring 24 jam dan 1 minggu setelah treatment

KIE

1. Tenaga Kesehatan

- memberitahukan kepada tenaga kesehatan untuk memantau status gizi pasien, dan status cairan pasien.

- memberitahukan kepada tenaga kesehatan untuk melakukan pemeriksaan pemeriksaan darah lengkap sebelum treatment kemoterapi.

- memberitahukan kepada tenaga kesehatan untuk memberi informasi mengenai efek samping dan cara penanganannya.

2. Pasien

- memberi informasi mengenai efek samping dan cara penanganannya

- memberi informasi untuk menjaga kebersihan karena pasien mudah terkena infeksi

- memberi informasi untuk banyak minum air putih

- menghindari mengonsumsi makanan yang panas dan makanan yang diawetkan

- mengonsumsi makanan yang bergizi

- menghindari resiko pendarahan seperti menggosok gigi dengan lembut, menghindari konstipasi.

3. Keluarga Pasien

- memberi dukungan kepada pasien dalam menjalani perawatan - mengingatkan pasien jadwal kemoterapi

(25)

BC Cancer Agency, 2016. For The Patient: LUAVPG. BC Cancer Agency Protocol Summary (Patient Version) LUAVPG.

BC Cancer Agency Protocol Summary SCESA. 2017. BCCA Protocol Summary Guidelines for the Use of ErythropoiesisStimulating Agents (ESAs) in Patients with Cancer. P1-6.

Brenner, George M., dan Craig W. Stevens, 2013. Pharmacology Fifth Edition.

Philadelphia: Elsevier.

Chamber, Pinky, and Suzanna Daniel. 2012. Antiemetic Guidelines for Adult Patients Receiving Chemotherapy and Radiotherapy. NHS.

Chinese Society of Clinical Oncology (CSCO). 2012. Clinical practice guidelines on cancer-related anemia (2012-2013 Edition). Guidelines and Expert Consensus. P1-20.

Chu, Edward, Vincent T. Devita, 2015. Physician’s Cancer Chemotherapy Drug Manual. USA: Jones & Bartlett Learning

Dicato, M., 2003. Anemia in Cancer: Some Pathophysiological Aspects,

Haematology-Oncology, Luxembourg Medical Center,.

Gafter Gvili A, Fraser A, Paul M, Vidal L, Lawrie TA, van de Wetering MD, Kremer‐ LCM, Leibovici L. 2012. Antibiotic prophylaxis for bacterial infections in afebrile neutropenic patients following chemotherapy. Cochrane Database of Systematic Reviews, Issue 1.

Harder, Signe Ladegaard and Jørn Herrstedt, 2017. Metoclopramide: An Antiemetic in Chemotherapy Induced Nausea and Vomiting. Journal of Drug Design and Research. 4(2): 1037.

Hitoshi, K., Takuya, Y., Koji, O., Hiroaki, S and Hanako, S. 2008. Molecular and Genetic Pathogenesis of Lung Cancer: Differences Between Small-Cell and Non-Small-Cell Carcinomas. The Open Pathology Journal. 2, 106-114.

Honskins, Paul, 2012. Guidelines for Prevention and Treatment of Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting in Adults. BC Cancer Agency.

www.bccancer.bc.ca/legal.htm. Diakses tanggal 7 November 2017. Kemenkes RI. 2011. Pedoman Interpretasi Data Klinik. Kemenkes RI: Jakarta.

(26)

Lee, Christhoper, 2016. BCCA Protocol Summary for Treatment of Advanced Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) with Platinum and Gemcitabine. BC Cancer Agency. www.bccancer.bc.ca/legal.htm. Diakses tanggal 7 November 2017.

Pirker R, Pirolli M, Quigley J, et al.2013. Hemoglobin decline in cancer patients receiving chemotherapy without an erythropoiesis-stimulating agent. Supportive Care in Cancer. 21(4):987-992.

Schiller, Joan, H. M.D., David Harrington, Phd., Chandra P.Belani, M.D.,et al. 2002. Comparison of Four Chemotherapy Regimen for Advance Non Small Cell Lung Cancer. The New England Journal of Medicine. Vol 346 No 2. WHO, 2015, Cancer, http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs297/en/, diakses

pada 31 Oktober 2017.

Referensi

Dokumen terkait